EKSODONSIA
DAN PASIEN DENGAN KEADAAN
MEDICALLY-COMPROMISED
Seminar wajib bersama Andra Rizqiawan, drg., Ph.D., [Link]
By Mahda, Merina, Irjinia, Asyharul, Retno
EKSODONSIA
PRINSIP DASAR EKSODONSIA
Eksodonsia merupakan tindakan bedah mulut yang
bertujuan untuk mengeluarkan seluruh bagian gigi
bersama jaringan patologisnya dari dalam soket gigi &
menanggulangi komplikasi yang mungkin dapat terjadi.
Prinsip kerja eksodonsia meliputi tiga tahapan kerja pokok,
diantaranya:
Tahap pra-bedah : persiapan untuk dilakukan eksodonsia
Tahap pembedahan : langkah kerja untuk melakukan eksodonsia
Tahap pasca-bedah : pemantauan & penanggulangan komplikasi
Eksodonsia dapat dilakukan dengan dua metode: tertutup dan
terbuka.
Eksodonsia tertutup menggunakan tang dan elevator; metode
terbuka dilakukan secara pembedahan/flap.
PENYULIT EKSODONSI
Akar Hipersementosis
Secara radiografi, menunjukkan premolar maksila
dengan hipersementosis di apikal gigi.
Kelainan Jumlah Akar Gigi
Gigi dengan Karies yang Meluas
hingga Akar
Gigi Fraktur Gigi yang Mengalami Resorpsi Akar
Ujung Akar
Bengkok
Ujung Akar Bengkok
Gigi Impaksi
Gigi Fusi
Akar Gigi Dekat Dengan Sinus
Akar Gigi Tertanam Dalam Tulang
Akar Gigi dengan Lesi Periapikal
Akar Gigi Sulung Membungkus
Mahkota Gigi Permanen
Penggantinya.
Komplikasi Eksodonsia
SAAT PENCABUTAN
Fraktur
Akar : gigi rapuh, akar bengkak, hypercementosis
Mandibula (jarang)
Tulang alveolaris
Tuberositas maxilaris
Perforasi sinus maksilaris oroantral fistula
Terdorongnya akar pada sinus maksilaris dibuka (op)
Perdarahan
Laserasi pada jaringan lunak sekitarnya
Goyangnya gigi tetangga / sebelahnya
Komplikasi Eksodonsia
PASCA PENCABUTAN
Perdarahan
Beberapa hari pasca pencabutan
Echymosis & Haematoma
Pembengkaan
Trismus
Dry socket / alveolar osteitis
Rasa sakit yang berkepanjangan post ekstraksi gigi akibat Blood clot
rusak/hilang
Teknik Pencabutan Open-Method
Teknik mengeluarkan gigi dengan cara pembedahan dengan melakukan
pemotongan gigi atau tulang.
Prinsip pada teknik ini adalah:
Pembuatan flap
Membuang sebagian tulang
Pemotongan gigi
Pengangkatan gigi
Penghalusan tulang
Kuretase
Penjahitan
Metode ini umumnya dilakukan pada kasus-kasus dengan adanya retensi dari
jaringan keras/lunak rongga mulut.
Indikasi Open-Method
Gigi yang tidak dapat dicabut dengan pencabutan intra-
alveolar dengan menggunakan gaya yang cukup besar.
Sisa akar yang tidak dapat dipegang dengan tang atau
dikeluarkan dengan bein, terutama sisa akar yang berhubungan
dengan sinus maksilaris
Riwayat pencabutan-pencabutan yang sulit
Gigi dengan restorasi yang cukup besar , terutama bila telah
dirawat saluran akar atau tak berpulpa
Indikasi Open-Method
Gigi geligi yang mengalami hipersementosis atau ankilosis
Gigi geligi yang mengalami geminasi atau dilaserasi
Gigi geligi yang secara radiografik menunjukkan pola-pola akar
yang rumit, atau akar akar dengan arah lintasan pengeluaran
yang tidak menguntungkan atau rumit.
Kesulitan akses alat untuk menjangkau gigi ybs.
Karies yg meluas ke dlm akar
Tahapan Ekstraksi Open-Method
1. Flap mukoperiosteal
Desain flap bergantung pada keputusan operator dan tujuan
dari operasi .
Tingkat akses permukaan tulang dan akar dan posisi akar flap
harus dipertimbangkan dalam desain flap.
Bergantung bagaimana keterlibatan dengan papilla interdental,
flap dapat dilakukan dengan membagi papilla (conventional
flap) atau mempertahankan bentuk papilla (preservation flap).
Tahapan Ekstraksi Open-Method
Syarat flap yang baik yaitu:
Flap yang dibuat harus cukup suplai darah, memberikan lapang
pandang / jalan masuk yang cukup, dan tepian flap harus
berada diatas tulang
Insisi secara continous stroke, menyusuri tulang, dengan sudut
terhadap permukaan mukosa.
