0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

GAUSSS

Dokumen ini membahas tentang drainase, termasuk pengertian, jenis, dan sistem jaringan drainase yang penting untuk mencegah banjir dan mengelola air di kawasan pemukiman. Terdapat penjelasan mengenai pola jaringan drainase dan siklus hidrologi yang menggambarkan pergerakan air dalam ekosistem. Penelitian terkait kapasitas drainase juga diulas untuk menunjukkan pentingnya perencanaan yang baik dalam pembangunan infrastruktur.

Diunggah oleh

Rivan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

GAUSSS

Dokumen ini membahas tentang drainase, termasuk pengertian, jenis, dan sistem jaringan drainase yang penting untuk mencegah banjir dan mengelola air di kawasan pemukiman. Terdapat penjelasan mengenai pola jaringan drainase dan siklus hidrologi yang menggambarkan pergerakan air dalam ekosistem. Penelitian terkait kapasitas drainase juga diulas untuk menunjukkan pentingnya perencanaan yang baik dalam pembangunan infrastruktur.

Diunggah oleh

Rivan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

DAS merupakan satuan gerak air yang bersifat bebas dari DAS lainnya,

yaitu dua buah DAS adalah DAS yang satu sama yang lainnya berbeda dalam

hal pengaliran air. Dengan demikian, suatu DAS secara jelas dapat dipandang

sebagai satu kesatuan ekosistem hidrologi, geografi atau unsur fisik lainnya

dengan unsur utamanya sumber daya tanah, air, flora, dan fauna. Analisis

Dan Evaluasi Saluran Drainase Pada Kawasan Perumnas Talang Kelapa

Di Subdas Lambidaro Kota Palembang (Dimitri Fairizi, 2015).

Sistem drainase merupakan salah satu bagian yang penting dalam

perencanaan pembangunan suatu kawasan pemukiman. Sistem drainase

yang baik harus dapat menampung pembuangan air semaksimal mungkin,

sehingga apabila debit air lebih dari yang diperkirakan, sistem drainase

tersebut masih dapat menampung dan mengalirkannya sehingga tidak terjadi

genangan air pada saat hujan turun dan banjir pada saat air sungai pasang di

kawasan pemukiman tersebut. Selain itu, drainase juga berfungsi untuk

mengurangi erosi tanah dan penyaluran dengan meningkatkan infiltrasi air

ke dalam tanah. Analisis Sistem Drainase Di Kawasan Pemukiman Pada

Sub Das Aur Palembang (Studi Kasus : Pemukiman 9/10 Ulu) (Defi Tesha

Isfandari, Reini S. Ilmiaty dan M. Baitullah A, 2014)

Banjir merupakan masalah yang mengancam bagi kota-kota besar

karena dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Persoalan banjir seolah

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
sudah menjadi tradisi tahunan yang wajib dirasakan apabila musim

penghujan tiba. Penyebab terjadinya bencana banjir salah satunya di

karenakan kapasitas penampang sungai berkurang dan peningkatan debit

sungai, dimana pada saat-saat cuaca ekstrem hujan yang terjadi sangatlah

lebat sehingga air yang jatuh ke permukaan melebihi kapasitas yang ada

sehingga saluran-saluran yang ada meluap tidak dapat menampung debit

hujan yang datang. Studi Evaluasi Sistem Jaringan Drainase Terhadap

Permasalahan Genangan Di Kecamatan Sampang, Madura (Arif

Setiawan dan Prof. Dr. Drs. Ir. H. Kusnan, S.E.,M.T.,M.M., 2018).

Penelitian lain mengenai kapasitas drainase juga di lakukan oleh

peniliti asing dalam judul “Evaluation of Drainage Channels Capacity in

Ambon City: A Case Study on Wai Batu Merah Watershed Flooding”(

Cilcia Kusumastutia, Ruslan Djajadia, Angel Rumihina, 2015) dan

“Hydraulic Capacity of Drainage Channels with Lateral Inflow” (M

Escarameia, Y Gasowski, RWPMay, A Lo Cascio, 2001).

B. Pengertian Drainase

Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau di

bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat manusia.

Dalam bahasa Indonesia, drainase bisa merujuk pada parit di permukaan

tanah atau gorong – gorong dibawah tanah. Drainase berperan penting

untuk mengatur suplai air demi pencegahan banjir.

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
Drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau

mengalihkan air. Secara umum, drainase didefinisikan sebagai

serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau

membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan

dapat difungsikan secara optimal. Drainase juga diartikan sebagai usaha

untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan sanitasi.

(Suripin, 2004).

Sedangkan pengertian tentang drainase kota pada dasarnya telah

diatur dalam SK menteri PU No. 233 tahun 1987. Menurut SK tersebut, yang

dimaksud drainase kota adalah jaringan pembuangan air yang berfungsi

mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota dan daerah urban

dari genangan air, baik dari hujan lokal maupun luapan sungai melintas di

dalam kota.

