MAKALAH PEMBELAJARAN LITERASI SD
“PROGRAM LITERASI SD”
Disusun oleh:
Dinanti Aydina Fitri
1910013411065
Dosen pengampu :
Hidayati Azkiya, S. Pd., [Link].
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BUNG HATTA
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pembelajaran Literasi SD.
Tak lupa sholawat serta salam tetap tecurah kepada Nabi besar Muhammad SAW. yang telah
menuntun kita dari jalan yang gelap gulita menuju jalan yang terang dengan membawa
agama yang sempurna addinul islam.
Makalah yang penulis susun ini menjelaskan tentang "PROGRAM LITERASI SD"
ini juga bertujuan agar kita mengetahui materi tentang berbagai komponen, manfaat dan
tahapan literasi.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yaitu Ibu Hidayati
Azkiya, S. Pd., [Link]. yang dengan kesabarannya telah membantu penulis sehingga makalah
ini dapat terselesaikan.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas bagi
pembaca. Terima kasih.
Padang, 2 Februari 2025
Dinanti Aydina Fitri
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................
A. Latar Belakang .......................................................................................
B. Rumusan Masalah ..................................................................................
C. Tujuan .....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................
A. Komponen Program Literasi……………….............................................
B. Tujuan dan Manfaat Literasi……..............................................................
C. Tahapan-tahapan Program Pembelajaran Literasi......................................
BAB III PENUTUP ...................................................................................
A. Kesimpulan .............................................................................................
B. Saran .......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gerakan Literasi Sekolah yang digagas dan dikembangkan Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta
didik Indonesia dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Data penelitian dalam
Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2011 menunjukkan bahwa
kemampuan siswa Indonesia dalam memahami bacaan berada di bawah rata-rata
internasional. Melalui penguatan kompetensi literasi, terutama literasi dasar, peserta didik
diharapkan dapat memanfaatkan akses lebih luas pada pengetahuan agar rendahnya peringkat
kompetensi tersebut dapat diperbaiki.
Kompetensi literasi dasar (menyimak-berbicara, membaca-menulis, berhitung,
memperhitungkan, dan mengamati-menggambar) sudah selayaknya ditanamkan sejak
pendidikan dasar, lalu dilanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar peserta
didik dapat meningkatkan kemampuan untuk mengakses informasi dan pengetahuan. Selain
itu, peserta didik mampu membedakan informasi yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Hal
itu karena literasi mengarahkan seseorang pada kemampuan memahami pesan yang
diwujudkan dalam berbagai bentuk teks (lisan, tulis, visual). Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, salah satunya,
mengenai kegiatan membaca buku nonpelajaran selama lima belas menit sebelum waktu
belajar dimulai. Kegiatan tersebut adalah upaya menumbuhkan kecintaan membaca kepada
peserta didik dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merangsang imajinasi.
Sebagai salah satu desain induk penumbuhan budi pekerti, Gerakan Literasi Sekolah perlu
melibatkan para pemangku kepentingan secara terprogram dengan satu tujuan agar peserta
didik, terutama di tingkat pendidikan dasar, menjadi insan berbudaya literasi. Untuk itu, perlu
disusun Program Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Program ini merupakan langkah
upaya awal untuk menuju pelaksanaan kegiatan literasi yang terintegrasi dan efektif.
Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan
tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi
secara analitis, kritis, dan reflektif. Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum
mampu mewujudkan hal tersebut. dikatakan bahwa praktik pendidikan yang dilaksanakan di
sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang
berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil membaca untuk mendukung mereka
sebagai pembelajar sepanjang hayat. Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS) yang melibatkan semua
pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi,
kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur eksternal dan unsur
publik, yakni orang tua peserta didik, alumni, masyarakat, dunia usaha dan industri juga
menjadi komponen penting dalam GLS. GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda
prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya
Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan
kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan
daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama
bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; (9) memperteguh
kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir Nawacita tersebut terkait
erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang
berkualitas, produktif 2 Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar dan berdaya
saing, berkarakter, serta nasionalis. Untuk melaksanakan kegiatan GLS, diperlukan suatu
panduan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah
(2016).
