HALAMAN JUDUL
PANDUAN TIM CODE BLUE
Rumah Sakit Marsudi Waluyo
i
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO
NOMOR 1070.1/RSMW/D/A.1/VIII/2018
TENTANG PANDUAN TIM
CODE BLUE
DI RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO
DIREKTUR RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO
Menimbang : a. Bahwa peningkatan jumlah korban/pasien yang meninggal dan mengalami
kecacatan pada kejadian henti jantung dan atau henti nafas merupakan dampak
dari penanganan henti jantung dan atau henti nafas gawat darurat yang
kurang optimal;
b. Bahwa untuk mewujudkan peningkatan mutu pelayanan dalam penanganan
korban/pasien henti jantung dan atau henti nafas diperlukan panduan
sebagai acuan bagi Tim Code Blue;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b
perlu ditetapkan Keputusan Direktur Rumah Sakit Marsudi Waluyo tentang
Panduan Tim Code Blue di Rumah Sakit Marsudi Waluyo;
Mengingat : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129/Menkes/SK/II/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2017 tentang
Akreditasi Rumah Sakit;
MEMUTUSKAN
Menetapkan
Kesatu : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO TENTANG PANDUAN TIM
CODE BLUE DI RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO.
Kedua : Peraturan Direktur Rumah Sakit Waluyo Tentang Panduan Tim Code Blue di Rumah
Sakit Marsudi Waluyo digunakan sebagai acuan dalam memberikan pelayanan
resusitasi di Rumah Sakit Marsudi Waluyo.
Ketiga : Peraturan Direktur Rumah Sakit Marsudi Waluyo Tentang Panduan Tim Code Blue di
Rumah Sakit Marsudi Waluyo sebagaimana tercantum dalam lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur ini.
Keempat : Peraturan ini berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan.
Kelima : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Peraturan Direktur Rumah Sakit
Waluyo Tentang Panduan Tim Code Blue di Rumah Sakit Marsudi Waluyo
dilaksanakan oleh Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Medis Rumah Sakit
Keenam : Apabila
Marsudi di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam peraturan ini, akan diadakan
Waluyo.
perbaikan/pembetulan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Malang
Tanggal : 03 Agustus 2018
Direktur RS Marsudi Waluyo
Dr. Kristiwi Hanggriyani, S
MAR ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
..............................................................................................................................................i PERATURAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO ............................................................................. ii DAFTAR
ISI....................................................................................................................................................... iii BAB I
PENDAHULUAN.......................................................................................................................................1
A. LATAR BELAKANG .........................................................................................................................1
B. PENGERTIAN.................................................................................................................................1
C. TUJUAN.........................................................................................................................................1
BAB II RUANG
LINGKUP....................................................................................................................................2
BAB III KEBIJAKAN
............................................................................................................................................3
BAB IV
TATALAKSANA ......................................................................................................................................4
A. STRUKTUR ORGANISASI TIM “Code Blue”.....................................................................................4
B. URAIAN TUGAS TIM “Code Blue” ..................................................................................................4
C. PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA ....................................................................................6
D. PERENCANAAN KOMUNIKASI .......................................................................................................6
E. SISTEM DAN ALUR KERJA TIM.......................................................................................................6
F. PERALATAN TIM ...........................................................................................................................6
G. PELATIHAN DAN PENDIDIKAN TIM “Code Blue” ...........................................................................7
BAB IV DOKUMENTASI
.....................................................................................................................................8
iii
LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO
NOMOR 1070.1/RSMW/D/A.1/VIII/2018
TENTANG
PANDUAN TIM CODE BLUE DI RUMAH SAKIT MARSUDI WALUYO
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Resusitasi jantung paru merupakan serangkaian tindakan untuk meningkatkan daya tahan hidup
setelah terjadinya henti jantung. Meskipun pencapaian optimal dari resusitasi jantung paru ini
dapat
bervariasi, tergantung kepada kemampuan penolong, kondisi korban, dan sumber daya yang tersedia,
tantangan mendasar tetap pada bagaimana melakukan resusitasi jantung paru sedini mungkin dan
efektif.
Bantuan hidup dasar menekankan pada pentingnya mempertahankan sirkulasi dengan segera
melakukan kompresi sebelum membuka jalan napas dan memberikan napas bantuan. Perubahan pada
siklus bantuan hidup dasar menjadi C-A-B (Compression—Airway—Breathing) ini dengan
pertimbangan segera mengembalikan sirkulasi jantung sehingga perfusi jaringan dapat terjaga.
