Classification Inventory
Oleh : Trio Yonathan Teja Kusuma
A. PERSEDIAAN
(INVENTORY)
Persediaan
adalah bahan/barang yang disimpan yang
akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu
misalnya untuk proses produksi atau perakitan, dijual
kembali dan untuk suku cadang dari suatu
peralatan /mesin.
Manajemen persediaan yang baik merupakan hal
yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Pada
satu sisi, pengurangan biaya persediaan dengan cara
menurunkan tingkat persediaan dapat dilakukan oleh
perusahaan, tetapi pada sisi lain konsumen akan
tidak puas apabila suatu produk stocknya habis.
Oleh karena itu keseimbangan antara investasi
persediaan dan tingkat pelayanan kepada konsumen
harus dapat dicapai.
2
Tipe/jenis Persediaan
Persediaan yang ada di perusahaan terdiri dari 5 tipe yaitu:
a. Persediaan Bahan Mentah (Raw Materials) yang telah dibeli, tetapi
belum diproses. Pendekatan yang lebih banyak diterapkan adalah
dengan menghapus variabilitas pemasok dalam mutu, jumlah atau
waktu pengiriman sehingga tidak perlu pemisahan.
b. Persediaan Bahan Pembantu atau Penolong (Supplies) yaitu
persediaan barang yang diperlukan dalam proses produksi tetapi
tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.
c. Persediaan Barang Dalam Proses (Work in Process) yang telah
mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai. Persediaan ini
ada karena untuk membuat produk diperlukan waktu yang disebut
waktu siklus. Pengurangan waktu siklus menyebabkan persediaan
ini berkurang.
Tipe/jenis Persediaan
Persediaan yang ada di perusahaan terdiri dari 5 tipe yaitu:
d.
Persediaan
Komponen-komponen
Rakitan
(
Purchase
Parts/Components ) MRO merupakan persediaan yang
dikhususkan untuk perlengkapan pemeliharaan, perbaikan, operasi.
Persediaan ini ada karena kebutuhan akan adanya pemeliharaan
dan perbaikan dari beberapa peralatan yang tidak diketahui.
sehingga persediaan ini merupakan fungsi jadwal pemeliharaan dan
perbaikan.
e. Persediaan Barang Jadi (Finished Goods), termasuk dalam
persediaan karena permintaan konsumen untuk jangka waktu
tertentu mungkin tidak diketahui.
Fungsi Persediaan
Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operasi-operasi
perusahaan internal dan eksternal mempunyai kebebasan
(independence). Persediaan decouples ini memungkinkan
perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa
tergantung pada supplier.
Persediaan mempunyai beberapa fungsi penting yang menambah
fleksibilitas dari operasi suatu perusahaan, antara lain:
a. Untuk memberikan stock agar dapat memenuhi permintaan yang
diantisipasi akan terjadi.
b. Untuk menyeimbangkan produksi dengan distribusi.
Fungsi Persediaan
c. Untuk memperoleh keuntungan dari potongan kuantitas,
karena membeli dalam jumlah banyak biasanya ada
diskon.
d. Untuk hedging terhadap inflasi dan perubahan harga.
e. Untuk menghindari kekurangan stok yang dapat terjadi
karena : cuaca, kekurangan pasokan, mutu,
ketidaktepatan pengiriman.
f. Untuk menjaga kelangsungan operasi dengan cara
persediaan dalam proses.
Pengelompokan Persediaan
1. Fluktuation Stock : untuk menjaga terjadinya fluktuasi
permintaan
dan
untuk
mengatasi
jika
terjadi
kesalahan/penyimpangan dalam perkiraan penjualan,
waktu produksi atau pengirman barang.
2, Anticipation Stock : untuk menghadapi permintaan
yang dapat diramalkan, misalnya musim permintaan
tinggi, sukar memperoleh bahan baku.
3. Lot size Inventory : persediaan dalam jumlah besar
yang melebihi kebutuhan saat itu, hal ini untuk
mendapatkan quantity discount dan penghematan biaya
pengangkutan.
4. Pipeline Inventory : persediaan yang sedang dalam
proses pengiriman dari tempat asal ke tempat dimana
barang tsb akan digunakan yang dapat memakan waktu
7 beberapa hari/minggu.
