0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan34 halaman

Proposal Mini

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang disusun oleh Sri Wandari mengenai efek samping penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan di Puskesmas Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian efek samping pada akseptor KB suntik dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta memberikan manfaat bagi tenaga kesehatan dalam pelayanan KB. Latar belakang mencakup pentingnya program Keluarga Berencana dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan reproduksi.

Diunggah oleh

cahaya 3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan34 halaman

Proposal Mini

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang disusun oleh Sri Wandari mengenai efek samping penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan di Puskesmas Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian efek samping pada akseptor KB suntik dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta memberikan manfaat bagi tenaga kesehatan dalam pelayanan KB. Latar belakang mencakup pentingnya program Keluarga Berencana dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan reproduksi.

Diunggah oleh

cahaya 3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS BIOSTATISTIK

PROPOSAL MINI

Disusun Oleh :
SRI WANDARI
25152011066

Dosen Pengampun

UNIVERSITAS ALIFAH PADANG


AKULTAS KESEHATANDAN TEKNOLOGI
PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN PROGRAM RPL
TP. 2025/2026
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk merupakan salah satu permasalahan global
yang muncul di seluruh dunia, di samping isu tentang global warming,
keterpurukan ekonomi, masalah pangan serta menurunnya tingkat kesehatan
penduduk. Jadi, untuk mencegah ledakan populasi, kita perlu meningkatkan
upaya untuk mengurangi angka kelahiran. Pemerintah telah mencanangkan
beberapa program, salah satunya adalah program Keluarga Berencana (KB).
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) berupaya untuk
mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, dengan mengajak semua pihak
bekerja keras dalam melakukan beberapa upaya untuk mengurangi
pertambahan jumlah penduduk dengan menggunakan metode keluarga
berencana atau kontrasepsi (Djauharoh 2023).
Menurut BKKBN tahun 2018, Salah satu upaya pemerintah Dalam
menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah dengan program
Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi. Program KB yang
ditujukan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan mengajak
seluruh masyarakat pasangan usia subur untuk menjadi akseptor KB. Semakin
banyak penduduk yang turut berpartisipasi dalam program KB dan Kesehatan
Reproduksi, maka angka kenaikan laju pertumbuhan penduduk yang berlebihan
akan bisa di tekan (Pasaribu 2022)
Akses terhadap layanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi
(KB) sangat penting bagi kesehatan perempuan dan anak di seluruh dunia.
Meningkatkan akses terhadap layanan keluarga berencana di seluruh dunia
dapat membantu mencegah kematian ibu dan mengurangi kehamilan yang tidak
diinginkan. Sekitar 295.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat
komplikasi kehamilan dan persalinan, yang sebagian besar terjadi di negara
berkembang. Diperkirakan juga sekitar sepertiga kematian ibu setiap tahunnya
dapat dicegah jika perempuan yang tidak ingin hamil memiliki akses dan
menggunakan metode kontrasepsi yang efektif (Permatasari et al. 2022)
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi untuk
mengurangi kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T yaitu, Terlalu
muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun), Terlalu sering melahirkan, Terlalu
dekat jarak melahirkan, dan Terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun).
Selain itu, program KB juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga
agar dapat timbul rasa aman, tentram, dan harapan masa depan yang lebih baik
dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. Pelayanan
KB meliputi penyediaan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi keluarga
untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah
anak, berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti
mempunyai anak (Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya 2021).
Data menurut WHO menunjukkan bahwa jumlah penggunaan kontrasepsi
suntik di seluruh dunia yaitu sebanyak 4.000.000 atau sekitar
45%. Kemudian Amerika Serikat jumlah penggunaan kontrasepsi suntik
sebanyak 30% sedangkan untuk di Indonesia kontrasepsi suntik merupakan
salah satu kontrasepsi yang popular. Kontrasepsi di Indonesia yang paling
banyak diminati yaitu kontrasepsi suntik sebesar 56,01% (Badan Pusat Statistik,
2022).
Berdasarkan dari data BKKBN 2019 pada pemilihan jenis alat
kontrasepsi, sebagian besar peserta KB aktif memilih suntik (63,7%) dan pil
(17,0%) sebagai alat kontrasepsi bahkan lebih banyak didominasi (lebih dari
80%) dibanding metode lainnya seperti IUD (7,4%), Implant (7,4%),
Kondom (1,2%), MOW (2,7%), MOP (0,5%) (Juniastuti et al. 2023).
Berdasarkan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2020,
terlihat dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi, sebagian besar peserta KB Aktif
memilih suntikan sebagai alat kontrasepsi yang sangat dominan digunakan
(≥50%) dibanding metode lainnya. Kontrasepsi suntikkan (49,1%), padahal
suntikkan termasuk dalam metode kontrasepsi jangka pendek sehingga
keefektifitas suntikan dalam pengendalian kehamilan lebih rendah
dibandingkan jenis kontrasepsi lainnya (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan
Tengah, 2020).
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah jumlah Pasangan Usia
Subur (PUS) sebanyak 426.398 pasang. Dari seluruh PUS yang ada, sebanyak
311.270 PUS (71,4%) adalah peserta KB aktif. Besar peserta KB aktif memilih
alat KB suntik (43,7%), peserta PIL (12,5%), peserta implan (6,8%), peserta
IUD (4,7%), peserta MOW (2,1%), peserta kondom (1,4%) serta peserta KB
pria yakni MOP (0,2%) (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, 2019).
Menurut Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya bahwasannya alat
kontrasepsi yang paling diminati oleh peserta KB aktif dan peserts KB pasca
persalinan adalah suntik. Dengan pengguna peserta KB aktif angka
pencapaiannya yaitu Suntik (77,51%), Pil (19,42%), AKDR (0,66%), Implant
(1,68%), MOW (0,07%), MOP (0%), MAL (0%), dan kondom (0,67%).
Kemudian untuk pengguna Peserta KB pasca persalinan dengan pencapaian
angka yaitu Suntik (64,56%), Pil (29,89%), AKDR (1,36%), Implant
(3,07%), MOW (0%), MOP (0,07%), MAL (0%), dan kondom (1,05%)
(Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya 2021).
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti melalui
wawancara terhadap 10 orang akseptor KB Suntik 3 bulan yang mengalami
efek samping didapatkan 4 orang terganggu pola haidnya (amenorea) disertai
dengan perubahan berat badan dan sakit kepala, 3 orang terganggu pola
haidnya juga (amenorea) disertai dengan perubahan berat badan, 1 orang
mengalami perdarahan (spotting) disertai dengan perubahan berat badan dan
sakit kepala, kemudian 2 orang mengalami gangguan haid (metrorarghia)
disertai dengan perubahan berat badan, sakit kepala dan keputihan yang
dialami oleh ibu.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian lebih jauh tentang Gambaran Kejadian Efek Samping
Pada Akseptor KB Suntik 3 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng
Bangkirai Kota Palangka Raya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah Bagaimana Gambaran Kejadian Efek Samping Pada
Akseptor KB Suntik 3 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai
Kota Palangka Raya ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran kejadian efek samping pada akseptor KB
suntik 3 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai Kota
Palangka Raya.
2. Tujuan Khusus
1) Mengetahui gambaran akseptor KB suntik 3 bulan berdasarkan usia,
pendidikan, pekerjaan, paritas dan pengetahuan di Wilayah Kerja
Puskesmas Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya
2) Mengetahui gambaran kejadian efek samping akseptor KB suntik 3
bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai Kota
Palangka Raya
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Penulis
Penelitian ini sebagai sarana belajar dalam mengaplikasikan teori
yang di dapatkan, kemudian untuk menambah wawasan dalam
memahami tentang gambaran kejadian efek samping penggunaan KB
suntik 3 bulan dan meningkatkan kemampuan serta pengetahuan dalam
melakukan penelitian dalam lingkup kebidanan.
2. Manfaat Bagi Lahan Praktik
Dengan diketahuinya gambaran efek samping akseptor KB Suntik 3
bulan diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi tenaga kesehatan
dalam melaksanakan pelayanan KB yang berkualitas.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Keluarga Berencana
1. Pengertian Keluarga Berencana (KB)
WHO (World Health Organization) mendefinisikan bahwa keluarga
berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami
istri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran
yang tidak diinginkan dan menentukan jumlah anak, mendapatkan kelahiran
yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, dan
mengontrol waktu saat kelahiran dengan umur suami dan istri (Astiti 2021).
Keluarga Berencana yang selanjutnya disingkat KB adalah upaya
mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur
kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak
reproduksi untuk mewujudkan Keluarga yang berkualitas (BKKBN 2020).
2. Tujuan Program Keluarga Berencana
Tujuan program Keluarga Berencana adalah memperbaiki kesehatan
dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga, dan bangsa, mengurangi angka
kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa, memenuhi
permintaan masyarakat akan pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan
Reproduksi yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka
kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan
reproduksi (Astiti 2021).
2.2 Alat Kontrasepsi
1. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah cara atau alat yang digunakan dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya kehamilan. Penggunaan alat kontrasepsi akan
mencegah sel telur dan sel sperma bertemu, menghentikan produksi sel telur,
menghentikan penggabungan sel sperma dan sel telur yang telah dibuahi
yang menempel pada lapisan Rahim (Kemenkes 2022).

