0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Hubungan Asupan Makan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara asupan makanan dan kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil di Puskesmas Prambanan, Kabupaten Sleman, dengan prevalensi KEK mencapai 18,03%. Meskipun sebagian besar responden memiliki asupan gizi yang kurang, analisis menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak dengan KEK (p > 0,05). Penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman gizi seimbang untuk mencegah KEK di kalangan ibu hamil.

Diunggah oleh

naurareski1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Hubungan Asupan Makan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara asupan makanan dan kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil di Puskesmas Prambanan, Kabupaten Sleman, dengan prevalensi KEK mencapai 18,03%. Meskipun sebagian besar responden memiliki asupan gizi yang kurang, analisis menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak dengan KEK (p > 0,05). Penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman gizi seimbang untuk mencegah KEK di kalangan ibu hamil.

Diunggah oleh

naurareski1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Borneo Nursing Journal (BNJ)

Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054


[Link] E-ISSN: 2654-8453

Hubungan Asupan Makan Dengan Kejadian Kekurangan Energi


Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja
Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman
Ria Munica 1, Ririn Wahyu Hidayati 2, Kurnia Mar’atus Solichah 3
1,2,3
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Email: riamunica17@[Link]

Abstrak

Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan masalah gizi yang berdampak serius terhadap
kesehatan ibu dan janin, serta berkontribusi terhadap kejadian stunting sejak masa kehamilan. Menurut Survey
Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilakukan pada tahun 2023 terungkap bahwa prevalensi KEK ibu hamil
mencapai 16,9%, prevalensi ini masih melebihi target nasional (<10%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak dengan KEK pada ibu hamil di wilayah kerja
Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman. Penelitian ini merupakan penelitian sekunder dengan populasi
sebanyak 345 ibu hamil yang tercatat di Puskesmas Prambanan. Dari populasi tersebut, diambil sampel sebanyak
61 orang ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling dengan bantuan aplikasi Spin
Wheel (Random Name Picker). Data mengenai status KEK dan asupan makan diperoleh dari rekap konsultasi gizi
di Puskesmas Prambanan. Selanjutnya, data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan uji Fisher Exact
untuk mengetahui hubungan antara asupan makan dan kejadian KEK. Hasil uji hubungan yang menggunakan
Fisher Exact menunjukkan prevalensi KEK sebesar 18,03%. Sebagian besar responden memiliki asupan energi,
protein, karbohidrat, dan lemak yang kurang. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keempat
jenis asupan tersebut dengan kejadian KEK (p > 0,05).

Kata kunci: Kekurangan Energi Konis (KEK), Ibu Hamil, Asupan Makan

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women is a nutritional problem that has serious implications for
the health of both the mother and the fetus, and contributes to stunting during pregnancy. According to the
Indonesian Health Survey (SKI) conducted in 2023, the prevalence of CED in pregnant women reached 16.9%,
which is still above the national target (<10%). This study aims to investigate the relationship between energy,
protein, carbohydrate, and fat intake and CED in pregnant women in the service area of the Prambanan Health
Center, Sleman District. This is a secondary study with a population of 345 pregnant women registered at the
Prambanan Health Center. From this population, a sample of 61 pregnant women was selected using simple
random sampling with the help of the Spin Wheel (Random Name Picker) application. Data on CED status and
dietary intake were obtained from nutrition consultation records at the Prambanan Community Health Center.
Next, the collected data were analyzed using Fisher's exact test to determine the relationship between dietary
intake and the incidence of CED. The results of the Fisher's exact test showed a CED prevalence of 18.03%. Most
respondents had insufficient energy, protein, carbohydrate, and fat intake. However, there was no significant
relationship between these four types of intake and the occurrence of CED (p > 0.05).

Keywords: Chronic Energy Deficiency (CED), Pregnant Women, Food Intake

1. PENDAHULUAN
Masalah gizi di Indonesia memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas
sumber daya manusia (SDM) (Pratiwi et al., 2023). Permasalahan sedang dialami ibu hamil
terkait asupan gizi adalah kekurangan energi kronis. Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada
ibu hamil merupakan kondisi defisiensi gizi yang berlangsung lama. Biasanya ditandai dengan
ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) <23,5 cm. Ibu hamil yang mengalami KEK berkontribusi
terhadap sekitar 20% kasus stunting yang dimulai sejak masa perkembangan janin akibat
kekurangan gizi selama kehamilan, yaitu keadaan dimana tubuh tidak memperoleh asupan
nutrisi yang memadai untuk mendukung pertumbuhan dan perkembagan janin secara optimal.

695
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

Ibu hamil dengan kondisi KEK beresiko mengalami komplikasi serius, seperti kematian
perinatal, serta lebih mungkin melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
(Anggoro, 2020).
KEK pada ibu hamil di Asia mencapai 41% (Sari & Deltu, 2021 dalam Sri Lestari et.
al, 2023). KEK dapat mengakibatkan Kematian ibu hamil di Negara berkembang sesuai dengan
WHO tercatat sebesar 40% (WHO dalam Sri Lestari et. al, 2023). Berdasarkan Survei
Kesehatan Indonesia (2023), tercatat bahwa 16,9% ibu hamil di indonesia mengalami KEK. Di
tingkat provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urutan kedelapan dengan prevalensi
KEK ibu hamil sebesar 21,4% (SKI, 2023). Prevalensi ibu hamil KEK di DIY Kabupaten
Sleman pada tahun 2022 sebesar 10,60% (Dinkes, 2023). Meskipun Kabupaten Sleman
memiliki prevalensi KEK yang lebih rendah dibandingkan kabupaten lain di Yogyakarta,
namun masalah ini masih tetap menjadi perhatian karena ibu hamil yang mengalami KEK tetap
menghadapi resiko tinggi terhadap komplikasi kehamilan dan masalah kesehatan anak (Studi
et al., 2023).
KEK pada ibu hamil umumnya muncul akibat ketidakseimbangan antara asupan gizi
dan kebutuhan tubuh yang meningkat selama kehamilan (Iskandar et al., 2022). Peningkatan
kebutuhan gizi ibu dan janin selama dalam kandungan membuat ibu hamil menjadi salah satu
kelompok rawan kekurangan gizi. Selain itu peningkatan kebutuhan selama kehamilan
merupakan adanya peningkatan metabolisme energi dan zat gizi pada ibu hamil (Putri &
Salsabila, 2023).
Kondisi KEK berpengaruh terhadap kesehatan ibu maupun janin, misalnya
meningkatkan risiko anemia, persalinan premature, BBLR, hingga kematian bayi baru lahir
(Putri & Salsabila, 2023). Asupan gizi dan non-gizi saat kehamilan berperan penting dalam
menunjang pertumbuhan serta perkembangan janin, pembesaran organ reproduksi, perubahan
tubuh, dan aktivitas metabolisme ibu (Kusumawati et al., 2022). Maka dari itu bayi yang lahir
dari ibu dengan KEK memiliki resiko 1,6% lebih tinggi mengalami pertumbuhan terhambat di
bandingkan bayi yang lahir dari ibu tanpa KEK (Hidayatullah et al., 2024).
Hasil studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, prevalensi KEK ibu
hamil tahun 2024 tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Prambanan sebanyak 21,56%,
Berbah 20,96%, Pakem 20,32%, Depok I 17,91%, Gamping II 15,79%. Berdasarkan data
Kemenkes RI (2021) dalam Indikator Kinerja Program Kesehatan Masyarakat, target yang
ingin dicapai pada akhir tahun 2024 adalah menurunkan persentase ibu hamil dengan KEK
hingga 10%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kondisi KEK pada ibu hamil di wilayah
kerja Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman, belum memenuhi target tersebut (Kemenkes
RI, 2021). Hal tersebut bisa saja terjadi karena kurangnya asupan makan dan konsumsi
makanan bergizi selama kehamilan, bersamaan dengan kurangnya pengetahuan ibu mengenai
praktik diet optimal untuk memastikan nutrisi yang cukup selama kehamilan (Hidayatullah et
al., 2024).
Hasil studi pendahuluan Puskesmas Prambanan, didapatkan tentang pola konsumsi ibu
hamil yang dilihat dalam buku register kunjungan konsultasi menunjukan dari 5 Pasien ibu
hamil yang berkunjung di Puskesmas Prambanan memiliki asupan energi, protein , karbohidrat
masing – masing <70%. Sedangkan pada asupan lemak sebanyak 1 pasien memiliki asupan
yang baik/normal yaitu 90-119% dan 1 pasien memiliki kategori asupan defisit ringan yaitu 80-
89%. 1 dari 5 pasien mengalami penurunan nafsu makan dan mengalami mual dan muntah
sehingga mempengaruhi asupan makannya. Untuk mengantisipasi masalah KEK Puskesmas
Prambanan juga memiliki program untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil terutama dalam
hal asupan makan dan penanganan KEK Puskesmas Prambanan telah melakukan berbagai
upaya seperti melakukan program pemberian makanan tambahan (PMT). Puskesmas
memberikan PMT untuk ibu hamil dengan KEK, Menggunakan bahan lokal dan dilakukan
secara rutin yang diberikan selama 120 hari. PMT dilaksanakan di posyandu, fasyankes, kelas

