0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan18 halaman

Sinusitis

Dokumen ini membahas tentang sinusitis, termasuk penyebab, gejala, dan penanganannya, serta memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan pada pasien pasca operasi sinusitis. Tujuan penulisan adalah untuk memahami proses keperawatan secara komprehensif pada pasien dengan sinusitis. Selain itu, dokumen ini juga mencakup diagnosa keperawatan dan rencana intervensi yang diperlukan untuk pasien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan18 halaman

Sinusitis

Dokumen ini membahas tentang sinusitis, termasuk penyebab, gejala, dan penanganannya, serta memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan pada pasien pasca operasi sinusitis. Tujuan penulisan adalah untuk memahami proses keperawatan secara komprehensif pada pasien dengan sinusitis. Selain itu, dokumen ini juga mencakup diagnosa keperawatan dan rencana intervensi yang diperlukan untuk pasien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu penyakit pada saluran pernapasan atas adalah penyakit
sinusitis. Hal ini disebabkan oleh tersumbatnya aliran lendir dari sinus ke
rongga hidung yang menyebabkan terjadinya sinusitis dan mempunyai
proporsi yang tinggi dalam infeksi saluran pernapasan atas. Namun jika
ostium kedalam saluran nasal bersih, infeksi akan hilang dengan cepat.
Namun demikian bila drainase tersumbat oleh septum yang mengalami
penyimpangan atau oleh turbinasi yang mengalami hipertropi, taji, atau polip,
maka sinusitis akan menetap sebagai pencetus infeksi sekunder atau
berkembang menjadi suatu proses supurativa akut (Smeltzer, 2001).
Menurut Budisantoso, (2009) sinusitis jika tidak ditangani dengan baik
maka akan mengalami komplikasi seperti infeksi pada otak, infeksi bola
mata, infeksi tulang disekitar sinus, radang tenggorok yang sering kambuh,
radang amandel, radang pita suara, sesak napas, dan gangguan pencernaan.
Hal demikian akan berefek pada produktivitas penderita, kecacatan dan juga
memerlukan biaya yang besar.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata dalam melakukan
asuhan keperawatan pada klien dengan post operasi sinusitis melalui
proses keperawatan yang komprehensif dalam bentuk karya tulis ilmiah..
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian keperawatan secara konfrehensif
pada pasien Ny. AH dengan post operasi sinusitis di Ruang OK
RSUD Cut Meutia Aceh Utara.
b. Dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien Ny. AH
dengan post operasi sinusitis di Ruang OK RSUD Cut Meutia Aceh
Utara

1
c. Dapat menyusun perencanaan keperawatan pada pasien Ny. AH
dengan post operasi sinusitis di Ruang OK RSUD Cut Meutia Aceh
Utara
d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien Ny. AH
dengan post operasi sinusitis di Ruang OK RSUD Cut Meutia Aceh
Utara

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Sinus merupakan suatu organ atau ruangan berisi udara dengan dinding
yang terdiri dari membran mukosa.
Menurut Budisanto, (2009) sinusitis adalah suatu proses peradangan
pada mukosa atau selaput lendir sinus paranasal.
Mansjoer, 1999), Sinusitis adalah radang sinus paranasal. Bila terjadi
pada beberapa sinus disebut multisinusitis, yang paling sering terkena adalah
sinus maksila kemudian etmoid, frontal dan sphenoid.
Sedangkan menurut Charlene J, (2001) menjelaskan sinusitis adalah sebagai
inflamasi/peradangan pada satu atau lebih dari sinus paranasal.
Jadi dapat disimpulkan sinusitis adalah suatu penyakit atau kelainan yang
menyerang sinus paranasal.

B. Etiologi
Sinusitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Menurut
(Glukman, 1999), kuman penyebab sinusitis akut tersering adalah
streptococcus pneumoniae dan hemophilus influenza yang ditemukan pada
70 % kasus. Dapat pula disebabkan oleh rinitis akut, infeksi faring, seperti
faringitis, adenoiditis, tonsilitis akut, infeksi gigi molar (M1, M2, M3) atas,
serta premolar (P1, P2) berenang, menyelam, trauma, dan barotrauma. Faktor
predisposisi obstruksi mekanik seperti deviasi septum, benda asing dalam
hidung, tumor, atau polip, juga rinitis alergi, rinitis kronik, polusi lingkungan,
udara dingin dan kering.

