0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan53 halaman

Epidemiologi dan Patogenesis Lupus SLE

Dokumen tersebut membahas tentang Lupus Eritematosus Sistemik (LES), yang merupakan penyakit autoimun kronis yang ditandai oleh produksi antibodi terhadap komponen inti sel. Dokumen ini menjelaskan definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, gejala klinis, dan klasifikasi nefritis lupus."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan53 halaman

Epidemiologi dan Patogenesis Lupus SLE

Dokumen tersebut membahas tentang Lupus Eritematosus Sistemik (LES), yang merupakan penyakit autoimun kronis yang ditandai oleh produksi antibodi terhadap komponen inti sel. Dokumen ini menjelaskan definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, gejala klinis, dan klasifikasi nefritis lupus."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Lupus

Eritematosus
Sistemik
Nur Farhana Amani binti Che Wan Ahmad

112016202

Bagian Ilmu Penyakit Kulit&Kelamin, RS Bhayangkara Sartika Asih


DEFINISI LES

gangguan jaringan penyambung


generalisata kronik yang dapat bersifat
ringan hingga fulminans dimana
adanya temuan autoantibodi yang prototipe penyakit autoimun
menyerang komponen sitoplasma dan yang ditandai oleh produksi
inti sel, ditandai oleh adanya antibodi terhadap komponen- lupus” :serigala
komponen inti sel yang erythro” :merah, sehingga
berhubungan dengan lupus digambarkan sebagai
manifestasi klinis yang luas daerah merah sekitar
hidung dan pipi, yang
dikenal dengan butterfly -
shaped malar rash
EPIDEMIOLOGI

PREVALENSI
52/100.000 PREVALENSI
penduduk Asia ±4.3-37.7/100.000
America
INSIDENS CHINA INSIDENS
per tahunnya 3.1/100.000 penduduk
INDONESIA
± 5.1/100.000
penduduk.

RSCM:4% kasus LES dari total


kunjungan pasien di poliklinik RPD
RSHSB:291 pasien (10.5%) dari total
pasien yang berobat ke poliklinik
Reumatologi
EPIDEMIOLOGY
USIA

16-55 PUNCAK
<16THN >55THN USIA
THN

65% 20% 15% 90%: usia 15-


40 tahun
selama masa
reproduksi
EPIDEMIOLOGI
Rasio penyakit LES pada perempuan dan laki-laki adalah 9:1

LAKI-LAKI
PEREMPUAN

prevalensi LES pada perempuan yaitu prevalensi LES pada laki-laki 0.8-
sekitar 7.7-68.4 kasus per 100.000 7.0 kasus per 100.000 penduduk
penduduk dengan insidensi 1.4-5.4 dengan insidensi 0.4-0.8 kasus tiap
kasus tahunnya
MORBIDITAS DAN MORTILITAS
Mortalitas pada tahun pertama: penyakit
dan infeksi (termasuk infeksi M.
survival rate 5 tahun pasien LES di RSCM tuberculosis, virus, jamur dan protozoa),
88% dari pengamatan 108 orang pasien yang berobat jangka panjang:penyakit vaskular
dari tahun 1990-2002 aterosklerosis

Asia-Pasifik yaitu 30-80% karena infeksi,


SURVIVAL RATE :BERDASARKAN USIA 19-95% penyakit LES yang aktif, 6-40%
keterlibatan kardiovaskular, dan 7-36%
1-5: 93-97% 15-20:64-80% karena adanya abnormalitas ginjal.
5-10:84-95% 20: 53-64%..
10-15:70-85%
Rupert [Link](2012)
• 93-98% dalam 1 tahun
• 60-97% dalam 5 tahun,
• 70-94% dalam 10 tahun
ETIOLOGI

Faktor Lingkungan

Antibody antinuklear

Faktor imunologis
Faktor genetik
a) Antibodi Antinuklear (ANA)

ANA dikelompokkan menjadi empat kategori:

1. Antibodi terhadap DNA


2. Antibodi terhadap histon
3. Antibodi terhadap protein nonhiston yang terikat pada RNA
4. Antibodi terhadap antigen nucleolus
FAKTOR GENETIK

