0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan28 halaman

Askeb Seminar Stase V

Dokumen ini adalah laporan presentasi jurnal mengenai asuhan kebidanan pada ibu nifas fisiologis, khususnya pada Ny. T yang berusia 30 tahun dan 2 jam postpartum di RS Amanat. Laporan ini mencakup pengkajian data subjektif dan objektif, analisis data, serta penatalaksanaan yang dilakukan untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi. Selain itu, terdapat juga tinjauan dari beberapa jurnal terkait asuhan kebidanan dan kesehatan ibu nifas.

Diunggah oleh

fitriyanilonthor72
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan28 halaman

Askeb Seminar Stase V

Dokumen ini adalah laporan presentasi jurnal mengenai asuhan kebidanan pada ibu nifas fisiologis, khususnya pada Ny. T yang berusia 30 tahun dan 2 jam postpartum di RS Amanat. Laporan ini mencakup pengkajian data subjektif dan objektif, analisis data, serta penatalaksanaan yang dilakukan untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi. Selain itu, terdapat juga tinjauan dari beberapa jurnal terkait asuhan kebidanan dan kesehatan ibu nifas.

Diunggah oleh

fitriyanilonthor72
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRESENTASI JURNAL

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS FISIOLOGIS PADA Ny. T


USIA 30 TAHUN P1A0 2 JAM POSTPARTUM
DI RS AMANAT

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan Stase V

Praktik asuhan kebidanan pada Ibu nifas

Oleh :

NAMA : FITRIYANI LONTHOR

NIM : A1A1251013

PROGAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

UNIVERSITAS MEGAREZKY

2025
LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi Jurnal dengan judul:

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS FISIOLOGIS PADA Ny. T


USIA 30 TAHUN P1A0 2 JAM POSTPARTUM
DI RS AMANAT

Oleh:
NAMA : Fitriyani Lontor
NIM : A1A1251013

Telah dilakukan pembimbingan dan dinyatakan layak


Untuk dipresentasikan di hadapan tim penguji.

Makassar, 11 Februari 2026

Menyetujui,

Pembimbing Penguji Lahan

Bdn. Sumarni, [Link].,[Link] Bd. Emilia Harnani, SKM.,[Link]


NIDN. 0917038703 NIP. 1971070519920320027

Mengetahui,

Ketua Prodi Pendidikan Profesi Bidan

Bdn. Sutrani Syarif ,[Link]., [Link]


NIDN 09 270687 04

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas

perkenan-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Presentasi

Jurnal yang berjudul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Fisologis Pada Ny, T Usia

30 tabun P1A0 2 Jam Postpartum di RS Amanat” Dalam penyelesaian Laporan

Presentasi Jurnal ini penulis berharap mendapatkan bimbingan, arahan dan

masukan oleh pembimbing

Semoga segala bantuan, bimbingan dan saran yang diberikan kepada

Penulis, senantiasa mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT,

Amin.

Makassar, 11 Februari 2026

Penulis

DAFTAR ISI

iii
PENGESAHAN LEMBAR ......................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................iv
BAB I JURNAL ..........................................................................................…..
1

1. Jurnal 1 ..............................................................................................…..
1

2. Jurnal 2 ..............................................................................................…..
2

3. Jurnal 3 ..............................................................................................…..
3

BAB II TINJAUAN KASUS.......................................................................…..


4

A. Data Subjektif ...................................................................................….. 4

B. Data Objektif .....................................................................................….


5

C. ANALISIS DATA..............................................................................….
7

D. PENATALAKSANAAN..............................................................……..
7

BAB III PEMBAHASAN .......................................................................… 9


BAB IV PENUTUP ...................................................................................…..
21

1. Kesimpulan ...................................................................................…… 21

iv
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................…..
22

LAMPIRAN ..............................................................................................…..
23

v
BAB I JURNAL

1. Jurnal 1

Judul : Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Normal

Penulis : Queen Westi Isnaeni, Rosmita Nuzuliana


Tahun : 2023
Link Jurnal : [Link]

