kelainan
refraksi
Pembimbing :
dr. Agah Gadjali, SpM
dr. Hermansyah, SpM
dr. Gartati Ismail, SpM
dr. Mustafa K. Shahab, SpM
dr. Henry A. W, SpM
Disusun oleh:
Iwan sumantri
1102012134
Identitas Pasien
Nama: Ny. R
Jenis kelainan : Perempuan
Tanggal Lahir : 09 08 1972
Usia : 44 tahun
Status : Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah Tangga
Suku Bangsa : Jawa
Alamat : Kampung Babakan no 116 RT 4 RW 3 Sukatani,
Depok
Anamnesis
Dilakukan Autoanamnesa pada tanggal 16 Januari 2017
Keluhan Utama
Penglihatan buram pada kedua mata dan seperti adanya belekan
Keluhan Tambahan
(-)
Riwayat penyakit sekarang
Pasien perempuan umur 44 tahun datang ke poliklinik mata RS Polri dengan
keluhan penglihatannya buram saat melihat jarak jauh dan seperti adanya
belekan sejak 1 minggu ini sebelum berobat ke klinik mata RS polri.
Keluhannya yang dirasakan lebih memberat pada mata kanan. Pasien
sebelumnya sudah memakai kacamata sudah sejak lama. Pasien cukup sering
melepas kacamata karna tidak selalu rutin memakai kacamata. Pasien
menyangkal pernah mengalami benturan/trauma pada matanya. Keluhan mata
merah (-), nyeri (-), riwayat didepan computer dalam jangka waktu lama dalam
sehari (-)
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit diabetes mellitus (-)
Riwayat menggunakan kacamata (+) dari umur 20
tahun
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat mengalami benturan atau trauma benda lain
disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan disangkal
Riwayat pakai lensa kontak disangkal
Riwayat operasi mata disangkal
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat keluarga dengan sakit yang sama (+), orang
tua pasien yaitu memakai kacamata
Riwayat penyakit diabetes mellitus (+)
Riwayat penyakit hipertensi disangkal
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
Pernafasan : 18x/menit
Suhu : Normal
Status Oftalmologi
OD OS
Visus 5/40 S -1.00 C 5/50 S 0.50 C
1.00 x 80 5/5 0.50 x 90 5/5
Kedudukan Bola Mata Orthoforia
Gerakan Bola Mata
Palpebra Superior Edema (-) Edema (-)
Benjolan (-) Benjolan (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Hematom (-) Hematom (-)
Palpebra Inferior Edema (-) Edema (-)
Benjolan (-) Benjolan (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Hematom (-) Hematom (-)
Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Superior Papil (-) Papil (-)
Edema (-) Edema (-)
Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Inferior Papil (-) Papil (-)
Edema (-) Edema (-)
Konjungtiva Bulbi Injeksi siliar (-) Injeksi siliar (-)
Injeksi konjungtiva (-) Injeksi konjungtiva (-)
Perdarahan Perdarahan
subkonjungtiva (-), sedikit subkonjungtiva (-)
hiperemis
Bilik Mata Depan (COA) Dalam, jernih Dalam, jernih
Kornea Jernih Jernih
Ulkus (-) Ulkus (-)
Infiltrate (-) Infiltrate (-)
Sikatriks (-) Sikatriks (-)
Iris Kripte (+) Kripte (+)
Sinekia (-) Sinekia (-)
Pupil Bulat,jernih, berada di Bulat,jernih, berada di
se sen
tral
ntr
al
Lensa Seluruh lensa Seluruh lensa
keruh keruh
Shadow test (-) Shadow test (-)
Vitreus Tidak dievaluasi Tidak dievaluasi
Fundus Tidak dievaluasi Tidak dievaluasi
Resume
Pasien perempuan umur 44 tahun datang ke poliklinik mata RS
Polri dengan keluhan penglihatannya buram saat melihat jarak
jauh dan seperti adanya belekan sejak 4 bulan sebelum berobat
ke klinik mata RS polri. Keluhannya yang dirasakan lebih
memberat pada mata kanan. Pasien sebelumnya sudah
memakai kacamata sudah sejak lama. Pasien cukup sering
melepas kacamata karna tidak selalu rutin memakai kacamata.
