Askeb Seminar Stase V
Askeb Seminar Stase V
Oleh :
NIM : A1A1251013
UNIVERSITAS MEGAREZKY
2025
LEMBAR PENGESAHAN
Oleh:
NAMA : Fitriyani Lontor
NIM : A1A1251013
Menyetujui,
Mengetahui,
ii
KATA PENGANTAR
Jurnal yang berjudul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Fisologis Pada Ny, T Usia
Penulis, senantiasa mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT,
Amin.
Penulis
DAFTAR ISI
iii
PENGESAHAN LEMBAR ......................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................iv
BAB I JURNAL ..........................................................................................…..
1
1. Jurnal 1 ..............................................................................................…..
1
2. Jurnal 2 ..............................................................................................…..
2
3. Jurnal 3 ..............................................................................................…..
3
C. ANALISIS DATA..............................................................................….
7
D. PENATALAKSANAAN..............................................................……..
7
1. Kesimpulan ...................................................................................…… 21
iv
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................…..
22
LAMPIRAN ..............................................................................................…..
23
v
BAB I JURNAL
1. Jurnal 1
ABSTRAK
Latar Belakang: Masa nifas merupakan masa pemulihan yang dimulai dari
setelah persalinan hingga pulihnya kembali seperti sebelum kehamilan dan
dapat berlansung kurang lebih 40 hari. Masa nifas merupakan masa kritis ibu
dan bayi. Angka kematian ibu di indonesia pada tahun 2021 sudah mencapai
7.389 kematian. Menurut Depkes tahun 2019 penyebab AKI di Indonesia
diantaranya perdarahan nifas sekitar 26,9%, infeksi termasuk infeksi luka
rupture perineum11%, komplikasi puerpurium 8%, dan penyebab tidak
langsung 10,9%.
Metode: penelitian ini menggunakan observasional deskriptif dengan
melakukan pendekatan studi kasus dan follow up. Penelitian diakukan sebanyak
tiga kali kunjungan yaitu melakukan pengkajian data, pemeriksaan, memberikan
intervensi sesuai kasus, dan melakukan evaluasi.
Hasil: Hasil penelitian diberikan intervensi yaitu Ny. F usia 28 tahun G0P2AH2
dengan riwayat persalinan luka perineum derajat satu hasilnya adalah luka
perineum bersih, tidak berbau, tidak ada tanda infeksi, dan tidak terdapat
komplikasi yang menyertai masa nifas ibu sehingga ibu dalam keadaan normal.
1
2. Jurnal 2
Judul : Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan Teknik Menyusui Pada
Ibu Pasca Melahirkan
Penulis : Nia Widia Aprilia Keni, Segti Rompas, Lenny Ganika
Tahun : 2020
Link Jurnal :-
ABSTRAK
2
3. Jurnal 3
ABSTRAK
Latar Belakang: Nutrisi merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi dan harus mendapatkan perhatian khusus, terutama pada ibu
postpartum dimana masih ada luka perineum ataupun luka caesar, gizi
diperlukan dalam proses penyembuhan luka tersebut. Bidan sebagai salah satu
tenaga kesehatan yang berperan penting dalam penyampaian informasi
kesehatan, berkewajiban untuk memberikan penyuluhan kepada ibu dengan
metode yang tepat.
Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan
pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu
hamil. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total
populasi dengan cara kunjungan rumah yang berjumlah 68 ibu.
Hasil: Dari hasil uji statistic chi-square antara pemberian KIE dengan
pengetahuan tentang nutrisi ibu pada masa nifas diperoleh hasil nilai p value
(0,000) <dari α (0,05).
