Proposal Mini
Proposal Mini
PROPOSAL MINI
Disusun Oleh :
SRI WANDARI
25152011066
Dosen Pengampun
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Keluarga Berencana
1. Pengertian Keluarga Berencana (KB)
WHO (World Health Organization) mendefinisikan bahwa keluarga
berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami
istri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran
yang tidak diinginkan dan menentukan jumlah anak, mendapatkan kelahiran
yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, dan
mengontrol waktu saat kelahiran dengan umur suami dan istri (Astiti 2021).
Keluarga Berencana yang selanjutnya disingkat KB adalah upaya
mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur
kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak
reproduksi untuk mewujudkan Keluarga yang berkualitas (BKKBN 2020).
2. Tujuan Program Keluarga Berencana
Tujuan program Keluarga Berencana adalah memperbaiki kesehatan
dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga, dan bangsa, mengurangi angka
kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa, memenuhi
permintaan masyarakat akan pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan
Reproduksi yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka
kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan
reproduksi (Astiti 2021).
2.2 Alat Kontrasepsi
1. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah cara atau alat yang digunakan dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya kehamilan. Penggunaan alat kontrasepsi akan
mencegah sel telur dan sel sperma bertemu, menghentikan produksi sel telur,
menghentikan penggabungan sel sperma dan sel telur yang telah dibuahi
yang menempel pada lapisan Rahim (Kemenkes 2022).
2. Jenis-jenis Kontrasepsi
Terdapat beberapa jenis alat kontrasepsi yang dapat digunakan antara
lain :
a. Metode Sederhana Tanpa Alat
1) Metode Kalender
Metode kalender disebut juga metode pantang berkala
dikarenakan metode ini dilakukan dengan cara menghindari
hubungan seksual pada masa subur atau ovulasi (Permatasari et al.
2022).
2) Senggama Terputus
Senggama terputus disebut juga coitus interuptus. Cara kerja
metode ini dengan mencabut alat kelamin pria yaitu, penis sebelum
terjadi ejakulasi saat melakukan hubungan seksual (Permatasari et
al. 2022).
3) Metode Amenora Laktasi (MAL)
Metode amenore laktasi merupakan metode kontrasepsi yang
dapat dilakukan pada wanita yang menyusui secara eksklusif
(memberikan ASI saja pada bayi berusia 0-6 bulan tanpa makanan
pendamping apapun) (Permatasari et al. 2022).
4) Metode Lendir Serviks
Metode lendir serviks merupakan metode kontrasepsi dengan
cara mengamati lendir serviks yang muncul pada fase ovulasi
(Permatasari et al. 2022).
5) Metode Suhu Basal
Cara kerja metode suhu basal pada prinsipnya yaitu
menentukan masa ovulasi dan menghindari hubungan seksual pada
masa tersebut dengan cara mengukur suhu terendah yang dicapai
tubuh ketika tubuh sedang beristirahat pada masa subur
(Permatasari et al. 2022).
6) Metode Simptothermal
Metode simptothermal merupakan metode gabungan dari
metode lendir serviks dan metode suhu basal. Metode ini lebih
akurat dikarenakan mengamati tanda ovulasi dengan dua gejala
sekaligus dibandingkan dengan hanya salah satu gejala (Permatasari
et al. 2022).
b. Metode Sederhana Dengan Alat
1) Kondom
Kondom merupakan alat kontrasepsi laki-laki berbahan dasar
lateks yang dipasangkan pada penis sebelum penetrasi. Prinsipnya
untuk mencegah sperma tumpah dalam vagina saat ejakulasi
sehingga tidak terjadi pertemuan sel sperma dengan sel telur
(Permatasari et al. 2022).
2) Diafragma
Diafragma merupakan alat kontrasepsi wanita berbahan lateks
yang berbentuk kubah dan dimasukan ke dalam vagina hingga
menutupi serviks sehingga mencegah pertemuan sel telur dan sel
sperma (Permatasari et al. 2022).