Menetapkan Persediaan
Kesalahan dalam menetapkan persediaan dapat
berakibat fatal, suatu contoh :
Persediaan terlalu kecil
Hilangnya kesempatan ; untuk menjual
memperoleh laba
Persediaan terlalu besar
Adanya biaya besar ; memperkecil laba
memperbesar resiko
Keuntungan meninghkatkan persediaan
Perusahaan dapat
Mempengaruhi ekonomi produksi
Mempengaruhi pembelian
Dapat memenuhi pesanan dengan lebih cepat
Kerugian adanya Inventory
Biaya tinggi
Item cost (if purchased)
Ordering (or setup) cost
Costs of forms, clerks wages etc.
Holding (or carrying) cost
Building lease, insurance, taxes etc.
Kesulitan dalam pengontrolan
Menyembunyikan masalah produksi
10
Pengurangan Persediaan
Mengurangi Waste
11
Pengurangan Persediaan
Mengurangi Waste
12
Pengurangan Persediaan
Mengurangi Waste
13
EMPAT FAKTOR YANG DIJADIKAN SBG
FUNGSI PERLUNYA PERSEDIAAN
Faktor waktu : waktu proses dan distribusi
Faktor ketidakpastian waktu datang : bahan baku tergantung
supplier, WIP tergantung departemen produksi, dan barang
jadi tergantung konsumen
Faktor ketidakpastian penggunaan : kesalahan peramalan,
kerusakan mesin, keterlambatan operasi, dan barang cacat.
Faktor ekonomis : potongan harga, stabilisator produksi,
fluktuasi harga.
14
Contoh Inventory
1995 Corel
Corp.
1984-1994 T/Maker Co.
1995 Corel Corp.
15
Mengapa inventory diperlukan?
Untuk menjaga independensi operasi
Untuk memenuhi demand yang bervariasi
Untuk fleksibilitas jadwal operasi
Untuk pengaman dari variabilitas
pengiriman raw materials
Untuk mengambil keuntungan diskon
kuantitas.
Untuk Menjaga pengaruh inflasi dan
kenaikan harga
16
Keberhasilan Inventory
Parameter keberhasilan inventory sulit
dilihat dengan pandangan Keuntungan
perusahaan, karena inventory adalah
subsistem dari sistem perusahaan komplek.
Dengan Biaya Inventory yang minimum,
maka keuntungan perusahaan menjadi
bertambah.
Keputusan dalam Manajemen
Persediaan
Dalam manajemen persediaan terdapat dua
hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
Keputusan yang bersifat kuantitatif
Keputusan yang bersifat kualitatif
18
Tujuan Keputusan
Kuantitatif :
Untuk mengetahui :
Barang apa yang akan di-stok, berkenaan
dengan analisis buat-beli.
Berapa banyak barang yang akan diproduksi
dan berapa banyak barang yang akan
dipesan.
Kapan pembuatan barang akan dilakukan
dan kapan melakukan pemesanan
Kapan melakukan pemesanan ulang
Metode apa yang digunakan untuk
menentukan persediaan.
19
Tujuan Keputusan Kualitatif :
Mengarah pada analisis data secara diskriptif
meliputi :
Jenis barang yang masih tersedia di
perusahaan
Pihak yang menjadi pemasok barang
yang dipesan perusahaan
Sistem pengendalian kualitas persediaan
yang digunakan oleh perusahaan
20
Sistem Pengendalian
Persediaan
Metode garis merah red line method
Metode dua peti two bin method
Sistem pengendalian persediaan dengan
koputer Computerized inventory control
system
Sistem A B C system A B C
Klasifikasi ABC
Klasifikasi ABC adalah suatu tools yang
digunakan untuk mengelompokkan stock
item material berdasarkan kriteria
kekritisan (criticality) level ABC,
ketersediaan (availability) level ABC dan
pemakaian (usage) level ABC
22
Analisis ABC
Analisis ABC (ABC analysis)
23
membagi,persediaan yang dimiliki ke dalam
tiga golongan berdasarkan pada volume dolar
tahunan. Analisis ABC adalah sebuah aplikasi
dari prinsip Pareto. Prinsip Pareto menyatakan
bahwa terdapat "sedikit hal penting dan
banyak hal yang sepele. Tujuannya adalah
membuat kebijakan persediaan yang
memusatkan sumber daya pada komponen
persediaan penting yang sedikit dan bukan
pada yang banyak tetapi sepele. Tidaklah
realistis untuk memonitor persediaan yang
murah dengan intensitas yang sama
sebagaimana dengan persediaan yang sangat
Babmahal.