2. Jenis-jenis Kontrasepsi
Terdapat beberapa jenis alat kontrasepsi yang dapat digunakan antara
lain :
a. Metode Sederhana Tanpa Alat
1) Metode Kalender
Metode kalender disebut juga metode pantang berkala
dikarenakan metode ini dilakukan dengan cara menghindari
hubungan seksual pada masa subur atau ovulasi (Permatasari et al.
2022).
2) Senggama Terputus
Senggama terputus disebut juga coitus interuptus. Cara kerja
metode ini dengan mencabut alat kelamin pria yaitu, penis sebelum
terjadi ejakulasi saat melakukan hubungan seksual (Permatasari et
al. 2022).
3) Metode Amenora Laktasi (MAL)
Metode amenore laktasi merupakan metode kontrasepsi yang
dapat dilakukan pada wanita yang menyusui secara eksklusif
(memberikan ASI saja pada bayi berusia 0-6 bulan tanpa makanan
pendamping apapun) (Permatasari et al. 2022).
4) Metode Lendir Serviks
Metode lendir serviks merupakan metode kontrasepsi dengan
cara mengamati lendir serviks yang muncul pada fase ovulasi
(Permatasari et al. 2022).
5) Metode Suhu Basal
Cara kerja metode suhu basal pada prinsipnya yaitu
menentukan masa ovulasi dan menghindari hubungan seksual pada
masa tersebut dengan cara mengukur suhu terendah yang dicapai
tubuh ketika tubuh sedang beristirahat pada masa subur
(Permatasari et al. 2022).

6) Metode Simptothermal
Metode simptothermal merupakan metode gabungan dari
metode lendir serviks dan metode suhu basal. Metode ini lebih
akurat dikarenakan mengamati tanda ovulasi dengan dua gejala
sekaligus dibandingkan dengan hanya salah satu gejala (Permatasari
et al. 2022).
b. Metode Sederhana Dengan Alat
1) Kondom
Kondom merupakan alat kontrasepsi laki-laki berbahan dasar
lateks yang dipasangkan pada penis sebelum penetrasi. Prinsipnya
untuk mencegah sperma tumpah dalam vagina saat ejakulasi
sehingga tidak terjadi pertemuan sel sperma dengan sel telur
(Permatasari et al. 2022).
2) Diafragma
Diafragma merupakan alat kontrasepsi wanita berbahan lateks
yang berbentuk kubah dan dimasukan ke dalam vagina hingga
menutupi serviks sehingga mencegah pertemuan sel telur dan sel
sperma (Permatasari et al. 2022).
3) Spermisida
Spermisida merupakan alat kontrasepsi berbahan dasar kimia
yang bertujuan untuk menghambat pergerakan sperma, menurukan
kemampuan sperma dalam membuahi ovum serta dapat membunuh
sperma (Permatasari et al. 2022).
c. Metode Kontrasepsi Modern
1) Pil Progestin (Mini Pil)
Pil progestin merupakan alat kontrasepsi oral berbentuk pil
yang diminum setiap hari. Kontrasepsi ini lebih dikenal dengan
sebutan mini pil. Pil progestin mengandung hormon derivat
progestin (Permatasari et al. 2022).