Kesimpulan: Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara pemberian KIE dengan pengetahuan tentang nutrisi ibu
pada masa nifas
3
BAB II
TINJAUAN KASUS
No. Registrasi : 01
Tanggal Pengkajian : 08 Januari 2026
Waktu Pengkajian : 01:00 Wita
Tempat Pengkajian : RS Amanat
Pengkaji : Fitriyani Lonthor
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Nama Ibu : Ny. T Nama Suami : Tn. B
Umur : 30 Tahun Umur : 32 Tahun
Agama : Katolik Agama : Katolik
Suku : Maumere Suku : Maumere
Pendidikan : S1 Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. A Mangerangu
4
d. Ketuban pecah pukul : 08:58 wita
e. Amniotomi : tidak dilakukan
f. Komplikasi dalam persalinan : tidak ada
g. Plasenta
Lahir spontan : ya
Lengkap/ukuran : lengkap berat : 450 g tebal : 3 centi
Kelainan : tidak ada
Panjang tali pusat : 22 cm
Sisa plasenta : tidak ada
h. Perdarahan
Kala I : 5 cc
Kala II : 20 cc
Kala III : 90 cc
Kala IV : 60 cc
4. Bayi
- Lahir pukul : 10:00 wita
- BB : 2.100 gr
- PB : 45 cm
- Nilai Apgar : 8/10
- Cacat bawaan : tidak ada
- Masa gestasi : 39 minggu 3 hari
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : baik
b) Kesadaran : komposmentis
c) Tinggi /berat badan : 145 cm/ 52,2 kg
d) Tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmhg
5
Denyut nadi : 80x/menit
Temperature : 36,5oC
Respirasi : 22x/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a) Payudara
Pengeluaran : colostrum
Putting susu : menonjol
Benjolan : tidak ada
Konsistensi. : sedikit
b) Uterus
TFU : 2 jari di bawah pusat
Kontraksi uterus: ada
c) Pengeluaran Lochea
Warna : merah
Bau : amis
Jumlah : 300 ml
Konsistensi : cair dengan gumpalan darah
d) Perineum : laserasi derajat 1, dijahit
e) Kandung kemih : kosong
f) Ekstremitas
Oedema : ada
Kemerahan : tidak ada
Tanda homan : tidak ada
3. Pemeriksaan laboratorium
a) Urine
Albumin : negatif (-)
Reduksi : negative (-)
b) Darah
Hb : 10,6 gr%
6
Golongan darah :
C. ANALISI DATA
Ny “T” usia 30 tahun P1A0 dengan keadaan umum baik
D. PENATALAKSANAAN
1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan Tindakan
Evaluasi : Tindakan telah dilakukan
2. Memberitahu keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu dalam batas mormal
a. Tekanan darah : 110/70 mmHg
b. Nadi : 80x/menit
c. Suhu : 36,5°C
d. Pernapasan : 22x/menit
Evaluasi : Ibu mengetahui hasil pemeriksaan
3. Memberi Health Education (HE) pada ibu tentang
a. Mobilisasi dini
Mobilisasi dini secara bertahap misalnya dengan miring kiri dan kanan,
bangun dari tempat tidur, berjalan disekitar tempat dan mulai berjalan lebih
jauh lagi
Hasil : Ibu sudah bisa berjalan di sekitar tempat tidur.
b. Perlunya gizi seimbang
Dengan menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan sehat bergizi
seperti nasi, sayur, buah dan susu
Evaluasi : Ibu mengerti dan mau melakukannya
4. Mengajarkan ibu cara perawatan payudara
Pakai bra yang tepat
Rutin pijat payudara
Bersihkan puting pelan-pelan
Bersihkan payudara setiap hari
Rutin ganti bra
Evaluasi : Ibu mengerti dan dapat menyebutkan kembali yang sudah di
7
jelaskan.
5. Mengajarkan ibu tentang cara menyusui yang baik dan benar
Posisi menyusui yang benar adalah seluruh puting payudara ada di tengah
mulut bayi. Saat bayi mengisap gusi bayi harus menyentuh seluruh puting dan
lidah bayi berada di atas gusi bawah bayi. Pastikan bayi tidak hanya mengisap
ujung puting payudara .
Hasil : Ibu mengerti dan bersemangat untuk memberikan ASI
6. Memberitahu ibu tanda bahaya pada ibu nifas
Perdarahan berlebihan pasca melahirkan
Demam tinggi lebih dari 38°C
Sakit kepala hebat
Nyeri tak tertahankan pada betis
Merasa sedih terus-menerus
Evaluasi : ibu mengerti dan mampu menyebutkan kembali tanda bahaya ibu
nifas
7. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
Evaluasi : ibu bersediah melakukannya
BAB III
8
PEMBAHASAN
Masa nifas merupakan masa pemulihan, masa nifas ini dimulai dari setelah
persalinan hingga pulihnya kembali seperti sebelum kehamilan. Masa nifas dapat
berlansung kurang lebih 40 hari. Pada masa nifas ini juga merupakan masa kritis
ibu dan anak, terutama pada 24 jam pertama setelah persalinan yang menyebabkan
kematian jika lalai dalam melakukan penanganan (Widhiastuti & Muryani, 2021).
