FIKIH KELAS IX
SEMESTER GENAP
SMPIT BAITUL QURAN AL JAHRA MAGETAN
TAHUN AJARAN 2020/2021
1
HUTANG PIUTANG, GADAI,
HIWALAH
A. HUTANG PIUTANG
1. Pengertian Hutang piutang
Hutang piutang didalam fiqih disebut al-dain ( ن´ اَّل ْذيHhutang
piutang menurut istilah adalah memberikan suatu benda kepada orang
lain dengan janji akan mengembalikan sesuai dengan yang semisalnya
berdasarkan akad (janji).
Dalam kehidupan bermasyarakat, hutang piutang merupakan hal
yang lumrah terjadi. Hal ini pada dasarnya merupakan perwujudan dari
budaya tolong menolong. Pada umumnya, hutang piutang terjadi antara
orang yang mengalami kesulitan hidup dan orang yang memiliki
kelonggaran ekonomi demi memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu,
cara yang demikian itu (hutang piutang) dipandang sebagai perbuatan
terpuji, terutama bagi yang mempunyai kelonggaran terhadap orang
lain yang mengalami kesulitan.
2. Rukun Hutang piutang
a. Lafal (kalimat mengutangi) seperti : “aku hutangkan ini kepadamu”.
Jawab yang berutang: “aku mengaku berhutang kepadamu”
b. Orang yang berpiutang dan yang mempunyai utang.
c. Barang yang diutangkan, tiap-tiap barang yang dapat dihinggakan
dapat diutangkan. Begitu juga mengutangkan hewan harus dibayar
dengan hewan yang berjenis sama.
d. Batas waktu.
3. Hukum Hutang piutang
Hukum hutang piutang adalah mubah (boleh), dan yang memberikan
hutang adalah sunah, dan bisa menjadi wajib bila yang berhutang itu
dalam keadaan mendesak, misalnya berhutang untuk biaya pengobatan,
hutang beras karena kelaparan dan lain-lain.
Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : “Tiadalah seorang muslim yang memberi pinjaman kepada seorang
muslim dua kali, kecuali seolah-olah ia telah bersedekah kepadanya
satu kali.” (HR. Ibnu Majah)
Hutang piutang adalah salah satu bentuk akad yang berkaitan erat
dengan waktu. Atas dasar itu, islam menganjurkan kepada umatnya
bahwa jika terjadi akad hutang piutang hendaklah dicatat siapa yang
berhutang, siapa nama pemberi hutang, jenis barang yang dihutang,
serta tanggal terjadinya hutang dan tanggal pengembaliannya. Allah
SWT berfirman :
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman apabila kamu melakukan utang-
piutang untuk waktu yang ditentukan hendaklah kamu
menulisakannya…(Q.S. Al-Baqarah/2:282)
4. Kewajiban Orang yang Berhutang
a. Mengembalikan piutangnya sesuai dengan besaran pinjaman dan
sesuai dengan batas waktu yang ditentukan.
b. Apabila ia tidak dapat memenuhi kesepakatan untuk mengembalikan
piutang sesuai dengan waktu yang telah disepakati/ditentukan, maka
ia wajib minta waktu penangguhan pembayaran dengan baik.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
2
c. Berterimakasih kepaa pemberi hutang. Sudah selayaknya apabila
kita telah ditolong kita mengucapkan terima kasih atau memberikan
tambahan sewajarnya sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Berikut!
ف´ِٕاَّن ِخيا´ ´ر الَّنا ِس اْح ´سُنُهْم ق´ ´ضا
´ء
Artinya : “Sungguh sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berlaku baik
ketika membayar utang (H.R. Bukhari dan Muslim).
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hutang piutang
Untuk mengurangi potensi konflik antara pemberi hutang dan orang
yang berhutang, syari’at membuat batasan-batasan yang harus ditaati.
Adapun batasan- batasan tersebut di antaranya adalah:
a. Ditulis dan dipersaksikan
Berdasarkan firman Allah
SWT:
ي´ا أ´ُّي ´ها اَّلِذي ´ن آ ´مُنوا ِإ ´ذا ت´ ´داي´ْنُتْم ِب ´دْيٍن ِإل´ى أ´ ´جٍل ُم ´سًّمى ف´اْكُتُبوُه ´وْلي´ْكُتْب ب´ْين´ُكْم
´كاِت ب ِباَْل´ْدِل
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian mengadakan akad
hutang piutang sampai pada kurun waktu tertentu, hendaklah kalian
menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar”. (QS. Al-Baqarah: 282)
b. Pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil keuntungan
atau manfaat dari orang yang berhutang.
Kaidah fikih berbunyi:
ُكُّل ق´ْر ٍض ´جَّر ن´ْفًَا ف´ُه ´و ِرًبا
Artinya:“Setiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya
riba”
Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan
penambahan.
c. Melunasi hutang dengan cara yang baik (al-
ma’ruf) Berdasarkan hadits Nabi SAW berikut
ini:
´رْي ´رة´ – رضى الله عنه – ق´ا ´ل ´كا ´ن ِل ´رُجٍل ´عل´ى الَّنِب ِ'ى – صلى الله عليه ´عْن أ´ِبى ُه
´ ف. » ِم ´ن اإِل ِبِل ف´ ´جا ´ءُه ي´ت´ق´ا ´ضاُه ف´ق´ا ´ل – صلى الله عليه وسلم – « أ´ْعُطوُه وسلم – ِس ٌّن
، ف´ق´ا ´ل أ´ْوف´ْيت´ِنى. » ف´ق´ا ´ل « أ´ْعُطوُه. ف´ل´ْم ي´ِجُدوا ل´ُه ِإََّّل ِسًّنا ف´ْوق´ ´ها، ´طل´ُبوا ِس َّنُه
» ق´ا ´ل الَّنِبُّى – صلى الله عليه وسلم – « ِإَّن ِخي´ا ´رُكْم أ´ْح ´سُنُكْم ق´ ´ضاًء. ´ك ´وَّفى َّالَُّل ِب
Diceritakan dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Nabi mempunyai hutang
kepada
seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang
menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya”
kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi
mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya.
Nabi (pun) berkata: “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab,
“Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah
[Link] dengan setimpal”. Maka Nabi [Link], “Sebaik-
baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian
(hutang)” (HR. Bukhari)
d. Berhutang dengan niat baik dan berkomitmen akan
melunasinya Berdasarkan hadits Nabi SAW
´´ل « ´مْن أ ´عْن أ´ِبى ُه ´رْي ´رة´ – رضى الله عنه – ´عِن الَّنِب ِ'ى – صلى الله عليه وسلم – ق´ا
» أ´ْتل´ف´ُه َّالَُّل ´و ´مْن أ´ ´خ ´ذ ُيِريُد ِإْتال´ف´ ´ها، ´خ ´ذ أ´ْم ´وا ´ل الَّناِس ُيِريُد أ´ ´دا ´ء ´ها أ´َّدى َّالَُّل ´عْنُه
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Barang
siapa
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
3
yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk
membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan
untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya
(tidak melunasinya), maka Allah akan membinasakannya”. (HR.
Bukhari)
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
4
e. Berhutang Hanya Dalam Kondisi Darurat/Mendesak
Berdasarkan prinsip ini, hutang dijadikan sebagai jalan keluar
alternatif atau pintu darurat atas persoalan yang sulit untuk
diselesaian sendiri, dan tidak menjadikan hutang sebagai kebiasaan.
f. Menyegerakan Pembayaran
Hutang Berdasarkan hadits Nabi
SAW berikut:
´عْن أ´ِبى ُه ´رْي ´رة´ – رضى الله عنه – أ´َّن ´رُس و ´ل َّالَِّل – صلى الله عليه وسلم – ق´ا ´ل « ´مْطُل
» ف´ِإ ´ذا ُأْتِب ´ع أ´ ´حُدُكْم ´عل´ى ´مِل ٍ'ى ف´ْلي´ْتب´ْع، اْلغ´ِن ِ'ى ُظْل م
Diceritakan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW
bersabda:
“Memperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya
merupakan perbuatan zhalim. Jika salah seorang diantara kalian
dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka
hendaklah beralih (diterima pengalihan tersebut)”(HR. Bukhari
Muslim).
g. Memberikan Kelonggaran Waktu Pembayaran Hutang yang
Jatuh Tempo Kepada Orang yang Mengalami Kesulitan
Berdasarkan firman Allah SWT
´وِإْن ´كا ´ن ُذو ُعْس ´رٍة ف´ن´ِظ ´رة ِإل´ى ´مْي ´س ´رٍة ´وأ´ْن ت´ ´صَّدُقوا ´خْي ر ل
´ُكْم ِإْن ُكْنُتْم ت´َْل´ُمو ´ن
Artinya:“ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka
berilah
tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian
atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”
(QS. Al-Baqarah: 280)
6. Manfaat Akad Hutang piutang
Sebagaimana pada persoalan pinjam meminjam (al-‘ariyah), hutang
piutang (al-dayn) juga sangat besar manfaatnya bagi orang yang benar-
benar membutuhkan. Untuk orang yang mengalami kesulitan, hutang-
piutang dapat dijadikan pintu keluar darurat yang halal atas persoalan
yang ia hadapi. Selain itu, dengan adanya akad ini akan menumbuhkan
semangat ta’awun atau gotong royong dan dapat mengikis jarak antara
yang kaya dan miskin.
B. GADAI
1. Pengertian Gadai
Gadai berasal dari bahasa Arab adalah ()الرهن. Menurut bahasa,
gadai artinya tangguhan. Sedang menurut istilah fikih, gadai adalah
penyerahan suatu benda kepada orang lain dengan maksud untuk
mendapatkan pinjaman uang.
Dalam konsep al-rahn, orang yang berhutang akan menyerahkan
hartanya kepada pihak pegadaian entah itu berbentuk perorangan
maupun lembaga. Barang tersebut selanjutnya akan dijadikan jaminan
atas hutang yang ia miliki kepada pihak pegadaian. Jika hutang tersebut
telah dibayar lunas, maka pihak pegadaian wajib mengembalikan
barang jaminan, dan sebaliknya jika orang yang berhutang tidak mampu
memenuhi kewajibannya untuk membayar hutang, maka pihak
pegadaian berhak melelangnya untuk kemudian mengambil sejumlah
uang hasil lelang itu senilai hutang pemilik barang dan sisanya wajib
dikembalikan kepada yang punya barang.
Sebagai contoh, bila ada seseorang memiliki hutang kepada anda
sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Lalu dia memberikan suatu
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
5
barang yang nilainya sekitar Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu
rupiah) sebagai jaminan utangnya. Maka di dalam gambaran ini,
utangnya kelak dapat dilunasi dengan sebagian nilai barang yang
digadaikannya itu bila telah dijual atau dilelang oleh pihak pegadaian.
2. Hukum Gadai
Hukum asal gadai adalah mubah berdasarkan firman Allah SWT
dalam surah Al-Baqarah ayat 283:
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
6
ٱ ۡؤ ´´أِمن ´ب َُۡضُكم ´ب َّٗۡضا ´ف ۡلُي ِ'´ؤد ٱَّلِذ ة ´فِإ ۡنٞٞۖ ن َّم ۡقُبو ´ضٞ ´´ول ۡم ´تِجُدوْا ´كاِتّٗبا ´فِر ’´ه ´س ´ف ٖر ´´’على ´وِإن ُكنُتۡم
´’من´ت´ُه ´´ُتِمن أ
ٱَّلَّل ´ ´رَّبُه ´و ۡلي´َّتِق
Artinya : “dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan
seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang.
Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah
yang dipercayai itu menunaikan amanahnya (utangnya) dan hendaklah
dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya….” (Q.S. Al-Baqarah/2: 283)
Dan hadits Nabi SAW yang berbunyi:
´عْن ´عاِئ ´شة´ – رضى الله عنها – أ´َّن الَّنِبَّى – صلى الله عليه وسلم – اْش ت´ ´رى ´َط ´اًما ِمْن ي´ُهوِد
´و ´ر ´هن´ُه ِدْر ًعا ِمْن ´حِديٍد، ٍ'ى ِإل´ى أ´ ´جٍل
Artinya: Aisyah ra. berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam
pernah
membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau
menggadaikan kepadanya baju besi.
3. Rukun Gadai
a. Rukun gadai ada tiga, yaitu:
1) Shighat (ijab dan qabul).
2) Dua pihak yang berakad (al-‘muta’aqidani), yaitu penggadai (al-rahin)
dan yang penerima gadai (al- murtahin).
