0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan13 halaman

Oke 2

Cerita ini mengikuti Adit, yang memiliki kebiasaan aneh untuk tidak membuka notifikasi di ponselnya. Suatu malam, ia menerima notifikasi misterius yang mengarah pada video rekaman dirinya yang menunjukkan kejadian di masa depan, menimbulkan ketegangan dan rasa takut saat ia menyadari ada sesuatu yang mengawasinya. Ketika notifikasi terus bertambah, Adit merasakan ancaman yang semakin nyata dan menakutkan.

Diunggah oleh

chicomattea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan13 halaman

Oke 2

Cerita ini mengikuti Adit, yang memiliki kebiasaan aneh untuk tidak membuka notifikasi di ponselnya. Suatu malam, ia menerima notifikasi misterius yang mengarah pada video rekaman dirinya yang menunjukkan kejadian di masa depan, menimbulkan ketegangan dan rasa takut saat ia menyadari ada sesuatu yang mengawasinya. Ketika notifikasi terus bertambah, Adit merasakan ancaman yang semakin nyata dan menakutkan.

Diunggah oleh

chicomattea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Oke. Kali ini lebih psychological. Nggak banyak jumpscare… tapi bikin mikir dan nggak tenang.

“Notifikasi yang Tidak Pernah Kamu Buka”

Adit punya satu kebiasaan aneh.

Dia nggak pernah langsung buka notifikasi.

Selalu ditahan.
Dibiarkan numpuk.
Entah kenapa, dia suka lihat angka merah kecil itu makin banyak.

3.

4.

5.

99+.

Rasanya seperti ada sesuatu yang menunggu.

Suatu malam, setelah pulang sekolah dan capek banget, dia rebahan sambil scroll. Seperti biasa.

Tiba-tiba muncul notifikasi baru.

Bukan dari aplikasi apa pun.

Cuma tulisan abu-abu kecil di atas layar:

“1 pesan belum dibaca.”

Adit mengernyit.

Dari mana?

Dia buka semua aplikasi.


WhatsApp kosong.
DM kosong.
Email kosong.

Tapi angka merah di pojok layar tetap ada.

1.

Ia restart HP-nya.

Saat menyala kembali…

Lockscreen-nya berubah.

Background hitam polos.

Dan di tengah layar hanya ada satu kalimat:

“Kenapa kamu nggak pernah mau lihat?”

Adit merasa perutnya mual.


Dia swipe.

Masuk ke home screen.

Semua aplikasi hilang.

Cuma ada satu ikon.

Tanpa nama.

Tanpa logo.

Ia ragu. Tapi akhirnya ditekan.

Layar putih.

Lalu muncul video.

Rekaman kamar Adit.

Persis sudut dari atas lemari.

Menunjukkan dirinya… sedang menatap HP.

Waktu di pojok video menunjukkan:

Besok.

Tanggalnya satu hari lebih maju.

Dan di video itu—

Dirinya terlihat panik.

Mengetik sesuatu.

Lalu tiba-tiba berhenti.

Menoleh pelan ke arah lemari.

Ke arah kamera.

Ke arah… tempat video itu direkam.

Adit menjatuhkan HP-nya.

Napasnya tidak teratur.

Ia perlahan menoleh ke atas lemari kamarnya.

Kosong.

Tidak ada apa pun.

HP-nya bergetar lagi.

Layar otomatis menyala.

Video lanjut sendiri.

Versi dirinya di video berdiri perlahan.


Berjalan mendekat ke kamera.

Wajahnya pucat.

Lalu berbisik:

“Kalau kamu lihat ini… berarti dia sudah sadar.”

Video berhenti.

Layar kembali putih.

Muncul satu notifikasi lagi.

“2 pesan belum dibaca.”

Adit gemetar.

Pelan-pelan ia melihat ke atas lemari lagi.

Kali ini…

Ada sesuatu.

Bayangan tipis.

Seolah seseorang sedang duduk diam… mengawasinya.