KEMBAR KOMPLEMEN
1 (25%) pada kembar monozigotik 4 mengganggu pembersihan kompleks
(1-3%) kembar dizigotik imun dari sirkulasi dan memudahkan
deposisi jaringan, yang menimbulkan
jejas jaringan.
FAMILY HISTORY
-20%
2 -saudara kandung memiliki risiko 30 kali
5
lebih besar untuk menderita LES

ORANG KULIT PUTIH


Amerika Utara :hubungan positif antara
3 LES dengan gen HLA kelas II, terutama
6
pada lokus HLA-DQ
FAKTOR LINGKUNGAN
OBAT: prokainamid dan hidralazin
mengganggu ekspresi dari sel T CD4+
menghambat metilasi DNA dAN
LUPUS-LIKE menstimulus ekspresi antigen LFA-1
FAKTOR SYNDROME autoreaktivasi pada LES.
MEMPERBURUK Penggunaan >6 bulan :menghasilkan
ANA disertai gambaran LES yang
muncul 15% - 20% pada pasien
• 70% pasien LES :flare
• Sinar ultraviolet dapat faktor yang meningkatkan
meningkatkan apoptosis UV terjadinya LES
keratinosit, merusak DNA dan RAYS EBVmengaktivasi sel limfosit B &
menstimulus interferon α (IFN α)
meningkatkan jejas jaringan INFEKSI =produksi sel plasmasitoid dendirtik
pembentukan kompleks imun EBV memicu respon imun.
DNA / anti-DNAstimulus EBV jmemiliki untaian asam amino yang
respon autoimun pada LES menyerupai untaian asam amino
manusia menstimulus respon
autoimun pada LES.
FAKTOR IMMUNOLOGI

KELAINAN IMUNOLOGIS

SEL T DAN SEL B

antibodi anti-DNA pathogen pada pasien LES adalah kationik, sedangkan antibodi
yang dihasilkan oleh sel B yang teraktivasi secara poliklonal adalah anionik dan
nonpatogen

FAKTOR HORMON
RESPON ANTIBODI PEREMPUAN LEBIH TINGGI

• efek estrogen terhadap sintesis antibodi.


• Perempuan:kontrasepsi oral yang terdapat kandungan estrogen atau yang menggunakan
hormone replacement therapy memiliki risiko 2 kali lipat terkena LES.
• Estradiol akan berikatan pada reseptor sel T dan sel limfosit B, meningkatkan aktivasi sel T
dan sel limfosit B tersebut
PATOGENESIS

1. Sel T dan Sel B menjadi autoreaktif

2. Pembentukan sitokin yang berlebihan

3. Hilangnya regulasi kontrol pada sistem imun

a. Hilangnya kemampuan membersihkan antigen di


kompleks imun maupun sitokin di dalam tubuh

b. Menurunnya kemampuan mengendalikan apoptosis

c. Hilangnya toleransi imun dimana sel T mengenali molekul


tubuh sebagai antigen kerena adanya mimikri molekuler
Hasil akhir dari ini yaitu produksi autoantibodi dan pembentukan
kompleks imun yang terdeposisi

(1) sequestrasi dan destruksi sel-sel yang diselubungi Ig yang beredar di sirkulasi

(2) fiksasi dan cleaving komplemen

(3) pengeluaran kemotoksin, peptide vasoaktif, dan enzim-enzim yang


mendestruksi jaringan
PATOFISIOLOGI

Abnormalitas imun pada LES


2 fase yaitu

(a) meningkatnya serum antinuklear dan


autoantibodi anti-glomerular

(b) terbentuknya kompleks imun pada organ


target yang menyebabkan kerusakan organ
B. GEJALA
MUSKULOSKELETAL

A. GEJALA C. GEJALA

Let’s Move On!


KONSTITUTIONAL MUKOKUTAN

Don’t worry. We surely support you.


SLE
A. GEJALA KONSTITUTIONAL

• Manifestasi yang timbul dapat bervariasi.


