Sindroma Lupus
Eritomatous
Presented by :
Cut Ummusalma
100611026
Pembimbing :
dr. Maulina Debbyousha, [Link]
BATASAN
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
DEFINISI
DIAGNOSIS
ETIOLOGI
PENATALAKSANAAN
PATOFISIOLOGI PENCEGAHAN
MANIFESTASI PROGNOSIS
KLINIS KESIMPULAN
LATAR BELAKANG
LATAR BELAKANG
Penyakit inflamasi autoimun kronis dengan etiologi
yang belum diketahui serta manifestasi klinis.
Angka kejadian penyakit ini cukup tinggi, baik di
seluruh dunia maupun di negara berkembang termasuk
Indonesia.
SLE terutama menyerang wanita usia reproduksi
dengan angka kematian yang cukup tinggi
Definisi DEFINISI
Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) adalah penyakit
reumatik autoimun yang ditandai adanya inflamasi tersebar
luas, yang mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam
tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan deposisi
autoantibodi dan kompleks imun sehingga mengakibatkan
kerusakan jaringan
ETIOLOGI
ETIOLOGI
SLE merupakan gangguan di mana interaksi antara faktor
host (kerentanan gen, lingkungan hormonal, dll) dan faktor
lingkungan (ultraviolet (UV) radiasi, virus, obat) mengarah
pada hilangnya toleransi-tubuh, dan menginduksi
autoimunitas
Genetik Lingkungan Obat-obatan Virus
Kerentanan Gen Radiasi Ultraviolet Procainamide, Infeksi oleh alphavirus
Defisiensi genetik dari Radiasi UVA juga hydralazine, isoniazid, seperti rubella, dan
komponen pelengkap dapat menyebabkan klorpromazin, cytomegalovirus
awal C1q, C4, dan C2 SLEi kulit LE phenytoin (dilantin), tampaknya dapat
mempengaruhi pasien dan, terakhir, menginduksi ekspresi
pada peningkatan Paparan Tembakau minocycline, serta sel permukaan dari Ro
Lupus Berhubungan dengan COL-3, suatu turunan / SS-A dan terkait
amina aromatik tetrasiklin antikanker autoantigens dalam sel
Hormon Seks. lipogenik yang yang mengalami
Tingginya kadar terkandung dalam asap apoptosis indikasi-
estrogen dan tembakau kau virus
progesteron
meningkatkan
autoreaktivitas
humoral.
Patofisiologi
PATOFISIOLOGI
Ada empat faktor yang menjadi perhatian bila
membahas patogenesis SLE, yaitu:
1. Faktor genetik
2. Hormon
3. Lingkungan
4. Kelainan sistem imun
BATASAN
Genetik Hormon AutoAntibodi Lingkungan
Polimorfis Ig G Larut dalam Epstein-
Estrogen Prolaktin Kontrase
UV Bar (EBV)
me GEn Nukleus psi
Berlebih Berlebih Antibodi
Antigen
Berlebih antinukleus
Reaksi Imun
Imun Terbentuk Spesifik
kompleks imun
kerusakan jaringan
FAKTOR GENETIK
Gen dari kompleks Histokompatibilitas mayor (MHC)
polimorfisme dari gen HLA (human leucoyte antigen ) kelas II dan III
Gen HLA kelas II Gen HLA kelas III
mengkode komponen
anti –DNA
komplemen C2 dan C4
Penderita dengan defisiensi C1q, C1 r/s dan
Homozigot C4A C2
beban antigen melebihi
perubahan kapasitas
respon imun
FAKTOR HORMONAL
(FAKTOR ESTROGEN)
Pada usia prepubertas dan setelah menopause
Peningkatan oksidasi testosterone pada C-17 atau peningkatan aktifitas aromatase
jaringan.
