0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Horor

Kedua cerita menggambarkan pengalaman menakutkan di rumah kosong yang dihuni oleh arwah. Dalam cerita pertama, Arman kembali ke rumah masa kecilnya dan berhadapan dengan sosok ibunya yang meninggal, sementara dalam cerita kedua, seorang penyewa rumah kontrakan mendengar suara misterius dari dalam lemari yang terkait dengan tragedi masa lalu. Keduanya berakhir dengan situasi yang mencekam dan tidak terduga, meninggalkan kesan mendalam tentang kehilangan dan penyesalan.

Diunggah oleh

Abdel M
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Horor

Kedua cerita menggambarkan pengalaman menakutkan di rumah kosong yang dihuni oleh arwah. Dalam cerita pertama, Arman kembali ke rumah masa kecilnya dan berhadapan dengan sosok ibunya yang meninggal, sementara dalam cerita kedua, seorang penyewa rumah kontrakan mendengar suara misterius dari dalam lemari yang terkait dengan tragedi masa lalu. Keduanya berakhir dengan situasi yang mencekam dan tidak terduga, meninggalkan kesan mendalam tentang kehilangan dan penyesalan.

Diunggah oleh

Abdel M
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Cerita 1

Langit sore itu menggantung rendah di atas Desa Kaliputih. Awan kelabu
menekan pucuk-pucuk bambu hingga berdesir seperti bisikan panjang yang tak
selesai. Arman baru saja kembali ke rumah masa kecilnya setelah sepuluh tahun
merantau. Rumah kayu itu berdiri di ujung jalan tanah, menghadap sawah yang
kini lebih sunyi dari ingatannya.
Sejak ibunya meninggal, rumah itu kosong. Orang-orang desa bilang tidak ada
yang berani menempatinya. Bukan karena rapuh, melainkan karena sesuatu
yang tertinggal.
Malam pertama, Arman tidur di kamar lamanya. Bau kayu lembap dan kapur
barus menyatu dengan dingin yang merayap dari lantai. Sekitar pukul dua dini
hari, ia terbangun oleh suara ketukan pelan dari arah dapur. Tok… tok… tok…
Teratur, seperti sendok mengetuk gelas.
Ia mencoba mengabaikannya. Mungkin tikus. Namun suara itu berubah menjadi
gesekan kursi yang ditarik perlahan. Lalu terdengar suara perempuan berdeham
lirih.
“Man…”
Tubuhnya kaku. Itu suara ibunya.
Arman bangkit, menyalakan senter ponsel, dan melangkah ke dapur. Gelap pekat
menyelimuti ruangan. Hanya cahaya bulan yang menembus celah jendela. Meja
makan bergeser beberapa sentimeter dari posisi semula. Di atasnya, ada piring
berisi nasi putih yang masih mengepul.
Padahal tak ada kompor menyala.
“Man… ibu sudah masak.”
Suara itu kini jelas, berasal dari sudut ruangan. Arman menoleh perlahan. Di
dekat lemari kayu, berdiri sosok perempuan dengan kebaya lusuh. Rambutnya
panjang menutupi wajah. Tubuhnya membelakangi Arman.
“Ibu?” suara Arman bergetar.
Sosok itu tidak menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah
sumur di belakang rumah.
Dalam sekejap, lampu senter mati. Dapur kembali gelap total. Bau anyir tiba-tiba
memenuhi udara. Arman terhuyung ke luar, menuju halaman belakang. Bulan
tertutup awan, membuat sumur tua itu tampak seperti lubang hitam.
Tiba-tiba terdengar suara cipratan air dari dalam sumur. Disusul tawa pelan yang
berubah menjadi tangis panjang.
Arman teringat sesuatu yang selama ini ia kubur dalam ingatan. Sepuluh tahun
lalu, ia bertengkar hebat dengan ibunya. Dalam amarah, ia mendorong
perempuan itu saat mereka berada di dekat sumur. Ibunya terpeleset. Ia
terjatuh. Arman panik dan lari, membiarkan warga menemukan jasadnya
keesokan hari.
