0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan20 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pemahaman konsep matematika sebagai kemampuan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan materi pelajaran, serta indikator-indikator yang menunjukkan pemahaman tersebut. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan strategi pembelajaran Mind Map, keunggulan dan kelemahannya, serta cara membuatnya untuk meningkatkan pemahaman siswa. Mind Map dianggap efektif dalam membantu siswa mengorganisir informasi dan memahami konsep matematika dengan lebih baik.

Diunggah oleh

Arifin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan20 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pemahaman konsep matematika sebagai kemampuan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan materi pelajaran, serta indikator-indikator yang menunjukkan pemahaman tersebut. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan strategi pembelajaran Mind Map, keunggulan dan kelemahannya, serta cara membuatnya untuk meningkatkan pemahaman siswa. Mind Map dianggap efektif dalam membantu siswa mengorganisir informasi dan memahami konsep matematika dengan lebih baik.

Diunggah oleh

Arifin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Definisi Pemahaman Konsep Matematika

Kemampuan pemahaman adalah salah satu tujuan penting dalam

pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan

kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu dengan

pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri.

Pemahaman juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang

disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai

konsep yang diharapkan. Hal ini sejalan pendapat Hudoyo (Priyanto, 2013)

bahwa tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat

dipahami siswa. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa

siswa kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disampaikan

dipahami sepenuhnya oleh siswa.

Dalam pembelajaran matematika, pemahaman didefinisikan sebagai

kemampuan dalam memahami materi tertentu yang dipelajari. Djahura (2012)

menyatakan bahwa pemahaman berasal dari kata “paham” yang artinya mengerti

benar tentang sesuatu hal. Jadi pemahaman adalah tingkat kemampuan yang

mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang

diketahuinya.

7
8

Majid (2006) mengemukakan bahwa pemahaman adalah kemampuan

siswa untuk dapat memahami problem yang dihadapi dengan menemukan jalan

keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih siswa

menggunakan pikirannya dalam menemukan dan menginventarisasi masalah

dengan cara memilah-milah, membuang mana yang salah, meluruskan yang

bengkok, dan mengambil yang benar.

Menurut Purwanto (2006), pemahaman adalah tingkat kemampuan yang

menuntut siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang

diketahuinya. Dalam hal ini siswa tidak hanya hafal secara verbalistis, tetapi

paham terhadap konsep atau fakta yang ditanyakan. Sejalan dengan itu, Walle

(Bozse, 2012) mendefinisikan pemahaman sebagai ukuran kualitas dan kuantitas

hubungan suatu ide dengan ide yang telah ada. Setiap siswa memiliki kemampuan

pemahaman yang berbeda tergantung pada ide yang dimiliki dan pembuatan

hubungan antara ide yang ada dengan ide baru.

Bloom (Bozse, 2012) juga berpendapat bahwa pemahaman merupakan

kemampuan mengungkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkapkan

suatu materi yang disajikan ke dalam bentuk yang di pahami, mampu memberikan

interpretasi dan mampu mengklasifikasinnya. Secara garis besar, pemahaman

merupakan kemampuan seseorang dalam mengemukakan atau menjelaskan

sesuatu. Bloom (Bozse, 2012) mengklasifikasikan pemahaman pada jenjang

kognitif urutan kedua setelah pengetahuan. Jenjang kognitif tahap pemahaman ini

mencakup hal-hal berikut: (1) Pemahaman konsep, (2) Pemahaman prinsip,

aturan, dan generalisasi, (3) Pemahaman terhadap struktur matematika, (4)


9

Kemampuan untuk membuat tranformasi, (5) Kemampuan untuk mengikuti pola

berpikir, dan (6) Kemampuan untuk membaca dan menginterpretasikan masalah

sosial atau data matematika.

Seseorang dikatakan memahami apabila telah mampu mengorganisasikan

dan mengutarakan kembali apa yang dipelajarinya dengan menggunakan

kalimatnya sendiri. Jadi pada tingkat ini, siswa sudah tidak lagi mengingat dan

menghafal informasi yang telah diperoleh, melainkan harus dapat memilih dan

mengorganisasikan informasi tersebut.