3
C. Anatomi dan Fisiologi

Gambar anatomi pada sinus paranasal

Ada empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus
etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil
pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang.
Semua sinus mempunyai muara ke rongga hidung.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga
hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus
sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat anak
lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari dari sinus etmoid anterior pada
anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada
usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-
sinus ini umumnya mencapai besar maksila 15-18 tahun.

D. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan
kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM).
Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat
yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama
udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem,
sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini
menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya
ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang
menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek
awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai

4
sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak
sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media
yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah
menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan
terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan
terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini
menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau
pembentukan polip dan kista.

E. Manifestasi Klinis
Berdasarkan manifestasi klinis menurut Adams (1997 hal 241) sinusitis
dapat dibagi dua yaitu :
a. Sinusitis Akut
1) Sinus Maksilaris : Gejalanya berupa demam, malaise, dan nyeri
kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgetik
biasa seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi terasa
nyeri pada gerakan kepala mendadak, dan sering kali terdapat nyeri
pipi khas yang tumpul dan menusuk juga terkadang berbau busuk.
2) Sinusitis etmoidalis : Gejalanya berupa nyeri dan nyeri tekan di
antara kedua mata dan diatas jembatan hidung, drainase dan
sumbatan hidung.
3) Sinusitis Frontalis : Gejalanya berupa nyeri kepala yang khas
berlokasi diatas alis dan biasa pada pagi hari dan memburuk pada
tengah hari kemudian perlahan-lahan sampai menjelang malam.
4) Sinusitis Sfenoidalis : Gejalanya berupa nyeri kepala yang mengarah
ke verteks kranium.
b. Sinusitis Kronik.
Gejala sinusitis kronik tidak jelas. Selama eksaserbasi akut, gejala-gejala
mirip dengan gejala sinusitis akut namun diluar masa itu gejala berupa
suatu perasaan penuh pada wajah dan hidung, dan hipersekresi yang
sering kali mukopurulen.

5
F. Pemeriksaan Penunjang
Transiluminasi adalah pemeriksaan termudah, meskipun kebenarannya
diragukan. Terutama berguna untuk evaluasi penyembuhan, dan pada wanita
hamil/untuk menghindari bahaya radiasi. Bermakna bila hanya salah satu sisi
sinus sakit, sehingga tampak lebih suram dibandingkan sisi yang normal.
Penilaian dilakukan dengan memberikan tanda positif (+) untuk sinus maksila
dan sinus frontal.
Pemeriksaan foto rongent yang dibuat, yaitu posisi Waters
posteroanterior (PA), dan lateral. Dengan posisi ini maka sinusitis akan
tampak perselubungan atau penebalan mukosa dan gambaran air fluid level.
Dapat dilakukan pemeriksaan kultur kuman dan uji resistensi dari sekret
rongga hidung (Mansjoer, 1999 hal 105).

G. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan sinusitis akut adalah untuk mengontrol infeksi,
memulihkan kondisi mukosa nasal, dan menghilangkan nyeri. Antibiotik
pilihan untuk kondisi ini adalah amoksisilin dan ampisilin. Alternatif bagi
pasien yang alergi terhadap penisilin adalah trimeptoprim/sulfametoksazol
(kekuatan ganda). Dekongestan oral atau topikal dapat saja diberikan. Irigasi
juga efektif untuk membuka sumbatan saluran, sehingga memungkinkan
drainase rabas purulen. Dekongestan oral yang umum adalah drixoral
(Smeltzer, 2001).
Sinusitis akut dapat sembuh spontan atau dapat sembuh hanya dengan
pemberian obat. Sinusitis akut perlu dilakukan operasi jika penderita sakit
berat atau telah terjadi komplikasi atau terjadi akibat kelainan anatomi.
Sinusitis kronik perlu dilakukan operasi disamping dengan pemberian
obat. Prinsip penanganan sinusitis adalah disamping penanganan sinusitisnya
juga harus dilakukan penanganan terhadap penyebabnya. Cara operasi paling
mutakhir terhadap sinusitis adalah dengan metode FESS (Functional
Endoscopic Sius Surgery) atau BSEF (Bedah Sinus Endoskopik Fungsional)
(Budisantoso, 2009).

