BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
1. Definisi Pemahaman Konsep Matematika
Kemampuan pemahaman adalah salah satu tujuan penting dalam
pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan
kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu dengan
pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri.
Pemahaman juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang
disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai
konsep yang diharapkan. Hal ini sejalan pendapat Hudoyo (Priyanto, 2013)
bahwa tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat
dipahami siswa. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa
siswa kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disampaikan
dipahami sepenuhnya oleh siswa.
Dalam pembelajaran matematika, pemahaman didefinisikan sebagai
kemampuan dalam memahami materi tertentu yang dipelajari. Djahura (2012)
menyatakan bahwa pemahaman berasal dari kata “paham” yang artinya mengerti
benar tentang sesuatu hal. Jadi pemahaman adalah tingkat kemampuan yang
mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang
diketahuinya.
7
8
Majid (2006) mengemukakan bahwa pemahaman adalah kemampuan
siswa untuk dapat memahami problem yang dihadapi dengan menemukan jalan
keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih siswa
menggunakan pikirannya dalam menemukan dan menginventarisasi masalah
dengan cara memilah-milah, membuang mana yang salah, meluruskan yang
bengkok, dan mengambil yang benar.
Menurut Purwanto (2006), pemahaman adalah tingkat kemampuan yang
menuntut siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang
diketahuinya. Dalam hal ini siswa tidak hanya hafal secara verbalistis, tetapi
paham terhadap konsep atau fakta yang ditanyakan. Sejalan dengan itu, Walle
(Bozse, 2012) mendefinisikan pemahaman sebagai ukuran kualitas dan kuantitas
hubungan suatu ide dengan ide yang telah ada. Setiap siswa memiliki kemampuan
pemahaman yang berbeda tergantung pada ide yang dimiliki dan pembuatan
hubungan antara ide yang ada dengan ide baru.
Bloom (Bozse, 2012) juga berpendapat bahwa pemahaman merupakan
kemampuan mengungkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkapkan
suatu materi yang disajikan ke dalam bentuk yang di pahami, mampu memberikan
interpretasi dan mampu mengklasifikasinnya. Secara garis besar, pemahaman
merupakan kemampuan seseorang dalam mengemukakan atau menjelaskan
sesuatu. Bloom (Bozse, 2012) mengklasifikasikan pemahaman pada jenjang
kognitif urutan kedua setelah pengetahuan. Jenjang kognitif tahap pemahaman ini
mencakup hal-hal berikut: (1) Pemahaman konsep, (2) Pemahaman prinsip,
aturan, dan generalisasi, (3) Pemahaman terhadap struktur matematika, (4)
9
Kemampuan untuk membuat tranformasi, (5) Kemampuan untuk mengikuti pola
berpikir, dan (6) Kemampuan untuk membaca dan menginterpretasikan masalah
sosial atau data matematika.
Seseorang dikatakan memahami apabila telah mampu mengorganisasikan
dan mengutarakan kembali apa yang dipelajarinya dengan menggunakan
kalimatnya sendiri. Jadi pada tingkat ini, siswa sudah tidak lagi mengingat dan
menghafal informasi yang telah diperoleh, melainkan harus dapat memilih dan
mengorganisasikan informasi tersebut.
Pemahaman konsep menurut Patria (Rahman, 2015) yaitu kemampuan
siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana siswa tidak
sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi
mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti,
memberikan inprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai
dengan struktur kognitf yang dimiliki. Lebih lanjut, Abdul dan Abdul Haris
(Alawiah, 2014) menyatakan pemahaman konsep merupakan kompetensi yang
ditunjukkan siswa dalam memahami konsep dan dalam melakukan prosedur
(algoritma) secara luwes, akurat, efesien, dan tepat.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
pemahaman konsep matematika adalah kemampuan siswa menggunakan,
memanfaatkan, memilih prosedur atau operasi tertentu, serta mengaplikasikan
konsep atau algoritma dalam menyelesaikan permasalahan matematika, sehingga
dapat melatih pikiran siswa menemukan solusi permasalahan matematika yang
dihadapi.
