Nama Mahasiswa :
Inviona Ratu Imayuri
NIM :
2307116276
Pertemuan ke :
12
Hari/Tanggal :
Selasa / 10 Maret 2026
Materi Kuliah :
Tahapan dalam Pembentukan Undang-Undang
Sumber Pustaka :
Dalimunthe, D. (2018). Proses Pembentukan Undang-Undang
Menurut UU No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan. Jurnal AL-MAQASID:
Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan , 4 (2), 59-
75.
Tahapan dalam pembentukan Undang-Undang
1. Tahap Perencanaan
Tahap ini melibatkan penyusunan daftar Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan
dibuat, yang dikenal dengan istilah Program Legislasi Nasional (Prolegnas).
Prolegnas: Disusun untuk jangka waktu 5 tahun (Prolegnas Jangka Menengah) dan
tahunan (Prolegnas Prioritas Tahunan).
Penyusunan: Dilakukan oleh DPR dan Pemerintah (serta DPD untuk RUU tertentu)
dan ditetapkan melalui Keputusan DPR.
Syarat: Sebelum masuk Prolegnas tahunan, RUU harus sudah disertai dengan
Naskah Akademik.
2. Tahap Penyusunan
Merupakan tahap penyiapan RUU sebelum dibahas bersama antara DPR dan Pemerintah.
Langkah-langkahnya meliputi:
Pembuatan Naskah Akademik: Hasil pengkajian hukum terhadap masalah tertentu
sebagai solusi kebutuhan hukum masyarakat.
Penyusunan Draft RUU: Pembuatan rancangan pasal demi pasal sesuai kerangka
yang ditetapkan (Judul, Pembukaan, Batang Tubuh, Penutup).
Harmonisasi: Proses untuk memastikan RUU selaras dengan Pancasila, UUD 1945,
dan undang-undang lainnya agar tidak terjadi tumpang tindih.
3. Tahap Pembahasan
Pembahasan dilakukan antara DPR dan Presiden (serta DPD untuk topik tertentu) melalui
dua tingkat pembicaraan:
Tingkat I: Pembicaraan dalam rapat komisi, gabungan komisi, Badan Legislasi,
Badan Anggaran, atau Panitia Khusus.
Tingkat II: Pembicaraan dalam Rapat Paripurna untuk pengambilan keputusan atau
persetujuan bersama.
4. Tahap Pengesahan
Setelah RUU disetujui bersama oleh DPR dan Presiden:
Pimpinan DPR menyampaikan RUU kepada Presiden paling lambat 7 hari setelah
persetujuan bersama.
Presiden mengesahkan RUU dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka
waktu maksimal 30 hari.
Jika dalam 30 hari Presiden tidak menandatangani, RUU tersebut secara hukum sah
menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan.
5. Tahap Pengundangan
Tahap terakhir di mana Undang-Undang yang telah disahkan dimasukkan ke dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia oleh menteri yang membidangi urusan hukum.
Tujuannya adalah agar undang-undang tersebut mempunyai kekuatan hukum mengikat
umum dan mulai berlaku.