2) Pil Kombinasi
Pil kombinasi tersedia dalam 3 jenis yakni monofasik yang
mengandung hormon estrogen dan progesteron dalam satu dosis
berbeda, bifasik dengan dua dosis yang berbeda, dan trifasik dengan
tiga dosis yang berbeda. Masing – masing dikemas dalam 21 tablet
pil aktif dan 7 pil plasebo (tidak ada kandungan hormon apapun)
(Permatasari et al. 2022).
3) Suntik
Merupakan metode kontrasepsi yang diberikan melalui
suntikan. Terdapat kontrasepsi Suntik Progestin disebut juga suntik
3 bulan, sebab kontrasepsi ini diberikan setiap 3 bulan sekali.
Kontrasepsi ini mengandung 150 mg hormon Depo Medroxy
Progesteron Asetat (DMPA) atau juga disebut Depo Provera.
Kemudiam terdapat kontrasepsi suntik kombinasi mengandung 25
mg hormon Medroxy Progesteron Asetat dan 5 mg estradiol
sipionat. Kontrasepsi ini diberikan setiap sebulan sekali sehingga
disebut juga suntik 1 bulan (Permatasari et al. 2022).
4) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (Implant)
Merupakan alat kontrasepsi jangka panjang di mana
penggunaannya dapat mencapai 5 tahun. Sesuai dengan namanya,
alat kontrasepsi ini diletakan di bawah kulit pada bagian lengan
sebelah atas. Implant berbentuk tabung silinder seukuran batang
korek api terbuat dari bahan karet silastik yang mengandung
hormon progestin levonogestrel sintesis (Permatasari et al. 2022).
5) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan alat
kontrasepsi yang dimasukan ke dalam rahim dan bekerja dengan
cara mencegah pertemuan sel tel telur dan sel sperma serta
mencegah terjadinya implantasi sel telur yang telah dibuahi dalam
endometrium. Kontrasepsi ini dapat digunakan hingga 12 tahun
(Permatasari et al. 2022).
6) Kontrasepsi Mantap (Vasektomi & Tubektomi)
Vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi pria.
Metode kontrasepsi ini dilakukan melalui pemotongan saluran vas
deferens pada sistem reproduksi laki-laki sehingga tidak terjadi
pengeluaran sperma saat ejakulasi (Permatasari et al. 2022).
Tubektomi merupakan metode kontrapsepsi mantap yang
dilakukan oleh wanita. Metode ini dilakukan melalui bedah
sederhana dengan cara pemotongan ataupun pengikatan saluran
tuba fallopii sehingga sperma yang masuk tidak dapat bertemu
dengan ovum (Permatasari et al. 2022).
2.3 Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Depo Medroxy Progesteron Asetat (DMPA)
1. Pengertian

KB suntik 3 bulan DMPA (Depo Medroxy Progesteron Asetat) atau


Depo Provera, diberikan sekali setiap 3 bulan dengan dosis 150 mg.
Diinjeksikan secara intramuscular di daerah bokong dan dianjurkan untuk
diberikan tidak lebih dari 12 minggu dan 5 hari setelah suntikan terakhir
(Astiti 2021).
Kontrasepsi suntik 3 bulan adalah kontrasepsi hormonal jenis suntikan
yang berisi Depo Medroksi Progesterone Asetat (DMPA) dengan dosis 150
mg/ml secara intramuscular (IM) setiap 12 minggu (Amalia Yunia
Rahmawati 2020).
Kontrasepsi suntik 3 bulan adalah jenis suntikan KB yang
mengandung hormon Depo Medroxy Progesterone Acetat (hormon
progestin) dengan volume 10 mg. Alat Kontrasepsi ini diberikan setiap 3
bulan atau 12 minggu. Suntikan pertama diberikan 7 hari pertama saat
periode menstruasi atau 6 minggu setelah persalinan. Jenis suntikan KB ini
ada yang dikemas cairan 1 ml atau 3 ml (Harahap 2019).

