GEOLOGI DAERAH WOSI DAN SEKITARNYA DISTRIK
MANOKWARI BARAT KABUPATEN MANOKWARI
PROPINSI PAPUA BARAT
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Teknik Bidang Geologi Dari Universitas Papua
ERDIA ADOLFINA ASROUW
201469030
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
UNIVERSITAS PAPUA
2021
2
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Geologi Daerah Penelitian
Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan dan pengolahan data sekunder
maka diperoleh hasil dan pembahasan sebagai berikut:
4.1.1 Geomorfologi Daerah Penelitian
Dengan data geomorfologi yang dideskripsi dilapangan, maka dapat dibagi
satuan geomorfologi daerah penelitian didasarkan pada relief, litologi, proses
pembentukan serta struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian.
Klasifikasi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada klasifikasi satuan
geomorfologi menurut Van Zuidam (1983) dengan sedikit modifikasi agar
penamaan subsatuan lebih jelas. Daerah penelitian dibagi menjadi 2 satuan
geomorfologi; satuan geomorfologi denudasional dan satuan geomorfologi fluvial.
[Link] Satuan Geomorfologi Denudasional
[Link].1 Subsatuan Lereng dan Perbukitan Denudasional (D2)
Subsatuan ini menempati ± 85% dari luas daerah penelitian, dengan
topografi bergelombang kuat-perbukitan dengan elevasi 50-325 mdpl dengan
kemiringan lereng 20-35⁰. Subsatuan ini meliputi daerah Sowi Gunung dan
Soribo. Tersusun dari litologi batugamping dan batupasir. Proses eksogen yang
berkembang pada subsatuan ini dimana tingkat erosi sedang-tinggi (erosi
parit/gully erosion) dan pelapukan sedang (Gambar 5.1). Lembah sungai
berbentuk “V” dengan stadia sungai muda.
35
Gambar 4.1 Erosi parit (gully erosion) yang ada di lapangan dilihat dari LP 30
Gambar 4.2 Subsatuan Lereng dan Perbukitan Denudasional
di Sowi Gunung, Lensa menghadap barat daya.
[Link] Satuan Geomorfologi Fluvial
Pada daerah penelitian, satuan ini dibagi lagi menjadi 3 subsatuan yaitu
subsatuan dataran aluvial (F1), subsatuan tubuh sungai (F2) dan subsatuan dataran
banjir (F3).
[Link].1 Subsatuan Dataran Aluvial (F1)
Dataran aluvial menempati ±13% dari luas daerah penelitian. Subsatuan
ini berada pada daerah Wosi dengan topografi dataran dengan elevasi 25-50 mdpl
dengan kemiringan lereng 0-8⁰. Tersusun dari batupasir. Proses eksogen yang
36
berkembang didaerah ini dimana memiliki tingkat erosi tinggi dan pelapukan
sedang. Vegetasi sedang (heterogen). Ditinjau dari aspek tata guna lahan, daerah-
daerah ini umumnya oleh penduduk setempat dimanfaatkan sebagai areal
pemukiman (Gambar 4.3).
Gambar 4.3 Subsatuan dataran aluvial didataran wosi,
Lensa menghadap barat daya
[Link].2 Subsatuan Tubuh Sungai (F2)
Tubuh sungai menempati ±2% dari luas daerah penelitian. Subsatuan ini
meliputi daerah Sungai Pami. Subsatuan ini merupakan tubuh sungai dengan
elevasi 54 mdpl dengan kemiringan lereng 0-2⁰. Tersusun dari material yang
beragam berupa berangkal hingga lempung. Arus sungai sedang dengan lembah
sungai berbentuk U dan stadia sungai dewasa (Gambar 5.4). Vegetasi sedang
(homogen).
37
Gambar 4.4 Subsatuan tubuh sungai di Sungai Wosi,
Lensa menghadap Barat Daya
[Link] Pola Aliran
Menurut Howard (1967), pola pengaliran didefinisikan sebagai suatu
kumpulan dari alur-alur sungai pada suatu daerah tanpa mempedulikan apakah
alur-alur tersebut merupakan alur yang permanen (permanent stream).
Pola pengaliran daerah penelitian, dapat dilihat dari observasi lapangan serta
interpretasi topografi yang telah dilakukan dan kemudian dilakukan pencocokan
dan pendekatan model pengaliran menurut klasifikasi dari Howard (1967), maka
disimpulkan bahwa lokasi penelitian memiliki 2 pola aliran yaituPola aliran
subparallel dan pola aliran subdendritik. (Gambar 4.5).