10
2. Indikator Pemahaman Konsep Matematika
Sumarmo (Bozse, 2012) menyatakan bahwa secara umum, indikator
pemahaman matematika meliputi: mengenal, memahami dan menerapkan konsep,
prosedur, prinsip dan ide matematika. Adapun indikator pemahaman konsep
menurut Kurikulum 2006 (Kesumawati, 2008: 234) yaitu:
a. Menyatakan ulang sebuah konsep.
b. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan
konsepnya).
c. Memberikan contoh dan non-contoh dari konsep.
d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.
e. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.
f. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu.
g. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.
Dalam proses pembelajaran matematika, untuk mengetahui pemahaman
konsep siswa tentang mata pelajaran matematika, maka ditentukan indikator
pemahaman konsep sebagai berikut:
a. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu:
kemampuan siswa dalam menggunakan, memanfaatkan, dan memilih
prosedur atau operasi tertentu.
b. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah: kemampuan
siswa mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam menyelesaikan masalah
matematika.
11
3. Strategi Pembelajaran Mind Map
Raigeluth (Saad, 2013) mengatakan bahwa strategi pembelajaran
merupakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang
berbeda dibawah kondisi yang berbeda. Lebih lanjut, Syaiful (2000) menjelaskan
bahwa strategi pembelajaran adalah rencana dan cara membawakan pengajaran
agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan dapat dicapai. Cara-
cara membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum perbuatan
guru dan siswa dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran yang tersusun dalam
suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan.
Strategi yang ditemukan oleh Buzan yaitu seorang pakar pengembangan
otak, kreativitas dan revolusi belajar sejak tahun 1970-an dikenal dengan nama
Mind Map. Buzan (2008) menyatakan bahwa Mind Map merupakan cara
termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi
ke luar dari otak. Mind Map merupakan teknik pencatatan yang menghubungkan
konsep-konsep berdasarkan kreatifitas masing-masing siswa terhadap suatu
konsep dipetakan dalam struktur kognitifnya dan dapat diingat dalam jangka
waktu yang lama. Hasilnya berupa peta pikir yang setiap saat dapat digunakan
untuk menyelesaiakan suatu permasalahan atau soal-soal yang berhubungan
dengan konsep-konsep dalam peta pikir tersebut. Teknik ini dikenal juga dengan
nama Radiant Thinking.
Michael (Buzan, 2008) menyatakan bahwa Mind Map adalah alternatif
pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linear. Menggapai ke segala arah
dan menangkap berbagai pikiran dari berbagai sudut. Bentuk Mind Map seperti
12
peta sebuah jalan dikota yang mempunyai banyak cabang. Seperti halnya peta
jalan, kita bisa membuat pandangan secara menyeluruh tentang pokok masalah
dalam suatu area yang sangat luas, dengan sebuah peta kita bisa merencanakan
sebuah rute yang tercepat dan tepat dan mengetahui kemana kita akan pergi dan
dimana kita berada. Mind Map bisa disebut sebuah peta rute yang digunakan
ingatan, mebuat kita bisa menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga
cara kerja otak kita yang alami akan dilibatkan sejak awal sehingga mengingat
informasi akan lebih muda dan bisa diandalkan daripada menggunakan teknik
mencatat biasa.
Donald Latumahina (Saad, 2013) menyatakan bahwa Mind Map adalah
sebuah diagram yang terdiri dari sebuah ide utama yang terletak ditengah dan
selanjutnya bercabang ke ide-ide yang lebih khusus. Ide khusus ini dapat
bercabang lagi menjadi ide-ide yang lebih kecil dan seterusnya ada aturan
penggambaran yang rumit. Mind Map sangat efektif bila digunakan untuk
memunculkan ide terpendam yang kita miliki dan membuat asosiasi di antara ide
tersebut. Mind Map juga berguna untuk mengorganisasikan informasi yang kita
miliki. Bentuk diagramnya yang seperti diagram pohon dan percabangannya
memudahkan untuk mereferensikan satu informasi kepada informasi yang lain.