• Pada anak-anak yang paling sering adalah anorexia,
demam, kelelahan, penurunan berat badan,
limfadenopati dan irritable.
• Gejala dapat berlangsung intermiten atau terus-
menerus
B. GEJALA MUSKULOSKELETAL
• gejala yang paling sering ditemukan
dapat berupa athralgia
• paling sering terkena: sendi
interfalangeal proksimal diikuti oleh
lutut, pergelangan tangan,
metakarpophalangeal, siku,
pergelangan kaki
• Artritis: 90% anak, simetris
• sangat responsif terhadap terapi.
• Arthritis pada tangan: kerusakan
ligament dan kekakuan sendi yang
berat.
• Osteonecrosis
C. GEJALA MUKOKUTAN
1. Lesi kulit

Butterfly rash Lupus eritematosus Lesi kulit sub Lesi diskoid


kutaneus akut akut yang
khas
berbentuk
anular.
Livido Retikularis
• Suatu bentuk vaskulitis ringan.
• Dapat menyebabkan ulserasi dari yang berbentuk kecil sampai yang besar.
• Sering juga tampak perdarahan dan eritema periungua

Livido Retikularis Eritema Periungual


i. Kelas I: minimal mesangial lupus nephritis
ii. Kelas II: mesangial proliferative lupus nephritis
iii. Kelas III: focal lupus nephritis
iv. Kelas IV: diffuse lupus nephritis
v. Kelas V: membranous lupus nephritis
vi. Kelas VI: advanced sclerotic lupus nephritis

• 68% kasus LES.

Manifestasi paling sering:proteinuria +/-hematuria

2 macam kelainan patologis pada ginjal:

• Nefritis lupus difus:kelainan yang paling berat. tampak sebagai sindrom nefrotik,
hipertensi, fungsi ginjal sedang sampai berat.

• Nefritis membranosa lebih jarang


Ditandai dengan sindroma nefrotik, gangguan fungsi ginjal ringan
KRITERIA DIAGNOSIS
American College of Rheumatology 1997 yang terdiri dari 11 kriteria
(+) SLE jika ditemukan 4 dari 11 kriteria yang ada.
Bila dijumpai 4 atau lebih kriteria diatas, diagnosis LES
memiliki sensitifiitas 85% dan spesifisitas 95%.

bila hanya 3 kriteria dan salah satunya ANA positif, maka


sangat mungkin LES dan diagnosis bergantung pada
pengamatan klinis.

Bila hasil tes ANA negatif, maka kemungkinan bukan LES.

hanya tes ANA positif dan manifestasi klinis lain tidak ada, maka
belum tentu LES, dan observasi jangka panjang diperlukan
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Kelainan yang sering ditemui:

• anemia hemolitik dan anemia nomositer


• leukopenia
• trombositopenia
• laju endap darah yang cepat
• hiperglobulinemia
• bila terdapat sindrom nefrotik, albumin akan
rendah
• kelainan faal hepar
• proteinuria
Pemeriksaan penunjang minimal yang diperlukan
untuk diagnosis dan monitoring LES

Rekomendasi
1. Hemoglobin. Leukosit, hitung jenis sel, laju endap darah (LED)
- Test
2. Urin ANA
rutin danmerupakan test
mikroskopik yang kuantitatif
protein sensitif, namun tidak
24 jam, bilaspesifik untuk
diperlukan
SLE
pemeriksaan kreatinin darah
- Testdarah
3. Kimia ANA dikerjakan hanya jika
(ureum, kreatinin, terdapat
fungsi kecurigaan
hati dan terhadap SLE
profil lipid)
- Test
4. PT dan Anti
aPTT dsDNA positif menunjang diagnosis SLE, namun jika
negatif ANA,
5. Serologi tidak anti-dsDNA,
menyingkirkan diagnosis C3
komplemen SLEC4
6. Foto polos toraks (pemeriksaan hanya untuk awal diagnosis)
• Sel L.E :granulosit neutrofilik yang mengandung bahan
Fenomena Sel S.E nuclear basofilik yang telah difagositosis, segmen
nuklearnya berpindah ke perifer
dan tes sel S.E • kini tidak penting

• pemeriksaan imunofluoresensi tak langsung dapat


ditunjukkan (ANA) pada 90% kasus
Antibodi • mengetahui adanya antibody yang mampu menghancurkan
inti dari sel-sel tubuh sendiri
antinuclear (ANA) • 4 pola ANA ialah membranosa (anular, peripheral),
homogen, berbintik dan nuclear

• lupus band test, specimen diambil dari kulit yang normal.