C. Sistem Jaringan Drainase

Sistem jaringan drainase perkotaan umumnya dibagi atas 2 bagian, yaitu :

1. Sistem Drainase Mayor

Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang

menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air

hujan (Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase mayor ini

disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major

system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran

yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya

dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan

pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam

perencanaan sistem drainase ini.

2. Sistem Drainase Mikro

Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan

pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah

tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem

drainase mikro adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan

air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota

dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak

terlalu besar

Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan

dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan

yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih

cenderung sebagai sistem drainase mikro.

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
D. Jenis – Jenis Drainase

Drainase dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu :

1. Menurut sejarah terbentuknya

a. Drainase alamiah (Natural Drainage)

Drainase alamiah adalah sistem drainase yang terbentuk secara

alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia.

b. Drainase buatan (Artificial Drainage)

Drainase alamiah adalah sistem drainase yang dibentuk

berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk menentukan debit akibat

hujan, dan dimensi saluran.

2. Menurut letak saluran

a. Drainase permukaan tanah (Surface Drainage)

Drainase permukaan tanah adalah saluran drainase yang berada di

atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan

permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open channel

flow.

b. Drainase bawah tanah (Sub Surface Drainage)

Drainase bawah tanah adalah saluran drainase yang bertujuan

mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah

permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu.

Alasan tersebut antara lain tuntutan artistik, tuntutan fungsi

permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang,

taman, dan lain-lain.

3. Menurut konstruksi

a. Saluran Terbuka

Saluran terbuka adalah sistem saluran yang biasanya

direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air

hujan (sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini

berfungsi sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota,

saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan

pelindung). Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota harus

diberi lining dengan beton, pasangan batu (masonry) ataupun

dengan pasangan bata.

b. Saluran Tertutup

Saluran tertutup adalah saluran untuk air kotor yang mengganggu

kesehatan lingkungan. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah

perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi

seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.

4. Menurut fungsi

a. Single Purpose

Single purpose adalah saluran yang berfungsi mengalirkan

satu jenis air buangan saja.

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
b. Multy Purpose

Multy purpose adalah saluran yang berfungsi mengalirkan

beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian.

(H.A Halim Hasmar.2011)

E. Pola Jaringan Drainase

Dalam perencanaan sistem drainase suatu kawasan harus

memperhatikan pola jaringan [Link] jaringan drainase pada suatu

kawasan atau wilayah tergantung dari topografi daerah dan tata guna lahan

kawasan tersebut. Adapun tipe atau jenis pola jaringan drainase sebagai

berikut.

1. Jaringan Drainase Siku

Dibuat pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi

dari pada sungai. Sungai sebagai pembuang akhir berada di tengah

kota.

Saluran Cabang Saluran Cabang

Saluran Utama Saluran Utama

Saluran Cabang Saluran Cabang

Gambar 2.1. Pola Jaringan Drainase Siku

Sumber (H.A Halim Hasmar.2011)

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
2. Jaringan Drainase Paralel

Saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Dengan

saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan pendek-pendek,

apabila terjadi perkembangan kota, saluran-saluran akan

menyesuaikan.

Saluran Utama Saluran Cabang

Saluran Cabang

Gambar 2.2. Pola Jaringan Drainase Paralel

Sumber (H.A Halim Hasmar.2011)

3. Jaringan Drainase Grid Iron

Untuk daerah dimana sungai terletak di pinggir kota, sehingga

saluran-saluran cabang dikumpulkan dulu pada saluran pengumpul.

Saluran Cabang

Saluran Pengumpul Saluran Utama

Gambar 2.3. Pola Jaringan Drainase Grid Iron

Sumber (H.A Halim Hasmar.2011)

4. Jaringan Drainase Alamiah

Sama seperti pola siku, hanya beban sungai pada pola

alamiah lebih besar

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
Saluran Cabang

Saluran Utama

Saluran Cabang

Gambar 2.4. Pola Jaringan Drainase Alamiah

Sumber (H.A Halim Hasmar.2011)

5. Jaringan Drainase Radial

Pada daerah berbukit, sehingga pola saluran memencar ke segala

arah.

Gambar 2.5. Pola Jaringan Drainase Radial

Sumber (H.A Halim Hasmar.2011)

6. Jaringan Drainase Jaring-Jaring

Mempunyai saluran-saluran pembuang yang mengikuti arah

jalan raya dan cocok untuk daerah dengan topografi datar.

Gambar 2.6. Pola Jaringan Drainase Jaring-Jaring

Sumber (H.A Halim Hasmar.2011)

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
F. Siklus hidrologi

Siklus hidrologi adalah suatu rangkaian proses yang terjadi dengan air

yang terdiri dari penguapan, presipitasi, infiltrasi dan pengaliran keluar (out

flow). Penguapan terdiri dari evaporasi dan transpirasi. Uap yang dihasilkan

mengalami kondensasi dan dipadatkan membentuk awan yang nantinya

kembali menjadi air dan turun sebagai presipitasi. Sebelum tiba di permukaan

bumi presipitasi tersebut sebagian langsung menguap ke udara, sebagian

tertahan oleh tumbuh-tumbuhan dan sebagian mencapai permukaan tanah.

