Profil 10 KSPN Prioritas di Indonesia
Profil 10 KSPN Prioritas di Indonesia
ALKI III
ALKI II
ALKI I
Keterangan
: Pel. Internasional
Pel. Nasional
Pusat Penyebaran Skala Pelayanan Primer
Pusat Penyebaran Skala Pelayanan Sekunder
KSPN Kep. KEK Pariwisata KSPN Komodo,
Pusat Penyebaran Skala Pelayanan Tersier Seribu Mandalika dan Sekitarnya
Pola Pikir Identifikasi Dukungan Infrastruktur PUPR
6
Mekanisme Perumusan Prakiraan Kebutuhan
Dukungan Program Infrastruktur PUPR 2016-2017
7
Profil 10
Kawasan Strategis
Pariwisata Nasional
Prioritas
KSPN Danau Toba,
Sumatera Utara
(KSPN) berdasarkan PP No. 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk
Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010 - 2025. KSPN Danau
Toba merupakan salah satu daya tarik wisata alam yang berbasis potensi
keanekaragaman dan keunikan lingkungan alam di wilayah daratan yang
berupa perairan sungai dan danau. Dalam RPJMN, Danau Toba merupakan
Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dengan komoditas unggulan
berupa wisata bentang alam dan wisata budaya.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008
tentang RTRWN, dijelaskan bahwa wilayah Danau Toba dan Sekitarnya
masuk dalam golongan B/1 yang memiliki fungsi Rehabilitasi dan
Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan
Lingkungan Hidup. Wilayah ini khususnya ditujukan menyokong fungsi
Rehabilitasi atau Revitalisasi Kawasan. Dalam perspektif pembangunan
nasional, RPJMN 2014 2019 mengarahkan pengembangan daya tarik
wisata bahari dan sejarah di Kawasan Pariwisata Danau Toba melalui
peningkatan promosi dan ketersediaan infrastruktur penunjang berupa
jaringan jalan, ketenagalistrikan dan sumber daya air.
Jumlah kunjungan wisatawan Destinasi Danau Toba masih sangat minim
dimana Data statistik menunjukkan bahwa kunjungan wisata cenderung
menurun (179.000 orang pada tahun 2014), yang utamanya disebabkan
oleh faktor aksesibilitas dan atraksi. Aksesibilitas menjadi kunci
pengembangan kawasan, dimana kemudahan mencapai lokasi saat ini
belumlah memadai (karena kerusakan jaringan jalan dan akses ke bandara
yang cukup jauh). Danau Toba yang berjarak 170 km dari Kota Medan
sebagai hub utama dapat ditempuh selama 4 5 jam melalui jalur darat.
Upaya peningkatan daya tarik Danau Toba perlu dilakukan secara
komprehensif melalui perbaikan akses guna mempersingkat waktu
tempuh, peremajaan fasilitas akomodasi, amenitas pariwisata seperti peta
Peta Destinasi Pariwisata Nasional Danau Toba dan Sekitarnya
KARAKTERISTIK KAWASAN
a Koordinat :
b Nama KEK Pariwisata : Tanjung Lesung
c Provinsi : Banten
d Kabupaten / Kota : Pandeglang
e Kecamatan : Panimbang
f Tipologi : Pantai
g Luas : 1.500 Ha
h Jumlah Penduduk :
i Jumlah KK :
j Wilayah administratif : Kabupaten Pandeglang
dalam lingkup KSPN (jika
lebih dari 1 wil.
administratif)
k Pengelola KSPN : PT BWJ (Banten West Java)
l Jumlah Wisatawan Per : Tahun 2013 = 1,739 jiwa
Tahun Tahun 2012 = 8.336 jiwa
POTENSI PARIWISATA
Drainase
Lingkungan
Sistem
Penyediaan
Air Minum
Pengelolaan
Limbah
Pengelolaan
Sampah
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
Infrastrukt DESKRIPSI KEBUTUHAN Keterangan
ur
Jalan Pembangunan Jalan Lingkar Pulau
Lingkungan
Sistem Peningkatan kapasitas pengelolaan air bersih,
instalasi pengolahan air bersih
Penyediaan
Peningkatan kapasitas pengelolaan air bersih di 11
Air Minum pulau berpenduduk
Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di 11 pulau
Limbah berpenduduk
Pengelolaan pengangkutan sampah
Sampah
Ruang Pemeliharaan ruang terbuka
Terbuka
Hijau
Rawan Penanganan Abrasi di 11 Pulau Berpenduduk
Bencana
KSPN Borobudur,
Jawa Tengah, DIY
Nasional (KSPN) diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah no 50 Tahun 2011
tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-
2025. KSPN Borobudur ini memiliki potensi pariwisata sebagai situs bersejarah,
adat tradisi, kawasan olahraga dan taman bertema.
Untuk penataan ruang kawasan Borobudur sendiri sebagai Kawasan Strategis
Nasional sebagaimana yang diamanatkan di dalam Undang-undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah diatur dalam Peraturan Presiden
Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Borobudur dan
Sekitarnya. Penataan Ruang Kawasan Borobudur bertujuan mewujudkan tata
ruang Kawasan Borobudur yang berkualitas dalam rangka menjamin
terciptanya pelestarian Kawasan Borobudur sebagai kawasan cagar budaya
nasional dan warisan budaya dunia. Tujuan penataan ruang Kawasan Borobudur
dapat disebut juga sebagai visi jangka panjang dalam upaya pelestarian
Kawasan Borobudur yang sangat strategis baik dalam konteks nasional maupun
dunia.
