0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan31 halaman

Ukuran Jalur Lalu Lintas Jalan Raya

Dokumen tersebut membahas tentang klasifikasi jalur lalu lintas pada jalan raya berdasarkan kecepatan kendaraan dan jenis kendaraan. Juga dibahas tentang klasifikasi jalan umum berdasarkan fungsi seperti jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan. Selanjutnya dibahas mengenai lebar jalur lalu lintas untuk sepeda dan kendaraan bermotor serta jenis-jenis perkerasan pada jalan raya.

Diunggah oleh

Ricky Darmawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan31 halaman

Ukuran Jalur Lalu Lintas Jalan Raya

Dokumen tersebut membahas tentang klasifikasi jalur lalu lintas pada jalan raya berdasarkan kecepatan kendaraan dan jenis kendaraan. Juga dibahas tentang klasifikasi jalan umum berdasarkan fungsi seperti jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan. Selanjutnya dibahas mengenai lebar jalur lalu lintas untuk sepeda dan kendaraan bermotor serta jenis-jenis perkerasan pada jalan raya.

Diunggah oleh

Ricky Darmawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jalan raya

Ali Zainal Abidin


Klasifikasi jalur lalu lintas

Berhubungan dengan perbedaan kecepatan


kendaraan yang menggunakan jalan raya, maka jalan
raya itu dibagi dalam berbagai jalur lalu-Iintas, vaitu:

1. Jalur lalu lintas pejalan kaki (trotoar di dalam kota


bahu-bahu di luar kota).
2. Jalur lalu lintas untuk sepeda.
3. Jalur lalu lintas untuk sepeda motor.
4. Jalur lalu lintas untuk mobil. truk dan kendaraan
lain yang sejenis.
Lebar Jalur Lalu-Lintas
Untuk Sepeda

Lebar jalur lalu lintas untuk sepeda


ditetapkan 0,75 m karena ukuran
lebar sepeda berikut pengendaranya
kurang lebih 0,60 m.
Jalur kendaraan
bermotor

Lebar jalan lalu lintas yang normal


untuk mobil dan truk yang ditetapkan
diberbagai negara itu tidak sama.
Di Indonesia lebar jalur lalu lintas itu
ditetapkan oleh Direktorat Jenderal
Bina Marga seperti yang tercantum,
pada daftar "Standar Perencanaan
Geometrik". Tapi untuk motor lebar
jalur biasanya 1,5m.
Jalan umum menurut fungsi

Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan


kedalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan
jalan lingkungan.
Jalan arteri

Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi


melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak
jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan
masuk dibatasi secara berdaya guna.
1. Arteri primer

Jalan Arteri Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan antar


kota jenjang kesatu yang berdampingan atau menghubungkan
kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua. (R. Desutama.
2007)
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus
dipenuhi oleh Jalan Arteri Primer adalah :
1) Kecepatan rencana > 60 km/jam.
2) Lebar badan jalan > 8,0 m.
3) Kapasitas jalan lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.
4) Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan
rencana dan kapasitas jalan dapat tercapai.
5) Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal.
6) Jalan primer tidak terputus walaupun memasuki kota.
2. Arteri sekunder

Jalan Arteri Sekunder adalah ruas jalan yang


menghubungkan kawasan primer dengan kawasan
sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder
kesatu dengan kawasan sekunder lainnya atau kawasan
sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang
harus dipenuhi oleh Jalan Arteri Sekunder adalah :
1) Kecepatan rencana > 30 km/jam.
2) Lebar jalan > 8,0 m.
3) Kapasitas jalan lebih besar atau sama dari volume
Jalan kolektor

Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi


melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan
ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata
sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.
1. Kolektor primer

Jalan Kolektor Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan


antar kota kedua dengan kota jenjang kedua, atau kota jenjang
kesatu dengan kota jenjang ketiga. (R. Desutama. 2007)
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus
dipenuhi oleh Jalan Kolektor Primer adalah :
1) Kecepatan rencana > 40 km/jam.
2) Lebar badan jalan > 7,0 m.
3) Kapasitas jalan lebih besar atau sama dengan volume lalu
lintas rata-rata.
4) Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan
rencana dan kapasitas jalan tidak terganggu.
5) Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal.
6) Jalan kolektor primer tidak terputus walaupun memasuki
daerah kota.
2. Kolektor sekunder
Jalan Kolektor Sekunder adalah ruas jalan yang
menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan
kawasan sekunder lainnya atau menghubungkan
kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder
ketiga.
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang
harus dipenuhi oleh Jalan Kolektor Sekunder adalah :
1) Kecepatan rencana > 20 km/jam.
2) Lebar jalan > 7,0 m.
Jalan lokal

Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi


melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan
jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah
jalan masuk tidak dibatasi.
1. Lokal primer

Jalan Lokal Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan


kota jenjang kesatu dengan persil, kota jenjang kedua
dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang
ketiga lainnya, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang di
bawahnya. (R. Desutama, 2007)
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang
harus dipenuhi oleh Jalan Lokal Primer adalah :
1) Kecepatan rencana > 20 km/jam.
2) Lebar badan jalan > 6,0 m.
3) Jalan lokal primer tidak terputus walaupun memasuki
desa
2. Lokal sekunder

Jalan Lokal Sekunder adalah ruas jalan yang


menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan
perumahan, atau kawasan sekunder kedua dengan
perumahan, atau kawasan sekunder ketiga dan
seterusnya dengan perumahan.
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang
harus dipenuhi oleh Jalan Lokal Sekunder adalah :
1) Kecepatan rencana > 10 km/jam.
2) Lebar jalan > 5,0 m.
Jalan lingkungan

Jalan Lingkungan adalah merupakan jalan umum yang


berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri-
ciri seperti pada Tabel sebagai berikut :
Jalan Ciri-ciri

1. Perjalanan jarak dekat

2. Kecepatan rata-rata rendah


Lingkungan

Sumber : UU No.38 Tahun


2004
Trase jalan

Apa itu trase?