2. Efektivitas
KB suntik 3 bulan DMPA memiliki efektivitas yang tinggi dengan 0,3
kehamilan per 100 perempuan pertahun asal penyuntikan dilakukan secara
benar sesuai jadwal yang telah ditentukan. Efektivitas kontrasepsi suntik
adalah antara 99% dan 100% dalam mencegah kehamilan.
Kontrasepsi suntik adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif karena
angka kegagalan penggunaannya lebih kecil (Astiti 2021).
Efektivitas KB suntik dalam teori 97,75% dalam prektek 95-97%. KB
suntik dapat dipakai dalam waktu yang lama dan tidak mempengaruhi
produksi air susu ibu, baik untuk wanita calon akseptor yang tinggal
didaerah terpencil (Ika Maryasushanty, E. M. Y., Mulazimah, M., &
Nurahmawati 2022).
Kontrasepsi suntik memiliki efektivitas yang tinggi bila
penyuntikannya di lakukan secara teratur dan sesuai jadwal yang telah di
tentukan. Ketepatan waktu untuk suntik kembali merupakan kepatuhan
akseptor karena bila tidak tepat dapat mengurangi efektivitas kontrasepsi
tersebut. Kegagalan dari metode kontrasepsi suntik di sebabkan karena
keterlambatan akseptor melakukan penyuntikan ulang (Rahdiyaningrom et
al. 2021).
3. Cara Kerja
Cara kerja dari metode KB Suntik Progestin (Wuri 2023), yaitu:
a. Mencegah terjadinya ovulasi (pelepasan telur dari ovarium). Hal ini
dilakukan dengan cara menekan siklus puncak dari Luteinizing
Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH)
b. Mengentalkan lendir serviks, sehingga menghambat perjalanan
sperma
c. Menjadikan dinding endometrium tipis dan atrofi akibat progesterone
yang tinggi dan estrogen yang kurang, sehingga tidak
menguntungkan untuk implantasi sel telur yang telah dibuahi
d. Menghambat transportasi gamat oleh tuba.
4. Cara Pemberian
Menurut (Harahap 2021), Waktu Pemberian KB suntik yaitu:
a. Setelah melahirkan: 6 minggu pasca persalinan
b. Setelah keguguran: Setelah dilakukan kuretase atau 30 hari setelah
keguguran (asal ibu belum hamil lagi)
c. Dalam masa haid: hari pertama dan hari ke 5 masa haid.
5. Indikasi dan Kontra Indikasi
Indikasi pada pengguna KB suntik 3 bulan menurut (Susilowati
2023) yaitu :
a. Wanita usia reproduktif
b. Wanita yang telah memiliki anak
c. Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan memiliki efektifitas
tinggi
d. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui
f. Setelah abortus dan keguguran
g. Memiliki banyak anak tetapi belum menghendaki tubektomi
h. Masalah gangguan pembekuan darah
i. Menggunakan obat epilepsy dan tuberculosis.
Kontra Indikasi pada pengguna KB suntik 3 bulan menurut
(Susilowati 2023) yaitu :
a. Hamil atau dicurigai hamil
b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
c. Wanita yang tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid
d. Penderita kanker payudara atau ada riwayat kanker payudara
e. Penderita diabetes mellitus disertai komplikasi.
6. Keuntungan dan Kerugian
(Susilowati 2023) menyampaikan beberapa keuntungan penggunaan
KB suntik 3 bulan, diantaranya:
a. Sangat efektif
b. Pencegahan kehamilan jangka panjang
c. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d. Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius
terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah
e. Tidak mempengaruhi ASI
f. Dapat digunakan oleh perempuan usia lebih dari 35 tahun sampai
perimenopause
g. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
h. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
i. Mencegah beberapa penyakit radang panggul.
Menurut (Susilowati 2023) KB Suntik 3 bulan memiliki beberapa
kerugian, diantaranya:
a. Sering ditemukan ganguan haid
b. Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah
penghentian pemakaian
c. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
d. Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular
seksual, hepatitis B dan virus HIV
e. Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi perubahan lipid
serum.
7. Efek Samping
Lama pemakaian kontrasepsi adalah jangka waktu dalam
menggunakan alat atau cara pencegahan kehamilan, pada penggunaan jangka
panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, penurunan libido,
gangguan emosi, sakit kepala, nervositas dan jerawat. Selain itu, lama
pemakaian KB suntik 3 bulan juga dapat mengakibatkan adanya gangguan
menstruasi pada penggunaan > 1 tahun, pada awal penggunaan akan
mengalami perdarahan bercak tidak teratur, perdarahan banyak, perdarahan
diluar siklus haid dan pada pemakaian > 1 tahun terjadi amenorea (Sinaga
2021).
Varney (2018) menyatakan bahwa umumnya efek samping utama
pemakaian KB Suntik 3 bulan (DMPA) adalah kenaikan berat badan. Sebuah
penelitian melaporkan peningkatan berat badan lebih dari 2
kilogram pada tahun pertama dan selanjutnya meningkat secara bertahap
hingga mencapai 7,5 kilogram. Sedangkan pemakaian cyclofem berat badan
meningkat rata-rata 2-3 kilogram tahun pertama pemakaian dan terus
bertambah selama tahun kedua (Delta et al. 2023).
Akseptor KB suntik 3 bulan dikatakan pengguna baru, yaitu dengan
masa pemakaian kontrasepsi suntik selama 0-6 bulan atau 1-2 kali suntik,
pemakaian sedang selama 1-2,5 tahun, pemakaian lama selama >2,5 tahun.
Umum nya penggunaan KB secara hormonal selama maksimal 5 tahun.
Semakin lama masa pemakaian KB suntik akan menimbulkan beberapa
dampak baik yang secara langsung akan muncul atau muncul dalam waktu
yang lama, begitu pula bila masa pemakaian KB suntik tidak terlalu lama
kemungkinan untuk mengalami dampak bagi tubuhnya juga semakin kecil
(Juniastuti et al. 2023).
Berikut adalah efek samping dari penggunaan KB suntik 3 Bulan :
a. Gangguan Haid
1) Amenorea
Amenorea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan
berturut-turut. Amenorea dibedakan menjadi dua yaitu amenorea primer
merupakan masa remaja kurang dari 16 tahun belum pernah mengalami
menstruasi atau belum menampakkan tanda-tanda fisik seksual sekunder,
sedangkan amenorea sekunder bila wanita sudah menga menstruasi namun
kemudian tidak mengalami menstruasi dalam waktu 3-6 bulan (Susilowati
2023).
Keluhan gangguan menstruasi timbul karena adanya
ketidakseimbangan hormon pada pengguna kontrasepsi suntik 3 bulan. Hal
ini mengakibatkan perubahan histologi pada endometrium. Progesteron
dalam komponen KB suntik 3 bulan yakni DMPA menekan produksi
Luteinizing Hormon (LH) sehingga endometrium menjadi lebih tipis dan
atropis dengan berkurangnya aktifitas kelenjar pituitari anterior (Amalia
Yunia Rahmawati 2020).
Efek pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan terhadap amenorea
bertambah besar seiring dengan lamanya waktu pemakaian. Perubahan
menstruasi yang dialami wanita pengguna suntik KB 3 bulan dimulai dalam
bentuk perdarahan, bercak darah berlangsung selama tujuh hari atau lebih
serta perdarahan hebat selama beberapa bulan pemakaian, kejadiaan ini
bertahap sampai menjadi lebih jarang dengan durasi lebih pendek sampai
klien mengalami amenorea (Husaidah et al. 2023).
Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor
KB suntik DMPA mengalami amenorea sekunder (66,3%) dan ada
hubungan yang signifikan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik
DMPA dengan kejadian amenorea sekunder (Wuri 2023).
2) Spotting
Spotting merupakan perdarahan berupa tetesan atau bercak-bercak.
Keluarnya bercak darah selama penggunaan kontrasepsi hormonal
merupakan efek samping yang sering terjadi jika ringan atau tidak terlalu
mengganggu tidak perlu diberi obat. Spotting adalah keluarnya darah dari
vagina diluar siklus haid yang sedikit berupa bercak (Merlin 2020).
Spotting diduga disebabkan karena adanya peningkatan kadar
progesteron didalam plasma. Progesteron ini kemudian berikatan dengan
reseptor progesteron dan menimbulkan peningkatan vaskularisasi di
endometrium dan vena tersebut akhirnya rapuh sehingga terjadi perdarahan
lokal (Amalia Yunia Rahmawati 2020).
Spotting terjadi akibat ketidakseimbangan hormon- hormon di dalam
tubuh yaitu hormon estrogen dan progesterone, Akibat dari
ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh terjadilah pelebaran pembuluh
vena kecil di endometrium, yang menyebabkan rapuhnya vena, sehingga
terjadi perdarahan lokal (Mustika 2020).
Perdarahan lokal ini menyebabkan keluarnya bercak- bercak darah.
Apabila efek gestagen kurang, stabilitas stroma berkurang, pada akhirnya
terjadilah perdarahan. Efek samping yang timbul antara lain menstruasi yang
tidak teratur dan peningkatan berat badan serta pemulihan kesuburan
terlambat. Spotting dapat terjadi pada 15-20% akseptor KB suntik yang telah
menjalani beberapa kali suntikan. Hal ini bukanlah masalah yang serius dan
biasanya tidak memerlukan pengobatan (Mustika 2020).
3) Metrorarghia
Metrorarghia merupakan salah satu jenis perdarahan disfungsional yang
terjadi di luar siklus menstruasi. Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebutkan
bahwa metrorarghia di definisikan sebagai menstruasi pada interval siklus teratur
tetapi dengan aliran berlebihan dan durasi merupakan salah satu keluhan
ginekologis yang paling umum di ginekologi kontemporer (Hardi et al. 2022).
Metroragia adalah perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya
dengan menstruasi. Metroragia merupakan suatu perdarahan ireguler yang terjadi
diantara dua waktu yang lebih singkat dengan darah yang dikeluarkan lebih sedikit
(Hasibuan 2021).
Metrorarghia adalah perdarahan di luar siklus haid. Bila menstruasi terjadi
dengan interval tidak teratur atau jika terdapat insiden bercak darah atau
perdarahan diantara menstruasi (Harahap 2019).
Gangguan perdarahan yang dinamakan Metrorarghia terjadi karena
persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan
korpus luteum. Akibatnya terjadi hiperplasia endometrium karena stimulasi
estrogen yang berlebihan dan terus menerus (Fabiana Meijon Fadul 2019).
4) Menorarghia
Menorarghia adalah perdarahan menstruasi dengan jumlah darah lebih
banyak dan durasi lebih lama dari normal dengan siklus yang normal. Secara
klinis menorarghia didefinisikan dengan total jumlah darah menstruasi lebih
dari 80 ml dan durasi haid lebih lama dari 7 hari. Sulit menentukan jumlah
darah haid secara tepat. ([Link] et al. 2022).
Persepsi yang umum mengenai perdarahan berlebihan adalah apabila
tiga sampai empat pembalut sudah penuh selama empat jam. Jumlah
kehilangan darah yang dipertimbangkan normal selama menstruasi adalah 30
cc sejak penelitian yang dilakukan pada tahun 1960-an dan setiap perdarahan
yang lebih dari 80 cc dinyatakan perdarahan abnormal, seperti yang
dikatakan oleh Engstrom, bahwa batas 8 cc merupakan ukuran standar untuk
menetapkan menorarghia (Susilowati 2023).
WHO melaporkan 18 juta perempuan usia 30 - 55 tahun mengalarni
haid yang berlebih dan dari jumlah tersebut 10% termasuk dalam kategori
menorarghia (Sugiyanti 2023).
Komplikasi menorarghia pada wanita yang banyak kehilangan darah
selama siklus menstruasi adalah anemia defisiensi besi. Diagnosis dari
menorarghia ditegakkan jika pasien mengalami periode menstruasi pada
siklus yang teratur tetapi dengan aliran yang berlebihan yang dapat
berlangsung selama lebih dari 7 hari. Menorarghia dapat menyebabkan
perdarahan menstruasi lebih dari 80 ml dalam setiap siklus. Istilah
menorarghia telah digantikan dengan istilah perdarahan uterus abnormal
(Sugiyanti 2023).
5) Penyebab Gangguan Haid
Secara umum semua gangguan haid disebabkan karena adanya
ketidakseimbangan hormon sehingga endometrium mengalami perubahan.
Keadaan amenorea pada pengguna KB suntik 3 bulan disebabkan oleh atrofi
endometrium. (Susilowati 2023).
Penyebab amenorea primer umumnya lebih berat dan lebih sulit untuk
diketahui, seperti kelainan kongenital dan kelainan genetik sedangkan
amenorea sekunder lebih menunjuk pada sebab-sebab yang timbul dalam
kehidupan wanita seperti gangguan gizi, gangguan metabolisme, penyakit
infeksi dan lain-lain (Susilowati 2023). Metrorarghia dapat disebabkan oleh
kelainan organik pada alat genetalia atau kelainan fungsional. Bila penyebab
menorarghia dan metrorarghia adalah neoplasma, gangguan pembekuan
darah, penyakit kronis atau kelainan ginekologik, klien perlu dirujuk ke
spesialis (Susilowati 2023).