Kawasan permukiman di wilayah KSN Borobudur mencapai 200,296 Ha atau
mencapai 14,8% dari luas total penggunaan lahan pada kawasan yang
ditetapkan sebagai KSN Borobudur.
Dengan adanya perkembangan wisata yang sangat tinggi, telah terjadi
perubahan penggunaan lahan perdesaan yang produktif menjadi lahan
terbangun dengan tujuan komersial dan kawasan permukiman.
Dengan fungsi kawasan sebagai kawasan yang dilestarikan dan fungsi lindung
lingkungan, maka pembatasan dan pengendalian sarana dan prasarana yang
dapat memicu perkembangan kawasan budidaya harus dilakukan. Sejalan
dengan hal itu, strategi pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan
haruslah tepat dan mendukung fungsi KSN Borobudur tersebut (Sumber:
Dokumen RP2KP Kabupaten Magelang, 2014).
Untuk pengembangan KSN Borobudur secara menyeluruh, maka perlu melihat
perencanaan pembangunan yang dilakukan oleh Kabupaten Kulon Progo,
Pembangunan permukiman dan infrastruktur di di KSN Borobudur didasarkan
pada isu-isu strategis sebagai berikut:
Zona Pelestarian Cagar Budaya Candi Borobudur
Pengurangan keberadaan PKL dan pengendaliannya dalam rangka
mencegah penyebarannya didalam zona pelestarian Borobudur
Membatasi penggunaan lahan dengan segera di sekitar situs, untuk
mempertahankan dan menjaga karakter lanskap perdesaan di sekitar situs,
khususnya pada spot pemandangan penting seperti persawahan di sebelah
selatan monumen.
Menetapkan pembatasan pengembangan infrastruktur utama dan
penggunaan lahan berkarakter perkotaan yang akan berdampak buruk
pada visual, fisik atau karakter khas monumen cagar budaya dan setting
lanskap budayanya
Perijinan khusus untuk pengaturan ketinggian bangunan yang melebihi
ketinggian pohon, Membatasi ketinggian, skala dan tata massa bangunan
baru yang akan nampak terlihat dari candi
Peningkatan kepadatan bangunan dan penduduk
Pengurangan risiko bencana pada kawasan rawan bencana banjir lahar
(KRB I),
Perlindungan kawasan cagar budaya (Candi Ngawen, Makam Gunungpring,
Makam Raden Kyai Santri, Makam van Lith) dan Perlindungan kawasan
lindung setempat (mata air) dan sempadan sungai,
Pengurangan risiko bencana pada kawasan rawan bencana banjir lahar
(KRB I),
Pengembangan Jalan Lingkar Gulon-Ngawen-Pasar Muntilan
Genangan terjadi di beberapa desa seperti Tamanagung, Sedayu,
Kelurahan Muntilan, dan Pucungrejo, disebabkan oleh saluran tertutup dan
Peta Destinasi Pariwisata Nasional Borobudur dan Sekitarnya
KARAKTERISTIK KAWASAN
a Koordinat : Borobudur
b Nama KSPN : Jawa Tengah
c Provinsi : Kabupaten Magelang
d : Kec. Muntilan, Kec. Mertoyudan, Kec. Borobudur, Kec.
Kabupaten / Kota
Tempuran, Kec. Mungkid
e : 73629.55 Lat
Kecamatan
: 1101214.24 Long
f : Permukiman kampung pendukung pertanian, permukiman
Tipologi pendukung wisata Borobudur/ Desa Wisata, dan permukiman
perkotaan perdagangan pendukung Borobudur
g Luas : Hektar
h Jumlah Penduduk : 78.956 KK
i Jumlah KK : 315.826 Jiwa
j Wilayah administratif : Mencakup 5 kecamatan di Jawa Tengah (Kec. Muntilan, Kec.
dalam lingkup KSPN Mertoyudan, Kec. Borobudur, Kec. Tempuran, Kec.
(jika lebih dari 1 wil. Mungkid, Kabupaten Magelang) dan 2 kecamatan di D.I.