6
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Data pasien
Nama : Ny. AH
Umur : 18 thn
Alamat : Matangkuli
Ruang : Ruang bedah
No. Register :-
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Siswa
Tgl Masuk : 6 Agustus 2017 pukul 12: 00 WIB
Dx Medis : Sinusitis

2. Riwayat kesehatan
Data Subjektif
a. Pasien mengatakan nyeri pada daerah operasi
b. Pasien mengatakan susah bernafas melalui hidung
c. Susah tidur
Data Objektif
a. Ekspresi wajah meringis
b. Jalan nafas tidak efektif
c. Lemah
d. OS sering terbangun

3. Riwayat penyyakit kelluarga


Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang mengalami atau
menderita penyakit yang sama dengan klien dan tidak mengalami
penyakit keturunan.

7
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan pemasangan
tampon hidung terhadap post operasi paradangan sinus.
2. Nyeri berhubungan dengan luka operasi ditandai dengan klien mengeluh
nyeri dihidung, ekspresi wajah meringis, tingkat skala nyeri 5 (nyeri
sedang).
3. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri
sekunder peradangan sinus.

C. Analisa Data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 DS : Pembedahan
 Klien mengatakan
sulit bernafas Anastesi
melalui hidung
 Klien mengatakan Pemasangan tampon Keidakefektifan jalan
sesak nafas nafas
DO : Aspirasi
 Klien terlihat sulit
bernafas melalui Akumulasi secret
hidung dan bernafas
melalui mulut Ketidakefiktifan jalan
 Pernafasan terlihat napas
lambat
 Pasien terlihat tidak
nyaman
 RR : 14 x/m
 TD : 110/70 mmHg
 T : 36
 N : 60 x/m

2. DS : Pembedahan
 Klien mengatakan Terputusnya inkontinuitas
terasa nyeri pada jaringan
bagian luka Nyeri : luka
DO : Hormon BPH meningkat
 Klien terlihat tidak
nyaman, skala nyeri Merangsang SSp
6

8
 Klien terlihat Sensasi rasa nyeri
meringis kesakitan
 Ekspresi wajah
meringis
 TD : 110/ 70
mmHg
 RR : 14 x/m
 T : 36
 N : 60 x/m

3. DS : Pembedahan Gangguan rasa aman dan


 Klien mengatakan nyaman istirahat tidur
susah tidur Pemasangan tampon pada
 Klien mengatakan hidung
sering terbangun
 Klien mengatakan Hidung buntu
hidung buntu
 - Klien Kualitas tidur terganggu
mengeluh sesak
napas saat tidur
DO :
 Klien sering
terbangun
 Nafas pendek
 RR : 14 x/m
 TD : 110/ 70
mmHg
 RR : 14 x/m
 T : 36
 N : 60 x/m

9
4. Rencana Keperawatan
DIAGNOSA INTERVENSI
No TUJUAN
KEPERAWATAN KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan jalan 1. jalan nafas kembali 1. Kaji penumpukan secret
nafas efektif. yang ada
DS : 2. klien bernapas tidak 2. Observasi tanda-tanda
 Klien mengatakan lagi melalui mulut. vital.
sulit bernafas 3. Klien merasa aman 3. Berikan latihan batuk
melalui hidung dan nyaman saat efektif
 Klien mengatakan bernafasa atelah 4. Lakukan tindakan
sesak nafas POST-OP. sunction
5. Berikan terapi oksigen
DO : 6. Kolaborasi dengan tim
 Klien terlihat sulit medis untuk
bernafas melalui pembersihan sekret
hidung dan bernafas
melalui mulut
 Pernafasan terlihat
lambat
 Pasien terlihat tidak
nyaman
 RR : 14 x/m
 TD : 110/70 mmHg

