FRAUD TRIANGLE
Kelompok I :
Dian Bangkit Soekarno
Riska Fita Saptyana
Ristania Maharani
Tri Sulastyo
Yoga Wicaksana
Diponegoro University
FRAUD TRIANGLE
Teori ini dicetuskan oleh Donald Cressey dimana dalam teori ini terdapat 3 hal yang membuat/mendorong
seseorang untuk melakukan fraud atau kecurangan. Penelitian tradisional tentang kecurangan dilakukan
pertama kali oleh Donald Cressey pada tahun 1950, yang menimbulkan pertanyaan mengapa kecurangan
dapat terjadi. Hasil dari penelitian itu memunculkan faktor-faktor pemicu kecurangan yang saat ini dikenal
dengan Fraud Triangle
Diponegoro University
FRAUD TRIANGLE
Pressure
Dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud. Pada umum
nya yang mendorong terjadinya fraud adalah kebutuhan atau masalah
finansial. Tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan.
Opportunity
Peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya disebabkan karena
internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan,
dan/atau penyalahgunaan wewenang.
Rationalization
Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana
pelaku mencari pembenaran atas tindakannya.
Diponegoro University
Kasus Bank BRI
Salah satu fenomena yang terjadi berkaitan dengan laporan keuangan
terjadi pada salah satu perusahaan BUMN di Indonesia yaitu pada PT.
Bank Rakyat Indonesia yang merupakan Bank Pemerintah pertama di
Republik Indonesia. Sejak Agustus 1992 status BRI berubah menjadi
perseroan terbatas hingga pada tahun 2003 Pemerintah Indonesia
memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini sehingga menjadi
perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.
Diponegoro University
Kasus Bank BRI
Masril (Kepala Unit BRI Kecamatan Tapung Raya) Kampar, Riau
harus berurusan dengan pihak kepolisian. Dia diduga melakukan
transfer fiktif senilai Rp 1,6 miliar. Masril kini ditahan di Polres
Kampar. Kapolres Kampar, AKBP MZ Muttaqien mengungkapkan
hal itu. Menurutnya, Masril harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Sebelumnya kasus transfer fiktif ini dilaporkan oleh
Kepala BRI Kabupaten Kampar, Sudarman serta Rustian Marta
seorang pegawai BRI. Keduanya melaporkan adanya pencatatan
palsu dalam pembukuan atau laporan maupun kegiatan usaha.
Laporan atau transaksi rekening bank yang dilakukan tersangka
sebesar 1,6 miliar itu tanpa disertai uangnya. Hanya dalam catatan
ada transfer uang.
Diponegoro University
Kasus Bank BRI
Kronologi transfer fiktif ini bermula pada saat pemeriksa internal dari BRI
Cabang Bangkinang, Ibukota Kab. Kampar melakukan pemeriksaan ke Unit
BRI Tapung, ditemukan kejanggalan transaksi. Hasil pemeriksaan itu
menyebutkan, adanya kejanggalan antara jumlah saldo neraca dengan kas
tidak seimbang. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut diketahui
adanya transaksi gantung yaitu adanya pembukaan setoran kas sebanyak
1,6 miliar. Uang sebanyak itu diketahui ditransfer dari BRI Unit Pasir
Pangaraian II ke Unit Bri Tapung.
Diponegoro University
Kasus Bank BRI
Dalam hal ini tersangka membuat laporan adanya transaksi Rp 1,6
miliar, namun dalam pemeriksaan tim BRI Bangkinang, transfer
tersebut tidak disertai uangnya. Kejanggalan inilah yang akhirnya
tim pemeriksaan internal BRI mencium adanya transaksi fiktif
tersebut. Dalam kasus ini, tersangka dijerat dengan UU No 10
tahun 1998 tentang perubahan atas UU No 7 tahun 1992 tentang
perbankan. Tersangka diancam hukuman 10 tahun kurungan
ditambah denda.
Diponegoro University
Analisis Kasus
Jika dilihat berdasarkan pada fraud triangle yang dicetuskan oleh Donald Cressy, maka :
Pressure
Dalam kasus ini yang menjadi penyebab pelaku melakukan fraud dikarenakan kebutuhan/masalah
finansial yang dialaminya, sehingga pelaku melakukan tindak kecurangan berupa transaksi fiktif.
Opportunity
Opportunity atau kesempatan yang terjadi pada kasus diatas yaitu pelaku menyalahgunaan
wewenang kekuasaan dalam memanipulasi data laporan keuangan. Disamping itu lemahnya internal
kontrol perusahaan juga menjadi faktor pendukung penyebab terjadinya fraud.
Rationalization
Rasionalisasi pada kasus diatas dapat disebabkan karena penghargaan/reward yang diterima oleh
pelaku dianggap tidak setara atau sebanding dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan,
sehingga tidak mengapa jika pelaku mengambil sedikit dari keuntungan tersebut. Ingin
membahagiakan keluarga dan orang-orang yang dicintai juga menjadi alasan seseorang untuk
melakukan kecurangan (fraud).
Diponegoro University
Cara Menanggulangi
Agar kejadian pada kasus bank BRI diatas tidak terjadi kembali, maka harus dilakukan
perbaikan atau pengevaluasian internal kontrol dengan cara :
Pencatatan dokumen setiap transaksi harus dilakukan oleh staff pembukuan dan sudah di
analisis oleh pejabat yang berwenang, bukan hanya kepal unit secara langsung.
Dari unit kontrol intern harus memeriksa setiap transaksi-transaksi yang berasal dari unit
kas dan periodik saldo fisik harus diperiksa oleh satuan kerja audit intern.
Diponegoro University
Magister Akuntansi 34
Terima Kasih
Diponegoro University