Lupus Band Test • Tes tersebut positif pada 90-100% kasus L.E.S dan 90-95%
kasus L.E.D.
• hanya ditemukan pada 40-50% penderita
Anti ds- • mempunyai hubungan dengan glomerulonefritis
• meramalkan akan terjadinya hematuria dan atau
DNA proteinuria

• 20-30% penderita dan tidak ditemukan pada


Anti Sm penyakit lain.
a. Undifferentiated connective tissue
disease
b. Sindroma Sjögren
c. Sindroma antibodi antifosfolipid (APS)
d. Fibromialgia (ANA positif)
e. Purpura trombositopenik idiopatik
f. Lupus imbas obat
g. Artritis reumatoid dini
h. Vaskulitis

DIAGNOSA BANDING
DERAJAT SLE

SLE RINGAN
1. Secara klinis tenang
2. Tidak terdapat tanda atau gejala yang
mengancam nyawa
[Link] organ normal atau stabil, yaitu: ginjal,
paru, jantung, gastrointestinal, susunan saraf
pusat, sendi, hematologi dan kulit.
Contoh LES dengan manifestasi arthritis dan
kulit.
SLE DERAJAT SEDANG

1. Nefritis ringan sampai sedang ( Lupus nefritis


kelas I dan II)
2. Trombositopenia (trombosit 20-50x103/mm3)
3. Serositis mayor
SLE DERAJAT BERAT
1. Jantung: endokarditis Libman-Sacks, vaskulitis arteri koronaria, miokarditis,tamponade jantung, hipertensi
maligna.
2. Paru-paru: hipertensi pulmonal, perdarahan paru, pneumonitis, emboli paru,infark paru, ibrosis interstisial,
shrinking lung.
3. Gastrointestinal: pankreatitis, vaskulitis mesenterika.
4. Ginjal: nefritis proliferatif dan atau membranous.
5. Kulit: vaskulitis berat, ruam difus disertai ulkus atau melepuh (blister)
6. Neurologi: kejang, acute confusional state, koma, stroke, mielopati transversa, mononeuritis, polineuritis,
neuritis optik, psikosis, sindroma demielinasi. mononeuritis, polineuritis, neuritis optik, psikosis, sindroma
demielinasi.
7. Hematologi: anemia hemolitik, neutropenia (leukosit <1.000/mm3),
trombositopenia < 20.000/mm3 , purpura trombotik trombositopenia, thrombosis vena atau arteri.
PENGELOLAAN

a)mendapatkan masa remisi yang 1)Edukasi dan konseling


panjang
2)Program rehabilitasi
b) menurunkan aktivitas penyakit
seringan mungkin 3) Pengobatan
c) mengurangi rasa nyeri dan medikamentosa (OAINS, Anti
memelihara fungsi organ agar aktivitas malaria, steroid,
hidup keseharian tetap baik guna Imunosupresan / Sitotoksik)
mencapai kualitas hidup yang optimal.
TERAPI SLE RINGAN
- Penghilang nyeri seperti paracetamol 3 x 500 mg, bila diperlukan.

- Obat anti inflamasi non steroidal (OAINS)

- Glukokortikoid topikal untuk mengatasi ruam (gunakan preparat dengan potensi ringan)

- Klorokuin basa 3,5-4,0 mg/kg BB/hari (150-300 mg/hari) (1 tablet klorokuin 250 mg

mengandung 150 mg klorokuin basa) catatan periksa mata pada saat awal akan pemberian

dan dilanjutkan setiap 3 bulan, sementara hidroksiklorokuin dosis 5- 6,5 mg/kg BB/ hari

(200-400 mg/hari) dan periksa mata setiap 6-12 bulan.

- Kortikortikosteroid dosis rendah seperti prednison < 10 mg / hari atau yang setara .

- Tabir surya: sekurang-kurangnya 15 (SPF 15).