3) Objek akad (al-ma’qud ‘alaih) yang meliputi barang gadaian (al-
marhun) dan hutang (al-marhun bih).
Jika semua ketentuan di atas telah terpenuhi sesuai dengan
ketentuan syari’at dan dilakukan oleh orang yang layak melakukan
tasharruf al-mal (tindakan hukum atas harta), maka akad gadai tersebut
sah.
b. Syarat gadai:
1) Syarat yang berhubungan dengan al-muta’aqidani/dua orang yang
bertransaksi yaitu yaitu dewasa (al-bulugh), berakal sehat (al-aqil)
dan mengerti keuangan (al-rusyd)
2) Syarat yang berhubungan dengan barang gadai (al-marhun)
a) barang memiliki nilai (al-qimah) yag dapat digunakan untuk
membayar hutang pemiliknya jika ia tidak mapu memenuhi
kewajibnnya.
b) Benar-benar hak milik penggadai atau hak milik orang lain yang
dizinkan digunakan sebagai jaminan gadai.
c) Diketahui ukuran, jenis, sifatnya, dan harganya.
3) Syarat berhubungan dengan status hutang (al-marhun bih); al-
arhun bih adalah hutang yang wajib dibayarkan.
4. Ketentuan-ketentuan Umum dalam Akad Gadai (al-Rahn)
5. Barang yang Dapat Digadaikan.
Barang yang dapat digadaikan (al-marhun) yaitu barang yang
mempunyai nilai ekonomi (al-qimah) yang dapat diuangkan karena
statusnya dalam akad rahn adalah sebagai jaminan hutang. Selin itu,
arang tersebut juga harus memenuhi kriteria barang yang dapat
diperjaul belikan (al-mabi’) seperti suci dzatnya dan lain sebagainya.
6. Barang Gadai Adalah Amanah
Status barang gadai sebenarnya hanya sebagai wujud dari rasa
tanggung jawab pemilik hutang atau amanah yang ia tunjukkan agar
pemilik uang pecaya akan kesungguhannya dalam memenuhi kewajiban
pembayaran hutang. Oleh karena itu, statuskepemilikan barang gadai
tetap berada di tangan yang punya barang selagi tidak ada peristiwa
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
7
yang tidak diinginkan dalam hutang piutang seperti gagal bayar.
7. Barang Gadai Dipegang Pemberi utang
Pada hakekatnya, status barang gadai adalah sebagai jaminan atas
hutang, maka keberadaannya di dalam peristiwa hutang piutang harus
berada di tangan
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
8
pemberi hutang (al-murtahin). Hal ini berdasarkan firman Alah SWT:
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai)
sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada
barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)” (QS. Al-
Baqarah: 283)
8. Pemanfaatan Barang Gadai
Hak milik dan guna barang gadaian sepenuhnya adalah berada di
tangan pemilik barang. Oleh karena itu pemberi hutang/pegadaian tidak
diperbolehkan memanfaatan barang tersebut. Adapun kewenangan
pemberi hutang pegadaian hanyalah menahan barang tersebut sebagai
jaminan atas sejumlah uang yang dipinjam oleh penilik barang.
Namun ada satu kondisi dimana pemberi hutang diperbolehkan
untuk mengambil manfaat dari barang gadaian, yaitu ketika barang
gadaian itu berupa hewan yang dapat diperah air susunya. Dalam hal
ini, pemberi hutang boleh memerah air susu hewan tersebut jika ia
membutuhkan biaya untuk merawat hewan yang digadaikan tersebut.
Pengambilan manfaat dalam konteks ini harus disesuaikan dengan
besaran biaya perawatan barang gadaian itu dengan selalu
meperhatikan asas keadilan.
Mengenai hal ini, Nabi SAW bersabda:
ل´ب´ُن الُّد ِ'ر ُيْحل´ُب ِبن´ف´ق´ِتِه ِا ´ذا كا´ ´ن ´مرُهْونا´ ´وال 'ظْهُر ُيْر ´كُب ِبن´ف´ق´ِتِه ´ذ كا´ ´ن ´مْر ُهْونا´ ´و ´عل´ى
(اَّلِْذ ي´ْر ´كُب ´و ي´ْحِلُب الَّنف´ق´ُة )رواه أبوداود
Artinya : bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Punggung
hewan yang digadaikan boleh dinaiki dengan harus membayar, dan
susu hewan yang digadaikan boleh diminum dengan syarat membayar.
Bagi orang yang menaiki dan meminumnya wajib membayar." “(H.R.
Abu Dawud dari Abu Hurairah)
9. Biaya Perawatan Barang Gadai (al-marhun)
Apabila barang gadaian membutuhkan biaya perawatan seperti
hewan perahan dan hewan tunggangan maka ada beberapa
konsekuensi hukumnya:
a. Apabila biaya perawatan berasal dari pemilik barang, maka pemilik
uang atau pegadaian tidak boleh menggunakan barang gadai itu.
b. Apabila biaya perawatan berasal dari pemilik uang/pegadaian, maka
ia boleh menggunakan menggunakan barang gadaian itu sesuai
dengan biaya perawayat yang telah ia keluarkan dan tidak boleh
lebih.
10. Melunasi Hutang Dengan Barang Gadai (al-marhun)
Apabila hutang telah jatuh tempo, maka saat itu juga orang yang
berhutang wajib melunasinya sesuai dengan perjanjian yang telah
disepakati. Saat hutang telah lunas, maka barang gadaian (al-marhun)
harus dikembalikan kepada pemiliknya. Namun, apabila ia tidak mampu
melunasi hutangnya, maka pemberi hutang/pegadaian berhak untuk
menjual barang gadaian itu untuk melunasi hutang tersebut. Jika dari
hasil penjualan itu masih ada sisa, maka wajib dikembalikan kepada
pemilik barang.
11. Hikmah Akad Gadai (al-rahn)
1. Memudahkan pihak-pihak yang sedang mengalami kesulitan untuk
menyelesaikan persoalannya dengan cara aman
2. Melatih rasa saling percaya di tengah-tengah masyarakat
C. HIWALAH
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
9
1. Pengertian Hiwalah
Secara bahasa hiwalah bermakna berpindah atau berubah. Dalam
hal ini, perpindahan itu terjadi atas tanggungan atau hak dari satu orang
kepada orang yang lain. Dalam istilah para fukoha hiwalah adalah
pemindahan atau pengalihan penagihan hutang dari orang yang
berhutang kepada orang yang menanggung hutang tersebut.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
10
Batasan ini dapat digambarkan sebagai berikut. Misalnya A
meminjamkan sejumlah uang kepada B dan B sebelumnya telah
meminjamkan sejumlah uang kepada C. Untuk lebih menyederhanakan
persoalan, kita asumsikan bahwa hutang C pada B sama jumlahnya
dengan hutang B pada A. Ketika A menagih hutang kepada B, ia
mengatakan kepada A bahwa ia memiliki piutang yang sama pada C.
Oleh karena itu B memberitahu A dan ia dapat menagih hutang itu
kepada C dengan syarat telah kesepakatan hiwalah diantara ketiga
orang itu.
2. Rukun Hiwalah
Rukun hiwalah menurut madzhab Hanafi ada dua yaitu ijab yang
diucapkan Muhil dan qobul yang diucapkan Muhal dan Muhal alaih.
Adapun menurut mayoritas ulama’, rukun hiwalah ada enam, yaitu:
a. Muhil / orang yang memindahkan penagihan (orang yang berhutang).
b. Muhal ( orang yang mempunyai piutang).
c. Muhal ‘alaih (orang yang dipindahkan kepadanya/dilimpahi objek
penagihan).
d. Muhal bih (hak yang dipindahkan, yaitu hutang).
e. Piutang Muhil pada Muhal ‘alaih.
f. Shighat.
3. Syarat-Syarat Hiwalah
Syarat-syarat ini berkaitan erat dengan kondisi Muhil, Muhal, Muhal
‘Alaih
dan Muhal Bih.
a. Syarat-syarat Muhil :
1) Mampu untuk melakukanakad (kontrak). Hal ini hanya dapat
dimiliki jika ia berakal dan baligh. Hiwalah tidak sah dilakukan oleh
orang gila dan anak kecil karena tidak bisa atau belum dapat
dipandang sebagai subjek hukum.
2) Kerelaan Muhil. Ini disebabkan karena hiwalah mengandung
pengertian kepemilikan sehingga tidak sah jika ia dipaksakan. Di
samping itu persyaratan ini diwajibkan para fuqaha’ terutama
untuk meredam rasa kekecewaan atau ketersinggungan yang
mungkin dirasakan oleh Muhil ketika diadakan akad hiwalah.
b. Syarat-syarat Muhal.
1) Muhal harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan kontrak.
Ini sama dengan syarat yang harus dipenuhi oleh Muhil
2) Kerelaan dari Muhal karena tidak sah jika hal itu dipaksakan
3) Muhal bersedia menerima akad hiwalah.
c. Syarat-syarat Muhal ‘Alaih
1) berakal dan baligh
2) Kerelaan dari hatinya karena tidak boleh dipaksakan
3) Muhal alaihi menerima akad hiwalah dalammajlis atau di luar majlis.
d. Syarat-syarat Muhal Bih
1) Muhal bih harus berupa hutang yang merupakan tanggungan dari
Muhil
kepada Muhal
2) Hutang tersebut harus berbentuk hutang lazim artinya bahwa
hutang tersebut hanya bisa dihapuskan dengan pelunasan
atau penghapusan.
4. Jenis-jenis Hiwalah
a. Hiwalah Muthlaqah (Pengalihan Mutlak)
Maksudnya adalah pengalihan hutang yang dalam prakteknya tidak
ditegaskan sebagai ganti rugi dari pembayaran hutang pihak pertama
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
11
(muhil) kepada pihak kedua (muhal). Jika A berhutang kepada B dan A
mengalihkan hak penagihan B kepada C, sementara C tidak punya
hubungan hutang pituang kepada B, maka hiwalah ini disebut
muthlaqah.
b. Hiwalah Haq (pengalihan hak piutang)
adalah apabila objek yang dialihkan itu berupa hak untuk menuntut
pembayaran hutang. Dalam hal ini yang bertindak sebagai Muhil
adalah
pemberi utang dan ia mengalihkan haknya kepada pemberi hutang
yang lain
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
12
sedangkan orang yang berhutang tidak berubah atau berganti, yang
berganti adalah piutang. Terjadi jika piutang A mempunyai hutang
kepada piutang B.
c. Hiwalah Dayn
Adalah apabila objek yang dialihkan adalah kewajiban atau
tanggungan untuk membayar hutang
5. Kedudukan Hukum Hiwalah
a. Jika hiwalah telah disetujui oleh semua pihak, maka tanggungan muhil
menjadi gugur dan ia kini bebas dari penagihan utang.
b. Dengan ditandatanganinya akad hiwalah, maka hak penagihan
muhal telah dipindahkan kepada muhal alaih. Dengan demikian, ia
memiliki wilayah penagihan kepadanya.
6. Berakhirnya Akad Hiwalah
Akad hiwalah akan berakhir karena hal-hal berikut ini:
a. Karena akad telah dibatalkan sebelum hiwalah dilaksanakan. Pada
kondisi ini, hak penagihan muhal kembali lagi kepada muhil.
b. Hilangnya hak Muhal Alaih karena meninggal dunia atau
bangkrut atau iamengingkari adanya akad hiwalah sementara
Muhal tidak dapat menghadirkan bukti atau saksi.
c. Ketika kewajiban pembayaran hutang Muhal alaih kepada
muhal telah dilaksanakan
d. Karena meninggalnya muhal dan muhal ‘alaih mewarisi harta hiwalah
e. Ketika muhal menyedekahkan harta hiwalah kepada muhal ‘alaih
f. Ketika muhal menghibahkan harta hiwalah kepada muhal ‘alaih.
g. Ketika muhal menghapuskan kewajiban untuk membayar hutang
kepada muhal ‘alaih.
RANGKUMAN
1. Hutang piutang didalam fiqih disebut al-dain ( )ن´ َّلْدي´اHhutang piutang
menurut istilah adalah memberikan suatu benda kepada orang lain dengan
janji akan mengembalikan sesuai dengan yang semisalnya berdasarkan
akad (janji).
2. Hutang piutang adalah salah satu bentuk akad yang berkaitan erat dengan
waktu. Atas dasar itu, islam menganjurkan kepada umatnya bahwa jika
terjadi akad hutang piutang hendaklah dicatat siapa yang berhutang, siapa
nama pemberi hutang, jenis barang yang dihutang, serta tanggal terjadinya
hutang dan tanggal pengembaliannya.
