0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
170 tayangan15 halaman

Epidemiologi dan Penanganan SOPK

Sindrom ovarium polikistik (SOPK) merupakan kelainan heterogen yang ditandai dengan anovulasi kronik dan hiperandrogenisme yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga gejala yaitu anovulasi, hiperandrogenisme klinis atau biokimia, dan polikistik ovarium pada ultrasonografi. Penderita SOPK berisiko mengalami gangguan metabolik seperti diabetes mell

Diunggah oleh

uchii02
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
170 tayangan15 halaman

Epidemiologi dan Penanganan SOPK

Sindrom ovarium polikistik (SOPK) merupakan kelainan heterogen yang ditandai dengan anovulasi kronik dan hiperandrogenisme yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga gejala yaitu anovulasi, hiperandrogenisme klinis atau biokimia, dan polikistik ovarium pada ultrasonografi. Penderita SOPK berisiko mengalami gangguan metabolik seperti diabetes mell

Diunggah oleh

uchii02
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

SINDROM POLIKISTIK OVARIUM

Oleh :
NURUL ULA
1102012148


Dokter Pembimbing:
dr. Rizki Safaat Nurrahim, [Link]. [Link]
DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD DR. SLAMET GARUT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
Sindroma ovarium polikistik (SOPK) merupakan kelainan
kompleks endokrin dan metabolik yang ditandai dengan
adanya anovulasi kronik dan atau hiperandrogenisme
yang diakibatkan oleh kelainan dari fungsi ovarium dan
bukan oleh sebab lain.
Diagnosis dan terapi SOPK masih menjadi kontroversi.
PENDAHULUAN Pada pertemuan European Society for Human
Reproduction and Embryology (ESHRE) and the American
Society for Reproductive Medicine (ASRM) untuk
menegakkan SOPK yaitu jika di jumpai 2 dari 3 gejala
antara lain adanya oligomenorrhea atau anovulasi, tanda-
tanda hiperandrogenisme secara klinis maupun biokimia,
gambaran ovarium polikistik/polycystic ovarian morphology
pada pemeriksaan ultrasonografi.
MANIFESTASI
DEFINISI EPIDEMIOLOGI ETIOLOGI PATOFISIOLOGI KLINIK DIAGNOSIS

Sindroma ovarium polikistik (SOPK) adalah


suatu kelainan heterogen berupa anovulasi
kronik dan hiperandrogenik yang tidak dapat
dijelaskan penyebabnya, di mana semua
penyebab sekunder (neoplasma yang
mensekresi androgen) telah disingkirkan.
MANIFESTASI
DEFINISI EPIDEMIOLOGI ETIOLOGI PATOFISIOLOGI KLINIK DIAGNOSIS

Wanita Steril
Dari 7% wanita steril, yang terdiagnosis

PCOS sebanyak 3%.



Wanita Reproduksi
Dari 25% wanita reproduksi, sebanyak 15%
terdiagnosis PCOS
MANIFESTASI
DEFINISI EPIDEMIOLOGI ETIOLOGI PATOFISIOLOGI KLINIK DIAGNOSIS

Resistensi
Insulin

Gangguan
Hormonal

DM tipe
Obesitas
II
MANIFESTASI
DEFINISI EPIDEMIOLOGI ETIOLOGI PATOFISIOLOGI KLINIK DIAGNOSIS
MANIFESTASI
DEFINISI EPIDEMIOLOGI ETIOLOGI PATOFISIOLOGI KLINIK DIAGNOSIS
MANIFESTASI
DEFINISI EPIDEMIOLOGI ETIOLOGI PATOFISIOLOGI KLINIK DIAGNOSIS
MANIFESTASI DIAGNOSIS
KLINIK DIAGNOSIS BANDING PENATALAKSANAAN KOMPLIKASI PROGNOSIS

1
Sindrom Cushing
Korteks adrenal memproduksi tiga kelas
3 Androgenproducing
hormon tiroid yaitu glukokortikoid,
mineralokortikoid, dan steroid seks (androgen
dan prekursor estrogen).
Ovarian Neoplasms
Peningkatan glukortikod disertai dengan DIAGNOSIS Penyakit ini berhubungan dengan fungsi
intoleransi glukosa akan mengakibatkan pembentukan estrogen dini sehingga biasanya
peningkatan glukoneogenesis dan antagonis BANDING ditemukan dengan pubertas prekoks.
aksi insulin. Sedangkan overproduksi prekursor Manifestasi klinis pada penyakit ini tampak
steroid seks mengakibatkan wanita penderita sebagai hiperandrogenisme atau
sindroma cushing mengalami estrogen berlebih, dan virilisasi atau maskulinisasi.
hiperandrogenisme

Congenital Adrenal
2 Hyperplasia (CAH)
Congenital adrenal hyperplasia merupakan
suatu penyakit yang diturunkan secara resesif
autosomal dengan klinis hiperandrogenisme
pada saat pubertas.
MANIFESTASI DIAGNOSIS
KLINIK DIAGNOSIS BANDING PENATALAKSANAAN KOMPLIKASI PROGNOSIS