696
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

ibu hamil, atau melalui kunjungan rumah oleh kader/mitra/nakes. PMT diberikan kepada ibu
hamil yang mengalami KEK biasanya diukur menggunakan LILA ≤23,5 cm, dan ibu hamil
KEK yang memiliki indeks masa tubuh atau pra hamil sebesar <18,5 cm. Selain PMT pihak
Puskesmas juga melakukan upaya penanganan KEK dengan melakukan Edukasi Gizi tentang
pentingnya gizi seimbang selama kehamilan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi asupan makan ibu hamil sangatlah kompleks. Hal
ini didukung pada penelitian Harahap et al., (2019) yang menyatakan ada hubungan yang
signifikan antara asupan makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil (Harahap et al., 2019).
Nuryanti mencatat bahwa kekurangan gizi yang berlangsung lama dapat menyebabkan KEK,
yang berpotensi mengganggu kesehatan ibu dan bayi (Nuryanti, 2022). Penelitian lain oleh
Afrianti (2024) menunjukan asupan energi dan lemak tidak signifikan memiliki hubungan
dengan KEK sedangkan asupan protein, karbohidrat, pola makan dan pengetahuan memiliki
hubungan yang signifikan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas
Galengso Utara Tahun 2024 (Afrianti, 2024). Selain itu Penelitian Ikhtitami et al. (2021) juga
menemukan bahwa pola makan yang tidak seimbang berhubungan langsung dengan kejadian
KEK pada ibu hamil, terutama pada trimester pertama kehamilan (Ikhtirami et al., 2021). Selain
itu Penelitian oleh Kadmaerubun et al. (2023) juga menunjukkan bahwa pola makan yang buruk
dan asupan gizi yang tidak mencukupi merupakan faktor penyebab KEK yang signifikan di
Puskesmas Kolser, yang dapat menjadi gambaran bagi situasi di Puskesmas Prambanan
(Kadmaerubun et al., 2023). Kemudian Pada literature review Sofiyanti et al., (2022) juga
menunjukan bahwa ibu hamil yang menderita KEK mengalami asupan karbohidrat
yang kurang. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman tentang gizi seimbang dan pola
makan yang sehat untuk mencegah KEK di kalangan ibu hamil (Sofiyanti et al., 2022).
Berdasarkan uraian diatas bahwa salah satu penyebab terjadinya KEK yaitu tingkat
asupan makan yang tidak tercukupi. Hubungan antara asupan makan dan kejadian KEK pada
ibu hamil di Puskesmas Prambanan, Kabupaten Sleman menunjukkan bahwa perhatian
terhadap gizi dan pola makan yang baik sangat penting. Maka dari itu Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis hubungan antara asupan makan (energi, protein, lemak, karbohidrat))
dengan kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Prambanan. Melalui
pemahaman tentang kejadian KEK ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi intervensi
gizi yang lebih efektif untuk meningkatkan status gizi ibu hamil dan mencegah masalah KEK
serta guna mendukung upaya intevensi gizi yang tepat sasaran

2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian sekunder, yaitu jenis penelitian yang memanfaatkan
data yang telah tersedia sebelumnya, bukan data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti.
Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 345 ibu hamil yang melakukan kunjungan ke wilayah
kerja Puskesmas Prambanan pada periode Juni hingga Desember 2024. Dari seluruh data yang
tersedia, terdapat 306 data ibu hamil yang lengkap dan 39 data yang tidak lengkap. Penentuan
jumlah sampel menggunakan rumus Lemeshow untuk populasi yang diketahui, dan hasil
perhitungannya ditambah 10% sebagai koreksi, sehingga diperoleh total 61 responden.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling, yaitu metode
pemilihan secara acak di mana setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk
terpilih. Peneliti menggunakan aplikasi Random Name Picker (Wheel of Names) untuk memilih
responden berdasarkan nama secara acak. Seluruh data diperoleh dari register konsultasi gizi
yang tersedia di Puskesmas Prambanan, dengan izin resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Sleman. Penelitian ini juga telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dengan nomor: 4550/KEP-UNISA/VI/2025. Pada penelitian
ini, variabel dependen yang digunakan adalah Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu
hamil, yang ditentukan berdasarkan hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Sementara

697
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

itu, variabel independen dalam penelitian ini mencakup data asupan energi, karbohidrat,
protein, dan lemak. Keempat variabel tersebut dihitung berdasarkan persentase kecukupan
terhadap kebutuhan gizi masing-masing individu yang diperoleh dari hasil recall makanan 24
jam. Analisis dalam penelitian ini yaitu analisis univariat yang digunakan untuk melihat
distribusi frekuensi, dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel dengan
menggunakan uji Fisher’s Exact Test.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis Univariat
Adapun Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan data yang dilakukan pada
tiap variabel dari hasil penelitian. Variabel yang di analisis dengan menggunakan analisis
Univariat adalah Asupan Karbohidrat, Protein, Lemak, Energi dan Kejadian KEK. Hasil
analisis univariat yang telah dilakukan pada 61 responden dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik ibu hamil


