0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan80 halaman

Jenis dan Fungsi Sensor Otomotif

Dokumen tersebut membahas tentang berbagai jenis sensor yang digunakan pada sistem kontrol otomotif beserta cara kerja dan rangkaian elektroniknya."

Diunggah oleh

Havid Denil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan80 halaman

Jenis dan Fungsi Sensor Otomotif

Dokumen tersebut membahas tentang berbagai jenis sensor yang digunakan pada sistem kontrol otomotif beserta cara kerja dan rangkaian elektroniknya."

Diunggah oleh

Havid Denil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sensor dan Pengolahan Sinyal

Posisi Sensor dari System

AKTOR
( Unit Aktuator )

Sensor mengkonversikan suatu kwantitas masukan


berupa phisik atau bahan kimia (pada umumnya
non-elektrik) ke dalam suatu kwantitas keluaran
elektrik.
Fisik/ Kimia
Keluaran
Kwantitas 
(non electric) Sensor Sinyal
Elektrik

Gangguan-gangguan
(temperature,
tegangan tidak
setabil,……)

Gangguan-gangguan yang dialami oleh sensor perlu


diperhitungkan supaya tidak mempengaruhi sinyal keluaran
dari sensor. Oleh sebab itu perlu adanya pengolahan sinyal
(pengkondisian sinyal) sebelum sinyal tersebut digunakan oleh
kontrol unit.
Sensor-sensor pada kendaraan
(automotive)
Tingkatan sensor :

Keterangan :
SE : Sensor
SA : Sinyal conditioning (analog)
A/D : Analog to Digital Converter
SG : ECU
MC : Microcomputer
Macam – Macam Sensor pada
Automobil :

A. Sensor Temperatur (ECT,IAT)


B. Throttle Position Sensor (TPS)
C. Sensor Udara Masuk (MAF, MAP)
D. Sensor Putaran
E. Sonsor Knocking
F. Sensor Gas Buang (Lamda)
G. Dll…
A. Sensor Temperatur
Bahan Thermistor, merupakan bahan Solid-
state variable resistor .
Terbuat dari semiconductor NTC (Negative
Temperature Coefficient) adalah Thermistor
yang nilai tahananya berkurang bila
temperatur naik (Nilai tahanan berbanding
terbalik terhadap Temperatur).

Gambar NTC Resistor (Thermistor)


Pada 0ºC mempunyai tahanan  5 KΩ, dan pada
temperatur 80ºC tahanan  250 Ω. Bila kita grafikkan
akan terlihat seperti grafik dibawah

Gambar Grafik hubungan temperatur dengan tahanan


Engine Coolant Temperature (ECT)

Bahan : Thermistor NTC.


Fungsi : Mendeteksi suhu air pendingin
(engine) untuk :
1. Mengatur campuran bahan bakar
2. System start dingin
3. Mengatur saat (derajat) pengapian
4. Mengatur putaran idel dingin
Posisi : Pada mesin (air pendingin), setiap
kendaraan beda.
Temperatur : – 40C s/d +130C
Gambar Sensor Temperatur engine
Circuit ECT

Cara kerja :
ECT dihubungkan seri dengan
tahanan dan diberi tegangan 5V.
Bila tahanan pada ECT berubah
(karena temperatur) maka
tegangan yang ke ECU juga
berubah.
Tegangan kerja 4,5 s/d 0,2 Volt.
Dari dingin ke panas.
Intake Air Temperature (IAT) Sensor

 Bahan : Thermistor NTC.


 Fungsi : Mendeteksi suhu udara masuk
(intake).
 Posisi :
- Pada saluran udara masuk (intake manifolt).
- Pada Sensor Udara Masuk (Air Flow Sensor)

 Temperatur kerja : – 40C s/d +120C


Gambar Intake Air Temperature (IAT) Sensor
Circuit IAT

Cara kerja :
IAT dihubungkan seri dengan
tahanan dan diberi tegangan
5 V. Bila tahanan pada IAT
berubah (karena temperatur),
tegangan sinyal akan
mengalami perubahan.
Perubahan tegangan identik
dengan perubahan
temperatur.
Throttle Position Sensor (TPS)

• Bahan : Tahanan Geser (Karbon Arang).