b. Perubahan Berat Badan


Penambahan berat badan disebabkan karena Hormon pada KB suntik
3 bulan dapat menstimulasi sekresi insulin dan menstimulasi nafsu makan di
hipotalamus sehingga terjadi peningkatan intake makanan pada pengguna
DMPA injeksi (Amalia Yunia Rahmawati 2020).
Kenaikan berat badan ini disebabkan karena hormon progesterone
yang mengakibatkan lambatnya pergerakan dari sistem pencernaan sehingga
meningkatkan penyerapan dan mengakibatkan kenaikan berat badan.
Progesterone juga mempermudah perubahan karbohidrat menjadi lemak dan
peningkatan nafsu makan akibat rangsangan terhadap pusat pengendalian
nafsu makan di hipotalamus (Wuri 2023).
Sebuah sistematik review menyebutkan bahwa pertambahan berat
badan merupakan salah satu alasan seseorang menolak untuk menggunakan
kontrasepsi hormonal. Akseptor mengalami peningkatan rasa lapar, nafsu
makan dan berat badan sebagai sisi efek hormonal kontrasepsi. Mereka juga
mengalami kecemasan dan penurunan di libido terkait dengan penambahan
berat badan (Wuri 2023).
c. Keputihan
Keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina yang berwarna putih
yang biasanya keluar menjelang haid atau pada masa kehamilan. Keputihan
biasanya terjadi menjelang ovulasi, badan lelah atau akibat rangsangan
seksual (Warsyena dan Wibisono 2021).
Fluor albus atau keputihan semakin sering timbul dengan kadar
estrogen yang lebih tinggi, hal ini disebabkan Lactobacillus memecah
glikogen menjadi asam laktat, sehingga menyebabkan lingkungan yang asam
dimana candida albicans tumbuh dengan subur. Alat genitalia terdapat
mekanisme pertahanan tubuh yang berupa bakteri yang menjadi pH vagina.
Normalnya angka keasaman pada vagina berkisar antara 3,8-4,2, sebagian
besar 95% adalah jenis bakteri Lactobacillus dan selebihnya adalah bakteri
pathogen. Keputihan terjadi karena peradangan atau infeksi yang disebabkan
oleh beberapa faktor, seperti posisi kantong rahim yang berubah-ubah atau
bakteri yang dapat menimbulkan pengendapan cairan darah putih pada
vagina, sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap, karena adanya
pembusukkan oleh bakteri dan mengandung penyakit. Keputihan juga
disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi mikroorganisme yaitu bakteri,
jamur, virus atau parasit, juga dapat disebabkan karena gangguan
keseimbangan hormon, stress, kelelahan kronis, peradangan alat kelamin,
benda asing dalam vagina, dan adanya penyakit dalam organ reproduksi
seperti kanker rahim, yang sering menimbulkan keputihan antara lain,
bakteri, jamur, virus, atau juga parasit (Widiawati 2018).
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan KB Suntik 3 Bulan
1. Usia
Usia merupakan lama waktu hidup atau ada, yaitu sejak dilahirkan atau
diadakan. Usia juga menjadi indikator dalam kedewasaan disetiap
pengambilan keputusan yang mengacu pada setiap pengalamannya. Usia
seseorang akan mempengaruhi perilaku sedemikian besar karena semakin
lanjut umurnya, maka semakin lebih besar tanggung jawab, lebih tertib,
lebih normal, lebih bermoral, lebih berbakti dari umur muda (Safitri 2021).
Masa kehamilan reproduksi wanita pada dasarnya dapat dibagi dalam
tiga periode, yakni kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi
sehat (20-35 tahun), dan kurun reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini
didasarkan atas data epidemiologi bahwa resiko kehamilan dan persalinan
baik bagi ibu maupun bagi anak lebih tinggi pada usia kurang dari 20
tahun, paling rendah pada usia 20-35 tahun dan meningkat lagi secara tajam
setelah lebih dari 35 tahun. Jenis kontrasepsi yang sebaiknya dipakai
disesuaikan dengan tahap masa reproduksi tersebut
(Merlin 2020).
Usia merupakan perhitungan lama waktu hidup seseorang sejak
dilahirkan sampai dengan saat penghitungan dilaksanakan. Wanita berusia
20-35 tahun merupakan fase menunda atau mencegah kehamilan, sehingga
wanita tersebut dapat memilih alat kontrasepsi dengan reversibilitas tinggi,
artinya kembali kesuburan dapat terjamin 100%. Metode kontrasepsi suntik
direkomendasikan kepada akseptor yang berusia 20-35 tahun karena metode
kontrasepsi suntik sangat efektif untuk menjarangkan kehamilan pada usia
tersebut. Untuk usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun tidak
direkomendasikan untuk menggunakan kontrasepsi suntik, karena terkait
dengan efek samping dari hormon yang terkandung didalam
kontrasepsi suntik tersebut, untuk umur diatas 35 tahun direkomendasikan
untuk menggunakan MKJP (Wuri 2023).
Usia seseorang mempengaruhi jenis kontrasepsi yang dipilih. Usia
diatas 20 tahun merupakan masa menjarangkan kehamilan atau mencegah
kehamilan sehingga pilihan mereka lebih memilih cenderung memakai
kontrasepsi. Usia merupakan suatu indeks perkembangan seseorang. Usia
individu terhitung mulai saat dilahirkan, semakin cukup usia, tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan
bekerja (Nurhayati, Azwa 2021).
2. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terancam untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam hal ini pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal, yaitu
jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan
rendah (SD dan SMP) dan pendidikan tinggi (SMA sampai Perguruan
Tinggi). Teori menunjukkan bahwa pendidikan formal sangat besar
pengaruhnya terhadap pengetahuan seseorang, bila seseorang berpendidikan
tinggi maka akan memiliki pengetahuan yang tinggi pula sebaliknya jika
seseorang memiliki pendidikan rendah akan memiliki
pengetahuan yang rendah dan akan mempengaruhi dalam memahami sesuatu
(Safitri 2021).