Karakteristik n %
Usia Ibu
<20 Tahun 3 4,92
20 – 35 Tahun 46 75,41
> 35 Tahun 12 19,67
Usia Kehamilan
TM I 42 68,85
TM II 14 22,95
TM III 5 8,20
Total 61 100

Berdasarkan tabel 1, tentang distribusi karakteristik ibu hamil, hasil penelitian


menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia antara 20 - 35 tahun, dengan jumlah 75,41%.
Sementara itu, terdapat 4,92% responden yang berusia < 20 tahun, dan 19,67% responden
berusia >35 tahun. Sedangkan dari sisi usia kehamilan sebagian besar ibu hamil berada pada
trimester I, yaitu sebanyak 68,85%, diikuti oleh trimester II dengan ibu hamil sebanyak 22,95%,
dan trimester III sebanyak 8,20%.
Usia ibu hamil merupakan salah satu faktor risiko terjadinya KEK, Kehamilan yang
terjadi pada usia terlalu muda ataupun terlalu tua sama-sama memiliki resiko yang buruk bagi
kesehatan ibu dan janin. Usia 20-35 tahun merupakan masa yang paling baik bagi wanita untuk
merencanakan kehamilan, karena kondisi fisik dan mental pada rentang usia tersebut sudah
matang dan sangat mendukung untuk menghadapi kehamilan dengan sehat dan optimal (Fitri
et al., 2022). Usia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun dapat menimbulkan masalah
kesehatan pada kehamilan. Hal ini disebabkan pada usia di bawah 20 tahun, seorang wanita
masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhan asupan gizi juga berfokus pada
perkembangan dirinya sendiri. Jika kehamilan terjadi pada usia ini, kebutuhan zat gizi untuk
pertumbuhan ibu akan bersaing dengan kebutuhan janin, sehingga berisiko menyebabkan
kekurangan gizi. Sementara itu, kehamilan pada usia lebih dari 35 tahun dapat berdampak pada
status gizi ibu karena pada kelompok usia ini, kondisi kesehatan cenderung menurun.
Penurunan ini berpotensi mengganggu penyerapan dan penyaluran zat gizi dari ibu ke janin
melalui plasenta (Fitri et al., 2022).
Trimester I merupakan periode organogenesis karena merupakan tahap awal
perkembangan embrio dan organ – organ penting janin (Gernand et al., 2016). Pada tahap ini,
mulai terbentuk organ-organ penting yang berfungsi untuk pertukaran nutrisi serta pembuangan
zat sisa antara ibu dan janin, yang selanjutnya mendukung pertumbuhan dan perkembangan

698
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

janin hingga 28 minggu ke depan. Selain itu, masa ini juga menjadi periode sensitif terjadinya
pemrograman nutrisi janin, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kondisi kesehatan,
metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan individu sepanjang hidupnya (Mutare et al.,
2025). Pada fase ini terdapat beberapa zat gizi mikro yang penting selama kehamilan salah
satunya adalah zat besi, yodium, vitamin A, seng (Zn), dan asam folat. Pemenuhan kebutuhan
zat gizi pada ibu hamil sangatlah penting, karena selama masa kehamilan, janin yang sedang
berkembang memerlukan asupan gizi untuk proses pembentukan organ dan tulang. Selama
berada dalam kandungan, satu-satunya sumber nutrisi janin berasal dari ibu melalui plasenta.
Darah ibu yang mengandung oksigen dan zat gizi akan diserap oleh janin guna mendukung
pertumbuhannya. Oleh karena itu, untuk mencegah kekurangan gizi pada ibu maupun janin, ibu
hamil perlu mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang (Pmb Yuliyanti et al., 2022).
Pada trimester I ibu hamil biasanya mengalami mual dan muntah yang dapat
menyebabkan penurunan nafsu makan dan asupan nutrisi yang buruk. Kondisi ini umumnya
dipicu oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan Human Crorionic Gonadotropin (HCG)
yang berperan dalam menimbulkan rasa mual dan muntah tersebut, sehingga jika berlangsung
berlebihan dapat menyebabkan KEK dan anemia ( Yusiana, 2021 dalam Afrianti, 2024).
Langkah adaptasi pola makan dan nutrisi bagi ibu hamil yang mengalami mual dan muntah
sangat diperlukan untuk menekan keluhan tersebut sekaligus memastikan kecukupan asupan
gizi. Salah satu strategi yang direkomendasikan adalah mengonsumsi makanan dalam jumlah
kecil, namun lebih sering, guna menjaga kadar gula darah tetap seimbang dan mencegah perut
kosong yang dapat memperparah rasa mual. Selain itu, sebaiknya memilih makanan yang
mudah dicerna dan menghindari konsumsi makanan berat seperti makanan berlemak,
berminyak, ataupun pedas karena dapat memperburuk gejala mual dan muntah yang dialami
(Herien, 2024)
Kekurangan energi kronis pada trimester I dapat menyebabkan keguguran, kematian
bayi pada masa newborn, dan cacat bawaan pada janin. Karena pada tahap ini organ-organ janin
mulai terbentuk, asupan energi yang kurang akan mengganggu proses tersebut sehingga
berisiko fatal (Alyssa Atikah Putri and Shella Salsabila, 2023). Sedangkan pada TM II KEK
menyebabkan anemia (kadar hemoglobin <11 g/dl), penurunan berat badan ibu, dan kelemahan
fisik. Pada TM III, ibu dengan KEK dan anemia risiko morbiditasnya lebih tinggi, yang
berdampak pada proses persalinan sulit, persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR),
hingga kematian saat melahirkan serta pendarahan pasca persalinan yang lama karena kondisi
ibu yang lemah (RSIA kemang, 2025).

Tabel 2 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik ibu hamil


Karakteristik n %
Asupan Karbohidrat
Cukup (≥ 90%) 6 9,84
Kurang (<90%) 55 90.16
Asupan Protein
Cukup (≥ 90%) 4 6,56
Kurang (<90%) 57 93,44
Asupan Lemak
Cukup (≥ 90%) 24 39,34
Kurang (<90%) 37 60,66
Asupan Energi
Cukup (≥ 90%) 6 9,84
Kurang (<90%) 55 90.16
Total 61 100

