0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
179 tayangan44 halaman

Penggolongan dan Pembuatan Salep

Dokumen tersebut membahas tentang sediaan semi padat khususnya salep. Ia menjelaskan pengertian, fungsi, persyaratan, penggolongan, dasar, dan cara pembuatan salep menurut Farmakope Indonesia edisi ketiga dan keempat. Ringkasannya adalah: Dokumen tersebut membahas tentang definisi, klasifikasi, persyaratan, dan cara pembuatan salep sesuai standar Farmakope.

Diunggah oleh

Fitri Rahma Yenti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
179 tayangan44 halaman

Penggolongan dan Pembuatan Salep

Dokumen tersebut membahas tentang sediaan semi padat khususnya salep. Ia menjelaskan pengertian, fungsi, persyaratan, penggolongan, dasar, dan cara pembuatan salep menurut Farmakope Indonesia edisi ketiga dan keempat. Ringkasannya adalah: Dokumen tersebut membahas tentang definisi, klasifikasi, persyaratan, dan cara pembuatan salep sesuai standar Farmakope.

Diunggah oleh

Fitri Rahma Yenti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEDIAAN SEMI SOLID

Fitri Rahma Yenti, [Link].,Apt

6/5/17
Pengertia
n
Menurut FI. IV, salep adalah
sediaan setengah padat ditujukan untuk
pemakaian topikal pada kulit atau selaput
lendir.
Salep tidak boleh berbau tengik.
Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat
dalam salep yang mengandung obat keras
atau narkotika adalah 10 %.
FI ed III
Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen
dalam dasar salep yang cocok 6/5/17
Fungsi Salep
Fungsi salep adalah :
a. Sebagai bahan pembawa substansi
obat untuk pengobatan kulit
b. Sebagai bahan pelumas pada kulit
c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu
mencegah kontak permukaan kulit
dengan larutan berair dan rangsang
kulit

6/5/17
Persyaratan Salep (FI III)
Persyaratan salep menurut FI ed III
1. Pemerian
Tidak boleh berbau tengik
2. Kadar
Kecuali dinyatakan lain dan untuk salep
yang mengandung obat keras atau narkotik,
kadar bahan obat adalah 10 %.
3. Dasar salep
4. Homogenitas
Jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau
bahan transparan lain yang cocok, harus
menunjukkan susunan yang homogen
5. Penandaan
Pada etiket harus tertera obat luar 6/5/17
Penggolongan Salep

Salep dapat digolongkan berdasarkan :


konsistensi,
sifat farmakologi/terapetik dan
penetrasi,
bahan dasarnya, dan
formularium nasional

6/5/17
Konsistensi
1 Unguenta : salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega,
tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan
tanpa memakai tenaga.
2 Krim : salep yang banyak mengandung air, mudah diserap
kulit. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.
3 Pasta : salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat
(serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup
atau pelindung bagian kulit yang diberi.
4 Cerata : suatu salep berlemak yang mengandung persentase
tinggi lilin (waxes), sehingga konsistensinya lebih keras.
5 Gelones/ : salep yang lebih halus. Umumnya cair dan mengandung
Spumae/ sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada
Jelly membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Biasanya
terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak
dengan titik lebur yang rendah.
6/5/17
Terapetik/Farmakologi dan Penetrasi

Menurut Efek Terapinya, salep dibagi atas :


Salep Epidermic (Salep Penutup)
Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk
melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal, karena bahan obat tidak
diabsorbsi.
Kadang-kadang ditambahkan antiseptik, astringen untuk meredakan
rangsangan.
Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin).
Salep Endodermic
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui
kulit dan terabsorbsi sebagian.
Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan.
Dasar salep yang baik adalah minyak lemak.
Salep Diadermic (Salep Serap).
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan
mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya, misalnya
pada salep yang mengandung senyawa Mercuri, Iodida, Belladonnae.
Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. 6/5/17
Dasar Salep
1 Salep : yaitu salep-salep dengan
hidrofobi bahan dasar berlemak,
misalnya: campuran dari
k
lemak-lemak, minyak
lemak, malam yang tak
tercuci dengan air.
2 Salep : yaitu salep yang kuat
hidrofilik menarik air, biasanya dasar
salep tipe o/w atau seperti
dasar hydrophobic tetapi
konsistensinya lebih
lembek, kemungkinan juga
tipe w/o antara lain
campuran sterol dan 6/5/17