[Link].1 Pola Aliran Subparallel
Pola aliran subparallel dicirikan oleh kelompok sungai-sungai dan cabang-
cabangnya memperlihatkan aliran yang memanjang dengan arah relatif sama
sehingga kenampakannya berupa sungai-sungai lurus dan saling berjajar yang
menimbulkan kesan pararel. Pola aliran subparalel ini dikontrol oleh struktur
geologi dan kemiringan topografi daerah penelitian.
[Link].2 Pola Aliran Subdendritik
Pola aliran subdendritik berbentuk serupa dengan cabang-cabang pohon dan
cabang-cabang sungai (anak sungai) berhubungan dengan sungai induk
membentuk sudut-sudut yang runcing. Biasanya terbentuk pada batuan yang
homogen dan telah mengalami pelapukan.
38
Subdendritik
Sub parallel
Gambar 4.5 Pola aliran sungai daerah penelitian
[Link] Stadia Sungai Daerah Penelitian
Stadia sungai yang terdapat pada daerah penelitian yaitu sungai dengan
stadia muda menuju dewasa. Stadia muda dicirikan oleh arus sungai masih deras
dan lembah sungai berbentuk “V”, sebagai salah satu contohnya yaitu sungai yang
terdapat di Wosi dengan litologi yang didominasi oleh Batulumpur Gampingan,
Batugamping dan Batupasir. Sedangkan, stadia dewasa dicirikan dengan arus
sungai sedang dan lembah sungai berbentuk “U” yang dapat dilihat pada bagian
Utara ke tenggara peta khusunya pada sungai Pami yang didominasi litologi
Batulempung Karbonatan (Mudstone)
Gambar 4.6 Stadia sungai wosi, Lensa menghadap barat daya
39
Gambar 4.7 Stadia sungai Pami, Lensa menghadap timur laut
[Link] Stadia Daerah Penelitian
Stadia daerah merupakan gambaran dari kondisi suatu daerah, bagaimana
daerah itu telah mengalami perubahan morfologi dari morfologi aslinya. Tingkat
kedewasaan suatu daerah dapat ditentukan dengan melihat keadaan bentang alam
dan stadia sungai yang terdapat di daerah tersebut. Pembentukan morfologi suatu
daerah biasanya dikontrol oleh beberapa faktor seperti struktur geologi, litologi,
dan proses geomorfologi, baik berupa proses endogen maupun eksogen. Lobeck
(1939), mengelompokkan stadia daerah menjadi 4 (Gambar 5.6), yaitu:
1. Stadia muda
2. Stadia dewasa
3. Stadia tua
4. Stadia muda kembali
40
Gambar 4.8 Stadia daerah menurut Lobeck (1939), sebagai model pedekatan
penentuan stadia sungai di daerah penelitian.
Berdasarkan data-data observasi lapangan yang dikumpulkan serta dengan
menganalisis morfologi dan pola pengaliran menggunakan peta topografi maka
dapat disimpulkan bahwa daerah penelitian berada pada stadia muda ke tua.
4.1.2 Stratigrafi Daerah Penelitian
Daerah penelitian termasuk dalam Tiga formasi yang di urutkan dari tua
ke muda yaitu: Formasi Befoor (TQb) dan Formasi Manokwari (Qpm) dan
Endapan Elluvium dan litoral (Qa).
[Link] Formasi Befoor (TQb)
Daerah penelitian terdapat tiga satuan batuan yang teridentifikasi sebagai
bagian dalam formasi Befoor (TQb), yaitu ; satuan batulempung karbonat, satuan
batupasir dan satuan batupasir feldspar gampingan.
41
[Link].1 Satuan batulempung karbonat (mudstone)
a. Ciri Litologi
Satuan batulempung karbonat secara megaskopis dicirikan dengan warna
segar abu-abu, struktur berlapis sampai laminasi, ukuran butir lempung sampai
membutir, fragmen fosil. Secara petrografis, berwarna abu-abu kehitaman, tekstur
klastik, bentuk butir menyudut tanggung-membulat tanggung, butiran
mengambang dalam masa dasar mineral lempung dan lumpur karbonat.
Komposisi mineral berupa kalsit (12%), fosil (8%), feldspar (4%), kuarsa (2%),
opak (2%), mineral lempung (35%), dan mineral lempung karbonat (35%).