3) Spermisida
Spermisida merupakan alat kontrasepsi berbahan dasar kimia
yang bertujuan untuk menghambat pergerakan sperma, menurukan
kemampuan sperma dalam membuahi ovum serta dapat membunuh
sperma (Permatasari et al. 2022).
c. Metode Kontrasepsi Modern
1) Pil Progestin (Mini Pil)
Pil progestin merupakan alat kontrasepsi oral berbentuk pil
yang diminum setiap hari. Kontrasepsi ini lebih dikenal dengan
sebutan mini pil. Pil progestin mengandung hormon derivat
progestin (Permatasari et al. 2022).
2) Pil Kombinasi
Pil kombinasi tersedia dalam 3 jenis yakni monofasik yang
mengandung hormon estrogen dan progesteron dalam satu dosis
berbeda, bifasik dengan dua dosis yang berbeda, dan trifasik dengan
tiga dosis yang berbeda. Masing – masing dikemas dalam 21 tablet
pil aktif dan 7 pil plasebo (tidak ada kandungan hormon apapun)
(Permatasari et al. 2022).
3) Suntik
Merupakan metode kontrasepsi yang diberikan melalui
suntikan. Terdapat kontrasepsi Suntik Progestin disebut juga suntik
3 bulan, sebab kontrasepsi ini diberikan setiap 3 bulan sekali.
Kontrasepsi ini mengandung 150 mg hormon Depo Medroxy
Progesteron Asetat (DMPA) atau juga disebut Depo Provera.
Kemudiam terdapat kontrasepsi suntik kombinasi mengandung 25
mg hormon Medroxy Progesteron Asetat dan 5 mg estradiol
sipionat. Kontrasepsi ini diberikan setiap sebulan sekali sehingga
disebut juga suntik 1 bulan (Permatasari et al. 2022).
4) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (Implant)
Merupakan alat kontrasepsi jangka panjang di mana
penggunaannya dapat mencapai 5 tahun. Sesuai dengan namanya,
alat kontrasepsi ini diletakan di bawah kulit pada bagian lengan
sebelah atas. Implant berbentuk tabung silinder seukuran batang
korek api terbuat dari bahan karet silastik yang mengandung
hormon progestin levonogestrel sintesis (Permatasari et al. 2022).
5) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan alat
kontrasepsi yang dimasukan ke dalam rahim dan bekerja dengan
cara mencegah pertemuan sel tel telur dan sel sperma serta
mencegah terjadinya implantasi sel telur yang telah dibuahi dalam
endometrium. Kontrasepsi ini dapat digunakan hingga 12 tahun
(Permatasari et al. 2022).
6) Kontrasepsi Mantap (Vasektomi & Tubektomi)
Vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi pria.
Metode kontrasepsi ini dilakukan melalui pemotongan saluran vas
deferens pada sistem reproduksi laki-laki sehingga tidak terjadi
pengeluaran sperma saat ejakulasi (Permatasari et al. 2022).
Tubektomi merupakan metode kontrapsepsi mantap yang
dilakukan oleh wanita. Metode ini dilakukan melalui bedah
sederhana dengan cara pemotongan ataupun pengikatan saluran
tuba fallopii sehingga sperma yang masuk tidak dapat bertemu
dengan ovum (Permatasari et al. 2022).
2.3 Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Depo Medroxy Progesteron Asetat (DMPA)
1. Pengertian
2. Efektivitas
KB suntik 3 bulan DMPA memiliki efektivitas yang tinggi dengan 0,3
kehamilan per 100 perempuan pertahun asal penyuntikan dilakukan secara
benar sesuai jadwal yang telah ditentukan. Efektivitas kontrasepsi suntik
adalah antara 99% dan 100% dalam mencegah kehamilan.
Kontrasepsi suntik adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif karena
angka kegagalan penggunaannya lebih kecil (Astiti 2021).
Efektivitas KB suntik dalam teori 97,75% dalam prektek 95-97%. KB
suntik dapat dipakai dalam waktu yang lama dan tidak mempengaruhi
produksi air susu ibu, baik untuk wanita calon akseptor yang tinggal
didaerah terpencil (Ika Maryasushanty, E. M. Y., Mulazimah, M., &
Nurahmawati 2022).