petrolatum.
Dasar Salep
Menurut FI. IV, dasar salep yang digunakan sebagai
pembawa dibagi dalam 4 kelompok.
Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep
tersebut.
1). Dasar Salep Hidrokarbon
Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak,
antara lain vaselin putih dan salep putih. Hanya sejumlah
kecil komponen berair yang dapat dicampurkan
kedalamnya.
Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan
obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup.
Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai
emolien, sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak
berubah dalam waktu lama.

6/5/17
2). Dasar Salep Serap
Dasar salep serap ini dibagi dalam 2
kelompok.
Kelompok pertama terdiri atas dasar
salep yang dapat bercampur dengan air
membentuk emulsi air dalam minyak
(parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat),
Kelompok kedua terdiri atas emulsi air
dalam minyak yang dapat bercampur
dengan sejumlah larutan air tambahan
(lanolin). Dasar salep ini juga berfungsi
sebagai emolien.

6/5/17
Dasar Salep
3). Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air.
Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain salep
hidrofilik (krim). Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat
dicuci dengan air, karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah
sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika.
Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan
dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon.
Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan
dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada
kelainan dermatologik.
4). Dasar Salep Larut Dalam Air
Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri
dari konstituen larut air.
Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti
dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung
bahan tak larut dalam air, seperti paraffin, lanolin anhidrat atau
malam.
Dasar salep ini lebih tepat disebut gel.
6/5/17
Contoh Dasar Salep
1 Dasar Salep : Vaselin putih ( = white petrolatum
hidrokarbon = whitwe soft paraffin), vaselin
kuning (=yellow petrolatum =
yellow soft paraffin), campuran
vaselin dengan cera, paraffin cair,
paraffin padat, minyak nabati.
2 Dasar salep serap : Adeps lanae, unguentum simpleks
(dasar salep (cera flava : oleum sesami = 30 :
absorbsi) 70), hydrophilic petrolatum
( vaselin alba : cera alba : stearyl
alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 )
3 Dasar salep dapat : Dasar salep emulsi tipe m/a
dicuci dengan air (seperti vanishing cream),
emulsifying ointment B.P.,
emulsifying wax, hydrophilic
ointment.
4 Dasar salep larut : Poly Ethylen Glycol (PEG), 6/5/17

air campuran PEG, tragacanth, gummi


Kualitas Dasar Salep
Kualitas dasar salep meliputi:

Stabil, selama masih dipakai mengobati.


Salep harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu
kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar.
Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh
produk menjadi lunak dan homogen.
Sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi,inflamasi dan
ekskloriasi.
Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling
mudah dipakai dan dihilangkan dari kulit.
Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep harus kompatibel
secara fisika dan kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar
salep tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi dari
obat yang mampu melepas obatnya pada daerah yang diobati.
Terdistribusi merata, obat harus terdistribusi merata melalui
dasar salep padat atau cair pada pengobatan

6/5/17
Pemilihan Basis Salep
Pemilihan basis salep disesuaikan dengan kebutuhan atau
sifat salep yang diinginkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah:


khasiat yang diinginkan,
sifat bahan obat yang dicampurkan,
ketersediaan hayati,
stabilitas dan ketahanan sediaan jadi.

Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang


kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan.
Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis, lebih stabil dalam
dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang
mengandung air, meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif
dalam dasar salep yang mangandung air.
6/5/17
Ketentuan Umum Cara Pembuatan
Salep
(1) Peraturan Salep Pertama
Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan
kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan.

(2) Peraturan Salep Kedua


Bahan-bahan yang dapat larut dalam air, jika tidak ada peraturan-
peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan air yang
digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. Jumlah air
yang dipakai dikurangi dari basis.

(3) Peraturan Salep Ketiga.


Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam
lemak dan air, harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak
dengan pengayak B40.