Stop
Olah- Merokok

raga
Spirono-
Makan Kontrasepsi lakton
Oral Clomiphen
sehat dan
Citrate
gizi
seimbang

Insulin
sensitizer

Pembedahan
Penurunan
Berat
Badan
MANIFESTASI DIAGNOSIS
KLINIK DIAGNOSIS BANDING PENATALAKSANAAN KOMPLIKASI PROGNOSIS

DIABETES MELLITUS 2

INFERTILITAS

PENYAKIT JANTUNG KORONER


MANIFESTASI DIAGNOSIS
KLINIK DIAGNOSIS BANDING PENATALAKSANAAN KOMPLIKASI PROGNOSIS

SOPK meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular


dan cerebrovaskular dengan adanya hiperandrogenisme
dan peningkatan apolipoprotein. Sebanyak 4% pasien
dengan SOPK memiliki resiko resistensi insulin sehingga
meningkatkan resiko diabetes mellitus tipe 2 dengan
konsekuensi komplikasi kardiovaskular. Penderita SOPK
juga beresiko mengalami karsinoma endometrium.
1. SOPK merupakan kumpulan gejala, bukan merupakan suatu penyakit.
Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan dengan minimal dua kriteria
mayor yang meliputi: anovulasi kronik, hiperandrogenemia, tanda-tanda
klinis dari hiperandrogenisme, dan tidak ada penyebab lain (etiologi lain telah
disingkirkan). Atau 1 kriteria mayor ditambah kriteria minor yang meliputi:
resistensi insulin, onset saat permenarke pada hirsutisme dan obesitas,
adanya peningkatan rasio LH dan FSH, dan anovulasi intermiten yang
berhubungan dengan hiperandrogenemia (testosterone bebas, DHEAS).
KESIMPULAN 2. Etiologi SOPK masih belum jelas, namun diduga berhubungan dengan
resistensi insulin, obesitas dan DM tipe 2.
3. Penanganan SOPK meliputi terapi medikamentosa dan penanganan
bedah. Terapi medikamentosa meliputi kontrasepsi oral berupa progesteron,
agen yang mesensitisasi insulin (metformin), diuretic, dan klomifen sitrat.
Sedangkan penanganan bedah meliputi ovarian drilling dan wedge resection
4. Penderita SOPK beresiko mengalami gangguan kardiovaskular
(aterosklerotik), infertilitas dan gangguan metabolic (DM tipe 2).
DAFTAR PUSTAKA

1. Azziz, Ricardo. Text Book of Disorder the Gynecology in Women: The Polycystic Ovary Syndrome. Edisi 4. Los Angeles: Springter; 2009.
p: 1 24.
2. William, Lippincott., Wilkins. Berek & Novak's Gynecology: The Polycystic Ovary Syndrome. Edisi 14. California: Johns Hopkins
University School of Medicine; 2011. p: 256 71.
3. Lord JM, Flight IM, Norman RJ. Metformin in Polycystic Ovary Syndrome: Systematic Review and Metaanalysis. 2012. BMJ; 327:951
953.
4. POGI. Standar pelayanan medik obstetrik dan ginekologi: sindroma ovarium [Link]: Perkumpulan obstetrik dan ginekologi
indonesia; 2010. p: 271 280.
5. Norwitz, Errol, Schorge, John. At Glance: Obstetrik dan Ginekologi. Edisi kedua. Jakarta: Erlangga medical series (EMS); 2012. p: 74
78.
6. Wood R, Nelson L. The molecular phenotype of polycystic ovary syndrome (PCOS) theca cells and new candidate PCOS genes defined
by microarray analysis. 2013. J Biol Chem; 278:26380 26390.
7. DeCherney, Alan H, Nathan, Lauren. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. Edisi 10. United States of America:
The McGraw-Hill Companies; 2010. p:387 91.
8. Hestiantoro A, Natadisastra R, Sumapraja K, Wliweko B, Pratama G, Situmorang H, dkk. Best Practices on IMPERIAL. Jakarta:
Sagung Seto; 2012. p: 43 55.
9. Altchek, Albert. Deligdisch, Liane. Diagnostic and Management of Ovarian Disorder: Pathology of Non-Neoplastic Ovarian
Enlargement.. San Diego: Elsevier Science; 2010. p: 76 8.
10. Impey, Lawrence. Oxford Obstetrics and Gynaecology: Fertility and Subfertility. USA: Blackwell Science; 2002. p: 69 71.
11. Ganong, William F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 7. Jakarta : EGC; 2009. p: 378
12. Murfida, L. Terapi metformin pada sindrom ovarium polikistik.
13. Bulun S, Adashi Y. The physiology and pathology of the female reproductive axis. Edisi 4. Philadelpia: Saunders Elseviers; 2011. p: 411
15.
14. Hardiman P, Pillay C, Atiomo W. Polycystic ovary syndrome and endometrial carcinoma. 2012. Lance; 361 (9371):1810-2.

Anda mungkin juga menyukai