• Fungsi : Mengetahui posisi (derajat) pembukaan
katup gas guna :
1. Air Fuel Ratio Corection
2. Decelerasi (Fuel cut off)
3. Beban maksimum (Full load)
• Posisi : Pada ujung lain dari Katup Gas.
• Range kerja : Dalam % pembukaan katup gas.
(0 % = 0,5 Volt ___ 100 % 4,7 Volt
Type 3 pin potensio

Gambar Lokasi sensor TPS


Circuit TPS 3 pin
Type 4 pin potensio
Circuit TPS 4 pin

1. Tegangan sumber 5V
2. Tegangan sinyal
3. Sensor Idle
4. Negatif Ground
Cara Kerja :
Tegangan 5 volt dari ECU sebagai
sumber,bila katup gas dibuka
akan membuat perbandingan
tegangan yang berasal dari
perbandingan tahanan, sehingga
mengeluarkan sinyal tegangan
0,5 s/d 4,7 Volt.
Air Flow Sensor (Sensor Udara Masuk)

1. Sensor Flap (impact pressure)/


Air Flow Sensor LMM.

• Bahan : Tahanan Geser (Karbon Arang).

• Fungsi : Mengetahui Banyaknya udara masuk.

• Posisi pada kendaraan : Pada saluran udara masuk


(setelah filter udara).
Gambar Lokasi sensor pada kendaraan
Cara Kerja :

Pedal ditekan untuk membuka


katup gas. Udara diisap oleh
motor jumlah udara yang
mengalir diukur oleh
pengukur jumlah udara.

Pengukur aliran udara


memberikan informasi utama
secara elektris ke unit
pengontrol elektronika.
Volume bensin yang diinjeksikan
diatur oleh unit pengontrol
elektronika.
Sirkuit Air Flow Meter
2. Sensor Massa Udara (Kawat Panas).

• Bahan : Kawat Panas (Platinum),


Thermister, Metallic Film.

• Fungsi : Mengetahui Massa Udara


yang masuk Untuk :
1. Campuran bahan bakar
2. Saat pengapian

• Lokasi pada kendaraan : Pada saluran udara


masuk (antara katup gas dan filter udara).
IAT Resistor
Kawat Panas

Gambar Kawat Panas


Sensor Massa Udara (Kawat Panas)
Tipe B

Keterangan :
1. Bypass Udara masuk
2. IAT Sensor (Thermister)
3. Massa Udara
4. Kawat panas (Platinum)
5. Pengolah sinyal
Prinsip Kerja :
- Kawat panas dijaga pada temperatur tetap
- Aliran udara  kawat panas menjadi dingin,
- Rangakian elektronik  mempertahankan temperatur
pada kawat panas tetap dengan cara menaikkan arus.
- Perubahan arus dibaca sebagai sinyal

Catatan :
Untuk menjaga performa dan kesetabilan sensor, maka sensor akan
melakukan pembersihan diri dari deposit akibat pembakaran dengan
cara memanaskan sensor (temperatur  1000 C) beberapa saat
setiap posisi ”OFF”.
Sensor Massa Udara (Film Panas)

Film Panas
Keterangan :
1. Pendingin
2. Pengatur Jarak
3. Driver stage
4. Rangkaian
Pengolah sinyal
5. Elemen Sensor
(Metallic Film)
3. Karman Vortex.

 Bahan : Photo Coupler (LED dan Photo


Transistor).

