A.
Pengertian
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit yang
diakibatkan terganggunya proses metabolisme
glukosa di dalam tubuh yang disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata,
ginjal, dan pembuluh darah,disertai lesi pada
membran basalis dengan karakteristik hiperglikemia
(American Diabetes Association. 2023).
Diabetes melitus atau yang biasa disebut kencing
manis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
peningkatan kadar glukosa dalam darah
(Hiperglikemia) akibat kekurangan hormon insulin
baik absolut maupun relative. Diabetes mellitus tipe
2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak
dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan
istilah Non Insulin Dependent Diabetes Melitus
(NIDDM).
Diabetes melitus tipe 2 pankreas dapat
menghasilkan cukup jumlah insulin untuk
metabolisme glukosa (gula), tetapi tubuh tidak
mampu untuk memanfaatkan secara efisiensi.
Seiring waktu, penurunan produksi insulin dan kadar
glukosa darah meningkat (Fanny, 2021).
B. Klasifikasi
Menurut sulastri 2022 mengklasifikasi diabetes
mellitus yaitu:
a. DM tipe 1
DM yang terjadi akibat kerusakan pada sel-sel beta
pankreas. Terbagi
dalam dua tipe yaitu DM yang diperantarai oleh proses
immunologi
(immune-mediated diabetes) dan diabetes idiopati yang
tidak diketahui
penyebabnya. Reaksi autoimun DM tipe 1 timbul
disebabkan adanya
peradangan pada sel beta (insulitis). Ini menyebabkan
timbulnya
antibodi terhadap sel beta yang disebut ICA (Islet Cell
Antibody).
Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) yang
ditimbulkannya
menyebabkan hancurnya sel beta, Insulitis ini bisa
disebabkan macam-
macam virus, yaitu virus cocksakie, rubella, CMV, herpes
dan lain-
[Link] ini pada insulitis hanya menyerang sel beta,
biasanya sel alfa
dan delta tetap utuh. Pada DM tipe 1 ini terjadi kekurang
insulin
absolut, peningkatan glukosa darah, dan pemecahan
lemak dan protein
tubuh. DM Tipe ini umumnya terjadi pada usia muda.
b. DM tipe 2
DM tipe 2 yang sebelumnya dikenal sebagai non-insulin
dependent
diabetes (NIDDM) atau diabetes pada orang dewasa
(adult-onset
diabetes). Diabetes tipe 2 istilah yang digunakan untuk
mengambarkan
suatu kondisi terjadinya hiperglikemia meskipun insulin
yang
dibutuhkan [Link] meliputi individu yang mengalami
resistensi
insulin dan mengalami defisiensi insulin relatif.
Pada DM tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin
lebih banyak
tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada
permukaan sel yang
kurang. Dengan demikian keadaan ini sama dengan DM
tipe 1.
Perbedaannya adalah DM tipe 2 disamping kadar glukosa
tinggi, kadar
insulin juga tinggi atau normal. Keadaan ini disebut
resistensi
[Link] resistensi insulin sebenarnya tidak
begitu jelas, tetapi
faktor-faktor dibawah ini banyak berperan seperti
obesitas, diet tinggi
lemak dan rendah karbohidrat, kurang gerak badan dan
faktor
keturunan. Resistensi insulin akan meningkatkan risiko.
seseorang
terkena pre-diabetes, yang pada akhirnya dapat
berkembang menjadi
DM tipe 2. Centers for Disease Control and Prevention
(CDC)
memperkirakan, 15 hingga 30 persen orang dengan pre-
diabetes akan
terkena diabetes dalam jangka waktu lima tahun.
Selanjutnya, menurut
American Diabetes Association (ADA), setengah dari
penderita
glukosa darah tinggi akan terkena DM dalam waktu10
tahun.
. DM gestasional
DM yang terjadi saat kehamilan. Penyebab DM tipe ini
adanya riwayat
DM dari keluarga, obesitas, usia ibu saat hamil, riwayat
melahirkan
bayi besar dan riwayat penyakit lainnya. Gejalanya sama
seperti DM
pada umumnya dan jika tidak ditangani secara dini akan
berisiko
komplikasi pada persalinan, dan menyebabkan bayi lahir
dengan berat
badan >4 kg serta kematian bayi dalam kandungan.