Basis flap harus lebih besar dibandingkan dengan bagian atas
flap.
Papila dental harus sepenuhnya di flap, sesuai dengan contour
gingiva.
Pembuatan flap harus secara hati-hati.
PADA PROSEDUR FLAP KONVESIONAL, insisi flap fasial dan lingual atau palatal
mencapai ujung papilla interdental atau sekitarnya, dengan demikian pembagian
papilla menjadi setengah di fasial dan setengah palatal atau setengah lingual. (Foster
T.D, 1993)
Desain Flap Mukoperiosteal
Flap Trapezoid
Flap Triangular
Flap Envelope
Tahapan Ekstraksi Open-Method
2. Pembuangan tulang
Tulang alveolar atas yang menutupi gigi harus dihilangkan agar dapat mencapai
bagian akar gigi / bifurkasi gigi.
Ruang yang dihasilkan dari pembuangan tulang harus cukup untuk memasukkan
elevator atau forcep dan membuat celah pada gigi atau cukup untuk
menggerakkan akar.
Bur dan chisel dapat digunakan untuk membuang tulang alveolar bagian bukal
atau labial.
Pembuangan tulang dapat dilakukan dengan membentuk 2 potongan vertikal
lalu dihubungkan dengan potongan horizontal.
Tahapan Ekstraksi Open-Method
2. Pembuangan Tulang
Pembuangan tulang dilakukan dalam dua tahap, tahap
pertama yaitu pembuangan tulang sebelum pencabutan gigi
dan pembuangan tulang setelah pencabutan gigi.
Pembuangan tulang setelah pencabutan gigi bertujuan untuk:
Menghaluskan permukaan tepi tulang
Mengurangi ukuran clot (gumpalan bekuan darah) dengan
mengurangi ukuran socket
Reconturing residual alveolar ridge untuk rehabilitasi protestik
Tahapan Ekstraksi Open-Method
Syarat pemakaian bur untuk tulang:
Lapangan pandang harus jelas
Menghindari jaringan lunak RM (Lidah, bibir, mukosa)
Hand piece harus steril
Mata bur harus tajam
Selalu diirigasi pada ujung pemotongan untuk menghindari
panas yang berlebihan (Apabila handpiece tidak di lengkapi
dengan sistim irigasi)
Memakai penghisap (suction)
Tahapan Ekstraksi Open-Method
3. Pencabutan dan pembelahan gigi
Jika tulang alveolar memadai, dapat dilakukan pencabutan sekali
dengan elevevator atau forcep. Jika tulang alveolar tidak memadai
atau gigi berakar lebih dari satu, gigi harus dibagi/dipisahkan untuk
pencabutan. Bifurkasi akar harus terlihat dan dipisahkan dengan bur
atau atau chisel.
Tahapan Ekstraksi Open-Method
4. Penutupan flap
Perkiraan margin flap yang baik
Penutupan flap yang tepat primary healing
Penjahitan tanpa tekanan, karena tekanan
dapat menyebabkan terganggunya suplai darah
ke jaringan
Jahitan tidak boleh terlalu kencang agar tidak
menimbulkan efek blanching pada mukosa
tetapi simpul harus kuat agar tidak mudah lepas.
Fungsi penjahitan:
Mengurangi jarak antara tepi flap, semakin kecil jarak antar tepi
flap maka proses primary healing dapat dengan mudah dan
cepat terjadi
Hemostasis: penjahitan bereaksi sejalan dengan proses
hemostasis pada socket yang terbuka tetapi tidak
mempengaruhi proses perdarahan dibawah jaringan.
PASIEN DENGAN
KEADAAN MEDICALLY-
COMPROMISED
Hipertensi
Hipertensi adalah kondisi medis dengan tekanan darah di arteri meningkat, sehingga
jantung perlu bekerja lebih keras untuk mengedarkan darah.
Etiologi:
1. Primer (90%) belum diketahui penyebabnya dengan jelas, tetapi berbagai faktor
diduga turut berperan sebagai penyebabnya, seperti bertambahnya usia, stress,
keturunan.
2. Sekunder (10%) terjadi akibat penyebab yang diketahui, seperti kerusakan ginjal,
DM, hipertiroidisme, obat tertentu, dll
Hipertensi
Ekstraksi dapat dilakukan apabila pasien dalam keadaaan normal atau prehipertensi.
Pasien dengan hipertensi stadium 1 dan 2 sebaiknya dirujuk sebelum dilakukan tindakan
Hipertensi
Keadaan hipertensi tidak secara langsung mempengaruhi keadaan gigi dan mulut
pasien. Namun masalah yang timbul di bidang kedokteran gigi adalah akibat
konsumsi obat antihipertensi.
