0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan22 halaman

Pengawasan Terapi Obat (TDM)

Pharmaceutical care pertama kali dikenalkan oleh Heppler dan Strand pada tahun 1990 sebagai pelayanan yang bertanggung jawab terhadap terapi obat untuk mencapai hasil tertentu dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Therapeutic drug monitoring adalah pengawasan terhadap kadar obat dalam darah untuk menyesuaikan dosis obat agar efektif dan aman dengan mengukur kadar obat dalam darah. Tujuan utama TDM adalah untuk menentukan dosis ob

Diunggah oleh

LativaSusanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan22 halaman

Pengawasan Terapi Obat (TDM)

Pharmaceutical care pertama kali dikenalkan oleh Heppler dan Strand pada tahun 1990 sebagai pelayanan yang bertanggung jawab terhadap terapi obat untuk mencapai hasil tertentu dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Therapeutic drug monitoring adalah pengawasan terhadap kadar obat dalam darah untuk menyesuaikan dosis obat agar efektif dan aman dengan mengukur kadar obat dalam darah. Tujuan utama TDM adalah untuk menentukan dosis ob

Diunggah oleh

LativaSusanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FARMASI RUMAH SAKIT

THERAPEUTIC DRUG MONITORING


Dosen : SANUBARI RELA TOBAT, M. Farm, Apt

KELOMPOK 1
IZZATIL AULIA 2605002
FITRATUL WAHYUNI 2605006
DEWI WINDURI 2605011
ELA JULISNI MOLITA SARI 2605029
ELSA YULIZA 2605005
SINTA WISTARI 2605034
HESTI NOVELIA LUBIS 2605039
SINTIA PUTRI AYU 2605047
PROGRAM PROFESI APOTEKER
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
YAYASAN PERINTIS
PADANG
2018
Pharmaceutical Care
• pertama kali dikenalkan oleh Heppler
dan Strand (1990), merupakan
pelayanan yang bertanggung jawab
terhadap terapi obat untuk tujuan
yang mencapai hasil tertentu dan
dapat meningkatkan kualitas hidup
pasien

Hepler dan Strand (1990) mengemukakan


bahwa tujuan pharmaceutical care adalah:
• Menyembuhkan penyakit
• Mengurangi gejala penyakit
• Memperlambat proses progresivitas penyakit
• Mencegah penyakit atau gejala penyakit
Pengertian

Pengertian Therapeutic Drug Monitoring (TDM) juga dikenal


dengan istilah Drug Therapy Monitor yang artinya adalah
Pengawasan terhadap kadar atau tingkatan obat didalam darah
(absorbs, distribusi, metabolisme) dalam rangka penyesuaian
dosis obat agar penggunaan obat dapat efektif dan aman.

Tujuan dan tugas dari TDM ini sendiri sebenarnya adalah


untuk mengukur kadar atau level obat yang ada di dalam darah,
dengan begitu, maka dosis obat yang efektif dalam darah dapat
ditentukan, sehingga dapat mencegah terjadinya keadaan toksik
atau keracunan obat di dalam tubuh.
Proses TDM

Proses TDM terdiri dari empat komponen utama


yang dimulai dan diakhiri dengan pelayanan pasien
(patient care). Komponen tersebut meliputi
1. pre analisis,
2. analisis,
3. post analisis dan
4. pengaturan lingkungan
B. Fungsi TDM

1. Memilih obat 10. Rancanga 11. Aturan dosis


n aturan dosis secara individual

2. Rancangan 12. Aturan dosis


aturan dosis 9. Rekomend didasarkan atas harga
asi khusus rata-rata populasi

3. Penilaian 8. Pemantauan 18. Pemberian


respon penderita 13. Penentuan
konsentrasi obat dosis pada
dosis penderita obese
dalam serum
4. Pengukuran
konsentrasi obat 14. Penentuan 17. Pemberian dosis
7. Penyesuaian
dalam serum frekuensi obat pada orabg usia
dosis pemberian obat lanjut

5. Penetapan 6. Penilaian 16. Pemberian


15. Penentuan
secara dosis obat pada
kadar obat rute pemberian bayi
farmakokinetik
D. Faktor yang mempengaruhi TDM

• Ada beberapa faktor yang mempengaruhi


dilakukannya TDM, antara lain :
1. Faktor yang berhubungan dengan profil obat
dalam darah
2. Faktor yang berhubungan dengan dasar
farmakokinetik
3. Faktor yang berhubungan dengan data
laboratorium
E. Target TDM
Jika penderita tidak memberikan reaksi terhadap terapi obat seperti yang diharapkan,
maka obat dan aturan dosis hendaknya ditinjau kembali dari segi kecukupan,
ketelitian, dan kepatuhan penderita. Dokter hendaknya menentukan perlu atau tidak
konsentrasi obat dalam serum penderita diukur, karena tidak semua respon penderita
dikaitkan dengan konsentrasi obat dalam serum. Contoh : alergi dan rasa mual ringan.
Bila “therapeutic window” suatu obat sempit, maka individualisasi dosis
menjadi sangat penting, karena perbedaan dosis yang kecil saja sudah dapat
menimbulkan perbedaan nyata dalam respon pasien.
Dalam beberapa kasus, patofisiologi penderita mungkin tidak stabil, apakah
membaik atau memburuk, misalnya klirens ginjal terhadap obat.