ABSTRAK

Latar Belakang: Masa nifas merupakan masa pemulihan yang dimulai dari
setelah persalinan hingga pulihnya kembali seperti sebelum kehamilan dan
dapat berlansung kurang lebih 40 hari. Masa nifas merupakan masa kritis ibu
dan bayi. Angka kematian ibu di indonesia pada tahun 2021 sudah mencapai
7.389 kematian. Menurut Depkes tahun 2019 penyebab AKI di Indonesia
diantaranya perdarahan nifas sekitar 26,9%, infeksi termasuk infeksi luka
rupture perineum11%, komplikasi puerpurium 8%, dan penyebab tidak
langsung 10,9%.
Metode: penelitian ini menggunakan observasional deskriptif dengan
melakukan pendekatan studi kasus dan follow up. Penelitian diakukan sebanyak
tiga kali kunjungan yaitu melakukan pengkajian data, pemeriksaan, memberikan
intervensi sesuai kasus, dan melakukan evaluasi.
Hasil: Hasil penelitian diberikan intervensi yaitu Ny. F usia 28 tahun G0P2AH2
dengan riwayat persalinan luka perineum derajat satu hasilnya adalah luka
perineum bersih, tidak berbau, tidak ada tanda infeksi, dan tidak terdapat
komplikasi yang menyertai masa nifas ibu sehingga ibu dalam keadaan normal.

Kata Kunci: Asuhan Kebidanan, Fisiologi, Nifas

1
2. Jurnal 2
Judul : Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan Teknik Menyusui Pada
Ibu Pasca Melahirkan
Penulis : Nia Widia Aprilia Keni, Segti Rompas, Lenny Ganika
Tahun : 2020
Link Jurnal :-

ABSTRAK

Latar Belakang: Pengetahuan ibu tentang teknik menyusui akan membawa


pemehaman yang mendalam pada dampak baik ataupun buruknya pemberian
ASI.
Metode: Metode ini menggunakan desain penelitian cros sectional dengan
populasi seluruh ibu pasca melahirkan di wilaya kerja Puskesmas Wori Manado.
Pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling dengan teknik
pruposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 51 responden. Data disajikan
dalam bentuk Frequency Table, Analisis data yang digunakan adalah analisis
univariat dan bivariat dengan menggunakan metode analisis chi-square.
Hasil: Mayoritas responden memiliki pengetahuan dan sikap yang baik.
Responden yang melakukan teknik menyusui yang salah pada responden yang
memiliki sikap dan pengetahuan yang kurang baik.
Kesimpulan : hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan yang bermakna
antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Teknik Menyusui Pada Ibu Pasca
Melahirkan.

Kata kunci: Tingkat Pengetahuan, Sikap, Dan Teknik Menyusui

2
3. Jurnal 3

Judul : Hubungan Pemberian KIE Dengan Pengetauan Ibu Tentang


Nutrisi Ibu nifas Di Desa Geudong Wilayah Kerja Puskesmas
Kota Juang Kabupaten Bireuen
Penulis : Sarah Nadiya, Ratna Wati
Tahun : 2021
Link Jurnal :-

ABSTRAK

Latar Belakang: Nutrisi merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi dan harus mendapatkan perhatian khusus, terutama pada ibu
postpartum dimana masih ada luka perineum ataupun luka caesar, gizi
diperlukan dalam proses penyembuhan luka tersebut. Bidan sebagai salah satu
tenaga kesehatan yang berperan penting dalam penyampaian informasi
kesehatan, berkewajiban untuk memberikan penyuluhan kepada ibu dengan
metode yang tepat.
Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan
pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu
hamil. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total
populasi dengan cara kunjungan rumah yang berjumlah 68 ibu.
Hasil: Dari hasil uji statistic chi-square antara pemberian KIE dengan
pengetahuan tentang nutrisi ibu pada masa nifas diperoleh hasil nilai p value
(0,000) <dari α (0,05).
Kesimpulan: Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara pemberian KIE dengan pengetahuan tentang nutrisi ibu
pada masa nifas

Kata kunci: Anemia, daun kelor, ibu hamil

3
BAB II
TINJAUAN KASUS

DOKUMENTASI ASUHAN KEBIDANAN


PADA IBU NIFAS

No. Registrasi : 01
Tanggal Pengkajian : 08 Januari 2026
Waktu Pengkajian : 01:00 Wita
Tempat Pengkajian : RS Amanat
Pengkaji : Fitriyani Lonthor