Air yang sampai ke permukaan tanah sebagian akan berinfiltrasi dan

sebagian lagi mengisi cekungan-cekungan di permukaan tanah

kemudian mengalir ke tempat yang lebih rendah (run off), masuk ke sungai-

sungai dan akhirnya ke laut. Dalam perjalanannya, sebagian air akan

mengalami penguapan. Air yang masuk ke dalam tanah sebagian akan keluar

lagi menuju sungai yang disebut dengan aliran antara (interflow), sebagian

akan turun dan masuk ke dalam air tanah yang sedikit demi sedikit dan masuk

ke dalam sungai sebagai aliran bawah tanah (ground water flow). Gambar

proses siklus hidrologi dapat dilihat pada gambar berikut :

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
Gambar 2.7 Siklus Hidrologi

Sumber: [Link] 2011

Secara gravitasi (alami) air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah

yang rendah, dari gunung-gunung, pegunungan ke lembah, lalu ke daerah

lebih rendah, sampai ke daerah pantai dan akhirnya akan bermuara ke

laut. Aliran air ini disebut aliran permukaan tanah karena bergerak di atas

muka tanah. Aliran ini biasanya akan memasuki daerah tangkapan atau

daerah aliran menuju ke sistem jaringan sungai, sistem danau ataupun waduk.

Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan bumi akan menjadi

aliran permukaan (surface run off). Aliran permukaan sebagian akan meresap

ke dalam tanah menjadi aliran bawah permukaan melalui proses infiltrasi

(infiltration), dan perkolasi (percolation), selebihnya terkumpul di dalam

jaringan alur sungai (river flow). Apabila kondisi tanah memungkinkan

sebagian air infiltrasi akan mengalir kembali ke dalam sungai (river), atau

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
genangan lainya seperti waduk, danau sebagai interflow. Sebagian dari

air dalam tanah dapat muncul lagi ke permukaan tanah sebagai

air eksfiltrasi (exfiltration) dan dapat terkumpul lagi dalam alur sungai

atau langsung menuju ke laut/lautan (Soewarno, 2000).

1. Data Curah Hujan

Data hujan yang diperoleh dari alat penakaran hujan merupakan

hujan yang terjadi hanya pada satu tempat atau titik saja (point

rainfall). Mengingat hujan sangat bervariasi terdapat tempat (space),

maka untuk kawasan yang luas, satu alat penakaran hujan belum dapat

menggambarkan hujan wilayah tersebut.

2. Analisa Frekuensi Data Hidrologi

Analisis frekuensi atau distribusi frekuensi digunakan untuk

memperoleh probabilitas besaran curah hujan rencana dalam berbagai

periode ulang. Dasar perhitungan distribusi frekuensi adalah parameter

yang berkaitan dengan analisis data yang meliputi rata-rata, simpangan

baku, koefisien variasi, dan koefisien skewness (kecondongan atau

kemiringan).

a. Rata-rata

‫ݔ‬ҧ ൌ σ௡௜ୀଵ ‫ݔ‬ଵ ........................................................................ (2.1)

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
b. Standar Deviasi (Standard Deviation) :

ഥ ሻ2
σሺXi-X
S =ට n-1
......................................................................... (2.2)

c. Koefisien Kemencengan (Skewness) :

σni=1 ൫ Xi- X ൯Ϳ
Cs = .................................................................... (2.3)
(n-1)(n-2)S3

d. Koefisien Kurtosis (Curtosis) :


4
n2 .Σ (Xi-X
ഥ)
Ck = ................................................................. (2.4)
(n-1)(n-2)(n-3)S4

e. Koefisien Variasi (Variation) :


S
Cv = Xഥ ................................................................................... (2.5)

Dimana:

Xi = curah hujan harian maksimum (mm)


X = tinggi hujan harian maksimum rata-rata selama n tahun (mm)

n = jumlah tahun pencatatan data hujan

S = standar deviasi

Cv = koefisien variasi

Cs = koefisien kemencengan

Ck = koefisien kurtosis

3. Pemilihan Jenis Distribusi

Berdasarkan ilmu statistik dikenal beberapa macam distribusi

frekuensi yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi. Berikut ini

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
empat jenis distribusi frekuensi yang paling banyak digunakan dalam

bidang hidrologi:

a. Distribusi Normal

Distribusi normal atau kurva normal disebut juga distribusi Gauss.