12. Manajemen Persediaan
Keuntungan dari pembagian barang
persediaan analisis ABC
1. Pembelian sumber daya
yang dibelanjakan pada
pengembangan
pemasok harus jauh
lebih tinggi untuk
barang A dibandingkan
barang C.
24
Bab 12. Manajemen Persediaan
25
2. Barang A, tidak seperti barang B
dan C, perlu memiliki kontrol
persediaan fisik yang lebih ketat;
mungkin mereka dapat
diletakkan pada tempat yang
lebih aman, dan mungkin akurasi
catatan persediaan untuk barang
A harus lebih sering diverifikasi.
Bab 12. Manajemen Persediaan
3. Prediksi barang A perlu
lebih dijamin
keabsahannya
dibandingkan dengan
prediksi barang B dan C.
26
Bab 12. Manajemen Persediaan
Kriteria Kekritisan (criticality)
Level A : Sangat kritis
Stock item material yang dapat menyebabkan plant stop,
kehilangan produksi (misalnya hanya satu alat yang
digunakan untuk memproduksi kapasitas 100%).
Level B : Kritis
Stok item material yang dapat menyebabkan tertundanya
perbaikan sehingga tidak dapat beroperasi secara optimal
Level C : Kurang Kritis
Stok item material yang tidak berdampak langsung bagi
operasi, (misalnya consumable item; stationery; stok yang
ditahan vendor).
27
Kriteria Ketersediaan (availability)
Level A : Long Lead Time
Stok item material dimana proses pengadaannya memerlukan
waktu total lead time :
Di atas 240 (dua ratus empat puluh) hari untuk unit A
Di atas 150 (seratus lima puluh) hari untuk unit B
Level B : Medium Lead Time
Stok item material dimana proses pengadaannya memerlukan
waktu total lead time:
60 s/d 240 (enam puluh s/d dua ratus empat puluh) hari untuk unit A.
45 s/d 150 (empat puluh lima s/d seratus lima puluh) hari untuk unit B.
Level C : Short Lead Time
Stok item material dimana proses pengadaannya memerlukan
waktu total lead time :
Kurang dari 60 (enam puluh) hari untuk unit A.
Kurang dari 45 (empat puluh lima) hari untuk unit B.
ABC Analysis
Divides inventory into three
classes based on annual dollar
volume
Class A - high annual dollar volume
Class B - medium annual dollar
volume
Class C - low annual dollar volume
Used to establish policies that
focus on the few critical parts and
not the many trivial ones
ABC Analysis
Metode ABC
Metode ABC membagi persediaan yang ada
ke dalam tiga kelompok berdasarkan volume
tahunan dalam jumlah uang
Kelas
Persentase Total
Uang
Kuantitas
Tinggi (70%-80%)
15% Jumlah
Persediaan
Sedang (+ 30% )
15% - 25%
Rendah (+ 5% )
+ 55%
ABC Analysis
Item
Stock
Numbe
r
Percent of
Number
of Items
Stocked
#10286
20%
Annual
Volume
(units)
Unit
Cost
Annual
Dollar
Volume
Percent of
Annual
Dollar
Volume
Clas
s
72
%
1,000
$ 90.00
$ 90,000
38.8%
#11526
500
154.00
77,000
33.2%
#12760
1,550
17.00
26,350
11.3%
350
42.86
15,001
6.4%
1,000
12.50
12,500
5.4%
#10867
#10500
30%
23
%
B
B
ABC Analysis
Item
Stock
Numbe
r
Percent of
Number
of Items
Stocked
Annual
Volume
(units)
Unit
Cost
Annual
Dollar
Volume
Percent of
Annual
Dollar
Volume
Clas
s
#12572
600
$ 14.17
$ 8,502
3.7%
#14075
2,000
.60
1,200
.5%
100
8.50
850
.4%
#01307
1,200
.42
504
.2%
#10572
250
.60
150
.1%
#01036
50%
5%
Percent of annual dollar usage
ABC Analysis
80
70
60
50
40
30
20
10
0
A Items
B Items
C Items
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Percent of inventory items
Figure 12.2
ABC analysis
Percentage
of items
Percentage
value of
annual usage
Class A items
About 20%
About 80%
Close day
to day
control
Class B items
About 30%
About 15%
Regular
review
Class C
items
About 50%
About 5%
Infrequent
review
Additional rules for ABC
analysis
Cathegory
Percentage of
items