Rantai pertama pada rantai kelangsungan hidup (the chain of survival) adalah mendeteksi segera
kondisi korban dan meminta pertolongan (early access), rantai kedua adalah resusitasi jantung paru
(RJP) segera (early cardiopulmonary resuscitation), rantai ketiga adalah defibrilasi segera (early
defibrillation), rantai keempat adalah tindakan bantuan hidup lanjut segera (early advanced
cardiovascular life support) dan rantai kelima adalah perawatan pasca henti jantung (post cardiac-
arrest care).
Oleh karena itu, diperlukan adanya tim code blue untuk dapat melaksanakan resusitasi jantung paru
secara cepat dan tepat demi berlangsungnya rantai kelangsungan hidup seperti tersebut di atas.
B. PENGERTIAN
Code Blue/kode biru adalah kondisi gawat darurat yang terjadi di rumah sakit ataupun institusi di
mana terdapat pasien yang mengalami henti jantung dan merupakan kata sandi yang digunakan
untuk
mengatakan pasien dalam kondisi gawat darurat. Penanganan kondisi ini dilakukan oleh tim
yang terdiri dari dokter dan paramedis yang ditunjukkan sebagai code blue team, yang secara
cepat kepasien untuk melakukan tindakan penyelamatan.
C. TUJUAN
1. Untuk memberikan panduan baku bagi tim code blue dalam melaksanakan tugas-tugasnya
sebagai tim reaksi cepat jika code blue diaktifkan.
2. Membangun respon seluruh petugas di RS Marsudi Waluyo pada pelayanan kesehatan dalam
keadaan gawat darurat.
3. Mempercepat respon time kegawatdaruratan di rumah sakit untuk menghindari kematian dan
kecacatan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
1
BAB II RUANG
LINGKUP
Sistem respon cepat code blue dibentuk supaya semua kondisi darurat medis kritis dapat tertangani dengan
resusitasi dan stabilisasi sesegera mungkin. Sistem respon terbagi atas dua tahap yaitu:
1. Respon awal (responder pertama) berasal dari petugas rumah sakit yang berada di sekitarnya, di mana
terdapat layanan Bantuan Hidup Dasar (BHD)
2. Respon kedua (responder kedua) merupakan tim khusus dan terlatih dari unit yang ditunjuk oleh pihak
rumah sakit, yaitu code blue team
Sistem respon dilakukan dengan waktu sistem respon yang telah ditentukan berdasarkan standar kualifikasi
pelayanan yang telah ditentukan oleh rumah sakit. Untuk menunjang hal tersebut yang perlu dilakukan
adalah:
1. Semua personil rumah sakit wajib diikutkan pelatihan BHD agar memiliki kemampuan untuk
menunjang respon BHD di lokasi kejadian
2. Peralatan BHD harus ditempatkan di tempat yang strategis di rumah sakit, di mana peralatan dapat
dipindah atau dibawa untuk memungkinkan respon yang cepat.
2
BAB III
KEBIJAKAN
1. RS Marsudi Waluyo menyediakan pelayanan resusitasi dalam bentuk tim code blue dan memberikan
pelayanan resusitasi selama 24 jam setiap hari yang dilengkapi dengan peralatan medis untuk
resusitasi dan obat untuk bantuan hidup dasar terstandar sesuai dengan kebutuhan pasien.