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta
sampai 6 minggu setelah melahirkan. (Pusdiknakes, 2003). Masa nifas dimulai
setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu (Abdul Bari, 2000)
9
imunisasi serta perawatan bayisehari-hari
Memberikan pelayanan KB
10
khususnya ditempat implantasi plasenta menjadi besar setelah post partum otot
– otot berkontraksi, pembuluh – pembuluh darah pada uterus akan terjepit,
proses ini akan menghentikan darah setelah plasenta lahir.
5. Perubahan servix
Segera setelah post partum, servix agak menganga seperti corong, karena
corpus uteri yang mengadakan kontraksi. Sedangkan servix tidak berkontraksi,
sehingga perbatasan antara corpus dan servix uteri berbentuk seperti cincin.
Warna servix merah kehitam – hitaman karena pembuluh darah. Segera setelah
bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2 – 3 jari saja dan
setelah 1 minggu hanya dapat dimasukan 1 jari ke dalam cavum uteri.
6. Vagina dan pintu keluar panggul
Vagina dan pintu keluar panggul membentuk lorong berdinding lunak dan luas
yang ukurannya secara perlahan mengecil. Pada minggu ke – 3 post partum,
hymen muncul beberapa jaringan kecil dan menjadi corunculac mirtiformis.
7. Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu
kehamilan dan partus, setelah janin lahir berangsur-angsur ciut kembali.
Ligamentum latum dan rotundum lebih kendor dari pada kondisi sebelum
hamil. (Mochtar, 1998).
11
Lebih fokus pada perubahan fungsi- fungsi tubuh, seperti eliminasi dan
daya tahan tubuh
Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan merawat bayi secara
mandiri
3. Masa Letting Go ( minggu ke 3-4 post partum )
Perhatian pada bayi sebagai individu terpisah
Ibu mengambil tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi
3. Payudara
Pada payudara terjadi perubahan atropik yang terjadi pada organ pelvix,
12
payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika
laktasi supresi payudara akan lebih menjadi besar, kencang dan lebih nyeri
tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya
laktasi. Hari kedua post partum sejumlah colostrums cairan yang disekresi oleh
payudara selama lima hari pertama setelah kelahiran bayi dapat diperas dari
puting susu. Colostrums banyak mengandung protein, yang sebagian besar
globulin dan lebih banyak mineral tapi gula dan lemak sedikit.
4. Traktus Urinariua
Buang air sering sulit selama 24 jam pertama, karena mengalami kompresi
antara kepala dan tulang pubis selama persalinan. Urine dalam jumlah besar
akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah
plasenta dilahirkan, kadar hormone estrogen yang bersifat menahan air akan
mengalani penurunan yang mencolok, keadaan ini menyebabkan diuresis.
5. Kunjungan Nifas
Kunjungan I ( 6 – 8 jam post partum )
Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri
Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan
rujukan bila perdarahan berlanjut
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah
perdarahan yang disebabkan atonia uteri
Pemberian ASI awal
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus
menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai
keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik
13
berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak
ada perdarahan abnormal
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-
tanda kesulitan menyusui
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir
Kunjungan ke-3 ( 2 minggu post partum )
Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang
diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
Kunjungan ke-4 ( 6 minggu post partum )
Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas
Memberikan konseling KB secara dini
14
menyusui bayinya. Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu
merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oxitosin
dikeluarkan oleh hipofisis. Produksi akan lebih banyak dan involusi uteri akan
lebih sempurna.
5. Lochea
lochea rubra, lochea sanguinolenta
6. Luka Jahitan
Luka jahitan apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda infeksi ( kalor,
dolor, turbor, dan tumor )
7. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam
pasca persalinan. Kemudian boleh miring ke kiri dan kekanan serta
diperbolehkan untuk duduk, atau pada hari ke – 4 dan ke- 5 diperbolehkan
pulang.
8. Miksi
Hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya, paling tidak 4
jam setelah kelahiran. Bila sakit, kencing dikaterisasi.
9. Defekasi
Buang air besar dapat dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila sulit bab dan
terjadi obstipasi apabila bab keras dapat diberikan laksans per oral atau
perektal. Jika belum biasa dilakukan klisma.
10. Kebersihan Diri
Anjurkan kepada ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, membersihkan
daerah kelamin dengan air dan sabun, dari vulva terlebih dahulu dari depan ke
belakang kemudian anus, kemudian mengganti pembalut setidaknya dua kali
sehari, mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan kelamin.