Kontrasepsi suntik memiliki efektivitas yang tinggi bila
penyuntikannya di lakukan secara teratur dan sesuai jadwal yang telah di
tentukan. Ketepatan waktu untuk suntik kembali merupakan kepatuhan
akseptor karena bila tidak tepat dapat mengurangi efektivitas kontrasepsi
tersebut. Kegagalan dari metode kontrasepsi suntik di sebabkan karena
keterlambatan akseptor melakukan penyuntikan ulang (Rahdiyaningrom et
al. 2021).
3. Cara Kerja
Cara kerja dari metode KB Suntik Progestin (Wuri 2023), yaitu:
a. Mencegah terjadinya ovulasi (pelepasan telur dari ovarium). Hal ini
dilakukan dengan cara menekan siklus puncak dari Luteinizing
Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH)
b. Mengentalkan lendir serviks, sehingga menghambat perjalanan
sperma
c. Menjadikan dinding endometrium tipis dan atrofi akibat progesterone
yang tinggi dan estrogen yang kurang, sehingga tidak
menguntungkan untuk implantasi sel telur yang telah dibuahi
d. Menghambat transportasi gamat oleh tuba.
4. Cara Pemberian
Menurut (Harahap 2021), Waktu Pemberian KB suntik yaitu:
a. Setelah melahirkan: 6 minggu pasca persalinan
b. Setelah keguguran: Setelah dilakukan kuretase atau 30 hari setelah
keguguran (asal ibu belum hamil lagi)
c. Dalam masa haid: hari pertama dan hari ke 5 masa haid.
5. Indikasi dan Kontra Indikasi
Indikasi pada pengguna KB suntik 3 bulan menurut (Susilowati
2023) yaitu :
a. Wanita usia reproduktif
b. Wanita yang telah memiliki anak
c. Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan memiliki efektifitas
tinggi
d. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui
f. Setelah abortus dan keguguran
g. Memiliki banyak anak tetapi belum menghendaki tubektomi
h. Masalah gangguan pembekuan darah
i. Menggunakan obat epilepsy dan tuberculosis.
Kontra Indikasi pada pengguna KB suntik 3 bulan menurut
(Susilowati 2023) yaitu :
a. Hamil atau dicurigai hamil
b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
c. Wanita yang tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid
d. Penderita kanker payudara atau ada riwayat kanker payudara
e. Penderita diabetes mellitus disertai komplikasi.
6. Keuntungan dan Kerugian
(Susilowati 2023) menyampaikan beberapa keuntungan penggunaan
KB suntik 3 bulan, diantaranya:
a. Sangat efektif
b. Pencegahan kehamilan jangka panjang
c. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d. Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius
terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah
e. Tidak mempengaruhi ASI
f. Dapat digunakan oleh perempuan usia lebih dari 35 tahun sampai
perimenopause
g. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
h. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
i. Mencegah beberapa penyakit radang panggul.
Menurut (Susilowati 2023) KB Suntik 3 bulan memiliki beberapa
kerugian, diantaranya:
a. Sering ditemukan ganguan haid
b. Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah
penghentian pemakaian
c. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
d. Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular
seksual, hepatitis B dan virus HIV
e. Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi perubahan lipid
serum.
7. Efek Samping
Lama pemakaian kontrasepsi adalah jangka waktu dalam
menggunakan alat atau cara pencegahan kehamilan, pada penggunaan jangka
panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, penurunan libido,
gangguan emosi, sakit kepala, nervositas dan jerawat. Selain itu, lama
pemakaian KB suntik 3 bulan juga dapat mengakibatkan adanya gangguan
menstruasi pada penggunaan > 1 tahun, pada awal penggunaan akan
mengalami perdarahan bercak tidak teratur, perdarahan banyak, perdarahan
diluar siklus haid dan pada pemakaian > 1 tahun terjadi amenorea (Sinaga
2021).
Varney (2018) menyatakan bahwa umumnya efek samping utama
pemakaian KB Suntik 3 bulan (DMPA) adalah kenaikan berat badan. Sebuah
penelitian melaporkan peningkatan berat badan lebih dari 2
kilogram pada tahun pertama dan selanjutnya meningkat secara bertahap
hingga mencapai 7,5 kilogram. Sedangkan pemakaian cyclofem berat badan
meningkat rata-rata 2-3 kilogram tahun pertama pemakaian dan terus
bertambah selama tahun kedua (Delta et al. 2023).
