0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan9 halaman

System Service Request

Dokumen ini menjelaskan tentang System Service Request (SSR) sebagai alat resmi untuk mengajukan permintaan layanan sistem informasi, serta pentingnya preceding activity dalam pengembangan sistem secara berurutan. Selain itu, critical path diidentifikasi sebagai rangkaian aktivitas terpenting dalam proyek yang mempengaruhi waktu penyelesaian, dan Work Breakdown Structure (WBS) digunakan untuk merencanakan tahapan pengembangan sistem informasi akuntansi pada UMKM. Network diagram menggambarkan alur keterkaitan aktivitas dalam proyek, menunjukkan jalur kritis yang harus diperhatikan untuk menjaga jadwal penyelesaian proyek.

Diunggah oleh

DIVA NOFRIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan9 halaman

System Service Request

Dokumen ini menjelaskan tentang System Service Request (SSR) sebagai alat resmi untuk mengajukan permintaan layanan sistem informasi, serta pentingnya preceding activity dalam pengembangan sistem secara berurutan. Selain itu, critical path diidentifikasi sebagai rangkaian aktivitas terpenting dalam proyek yang mempengaruhi waktu penyelesaian, dan Work Breakdown Structure (WBS) digunakan untuk merencanakan tahapan pengembangan sistem informasi akuntansi pada UMKM. Network diagram menggambarkan alur keterkaitan aktivitas dalam proyek, menunjukkan jalur kritis yang harus diperhatikan untuk menjaga jadwal penyelesaian proyek.

Diunggah oleh

DIVA NOFRIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.

2 System Service Request

System Service Request (SSR) adalah sebuah dokumen resmi yang


digunakan untuk mengajukan permintaan layanan atau pengembangan sistem
informasi kepada bagian pengelola sistem atau tim IT. Dokumen ini biasanya
menjadi dasar komunikasi antara pengguna (user) dengan pengembang
(developer) mengenai kebutuhan sistem baru, perbaikan sistem yang sudah ada,
atau penambahan fitur tertentu (Fitriansyah & Hasibuan , 2022). Fungsi SSR
adalah sebagai sarana resmi untuk mendokumentasikan dan menyampaikan
kebutuhan pengguna terkait pengembangan, perbaikan, atau penambahan layanan
pada sistem informasi. Isi dari SSR biasanya mencakup ID atau nomor
permintaan, nama pemohon/departemen, tanggal permintaan, deskripsi masalah
atau kebutuhan, prioritas (tinggi, sedang, rendah), dan status (diajukan, diproses,
selesai).

Gambar 1 Contoh Bentuk System Service Request


2.6 Preceding Activity

Preceding Activity adalah aktivitas pendahulu yang harus diselesaikan


terlebih dahulu sebelum aktivitas berikutnya dapat dimulai. Jika menggunakan
metode Waterfall, konsep ini sangat penting karena setiap tahapan pengembangan
sistem berjalan secara berurutan dan linear. Artinya, suatu tahap tidak bisa
dikerjakan apabila tahap sebelumnya belum selesai (Fanada & Nurgiyatna, 2024).
Fungsi utama dari preceding activity adalah untuk mengatur alur kerja agar lebih
terstruktur, menghindari tumpang tindih pekerjaan, serta memastikan kualitas
hasil dari tiap tahap sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Selain itu,
preceding activity juga berperan sebagai dasar dalam penyusunan Work
Breakdown Structure (WBS) dan penjadwalan proyek, sehingga hubungan antar
tugas dapat diatur dengan jelas menggunakan ketergantungan seperti finish to
start. Contohnya tahap analisis kebutuhan sistem menjadi preceding activity untuk
perancangan desain.