administratif) Yogyakarta (Kec. Samigaluh dan Kec. Kalibawang, Kabupaten
Kulonprogo)
k Pengelola KSPN :
l Jumlah Wisatawan Per
: 4.000.000 Jiwa
Tahun
POTENSI PARIWISATA
a Kawasan Lindung dan Kawasan Cagar Budaya Dunia
b Situs sejarah/ tradisi
c Kawasan Olahraga dan taman bertema
CHECKLIST KELENGKAPAN DOKUMEN PENDUKUNG
Dokumen Cheklist Keterangan
Dokumen Rencana Tata Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 6 tahun
a. Ruang Wilayah (RTRW) v 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029
Dokumen Rencana Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 5 tahun
Pembangunan Jangka 2014 tentang encana Pembangunan Jangka
b. v
Menengah (RPJM) Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2013-2018
Provinsi
Rencana Induk Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 10 tahun
Pengembangan 2012 tentang Rencana Induk Pembangunan
c. v
Pariwisata Daerah Kepariwisataan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012-
(RIPDA) Provinsi 2017
Dokumen Rencana Tata Peraturan Daerah Kabupaten Magelang No. 5 tahun
d. Ruang Wilayah (RTRW) 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota Kabupaten Magelang tahun 2010-2030
CHECKLIST KELENGKAPAN DOKUMEN PENDUKUNG
Dokumen Cheklist Keterangan
Dokumen Rencana
Pembangunan Jangka Peraturan Daerah Kabupaten Magelang No. 7 tahun
e. Menengah (RPJM) v 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Kabupaten/Kota Menengah Daerah Kabupaten Magelang tahun 2014-
2019
Dokumen Rencana Belum disusun
f. Detail Tata Ruang -
(RDTR) Kabupaten/Kota
Rencana Induk
Pengembangan
g. Pariwisata Daerah
(RIPDA)
Kabupaten/Kota
Dokumen SPPIP/RP2KP
h. dan RPKPP v RP2KP Kabupaten Magelang Tahun 2014
Kabupaten/Kota
Dokumen Rencana Tata
Telah disusun oleh Direktorat Bina Penataan
Bangunan dan
i. v Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya,
Lingkungan (RTBL)
Kementerian PUPR
Kawasan
Peta Kawasan Strategis Peraturan Pemerintah no 50 Tahun 2011 tentang
j. Pariwisata Nasional v Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
Dukungan Infrastruktur PUPR Keteranga
n
Aksesibilitas Peningkatan Jalan Carikan Deyangan Bumihargo
Borobudur
Peningkatan Struktur jalan dari Semarang-Magelang-
Yogyakarta
Peningkatan Struktur jalan dari Bandara Kulon Progro
menuju Borobudur
Pemeliharaan berkala jalan Kab. Kulon Progo Yogyakarta
Pemeliharaan berkala jalan Janti (Yogyakarta) - Prambanan
(Prov Jateng)
Pembangunan Jl. Lintas Pantai Selatan Jawa (Temon-Bugel-
Girijati-baron-Jepitu-Jerukwudel)
Peningkatan aksesibilitas antara destinasi rekreasi dan
wisata di sekitar Borobudur, seperti Wisata di DIY dan
Magelang
a Dokumen RTRW
b RPJMD Kab/Kota
c RDTR Kab/Kota
d Rencana Induk
Pariwisata Daerah
(RIPDA)
e Rencana Tata Ruang
Kawasan
f Dokumentasi Foto dan
Drone
g SPPIP / RPKPP
KONDISI INFRASTRUKTUR EKSISTING
Infrastrukt Kondisi Eksisting Keterangan
ur
Kondisi jalan menuju Seruni Point rusak dengan
lebar jalan 4 M sepanjang 800 M
Kondisi area parker masih tanah berpasir
Kondisi jalan menuju Seruni point tanjakan dan
menurun keadaan nya rusak berat
Jalan
Kondisi jalan menuju Seruni Point rawan longsor,
Lingkungan dibutuhkan penahan dinding
Kondisi jalan menuju puncak Metigen rusak berat
dengan lebar jalan 4 M sepanjang 700 M
Kondisi jalan membutuhkan rabatan beton agar
kondisi tidak licin
Kondisi toilet umum belum ada di daerah Rumah Adat
Pengelolaan Tengger
Limbah Kondisi toilet umum belum ada di daerah Puncak
Metigen
Ruang Kondisi Gazebo sudah rusak berat dan tidak dapat
Terbuka dipakai
Hijau
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
Infrastrukt DESKRIPSI KEBUTUHAN Keterangan
ur
Pembangunan Jalan Jolo Sutro Sendang Biru
Pembangunan Jalan Balekambang Kedungsalam
Pembangunan jl. Menuju bts probolinggo- Sukapura-
Cemorolawanglautan Pasir
Perbaikan jalan dari malangwonokitri gublukklakah
Aksesibilita menuju bromo
s Peningkatan aksesibilitas jalan Surabaya-
malangprobolinggo
Konektifitas antara destinasi rekreasi dan wisata di
sekitar Bromo, seperti Malang dan Batu
Pembuatan jalan wisata,
Pembuatan jembatan.
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
Sistem Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku
Penyediaan Pembangunan Jaringan SPAM Kawasan MBR untuk
Air Minum Kawasan Kumuh Tulusrejo dan Kota Lama Kota Malang
Mandalika,NTB
dan Sekitarnya merupakan salah satu Kawasan Strategis Provinsi
GAMBARAN UMUM KSPN MANDALIKA
(KSP) dari kepentingan Pertumbuhan Ekonomi dengan sektor
unggulan pariwisata, industri, dan perikanan. Selain itu,
disebutkan pula Kawasan Kuta dan Sekitarnya masuk sebagai
Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) dengan fungsi sebagai
kawasan pariwisata.
KEK Mandalika memiliki status Kawasan Ekonomi Khusus untuk
industry agro dan industri ekowisata yang baru diluncurkan oleh
pemerintah Indonesia pada tahun 2014. Hal tersebut memiliki
manfaat bagi investor dalam hal insentif fiskal dan non fiskal.
Pujut adalah sebuah kecamatan di kabupaten Lombok Tengah,
Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pujut lebih dikenal sebagai
wilayah Lombok Selatan, wilayah Lombok yang kondisi alamnya
lebih kering dibandingkan dengan wilayah lainnya di Pulau
Lombok. Kecamatan Pujut merupakan salah satu kecamatan
terluas dengan wilayah mencapai 19,33% dari luas wilayah
Kabupaten Lombok Tengah.