Masalah rongga mulut yang sering dijumpai antara lain:
1. Xerostomia
2. Hyperplastic gingiva
3. Pembengkkan dan nyeri tekan
4. Lichenoid reaction, dll
Jenis Obat Antihipertensi Mekanisme Kerja
Diuretik Menghambat reabsorbsi elektrolit (terutama Na+) dan air pada bagian-bagian
tertentu dari ginjal mengingkatkan pengeluaran Na+ dan air dalam urin
mengurangi volume cairan intravaskular dan vasodilatasi mengurangi
venous return, mengurangi cardiac output menurunkan tekanan darah
Calcium channel blocker Menghambat Ca2+ channel pada smooth muscle pembuluh darah
mengurangi Ca2+ influx vasodilatasi menurunkan tekanan darah
Adrenergic inhibitor 2 agonist = mengurangi impuls simpatetik dari CNS ke jantung dan arteriol
vasodilatasi
blocker = menurunkan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard
mengurangi cardiac output ; hambatan sekresi renin di sel jukstaglomeruler
ginjal pembentukan angiotensin II menurun
ACE inhibitor Menghambat pembentukan angiotensin II menghambat sekresi aldosteron
dari adrenal cortex menurunkan reabsorpsi Na+ mengurangi volume
cairan intravaskular dan vasodilatasi mengurangi venous return,
mengurangi cardiac output menurunkan tekanan darah
Angiotensin receptor blocker Merupakan inhibitor kompetitif dari angiotensin mencegah angiotensin II
berikatan dengan reseptor
Direct vasodilator Bekerja langsung pada smooth muscle pembuluh darah dan terjadi
vasodilatasi
Jenis obat Contoh obat Komplikasi RM yang
dapat terjadi
Diuretik thiazide Xerostomia,
lichenoid reaction
Calcium channel nifedipine Gingival hiperplasia
blocker
Adrenergic inhibitor -blocker Licenoid reaction,
(propanolol) dysgeusia
-agonist Xerostomia
(clonidine)
ACE inhibitor Xerostomia, cough,
ageusia/ dysgeusi
Penggunaan NSAIDs jangka panjang dapat menurunkan efek antihipertensif dari
diuretik, -blocker, -agonist, vasodilator, dan ACE inhibitor
Hipertensi
Masalah utama pasien hipertensi:
1. Tekanan darah meningkat saat stress dapat menyebabkan komplikasi CVA, gagal
jantung, MI
2. Perdarahan yang berlebihan/ sulit dihentikan
3. Hipotensi ortostatik
Penatalaksanaan pasien dengan riwayat hipertensi pada ekstraksi:
1. Pastikan pasien minum obat antihipertensif
2. Lakukan tindakan di pagi hari dan singkat untuk meminimalkan stress
3. Hati-hati dalam penggunaan adrenalin dlm anestesi lokal (lakukan pengenceran
bila perlu atau menggunakan mepivacaine 3%)
4. Antisipasi perdarahan saat cabut
5. Perubahan posisi perlahan
Cerebrovascular Accident (CVA) / Stroke
Gangguan fungsi otak karena rusaknya sebagian daerah otak yang disebabkan oleh
gangguan pada arteri yang mensuplai darah ke otak.
Penyebabnya:
Penyumbatan (Ischemic) 85% berkurangnya aliran darah karena penyumbatan (trombosis,
embolism)
Pendarahan (Hemorrhagic) 15% akibat pecahnya pembuluh darah
Gejala klinis:
Hemiplegia
Gangguan bicara Faktor Resiko:
Melemahnya fungsi motoris Hipertensi
Aterosklerosis
Fibrilasi atrial (AF), infark miokardial (MI)
Transient ischemic attack (TIA)
Cerebrovascular Accident (CVA) / Stroke
Masalah utama dan tata laksana di bidang kedokteran gigi
Konsumsi antikoagulan
Resiko stroke
(warfarin) dan antiplatelet
ulang
(aspirin)
Tindakan ditunda
sampai 6 bulan post Resiko perdarahan yang sulit
stroke berhenti
Aspirin sebaiknya dihentikan 5-7
hari sebelum tindakan, sedangkan
Hemostasis post
ekstraksi + warfarin 3-5 hari sebelum tindakan
(konsultasi dengan dokter yang
merawat)
Penyakit Jantung Koroner
aterosklerosis (proses penebalan tunika intima oleh karena pembentukan
plak akibat akumulasi lipid, foam cells/ lipid-filled macrophages, dan plak
fibrous)
Penyempitan dan pengerasan arteri
koroner
Jika unstable plaque pecah/ robek, aktivasi clotting system dan terjadi
pembentukan trombus
penyumbatan parsial maupun keseluruhan aliran darah
ke jantung
suplai O2 miokardium
menurun
Muncul presentasi klinis berupa unstable angina atau
infark miokard
Penyakit Jantung Koroner
Masalah utama dan penatalaksanaan pasien dengan riwayat penyakit jantung
koroner pada ekstraksi gigi:
Konsumsi antikoagulan
Resiko re-
(warfarin) dan antiplatelet
infark
(aspirin)
Tindakan ditunda
sampai 6 bulan post Resiko perdarahan yang sulit
infark berhenti
Aspirin sebaiknya dihentikan 5-7
hari sebelum tindakan, sedangkan
Hemostasis post
ekstraksi + warfarin 3-5 hari sebelum tindakan
(konsultasi dengan dokter yang
merawat)
Angina Pectoris
Angina pectoris merupakan sindrom klinis yang disebabkan oleh aliran darah ke arteri
miokard berkurang sehingga terjadi ketidakseimbangan antara suplai O2 ke
miokardium yang dapat menimbulkan iskemia, yang dapat menimbulkan nyeri.