Perhitungan curah hujan rencana menurut metode distribusi normal,

mempunyai persamaan sebagai berikut:

ܺ‫ ݐ‬ൌ ܺത ൅ ݇௧ ‫ ݏ‬........................................................................ (2.6)

Dengan :

்ܺ = Curah hujan rencana dengan periode ulang T-tahunan,

X = Nilai rata-rata hitung variat,

S = Deviasi standar nilai variat,

‫ = ்ܭ‬Faktor frekuensi

Untuk mempermudah perhitungan, nilai faktor frekuensi (KT)

umumya sudah tersedia dalam tabel, disebut sebagai tabel nilai variabel

reduksi Gauss (Variable reduced Gauss), seperti ditunjukkan dalam

Tabel 2.1

Tabel 2.1. Nilai Variabel Reduksi Gauss

Periode Ulang T (Tahun) Peluang K


1,001 0,999 -3,050
1,005 0,995 -2,580
1,010 0,990 -2,330
1,050 0,950 -1,640
1,110 0,900 -1,280
1,250 0,800 -0,840
1,330 0,750 -0,670
1,430 0,700 -0,520
1,670 0,600 -0,250
2,000 0,500 0,000
2,500 0,400 0,250

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
3,330 0,300 0,520
4,000 0,250 0,670
5,000 0,200 0,840
10,000 0,100 1,280
20,000 0,050 1,640
50,000 0,020 2,050
100,000 0,010 2,330
200,000 0,005 2,580
500,000 0,002 2,880
1000,000 0,001 3,090
Sumber: Suripin, 2004

b. Distribusi Log Normal

Dalam distribusi log normal data X diubah kedalam bentuk

logaritmik Y = log X. Jika variabel acak Y = log X terdistribusi secara

normal, maka X dikatakan mengikuti Distribusi Log Normal. Untuk

distribusi Log Normal perhitungan curah hujan rencana menggunakan

persamaan berikut ini:

்ܻ = ܻത ‫ ்ܭ‬+ S ........................................................................ (2.7)

௒೅ ି௒ത
‫ = ்ܭ‬ ............................................................................ (2.8)

Dengan:

்ܻ = Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi periode ulang T-tahun

ܻത = Nilai rata-rata hitung variat

S = Deviasi standar nilai variat

‫ = ்ܭ‬faktor frekuensi

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
c. Distribusi Gumbel

Faktor frekuensi untuk distribusi ini dapat dihitung dengan

mempergunakan persamaan sebagai berikut:

1) Standar Deviasi


Sd = ට തതതଶ .................................................... (2.9)
σ௡௜ୀ଴ሺܺ௜ െ ܺሻ
௡ିଵ

2) Curah Hujan untuk Periode Ulang t-Tahun


௒೅ ି௒೙
்ܺ = ܺത + ఙ೙
Sd ............................................................... (2.10)

Dengan:

ܺ௧ = Besarnya curah hujan untuk t-tahun (mm)

ܻ௧ = Besarnya curah hujan rata-rata untuk t-tahun (mm)

ܻ௡ = Reduce mean deviasi berdasarkan sampel n

ɐ௡ = Reduce standar deviasi berdasarkan sampel n

n = Jumlah tahun yang ditinjau

Sd = Standar deviasi (mm)

ܺത= Curah hujan rata-rata (mm)

ܺ௜ = Curah hujan maksimum (mm)

d. Distribusi Log Person III

Distribusi Log Pearson Tipe III banyak dugunakan dalam analisis

hidrologi, terutama dalam analisis data maksimum (banjir) dan minimum

(debit minimum) dengan nilai ekstrim. Bentuk distribusi Log Pearson

Tipe III merupakan hasil dari transformasi dari distribusi Pearson tipe III

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
dengan mengganti varian menjadi nilai logaritma. Data hujan harian

maksimum tahunan sebanyak n tahun diubah dalam bentuk logaritma.

Langkah-langkah dalam perhitungan curah hujan rencana berdasarkan

perhitungan Log Pearson Type III sebagai berikut (Soemarto, 1999).

1) Ubah data kedalam bentuk logaritma

Log = log X ........................................................................ (2.11)

2) Rata-rata Logaritma

Log ܺത = ௡ σ௡௜ୀ଴ Ž‘‰ ܺ௜ .......................................................... (2.12)

3) Standar Deviasi


Sd = ට σ௡௜ୀ଴ሺ Ž‘‰ ܺ௜ െ Ž‘‰ ܺതሻଶ ...................................... (2.13)
௡ିଵ

4) Koefisien Kemencengan

௡ σ೙ ഥ
೔సబሺŽ‘‰ ܺ݅ െŽ‘‰ ܺሻ
G= ሺ௡ିଵሻሺ௡ିଶሻௌௗమ
.......................................................... (2.14)

5) Logaritma Curah Hujan Rencana dengan Periode Ulang Tertentu

Log ்ܺ = Log ܺത + [Link] ...................................................... (2.15)

Dengan :

Log X = Rata-rata logaritma data

N = Banyaknya tahun pengamatan

Sd = Standar deviasi

G = Koefisien kemencengan

K = Variabel standar ( standardized variable)

untuk X yang besarnya tergantung koefisien kemiringan G

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
Tabel 2.2. Nilai G untuk Distribusi Log Person III

Interval kejadian (Recurence interval), tahun (periode ulang)