Dengan total luas 1.250 ha. Menawarkan keindahan alam,
panorama, dan pariwisata lainnya. KEK Mandalika yang terletak di
pusat Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa tenggara Barat.
KEK Mandalika dikelola oleh Indonesia Tourism Development
Corporation (ITDC) PT. Pembangunan Pariwisata Indonesia.
Infrastruktur dalam kawasan : Jalan, listrik, Instalasi pengolahan
air bersih dan air limbah, Road, electricity, WTP,
Peta Destinasi Pariwisata Mandalika dan Sekitarnya
KARAKTERISTIK KAWASAN
a Koordinat :
b Nama KSPN : Mandalika Kuta
c Provinsi : Nusa Tenggara Barat
d Kabupaten / Kota : Lombok Tengah
e Kecamatan : Pujut
f Tipologi : 0 200 m dpl
g Luas : 1.250 Ha
h Jumlah Penduduk : 11.219
i Jumlah KK :
j Wilayah administratif Sebelah Utara : Desa Rembitan, Desa Sengkol dan Desa
dalam lingkup KSPN Segala Anyar
(jika lebih dari 1 wil. Sebelah Timur : Desa Pengengat, Desa Mertak, dan Desa
administratif) Teruwai
Sebelah Selatan : Samudera Hindia
Sebelah Barat : Desa Sengkol dan Desa Prabu
k Pengelola KSPN :
l Jumlah Wisatawan Per
:
Tahun
POTENSI PARIWISATA
a Wisata Bahari
b Panorama Pantai
CHECKLIST KELENGKAPAN DOKUMEN PENDUKUNG
Dokumen Cheklist Keterangan
a Dokumen RTRW
b RPJMD Kab/Kota
c RDTR Kab/Kota
d Rencana Induk
Pariwisata Daerah --
(RIPDA)
e Dokumentasi Foto dan
Drone
f SPPIP / RPKPP
g Peta KSPN
KONDISI INFRASTRUKTUR EKSISTING
Infrastrukt Kondisi Eksisting Keterangan
ur
Masih terdapat kondisi jalan lingkungan yang belum
Jalan
tertangani khususnya pada kawasan wisata Kapota,
Lingkungan
Kaledupa (Hoga) dan Tomia.
Drainase Dominan Sistem drainase yang ada masih merupakan
Lingkungan drainase alami dan langsung dialirkan kelalut
Sistem penyediaan air minum tekendala oleh debit dan
Penyediaan pengelolaan air baku yang belum optimal
Air Minum
Pengelolaan
Pengeloaan limbah masih dibuang dilingkungan sekitar
Limbah
alat angkutan masih terbatas dan belum memiliki
Pengelolaan teknologi pengolahan
Sampah sampah terpadu, termasuk pengolahan sampah yang
terbuang kelaut
Belum terdapat sistem proteksi kebakaran yang
diterpakan
Proteksi baik di kawasan wisata maupun pada kawasan padat
Kebakaran hunian. (Belum ada Lembaga yang dibentuk untuk
menangani masalah sistem proteksi kebakaran
Ruang ruang tebuka masih minim baik yang alami maupun
Terbuka yang buatan
Hijau
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
Infrastrukt DESKRIPSI KEBUTUHAN Keterangan
ur
Mempermudah Akses pada kawasan dan destinasi,
Jalan memberi kesan indah dan rapi dengan menata jalan
Lingkungan yang teraspal khususnya pada kawasan-kawasan
wisata yang ada di Kabupatan Wakatobi
Penyediaan Drainase dalam upaya menampung dan
mengalirkan air hujan tanpa langsung dibuang kelaut.
tetapi dioptimalkan melalui konsep Eco Drainase.
Drainase Sangat cocok untuk diterapakan di Kabupaten Wakatobi
Lingkungan (memanen air hujan). hal ini untuk mengurangi resiko
kekurangan air pada saat musim Kemarau dan
mengoptimalkan serta menambah sumber-sumber air
baku baru.
Penyediaan Air minum selain untuk kebutuhan
Sistem masyarakat juga diperlukan untuk menyuplay
Penyediaan kebutuhan wisatawan yang akan berkunjung. hal ini
Air Minum dapat dilakukan dengan Mengoptimalkan dan
menambah sumber-sumber air baku baru
Mengurangi dan menghindari dampak buruk limbah
rumah tangga yang langsung dibuang kelaut.
Pengelolaan
kebutuhan penanganan adalah melalui pengelolaan
Limbah
Instalasi pengelolaan Limbah di Masinh-masing
kawasan wisata.
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
Infrastrukt DESKRIPSI KEBUTUHAN Keterangan
ur
Pembangunan jalan lingkar di tiap pulau dengan kelas
Aksesibilita jalan nasional
Peningkatan kualitas jalan dalam pulau
s
Rekonstruksi jalan
Pelebaran Jalan Bumi Praja
Pengelolaan Sampah Secara terpadu dalam Upaya
Mengurangi Dampak sampah yang masuk Kelaut.
sehingga Merusak Biota dan Potensi Wisata Yang
Ada.
Pengelolaan Termasuk Pengelolaan Sampah di Kawasan
Sampah Perkotaan
Jaringan Persampahan: Penyusunan masterplan
persampahan, Pembangunan TPS 3R dan
Fasilitasnya, Pembangunan TPS, Pengadaan Gerobak
sampah.