Nyeri yang terjadi adalah akibat dari perubahan metabolisme aerobik menjadi
anaerob yang menghasilkan asam laktat yang merangsang timbulnya nyeri.
Nyeri angina dapat menyebar ke lengan kiri, punggung, rahang atau ke daerah
abdomen.
Angina Pectoris
Arteri koroner mengalami kekakuan/penyempitan akibat aterosklerosis otot pembuluh
darah tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan
oksigen terjadi iskemia (kekurangan suplai darah)
Miokardium dan sel-sel miokardium mulai menggunakan glikolisis anaerob untuk memenuhi
kebutuhan energi terbentuk asam laktat.
Asam laktat menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri yang berkaitan dengan
angina pectoris.
Angina Pectoris
Etiologi:
Arterosklerosis
Aorta insufisiensi
Spasme arteri koroner
Anemia berat
Gejala Klinis:
Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan
kiri
Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya
perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).
Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih dari 30 menit.
Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin.
Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines.
Angina Pectoris
Penatalaksanaan di bidang kedokteran gigi antara lain:
Kelainan yang melatarbelakangi angina pektoris harus dicari, kemudian dikurangi atau
diobati.
Faktor yang memperberat seperti merokok, berat badan berlebihan, dan kebiasaan
minum kopi sebaiknya dihindari.
Tekanan darah tinggi diobati.
Stress dikendalikan
Angina tidak stabil sebaiknya ditangani di rumah sakit.
Angina Pectoris
Pengobatan serangan akut:
Serangan akut diatasi dengan istirahat agar aktivitas jantung berkurang gunakan
vasodilator (untuk memperbaiki suplai oksigen).
Berikan tablet Nitrogliserin sublingual 0,15 0,6 mg. Bila 1 tablet belum menolong boleh
diulang, tetapi bila setelah diulang 3 kali gejala tak berkurang maka kemungkinan
telah terjadi infark.
Isosorbid dinitrat (ISDN) sublingual 2,5 5 mg yang juga dapat diulang atau tablet oral
5 30 mg.
Sub-Acute Bacterial Endocarditis
Merupakan infeksi katup jantung atau permukaan endokardium
Penyebab:
1. Bakteremia dari:
Ekstraksi gigi dan beberapa tindakan dental lain
Bedah jantung, terutama pemasangan protesa jantung
Pengobatan intravena
Kateterisasi jantung atau vena
Tindakan obstetri dan ginekologiFaktor host
2. Faktor Host
Kelainan kongenital
Penyakit jantung rematik dan kelainan katup dapatan lain
Obat-obatan, termasuk imunosupresan
Alkoholisme
Patofisiologi
Sub-Acute Bacterial Endocarditis
Patofisiologi
Sub-Acute Bacterial Endocarditis
Mikroorganisme masuk dalam aliran darah lapisan dalam jantung
(endokardium) mengalami inflamasi terbentuk klot (gumpalan) fibrin
klot tersebut menjadi lingkungan yang baik untuk mikroorganisme
bertumbuh.
Platelet dan fibrin, selanjutnya mengelilingi mikroorganisme yang
menginvasi membentuk suatu selubung pelindung dan menyebabkan
vegetasi yang terinfeksi menjadi luas.
Vegetasi yang meluas (lesi dasar endocarditis) menjadi rusak, menebal,
kaku dan meninggalkan parut pada lembar katup dan cincin fibrous
penopang katup jantung.
Vegetasi mungkin juga berjalan ke berbagai organ dan jaringan dan
membendung aliran darah.
Komplikasi
Sub-Acute Bacterial Endocarditis
Gagal jantung berat karena insufisiensi katup
Infeksi refractory
Episode embolik (iskemia atau nekrosis ekstremitas atau organ)
Gangguan konduksi
Disfungsi organ yang diakibatkan oleh proses immunologi (jantung, mata, kulit)
Penghancuran jaringan oleh mikroorganisme, kerusakan katup dan pembentukan
abses katup jantung.