A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Nama Ibu : Ny. T Nama Suami : Tn. B
Umur : 30 Tahun Umur : 32 Tahun
Agama : Katolik Agama : Katolik
Suku : Maumere Suku : Maumere
Pendidikan : S1 Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. A Mangerangu

2. Keluhan utama : tidak ada


3. Riwayat persalinan
a. Tempat melahirkan : rs. amanat
b. Penolong persalinan : bidan
c. Jenis persalinan : normal

4
d. Ketuban pecah pukul : 08:58 wita
e. Amniotomi : tidak dilakukan
f. Komplikasi dalam persalinan : tidak ada
g. Plasenta
 Lahir spontan : ya
 Lengkap/ukuran : lengkap berat : 450 g tebal : 3 centi
 Kelainan : tidak ada
 Panjang tali pusat : 22 cm
 Sisa plasenta : tidak ada
h. Perdarahan
 Kala I : 5 cc
 Kala II : 20 cc
 Kala III : 90 cc
 Kala IV : 60 cc
4. Bayi
- Lahir pukul : 10:00 wita
- BB : 2.100 gr
- PB : 45 cm
- Nilai Apgar : 8/10
- Cacat bawaan : tidak ada
- Masa gestasi : 39 minggu 3 hari
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : baik
b) Kesadaran : komposmentis
c) Tinggi /berat badan : 145 cm/ 52,2 kg
d) Tanda vital
 Tekanan darah : 110/70 mmhg

5
 Denyut nadi : 80x/menit
 Temperature : 36,5oC
 Respirasi : 22x/menit
2. Pemeriksaan Fisik

a) Payudara
 Pengeluaran : colostrum
 Putting susu : menonjol
 Benjolan : tidak ada
 Konsistensi. : sedikit
b) Uterus
 TFU : 2 jari di bawah pusat
 Kontraksi uterus: ada
c) Pengeluaran Lochea
 Warna : merah
 Bau : amis
 Jumlah : 300 ml
 Konsistensi : cair dengan gumpalan darah
d) Perineum : laserasi derajat 1, dijahit
e) Kandung kemih : kosong
f) Ekstremitas
 Oedema : ada
 Kemerahan : tidak ada
 Tanda homan : tidak ada
3. Pemeriksaan laboratorium
a) Urine
 Albumin : negatif (-)
 Reduksi : negative (-)
b) Darah
 Hb : 10,6 gr%

6
 Golongan darah :
C. ANALISI DATA
Ny “T” usia 30 tahun P1A0 dengan keadaan umum baik

D. PENATALAKSANAAN
1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan Tindakan
Evaluasi : Tindakan telah dilakukan
2. Memberitahu keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu dalam batas mormal
a. Tekanan darah : 110/70 mmHg
b. Nadi : 80x/menit
c. Suhu : 36,5°C
d. Pernapasan : 22x/menit
Evaluasi : Ibu mengetahui hasil pemeriksaan
3. Memberi Health Education (HE) pada ibu tentang
a. Mobilisasi dini
Mobilisasi dini secara bertahap misalnya dengan miring kiri dan kanan,
bangun dari tempat tidur, berjalan disekitar tempat dan mulai berjalan lebih
jauh lagi
Hasil : Ibu sudah bisa berjalan di sekitar tempat tidur.
b. Perlunya gizi seimbang
Dengan menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan sehat bergizi
seperti nasi, sayur, buah dan susu
Evaluasi : Ibu mengerti dan mau melakukannya
4. Mengajarkan ibu cara perawatan payudara
 Pakai bra yang tepat
 Rutin pijat payudara
 Bersihkan puting pelan-pelan
 Bersihkan payudara setiap hari
 Rutin ganti bra
Evaluasi : Ibu mengerti dan dapat menyebutkan kembali yang sudah di