Jaringan Drainase: Penyusunan Masterplan drainase,
pembangunan saluran primer di Desa Posalu, Komala,
Pada Raya Makur, Ehata, Tindoi, Desa Balasuna,
Balasuna Selatan, Kali Mas, Ollo, Ollo Desa Tano Meha,
Drainase
Pembangunan saluran sekunder dan tersier di Wanci,
Komala, Mandati I, Mandati II, Mandati III, Pongo,
Buranga, Balasuna, Ambeua, Ambeua Raya, Waha,
Onemay.
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
Infrastrukt DESKRIPSI KEBUTUHAN Keterangan
ur
Jaringan Air Limbah: Program Pembangunan tangki
Air Limbah septic komunal), Program Pembangunan MCK ++ ,
Program Pembangunan IPLT, Pengadaan truk Tinja.
Pembangunan Bendungan di Kab. Buton
pengembangan sumber mata air baku guna
menunjang peningkatan kapasitas pengelolaan air
minum di setiap pulau meliputi:
Mata air Wa Gehe-Gehe kapasitas 15 liter/detik
dan mata air Longa kapasitas 5 liter/detik di
Kecamatan Wangi-Wangi;
Mata air Tee Bete kapasitas 10 liter/detik, mata
air Tee Liya kapasitas 5 liter/detik, mata air Huu
kapasitas 10 liter/detik, mata air Kampa kapasitas
5 liter/detik, Balande kapasitas 25 liter/detik, dan
mata air Tee Foou kapasitas 15 liter/detik di
Kecamatan Wangi-Wangi Selatan;
Air Bersih Mata air Batambawi kapasitas 15 liter/detik dan
mata air Lenteaoge kapasitas 5 liter/detik di
Kecamatan Kaledupa Selatan;
Mata air HeUlu kapasitas 10 liter/detik mata air
Tee Luo kapasitas 10 liter/detik di Kecamatan
Tomia Timur;
Mata air Lia Meangi kapasitas 10 liter/detik di
Kecamatan Togo Binongko;
Rencana pembuatan embung / kolam
penampungan air di Ehata dan Pongo kecamatan
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
Infrastrukt DESKRIPSI KEBUTUHAN Keterangan
ur
Sistem Proteksi Kebaran yang dapat mengurangi
dampak Kejadian Kebakaran dan Korban Jiwa pada
Proteksi Kawasan Permukiman Padat Hunian.
Kebakaran Konsep Tandon dan Pengelolaan Satuan Relawan
Kebakaran Termasuk Kelengkapan Fasilitas
Pendudungnya
Penataan Penataan kawasan permukiman suku Bajo
Kawasan
Ruang Terbuka Bagi Masyarakat dalam berinteraksi
dan menjadi tempat aktivitas sosial perlu di
upayakan terutama pada kawasan yang dapat
Ruang
dikelolah sebagai obyek wisata buatan di kawasan
Terbuka
pesisir pantai.
Hijau
konsep alami dan menyatu dengan alam dengan
menggurangi pemanfaatan hard material yang
terkesan kaku dan monoton.
Profil dan Hasil Survei
KSPN KOMODO dan Sekitarnya, NTT
GAMBARAN UMUM KSPN Komodo dan Sekitarnya
Sejak menjadi ibukota dari kabupaten Manggarai Barat, sebuah kabupaten
hasil pemekaran dari Manggarai pada tahun 2003, Labuan Bajo
memeperlihatkan peningkatan kemajuan daerah yang sangat signifikan.
Labuan Bajo adalah sebuah kawasan perkotaan pelabuhan kecil yang letaknya
berada di ujung barat Pulau Flores. Letak Labuan Bajo ini langsung berhadapan
dengan Taman Nasional Komodo (TNK). Keberadaan Labuan Bajo yang
merupakan gerbang dari Taman Nasional Komodo memberikan keuntungan
tersendiri bagi penggerakan ekonomi wilayah setempat. Selain sebagai pintu
gerbang dari masuknya Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo sendiri memang
memiliki kondisi alam yang indah sehingga sangat layak untuk di jadikan
tempat singgah, tempat istirahat dan liburan para wisatawan. Sebelum
mengunjungi Taman Nasional Komodo yang terkenal di dunia, karena
keberadaan hewan purba yang masih hidup dan lestari sampai saat ini yaitu
Komodo.
Kawasan perkotaan Labuan Bajo ini adalah sebuah kota yang dikelilingi oleh
banyak pulau yang indah di sekitarnya. Dengan di hiasai oleh hamparan pasir
putih dan laut yang biru bersih yang mengelilingi pulau tersebut, diantara
banyak pulau yang terkenal dan banyak di kunjungi adalah Pulau Rinca, Pulau
Sabolo, Pulau Bidadari, Pulau Selayar Besar & Kecil, serta Pulau Komodo yang
paling banyak di kunjungi wisatawan.
Untuk menuju Labuan Bajo bisa di tempuh dengan 3 cara yakni melalui
transportasi udara yakni dengan naik pesawat udara dari Bali menuju Labuhan
Bajo/Bandara Komodo, pilihan kedua adalah melalui jalur laut yakni Kapal ferry
yang berangkat dari Bali maupun Kupang menuju Pelabuhan Labuan Bajo dan
pilihan terakhir adalah melalui Jalur darat yakni dari Kota Ende atau maumera
lalu menuju Labuan Bajo.