 T : 36
 N : 60 x/m

10
2. Nyeri pada luka operasi 1. Nyeri berkurang 1. Kaji tingkat nyeri klien
DS : 2. Pasien terlihat aman 2. Jelaskan sebab dan
 Klien mengatakan dan nyaman akibat nyeri pada klien
terasa nyeri pada serta keluarganya
bagian luka 3. Ajarkan tehnik relaksasi
DO : dan distraksi
 Klien terlihat tidak 4. Observasi tanda tanda
nyaman, skala nyeri vital dan keluhan klien
6 5. Kolaborasi dngan tim
 Klien terlihat medis :
meringis kesakitan 1) Terapi konservatif :
 Ekspresi wajah - obat
meringis Acetaminopen;
 TD : 110/ 70 Aspirin,
mmHg dekongestan
 RR : 14 x/m hidung

 T : 36 - Drainase sinus

 N : 60 x/m 2) Pembedahan :
- Irigasi Antral :
Untuk sinusitis
maksilaris.
3. Gangguan rasa aman dan 1. klien dapat istirahat dan 1. kaji kebutuhan tidur
nyaman istirahat dan tidur dengan nyaman klien.
tidur 2. klien tidur sesuai 2. ciptakan suasana yang
DS : dengan kebutuhan nyaman.
 Klien misalkan 6-8 jam/hari 3. Berikan konsep dasar
mengatakan 3. nyeri pada hidung manusia rasa aman dan
susah tidur berkurang nyaman
 Klien 4. Kolaborasikan dengan
mengatakan tim medis pemberian
sering terbangun obat
 Klien

11
mengatakan
hidung buntu
 Klien mengeluh
sesak napas saat
tidur
DO :
 Klien sering
terbangun
 Nafas pendek
 RR : 14 x/m
 TD : 110/ 70
mmHg
 RR : 14 x/m

 T : 36
 N : 60 x/m

5. Implementasi Keperawatan

NO DIAGNOSA IMPLEMENTASI RESPON


KEPERAWATAN
1. Keidakefektifan 1. Mengkaji tingkat S : klien mengatakan
jalan nafas penumpukan secret yang Tidak sulit bernafas
menganggu
2. Memberikan rasa aman O : kien terlihat lebih nyaman
dan nyaman dalam bernafas
3. Mengatur posisi klien
4. Melakukan pemeriksaan A : masalah teratasi sebagian
tanda- tanda vital
5. Mengajarkan nafas dalam P : intervensi dilanjutkan
dan batuk efektif
6. Melakukan tindakan I : tindakan no 2 dilanjutkan
sunction

12
7. Melakukan terapi E : keadaan pola nafas klien
oksigen mulai teratur
8. Kolaborasi dengan tim
medis
2. Nyeri : luka 1. Mengkji tingkat nyeri S : klien mengatakan nyeri
pada klien berkurang
2. Memberikan manajemen
nyeri O : klien terlihat nyaman
3. Melatih nafas dalam dengan skala nyeri 3
4. Menjelaskan akibat dan
sebab nyeri tersebut A : masalah teratasi sebagian
5. Mengajarkan tekhnik
relaksasi P: intervensi dilanjutkan
6. Kolaborasi dengan tim
medis
I : tindakan no 6 dilanjutkan

E : nyeri klien mulai berkurang


3. Gangguan rasa 1. Mengkaji pola tidur klien S : klien mengatakan pola
aman dan setiap hari istirahat dan tidur membaik
nyaman 2. Memberikan konsep
istirahat dan dasar manusia rasa aman O : klien terlihat tenang saat
tidur dan nyaman pada pola tidur, 6-8 jam/hari
istirahat dan tidur
3. Kolaborasi dengan tim A : maslah teratasi sebagian
medis saat pemberian
obat P : tindakan no 2 dan 3
dilanjutkan

I : intervensi dilanjutkan

E : pola istirahat dan tidur

13
klien mulai membaik.