Percentage of
usage
Class A items
5-25%
40-80%
Class B items
2040%
15-40%
Class C items
40-75%
5-20%
ABC
Example 1
Percentage
of items
Percentage
value of
annual usage
Class A items
About 20%
About 80%
Close day
to day
control
Class B items
About 30%
About 15%
Regular
review
Class C items
About 50%
About 5%
Infrequent
review
Step 1
Calculate the total spending per
year
Item
Unit cost
Annual demand
Total cost per year
101
48,000
240,000
102
11
2,000
22,000
103
15
300
4,500
104
800
6,400
105
4,800
33,600
106
16
1,200
19,200
107
20
18,000
360,000
108
300
1,200
109
5,000
45,000
110
12
500
6,000
number
Total usage
737,900
Total cost per year: Unit cost * total cost per year
Step 2
Calculate the usage of item in total
usage
Usage as
Item
number
Unit
cost
Annual
demand
Total cost
per year
a % of
total
usage
101
48,000
240,000
32,5%
102
11
2,000
22,000
3%
103
15
300
4,500
0,6%
104
800
6,400
0,9%
105
4,800
33,600
4,6%
106
16
1,200
19,200
2,6%
107
20
18,000
360,000
48,8%
108
300
1,200
0,2%
109
5,000
45,000
6,1%
110
12
500
6,000
0,8%
737,900
100%
Total usage
Usage as a % of total usage = usage of item/total
usage
Step 3
Sort the items by usage
Item
number
Cumulative
% of items
Unit
cost
Annual
demand
Total cost per
year
Usage as a % of
total usage
Cumulative % of
total
107
10%
20
18,000
360,000
48,8%
48,8%
101
20%
48,000
240,000
32,5%
81,3%
109
30%
5,000
45,000
6,1%
87,4%
105
40%
4,800
33,600
4,6%
92%
102
50%
11
2,000
22,000
3,0%
94,9%
106
60%
16
1,200
19,200
2,6%
97,5%
104
70%
800
6,400
0,9%
98,4%
110
80%
12
500
6,000
0,8%
99,2%
103
90%
15
300
4,500
0,6%
99,8%
108
100%
300
1,200
0,2%
100%
737,900
100%
Total usage
Step 4
Results of calculation
Cathegory
Items
Percentage of
items
Percentage
usage (%)
Action
Class A
107, 101
20%
81,6%
Close control
Class B
109, 105, 102,
106
40%
16,2%
Regular
review
Class C
104, 110, 103,
108
40%
2,5%
Infrequent
review
Usage Value (Nilai pemakaian material per periode)
41
Klasifikasi Items dalam ABC
(1)
Contoh Kasus : distribusi Parts (1.918 parts)
42
Klasifikasi Items dalam ABC (2)
Contoh Kasus : distribusi Parts (1.918 parts)
Letakkan pointer pada sel I1, ketik Total
Letakkan pointer pada sel I2, ketik =SUM(C2:H2)
Letakkan pointer pada sel I2, tekan CTRL+C
Blok range sel I3 sampai I1919, TEKAN CTRL=V
43
Klasifikasi Items dalam ABC (3)
Contoh Kasus : distribusi Parts (1.918 parts)
Letakkan pointer pada sel A1
Klik Data pada menu Bar, Pilih Sort
Pada Sort By, Pilih Total, Klik Largest to Smallest, Klik OK
44
Klasifikasi Items dalam ABC (4)
45
Persentase Konstribusi distribusi
Letakkan pointer pada sel A1920, ketik TOTAL
Letakkan pointer pada sel I1920, ketik =SUM(I2:I1919), kemudian ENTER
Hasilnya adalah 140.283, yaitu total distribusi qty sales
Letakkan pointer pada sel J1, kemudian ketik % Kont Sales
Letakkan Pointer pada sel J2, kemudian ketik =I2/$I$1919, tekan ENTER
Letakkan pointer pada sel J, klik icon % pada menu formatting
Hasilnya adalah 12,78059%
Letakkan pointer pada sel J2, kemudian tekan CTRL+C
Blok range J3 sampai J1919, kemudian tekan CTRL+V
Klasifikasi Items dalam ABC (5)
Persentase Kumulatif Kontribusi
distribusi
Letakkan pointer pada sel K1, ketik % Kum Kontr Sales
Letakkan pointer pada sel K2, ketik =J2, tekan ENTER
Letakkan pointer pada sel K3, ketik =K2+J3, tekan ENTER
Letakkan pointer pada sel K3, tekan CTRL+C
Blok range sel K4 sampai K1919, tekan CTRL+V
46
Klasifikasi Items dalam ABC (6)
Persentase Setiap Item
terhadap jenis Item
Jumlah item (spare parts) adalah 1.918 items,
Maka prosentase item untuk setiap item adalah 1/1.918