 Fungsi : Mengetahui Volume Udara masuk:


1. Campuran bahan bakar
2. Saat pengapian

 Lokasi pada kendaraan : Pada saluran udara


masuk (antara katup gas dan filter udara).
Konstruksi dan nama bagian
1. Pembentuk pusaran
udara
[Link] penstabil pusaran
udara
[Link] pemancar
gelombang
[Link] gelombang
[Link] Sinyal
[Link] By Pass
Bagian 1 & 2 berfungsi untuk membuat
pusaran udara yang akan diukur melalui
pemancar & penerima gelombang frekuensi
tinggi. Dengan sebuah pengolah sinyal ,
gelombang frekuensi tinggi pada bagian
penerima diubah bentuknya menjadi impuls
tegangan yang diterima oleh komputer.
Rangkaian Karman Vortex

Gambar Sinyal Karman Vortex


Manifold Absolute Pressure (MAP)

Bahan : Piezo Resistive.

Fungsi : Mengetahui Tekanan Udara masuk


untuk :
1. Campuran bahan bakar
2. Saat pengapian

Lokasi pada kendaraan : Pada saluran udara


masuk (setelah katup gas).
Gambar : Lokasi Sensor
Cara Kerja MAP
D. Sensor Putaran.
1. Sensor Induktif pada Distributor

Bahan : Kumparan dan Magnet.

Fungsi : 1. Sensor Putaran mesin


2. Sebagai tanda silinder 1 Posisi TOP.
3. Sebagai tanda saat pengapian
4. Sebagai tanda saat injeksi

Posisi pada kendaraan : Pada Distributor pengapian.


Keterangan :
1 = Rotor
2 = Stator
3 = Kumparan Induktif
4 = Plat Dudukan
5 = Busing Rotor
6 = Badan Stator
7 = Celah Udara
8 = Magnet Permanan
9 = Celah Dalam
10= Plat Dudukan Tetap
Induksi terjadi karena :
 Perubahan medan magnet yang terjadi pada
inti
 Perubahan medan karena berputarnya rotor
Bentuk osilogram sinyal induktif dari sensor
Sensor CKP dan CMP pada distributor

Untuk sistem yang pengajuan pengapiannya


dengan mikrokontrol maka sinyal putaran (CKP)
harus dilengkapi dengan sensor posisi silinder
(CMP). Sinyal ada yang di distributor dan di poros
engkol.
Sensor CKP dan CMP pada distributor

Gambar : Sinyal CKP dan CMP


Sensor CKP dan CMP pada distributor

Gambar : Sinyal CKP dan CMP


Sensor Induktif pada Poros Engkol

Satu Sensor Induktif

Keterangan :
[Link] Permanen
[Link] sensor
[Link] Besi lunak
[Link]
[Link] gigi dengan
refesensi
Keuntungan :
• Cukup satu sensor
induktif
• Satu sensor keluar 2
sinyal (Data RPM dan
Posisi TOP)

Kerugian :
• Pengolahan Sinyal lebih
rumit

Gambar : Bentuk Sinyal Sensor Induktif


Dua Sensor Induktif (CKP dan CMP).

Keterangan :
1. Sensor CKP
2. Sensor CMP
3. Magnet Permanen
4. Inti Besi Lunak
5. Kumparan
6. Rumah Poros
Engkol
7. Tonjolan segmen
8. Roda Gaya
Gambar : Bentuk Sinyal CKP dan CMP
Sensor Hall pada distributor

Effek Hall :
Bila lempeng hall (5)
dialiri elektron (terminal
1,2), dan dijatuhkan
medan magnet (tanda
panah), maka pada sisi
(3) dan (4) akan ada beda
potensial disebut dengan
effek Hall (Sinyal hall).
Gambar : Effek Hall
Sensor Hall pada distributor Prinsip Kerja Sensor IC-Hall
Keterangan :
1. = Sudu logam
2. = Soft magnetik
konduktor
3 = IC-hall
4 = Celah sensor
b = lebar sudu
US = Tegangan
sumber
Grafik tegangan sinyal UO = Tagangan Sinyal
Sensor Photodioda