Pasien menyangkal pernah mengalami benturan/trauma pada
matanya. Keluhan mata merah (-), nyeri (-), riwayat didepan
computer dalam jangka waktu lama dalam sehari (-)
Pada pemeriksaan refraksi :
Visus OD : 5/40 S 1.00 C 1.00 x 80 5/5
Visus OS : 5/50 S 0.50 C 0.50 x 90 5/5
Diagnosis kerja dan tatalaksana
DIAGNOSIS KERJA
ODS Astigmatisme Miopia Simpleks
PENATALAKSANAAN
Resep kacamata sesuai dengan koreksi
Rencana Monitoring
Keluhan pasien
Pemeriksaan ualng visus
Edukasi
Menjelaskan kepada pasien bahwa pasien menderita katarak senilis ,
dimana katarak ini berhubungan dengan usia serta proses penuaan
yang terjadi didalam lensa
Menjelaskan kepada pasien serta keluarga tentang tindakan operasi
yang akan dilakukan pada katarak senilis imatur dimana memiliki
resiko post operasi serta membutukan perawatan tertentu post operasi
Prognosis
ODS :
Quo ad vitam : ad Bonam
Quo ad fungsionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : ad Bonam
Quo ad cosmetican : ad Bonam
Media Refraksi
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh
media penglihatan yang terdiri atas kornea, aqueous
humor (cairan mata), lensa, badan vitreous (badan
kaca), dan panjangnya bola mata.
Kelainan refraksi
Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas
tidak dibentuk pada retina. Pada kelainan refraksi terjadi
ketidakseimbangan sistem optik mata sehingga menghasilkan
bayangan yang kabur. Pada mata normal kornea dan lensa
mebelokkan sinar pada titik fokus yang tepat pada sentral
retina. Keadaan ini memerlukan susunan kornea dan lensa
yang sesuai dengan panjangnya bola mata. Pada orang
normal daya bias media penglihatan dan panjangnya bola
mata seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui
media refraksi dibiaskan tepat di daerah makula lutea
Emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan
refraksi pembiasan sinar mata dan berfungsi normal.
Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan
panjang bola mata yang tidak seimbang.
Terdapat beberapa kelainan refraksi antara lain miopia,
hipermetropia, presbiopia, dan astigmat.
Emmetropia
Suatu kondisi dimana sinar sejajar yang masuk ke dalam mata jatuh
tepat di fovea centralis dengan mata dalam keadaan istirahat
sehingga memperoleh tajam penglihatan yang maksimal.
Ametropia
Kondisi dimana sinar sejajar yang masuk ke dalam mata tidak jatuh
tepat di fovea sentralis dalam keadaan mata istirahat.
Titik fokus berada di depan atau di belakang retina.
Hal 47, 4.2 Duke Elder
Epidemiologi
Prevalensi global kelainan refraksi diperkirakan sekitar 800 juta sampai
2,3 milyar. Di Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan
pertama pada penyakit mata. Kasus kelainan refraksi dari tahun ke
tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan jumlah penderita
kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau
sekitar 55 juta jiwa.
Insidensi miopia dalam suatu populasi sangat bervariasi dalam hal umur,
negara, jenis kelamin, ras, etnis, pekerjaan, lingkungan, dan faktor
lainnya. Prevalensi miopia bervariasi berdasar negara dan kelompok
etnis, hingga mencapai 70-90% di beberapa negara. Sedangkan
menurut Maths Abrahamsson dan Johan Sjostrand tahun 2003, angka
kejadian astigmat bervariasi antara 30%-70%.
Miopi
Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana
sinar-sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga
oleh mata dalam keadaan tidak berakomodasi
dibiaskan pada satu titik di depan retina. Miopia
berasal dari bahasa yunani muopia yang memiliki
arti menutup mata. Miopia merupakan manifestasi
kabur bila melihat jauh, istilah populernya adalah
nearsightedness.
Myopia
Beberapa hal yang mempengaruhi resiko terjadinya myopia,
antara lain:
Keturunan. Orang tua yang mempunyai sumbu bolamata yang
lebih panjang dari normal akan melahirkan keturunan yang
memiliki sumbu bolamata yang lebih panjang dari normal pula.
Ras/etnis. Ternyata, orang Asia memiliki kecenderungan
myopia yang lebih besar (70% 90%) dari pada orang Eropa
dan Amerika (30% 40%). Paling kecil adalah Afrika (10%
20%).
Perilaku. Kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus
dapat memperbesar resiko myopia. Demikian juga kebiasaan
membaca dengan penerangan yang kurang memadai.
Gejala klinis :
Buram untuk melihat jauh, sedangkan penglihatan dekat
normal
Asthenopia
Myopia tinggi : hemeralopia terjadi akibat degenerasi retina
dibagian perifer.