B. Rumusan Masalah
1. Apa Saja Komponen Program Literasi
2. Apa Tujuan dan Manfaat Literasi
3. Apa Saja Tahapan-tahapan Program Pembelajaran Literasi
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Apa Saja Komponen Program Literasi
2. Untuk Mengetahui Tujuan dan Manfaat Literasi
3. Untuk Mengetahui Apa Saja Tahapan-tahapan Program Pembelajaran Literasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Komponen Program Literasi
UNESCO mendeklarasikan dan menyatakan bahwa literasi informasi terkait dengan
beberapa kemampuan antara lain identifikasi, penentuan, penemuan, evaluasi, menciptakan
secara terorganisasi dan efektif, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk
mengatasi berbagai persoalan. Berbagai kemampuan tersebut perlu dimiliki oleh setiap
individu agar dapat berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan itu bagian dasar manusia
menyangkut pembelajaran sepanjang hayat. Literasi dapat menjadi gerakan yang merupakan
suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta
didik, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/
wali murid), akademisi, penerbit, media masa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat
mempresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), serta pemangku kepentingan.
Literasi tidak hanya sekedar membaca dan menulis, namun mencakup
keterampilan berfikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual,
digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini dinamakan literasi informasi. idak hanya
terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga termasuk kemampuan
berhitung, memahami dan memecahkan masalah, dan menggunakan informasi dalam
berbagai konteks. Literasi yang baik akan membuat seseorang mampu berpikir kritis,
menganalisis, serta mengambil keputusan yang efektif.
Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat diketahui bahwa literasi menjadi landasan yang
penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, kemampuan literasi perlu untuk terus
ditingkatkan, terutama bagi Indonesia yang memiliki tingkat literasi dalam kategori masih
rendah.
ada enam komponen literasi dasar yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Keenam
komponen literasi tersebut meliputi literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi
digital, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan.
1. Literasi Baca tulis
Literasi baca tulis merupakan kemampuan seseorang untuk membaca dengan
memahami teks tertulis, mengenali huruf, kata-kata, dan kalimat, serta kemampuan menulis
dengan jelas dan efektif untuk menyampaikan pesan atau informasi.
Kemampuan membaca memungkinkan seseorang untuk memahami informasi yang diterima.
Sementara itu, kemampuan menulis memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi secara
tertulis dengan jelas dan efektif kepada orang lain.
Contoh literasi baca tulis, seperti memahami informasi pada label produk, memahami
petunjuk penggunaan suatu produk, dan memahami instruksi serta informasi yang diberikan
dalam berbagai konteks.
2. Literasi Numerasi
Literasi numerasi adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan berpikir
kritis terkait dengan angka dan matematika dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari.
Literasi ini juga mencakup pemahaman konsep matematika dasar, seperti penjumlahan,
pengurangan, perkalian, pembagian, pecahan, dan persentase.
Literasi numerasi dapat diterapkan dalam situasi praktis, seperti mengukur, berhitung,
mengelola anggaran, atau mengevaluasi informasi statistik. Kemampuan literasi numerasi
akan membantu seseorang untuk lebih kompeten dalam berpikir analitis, membuat keputusan
yang baik, dan berkontribusi dalam masyarakat yang semakin terhubung dan berbasis data.
3. Literasi Sains
Literasi sains merupakan kemampuan atas pengetahuan dan kecapakan ilmiah yang
melibatkan pemahaman mendalam terhadap berbagai aspek ilmu pengetahuan dan konsep-
konsep sains. Literasi sains meliputi pemahaman tentang metode ilmiah, mulai dari
mengamati, menguji, hingga mengumpulkan data untuk mengembangkan pemahaman
tentang dunia. Melalui literasi sains, seseorang dapat lebih memahami dunia, mengambil
keputusan yang lebih baik, berpartisipasi dalam dialog ilmiah, dan berkontribusi dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendorong kemajuan masyarakat dan
peradaban.