699
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

Berdasarkan tabel 2, tentang distribusi frekuensi asupan makan, mayoritas responden


menunjukkan asupan karbohidrat, protein, lemak, dan energi yang kurang, di mana untuk
asupan karbohidrat, 90,16% asupan kurang, sedangkan 9,84% memiliki asupan cukup. Dalam
hal asupan protein, 93,44% mengalami kekurangan, dengan hanya 6,56% yang cukup. Untuk
asupan lemak, 60,66% memiliki asupan yang kurang, sementara 39,34% cukup. Dan Terakhir
90,16% memiliki asupan energi yang tidak mencukupi, dan hanya 9,84% yang memiliki asupan
energi cukup.
Asupan makan dalam penelitian ini diperoleh dari data hasil konsultasi gizi yang tercatat
di register Puskesmas Prambanan. Data tersebut berupa hasil recall makanan 24 jam yang telah
dikumpulkan dan dihitung sebelumnya oleh petugas gizi. Dari data tersebut, dihitung jumlah
asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak harian ibu hamil, kemudian dibandingkan
dengan kebutuhan gizi individu. Selain itu, Perhitungan kebutuhan energi dasar dilakukan
dengan menggunakan rumus Broca modifikasi untuk mendapatkan Berat Badan Ideal (BBI),
kemudian dihitung Angka Metabolisme Basal (AMB) dengan rumus 0,95 × BBI × 24. Nilai
tersebut selanjutnya dikalikan dengan faktor aktivitas fisik sebesar 1,7, sesuai dengan standar
yang diterapkan di Puskesmas Prambanan. Kebutuhan energi ibu hamil dihitung dengan
menambahkan energi sesuai trimester, yakni 180 kkal/hari pada trimester I serta 300 kkal/hari
pada trimester II dan III. Di Puskesmas Prambanan, proporsi zat gizi makro ditetapkan 65%
karbohidrat, 15% protein, dan 20% lemak dari total energi, tanpa penambahan khusus pada tiap
zat gizi melainkan langsung dibagi berdasarkan persentase tersebut.
Berdasarkan hasil analisis Asupan karbohidrat yang kurang tercatat 90,16% ibu hamil,
sementara 9,84% ibu hamil memiliki asupan cukup. Hal tersebut menunjukan bahwa sebagian
besar ibu hamil memiliki asupan karbohidrat yang kurang. Karbohidrat merupakan sumber
energi utama yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil dan janin. Zat gizi ini berperan dalam
mendukung proses tumbuh kembang janin serta membantu peningkatan berat badan baik pada
ibu maupun janin. Kekurangan atau ketidakseimbangan dalam asupan karbohidrat dapat
meningkatkan risiko terjadinya kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil (Marlenywati,
2019 dalam Afrianti, 2024).
Pada asupan protein terdapat 93,44% ibu hamil memiliki asupan protein kurang dan
6,56% ibu hamil yang mencukupi kebutuhan proteinnya. Protein memiliki peran yang sangat
penting dalam tubuh manusia di antaranya sebagai sumber energi setelah glikogen serta
berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biokimia. Bagi ibu hamil, protein sangat
dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin, pembentukan plasenta,
jaringan payudara, serta peningkatan volume darah. Oleh karena itu, kecukupan asupan protein
selama kehamilan sangat penting, karena kekurangan protein dapat memberikan dampak
negatif dan dalam jangka panjang dapat mengganggu proses metabolisme tubuh (Almatsier,
2009 dalam Intan et al., 2024).
Porsi asupan lemak terlihat sedikit lebih seimbang dibandingkan zat gizi lainnya, yakni
60,66% ibu hamil dengan asupan makan kurang dan 39,34% dengan asupan makan cukup.
Namun demikian jumlah asupan lemak yang kurang tetap lebih tinggi. Lemak berperan sebagai
sumber energi penting bagi tubuh, sekaligus mendukung proses metabolisme, perkembangan
sistem saraf janin, serta menyediakan cadangan kalori menjelang persalinan (Dewi et all.,
2021). Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi asupan lemak sebanyak 20% dari kebutuhan
(Suharyati et al., 2019). Beberapa pilihan sumber lemak sehat yang baik meliputi minyak
zaitun, alpukat, selai kacang, ikan berlemak, mentega yang berasal dari sapi yang diberi pakan
rumput, serta produk susu tinggi lemak. Jenis lemak sehat yang kaya akan omega-3 sangat
penting untuk mendukung perkembangan otak bayi setelah dilahirkan (SaThierbach et al.,
2022).
Sementara pada asupan energi menunjukan 90,16% ibu hamil memiliki asupan energi
kurang dan hanyak 9,84% ibu hamil memiliki asupan cukup. Asupan energi kurang dari

700
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

kebutuhan dalam jangka waktu yang lama akan menghambat pertumbuhan, bahkan mengurangi
cadangan energi dalam tubuh hingga terjadi keadaan kurang gizi (KEK) (Al Faiqoh et all.,
2018).

Tabel 3. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik ibu hamil


Karakteristik n %
Status Gizi
KEK (<23,5 cm) 11 18,03
Tidak KEK (≥23,5 cm) 50 81,97
Total 61 100

Berdasarkan data pada tabel 3 mengenai distribusi frekuensi kejadian KEK pada ibu
hamil, dari total 61 ibu hamil yang diteliti, sebanyak 18,03% teridentifikasi mengalami
Kekurangan Energi Kronis (KEK), sedangkan 81,97% sisanya tidak mengalami KEK.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah gizi kronis tetap ditemui di wilayah kerja
Puskesmas Prambanan, meskipun sebagian besar ibu hamil memiliki lingkar lengan atas
(LILA) yang normal. Namun, proporsi ibu hamil dengan KEK tersebut masih belum memenuhi
target indikator kinerja program kesehatan masyarakat, yang menuntut penurunan kejadian
KEK hingga ≤10% (Kemenkes RI, 2021). Penentuan KEK dilihat berdasarkan data (Lingkar
Lengan Atas) LILA untuk menilai status gizi ibu hamil. KEK adalah kondisi dimana seorang
ibu yang sedang hamil mengalami kekurangan makanan yang berlangsung dalam jangka waktu
yang lama (Anggoro, 2020). Masalah kesehatan yang muncul akibat KEK merupakan dampak
dari defisiensi gizi yang sudah berlangsung lama. Oleh karena itu asupan makanan selama masa
kehamilan harus diperhatiakan. Kejadian KEK yang terjadi pada ibu hamil merupakan kondisi
yang perlu diperhatikan karena dapat berdampak pada pertumbuhan janin, risiko persalinan
prematur, serta komplikasi kehamilan lainnya (Kemenkes RI, 2020).
KEK pada ibu hamil terjadi karena asupan energi (karbohidrat, lemak, dan protein) yang
tidak mencukupi kebutuhan tubuh dalam jangka waktu lama atau menahun. Jadi, KEK bukan
kondisi yang muncul secara singkat, melainkan akibat kurang asupan gizi yang berlangsung
terus menerus selama masa kehamilan atau bahkan sebelum kehamilan (Bawanti, 2020).
Sehingga KEK pada ibu hamil bisa terjadi selama berbulan – bulan hinga selama masa
kehamilan, tertutama jika asupan energi terus – menerus tidak mencukupi kebutuhan tubuh.