Semua orang menganggap itu kecelakaan.
Air sumur kini bergolak, padahal tak ada angin. Dari permukaan air, perlahan
muncul tangan pucat dengan kuku panjang kehitaman. Tangan itu
mencengkeram bibir sumur, lalu kepala ibunya muncul. Wajahnya pucat
membiru, mata terbuka lebar tanpa bola mata, hanya rongga hitam menganga.
“Kenapa kau tinggalkan ibu… Man?”
Arman mundur, napasnya tersengal. Tanah di bawah kakinya terasa lembek
seperti lumpur hidup yang menahan langkahnya. Sosok itu merangkak keluar
dari sumur dengan gerakan patah-patah, tulangnya berbunyi retak di setiap
gerakan.
“Aku kedinginan… temani ibu.”
Tangan dingin mencengkeram pergelangan kaki Arman. Sentuhannya seperti es
yang membakar kulit. Ia menjerit, mencoba melepaskan diri, namun
cengkeraman itu semakin kuat. Tanah retak dan perlahan menyeret tubuhnya
mendekati sumur.
Tangis berubah menjadi tawa yang menggema di seluruh halaman. Saat tubuh
Arman terseret hingga bibir sumur, ia melihat ke dalam. Airnya bukan lagi
bening, melainkan hitam pekat seperti tinta.
Sebelum ia sempat berteriak lagi, tarikan kuat menariknya jatuh.
Keesokan paginya, warga menemukan rumah itu tetap kosong. Namun di dapur,
ada dua piring nasi hangat di atas meja. Dan dari arah sumur, kadang terdengar
suara sendok mengetuk gelas, menunggu seseorang pulang.
Cerita 2
Sejak awal, aku sudah merasa rumah kontrakan itu terlalu murah untuk ukuran
bangunan sebesar itu. Letaknya di ujung gang sempit, menghadap sawah yang
tak lagi digarap. Dindingnya tinggi dan kusam, catnya mengelupas seperti kulit
yang lama tak tersentuh cahaya. Pemiliknya hanya berkata singkat, “Sudah lama
kosong. Kalau berani, ambil saja.”
Aku pindah sendirian. Malam pertama berjalan biasa, kecuali suara angin yang
terdengar seperti bisikan panjang dari sela ventilasi. Aku mengabaikannya.
Hingga pukul dua belas tepat, terdengar bunyi ketukan dari dalam lemari di
kamar tidur.
Tok. Tok. Tok.
Pelan. Teratur. Seperti seseorang meminta dibukakan.
Kupikir mungkin kayu yang memuai. Aku mencoba tidur lagi. Ketukan itu
berhenti. Namun tepat ketika mataku hampir terpejam, terdengar suara gesekan
dari dalam lemari, seperti kuku panjang yang diseret perlahan di permukaan
kayu bagian dalam.
Aku bangun dan menyalakan lampu. Suara itu hilang. Dengan napas berat, aku
membuka pintu lemari. Kosong. Hanya gantungan baju dan bau apek yang
menusuk. Aku menertawakan ketakutanku sendiri, lalu menutupnya kembali.
Malam kedua, suara itu datang lebih cepat. Bukan lagi ketukan, melainkan
dentuman keras dari dalam lemari, seolah ada yang membentur pintunya dari
dalam. Kali ini aku tidak berani membuka. Aku hanya duduk memandangi pintu
kayu itu, berharap semuanya berhenti.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan berbisik.
“Tolong aku…”
Suara itu serak, seperti tenggorokan yang kering. Aku membeku. Suara itu jelas
berasal dari dalam lemari.
“Dia di luar… dia akan masuk…”
Lampu kamar berkedip. Udara mendadak dingin. Aku memberanikan diri
mendekat. Tanganku gemetar saat menyentuh gagang lemari. Sebelum sempat
kubuka, pintu itu bergetar sendiri, lalu berhenti.