4. Literasi Digital
Literasi digital merupakan kemampuan dalam ilmu pengetahuan dan penggunaan
teknologi digital, mulai dari komputer, smartphone, maupun aplikasi dan pemrograman.
Literasi digital juga mencakup aspek kemampuan navigasi di internet untuk mencari
informasi, mengelola riwayat penelusuran, dan menghindari risiko online.
Tak kalah penting, literasi digital berkaitan dengan aspek berkomunikasi dan berbagi,
termasuk berkomunikasi melalui media sosial, email, dan aplikasi pesan, serta berbagi
informasi secara aman. Selain itu, ada pula aspek pemahaman atas privasi dan keamanan,
yaitu kesadaran tentang privasi online dan cara melindungi data pribadi.
Literasi digital menjadi semakin penting ketika teknologi digital mendominasi hampir semua
aspek kehidupan seperti saat ini. Literasi digital harus terus dipupuk seiring dengan
perkembangan teknologi informasi saat ini.
5. Literasi Finansial
Literasi finansial merupakan kemampuan dalam mengelola keuangan, baik pribadi
maupun kelompok. Dalam hal ini juga meliputi pemahaman atas berbagai konsep keuangan,
seperti tabungan, investasi, utang, dan manajemen anggaran.
Literasi finansial akan membantu seseorang dalam membuat keputusan keuangan yang bijak,
termasuk investasi untuk masa depan, manajemen utang, dan perencanaan pensiun. Selain itu,
literasi finansial juga membantu menghindari jebakan keuangan serta mengelola risiko
keuangan dengan lebih baik.
6. Literasi Budaya dan Kewargaan
Literasi budaya dan kewargaan adalah kemampuan untuk memahami dan
berpartisipasi dalam berbagai aspek budaya dan masyarakat, termasuk pemahaman tentang
nilai-nilai, norma, dan praktik budaya, serta peran dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Literasi budaya dan kewargaan sangat penting dalam masyarakat yang semakin multikultural
saat ini. Kita perlu memiliki pengetahuan tentang dunia di sekitar serta berpartisipasi secara
efektif dalam upaya memajukan perubahan sosial positif dan masyarakat yang inklusif.
B. Tujuan dan Manfaat Literasi
Program literasi SD berarti program apa saja yang dilakukan guru untuk
meningkatkan literasi di sekolah yang memiliki tujuan umum dan tujuan khusus yaitu:
Tujuan Umum : Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik (sikap dan tingkah laku)
melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi
Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Tujuan Khusus:
a. Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.
b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah.
c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar
warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.
d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan
mewadahi berbagai strategi membaca.
Di tingkat Sekolah Dasar, literasi mencakup pembelajaran dasar mengenai
keterampilan membaca dan menulis. Namun, literasi SD lebih dari sekadar mengajarkan anak
untuk mengenal huruf dan membaca kata-kata; literasi juga mengembangkan kemampuan
untuk memahami teks, menganalisis informasi, serta menghubungkan pengetahuan yang
didapat dari berbagai sumber. Oleh karena itu, pendidikan literasi di SD harus dilakukan
secara holistik, mencakup keterampilan berbicara, mendengarkan, berpikir kritis, serta
menulis dengan jelas dan efektif.
Manfaat Literasi bagi Siswa Sekolah Dasar
1. Meningkatkan Kemampuan Akademik Siswa
Salah satu manfaat utama dari literasi yang baik di Sekolah Dasar adalah kemampuannya
untuk meningkatkan pencapaian akademik siswa. Literasi adalah dasar untuk semua mata
pelajaran, termasuk matematika, sains, dan studi sosial. Kemampuan membaca yang baik
memungkinkan siswa untuk memahami petunjuk, instruksi, dan soal-soal dalam ujian. Selain
itu, kemampuan menulis dengan baik memungkinkan siswa untuk mengekspresikan ide dan
argumen mereka secara jelas, yang penting dalam penugasan, presentasi, dan diskusi kelas.