Akseptor KB suntik 3 bulan dikatakan pengguna baru, yaitu dengan
masa pemakaian kontrasepsi suntik selama 0-6 bulan atau 1-2 kali suntik,
pemakaian sedang selama 1-2,5 tahun, pemakaian lama selama >2,5 tahun.
Umum nya penggunaan KB secara hormonal selama maksimal 5 tahun.
Semakin lama masa pemakaian KB suntik akan menimbulkan beberapa
dampak baik yang secara langsung akan muncul atau muncul dalam waktu
yang lama, begitu pula bila masa pemakaian KB suntik tidak terlalu lama
kemungkinan untuk mengalami dampak bagi tubuhnya juga semakin kecil
(Juniastuti et al. 2023).
Berikut adalah efek samping dari penggunaan KB suntik 3 Bulan :
a. Gangguan Haid
1) Amenorea
Amenorea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan
berturut-turut. Amenorea dibedakan menjadi dua yaitu amenorea primer
merupakan masa remaja kurang dari 16 tahun belum pernah mengalami
menstruasi atau belum menampakkan tanda-tanda fisik seksual sekunder,
sedangkan amenorea sekunder bila wanita sudah menga menstruasi namun
kemudian tidak mengalami menstruasi dalam waktu 3-6 bulan (Susilowati
2023).
Keluhan gangguan menstruasi timbul karena adanya
ketidakseimbangan hormon pada pengguna kontrasepsi suntik 3 bulan. Hal
ini mengakibatkan perubahan histologi pada endometrium. Progesteron
dalam komponen KB suntik 3 bulan yakni DMPA menekan produksi
Luteinizing Hormon (LH) sehingga endometrium menjadi lebih tipis dan
atropis dengan berkurangnya aktifitas kelenjar pituitari anterior (Amalia
Yunia Rahmawati 2020).
Efek pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan terhadap amenorea
bertambah besar seiring dengan lamanya waktu pemakaian. Perubahan
menstruasi yang dialami wanita pengguna suntik KB 3 bulan dimulai dalam
bentuk perdarahan, bercak darah berlangsung selama tujuh hari atau lebih
serta perdarahan hebat selama beberapa bulan pemakaian, kejadiaan ini
bertahap sampai menjadi lebih jarang dengan durasi lebih pendek sampai
klien mengalami amenorea (Husaidah et al. 2023).
Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor
KB suntik DMPA mengalami amenorea sekunder (66,3%) dan ada
hubungan yang signifikan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik
DMPA dengan kejadian amenorea sekunder (Wuri 2023).
2) Spotting
Spotting merupakan perdarahan berupa tetesan atau bercak-bercak.
Keluarnya bercak darah selama penggunaan kontrasepsi hormonal
merupakan efek samping yang sering terjadi jika ringan atau tidak terlalu
mengganggu tidak perlu diberi obat. Spotting adalah keluarnya darah dari
vagina diluar siklus haid yang sedikit berupa bercak (Merlin 2020).
Spotting diduga disebabkan karena adanya peningkatan kadar
progesteron didalam plasma. Progesteron ini kemudian berikatan dengan
reseptor progesteron dan menimbulkan peningkatan vaskularisasi di
endometrium dan vena tersebut akhirnya rapuh sehingga terjadi perdarahan
lokal (Amalia Yunia Rahmawati 2020).
Spotting terjadi akibat ketidakseimbangan hormon- hormon di dalam
tubuh yaitu hormon estrogen dan progesterone, Akibat dari
ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh terjadilah pelebaran pembuluh
vena kecil di endometrium, yang menyebabkan rapuhnya vena, sehingga
terjadi perdarahan lokal (Mustika 2020).
Perdarahan lokal ini menyebabkan keluarnya bercak- bercak darah.
Apabila efek gestagen kurang, stabilitas stroma berkurang, pada akhirnya
terjadilah perdarahan. Efek samping yang timbul antara lain menstruasi yang
tidak teratur dan peningkatan berat badan serta pemulihan kesuburan
terlambat. Spotting dapat terjadi pada 15-20% akseptor KB suntik yang telah
menjalani beberapa kali suntikan. Hal ini bukanlah masalah yang serius dan
biasanya tidak memerlukan pengobatan (Mustika 2020).