Melihat Floating spots akibat degenerasi vitreous
Memicingkan mata agar memperoleh tajam penglihatan
yang baik.
Pemeriksaan oftalmologis : myopia tinggi ---->
proptosis, bilik mata depan dalam.
Klasifikasi Miopia
Menurut perjalanan myopia:
Myopia stasioner, myopia simpleks, myopia fisiologis
Myopia yang menetap setelah dewasa.
Myopia progresif
Myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat
bertambah panjangnya bola mata.
Myopia maligna, myopia pernisiosa, myopia degenerative
Myopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan
ablasi retina atau kebutaan.
Menurut klinis:
Simpel myopia: adalah myopia yang disebabkan oleh
dimensi bolamata yang terlalu panjang, atau indeks
bias kornea maupun lensa kristalinaa yang terlalu
tinggi.
Nokturnal myopia: adalah myopia yang hanya terjadi
pada saat kondisi sekeliling kurang cahaya.
Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi
terhadap level pencahayaan yang ada. Myopia ini
dipercaya penyebabnya adalah pupil yang membuka
terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya,
sehingga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi
myopia.
Pseudomyopia: diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan
terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada
otot otot siliar yang memegang lensa kristalinaa. Di Indonesia,
disebut dengan myopia palsu, karena memang sifat myopia ini hanya
sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan.
Untuk kasus ini, tidak boleh buru buru memberikan lensa koreksi.
Degenerative myopia: disebut juga malignant, pathological, atau
progressive myopia. Biasanya merupakan myopia derajat tinggi dan
tajam penglihatannya juga di bawah normal meskipun telah
mendapat koreksi. Myopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke
waktu.
Induced (acquired) myopia: merupakan myopia yang diakibatkan oleh
pemakaian obat obatan, naik turunnya kadar gula darah, terjadinya
sklerosis pada nukleus lensa, dan sebagainya.
Myopia patologik:
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan myopia simpleks
Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan
pada:
1. Badan kaca: dapat ditemukan kekeruhan berupa perdarahan atau degenerasi
yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam
badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap
belum jelas hubungannya dengan keadaan myopia.
2. Papil syaraf optik: terlihat pigmentasi peripapil, kresen myopia, papil terlihat
lebih pucat yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen myopia dapat ke
seluruh lingkaran papil, sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid
yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur
3. Makula: berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan
perdarahan subretina pada daerah makula.
4. Retina bagian perifer: berupa degenerasi sel retina bagian perifer.
5. Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan
retina. Akibat penipisan retina ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan
disebut sebagai fundus tigroid.
Menurut derajat beratnya miopi
Ringan : lensa koreksinya < 3,00 Dioptri
Sedang: lensa koreksinya 3,00 6,00 Dioptri.
Berat: lensa koreksinya > 6,00 Dioptri. Penderita myopia kategori
ini rawan terhadap bahaya pengelupasan retina dan glaukoma
sudut terbuka.
Menurut umur 2
Congenital (sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak)
Youth-onset myopia (< 20 tahun)
Early adult-onset myopia (20-40 tahun)
Late adult-onset myopia (> 40 tahun).
Tata laksana:
Low dan moderate myopia : diberikan koreksi penuh dengan lensa
Spheris yang lebih rendah yang menghasilkan tajam perlihatan
terbaik.
Contoh :
VOD = 5/60 S -2.50 D = 6/7
S -2.75 D = 6/6
S -3.00 D = 6/6
S -3.25 D = 6/7
Lensa untuk kaca mata S - 2.75 D
On high myopia, biasanya bila diberikan koreksi penuh kacamata ,
pasien mengeluh sakit kepala.
Faktor penyebab myopia :
Axial : Axis antero-posterior bola mata > normal
Padakeadaan ini , refraction power cornea, lensa dan posisi lensa dalam
keadaa normal. Biasanya tampak mata penderita seperti proptosis.
Kurvatura :
Ukuranbola mata ---> normal, tetapi terdapat peningkatan kurvatura
kornea atau lensa.
Perubahan bentuk lensa , contoh : intumescens cataract
Peningkatan index refraksi
Terjadi pada pasien diabetes mellitus
Perubahan lokasi lensa
Subluksasi atau dislokasi lensa
Komplikasi:
Biasanya terjadi pada myopia tinggi
1. Degenarasi dan mencairnya vitreous
2. Retinal detachment
3. Perubahan pigmentasi + Perdarahan Makula
4. Strabismus
Klasifikasi Myopia :
< 3.00 D = myopia rendah
3.00 - 6.00 D = moderate myopia
> 6.00 D = high myopia/gravis
Tata laksana:
Low dan moderate myopia : diberikan koreksi penuh dengan lensa
Spheris yang lebih rendah yang menghasilkan tajam perlihatan
terbaik.