Analisis Bivariat
Analisis Bivariat dalam penelitian ini dilakukan untuk menganalisa hubungan asupan
energi, karbohidrat, protein, dan lemak dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman tahun 2024. Hasil dianalisis menggunakan uji
Fisher’s Exact. Uji Fisher’s Exact digunakan karena terdapat keterbatasan pada jumlah sampel
dan distribusi frekuensi data pada masing-masing sel tabel kontingensi yang tidak memenuhi
syarat minimum Chi-Square, yaitu minimal 5 pada setiap sel. Jumlah responden per kategori
seperti pada asupan karbohidrat, protein, lemak, dan energi sangat kecil atau terdapat kategori
yang hanya berisi sedikit individu, maka Chi-Square tidak dapat memberikan hasil analisis
yang valid.
Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 61 responden diperoleh informasi antara
asupan karbohidrat, protein, lemak dan energi sebagai variabel independen dan KEK pada ibu
hamil sebagai variabel dependen. Untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan
dependen tersebut dilakukan dengan menggunakan uji Fisher’s Exact yang dapat dilihat pada
tabel 4.

701
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

Tabel 4. Hubungan Asupan Karbohidrat, Protein, Lemak, dan Energi dengan Kejadian
KEK pada ibu hamil
Kejadian KEK
No Asupan KEK Tidak KEK Total P Value
n % n % n %
1 Asupan
Karbohidrat
Cukup 1 1,64 5 8,20 6 9,84 1,000
Kurang 10 16,39 45 73,77 55 90,16
2 Asupan
Protein
Cukup 0 0,0 4 6,56 4 6,56 1,000
Kurang 11 18,03 46 75,41 57 93,44
3 Asupan
Lemak
Cukup 5 8,20 19 31,15 24 39,34 0,738
Kurang 6 9,84 31 50,82 37 60,66
4 Asupan Energi
Cukup 1 1,64 5 8,20 6 9,84 1,000
Kurang 10 16,39 45 73,77 55 90,16

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4, diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak, dan energi) dengan
kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Prambanan. Pada asupan karbohidrat,
sebanyak 90,2% responden memiliki asupan kurang, dan 9,9% di antaranya mengalami KEK,
sementara dari 6 responden yang memiliki asupan cukup hanya 1,1% yang mengalami KEK (p
= 1,000).
Seluruh ibu hamil yang mengalami KEK juga tercatat memiliki asupan protein yang
kurang, meskipun 46,7% dari kelompok ini tidak mengalami KEK, dan hanya 3,3% responden
dengan asupan protein cukup yang tidak mengalami KEK (p = 1,000). Untuk asupan lemak,
dari 37 responden dengan asupan kurang, 6,7% mengalami KEK, sedangkan pada 24 responden
dengan asupan cukup, 4,3% mengalami KEK dan 19,7% tidak mengalami KEK (p = 0,738).
Sementara itu, pada asupan energi, sebanyak 55 responden memiliki asupan kurang dengan
9,9% di antaranya mengalami KEK, dan dari 6 responden dengan asupan energi cukup, hanya
1,1% yang mengalami KEK (p = 1,000). Seluruh hasil uji menggunakan Fisher’s Exact
menunjukkan nilai p > 0,05.
Hasil penelitian yang dilakukan pada 61 ibu hamil yang terdapat di wilayah kerja
Puskesmas Prambanan menunjukkan bahwa kejadian KEK pada ibu hamil terdapat 18,03%,
sedangkan ibu hamil yang tidak mengalami KEK jauh lebih banyak yaitu 81,97%. Sebagian
besar ibu hamil 90,16% memiliki asupan karbohidrat kurang dengan distribusi 10 ibu hamil
KEK (16,39%) dan 45 tidak KEK (73,77%), sedangkan ibu hamil yang memiliki asupan
karbohidrat cukup hanya 6 orang (9,84%) yaitu 1 dengan KEK dan 5 tidak mangalami KEK.
Pada asupan kabohidrat dapat disimpulkan bahwa ibu hamil yang mengalami KEK memiliki
asupan kurang dan hanya 1 ibu hamil yang memiliki asupan cukup. Hasil analisis menggunakan
uji Fisher’s Exact menghasilkan nilai p = 1,000 (>0,05), yang menandakan tidak ada hubungan
signifikan antara asupan karbohidrat dan kejadian KEK. Hasil ini sejalan dengan studi Dictara
et al. (2020) yang juga menemukan tidak adanya hubungan signifikan antara kedua variabel
tersebut. Dalam penelitian tersebut, meskipun sebagian besar ibu hamil memiliki asupan
karbohidrat rendah, mayoritas tidak mengalami KEK, dengan nilai p uji Fisher’s Exact sebesar
0,167. Salah satu penyebabnya adalah porsi konsumsi makanan sumber karbohidrat utama,