Dan notifikasi itu berubah lagi.

“3 pesan belum dibaca.”

Oke. Kali ini lebih psychological. Nggak banyak jumpscare… tapi bikin mikir dan nggak tenang.

“Notifikasi yang Tidak Pernah Kamu Buka”

Adit punya satu kebiasaan aneh.

Dia nggak pernah langsung buka notifikasi.

Selalu ditahan.
Dibiarkan numpuk.
Entah kenapa, dia suka lihat angka merah kecil itu makin banyak.

3.

4.

5.

99+.

Rasanya seperti ada sesuatu yang menunggu.

Suatu malam, setelah pulang sekolah dan capek banget, dia rebahan sambil scroll. Seperti biasa.

Tiba-tiba muncul notifikasi baru.

Bukan dari aplikasi apa pun.


Cuma tulisan abu-abu kecil di atas layar:

“1 pesan belum dibaca.”

Adit mengernyit.

Dari mana?

Dia buka semua aplikasi.


WhatsApp kosong.
DM kosong.
Email kosong.

Tapi angka merah di pojok layar tetap ada.

1.

Ia restart HP-nya.

Saat menyala kembali…

Lockscreen-nya berubah.

Background hitam polos.

Dan di tengah layar hanya ada satu kalimat:

“Kenapa kamu nggak pernah mau lihat?”

Adit merasa perutnya mual.

Dia swipe.

Masuk ke home screen.

Semua aplikasi hilang.

Cuma ada satu ikon.

Tanpa nama.

Tanpa logo.

Ia ragu. Tapi akhirnya ditekan.

Layar putih.

Lalu muncul video.

Rekaman kamar Adit.

Persis sudut dari atas lemari.

Menunjukkan dirinya… sedang menatap HP.

Waktu di pojok video menunjukkan:

Besok.

Tanggalnya satu hari lebih maju.


Dan di video itu—

Dirinya terlihat panik.

Mengetik sesuatu.

Lalu tiba-tiba berhenti.

Menoleh pelan ke arah lemari.

Ke arah kamera.

Ke arah… tempat video itu direkam.

Adit menjatuhkan HP-nya.

Napasnya tidak teratur.

Ia perlahan menoleh ke atas lemari kamarnya.

Kosong.

Tidak ada apa pun.

HP-nya bergetar lagi.

Layar otomatis menyala.

Video lanjut sendiri.

Versi dirinya di video berdiri perlahan.

Berjalan mendekat ke kamera.

Wajahnya pucat.

Lalu berbisik:

“Kalau kamu lihat ini… berarti dia sudah sadar.”

Video berhenti.

Layar kembali putih.

Muncul satu notifikasi lagi.

“2 pesan belum dibaca.”

Adit gemetar.

Pelan-pelan ia melihat ke atas lemari lagi.

Kali ini…

Ada sesuatu.

Bayangan tipis.

Seolah seseorang sedang duduk diam… mengawasinya.

Dan notifikasi itu berubah lagi.


“3 pesan belum dibaca.”

Oke. Kali ini lebih psychological. Nggak banyak jumpscare… tapi bikin mikir dan nggak tenang.

“Notifikasi yang Tidak Pernah Kamu Buka”

Adit punya satu kebiasaan aneh.

Dia nggak pernah langsung buka notifikasi.

Selalu ditahan.
Dibiarkan numpuk.
Entah kenapa, dia suka lihat angka merah kecil itu makin banyak.

3.

4.

5.

99+.

Rasanya seperti ada sesuatu yang menunggu.

Suatu malam, setelah pulang sekolah dan capek banget, dia rebahan sambil scroll. Seperti biasa.

Tiba-tiba muncul notifikasi baru.

Bukan dari aplikasi apa pun.

Cuma tulisan abu-abu kecil di atas layar:

“1 pesan belum dibaca.”

Adit mengernyit.

Dari mana?

Dia buka semua aplikasi.