Sebagai contoh, ketika siswa memiliki keterampilan literasi yang baik, mereka dapat
membaca dan memahami materi pelajaran dengan lebih efektif. Mereka juga lebih mudah
menyerap informasi dari berbagai sumber, baik itu buku teks, artikel, atau sumber lainnya,
dan dapat mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam konteks yang lebih luas. Hal ini, pada
gilirannya, meningkatkan nilai dan prestasi akademik siswa.
2. Memperkuat Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif
Literasi yang baik memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis
dan kreatif. Dalam membaca, anak-anak tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi
mereka juga diajarkan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mempertanyakan informasi
yang mereka terima. Literasi mengajarkan siswa untuk tidak hanya memahami apa yang
mereka baca, tetapi juga untuk mengidentifikasi argumen, mendalami perspektif yang
berbeda, dan membangun pemikiran logis berdasarkan informasi yang ada.
Dengan keterampilan berpikir kritis, siswa dapat membuat keputusan yang lebih baik, baik di
dalam maupun di luar kelas. Mereka akan lebih mampu untuk mengevaluasi informasi secara
objektif, serta mengembangkan kemampuan untuk berpikir independen. Ini adalah
keterampilan yang akan sangat berguna dalam pendidikan lebih lanjut dan dalam kehidupan
mereka sehari-hari.
3. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi
Literasi yang baik juga berhubungan langsung dengan kemampuan komunikasi siswa, baik
lisan maupun tulisan. Siswa yang memiliki keterampilan literasi yang kuat lebih mampu
untuk menyampaikan ide dan perasaan mereka secara jelas dan terorganisir. Mereka lebih
percaya diri saat berbicara di depan kelas, berdiskusi dengan teman-teman, atau menulis
laporan dan esai.
Kemampuan komunikasi yang baik juga sangat penting dalam kehidupan sosial siswa, karena
memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dengan
cara yang efektif. Di dunia yang semakin terhubung ini, keterampilan komunikasi adalah aset
yang sangat berharga.
4. Memperluas Pengetahuan dan Pemahaman Dunia
Siswa yang memiliki keterampilan literasi yang baik cenderung lebih tertarik untuk membaca
berbagai jenis bacaan, mulai dari buku cerita hingga artikel ilmiah, berita, dan majalah. Ini
memungkinkan mereka untuk memperluas wawasan mereka, mendapatkan informasi baru,
dan memahami dunia di sekitar mereka dengan lebih baik.
Melalui literasi, siswa dapat mengeksplorasi berbagai topik yang menarik, seperti sejarah,
budaya, sains, atau teknologi, yang dapat membuka pintu untuk lebih banyak pengetahuan
dan minat yang beragam. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan mereka, tetapi juga
membantu mereka untuk menjadi individu yang lebih terinformasi dan berpikiran terbuka.
5. Membantu Dalam Pengembangan Sosial dan Emosional
Literasi juga memainkan peran penting dalam perkembangan sosial dan emosional siswa.
Dengan membaca buku cerita atau mendengarkan cerita, siswa dapat belajar mengenai
empati, moralitas, dan berbagai nilai penting lainnya. Mereka dapat memahami perasaan dan
perspektif orang lain, yang sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat dengan
teman-teman dan orang dewasa.
Selain itu, literasi membantu siswa untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka
dengan cara yang positif. Menulis jurnal, surat, atau bahkan puisi dapat menjadi saluran bagi
siswa untuk berbicara tentang perasaan mereka dan memahami diri mereka sendiri. Hal ini
mendukung pengembangan emosional mereka dan memungkinkan mereka untuk lebih
mengenali serta mengelola perasaan mereka.