2. Pelayanan resusitasi tersebut dilakukan di seluruh area rumah sakit serta diberikan segera saat
dikenali henti jantung-paru dan tindak lanjut diberikan kurang dari 5 (lima) menit
3
BAB IV
TATALAKSANA
A. STRUKTUR ORGANISASI TIM “Code Blue”
1. Koordinator tim
2. Penanggungjawab medis
3. Perawat terlatih
4. Perawat pelaksana
5. Penunjang
KOORDINATOR TIM
Kepala UGD
PENANGGUNGJAWAB PERAWAT TERLATIH PERAWAT PELAKSANA PENUNJANG
MEDIS - Perawat UGD Perawat Ruangan - Farmasi
Dokter Jaga UGD - Perawat Kamar - Satpam
Operasi - Pengemudi
- Perawat ICU
- Perawat Unit
Rawat Jalan
B. URAIAN TUGAS TIM “Code Blue”
1. Koordinator Tim
Dijabat oleh Kepala UGD
a. Uraian Tugas
Mengkoordinasikan berbagai pihak (dokter, perawat) termasuk awam agar aktif
melaksanakan life saving terkait code blue (henti jantung)
Bekerjasama dengan sie diklat untuk membuat pelatihan kegawatdaruratan yang
dibutuhkan oleh anggota tim
Melakukan evaluasi kinerja tim
b. Tanggung jawab
Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan pelayanan resusitasi melalui tim
code blue
Bertanggung jawab dalam pengembangan pengetahuan dan skill anggota tim
Bertanggung jawab terhadap ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam
menjalankan pelayanan resusitasi
Bertanggung jawab terhadap ketersediaan obat dan alat yang dibutuhkan dalam
menjalankan pelayanan resusitasi
c. Wewenang
Memerintahkan dan menugaskan staf dalam melaksanakan pelayanan code blue
Merencanakan dan mengusulkan pelatihan staf terkait dalam pengembangan
pengetahuan dan skill dalam bidang resusitasi
2. Penanggungjawab medis
Dijabat oleh Dokter Jaga UGD
a. Uraian Tugas
4
Mengkoordinasikan tiap anggota tim agar mampu berperan aktif sesuai kapasitasnya
saat melaksanakan tugas sebagai tim code blue
Mengindentifikasi hasil triage pasien yang telah dilaksanakan oleh perawat di ruang
perawatan
Memimpin penanggulangan saat terjadi kegawatdaruratan
Memimpin tim saat melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru)
Menentukan sikap selanjutnya
b. Tanggung Jawab
Bertanggung jawab dalam pelayanan resusitasi setiap kali ada panggilan tim code blue
Bertanggung jawab kepada koordinator tim atas pelayanan resusitasi yang dilaksanakan
c. Wewenang
Memberi perintah dan membagi tugas kepada setiap anggota tim saat melaksanakan
pelayanan resusitasi
Memberikan usulan terkait alur, sarana, prasarana, obat dan peralatan demi kemajuan
dan keberhasilan resusitasi
3. Perawat Terlatih
Terdiri dari: Perawat UGD, Perawat ICU, Perawat Kamar Operasi, Perawat Unit Rawat
Jalan
a. Uraian Tugas
Memberikan bantuan hidup dasar kepada pasien gawat/gawat darurat di seluruh unit
Rumah Sakit Marsudi Waluyo.
Melakukan resusitasi jantung paru kepada pasien gawat darurat di seluruh unit Rumah
Sakit Marsudi Waluyo.
Secara rutin mengecek kelengkapan code blue kit dan memastikan peralatan resusitasi
berfungsi dengan baik dan siap pakai.
b. Tanggung jawab
Bertanggung jawab dalam pelayanan resusitasi setiap kali ada panggilan tim code blue
sesuai dengan tugas yang diinstruksikan oleh Ketua Tim.
c. Wewenang
Memberikan usulan terkait alur, sarana, prasarana, obat dan peralatan demi kemajuan
dan keberhasilan resusitasi.
4. Perawat Pelaksana
Yang termasuk dalam perawat pelaksana adalah semua perawat dan bidan yang sudah
mendapatkan pelatihan Bantuan Hidup Dasar, yang mengkoordinasi wilayah bagian masing-
masing.
a. Uraian Tugas
Melaksanakan triase pasien berdasarkan Early Warning Scoring System dan melaporkan
hasil tersebut sesuai alur EWSS
Membantu ketua tim menangani pasien gawat dan gawat darurat
Memberikan bantuan hidup dasar kepada pasien gawat/gawat darurat diseluruh unit
b. Tanggung Jawab
Bertanggung jawab dalam pelayanan resusitasi jantung paru setiap kali terjadi cardiac
arrest
c. Wewenang
Memberikan usulan terkait alur, sarana, prasarana, obat dan peralatan demi kemajuan
dan keberhasilan resusitasi
5. Penunjang
a. Uraian tugas
Farmasi: Menjamin ketersediaan obat dan alat kesehatan di troli emergensi
Satpam dan pengemudi: Mendukung dengan cara mengambil bagian dalam hal
transportasi korban ke layanan definitif
b. Tanggung Jawab
Bertanggung jawab dalam ketersediaan sarana, prasarana dan obat yang digunakan
dalam pelayanan resusitasi
c. Wewenang
Memberikan usulan terkait alur, sarana, prasarana, obat dan peralatan demi kemajuan
dan keberhasilan resusitasi
5
C. PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA
Dalam satu shift harus ada 2-3 orang perawat yang bertugas sebagai tim code blue. Perencanaan SDM
(Sumber Daya Manusia) ditentukan berdasarkan kondisi kegawatdaruratan pasien, sebagai berikut:
1. Melakukan indentifikasi awal/triage di ruang perawatan
a. Dokter jaga
b. Perawat pelaksana
2. Melakukan penanggulangan pasien gawat darurat di ruang perawatan
a. Dokter jaga
b. Perawat terlatih 1 orang
c. Perawat pelaksana
3. Melakukan RJP
a. Dokter jaga
b. Perawat terlatih 2-3 orang
c. Perawat pelaksana
Kualifikasi petugas tim code blue:
1. Telah mengkuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD)
2. Telah mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan Bantuan Hidup Lanjut (BHL)/PPGD/ACLS
atau
pelatihan code blue
3. Aksesibilitas/keterjangkauannya memenuhi respon time 5 (lima)
menit.