Tingkat pendidikan responden ikut menentukan pemilihan dalam jenis


kontrasepsi. Penelitian Sartika (2020) menunjukkan bahwa Pendidikan
berpengaruh terhadap penggunaan KB Suntik. Tingkat pendidikan
diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang
kesehatan termasuk penggunaan alat kontrasepsi. Hal ini karena tingkat
pendidikan akan membuat seseorang berpikir logis dan tanggap terhadap
berbagai informasi yang diterimanya. Pendidikan yang memadai dianggap
dapat menerima informasi yang berkaitan dengan cara kerja, manfaat dan
efek samping alat kontrasepsi yang nantinya akan digunakan. Tingkat
Pendidikan yang rendah mempengaruhi pengetahuan seseorang sehingga
responden yang berpendidikan rendah akan berkorelasi dengan rendahnya
pengetahuan responden tentang alat kontrasepsi (Wuri 2023).
Pendidikan merupakan sarana utama dan suksesnya tujuan
pelaksanaan keluarga berencana. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan
informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat
meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup, wanita berpendidikan tinggi
berkeinginan memiliki sedikit anak dibandingkan dengan yang
berpendidikan rendah (Nurhayati, Azwa 2021).
Seseorang dengan pendidikan yang tinggi akan memberikan respon
yang lebih rasional terhadap stimulus yang diterimanya dan akan
mempertimbangkan terkait keuntungan yang diperoleh dari suatu hal.
Dihipotesiskan bahwa wanita yang berpendidikan menginginkan Keluarga
Berencana yang efektif, tetapi tidak rela untuk mengambil risiko yang terkait
dengan sebagian metode kontrasepsi modern (Aulia 2022).
Kategori pendidikan berdasarkan UU No.20tahun 2003 Pasal 14 :
a. Pendidikan Dasar (SD, MI, MTs, SMP)
b. Pendidikan Menengah (SMA, MA, SMK, MAK)
c. Pendidikan Tinggi (diploma, sarjana, magister, doctor)

3. Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas aktifitas utama yang dilakukan manusia,
dalam arti sempit istilah pekerjaan digunakan untuk suatu kerja
menghasilkan uang bagi seseorang, dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini
sering dianggap sinonim dengan profesi, jadi dapat diartikan sebagai sesuatu
yang dikelurkan oleh seseorang sebagai profesi sengaja dilakukan untuk
mendapatkan penghasilan (Pratiwi 2021).
Pekerjaan akan berpengaruh terhadap pendapatan seseorang. Hal ini
mempengaruhi dalam pemilihan jenis kontrasepsi yang digunakan. Bila
responden tidak bekerja dan sumber pendapatan dalam keluarga itu hanya
dari penghasilan suami yang misalnya berpendapatan rendah, maka akseptor
lebih memilih menggunakan metode kontrasepsi yang relative lebih murah
(Wuri 2023).
Penelitian Camelia (2019) menunjukkan bahwa pekerjaan berpengaruh
terhadap pemilihan metode kontrasepsi suntik. Kelompok berpendapatan
rendah mempunyai akses yang lebih besar terhadap pelayanan apabila
program disubsidi oleh pemerintah dengan memberikan dukungan pelayanan
KB secara gratis atau bayar murah kepada ibu yang berpenghasilan rendah
(Wuri 2023).
4. Paritas
Seseorang yang berparitas lebih dari satu sudah seharusnya menjadi
akseptor KB untuk mengatur atau menjarangkan kehamilannya, tetapi di
masa ini banyak akseptor KB yang masih mengalami kesulitan dalam
menentukan pilihannya. Penelitian Nilawati (2020) menunjukkan bahwa
paritas berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi suntik. Paritas
dihubungan dengan pengalamannya sebagai seorang ibu, kenyataan yang
terjadi di masyarakat dimasa ini, dalam rumah tangga ibu belajar dari
pengalaman-pengalaman sebelumnya dalam arti ibu lebih pandai jika belajar
dari apa yang dialaminya sendiri dalam kemampuan ibu untuk
memutuskan sendiri kontrasepsi apa yang baik untuk digunakan oleh ibu
(Wuri 2023).
Kemungkinan seorang ibu untuk menambah kelahiran tergantung
kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Seorang ibu mungkin
menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan
juga umur anak yang masih hidup. Semakin sering seorang ibu melahirkan
anak, maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Hal
ini berarti jumlah anak akan sangat mempengaruhi
kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal
(Merlin 2020).
Paritas merupakan total jumlah anak yang dilahirkan hidup maupun
mati oleh seorang wanita. Seorang wanita yang memiliki paritas tinggi
cenderung memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih dibandingkan
dengan tingkat paritas yang lebih rendah. Selain itu, salah satu hal yang
mendorong seorang Ibu memutuskan untuk mengikuti program Keluarga
Berencana (KB) adalah apabila ia merasa bahwa ia sudah cukup dengan
jumlah anak yang dimilikinya (Aulia 2022).
Ibu yang telah memilki dua anak dianjurkan untuk menggunakan alat
kontrasepsi sehingga kemungkinan untuk mengalami kehamilan lagi dapat
ditekan. Indahwati & Wati (2017) membagi paritas menjadi 3 kategori,
yaitu: paritas rendah, jika jumlah anak kurang dari 2; Paritas sedang, jika
jumlah anak antara 2 sampai 3; Paritas tinggi, jika jumlah anak lebih dari 4
(Aulia 2022).
5. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Tanpa adanya
pengetahuan seseorang tidak akan memiliki dasar dalam pengambilan
sebuah keputusan serta menentukan tindakan maupun solusi terhadap
pemasalahan yang dihadapi (Safitri 2021).
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melaluiproses
sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek
tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya
perilaku terbuka atau open behavior (Nurhayati, Azwa 2021).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba (Pratiwi 2021). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di
dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu:
1) Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahiu terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus/objek tertentu, di sini sikap
subjek sudah mulai timbul.
3) Evalution (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya terhadap
stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah
tidak baik lagi.
4) Trial, dimana subjek sudah mulai melakukan sesuatu dengan apa yang
dikehendaki.
5) Adopsi, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai denagn
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus (Pratiwi 2021).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Evi Eriyanti Hasibuan (2021)
menyebutkan bahwa tidak ada pengaruh pengetahuan PUS dalam penggunaan
KB suntik 3 bulan.
6. Sosial Ekonomi
Pendapatan memiliki pengaruh terhadap keikutsertaan seseorang
dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pendapatan seseorang tidak
dapat diukur sepenuhnya dari pekerjaan (Nurhayati, Azwa 2021).
Menurut Badan Pusat Statistik pendapatan keluarga adalah pendapatan
yang diterima oleh keluarga bersangkutan baik berasal dari pendapatan
kepala rumah tangga. Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari balas jasa
faktor produksi tenaga kerja (Nurhayati, Azwa 2021).