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran Mind Map adalah teknik atau cara mencatat yang kreatif dan efektif
yang digunakan untuk mempermudah siswa memahami konsep atau informasi
matematika. Selanjutnya, siswa menguatkan informasi itu dengan cara mereka
13
sendiri untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan konsep atau
informasi tersebut.
a. Keunggulan dan Kelemahan Mind Map
1) Keunggulan Mind Map
Yovan (Saad, 2013) menyatakan bahwa keunggulan strategi pencatatan
menggunakan Mind Map, antara lain:
a) Tema utama terdefinisi secara sangat jelas karena dinyatakan ditengah.
b) Level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang
memiliki kadar kepentingan lebih diletakkan dengan tema utama.
c) Hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat segera dikenali.
d) Lebih mudah dipahami dan diingat.
e) Informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak
keseluruhan struktur Mind Map, sehingga mempermudah proses pengingatan.
f) Masing-masing Mind Map sangat unik, sehingga mempermudah proses
pengingatan.
g) Mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.
Iwan Sugiarto (Saad, 2013) menyatakan bahwa keunggulan dari strategi
Mind Map adalah:
a) Bagi Siswa
Keuntungan yang diperoleh siswa dengan menggunakan Mind Map adalah
sebagai berikut:
14
(1) Membantu siswa mempelajari konsep-konsep serta mangaitkan pengetahuan
yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari sehingga terjadi proses
bermakna.
(2) Siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya dengan membuat Mind Map
yang dilengkapi dengan simbol-simbol dan variasi warna.
(3) Siswa memperoleh pemahaman yang utuh tentang konsep materi, dengan
kata lain bahwa siswa dapat memetakan pemikirannya dengan
menuangkannya kedalam Mind Map.
(4) Siswa dapat berdiskusi dan membandingkan Mind Map yang dibuatnya
dengan temannya.
b) Bagi guru
Keuntungan-keuntungan yang diperoleh guru dengan menggunakan Mind
Map adalah sebagai berikut:
(1) Mind Map yang dibuat oleh siswa dapat mengungkapkan struktur kognitif
siswa.
(2) Mind Map yang dibuat oleh siswa merupakan pijakan bagi pengembangan
materi selanjutnya.
(3) Mind Map yang dibuat oleh siswa merupakan suatu alat efektif untuk
menunjukkan kesalahan-kesalahan konsep siswa dan dapat menjadi alat
evaluasi.
Eko (2011) menyebutkan perbedaan antara cataan biasa dan Mind Map,
perhatikan tabel 2.1.
15
Tabel 2.1. Perbedaan catatan biasa dan Mind Map
Catatan biasa Mind Map
Hanya berupa tulisan-tulisan saja Berupa tulisan, simbol, dan gambar
Hanya salam satu warna Berwarna-warni
Untuk mereview ulang memerlukan Untuk mereview ulang memerlukan
waktu yang lama waktu yang pendek
Waktu yang diperlukan untuk belajar Waktu yang diperlukan untuk belajar
lebih lama lebih cepat dan efektif
Statis Membuat individu menjadi lebih
kreatif
Berdasarkan beberapa kelebihan dan keberhasilan strategi Mind Map,
maka peneliti mengharapkan penggunaan strategi Mind Map juga dapat
meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.
2) Kelemahan Strategi Mind Map
Eko (2011) menyebutkan kelemahan Mind Map yaitu :
a) Hanya siswa yang aktif yang terlibat,
b) Memerlukan biaya tambahan (perlengkapan).
b. Cara Membuat Mind Map
Buzan (2008) menyatakan bahwa bahan-bahan untuk membuat Mind Map
adalah:
1) Kertas kosong tak bergaris,
2) Pena dan pensil warna,
3) Otak, dan
4) Imajinasi.
16
Buzan (2008) mengatakan bahwa proses pembuatan sebuah Mind Map
terdiri atas 7 langkah yaitu:
1) Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan
mendatar (landscape).
2) Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral.
3) Gunakan warna.
4) Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan cabang-
cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya.
5) Buatlah garis hubung yang melengkung.
6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis.
7) Gunakan gambar.
Djohan (Saad, 2013) mengatakan bahwa proses pembuatan sebuah Mind
Map secara step by step dapat dibagi menjadi empat langkah yang harus dilakukan
secara berurutan yaitu:
1) Menentukan central topic yang akan dibuatkan Mind Map, biasanya adalah
judul buku atau judul bab yang akan dipelajari dan harus diletakkan ditengah
kertas serta usahakan berbentuk image/gambar.