(4) Peraturan Salep Keempat


Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya
harus digerus sampai dingin. 6/5/17
(1) Zat berkhasiat bentuk padat
yang larut dalam dasar salep
Camphora
(a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan
dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui
daya larutnya)
(b) Bila dalam resep terdapat minyaklemak maka
kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb.
(c) Bila kamfer bersamasama, menthol, salol, atau
zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur
(karena penurunan titik eutentik) maka kamper
dicampur dg sesamanya supaya mencair baru
ditambahkan dasar salep.
(d) Jika a,b,c, tidak ada maka kamfer diberi etanol 95%
atau eter, kemudiaan digerus dengan dasar salep.
6/5/17
Contoh Resep

R/ Camphorae 1 R/ Camphorae 1
Vaselin flav. 9 Ol. Cocos. 1
m.f. ungt Adeps lanae 18
[Link] [Link].
ungt.
R/ Mentholi
Camphorae aa
0,3
Lanolin
5
Ungt. Acid Salcylas
15
m.d.s.u. e
6/5/17
Pellidol
Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam
minyak lemak dilarutkan bersamasama
dasar salep yang di cairkan
Bila dasar salep disaring juga ikut disaring
dan jangan lupa menambahkan 20%.
Jumlahnya melebihi daya larutnya digerus
dengan dasar salep yang sudah dicairkan.

R/ Pellidol 0,1 R/ Pellidol 0,5


Zinci Oxyd. Ungt. 20 [Link] 25
[Link]. [Link]. m.d.s. ad. Us .ext.

6/5/17
IODIUM

Kalau memenuhi kelarutan


dikerjakan seperti pada
kamfer (a)
R/ Iodii 2
Dilarutkan dalam larutan
Kalii iodii 3
pekat KI atau NaI (seperti
[Link]. 5
pada Unguentum Iodii dari Ungt. Simplex 90
farmakope Belanda) m.d.s.u.e.

Dilarutkan dalam etanol 95% Cara :

kemudian tambahkan dasar - larutkan KI dalam air

salep. - tambahkan iodium hingga larut

- gerus bersama unguentum

- simplex hingga homogen

6/5/17
2. Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air

Protargol (Argentum Proteinacum)


Larut dalam air dengan jalan menaburkan
diatas air didiamkan selama 15 menit
ditempat gelap.
Bila dalam resep terdapat gliserol digerus
dengan gliserin baru ditambah air, dan tidak
perlu ditunggu 15 menit (gliserol
mempercepat daya larut protargol dalam air).

Colargol (Argentum Colloidale)


Sama dengan Protargol
Air yang dipakai 1/3 kalinya.
6/5/17
Argenti Nitras
Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam
pada kulit karena terbentuk Ag2O pada pembuatan
AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut,
kecuali pada resep obat wasir.
Phenol
Phenol mudah larut dalam air, tetapi dalam salep tidak
dilarutkan karena bekerjanya merangsang
Tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum
(campuran fenol dan air 77-81,5%) dikerjakan seperti
pada kamper dalam salep.

Bahan Lain Tidak boleh dilarutkan dalam Salep


Argenti Nitras, Phenol, Pyrogalol, Chrysarobin,
Zinci Sulfas, Antibiotika, Oleum Iecoris Aselli,
Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras

6/5/17
Contoh Resep

R/ Kalii iodii 3 Penyelesaian :


Lanolin 16 KI dilarutkan dengan air
Ungt. Simplex ad 30 dari lanolin.
m.d.s.u.e.

R/ Procain HCl 0,1


Aq. Rosae 1
Penyelesaian :
Adeps lanae 3
ZnO 3
- Procain HCl dilarutkan
Vaselin ad 30
dengan aqua rosae
m.d.s.u.e. - ZnO di ayak dulu

6/5/17
3. Zat berkhasiat bentuk padat tak
larut

Umumnya dibuat halus dengan


mengayak atau menjadikannya serbuk
halus terlebih dahulu.
Belerang, tidak boleh diayak
Acidum Boricum, diambil yang
pulveratum
Zinci Oxydum, harus diayak terlebih
dahulu dengan pengayak No. 100
6/5/17
4. Zat berkhasiat berupa
cairan
Terjadi reaksi,
misalnya aqua calcis dengan minyak lemak
akan terjadi penyabunan cara pengerjaan :
Diteteskan sedikit-sedikit
Dikocok dalam botol bersana minyak lemak, baru
dicampur dengan bahan lainnya.
Contoh resep
R/ Zinc. Oxyd.
Oleum Sesami
Aqua Calcis aa 10
Disini akan terjadi penyabunan Aqua Calcis
dengan oleum sesami.
6/5/17
Tidak terjadi reaksi
Jumlah sedikit, diteteskan terakhir sedikit
demi sedikit sampai terserap oleh dasar
salep.
Jumlah banyak, diuapkan atau diambil bahan
berkhasiatnya dan berat airnya diganti
dengan dasar salep.