1,0101 1,25 2 5 10 25 50 100


Persentase peluang terlampaui
Koef,
99 80 50 20 10 4 2 1
G
3 -0,667 -0,636 -0,396 0,42 1,18 2,278 3,152 4,051
2,8 -0,714 -0,666 -0,384 0,46 1,21 2,275 3,114 3,973
2,6 -0,769 -0,696 -0,368 0,499 1,238 2,267 3,071 3,889
2,4 -0,832 -0,725 -0,351 0,537 1,262 2,256 3,023 3,8
2,2 -0,905 -0,752 -0,33 0,574 1,284 2,24 2,97 3,705
2 -0,99 -0,777 -0,307 0,609 1,302 2,219 2,192 3,605
1,8 -1,087 -0,799 -0,282 0,643 1,318 2,193 2,848 3,499
1,6 -1,197 -0,817 -0,254 0,675 1,329 2,163 2,78 3,388
1,4 -1,316 -0,832 -0,225 0,705 1,337 2,128 2,706 3,271
1,2 -1,449 -0,844 -0,195 0,732 1,34 2,087 2,626 3,149
1 -1,588 -0,852 -0,164 0,758 1,34 2,043 2,542 3,022
0,8 -1,733 -0,856 -0,132 0,78 1,336 1,993 2,453 2,891
0,6 -1,88 -0,857 -0,009 0,8 1,328 1,939 2,359 2,755
0,4 -2,029 -0,855 -0,066 0,816 1,317 1,88 2,261 2,615
0,2 -2,178 -0,85 -0,033 0,83 1,301 1,818 2,159 2,472
0 -2,326 -0,842 0 0.842 1,282 1,751 2,051 2,326
-0,2 -2,472 -0,83 0,033 0,85 1,258 1,68 1,945 2,178
-0,4 -2,615 -0,816 0,066 0,855 1,231 1,606 1,834 2.029
-0,6 -2,755 -0,8 0,099 0,857 1,2 1,528 1,72 1,88
-0,8 -2,891 -0,78 0,132 0,856 1,166 1,448 1,606 1,733
-1 -3,022 -0,758 0,164 0,852 1,128 1,366 1,492 1,588
-1,2 -2,149 -0,732 0,195 0,844 1,086 1,282 1,379 1,449
-1,4 -2,271 -0,705 0,225 0,832 1,041 1,198 1,27 1,318
-1,6 -2,388 -0,675 0,254 0,817 0,994 1,116 1,166 1,197
-1,8 -3,499 -0,643 0,282 0,799 0,945 1,035 1,069 1,087
Sumber : Suripin, 2004

Tabel 2.3. Pedoman Penentuan Jenis Distribusi

Jenis Sebaran Syarat


Cs ≈ 0
Normal
Ck = 3
Cs ≤ 1,1396
Gumbel
Ck ≤ 5,4002
Log Pearson Tipe III Cs ≠ 0
Cs ≈ 3Cv + Cv2 = 3
Log normal
Ck = 5,383
Sumber : C.D. Soemarto, 1999

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
G. Uji Kesesuaian Distribusi Curah Hujan

1. Uji Chi-kuadrat

Uji Chi – kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan

distribusi yang dipilih dapat mewakili distribusi statistik sampel data

yang dianalisis. Pengambilan keputusan uji ini menggunakan parameter

š ଶ , yang dihitung dengan persamaan berikut (Suripin, 2004) :

ሺ୓౟ି୉౟ ሻమ
୦ଶ ൌ  σୋ୧ୀଵ ................................................................ (2.16)
୉౟

Dengan:

š୦ = parameter chi – kuadrat terhitung,

୧ = jumlah nilai pngamatan pada sub kelompok I,

୧ = jumlah nilai toritis (frekuensi harapan) pada sub kelompok i.

Parameter š୦ 2 merupakan variabel acak. Peluang untuk mencapai nilai

š୦ 2sama atau lebih besar dari nilai chi – kuadrat sebenarnya (š ଶ cr).

Adapun langkah-langkah pengujian uji chi – kuadrat adalah sebagai

berikut:

a. Membagi data curah hujan rata-rata harian maksimum ke dalam

beberapa kelas dengan rumus K = 1 + 3,322 log n,

b. Memasukan anggota atau nilai-nilai data ke kelas yang

bersangkutan,

c. Menghitung nilai-nilai pengamatan yang ada dalam kelas (Oi),

d. Menentukan Ei,

e. Menentukam ‫ݔ‬௛ 2 dengan persamaan (Tabel 2.4)

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
f. Menentukan derajat kebebasan (Dk) dengan Dk = K-R-1 (nilai R=2,

untuk distribusi normal.

g. Menentukan nilai ‫ݔ‬௛ 2cr. Agar distribusi frekuensi yang dipilih dapat

diterima, harga ‫ݔ‬௛ 2 <‫ݔ‬௛ 2cr.