Sunyi.
Keesokan paginya, aku mencari tahu pada tetangga. Seorang ibu tua di ujung
gang menatapku lama sebelum berkata, “Dulu ada perempuan tinggal di situ.
Katanya sering dikunci suaminya di dalam lemari kalau mereka bertengkar.” Ia
menunduk. “Suatu malam, suaminya pergi dan tak pernah kembali. Perempuan
itu ditemukan meninggal… di dalam lemari.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
Malam ketiga, aku memutuskan untuk tidak tidur di kamar. Aku membentangkan
kasur di ruang tamu. Kupikir jarak akan membuatku aman. Namun tepat pukul
dua belas, terdengar suara pintu kamar terbuka perlahan.
Kriettt…
Langkah kaki menyeret terdengar mendekat ke arah ruang tamu. Berat. Tidak
wajar. Aku memejamkan mata, berpura-pura tidur. Bau busuk, seperti tanah
basah bercampur sesuatu yang membusuk, memenuhi udara.
Lalu kurasakan sesuatu berdiri tepat di sampingku.
Rambut panjang menyentuh pipiku. Dingin. Lembap.
“Dia belum pergi…” bisiknya tepat di telingaku.
Aku memberanikan diri membuka mata sedikit. Di hadapanku, berdiri sosok
perempuan dengan leher miring tak wajar. Wajahnya pucat kebiruan, matanya
hitam kosong tanpa putih. Dari sela bibirnya menetes cairan gelap.
Ia menunjuk ke arah pintu.
Dan di ambang pintu, berdiri sosok lain. Tinggi. Kurus. Wajahnya tak terlihat
jelas, hanya bayangan pekat. Tangannya memegang gagang lemari kecil yang
entah bagaimana kini berdiri di ruang tamu.
Lemari itu terbuka perlahan.
Dari dalamnya terdengar banyak suara berbisik, tumpang tindih, seperti puluhan
orang terjebak dalam ruang sempit.
Perempuan di sampingku tersenyum perlahan, senyum yang terlalu lebar untuk
wajah manusia.
“Sekarang kamu gantinya.”
Lampu padam.
Saat aku terbangun, aku berada dalam ruang gelap yang sempit. Bau kayu tua
dan tanah lembap memenuhi hidungku. Kuku-kuku menggores dinding di
sekelilingku, mencari celah.
Di luar, kudengar langkah kaki menjauh.
Dan pintu lemari itu terkunci dari luar.
Cerita 1
Langit sore itu menggantung rendah di atas Desa Kaliputih. Awan kelabu
menekan pucuk-pucuk bambu hingga berdesir seperti bisikan panjang yang tak
selesai. Arman baru saja kembali ke rumah masa kecilnya setelah sepuluh tahun
merantau. Rumah kayu itu berdiri di ujung jalan tanah, menghadap sawah yang
kini lebih sunyi dari ingatannya.
Sejak ibunya meninggal, rumah itu kosong. Orang-orang desa bilang tidak ada
yang berani menempatinya. Bukan karena rapuh, melainkan karena sesuatu
yang tertinggal.
Malam pertama, Arman tidur di kamar lamanya. Bau kayu lembap dan kapur
barus menyatu dengan dingin yang merayap dari lantai. Sekitar pukul dua dini
hari, ia terbangun oleh suara ketukan pelan dari arah dapur. Tok… tok… tok…
Teratur, seperti sendok mengetuk gelas.
Ia mencoba mengabaikannya. Mungkin tikus. Namun suara itu berubah menjadi
gesekan kursi yang ditarik perlahan. Lalu terdengar suara perempuan berdeham
lirih.
“Man…”
Tubuhnya kaku. Itu suara ibunya.