6/5/17
ALKOHOL
Jumlah sedikit diteteskan terakhir sedikit demi sedikit
sampai terserap oleh dasar salep.

Jumlah banyak
Tahan panas, misalnya Tinct. Ratanhiae dipanaskan
diatas tangas air sampai sekental sirup atau 1/3
bagian, kehilangan berat ganti dengan dasar salep.
Tidak tahan panas
- Diketahui perbandingannya maka diambil bagian-
bagiannya saja, contohnya tinctura Iodii.
- Tidak diketahui perbandingannya, diteteskan terakhir
sedikit demi sedikit
6/5/17
Kehilangan berat pelarutnya diganti dengan
dasar salep.
Bila dasar salep lebih dari satu macam harus
diperhitungkan menurut perbandingan dasar
salep tersebut.
Contoh :
R/ Tinct. Ratanhiae 6 Setelah Tinct. Ratanhiae
dipanaskan beratnya 2 g,
Vaselin 25
kehilangan berat sebanyak 4 g
Adeps Lanae 15 diganti dengan dasar salep yaitu
[Link]. vaselin dan adeps lanae yang
jumlahnya sesuai dengan
perbandingan vaselin dan adeps
dalam resep.

Vaselin : Adeps lanae :


25 + (25/40 x 4) = 27,5 g 15 + (15/40 x 4) = 16,5 g
6/5/17
Kehilangan berat pelarutnya diganti dengan
dasar salep.
Bila dasar salep lebih dari satu macam harus
diperhitungkan menurut perbandingan dasar
salep tersebut.
R/ Tinct.:Ratanhiae
Contoh Setelah Tinct. Ratanhiae
6 dipanaskan beratnya 2 g,
Vaselin kehilangan berat sebanyak 4
25 g diganti dengan dasar salep
yaitu vaselin dan adeps lanae
Adeps Lanae yang jumlahnya sesuai
15 dengan perbandingan vaselin
[Link]. dan adeps dalam resep.

Vaselin : : 25 + (25/40 x 4) = 27,5 g


Adeps lanae : 15 + (15/40 x 4) = 16,5 g
6/5/17
Cairan kental

Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit,


contoh; Glycerin, Pix Lithantracis, Pix
Liquida, Oleum Cadini, Balsamum
Peruvianum, Ichtyol, Kreosot.

6/5/17
5. Zat berkhasiat berupa
extractum
Extractum Siccum
Pada umumnya larut dalam air, jadi dilarutkan
dalam air dan berat air dikurangkan ke dasar
salep.
Extractum Liquidum
Dikerjakan seperti pada cairan dengan alkohol.
Extractum Spissum
Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau
etanol.

6/5/17
6. Lain - lain
Naphtolum
Dapat larut dalam Sapo Kalinus, kalau
tidak ada sapo kalinus dikerjakan seperti
kamfer.
Bentonit
Berupa serbuk halus yang dengan air
membentuk massa seperti salep.
(Senyawa Aluminium Silikat yang
mengikat air). Cara pembuatan yang
terbaik dengan menambahkan sedikit
demi sedikit ke dalam air hangat
(direndam dalam air, biarkan 1 jam)
Salep dengan Bentonit dan air tidak tahan
6/5/17