Pemahaman konsep menurut Patria (Rahman, 2015) yaitu kemampuan

siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana siswa tidak

sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi

mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti,

memberikan inprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai

dengan struktur kognitf yang dimiliki. Lebih lanjut, Abdul dan Abdul Haris

(Alawiah, 2014) menyatakan pemahaman konsep merupakan kompetensi yang

ditunjukkan siswa dalam memahami konsep dan dalam melakukan prosedur

(algoritma) secara luwes, akurat, efesien, dan tepat.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

pemahaman konsep matematika adalah kemampuan siswa menggunakan,

memanfaatkan, memilih prosedur atau operasi tertentu, serta mengaplikasikan

konsep atau algoritma dalam menyelesaikan permasalahan matematika, sehingga

dapat melatih pikiran siswa menemukan solusi permasalahan matematika yang

dihadapi.
10

2. Indikator Pemahaman Konsep Matematika

Sumarmo (Bozse, 2012) menyatakan bahwa secara umum, indikator

pemahaman matematika meliputi: mengenal, memahami dan menerapkan konsep,

prosedur, prinsip dan ide matematika. Adapun indikator pemahaman konsep

menurut Kurikulum 2006 (Kesumawati, 2008: 234) yaitu:

a. Menyatakan ulang sebuah konsep.

b. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan

konsepnya).

c. Memberikan contoh dan non-contoh dari konsep.

d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.

e. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.

f. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu.

g. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

Dalam proses pembelajaran matematika, untuk mengetahui pemahaman

konsep siswa tentang mata pelajaran matematika, maka ditentukan indikator

pemahaman konsep sebagai berikut:

a. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu:

kemampuan siswa dalam menggunakan, memanfaatkan, dan memilih

prosedur atau operasi tertentu.

b. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah: kemampuan

siswa mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam menyelesaikan masalah

matematika.
11

3. Strategi Pembelajaran Mind Map

Raigeluth (Saad, 2013) mengatakan bahwa strategi pembelajaran

merupakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang

berbeda dibawah kondisi yang berbeda. Lebih lanjut, Syaiful (2000) menjelaskan

bahwa strategi pembelajaran adalah rencana dan cara membawakan pengajaran

agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan dapat dicapai. Cara-

cara membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum perbuatan

guru dan siswa dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran yang tersusun dalam

suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan.

Strategi yang ditemukan oleh Buzan yaitu seorang pakar pengembangan

otak, kreativitas dan revolusi belajar sejak tahun 1970-an dikenal dengan nama

Mind Map. Buzan (2008) menyatakan bahwa Mind Map merupakan cara

termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi

ke luar dari otak. Mind Map merupakan teknik pencatatan yang menghubungkan

konsep-konsep berdasarkan kreatifitas masing-masing siswa terhadap suatu

konsep dipetakan dalam struktur kognitifnya dan dapat diingat dalam jangka

waktu yang lama. Hasilnya berupa peta pikir yang setiap saat dapat digunakan

untuk menyelesaiakan suatu permasalahan atau soal-soal yang berhubungan

dengan konsep-konsep dalam peta pikir tersebut. Teknik ini dikenal juga dengan

nama Radiant Thinking.

Michael (Buzan, 2008) menyatakan bahwa Mind Map adalah alternatif

pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linear. Menggapai ke segala arah

dan menangkap berbagai pikiran dari berbagai sudut. Bentuk Mind Map seperti
12

peta sebuah jalan dikota yang mempunyai banyak cabang. Seperti halnya peta

jalan, kita bisa membuat pandangan secara menyeluruh tentang pokok masalah

dalam suatu area yang sangat luas, dengan sebuah peta kita bisa merencanakan

sebuah rute yang tercepat dan tepat dan mengetahui kemana kita akan pergi dan

dimana kita berada. Mind Map bisa disebut sebuah peta rute yang digunakan

ingatan, mebuat kita bisa menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga

cara kerja otak kita yang alami akan dilibatkan sejak awal sehingga mengingat

informasi akan lebih muda dan bisa diandalkan daripada menggunakan teknik

mencatat biasa.

Donald Latumahina (Saad, 2013) menyatakan bahwa Mind Map adalah

sebuah diagram yang terdiri dari sebuah ide utama yang terletak ditengah dan

selanjutnya bercabang ke ide-ide yang lebih khusus. Ide khusus ini dapat

bercabang lagi menjadi ide-ide yang lebih kecil dan seterusnya ada aturan

penggambaran yang rumit. Mind Map sangat efektif bila digunakan untuk

memunculkan ide terpendam yang kita miliki dan membuat asosiasi di antara ide

tersebut. Mind Map juga berguna untuk mengorganisasikan informasi yang kita

miliki. Bentuk diagramnya yang seperti diagram pohon dan percabangannya

memudahkan untuk mereferensikan satu informasi kepada informasi yang lain.