Penatalaksanaan Dental dan Profilaksisnya
Antibiotik profilaksis Kasus yang tidak diperlukan
direkomendasikan pada kasus: antibiotik profilaksis:
Eksodonsia Restorasi gigi
Tindakan periodontal Injeksi anestesi lokal non-
intraligamen
Insisi dan drainase abses Pengambilan jahitan
postoperasi
Pemasangan dan pelepasan implan Pemasangan alat ortodontik
dental dan prostodontik lepasan
Replantasi gigi avulsi Pencetakan rongga mulut
Terapi endodontik & pembedahan Tanggalnya gigi sulung secara
apikal alami
Pemasangan intermaxillary fixation
Myocardial Infark
Proses dinamik dimana jantung mengalami penurunan
oksigen yang berat dalam jangka waktu lama karena
aliran darah koroner yang tidak mencukupi sebagai
akibatnya nekrosis atau kematian jaringan otot
jantung.
Gejala klinis:
Nyeri pada tulang dada secara mendadak
Rasa sakit ini lebih berat dibandingkan dengan angina pektoris, bisa lebih dari 15 menit dan
tidak mereda dengan istirahat atau menggunakan obat Nitroglycerin.
Myocardial Infark Etiologi
Tipe Tipe Tipe Tipe Tipe
1 2 3 4 5
Terjadi
Secara Terjadi peningkatan
spontan Disebabkan sebelum kadar
karena oleh ditemuka pertanda
diseksi plak vasokontriks n tanda- biokimiawi Peningkatan
dan infark kadar
aterosklerosis i dan tanda miokard 3 kali troponin 5 kali
dan ruptur spasme dan lebih besar lebih besar
plak. arteri belum dari nilai dari nilai
normal akibat normal,
menurunka dilakukan pemasangan berhubungan
n aliran uji sampel PCI dengan
darah darah, (percutaneou operasi
miokard tiba-tiba s coronory bypass
intervention) koroner.
meningga dan
l. pemasangan
stent
trombosis.
Myocardial Infark Patofisiologi
Diawali terbentuknya aterosklerosis
Ruptur dan menyumbat pembuluh
darah
Ditandai dengan terbentuknya fatty
plaque di dalam dinding arteri
Terus menambah ke dalam lumen,
diameter lumen semakin menyempit
Menganggu aliran darah ke distal dari
penyumbatan terjadi.
Diabetes Mellitus (DM)
Penyakit endokrin yang paling sering dijumpai, ditandai dengan hiperglikemia kronis
yang disebabkan oleh kurangnya produksi dan sekresi insulin dari pankreas atau
ketidakmampuan tubuh untuk memanfaatkan insulin (insulin resistance).
Gejala:
Polidipsia
Poliuria
Polifagia
Penurunan berat badan
Diabetes Mellitus (DM) Klasifikasi
American Diabetes Association
Klasifika DM Tipe 1 (5% - 10%) DM Tipe 2 (90% - 95%)
si
Patofisiologi Destruksi sel pankreas Resistensi insulin dengan
yang menyebabkan defisiensi insulin relatif
defisiensi insulin absolut
Etiologi immune-mediated, life-style related
idiopatik, (obesitas, kurang
aktivitas fisik)
Usia usia muda usia dewasa/ tua
Diabetes Mellitus (DM)
Tanda umum dan klinis RM pasien yang dapat dicurigai DM:
Gigi goyang > 2
Candidiasis
Halitosis
Gemuk/ obesitas
Mudah mengalami abses
Terdapat luka pada ekstremitas yang sulit sembuh
Jika terlihat tanda-tanda tersebut, lakukan tes GDA sebelum tindakan!
Kriteria untuk Diagnosis:
Gula Darah Puasa (GDP) 126 mg/dl
Gula Darah 2 Jam Post Prandial dan Gula Darah Acak (GDA) 200 mg/dl
HbA1c 6,5 % dapat melacak konsentrasi gula darah dalam 3 bulan terakhir,
serta dapat digunakan untuk monitoring/ indikator apakah terapi DM sudah
adekuat atau belum.
Diabetes Mellitus (DM)
Masalah utama:
Resiko hipoglikemi akibat konsumsi obat DM
Penyembuhan luka lambat dan mudah terinfeksi
(Mikroangiopati perfusi ke jaringan menurun Penyembuhan luka lambat dan mudah
terinfeksi)
Penatalaksanaan pasien dengan riwayat DM pada ekstraksi:
Pastikan DM terkontrol (lakukan tes GDA bila perlu)
Obat hipoglikemik dan insulin boleh tetap diberikan
Antibiotik profilaksis (bila perlu)
Lakukan tindakan dengan stress yang minimal
Pemberian antibiotik post ekstraksi
Hipertiroid
Smeltzer, 2001
Hipertiroid adalah sekresi hormon tiroid yang berlebihan, dimanifestasikan melalui
peningkatan kecepatan metabolisme.
Keadaan ini dapat timbul spontan atau akibat asupan hormon tiroid yang berlebihan.