Letakkan pointer pada sel K2, ketik % Kontr Item
Letakkan pinter pada sel L2, ketik =1/1918, tekan ENTER
Letakkan pointer pada sel L2, tekan CTRL+C
Blok range sel L3 sampai L1919, tekan CTRL+V
47
Klasifikasi Items dalam ABC (7)
Persentase Kontribusi Kumulatif Item
Letakkan pointer pada sel M1, ketik % Kum Kontr Item, tekan ENTER
Letakkan pointer pada sel M2, ketik =L2, tekan ENTER
Letakkan pointer pada sel M3, ketik =L3+M2, tekan ENTER
Letakkan pointer pada sel M3, tekan CTRL+C
bLok range sel M4 sampai M1919, tekan CTRL+V
48
Klasifikasi Items dalam ABC (8)
Kategori
pada kolom persentase kumulatif item, angka persentase yang menunjukkan range 0-20%
yang bersesuaian dengan angka sekitar 80% (pada kasus ini diperoleh angka
90,7024%~91%) merupakan item kategori A
Angka persentase dengan range 20,01-60% pada kolom persentase kumulatif item akan
bersesesuaian dengan angka sekitar 95% (pada kasus ini diperoleh angka 99%)
meurpakan item kategori B
Sisanya ke bawah adalah item berkategori C
Cycle Counting
Perhitungan berkala secara fisik barang
yang ada digudang.
Didasarkan pada klasifikasi ABC
Item A dihitung lebih sering (mis harian)
Annual $
Volume
A
B
C
Advantages of Cycle
Counting
Menghilangkan Penghentian produksi untuk
mengecek persediaan fisik tahunan.
Menghilangkan penyesuaian persediaan
tahunan.
Melatih personel audit dalam hal akurasi
persediaan
Mengenali penyebab kesalahan dan
tindakan perbaikannya
Menjaga catatan persediaan yang akurat.
51
Akurasi Data Inventory
problem
Akurasi data persediaan merupakan salah satu tujuan
utama pengadministrasian inventori/ isi gudang
Data yang tidak akurat dapat mengakibatkan:
Sulit mencari barang
Terjadi kelebihan stock
Terjadi kekurangan stock
Sulit menghitung nilai persediaan
Sulit mengontrol persediaan
Sekalipun sistem adminisrasi gudang yang digunkan
sangat canggih, namun bila data tidak akurat, hasilnya
tak dapat digunakan
problem
transaksi keluar masuk barang tidak tercatat
Ada dokumen permintaan barang yang belum
lengkap, tapi barangnya dibutuhkan segera. Barang
diambil dulu, nota/bon menusul)
Menunda input data transaksi ke sistem
Kesalahan pengambilan/penerimaan barang
Kesalahan pencatatan
Kesalahan dalam penerimaan barang
problem
Tidak ada prosedur inboun-outbound
barang
Banyak barang titipan user, namun tidak
dicatat
Barang sisa proyek tidak tercatat
Perbedaan catatan dengan fisik telah
ditemukan, namun tidak dilakukan koreksi
persediaan
Penempatan barang tidak teratur
Akses keluar-masuk gudang yang bebas
Penyebab terjadinya Surplus:
Penghentian penggunaan suatu peralatan (Parent Unit) sehingga
berlebihnya (Excess) suku cadang yang telah disimpan
Perubahan program kerja
Perubahan proses produksi
Kesalahan perhitungan peramalan (forecast) penggunaan yang akan datang
Pembelian yang terlalu banyak
Penggunaan formula yang kurang tepat
Pencatatan data persediaan yang kurang akurat
Pemesanan barang yang salah saat diterima
Pengiriman barang yang salah saat diterima
Pembelian barang yang tidak standar
Perubahan penentuan barang standar
Turun mutu selama persediaan
Terlalu banyak menetapkan persediaan pengaman (buffer stock)
56
stock opname atau cycle counting
Cycle counting adalah prosedur Quality Assurance
yang mencoba mengidentifikasi kesalahaan serta
melakukan perbaikan yang dibutuhkan
Cycle counting adalah upaya untuk menghitung jumlah
fisik persediaan di gudang, membandingkan dengan
catatan, dan setelah memperhatikan transaksi yang
sedang berjalan, dilakukan tindakan koreksi.