Trase jalan raya atau
sering disebut sumbu
jalan yaitu berupa garis-
garis lurus saling
berhubungan yang
terdapat pada peta
topografi suatu muka
tanah dalam perencanaan
jalan baru. Trase jalan
digunakan sebagai acuan
membentuk lengkung
jalan hingga perkerasan
jalan.
Sarat-sarat

1. Trase diusahakan jalur terpendek.


Hal yang paling diutamakan perencana adalah jalan yang
ekonomis. Ekonomis maksudnya suatu jalan dapat
dibangun dengan kualitas bagus dan harga yang
terjangkau. Maka dengan merencanakan trase yang
pendek biaya dalam pembangunan jalan relatif kecil.

2
[Link] terlalu curam.
Salah satu syarat dalam merencanakan jalan adalah
memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan (si
pengemudi). Jalan yang terlalu curam akan membuat
kendaraan menjadi berat akibat adanya gaya sentrifugal.
Sehingga pengguna jalan tidak lagi menemukan
kanyamanan saat menggunkan jalan tersebut.

1 2
3. Sudut luar (sudut tangen) tidak terlalu besar.
Sudut luar dalam menarik trase jalan akan sangat
mempengaruhi keadaan jalan setelah dibangun. Perencana
jalan diharapkan mampu merencanakan jalan dengan
tikungan yang kurang dari 90 derajat. Agar tikungan yan
g terbentuk tidak terlalu tajam, sehingga aman bagi
pengguna jalan.

1 2
4. Galian dan timbunan
Galian (cut) dan timbunan (fill) merupakan hal yang juga
sangat diperhatikan dalam merencanakan jalan. Biasanya
dalam merencanakan jalan, besar timbuan dan galian telah
ditentukan terlebih dahulu. Agar biaya yang dikeluarkan
untuk melaksanakan suatu bangunan jalan tidak lebih
besar dari yang tersedia. Perencana jalan harus
merencanakan trase jalan sedemikian rupa sehingga tidak
terjadi galian dan timbuanan yang terlalu besar. Caranya
dengan menarik garis trase pada elevasi muka tanah yang
tidak terlalu jauh perbedaan ketinggian antara awal
dengan akhir.
Alinyemen Horizontal
Alinyemen Horizontal

Alinemen horisontal adalah


proyeksi sumbu jalan pada
bidang horisontal. Alinemen
horisontal tersusun atas garis
lurus dan garis lengkung
(busur) atau lebih dikenal
dengan istilah tikungan. Busur
terdiri atas busur lingkaran
saja (full-circle), busur
peralihan saja (spiral-spiral),
atau gabungan busur
lingkaran dan busur peralihan
(spiral-circlespiral).
Berdasarkan panjang perjalanan selama waktu tempuh
3 detik (Bina Marga) atau 2 detik (AASHTO)Ls = (V/3.6) .
T
Kelandaian relatif maksimum (1/m) berdasarkan
kecepatan rencana
No Kecepatan Rencana (Vr)
20 30 40 50 60 80 100

Bina Marga 1/50 1/75 1/100 1/115 1/125 1/150 1/100

No Kecepatan Rencana (Vr)

32 48 64 80 88 96 104

AASHTO 1/33 1/150 1/175 1/200 1/213 1/222 1/244


Perkerasan jalan raya
Umum

Pada umumnya, perkerasan jalan terdiri dari beberapa


jenis lapisan perkerasan yang tersusun dari bawah ke
atas,sebagai berikut :
Lapisan tanah dasar (sub grade)
Lapisan pondasi bawah (subbase course)
Lapisan pondasi atas (base course)
Lapisan permukaan / penutup (surface course)
Jenis-jenis perkerasan

PERKERASAN LENTUR
Jenis dan fungsi lapisan perkerasan
Lapisan perkerasan jalan berfungsi untuk menerima
beban lalu-lintas dan menyebarkannya ke lapisan di
bawahnya terus ke tanah dasar
Jenis-jenis perkerasan

PERKERASAN KAKU
Perkerasan jalan beton semen atau secara umum
disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton
semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah
(bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar. Dalam
konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut
sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih
adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi
sebagai lapis permukaan.
Jenis-jenis perkerasan

PERKERASAN KOMPOSIT
Perkerasan komposit merupakan gabungan konstruksi
perkerasan kaku (rigid pavement) dan lapisan perkerasan
lentur (flexible pavement) di atasnya, dimana kedua jenis
perkerasan ini bekerja sama dalam memilkul beban lalu
lintas. Untuk ini maka perlua ada persyaratan ketebalan
perkerasan aspal agar mempunyai kekakuan yang cukup
serta dapat mencegah retak refleksi dari perkerasan beton
di bawahnya.
Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bagian lain.

Anda mungkin juga menyukai