Snorkeling dan diving adalah salah satu diantara kegiatan yang sering di
nikmati oleh para pengunjung saat ke labuan Bajo. Species terumbu karang
Peta Destinasi Pariwisata Nasional Labuan Bajo dan Sekitarnya
KARAKTERISTIK KAWASAN
a Koordinat : 80 32 36 LU 11902922BT/ 8,543330 LS 119,489440 BT
b Nama KSPN : Komodo dan Sekitarnya
c Provinsi : Nusa Tenggara Timur ( NTT )
d Kabupaten / Kota : Manggarai Barat
e Kecamatan : Komodo
f Tipologi :
g : P. Komodo :33.937 Ha, P. Rinca : 19.625 Ha,
Luas
P. Padar: 2.017Ha
h Jumlah Penduduk : 4.000 Jiwa
i Jumlah KK : 800 KK
j Wilayah administratif
dalam lingkup KSPN
:Pulau Komodo, Pulau Rinca,Pulau Padar
(jika lebih dari 1 wil.
administratif)
k Pengelola KSPN : Kementrian Kehutanan RI
l Jumlah Wisatawan Per
: 14.378 0rang
Tahun
POTENSI PARIWISATA
a Wisata Bahari
b Wisata Binatang Komodo
CHECKLIST KELENGKAPAN DOKUMEN PENDUKUNG
Dokumen Cheklist Keterangan
a Dokumen RTRW v
b Pergantian Kepala
RPJMD Kab/Kota -
Daerah
c RDTR Kab/Kota v
d Rencana Induk
Pariwisata Daerah v
(RIPDA)
e Dokumentasi Foto dan
v
Drone
f SPPIP / RPKPP v
g Peta KSPN v
Infrastruk Kondisi Eksisting Dokumen
tur tasi
Kurang memadainya jalan dan jembatan (untuk track eksplorasi) di
Jalan kawasan Taman Nasional Komodo
Lingkungan Kurangnya pelayanan jalan lingkungan, terutama di kawasan danau
sanahuang
Drainase
Lingkungan
Saat ini isu/kendala yang dihadapi dalam pengembangan potensi wisata di KSPN Komodo,
Labuan Bajo dan sekitarnya Kabupaten Manggarai Barat antara lain:
Terbatasnya penyediaan prasarana dan sarana penunjang wisata, terutama air minum dan
sanitasi (MCK) di kawasan Taman Nasional Komodo dan kawasan perkotaan labuan Bajo.
Pelayanan pengelolaan sampah di TPA masih kurang memadai karena terbatasnya lahan
beserta sarana pendukungnya.
Pertumbuhan penduduk dan kepadatan bangunan memerlukan pengendalian agar tidak
mengganggu konservasi alam di kawasan Taman Nasional Komodo
Pemanfaatan Tata Ruang sering menyimpang dari rencana Tata Ruang. Pelanggaran di
kawasan tersebut umumnya berkaitan dengan pemanfaatan jalur hijau dan sempadan
jalan maupun sempadan pantai untuk fasilitas pariwisata.
Arus keluar masuk penumpang di pelabuhan sangat padat sehingga memerlukan
pembangunan jalan alternatif
Penyediaan fasilitas penunjang kawasan wisata (seperti pusat informasi turis berbasis
audio visual).
Strategi Penyediaan Infrastruktur adalah dengan menyiapkan perencanaan dan
pembangunan Strategi dan
dukungan ProgramPekerjaan
Infrastruktur Penyediaan Infrastruktur
Umum dan Perumahan Rakyat yang
terpadu (mengacu pada RTRW dan Rencana Induk Pariwisata) untuk tahun 2016 dan
2017 di KSPN Komodo, Labuan Bajo dan Sekitarnya untuk mendukung pariwisata di
daerah tersebut. Fokus dari dukungan infrastruktur adalah dengan mengembangkan
infrastruktur Labuhan Bajo yang merupakan pintu masuk wisatawan sehingga
memperlama waktu tinggal wisatawan di kawasan pariwisata ini. Sedangkan fokus
dalam pembangunan infrastruktur di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan
sekitarnya adalah dengan tidak merusak wilayah Konservasi Taman Nasional Komodo.
Program Jangka Pendek
Pembangunan prasarana dan sarana prioritas meliputi Pembangunan dan
optimalisasi SPAM (penggantian pipa bocor/korosi, dan tambahan pendistribusian
air minum melalui perahu motor untuk supply di kepulauan) dan MCK publik/Toilet
VIP.
Penataan bangunan dan lingkungan di Desa Komodo dan di Loh Liang sebagai area
pintu masuk Kawasan Taman Nasional Komodo (penataan bangunan pos pemandu
wisata dan pedestrian/jalan track wisatawan termasuk Petunjuk arah/Signage ).
Integrasi program sektor secara holistik (air minum, sanitasi, permukiman, jalan
dan SDA)
Finalisasi masterplan/rencana induk bidang air minum, sanitasi, dan permukiman.
Pengembangan Citra Landsat dalam rangka One Map Policy pengembangan
Infrastruktur Bidang PUPR.
Program Jangka Menengah
Pembangunan waduk dan jalan lingkar di Labuan Bajo.
Pengendalian pertumbuhan permukiman di wilayah konservasi Taman Nasional
Komodo
Program Jangka Panjang
Matriks Dukungan
Kebutuhan Infrastruktur
Dukungan Prioritas
Infrastruktur PrioritasPUPR
PUPR TA.