TERAPI SLE SEDANG
• Pilar penatalaksanaan LES sedang sama
seperti pada LES ringan
• beberapa rejimen obat-obatan tertentu serta
mengikuti protokol pengobatan yang telah
ada.

Misal pada serosistis yang refrakter: 20 mg / hari


prednison atau yang setara.
TERAPI SLE BERAT
• Pilar pengobatan sama seperti pada LES ringan
kecuali pada penggunaan obat-obatannya.

• Pada LES berat atau yang mengancam nyawa


diperlukan obat-obatan sebagaimana tercantum
pada bagan.
OBAT YANG DIGUNAKAN
PENCEGAHAN
Memakai krim (sunscreen) apabila keluar dari rumah
Memakai pakaian yang menutup ekstremitas
Mengelakkan pemberhentian penggunaan kortikosteroid secara
tiba-tiba.
Istirahat
Jika penderita menderita demam atau ada tanda-tanda infeksi
maka harus diobati dengan segera.
Mengkonsumsi vitamin antioksidan untuk mengurangkan efek
daripada stress oksidatif
Perubahan gaya hidup untuk meningkatnya daya imun.
Kelelahan bisa karena sakitnya atau penyakit lain
LES DAN KEHAMILAN
• jika kehamilan terjadi pada saat nefritis masih aktif maka 50-60% eksaserbasi
• jika nefritis lupus dalam keadaan remisi 3-6 bulan sebelum konsepsi hanya 7-
10% yang mengalami kekambuhan

PENANGANAN

1. Jika penderita LES ingin hamil dianjurkan sekurang-kurangnya setelah 6 bulan


aktivitas penyakitnya terkendali atau dalam keadaan remisi total. Pada lupus
nefritis jangka waktu lebih lama sampai 12 bulan remisi total. Hal ini dapat
mengurangi kekambuhan lupus selama hamil.

2. Medikamentosa:
a) Dosis kortikosteroid diusahakan sekecil mungkin yaitu tidak melebihi 7,5
mg/hari prednison.
b) DMARDs atau obat-obatan lain seyogyanya diberikan dengan penuh kehati-
hatian.
KONTRAINDIKASI UNTUK HAMIL

Sebaiknya penderita lupus tidak hamil dalam kondisi berikut ini:

- Hipertensi pulmonal yang berat (Perkiraan PAP sistolik >50 mm Hg


atau simptomatik)
- Penyakit paru restriktif (FVC <1 l)
- Gagal jantung
- Gagal ginjal kronis (Kr >2.8 mg/dl)
- Adanya riwayat preeklamsia berat sebelumnya atau sindroma
HELLP (Hemolitic anemia, elevated liver function test, low platelet)
walaupun sudah diterapi dengan aspirin dan heparin
- Stroke dalam 6 bulan terakhir
- Kekambuhan lupus berat dalam 6 bulan terakhir.
• Prognosis LES sangat bervariasi.
-Asia-Pasifik, prognosis LES tampak lebih baik pada
negara Cina (Shanghai, survival rate 98% dalam 5
tahun)
-Hong Kong (survival rate 97% dalam 5 tahun dan
94% dalam 10 tahun),
-Korea Selatan (survival rate 94% dalam 5 tahun) -
Australia survival rate LES hanya 60% dalam 5
tahun.
• Lupus Eritematosus Sistemik didefinisikan sebagai penyakit inflamasi
autoimun sistemik.
• Etiologi penyakit LES merupakan interaksi antara faktor genetik, faktor
imunologis, faktor lingkungan, dan faktor hormonal.
• Gejala klinis dan perjalanan penyakit LES sangat bervariasi.
• Diagnosis LES menurut American College of Rheumatology (ACR)
ditegakkan bila terdapat paling sedikit 4 dari 11
• Penatalaksanaan LES dilaksanakan secara komprehensif meliputi non
medika mentosa dan medika mentosa.
• Tujuan dari terapi LES yaitu untuk meningkatkan kesintasan dan kualitas
hidup pasien LES melalui pengenalan dini dan pengobatan yang paripurna.
Let’s Move On!
Don’t worry. We surely support you.

Anda mungkin juga menyukai