3) Metrorarghia
Metrorarghia merupakan salah satu jenis perdarahan disfungsional yang
terjadi di luar siklus menstruasi. Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebutkan
bahwa metrorarghia di definisikan sebagai menstruasi pada interval siklus teratur
tetapi dengan aliran berlebihan dan durasi merupakan salah satu keluhan
ginekologis yang paling umum di ginekologi kontemporer (Hardi et al. 2022).
Metroragia adalah perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya
dengan menstruasi. Metroragia merupakan suatu perdarahan ireguler yang terjadi
diantara dua waktu yang lebih singkat dengan darah yang dikeluarkan lebih sedikit
(Hasibuan 2021).
Metrorarghia adalah perdarahan di luar siklus haid. Bila menstruasi terjadi
dengan interval tidak teratur atau jika terdapat insiden bercak darah atau
perdarahan diantara menstruasi (Harahap 2019).
Gangguan perdarahan yang dinamakan Metrorarghia terjadi karena
persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan
korpus luteum. Akibatnya terjadi hiperplasia endometrium karena stimulasi
estrogen yang berlebihan dan terus menerus (Fabiana Meijon Fadul 2019).
4) Menorarghia
Menorarghia adalah perdarahan menstruasi dengan jumlah darah lebih
banyak dan durasi lebih lama dari normal dengan siklus yang normal. Secara
klinis menorarghia didefinisikan dengan total jumlah darah menstruasi lebih
dari 80 ml dan durasi haid lebih lama dari 7 hari. Sulit menentukan jumlah
darah haid secara tepat. ([Link] et al. 2022).
Persepsi yang umum mengenai perdarahan berlebihan adalah apabila
tiga sampai empat pembalut sudah penuh selama empat jam. Jumlah
kehilangan darah yang dipertimbangkan normal selama menstruasi adalah 30
cc sejak penelitian yang dilakukan pada tahun 1960-an dan setiap perdarahan
yang lebih dari 80 cc dinyatakan perdarahan abnormal, seperti yang
dikatakan oleh Engstrom, bahwa batas 8 cc merupakan ukuran standar untuk
menetapkan menorarghia (Susilowati 2023).
WHO melaporkan 18 juta perempuan usia 30 - 55 tahun mengalarni
haid yang berlebih dan dari jumlah tersebut 10% termasuk dalam kategori
menorarghia (Sugiyanti 2023).
Komplikasi menorarghia pada wanita yang banyak kehilangan darah
selama siklus menstruasi adalah anemia defisiensi besi. Diagnosis dari
menorarghia ditegakkan jika pasien mengalami periode menstruasi pada
siklus yang teratur tetapi dengan aliran yang berlebihan yang dapat
berlangsung selama lebih dari 7 hari. Menorarghia dapat menyebabkan
perdarahan menstruasi lebih dari 80 ml dalam setiap siklus. Istilah
menorarghia telah digantikan dengan istilah perdarahan uterus abnormal
(Sugiyanti 2023).
5) Penyebab Gangguan Haid
Secara umum semua gangguan haid disebabkan karena adanya
ketidakseimbangan hormon sehingga endometrium mengalami perubahan.
Keadaan amenorea pada pengguna KB suntik 3 bulan disebabkan oleh atrofi
endometrium. (Susilowati 2023).
Penyebab amenorea primer umumnya lebih berat dan lebih sulit untuk
diketahui, seperti kelainan kongenital dan kelainan genetik sedangkan
amenorea sekunder lebih menunjuk pada sebab-sebab yang timbul dalam
kehidupan wanita seperti gangguan gizi, gangguan metabolisme, penyakit
infeksi dan lain-lain (Susilowati 2023). Metrorarghia dapat disebabkan oleh
kelainan organik pada alat genetalia atau kelainan fungsional. Bila penyebab
menorarghia dan metrorarghia adalah neoplasma, gangguan pembekuan
darah, penyakit kronis atau kelainan ginekologik, klien perlu dirujuk ke
spesialis (Susilowati 2023).
3. Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas aktifitas utama yang dilakukan manusia,
dalam arti sempit istilah pekerjaan digunakan untuk suatu kerja
menghasilkan uang bagi seseorang, dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini
sering dianggap sinonim dengan profesi, jadi dapat diartikan sebagai sesuatu
yang dikelurkan oleh seseorang sebagai profesi sengaja dilakukan untuk
mendapatkan penghasilan (Pratiwi 2021).
Pekerjaan akan berpengaruh terhadap pendapatan seseorang. Hal ini
mempengaruhi dalam pemilihan jenis kontrasepsi yang digunakan. Bila
responden tidak bekerja dan sumber pendapatan dalam keluarga itu hanya
dari penghasilan suami yang misalnya berpendapatan rendah, maka akseptor
lebih memilih menggunakan metode kontrasepsi yang relative lebih murah
(Wuri 2023).
Penelitian Camelia (2019) menunjukkan bahwa pekerjaan berpengaruh
terhadap pemilihan metode kontrasepsi suntik. Kelompok berpendapatan
rendah mempunyai akses yang lebih besar terhadap pelayanan apabila
program disubsidi oleh pemerintah dengan memberikan dukungan pelayanan
KB secara gratis atau bayar murah kepada ibu yang berpenghasilan rendah
(Wuri 2023).
4. Paritas
Seseorang yang berparitas lebih dari satu sudah seharusnya menjadi
akseptor KB untuk mengatur atau menjarangkan kehamilannya, tetapi di
masa ini banyak akseptor KB yang masih mengalami kesulitan dalam
menentukan pilihannya. Penelitian Nilawati (2020) menunjukkan bahwa
paritas berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi suntik. Paritas
dihubungan dengan pengalamannya sebagai seorang ibu, kenyataan yang
terjadi di masyarakat dimasa ini, dalam rumah tangga ibu belajar dari
pengalaman-pengalaman sebelumnya dalam arti ibu lebih pandai jika belajar
dari apa yang dialaminya sendiri dalam kemampuan ibu untuk
memutuskan sendiri kontrasepsi apa yang baik untuk digunakan oleh ibu
(Wuri 2023).
Kemungkinan seorang ibu untuk menambah kelahiran tergantung
kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Seorang ibu mungkin
menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan
juga umur anak yang masih hidup. Semakin sering seorang ibu melahirkan
anak, maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Hal
ini berarti jumlah anak akan sangat mempengaruhi
kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal
(Merlin 2020).
Paritas merupakan total jumlah anak yang dilahirkan hidup maupun
mati oleh seorang wanita. Seorang wanita yang memiliki paritas tinggi
cenderung memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih dibandingkan
dengan tingkat paritas yang lebih rendah. Selain itu, salah satu hal yang
mendorong seorang Ibu memutuskan untuk mengikuti program Keluarga
Berencana (KB) adalah apabila ia merasa bahwa ia sudah cukup dengan
jumlah anak yang dimilikinya (Aulia 2022).
Ibu yang telah memilki dua anak dianjurkan untuk menggunakan alat
kontrasepsi sehingga kemungkinan untuk mengalami kehamilan lagi dapat
ditekan. Indahwati & Wati (2017) membagi paritas menjadi 3 kategori,
yaitu: paritas rendah, jika jumlah anak kurang dari 2; Paritas sedang, jika
jumlah anak antara 2 sampai 3; Paritas tinggi, jika jumlah anak lebih dari 4
(Aulia 2022).
5. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Tanpa adanya
pengetahuan seseorang tidak akan memiliki dasar dalam pengambilan
sebuah keputusan serta menentukan tindakan maupun solusi terhadap
pemasalahan yang dihadapi (Safitri 2021).
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melaluiproses
sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek
tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya
perilaku terbuka atau open behavior (Nurhayati, Azwa 2021).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba (Pratiwi 2021). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di
dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu:
1) Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahiu terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus/objek tertentu, di sini sikap
subjek sudah mulai timbul.
3) Evalution (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya terhadap
stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah
tidak baik lagi.
4) Trial, dimana subjek sudah mulai melakukan sesuatu dengan apa yang
dikehendaki.
5) Adopsi, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai denagn
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus (Pratiwi 2021).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Evi Eriyanti Hasibuan (2021)
menyebutkan bahwa tidak ada pengaruh pengetahuan PUS dalam penggunaan
KB suntik 3 bulan.