Arman bangkit, menyalakan senter ponsel, dan melangkah ke dapur. Gelap pekat
menyelimuti ruangan. Hanya cahaya bulan yang menembus celah jendela. Meja
makan bergeser beberapa sentimeter dari posisi semula. Di atasnya, ada piring
berisi nasi putih yang masih mengepul.
Padahal tak ada kompor menyala.
“Man… ibu sudah masak.”
Suara itu kini jelas, berasal dari sudut ruangan. Arman menoleh perlahan. Di
dekat lemari kayu, berdiri sosok perempuan dengan kebaya lusuh. Rambutnya
panjang menutupi wajah. Tubuhnya membelakangi Arman.
“Ibu?” suara Arman bergetar.
Sosok itu tidak menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah
sumur di belakang rumah.
Dalam sekejap, lampu senter mati. Dapur kembali gelap total. Bau anyir tiba-tiba
memenuhi udara. Arman terhuyung ke luar, menuju halaman belakang. Bulan
tertutup awan, membuat sumur tua itu tampak seperti lubang hitam.
Tiba-tiba terdengar suara cipratan air dari dalam sumur. Disusul tawa pelan yang
berubah menjadi tangis panjang.
Arman teringat sesuatu yang selama ini ia kubur dalam ingatan. Sepuluh tahun
lalu, ia bertengkar hebat dengan ibunya. Dalam amarah, ia mendorong
perempuan itu saat mereka berada di dekat sumur. Ibunya terpeleset. Ia
terjatuh. Arman panik dan lari, membiarkan warga menemukan jasadnya
keesokan hari.
Semua orang menganggap itu kecelakaan.
Air sumur kini bergolak, padahal tak ada angin. Dari permukaan air, perlahan
muncul tangan pucat dengan kuku panjang kehitaman. Tangan itu
mencengkeram bibir sumur, lalu kepala ibunya muncul. Wajahnya pucat
membiru, mata terbuka lebar tanpa bola mata, hanya rongga hitam menganga.
“Kenapa kau tinggalkan ibu… Man?”
Arman mundur, napasnya tersengal. Tanah di bawah kakinya terasa lembek
seperti lumpur hidup yang menahan langkahnya. Sosok itu merangkak keluar
dari sumur dengan gerakan patah-patah, tulangnya berbunyi retak di setiap
gerakan.
“Aku kedinginan… temani ibu.”
Tangan dingin mencengkeram pergelangan kaki Arman. Sentuhannya seperti es
yang membakar kulit. Ia menjerit, mencoba melepaskan diri, namun
cengkeraman itu semakin kuat. Tanah retak dan perlahan menyeret tubuhnya
mendekati sumur.
Tangis berubah menjadi tawa yang menggema di seluruh halaman. Saat tubuh
Arman terseret hingga bibir sumur, ia melihat ke dalam. Airnya bukan lagi
bening, melainkan hitam pekat seperti tinta.
Sebelum ia sempat berteriak lagi, tarikan kuat menariknya jatuh.
Keesokan paginya, warga menemukan rumah itu tetap kosong. Namun di dapur,
ada dua piring nasi hangat di atas meja. Dan dari arah sumur, kadang terdengar
suara sendok mengetuk gelas, menunggu seseorang pulang.
Cerita 2
Sejak awal, aku sudah merasa rumah kontrakan itu terlalu murah untuk ukuran
bangunan sebesar itu. Letaknya di ujung gang sempit, menghadap sawah yang
tak lagi digarap. Dindingnya tinggi dan kusam, catnya mengelupas seperti kulit
yang lama tak tersentuh cahaya. Pemiliknya hanya berkata singkat, “Sudah lama
kosong. Kalau berani, ambil saja.”
Aku pindah sendirian. Malam pertama berjalan biasa, kecuali suara angin yang
terdengar seperti bisikan panjang dari sela ventilasi. Aku mengabaikannya.
Hingga pukul dua belas tepat, terdengar bunyi ketukan dari dalam lemari di
kamar tidur.
Tok. Tok. Tok.
