Bab 2
Bab 2
LANDASAN TEORI
1
beban tersebut ringan
2
atau berat, serta mempertimbangkan karakteristik tanah tempat bangunan didirikan
[9].
Pondasi dangkal merupakan jenis pondasi yang dirancang untuk menahan
beban ringan dan langsung menyalurkan beban tersebut ke tanah di bawahnya.
Sementara itu, pondasi dalam digunakan untuk menopang beban yang lebih besar,
dengan cara menyalurkan beban tersebut hingga mencapai lapisan tanah keras
atau batuan yang berada jauh di bawah permukaan [10].
2.2.1 Pondasi Dangkal
Pondasi dangkal merupakan jenis pondasi yang umumnya dipakai untuk
menopang struktur bangunan ringan atau bangunan yang memiliki beban relatif
kecil. Pondasi dangkal adalah jenis pondasi yang biasanya digunakan untuk
mendukung struktur bangunan ringan atau bangunan dengan beban yang tidak
terlalu berat dan jenis pondasi ini digunakan ketika lapisan tanah keras berada
dekat dengan permukaan tanah, sehingga tidak memerlukan penggalian yang
dalam [11]. Pondasi dangkal digunakan pada lapisan tanah yang letaknya cukup
dekat dengan permukaan. Jenis pondasi ini biasanya digunakan untuk konstruksi
ringan seperti rumah tinggal, garasi, pagar, atau bangunan kecil lainnya. Pondasi
dangkal
memiliki beberapa jenis. Berikut adalah jenis-jenis pondasi dangkal:
1. Pondasi Batu Kali
Pondasi batu kali adalah jenis pondasi dangkal yang menggunakan batu
alam sebagai material utama. Batu-batu tersebut disusun secara berlapis dan diikat
dengan campuran semen dan pasir untuk membentuk struktur yang kokoh.
Pondasi ini umumnya digunakan pada bangunan dengan beban ringan hingga
sedang, seperti rumah tinggal, pagar, dan bangunan kecil lainnya. Keunggulan
pondasi batu kali meliputi biaya yang relatif rendah, kemudahan dalam
pelaksanaan, serta kemampuan menyesuaikan dengan kondisi tanah yang stabil.
Namun, pondasi ini kurang cocok untuk tanah yang lunak atau memiliki daya
dukung rendah. Pelaksanaan metode pasangan batu kali dilakukan secara
langsung dilapangan, pondasi ini menggunakan batu kali (batu belah alami) yang
disusun dan direkatkan dengan campuran mortar (semen dan pasir), dapat dilihat
pada Gambar 2.1.
3
Gambar 2. 1 Pondasi Batu Kali
2. Pondasi Batu Bata (Rollag)
Pondasi batu bata adalah pondasi yang terbuat dari material batu bata
sebagai bahan utamanya. Seluruh batu bata ini disusun sedemikian rupa untuk
membentuk suatu pondasi yang mampu menahan beban bangunan di atasnya
kemudian meneruskannya ke dalam tanah. Karena memiliki daya dukung yang
tidak terlalu tinggi, pondasi batu bata biasanya diterapkan pada konstruksi yang
sederhana, dapat dilihat pada Gambar 2.2.
4
Gambar 2. 3 Pondasi Telapak
4. Pondasi Memanjang
Pondasi memanjang adalah jenis pondasi yang membentang secara
horizontal mengikuti panjang bangunan atau elemen struktural di atasnya. Pondasi
memanjang juga digunakan untuk mendukung dinding memanjang atau
digunakan untuk mendukung sederetan kolom yang berjarak dekat, sehingga bila
dipakai pondasi telapak sisi-sisinya akan berimpit satu sama lain, dapat dilihat
pada Gambar 2.4.
5
Gambar 2. 5 Pondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba
6. Pondasi Rakit
Pondasi rakit (raft foundation atau mat foundation) adalah jenis pondasi
dangkal yang berupa pelat beton bertulang besar yang menutupi seluruh area
bawah bangunan. Pondasi rakit digunakan untuk mengetahui beban keseluruhan
gedung, daya dukung yang dihasilkan, serta besarnya penurunan dan stabilitas
struktur yang akan terjadi. Pondasi rakit cocok digunakan jika tanah memiliki
daya dukung yang rendah, dapat dilihat pada Gambar 2.6.