2.9 Critical Path

Critical Path adalah rangkaian aktivitas terpanjang dalam sebuah proyek


yang menentukan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan. Aktivitas-
aktivitas pada jalur kritis tidak boleh terlambat, karena setiap keterlambatan akan
langsung menunda penyelesaian proyek. Fungsi critical path adalah untuk
membantu manajer proyek mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang paling
krusial, mengatur prioritas, dan mengalokasikan sumber daya dengan tepat agar
proyek selesai sesuai jadwal. Analisis jalur kritis dilakukan melalui dua proses,
yaitu forward pass dan backward pass. Selama forward pass, ditentukan ES
(earliest start) dan EF (earliest finish), di mana ES adalah waktu paling awal
suatu kegiatan dapat dimulai dengan asumsi semua pendahulu telah selesai,
sedangkan EF adalah waktu paling awal kegiatan tersebut dapat diselesaikan.
Backward pass, ditentukan LS (latest start) dan LF (latest finish), LS
menunjukkan waktu terakhir suatu kegiatan dapat dimulai tanpa menunda
penyelesaian proyek, sedangkan LF adalah waktu terakhir kegiatan dapat
diselesaikan agar proyek tetap selesai tepat waktu (Sa’adah, 2022).
3.3 Work Breakdown Structure (WBS)

Gambar 2 Work Breakdown Structure (WBS) UMKM Liwet Asep Stroberi

Work Breakdown Structure (WBS) yang disusun pada penelitian tersebut


menggambarkan tahapan System Development Life Cycle (SDLC) yang
diterapkan untuk membangun sistem informasi akuntansi laporan Harga Pokok
Produksi (HPP) pada UMKM Liwet Asep Strobery. Proses dimulai dari tahap
Planning, yakni mengidentifikasi masalah pencatatan biaya bahan baku, bumbu,
kemasan, dan tenaga kerja yang sebelumnya dilakukan secara manual,
menentukan ruang lingkup proyek, serta memperoleh persetujuan pemilik UMKM
untuk pengembangan sistem. Tahap Analysis meliputi pengumpulan data
kebutuhan seperti alur pembelian beras, stroberi, dan bahan pelengkap,
perhitungan biaya tenaga kerja, serta biaya overhead agar sistem mampu
menghitung HPP secara tepat. Tahap Design mencakup perancangan database
yang menampung seluruh data biaya produksi, pembuatan rancangan antarmuka
input–output, serta penyusunan DFD, Flowchart, dan ERD yang memetakan
aliran data biaya dari pembelian bahan hingga penjualan produk liwet. Tahap
Implementation mencakup pembuatan program akuntansi, pengujian unit dan
integrasi, migrasi data awal, dan pelatihan karyawan agar dapat menggunakan
sistem untuk menghasilkan laporan HPP otomatis setiap periode produksi. Tahap
Maintenance berfokus pada pemeliharaan dan pembaruan sistem jika terjadi
perubahan harga bahan, metode produksi, atau muncul kebutuhan laporan
tambahan. Penerapan SDLC ini membantu UMKM Liwet Asep Strobery
menghitung biaya produksi secara akurat, menyajikan laporan HPP tepat waktu,
dan menetapkan harga jual berdasarkan data yang terstruktur.
.
3.7 Network Diagram

Network diagram pada proyek ini memperlihatkan alur keterkaitan antar


aktivitas yang terstruktur sesuai dengan metode SDLC Waterfall. Proyek dimulai
dengan analisis kebutuhan sistem pada 15-19 September 2025, yang kemudian
menjadi dasar bagi tahap desain sistem pada 22 September-9 Oktober 2025.
Desain ini mencakup perancangan DFD, flowchart, ERD, serta desain database
dan antarmuka yang dapat dikerjakan secara paralel. Setelah desain selesai, tahap
pengkodean sistem dilakukan pada 10-23 Oktober 2025, diikuti implementasi
modul akuntansi mulai 24 Oktober-5 November 2025 yang meliputi jurnal umum,
buku besar, neraca saldo, dan laporan HPP secara berurutan. Periode yang sama,
pengujian juga dilaksanakan melalui unit test dan integration test, lalu dilanjutkan
dengan user acceptance test pada 6-11 November 2025. Proyek ditutup dengan
dokumentasi pada 12-18 November 2025 sebagai laporan akhir. Analisis terhadap
network diagram ini menunjukkan jalur kritis proyek adalah analisis, desain,
coding, implementasi, UAT, dan dokumentasi, sehingga keterlambatan pada salah
satu tahap tersebut akan berpengaruh langsung pada penyelesaian proyek.
Network diagram memberikan gambaran jelas mengenai ketergantungan antar
tugas, jalur kritis, serta peluang percepatan penyelesaian proyek.

Anda mungkin juga menyukai