0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
115 tayangan12 halaman

Hujan Rancangan dan Pola Distribusi

Dokumen tersebut membahas tentang penentuan pola distribusi dan durasi hujan rancangan untuk analisis banjir rancangan. Metode yang digunakan adalah observed pattern dan Alternating Block Method (ABM). ABM digunakan untuk mengubah curah hujan harian menjadi intensitas hujan jam-jaman dengan menempatkan blok-blok hujan secara bolak-balik.

Diunggah oleh

Zhenade
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
115 tayangan12 halaman

Hujan Rancangan dan Pola Distribusi

Dokumen tersebut membahas tentang penentuan pola distribusi dan durasi hujan rancangan untuk analisis banjir rancangan. Metode yang digunakan adalah observed pattern dan Alternating Block Method (ABM). ABM digunakan untuk mengubah curah hujan harian menjadi intensitas hujan jam-jaman dengan menempatkan blok-blok hujan secara bolak-balik.

Diunggah oleh

Zhenade
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Pola Disitribusi Hujan


2. Hitungan Hujan Rancangan
Dalam analisis debit banjir rancangan (hidrograf) dengan input data
hujan rancangan, durasi dan pola distribusi hujannya belum diketahui
sama sekali. Curah hujan rata-rata harian (R24) tidak sepenuhnya
terjadi selama 24 jam. Masing-masing wilayah memiliki pola distribusi
dan durasi hujan tertentu.
Pola distribusi hujan dapat ditetapkan berdasarkan hasil penelitian
hujan DAS setempat (Observed Pattern) atau menggunakan
pendekatan empiris berikut:
1. Model Tadashi Tanimoto,
2. Alternating Block Method (ABM),
DAS Code
100

Pada setiap DAS belaku


80
kurva pola distribusi
hujan yang spesifik.
60
Absis menunjukkan
P (%)

40 jumlah kumulatif waktu,


ordinat jumlah kumulatif
observed pattern-1
20
observed pattern-2
hujan.
0
0 20 40 60 80 100
T (%)
Contoh hasil pengolahan data hujan harian DAS Code
Jumlah hujan (mm) Durasi hujan (jam)
0 75 5
75 - 150 6
> 150 7

Tabel pola distribusi hujan DAS Code


Distribusi Prosentase hujan pola observed-1 (%)
hujan 1 2 3 4 5 6 7
Kum. 21,18 43,92 64,88 81,18 92,60 100
Jam ke 21,18 22,74 20,96 16,30 11,42 7,40
Kum. 17,98 37,56 56,15 72,27 85,13 93,76 100
Jam ke 17,98 19,5 18,58 16,13 12,86 8,62 6,24
Metode ini dikembangkan di Indonesia dengan memanfaatkan
data hujan jam-jaman yang ada di pulau Jawa. Menurut
Tanimoto, hujan ditetapkan berlansung selama 8 jam dengan
persentasenya seperti pada gambar berikut:
100
30
Distribusi hujan kumulatif (%)

Distribusi hujan tiap jam (%)


90 26
24
80 25
70
20 17
60
50 15 13
40
30 10 7
5.5
20 4 3.5
5
10
0 0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8
Jam ke Jam ke
P50 = 368.44 mm

Jam ke 1 2 3 4 5 6 7 8
distribusi hujan tiap
26 24 17 13 7 5.5 4 3.5
jam (%)
distribusi hujan tiap
95.8 88.4 62.6 47.9 25.8 20.3 14.7 12.9
jam (mm)
Alternating Block Method (ABM) adalah cara sederhana untuk membuat
hyetograph rencana dari kurva IDF (Chow et al., 1988). Intensitas hujan
harian akan di alihragamkan menjadi intensitas hujan jam-jaman dengan
menggunakan rumus Mononobe sebagai berikut:
2
24
T
R 3
I
t
T
24