lama, perlu ditambahkan lemak agar


Bahan Yang Ditambahkan Terakhir
Pada Suatu Massa Salep

Ichtyol, jika ditambahkan pada masa salep yang


panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi
pemisahan.
Balsem-balsem dan minyak atsiri, balsem
merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri,
jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya
sedangkan minyak atsiri akan menguap.
Air, berfungsi sebagai pendingin dan untuk
mencegah permukaan mortir menjadi licin.
Gliserin, harus ditambahkan kedalam dasar salep
yang dingin, sebab tidak bisa campur dengan
bahan dasar salep yang sedang mencair dan
ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bisa
diserap dengan mudah oleh dasar salep
6/5/17
Pembuatan Salep dengan
Peleburan
Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya.
Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih
yang konsistensinya berbeda dapat dibuat suatu massa
dasar salep yang baik, dicampurkan bahan seperti cera
dengan minyak lemak, meskipun titik leburnya berbeda
jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan
tertentu diperoleh massa yang baik.
Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan
penguap diatas tangas air dengan pengaduk kaca atau
spatel kayu.
Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut
kurang bersih disaring dengan kain kassa pada saat
bahan panas dan tentunya berkurang beratnya bahan-
bahan yang dilebur dilebihkan sebesar 10 - 20%.

6/5/17
Formula salep dengan peleburan

Unguentum Simplex (Ph. Ned. Ed. V) Simple Ointment

R/ Cera flava 30 R/ Adeps lanae 50


Oleum sesami 70 Paraffin solidum 50
Ceto stearyl alc. 50
[Link] / flava 850

Unguentum Leniens (F.N. 1978) Unguentum IecorisAselli (Ph. Ned)

R/ Cetaceum 12,5 R/ Oleum Iecoris aselli 40


Cera alba 12 Cera flava 10
Paraffin liq. 56 Vaselin flava 50
Natrii tetraborax 0,5
[Link]. 19 ml

6/5/17
PASTA
Menurut FI. IV, pasta adalah
sediaan semi padat
mengandung satu atau lebih bahan obat
ditujukan untuk pemakaian topikal.

Kelompok pasta
Pertama dibuat dari gel fase tunggal mengandung
air, misalnya pasta natrium karboksimetilselulose.
Kedua pasta berlemak misalnya pasta zinc oksida,
merupakan salep yang padat, kaku, tidak meleleh pada
suhu tubuh dan berfungsi sebagai lapisan pelindung
pada bagian yang diolesi.

6/5/17
Pasta berlemak kurang berminyak dan lebih menyerap
dibandingkan dengan salep karena tinggi kadar obat
yang mampunyai afinitas terhadap air.
Pasta berlemak cenderung untuk menyerap sekresi
seperti serum dan mempunyai daya penetrasi dan daya
maserasi lebih rendah dari salep pasta digunakan
untuk lesi akut yang cenderung membentuk kerak,
menggelembung atau mengeluarkan cairan.
Pasta gigi untuk pelekatan pada selaput lendir untuk
memperoleh efek lokal, misalnya pasta gigi Triamsinolon
asetonida.
Cara pemakaian oleskan lebih dahulu dengan kain
kassa.
Penyimpanan wadah tertutup baik, wadah tertutup
rapat atau dalam tube.
Pembuatan pasta umumnya bahan dasar yang
berbentuk setengah padat sebaiknya dicairkan terlebih
dahulu baru dicampur dengan bahan padat dalam
keadaan panas agar lebih mudah bercampur dan
homogen. 6/5/17
CREMORES/KRIM

Menurut FI. IV, krim adalah


bentuk sediaan setengah padat,
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Istilah di atas secara tradisional telah digunakan untuk
sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif
cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau
minyak dalam air.
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi
mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang
dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan
untuk pemakaian kosmetika dan estetika.
Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui
vaginal.