6
keras berada jauh di bawah permukaan tanah dan tidak memungkinkan
penggunaan pondasi dangkal. Pondasi dalam adalah pondasi yang menyalurkan
beban struktur ke kedalaman lebih dari 3 meter dari permukaan tanah atau sampai
mencapai lapisan tanah keras yang cukup stabil untuk mendukung beban tersebut.
Sebuah pondasi digolongkan sebagai pondasi dalam apabila rasio antara
kedalaman pondasi (Df) dan lebarnya (B) melebihi angka sepuluh (Df/B>10).
Pondasi dalam digunakan ketika lapisan tanah dekat permukaan tidak mampu
mendukung beban bangunan. Tiang pancang atau bore pile digunakan untuk
menyalurkan beban ke lapisan yang lebih dalam dan lebih kuat. Pondasi dalam
memiliki beberapa jenis yaitu:
1. Pondasi Sumuran
Pondasi sumuran (caisson foundation) adalah tipe pondasi dalam yang
dibangun dalam bentuk sumur silindris yang diturunkan ke dalam tanah dan diisi
beton setelah mencapai lapisan tanah keras. Cocok untuk struktur berat seperti
jembatan atau menara. Berdasarkan beberapa Jurnal Teknik Sipil Indonesia,
pondasi sumuran umumnya dibuat dengan cara manual di lokasi pembangunan,
digunakan pada bangunan bertingkat rendah hingga sedang, serta cocok untuk
kondisi tanah lunak dengan lapisan keras di bawahnya (biasanya < 10 meter),
dapat dilihat pada Gambar 2.7.
7
tanah lunak dan tidak stabil. Berdasarkan hasil analisis statis dan dinamis, tiang
pancang dapat menyalurkan beban dengan aman ke lapisan tanah keras di
kedalaman lebih dari 20 meter, dapat diihat pada Gambar 2.8.
8
pondasi Strauss lebih murah dibanding bore pile bermesin, namun memiliki
keterbatasan pada diameter dan kedalaman tiang (umumnya <10 meter), dapat
dilihat pada Gambar 2.10.
9
konstruksi yang menghadapi kondisi tanah tidak stabil, beban struktural yang
besar, atau
10
kebutuhan akan efisiensi waktu dan kemampuan menahan beban lateral.
Penggunaan pondasi ini dapat meningkatkan stabilitas bangunan, mengurangi
potensi penurunan tanah, serta mempercepat proses konstruksi, menjadikannya
pilihan yang tepat untuk berbagai jenis bangunan seperti gedung tinggi, jembatan,
dan pelabuhan.
2.3.2 Jenis Jenis Pondasi Tiang Pancang
Setiap jenis pondasi tiang pancang memiliki keuntungan dan kelemahan
masing-masing, sehingga pemilihan jenis yang tepat harus disesuaikan dengan
kondisi tanah serta kebutuhan struktural bangunan. Berikut adalah berbagai jenis
pondasi tiang pancang:
A. Tiang Pancang Beton
Pondasi tiang pancang beton adalah salah satu jenis pondasi tiang pancang
yang terbuat dari bahan beton, baik yang dicetak di pabrik (beton pracetak) atau
dibuat langsung di lokasi (beton sitemix). Tiang pancang beton adalah batang
beton bertulang atau prategang yang digunakan sebagai elemen pondasi dalam
dan dipasang ke dalam tanah dengan alat pemancang untuk mencapai lapisan
tanah keras. Penggunaan tiang pancang beton dalam konstruksi sangat umum
karena daya dukungnya yang tinggi dan keawetannya, dapat dilihat pada Gambar
2.11.
11
karena itu, tiang pancang baja sangat cocok digunakan dalam kondisi yang
12
memerlukan tiang panjang dengan daya dukung ujung yang besar, dapat dilihat
pada Gambar 2.12.