6. Menumbuhkan Kebiasaan Belajar Sepanjang Hayat
Literasi yang baik membantu siswa untuk mengembangkan kebiasaan belajar sepanjang
hayat. Ketika siswa belajar untuk membaca dan menulis dengan lancar, mereka akan merasa
lebih percaya diri dalam mencari informasi dan memecahkan masalah secara mandiri.
Kebiasaan ini akan terus berkembang sepanjang hidup mereka, membantu mereka untuk tetap
belajar dan beradaptasi dengan perubahan dunia yang cepat.
Kebiasaan membaca yang baik sejak dini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan
ketertarikan terhadap berbagai topik, serta mendorong anak untuk terus mencari pengetahuan.
Ini adalah keterampilan yang sangat penting untuk kesuksesan mereka di masa depan, baik
dalam pendidikan lanjut maupun dalam karier mereka
C. Tahapan-tahapan Program Pembelajaran Literasi
Gerakan Literasi Sekolah di SD dilaksanakan secara bertahap dengan
mempertimbangkan kesiapan masing-masing sekolah. Kesiapan ini mencakup kesiapan
kapasitas fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga
sekolah (peserta didik, tenaga guru, orang tua, dan komponen masyarakat lain), dan
kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan
perangkat kebijakan yang relevan).
Untuk memastikan keberlangsungannya dalam jangka panjang, GLS SD dilaksanakan
dalam tiga tahap, yaitu tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.
Tiga tahap pelaksanaan GLS
I. Pembiasaan:
Tujuan: menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.
Fokus kegiatan pada tahap pembiasaan:
1) Membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai: membaca nyaring dan/atau membaca
dalam hati (semuanya tanpa tagihan).
2) Pengembangan lingkungan fisik sekolah untuk menumbuhkan minat pada literasi
a) pengembangan perpustakaan sekolah, sudut buku kelas, dan area baca;
b) pengembangan sarana lain yang mendukung penumbuhan minat terhadap
literasi;
c) pengembangan koleksi teks cetak dan/atau visual dan digital
d) pembuatan bahan kaya teks (print rich materials).
Program keberhasilan pembiasaan membaca ditentukan oleh: (1) akses terhadap
buku (2) daya tarik buku, (3) lingkungan yang kondusif, (4) dorongan untuk membaca,
(5) waktu tertentu untuk membaca, (6) tidak ada tagihan tugas, (7) kegiatan tindak lanjut,
(8) pelatihan guru dan tenaga kependidikan.
Jenis membaca pada tahap pembiasaan:
1)Membaca dalam hati: aturan, tujuan, langkah-langkah.
2)Membaca nyaring: aturan, tujuan, langkah-langkah. Rangkaian kegiatan
menentukan bacaan
membaca buku sampai tuntas
mendiskusikan buku yang telah dibaca
Membaca Dalam Hati
a. Aturan
1) Peserta didik membaca diam dengan memilih buku sesuai minat dan
keinginannya.
2) Guru memberikan contoh dengan bersama-sama membaca dalam hati pada saat
yang sama.
3) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar selama waktu yang
ditetapkan (15-30 menit).
4) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan berakhirnya kegiatan
membaca.
5) Tidak ada tugas atau catatan akademik yang perlu dilaporkan/diserahkan.
6) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga
kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.
b. Tujuan
Membaca dalam hati berkelanjutan bertujuan untuk membangun kebiasaan
membaca, misalnya berkonsentrasi, meningkatkan kemampuan serta kelancaran
membaca melalui kegiatan membaca untuk kesenangan.