7
jelaskan.
5. Mengajarkan ibu tentang cara menyusui yang baik dan benar
Posisi menyusui yang benar adalah seluruh puting payudara ada di tengah
mulut bayi. Saat bayi mengisap gusi bayi harus menyentuh seluruh puting dan
lidah bayi berada di atas gusi bawah bayi. Pastikan bayi tidak hanya mengisap
ujung puting payudara .
Hasil : Ibu mengerti dan bersemangat untuk memberikan ASI
6. Memberitahu ibu tanda bahaya pada ibu nifas
 Perdarahan berlebihan pasca melahirkan
 Demam tinggi lebih dari 38°C
 Sakit kepala hebat
 Nyeri tak tertahankan pada betis
 Merasa sedih terus-menerus
Evaluasi : ibu mengerti dan mampu menyebutkan kembali tanda bahaya ibu
nifas
7. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
Evaluasi : ibu bersediah melakukannya

BAB III

8
PEMBAHASAN

1. Jurnal 1 “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Normal”

Masa nifas merupakan masa pemulihan, masa nifas ini dimulai dari setelah
persalinan hingga pulihnya kembali seperti sebelum kehamilan. Masa nifas dapat
berlansung kurang lebih 40 hari. Pada masa nifas ini juga merupakan masa kritis
ibu dan anak, terutama pada 24 jam pertama setelah persalinan yang menyebabkan
kematian jika lalai dalam melakukan penanganan (Widhiastuti & Muryani, 2021).
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta
sampai 6 minggu setelah melahirkan. (Pusdiknakes, 2003). Masa nifas dimulai
setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu (Abdul Bari, 2000)

Tahap-Tahap Masa Nifas


Masa nifas terbagi menjadi tiga tahap yaitu
 Puerpurium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri
dan berjalan – jalan.
 Puerperium intermedial yaitu suatu masa dimana kepulihan menyeluruh
organ-organ reproduksi yang lamanya 6 – 8 minggu.
 Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan
sehat sempurna baik selama hamil atau sempurna berminggu – minggu,
berbulan – bulan atau tahunan, terutama bagi ibu hamil atau waktu
persalinan mengalami komplikasi. (Mochtar R, 1998).

Tujuan Asuhan Masa Nifas


 Untuk mempercepat involusi uterus ( rahim
 Untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun
psikologisnya.
Melaksanakan skrining yang komprehensif, deteksi dini, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
 Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, keluarga berencana, cara dan manfaat menyusui, pemberian

9
imunisasi serta perawatan bayisehari-hari
 Memberikan pelayanan KB

Perubahan Organ Reproduksi Pada Masa Nifas (Involusi Traktus Genetalis)


1. Corpus uterus
Setelah plasenta lahir, uterus berangsur – angsur menjadi kecil sampai
akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Tinggi fundus uterus dan berat uterus
menurut masa involusi
 Bayi lahir : Setinggi pusat (1000 gr)
 Uri lahir: 2 jari di bawah pusat – 750 gr
 I minggu: Pertengahan pusat sympisis – 500 gr
 2 minggu: Tak teraba diatas sympisis – 350 gr
 6 minggu: Bertambah kecil – 50 gr
 8 minggu: Sebesar normal – 30 gr
2. Endometrium
Perubahan–perubahan endometrium ialah timbulnya trombosis degenerasi dan
nekrosis di tempat inplantasi plasenta.
 Hari pertama : endometrium setebal 2-5 mm dengan permukaan yang
kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin
 Hari ke dua : Permukaan mulai rata akibat lepasnya sel – sel dibagian
yang mengalami degenerasi.
3. Involusi tempat plasenta
Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan
menonjol ke dalam cavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, penonjolan
tersebut dengan diameter 7,5 cm, sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5
cm dan 6 minggu telah mencapai 24 mm.

