Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat
Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat
PENANGGULANGAN ME
REKOMENDASI ME
PENGELOLAAN ME
Contoh:
pasien salah
Dpt jg terjadi menggunakan
karena obat atau
kesalahan salah dlm
pasien dalam rentang
menggunakan waktu
Dpt terjadi krn
obat meminum
kesalahan pd 3
obat
fase
sebelumnya
KLASIFIKASI MEDICATION ERRORS
Nova Amalia 1606966073
Klasifikasi Medication Errors Berdasarkan Dampak
[National Coordinating Council for Medication Error Reporting and Prevention
(NCCMERP)]
Error Kategori Hasil
No Error A Kejadian atau yang berpotensi untuk terjadinya kesalahan
Error No B Terjadi kesalahan sebelum obat mencapai pasien
Harm
C Terjadi kesalahan dan obat sudah diminum/digunakan
pasien tetapi tidak membahayakan pasien
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. 2008. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien (Patient Safety ). Jakarta :
Departemen Kesehatan RI
[Link]
Error Kategori Hasil
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. 2008. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien (Patient Safety ). Jakarta :
Departemen Kesehatan RI
[Link]
Klasifikasi ME Berdasarkan Alur Proses Pengobatan
(ASHP Guidelines on Preventing Medication Errors in Hospitals)
• Kesalahan pemilihan obat , dosis, bentuk sediaan, jumlah, rute,
Prescribing Error konsentrasi, tingkat administrasi, atau petunjuk penggunaan
produk obat yang diresepkan dokter dan pembacaan resep.
American Society of Hospital Pharmacists. 1993. ASHP Guidelines on Preventing Medication Errors in Hospitals. Am J Hosp Pharm. 1993;
50:222–230.
UPAYA APOTEKER DALAM
MENANGANI MEDICATION ERRORS
Peran Apoteker Keselamatan Pengobatan
(Medication Safety Pharmacist)
Mengidentifikasi Mendidik staf dan
pelaksanaan praktek klinisi terkait lainnya
Mengelola laporan
profesi terbaik untuk untuk menggalakkan
medication error
menjamin medication praktek pengobatan
safety yang aman
Memonitor kepatuhan
Berpartisipasi dalam Terlibat didalam
terhadap standar
Komite/tim yang pengembangan dan
pelaksanaan
berhubungan dengan pengkajian kebijakan
Keselamatan Pasien
medication safety penggunaan obat
yang ada
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. 2008. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien (Patient Safety ). Jakarta :
Departemen Kesehatan RI
Peran Apoteker Dalam Mewujudkan Keselamatan Pasien
Pemilihan
• Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan dengan
pengendalian jumlah item obat dan penggunaan obatobat sesuai formularium.
Pengadaan
• Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman efektif dan sesuai peraturan
yang berlaku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.
Penyimpanan
• Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk menurunkan kesalahan
pengambilan obat dan menjamin mutu obat:
• Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names) secara terpisah.
• Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan
cedera jika terjadi kesalahan pengambilan, simpan di tempat khusus.
Skrining Resep
• Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama dan nomor rekam medik/
nomor resep,
• Apoteker tidak boleh membuat asumsi pada saat melakukan interpretasi resep dokter. Untuk
mengklarifikasi ketidaktepatan atau ketidakjelasan resep, singkatan, hubungi dokter penulis
resep.
• Apoteker harus membuat riwayat/catatan pengobatan pasien.
• Permintaan obat secara lisan hanya dapat dilayani dalam keadaan emergensi dan itupun harus
dilakukan konfirmasi ulang untuk memastikan obat yang diminta benar, dengan mengeja
nama obat serta memastikan dosisnya. Informasi obat yang penting harus diberikan kepada
petugas yang meminta/menerima obat tersebut. Petugas yang menerima permintaan harus
menulis dengan jelas instruksi lisan setelah mendapat konfirmasi.
Dispensing
Penggunaan Obat
• Apoteker harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh pasien rawat inap di rumah sakit
dan sarana pelayanaan kesehatan lainnya, bekerja sama dengan petugas kesehatan lain.