3. Gadai berasal dari bahasa Arab adalah ( )الرهن. Menurut bahasa, gadai
artinya tangguhan. Sedang menurut istilah fikih, gadai adalah penyerahan
suatu benda kepada orang lain dengan maksud untuk mendapatkan
pinjaman uang.
4. Secara bahasa hiwalah bermakna berpindah atau berubah. Dalam hal ini,
perpindahan itu terjadi atas tanggungan atau hak dari satu orang kepada
orang yang lain.
5. Hutang-piutang, gadai, dan hiwalah adalah termasuk dalam mu’amalah
yang berada diluar jual beli.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
13
SEWA MENYEWA DAN UPAH
A. Pengertian Sewa Menyewa (Ijarah)
Sewa menyewa (al-ijarah) menurut bahasa berarti al-ajru, yaitu imbalan
atas suatu pekerjaan (al-jaza’ ‘ala al-‘amal) dan pahala (al-tsawab). Dalam
penjelasan yang lain, lafadz ijarah juga dapat dikatakan sebagai nama bagi
al-ujrah/upah/sewa. Selain itu, dikatakan bahwa al-ujrah juga berasal dari
al-‘iwadh yang artinya ganti. Defenisi lain tentang ijarah menjelaskanbahwa
ijarah mrupakan suatu balasan atau imbalan yang diberikan sebagai upah
sesuatu pekerjaan.
Sedangkan menurut istilah, para ulama memiliki pendapat yang
berbeda dalam mendefinisiannya:
Hanafiyah mengatakan bahwa bahwa ijarah adalah “Akad untuk
membolehkan pemilikan manfaat yang diketahui dan disengaja dari
suatu zat yang disewakan dengan imbalan.”
Menurut Syaikh Syihab Al-Din dan Syaikh Umairah bahwa yang
dimaksud dengan ijarah adalah “akad atas manfaat yang diketahui dan
disengaja untuk memberi dan membolehkan dengan imbalan yang
diketahui ketika itu.”
Menurut Muhammad Al-Syarbini al-Khatib bahwa yang dimaksut ijarah
adalah “pemilikan manfaat dengan adanya imbalan dan syarat-syarat.”
Menurut fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), ijarah adalah akad
pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam
waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah, tanpa diikuti
dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.
Dari beberapapendapat yang mengemukakan pengertian ijarah, dapat
diambil pengertian bahwa ijarah merurut istilah adalah hak untuk
memperoleh suatu manfaat, dengan uraian bahwa ijarah adalah akad
pengalihan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa.
1. Dasar Hukum Ijarah
a. Al-
Qur`an ْأ ْأ
ق´ال´ْت ِإْح ´داُه ´ما ي´ا أ´ب´ِت اْس ت´ ِجْر ُه ِإَّن ´خْي ´ر ´مِن اْس ت´ ´جْر
´ت اْلق´ُِّو اْْل ´ِميُن
Artinya : “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata wahai bapakku ambillah
ia sebagai orang yang bekerja dengan kita karena sesungguhnya
orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang
yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS. Al-Qashas:26)
´وِإْن أ´ ´رْدُتْم أ´ْن ت´ْس ت´ْر ِضَُوا أ´ْو ´َّل ´دُكْم ف´ ´ال ُجن´ا ´ح ´عل´ْيُكْم ِإ ´ذا ´سَّلْمُتْم ´ما آت´ْيُتْم ِباْل ´مَُْر وِف
´واَّتُقوا َّالَّل ´ ´واْعل´ُموا أ´َّن َّالَّل ´ ِب ´ما تَْ´ ´مُلو ´ن ب´ِصير
Artinya : “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa
bagimu apabila kamu memberikan pembayaran berdasaran
kepatutan. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Baqarah:233)
Kedua ayat di atas telah mendeskripsikan dua konteks dimana Si
majikan telah menyewa tenaga pekerjanya dengan bayaran berupa
upah tertentu. Dan, yang menjadi dalil dari ayat tersebut di atas adalah
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
14
ungkapan “apabila kamu memberikan pembayaran yang patut”.
Ungkapan tersebut menunjukkan adanya jasa yang diberikan berkat
kewajiban membayar upah (fee) secara patut.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
15
b. Al-Hadits
Hadits Nabi yang dapat dijadikan dasar hukum akad ijarah adalah:
أعطوا الَّجير أجره قبل أن يجف عرقه:عن ابن عنر قال رسول الله
Artinya : “Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bersabda Rasullah Saw. Berikanlah
upah (sewa) Buruh itu sebelum kering keringatnya”. (HR. Ibnu
Majah)
Dari Abi Said al-Hudry r.a. bahwa Rasullah Saw. Telah bersabda:
من استأجر اجيرا فليَلمه أجره
Artinya : “Barang siapa memperkerjakan pekerja hendaklah menjelaskan
upahnya”.
Diriwatkan Dari Ibnu Abbas Bahwa Rasullah Saw. Bersabda:
ان النبي صلى الله عليه و سلم احتجم و اعطى الحجام أجره
Artinya : “Bahwasanya Rasulullah berbekam kemudian meberikan upah
pada tukang bekam itu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Rukun Ijarah
Menurut ulama madzhab Hanafi, rukun ijarah hanya ada satu, yaitu
shighat (ijab dan qabul). Sedangkan jumhur ulama berpendapat, rukun
ijarah ada empat: dua orang yang berakat (al-aqidani), shighat (al-ijab wa al-
qabul), upah (ujrah) dan manfaat (objek sewa). Jumhur ulama
mengemukakan bahwa ijarah mempunyai 3 rukun umum dan 6 rukun
khusus:
a. Pertama adalah sighat (ucapan) yang terdiri dari tawaran (ijab) dan
penerimaan (qabul).
b. Kedua adalah pihak yang berakad (berkontrak) yang terdiri dari
pemberi sewa (lessor-pemilik aset), serta penyewa (lesee-pihak yang
mengambil manfaat dari penggunaan aset).
c. Ketiga adalah objek sewa yang terdiri dari manfaat dari penggunaan
asset dan pembayaran sewa (harga sewa).
3. Syarat Ijarah
a. Syarat in’iqad (wujud)
Untuk kedua orang yang berakad, menurut ulama Syafi’iyah dan
Hambali, disyaratkan telah baligh dan berakal. Tapi menurut
Hanafiyah, baligh tidak termasuk syarat wujud atau syarat berlaku,
karena tergantung izin dari walinya, oleh karena itu anak kecil boleh
menyewakan hartanya dengan syarat jika walinya mengizinkan.
b. Syarat nufuzd (berlaku)
Hanafiyah dan Malikiyah mengatakan bahwa kepemilikan,
kekuasaan atau kewenangan (al-wilayah) adalah syarat (nufuzd) bagi
kontrak agar dapat dilaksanakan. Menurut Hanafiyah dan Malikiyah,
akad ijarah fudhuli (mentasharufkan harta orang lain tanpa izin
pemilik) mauquf, tergantung pada pemiliknya. Jika persetujuan akad
fudhuli terjadi sebelum barang (manfaat barang) digunakan maka
akadnya sah dan pemilik barang berhak atas upahnya (harga sewa)
4. Syarat sah Ijarah
a. Kerelaan dari kedua pihak.
b. Objek akad yaitu manfaat yang disewa itu diketahui dengan jelas.
Hal ini mencakup beberapa point:
a) Penjelasan tempat manfaat yaitu mengetahui barang yang
disewakan. Barang yang disewakan harus dijelaskan. Jika
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
16
seseorang mengatakan: saya sewakan motor ini tanpa
menjelaskan motor yang mana, padahal saat itu ada banyak motor
di tempat tersebut, maka akad seperti ini tidak sah.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
17
b) Penjelasan waktu sewa, ini khusus untuk kadar sewanya yang
tidak jelas kecuali ditentukan dengan waktu, seperti menyewa
rumah, toko, apartemen, dan wanita untuk menyusui karena kalau
tidak dijelaskan batas waktunya bisa menimbulkan perselisihan
sehingga maksud dari akad tidak tercapai. Menurut jumhur
ulama’, penyewaan perbulan (ijarah musyaharah) dibolehkan, tapi
pada bulan pertama saja, untuk bulan selanjutnya akadnya tidak
mengikat. Dan menurut Syafi’iyyah, akad ijarah musyaharah tidak
sah. Hukum ijarah tanpa menjelaskan batasan waktu memang sah
karena tidak ada batasan yang diberikan syari’at dan ini adalah
pendapat mayoritas ulama, termasuk Syafi’iyyah dalam pendapat
yang shahih.
c) Penjelasan objek kerja (manfaat atau pekerjaan). objek kerja harus
dijelaskan agar tidak ada jahalah (ketidakjelasan), karena jahalah
(ketidakjelasan) bisa menimbulkan perselisihan yang merusak
akad. Oleh karena itu, harus ada penjelasanterkait jenis, tipe,
kadar dan sifatnya. Sebagai contoh adalah ketika menyewa orang
untuk menggali sumur, maka harus dijelaskan lokasinya,
kedalamannya, dan lebarnya.
5. Penggantian Barang Sewaan Ketika Rusak
Penyewa tidak wajib mengganti barang sewaan yang rusak kecuali
jika dia lalai dalam menjaga barang sewaan tersebut. Malikiyah dan
kedua murid besar imam Abu Hanifah, yaitu Abu yusuf dan al-Syaibani
punya pendapat yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa penyewa
tetap harus bertanggungjawab terhadap barang sewaan meskipun
rusaknya barang tersebut karena unsur ketidaksengajaan, kecuali jika
karena adanya bencana seperti kebakaran, atau tenggelam dan
sebagainya.
6. Berakhirnya Akad Ijarah
Adapun hal-hal yang yang bisa menyebabkan batal atau
berakhirnya akad Ijarah yaitu:
a. Salah satu pihak meninggal dunia. Ini merupakan pendapat ulama
mazhab Hanafi. Bagi mazhab ini, manfaat yang diperoleh dari Ijarah
adalah sesuatu yang terjadi secara bertahap dan ketika
meninggalnya salah satu pihak, manfaat tersebut tidak ada dan tidak
sedang dimilikinya. Maka mustahil untuk bisa diwariskan. Sedangkan
menurut Jumhur Ulama, akad Ijarah tidak batal dengan wafatnya
salah seorang yang berakad, karena menurut Jumhur Ulama’,
manfaat itu boleh diwariskan dan ijarah tetap mengikat kedua belah
pihak.
b. Terjadinya kerusakan pada barang sewaan, seperti: rumah terbakar
atau mobil hilang.
c. Tenggang waktu yang disepakati dalam akad Ijarah telah berakhir.
Apabila yang disewakan itu rumah, maka rumah itu dikembalikan
kepada pemiliknya dan apabila yang disewa itu jasa seseorang maka
ia berhak menerima upahnya.
d. Menurut jumhur ulama’, udzur yang dapat membatalkan akad Ijarah
hanyalah apabila objeknya mengandung cacat, atau ketika manfaat
yang dituju dalam akad itu hilang, seperti kebakaran atau banjir.
Sedangkan menurut Ulama’ Hanafiyah, apabila ada udzur yang
dialami salah satu pihak, seperti rumah yang disewakan ternyata
disita negara karena hutang yang jatuh tempo atau sengketa waris,
maka akad ijarah menjadi batal.
e. Berakhir dengan Iqalah, yaitu pembatalan akad atas dasar
kesepakatan antara kedua belah pihak. Hal ini karena ijarah
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
18
merupakan akad pertukaran harta dengan harta yang diambil
manfaatnya.
B. UPAH
1. Pengertian Upah.
Upah adalah pemberian suatu barang atau uang kepada seseorang
yang telah bekerja sebagai imbalan jasa pekerjaannya. Di dalam Islam,
upah disebut juga
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
19
ijarah (ganjaran).Sebagian ulama memperbolhkan seseorang mengambil
ijarah atau upah (termasuk gaji).
Perhatikan firman Allah berikut ini !
