100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
483 tayangan15 halaman

Mekanisme dan Dosis Teofilin untuk Asma

Teofilin adalah obat yang digunakan untuk mengobati asma dan penyakit pernapasan lainnya. Obat ini memiliki konsentrasi terapeutik antara 5-15 mg/L dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti penyakit, usia, dan interaksi obat.

Diunggah oleh

fennyasri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
483 tayangan15 halaman

Mekanisme dan Dosis Teofilin untuk Asma

Teofilin adalah obat yang digunakan untuk mengobati asma dan penyakit pernapasan lainnya. Obat ini memiliki konsentrasi terapeutik antara 5-15 mg/L dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti penyakit, usia, dan interaksi obat.

Diunggah oleh

fennyasri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEOFILIN

Teofilin adalah relaksan otot halus bronkial yang digunakan untuk


mengobati asma bronkial dan penyakit pernapasan lainnya

• sukar larut dalam air (sekitar 1%) dan umumnya


diberikan secara interavena dengan kelarutan yang
Kelarutan teofilin tinggi dalam bentuk garam etilendiamin dari teofilin,
aminofilin.

• 5 mg/L - 10 mg/L dikombinasikan dengan sediaan


Dosis teofilin ihalasi kortikosteroid dapat memberikan efek sebagai
antiinflamasi dan imunomodulator.

Dosis
pemeliharaan • 200 mg - 300 mg digunakan 3-4 x sehari (peroral)
pada usia • 200 mg - 400 mg digunakan 2x sehari (peroral)
dewasa
KOSENTRASI TERAPEUTIK DAN TOKSIK

• Rentang konsentrasi terapeutik : 10 mg/L - 20 mg/L


namun pada dosis 5 mg/L fungsi organ pernafasan
sudah menunjukkan perbaikan.
• Efek samping mual dan muntah dari penggunaan
teofilin umumnya dapat terjadi pada konsentrasi 13
mg/L - 15 mg/L atau > 20 mg/L
• Insomnia dan rasa gelisah merupakan efek samping
yang terjadi bila melebihi rentang konsentrasi yang luas.
• Efek kejang (teofilin mempengaruhi SSP) biasanya terjadi
pada konsentrasi > 50 mg/L
Parameter utama: Teofilin

Konsentrasi terapeutik 5 -15 mg/L


F ( bioavailabilitas ) 100 %
S ( fraksi dosis pada label teofilin ) Variasi bentuk garam *
V ( Volume distribusi ) 0,5 L/kg
Cl ( Klirens ) 0,04 L/Kg/jam
t½ ( Waktu paruh ) 8 jam
fu ( fraksi bebas takterikat dalam plasma ) 0,6

* Pemilihan Bentuk Sediaan Teofilin dan Faktor Garamnya


Bentuk Sediaan S
Aminofilin anhidrat 0,8
Aminofilin hidrat 0,84
Teofilin monohidrat 0,91
Teofilin 1
PARAMETER FARMAKOKINETIK
Bioavailabilitas
Penyerapan teofilin dan turunannya teofilin, bila diberikan baik sebagai bentuk
cair atau nonsustained-release menunjukan absorpsi yang cepat dan lengkap.

Volume Distribusi
V prematur newborn =
V = 0,5 L/kg V cystic fibrosis = 0,6 L/kg
0,7 L/kg

Klirens
Beberapa faktor klinis / penyakit dan interaksi
Rata-rata Cl = 0,04 L/kg/hari
obat dapat memepengaruhi klirens teofilin
FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI NILAI KLIRENS

• Perokok memiliki klirens teofilin sekitar 1,5 sampai 2 kali lipat dari
yang bukan perokok
• Penyakit gagal jantung kongestif dapat menurunkan klirens
teofilin menjadi 50% dari nilai normal. Sirosis hati, edema paru
juga dapat menurunkan klirens teofilin, bahkan penyakit paru
yang parah dapat menurunkan klirens teofilin hingga 80%.
• Interaksi obat teofilin dapat mempengaruhi :
1. Penurunan klirens teofilin : makrolida (25-50%),
ciprofloksasin (30%), Fenobarbital (30%), fluvoksamin 70%.
2. Penurunan metabolisme teofilin: Simetidin (30-40%).
3. Meningkatkan metabolisme teofilin : Rifampisin (20-25%)
FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI NILAI KLIRENS