Konsentrasi androgen plasma yang rendah, termasuk testosterone,
dehidrotestosteron, dehidroepiandrosteron (DHEA)
Estrogen yang berlebihan dengan aktifitas hormone
Perubahan respon imun
KELENJAR HIPOFISE ANTERIOR
Hormon Prolaktin diRelease
Mempunyai aktifitas endokrin, parakrin, autokrin
Menstimulasi sel T, sel NK, makrofag, neutrofil, sel hemopoietik CD34+ dan sel
dendrite presentasi antigen
Menstimulasi respon imun humoral dan seluler
Respon Berlebih
ANTIBODI
IgG dan factor koagulasi
Larut pada self molecular (Pada Nukleus)
Antibodi antinukleus
Anti double stranded DNA anti-Sm antibody
Target Organ
Anti double stranded DNA
Antibodi anti DNA berikatan dengan bagian
DNA yang melekat pada membrane basal
dari glomerulus
C1q nukleosom, heparin Aktivasi dan
sulfat, dan laminin berikatan menginisiasi inflamasi local
kompleks imun yang
mengandung antibody
Nefritis mengendap di ginjal
Antibodi
Kulit Otak Sel darah merah
Reseptor N-methyl-
Reseptor Ro/SSA D-aspartate (NMDA) Trombosit
Anti-Ro Anti-reseptor-
NMDA Anti-Trombosit
Anemia hemolitik dan
Ruam Kulit Lupus serebral trombositopenia
Lingkungan
Kontrasepsi (Paparan
Epstein-Bar (EBV) UV estrogen berlebih )
Struktur DNA Perkembangan timus
Kemiripan molecular dirusak dan toleransi imun
Menginduksi respon
spesifik Autoantibodi Imunologik
Gangguan terhadap Apoptosis Perubahan respon
regulasi imun keratinosis imun
MANIFESTASI KLINIS
Bervariasi
Mendadak
Onset kronis
Anemia
Nafsu makan menurun
Arthritis
Allopesia
Kerusakan berbagai sistem tubuh
Gangguan pada sistem imun
Dan lain sebagainya
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinis
Kelelahan , Penurunan berat badan
Manifestasi konstitusional
Manifestasi Muskuloskeletal Poliartritis , Osteonekrosis , Tendonitis, mialgia
Manifestasi Kulits Fotosensitivitas, butterfly rash, SLEi diskoid kronik,
alopesia, panikulitis,
Perikarditis ringan, efusi pericardial, penebalan
Manifestasi Kardiovaskular
pericardial, miokarditis
Manifestasi Paru-paru Pleuritis , nyeri pleuritik
Manifestasi Ginjal Hipertensi, proteinuria silinderuria,
Anemia normositik normokrom yang terjadi akibat
Manifestasi Hemopoetik
anemia akibat penyakit kronik
Manifestasi Susunan Saraf Neuropati perifer, sampai kejang dan psikosis.
Hepatomegali, nyeri perut yang tidak spesifik,
Manifestasi Gastrointestinal
splenomegali, peritonitis aseptik, vaskulitis mesenterial,
pankreatitis.
Pemeriksaan Penunjang
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Interprestasi Keterangan
Lab
1. Faktor Rematoid 1. Faktor rematoid positif 1. 33% kasus
2. Tes serologic 2. Positif 2. Sekitar 10%
3. Laju endap darah 3. Meningkat 3. Mengukur tingkat
4. Urine Lengkap 4. mengetahui adanya protein, peradangan
leukosit, eritrosit dan 4. Komplikasi ginjal
silinder
Pemeriksaan Interprestasi Keterangan
Anti-ds-DNA Anti-ds-DNA, yang spesifik Adanya antibody tersebut dan
untuk S.L.E kadar komplemen yang rendah
dapat meramalkan akan
terjadinya hematuria dan atau
proteinuria
Anti-Sm Anti-Sm positif Tetapi hanya terjadi pada
sekitar 20-30% penderita dan
tidak ditemukan pada penyakit
lain
Fenomena Sel S.E dan granulosit neutrofilik yang Tes sel L.E kini tidak
tes sel S.E mengandung bahan nuclear penting karena
basofilik yang telah pemeriksaan antibody
difagositosis antinuclear lebih sensitive
Antibodi antinuclear Dilihat pita terdiri atas deposit Tes tersebut positif pada 90-
(ANA) granular immunoglobulin G, M 100% kasus L.E.S dan 90-95%
atau A dan komplemen C3 pada kasus L.E.D
taut epidermal-dermal yang
disebut lupus band
DIAGNOSIS SLE
DIAGNOSIS SLE
Kriteria ( Kecurigaan ke SLE bila
ada 2 atau 3 kriteria dibawah)
Wanita muda dengan Kulit: butterfly atau malar
keterlibatan dua organ rash, fotosensitivitas, SLEi
membrana mukosa, alopesia,
atau lebih.