´وِإ ۡن أ´ ´ردُّتۡم أ´ن ت´ ۡست´ ۡرَُِض َٰٓوْا أ´ ۡو ’ل´ ´دُكۡم ف´ ´ال ُجن´ا ´ح ´عل´ ۡيُكۡم ِإ ´ذا ´سَّلۡمُتم َّمَٰٓا ´ءات´ ۡيُتم
ِبٱ ۡل ´م َُۡروف
Artinya : “ … dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain,
maka tidak ada dosa bagimu untuk memberikan pembayaran dengan
cara patut…” (Q.S. Al-Baqoroh/2:233)
Pada dasarnya, ayat di atas secara eksplisit berhubungan dengan
pengurusan anak. Meskipun demikian, akad ijarah juga dapat didekati
dengan pendekatan nilai- nilai yang diusung ayat tersebut, seperti
pembayaran (upah) yang patut, wajar dan layak.
Lazimnya, upah suatu jasa di pedesaan lebih murah dibanding
dengan perkotaan. Adanya perbedaan upah dipengaruhi oleh pola hidup
masyarakat setempat. Masyarakat desa dikenal sebagai masyarakat
paguyuban (yang lebih kuat gotong – royongnya). Sedangkan
masyarakat perkotaan lebih menonjol sikap patembayan, sehingga
cenderung pada sikap individualisme. Pola kehidupan masyarakat desa
yang kekeluargaan inilah yang membuat upah atau jasa lebih rendah,
sedangkan di perkotaan upah sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan
pendidikan.
2. Rukun Upah
a. Orang yang membutuhkan jasa (pemberi
upah).
b. Pekerja (orang yang berhak menerima upah). Ingat !
c. Jenis pekerjaan.
d. Adanya upah. Tidak memberikan upah
3. Syarat Upah kepada orang yang
a. Jelasnya pekerjaan yang harus dikerjakan.
b. Pekerjaan tidak melanggar syariat Islam. bekerja adalah
c. Jelasnya upah atau imbalan yang akan
diterima. perbuatan dzalim dan
4. Hukum Upah termasuk makan harta
Membangun akad ijarah hukumnya mubah.
orang lain dengan cara
Namun jika akad tersebut telah terjadi, maka
memberikan upah setelah pekerjaan selesai
batil.
hukunya wajib. Memberi upah tidak boleh
ditunda-tunda, lebih cepat lebih baik.
Perhatikan hadis berikut !
ُأ ْعُطوا ا لِْْجْي ´ر أْج ´رُه ق´ْب ´ل أ´ ْن ي´ِج ´ف
. ´ع ´ر ُقُه
Artinya : “Berikanlah upah kepada pekerja
sebelum keringatnya kering.” (H.R.
Ibnu Majah)
Bagi pekerja, melaksanakan pekerjaan yang telah diamanatkan oleh
orang yang mengupahnya hukumnya adalah wajib. Tidak hanya itu,
pekerjaan yang pada dasarnya adalah amanah tersebut juga harus
dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
5. Kewajiban Dan Hak Sebagai Pekerja
a. Hak pekerja terhadap pengupah adalah:
Mendapat upah (gaji) sesuai dengan perjanjian.
Mempunyai kepastian waktu kerja.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
20
Mendapatkan tempat kerja dan beban kerja sesuai dengan
perjanjian.
Menolak pekerjaan di luar perjanjian yang telah disepakati
sebelumnya.
Mendapatkan jaminan lain menurut perjanjian.
b. Hak pengupah atas pekerja adalah:
Meminta pertanggungjawaban kepada pekerja atas
pekerjaan yang diamanatkan kepadanya.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
21
Memberikan peringatan dengan wajar bila ternyata ia tidak
bekerja dengan baik.
Dalam kondisi tertentu, dapat menghentikan memutus hubungan
kerja.
6. Manfaat Upah
Upah yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain mempunyai
beberapa manfaat, baik bagi penerima upah dan pemberi upah. Adapun
manfaat tersebut adalah:
a. Manfaat bagi penerima upah
1). Sebagai penghasilan yang halal karena diberikan secara
ikhlas oleh seseorang,
2). Dapat digunakan untuk menutup kebutuhan hidup seseorang atau
sekurang- kurangnya sebagai tambahan penghasilan.
b. Manfaat bagi pemberi upah
1) Terlatih sikap mentalnya untuk dapat menghargai pihak lain,
2) Disenangi pihak lain dalam pergaulan karena kesediaannya
menghormati orang lain,
3) Terjalinnya hubungan batin antara dirinya dan yang diberi upah
sehingga mudah memperoleh bantuan orang lain pada saat
diperlukan.
7. Tata cara pelaksanaan pemberian upah
Transaksi upah dalam Islam hukumnya mubah (boleh). Bagi pengguna jasa
harus berperilaku yang baik dan santun kepada pekerja yang telah
berjasa kepadanya. Karena tanpa bantuan mereka, barangkali pekerjaan
tidak akan selesai. Untuk itulah kita harus menaati perintah Allah dan
rasul-nya, antara lain:
a. Tidak boleh mengurangi upah yang telah disepakati.
b. Ketika memberi upah hendaknya dengan sikap yang santun dan
mengucapkan terima kasih.
c. Tidak boleh memperlambat dalam pemberian upah, tetapi harus
sesegera mungkin.
Rangkuman :
Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau
jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah, tanpa
diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.
Dalam kondisi barang sewaan rusak, penyewa tidak wajib mengganti barang
sewaan yang rusak kecuali jika kerusakan itu karena adanya unsur kelalaian
dalam menjaga barang sewaan tersebut
Upah adalah pemberian suatu barang atau uang kepada seseorang yang
telah bekerja sebagai imbalan jasa pekerjaannya. Di dalam Islam, upah
disebut juga ijarah (ganjaran).Sebagian ulama memperbolhkan seseorang
mengambil ijarah atau upah (termasuk gaji).
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
22
PERAWATAN JENAZAH
A. PERAWATAN JENAZAH
Mengurus jenazah orang Islam menurut jumhur fuqaha’ adalah fardu
kifayah hukumnya, artinya jika kewajiban itu telah dikerjakan oleh sebagian
orang Islam, maka gugurlah kewajiban yang lain. Sebaliknya, jika tidak ada
satupun yan mengerjakannya, maka seluruhnya berdosa. Pada dasarnya,
pengurusan jenazah sebagaimana tersebut di atas meliputi empat hal, yaitu
memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan.
1. Memandikan Jenazah
Memandikan jenazah adalah membersihkan kotoran dan mensucikan
najis yang melekat di tubuh jenazah. Sebelum memandikan jenazah, ada
beberapa hal yang harus di perhatikan termasuk cara memandikan jenazah,
dan cara mengurus jenazah yang tidak mungkin dimandikan.
a. Ketentuan memandikan jenazah
1) Jenazah pria dimandikan oleh pria, demikian juga sebaliknya (kecuali
suami istri)
2) Petugas yang memandikan jenazah harus orang yang dapat dipercaya
dan mampu menyimpan rahasia ( lebih utama jika dimandikan oleh
keluarganya sendiri ).
Sabda Rasulullah saw.
ِلُيغ´ِ 'سْل ´مْوت´اُكُم الماْءُمْوُنْو ´ن ) رواه ابن
(ماجه
Artinya: Hendaknya memandikan jenazah diantara kamu orang –orang yang
terpercaya. ( H. R. Ibnu Majah: 1450).
3) Apabila jenazahnya laki-laki, sedangkan yang ada hanya orang
perempuan atau sebaliknya, jenazah cukup ditayamumi, tidak usah
dimandikan. Orang yang menayamumi hendaknya memakai kain
pelapis (kaos tangan).
4) Jenazah yang tidak mungkin dimandikan ( misalnya ada luka bakar)
cukup di tayamumi, tidak usah di mandikan.
5) Orang yang mati karena membela agama, jenazahnya tidak boleh
dimandikan, langsung dikubur.
b. Cara Memandikan Jenazah
Dalam memandikan jenazah, ada beberapa ketentuan yang harus
diperhatikan, yaitu:
1) Jenazah yang mengidap penyakit menular hendaknya ditaruh di atas
meja panjang yang agak tinggi. Hal itu dimaksudkan agar penyakit
yang ada pada jenazah itu tidak menular kepada orang yang masih
hidup. Air bekas pemandian jenazah sebaiknua diatur sehingga tidak
mengganggu lingkungan.
2) Pada kondisi dimana jenazah tidak mungkin dimandikan, misalnya
karena terbakar atau hancur, maka ditayamumi seperti tayamum
untuk shalat
Adapun tahapan atau langkah-langkah dalam memandikan
jenazah adalah sebagai berikut:
1) Menyediakan mutlak atau suci dan mensucikan secukupnya,
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
23
mempersiapkan perlengkapan mandi seperti sabun, kapur barus,
handuk dan wangi-wangian.
2) Tempat untuk memandikan jenazah, adalah tempat yang
terlindung dari pandangan orang banyak, dan yang berada pada
tempat pemandian itu hanyalah orang yang akan memandikan
serta sanak keluarga.
3) Jenazah dibaringkan ditempat yang lebih tinggi dan bersih,
diselimuti dengan kain agar tidak terlihat auratnya.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
24
4) Jenazah dipakaikan pakaian basahan seperti kain sarung atau kain
selimut agar tetap tertutup auratnya serta mudah untuk
memandikannya.
5) Orang yang memandikan sebaiknya mengenakan sarung tangan,
setelah itu mereka memulai membersihkan tubuh jenazah dari
semua kotoran dan najis yang mungkin melekat di tubuh jenazah,
termasuk kotoran kuku tangan dan kaki. Selanjutnya, untuk
mengeluarkan kotoran dari dalam tubuhnya dapat dilakukan
dengan menekan-nekan perutnya secara perlahan.
6) Disiram dengan air dingin atau air hangat jika dirasa perlu agar
mempercepat proses untuk menghilangkan kotoran yang melekat
di tubuh jenazah.
7) Selama proses pemandian jenazah, sebaiknya air terus dialirkan
mulai dari bagian kepala sampai bagian kaki. Cara menyiramnya
adalah dimuali dari tubuh sebelah kanan, kemudian tubuh sebelah
kiri, dianjutkan ke punggung sampai ujung dua kaki.
8) Setelah seluruh tubuh disiram air dengan merata, selanjutnya
tubuh jenazah digosok dengan pelan dan hati-hati menggunakan
sabun. Setelah itu disiram air lagi sampai bersih.
9) Jangan lupa rambut kepala dan sela-sela jari juga harus
dibersihkan sampai benar-bersih.
10) Proses pemerataan air keseluruh badan jenazah di atas, sedikitnya
tiga kali atau lima kali atau kalau perlu lebih dari itu.
11) Selanjutnya air untuk siraman terakhir dapat dicampur dengan
Siraman terakhir dengan wangi-wangian sperti kapur barus dan
sejenisnya.
12) Setelah seluruh tubuh jenazah telah bersih, yang terakhir adalah
mewudhukan jenazah dengan memenuhi rukun-rukun dan sunnah-
sunnahnya wudhu. Niatnya sebagai berikut:
نويت الوضء لهذا الميت فرض كفاية لله تَالى
13) Apa saja yang tercabut atau lepas diwaktu dimandikan, seperti
rambut dan sebagainya, hendaknya disimpan dan diletakkan di
dalam kafan bersama dengan mayat itu.
2. Mengkafani Jenazah
Mengkafani jenazah merupakan salah satu kewajiban yang harus
dipenuhi oleh orang Islam yang masih hidup. Dalam prosesi ini, jenazah
dibungkus dengan tatacara khusus dan ketentuan khusus. Ongkos
pembelian kain kafan diambil dari harta peninggalan jenazah. Namun jika
jenazah sama sekali tidak meninggalkan harta, maka ongkos pembelian
kain kafan menjadi tanggungan jawab orang yang menanggung nafkahnya
ketika jenazah masih hidup. Jika yang menanggung nafkahnya juga tidak
ada, maka pembelian kain kafan menjadi tanggungan jawab umat Islam
yang mampu.
Ada beberapa ketentuan yang perlu di ketahui sebelum mengkafani
jenazah.
a. Ketentuan Mengkafani Jenazah
Dalam mengkafani jenazah, Nabi SAW berpesan agar melaksanakan
pengkafanan tersebut dengan baik dan tidak boleh asal-asalan. Beliau
bersabda:
ِاذ ´ا ´كف´ ´ن ا´ ´حُدُكْم ف´ْلُيْحِس ُن ´كف´ن´ُه
Artinya:“Ketika salah seorang diantara kalian mengafani (jenazah) saudaranya
(sesama muslim),maka hendaknya melakukannya dengan baik” (HR.