Intoleransi glukosa
yang timbul atau mulai diketahui selama pasien hamil,
biasanya terjadi
pada kehamilan trimester kedua dan keempat. Pada
wanita hamil
terjadi peningkatan hormon pertumbuhan dan
glukokortikoid, dimana
kedua hormon tersebut bersifat hiperglikemik, sehingga
menambah
kebutuhan insulin. Akan tetapi karena pengaruh hormon
progesteron
dan esterogen yang meningkat pula, maka: fungsi insulin
berkurang,
karena progesteron dan estrogen merupakan antagonis
dengan insulin.
Hormon kontra insulin menyebabkan intolerasi terhadap
glukosa
berkurang. sehingga kebutuhan insulin meningkat dan
menyebabkan
hiperglikemi.
d. DM tipe lainnya.
DM tipe ini dihubungkan dengan keadaan dan sindrom
tertentu,
misalnya DM yang terjadi karena sindroma penyakit
genetik yang
menyebabkan menurunnya fungsi sel beta, penyakit
genetik yang
menyebabkan menurunnya kerja. Insulin, penyakit pada
pankreas
seperti pankreatitis, trauma, neoplasma, fibrosis kistik
dan
endokrinopati. Kondisi infeksi rubella congenital dan
cytomegalovirus,
penyakit eksokrin pankreas, penyakit endokrin seperti
akromegali atau
sindrom chusing, gangguan endokrin juga dapat
menimbulkan
hiperglikemia akibat peningkatan produksi glukosa hati
atau
penurunan penggunaan glukosa oleh sel, obat atau zat
kimia (misalnya
penggunaan glukokortikoid) jangka panjan
Etiologi
Penyebab dari penyakit diabetes melitus (Susanti, 2019):
a. Riwayat Keturunan
Genetik riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko dari
Penyakit Diabetes Melitus. Sekitar 50% penderita diabetes tipe 2
Mempunyai orang tua yang menderita diabetes, dan lebih dari
Sepertiga penderita diabetes mempunyai saudara yang
mengidap
[Link] tipe 2 lebih banyak kaitamya dengan faktor
Genetik dibanding diabetes tipe 1.
b. Usia
Pada Diabetes Melitus tipe 2, Usia yang berisiko ialah usia diatas
40 tahun. Tingginya usia seiring dengan banyaknya paparan
yang
Mengenal seseorang dan unsur-unsur di lingkungannya terutama
Makanan
c. Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko diabetes yang paling penting
Untuk diperhatikan. Lebih dari 8 diantara 10 penderita diabetes
tipe
2 adalah orang yang gemuk. Hal disebabkan karena semakin
Banyak jaringan lemak, maka jaringan tubuh dan otot akan
semakin
Resisten terhadap kerja insulin, terutama jika lemak tubuh
Terkumpul di daerah perut. Lemak ini akan menghambat kerja
Insulin sehingga gula tidak dapat diungkut ke dalam sel dan
Menumpuk dalam peredaran darah.
d. Pola makan dan pola hidup
Pola makan yang terbiasa dengan makanan yang banyak
Mengandung lemak dan kalori tinggi sangat berpotensi untuk
Meningkatkan resiko terkena diabetes. Adapun pola hidup buruk
Adalah pola hidup yang tidak teratur dan penuh tekanan
kejiwaan
Seperti stres yang berkepanjangan, perasaan khawatir dan takut
Yang berlebilan dan jauh dari nilai-nilai spiritual. Hal ini diyakini
Sebagai faktor terbesar untuk seseorang mudah terserang
penyakit
Berat baik diabetes maupun penyakit berat lainnya. Di samping
in
Aktivitas fisik yang rendah juga berpotensi untuk seseorang
Terjangkit penyakit diabetes.