Contoh :
VOD = 5/60 S -2.50 D = 6/7
S -2.75 D = 6/6
S -3.00 D = 6/6
S -3.25 D = 6/7
Lensa untuk kaca mata S - 2.75 D
On high myopia, biasanya bila diberikan koreksi penuh kacamata ,
pasien mengeluh sakit kepala.
Prognosis :
Simplex/stationer, setelah masa pubertas akan konstan.
Progressive myopia, myopia akan berlanjut meningkat
terus dan dapat terjadi komplikasi.
Hypermetropia
Kelainanrefraksi dimana tanpa akomodasi, sinar sejajar yang
masuk ke dalam bola mata jatuh di belakang retina.
Cahaya Divergent dari objek jarak dekat akan jatuh di belakang
retina.
Etiologi :
Axial ---> diameter bola mata < N
Berkurangnya convexitas cornea/lens curvature
Berkurangnya index refraksi
Perubahan posisi lensa
MANIFESTASI KLINIS
Hipermetropia manifest ---> terdeteksi tanpa menghilangkan
akomodasi dengan memberikan lensa convex dengan power
terkuat , pasien dapat melihat lebih jelas.
Terbagi ke dalam 2 tipe :
Facultative : dapat dihilangkan dengan akomodasi.
Absolute : tidak dapat dihilangkan dengan akomodasi.
Total Hipermetrop : terdeteksi setelah dihilangkan akomodasinya
dengan cylcopegic agents
Latent Hypermetrop : selisih total hypermetrop dengan manifest
hypermetrop
Hypermetrop
Latent Hypermetrop
Hypermetrop manifest
Gambaran klinis
Penglihatan dekat buram
High hypermetropia pada usia tua : penglihatan jauhpun buram
Astenophia accommodative (eye strain)
Children : high hypermetropia biasanya terjadi convergent
strabismus (convergent squint)
TATA LAKSANA
Bila foria/tropia tidak ada , berikan lesa sferis terkuat yang
memberikan tajam penglihatan terbaik.
Bila ada foria/tropia , koreksi total hypermetrop . Bila perlu : kaca
mata bifocal
Presbiopia
Makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata
sesuai dengan makin meningkatnya [Link] ini
terjadi pada mata normal berupa gangguan perubahan
kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat
berkurangnya elastisitas lensa sehingga terjadi
gangguan akomodasi.
Koreksi untuk presbiopia :
Usia 40 S + 1.00 D
Usia 45 S + 1.50 D
Usia 50 S + 2.00 D
Usia 55 S + 2.50 D
Usia 60 S + 3.00 D
Bergantung pula pada riwayat jenis pekerjaan sebelum
Tailor
Arsitek
Astigma
Astigmat adalah suatu keadaan dimana sinar yang
masuk ke dalam mata tidak terpusat pada satu titik
saja. Astigmat merupakan kelainan pembiasan mata
yang menyebabkan bayangan penglihatan pada satu
bidang fokus pada jarak yang berbeda dari bidang
sudut. Pada astigmatisma berkas sinar tidak difokuskan
ke retina tetapi di dua garis titik api yang saling tegak
lurus.
Klasifikasi Astigmat
Astigmatisme regular.
Astigmatisme dikategorikan regular jika meredian - meredian
utamanya (meredian di mana terdapat daya bias terkuat dan
terlemah di sistem optis bolamata), mempunyai arah yang saling
tegak lurus. Misalnya, jika daya bias terkuat berada pada meredian
90, maka daya bias terlemahnya berada pada meredian 180, jika
daya bias terkuat berada pada meredian 45, maka daya bias
terlemah berada pada meredian 135. Astigmatisme jenis ini, jika
mendapat koreksi lensa cylindris yang tepat, akan bisa
menghasilkan tajam penglihatan normal. Tentunya jika tidak disertai
dengan adanya kelainan penglihatan yang lain.
Bila ditinjau dari letak daya bias terkuatnya, bentuk
astigmatisme regular ini dibagi menjadi 2 golongan,
yaitu:
Astigmatisme With The Rule.
Jika meredian vertikal memiliki daya bias lebih kuat dari
pada meredian horisontal. Astigmatisme ini dikoreksi
dengan Cyl - pada axis vertikal atau Cyl + pada axis
horisontal.