Muslim)
1) Apabila jenazahnya laki-laki, disunahkan kain kafan berlapis tiga,
sedangkan jika jenazahnya perempuan, kain berlapis lima.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
25
عن عائسة رضي الله عنهما كفن رسول الله صلى الله عليه وسلم فى ثالثة اثوب بيض سحولية من
(كرسف ليس قميص ولَّعمامة )متفق عليه
Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah: “Rasulallah SAW dikafani dengan tiga lapis
kain putih bersih yang terbuat dari kapas, tidak ada dalamnya baju dan
tiada pula sorban” (Muttafaq ‘Alaih)
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
26
2) Kain kafan diusahakan berwarna
putih. Rasulullah saw. Bersabda:
´ض ف´ِاَّن ´ها ِمْن ´خْيِرِثي´اِبُكْم ´و ´كِف 'ُنْوا ِفْي ´ها ´مْوت اْلبُسْوا ِمْن ِثي´اِبُكُم ْالب´ي´ا
( ´اُكْم ) رواه احمد
Artinya: “Pakailah pakaianmu yang berwarna putih karena pakaian putih
adalah sebaik-baik (warna) pakaianmu. Kafanilah jenazah saudara
kalian dengan kain putih” (H.R. Ahmad : 21090)
3) Mengkafani jenazah janganlah berlebih-lebihan.
لَّتغلوا فى الكفن فإنه يسلب سريَا:عن على بن ابى طالب قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
()رواه ابو داود
Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib:”Berkata Rasulallah saw: janganlah kamu
berlebih-lebihan memilih kain yang mahal-mahal untuk kafan,
karena sesungguhnya kafan itu akan hancur dengan segera.” (H.R.
Abu Dawud)
4) Seluruh biaya pengurusan jenazah diambilkan dari harta peninggalan
jenazah. Apabila tidak meninggalkan harta, biaya di tanggung oleh
yang memeliharanya ketika ia masih hidup, apabila ia sebatang kara
maka biaya diambilkan dari baitul mal.
b. Cara Mengkafani Jenazah
1) Agar pemasangan kain kafan untuk jenazah tidak sulit dilakukan,
sebaiknya kain dipotong menjadi tiga potong ( jika jenazahnya laki-
laki) atau lima potong ( jika jenazahnya perempuan ).
2) Kain di rentangkan, jenazah diletakkan diatasnya,kemudian
dibalutkan pada sekujur badan jenazah.
3) Pada bagian-bagian tubuh yang berlubang hendaknya diberi kapas
secukupnya.
4) Sebelum dibalutkan kain, terlebih dahulu tubuh jenazah ditaburi
kapur barus atau semisalnya.
5) Memberikan wangi-wangian, kecuali jenazah orang yang sedang ihram.
6) Agar kain kafan tidak terlepas, hendaknya di tali secukupnya.
7) Usahakan menggunakan kain kafan yang cukup lebar.
8) Setelah proses pengkafanan jenazah selesai, sebaiknya jenazah
diletakkan di atas meja panjang.
3. Menshalatkan Jenazah
Shalat jenazah adalah salat yang dikejakan sebanyak 4 kali takbir
dalam rangka mendoakan orang muslim yang sudah meninggal. Jenazah
yang dishalatkan adalah jenazah yang telah dimandikan dan dikafankan.
Hukum melaksanakan salat jenazah adalah fardhu kifayah (kewajiban yang
ditujukan kepada orang banyak, tetapi apabila sebagian dari mereka telah
mengerjakannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain). Namun, jika
tidak ada seorang pun yang mengerjakan kewajiban itu, maka berdosalah
semua.
Menshalatkan jenazah non muslim hukumnya haram. Namun
memandikan, mengkafani dan menguburkannya hukumnya wajib selama
tidak ada yang mengurusnya. Allah swt berfirman:
´وَّل ´ ُت ´ص ِ'ل ´عل´ى أ´ ´حٍد ِمْنُهْم ´ما ´ت أ´ب´ًدا ´وَّل´ ت´ُقْم ´عل´ى ق´ْبِرِه ِإَّنُهْم ´كف´ُر وا ِباَّلَِّل ´و ´رُسوِلِه
´و ´ماُتوا ´وُهْم ف´اِسُقو ´ن
Artinya: Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang
yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan
janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya
mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
27
fasik.(QS. At-Taubah: 84
a. Jenazah Yang Dishalatkan
Jenazah yang dishalatkan ialah jenazah muslim yang meninggal bukan
karena perang fi sabilillah
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
28
b. Syarat dan rukun Shalat Jenazah
Syarat-syarat shalat jenazah seperti shalat yang lain, kecuali
waktunya.
Syarat-syarat shalat jenazah antara lain:
1) Badan, pakaian, dan tempat shalat harus bersih dari najis.
2) Bersih dari hadats (besar dan kecil
3) Menutup aurat.
4) Menghadap kiblat.
Adapun rukun shalat jenazah, antara lain;
1) Niat
2) Berdiri bagi yang mampu.
3) Membaca takbir sebanyak empat kali.
4) Membaca suratal- Fatihah.
5) Membaca sholawat Nabi
6) Mendoakan jenazah
Sedangkan sunah shalat jenazah adalah:
1) Mengangkat tangan (raf’ul yadaini) pada tiap-tiap takbiratul ihram
2) Merendahkan suara bacaan (sirri).
3) Membaca ta’awudz.
4) Disunakan banyak pengikutnya.
5) Memperbanyak shaf
c. Cara melaksanakan shalat jenazah
Dalam melaksanakan shalat jenazah ada beberapa hal yang harus
dilakukan, yaitu:
1) Apabila jenazahnya laki-laki, imam berdiri di dekat kepalanya,
sedangkan jika jenazahnya perempuan, imam berdiri didekat
pinggangnya. Makmum merapatkan posisinya dg mendekat kepada
imam karena dalam shalat jenazah tidak ada rukuk dan sujud.
2) Niat mengerjakan shalat jenazah dengan empat takbir.
3) Takbiratul ihram( takbir yang pertama ).
4) Membaca Al- Fatihah. Karena imam tidak membaca dengan suara
nyaring, semua jamaah membaca sendiri-sendiri.
5) Takbir kedua dengan mengangkat tangan.
6) Membaca shalawat atas Nabi
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
Artinya: "Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad SAW. dan
keluarganya"
7) Takbir ketiga, dilanjutkan dengan membaca doa untuk
jenazah. Jika jenazahnya laki-laki doanya ialah:
ا´َّللُهَّم اْغِفْر ل´ُه ´واْر ´حْمُه ´و ´عاِفِه
´واْعُف ´عْنُه
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmat untuknya, dan
sejahterakanlah dan maafkanlah ia”
Jika jenazahnya perempuan doanya ialah:
ا´َّللُهَّم اْغِفْر ل ´ها´ ´واْر ح ´مْها´ ´و ´عاِف ´ها
´واْعُف ´عْن ´ها
8) Takbir keempat, kemudian dilanjutkan dengan
membaca doa Jika jenazahnya laki-laki doanya ialah:
ا´َّللُهَّم ´َّل ت´ْحِرْمن´ا ا´ْج ´رُه ´و ´َّل ت´ْفِتَّنا ب´َْ ´دُه
´واْغِفْر ل´ن´ا ´ول´ُه
Artinya: “Ya Allah, janganlah engkau menghalangi kami tentang pahalanya,
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
29
dan
janganlah Engkau fitnah kami setelah kepergiannya, ampunilah kami
dan dia.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
30
9) Diakhiri dengan salam.
4. Mengubur Jenazah
a. Cara mengubur jenazah
Setelah jenazah dimandikan, dikafani dan dishalatkan, maka
kewajiban berikutnya adalah menguburkannya. Untuk membawa jenazah
ke pemakaman, ada etika yang telah diajarkan oleh Islam, yaitu:
1) Sebelum jenazah diberangkatkan ke tanah pekuburan, hendaknya
terlebih dimintakan persaksian kepada masyarakat akan kebaikan
orang yang telah meninggal dunia. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi
berikut ini:
اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساويهم
Artinya : “Sebutlah kebaikan seorang yang meninggal dunia dan hindari
membuka aibnya”
ف´ ´مَّر ْت ِبِهْم، ف´ ´جل´ْسُت ِإل´ى ُع ´م ´ر بِن ُأال ´خَّطاُأِب،´ ق´ِدْمُت المِدين´ة:وعن أ´بي اُأْل ´ْس ´وِد ق´ا ´ل
ف´ ْثِن ´ي ´عل´ى، ُثَّم ُمَّر ب ْخرى، ´و ´جب´ْت: ف´ق´ا ´ل ُع ´مُر، ف ْثِن ´ي ´عل´ى ´صاِحِبها ´خْيًر ا، جن´ازة
ف´ق´ال ُع، ف´ُأْثِن ´ي ´عل´ى ´صاِحِب ´ها ´شًّر ا، ُثَّم ُمَّر ِبالَّثاِلث´ِة، ´و ´جب´ْت: ف´ق´ا ´ل ُع ´مُر،´صاِحِبها ´خيًر ا
ُقلُت كما ق´ا: ´و ´ما ´و ´جب´ْت ي´ا أمي ´ر الُمؤِمني ´ن؟ ق´ا ´ل: ف´ُقْلُت: ق´ا ´ل أ´ُبو اْل ´ْس وِد، ´و ´جب´ْت: ´مُر
وث´الث´ة ؟ ق´ا ´ل: ف´ُقلن´ا،´أ´ُّي ´ما ُمْس ِلٍم ´شِه ´د لُه أ´ربَة ِب ´خيٍر أ´ْد ´خل´ُه َّالَُّل الجَّنة: ´ل الَّنبُّي ﷺ
رواه البخار. ُثَّم لم ن´ْس أ´ْلُه ´عن الواِحِد، واثناِن: واثناِن ؟ قال: فقلنا، وث´الث´ة:
Artinya : “Diceritakan dari Abu Aswad, dia berkata: Aku masuk kota
Madinah, kemudian aku ikut majelisnya Umar bin Khathab.
Tidak lama kemudian, lewat di depan kami iring-iringan
jenazah. Kemudian, jenazah itu dipuji kebaikannya oleh
pengiringnya. Kemudian Umar berkata: “pasti”. Abu Aswad
bingung dan bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, apa yang
pasti?” Umar menjawab: “Aku berkata sebagaimana Rasulullah
bersabda: Setiap muslim yang bersaksi empat kali akan kebaikan
jenazah, maka Allah akan memasukan jenazah itu kesurga.”
Kemudian orang-orang yang menghadiri majelis itu
bertanya, “Jika yang bersaksi tiga orang bagaimana?” Umar
menjawab: “Walaupun dua orang akan seperti itu.”
Kemudian mereka bertanya lagi: “Jika hanya dua orang yang
memberikan persaksian?” Umar menjawab: “Walaupun dua
orang juga seperti itu.” Selanjutnya tidak ada yang
melanjutkan pertanyaannya lagi: (HR. Bukhari)
2) Pengiring jenazah yang berjalan kaki hendaknya berada di sekitar
jenazah dan orang yang berkendaraan posisinya di belakang jenazah.
3) Pengiring jenazah dianjurkan diam dan khusu’ tidak membicarakan
keduniaan dan hendaklah lebih banyak mengingat akan mati.
4) Menguburkan jenazah hendaknya dilaksanakan dengan segera.
5) Keranda dipikul oleh empat orang di empat penjuru, boleh bergantian
dengan beberapa orang di antara jama’ah. Nabi SAW bersabda:
´عِن اْبِن ´مْس َُوٍد قال ´مِن اَّتب´ ´ع ´جن´ا ´زًة ف´اْلي´ْحِمْل ِب ´ج ´واِنِب ال ِ'سرْير ُكِل ' ´ها ف´ِاَّنُه ِم ´ن الُّس َّنِة
( )رواه ابن ماجه
Artinya : "Dari Ibnu Mas'ud ra, ia berkata : Siapa saja
mengantarkan jenazah
maka hendaklah memikul pada keempat penjuru keranda,
karena sesungguhnya yang seperti itu merupakan sunah
dari Nabi saw." (HR. Ibnu Majah).
6) Ketika akan memasuki tanah pekuburan, ucapkanlah salam:
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
31
´غدًا ُم ´ؤَّجُلو ´ن ´وإَّنا إْن شا الَّس الُم ´عل´ْيُكْم ´دا ´ر ق´ْوٍم ُمْؤِمني ´ن ´وأتاُكْم ما ُتو ´عُدو ´ن
´ء َّالَُّل ِبُكْم لَّحُقو ´ن
Artinya : “Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam orang mukmin. Telah
datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami
insyaallah akan menyusul kalian”
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
32
b. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menguburkan jenazah ialah:
1) Jenazah dikubur dalam lubang dengan kedalaman yang ukurannya
setinggi orang dewasa berdiri dengan tangan melambai ke atas dan
lebar seukuran satu dzira’ lebih satu jengkal.