24 t
dengan :
I Tt = intensitas hujan pada durasi t dengan kala ulang T tahun (mm/jam),
t = durasi hujan (jam),
R 24 = curah hujan harian maksimum pada kala ulang T tahun (mm).
T
Pendekatan durasi hujan dilakukan menggunakan waktu konsentrasi.
Persamaan yang cukup dikenal dalam perhitungan waktu konsentrasi
adalah persamaan Kirpich, yang sesuai digunakan untuk daerah dengan
luas lebih kecil dari 80 ha (Ponce, 1989). Dalam satuan SI, rumus Kirpich
ditulis sebagai berikut:

0.06628L0.77
tc
S 0.385
dengan:
tc : waktu konsentrasi (jam),
L : panjang sungai utama (km),
S : Kemiringan antara elevasi maksimum dan minimum dalam DAS
(m/m).
Pertambahan hujan (blok-blok), diurutkan ke dalam rangkaian waktu
dengan intensitas hujan maksimum berada pada tengah-tengah durasi
hujan Td dan blok-blok sisanya disusun dalam urutan menurun secara
bolak-balik pada kanan dan kiri dari blok tengah. Bentuk tipikal hyetograph
hujan rancangan dengan Alternating Block Method ditunjukkan seperti
gambar di bawah ini.

35

30
Intensitas hujan (mm)

25

20

15

10

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jam ke
Pengertian Hujan Rancangan
Untuk keperluan penetapan banjir rancangan diperlukan input hujan
rancangan yang didefinisikan sebagai hujan dengan durasi dan
distribusi tertentu dengan kala ulang sama dengan kala ulang banjir
rancangan yang akan ditetapkan.
Asusmsi yang digunakan adalah bahwa kala ulang hujan sama
dengan kala ulang debit banjir yang diakibatkan oleh hujan rancangan
yang ditetapkan.
Prosedur Hitungan Hujan Rancangan
[Link] hujan harian maksimum kala ulang yang diinginkan (PT)
[Link] durasi hujan dan pola distribusi hujan jam-jaman
[Link] hujan tiap jam sesuai pola distribusi hujan
Hujan Rancangan DAS Code
(metode observed pattern)
Hujan (mm) pada kala ulang T (tahun)
Jam ke
2 5 10 25 50 100 1000
1 18.0 18.0 19.8 22.0 23.5 25.0 29.7
2 19.0 19.3 21.3 23.6 25.3 26.9 31.9
3 15.9 17.8 19.6 21.8 23.3 24.8 29.4
4 11.1 13.8 15.2 16.9 18.1 19.3 22.8
5 6.3 9.7 10.7 11.9 12.7 13.5 16.0
6 - 6.3 6.9 7.7 8.2 8.7 10.4
PT
70.3 84.8 93.6 103.9 111.2 118.1 140.1
(mm)
Hujan Rancangan DAS Tembesi
(metode ABM)
P50 = 368,4 mm

Intensitas P P Distribusi Distribusi Distribusi


t (jam) Hujan Kumulatif jam-jaman ABM % ABM ABM
(mm/jam) (mm) (mm) (mm) P50t (mm) P50t Ef. (mm)

1 127.72 127.7 127.7 23.3 12.6 46.6 36.1


2 80.46 160.9 33.2 127.7 69.3 255.4 245.0
3 61.40 184.2 23.3 33.2 18.0 66.4 55.9
184.2 368.4 336.9

P1000 = 593,2 mm
Intensitas P P Distribusi Distribusi Distribusi
t (jam) Hujan Kumulatif jam-jaman ABM % ABM ABM
(mm/jam) (mm) (mm) (mm) P1000t (mm) P1000t Ef. (mm)
1 205.66 205.7 205.7 37.5 12.6 75.0 64.5
2 129.56 259.1 53.5 205.7 69.3 411.3 400.8
3 98.87 296.6 37.5 53.5 18.0 106.9 96.4
296.6 593.2 561.8

Anda mungkin juga menyukai