Pasien dengan penyakit tertentu yang dapat mempengaruhi


kadar obat di dalam darah.
Jika pasien menggunakan obat tertentu.
Ruang Lingkup Dan Faktor Klinik yang Mempengaruhi
Drugs Therapeutic Monitoring (TDM)

1. Ruang Lingkup
Sebenarnya Drugs Therapeutic Monitoring atau pengawasan
terhadap terapi obat erat kaitannya dengan ilmu
farmakokinetik, dimana farmakokinetika itu sendiri adalah
segala proses yang dilakukan tubuh terhadap obat berupa
absorpsi, distribusi, Metabolisme, (biotransformasi), dan
eksresi. dimana Tubuh kita dapat dianggap sebagai suatu
ruangan besar yang terdiri dari beberapa kompartemen
yang terpisah oleh membran - membran sel. Sedangkan
proses absorpsi distribusi dan eksresi obat dari dalam
tubuh pada hakekatnya berlangsung dengan mekanisme
yang sama, karena proses ini tergantung pada lintasan
obat melalui membran tersebut
• Membran sel terdiri dari suatu lapisan
lipoprotein ( lemak dan protein ) yang
mengandung banyak pori - pori kecil, terisi
dengan air. Membran dapat ditembus dengan
mudah oleh zat - zat tertentu, sukar dilalui zat
- zat lain, maka disebut semi permeabel. Zat -
zat lipofil (suka lemak) yang mudah larut
dalam lemak tanpa muatan listrik umumnya
lebih lancar melintasinya dibandingkan
dengan zat - zat hidrofil dengan muatan (Ion).
Adapun mekanisme pengangkutan obat untuk melintasi membran sel ada
dua cara yaitu :
a. Secara pasif ,
• Secara pasif artinya mekanisme pengangkutantanpa menggunakan energi.
• Filtrasi , melalui pori - pori kecil dari membran misalnya air dan zat - zat
hidrofil
• Difusi, zat melarut dalam lapisan lemak dari membran sel contoh ion
organic
b. Secara aktif,
• Secara aktif artinya mekanisme pengangkutannya menggunakan energi.
• Pengangkutan dilakukan dengan mengikat zat hidrofil (makromolekul atau
ion) pada enzim pengangkut spesifik. Setelah melalui membran, obat
dilepaskan lagi. Cepatnya penerusan tidak tergantung pada konsentrasi
obat.
• Contohnya : Glukosa, asam amino, asam lemak, garam garam, besi,
vitamin b1 , b2 , dan b12
2. Faktor Klinik yang mempengaruhi
Drugs Therapeutic Monitoring
a) Absorbsi
Proses absorpsi sangat penting dalam menentukan efek obat. Pada umumnya
obat yang tidak diabsorpsi maka tidak akan menimbulkan efek, Kecuali antasida
dan obat yang bekerja lokal. Proses absorpsi terjadi di berbagai tempat pemberian
obat, misalnya melalui alat cerna, otot rangka, kulit dan sebagainya.
Absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :

1. Kelarutan obat.
2. Kemampuan difusi melintasi sel membran.
3. Konsentrasi obat.
4. Sirkulasi pada letak absorpsi.
5. Luas permukaan kontak obat.
6. Bentuk sediaan obat.
7. Cara pemakaian obat.
b) Distribusi
Obat setelah diabsorpsi oleh tubuh maka selanjutnya akan tersebar
melalui sirkulasi darah ke seluruh badan dan harus melalui membran sel
agar tercapai tepat pada efek aksi. Molekul obat yang mudah melintasi
membran sel akan mencapai semua cairan tubuh baik inta maupun ekstra
sel. sedangkan obat yang sulit menembus membran sel maka
penyebarannya umumnya terbatas pada cairan ekstra sel.