2) Dua atau tiga orang mengambil jenazah, untuk diberikan kepada
orang yang sudah siap di dalam kubur.
3) Jenazah diturunkan dan diletakkan ke liang lahat sambil membaca doa:
´صَّلى ُالله ´عل´ْيِه ِبْسِم ِالله ´و ´عل´ى ِمَّلِة ´رُس وِل َّالَِّل
´و ´سَّل ´م
“Bismillahi wa ‘ala millati Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wasallam”
4) Jenazah wajib dimiringkan di atas lambung kanan, tepat di liang lahat
menghadap kiblat.
5) Wajah dan ujung kaki jenazah dikenakan tanah, untuk itu kain kafan
yang menutup muka dan kakinya agar sedikit dibuka, kemudian
semua talinya dilepas agar dapat menyentuh tanah.
6) Kemudian liang lahat itu ditutup dengan kayu dan sejenisnya.
7) Selanjutnya liang kubur ditimbun dengan tanah.
c. Beberapa hal yang di sunahkan, berkenaan dengan penguburan jenazah
1) Pada saat menurunkan jenazah dan memasukkannya ke liang lahat,
hendaknya membaca:
ِبْس ِم ِالله ِو َعلَى ِم َّلِة َر ُس ْوِل ِالله
Artinya: “Dengan nama Allah dan atas dasar agama Rasulullah”
2) Penimbunan lubang hendaknya agak ditinggikan beberapa centimeter
dari permukaan tanah yang lain supaya lebih nampak sebagai
makam, setelah itu menandainya dengan batu nisan pada bagian
kepala.
3) Menaburkan kerikil atau batu-batu kecil diatas
makam. Sabda Rasulullah saw :
´عْاْن ´جَْف ´ِر ْبِن ُم ´حَّمٍد ´عْن ا´ِبْيِه ا´َّن ال´نِبَّيصل'ى الله عليهوسلم ´و ´ض ´ع ´حْصب´ا ´ء ´عل´ى ق´ْبِر
بِنِه ِاْب ´راِهْي ´م
Artinya: “Dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya: Sesungguhnya Nabi saw
telah menaruh batu-batu kecil (kerikil) diatas kubur putra beliau Ibrahim”
4) Menyirami makam dengan air yang dicampur harum-haruman.
5) Pada saat menguburkan, disunahkan membentangkan kain diatasnya.
6) Setelah selesai pemakaman, disunahkan melaksanakan
pentalqinan dan memohonkan ampunan untu jenazah.
d. Beberapa larangan yang perlu diperhatikan
1) Menembok kubur ( berlebihan )
2) Duduk atau bermain diatas kubur.
3) Membuat rumah di atas
kubur. Sabda Nabi saw:
´ص ْالق´ْبُر ´وا´ْن ُيَْق´ ´د ´عل´ْيِه ´وا´ْن ُيْبن´ى ´عل ´عْن ´جا ِبٍر ن´ ´هى النُبي صل'ى الله عليه وسل'م ا´ْن ُي ´جَّص
´ْيِه )رواه
(احمد و مسلم
Artinya: "Dari Jabir ra. Rasulullah saw telah melarang menembok kubur dan
duduk-duduk diatasnya dan membuat rumah di atas kubur.” ( H.R.
Ahmad dan Muslim )
4) Menjadikan kuburan sebagai masjid.
5) Membongkar kubur kecuali jika ada kesalahan pada waktu
menguburkan atauada benda sangat berharga yang jatuh terpendam,
atau kuburan itu sudah lama dan jasadnya sudah hancur sedangkan
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
33
makam tersebut akan digunakan untuk kepentingan umum.
B. TA’ZIAH DAN ZIARAH KUBUR
1. TA’ZIAH
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
34
Ta’ziah adalah kunjungan (ucapan) untuk menyatakan turut berduka
cita atau bela sungkawa. Untuk mengetahui pengertian hukum, dan
perkara-perkara yang dilakukan saat ta'ziah secara rinci ikuti pembahasan
berikut ini :
a. Pengertian ta'ziah
Kata ta'ziyah berasal dari bahasa '´َِيز-ُ ´َّعز ًية´ َِْتز-´ ,yang berarti
memuliakan.
Selanjutnya lafadz ta’ziyah dipergunakan sebagai sebutan atas kunjungan
seseorang kepada keluarga yang ditimpa musibah kematian salah satu
anggota keluarganya. Kata ta’ziyah juga berarti menghibur, yakni
menghibur hati keluarga yang ditinggal mati salah satu anggotanya.
Menurut istilah, al-Nawawi di dalam kitabnya adzkar
menjelaskan sebagai berikut:
ويه 'ون مصيبته، ويخف'ف حزنه، وذكر ما يسل'ي صاحب الميت،أن التَز ية هي التصبير
Artinya : "Takziah adalah al-tashabbur atau mengajak sabar, menyampaikan
hal-
hal yang dapat menghibur (tashliyyah) keluarga orang meninggal
dunia, meringankan kesedihannya, dan membantu
memudahkan urusan-urusan terkait musibahnya.”
b. Hukum Ta’ziyah
Ta’ziyah adalah hukumnya sunah, keterangan serupa juga
disampaikan oleh al-Nawawi:
وهي داخلة أيضًا في، والنهي عن المنكر، فإنها مشتملة على الْمر بالمَر وف،وهي مستحبة
( ) ´وت´َاوُنوا على الِب 'ر والَّتْق ´وى:قول الله تَالى
Artinya: “Hukum takziah adalah sunnah, karena sebenarnya di dalam
ta’ziyah ada
unsur amar ma’ruf nahi munkar. Ia juga termasuk ta’awun (tolong-
menolong) sebagaimana diamanatkan Allah SWT di dalam ayat
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan
pelanggaran.”
Selain itu, terkait kesunahan ta’ziyah, Nabi SAW telah bersabda:
´ما ِمْن ُمْؤِمٍن َُي´ ِ'زى ا´ ´خُاه ِبُمِصْيب´ٍة ِاََّّل ´ك ´ساُه الله ُس ْب ´حا´نُه ِمْن ُحل´ِل ْال ´ك ´را ´مِة ي´ْو ´م ْالِقي´ا ´مِة
( ) رواه ابن ماجه
Artinya: “Tiadalah seorang mukmin yang bertakziyah kepada saudaranya ditimpa
musibah (kematian salah satu anggota kelauarganya) ,kecuali akan diberi
pakaian kemulyaan oleh Allah Yang Maha suci pada hari kiamat ( H.R Ibnu
Majah)
c. Adab Ta’ziyah
1) Orang yang berta’ziah hendaklah membawakan makanan atau
sesuatu yang dibutuhkan oleh keluarga almarhum, sebab mereka
tidak sempat lagi memikirkan makan dan lain-lain karena mereka
sibuk dengan musibah yang menimpanya. Mengenai hal ini, Nabi SAW
pernah memerintahkan hal serupa kepada para sahabatnya saat
meninggalnya Ja’far. Beliau bersabda:
) ´´´شغلُهْم ´أْمر اْص ´نَُوا ِلِِل ´َْج ´فٍر ´َط´اًما ´فِإَّنُه ´قْد أ ´´تاُهْم
(رواه أبو داود
Artinya : “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena telah datang
musibah yang menyibukkan mereka” (HR Abu Dawud)
2) Hendaknya menunjukkan rasa prihatin yang mendalam dan
menyatakan ikut berduka cita serta berusaha menghibur kelaurga
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
35
yang ditinggal agar jangan sampai terlalu larut dalam kesedihan.
Menangis adalah wajar, namun hati tidak boleh lemah bahkan sampai
berputus asa. Nabi SAW menangis saat putranya Ibrahim meninggal
dunia, namun ssat itu beliau juga berkata:
اَْل ´ْي ´ن ت´ْد ´مُع ´واْلق´ْل ´ب ي´ْح ´زُن ´ول´ِكْن ´َّل ن´ُقوُل ِإََّّل ´ما ي´ْر ´ضى ´رُّبن´ا ´وِإَّنا ِبِف ´راِق ´ك ي´ا ِإَّن
(´راِهيُم ل´ ´مْحُز وُنو ´ن )رواه البخار ومسلم ِإْب
Artinya : “Air mata mengalir dan hati menjadi sedih, akan tetapi kita tidak
mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Allah SWT. Dan kami
sungguh sedih berpisah denganmu, wahai Ibrahim. (HR. Bukhari
dan Muslim)”
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
36
3) Tidak mencela orang yang meninggal dunia.
´َّل ت´ُس ُّبوا اْْل ´ْم ´وا ´ت ف´ِإَّنُهْم ق´ْد أ´ْف ´ضْوا ِإل´ى ´ما ق
( ´َّدُموا )رواه البخار
Artinya : “Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah meninggal, karena
sesungguhnya mereka mendapatkan ganjaran dari apa yang telah
mereka kerjakan” ( HR. Bukhari)
4) Menyampaikan nasehat kepada keluarga yang ditimpa musibah, agar
terus bersabar dan bertawakal menerima qadha dan qadar Allah SWT
dan mengingatkan bahwa setiap orang termasuk yang masih hidup
juga pasti mati, hanya masalah waktu saja.
5) Mendoakan almarhum, agar mendapatkan ampunan dari Allah dan
memaafkannya jika ada kesalahan yang pernah dibuat semasa
hidupnya.
6) Ikut menyalatkan jenazah dan mengantar jenazah sampai ke
pemakaman. Berdasarkan hadits Nabi SAW berikut ini:
´حَّتى ُتو ´ض ´ع ِفي اْلق´ْبِر ف´ِق ´´´بَها ´´ومْن اَّت ´ازٍة ´فل´ُه ِق ´يرا ط ´´جن ´مْن ´صَّلى ´عل´ى
أ´ب´ا ُقْلُت ي´ا ´´قال ´´يراطاِن
´راُط ق´ا ´ما اْلِقي ُه ´رْي ´رة´ ´و
ُأ
´ل ِمْثُل ُحٍد
Artinya : “Barang siapa mensholatkan jenazah, maka pahala
baginya adalah
dua qirath, dan barang siapa yang melanjutkannya dengan
ikut mengantarkan jenazah kepemakanan, maka baginya
pahala dua qirath. Wahai Abu Hurairah, apakah qirath itu?
Qirath itu menyerupai gunung uhud” (HR. Muslim)
d. Hikmah ta’ziah
1) Menguatkan semangat ukhuwah Islamiyah (solidaritas keislaman) dan
ukhuwah basyariah (solidaritas sosial) di tengah-tengah masyarakat;
2) Keluarga yang terkena musibah (shahibul mushibah) terhibur
sehingga dapat mengurangi beban kesedihan yang dialaminya;
3) Orang yang berta’ziyah (al-mu’azzi) mendoakan jenazah agar
diampuni dosa- dosanya dan diterima amalnya;
4) Orang yang berta’ziyah (al-mu’azzi) mendapat pahala yang besar
dari Allah SWT.
2. Ziarah Kubur
Salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW kepada kita umatnya adalah
ziarah kubur. Untuk memahami lebih lanjut terkait pengertian, hukum,
tujuan dan adab ziarah kubur, ikuti pembahasan berikut ini:
a. Pengertian dan Hukum Ziarah Kubur
Kata ziarah berasal dari bahasa يزور زيار-زار
yang berarti
Arab ة -
mendatangi atau mengunjungi. Dengan demikian ziarah kubur berarti
mengunjungi kubur seseorang. Hukum melakukan ziarah kubur adalah
sunah, berdasarkan hadits Nabi berikut :
Artinya: “Dahulu aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur. Sekarang
berziarahlah kalian karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian akan
akhirat (H.R. Ahmad, Muslim, Ashabus-Sunan dari Abdullah bin Buraidah
dari ayahnya)
Pada awal pertumbuhan Islam, Rasulullah SAW melarang kaum
muslimin untuk berziarah kubur. Hal itu disebabkan karena adanya
kekhawatiran beliau terhadap kaum muslimin saat [Link] minta
tolong orang yang telah mati tentang suatu hajad. Setelah mengetahui
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
37
bahwa kaum muslim sudah cukup kuat, barulah Rasulullah
menganjurkan agar kaum muslimin berziarah kubur.
b. Tujuan Ziarah Kubur
Tujuan ziarah kubur adalah untuk mengingatkan manusia akan
kematian. Ingat mati (dzikr al-maut) dapat membawa manfaat
apabila diikuti dengan
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
38
perubahan sikap hidup yakni senantiasa berusaha meningkatkan amal
baik dan dan berhati-hati untuk tidak pada larangan Allah SWT demi
kebahagiaan hidup di akhirat kelak.
c. Adab Ziarah Kubur
1) Menghadirkan hati (hudhur al-qalb) dan berniat mencari ridha Allah SWT
2) Memberikan kemanfaatan kepada mayit yang diziarahi dengan
membacakan di dekatnya Al-Qur’an dan doa-doa.