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi

pembelajaran Mind Map adalah teknik atau cara mencatat yang kreatif dan efektif

yang digunakan untuk mempermudah siswa memahami konsep atau informasi

matematika. Selanjutnya, siswa menguatkan informasi itu dengan cara mereka


13

sendiri untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan konsep atau

informasi tersebut.

a. Keunggulan dan Kelemahan Mind Map

1) Keunggulan Mind Map

Yovan (Saad, 2013) menyatakan bahwa keunggulan strategi pencatatan

menggunakan Mind Map, antara lain:

a) Tema utama terdefinisi secara sangat jelas karena dinyatakan ditengah.

b) Level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang

memiliki kadar kepentingan lebih diletakkan dengan tema utama.

c) Hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat segera dikenali.

d) Lebih mudah dipahami dan diingat.

e) Informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak

keseluruhan struktur Mind Map, sehingga mempermudah proses pengingatan.

f) Masing-masing Mind Map sangat unik, sehingga mempermudah proses

pengingatan.

g) Mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.

Iwan Sugiarto (Saad, 2013) menyatakan bahwa keunggulan dari strategi

Mind Map adalah:

a) Bagi Siswa

Keuntungan yang diperoleh siswa dengan menggunakan Mind Map adalah

sebagai berikut:
14

(1) Membantu siswa mempelajari konsep-konsep serta mangaitkan pengetahuan

yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari sehingga terjadi proses

bermakna.

(2) Siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya dengan membuat Mind Map

yang dilengkapi dengan simbol-simbol dan variasi warna.

(3) Siswa memperoleh pemahaman yang utuh tentang konsep materi, dengan

kata lain bahwa siswa dapat memetakan pemikirannya dengan

menuangkannya kedalam Mind Map.

(4) Siswa dapat berdiskusi dan membandingkan Mind Map yang dibuatnya

dengan temannya.

b) Bagi guru

Keuntungan-keuntungan yang diperoleh guru dengan menggunakan Mind

Map adalah sebagai berikut:

(1) Mind Map yang dibuat oleh siswa dapat mengungkapkan struktur kognitif

siswa.

(2) Mind Map yang dibuat oleh siswa merupakan pijakan bagi pengembangan

materi selanjutnya.

(3) Mind Map yang dibuat oleh siswa merupakan suatu alat efektif untuk

menunjukkan kesalahan-kesalahan konsep siswa dan dapat menjadi alat

evaluasi.

Eko (2011) menyebutkan perbedaan antara cataan biasa dan Mind Map,

perhatikan tabel 2.1.


15

Tabel 2.1. Perbedaan catatan biasa dan Mind Map

Catatan biasa Mind Map


Hanya berupa tulisan-tulisan saja Berupa tulisan, simbol, dan gambar

Hanya salam satu warna Berwarna-warni

Untuk mereview ulang memerlukan Untuk mereview ulang memerlukan


waktu yang lama waktu yang pendek

Waktu yang diperlukan untuk belajar Waktu yang diperlukan untuk belajar
lebih lama lebih cepat dan efektif

Statis Membuat individu menjadi lebih


kreatif

Berdasarkan beberapa kelebihan dan keberhasilan strategi Mind Map,

maka peneliti mengharapkan penggunaan strategi Mind Map juga dapat

meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.

2) Kelemahan Strategi Mind Map

Eko (2011) menyebutkan kelemahan Mind Map yaitu :

a) Hanya siswa yang aktif yang terlibat,

b) Memerlukan biaya tambahan (perlengkapan).

b. Cara Membuat Mind Map

Buzan (2008) menyatakan bahwa bahan-bahan untuk membuat Mind Map

adalah:

1) Kertas kosong tak bergaris,

2) Pena dan pensil warna,

3) Otak, dan

4) Imajinasi.
16

Buzan (2008) mengatakan bahwa proses pembuatan sebuah Mind Map

terdiri atas 7 langkah yaitu:

1) Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan

mendatar (landscape).

2) Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral.

3) Gunakan warna.

4) Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan cabang-

cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya.

5) Buatlah garis hubung yang melengkung.

6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis.

