0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan19 halaman

Metode dan Prinsip AAS dalam Analisis

Dokumen tersebut membahas tentang spektroskopi serapan atom (atomic absorption spectroscopy/AAS) dengan menjelaskan prinsip dasar, komponen instrumen, kepekaan, batas deteksi, metode analisis, gangguan, dan keunggulan serta kelemahan metode AAS.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan19 halaman

Metode dan Prinsip AAS dalam Analisis

Dokumen tersebut membahas tentang spektroskopi serapan atom (atomic absorption spectroscopy/AAS) dengan menjelaskan prinsip dasar, komponen instrumen, kepekaan, batas deteksi, metode analisis, gangguan, dan keunggulan serta kelemahan metode AAS.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ATOMIC ABSORPTION SPECTROSCOPY

(AAS)
Presented by:
MOH IRMA SUKARELAWAN
16703261023

PROGRAM PASCASARJANA
PRODI ILMU PENDIDIKAN KONSENTRASI FISIKA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
ATOMIC ABSORPTION SPECTROSCOPY
(AAS)
A. PENDAHULUAN
Metode Spektrometri Untuk
Spektrometri: metode analisis kuantitatif yang pengukurannya Kualitatif dan Kuantitatif
berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang
diserap oleh spesi atom atau molekul analit.

Optical Mass X-Ray


Spectrometry Spectrometry Spectrometry

Optical Spectrometry
(Beaty & Kerber, 1993)

Atomic Absorption Atomic Emission Atomic Fluorescence


Spectroscopy (AAS) Spectroscopy (AES) Spectroscopy (AFS)
SEJARAH AAS
Tahun 1802: Wollaston menemukan garis hitam pada spektrum cahaya matahari dan tahun
1820 diselidiki lebih lanjut oleh Fraunhofer.
Brewster: garis Fraunhofer ini diakibatkan oleh proses absorpsi pada atmoser matahari.
Prinsip absorpsi ini kemudian mendasari Kirchhoff dan Bunsen untuk melakukan penelitian
yang sistematis mengenai spektrum dari logam alkali dan alkali tanah.
Planck: hukum kuantum dari absorpsi dan emisi suatu cahaya. suatu atom hanya akan
mengambil dan melepas suatu jumlah energi tertentu, ( = hv = hc/).
Tahun 1955 sebagai kelahiran AAS.
Walsh: penggunaan hollow cathode lamp sebagai sumber radiasi yang dapat
menghasilkan radiasi panjang gelombang karakteristik yang sangat sesuai dengan
Spektrometri Serapan Atom.
Alkemade dan Milatz: beberapa jenis nyala dapat digunakan sebagai sarana untuk
atomisasi sejumlah unsur.
B. PRINSIP DASAR
AAS: analisis dengan prinsip sampel yang berbentuk liquid diubah menjadi aerosol atau nebulae
lalu bersama campuran gas bahan bakar masuk ke dalam nyala, disini unsur yang dianalisa
menjadi atom atom dalam keadaan dasar (ground state). Lalu sinar yang berasal dari lampu
katoda dengan panjang gelombang yang sesuai dengan unsur yang uji, akan dilewatkan
kepada atom dalam nyala api sehingga elektron pada kulit terluar dari atom naik ke tingkat
energi yang lebih tinggi atau tereksitasi. Penyerapan yang terjadi berbanding lurus dengan
banyaknya atom ground state yang berada dalam nyala. Sinar yang tidak diserap oleh atom
akan diteruskan dan dipancarkan pada detektor, kemudian diubah menjadi sinyal yang terukur.
Hukum Dasar AAS
Hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi diturunkan dari hukum Lambert-Beer yang
menjadi dasar dalam analisis kuantitatif secara AAS

Lambert
Bila suatu sinar monokromatik melewati medium transparan,
maka intensitas sinar yang diteruskan berkurang dengan
bertambahnya ketebalan medium yang mengabsorbsi
HUKUM LAMBERT-BEER
0
= . .