4. Perubahan pada pembuluh darah uterus


Pada saat hamil arteri dan vena yang mengantar darah dari dan ke uterus

10
khususnya ditempat implantasi plasenta menjadi besar setelah post partum otot
– otot berkontraksi, pembuluh – pembuluh darah pada uterus akan terjepit,
proses ini akan menghentikan darah setelah plasenta lahir.
5. Perubahan servix
Segera setelah post partum, servix agak menganga seperti corong, karena
corpus uteri yang mengadakan kontraksi. Sedangkan servix tidak berkontraksi,
sehingga perbatasan antara corpus dan servix uteri berbentuk seperti cincin.
Warna servix merah kehitam – hitaman karena pembuluh darah. Segera setelah
bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2 – 3 jari saja dan
setelah 1 minggu hanya dapat dimasukan 1 jari ke dalam cavum uteri.
6. Vagina dan pintu keluar panggul
Vagina dan pintu keluar panggul membentuk lorong berdinding lunak dan luas
yang ukurannya secara perlahan mengecil. Pada minggu ke – 3 post partum,
hymen muncul beberapa jaringan kecil dan menjadi corunculac mirtiformis.
7. Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu
kehamilan dan partus, setelah janin lahir berangsur-angsur ciut kembali.
Ligamentum latum dan rotundum lebih kendor dari pada kondisi sebelum
hamil. (Mochtar, 1998).

Adaptasi Psikologis Masa Nifas


1. Masa Taking In ( 1-2 hari postpartum )
 Ibu bersifat pasif dan berorientasi pada diri sendiri
 Tingkat ketergantungan tinggi
 Kebutuhan nutrisi dan istirahat tinggi
 Ibu akan mengingat dan mengulang-ulang cerita tentang pengalamannya
melahirkan

2. Masa Taking Hold ( 3-4 hari post partum)


 Ibu khawatir akan kemampuannya merawat bayi

11
 Lebih fokus pada perubahan fungsi- fungsi tubuh, seperti eliminasi dan
daya tahan tubuh
 Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan merawat bayi secara
mandiri
3. Masa Letting Go ( minggu ke 3-4 post partum )
 Perhatian pada bayi sebagai individu terpisah
 Ibu mengambil tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi

Aspek-Aspek Klinis Masa Nifas


1. Suhu
Suhu badan dapat mengalami peningkatan setelah persalinan, tetapi tidak lebih
dari 38°C. Bila terjadi peningkatan melebihi 38°C selama 2 hari berturut-turut,
maka kemungkinan terjadi infeksi. kontraksi uterus yang diikuti HIS pengiring
menimbulkan rasa nyeri-nyeri ikutan (after pain) terutama pada multipara,
masa puerperium diikuti pengeluaran cairan sisa lapisan endomentrium serta
sisa dari implantasi plasenta yang disebut lochea.
2. Pengeluaran lochea
 Lochea rubra ( hari ke 1 – 2)
Terdiri dari darah segar bercampur sisa-sisa ketuban, sel-sel desidua, sisa-
sisa vernix caseosa, lanugo, dan mekonium
 Lochea sanguinolenta (hari ke 3 – 7 )
Terdiri dari : darah bercampur lendir, warna kecoklatan
 Lochea serosa ( hari ke 7 – 14)
Berwarna kekuningan
 Lochea alba ( hari ke 14 – selesai masa nifas)
Hanya merupakan cairan putih, lochea yang berbau busuk dan terinfeksi
disebut lochea purulent.

3. Payudara
Pada payudara terjadi perubahan atropik yang terjadi pada organ pelvix,

12
payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika
laktasi supresi payudara akan lebih menjadi besar, kencang dan lebih nyeri
tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya
laktasi. Hari kedua post partum sejumlah colostrums cairan yang disekresi oleh
payudara selama lima hari pertama setelah kelahiran bayi dapat diperas dari
puting susu. Colostrums banyak mengandung protein, yang sebagian besar
globulin dan lebih banyak mineral tapi gula dan lemak sedikit.
4. Traktus Urinariua
Buang air sering sulit selama 24 jam pertama, karena mengalami kompresi
antara kepala dan tulang pubis selama persalinan. Urine dalam jumlah besar
akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah
plasenta dilahirkan, kadar hormone estrogen yang bersifat menahan air akan
mengalani penurunan yang mencolok, keadaan ini menyebabkan diuresis.
5. Kunjungan Nifas
Kunjungan I ( 6 – 8 jam post partum )
 Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri
 Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan
rujukan bila perdarahan berlanjut
 Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah
perdarahan yang disebabkan atonia uteri
 Pemberian ASI awal
 Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
 Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi
 Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus
menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai
keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik

Kunjungan ke-2 ( 6 hari post partum )


 Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus

13
berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak
ada perdarahan abnormal
 Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan
 Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
 Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan
 Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-
tanda kesulitan menyusui
 Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir
Kunjungan ke-3 ( 2 minggu post partum )
 Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang
diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
Kunjungan ke-4 ( 6 minggu post partum )
 Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas
 Memberikan konseling KB secara dini