Komplikasi yang timbul pada pasien hipertiroid:
Sistem jantung takikardia, kardiomegali, payah jantung
Sistem muskuloskeletal hiperkatabolisme otot sehingga menyebabkan otot atrofi dan lemah;
resorpsi tulang berlebihan akibat hipokalsemia; osteopenia
Sistem gastrointestinal nafsu makan yang tidak terkendali, namun berat badan tidak meningkat
secara signifikan; hiperdefekasi
Mata retraksi kelopak mata sehingga mata menjadi lebih mudah terkena inflamasi
Hipertiroid
Untuk dapat memahami hasil-hasil laboratorium pada penyakit Graves dan
hipertiroidisme umumnya, perlu mengetahui mekanisme umpan balik pada hubungan
(axis) antara kelenjar hipofisis dan kelenjar tiroid. Dalam keadaan normal, kadar
hormon tiroid perifer, seperti L-tiroksin (T4) dan tri-iodotironin (T3) berada dalam
keseimbangan dengan thyrotropinstimulating hormon (TSH)
Hipertiroid
Smeltzer, 2001
Penatalaksanaan kedokteran gigi pada pasien dengan kondis hipertiroid:
Meningkatkan Oral Hygiene
Sebelum terapi: pemeriksaan kondisi fisik
Selama terapi: instruksi meningkatkan OH, meminimalkan stress, melanjutkan terapi jika
masih terdapat gejala penyakit thyroid
Setelah terapi: instruksi melanjutkan terapi penempatan hormone atau obat anti thyroid,
konsultasi bila ada keluhan
Penggunaan vasokonstriktor dalam anestesi lokal harus diperhatikan.
Penggunaan seminimal mungkin
Sebelum injeksi, harus diaspirasi terlebih dahulu
Vasokonstriktor paling aman untuk px Hipertiroid Felypressin
Wanita Hamil dan Menyusui
Dibagi menjadi 3 trisemester:
Trisemester pertama (0-14 minggu) paling beresiko dan sensitif terhadap rangsangan dari
luar (organogenesis terjadi pada minggu ke 3-14 dan resiko terjadi spontaneous abortion).
Bila terjadi keadaan darurat seperti abses dentoalveolar akut, pasien harus dikonsultasikan terlebih
dahulu ke dokter kandungan sebelum melakukan tindakan.
Trisemester kedua (14-27 minggu) periode paling aman untuk melakukan dental
treatment / surgery.
Trisemester ketiga (28-49 minggu) resiko bayi lahir prematur selama dental treatment /
surgery.
Wanita Hamil dan Menyusui
Obat-obatan yang harus dihindari untuk pasien hamil:
1. Ibuprofen dan NSAID lainnya resiko terjadi patent ductus arteriosus (PDA) apabila
diberikan sesudah minggu ke 32 karena penutupan duktus tsb tergantung pd
prostaglandin. Apabila prostaglandin dihambat maka PDA dapat terjadi.
2. Tetrasiklin dideposit di tulang dan gigi yang sedang tumbuh (terikat pada kalsium)
sehingga menyebabkan displasia enamel dan hambatan pertumbuhan tulang pd janin
Lidocaine aman digunakan pada ibu hamil dan menyusui
Pasien Immunosuppresed
Immunosuppression dapat dimaknai sebagai suatu perubahan reaksi kekebalan
dalam keadaan negatif sehingga respon tubuh terhadap masuknya benda asing
menjadi berkurang atau bisa menjadi pemicu serangan berbagai penyakit ke dalam
tubuh.
Dalam bidang kedokteran gigi, apabila ditemukan pasien immunosuppresive segera
dirujuk ke dokter penyakit dalam.
Kelainan Sistem Respirasi
Influenza Asma
Penyakit yang disebabkan oleh virus Merupakan suatu penyakit
influenza. dengan gejala antara lain penyumbatan saluran pernapasan
pilek, hidung tersumbat, bersin-bersin yang disebabkan alergi terhadap
dan tenggorokan gatal. rambut, bulu, debu, atau tekanan
psikologis. asma bersifat menurun.
Tubercolosis
Penyakit paru-paru yang Sinusitis
diakibatkan serangan bakteri Peradangan pada sinus
mycobacterium tubercolosis. yang yang didalamnya
sehingga difusi oksigeb terkumpul nanah.
menjadi sulit dikarenakan
adanya bintil-bintil atau
peradangan pada dinding
alveolus.
Kelainan Sistem Respirasi
Rinitis Wajah adenoid
Gangguan radang pada hidung Pembengkakan kelenjar limfe
akibat infeksi oleh virus tapim juga pada sekitar tekak dan hidung
bisa dikarenakan reaksi alergi yang mempersempit jalan nafas.
terhadap cuaca,serbuk sari,dan penderita biasanya lebih suka
debu. bernapas lewat mulut.