WhatsApp kosong.
DM kosong.
Email kosong.

Tapi angka merah di pojok layar tetap ada.

1.

Ia restart HP-nya.

Saat menyala kembali…

Lockscreen-nya berubah.

Background hitam polos.

Dan di tengah layar hanya ada satu kalimat:

“Kenapa kamu nggak pernah mau lihat?”


Adit merasa perutnya mual.

Dia swipe.

Masuk ke home screen.

Semua aplikasi hilang.

Cuma ada satu ikon.

Tanpa nama.

Tanpa logo.

Ia ragu. Tapi akhirnya ditekan.

Layar putih.

Lalu muncul video.

Rekaman kamar Adit.

Persis sudut dari atas lemari.

Menunjukkan dirinya… sedang menatap HP.

Waktu di pojok video menunjukkan:

Besok.

Tanggalnya satu hari lebih maju.

Dan di video itu—

Dirinya terlihat panik.

Mengetik sesuatu.

Lalu tiba-tiba berhenti.

Menoleh pelan ke arah lemari.

Ke arah kamera.

Ke arah… tempat video itu direkam.

Adit menjatuhkan HP-nya.

Napasnya tidak teratur.

Ia perlahan menoleh ke atas lemari kamarnya.

Kosong.

Tidak ada apa pun.

HP-nya bergetar lagi.

Layar otomatis menyala.

Video lanjut sendiri.


Versi dirinya di video berdiri perlahan.

Berjalan mendekat ke kamera.

Wajahnya pucat.

Lalu berbisik:

“Kalau kamu lihat ini… berarti dia sudah sadar.”

Video berhenti.

Layar kembali putih.

Muncul satu notifikasi lagi.

“2 pesan belum dibaca.”

Adit gemetar.

Pelan-pelan ia melihat ke atas lemari lagi.

Kali ini…

Ada sesuatu.

Bayangan tipis.

Seolah seseorang sedang duduk diam… mengawasinya.

Dan notifikasi itu berubah lagi.

“3 pesan belum dibaca.”

Oke. Kali ini lebih psychological. Nggak banyak jumpscare… tapi bikin mikir dan nggak tenang.

“Notifikasi yang Tidak Pernah Kamu Buka”

Adit punya satu kebiasaan aneh.

Dia nggak pernah langsung buka notifikasi.

Selalu ditahan.
Dibiarkan numpuk.
Entah kenapa, dia suka lihat angka merah kecil itu makin banyak.

3.

4.

5.

99+.

Rasanya seperti ada sesuatu yang menunggu.

Suatu malam, setelah pulang sekolah dan capek banget, dia rebahan sambil scroll. Seperti biasa.

Tiba-tiba muncul notifikasi baru.


Bukan dari aplikasi apa pun.

Cuma tulisan abu-abu kecil di atas layar:

“1 pesan belum dibaca.”

Adit mengernyit.

Dari mana?

Dia buka semua aplikasi.


WhatsApp kosong.
DM kosong.
Email kosong.

Tapi angka merah di pojok layar tetap ada.

1.

Ia restart HP-nya.

Saat menyala kembali…

Lockscreen-nya berubah.

Background hitam polos.

Dan di tengah layar hanya ada satu kalimat:

“Kenapa kamu nggak pernah mau lihat?”

Adit merasa perutnya mual.

Dia swipe.

Masuk ke home screen.

Semua aplikasi hilang.

Cuma ada satu ikon.

Tanpa nama.

Tanpa logo.

Ia ragu. Tapi akhirnya ditekan.

Layar putih.

Lalu muncul video.

Rekaman kamar Adit.

Persis sudut dari atas lemari.

Menunjukkan dirinya… sedang menatap HP.

Waktu di pojok video menunjukkan:

Besok.
Tanggalnya satu hari lebih maju.

Dan di video itu—

Dirinya terlihat panik.

Mengetik sesuatu.

Lalu tiba-tiba berhenti.

Menoleh pelan ke arah lemari.