 Bahan : Photo Coupler (LED


dan Photodiode)

 Fungsi :
1. Sensor Putaran mesin
2. Sebagai tanda silinder 1 Posisi TOP.
3. Sebagai tanda saat pengapian
4. Sebagai tanda saat injeksi

 Posisi pada kendaraan : Pada Distributor, pada


poros cam
Prinsip kerja :

LED  Pemancar
Photodiode  penerima

Diantara sensor tersebut


terdapat disc yang didesain
sedemikian rupa.
- 4 celah  sensor CKP, dan
- 1 celah  sensor CMP.
Tegangan Sinyal Photodiode
Jenis ini mempunyai :
- 360 lubang  sensor CKP
- 4 lubang  sensor CMP,
- ada satu lubang khusus tanda
silinder 1.

Dalam 1 putaran sensor :


CKP mengirimkan = 360 X sinyal 1 dan 0
CMP mengirimkan = 4 X sinyal 1 dan 0

Dalam 1 Putaran poros engkol :


- CKP mengirim = 180 X sinyal
- CMP mengirim = 2 X sinyal
Sensor Knoking

• Bahan : Piezoceramic

• Fungsi : 1. Mengetahui terjadi knoking.


2. Sistem closed-loop pengapian.
3. Mendetaksi Octane bahan-bakar.

• Posisi pada kendaraan : Pada Blok silinder.


Keterangan :
1 = Piezoceramic
element
2 = Seismic mass
3 = Rumah sensor
4 = Baut pengencang
5 = Permukaan kontak
6 = Konektor
7 = Blok Silinder
V = Getaran
Prinsip kerja :
Knocking  terjadi getaran
pada sensor knocking
berupa nois, seperti gambar
disamping.

ECU  memundurkan saat


pengapian 2X sampai tidak
terjadi detonasi lagi.

Untuk :
4 Silinder  1 sensor
6 silinder  2 sensor
Sensor Gas Buang.

• Bahan : Zirconium Dioxide


(ZrO2), Platina (elektroda)

• Fungsi : 1. Sistem Closed-loop A/F Rasio.


2. Mengetahui kerusakan Katalitik
konverter.

• Posisi pada kendaraan : Pada Saluran Gas buang.


Keterangan :
1. Lapisan proteksi keramic
2. ZrO2 (Zirconium Dioxide)
3. Electroda
4. Saluran Buang

Prinsip kerja :
Bila ada perbedaan jumlah O2 gas buang dengan O2
udara luar, akan terjadi beda potensial antara kedua
elektroda. Tegangan max 1 volt. Temperatur kerja min
400 C.
Karakteristik Sensor 

Keterangan :
Campuran kaya
Campuran kurus
 = 1 Berbandingan 14,7 : 1
( Tegangang sinyal = 0,45 V)
 < 1 Campuran kaya
( Tegangang sinyal = 0,6 – 1,0 V)
 > 1 Campuran miskin
( Tegangang sinyal = 0,4 – 0,1 V)
Model Closed-Loop Control dan
sinyal yang dihasilkan
III. Pengolahan Sinyal (Sinyal conditioning).

 Sinyal yang keluar dari sensor perlu atau


harus dikondisikan (diolah) terlebih
dahulu sebelum dapat diproses (Data
Processing). Sejauh diperlukan, pengolahan
sinyal tersebut didalamnya mempunyai
fungsi-fungsi antara lain :
Konversi ke Tegangan

VC
C Maka VOUT dapat kita hitung
dengan rumus :

Rntc
VOUT = xVcc
( R  Rntc)
RNTC V

Contoh penerapan:
1. Sensor temperature
2. Sensor Katup Gas
Metoda Jembatan Wheatstone
(Wheatstone Bridges)

Untuk memonitor perubahan resistasi,


kita bisa gunakan jembatan wheatstone.
Prinsip kerjanya sama dengan pembagi
tegangan dengan 2 jalur : Kalau nilai
resistansi dari 4 resistance sama maka
tegangan Outputnya = 0 Volt.
+ Out

RS R2 VOut
E  Out

R1 R3

Jadi kita dapat mencari VOut dengan


mengunakan rumus ?
F to V konversi

Mengkonversi suatu sinyal frekuensi


menjadi sinyal tegangan, sudah banyak
rangkaian jadi di pasaran.
Salah satu contoh rangkaian F to V.