Tabel 2.4. Nilai kritis untuk Uji Chi – Kuadrat

α (Drajat Kepercayaan)
DK
0,995 0,99 0,975 0,95 0,05 0,025 0,01 0,005
1 0,000039 0,00015 0,00098 0,0039 3841 5024 6635 7879
2 0,01 0,0201 0,0506 0,103 5991 7378 9210 10597
3 0,0717 0,115 0,216 0,352 7815 9348 11345 12838
4 0,207 0,297 0,484 0,711 9488 11143 13277 14860
5 0,412 0,554 0,831 1154 11070 12832 15086 16750
6 0,676 0,872 1237 1635 12592 14449 16812 18548
7 0,989 1239 1690 2167 14067 16013 18475 20278
8 1344 1646 2180 2733 15507 17535 20090 21955
9 1735 2088 2700 3325 16919 19023 21666 23589
10 2156 2558 3247 3940 18307 20483 23209 25188
11 2603 3053 3816 4575 19675 21920 24725 26757
12 3074 3571 4404 5226 21026 23337 26712 28300
13 3565 4107 5009 5892 22362 24736 27688 29819
14 4075 4660 5629 6571 23685 26119 29141 31319
15 4601 5229 6262 7261 24996 27488 30578 32801
16 5142 5812 6908 7962 26296 28845 32000 34267
17 5697 6408 7564 8672 27587 30191 33409 35718
18 6265 7015 8231 9390 28869 31526 34805 37156
19 6844 7633 8907 10117 30144 32852 36191 38582
20 7434 8260 9591 10851 31410 34170 37566 39997
21 8034 8897 10283 11591 36271 35479 38932 41401
22 8643 9542 10982 12338 33924 36781 40289 42796
23 9260 10196 11689 13091 36172 38076 41638 44181
24 9886 10856 12401 13848 36415 39364 42980 45558
25 10520 11524 13120 14611 37652 40646 44314 46928
26 11160 12918 13844 15379 38885 41923 45642 48290
27 11808 12879 14573 16151 40113 43194 46963 49645
28 12641 13565 15308 16928 41337 44461 48278 50993
29 13121 14256 16047 17708 42557 45722 49588 52336
30 13787 14953 16791 18493 43773 46979 50892 53672
Sumber : Suripin, 2004

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
2. Uji Smirnov – Kolmogorov

Uji kecocokan Smirnov – Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan

non parametrik, karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi

distribusi tertentu. Prosedur perhitungannya adalah sebagai berikut

(Suripin, 2004):

a. Mengurutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan

besarnya peluang dari masing-masing data tersebut. X1 = P(X1), X2

= P(X2), X3 = P(X3), dan seterusnya.

b. Mengurutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil

penggambaran data (persamaan distribsinya). X1 = P’(X1), X2 =

P’(X2), X3 = P’(X3), dan seterusnya.

c. Menentukan selisih terbesar antara peluang pengamatan dan peluang

teoritis. D = maksimum [P(Xn) – P’(Xn)]

d. Berdasarkan table nilai kritis (smirnov – kolmogorov test) ditentukan

harga D0 dari Tabel 2.5

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
Tabel 2.5. Nilai Kritis D0 untuk Uji Smirnov – Kolmogorof

α
N
0,20 0,10 0,05 0,01
5 0,45 0,51 0,56 0,67
10 0,32 0,37 0,41 0,49
15 0,27 0,3 0,34 0,4
20 0,23 0,26 0,29 0,36
25 0,21 0,24 0,27 0,32
30 0,19 0,22 0,24 0,29
35 0,18 0,2 0,23 0,27
40 0,17 0,19 0,21 0,25
45 0,16 0,18 0,2 0,24
50 0,15 0,17 0,19 0,23
ͳǡͲ͹ ͳǡʹʹ ͳǡ͵͸ ͳǡ͸͵
N>50
ܰ ଴ǡହ ܰ ଴ǡହ ܰ ଴ǡହ ܰ ଴ǡହ
Sumber : Suripin, 2004

H. Iintesitas Hujan

Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu

(Suripin, 2004). Besarnya intensitas hujan berbeda-beda, tergantung dari lamanya

curah hujan dan frekuensi. Adapun rumus intensitas hujan adalah sebagai berikut:

‫ ܫ‬ൌ ௧ .................................................................................. (2.17)

Dengan:

I = intensitas hujan (mm/jam),

t = waktu (jam).

R = tinggi hujan (mm),

Hubungan antara intensitas hujan, lama hujan, dan frekuensi hujan

dinyatakan dalam lengkung Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF=

Intensity-Duration-Frequency Curve). Analisi IDF dilakukan untuk

memperkirakan debit puncak di daerah tangkapan kecil berdasarkan

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
data curah hujan titik (satu statiun pencatat curah hujan) seperti dalam

perencanaan sistem drainase perkotaan, gorong-gorong, sumur resapan

dan kolam resapan (Triatmodjo, 2009).

Jika data curah hujan yang tersedia adalah data curah hujan harian

atau dari penakan hujan biasa (manual), maka pembuatan kurva

IDFdapat diturunkan dari persamaan Mononobe sebagai berikut:



ோమర ଶସ య
‫ܫ‬ൌ ቀ ቁ ...................................................................... (2.18)
ଶସ ௧

Dimana :

I : Intensitas curah hujan (mm/jam)

t : Lamanya curah hujan / durasi curah hujan (jam)

R24 : Curah hujan rencana dalam suatu periode ulang, yang nilainya

didapat dari tahapan sebelumnya (tahapan analisis frekuensi)

Keterangan :

·R24 , dapat diartikan sebagai curah hujan dalam 24 jam (mm/hari)

I. Waktu Konsentrasi (tc)

Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan

yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS.