• Tepat pasien
• Tepat indikasi
• Tepat waktu pemberian
• Tepat obat
• Tepat dosis
• Tepat label obat (aturan pakai)
• Tepat rute pemberian
Monitoring dan Evaluasi
• Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui efek terapi, mewaspadai
efek samping obat, memastikan kepatuhan pasien. Hasil monitoring dan evaluasi
didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan mencegah pengulangan
kesalahan.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. 2008. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien (Patient Safety ). Jakarta :
Departemen Kesehatan RI
Penanggulangan Medication
Error
Nursetyowati rahayu
1606966110
1
• Terapi perbaikan dan terapi pendukung harus diberikan kepada pasien
2
• Kesalahan yang terjadi harus didokumentasikan dan dilaporkan segera setelah ditemukan, sesuai prosedur
yang tertulis. Untuk kesalahan yang signifikan secara klinis, pemberitahuan secara langsung harus diberikan
kepada dokter, perawat, dan manajer farmasi. Laporan kesalahan pengobatan menyusul kemudian.
3
• Pendokumentasian mencakup hal-hal mengenai apa yang terjadi, dimana kejadian berlangsung,
mengapa kejadian terjadi, bagaimana kejadian terjadi, dan siapa yang terlibat. Bukti pendukung
yang cocok disimpan untuk bukti di kemudian hari sampai faktor penyebab diselesaikan
4
• Laporan kesalahan yang signifikan secara klinis dan kegiatan perbaikan harus
dikaji oleh supervisor dan kepala departemen yang terlibat
5
• Supervisor, manajer departemen, dan komite yang sesuai harus mengkaji laporan kesalahan
secara berkala dan menentukan penyebab kesalahan serta mencari solusi mengenai tindakan
yang harus dilakukan agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali.
6
• Kesalahan pengobatan harus dilaporkan kepada program monitor nasional sehingga pengalaman
dari apoteker, perawat, dokter, dan pasien dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan
keamanan pasien dan pengembangan pelayanan edukasi yang bernilai, serta pencegahan
kesalahan yang akan datang.
REKOMENDASI MEDICATION
ERROR
Resha adriana 1606966174
Short Term
Rekomendasi
↓ Medication Eror
Long Term
mengurangi peran perawat untuk menyiapkan solusi IV dari persediaan yang ada pada unit perawatan pasien
sehingga mengurangi kesalahan perhitungan dan pencampuran yang eror
3. Kalium klorida potassium chloride (KCl) tidak disimpan di unit keperawatan dan area perawatan pasien.
Laporan terkait inciden penggunaan KCl tinggi, terutama yang terkonsentrasi penyiapan di unit perawatan.
4. Mengembangkan prosedur khusus untuk obat berisiko tinggi dengan menggunakan pendekatan multi-disiplin.
Ini termasuk adanya panduan tertulis, pemeriksaan, pengecekan ganda, kemasan khusus, pelabelan khusus, dan
pelatihan.
Adanya teknik yang menyederhanakan dan membakukan proses pemesanan, penyiapan, dan
pemberian obat ini mengurangi kemungkinan kesalahan.
5. Informasi tentang obat baru, obat yang jarang digunakan, dan obat-obatan non-formularium harus mudah
diakses
Studi telah menemukan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kesalahan pengobatan
adalah kurangnya akses terhadap informasi obat, jadi adanya sistem informasi pada saat dibutuhkan
sangat mengurangi kesalah terkait medication eror
6. Dokter, perawat, apoteker, dan semua yang terlibat dalam proses pemesanan, persiapan, dan pemberian obat-
obatan didukung dengan program pendidikan berkala.
Kurangnya pengetahuan tentang obat adalah salah satu penyebab kesalahan pengobatan yang paling
umum. Orientasi dan program pendidikan berkala untuk semua klinisi yang terlibat dalam pemesanan,
persiapan, dan pemberian obat-obatan, terutama obat berisiko tinggi adalah salah satu cara untuk
mengatasi masalah in
7. Edukasi pasien di rumah sakit, saat keluar dari rumah sakit, dan dalam pengaturan rawat jalan tentang penggunaan
obat secara aman dan akurat.