7. Dukungan Suami
Dukungan suami adalah upaya yang diberikan oleh suami baik secara
mental, fisik maupun sosial. Peran suami dalam kesehatan reproduksi
khususnya pada keluarga berencana sangat berpengaruh terhadap kesehatan,
seperti: peran suami sebagai motivator, Peran suami sebagai edukator, Peran
suami sebagai fasilitator (Nurhayati, Azwa 2021)
8. Dukungan Tenaga Kesehatan (Bidan)
Peran bidan adalah upaya yang diberikan oleh bidan baik secara
mental, fisik maupun sosial kepada individu dengan memberikan
kenyamanan fisik dan psikologis, perhatian, penghargaan, maupun bantuan
dalam bentuk lain (Nurhayati, Azwa 2021).
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng
Bangkirai Kota Palangka Raya. Adapun alasan peneliti memilih lokasi
penelitian ini karena Puskesmas Kereng Bangkirai merupakan puskesmas
ke-6 pengguna KB suntik dan jenis KB yang banyak di minati oleh semua
akseptor KB di Puskesmas ini adalah jenis KB suntik 3 bulan dengan jumlah
akseptor KB suntik 3 bulan pada tahun 2019-2021 sebanyak 704.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian untuk proses pengambilan data dilaksanakan pada
bulan Januari sampai dengan Maret 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas
Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya.
3.2 Subjek Penelitian
1. Populasi
Menurut Sugiyono dalam Hermawan, (2019) Populasi adalah domain
umum yang terdiri dari objek/subyek yang memiliki kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi benda
dan benda alam lainnya. Populasi bukan hanya sekedar jumlah objek/subyek
yang diteliti, tetapi mencakup semua ciri/sifat yang dimiliki oleh subjek atau
objek tersebut.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB suntik 3
bulan yang berkunjung dari bulan Januari sampai dengan Maret 2024 di
Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi. Kalimat ini mempunyai dua
arti, yaitu pertama, semua unit populasi harus mempunyai peluang untuk
diambil sebagai unit sampling, dan kedua, sampel dilihat dari penaksir
populasi atau sebagai populasi yang berbentuk kecil. Ini berarti
bahwa ukuran sampel harus cukup untuk menggambarkan populasi (Roflin
dan Liberty, 2021).
Menurut Pabundu Tika dalam Hermawan, (2019) Sampel adalah
bagian dari subjek atau objek yang mewakili populasi. Pengambilan sampel
harus konsisten dengan kualitas dan karakteristik suatu populasi.
Pengambilan sampel yang tidak sesuai dengan kualitas dan karakteristik
suatu populasi akan menghasilkan penelitian yang bias, tidak dapat
diandalkan, dan kesimpulan yang mungkin salah. Itu karena dia tidak bisa
mewakili populasi.
Teknik Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
accidental sampling. Menurut Sugiyono (2019) teknik accidental sampling
merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja
yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel,
bila dipandang orang yang kebetulan ditemui cocok dengan kriteria yang
telah ditentukan oleh peneliti.
Sampel dalam penelitian ini adalah akseptor KB suntik 3 bulan di
Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya yang telah
memenuhi kriteria berikut ini :
Pada penelitian ini menggunakan kriteria Inklusi dan eksklusi.
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi merupakan kriteria sampel yang diinginkan
peneliti berdasarkan tujuan penelitian (Florian 2021). Kriteria yang
ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :Ibu yang
menggunakan KB suntik 3 bulan > 1 tahun yang datang di tempat
penelitian
1) Ibu yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani
informed consent saat pengambilan data
data dari sampel sekurang-kurangnya sejumlah 110 orang.
3.3 Variabel Penelitian
Pengertian variabel penelitian menurut Sugiyono (2020:68) adalah suatu
karakteristik atau atribut dari individu atau organisasi yang dapat diukur atau di
observasi yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dijadikan pelajaran dan kemudian ditarik kesimpulannya.
1. Variabel Dependen
variabel dependen atau terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen atau bebas
(Rimbawati 2020). Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen
adalah Kejadian efek samping dalam penggunaan KB suntik 3 bulan.
2. Variabel Independen
Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel
terikat (Rimbawati 2020). Pada penelitian ini sebagai variabel independen
adalah usia, pendidikan, pekerjaan, paritas dan pengetahuan yang
menyebabkan terjadinya efek samping dari penggunaan KB suntik 3 bulan.
3.4 Definisi Operasional
Menurut (Nurdin et al., 2019) definisi operasional adalah mendefinisikan
variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati yang
memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara
cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Mendefinisikan variabel secara
operasional adalah menggambarkan atau mendeskripsikan variabel penelitian
sedemikian rupa, sehingga variabel tersebut bersifat spesifik (tidak
berinterpretasi ganda) dan terukur (observable atau measureable) (Rimbawati
2020).
3.5 Instrumen Penelitian
Alat ukur yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian adalah
kuesioner dan observasi. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden, dan observasi cara
pengumpulan data dengan melihat langsung ke objek penelitian dan mencatat
secara sistematis semua data yang diperoleh. Pengamatan dilakukan untuk
mencocokkan data yang telah diperoleh melalui wawancara terhadap keadaan
yang sesungguhnya, guna mendapatkan data yang lebih andal dan akurat yang
berkaitan dengan variabel penelitian yakni gambaran kejadian efek samping
akseptor KB suntik 3 bulan.
Alat atau instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner tingkat
pengetahan ibu tentang efek samping KB Suntik 3 bulan yang mengadopsi dari
penelitian sebelumnya yaitu penelitian oleh Nur Indah Sumarmini tahun 2010
dengan judul penelitian “Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Efek Samping
KB Suntik DMPA Di BPS Muryati Kalasan Sleman Yogyakarta”. Uji
validitas dan reliabilitas di lakukan oleh Nurjanah (2009) dalam Nur Indah
Sumarmini (2010) dengan menggunakan software komputer.
Uji validitas dan realibilitas sudah dilakukan oleh Nurjanah di BPS Leni
Indrawati Berbah Sleman pada tahun 2009 dan dilanjutkan oleh Nur Indah
Sumarmini di BPS Muryati Kalasan Sleman pada tahun 2010 terhadap 20
responden. Hasil uji validitas menggunakan software komputer menunjukkan
dari jumlah 30 item soal terdapat 4 item soal yang tidak valid yaitu pada nomor
soal ke- 6, 16, 27 dan 30. Kemudian dari soal yang tidak valid dibuang dan
menggunakan 26 item soal yang valid untuk digunakan dalam soal kuesioner
tingkat pengetahuan. Hasil uji reliabilitas kuesioner menggunakan software
komputer menunjukkan bahwa hasil uji validitas sebesar 0,413 dan realibilitas
0,962 untuk kuesioner pengetahuan. Hasil tersebut sudah menunjukkan bahwa
kuesioner yang dibuat sudah valid dan reliabel sebagai alat pengumpulan data
(Sumarmini 2010)
Apabila benar mendapat skor 1, apabila salah mendapat skor 0. Soal yang
kosong dianggap salah dan mendapat skor 0. Total skor maksimal adalah 26 dan
skor minimal adalah 0. Skor dari setiap responden dijumlahkan kemudian dibagi
dengan total jumlah soal dan dikalikan dengan 100% sehingga didapatkan hasil
Dalam bentuk persentase. Berdasarkan hasil dari perhitungan, kemudian hasilnya
di interpresentasikan dalam beberapa kategori yaitu:
1) Baik : 76%-100%
2) Cukup : 56%-75%
3) Kurang : <55%.
Adapun kisi-kisi kuisioner yang akan di gunakan untuk penelitian ini adalah
sebagai berikut :