2) Membuat Basic Ordering Ideas (BOIS) untuk central topic yang telah dipilih,
BOIS biasanya adalah judul bab atau sub-bab dari materi yang akan dipelajari
atau bisa juga dengan menggunakan 5WH (What, Why, Where, When, Who,
dan How).
3) Melengkapi setiap BOIS dengan cabang-cabang yang berisi data-data
pendukung yang terkait. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting
17
karena pada saat inilah seluruh data-data harus ditempatkan dalam setiap
cabang BOIS secara asosiatif dan menggunakan struktur radian yang menjadi
ciri yang paling khas dari suatu Mind Map.
4) Melengkapi setiap cabang dengan image baik berupa gambar, simbol, kode,
daftar, grafik dan garis penghubung bila ada BOIS yang saling terkait satu
dengan lainnya. Tujuan dari langkah ini adalah untuk membuat sebuah Mind
Map menjadi lebih menarik sehingga lebih mudah untuk dimengerti dan
diingat.
Sutanto (Saad, 2013) telah menyusun sejumlah aturan yang harus diikuti
agar Mind Map yang dibuat dapat memberikan manfaat yang optimal. Berikut
adalah ringkasan dari Law of Mind Map:
1) Kertas: polos dengan ukuran minimal A4 atau karton dengan orientasi
horizontal (landscape). Central topic diletakkan ditengah-tengah kertas dan
sedapat mungkin berupa image dengan minimal 3 warna.
2) Garis: lebih tebal BOIS dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan
semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan
panjang yang sama dengan panjang kata atau gambar yang ada di atasnya.
Seluruh garis harus tersambung ke pusat.
3) Kata: menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis.
Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf
yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat.
18
4) Gambar: gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, tabel dan
ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau
memungkinkan gunakan image yang 3 dimensi agar lebih menarik lagi.
5) Warna: gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5-6 warna. Warna berbeda
untuk setiap BOIS dan warna cabang harus mengikuti warna BOIS.
6) Struktur: menggunakan struktur radian dengan central topic terletak di
tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabang-cabangnya mnyebar ke segala
arah.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
langkah-langkah yang harus diperhatikan ketika akan membuat Mind Map yaitu:
1) Mempelajari suatu materi pelajaran secara keseluruhan.
Dalam mempelajari suatu materi pelajaran, siswa dibimbing oleh guru, siswa
membaca seluruh isi materi dan memahami materi secara keseluruhan.
Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing sehingga
diharapkan siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atas bimbingan
guru.
2) Menentukan ide-ide pokok.
Menentukan ide-ide pokok dalam hal ini siswa aktif. Menemukan dan
memilih kata-kata kunci atau istilah penting dari suatu materi pelajaran yang
telah dipelajari.
3) Membuat atau menyusun Mind Map
Membuat atau menyusun Mind Map dalam hal ini setelah siswa menemukan
seluruh kata-kata kunci atau istilah penting dari suatu materi pelajaran yang
19
telah dipelajari, kemudian siswa menyusun kata kunci tersebut menjadi suatu
struktur peta pikiran yang paling mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa.
b. Tahap-Tahap Mind Map dalam Pembelajaran
Secara rinci tahap pembelajaran matematika menggunakan strategi Mind
Map merujuk pada Buzan (2008) sebagaimana Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Tahap Strategi Pembelajaran Mind Map
Tahap Uraian
Tahap Persiapan 1. Pemenuhan alat belajar (kertas, pulpen atau
perlengkapan belajar lain yang dibutuhkan untuk
Mind Map).
2. Penjelasan KD.
Tahap Pemetaan 1. Identifikasi masalah matematika sesuai dengan KD
dengan memanfaatkan alat belajar.
2. Melakukan pemetaan konsep.
Tahap Evaluasi 1. Presentase hasil dan pengecekan ulang.