13
kesatuan tiang. Dalam beberapa kasus, tiang ini dibuat dengan menyambungkan
bagian atas dan bawah menggunakan bahan yang berbeda, misalnya beton di atas
permukaan air tanah dan kayu tanpa perlakuan khusus di bagian bawah. Namun,
karena proses penyambungan tersebut cukup rumit dan memerlukan biaya
tambahan, metode ini jarang digunakan dalam pelaksanaan. Implementasi tiang
pancang jenis ini misalnya kombinasi material antara beton dengan baja, dapat
dilihat pada Gambar 2.14.
14
rata-rata dari
15
jumlah tumbukan dalam uji penetrasi standar tersebut, dapat dilihat pada Gambar
2.15.
17
Dimana:
Τ = gesekan
geser c = kohesi
σ'n = tekanan normal efektif
φ = sudut geser dalam
Hasil pengujian laboratorium ini dapat digunakan untuk menentukan
parameter-parameter tanah yang digunakan dalam perhitungan kapasitas dukung
pondasi tiang pancang.
2.4.1 Daya Dukung Ujung Tiang (Qp)
1. Berdasarkan N-SPT
Berdasarkan nilai N-SPT (Mayerhof, 1956), Perhitungan tahanan ujung
tiang (Qp tiang) pada tanah berpasir dengan rumus sebagai berikut:
Qp tiang = 4 x Ap tiang x Np rata-rata..............................................(2.6)
Keterangan:
Qp tiang = Daya dukung ujung tiang (ton)
Ap tiang = Luas penampang ujung tiang pancang (ft²)
Np rata-rata = Nilai NSPT rata-rata disekitar ujung tiang
Daya dukung ujung (Qp) untuk tanah non-kohesif:
Qp = 40 x Nb x Ap...................................................................(2.7)
Keterangan:
Qp tiang = Daya dukung ujung tiang (ton)
Ap tiang = Luas penampang ujung tiang pancang
(m²) Np = Nilai N-SPT rata-rata disekitar ujung
tiang
2. Berdasarkan rumus CPT
Rumus Mayerhof untuk daya dukung ujung pondasi tiang pancang
berdasarkan data CPT (Cone Penetration Test) pada tanah berpasir adalah:
Qb = qc x Ab.........................................................................................(2.8)
dengan batasan:
qc = nilai CPT rata-rata pada interval 8D di atas dan 4D di bawah ujung
tiang pancang
Dimana:
18
Qb = daya dukung ujung tiang pancang
19
Qc = nilai CPT (Cone Penetration Test)
Ab = luas penampang ujung tiang pancang
D = diameter tiang pancang
Rumus ini digunakan untuk menghitung daya dukung ujung tiang pancang
pada tanah berpasir berdasarkan nilai CPT.
3. Berdasarkan uji laboratorium
Rumus untuk menentukan daya dukung ujung tiang (Qb) berdasarkan hasil
pengujian laboratorium dapat bervariasi tergantung pada jenis pengujian dan
parameter tanah yang digunakan. Berikut contoh rumus berdasarkan pengujian
triaksial:
Qb = Ab x (c' Nc + σ'v Nq + 0,5 γ B Nγ)................................(2.9)
Dimana:
Q = daya dukung ujung tiang
Ab = luas penampang ujung tiang
c' = kohesi efektif
Nc, Nq, Nγ = faktor daya dukung
σ'v = tekanan vertikal
efektif
γ = berat volume tanah
B = lebar atau diameter tiang
Rumus ini dapat digunakan untuk menentukan daya dukung ujung tiang
berdasarkan hasil pengujian laboratorium. Namun, perlu diingat bahwa hasil
pengujian laboratorium perlu dikorelasikan dengan kondisi lapangan untuk
mendapatkan hasil yang akurat.