Status Penyakit yang Mempengaruhi Klirens Teofilin


Penyakit Faktor * Acuan
Riwayat merokok 1,6 20, 34
Gagal jantung kongestif 0,5 20, 35, 36
Fibrosis sistik 1,5 25, 26, 57
Edema paru akut 0,5 37
Penyakit virus akut 0,5 58
Sirosis hati 0,5 38
Penyakit paru obstruktif yang parah 0,8 20
Obesitas Berat badan ideal 29
FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI NILAI KLIRENS

Obat-obat Terpilih yang Mempengaruhi Klirens Teofilin


Obat Faktor *
Simetidin 0,6
Ciprofloksasin 0,7
Eritromisin 0,75
Fluvoksamin 0,3
Vaksin Influenza 0,5
Fenobarbital 1,3
Fenitoin 1,6
Propanolol 0,6
Rifampisin 1,3
PARAMETER FARMAKOKINETIK

Waktu Paruh
• Pasien dewasa adalah sekitar 8 jam.
• Pasien perokok dan mengkonsumsi obat induser akan
mengalami waktu paruh lebih pendek : 3 - 4 jam.
• Pasien gagal jantung kongestif dan pasien yang sedang
konsumsi obat inhibitor (penghabat metabolisme teofilin)
:18 - 24 jam .
• Pasien obesitas : > 8 jam
CONTOH SOAL (1)

Diketahui bahwa Cl teofilin seorang pasien adalah 2,8 L/jam,


pemberian IV dari teofilin hingga mencapai konsentrasi tunak 10
mg/L. Berapakah dosis pemeliharaan dari obat teofilin jika diberikan
setiap 12 jam?

D = (Cl)(Css rerata)(τ)

(S)(F)

D = (2,8 L/Jam)(10 mg/L)(1 jam) = 28 mg/jam

(1)(1)

Jadi dosis pemeliharaannya (D) = 336 mg setiap 12 jam


CONTOH SOAL (2)

Diasumsikan klirens 2,6 L/jam dan volume distribusi


40 L pada pasien Tn. R.J. Dengan BB 80 kg (ideal)
dan usia 50 tahun. Diketahui pasien mengalami
asma dan menderita gagal jantung kongestif.

T½ : (0,693)(V)
Cl

T½ : (0,693)(40 L) = 27,7 L = 11 jam


2,6 L/jam 2,6 L/jam
• Simpulan :
waktu paruh pada pasien R.J. Lebih lama dari
waktu paruh normal rata-rata (6-10 jam). Hal
tersebut dikarenakan pengaruh dari penurunan
klirens teofilin dan penyakit gagal jantung kongestif.
CONTOH SOAL (3)

Tn. LK usia 50 y.o, 75 kg (5 ft 10 in) with


chronic bronchitis who requires therapy with
intravenous theophylline. He currently
smokes 2 packs of cigarettes daily, and has
normal liver and cardiac function. Suggest
an initial intravenous aminophylline dosage
regimen designed to achieve a steady-state
theophylline concentration equal to 10
μg/mL.
• Cigarette smoke induces the enzyme systems
responsible for theophylline metabolism, and the
expected theophylline half-life (t1/2) is 5 hours.

k = 0.693 = 0.693 = 0.139 /jam


T½ 5 jam

V = 0.5 L/kg x 75 kg = 38 L

Cl = kV = 0.139 h−1 ⋅ 38 L = 5.28 L/h.


LD = (Css ⋅ V)/S
LD = (10 mg/L ⋅ 38 L) / 0.8 = 475 mg ~ 50 mg
rounded to 500 mg intravenously over 20-30 minutes

ko = (Css ⋅ Cl)/S
(10 mg/L ⋅ 5.28 L/h) / 0.8 = 66 mg/h
~ rounded to 65 mg/h.

A steady-state theophylline serum concentration should be measured


after steady state is attained in 3–5 half-lives. Since the patient is
expected to have a half-life equal to 5 hours, the theophylline steady-
state concentration could be obtained anytime after the first day of
dosing (5 half-lives = 5 ⋅ 5 h = 25 h). Theophylline serum concentrations
should also be measured if the patient experiences an exacerbation of
their lung disease, or if the patient develops potential signs or symptoms
of theophylline toxicity.
DAFTAR PUSTAKA

• Winter, M.E., 2012. Farmakokinetika Klinis Dasar


(Basic Clinical Pharmacokinetics), lima. ed. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
• Bauer, L.A. 2008. Applied Clinical Pharmacokinetics.
2nd Ed. New York: The Graw-Hill Companies.

Anda mungkin juga menyukai