6. Sosial Ekonomi
Pendapatan memiliki pengaruh terhadap keikutsertaan seseorang
dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pendapatan seseorang tidak
dapat diukur sepenuhnya dari pekerjaan (Nurhayati, Azwa 2021).
Menurut Badan Pusat Statistik pendapatan keluarga adalah pendapatan
yang diterima oleh keluarga bersangkutan baik berasal dari pendapatan
kepala rumah tangga. Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari balas jasa
faktor produksi tenaga kerja (Nurhayati, Azwa 2021).
7. Dukungan Suami
Dukungan suami adalah upaya yang diberikan oleh suami baik secara
mental, fisik maupun sosial. Peran suami dalam kesehatan reproduksi
khususnya pada keluarga berencana sangat berpengaruh terhadap kesehatan,
seperti: peran suami sebagai motivator, Peran suami sebagai edukator, Peran
suami sebagai fasilitator (Nurhayati, Azwa 2021)
8. Dukungan Tenaga Kesehatan (Bidan)
Peran bidan adalah upaya yang diberikan oleh bidan baik secara
mental, fisik maupun sosial kepada individu dengan memberikan
kenyamanan fisik dan psikologis, perhatian, penghargaan, maupun bantuan
dalam bentuk lain (Nurhayati, Azwa 2021).
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng
Bangkirai Kota Palangka Raya. Adapun alasan peneliti memilih lokasi
penelitian ini karena Puskesmas Kereng Bangkirai merupakan puskesmas
ke-6 pengguna KB suntik dan jenis KB yang banyak di minati oleh semua
akseptor KB di Puskesmas ini adalah jenis KB suntik 3 bulan dengan jumlah
akseptor KB suntik 3 bulan pada tahun 2019-2021 sebanyak 704.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian untuk proses pengambilan data dilaksanakan pada
bulan Januari sampai dengan Maret 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas
Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya.
3.2 Subjek Penelitian
1. Populasi
Menurut Sugiyono dalam Hermawan, (2019) Populasi adalah domain
umum yang terdiri dari objek/subyek yang memiliki kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi benda
dan benda alam lainnya. Populasi bukan hanya sekedar jumlah objek/subyek
yang diteliti, tetapi mencakup semua ciri/sifat yang dimiliki oleh subjek atau
objek tersebut.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB suntik 3
bulan yang berkunjung dari bulan Januari sampai dengan Maret 2024 di
Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi. Kalimat ini mempunyai dua
arti, yaitu pertama, semua unit populasi harus mempunyai peluang untuk
diambil sebagai unit sampling, dan kedua, sampel dilihat dari penaksir
populasi atau sebagai populasi yang berbentuk kecil. Ini berarti
bahwa ukuran sampel harus cukup untuk menggambarkan populasi (Roflin
dan Liberty, 2021).
Menurut Pabundu Tika dalam Hermawan, (2019) Sampel adalah
bagian dari subjek atau objek yang mewakili populasi. Pengambilan sampel
harus konsisten dengan kualitas dan karakteristik suatu populasi.
Pengambilan sampel yang tidak sesuai dengan kualitas dan karakteristik
suatu populasi akan menghasilkan penelitian yang bias, tidak dapat
diandalkan, dan kesimpulan yang mungkin salah. Itu karena dia tidak bisa
mewakili populasi.
Teknik Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
accidental sampling. Menurut Sugiyono (2019) teknik accidental sampling
merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja
yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel,
bila dipandang orang yang kebetulan ditemui cocok dengan kriteria yang
telah ditentukan oleh peneliti.
Sampel dalam penelitian ini adalah akseptor KB suntik 3 bulan di
Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya yang telah
memenuhi kriteria berikut ini :
Pada penelitian ini menggunakan kriteria Inklusi dan eksklusi.
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi merupakan kriteria sampel yang diinginkan
peneliti berdasarkan tujuan penelitian (Florian 2021). Kriteria yang
ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :Ibu yang
menggunakan KB suntik 3 bulan > 1 tahun yang datang di tempat
penelitian
1) Ibu yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani
informed consent saat pengambilan data
data dari sampel sekurang-kurangnya sejumlah 110 orang.
