Kerangka
Definisi dari kerangka teoretis adalah model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seseorang menyusun
Teoritis
teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah. Secara singkat, kerangka
teoritis adalah membahas saling ketergantungan antar variabel yang dianggap perlu untuk melengkapi situasi yang akan
diteliti. Penyusunan kerangka yang berkonsep akan membantu kita untuk menghipotesiskan dan menguji hubungan
tertentu.
Menurut Depdiknas (2008: 1605), variabel
K erangka teoritis akan memberikan dasar konseptual
diartikan sesuatu yang dapat berubah; faktor atau
bagi penelitian, dan kerangka teoritis adalah Variabel Terikat (Dependent Variable)
unsur yang ikut menentukan perubahan.
mengidentifikasikan jaringan hubungan antarvariabel yang
Secara teoretis Hacth dan Farhady (dalam Variabel Bebas (Independent Variable)
dianggap penting bagi studi terhadap situasi masalah
Sugiyono, 2014: 89) menyatakan bahwa variabel dapat
apapun. Oleh karena itu, sangat penting untuk kita Variabel Moderator (Moderating Variable)
difenisikan sebagai atribut seseorang, atau objek yang
mengetahui apa arti variabel dan apa saja jenis variabel yang
mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang Variabel Antara (Intervening Variable)
ada (Sekaran, 2014).
lain atau satu objek dengan objek yang lain.
Penghasilan Gaya Hidup Harapan Hidup
(Variabel bebas) (Variabel Antara) (Variabel Antara)
Budaya lingkunag dan
Tempat tinggal Excem
Kerangka teoritis adalah dasar dari seluruh proyek penelitian
didasarkan. Kerangka teoretis adalah jaringan asosiasi yang disusun,
dijelaskan, dan dielaborasi secara logis antarvariabel yang dianggap
relevan dalam sebuah situasi dan diidentifikasi melalui proses seperti
wawancara, pengamatan, dan survei literatur. Pengalaman dan intuisi juga
dapat memberikan informasi dalam penyajian sebuah kerangka teoretis.
Sekaran (2014:129) menyatakan ada lima hal mendasar yang perlu diperhatikan dalam sebuah penyajian
kerangka teoretis, sebagai berikut:
1. Variabel yang dianggap pasti untuk studi kasus diidentifikasikan dan dinamai dengan jelas dalam pembahasannya.
2. Pembahasan harus menjelaskan mengapa dua variabel atau lebih saling berkaitan satu dengan yang lain. Hal ini dilakukan untuk hubungan penting
yang diteorikan berlaku di antara variabel.
3. Bila sifat dan arah hubungan dapat diteorikan berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, maka harus ada indikasi dalam pembahasan mengenai
apakah hubungannya akan positif atau negatif.
4. Harus ada penjelasan yang gamblang mengenai mengapa kita memperkirakan hubungan tersebut berlaku. Pendapat atau opini dapat ditarik dari
penelitian sebelumnya.
5. Suatu diagram skematis kerangkas teoretis harus diberikan agar pembaca dapat melihat dan dengan mudah memahami hubungan yang diteorikan.
Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah
L
kedua dalamteori
andasan prosesinipenelitian adalah mencari
perlu ditegakkan agar teori-teori,
penelitian itu
konsep-konsep dan generalisasi hasil penelitian yang
mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan Teori yang deduktif
dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk
coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini
melaksanakan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990). Teori yang induktif
merupkan cirri bahwa penelitian itu merupkan cara ilmiah
untuk mendapatkan data Mark 1963, dalam (Sitirahayu
Teori yang Fungsional
Haditono, 1999), membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga
teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris.
Dengan demikian dapat dibedakan antara lain :
Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi
untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan
cara merumuskan hubungan antarkonsep. Teori menunjukkan
hubungan antara fakta-fakta. Teori menyusun fakta-fakta dalam bentuk
yang sistematis sehingga dapat dipahami.
Menurut Kinayati Djojosuroto &
1. Asumsi.
M.L.A. Sumaryati, teori digolongkan
kepada empat macam, yaitu asumsi, 2. Konsep.
konsep, konstruk, dan proposisi.
3. Konstruk.
4. Proposisi.
Asumsi adalah suatu anggapan dasar tentang realita, harus
diverifikasi secara empiris. Dalam penelitian ilmu sosial, setidaknya kita
Asumsi. mengenal dua pendekatan yang memengaruhi proses penelitian, mulai dari
merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan.
Konsep adalah istilah, terdiri dari satu kata atau lebih yang
menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan) tertentu.
Konsep Bailey (1982) menyebutkan sebagai persepsi (mental Image). Atau abstraksi
yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khusus.
Konstruk adalah konsep yang ciri-cirinya dapat diamati langsung seperti
pemecahan masalah. Konsep seperti ini lebih tinggi tarafnya daripada abstraksi
Konstruk yang ciri-cirinya dapat diamati langsung. Jadi konstruk adalah konsep sedangkan
tidak semua konstruk adalah konsep. Menjadikan konstruk yang dapat kita ukur
disebut operasionalisasi. Kata kerjanya mengoperasionalisasikan.
Konsep adalah istilah, terdiri dari satu kata atau lebih yang
menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan) tertentu.
Konsep Bailey (1982) menyebutkan sebagai persepsi (mental Image). Atau abstraksi
yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khusus.
Kesimpulan
Pada pembahasan ini kami menarik kesimpulan bahwa dalam membuat suatu karya ilmiah, maka yang
pertama dilakukan adalah membuat kerangka teoretis kemudian menentukan variabel apa yang akan di
gunakan. Ada 4 jenis variabel yang dapat kita pilih untuk membuat karya ilmiah. Kemudian setelah itu baru
bisa kita menarik hipotesis dari hasil penelitian tersebut. Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak,
dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan
hubungan antarkonsep.