Perawatan Masa Nifas


Perawatan puerperium dilakukan dalam bentuk pengawasan sebagai berikut :
1. Rawat Gabung (roming in)
Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan [Link] agar
terbentuk ikatan antara ibu dan bayinya dalam bentuk kasih sayang ( bounding
attachment ), sehingga ibu lebih banyak memperhatikan bayinya, memberikan
ASI sehingga kelancaran pengeluaran ASI terjamin.
2. Pemeriksaan umum
Pemeriksaan umum meliputi kesadaran penderita, keluhan yang terjadi setelah
persalinan
3. Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan khusus meliputi pemeriksaan fisik, tekanan darah, nadi, suhu,
respirasi, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
4. Payudara
Perawatan payudara sudah dimulai sejak hamil sebagai persiapan untuk

14
menyusui bayinya. Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu
merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oxitosin
dikeluarkan oleh hipofisis. Produksi akan lebih banyak dan involusi uteri akan
lebih sempurna.
5. Lochea
lochea rubra, lochea sanguinolenta
6. Luka Jahitan
Luka jahitan apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda infeksi ( kalor,
dolor, turbor, dan tumor )
7. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam
pasca persalinan. Kemudian boleh miring ke kiri dan kekanan serta
diperbolehkan untuk duduk, atau pada hari ke – 4 dan ke- 5 diperbolehkan
pulang.
8. Miksi
Hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya, paling tidak 4
jam setelah kelahiran. Bila sakit, kencing dikaterisasi.
9. Defekasi
Buang air besar dapat dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila sulit bab dan
terjadi obstipasi apabila bab keras dapat diberikan laksans per oral atau
perektal. Jika belum biasa dilakukan klisma.
10. Kebersihan Diri
Anjurkan kepada ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, membersihkan
daerah kelamin dengan air dan sabun, dari vulva terlebih dahulu dari depan ke
belakang kemudian anus, kemudian mengganti pembalut setidaknya dua kali
sehari, mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan kelamin.

11. Keluarga Berencana (KB)


Menganjurkan pada ibu agar mengikuti KB sendini mungkin setelah 40 hari

15
(16 inggu post partum)

12. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas


 Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post
partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara
lain :Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas
sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan
psikologis selama masa nifas.
 Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga
 Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa
nyaman.
 Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan
anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
 Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
 Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang
baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
 Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk
mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi
kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
 Memberikan asuhan secara profesional

2. Jurnal 2 “ Tingkat Pengetahuan dan Sikap Dengan Teknik Menyusui


Pada Ibu Pasca Melahirkan”

Keunggulan ASI tersebut perlu ditunjang dengan cara pemberian ASI yang
benar, antara lain pemberian ASI segera setelah lahir (30 menit pertama bayi harus

16
sudah disusukan) kemudian pemberian ASI saja sampai bayi umur 6 bulan (ASI
eksklusif), selanjutnya pemberian ASI sampai 2 tahun dengan pemberian makanan
pendamping ASI yang benar. Sehingga diperlukan usaha- usaha atau pengelolaan
yang benar, agar setiap ibu dapat menyusui sendiri bayinya. (Maskanah 2012).
Menurut World Health Organization (WHO 2016) angka pemberian ASI
ekslusif di dunia berkisar 38 persen. Secara Nasional di Indonesia, cakupan bayi
mendapat ASI eksklusif sebesar 61,33% telah mencapai target rencana strategi
(Renstra) tahun 2017 yaitu 44%. (Depkes RI, 2017). Data Kementerian Kesehatan
(2018) mencatat angka inisiasi menyusui dini (IMD) di Indonesia meningkat dari
51,8 persen pada 2016 menjadi 57,8 persen pada 2017. Walaupun meningkat tetapi
angka tersebut masih jauh dari target 90 persen mengingat pentingnya peran ASI
bagi kehidupan anak. ASI merupakan asupan terbaik bagi bayi. Data yang
ditemukan dari riset kesehatan dasar di Indonesia terdapat 75 persen pemberian
ASI di propinsi Sumatra Utara, Bangka Belitung sebanyak 65 persen, Sulawesi
Utara 58 persen dan yang paling kurang dalam pemberian ASI di Nusa Tenggara
Timur yaitu 25 persen (Riskesdas, 2018).
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan
ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan
bayi dengan benar. Untuk mencapai keberhasilan
menyusui diperlukan pengetahuan mengenai teknik-
teknik menyusui yang benar. (Rinata, dkk 2016).
Berdasarkan hasil penelitian Khoriyah & Prihatini (2014)
mengatakan bahwa ada hubungan antara status paritas
dengan keterampilan menyusui yang benar karena
menurut peneliti pengetahuan ibu multipara lebih banyak
dari pada pengetahuan ibu
Menurut Wattimena (2015) keberhasilan Ibu menyusui
tergantung teknik menyusui pada ibu pasien melahirkan.