4. Deskripsi Pemahaman Konsep Matematika dengan Menggunakan
Strategi Pembelajaran Mind Map
Mempelajari matematika tidak cukup hanya dipelajari dengan membaca
saja. Memahami konsep matematika perlu memperhatikan konsep-konsep
sebelumnya. Matematika tersusun secara hierarkis yang satu sama lain berkaitan
dengan erat. Konsep lanjutan tidak akan dapat dipahami sebelum memahami
konsep sebelumnya yang menjadi prasyarat. Hal inilah menjadikan matematika
sulit. Ini terjadi dikarenakan siswa kurang mampu dalam memproses informasi
atau mengingat konsep matematika yang telah diajarkan (siswa cenderung belajar
hanya dengan mencatat apa yang disampaikan atau yang ditulis oleh guru di
papan tulis, daripada secara aktif membangun pemahaman mereka sendiri
20
terhadap konsep matematika tersebut) akibatnya banyak siswa yang gagal dalam
belajar matematika. Bila ini terus dibiarkan maka siswa tidak akan dapat
mengembangkan potensinya dan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa
juga tidak akan maksimal. Olehnya itu perlu ada strategi baru untuk menjawab
permasalahan ini.
Strategi mencatat yang baik harus membantu kita mengingat perkataan dan
bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi, dan memberikan wawasan
baru. Hal ini sejalan dengan pendapat Slameto (Saad, 2013) yang mengatakan
bahwa dalam membuat catatan sebaiknya tidak semua yang dikatakan oleh guru
itu ditulis tetapi diambil inti sarinya saja. Catatan yang baik, rapi dan lengkap
akan menambah semangat dalam belajar. Salah satu cara mencatat yang
memungkinkan terjadinya semua itu adalah strategi Mind Map. Strategi mencatat
ini didasarkan pada penelitian tentang cara otak memproses informasi dan bekerja
bersama otak kita. Buzan (2008) mengatakan bahwa para ilmuan sekarang
mengetahui bahwa otak mengambil informasi melalui campuran gambar, bunyi,
aroma, pikiran, dan warna-warni. Oleh karena itu, catatan yang baik daat dibuat
dalam bentuk Mind Map. Mind Map merupakan teknik pencatatan yang
menghubungkan konsep-konsep berdasarkan kreatifitas masing-masing siswa
terhadap suatu konsep dipetakan dalam struktur kognitifnya dan dapat diingat
dalam jangka waktu yang lama. Hasilnya berupa peta pikir yang setiap saat dapat
digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau soal-soal yang
berhubungan dengan konsep-konsep dalam peta pikir tersebut. Mind Map dapat
membantu siswa untuk memahami hubungan 4antara konsep. Dengan demikian
21
diharapkan dengan menggunakan strategi Mind Map dapat meningkatkan
pemahaman konsep matematika siswa.
Salah satu contoh Mind Map pada konsep persamaan kuadrat di tunjukkan
pada Gambar 2.1 berikut:
(Sumber: Iva, 2013)
Gambar 2.1. Contoh Mind Map
Gambar 2.1 Contoh Mind Map
Desain gambar Mind Map dapat bervariasi sesuai dengan kreativitas atau passion
(minat) siswa dalam memahami konsep materi yang dipelajari.
22
5. Faktorisasi Suku Aljabar
a. Pengertian Koefisien, Variabel, Konstanta, Dan Suku
1) Variabel
Variabel adalah lambang pengganti suatu bilangan yang belum diketahui
nilainya dengan jelas. Variabel disebut juga peubah.
2) Konstanta
Suku dari suatu bentuk aljabar yang berupa bilangan dan tidak memuat
variabel disebut konstanta.
3) Koefisien
Koefisien pada bentuk aljabar adalah faktor konstanta dari suatu suku pada
bentuk aljabar.
4) Suku
Suku adalah variabel beserta koefisiennya atau konstanta pada bentuk
aljabar yang dipisahkan oleh operasi jumlah atau selisih.
b. Operasi Hitung pada Bentuk Aljabar
1) Penjumlahan dan Pengurangan
Suku-suku sejenis adalah suku yang memiliki variabel dan pangkat
dari masing-masing variabel yang sama.
a) Sifat Komutatif
Jika a dan b merupakan bentuk ajabar maka berlaku sifat komutatif a + b = b
+ a.