3.3 Variabel Penelitian
Pengertian variabel penelitian menurut Sugiyono (2020:68) adalah suatu
karakteristik atau atribut dari individu atau organisasi yang dapat diukur atau di
observasi yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dijadikan pelajaran dan kemudian ditarik kesimpulannya.
1. Variabel Dependen
variabel dependen atau terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen atau bebas
(Rimbawati 2020). Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen
adalah Kejadian efek samping dalam penggunaan KB suntik 3 bulan.
2. Variabel Independen
Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel
terikat (Rimbawati 2020). Pada penelitian ini sebagai variabel independen
adalah usia, pendidikan, pekerjaan, paritas dan pengetahuan yang
menyebabkan terjadinya efek samping dari penggunaan KB suntik 3 bulan.
3.4 Definisi Operasional
Menurut (Nurdin et al., 2019) definisi operasional adalah mendefinisikan
variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati yang
memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara
cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Mendefinisikan variabel secara
operasional adalah menggambarkan atau mendeskripsikan variabel penelitian
sedemikian rupa, sehingga variabel tersebut bersifat spesifik (tidak
berinterpretasi ganda) dan terukur (observable atau measureable) (Rimbawati
2020).
3.5 Instrumen Penelitian
Alat ukur yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian adalah
kuesioner dan observasi. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden, dan observasi cara
pengumpulan data dengan melihat langsung ke objek penelitian dan mencatat
secara sistematis semua data yang diperoleh. Pengamatan dilakukan untuk
mencocokkan data yang telah diperoleh melalui wawancara terhadap keadaan
yang sesungguhnya, guna mendapatkan data yang lebih andal dan akurat yang
berkaitan dengan variabel penelitian yakni gambaran kejadian efek samping
akseptor KB suntik 3 bulan.
Alat atau instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner tingkat
pengetahan ibu tentang efek samping KB Suntik 3 bulan yang mengadopsi dari
penelitian sebelumnya yaitu penelitian oleh Nur Indah Sumarmini tahun 2010
dengan judul penelitian “Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Efek Samping
KB Suntik DMPA Di BPS Muryati Kalasan Sleman Yogyakarta”. Uji
validitas dan reliabilitas di lakukan oleh Nurjanah (2009) dalam Nur Indah
Sumarmini (2010) dengan menggunakan software komputer.
Uji validitas dan realibilitas sudah dilakukan oleh Nurjanah di BPS Leni
Indrawati Berbah Sleman pada tahun 2009 dan dilanjutkan oleh Nur Indah
Sumarmini di BPS Muryati Kalasan Sleman pada tahun 2010 terhadap 20
responden. Hasil uji validitas menggunakan software komputer menunjukkan
dari jumlah 30 item soal terdapat 4 item soal yang tidak valid yaitu pada nomor
soal ke- 6, 16, 27 dan 30. Kemudian dari soal yang tidak valid dibuang dan
menggunakan 26 item soal yang valid untuk digunakan dalam soal kuesioner
tingkat pengetahuan. Hasil uji reliabilitas kuesioner menggunakan software
komputer menunjukkan bahwa hasil uji validitas sebesar 0,413 dan realibilitas
0,962 untuk kuesioner pengetahuan. Hasil tersebut sudah menunjukkan bahwa
kuesioner yang dibuat sudah valid dan reliabel sebagai alat pengumpulan data
(Sumarmini 2010)
Apabila benar mendapat skor 1, apabila salah mendapat skor 0. Soal yang
kosong dianggap salah dan mendapat skor 0. Total skor maksimal adalah 26 dan
skor minimal adalah 0. Skor dari setiap responden dijumlahkan kemudian dibagi
dengan total jumlah soal dan dikalikan dengan 100% sehingga didapatkan hasil
Dalam bentuk persentase. Berdasarkan hasil dari perhitungan, kemudian hasilnya
di interpresentasikan dalam beberapa kategori yaitu:
1) Baik : 76%-100%
2) Cukup : 56%-75%
3) Kurang : <55%.
Adapun kisi-kisi kuisioner yang akan di gunakan untuk penelitian ini adalah
sebagai berikut :