fenomena Raynaud, purpura,
Gejala konstitusional: urtikaria, vaskulitis.
kelelahan, demam (tanpa Ginjal: hematuria,
bukti infeksi) dan proteinuria, silinderuria,
penurunan berat badan. sindroma nefrotik
Muskuloskeletal: artritis,
artralgia, miositis
Gastrointestinal: mual, Retikulo-endotel:
muntah, nyeri abdomen limfadenopati,
Paru-paru: pleurisy, hipertensi splenomegali,
pulmonal, SLEi parenkhim hepatomegaly
paru. Hematologi: anemia,
Jantung: perikarditis, leukopenia, dan
endokarditis, miokarditis trombositopenia
Neuropsikiatri: psikosis,
kejang, sindroma otak
organik, mielitis
transversus, gangguan
kognitif neuropati kranial
dan perifer.
DIAGNOSIS SLE
Kriteria menurut Amercican College of Rheumatology
Kriteria Definisi
Bercak malar Eritema datar, menetap di daerah pipi, cenderung menyebar ke lipatan
nasolabial
Bercak Bercak eritema yang menimbul dengan adherent keratotic scaling dan
diskoid follicular plugging,
Fotosensitif Bercak di kulit yang timbul akibat paparan sinar matahari
Ulkus mulut Ulkus mulut atau nasofaring, biasanya tidak nyeri
Artritis Artritis nonerosif pada dua atua lebih persendian perifer,
ditandai dengan nyeri tekan, bengkak, atau efusi
Serositif Pleuritis . Riwayat pleuritic pain atau terdengar pleural friction
rub atau terdapat efusi pleura pada pemeriksaan fisik.
Perikarditis. Dibuktikan dengan EKG atau terdengar
pericardial friction rub atau terdapat efusi perikardial pada
pemeriksaan fisik
Gangguan ginjal Proteinuria persisten .0,5g/hr atau pemeriksaan +3
Celluar cast: eritrosit, Hb, granular, tubular atau campuran
Gangguan saraf Kejang
Psikosis
Gangguan darah Terdapat salah satu kelainan darah
Anemia hemolitik →dengan retikulositosis .
Leukopenia→ <4000/mm3 pada ≥1 pemeriksaan .
Limfopenia → <1500/mm3 pada ≥2 pemeriksaan .
Trombositopenia→ <100.000/mm3 tanpa adanya intervensi obat .
Antibodi antinuklear Titer abnormal dari antibody anti-nuklear berdasarkan pemeriksaan
positif( Tes ANA imunofluoresensi pada kurun waktu berjalan penyakit tanpa
keterlibatan obat
Gangguan imunologi Kadar serum IgG atau IgM antikardiolipin yang abnormal antikoagulan
lupus (+) dengan menggunakan tes standar tes sifilis (+) palsu,
Interpretasi Kriteria ARA
4 atau lebih kriteria diatas, diagnosis SLE memiliki
sensitifitas 85% dan spesifisitas 95%.
3 kriteria dan salah satunya ANA positif, maka sangat
mungkin SLE dan diagnosis bergantung pada pengamatan
klinis
Bila hasil tes ANA negatif, maka kemungkinan bukan SLE.
Apabila hanya tes ANA positif dan manifestasi klinis lain tidak
ada, maka belum tentu SLE
DIAGNOSIS
DIAGNOSA BANDING
BANDING
Diagnosa Keterangan
Artritis Reumatika Otot dan kekakuan sendi biasanya paling sering di pagi hari. Pola
karakteristik dari persendian yang terkena adalah mulai pada persendian
kecil di tangan, pergelangan, dan kaki.