702
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

seperti nasi, tidak memenuhi kebutuhan harian, serta pemenuhan karbohidrat sering berasal dari
sumber pengganti seperti roti, kentang, bihun, jagung, atau ubi yang kandungan karbohidratnya
lebih rendah dibandingkan nasi (Dictara et al., 2020). Selain itu pada penelitian ini jumlah ibu
hamil yang memiliki asupan karbohidrat cukup terbilang sedikit, yaitu hanya 6 orang. Dari
kelompok ini hanya 1 orang yang mengalami KEK. Jumlah kecil ini membuat perbedaan
kejadian KEK antara kelompok dengan asupan karbohidrat kurang dan cukup menjadi terlihat
atau tidak signifikan.
Pada variabel asupan protein, hanya 4 responden (6,56%) yang memiliki kecukupan
protein, dan seluruhnya tidak mengalami KEK. Sebagian besar responden (93,44%) memiliki
asupan protein kurang, terdiri dari 11 ibu hamil KEK (18,03%) dan 46 tidak KEK (75,41%).
Hal ini menunjukkan bahwa asupan protein yang kurang belum tentu menyebabkan KEK, tetapi
seluruh ibu hamil yang mengalami KEK memiliki asupan protein kurang. Hasil uji Fisher’s
Exact Test menunjukkan nilai p=1,000 (>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan
antara asupan protein dan kejadian KEK di Puskesmas Prambanan. Hasil ini sejalan dengan
penelitian Maulinda et al. (2024) yang juga menemukan tidak adanya hubungan bermakna
antara asupan protein dan KEK pada ibu hamil, dengan nilai p yang sama. Kondisi ini diduga
karena responden lebih sering mengonsumsi sumber protein nabati seperti tahu dan tempe,
sementara protein hewani seperti jeroan, daging sapi, udang, dan kepiting jarang
dikonsumsi.(Maulinda et al.,2024).
Pada variabel asupan lemak, terdapat 24 responden (39,34%) dengan asupan cukup,
terdiri dari 5 KEK (8,20%) dan 19 tidak KEK (31,15%). Sementara itu, 37 responden (60,66%)
memiliki asupan lemak kurang, dengan 6 KEK (9,84%) dan 31 tidak KEK (50,82%).
Dibandingkan zat gizi lain, distribusi KEK dan tidak KEK pada kelompok asupan lemak
tampak lebih seimbang. Hasil uji Fisher’s Exact Test menunjukkan p=0,738 (>0,05), yang
berarti tidak ada hubungan signifikan antara asupan lemak dan KEK. Temuan ini sejalan dengan
Afrianti (2024) yang melaporkan p=0,695, serta mencatat bahwa pola konsumsi responden
kurang bervariasi dan cenderung didominasi makanan tinggi lemak seperti gorengan (Afrianti,
2024).
Pada variabel asupan energi, pola distribusi serupa dengan asupan karbohidrat. Hanya
6 responden (9,84%) yang memiliki asupan cukup, terdiri dari 1 KEK dan 5 tidak KEK.
Sebagian besar responden (90,16%) mengalami defisiensi energi, terdiri dari 10 KEK (16,39%)
dan 45 tidak KEK (73,77%). Hasil menunjukkan bahwa KEK hanya ditemukan pada kelompok
dengan asupan energi kurang, kecuali satu responden yang asupannya cukup. Uji Fisher’s Exact
Test memberikan p=1,000 (>0,05), menandakan tidak ada hubungan signifikan antara asupan
energi dan KEK. Temuan ini sejalan dengan Afrianti (2024) yang menyatakan bahwa asupan
energi tidak berhubungan signifikan dengan kejadian KEK, walaupun banyak responden KEK
memiliki asupan kurang. Selain itu penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Maulinda (2023) dengan nilai p value = 1,000 (>0,05) yang artinya tidak terdapat
hubungan anatara asupan energi dengan kejadian KEK pada ibu hamil (Maulinda et all., 2024).
Kondisi tersebut disebabkan oleh meningkatnya konsumsi makanan kaya energi dalam menu
makanan ibu hamil. Selama masa kehamilan pemenuhan kebutuhan gizi sangat penting agar
janin mendapatkan zat gizi yang memadai (Maulinda dalam Afrianti, 2024). Hasil penelitian
ini sejalan dengan Putra & Dewi (2020) dalam Dewi et al. (2021), yang menemukan tidak
adanya hubungan signifikan antara kecukupan energi dan KEK. Kondisi tersebut disebabkan
metode food recall 2x24 jam hanya menggambarkan konsumsi dalam waktu singkat, sedangkan
KEK terjadi akibat defisiensi gizi jangka panjang (Dewi et all., 2021)
Berdasarkan angka kecukupann gizi (AKG) yang direkomendasikan untuk masyarakat
Indonesia, ibu hamil pada trimester 1 memerlukan tambahan energi sebesar 180 kkal perhari,
sementara pada trimester II dan III memerlukan tambahan energi sebesar 300 kkal perhari
(Kemenkes RI, 2019). Pertambahan ini yang berperan dalam mendukung proses pertumbuhan

703
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

dan perkembangan janin (Maulinda et all., 2024). Asupan energi tidak terbukti berhubungan
langsung dengan kejadian KEK pada ibu hamil. Kodisi ini dapat terjadi karena terdapat
berbagai faktor lain seperti kondisi ekonomi, jumlah kelahiran (paritas), riwayat penyakit
infeksi, serta faktor tidak langsung misalnya budaya, jenis pekerjaan ibu, tingkat sosial
ekonomi, dan lingkungan tempat tinggal (Maulinda et al., 2024).
Secara keseluruhan, sebagian besar ibu hamil dalam penelitian ini mengalami
kekurangan asupan karbohidrat, protein, dan energi, sementara asupan lemak menunjukkan
proporsi yang sedikit lebih baik. Faktor – faktor yang mempengaruhi asupan makan ibu hamil
sangatlah kompleks. Pendapatan merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi
kualitas menu. Pendapatan yang rendah dapat membatasi kemampuan seseorang untuk
membeli bahan makanan dalam jumlah yang cukup, sehingga berdampak pada daya beli
keluarga terhadap pangan sehari-hari (Of et al., 2022). Selain itu, tingkat pengetahuan gizi ibu
yang memadai juga berperan penting dalam menentukan perilaku pemilihan makanan serta
jumlah asupan yang dikonsumsi (Pangan et al., 2024 dalam Elfiyah et al., 2021). Faktor lain
yang memengaruhi adalah jarak kehamilan; jika jarak antar kehamilan kurang dari dua tahun,
risiko KEK akan meningkat karena ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan
kondisi tubuhnya (Hasyim et al., 2023 dalam Husada et al., 2020). Penyakit infeksi juga dapat
menjadi penyebab, karena menghambat proses penyerapan zat gizi dalam tubuh, sehingga
asupan yang dikonsumsi ibu hamil tidak mampu memenuhi kebutuhan selama masa kehamilan
(Hasyim et al., 2023).
Analisis statistik pada penelitian ini menunjukkan bahwa keempat jenis asupan tersebut
tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian KEK, yang kemungkinan
dipengaruhi oleh keterbatasan instrumen yang digunakan. Penelitian ini mengukur asupan
makan dengan metode food recall 1×24 jam, yang hanya merepresentasikan pola konsumsi
dalam periode sangat singkat. Padahal, KEK adalah kondisi gizi kronis yang berkembang dalam
jangka waktu lama. Instrumen alternatif seperti Food Frequency Questionnaire (FFQ) dapat
memberikan gambaran yang lebih komprehensif, karena mencatat frekuensi konsumsi berbagai
jenis makanan dalam periode lebih panjang, misalnya satu bulan atau satu tahun. Penggunaan
FFQ memungkinkan identifikasi pola makan, variasi sumber pangan, serta potensi kekurangan
gizi yang tidak terdeteksi oleh recall harian (Asyari, 2019)
Selain itu, variasi data antara kelompok KEK dan tidak KEK yang tidak seimbang
membuat distribusi kurang bervariasi, sehingga sulit mendeteksi perbedaan yang signifikan
secara statistik. Kondisi ini dapat memengaruhi kekuatan uji statistik yang digunakan. Untuk
penelitian selanjutnya, desain case-control dapat dipertimbangkan karena mampu
membandingkan langsung kelompok kasus (ibu hamil dengan KEK) dan kelompok kontrol (ibu
hamil tanpa KEK), kemudian menelusuri perbedaan pola makan atau faktor risiko lain yang
mungkin berkontribusi. Pendekatan ini efektif untuk mengevaluasi hubungan antara paparan
jangka panjang, seperti pola makan, dengan kejadian KEK, terutama pada kondisi yang jarang
atau berkembang dalam waktu lama. Case-control juga memungkinkan pengendalian variabel
perancu, misalnya usia kehamilan atau status gizi awal, sehingga hubungan yang diamati
menjadi lebih jelas (Universitas Dian Nuswantoro, n.d.)
Pada variasi karakteristik responden dalam penelitian ini lebih menonjol pada usia
kehamilan TM I dibandingkan faktor lainnya. Usia kehamilan memengaruhi kebutuhan gizi
pada TM I kebutuhan tambahan energi hanya sekitar 180 kkal/hari, sedangkan pada TM II dan
III meningkat menjadi sekitar 300 kkal/hari. Jika mayoritas responden berada pada trimester
yang berbeda, maka perbedaan kebutuhan ini menjadi tidak terlihat jelas dalam analisis,
sehingga hubungan antara asupan dan KEK sulit teridentifikasi. Secara biologis pada trimester
I kehamilan, ibu hamil umumnya mengalami gejala mual dan muntah atau yang dikenal sebagai
emesis gravidarum. Mual muntah pada ibu hamil di trimester I dapat menyebabkan nafsu makan
menurun dan asupan zat gizi yang kurang sehinga beresiko terhadap status gizi ibu yang kurang