Astigmatisme Against The Rule.
Jika meredian horisontal memiliki daya bias lebih kuat
dari pada meredian vertikal. Astigmatisme ini dikoreksi
dengan Cyl - pada axis horisontal atau dengan Cyl +
pada axis vertikal.
Sedangkan menurut letak fokusnya terhadap retina,
astigmatisme regular dibedakan dalam 5 jenis, yaitu :
Astigmatismus Myopicus Simplex.
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina,
sedangkan titik B berada tepat pada retina. Pola ukuran
lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl
-Y atau Sph -X Cyl +Y di mana X dan Y memiliki angka
yang sama.
Astigmatismus Hypermetropicus Simplex.
Astigmatisme jenis ini, titik A berada tepat pada retina,
sedangkan titik B berada di belakang retina. Pola ukuran
lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl
+Y atau Sph +X Cyl -Y di mana X dan Y memiliki angka
yang sama.
Astigmatismus Myopicus Compositus.
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina,
sedangkan titik B berada di antara titik A dan retina. Pola
ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph
-X Cyl -Y.
Astigmatismus Hypermetropicus Compositus
Astigmatisme jenis ini, titik B berada di belakang retina,
sedangkan titik A berada di antara titik B dan retina. Pola
ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph
+X Cyl +Y.
Astigmatismus Mixtus.
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina,
sedangkan titik B berada di belakang retina. Pola ukuran
lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl
-Y, atau Sph -X Cyl +Y, di mana ukuran tersebut tidak
dapat ditransposisi hingga nilai X menjadi nol, atau
notasi X dan Y menjadi sama - sama + atau -.
Jika ditinjau dari arah axis lensa koreksinya, astigmatisme
regular ini juga dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
Astigmatisme Simetris.
Astigmatisme ini, kedua bolamata memiliki meredian utama
yang deviasinya simetris terhadap garis medial. Ciri yang
mudah dikenali adalah axis cylindris mata kanan dan kiri
yang bila dijumlahkan akan bernilai 180 (toleransi sampai
15), misalnya kanan Cyl -0,50X45 dan kiri Cyl -0,75X135.
Astigmatisme Asimetris.
Jenis astigmatisme ini meredian utama kedua bolamatanya
tidak memiliki hubungan yang simetris terhadap garis medial.
Contohnya, kanan Cyl -0,50X45 dan kiri Cyl -0,75X100.
Astigmatisme Oblique.
Adalah astigmatisme yang meredian utama kedua
bolamatanya cenderung searah dan sama - sama
memiliki deviasi lebih dari 20 terhadap meredian
horisontal atau vertikal. Misalnya, kanan Cyl -0,50X55
dan kiri Cyl -0,75X55.
Astigmatisme Irregular.
Bentuk astigmatisme ini, meredian - meredian utama bolamatanya tidak
saling tegak lurus. Astigmatisme yang demikian bisa disebabkan oleh
ketidakberaturan kontur permukaan kornea atau pun lensa mata, juga
bisa disebabkan oleh adanya kekeruhan tidak merata pada bagian dalam
bolamata atau pun lensa mata (misalnya pada kasus katarak stadium
awal). Astigmatisme jenis ini sulit untuk dikoreksi dengan lensa kacamata
atau lensa kontak lunak (softlens). Meskipun bisa, biasanya tidak akan
memberikan hasil akhir yang setara dengan tajam penglihatan normal.
Jika astigmatisme irregular ini hanya disebabkan oleh ketidakberaturan
kontur permukaan kornea, peluang untuk dapat dikoreksi dengan optimal
masih cukup besar, yaitu dengan pemakaian lensa kontak kaku (hard
contact lens) atau dengan tindakan operasi (LASIK, keratotomy).
Berdasarkan tingkat kekuatan Dioptri :
Astigmatismus Rendah
Astigmatismus yang ukuran powernya < 0,50 Dioptri. Biasanya
astigmatis-mus rendah tidak perlu menggunakan koreksi kacamata.
Akan tetapi jika timbul keluhan pada penderita maka koreksi
kacamata sangat perlu diberikan.
Astigmatismus Sedang
Astigmatismus yang ukuran powernya berada pada 0,75 Dioptri s/d
2,75 Dioptri. Pada astigmatismus ini pasien sangat mutlak diberikan
kacamata koreksi.