TA. 2016-2017
2016-2017
(berdasarkan Hasil Survey dan Rapat Koordinasi Tim DJCK dengan Pemda)
Keteranga
No Bidang Jenis PSU Lokasi Vol. Biaya TA.
n
A Bina Marga
.
Jalan lingkar Luar (ring Diusulkan di
Labuan Bajo
road) Pra Konreg
Jalan Studi
1 Jalan lingkar utara dan
Labuan Bajo kelayakan TA,
selatan
2014 (Pemda)
B Sumber Daya Air
TPST 3R Kampung
1 Rp
Wisata
lokasi 700.000.000
Komodo
Rp
Alat Angkut / dump truck Labuan Bajo 2 unit
800.000.000
1 Rp
Pengadaan Bin Sampah Loh Liang
paket 100.000.000
Rp
Studi persampahan
Labuan Bajo 1 lap. [Link]
(PTMP dan DED)
0
MatriksDukungan
Kebutuhan Dukungan Infrastruktur
Infrastruktur PUPRPUPR
Prioritas TA. 2016-2017
TA. 2016-2017
(berdasarkan Hasil Survey dan Rapat Koordinasi Tim DJCK dengan Pemda)
No Bidang Jenis PSU Lokasi Vol. Biaya TA. Keterangan
Rp Pembebasan
IPAL Komunal Labuan Bajo 1 unit [Link] lahan masih
0 proses
Pembebasan
Rp lahan masih
IPLT Labuan Bajo 1 unit [Link] dalam proses,
0 perkiraan bulan
juli selesai
Rp
Truk Tinja Labuan Bajo 1 unit
450.000.000
3
Air 1 Rp
Labuan Bajo
Limbah lokasi 600.000.000
SANIMAS Kampung
1 Rp
wisata
lokasi 700.000.000
komodo
Jumlah
Rp disesuaikan
MCK Publik ++ (Toilet) Loh Liang 2 unit [Link] kebutuhan dan
0 sumber air
bersih
Rp
Studi air limbah
Labuan Bajo 1 lap. [Link]
(outlineplan dan DED)
0
Rp
Pembangunan drainase 1
4 Drainase Labuan Bajo [Link]
lingkungan paket
0
MatriksDukungan
Kebutuhan Dukungan Infrastruktur
Infrastruktur PUPRPUPR
Prioritas TA. 2016-2017
TA. 2016-2017
(berdasarkan Hasil Survey dan Rapat Koordinasi Tim DJCK dengan Pemda)
No Bidang Jenis PSU Lokasi Vol. Biaya TA. Keterangan
Peningkatan Kualitas
Rp
Lingkungan Permukiman 1
Penataan Loh Liang [Link]
di Kampung Wisata paket
Kawasan 00
5 Komodo
Permukim
Rp
an Pembuatan Jalan sisir ke 1
Labuan Bajo [Link]
pantai paket
0
Review RTBL Kawasan 1 2016 Belum di
Rp
Kampung Ujung dan Labuan Bajo lapora APBN legalisasikan
-
Kampung Tengah n P melalui perbup
Rp
Gerbang Loh Liang Loh Liang 1 unit [Link] 2106 Perencanaan
0
Optimalisasi fasilitas
Penataan Rp
Pengelola (kantor 1
Bangunan Loh Liang [Link]
Pengelola, Ticketing, paket
6 dan 0
dapur umum, gudang)
Lingkunga
Rp
n Gazebo/Shelter Loh Liang 3 unit
400.000.000
perbaikan pedestrian
1 Rp
termasuk aksesorisnya Labuan Bajo
paket 100.000.000
(Petunjuk arah, signage)
Rehabilitasi tempat Rp
Loh Liang 1 unit
ibadah 800.000.000
Sarana Rp Fasilitas Audio
MatriksDukungan
Kebutuhan Dukungan Infrastruktur
Infrastruktur PUPRPUPR
Prioritas TA. 2016-2017
TA. 2016-2017
(berdasarkan Hasil Survey dan Rapat Koordinasi Tim DJCK dengan Pemda)
Keterang
No Bidang Jenis PSU Lokasi Vol. Biaya TA.
an
Rp
Loh Liang 4 unit
Rehabilitasi Jembatan 750.000.000
Kayu Track Wisatawan Rp
Loh Buaya 5 unit
[Link]
Dermaga
Rp
Philemon, 1 Unit Rehab total
[Link]
Labuan Bajo
Penambaha
Dermaga / Tambatan Dermaga Loh Rp
60 m n panjang
Perahu/ Jetty Buaya [Link]
30 m
Dermaga Penambaha
Rp
sebita, Loh 150 m n panjang
[Link]
Liang 150 m
Rp Klini
Klinik Loh Liang 1 unit Loh Liang
600.000.000 k
PERUMAH
D.
AN
Perumaha
1 Rumah Layak Huni Labuan Bajo
n
Dokumentasi Survei
Dokumentasi Survei
Dokumentasi Survei
Dokumentasi Survei
Profil dan Hasil Survei
KEK Pariwisata/KSPN
Morotai, Maluku Utara
GAMBARAN UMUM KSPN MOROTAI
Kek Pariwisata Morotai terletak di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku
Utara. Pulau Morotai terletak di utara Pulau Halmahera yaitu pulau paling utara
Indonesia. Keindahan Morotai dengan segudang sejarah dari Perang Dunia II
membuatnya dijuluki "Mutiara di Bibir Pasifik". Dari aspek geografis pulau
Morotai memiliki posisi strategis karena berada di bibir jalur perdagangan Asia
Pasifik.