4. Tanda dan gejala Diabetes Mellitus
Menurut manurung (2018) Gejala dan tanda-tanda DM dapat
Digolongkan menjadi 2 yaitu akut dan kronik.
a. Gejala akut diabetes melitus
Gejala yang akut yang dialami oleh penderita DM adalah
Poliphagia (banyak makan) polidipsia (banyak minum), Poliuria
(banyak kencing/sering kencing di malam. Hari), nafsu makan
Bertambah namu berat badan turun dengan cepat (5-10 kg
dalam
Waktu 2-4 minggu), mudah lelah dan bila tidak lekas diobati,
akan
Timbul rasa mual.
b. Gejala kronik diabetes melitus
Gejala kronik yang sering di alami oleh penderita DM adalah
Kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk tusuk jarum,
Rasa kebas di kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk,
pandangan
Mulai kabur, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan
Seksual menurun bahkan pada pria bisa terjadi impotensi, pada
ibu
Hamil sering terjadi keguguran atau kematian janin dalam
Kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.
5. Patofisiologi Diabetes Mellitus
Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam
darah
Dan sangat dibutuhkan untuk kebutuhan sel dan
[Link]
Dibentuk dihati dari makanan yang [Link] yang
masuk
Sebagian digunakan untuk kebutuhan energy dan sebagian lagi
Disimpan dalam bentuk glikogen dihati dan jaringan lainnya
dalam
Bantuan insulin. Insulin merupakan hormone yang diproduksi
oleh sel
Beta pulau Langerhans pancreas yang kemudian produksinya
masuk
Dalam darah dengan jumlah sedikit kemudian meningkat jika
terdapat
Makanan yang masuk (Tarwoto et al. 2012).
Pada DM terdapat 2 masalah utama yang berhubungan dengan
insulin,
Yaitu risistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada
normalnya
Insulin akan terikat dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian
Reaksi dalam metabolise glukosa dalam sel tubuh itu sendiri.
Resistensi
Insulin disertai dengan penurunan reaksi intrasel. Dengan
demikian
Insulin tidak menjadi efektif untuk menstimulasi pengambilan
oleh
Jaringan. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan
Progresif maka diabetes mellitus tipe 2 dapat berjalan tanpa
terdektesi
Jika gejalanya dialami, gejalan tersebut sering bersifat ringan dan
dapat
Mencakup kelelahan iritabilitas, Polyuria, Polidipsi, luka yang
lama
Semnuh,infeksi vagina atau pandangan yang kabur jika kadar
glukosa
Terlalu tinggi (Wulandari, 2018). Untuk mengatasi resistensi
insulin
Dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, Harus
terdapat
Peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Jika sel-sel tidak
bisa
Mengimbangi peningkatan kebutuhan insulin, maka kadar
glukosa
Akan meningkat dan terjadi diabetes mellitus tipe 2.
Kebutuhan insulin pada penderita diabetes tipe 2 tidak bisa
dipenuhi
Oleh tubuh dikarenakan resistensi atau defesiensi insulin Karena
Kondisi itu, tubuh tidak bisa mendapatkan glukosa dari darah
untuk
Diubah menjadi energi. Ketika hal tersebut terjadi, otak akan
Memerintahkan tubuh untuk memecah jaringan otot dan lemak
menjadi
Energi, sehingga tubuh semakin lama akan makin kurus (Tandra
2017).
Penyakit diabetes membuat gangguan/komplikasi melalui
kerusakan
Pada pembuluh darah di seluruh tubuh, disebut angiopati
diabetic.
Penyakit ini beralan kronia dan terbagi dua yaitu gangguan pada
pembuluh darah besar (makrovaskuler) disebut makroangiopati,
dan
Ada pembuluh darah halus (mikroaskuler) disebut
mikroangiopati. Ada
3 masalah utama pada pasien diabetes melitus tipe 2 yaitu
penurunan
Penggunaan glukosa, peningkatan mobilisasi lemak, dan
peningkatan
Penggunaan protein (Wijaya & Putri 2013) diabetes tipe 2 juga
Ditandai dengan 4 gangguan meraholik utama yaitu hiperglikeia
Kronik, resistensi insulin, reduksi respons insulin dan peningkatan
Gukosa hepar (Bustan, 2015).
Menurut Indraswari 2010 dalam (Manurung 2018) resistensi
insulin.