Gambar 4.9. Singkapan batulempung karbonat (Mud Stone) pada LP 48 dan LP 49
Gambar 4.10 Sayatan petrografi batulempung karbonat (Mud Stone)
42
b. Penyebaran dan ketebalan
Satuan ini tersebar ± 80 % dari lokasi penelitian dan berada dibawah satuan
batupasir dan satuan batugamping, satuan ini memiliki ketebalan yang tersingkap
pada permukaan ± 7 meter dilapangan dan kedalaman > 100 meter dihitung dari
ketinggian kontur. Penyebaran menempati wilayah utra, timur, selatan dan barat
dari lokasi penelitian.
c. Umur dan lingkungan pengendapan
Umur pada satuan ini adalah Pliosen dan diendapkan atau tempat
terbentuknya pada lingkungan Neritik.
d. Hubungan Stratigrafi
Hubungan stratigrafi antara satuan batulempung karbonat (TQb) dan satuan
batugamping terumbu (Qpm) adalah selaras.
[Link].2 Satuan Batupasir Feldspar (feldspatic arenit) gampingan
a. Ciri Litologi
Secara megaskopis batupasir feldspar dicirikan dengan warna segar abu-abu
dan warna lapuk coklat muda sampai coklat tua, struktur berlapis laminasi, ukuran
butir pasir sangat halus (1/8-1/16mm) sampai pasir sedang (1/2-1/8mm). Secara
mikroskopis batuan sedimen, warna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik, bentuk
butir menyudut-membulat tanggung. Komposisi mineral yaitu feldspar (26%),
kalsit (16%), intraklas (12%), fosil (10%), kuarsa (8%), fragmen batuan (8%),
opak (4%), dan lempung karbonat (16%),
43
Gambar 4.11 Singkapan Batupasir feldspar pada LP 06 lokasi Sungai wosi
Gambar 4.12 Singkapan Batupasir feldspar pada LP 65 lokasi bukit soribo
b. Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini menempati ± 31,3% dari total luas daerah penelitian, satuan ini
memiliki ketebalan lebih dari 10 meter di lapangan dan ± 100 meter diukur dari
penampang geologi A-B. Penyebaran menempati wilayah utara, barat dan selatan
dari lokasi penelitian.
c. Umur dan lingkungan pengendapan
Umur pada satuan ini adalah Miosen akhir sampai Pliosen awal dan
diendapkan atau tempat terbentuknya pada lingkungan Tepi.
d. Hubungan stratigrafi
Hubungan stratigrafi antara satuan Batugamping Terumbu dan satuan
Batulempung Karbonat adalah selaras.
[Link].3 Satuan batupasir Sangat Kasar
a. Ciri Litologi
Satuan batupasir sangat kasar secara megaskopis warna coklat muda-tua
dengan ukuran butir 1/8-2mm, matrik batupasir halus, fragmen kerakal, berlapis–
laminasi, kemas terbuka porositas baik-sedang, ukuran butir umumnya membulat
44
Tangguh, kandungan mineral berupa kuarsa, zircon, muskovit dan pirit. pada
lokasi pengamatan 16 menunjukan kedudukan N360°/27°E. Kondisi dilapangan
umumnya lapuk dan mudah lepas satuan ini tersingkap di atas satuan batupasir
feldspar gampingan (feldspatic arenit) dan batulempung karbonat (Mudstone).
Gambar 4.12 Kandungan Mineral dan Fragmen
Gambar 4.13 Struktur berlapis dan laminasi pada satuan batupasir Sangat kasar
45
b. Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini menempati ± 8,2% dari total luas daerah penelitian, satuan ini
memiliki ketebalan ketebalan lebih dari 7 meter di lapangan dan ± 40 meter
diukur dari ketinggian kontur. Penyebaran menempati wilayah barat laut, timur
laut sampai tenggara dari lokasi penelitian
c. Umur dan lingkungan pengendapan
Umur pada satuan ini adalah Pliosen sampai Quarter dan diendapkan atau
tempat terbentuknya pada lingkungan Tepi.
d. Hubungan stratigrafi
Hubungan stratigrafi antara satuan batupasir dan satuan batulumpur karbonat
adalah selaras.
[Link] Formasi Manokwari (Qpm)
Dalam Formasi Manokwari didaerah penelitian tersusun dari batugamping
terumbu dan batugamping kalsirudit.
[Link].1 Satuan Batugamping terumbu
a. Ciri Litologi
Satuan batugamping terumbu secara megaskopis dilapangan dicirikan
dengan warna segar putih dan warna lapuk putih kecoklatan, fragmen terumbu,
koral, cangkang, moluska, tekstur klastik.
46