= . .
Beer
Intensitas sinar yang diteruskan berkurang secara A = absorbansi
eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi spesi yang a = absorptivitas molar
menyerap sinar tersebut. b = lebar sampel yang dilalui sinar
c = Konsentrasi zat
C. INSTRUMENTASI
Diagram

Keterangan :
1. Sumber sinar
2. Pemilah (Chopper)
3. Nyala
4. Monokromator
5. Detektor
6. Amplifier
7. Recorder
Komponen

1. Sumber sinar: Merupakan sistem emisi yang diperlukan


untuk menghasilkan sinar yang energinya akan diserap oleh
atom bebas.
- bersifat sumber yang kontinyu.
- Menggunakan lampu logam yang sama untuk unsur
yang akan dianalisis.

Sumber radiasi resonansi


a. Hollow Cathode Lamp (HCL)
HCL Monologam: mengukur 1 unsur
HCL Multilogam: mengukur multiunsur
b. Electrodeless Discharge Tube (EDT)
2. Sistem Pengatoman (Atomizer): system yang berperan dalam proses
atomisasi unsur-unsur yang akan dianalisa yaitu dari bentuk ion
menjadi atom bebas.
Jenis Sistem
Pengatoman Pada AAS:

Pembentukan
Nyala Api Tungku Grafit Hidrida Uap Dingin Sampel Padat

Sistem pengatoman dengan nyala api:


a) Pipa kapiler: penyedot larutan yang akan dianalisis.
b) Nebulizer: pengubah larutan menjadi aerosol
c) Mixing Chamber: mencampur kabut dari nebulizer dengan gas asetilen dan udara.
d) Burner: membakar atau mengatomisasi larutan yang tercampur dengan gas pembakar.
3. Monokromator: memisahkan radiasi resonansi yang telah
mengalami absorpsi dari radiasi-radiasi lainnya. Monokromator
terdiri atas sistem optik yaitu celah, cermin dan kisi.

4. Detektor: yang berfungsi mengubah respon spektrum menjadi sinyal


yang dapat diukur.

Jenis Detektor:
Detektor barier layer cell: jika monokromatornya
sederhana untuk analisa alkali.
Detektor photomultiplier tube: detector yang
umumnya dipakai.
5. Amplifier, yang berfungsi memperkuat sinyal keluaran dari detektor sebagai
fungsi absorbansi.
6. Komputer/recorder, terpasang hardware dari SSA yang digunakan sehingga
sinyal dapat terekam dalam bentuk digital.

Instrumen pendukung
1. UPS, pemasok cadangan tegangan listrik.
2. Kompresor, memompa gas asetilen maupun udara yang akan digunakan untuk
proses atomizer.
3. Filter, menyaring udara maupun gas yang masuk ke dalam sistem atomizer.
4. Tabung gas, untuk menyimpan gas asetilen.
5. Blower, untuk menyedot gas keluaran pada saat terjadi pembakaran agar tidak
mengganggu pernapasan ataupun terjadi kebakaran.
D. KEPEKAAN & BATAS DETEKSI

A. Kepekaan (sensitivity)
Pada AAS adalah konsentrasi zat yang diperiksa dengan absorban
sebesar 0.0044 (resapan 1%). Ini biasanya dinyatakan dengan
mg/ml/1% abs (atau mg/g/1% abs).

B. Batas deteksi (detection limit)


Adalah konsentrasi dari suatu unsur (biasanya mg/ml) yang
menunjukkan absorban sebesar dua kali noise level (S/N = 2).
E. METODE ANALISIS

Metoda Standar Tunggal


Menggunakan satu larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya
(Cstd)

Metode Kurva Kalibrasi


Membuat suatu seri larutan standar dengan berbagai konsentrasi
dan absorbansi dari larutan tersebut diukur dengan AAS