Membaca Nyaring (Reading Aloud)
Tujuan Membaca nyaring merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang
baik. Strategi ini efektif untuk menyampaikan ide-ide literasi yang baik kepada peserta
didik (Trelease, 2013). Membaca nyaring dapat dilakukan dalam bentuk membacakan
cerita atau sekadar menceritakan cerita kepada anak dengan tujuan membangkitkan minat
baca peserta didik; meningkatkan pengetahuan pada anak-anak; memperkenalkan banyak
kosakata baru kepada anak-anak; mendorong anak-anak untuk berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran; kapasitas memori atau daya ingat anak dapat ditingkatkan dengan
cara meminta anak untuk mengingat cerita yang telah dibacakan atau sampai sejauh mana
cerita telah disampaikan. Membaca nyaring dilakukan untuk memulai pelajaran;
mendukung pembelajaran membaca dan menulis; mendukung kurikulum mata pelajaran
lain; membantu peserta didik mendiskusikan dan berpikir tentang teks; memperkenalkan
sebuah novel yang baru; memperkenalkan tema baru; membuka wawasan baru;
mengenalkan peserta didik dengan struktur teks dan genre buku.
Adapun materi yang digunakan untuk membaca nyaring antara lain novel, cerita
pendek, puisi, buku bergambar, karya peserta didik, artikel majalah, artikel surat kabar,
buku nonfiksi (teks informasional, biography, pidato, dokumen sejarah, dsb.)
Contoh-contoh kegiatan
1) Berbincang/menganalisis elemen-elemen cerita
2) Membuat jurnal tanggapan terhadap cerita (kegiatan menulis dan
menggambar)
3) Kegiatan seni peran dan kriya bebasis tanggapan terhadap cerita Konten
bacaan yang sesuai.
II. Pengembangan:
1) Membaca terpandu dan membaca bersama buku pengayaan (non teks pelajaran)
2) Mengapa buku pengayaan sama pentingnya dengan buku teks pelajaran?
3) Bagaimana memilih buku pengayaan untuk kegiatan literasi? (elemen cerita, bahasa,
visual)
4) Prinsip-prinsip kegiatan literasi menggunakan buku pengayaan Contoh-contoh kegiatan
1) Berbincang/menganalisis elemen-elemen cerita
2) Membuat jurnal tanggapan terhadap cerita (kegiatan menulis dan menggambar)
3) Kegiatan seni peran dan kriya bebasis tanggapan terhadap cerita
Elemen apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bahan bacaan yang baik?
- Tingkat kemampuan membaca peserta didik.
- Konten bacaan yang sesuai.
- Ilustrasi
III. Pembelajaran :
Dalam tahap ini, pembelajaran semua mata pelajaran dilakukan dengan merujuk
kepada ragam teks (cetak/visual/digital) yang tersedia dalam format buku-buku
pengayaan. Guru diharapkan bersikap kreatif dan proaktif mencari referensi
pembelajaran yang relevan dan mengurangi ketergantungan kepada buku teks pelajaran
dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Beberapa manfaat dari pembelajaran berbasis literasi,
antara lain:
a. meningkatkan kapasitas guru dan tenaga pendidik lain dalam mengelola
sumber daya sekolah untuk mengoptimalkan pembelajaran sesuai dengan
minat, potensi peserta didik, dan budaya lokal; tenaga pendidik akan menjadi
figur teladan literasi dan pembelajar sepanjang hayat;
b. pembelajaran berbasis literasi mengakomodasi pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik (Cara Belajar Peserta Didik Aktif) sehingga sekolah
perlahan-lahan akan beralih dari metode konvensional/klasikal di mana guru
menyediakan informasi untuk pembelajaran;
c. mengurangi beban kognitif peserta didik dalam mengolah pengetahuan karena
pembelajaran akan disajikan melalui buku-buku pengayaan yang berkualitas
baik dan menarik;
d. warga sekolah akan terbiasa mengolah informasi sesuai dengan kemanfaatan,
akurasi konten, kepatutan dengan usia, dan tujuan pembelajaran; mampu
mencari pengetahuan secara mandiri dan dapat menerapkan metoda
pembelajaran yang sesuai dengan minat dan potensi mereka; dan
e. warga sekolah akan terhubung dengan jejaring komunitas literasi karena
pembelajaran berbasis literasi akan membutuhkan partisipasi publik serta dunia
industri dan usaha.