17
Proses menyusui yang perlu dilakukan dan ditaati Ibu
Menyusui pasca melahirkan, paling sedikit enam bulan.
Ibu Menyusui perlu manajemen diri yang kuat dalam
sadar diri dan determinasi diri. Pengetahun dan sikap Ibu
Menyusui tentang manajemen laktasi sangat
mempengaruhi Ibu Menyusui dalam pemberian ASI,
dimana laktasi merupakan keseluruhan proses menyusui
mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap
dan menelan ASI (Woja, 2018).

Teknik Menyusui

a. Mencuci tangan
b. Kaki menapak dan punggung menyandar
c. Memproduksikan bayi sehingga kepala dan bahu dalam satu garis lurus
d. Mengarahkan tubuh bayi menempel pada perut ibu
e. Menyangga seluruh tubuh bayi dengan kedua tangan
f. Menyentuhkan putting ibu ke pipi/bibir bayi sampai mulut bayi terbuka lebar
g. Ketika mulut bayi sudah membuka lebar putting susu dimasukkan kedalam
mulut bayi sampai sebagian besar areola bagian bawah masuk
Tanda bayi menghisap dengan benar
 Bayi menghisap dengan teratur
 Bayi menghisap dengan lambat tapi dalam
 Saat menyusui ibu tidak merasakan nyeri pada putting ibu
h. Mengajari ibu cara melepas putting susu dari mulut bayi yaitu dengan
memadukan jari kelingking ibu ke sudut mulut bayi, kemudian menekan lidah
bayi sampai putting susu terlepas.

3. Jurnal 3 “ Hubungan Pemberian KIE Dengan Pengetahuan Tentang

18
Nutirisi Ibu Pada Masa Nifas di Desa Geudong Wilayah Kerja
Puskesmas Kota Juang Kabupaten Bireun”

Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti semula atau pada keadaan sebelum hamil. Masa
nifas dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42
hari) setelah itu. Kebutuhan ibu nifas yang harus di penuhi salah satunya adalah
nutrisi yang seimbang dan lengkap, kualitas dan jumlah makanan ibu sangat
berpengaruh pada jumlah ASI yang dihasilkan. Menu makanan yang wajib
dikonsumsi adalah porsi tidak berlebihan dan teratur, dan berfungsi untuk
mempercepat pemulihan kekuatan dan kesehatan, meningkatkan produksi asi,
mencegah terjadinya infeksi, dan mencegah konstipasi (Rahmawati, 2019).
Nutrisi merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dan harus
mendapatkan perhatian khusus, terutama pada ibu postpartum dimana masih ada
luka perineum ataupun luka caesar dimana gizi diperlukan dalam proses
penyembuhan luka tersebut. Hal utama yang diperhatikan dalam nutrisi bukan
terkait banyaknya makanan yang dikonsumsi, akan tetapi zat gizi yang terkandung
didalam makanannya (Solehati, 2020)
Kebutuhan Gizi masa nifas akan meningkat 25%, untuk proses kesembuhan
dan produksi ASI. Menu makanan seimbang yang harus dikonsumsi adalah cukup
dan teratur, dan harus mengandung; 1).sumber tenaga (energi), 2). sumber
pembangunan (protein), 3). Sumber dan pelindung (mineral, vitamin dan air). Ibu
nifas memerlukan gizi untuk mempertahankan tubuh terhadap infeksi, mencegah
konstipasi dan untuk memulai proses laktasi. Asupan kalori yang dibutuhkan per-
hari 500 kalori dan dapat ditingkatkan sampai 2700 kalori. Asupan cairan per-hari
ditingkatkan sampai 3000 ml dengan 12 asupan susu 1000 ml. Suplemen zat besi
dapat diberikan kepada ibu nifas selama 4 minggu pertama setelah kelahiran
(Masruroh, 2013)
Pada saat ini banyak yang terjadi di kalangan ibu yaitu,53% ibu nifas masih
mempercayai budaya tarak atau pantangan mengkonsumsi makanan tertentu yang