Dalam hal ini diasumsikan jika durasi hujan sama dengan waktu konsentrasi.

(Suripin,2004)
ଶ ௡ௗ ଴ǡଵ଺଻
࢚࢕ = ሺଷ ‫͵ݔ‬ǡʹͺ‫ݔ݋ܮݔ‬ ሻ .................................................... (2.19)
ξ௦


࢚ࢊ= ....................................................................................... (2.20)
଺଴௏

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
࢚ࢉ = ࢚࢕ + ࢚ࢊ ............................................................................... (2.21)

Keterangan :

to = waktu inlet (menit)

td = waktu aliran (menit)

Lo = jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase (m)

L = panjang saluran (m)

nd = angka kekasaran Manning

s = Kemiringan lahan

v = Kecepatan aliran rata-rata disaluran (m/det)

Tabel 2.6. Nilai nd unuk perhitungan to

No Tata Guna Lahan n


1 Lapisan semen dan aspal betom 0,013

2 Kedap air 0,020


3 Timbunan tanah 0,100
4 Tanaman pangan dengan sedikit rumput pada 0,200
tanah
5 Padang rumput 0,400
6 Tanah gundul yang kasar dengan runtuhan 0,600
dedaunan
7 Hutan dan sejumlah semak belukar 0,800
Sumber : Kamiana, 2011

J. Limpasan (Run Off)

Limpasan adalah apabila intensitas hujan yang jatuh di suatu

DAS melebihi kapasitas infiltrasi, setelah laju infiltrsi terpenuhi air akan

mengisi cekungan – cekungan pada permukaan tanah. Setelah cekungan –

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
cekungan tersebut penuh, selanjutnya air akan mengalir (melimpas) diatas

permukaan tanah (Suripin, 2004)

Limpasan permukaan adalah aliran air yang mengalir diatas permukaan

karena penuhnya kapasitas infiltrasi tanah. Limpasan merupakan unsur

penting dalam siklus air dan salah satu penyebab erosi. Limpasan yang

muncul dipermukaan sebelum mancapai saluran disebut sumber tidak

langsung. Ketika limpasan mengalir ditanah, limpasan tersebut dapat

mengambil kontaminan tanah seperti minyak bumi, pestisida, atau pupuk.

Bila sumber tidak langsung mengandung kontaminan semacam itu, limpasan

tersebut disebut polusi sumber tidak langsung.

Limpasan ini dilambangkan dengan nilai C. Besarnya Nilai

Ctergantung pada kondisi dan Karakteristik daerah yang akan di drain dan

dikeringkan. Untuk tata guna lahan yang bervariasi, maka nilai C dihitung

sebagai nilai C komposit. Rumusnya sebagai berikut:


஺Όା஼Όା஺΍ା஼΍ǤǤǤǤǤǤǤǤǤǤା஺ਫ਼஼ਫ਼
C komposit = ............................................. (2.22)
஺Όା஺΍ାǤǤǤǤǤǤǤǤǤǤ஺ਫ਼

Dimana :

C komposit = Koefesien limpasan komposit

A₁, A₂, An = Luas sub area (ha)

C₁, C₂, Cn = Koefesien pengaliran untuk setiap sub area

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
Tabel 2.7. Koefisien aliran permukaan (C)

Tipe Daerah Aliran Koefisien Aliran, (C)


Rerumputan:
Tanah pasir, datar 2% 0,5 – 0,10
Tanah pasir, sedang 2%-7% 0,10 – 0,15
Tanah pasir, curam > 7% 0,15 – 0,20
Tanah gemuk, datar 2% 0,13 – 0,17
Tanah gemuk, sedang 2%-7% 0,18 – 0,22
Tanah gemuk, curam > 7% 0,23 – 0,35
Perdagangan:
Daerah kota lama 0,75 – 0,95
Daerah kota pinggiran 0,50 – 0,70
Perumahan:
Daerah single family 0,30 – 0,50
Multy unit terpisah 0,40 – 0,60
Multi unit tertutup 0,60 – 0,75
Daerah bapartemen 0,50 -0,70
Industri:
Daerah ringan 0,50 – 0,80
Daerah berat 0,60 – 0,90
Taman, kuburan 0,10 – 0,25
Tempat bermain 0,20 – 0,35
Daerah tidak dikerjakan 0,10 – 0,30
Jalan:
Aspal 0,70 – 0,95
Beton 0,80 – 0,95
Batu 0,70 – 0,85
Atap 0,74 – 0,95
Sumber : Triatmodjo, 2009

K. Menentukan Debit Puncak dengan Metode Rasional

Metode Rasional digunakan untuk memperkirakan debit puncak yang

ditimbulkan oleh hujan pada daerah tangkapan aliran (DTA) kecil. Metode

ini sangat simpel dan mudah penggunaannya, namun terbatas untuk DTA

dengan ukuran kecil, yaitu kurang dari 300 ha ( Suripin, 2004).