Edukasi pasien tentang penggunaan obat-obatan yang aman dan efektif mendorong
keterlibatan pasien dalam perawatan mereka sendiri dan merupakan komponen penting
dari strategi pengurangan kesalahan pengobatan.
Ketika apoteker tidak berda di rumah sakit, akses apoteker harus tersedia 24 jam secara on-call
sebagai sumber informasi bagi petugas klinis dan memfasilitasi distribusi obat diluar jam kerja
Long Term
1. Terapkan sistem entri order terkomputerisasi bila layak secara teknis dan finansial berdasarkan sumber
daya dan pengembangan teknologi rumah sakit.
Sistem terkomputerisasi mengurangi kesalahan secara signifikan, termasuk: menghilangkan kesalahan
tulisan tangan; Mengurangi potensi pemilihan obat yang salah; Memastikan bahwa pesanan sudah
lengkap dan dalam bentuk yang tepat; Memberikan pemeriksaan dosis; Memberikan akses langsung ke
informasi pasien; Dan memberikan pemeriksaan interaksi obat, kontraindikasi, dan alergi.
4. Pertimbangkan penggunaan pengkodean yang dapat dibaca oleh mesin (yaitu pengkodean bar) dalam proses
administrasi pengobatan
Produsen obat, tempat pelayanan kesehatan dan pengembang perangkat lunak harus
didorong untuk memanfaatkan teknologi ini untuk meminimalkan peluang kesalahan
administrasi, karena memungkinkan penggunaan pembaca barcode atau elektronik untuk
memverifikasi bahwa obat dan dosis yang benar telah dipilih untuk diberikan pada pasien
yang tepat
Monitoring dan Evaluasi
Irena Ulya 1606965953
Monitoring Evaluasi Agar pelayanan
merupakan merupakan kefarmasian yang
kegiatan proses penilaian dilakukan sesuai
pemantauan kinerja pelayanan dengan kaidah
Monitoring
Evaluasi
Tujuan
terhadap kefarmasian keselamatan
pelaksanaan terkait Program pasien dan
pelayanan Keselamatan mencegah
kefarmasian Pasien. terjadinya
terkait Program kejadian yang
Keselamatan tidak diinginkan
Pasien dan berulang
dimasa yang akan
datang.
Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap:
Implementas Mengumpulk
i an data
Mengidentif
Seleksi dan ikasi dan
Perencanaan Menganalisi
s
Evaluasi
Europian Medicine Agency, 2015, Good practice guide on risk minimisation and prevention of medication errors
Manajemen Risiko Dalam Pelayanan Kefarmasian
pelaporan
supervisi setelah
medication error
terjadinya laporan sistem pencegahan
yang berdampak
medication error
cedera
pelaporan ke tim
pemantauan
keselamatan
kesalahan secara tindakan preventif
pasien tingkat
periodik
nasional
DEPARTEMEN KESEHATAN RI, 2008, Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien (Patient Safety )
KASUS
LASA
MEDMARX Data Report. A Report on the Relationship of Drug Names and Medication Errors in Response to
the Institute of Medicine’s Call for Action. U.S. Pharmacopeia.
Analisis Kasus
MEDMARX Data Report. A Report on the Relationship of Drug Names and Medication Errors in Response to the Institute of
Medicine’s Call for Action. U.S. Pharmacopeia.
[Link]
Penyelesaian
Sebaiknya dokter menulis resep dengan jelas
Farmasis seharusnya lebih teliti pada saat pembacaan resep dan dispensing obat.
Sebaiknya ada apoteker yang konfimasi mengenai penyakit yang diderita pasien.
Adanya komunikasi yang baik antara farmasis, tenaga kesehatan lan serta keluarga.
MEDMARX Data Report. A Report on the Relationship of Drug Names and Medication Errors in Response to the
Institute of Medicine’s Call for Action. U.S. Pharmacopeia.
Kasus 3
SALAH PEMBACAAN RESEP
Restu Adhitya Indraini - 1606966180
Kasus 1
Seorang pasien menebus resep racikan yang mengandung
GG (Glyceril guaiacolate) dengan indikasi sebagai obat batuk di
sebuah apotek. Pada saat pembacaan resep, asisten apoteker yang
salah mengartikan GG yang tertulis di resep merupakan
Glibenclamide yang diindikasikan sebagai penurun kadar gula
darah.