Pembelajaran berbasis literasi salah satunya diterapkan dengan melaksanakan
kegiatan membaca terpandu dan membaca bersama menggunakan buku pelajaran. Tetapi
secara umum pengembangan pembelajaran berbasis literasi dilaksanakan dengan cara
memaknai pembelajaran berbasis literasi dan menetapkan tujuan pembelajaran literasi di
semua mata pelajaran. Dalam bagian ini juga akan dijelaskan pentingnya strategi
pembelajaran literasi untuk semua disiplin serta contoh-contoh strategi pembelajaran
literasi antara lain: read aloud, strategi pemahaman wacana (sebelum-selama-setelah
membaca teks), K-W-L (Know-Want-Learn) Chart, Graphic Organizers
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tujuan Umum Gerakan Literasi Sekolah
Menumbuhkembangkan insan serta ekosistem pendidikan agar menjadi pembelajar
sepanjang hayat melalui gerakan literasi sekolah
Tujuan Khusus Gerakan Literasi
Sekolah a. Menumbuhkembangkan
budi pekerti
b. Membangun ekosistem literasi sekolah
c. Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar (learning organization) (Senge,
1990).
d. Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management)
e. Menjaga keberlanjutan budaya literasi
Sasaran Gerakan Literasi Sekolah adalah Insan dan ekosistem pendidikan dalam
satuan pendidikan
Prinsip-prinsip pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah
Praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip
sebagai berikut.
a. Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa
diprediksi.
b. Program literasi yang baik bersifat berimbang Tahapan dalam
pelaksanaan literasi si sekolah adalaha sbb:
1. Pembiasaan:
Tujuan: menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca
2. Membaca Dalam Hati
Tujuan : Membaca dalam hati berkelanjutan bertujuan untuk membangun kebiasaan
membaca, misalnya berkonsentrasi, meningkatkan kemampuan serta kelancaran membaca
melalui kegiatan membaca untuk kesenangan.
3. Membaca Nyaring (Reading Aloud)
. Tujuan: Membaca nyaring merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang baik.
Strategi ini efektif untuk menyampaikan ide-ide literasi yang baik kepada peserta didik
4. Pengembangan
1) Membaca terpandu dan membaca bersama buku pengayaan (non teks pelajaran)
2) Mengapa buku pengayaan sama pentingnya dengan buku teks pelajaran?
3) Bagaimana memilih buku pengayaan untuk kegiatan literasi? (elemen cerita,
bahasa, visual)
4) Prinsip-prinsip kegiatan literasi menggunakan buku pengayaan
B. Saran
Adapun saran yang dapat penyusun sampaikan yaitu kita sebagai calon pendidik,
harus selalu menggali potensi yang ada pada diri kita. Cara menggali potensi dapat dilakukan
salah satunya dengan cara mempelajari makalah ini. Penulis menyadari masih banyak
kekurangan dalam penulisan makalah ini sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
• Direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah kementrian pendidikan dan
kebudayaan tahun 2016. Panduan , Gerakan Literasi di Sekolah Dasar. Jakarta
.
• Kementrian pendidikan dan kebudayaan 2013,2013. Kurikulum 2013 kompotensi
dasar sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah
• Faizah, Dewi Utama, dkk.(2016). Panduan Gerakan Literasi di Sekolah Dasar.
Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.
• Priyatni Tri & Nurhadi.(2017). Membaca Kritis dan Literasi Kritis. Bandung:
Tsmart.
• Muliasari, Erna Astri. (2017). Mutiara Literasi Sekolah. Jakarta: Sinar Gramedia.
• Lipton, Laura & Deborah Hubble.(2016). Sekolah Literasi Perencanaan dan
Pembinaan. Jakarta: Nuansa Cendikia.
• [Link]
literacy/
• [Link]
• [Link]
• [Link]
• [Link]
content/1/MODUL%203.%20TAHAPAN%20PELAKSANAAN%20GERAKAN
%[Link]
• [Link]
[Link]