Faringitis Laringitis
Radang pada faring akibat Radang pada laring yang
infeksi oleh bakteri disebabkan oleh
streptococcus. infeksi,terlalu banyak
merokok,minum alkohol, dan
terlalu banyak serak.
Kelainan Sistem Respirasi
Penatalaksanaan pada pasien dengan penyakit sistem respirasi adalah:
Menggali riwayat kesehatan pasien dengan baik dan benar untuk menentukan tingkat keparahan
penyakit.
Administrasi obat-obatan sedatif sebelum melakukan tindakan untuk meminimalisir stress.
Kontrol nyeri (untuk menghindari stress) dengan menggunakan anestesi yang adekuat.
Tindakan dilakukan dengan waktu sesingkat mungkin.
Kelainan Darah
Pasien dengan kelainan darah, terutama anemia harus dievaluasi dengan hati-hati
sebelum melakukan tindakan kedokteran.
Komplikasi yang dikhawatirkan yaitu perdarahan yang parah yang dapat menimbulkan
kematian.
Sebelum melakukan tindakan, gali riwayat pasien terutama pasien yang sedang
mengkonsumsi obat-obat antikoagulan (Heparin, Warfarin, Aspirin).
Kelainan Darah
Klasifikasi kelainan darah/sistem
perdarahan:
1. Bleeding disorders
2. Red blood cells disorders
3. White blood cells disorders
Kelainan Darah
Bleeding Acquired
Konsumsi obat Koumarin; Heparin
Pasien dg penyakit Liver
Disorders Coagulopathy Terapi antibiotik broad-spectrum jangka
panjang
Hemofilia
Defisiensi Faktor
Koagulasi Kongenital von Willebrands Disease
Trombositopenia
Konsumsi Aspirin
Fungsi Platelet yang Konsumsi Tidopidine hydrochloride
Inadekuat pada pasien atherosclerosis
Pasien dg penyakit uremia
Kelainan Darah
Red
Iron Deficiency Anemia
Anemia
Pernicious Anemia
Blood Sickle Cell Anemia
Cells Thalassemia
Disorders
Polisitemia Vera
Proses keganasan yang menyebabkanhemolisis,
Disseminated Intravascular adanyamikroangiopati/hipersplenismedisertai
Coagulation gambaran penyakit kronis,perdarahan &
supresi sumsum tulang
Kelainan Darah
White Leukopenia
Blood
Cells Leukemia
Disorders
Leukositosis
Limfadenopati
Neutropenia
Kelainan Darah
Tes laboratorium untuk mengetahui kelainan darah:
Platelet count
Bleeding time
Closure time proses adhesi dan agregasi platelet akibat adanya jejas
Activated partial thromboplastin time identifikasi faktor XII, XI, IX, VIII
Prothrombin time identifikasi faktor VII, X, V, prothrombin, fibrinogen
Thrombin time
Kelainan Darah
Penatalaksanaan di bidang kedokteran gigi:
Rujuk pasien ke dokter yang merawat. Instruksi yang didapat umumnya penghentian konsumsi obat
antikoagulan sementara.
Heparin minimal 5 jam sebelum tindakan
Aspirin minimal 5 hari sebelum tindakan
Warfarin minimal 3 hari sebelum tindakan
Lakukan tindakan preoperatif dengan memberi cairan intravena, sedasi, oksigenasi, dan antibiotik
profilaksis.
Bila diperlukan, beri Asam Traneksamat untuk mengontrol perdarahan post-operatif.
Gagal Ginjal
Gagal ginjal adalah suatu keadaan dimana fungsi ginjal sudah tidak sempurna lagi bila diukur
dengan skala Glomerular Filtration Rate (GFR). Gagal ginjal dibedakan menjadi akut dan kronis.
Gagal ginjal akut ditandai dengan fungsi ginjal yang menurun secara signifikan gejalanya
eksresi nitrogen urea dalam darah dan kreatinin serum meningkat.
Gagal ginjal kronis adalah keadaan ireversibel dari kerusakan fungsi ginjal yang progresif.
Penyakit gagal ginjal umumnya menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder akibat kegagalan
fungsi ginjal untuk merubah vitamin D, sehingga penyerapan kalsium di dalam usus menurun.