Astigmatismus Tinggi
Astigmatismus yang ukuran powernya > 3,00 Dioptri. Astigmatismus
ini sangat mutlak diberikan kacamata koreksi.
Gejala Astigmat
Memiringkan kepala atau disebut dengan titling his head, pada umunya
keluhan ini sering terjadi pada penderita astigmatismus oblique yang
tinggi.
Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas.
Menyipitkan mata seperti halnya penderita myopia, hal ini dilakukan untuk
mendapatkan efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita astigmatismus
juga menyipitkan mata pada saat bekerja dekat seperti membaca.
Pada saat membaca, penderita astigmatismus ini memegang bacaan
mendekati mata, seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk
memperbesar bayangan, meskipun bayangan di retina tampak buram.
Sedang pada penderita astigmatismus rendah, biasa ditandai dengan
gejala-gejala sebagai berikut :
Sakit kepala pada bagian frontal.
Diagnosis
Pemeriksaan Untuk Kelainan Refraksi
Uji pinhole
Uji Refraksi
Refraksi Subyektif:
Optotipe dari Snellen & Trial lens
Metode yang digunakan adalah dengan Metoda trial
and error Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20
kaki. Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi
mata penderita, Mata diperiksa satu persatu
dibiasakan mata kanan terlebih dahulu Ditentukan
visus / tajam penglihatan masing-masing mata.
Bila
visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis
positif, bila dengan lensa sferis positif tajam
penglihatan membaik atau mencapai 5/5, 6/6, atau
20/20 maka pasien dikatakan menderita
hipermetropia, apabila dengan pemberian lensa sferis
positif menambah kabur penglihatan kemudian diganti
dengan lensa sferis negatif memberikan tajam
penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien
menderita miopia.
Seseorang dapat normal melihat benda di titik dekat (pp = 25 cm),
tetapi mengalami kelainan pada lensa mata, dimana ia hanya
mampu melihat benda paling jauh pada jarak 2 meter. Agar
penglihatannya normal, orang tersebut ditolong dengan kacamata.
Perhitungan ukuran kacamata yang dipakai sbb:
Jarak terjauh obyek/benda yang mampu dilihat 2 meter, sehingga
jarak bayangan pada kacamata harus berada -2 meter (bayangan
maya berjarak 2 m) S1 = -2 m
P=-0,5D
Kacamata yang dipakai berkekuatan/daya -0,5 Dioptri
Refraksi Obyektif
Autorefraktometer (komputer)
Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan
refraksi dengan menggunakan komputer. Penderita
duduk di depan autorefractor, cahaya dihasilkan oleh alat
dan respon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini
mengukur berapa besar kelainan refraksi yang harus
dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan waktu
beberapa detik.
Streak Retinoskop
Yaitu dengan lensa kerja +2.00D pemeriksa mengamati refleks fundus yang
bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan retinoskop (against movement)
kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negatif sampai tercapai netralisasi.
Keratometri
Adalah pemeriksaan mata yang bertujuan untuk mengukur radius kelengkungan
kornea. Keratometer dipakai klinis secara luas dan sangat berharga namun
mempunyai keterbatasan4
Keratometer mengukur 4 titik pada permukaan kornea parasentral tanpa
mengindahkan kornea bagian sentral dan perifer.
Keratometer menilai secara rata-rata dan simetris pada titik-titik pada permukaan
kornea semimeridien 180 yang ber-lawanan.
Hasil pengukuran keratometer sangat tergantung pada zona permukaan kornea
mempunyai nilai radius dan kekuatan refraksi yang berbeda (zona diameter 4 mm
mempunyai kekuatan 36 D dan 2.88 mm berkekuatan 50 D).
Ketepatan ukuran keratometer akan berkurang pada permukaan kornea sangat
landai (flat) dan sangat besar pada kornea yang sangat lengkung (steep).
Penatalaksanaan
Sejauh ini yang dilakukan adalah mencoba mencari bagaimana
mencegah kelainan refraksi atau mencegah jangan sampai
menjadi parah.
Koreksi lensa
Koreksi myopia dengan menggunakan lensa konkaf atau
lensa negatif, perlu diingat bahwa cahaya yang melalui lensa
konkaf akan disebarkan. Karena itu, bila permukaan refraksi
mata mempunyai daya bias terlalu besar, seperti pada
myopia, kelebihan daya bias ini dapat dinetralisasi dengan
meletakkan lensa sferis konkaf di depan mata.