kadang - kadang beberapa obat mengalami kumulatif selektif pada


beberapa jaringan tertentu, karena adanya proses transpor aktif, pengikatan
dengan zat tertentu atau daya larut yang lebih besar dalam lemak. Kumulasi
ini digunakan sebagai gudang obat (yaitu protein plasma, umumnya
albumin, jaringan ikat dan jaringan lemak). selain itu ada beberapa tempat
lain misalnya tulang, organ tertentu, dan cairan transel yang dapat berfungsi
sebagai gudang untuk beberapa obat tertentu. Distribusi obat kesusunan
saraf pusat dan janin harus menembus sawar khusus yaitu sawar darah otak
dan sawar uri. Obat yang mudah larut dalam lemak pada umumnya mudah
menembusnya.
c) Metabolisme (biotransformasi)
Tujuan biotransformasi obat adalah mengubahnya dengan cara sedemikian rupa
sehingga menjadi bentuk yang mudah dieksresi oleh ginjal, dalam hal ini
menjadikannya lebih hidrofil. Pada umumnya obat dimetabolisme oleh enzim
mikrosom dan retikulum endoplasma sel hati. Pada proses metabiolisme molekul
obat dapat berubah sifat antara lain menjadi lebih polar, Metabolit yang lebih polar
ini menjadi mudah dieksresi melalui ginjal. Metabolit obat dapat lebih aktif dari obat
asal (bioaktivasi), tidak atau berkurang aktif (detoksifikasi atau bioinaktivasi) atau
sama aktifitasnya.

Proses metabolisme ini memegang peranan penting dalam mengakhiri efek obat.
Hal - hal yang dapat mempengaruhi metabolisme adalah sebagai berikut :
 Fungsi hati, metabolisme dapat berlangsung lebih cepat atau lebih lambat, sehingga
efek obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat dari yang kita harapkan
 Usia, pada bayi proses metabolisme akan berjalan lebih lambat
 Faktor genetik (turunan), ada orang yang memiliki faktor genetik tertentu yang dapat
menimbulkan perbedaan khasiat obat pada pasien.
 Adanya pemakaian obat lain secara bersamaan, hal tersebut dapat mempercepat
metabolisme (inhibisi enzim).
d) Ekskresi
Pengeluaran obat maupun metabolitnya dari tubuh terutama
dilakukan oleh ginjal melalui air seni dan dikeluarkan dalam bentuk
metabolit maupun bentuk asalnya. disamping itu ada pula cara lain yaitu :
• Kulit, bersama keringat. Misal : paraldehid
• Paru - paru, dengan pernafasan keluar, terutama berperan pada
anestesi umum, anestesi gas atau anestesi terbang.
• Hati, melalui saluran empedu, terutama obat untuk infeksi saluran
empedu.
• Air susu ibu, Misalnya alkohol, obat tidur, nikotin dari rokok dan
alkaloida lain. Harus dioerhatikan karena dapatmenimbulkan efek
farmakologi atau toksik pada bayi.
• Usus. misalnya sulfa dan preparat besi.
Selain dipengaruhi oleh proses Absorpsi, Distribusi, Metabolisme,
dan Eksresi (ADME) pencapaian efek - efek obat didalam tubuh juga
dipengaruhi oleh Mekanisme Kerja dari obat tersebut, adapun Mekanisme
kerja obat itu sendiri terbagi dalam beberapa golongan sebagai berikut :
1. Secara fisika, Contohnya anestetik terbang, laksansia dan diuretik
osmotis.
2. Secara Kimia, misalnya antasida lambung dan zat - zat khelasi ( zat -
zat yang dapat mengikat logam berat)
3. Proses metabolisme, misalnya antibiotika mengganggu pembentukan
dinding sel kuman, sintesis protein, dan metabolisme asam nucleat.
4. Secara kompetisi atau saingan, dalam hal ini dapat dibedakan
menjadi dua macam kompetisi yaitu untuk reseptor spesifik dan
enzym - enzym.
Faktor faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah :
a. Jika pasien tersebut juga mengkonsumsi obat - obat lain
secara bersamaan.
b. Jika ada penyakit lain yang juga diderita oleh pasien.
c. Serta kepatuhan pasien terhadap peraturan dalam
penggunaan obat sesuai dengan ketentuan dokter.
d. Cara - cara yang digunakan oleh laboratorium untuk
melakukan test atau uji coba untuk obat tersebut.
Karena begitu banyak faktor yang berbeda mempengaruhi tingkat
obat dalam darah, hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam TDM :
 Usia dan berat badan pasien
 Rute pemberian obat
 Tingkat penyerapan obat
 Laju ekskresi obat
 Tingkat pelepasan obat, dan dosis
 Obat lain yang pasien miliki atau pengobatan lain yang sedang
dijalani
 Penyakit lain yang pasien rasakan
 Kepatuhan pasien mengenai regimen pengobatan obat
 Metode laboratorium yang digunakan untuk menguji obat.
Tatalaksana pemantauan terapi obat

Seleksi Pasien

Pengumpulan Data Pasien

Identifikasi Masalah Terkait Obat

Rekomendasi Terapi

Rencana Pemantauan

Tindak Lanjut

Dokumentasi
Macam - Macam Efek Terapi Obat Di
Dalam Tubuh
Terapi kausal

Terapi
simptomatis

Terapi subtitusi

Anda mungkin juga menyukai