704
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

dan komplikasi kehamilan (Efrizal, 2021 dalam Aryasih et all., 2022). Status gizi ibu selama
masa kehamilan dapat dinilai melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) serta
peningkatan berat badan selama kehamilan (Tyagi et al., 2017 Aryasih et all., 2022). Ibu hamil
dengan ukuran LILA < 23,5 cm berisiko lebih tinggi mengalami KEK, yang menunjukkan
adanya kondisi kekurangan gizi yang berlangsung dalam waktu lama (Aryasih et all., 2022).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu hamil yang tidak KEK memiliki
asupan makan yang kurang. Hal ini kemungkinan terjadi karena sebagian besar ibu hamil dalam
penelitian ini memiliki ukuran LILA yang mendekati ambang batas normal. Ketika mereka
mengalami mual dan muntah (emesis gravidarum) di trimester pertama, nafsu makan jadi
menurun, sehingga asupan makan juga ikut berkurang. Akibatnya, berat badan dan LILA pun
bisa ikut turun, dan akhirnya membuat ibu hamil lebih berisiko mengalami KEK. Jadi,
meskipun awalnya ukuran tubuh ibu terlihat normal, jika mual muntah terus berlangsung dan
asupan tidak cukup, bisa berdampak pada status gizinya.
Selain faktor fisiologis, usia ibu juga berperan penting. Kehamilan pada usia terlalu
muda atau terlalu tua sama-sama berisiko menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan ibu
maupun janin (Fitri et al., 2022). Selain itu, faktor seperti kondisi tubuh awal ibu (misalnya
ukuran LILA), usia kehamilan, serta gejala mual muntah pada trimester awal juga turut
memengaruhi status gizi selama kehamilan. Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa status
gizi ibu hamil tidak hanya dipengaruhi oleh asupan makan saja, tetapi juga oleh berbagai faktor
lain yang saling berkaitan dan dapat memperburuk atau memperbaiki kondisi gizi ibu selama
masa kehamilan. (Fitri et al., 2022) (Hilmi et all., 2018).

4. KESIMPULAN
Penelitian terhadap 61 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Prambanan, Kabupaten
Sleman, menunjukkan prevalensi Kekurangan Energi Kronis (KEK) sebesar 18,03%. Sebagian
besar ibu hamil dengan KEK memiliki tingkat asupan yang rendah, baik karbohidrat (90,16%),
protein (93,44%), lemak (60,66%), maupun energi (90,16%). Hasil uji statistik memperlihatkan
tidak adanya hubungan yang signifikan antara asupan karbohidrat (p = 1,000), protein (p =
1,000), lemak (p = 0,738), dan energi (p = 1,000) dengan kejadian KEK, ditunjukkan oleh nilai
p-value yang seluruhnya > 0,05

5. DAFTAR PUSTAKA
[1] V. Pratiwi, S. Pabidang, P. Studi Kebidanan, and P. Magister Stikes Guna Bangsa
Yogyakarta, “Hubungan Antara Kejadian Kekurangan Energi Kronis (Kek) Dan Anemia
Pada Ibu Hamil Dengan Panjang Badan Lahir Pendek Di Kabupaten Sleman,” J. Ners,
vol. 7, no. 1, pp. 293–302, 2023, [Online]. Available:
[Link]
[2] S. A. Anggoro, “Hubungan Pola Makan (Karbohidrat dan Protein) Dengan Kejadian
Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil di Puskesmas Pajangan Bantul Yogyakarta,”
Nutr. J. Pangan,Gizi,Kesehatan, vol. 1, no. 2, pp. 42–48, 2020, doi:
10.30812/nutriology.v1i2.840.
[3] D. Sri Lestari, A. Saputra Nasution, and H. Anggie Nauli, “Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Kurang Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil di Wilayah
Kerja PUSKESMAS Bogor Utara Tahun 2022,” Promotor, vol. 6, no. 3, pp. 165–175,
2023, doi: 10.32832/pro.v6i3.241.
[4] Indonesian Ministry Of Health Development Policy Board, “Indonesian Health Survey
(Survei Kesehatan Indonesia) 2023,” Minist. Heal., pp. 1–68, 2023.
[5] Dinkes, “Profil Kesehatan D.I Yogyakarta 2022,” Dinas Kesehat. Yogyakarta, pp. 11–
16, 2023.
[6] P. Studi, S. Terapan, J. Kebidanan, P. Kesehatan, and K. Kesehatan, hubungan kejadian