Besarnya kekuatan lensa yang digunakan untuk mengkoreksi mata
myopia ditentukan dengan cara trial and error, yaitu dengan mula-
mula meletakan sebuah lensa kuat dan kemudian diganti dengan
lensa yang lebih kuat atau lebih lemah sampai memberikan tajam
penglihatan yang terbaik.
Pasien myopia yang dikoreksi dengan kacamata sferis negatif
terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Sebagai
contoh bila pasien dikoreksi dengan -3.00 dioptri memberikan tajam
penglihatan 6/6, demikian juga bila diberi sferis -3.25 dioptri, maka
sebaiknya diberikan koreksi -3.00 dioptri agar untuk memberikan
istirahat mata dengan baik setelah dikoreksi.
Astigmatismus dapat dikoreksi kelainannya dengan bantuan lensa
silinder. Karena dengan koreksi lensa cylinder penderita
astigmatismus akan dapat membiaskan sinar sejajar tepat diretina,
sehingga penglihatan akan bertambah jelas.
Obat -obatan
Beberapa penilitian melaporkan penggunaan atropine
dan siklopentolat setiap hari secara topikal dapat
menurunkan progresifitas dari myopia pada anak-anak
usia kurang 20 tahun.
Orthokeratology adalah cara pencocokan dari
beberapa seri lensa kontak, lebih dari satu minggu
atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar dan
menurunkan myopia. Kekakuan lensa kontak yang
digunakan sesuai dengan standar. Tergantung dari
respon individu dalam orthokeratology yang sesekali
beruba-ubah, penurunan myopia sampai dengan 3.00
dioptri pada beberapa pasien, dan rata-rata penurunan
yang dilaporkan dalam penelitian adalah 0.75-1.00
dioptri. Beberapa dari penurunan ini terjadi antara 4-6
bulan pertama dari program orthokeratology
Lensa kontak merupakan suatu lensa tipis dari bahan
fleksibel (soft contact lens) atau rigid (rigid gas permeable
lens) yang berkontak dengan kornea. Lensa kontak
menmberikan koreksi penglihatan yang lebih baik
dibanding kacamata. Lensa kontak dapat diresepkan
untuk mengoreksi miopia, hiperopia, astigmatisma,
anisometropia, anisokonia, afakia, setelah operasi katarak,
atau pada keratokonus. Soft contact lens atau rigid gas
permeable lens dapat mengoreksi miopia, hiperopia, dan
presbiopia. Lensa kontak toric yang memiliki kirvatura
berbeda yang disatukan pada permukaan depan lensa
dapat diresepkan untuk mengoreksi astigmatisma.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah microbial keratitis
yang dapat menyebabkan hilangnya penglihtan.
Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah tarsal
papillary conjunctivitis dan perubahan bulbar
conjunctival, epithelial keratopathy, corneal
neovascularization, nonmicrobial infiltrates, dan
corneal warpage
Soft Contact Lens
Soft contact lens terbuat dari poly-2-hydroxyethyl methacrylate
dan plastik fleksibel serta 30-79% air. Diameternya sekitar 13-
15 mm dan menutupi seluruh kornea. lensa ini dapat digunakan
untuk miopia dan hiperopia. Karena lensa ini mengikuti
lengkung kornea maka tidak dapat dipakai untuk mengoreksi
astigmatisma yang lebih dari astigmatisma minimal. Karena
ukurannya yang lebih besar soft contact lens lebih gampang
dipakai dan jarang kemasukan benda asing antara pada ruang
lensa dan kornea serta adaptasinya juga cepat.
Lensa RGP terbuat dari fluorocarbon dan campuran polymethyl
methacrylate. Diameternya 6.5-10 mm in diameter dan hanya
menutupi sebagian kornea mengapung di atas lapisan air mata.
Lensa RGP memberikan penglihatan yang lebih tajam dibanding soft
contact lens, pertukaran oksigen yang lebih baik sehingga dapat
mencegah infeksi dan gangguan mata lain. Durasi pemakaian lensa
RGP dapat lebih lama dibanding soft contact lens. Lensa RGP
disesuaikan ukurannya pada setiap mata dengan lebih tepat dan
teliti. Kerugiaannya adalah lensa RGP kurang nyaman dibanding soft
contact lens dan masa adaptasinya yang lebih lama. Lensa RGP
dapat mengoreksi kelainan seperti keratoconus dimana terdapat
irregularitas bentuk kornea yang tidak dapat dikoreksi soft contact
lens
Gabungan
Terdapat pula lensa kontak yang merupakan gabungan
soft contact lens dan RGP yang memadukan keuntungan
keduanya yakni lebih mudah dipakai dan pertukaran
oksigen yang baik.