3) Tidak duduk di atas kuburan
4) Ketika telah masuk ke area kuburan, mengucapkan salam “Assalamu
alaika dara qaumin mu’minin, wa inna insya Allahu bikum lahiqun (semoga
kesalamatan tertuju pada engkau wahai rumah perkumpulan orang-
orang mukmin, sesungguhnya jika Allah menghendaki, kami akan
menyusul kalian.
5) Ketika sampai di kuburan (al-maqbarah) mayit yang dikenal,
mengucapkan salam kepadanya dan mendatanginya dari arah wajah
mayit, karena menziarahi kuburannya sama ketika berbicara
dengannya ketika hidup
6) Merenungkan keadaan ahli kubur atau orang yang diziarahi, dan
mengambil pelajaran (al-‘ibarah) bahwa suatu saat pasti tiba giliran
kita untuk menjadi seperti mereka.
3. Hikmah Ta’ziah dan Ziarah Kubur
a. Hikmah ta’ziah
1) Meringankan beban yang diderita oleh keluarga almarhum,
baik yang berbentuk materi maupun non materi.
2) Menyadarkan kepada setiap orang bahwa segala yang didunia ini
milik Allah, tidak kekal, dan suatu saat pasti akan kembali kepada-
Nya.
3) Menguatkan semangat ukhuwah Islamiyah (solidaritas keislaman) dan
ukhuwah basyariah (solidaritas sosial) di tengah-tengah masyarakat;
4) Menghibur keluarga yang terkena musibah (shahibul mushibah)
hingga mengurangi beban kesedihan yang dialaminya;
5) Mendoakan jenazah agar diampuni dosa-dosanya dan diterima
amalnya;
6) Orang yang berta’ziyah (al-mu’azzi) mendapat pahala yang besar
dari Allah SWT.
b. Hikmah Ziarah kubur
1) Mengingatkan akan kepastian datangnya kematian.
2) Menyadarkan bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara dan
kehidupan akhiratlah yang kekal.
3) Menunjukkan bahwa manusia itu lemah dan tidak berdaya di
hadapan kekuasan Allah SWT
4) Menambah ghirah (semangat) untuk lebih giat beribadah kepada Allah
SWT.
RANGKUMAN
1. Kewajiban seorang muslim terhadap muslim lain yang meninggal dunia ada
empat, yaitu memandikan, mengkafani, menshalati, dan memakamkan.
2. Hukum mengurus jenazah (tahjiz al-jana’iz) adalah fardhu kifayah.
3. Pada saat memandikan jenazah, harus tetap menjaga aurat jenazah tertutup.
4. Mengkafani jenazah dilakukan setelah selesai dimandikan, dan disunahkan
menggunakan kafan berwarna putih. Kain kafan untuk laki-laki tiga lapis, untuk
perempuan lima lapis.
5. Setelah dishalatkan, selanjutnya jenazah dibawa ke makam untuk dimakamkan.
6. Pada saat menguburkan, wajah jenazah dihadapkan kiblat. Diusahakan
wajah jenazah mengenai tanah dengan cara membuka ikatan kain kafannya.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
39
7. Ta’ziyah menurut bahasa berarti menghibur, maksudnya adalah
mengunjungi keluarga yang tertimpa musibah agar terhibur dan mengurangi
beban pikirannya.
8. Ziarah kubur ialah mengunjungi suatu makam dengan maksud mendoakan
sekaligus mengingatkan orang berziarah akan kehidupan akhirat. Hukumnya
adalah sunah
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
40
MAWARIS
A. KETENTUAN HARTA SI MAYAT
1. Pengertian dan Hukum Waris
a. Pengertian ilmu waris
Ilmu waris adalah ilmu yang membahas tentang tata cara
pembagian harta warisan yang telah ditentukan dalam al-Qur’an atau
al-Hadis. Ilmu waris disebut juga ilmu fara’id, artinya ilmu yang
membahas bagian-bagian tertentu dalam pembagian harta pusaka.
Guna memudahkan pemahaman dalam mempelajari ilmu waris
ini terlebih dahulu kita perlu mengenal istilah-istilah yang sering
digunakan dalam kajian ilmu ini:
1) Muwarits adalah orang yang meninggal dunia atau orang yang
meninggalkan harta.
2) Warits adalah orang yang berhak menerima harta peninggalan.
3) Mauruts adalah harta peninggalan muwaris yang akan dibagikan
kepada ahli waris.
Ilmu waris penting dipelajari berdasarkan pada hadits
Rasulullah yang berbunyi:
تَ´´ل'ُمْوا: ´وُه ´و الف´راِئ ´ض ´و ´عَّلُمْوا ´ها ال'ن´ا ´س قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ْا َْل
ف´ِاَّنُه ِنْصُف ِل ِم
( ا´ق´ُّل ´شْيٍئ ُيْنِزُع ِمْن ُاَّمِتى)رواه ابن ماجه و دار قطنى ُيْنِس ى ´وُه ´و
Artinya: “Bersabda Rasulullah saw. Pelajarilah ilmu faraidl dan ajarkanlah
ia kepada manusia karena sesungguhnya ilmu faraidl itu separuh ilmu,
ia akan di lupakan orang dan ia pula yang mula-mula akan di cabut
dari umatku. (H. R. Ibnu Majah Dan Daruqutni)
Tujuan diturunkan ilmu Faraidl adalah agar pembagian
warisan dilakukan secara adil,tidak ada ahli waris yang merasa
dirugikan sehingga tidak akan terjadi perselisihan atau
perpecahan diantara ahli waris karena pembagian warisan.
Islam mengajarkan bahwa anak-anak yatim termasuk ahli
waris yang berhak memperoleh bagian dari harta peninggalan
orang [Link] bagian yang menjadi hak anak yatim
termasuk perbuatan [Link] diancam dengan siksa.
Allah berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 10.
ْأ ْأ
ِإَّن اَّلِذي ´ن ي´ ُكُلو ´ن أ´ْم ´وا ´ل اْلي´ت´ا ´مى ُظْلًما ِإَّن ´ما ي´ ُكُلو ´ن ِفي ُبُطوِنِهْم ن´اًر ا ´و ´سي´ْصل´ْو
´ن ´سَِيًر ا
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim
dengan zalim,sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya
dan mereka akan masuk kedalam api yang menyala- nyala” (Q. S.
An Nisa’: 10)
b. Hukum Waris
Ayat yang menjadi dasar hukum ilmu waris ialah:
1) Surat An Nisa’ ayat 7
ن´ِصي ب ِمَّما ت´ ´ر ´ك اْل ´واِل ´داِن ´والْْق ´رُبو ´ن ´وِللِن ' ´ساِء ن´ِصي ب ِمَّما ت´ ´ر ´ك اْل ´واِل ِلل ِ'ر ´جاِل
´رُبو ´ن ِمَّما ق´َّل ِمْنُه أ´ْو ´كُث ´ر ن´ِصيًبا ´مْفُر وًضا ´داِن ´والْْق
Artinya:“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan
kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian pula dari peninggalan ibu
bapak dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak menurut
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
41
bagian yang telah ditetapkan” ( Q.S. An Nisa’ 7)
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
42
2) Surat An Nisa’ Ayat
11 ُيوِصيُكُم َّالَُّل ِفي أ´ْولَِّدُكْم ِللَّذ ´كِر ِمْثُل ´ح ِ 'ظ الْْنث´ي
... ´ْيِن
Artinya: "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka
untuk) anak-anakmu...
3) Surat An Nisa’ Ayat 12
Dengan demikian melaksanakan hukum waris bagi umat Islam
adalah [Link] hal ini Allah memberikan ancaman bagi
mereka yang ingkar.
2. Hal-hal yang Berkaitan dengan Harta Warisan
Harta yang ditinggalkan si mayit secara keseluruhan disebut
mauruts atau mirats. Sebelum mirats ini dibagikan kepada mereka yang
berhak menerimanya, terlebih dahulu harus ditunaikan beberapa
kewajiban yang ada kaitannya dengan harta tersebut, yaitu:
1. Zakat
Sekiranya ada zakat yang belum dilunasi baik zakat fitrah maupun
zakat mal, juga termasuk pajak yang belum dibayarkan seperti: PBB,
kendaraan, perusahaan dan lain-lain.
2. Biaya pengurusan jenazah
Biaya pengurusan jenazah seperti: Membeli kain kafan, kapur barus,
minyak wangi, sabun, menyewa mobil ambulan dan biaya
pemakaman, bahkan untuk biaya perawatan waktu di rumah sakit.
3. Hutang
Jika almarhum atau almarhumah meninggalkan hutang, hendaknya
hutangnya dilunasi terlebih dahulu dengan harta peninggalannya.
Sabda Rasulullah saw :
ن´ْفُس ْاُلمْؤِمِن َُم ´َّلق´ة ِب ´دْيِنِه ´حَّتى ُيْق: ´عْن ا´ِبى ُه ´رْي ´رة´ قال رسوُل ِالله صَّلى ُالله عليِه وسَّلم
(´ضى ´عْنُه )رواه احمد و الترمذى
Artinya: “Dari Abi Hurairah, berkata rasulullah SAW. “Diri orang mu’min itu
tergantung (tidak sampai ke hadirat Allah ) hutangnya, sehingga
dibayarkan hutangnya itu.
(H.R. Ahmad dan Tirmidzi).
4. Wasiat
Jika mayat itu meninggalkan pesan atau wasiat, agar sebagian harta
dari peninggalannya diserahkan kepada seseorang atau suatu badan
tertentu, maka wasiat itu harus dilaksanakan dengan ketentuan,
wasiat itu sebanyak- banyaknya sepertiga harta peninggalan. Bila
wasiat itu melebihi sepertiga bagian maka harus dikurangi, hingga
menjadi sepertiga saja.
Firman Allah: Surat An Nisa’ ayat
: 12
ِمْن ب´َِْد ´وِصَّيٍة ُيوِصي ´ن ِب ´ها أ´ْو
´دْيٍن
Artinya:“ Pembagian harta warisan itu harus dilaksanakan sesudah dikeluarkan
wasiat yang diwasiatkan dan sesudah dibayar hutangnya “ ( An Nisa’:
12)
3. Sebab-sebab Mendapatkan Warisan
a. Hubungan Nasab (hubungan darah); misalnya anak, cucu, ayah, ibu,
dan saudara-saudara yang berhak memperoleh harta warisan yang
ditinggalkan pewaris karena adanya hubungan nasab.
b. Perkawinan; istri mendapat bagian dari harta warisan peninggalan
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
43
suaminya dan sebaliknya.
c. Wala’ mendapat bagian karena memerdekakan hamba sahaya
d. Hubungan seagama (hubungan sesama muslim)
4. Sebab-sebab tidak Mendapatkan Warisan
a. Menjadi hamba sahaya
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
44
´ض ´ر ´ب َّالَُّل ´مث´اًل ´عْبًدا ´مْمُلوًكا ´َّل ي´ْقِدُر ´عل´ ’ى ´شْيء
Artinya: “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang
dimiliki yang tidak dapat bertindak sesuatupun.” (QS. An-Naḥl: 75)
b. Membunuh
الَّنْف ´س اَّلِتي ´حَّر ´م َّالَُّل ِإََّّل ِباْل ´ح 'ِق ۗ ´و ´مْن ُقِت ´ل ´مْظُلوًما ف´ق´ْد ´َج´ْلن´ا ِل ´وِلِي 'ِه ُسْل ´طاًنا ´و ´َّل ت´ْقُتُلوا
ِإَّنُه ´كا ´ن ´مْنُصوًرٞۖ ِفي اْلق´ْتِل ف´ ´ال ُيْسِرْف
Artinya: “Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan
(membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan
barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah
memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris
itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah
orang yang mendapat pertolongan.
c. Murtad
d. Beda agama
وَّل ي´ِرُث ال ´كاِفُر،َّل ي´ِرُث اْلُمْس ِلُم ال ´كاِف ´ر
اْلُمْس ِل ´م
Artinya, “Orang muslim tidak dapat wewarisi orang kafir (begitu juga sebaliknya)
orang kafir tidak bisa mewarisi orang muslim” (HR Bukhari dan
Muslim)
B. Pembagian harta warisan
Ahli waris adalah orang-orang yang mempunyai hubungan dengan si
mayit. Hubungan tersebut bisa dari nasab ( keturunan ) bisa juga hasil dari
pernikahan bahkan pernah memerdekakan si mayat ketika menjadi budak.