Merupakan sindrom yang heterogen, dengan factor genetic dan
Lingkungan berperan penting pada perkembangannya. Selain
resistensi
Insulin berkaitan dengan kegemukan, terutama gemuk di perut,
Sindrom ini juga ternyata dapat terjadi pada orang yang tidak
gemuk.
Factor lain seperti kurangnya aktivitas fisik, makanan
mengandung
Lemak, juga dinyatakan berkaitan dengan perkembangan
terjadinya
Kegemukan dan resitensi insulin.
Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus
Gejala Diabetes Melitus pada pasien tipe 2 adalah sebagai
berikut:
a. Meningkatnya buang air kecil (poliuria)
Sel-sel tubuh tidak dapat menyerap glukosa sehingga ginjal
Mencoba mengeluarkan glukosa sebanyak mungkin. Akibatnya,
Penyandang DM menjadi lebih sering kencing dari pada orang
Normal.
b. Rasa haus berlebih (polidipsi)
Hilangnya air dari tubuh karena sering buang air kecil.
Penyandang
DM merasa haus dan membutuhkan banyak air untuk mengganti
Cairan yang hilang.
c. Penurunan berat badan
Pada penyandang diabetes, hormon insulin tidak mendapatkan
Glukosa untuk sel yang digunakan sebagai energi, sebagai
gantinya
Tubuh mencari protein dari otot sebagai sumber alternatif bahan
Bakar.
d. Sering lapar
Rasa lapar berlebihan merupakan tanda diabetes. Ketika kadar
gula
Darah menurun drastis, tubuh mengira belum mendapatkan
Makanan dan membutuhkan glukosa untuk sel.
e. Masalah pada kulit
Kulit gatal, mungkin akibat kulit kering seringkali menjadi tanda
Peringatan diabetes, seperti itu juga kondisi kulit lainnya,
misalnya
Kulit menjadi gelap di sekitar daerah leher atau ketiak.
f. Penyembuhan luka lambat
Lambatnya penyembuhan luka terjadi karena pembuluh darah.
Mengalami kerusakan akibat glukosa dalam jumlah berlebihan
Yang mengelilingi pembuluh darah dan arteri.
g. Infeksi jamur
Diabetes meningkatkan kerentanan terhadap berbagai infeksi,
Jamur dan bakteri dapat tumbuh subur di lingkungan yang kaya
Akan gula.
Iritasi genetalia
Kandungan glukosa yang tinggi dalam urun membuat daerah
Genitalia jadi seperti sariawan dan akibatnya menyebabkan
Pembengkakan dan gatal
h. Pandangan kabur
Pembuluh darah di retina menjadi lemah setelah bertahun-
Tahunmengalami hiperglikemia dan mikro-aneurisma, yang
Melepaskanprotein berlemak yang disebut eksudat.
i. Kesemutan atau mati rasa
Kesemutan dan mati rasa ditangan dan kaki, bersamaan dengan
Rasa sakit yang membakar atau bengkak adalah tanda bahwa
syaraf
Mengalami kerusakan karena diabetes (Kemenkes RI, 2019).
8. Komplikasi Diabetes Mellitus
Menurut Sulastri (2022) komplikasi yang berkaitan dengan
diabetes
Mellitus di klasifikasikan sebagai komplikasi akut dan kronik.
a. Komplikasi Akut
1) Hiperglikemia
Hiperglikemia disebut suatu kondisi dimana kadar gula darah
Terlalu tinggi. Hiperglikemia harus diobati Karena merupakan
Penyebab utama komplikasi diabetes mellitus yang serius dan
Mengancam jiwa. Tampaknya ketika tidak ada atau cukup
Insulin dalam darah aatau insulin tidak bekerja dengan
[Link] umum hipergkemia makan lebih dari rencana
Makan yang dianjurkan, stress merupakan factor utama
Pelepasan hormon epinephrine, kortisol, hormone pertumbuhan
Dan glucagon.
2) Hipoglikemia
Terjadi ketika gula darah yang rendah atau hipoglikemia,
Terjadi ketika tidak cukupnya glukosa yang terssedia dalam