15
(16 inggu post partum)
Keunggulan ASI tersebut perlu ditunjang dengan cara pemberian ASI yang
benar, antara lain pemberian ASI segera setelah lahir (30 menit pertama bayi harus
16
sudah disusukan) kemudian pemberian ASI saja sampai bayi umur 6 bulan (ASI
eksklusif), selanjutnya pemberian ASI sampai 2 tahun dengan pemberian makanan
pendamping ASI yang benar. Sehingga diperlukan usaha- usaha atau pengelolaan
yang benar, agar setiap ibu dapat menyusui sendiri bayinya. (Maskanah 2012).
Menurut World Health Organization (WHO 2016) angka pemberian ASI
ekslusif di dunia berkisar 38 persen. Secara Nasional di Indonesia, cakupan bayi
mendapat ASI eksklusif sebesar 61,33% telah mencapai target rencana strategi
(Renstra) tahun 2017 yaitu 44%. (Depkes RI, 2017). Data Kementerian Kesehatan
(2018) mencatat angka inisiasi menyusui dini (IMD) di Indonesia meningkat dari
51,8 persen pada 2016 menjadi 57,8 persen pada 2017. Walaupun meningkat tetapi
angka tersebut masih jauh dari target 90 persen mengingat pentingnya peran ASI
bagi kehidupan anak. ASI merupakan asupan terbaik bagi bayi. Data yang
ditemukan dari riset kesehatan dasar di Indonesia terdapat 75 persen pemberian
ASI di propinsi Sumatra Utara, Bangka Belitung sebanyak 65 persen, Sulawesi
Utara 58 persen dan yang paling kurang dalam pemberian ASI di Nusa Tenggara
Timur yaitu 25 persen (Riskesdas, 2018).
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan
ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan
bayi dengan benar. Untuk mencapai keberhasilan
menyusui diperlukan pengetahuan mengenai teknik-
teknik menyusui yang benar. (Rinata, dkk 2016).
Berdasarkan hasil penelitian Khoriyah & Prihatini (2014)
mengatakan bahwa ada hubungan antara status paritas
dengan keterampilan menyusui yang benar karena
menurut peneliti pengetahuan ibu multipara lebih banyak
dari pada pengetahuan ibu
Menurut Wattimena (2015) keberhasilan Ibu menyusui
tergantung teknik menyusui pada ibu pasien melahirkan.
17
Proses menyusui yang perlu dilakukan dan ditaati Ibu
Menyusui pasca melahirkan, paling sedikit enam bulan.
Ibu Menyusui perlu manajemen diri yang kuat dalam
sadar diri dan determinasi diri. Pengetahun dan sikap Ibu
Menyusui tentang manajemen laktasi sangat
mempengaruhi Ibu Menyusui dalam pemberian ASI,
dimana laktasi merupakan keseluruhan proses menyusui
mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap
dan menelan ASI (Woja, 2018).
Teknik Menyusui
a. Mencuci tangan
b. Kaki menapak dan punggung menyandar
c. Memproduksikan bayi sehingga kepala dan bahu dalam satu garis lurus
d. Mengarahkan tubuh bayi menempel pada perut ibu
e. Menyangga seluruh tubuh bayi dengan kedua tangan
f. Menyentuhkan putting ibu ke pipi/bibir bayi sampai mulut bayi terbuka lebar
g. Ketika mulut bayi sudah membuka lebar putting susu dimasukkan kedalam
mulut bayi sampai sebagian besar areola bagian bawah masuk
Tanda bayi menghisap dengan benar
Bayi menghisap dengan teratur
Bayi menghisap dengan lambat tapi dalam
Saat menyusui ibu tidak merasakan nyeri pada putting ibu
h. Mengajari ibu cara melepas putting susu dari mulut bayi yaitu dengan
memadukan jari kelingking ibu ke sudut mulut bayi, kemudian menekan lidah
bayi sampai putting susu terlepas.
18
Nutirisi Ibu Pada Masa Nifas di Desa Geudong Wilayah Kerja
Puskesmas Kota Juang Kabupaten Bireun”
Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti semula atau pada keadaan sebelum hamil. Masa
nifas dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42
hari) setelah itu. Kebutuhan ibu nifas yang harus di penuhi salah satunya adalah
nutrisi yang seimbang dan lengkap, kualitas dan jumlah makanan ibu sangat
berpengaruh pada jumlah ASI yang dihasilkan. Menu makanan yang wajib
dikonsumsi adalah porsi tidak berlebihan dan teratur, dan berfungsi untuk
mempercepat pemulihan kekuatan dan kesehatan, meningkatkan produksi asi,
mencegah terjadinya infeksi, dan mencegah konstipasi (Rahmawati, 2019).