4. Sudah pernah bekerja sebagai team work
5. Sudah pernah melakukan simulasi jika ada kejadian code blue.
D. PERENCANAAN KOMUNIKASI
Komunikasi dalam penanganan kegawatdaruratan di rumah sakit merupakan hal yang sangat
penting,
untuk itu ada hal-hal yang harus dipenuhi dalam berkomunikasi, yaitu:
1. Komunikasi dilakukan dengan singkat, jelas dan benar
2. Menggunakan kata sandi biru (code blue) dan menyebutkan nama pemanggil, lokasi
kejadian,
jumlah dan jenis pasien (dewasa atau anak). (Seperti tertulis di SPO Aktivasi Tim Code
Blue)
3. Alat-alat yang digunakan sebagai standar adalah telepon kode darurat
#3301.
E. SISTEM DAN ALUR KERJA TIM
Setiap shift, saat mulai bertugas sehari-hari, perawat pelaksana di ruangan berkeliling mengunjungi
pasien yang sedang dirawat. Hal ini untuk mengetahui ada tidaknya perburukan yang terjadi
atau pasien dalam kondisi darurat. Bila ditemukan pasien dalam keadaan tidak sadar, dokter jaga
bersama dengan perawat melakukan tindakan penanggulangan kegawatdaruratan sesuai
kebutuhan pasien. Bila tindakan berhasil, dilakukan penilaian untuk tindakan selanjutnya. Tetapi
jika pasien mengalami
perburukan kondisi atau henti nafas dan henti jantung maka perawat segera memanggil tim code
blue
melalui sistem komunikasi yang disepakati sesuai Standar Prosedur Operasional
(SPO).
F. PERALATAN TIM
1. AED 1 buah
2. Kit Code Blue:
a. Nasal Canula dewasa, anak
b. NRBM dewasa, anak
c. Laryngeal Mask Airway no 2,3,4,5
d. Set infus makro 1 buah
e. Set infuse mikro 1 buah
f. IV kateter berbagai ukuran
g. Cairan Infus: NaCl 0,9%, RL
h. Adrenalin injeksi
6
i. Nor epinephrine injeksi
j. Amiodaron injeksi
k. Dopamin injeksi
l. Dobutamin injeksi
m. Sulfas atropine injeksi
n. Dispossible spuit 3cc
3. Oksigen transport
4. Tiang infus
5. Brankart
7
6. Scoop stretcher
G. PELATIHAN DAN PENDIDIKAN TIM “Code Blue”
Perencanaan kegiatan tim code blue meliputi:
1. Pelayanan sehari-hari
Merupakan kegiatan sehari-hari dalam mengidentifikasi (triage) pasien-pasien yang ada di
ruangan perawatan sehingga keadaan gawat/gawat darurat pasien dapat lebih dini diketahui dan
ditanggulangi sehingga mencegah kematian dan kecacatan yang tidak perlu terjadi melalui
Early
Warning Scoring System.
2. Pelayanan kegawat daruratan pasien di ruangan
Merupakan kegiatan pelayanan dalam menangani pasien gawat darurat dengan memberikan
pertolongan bantuan hidup dasar dan resusitasi jantung paru dan otak.
3. Pelatihan dan peningkatan SDM
Guna menjaga dan meningkatkan kualitas kemampuan anggota tim, maka dibuat suatu
pendidikan dan pelatihan meliputi teori dan praktik sesuai kebutuhan tim.
4. Evaluasi dan kendali mutu
Pelaksanaan kegiatan penanggulangan dan penanganan pasien gawat/gawat darurat oleh tim
“code blue” harus dapat dievaluasi dan dilakukan kendali mutu agar kesempurnaan kegiatan
menjadi lebih baik. Oleh karena itu tim pengendali mutu rumah sakit diharapkan dapat
secara rutin melaksanakan evaluasi dan kendali mutu tim “code blue”
8
BAB IV
DOKUMENTASI
Semua kegiatan code blue dicatat dan didokumentasikan dalam Log Book Tim Code Blue dan
digunakan sebagai bukti bilamana proses ini diperlukan.
Direktur,
Dr. Kristiwi MARS