7) Gunakan gambar.

Djohan (Saad, 2013) mengatakan bahwa proses pembuatan sebuah Mind

Map secara step by step dapat dibagi menjadi empat langkah yang harus dilakukan

secara berurutan yaitu:

1) Menentukan central topic yang akan dibuatkan Mind Map, biasanya adalah

judul buku atau judul bab yang akan dipelajari dan harus diletakkan ditengah

kertas serta usahakan berbentuk image/gambar.

2) Membuat Basic Ordering Ideas (BOIS) untuk central topic yang telah dipilih,

BOIS biasanya adalah judul bab atau sub-bab dari materi yang akan dipelajari

atau bisa juga dengan menggunakan 5WH (What, Why, Where, When, Who,

dan How).

3) Melengkapi setiap BOIS dengan cabang-cabang yang berisi data-data

pendukung yang terkait. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting
17

karena pada saat inilah seluruh data-data harus ditempatkan dalam setiap

cabang BOIS secara asosiatif dan menggunakan struktur radian yang menjadi

ciri yang paling khas dari suatu Mind Map.

4) Melengkapi setiap cabang dengan image baik berupa gambar, simbol, kode,

daftar, grafik dan garis penghubung bila ada BOIS yang saling terkait satu

dengan lainnya. Tujuan dari langkah ini adalah untuk membuat sebuah Mind

Map menjadi lebih menarik sehingga lebih mudah untuk dimengerti dan

diingat.

Sutanto (Saad, 2013) telah menyusun sejumlah aturan yang harus diikuti

agar Mind Map yang dibuat dapat memberikan manfaat yang optimal. Berikut

adalah ringkasan dari Law of Mind Map:

1) Kertas: polos dengan ukuran minimal A4 atau karton dengan orientasi

horizontal (landscape). Central topic diletakkan ditengah-tengah kertas dan

sedapat mungkin berupa image dengan minimal 3 warna.

2) Garis: lebih tebal BOIS dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan

semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan

panjang yang sama dengan panjang kata atau gambar yang ada di atasnya.

Seluruh garis harus tersambung ke pusat.

3) Kata: menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis.

Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf

yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat.
18

4) Gambar: gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, tabel dan

ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau

memungkinkan gunakan image yang 3 dimensi agar lebih menarik lagi.

5) Warna: gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5-6 warna. Warna berbeda

untuk setiap BOIS dan warna cabang harus mengikuti warna BOIS.

6) Struktur: menggunakan struktur radian dengan central topic terletak di

tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabang-cabangnya mnyebar ke segala

arah.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

langkah-langkah yang harus diperhatikan ketika akan membuat Mind Map yaitu:

1) Mempelajari suatu materi pelajaran secara keseluruhan.

Dalam mempelajari suatu materi pelajaran, siswa dibimbing oleh guru, siswa

membaca seluruh isi materi dan memahami materi secara keseluruhan.

Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing sehingga

diharapkan siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atas bimbingan

guru.

2) Menentukan ide-ide pokok.

Menentukan ide-ide pokok dalam hal ini siswa aktif. Menemukan dan

memilih kata-kata kunci atau istilah penting dari suatu materi pelajaran yang

telah dipelajari.

3) Membuat atau menyusun Mind Map

Membuat atau menyusun Mind Map dalam hal ini setelah siswa menemukan

seluruh kata-kata kunci atau istilah penting dari suatu materi pelajaran yang
19

telah dipelajari, kemudian siswa menyusun kata kunci tersebut menjadi suatu

struktur peta pikiran yang paling mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa.

b. Tahap-Tahap Mind Map dalam Pembelajaran

Secara rinci tahap pembelajaran matematika menggunakan strategi Mind

Map merujuk pada Buzan (2008) sebagaimana Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Tahap Strategi Pembelajaran Mind Map

Tahap Uraian
Tahap Persiapan 1. Pemenuhan alat belajar (kertas, pulpen atau
perlengkapan belajar lain yang dibutuhkan untuk
Mind Map).
2. Penjelasan KD.

Tahap Pemetaan 1. Identifikasi masalah matematika sesuai dengan KD


dengan memanfaatkan alat belajar.
2. Melakukan pemetaan konsep.

Tahap Evaluasi 1. Presentase hasil dan pengecekan ulang.