6/5/17
TIPE KRIM
Ada 2 type krim yaitu
krim type minyak air ( m/a) dan
krim type air minyak ( a/m ).
Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan
dengan jenis dan sifat krim yang
dikehendaki.
Untuk krim type a/m digunakan sabun
polivalen, span, adeps lanae, kolesterol dan
cera.
Sedangkan untuk krim type m/a digunakan
sabun monovalen seperti trietanolamin,
natrium stearat, kalium stearat dan
ammonium stearat. Selain itu dapat juga
dipakai tween, natrium laurylsulfat, kuning
6/5/17
telur, gelatinum, caseinum, CMC dan
emulgidum.
Kestabilan krim akan terganggu / rusak jika
sistem campurannya terganggu, terutama
disebabkan oleh perubahan suhu dan
perubahan komposisi yang disebabkan
perubahan salah satu fase secara
berlebihan atau zat pengemulsinya tidak
tercampurkan satu sama lain.
Pengenceran krim hanya dapat dilakukan
jika diketahui pengencernya yang cocok
dan dilakukan dengan teknik aseptic. Krim
yang sudah diencerkan harus digunakan
dalam jangka waktu 1 bulan.
Sebagai pengawet pada krim umumnya
digunakan metil paraben (nipagin) dengan
kadar 0,12% hingga 0,18% atau propil
paraben (nipasol) dengan kadar 0,02%
hingga 0,05%.
6/5/17
Penyimpanan krim dilakukan dalam
wadah tertutup baik atau tube di
tempat sejuk. Penandaan pada
etiket harus juga tertera Obat
Luar.

Pembuatan krim adalah dengan


melebur bagian berlemak diatas
tangas air, kemudian tambahkan air
dan zat pengemulsi dalam keadaan
sama-sama panas, aduk sampai
terjadi suatu campuran yang
berbentuk krim.

6/5/17
GEL/JELLY
Gel merupakan semi padat yang terdiri dari suspensi yang
dibuat dari partikel anorganik kecil atau moleku organik
besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
Gel membentuk semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair
pada pengocokan. Jadi sediaan harus dikocok dahulu
sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas dan hal
ini tertera pada etiket.
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang
tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian
hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro
yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat
dari makromolekul sintetik (karbomer) atau dari gom alam
(tragakan).
Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara
topical atau dimasukkan dalam lubang tubuh, contoh
Voltaren Gel, Bioplacenton.
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, dalam bermulut
lebar terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk.
6/5/17
Linimenta (obat
gosok/olesan)
Linimenta adalah sediaan cair atau kental, mengandung
analgetika dan zat yang mempunyai sifat rubifasien,
melemaskan otot atau menghangatkan dan digunakan
sebagai obat luar.
Pemakaian linimenta dengan cara dioleskan menggunakan
kain flannel lalu diurut.
Penyimpanan dalam botol berwarna, bermulut kecil dan
ditempat sejuk. Pada etiket juga tertera Obat luar.
Linimenta tidak dapat digunakan untuk kulit yang luka atau
lecet.

Cara pembuatan:
Mencampurkan seperti pada pembuatan salep, contohnya
Linimen Gondopuro (FN)
Terjadi penyabunan, contohnya Linimen Amoniak dan Lotio
Benzylis Benzoas (FN)
Terbentuk emulsi, contohnya Peruvianum Emulsum I dan II
(FN) 6/5/17
Oculenta (Unguenta
Ophthalmica/Salep
Mata)
Salep mata adalah salep steril yang digunakan pada mata.
Pada pembuatan bahan obat ditambahkan sebagai larutan
steril atau serbuk steril termikronisasi pada dasar salep steril,
hasil akhir dimasukkan secara aseptik ke dalam tube steril.
Bahan obat dan dasar salep disterilkan dengan cara yang
cocok.
Tube disterilkan dalam autoklaf pada suhu 115-116C, selama
tidak kurang dari 30 menit.
Sebagai dasar salep sering digunakan dasar salep Oculentum
simplex.
Basis salep mata yang lain adalah campuran Carbowax 400
dan Carbowax 4000 sama banyak.

6/5/17
Persyaratan Salep Mata
1. Salep mata harus mengandung bahan atau
campuran bahan yang sesuai untuk mencegah
pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang
mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah
dibuka pada waktu penggunaan.
2. Bahan obat yang ditambahkan ke dalam dasar
salep berbentuk larutan atau serbuk halus.
3. Harus bebas dari partikel kasar dan memenuhi
syarat kebocoran dan partikel logam pada uji
salep mata.
4. Wadah harus steril, baik pada waktu pengisian
maupun penutupan dan wadah harus tertutup
rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada
pemakaian pertama.

Penyimpanan salep mata adalah dalam tube steril


dan di tempat sejuk, dan pada etiket harus tertera
6/5/17
Salep mata.

Anda mungkin juga menyukai