23
b) Sifat Asosiatif
Jika a, b dan c merupakan bentuk aljabr maka berlaku sifat asosiatif a + (b +
c) = (a + b) + c
c) Sifat Distributif terhadap Penjumlahan dan Pengurangan
Jika a, b dan c merupakan bentuk aljabar maka berlaku:
(i) Sifat distributif penjumlahan, a (b + c) = ab + ac
(ii) Sifat distributif pengurangan, a (b – c) = ab – ac
2) Perkalian
a) Perkalian suatu bilangan dengan bentuk aljabar
k ( ax +b )=kax + kb
b) Perkalian Antara Bentuk Aljabar dan Bentuk Aljabar
( ax +b )( cx+ d )=ax ( cx +d ) +b (cx +d )
¿ ax ( cx ) +ax ( d ) +b ( cx ) +bd
2
¿ acx + ( ad +bc ) x+ bd
3) Pembagian
Berikut sifat-sifat yang berlaku pada pembagian bentuk aljabar. Untuk a
dan b bilangan bulat positif berlaku:
ax
y
=a x − y dan a x ×a y =a x + y
a
a)
b) Sifat distributif pemangkatan terhadap pembagian
( )
x
()
a x ax
b
ak a kx
= x dan k = kx
b b b
24
4) Perpangkatan bentuk aljabar
Operasi perpangkatan diartikan sebagai operasi perkalian berulang dengan
unsur yang sama. Untuk sebarang bilangan bulat a, berlaku
n
a =a × a ×a × … ×a
Sebanyak n kali
Demikian seterusnya untuk ( a+ b )n dengan n bilangan asli. Pangkat dari a
(unsur pertama) pada ( a+ b )n dimulai dari a n kemudian berkurang satu demi satu
dan terakhir a 1 pada suku ke-n. Sebaliknya, pangkat dari b 1 pada suku ke-2 lalu
1
n
bertambah satu demi satu dan terakhir b pada suku ke-(n+1).
c. Pemfaktoran Bentuk Aljabar
1) Bentuk ax +ay + az+ ¿… dan ax +bx−cx
ax +ay +az+.. .. .=a( x+ y+ z+. . .. )
ax +bx−cx=x (a+b−c )
2) Bentuk Selisih Dua Kuadrat x 2− y 2
2 2
x − y =( x− y )( x + y )
3) Bentuk x 2+ 2 xy + y 2 dan x 2−2 xy+ y 2
2 2 2
x + 2 xy + y = ( x+ y )( x + y )=( x + y )
2 2 2
x −2 xy+ y =( x− y ) ( x− y )= ( x− y )
4) Bentuk ax 2 +bx +c dengan a=1
2
x + bx+ c=( x +m )( x +n ) dengan m ×n=c dan
m+n=b
25
5) Bentuk ax 2 +bx +c dengan a ≠ 1, a ≠ 0
a. Menggunakan sifat distributif
ax 2 +bx+c=ax 2 + px+qx+c dengan
p×q=a×c dan
p+q=b
b. Menggunakan rumus
1
ax 2 +bx+c= ( ax +m ) ( ax +n ) dengan
a
m×n=a×c dan
m+n=b
B. Kerangka Pikir
Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka yang telah diuraikan,
terlihat bahwa pembelajaran yang didominasi oleh guru tidak menumbuhkan
motivasi siswa untuk belajar sehingga menjadikan siswa pasif didalam
pembelajaran, yang berakibat rendahnya pemahaman konsep matematika siswa.
Melalui strategi Mind Map, akan mengubah anggapan-anggapan tersebut.
Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa.
Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa
berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban,
presentasi hasil diskusi kelompok, evaluasi dan refleksi.
Jadi, melalui strategi pembelajaran Mind Map, diharapkan seorang siswa
akan memiliki kreativifitas berpikir yang tinggi sehingga siswa tersebut dapat
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika yang dimilikinya,
pengetahuan yang diperolehnya akan meningkat sesuai keterampilan yang
26
dimiliki seorang siswa dan mudah mengingat materi yang telah diajarkan. Oleh
karena itu, pembelajaran melalui strategi pembelajaran Mind Map dapat
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.
Berdasarkan uraian di atas, kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat
disajikan dalam Gambar 2.2. berikut:
Pemahaman Konsep Matematika
Siswa Guru
Siswa Rendah
Strategi Pembelajaran
Mind Map
PTK
Pemahaman Konsep
Matematika Siswa Meningkat
Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian
Keterangan:
: Arah/ alur kegiatan
: Kegiatan