2.4.2 Daya Dukung Selimut Tiang (Qs)
Perhitungan tahanan selimut tiang (Qs tiang) didapat dari persamaan
berikut:
1. Berdasarkan rumus N-SPT
A. Tiang perpindahan besar
Qs tiang= As tiang x Ñ...................................................................(2.10)
50
B. Tiang perpindahan kecil
Qs tiang = As tiang x Ñ...................................................................(2.11)
20
100
21
Keterangan:
Qs tiang = Daya dukung selimut / friksi tiang
(ton) As tiang = Luas selimut dinding tiang (ft²)
N-SPT rata-rata = Nilai N-SPT rata-rata di sepanjang tiang
C. Daya ukung selimut tiang (Qs) unutuk tanah non-kohesif:
Qs = 0,2 x N-SPT x As tiang...............................................................(2.12)
Keterangan:
Qs tiang = Daya dukung selimut / friksi tiang
(ton) As tiang = Luas selimut dinding tiang (ft²)
N-SPT rata-rata = Nilai NSPT rata-rata di sepanjang tiang
2. Berdasarkan rumus CPT
Untuk mendapatkan daya dukung selimut tiang maka digunakan rumus
sebagai berikut:
Qs = p x JHP......................................................................................(2.13)
Keterangan:
Qs = daya dukung selimut
tiang P = keliling tiang
JHP = Jumlah Hambatan Pelekat
3. Berdasarkan uji laboratorium
Qs = As x fs.......................................................................................(2.14)
Dimana:
Qs = daya dukung selimut tiang
pancang As = luas permukaan tiang
pancang
Fs = gesekan kulit ultimit
Fs dapat dihitung menggunakan rumus:
Fs = c'a + σ'n tan(δ)...........................................................................(2.15)
Dimana:
c'a = adhesi antara tanah dan
tiang σ'n = tekanan normal efektif
δ = sudut geser antara tanah dan tiang
22
Nilai Fs juga dapat diperoleh dari hasil pengujian geser langsung atau
pengujian CPT (Cone Penetration Test) skala kecil.
23
2.4.3 Daya Dukung Ultimate
Perhitungan daya dukung ultimate (Qu) dapat dianalisa dengan rumus
sebagai berikut:
Qu = Qp + Qs.....................................................................................(2.16)
Keterangan:
Qu = Daya dukung ultimate (ton)
Qp = Daya dukung ujung tiang
(ton) Qs = Daya dukung friksi tiang
(ton)
2.4.4 Daya Dukung Allowable (Izin)
Perhitungan daya dukung yang diijinkan (Qall) dapat dianalisa dengan
rumus sebagai berikut:
Qall = Qp + Qs.....................................................................................(2.17)
SF
Keterangan:
Qall = Daya dukung yang diijinkan (ton)
Qu = Daya dukung ultimate (ton)
SF = Faktor keamanan, untuk SF yang digunakan untuk daya dukung
dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Menurut Reese & O’ Neil, 1989 menentukan faktor keamanan dapat dilihat
dalam Tabel 2.1 dibawah ini:
Tabel 2. 1 Faktor Aman Untuk Pondasi Dalam
Faktor Keamanan
Klasifikasi
Kontrol Kontrol Kontrol Kontrol
Struktur Baik Normal Jelek Sangat Jelek
Monumental 2,3 3 3,5 4
Permanen 2 2,5 2,8 3,4
Sementara 1,4 2 2,3 2,8
Keterangan:
1. Bangunan monumental, umumnya memiliki umur rencana melebihi 100
tahun, seperti Tugu Monas, Monumen Garuda Wisnu Kencana, jembatan-
jembatan besar, dan lain-lain.
2. Bangunan permanen, umumnya adalah bangunan gedung, jembatan, jalan raya
24
dan jalan kereta api, dan memiliki umur rencana 50 tahun.
3. Bangunan sementara, umur rencana bangunan kurang dari 25 tahun, bahkan
mungkin hanya beberapa saat saja selama masa konstruksi.
4. Kontrol baik: kondisi tanah cukup homogen dan konstruksi didasarkan pada
program penyelidikan geoteknik yang tepat dan profesional terdapat informasi
uji pembebanan di atau dekat proyek dan pengawasan konstruksi di
laksanakan secara ketat.
5. Kontrol normal: situasi yang paling umum, hampir serupa dengan kondisi
diatas, tetapi kondisi tanah bervariasi dan tidak tersedia data pengujian tiang.