Pelan. Teratur. Seperti seseorang meminta dibukakan.
Kupikir mungkin kayu yang memuai. Aku mencoba tidur lagi. Ketukan itu
berhenti. Namun tepat ketika mataku hampir terpejam, terdengar suara gesekan
dari dalam lemari, seperti kuku panjang yang diseret perlahan di permukaan
kayu bagian dalam.
Aku bangun dan menyalakan lampu. Suara itu hilang. Dengan napas berat, aku
membuka pintu lemari. Kosong. Hanya gantungan baju dan bau apek yang
menusuk. Aku menertawakan ketakutanku sendiri, lalu menutupnya kembali.
Malam kedua, suara itu datang lebih cepat. Bukan lagi ketukan, melainkan
dentuman keras dari dalam lemari, seolah ada yang membentur pintunya dari
dalam. Kali ini aku tidak berani membuka. Aku hanya duduk memandangi pintu
kayu itu, berharap semuanya berhenti.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan berbisik.
“Tolong aku…”
Suara itu serak, seperti tenggorokan yang kering. Aku membeku. Suara itu jelas
berasal dari dalam lemari.
“Dia di luar… dia akan masuk…”
Lampu kamar berkedip. Udara mendadak dingin. Aku memberanikan diri
mendekat. Tanganku gemetar saat menyentuh gagang lemari. Sebelum sempat
kubuka, pintu itu bergetar sendiri, lalu berhenti.
Sunyi.
Keesokan paginya, aku mencari tahu pada tetangga. Seorang ibu tua di ujung
gang menatapku lama sebelum berkata, “Dulu ada perempuan tinggal di situ.
Katanya sering dikunci suaminya di dalam lemari kalau mereka bertengkar.” Ia
menunduk. “Suatu malam, suaminya pergi dan tak pernah kembali. Perempuan
itu ditemukan meninggal… di dalam lemari.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
Malam ketiga, aku memutuskan untuk tidak tidur di kamar. Aku membentangkan
kasur di ruang tamu. Kupikir jarak akan membuatku aman. Namun tepat pukul
dua belas, terdengar suara pintu kamar terbuka perlahan.
Kriettt…
Langkah kaki menyeret terdengar mendekat ke arah ruang tamu. Berat. Tidak
wajar. Aku memejamkan mata, berpura-pura tidur. Bau busuk, seperti tanah
basah bercampur sesuatu yang membusuk, memenuhi udara.
Lalu kurasakan sesuatu berdiri tepat di sampingku.
Rambut panjang menyentuh pipiku. Dingin. Lembap.
“Dia belum pergi…” bisiknya tepat di telingaku.
Aku memberanikan diri membuka mata sedikit. Di hadapanku, berdiri sosok
perempuan dengan leher miring tak wajar. Wajahnya pucat kebiruan, matanya
hitam kosong tanpa putih. Dari sela bibirnya menetes cairan gelap.
Ia menunjuk ke arah pintu.
Dan di ambang pintu, berdiri sosok lain. Tinggi. Kurus. Wajahnya tak terlihat
jelas, hanya bayangan pekat. Tangannya memegang gagang lemari kecil yang
entah bagaimana kini berdiri di ruang tamu.
Lemari itu terbuka perlahan.
Dari dalamnya terdengar banyak suara berbisik, tumpang tindih, seperti puluhan
orang terjebak dalam ruang sempit.
Perempuan di sampingku tersenyum perlahan, senyum yang terlalu lebar untuk
wajah manusia.
“Sekarang kamu gantinya.”
Lampu padam.
Saat aku terbangun, aku berada dalam ruang gelap yang sempit. Bau kayu tua
dan tanah lembap memenuhi hidungku. Kuku-kuku menggores dinding di
sekelilingku, mencari celah.
Di luar, kudengar langkah kaki menjauh.
Dan pintu lemari itu terkunci dari luar.

Anda mungkin juga menyukai