4. Deskripsi Pemahaman Konsep Matematika dengan Menggunakan


Strategi Pembelajaran Mind Map

Mempelajari matematika tidak cukup hanya dipelajari dengan membaca

saja. Memahami konsep matematika perlu memperhatikan konsep-konsep

sebelumnya. Matematika tersusun secara hierarkis yang satu sama lain berkaitan

dengan erat. Konsep lanjutan tidak akan dapat dipahami sebelum memahami

konsep sebelumnya yang menjadi prasyarat. Hal inilah menjadikan matematika

sulit. Ini terjadi dikarenakan siswa kurang mampu dalam memproses informasi

atau mengingat konsep matematika yang telah diajarkan (siswa cenderung belajar

hanya dengan mencatat apa yang disampaikan atau yang ditulis oleh guru di

papan tulis, daripada secara aktif membangun pemahaman mereka sendiri


20

terhadap konsep matematika tersebut) akibatnya banyak siswa yang gagal dalam

belajar matematika. Bila ini terus dibiarkan maka siswa tidak akan dapat

mengembangkan potensinya dan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa

juga tidak akan maksimal. Olehnya itu perlu ada strategi baru untuk menjawab

permasalahan ini.

Strategi mencatat yang baik harus membantu kita mengingat perkataan dan

bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi, dan memberikan wawasan

baru. Hal ini sejalan dengan pendapat Slameto (Saad, 2013) yang mengatakan

bahwa dalam membuat catatan sebaiknya tidak semua yang dikatakan oleh guru

itu ditulis tetapi diambil inti sarinya saja. Catatan yang baik, rapi dan lengkap

akan menambah semangat dalam belajar. Salah satu cara mencatat yang

memungkinkan terjadinya semua itu adalah strategi Mind Map. Strategi mencatat

ini didasarkan pada penelitian tentang cara otak memproses informasi dan bekerja

bersama otak kita. Buzan (2008) mengatakan bahwa para ilmuan sekarang

mengetahui bahwa otak mengambil informasi melalui campuran gambar, bunyi,

aroma, pikiran, dan warna-warni. Oleh karena itu, catatan yang baik daat dibuat

dalam bentuk Mind Map. Mind Map merupakan teknik pencatatan yang

menghubungkan konsep-konsep berdasarkan kreatifitas masing-masing siswa

terhadap suatu konsep dipetakan dalam struktur kognitifnya dan dapat diingat

dalam jangka waktu yang lama. Hasilnya berupa peta pikir yang setiap saat dapat

digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau soal-soal yang

berhubungan dengan konsep-konsep dalam peta pikir tersebut. Mind Map dapat

membantu siswa untuk memahami hubungan 4antara konsep. Dengan demikian


21

diharapkan dengan menggunakan strategi Mind Map dapat meningkatkan

pemahaman konsep matematika siswa.

Salah satu contoh Mind Map pada konsep persamaan kuadrat di tunjukkan

pada Gambar 2.1 berikut:

(Sumber: Iva, 2013)


Gambar 2.1. Contoh Mind Map
Gambar 2.1 Contoh Mind Map

Desain gambar Mind Map dapat bervariasi sesuai dengan kreativitas atau passion

(minat) siswa dalam memahami konsep materi yang dipelajari.


22

5. Faktorisasi Suku Aljabar

a. Pengertian Koefisien, Variabel, Konstanta, Dan Suku

1) Variabel

Variabel adalah lambang pengganti suatu bilangan yang belum diketahui

nilainya dengan jelas. Variabel disebut juga peubah.

2) Konstanta

Suku dari suatu bentuk aljabar yang berupa bilangan dan tidak memuat

variabel disebut konstanta.

3) Koefisien

Koefisien pada bentuk aljabar adalah faktor konstanta dari suatu suku pada

bentuk aljabar.

4) Suku

Suku adalah variabel beserta koefisiennya atau konstanta pada bentuk

aljabar yang dipisahkan oleh operasi jumlah atau selisih.

b. Operasi Hitung pada Bentuk Aljabar

1) Penjumlahan dan Pengurangan

Suku-suku sejenis adalah suku yang memiliki variabel dan pangkat

dari masing-masing variabel yang sama.

a) Sifat Komutatif

Jika a dan b merupakan bentuk ajabar maka berlaku sifat komutatif a + b = b

+ a.
23

b) Sifat Asosiatif

Jika a, b dan c merupakan bentuk aljabr maka berlaku sifat asosiatif a + (b +

c) = (a + b) + c

c) Sifat Distributif terhadap Penjumlahan dan Pengurangan

Jika a, b dan c merupakan bentuk aljabar maka berlaku:

(i) Sifat distributif penjumlahan, a (b + c) = ab + ac

(ii) Sifat distributif pengurangan, a (b – c) = ab – ac

2) Perkalian

a) Perkalian suatu bilangan dengan bentuk aljabar

k ( ax +b )=kax + kb

b) Perkalian Antara Bentuk Aljabar dan Bentuk Aljabar

( ax +b )( cx+ d )=ax ( cx +d ) +b (cx +d )

¿ ax ( cx ) +ax ( d ) +b ( cx ) +bd

2
¿ acx + ( ad +bc ) x+ bd

3) Pembagian

Berikut sifat-sifat yang berlaku pada pembagian bentuk aljabar. Untuk a

dan b bilangan bulat positif berlaku:

ax
y
=a x − y dan a x ×a y =a x + y
a
a)

b) Sifat distributif pemangkatan terhadap pembagian

( )
x

()
a x ax
b
ak a kx
= x dan k = kx
b b b
24

4) Perpangkatan bentuk aljabar

Operasi perpangkatan diartikan sebagai operasi perkalian berulang dengan

unsur yang sama. Untuk sebarang bilangan bulat a, berlaku


n
a =a × a ×a × … ×a

Sebanyak n kali

Demikian seterusnya untuk ( a+ b )n dengan n bilangan asli. Pangkat dari a

(unsur pertama) pada ( a+ b )n dimulai dari a n kemudian berkurang satu demi satu

dan terakhir a 1 pada suku ke-n. Sebaliknya, pangkat dari b 1 pada suku ke-2 lalu
1
n
bertambah satu demi satu dan terakhir b pada suku ke-(n+1).

c. Pemfaktoran Bentuk Aljabar

1) Bentuk ax +ay + az+ ¿… dan ax +bx−cx

ax +ay +az+.. .. .=a( x+ y+ z+. . .. )


ax +bx−cx=x (a+b−c )

2) Bentuk Selisih Dua Kuadrat x 2− y 2


2 2
x − y =( x− y )( x + y )

3) Bentuk x 2+ 2 xy + y 2 dan x 2−2 xy+ y 2


2 2 2
x + 2 xy + y = ( x+ y )( x + y )=( x + y )
2 2 2
x −2 xy+ y =( x− y ) ( x− y )= ( x− y )

4) Bentuk ax 2 +bx +c dengan a=1


2
x + bx+ c=( x +m )( x +n ) dengan m ×n=c dan

m+n=b
25

5) Bentuk ax 2 +bx +c dengan a ≠ 1, a ≠ 0

a. Menggunakan sifat distributif

ax 2 +bx+c=ax 2 + px+qx+c dengan


p×q=a×c dan
p+q=b
b. Menggunakan rumus

1
ax 2 +bx+c= ( ax +m ) ( ax +n ) dengan
a
m×n=a×c dan
m+n=b

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka yang telah diuraikan,

terlihat bahwa pembelajaran yang didominasi oleh guru tidak menumbuhkan

motivasi siswa untuk belajar sehingga menjadikan siswa pasif didalam

pembelajaran, yang berakibat rendahnya pemahaman konsep matematika siswa.

Melalui strategi Mind Map, akan mengubah anggapan-anggapan tersebut.

Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa.

Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa

berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban,

presentasi hasil diskusi kelompok, evaluasi dan refleksi.

Jadi, melalui strategi pembelajaran Mind Map, diharapkan seorang siswa

akan memiliki kreativifitas berpikir yang tinggi sehingga siswa tersebut dapat

meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika yang dimilikinya,

pengetahuan yang diperolehnya akan meningkat sesuai keterampilan yang


26

dimiliki seorang siswa dan mudah mengingat materi yang telah diajarkan. Oleh

karena itu, pembelajaran melalui strategi pembelajaran Mind Map dapat

meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.

Berdasarkan uraian di atas, kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat

disajikan dalam Gambar 2.2. berikut:

Pemahaman Konsep Matematika


Siswa Guru
Siswa Rendah

Strategi Pembelajaran
Mind Map

PTK

Pemahaman Konsep
Matematika Siswa Meningkat

Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian

Keterangan:
: Arah/ alur kegiatan
: Kegiatan

Anda mungkin juga menyukai