Bedah Refraksi
Methode bedah refraksi yang digunakan terdiri dari:
Radial keratotomy (RK)
Dimana pola jari-jari yang melingkar dan lemah diinsisi di
parasentral. Bagian yang lemah dan curam pada permukaan kornea
dibuat rata. Jumlah hasil perubahan tergantung pada ukuran zona
optik, angka dan kedalaman dari insisi. Meskipun pengalaman
beberapa orang menjalani radial keratotomy menunjukan penurunan
myopia, sebagian besar pasien sepertinya menyukai dengan
hasilnya. Dimana dapat menurunkan pengguanaan lensa kontak.
Komplikasi yang dilaporkan pada bedah radial keratotomy
seperti variasi diurnal dari refraksi dan ketajaman penglihatan,
silau, penglihatan ganda pada satu mata, kadang-kadang
penurunan permanen dalam koreksi tajam penglihatan dari yang
terbaik, meningkatnya astigmatisma, astigmatisma irregular,
anisometropia, dan perubahan secara pelan-pelan menjadi
hiperopia yang berlanjut pada beberapa bulan atau tahun,
setelah tindakan pembedahan. Perubahan menjadi hiperopia
dapat muncul lebih awal dari pada gejala presbiopia. Radial
keratotomy mungkin juga menekan struktur dari bola mata.
Photorefractive keratectomy (PRK)
Adalah prosedur dimana kekuatan kornea ditekan dengan ablasi
laser pada pusat kornea. Dari kumpulan hasil penelitian menunjukan
48-92% pasien mencapai visus 6/6 (20/20) setelah dilakukan
photorefractive keratectomy. 1-1.5 dari koreksi tajam penglihatan
yang terbaik didapatkan hasil kurang dari 0.4-2.9 % dari pasien.
Kornea yang keruh adalah keadaan yang biasa terjadi setelah
photorefractive keratectomy dan setelah beberapa bulan akan
kembali jernih. Pasien tanpa bantuan koreksi kadang-kadang
menyatakan penglihatannya lebih baik pada waktu sebelum operasi.
Photorefractive keratectomy refraksi menunjukan hasil yang lebih
dapat diprediksi dari pada radial keratotomy.
Laser Assisted in Situ Interlameral Keratomilieusis (lasik)
Merupakan salah satu tipe PRK, laser digunakan untuk
membentuk kurva kornea dengan membuat slice
(potongan laser) pada kedua sisi kornea.
ANALISIS KASUS
Pada laporan kasus ini, pasien didiagnosis Astigmatisme miopi simpleks pada mata
kanan dan kiri berdasarkan data dasar yang didapatkan melalui anamnesis dan
pemeriksaan fisik sebagai berikut.
Pada anamnesis didapatkan keluhan keluhan penglihatannya buram saat melihat
jarak jauh dan seperti adanya belekan sejak 1 minggu ini sebelum berobat ke klinik
mata RS polri. Keluhannya yang dirasakan lebih memberat pada mata kanan. Pasien
sebelumnya sudah memakai kacamata sudah sejak lama. Pasien cukup sering
melepas kacamata karna tidak selalu rutin memakai kacamata. Pasien menyangkal
pernah mengalami benturan/trauma pada matanya. Keluhan mata merah (-), nyeri
(-), riwayat didepan computer dalam jangka waktu lama dalam sehari (-)
Pada pemeriksaan fisik pada OS didapatkan visus mata kanan 5/40, koreksi 5/40 S-
1,00 C 1.00 x80 5/5 dan visus mata kiri 5/50 koreksi 5/50 S-0,50 C 0.50 x 90
5/5, pada pemeriksaan fundus refleks (+) cemerlang pada kedua mata.
Pada kasus ini pasien diberikan terapi berupa kacamata
yang sesuai dengan koreksi. Hal ini diperlukan untuk
memperbaiki penglihatan pasien agar dapat melihat dengan
jelas. Pasien kemudian disarankan untuk kontrol rutin setiap
1 tahun sekali untuk pemeriksaan visus dan funduskopi.
Pasien ini diterapi dengan lensa sferis dan cylinder negatif.
Ukuran lensa yang digunakan adalah yang terkecil yang
memberikan visus maksimal pada saat dilakukan koreksi.
Ingatlah bahwa mata adalah jendela hati, dan mata
yang sehat merupakan cerminan tubuh yang sehat
(Dr. Alia Arianti, SpM , JEC)