Kabupaten Pulau Morotai mempunyai luas wilayah 4.301,53 Km2, dengan luas
daratan seluas 2.330,60 Km2 dan luas wilayah laut sejauh 4 mil seluas
1.970,93 Km2. Panjang garis pantai 311.217 Km. Jumlah pulau-pulau kecil yang
terdapat di Kabupaten Pulau Morotai berjumlah 33 pulau dengan rincian pulau
yang berpenghuni berjumlah 7 pulau dan yang tidak berpenghuni berjumlah
26 pulau.
Pada tahun 2014, jumlah penduduknya tercatat sebanyak 72.789 jiwa, terdiri
dari 37.860 laki-laki dan 34.929 wanita yang tersebar di 88 desa dengan
tingkat kepadatan 31.44 jiwa/[Link] Pulau Morotai terdiri dari 79 desa
pantai ( %) dan 9 desa bukan pantai (%). Di kecamatan Morotai Selatan
terdapat 42 objek wisata, Kecamatan Morotai Timur dengan 10 objek wisata,
Kecamatan Morotai selatan Barat sebanyak 19 objek, Kecamatan Morotai Utara
3 objek dan Kecamatan Morotai Jaya sebanyak 8 obyek wisata.
Pulau Morotai merupakan salah satu pulau terbesar di Maluku Utara yang
memiliki potensi kekayaan alam dan budaya, termasuk sejarah penting yang
pernah terukir, seperti Perang Dunia II dan Trikora, dan kegiatan yang didukung
oleh keelokan alam, antara lain wisata alam bahari (pantai, bentang laut, dan
bawah laut) dan wisata alam pegunungan (air terjun, tempat pemandian,
trekking). Potensi ini dapat dijadikan sektor andalan yang memiliki nilai
ekonomis baik dalam upaya meningkatkan kesejahteraan Maluku Utara
Pengembangan Morotai sebagai Window of East Indonesia (Gerbang Indonesia
Timur) sebagai salah satu pulau terluar dan terdepan di perbatasan Indonesia
bagian timur laut, sejalan dengan Visi Kabupaten Pulau Morotai sebagai Pusat
Pertumbuhan Berbasis Sumberdaya Bahari dan Wisata Bertaraf Internasional.
Dalam mendukung pencapaian Visi tersebut, sebagaimana tercantum dalam
Rencana Induk Pariwisata Kabupaten Pulau Morotai, pengembangan khususnya
pariwisata Pulau Morotai diarahkan pada:
Keterpaduan pengembangan obyek wisata sejarah dan ekowisata baik di
daratan Morotai maupun di laut dan pulau-pulau kecil sebagai satu kesatuan
paket wisata. Pengembangan modal wisata sejarah dapat dijadikan sebagai
obyek wisata penangkap (tourists catcher) yang hanya sekali dikunjungi
karena keinginan yang besar untuk melihat dan menikmati obyek wisata, yaitu
keinginan untuk melihat sejarah Perang Dunia Kedua (Dalam hal ini perlu
dibuat Monumen Sejarah Perang Dunia II), sedangkan obyek wisata pantai
dapat dijadikan obyek wisata penahan, yang berarti wisatawan berkeinginan
kembali lagi untuk menikmati untuk obyek wisata.
Pengembangan pariwisata sebagai upaya pengentasan kemiskinan (tourism for
poor) dengan melibatkkan masyarakat semaksimal mungkin. Pelibatan
masyarakat dimulai dari tahap perencanaan wisata, implementasi dan
pengawasan.
Pengembangan pariwisata harus memperhatikan kelestarian lingkungan,
sehingga pola pengembangan tidak bersifat mass tourism dengan
memperbesar jumah pengunjung, tapi diharapkan memperpanjang length of
stay pengunjung.
Dikaitan dengan wisata sejarah dan ekowisata, maka komplementaritas
motivasi pengunjung adalah special interest, yaitu motivasi untuk melihat
sejarah PD II, rekreasi, dan petualangan. Dengan demikian wisatawan
mancanegara yang utama dapat berasal dari Jepang, Amerika, Australia, dan
Peta Destinasi Pariwisata Morotai dan Sekitarnya
KARAKTERISTIK KAWASAN
e : Morotai Selatan, Morotai Selatan Barat, Morotai Timur, Morotai Utara dan Morotai
Kecamatan
Jaya
f Tipologi : Pesisir
i Jumlah KK : 18.197 KK
j Wilayah administratif : Kec. Morotai Utara: Desa Buho-Buho, Desa Wewemo Kec. Morotai Jaya: Desa
dalam lingkup KSPN (jika Igomaake, Desa Sopi, Desa Majiko Kec. Morotai Selatan: Desa Kolorai, Desa
lebih dari 1 wil. wawama, Desa Nakamura, Desa Juanga, Desa Wawama Desa Totodoku Zum-
administratif) Zum, Desa Colorai, Desa Daeo Kec Morotai Timur: Morotai Selatan Barat: Desa
Posi-Posi Rao, Desa Wayabula,
k Pengelola KSPN : Dinas Pariwisata dan swasta