7. Evaluasi

DIAGNOSA EVALUASI
Ketidakefektifan jalan nafas S : klien mengatakan pola nafasnya normal
O : klien terlihat nyaman dan tenang
- TD : 140/80 mmHg

- T : 36
- N : 80 x/m
- RR : 17 x/m
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
I : tindakan dihentikan
E : pola nafas klien normal dan masalah teratasi
Nyeri : luka S : klien mengatakan nyeri berkurang
O : klien terlihat nyaman dan tenang
- TD : 140/80 mmHg

- T : 36
- N : 80 x/m
- RR : 17 x/m
A : masalah teratasi
P : intervensi dilanjutkan
I : tindakan dilanjutkan
E : nyeri pada luka klien berkurang dan masalah
teratasi
Gangguan rasa aman dan nyaman S : klien mengatakan tidur dengan nyaman
istirahat dan tidur O : klien terlihat tenang saat istirahat dan tidur
- TD : 140/80 mmHg

- T : 36
- N : 80 x/m

14
- RR : 17 x/m
P : intervensi dihentikan
I : tindakan dihentikan
E : masalah teratasi dan kualitas tidur klien
sesuai dengan kebutuhan

BAB IV

15
PENUTUP

Berdasarkan uraian yang penulis kemukakan pada pendahuluan maka pada


akhir tulisan ini penulis akan mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran
saran yaitu sebagai berikut :
A. Kesimpulan
1. Sinusitis adalah suatu proses peradangan pada mukosa atau selaput lendir
sinus paranasal. Penyebab dari sinusitis adalah virus, bakteri, atau jamur.
Kuman penyebab sinusitis akut tersering adalah streptococcus
pneumoniae dan hemophilus influenza
2. Diagnosa keperawatan yang didapatkan pada pasien adalah
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
pemasangan tampon hidung terhadap post operasi paradangan sinus.
b. Nyeri berhubungan dengan luka operasi ditandai dengan klien
mengeluh nyeri dihidung, ekspresi wajah meringis, tingkat skala nyeri
5 (nyeri sedang).
c. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri
sekunder peradangan sinus.
3. Implementasi dapat dikerjakan dengan baik sesuai dengan harapan dalam
perencanaan tanpa ada kendala yang berarti, ini didukung oleh fasilitas
yang mencukupi di Rumah Sakit serta kerja sama dengan klien dan
keluarga.
4. Hasil evaluasi dilakukan untuk mengetahui tercapainya pemecahan
masalah dan satu tindakan yang telah di laksanakan. Dilakukan
pengkajian ulang terhadap aspek yang terkait masalah klien. Selama
dalam perawatan yang penulis lakukan pada klien post operasi sinusitis
berdasarkan hasil evaluasi maka dapat di simpulkan bahwa semua
masalah dapat teratasi dan juga sebagian teratasi bertahap setiap harinya.

B. Saran- saran

16
1. Dalam melakukan asuhan keperawatan diharapkan perawat harus
memandang secara menyeluruh sebagai mahkluk bio, psiko, sosial.
2. Dalam melakukan asuhan keperawatan diharapkan pada pasien agar lebih
ikut berpartisipasi dalam proses tindakan dan penyembuhan penyakit.
3. Diharapkan kepada instalansi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut
Meutia untuk melengkapi dan menyempurnakan sarana (fasilitas) sesuai
kebutuhan guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang handal di
Aceh khususnya di Aceh Utara
4. Bagi pihak institusi pendidikan, sebaiknya menyediakan buku-buku
perpustakaan secara lengkap khususnya buku-buku yang berhubungan
dengan medikal bedah, serta para dosen-dosen agar lebih meningkatkan
kegiatan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

17
Adams, G.L (1997), Boies : Buku Ajar Penyakit THT, Edisi 6. EGC : Jakarta.

Budisantoso, A (2009). www. com/[Link]/option diakses 4 April 2009.

Charlene J.R, dkk. (2001), Keperawatan Medikal Bedah. Buku I. Salemba


Medika, Jakarta.

Smeltzer, Susanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Brunner


& Suddart, Edisi 8, EGC : Jakarta.

Soeparti, E.A (2001). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga – Hidung –


Tenggorokan Kepala Leher, Gaya Baru : Jakarta.

18

Anda mungkin juga menyukai