Komponen utamanya berupa IC yang


didalamnya terdiri dari beberapa op-amp dan
komponen pendukung lainnya.
Op–Amp.
Op-Amp adalah Operasional Amplifier atau Penguat
Operasional, mempunyai fungsi banyak sekali diantaranya :
◦ Sebagai penguat sinyal
◦ Sebagai komparator
◦ Perubah bentuk sinyal
◦ Filter tegangan
◦ Dll.

Op - Amp membutuhkan tegangan sumber positip dan negatip.


Tegangan sumber Op - Amp tersebut antara  5V sampai
dengan  18V.
Disamping hubungan untuk tegangan sumber, Op - Amp
mempunyai pula hubungan tegangan sebagai masukan
pembalik - ( Inverting input ) dan sebagai masukan bukan
pembalik + ( Non Inverting Input ) demikian juga halnya sama
dengan keluarannya.
+ 12V

Masukan pembaliki -
(Inverting Input)
OP- AMP Keluaran
+
Masukan bukanpembalik
(nonInverting Input) -12V

Gambar : Simbol Penguat Operasi (OP-Amp)


Penguat Operasi

Penguatan tegangan V dari Op - Amp umumnya


besar sekali, lebih dari 100.000 kali. Misalnya
pada masukan diberi tegangan U1 sebesar 1 mV,
maka tegangan keluaran U2 sebesar :
U2 = V .U1
U2 = 100.00 (1MV) = 100 V
Karena menurut suatu ketentuan Op - Amp
hanya mempunyai tegangan catu sebesar  15V,
maka untuk tegangan keluaran U2 sebesar
100V tersebut tidak dapat dicapai.
Tegangan keluaran Op - Amp sangat ditentukan oleh
besarnya tegangan catu dari Op - Amp itu sendiri.
( sehingga praktis tegangan keluarannya 15V )

+ 12V

+ 12V
P1 = 10K
R=10K 2
- 7
U1 6

U2
3
+ 4
-12V
-12V

Gambar : Penguatan Operasional


Penguatan Operasi Non-Inverting.
Sebuah penguat operasi bukan pembalik dengan
penguatan tertentu sebesar V dibangun pada
gambar seperti dibawah ini.
+ 12V

2
+ 7
6
U1 U2
3 - 4

-12V

R1
R2

Gambar : Rangkaian Non-inverting (Penguat sinyal)


Perhitungan penguatan dapat kita rumuskan
seperti berikut :

U2 = U1 = ( 1 + ) U1

R2  R1 R1
R2 R2
Prinsip komparator
Komparator dapat dibangun dengan
menggunakan penguat operasi ( Op -
amp ) tanpa umpan balik.
+ 12V

U1 _

U3
+
U2

-12V

Gambar : Komperator
Sinyal keluaran U3 adalah merupakan sinyal digit
dengan perkataan lain sinyal tersebut adalah
berlogika “1” atau “0” ( + 12 V atau GND )
Pada saat U1 > U2 , U3 berlogika “ 0 “

U1 < U2 , U3 berlogika “ 1 “

Rangkaian ini dapat digunakan untuk mendeteksi


besaran - besaran level atau amplitudo sinyal.
Rangkaian Deferensiator
(Pembentuk Pulsa)
Rangkaian Deferensiator (Pembentuk Pulsa)
Rangkaian Integrator
(Pembentuk Pulsa)
Rangkaian Integrator
(Pembentuk Pulsa)

Anda mungkin juga menyukai