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang
diambil dari hasil jawaban kuesioner yang diberikan kepada ibu akseptor KB
suntik 3 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai. Prosedur yang
dilakukan peneliti melalui beberapa tahapan yaitu :
1. Menentukan sasaran populasi serta sampel yang akan digunakan dalam
penelitian
2. Membuat surat permohonan studi pendahuluan yang telah di tandatangani
oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Palangka Raya untuk mendapatkan
jumlah data pengguna KB suntik 3 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng
Bangkirai
3. Mengajukan surat permohonan studi pendahuluan yang telah di
tandatangani oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Palangka Raya ke tempat
penelitian
4. Pengajuan lulus etik penelitian kepada Dinas Penanaman Modal dan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Palangka Raya
5. Membuat surat izin penelitian kepada Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Palangka Raya
6. Mengajukan surat permohonan penelitian dari Poltekes Kemenkes Palangka
Raya, kemudian menyerahkan surat ijin penelitian ditempat yang telah
ditentukan
7. Setelah mendapatkan izin, peneliti kemudian melakukan pengambilan data
dengan menggunakan metode accidental sampling
8. Kemudian peneliti melakukan kontrak waktu kepada responden
9. Memberikan Informed Consent/persetujuan menjadi responden
10. Setelah itu memberikan kuesioner kepada responden agar dapat dijawab
dengan baik
11. Sebelum melakukan pengisian kuesioner peneliti memberikan arahan dalam
pengisian kuesioner yang telah diberikan serta melakukan penjelasan apabila
responden mengalami kesulitan/ingin bertanya dalam melakukan pengisian
kuesioner dan memberikan waktu kepada responden untuk menjawab semua
pertanyaan sesuai dengan petunjuk
12. Setelah kuesioner telah dijawab oleh responden, kuesioner kemudian
diserahkan kembali kepada peneliti. Peneliti kemudian memeriksa
kelengkapan semua kuesioner yang telah dijawab oleh responden
13. Melakukan pengolahan dan analisis data serta penyusunan laporan hasil
penelitian dari hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden dan
melakukan publikasi hasil penelitian.
3.7 Etika Penelitian
Etika penelitian adalah suatu pedoman etika yang berlaku untuk setiap
kegiatan penelitian yang melibatkan antara pihak peneliti, pihak yang diteliti
(subjek peneliti) dan masyarakat yang akan memperoleh dampak hasil penelitian
tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan etika penelitian. Prinsip
etik diterapkan dalam kegiatan penelitian dimulai dari penyusunan proposal
hingga penelitian ini di publikasikan (Notoatmodjo, 2018).
Dalam melakukan penelitian, peneliti harus memahami prinsip-prinsip
etika penelitian. Hal ini dilaksanakan agar peneliti tidak melanggar hak-hak
(otonomi) manusia yang menjadi subjek penelitian (Nursalam, 2017).
Menurut Notoatmodjo (2018), penulis menekankan pada masalah etika
dalam melakukan penelitian ini, antara lain:
1. Persetujuan (Informed Consent)
Prinsip yang harus diikuti sebelum mengumpulkan data atau
mewawancarai subjek adalah meminta izin terlebih dahulu. Sebelum
melakukan penelitian, peneliti memberikan lembar persetujuan (Informed
Consent) pada responden yang diteliti dan responden menandatangani
setelah membaca dan memahami isi formulir persetujuan serta setuju untuk
berpartisipasi dalam kegiatan penelitian. Peneliti menjelaskan manfaat
penelitian, peneliti tidak memaksa responden yang menolak untuk diteliti,
dan menghormati pilihan responden. Responden memiliki kebebasan untuk
berpartisipasi atau memilih ketidakikutsertaan dalam menjadi responden
(Agustin 2022).
2. Tanpa Nama (Anonymity)
Etika penelitian yang harus dijalankan oleh peneliti adalah prinsip
anoniymity. Prinsip ini dilaksanakan dengan tidak mencantumkan nama
responden dalam hasil penelitian, tetapi responden diminta untuk mengisi
huruf depan namanya dan semua kuesioner yang diisi hanya diberi nomor
kode, yang tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi identitas dari
responden. Apabila penelitian ini dipublikasikan, mka tidak akan ada
identifikasi terkait dengan responden yang dipublikasikan (Agustin 2022).
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
Prinsip ini diterapkan dengan tidak mengungkapkan identitas dan
semua data atau informasi apa pun yang terkait dengan responden kepada
orang lain. Peneliti harus menyimpan data di lokasi yang aman dan tidak
akan dapat terbaca oleh orang lain. Setelah penelitian selesai dilakukan,
peneliti harus memusnahkan semua informasi (Agustin 2022)

Anda mungkin juga menyukai