Ke arah kamera.

Ke arah… tempat video itu direkam.

Adit menjatuhkan HP-nya.

Napasnya tidak teratur.

Ia perlahan menoleh ke atas lemari kamarnya.

Kosong.

Tidak ada apa pun.

HP-nya bergetar lagi.

Layar otomatis menyala.

Video lanjut sendiri.

Versi dirinya di video berdiri perlahan.

Berjalan mendekat ke kamera.

Wajahnya pucat.

Lalu berbisik:

“Kalau kamu lihat ini… berarti dia sudah sadar.”

Video berhenti.

Layar kembali putih.

Muncul satu notifikasi lagi.

“2 pesan belum dibaca.”

Adit gemetar.

Pelan-pelan ia melihat ke atas lemari lagi.

Kali ini…

Ada sesuatu.

Bayangan tipis.

Seolah seseorang sedang duduk diam… mengawasinya.


Dan notifikasi itu berubah lagi.

“3 pesan belum dibaca.”

Oke. Kali ini lebih psychological. Nggak banyak jumpscare… tapi bikin mikir dan nggak tenang.

“Notifikasi yang Tidak Pernah Kamu Buka”

Adit punya satu kebiasaan aneh.

Dia nggak pernah langsung buka notifikasi.

Selalu ditahan.
Dibiarkan numpuk.
Entah kenapa, dia suka lihat angka merah kecil itu makin banyak.

3.

4.

5.

99+.

Rasanya seperti ada sesuatu yang menunggu.

Suatu malam, setelah pulang sekolah dan capek banget, dia rebahan sambil scroll. Seperti biasa.

Tiba-tiba muncul notifikasi baru.

Bukan dari aplikasi apa pun.

Cuma tulisan abu-abu kecil di atas layar:

“1 pesan belum dibaca.”

Adit mengernyit.

Dari mana?

Dia buka semua aplikasi.


WhatsApp kosong.
DM kosong.
Email kosong.

Tapi angka merah di pojok layar tetap ada.

1.

Ia restart HP-nya.

Saat menyala kembali…

Lockscreen-nya berubah.

Background hitam polos.

Dan di tengah layar hanya ada satu kalimat:


“Kenapa kamu nggak pernah mau lihat?”

Adit merasa perutnya mual.

Dia swipe.

Masuk ke home screen.

Semua aplikasi hilang.

Cuma ada satu ikon.

Tanpa nama.

Tanpa logo.

Ia ragu. Tapi akhirnya ditekan.

Layar putih.

Lalu muncul video.

Rekaman kamar Adit.

Persis sudut dari atas lemari.

Menunjukkan dirinya… sedang menatap HP.

Waktu di pojok video menunjukkan:

Besok.

Tanggalnya satu hari lebih maju.

Dan di video itu—

Dirinya terlihat panik.

Mengetik sesuatu.

Lalu tiba-tiba berhenti.

Menoleh pelan ke arah lemari.

Ke arah kamera.

Ke arah… tempat video itu direkam.

Adit menjatuhkan HP-nya.

Napasnya tidak teratur.

Ia perlahan menoleh ke atas lemari kamarnya.

Kosong.

Tidak ada apa pun.

HP-nya bergetar lagi.

Layar otomatis menyala.


Video lanjut sendiri.

Versi dirinya di video berdiri perlahan.

Berjalan mendekat ke kamera.

Wajahnya pucat.

Lalu berbisik:

“Kalau kamu lihat ini… berarti dia sudah sadar.”

Video berhenti.

Layar kembali putih.

Muncul satu notifikasi lagi.

“2 pesan belum dibaca.”

Adit gemetar.

Pelan-pelan ia melihat ke atas lemari lagi.

Kali ini…

Ada sesuatu.

Bayangan tipis.

Seolah seseorang sedang duduk diam… mengawasinya.

Dan notifikasi itu berubah lagi.

“3 pesan belum dibaca.”

Anda mungkin juga menyukai