Gagal Ginjal
Manifestasi oral yang didapatkan pada pasien dengan keadaan gagal ginjal:
Hipoplasia enamel & staining pada gigi
Halitosis
Stomatitis & xerostomia akibat intake cairan yang terbatas
Gingiva: perdarahan, inflamasi, ecchymosis, timbul petechiae, berwarna pucat
Defek tulang osteolitik pada maksila maupun mandibula & kondilus mandibula, hilangnya lamina dura,
trabekula tulang tampak difus
Deformitas tulang wajah akibat pertumbuhan yang terganggu
Akumulasi kalkulus gigi
Gagal Ginjal
Penatalaksanaan pasien pada tindakan kedokteran gigi:
Hindari pemberian obat-obatan yang nefrotoksik e.g. NSAID, aspirin, asetaminofen, meperidin,
morfin, aminoglikosida
Hindari pemberian obat-obatan yang menghasilkan produk metabolit toksik atau yang
mengandung banyak elektrolit e.g. Dari jenis antibiotik sefalosporin, eritromisin, tetrasiklin
Dapat menggunakan anestesi lokal dengan vasokonstriktor
Tindakan kedokteran gigi dilakukan satu hari setelah pasien melakukan hemodialisis, kemudian 1-2
hari setelahnya pasien melanjutkan terapi hemodialisis untuk mengontrol keseimbangan kalium &
cairan tubuh serta meminimalisir komplikasi perdarahan
Sirosis Hati
Sirosis hati adalah suatu keadaan disorganisasi yang
difus dari struktur hati yang normal akibat nodul
regeneratif yang dikelilingi jaringan fibrosis.
Sirkulasi mikro, anatomi pembuluh darah besar dan
seluruh sistem arsitektur hati mengalami perubahan
menjadi tidak teratur dan terjadi penambahan jaringan
ikat (fibrosis) di sekitar parenkim hati yang mengalami
regenerasi.
Sirosis Hati-Patofisiologi
Ikterus Metabolisme Perubahan Palmar eritema
KERUSAKAN HEPAR
Bilirubun Metabolisme Angioma
Steroid Ginecomasti
Varises
Esofagus Sintesis Volume Darah
Hipertensi
Albumin Inaktifasi aldosteron & ADH
Portal
Splenomegali
Tekanan Aldosteron & ADH
Onkotik
Tekanan
Hidrostatik
Na dan Retensi
Cairan
Ascites
Edema
Sirosis Hati
Komplikasi yang mungkin timbul
Perut membesar
Mata kuning
Muntah
Feses yang bercampur dengan darah
Koma hepaticum
Edema dan ascites
Spontaneous Bacterial Periotonitis (SBP)
Perdarahan dari varises-varises kerongkongan (esophageal varices)
Hepatic encephalopathy
Hepatorenal syndrome
Kanker hati
Sirosis Hati
Penatalaksanaan pasien dengan penyakit liver di bidang kedokteran gigi:
Asupan nutrisi
Proteksi dari penderita
Konsumsi obat-obatan
Perhatikan bila pasien penerima transplan hati dan masih/sedang mengkonsumsi obat-obatan
imunosupresan
Daftar Pustaka
Albert, KG and Zimmet, PZ. 2004. Definition, diagnosis, and classification of diabetes
mellitus and its complication. Part 1: diagnosis and classification of diabetes
mellitus provisional report of a WHO consultation. Diabet Med. 15(7):539-53.
Amarenco P, Bagousslavsky J, et al. 2009. Classification of stroke subtypes. Cerebrovasc
Dis. 27:493501.
Cardiovascular Care Made Incredibly Visual! (2nd edition); Lippincott Williams & Wilkins,
2011.
Carpenito-Moyet, Lynda Juall (2010). Handbook of Nursing Diagnosis: Lippincott
Williams & Wilkins.
Cardiovascular Care Made Incredibly Visual! (2nd edition); Lippincott Williams & Wilkins,
2011.
Carpenito-Moyet, Lynda Juall (2010). Handbook of Nursing Diagnosis: Lippincott
Williams & Wilkins.
Fragiskos, FD. 2007. Oral Surgery. Berlin: Springer. p. 10, 73, 95-8.
Huang S, Dang H, et al. 2013. The healing of dental extraction socket in patients with type 2
diabetes on oral hypoglycemic: a prospective cohort. Australian Dental Journal.
58(1):89-93.
Mills, Elizabeth Jacqueline (2006). Handbook of Medical-Surgical Nursing (4th edition):
Lippincott Williams & Wilkins.
Nettina, Sandra M. (2010). Lippincott Manual of Nursing practice (9th edition): Lippincott
Williams & Wilkins
Shahab, A. 2002. Penyakit Graves (Struma Diffusa Toksik) Diagnosis dan Penatalaksanaannya.
Bulletin PIKKI: Seri Endokrinologi-Metabolisme Edisi Juli 2002, PIKKI. Jakarta. p.918.
Smeltzer. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC.
Starshak, TJ & Sanders, B. 1980. Preprosthetic Oral and Maxillofascial Surgery. London: The CV
Mosby Co, p. 70-85.
Subekti, I. 2001. Makalah Simposium Current Diagnostic and Treatment Pengelolaan Praktis
Penyakit Graves, FKUI. Jakarta. p. 15.
Woods. Susan L., Froelicher, Erika Siyarajan, Motzer, Sandra Adams (Uderhill), Bridges, Elizabeth
J. (2005). Cardiac Nursing (5th edition): Lippincott Williams & Wilkins.
Wahl MJ. 1998. Dental surgery in anticoagulated patients. Arch Intern Med. 158:1610-14.