Tidak ada apoteker penanggungjawab apotek (APA) yang
memeriksa kesesuaian obat pada resep sebelum diserahkan
kepada pasien dikarenakan sedang berhalangan hadir. Setelah obat
dikonsumsi oleh pasien, pasien justru mengalami pingsan akibat
kadar gula darahnya menurun dan akhirnya terjadi hipoglikemia.
Solusi
O Kehadiran seorang APA di apotek diperlukan untuk
memeriksa kesesuaian obat yang akan diberikan ke pasien
dengan obat yang diminta berdasarkan resep dokter
O Ada apoteker pengganti yang dapat menggantikan APA bila
berhalangan hadir, sehingga setiap jam buka apotek tetap
ada apoteker yang siap melayani pasien, baik untuk
pemeriksaan resep ataupun untuk pelayanan informasi
obat.
Kasus 2
O Seorang wanita berusia 51 tahun dengan sejarah medis keterbelakangan mental,
gangguan bipolar, hipotiroid, dan parkinson. Diresepkan obat lithium karbonat
150 mg/kapsul. Namun, seorang farmasis melakukan kesalahan dalam
pembacaan resep yang dibawa oleh korban. Farmasis memberikan lithium
karbonat 300 mg/kapsul kepada pasien.
Lubin and Mayer. 2010. Medication Error And Failure To Notice Signs And Lithium Toxicity Lead To Death Of 51 Year-Old
Woman.
Cont’d
O Setelah mengkonsumsi obat, pasien mengalami diare selama tiga hari.
Dokter/Prymary Care Physician (PSP) melakukan pemeriksaan keluhan korban
berupa diare selama tiga hari dan mencatat bahwa pasien tidak memiliki
kelainan klinis berupa dehidrasi, oleh sebab itu dokter/Prymary Care Physician
(PSP) hanya menyarankan agar pasien meningkatkan asupan cairan.
O Dokter/Prymary Care Physician (PSP) menginstruksikan pada pihak keluarga dan
perawat rumahan pasien, apabila terjadi gelajala penurunan asupan cairan,
perubahan tingkat aktifitas seperti lesu, atau gejala diare yg memburuk untuk
langsung dikomunikasikan. Namun, selama beberapa hari berikutnya pasien
masih terus mengalami diare dan gangguan makan. Akan tetapi keluhan tersebut
tidak dikomunikasikan.
Lubin and Mayer. 2010. Medication Error And Failure To Notice Signs And Lithium Toxicity Lead To Death Of
51 Year-Old Woman.
Cont’d
O Pada lima hari berikutnya pasien diperiksa kembali oleh dokter/Prymary Care
Physician (PSP). Namun, tidak ada notasi tentang keluhan diare seperti yang
terlihat pada lima hari sebelumnya, sehingga dokter/Prymary Care Physician
(PSP) mencatat bahwa symptom yang dialami korban telah membaik dan mulai
hilang. Tetapi, terlihat adanya perubahan kondisi pasien meliputi kontraksi otot
atau kekakuan otot. Dokter/Prymary Care Physician (PSP) menyarankan pasien
untuk melakukan tes darah, tetapi melupakan pemeriksaan kadar lithium.
O Satu minggu berikutnya perawat rumahan pasien melaporkan bahwa pasien
mengalami gejala ketidakstabilan, hampir tidak bisa bergerak, dan sangat lemah.
Ternyata diketahui bahwa kadar lithium pasien sebesar 6,8 mEq/L hal ini
membuat keadaan pasien semakin memburuk. Hari berikutnya, pasien
mengalami dehidrasi berat persisten dengan kekacauan metabolisme dan
hipotensi, serta gagal ginjal akut akibat toksisitas lithium dan akhirnya pasien
meninggal.
Lubin and Mayer. 2010. Medication Error And Failure To Notice Signs And Lithium Toxicity Lead To Death Of 51
Year-Old Woman.
Cont’d