705
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

kekurangan energi kronis ( kek ) ibu hamil dengan kejadian stunting balita usia 24-59
bulan di kabupaten sleman “ Hubungan Kejadian Kekurangan Energi Kronis ( KEK )
Ibu Hamil dengan Kejadian Stunting Balita Usia 24-59 Bulan di Kabupaten. 2023.
[7] I. Iskandar, R. Rachmawati, I. Ichsan, and W. Khazanah, “Perbaikan gizi pada ibu hamil
kekurangan energi kronis (KEK) melalui pendampingan pemberian makanan tambahan
di wilayah kerja Puskesmas Lampisang Aceh Besar,” J. PADE Pengabdi. Edukasi, vol.
4, no. 1, p. 34, 2022, doi: 10.30867/pade.v4i1.900.
[8] Alyssa Atikah Putri and Shella Salsabila, “Dampak Penyakit KEK Pada Ibu Hamil,”
Student Sci. Creat. J., vol. 1, no. 3, pp. 246–253, 2023, doi: 10.55606/sscj-
amik.v1i3.1525.
[9] D. E. Kusumawati, N. Nurwidianti, and F. Hafid, “Gambaran Asupan Makanan dan
Status Gizi pada Ibu Hamil di Huntara Kelurahan Petobo Kota Palu,” J. Bidan Cerdas,
vol. 4, no. 1, pp. 25–31, 2022, doi: 10.33860/jbc.v4i1.915.
[10] F. Hidayatullah, D. P. Andhika, W. Prasetyawan, Z. A. Rahman, P. Kd, and L. Hakim,
“Determinants of chronic energy deficiency (CED) incidence in pregnant Women : A
cross - sectional stidy in Banyumas, Indonesia,” J. narra j, pp. 1–8, 2024.
[11] Kemenkes RI, “Ditjen Kesehatan Masyarakat Tahun 2020,” Lapoporan Kinerja
Direktorat Jenderal Kesehat. Masy., pp. 1–65, 2021, [Online]. Available:
[Link]
Kinerja-Ditjen-KesmasTahun-2017_edit-29-jan-18_1025.pdf
[12] P. Nuryanti, “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kekurangan Energi
Kronik (KEK) pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja BLUD UPT Puskesmas Cibaliung
Kabupaten Pandeglang Tahun 2021,” J. Kebidanan, vol. 11, no. 2, pp. 123–133, 2022,
doi: 10.35890/jkdh.v11i2.213.
[13] N. Afrianti, “Hubungan Asupan Makan, Pola Makan dan Pengetahuan Ibu Terhadap
Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil di Puskesmas Galengsong Utara Kabupaten
Takalar,” Skripsi, 2024.
[14] A. Ikhtirami, A. S. Rahma, and A. Tihardimanto, “Hubungan Pola Makan Terhadap
Kejadian Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil Trimester I Di Wilayah Kerja
Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar,” Medula, vol. 8, no. 2, p. 7, 2021, doi:
10.46496/medula.v8i2.20622.
[15] H. S. Kadmaerubun, R. Azis, and J. Genisa, “Hubungan Pola Makan dan Asupan Gizi
Dengan Kekurangan Energi Kronik ( KEK ) Pada Ibu Hamil,” Indones. Heal. Jounal,
pp. 127–138, 2023.
[16] I. Sofiyanti, C. M. Cantika, and M. P. Koten, “Literatur Review Hubungan Asupan
Makanan dengan Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil,” Semin. Nas. dan Call
Pap. Kebidanan, vol. 1, no. 2, pp. 570–581, 2022.
[17] N. L. Fitri, S. A. Sari, N. R. Dewi, L. Ludiana, and S. Nurhayati, “Hubungan Usia Ibu
Dengan Kejadian Kek Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Ganjar Agung
Kecamatan Metro Barat Kota Metro,” J. Wacana Kesehat., vol. 7, no. 1, p. 26, 2022, doi:
10.52822/jwk.v7i1.406.
[18] A. D. Gernand, K. J. Schulze, C. P. Stewart, K. P. West, and P. Christian, “Effects and
Prevention in pregnancy worldwide: health effects and prevention,” Nat Rev Endorinol,
vol. 12, no. 5, pp. 274–289, 2016, doi: 10.1038/[Link].
[19] S. Mutare et al., “First-trimester nutrition insights from the United Arab Emirate Birth
Cohort Study (UAE-BCS): Assessment of dietary intake, micronutrient profiles, and
folic acid supplementation in Emirati Women,” J. Nutr. Sci., vol. 14, 2025, doi:
10.1017/jns.2025.11.
[20] D. Pmb Yuliyanti et al., “Penyuluhan Kesehatan Nutrisi Pada Ibu Hamil,” J. Pengabdi.
Masy. Jajama, vol. 1, no. 2, pp. 76–85, 2022.

706
Borneo Nursing Journal (BNJ)
Volume 8, Nomor 1, Tahun 2025, Halaman 695-707 P-ISSN: 2685-5054
[Link] E-ISSN: 2654-8453

[21] Y. Herien, “Konsep Mual Muntah Dalam Kehamilan,” Konsep Mual Muntah Dalam
Kehamilan, pp. 1–16, 2024.
[22] S. S. Intan, A. Rafiony, and M. Ulfa, “Gambaran Asupan Zat Gizi Makro Dan Status
Gizi Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Parit Mayor Kecamatan Pontianak Timur Kota
Pontianak,” Nutr. J., vol. 03, no. 01, pp. 8–14, 2024.
[23] A. K. Dewi, D. Dary, and R. Tampubolon, “Status Gizi dan Perilaku Makan Ibu Selama
Kehamilan Trimester Pertama,” J. Epidemiol. Kesehat. Komunitas, vol. 6, no. 1, pp. 135–
144, 2021, doi: 10.14710/jekk.v6i1.10413.
[24] K. SaThierbach et al., GIZI PADA IBU HAMIL, vol. 3, no. 1. 2022. [Online]. Available:
[Link]
cs/article-abstract/34/13/2201/4852827%0Ainternal-pdf://semisupervised-
3254828305/[Link]%0A[Link]
tp://[Link]/10.10
[25] R. B. Al Faiqoh, Suyatno, and A. Kartini, “Hubungan Ketehanan Pangan Keluarga Dan
Tingkat Kecukupan Zat Gizi Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24-59 Bulan Di
Daerah Pesisir (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang),” J.
Kesehat. Masy., vol. 6, no. 5, pp. 2356–3346, 2018, [Online]. Available:
[Link]
[26] K. Kesehatan, “Kementerian Kesehatan Indonesia,” Kota Kediri Dalam Angka, pp. 1–
68, 2020.
[27] N. W. A. Bawanti, “Asuhan Kebidanan Kehamilan Ny ‘ S ’ Dengan Kurang Energi
Kronik ( Kek ) Di Puskesmas Topore Kab . Mamuju,” Skripsi, 2020.
[28] A. A. Dictara et al., “Hubungan Asupan Makan dengan Kejadian Kurang Energi Kronis
( KEK ) pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sukaraja Kota Bandar Lampung
The Relation Between Food Intake And Chronic Energy Deficiency ( CED ) Of Pregnant
Woman In Work Area Sukaraja ’ s He,” Majority, vol. 9, no. 2, pp. 1–6, 2020, [Online].
Available:
[Link]
[29] A. Maulinda, A. Nuradhiani, and M. Hanun Siregar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Serang, “Hubungan Pendapatan, Pengetahuan, dan Asupan Makanan Terhadap
Kekurangan Energi Kronis pada Ibu Hamil di Puskesmas Ciwandan,” J. Ilm. Gizi, vol.
4, no. Februari, pp. 50–58, 2024.
[30] Kemenkes RI, “Angka Kecukupan Gizi Mayarakat Indonesia,” Permenkes Nomor 28
Tahun 2019, vol. Nomor 65, no. 879, pp. 2004–2006, 2019.
[31] R. Of, D. Pattern, S. Economic, S. With, C. Energy, and L. Of, “Hubungan pola makan
dan status sosial ekonomi dengan kejadian kekurangan energi kronik * *,” vol. 17, pp.
73–80, 2022.
[32] M. G. Pangan et al., “Pengetahuan Gizi Asupan Zat Gizi, Serta Pemberian Makanan
Tambahan Dengan Status Gizi Ibu Hamil,” Media gizi pangan, vol. 31, 2024.
[33] H. Hasyim, D. G. Aulia, F. E. Agustine, E. Rava, N. Aprillia, and I. Iswanto, “Faktor
Faktor yang Berhubungan Dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil
(Literatur Review),” Jik J. Ilmu Kesehat., vol. 7, no. 1, p. 87, 2023, doi:
10.33757/jik.v7i1.637.
[34] N. Asyari, “Sekolah pascasarjana universitas hasanuddin makassar 2019,” vol. 25, 2019.
[35] R. Z. Hilmi, R. Hurriyati, and Lisnawati, “Faktor - faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil TM II di puskesmas Lingkar
Barat Kota Bengkulu Tahun 2018,” Skripsi, vol. 3, no. 2, pp. 91–102, 2018.

707

Anda mungkin juga menyukai