Cycle counting adalah metode sistematis untuk
menghitung persediaan terus menerus.
Hasilnya: data lapangan cocok dengan catatan di
administrasi/ di dalam sistem
stock opname atau cycle counting
1.
Hitung persediaan, minimal 2 sampai 4 kali
setahun
Contoh jika ada 2000 jenis barang di gudang:
jumlah yang harus dihitung per hari:
= 2000/250 (jumlah hari kerja per tahun) = 8
item
8 item x 4 kali se tahun = 32 item per hari
Dengan cara demikian, semua item akan dihitung
4 kali se tahun.
Perbedaan Hasil Perhitungan
Jumlah yang diambil tidak cocok dengan dokumen
permintaan
Barang yang salah yang terambil untuk suatu order
Barang diambil dari lokasi yang salah
Barang ditempatkan pada lokas yang salah
Unit perhitungan tidak sama (seperti, each, pair, meter, kg,
kaleng, kotak, liter dll.)
Kesalahan data entri
Barang yang rusak bercampur dengan yang baik
Pergerakan barang tidak tercatat dengan baik
Vendor Managed Inventory (VMI)
Pemesanan ke pemasok dengan cara
tradisional mengakibatkan inefisiensi:
-pemasok tidak tahu berapa dan
kapan barang akan dipesan sehingga
stock menumpuk
-terjadinya perubahan jadwal dari
pembeli secara tiba-tiba
mengakibatkan service level rendah
dan schedule nervosuness
Customer
B
61
Customer
A
Vendor
Customer
C
Perencanaan Material Rutin/Stock
a. Rencana Kebutuhan Material (RKM).
1)RKM dibuat oleh fungsi pemakai berdasarkan program kerjanya
dengan menetapkan jumlah dan kapan barang dibutuhkan, serta
dengan memperhitungkan faktor lead time pengadaan barang.
2)Kebutuhan material yang tertuang didalam RKM dianalisa oleh
pengelola material dengan memperhitungkan posisi persediaan,
pola pemakaian rutin dan pesanan berjalan.
3)Fungsi pemakai harus memberikan segala informasi mengenai
rencana kerja beserta perubahan-perubahannya.
62
Perencanaan Material Stock
b. Dasar Pengendalian.
Pengendalian persediaan disamping menggunakan formula
Min-Max atau Ordering Formula, harus memperhatikan
intensitas kegiatan atau program kerja yang telah
direncanakan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.
c. Review Stock.
1)Pengelola material berkewajiban melakukan review stock
setiap saat untuk selalu menjaga persediaan pada tingkat
yang optimal.
2)Tingkat persediaan yang optimal menunjukkan nilai dan
jumlah item yang sewajarnya diinvestasikan atau disimpan
didalam persediaan secara ekonomis.
63
Penentuan Material Stock
Penentuan Jumlah dan Jenis Kebutuhan.
1) Didalam menentukan jumlah dan jenis kebutuhan material harus diperhitungkan hal-hal
sebagai berikut:
(a) Jumlah yang diperlukan
(b) Pemakaian yang lalu (past consumption)
(c) Lead time
(d) Pesanan berjalan (Outstanding order)
(e) Proyeksi kedepan
2) Material untuk proyek atau keperluan khusus lainnya diperhitungkan secara khusus (terpisah
dari material persediaan).
3) Dalam menentukan jumlah dan jenis material persediaan yang akan dibeli/diadakan, harus
dicegah kemungkinan terjadinya surplus material dimasa yang akan datang.
64
Penentuan Material Stock
Analisa Persediaan dengan model Inventory
Pengendalian tingkat persediaan material mempergunakan formula MinimumMaximum (Min-Max), dan penentuan jumlah yang harus dipesan mempergunakan
formula Economic Order Quantity (EOQ), kecuali beberapa jenis material yang
diyakini jumlah pemakaiannya konstan atau stabil dari periode ke periode dapat
dipergunakan fixed Ordering Formula.
- Minimum Inventory = SS
- Maximum Inventory = SS + EOQ = SS + (2xdxl)
- Reorder Point (ROP) = d l + SS
65
l = rata-rata periode lead time
d = rata-rata permintaan
perperiode