Sklerosis Sistemik Merupakan kolagenosis kronis dengan gejala khas bercak-bercak putih
kekuning-kuningan dan keras yang seringkali mempunyai halo ungu
disekitarnya
Dermatomiositis yakni terdapat eritema dan edema berwarna merah ungu kadang-kadang
juga livid. Pada palpebra terdapat telangiektasis, disertai paralisi otot-otot
ekstraokular.
Purpura trias: trombositopenia, anemia hemolitik, dan gangguan susunan saraf pusat.
Trombositopenik
PENATALAKSANAAN
PENATALAKSAAAN
Edukasi Rehabilitasi Medikamentosa
• Penderita harus selalu
diingatkan untuk tidak
terlalu banyak terpapar Secara garis besar tujuan,
oleh sinar matahari, indikasi dan teknis • OAINS
kortikosteroid dosis rehabilitasi melibatkan: • Kortikosteroid
tinggi, obat-obat 1. Istirahat • Klorokuin
sitotoksik 2. Terapi fisik • Hidroksiklorokuin
• Pengaturan kehamilan, 3. Terapi dengan • Azatioprin
kontraindikasi untuk modalitas • Siklofosfamid
kehamilan, misalnya 4. Ortotik • Metotreksat
antimalaria atau 5. Lain-lain • Mikofenolat mofetil
siklofosfamid
KEADAAN KHUSUS
Lupus dalam Kehamilan
Sebelum
Selama kehamilan
Pasca persalinan
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah jika penderita SLE ingin hamil
dianjurkan sekurang-kurangnya setelah 6 bulan aktivitas penyakitnya
terkendali atau dalam keadaan remisi total. Pada lupus nefritis jangka waktu
lebih lama sampai 12 bulan remisi total. Hal ini dapat mengurangi
kekambuhan lupus selama hamil.
Kontrasepsi untuk SLE
Kekambuhan penyakit akibat hormon estrogen
Depomedroxy progesteron acetate (DMPA) dapat merupakan suatu pilihan,
tetapi efek sampingnya (menimbulkan osteoporosis).
Sistemik dengan Antifosfolipid/ Hughes
Akumulasi dari bekuan darah oleh antibodi antifosfolipid
Kelainan trombosis, peningkatan kadar antibodi antifosfolipid yang
menetap yaitu antibodi antikardiolipin (ACA) atau lupus antikoagulan (LA).
Lupus Nefritis
Klasifikasi kriteria World Health Organization (WHO) untuk
lupus nefritis sudah diperbaharui oleh International Society of
Nephrolog dan Renal Pathology Society (ISN/RPS) tahun 2003
Klasfikasi WHO dinilai berdasarkan pola histologi dan lokasi
dari imun kompleks
kelas I:Minimal mesangial lupus nefritis
kelas II : mesangial proliferative lupus nefritis
kelas III : Fokal lupus nefritis
Kelas IV Difuse lupus nefritis
Kelas V Membranous lupus nefritis
Kelas VI Advanced sklerotik lupus nefritis
PEMERIKSAAN PROGNOSA MEMBURUK
Pemeriksaan urin analisis Ras hitam
Proteinuria Azotemia
Serum kreatinin Anemia
Serologi anti dsDNA dan Sindroma antiphospholipid,
C3 gagal terhadap terapi
imunosupresi awal
Kambuh dengan fungsi ginjal
yang memburuk
PENCEGAHAN
PENCEGAHAN
Proteksi Diri
Cream (sunblock), pakaian
Obat
Pengobatan steroid, pengobatan bila demam
Imun
Vitamin
Gaya Hidup
Makan, Pembatasan aktivitas, diit
Hindari
Merokok, stres, trauma fisik
PrognosisPROGNOSIS
BAIK, jika:
Diagnosis yang lebih awal
Tergantung kepada adanya inflamasi organ
yang serius
KESIMPULAN
KESIMPULAN
SLE adalah penyakit autoimun yang dominan pada perempuan
dan biasanya memiliki manifestasi di beberapa organ. kelainan
sistem kekebalan tubuh, kelainan genetik, hormonal, dan
faktor lingkungan
Penegakan diagnosa SLE dibutuhkan adanya pengamatan klinis
yang baik serta pemeriksaan Antibodi Antinuklear (ANA)
45