Rumus Metode Rasional adalah sebagai berikut:

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
Q = 0,002778 . C . I . A .............................................(2.23)

Dengan:

Q = Debit puncak (݉ଷ Ȁ݀݁‫)݇݅ݐ‬

C = koefisien pengaliran (0 ≤ C ≤ 1)

I = intensitas hujan (mm/jam)

A = luas daerah (m2)

L. Dimensi Penampang Saluran

Saluran terdiri dari saluran terbuka dan tertutup. Untuk aliran air dalam

saluran terbuka, penampang yang umum dipergunakan adalah saluran

berbentuk trapesium, segi empat dan segi tiga. dan aliran air dalam saluran

tertutup, bentuk yang umum dipergunakan adalah bentuk lingkaran.

Parameter utama yang dugunakan untuk menentukan dimensi dari saluran

tersebut adalah :

¾ Lebar dasar saluran (b)

¾ Kedalaman saluran (h)

¾ Keliling basah saluran (p)

¾ Luas saluran (A)

¾ Jari-jari hidrolis (R) adalah perbandingan antara luas saluran dengan

keliling basah saluran :

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
1. Penampang Segi Tiga

Suatu penampang saluran bentuk segi tiga dengan kemiringan talud z,

dan kedalaman h (m),

Gambar 2.8. Penampang Segi Tiga

(Sumber: [Link] 2013)

diperoleh rumus :

‫ ܣ‬ൌ ‫ݖ‬Ǥ ݄ଶ .................................................................................(2.24)

ܲ ൌ ʹǤ ξ‫ ݖ‬ଶ ൅ ͳǤ ݄ ................................................................... (2.25)

஺ ଴ǡହ
ܲ ൌ ʹǤ ξ‫ ݖ‬ଶ ൅ ͳǤ ቀ ቁ ............................................................ (2.26)


ܲଶ ൌ ͶǤ ቀ‫ ݖ‬൅ ௭ቁǤ ‫ ܣ‬.................................................................. (2.27)


ܴ ൌ ................................................................................... (2.28)
ଶξଶ

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
2. Penampang Persegi

Gambar 2.9. Penampang Persegi

(Sumber: [Link] 2013)

Suatu penampang saluran berbentuk persegi empat dengan lebar

b(m) dan kedalam h(m), diperoleh rumus :

A = b .h ...................................................................................... (2.26)

P = b + 2h ................................................................................. (2.27)


P = ௛ ൅ ʹ݄ ................................................................................. (2.28)

Untuk mendapatkan penampang ekonomis, P harus minimum jika


ௗ௣
= 0, maka didapat :
ௗ௛


െ ௛మ ൅ ʹ ൌ Ͳ ................................................................................ (2.29)

‫ ܣ‬ൌ ʹ݄ଶ ...................................................................................... (2.30)

ଶ௛ మ ௛
ܴ ൌ ସ௛
ൌ  .............................................................................. (2.31)

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
3. Penampang Trapesium

Gambar 2.10. Penampang Trapesium

(Sumber: [Link] 2013)

Suatu penampang saluran berbentuk trapezium dengan lebar b

(m), kemiringan talud z dan kedalaman h (m), diperoleh rumus :

A b  zh . h.................................................................... (2.32)

ܲ ൌ ܾ ൅ ʹ݄ξ‫ ݖ‬ଶ ൅ ͳ ............................................................. (2.33)


ܴൌ (2.32) ................................................................... (2.34)

M. Kecepatan Aliran

Kecepatan aliran adalah kecepatan aliran air pada saluran drainase,

yang didapat dari rumus Manning

Menurut rumus Manning:


మ భ

ܸ ൌ  Ǥ ܴయ Ǥ ܵ మ ................................................................................... (2.35)

Dimana :

V = Kecepatan aliran (m/det)

n = Koefisien Manning

R = jari-jari hidrolis (m)

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019
S = Kemiringan saluran

Besarnya kecepatan aliran rata-rata untuk perencanaan saluran

drainase dapat ditentukan berdasarkan nilai debit rencana yang telah

ditentukan.

Tabel 2.8. Harga Koefisien Manning

Bahan Koefisien manning (n)


Besi tuang lapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran beton 0,013
Bata dilapisi mortar 0,015
Pasangan batu disemen 0,025
saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
Sumber: Triatmodjo, 2009

N. Debit Aliran

Debit aliran adalah jumlah air yang mengalir dalam suatu tempat tiap satu

satuan waktu. Fungsi debit aliran ini adalah untuk mengetahui seberapa

banyak air yang mengalir pada suatu sungai atau saluran dan seberapa cepat

air tersebut mengalir dalam waktu satu detik.

Rumus debit :

Qs = A x V ............................................................................. (2.36)

Keterangan :

Qs = Debit Aliran (m3/det)

A = Luas Penampang (m2)

V = Kecepatan Aliran (m/det)

Analisis Kapasitas Drainase…, Lintang Lupita Bunga Khoirunisa, Fakultas Teknik Dan Sains UMP, 2019

Anda mungkin juga menyukai