Nutrisi merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dan harus
mendapatkan perhatian khusus, terutama pada ibu postpartum dimana masih ada
luka perineum ataupun luka caesar dimana gizi diperlukan dalam proses
penyembuhan luka tersebut. Hal utama yang diperhatikan dalam nutrisi bukan
terkait banyaknya makanan yang dikonsumsi, akan tetapi zat gizi yang terkandung
didalam makanannya (Solehati, 2020)
Kebutuhan Gizi masa nifas akan meningkat 25%, untuk proses kesembuhan
dan produksi ASI. Menu makanan seimbang yang harus dikonsumsi adalah cukup
dan teratur, dan harus mengandung; 1).sumber tenaga (energi), 2). sumber
pembangunan (protein), 3). Sumber dan pelindung (mineral, vitamin dan air). Ibu
nifas memerlukan gizi untuk mempertahankan tubuh terhadap infeksi, mencegah
konstipasi dan untuk memulai proses laktasi. Asupan kalori yang dibutuhkan per-
hari 500 kalori dan dapat ditingkatkan sampai 2700 kalori. Asupan cairan per-hari
ditingkatkan sampai 3000 ml dengan 12 asupan susu 1000 ml. Suplemen zat besi
dapat diberikan kepada ibu nifas selama 4 minggu pertama setelah kelahiran
(Masruroh, 2013)
Pada saat ini banyak yang terjadi di kalangan ibu yaitu,53% ibu nifas masih
mempercayai budaya tarak atau pantangan mengkonsumsi makanan tertentu yang
19
dikarenakan pengaruh dari budaya terdahulu dari orang tua yang meyakini dapat
menimbulkan sesuatu yang dapat merugikan, padahal mereka masih harus
memberikan ASI pada anaknya. Hal ini menyebabkan mereka ingin tarak
makanan, mereka tidak sadar bahwa tindakanya dapat mempengaruhi
pertumbuhan bayinya (Saidah, 2011).
Komunikasi informasi edukasi (KIE) adalah suatu cara pemberian informasi
atau pesan terkait masalah tertentu oleh komunikator kepada komunikan melalui
media tertentu. KIE dalam program kesehatan ditunjukkan untukmengatasi
masalah kesehatan dengan meningkatkan kepedulian dan menghasilkan perubahan
prilakuyangspesifik.
Faktor yang mempengaruhi kemandirian ibu dalam melakukan perawatan diri
dan bayi adalah pengalaman di masa lalu karena seseorang telah mengalami proses
belajar dalam hal cara merawat diri. Apabila ibu sudah mengenal manfaat
perawatan diri atau teknik yang akan dilakukan, maka ibu akan lebih mudah dalam
melakukan Bidanan diri pasca bersalin. Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan
yang berperan penting dalam penyampaianinformasi kesehatan, berkewajiban
untuk memberikan penyuluhan kepada ibu dengan metode yang [Link]
yang dibutuhkan ibu selama masa nifas yaitu memantau dan mempertahankan
kesehatannya dengan memberikan informasi kesehatan dan keterampilan yang
tepat (Windarti, 2017).
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
20
a. Jurnal 1
Setelah dilakukan pengkajian sampai evaluasi kasus tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan. Penatalaksanaan yang diberikan
kepada Ny. F dengan keadaan normal sesuai dengan kebutuhan ibu nifas
diantaranya KIE pola nutrisi, KIE pola personal hygine dan perawatan perineum,
KIE pola menyusui, KIE perawatan bayi di rumah, KIE tanda bahaya masa nifas,
dan KIE tanda bahaya pada bayi.
b. Jurnal 2
DAFTAR PUSTAKA
Westi, I., & Nuzuliana, R. (2023). ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS. Jurnal
Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. 1 (22).
21
Aprilia, K., & Rompas, S. (2020). TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN
TEKNIK MENYUSUI PADA IBU PASCA MELAHIRKAN. Jurnal Asuhan Kebidanan. 2
(2).
Nadia, S., & Wati, R. (2021). HUBUNGAN PEMBERIAN KIE DENGAN PENGETAHUAN
IBU TENTANG NUTRISI IBU NIFAS DI DESA GEUDONG WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KOTA JUANG KABUPATEN BIREUN. Journal of Healtcare
Technology and Medicine. 7 (2).
LAMPIRAN
22
23