19
dikarenakan pengaruh dari budaya terdahulu dari orang tua yang meyakini dapat
menimbulkan sesuatu yang dapat merugikan, padahal mereka masih harus
memberikan ASI pada anaknya. Hal ini menyebabkan mereka ingin tarak
makanan, mereka tidak sadar bahwa tindakanya dapat mempengaruhi
pertumbuhan bayinya (Saidah, 2011).
Komunikasi informasi edukasi (KIE) adalah suatu cara pemberian informasi
atau pesan terkait masalah tertentu oleh komunikator kepada komunikan melalui
media tertentu. KIE dalam program kesehatan ditunjukkan untukmengatasi
masalah kesehatan dengan meningkatkan kepedulian dan menghasilkan perubahan
prilakuyangspesifik.
Faktor yang mempengaruhi kemandirian ibu dalam melakukan perawatan diri
dan bayi adalah pengalaman di masa lalu karena seseorang telah mengalami proses
belajar dalam hal cara merawat diri. Apabila ibu sudah mengenal manfaat
perawatan diri atau teknik yang akan dilakukan, maka ibu akan lebih mudah dalam
melakukan Bidanan diri pasca bersalin. Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan
yang berperan penting dalam penyampaianinformasi kesehatan, berkewajiban
untuk memberikan penyuluhan kepada ibu dengan metode yang [Link]
yang dibutuhkan ibu selama masa nifas yaitu memantau dan mempertahankan
kesehatannya dengan memberikan informasi kesehatan dan keterampilan yang
tepat (Windarti, 2017).

BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan

20
a. Jurnal 1
Setelah dilakukan pengkajian sampai evaluasi kasus tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan. Penatalaksanaan yang diberikan
kepada Ny. F dengan keadaan normal sesuai dengan kebutuhan ibu nifas
diantaranya KIE pola nutrisi, KIE pola personal hygine dan perawatan perineum,
KIE pola menyusui, KIE perawatan bayi di rumah, KIE tanda bahaya masa nifas,
dan KIE tanda bahaya pada bayi.
b. Jurnal 2

Setelah dilakukan penelitian diketahui bahwa masi


ada ibu menyusui yang belum pernah mendapatkan
informasi mengenai teknik menyusui sehingga
disarankan kepada petugas kesehatan setempat untuk
terus berupaya memberikan informasi mengenai preaktik
menyusui dengan cara yang benar melalui penyebaran
poster, leaflet, maupun media penyuluhan lainnya
c. Jurnal 3
Kesimpulan penelitian ini bahwa Ada hubungan yang bermakna antara
Hubungan Pemberian KIE Dengan Pengetahuan Tentang Nutrisi Ibu Pada Masa
Nifas Di Desa Geudong-Geudong Wilayah Kerja Puskesmas Kota Juang
Kabupaten Bireuen

DAFTAR PUSTAKA

Westi, I., & Nuzuliana, R. (2023). ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS. Jurnal
Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. 1 (22).

21
Aprilia, K., & Rompas, S. (2020). TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN
TEKNIK MENYUSUI PADA IBU PASCA MELAHIRKAN. Jurnal Asuhan Kebidanan. 2
(2).

Nadia, S., & Wati, R. (2021). HUBUNGAN PEMBERIAN KIE DENGAN PENGETAHUAN
IBU TENTANG NUTRISI IBU NIFAS DI DESA GEUDONG WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KOTA JUANG KABUPATEN BIREUN. Journal of Healtcare
Technology and Medicine. 7 (2).

LAMPIRAN

22
23

Anda mungkin juga menyukai