Di tinjau dari jenis kelaminnya, ahli waris dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu ahli waris golongan laki-laki dan ahli waris golongan
perempuan.
1. Ahli Waris laki-laki berjumlah 15 macam, yaitu :
a. Anak laki-laki
b. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah
c. Bapak
d. Kakek dari bapak dan seterusnya ke atas
e. Saudara laki-laki sekandung
f. Saudara laki-laki sebapak
g. Saudara laki-laki seibu
h. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
i. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak
j. Paman sekandung
k. Paman sebapak
l. Anak laki-laki paman sekandung
m. Anak laki-laki paman sebapak
n. Suami
o. Orang laki-laki yang memerdekakan mayat
Catatan : Jika ahli waris laki-laki ada semuanya, maka yang berhak
menerima warisan adalah Bapak, anak laki-laki dan suami
2. Ahli waris perempuan berjumlah 10 orang, yaitu :
a. Anak perempuan
b. Cucu perempuan dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah
c. Ibu
d. Ibu dari bapak
e. Ibu dari ibu
f. Saudara perempuan sekandung
g. Saudara perempuan sebapak
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
45
h. Saudara perempuan seibu
i. Isteri
j. Orang perempuan yang memerdekakan mayat
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
46
Catatan : Jika seluruh ahli waris perempuan ada, maka yang berhak
menerima warisan adalah lima orang, yaitu: anak perempuan,
cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu, isteri dan saudara perempuan
sekandung.
3. Jika ahli waris laki-laki dan perempuan ada semuanya, maka yang berhak
menerima warisan adalah Bapak, Ibu, Anak laki-laki, Anak perempuan, dan
suami atau isteri
4. Bagian
1
pasti (furudh muqaddarah) dalam harta warisan ada enam, yaitu :
, 1, 1,
2 3 4
1 1
, , 2. Selain furudhul muqadarah, ada cara lain dalam mendapatkan
6 8 3
harta
warisan yang itu dengan menjadi ‘ashabah
C. Furudul Muqaddarah (Ketentuan Bagian ahli waris)
Ditinjau dari segi bagiannya, ahli waris ada tiga macam; dzawil furudh, ‘ahsabah
dan
dzawil arham.
1. Ahli Waris Dzawil Furudh
Ahli waris dzawil furudh adalah ahli waris yang bagiannya telah ditentukan
secara pasti oleh al-qur’an, sedikin dan banyak sedikitnya, contohnya :
a. Suami memperoleh setengah ( 1 ) dari harta waris istri jika istri tidak
2
mempunyai
anak, jika istri mempunyai anak maka bagian suami tinggal
seperempat ( 1 )
4
bagian.
1
b. Istri memperoleh seperempat ( ) dari harta waris suami jika
4
suami tidak
mempunyai anak, jika suami yang meninggal mempunyai anak maka
bagian
istri tinggal seperdelapan ( 1 )
8
2. Ahli Waris ‘Ashabah
Ahli waris ‘ashabah adalah mereka yang bagiannya belum pasti.
Dalam hal ini, mereka hanya dapat mewarisi dengan jalan penerimaan
sisa setelah dilakukan pembagian harta untuk dzawil furudh. Jika tidak
ada sisa, maka ahli waris ‘ashabah tidak mendapatkan bagian warisan.
‘Ashabah dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
a. ‘Ashabah binnafsih adalah ahli waris yang secara otomatis dapat
menjadi
‘ashabah tanpa sebab yang lain, antara lain :
1) Anak laki-laki,cucu laki-laki terus kebawah garis laki-laki
2) Bapak, kakek terus keatas garis laki-laki
3) Saudara laki-laki sekandung dan sebapak
4) Anak saudara laki-laki sekandung dan sebapak
5) Paman saudara kandung bapak
6) Anak laki-laki paman (dari saudara laki-laki kandung bapak)
b. Ashabah bil ghair adalah ahli waris yang dapat menjadi ‘ashabah
apabila digabung dengan ahli waris lainnya, antara lain :
1) Anak perempuan karena digabung dengan anak laki-laki
2) Cucu perempuan karena digabung dengan cucu laki-laki
3) Saudara perempuan sekandung karena digabung dengan
saudara laki-laki sekandung
4) Saudara perempuan sebapak karena ditarik saudara laki-laki
sebapak
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
47
c. ‘Ashabah ma’al ghair yaitu ahli waris yang menjadi ‘ashabah karena
bersama ahli waris lainnya, antara lain :
1) Saudara perempuan sekandung bersama dengan anak
perempuan atau bersama cucu perempuaan
2) Saudara perempuan sebapak bersama dengan anak
perempuan atau bersama cucu perempuan
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
48
3. Ahli Waris Dzawil Arham
Ahli waris ini adalah ahli waris yang sudah jauh hubungan kekeluargaannya
dengan yang meninggal dunia. Ahli waris ini tidak akan mendapat
bagian waris, kecuali sudah tidak adanya ahli waris dari dzawil furudh
maupun ‘ashabah.
D. Ketentuan Bagian-Bagian ahli Waris.
1
2
1. Ahli waris yang mendapat setengah ( )
a. Anak perempuan tunggal
b. Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki
c. Saudara perempuan sekandung
d. Saudara perempuan sebapak (jika yang sekandung tidak ada)
e. Suami jika istri yang meninggal tidak mempunyai anak
1
3
2. Ahli waris yang mendapat sepertiga ( )
a. Ibu jika yang meninggal tidak mempunyai anak
b. saudara perempuan jika yang meninggal tidak mempunyai anak
atuorang tua
c. Ahli waris yang mendapat seperempat ( 1 )
4
d. Suami jika istri yang meninggal tidak mempunyai anak
e. Istri jika suami yang meninggal mempunyai anak
1
6
3. Ahli waris yang mendapat seperenam ( )
a. Ibu jika yang meninggal mempunyai anak atau cucu laki-lakidari anak
laki-laki
b. Bapak jika yang meninggal mempunyai anak atau cucu laki-laki dari
anak laki- laki
1
8
4. Ahli waris yang mendapat seperdelapan ( )
a. Istri jika suami yang meninggal mempunyai anak
2
3
5. Ahli waris yang mendapat dua per tiga ( )
A. Dua anak perempuan atau lebih jika tidak ada anak laki-laki
B. Dua cucu perempuan atau lebih jika tidak ada anak perempuan
C. Dua saudara perempuan sekandung atau lebih
D. Dua saudara perempuan atau lebih yang sebapak, jika sekandung
tidak ada
E. Hijab dan Mahjub
Secara bahasa hijab berarti tabir atau [Link] ilmu mawaris hijab
adalah ahli waris yang menghalangi ahli waris lainnya untuk mendapatkan
bagian harta waris. Hijab ada dua macam :
1. Hijab hirman adalah ahli waris yang menghalangi secara mutlak sehingga
ahli waris yang berada di bawah maupun di atasnya tidak mendapat
bagian sama sekali.
2. Hijab nuqshan adalah ahli waris yang tidak menghalangi secara
mutlak, artinya hanya sekedar mengurangi bagian harta waris yang
harus diterimanya.
3. Mahjub adalah ahli waris yang terhalang untuk mendapatkan bagian harta
waris.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
49
Contoh pembagian harta waris :
1. Dalam suatu kasus pembagian warisan, ahli warisnya adalah 1 isteri, 1
saudari kandung, satu saudara seibu, satu sauara seayah dan paman
saudara kandung ayah. Maka perolehan masing-masing ahli waris dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
1 1 1
12
4 2 6
(pokok
Bagian ‘Ashabah Mahjub
angka
masala
h)
Paman
Saudar Saudar Saudar (saudar
Ahli waris Isteri
i a a a ayah
kandun seibu seaya kandung)
g h
Perolehan 3 6 2 1 -
2. Seorang suami meninggal dunia. Ahli warisnya ada seorang ibu, istri, dan
dua anak laki-laki harta peninggalannya setelah di ambil untuk
pengurusan jenazah dan hutang senilai Rp.24.000.000,-
Ahli D 24 (pokok angka
Ibu Istri
waris masalah) (KPK)
l
1 1
6 8
Bagian ‘Ashabah
Cara menghitung :
1
a. Bagian Ibu =
6 x 24 = 4 jadi4 x 24.000.000,- = 4.000.000,-
1 2
4
8
b. Bagian Istri =
x 24 = 3 jadi3 x 24.000.000,- = 3.000.000,-
2
4
Sisa harta dari pembagian ibu dan istri : 24.000.000,- -
(4.000.000+3.000.000)= 17.000.000,- jadi bagian dua anak laki-laki
adalah Rp.17.000.000,- maka masing-masing anak laki-laki Rp.
8.500.000,-
F. Aul dan Rad
1. Aul adalah jika pembilang lebih besar dari pada
penyebutnya. Contoh kasus :
Seseorang meninggal dunia. Ahli warisnya suami dan dua saudara
perempuan kandung. Harta yang yang ditinggalkan Rp. 21.000.000,-
6 (pokok angka
Ahli waris Suami Dua saudara
masalah)
(KPK)
1 2
2 3
Bagian
3
Cara menghitung :
1
2
a. Bagian Suami =
b. Bagian Dua saudara kandung
2
=
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
7
50
6
4 6
x 6 = 3 jadi 3 x 6 = 4 jadi
6
Jumlah kedua
bagian 7
. pembilang menunjukkan banyaknya kebutuhan
6 yang
diperlukan,sedangkan penyebut menunjukkan banyaknya barang.
seperti itu 7 berarti kurang harta, maka pembilang di aulkan (dinaikkan)
Jika tetap
6
sehingga
menjadi maka akhirnya perhitungannya sekarang menjadi :
7
7
3
7
a. Bagian Suami = x 21.000.000 = Rp. 9.000.000,-
b. Bagian Dua saudara kandung x 21.000.000 = Rp. 12.000.000,
4
7
=
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026
51
2. Rad adalah jika pembilang lebih kecil dari
penyebutnya Contoh kasus :
Seseorang meninggal dunia. Ahli warisnya :seorang anak perempuan
dan cucu perempuan dari anak laki-laki. Harta waris yang di
tinggalkan beberapa bidang tanah seluas 12 ha.
Anak Cucu 6 (pokok angka
Ahli waris
Perempuan Perempuan masalah)
(KPK)
1 1
2 6
Bagian
1 3
2 4
a. Bagian Anak perempuan =
6
x 6 = 3 jadi
1 1 6
6
b. Bagian cucu perempuan =
6
x 6 = 1 jadi
Dari hasil maka artinya kebutuhan hanya 4 sedangkan harta yang ada
4
6 yaitu 6.
Hal ini berarti sisa harta. Agar tidak ada sisa maka penyebut diradkan
(diturunkan)
sehingga akan
menjadi 4
penyelesaianya sekarang menjadi :
4
3
4
a. Bagian Anak perempuan = x 12 ha = 9 ha
1
4
b. Bagian cucu perempuan = x 12 ha = 3 ha
Rangkuman :
1. Faraidh atau ilmu waris ialah ilmu yang membahas harta warisan dan
cara pembagiannya.
2. Melaksanakan hukum waris adalah wajib
3. Sebelum dilakukan pembagianharta warisan, ada beberapa kewajiban
yang harus diselesaikan terlebih dahulu:
a. Zakat
b. Biaya pengurusan jenazah
c. Hutang si mayit
d. Washiat
4. Sebab-sebab mendapatkan warisan :
a. Nasab/hubungan darah
b. Perkawinan
c. Wala’, yaitu mendapat bagian warisan karena memerdekakan hamba
sahaya.
d. Hubungan seagama
5. Sebab-sebab tidak mendapatkan warisan
a. Hamba sahaya
b. Membunuh
c. Murtad
d. Beda Agama
e. Meninggal dalam waktu bersamaan atau meninggal lebih dulu.
Modul Fikih 9/Genap Tahun ajaran 2025/2026