Metoda Adisi Standar


Mampu meminimalkan kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan
kondisi lingkungan (matriks) sampel dan standar.
F. GANGGUAN DALAM AAS
1) Gangguan ionisasi
Terjadi pada unsur alkali dan alkali tanah dan unsur yang mudah terionisasi dalam
nyala. Gangguan ionisasi mengakibatkan sinyal yang ditangkap detektor menjadi
berkurang.
Cara mengatasi: penambahan larutan unsur yang mudah diionkan atau atom yang lebih
elektropositif dari atom yang dianalisis.
2) Gangguan kimia
Gangguan kimia terjadi apabila unsur yang dianalisis mengalami reaksi kimia dengan
anion atau kation tertentu dengan senyawa yang refraktori, sehingga tidak semua analit
dapat teratomisasi.
Cara mengatasi yaitu:
1) Penggunaan suhu nyala yang lebih tinggi.
2) Penambahan zat kimia lain yang dapat melepaskan kation atau anion pengganggu
dari ikatannya dengan analit.
3) Gangguan fisik alat.
Semua parameter yang mempengaruhi kecepatan sampel sampai ke nyala dan
sempurnanya atomisasi (Kecepatan alir gas, Viskositas sampel, Kandungan padatan
yang tinggi, Perubahan temperatur nyala)
Gangguan ini biasanya dikompensasi dengan lebih sering membuat Kalibrasi
(standarisasi).
4) Gangguan Matrik
Penyebab: 1). sampel mengandung banyak garam atau asam, 2). tidak menggunakan
pelarut zat standar, 3). suhu nyala untuk larutan sampel dan standar berbeda.
Cara mengatasi: analisis penambahan standar (Standar Adisi).

5) Absorpsi Latar Belakang (Back Ground)


Berbagai pengaruh absorbsi dari absorbsi nyala api, absorbsi molekular, dan
penghamburan cahaya.
G. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN METODE AAS
KEUNGGULAN METODE AAS:
Spesifik
Batas (limit) deteksi rendah
Dari satu larutan yang sama, beberapa unsur berlainan dapat diukur
Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh
Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh.
Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga persen)

KELEMAHAN METODE AAS:


1. Kurang sempurnanya preparasi sampel, seperti:
Proses destruksi yang kurang sempurna
Tingkat keasaman sampel dan blanko tidak sama
2. Kesalahan matriks, hal ini disebabkan adanya perbedaan matriks sampel dan matriks standar
3. Aliran sampel pada burner tidak sama kecepatannya atau ada penyumbatan pada jalannya aliran
sampel.
4. Gangguan kimia berupa:
- Disosiasi tidak sempurna
- Ionisasi
- Terbentuknya senyawa refraktori
H. APLIKASI

Untuk metode serapan atom telah diterapkan pada penetapan sejumlah unsur.
Aplikasi yang menggunakan spektroskopi serapan atom ini telah banyak digunakan untuk:
1. Menguji keberadaan logam besi dalam air.[4]
Logam Fe2+ diuji menggunakan spektroskopi yang memakai grafit pada panjang gelombang
248,3 nm. Logam ini diperoleh dari fraksi air-metanol. Dari hasil penelitian ini, dapat
disimpulkan bahwa penggunaan larutan organik dapat menurunkan keakuratan analisis
logam.

2. Analisis kuantitatif metalloenzim terimobilisasi.[5]


Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kadar enzim hidrogen peroksidase dengan
mengintepretasi jumlah logam besi yang dikandung dari enzim tersebut. Imobilisasi enzim
menggunakan kain karena teknik yang dilakukan yaitu adsorpsi, kovalen dan kovalen
dengan tambahan ikatan seberang silang. Kain tersebut direndam dalam larutan asam sulfat,
lalu cairan tersebut dioksidasi dengan tambahan enzim hidrogen peroksidase. Cairan
tersebut lalu diukur menggunakan spektroskopi yang menggunakan pijaran api pada
panjang gelombang 248,3 nm.
3. Menguji logam vanadium di dalam tanah.[6]
Penelitian ini menggunakan spektroskopi yang memakai grafit. Tanah yang ingin diuji
direaksikan dengan berbagai asam anorganik yang merupakan proses digesti. Ketika
didapatkan konsentratnya dalam asam klorida baru diencerkan dengan air dan dideteksi
dengan spektroskopi.

4. Menganalisis elemen kelumit (trace element) pada jaringan kelinci.[7]


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beberapa elemen kelumit (besi, tembaga,
dan seng) pada jaringan kelinci yang memiliki pola makan tinggi kadar lemak. Hasil dari
penelitian ini adalah logam besi ternyata mampu mempercepat proses aterosklerosis.

Anda mungkin juga menyukai