6. Kontrol kurang tidak ada uji pembebanan, kondisi tanah sulit dan bervariasi,
pengawasan pekerjaan kurang, tetapi pengujian geoteknik dilakukan dengan
baik.
Pengambilan faktor keamanan (FK) untuk Qs lebih rendah dari pada faktor
keamanan untuk Qp, karena gerakan untuk memobilisasi gesekan jauh lebih kecil
dari pada gerakan untuk memobilisasi tahanan ujung. Di Indonesia digunakan FK
= 2,5 baik untuk gesekan selimut maupun untuk daya dukung tiang pancang.
2.4.5 Kebutuhan Jumlah Tiang Pancang
Kebutuhan Jumlah Tiang (Np), dengan rumus sebagai berikut:
V
Np =
Qall..............................................................................................(2.18)
Keterangan:
Np = Kebutuhan jumlah tiang
V = Berat total bangunan (ton)
Qall = Daya dukung yang diijinkan (ton)
Untuk pola kelompok tiang, dapat dilihat pada Gambar 2.16 berikut ini:
S
0.8
S 7
S
0.8
7
S S S S
5 6 8
TIANG TIANG TIANG
Gambar 2. 16 Pola Kelompok Tiang
25
2.4.6 Jarak Antar Tiang Pondasi
Jarak antar tiang pondasi dapat dirumuskan sebagai berikut:
S = 1,57 x D x m x n............................................................................(2.19)
M+n–2
Kebanyakan peraturan bangunan menyatakan jarak minimum antara tiang
sebesar 2 kali diameter sedangkan jarak optimal antara tiang umumnya adalah
antara 1,5-3,5 kali diameter, yang kemudian dapat didasarkan pada ketentuan
sebagai berikut:
Jika S ≥ 3,5 D, daya dukung kelompok tiang dapat diambil sama besar
dengan jumlah dari seluruh daya dukung tiang (Eg≥1)
Jika 21,5 ≤ S ≤ 3,5 D, maka gunakan formula efisiensi yang ada (Eg ≤1)
Jarak tiang ke tepi = S ≤ 1,5 D
..............................................................................................................
(2.20)
Keterangan:
S = Jarak masing-masing tiang dalam kelompok tiang dihitung dari as ke as
(m)
D = Diameter tiang (m)
2.4.7 Efisiensi Kelompok Tiang (Eg)
Pada Gambar 2.17 menjelaskan tentang efisiensi kelompok tiang (Eg), dan
dapat dilihat berupa Gambar dibawah ini:
n1 n2 n3 n
4
m
1
m
2
S
m
Gambar 2. 17 Baris Kelompok Tiang
Perhitungan Efisiensi Kelompok Tiang (Eg) berdasarkan rumus Converse
Labbarre dari Uniform Building Code AASHTO dapat dilihat pada rumus
dibawah ini sebagai berikut:
Eg 1-(θ) [(n-1) m+(m-1)n]....................................................................(2.21)
26
90 (mn)
Keterangan:
m = jumlah baris tiang
27
n = jumlah tiang dalam satu
baris θ = [Link] (d/s), dalam (°)
s = jarak pusat ke pusat tiang
(m) d = diameter tiang (m)
2.4.8 Daya Dukung Kelompok Tiang
Dengan rumus:
Qtk = Eg x np x Qall............................................................................(2.22)
Keterangan:
Qtk = daya dukung kelompok
tiang Eg = efisiensi kelompok
tiang
Qall = daya dukung tiang tunggal yang diijinkan
V = gaya aksial yang terjadi
28
Sa = penurunan dari ujung tiang (cm)
Sps = penurunan akibat beban yang dialihkan sepanjang tiang (cm)
29
Ss = (Qp + α x Qs) x L..................................................................(2.25)
Ap x Ep
Keterangan:
Ss = penurunan akibat deformasi aksial tiang
(cm) Qp = beban yang didukung ujung tiang (kg)
Qs = beban yang didukung
selimuttiang(kg) L = panjang tiang (cm)
Ap = luas penampang tiang (cm²)
Ep = modulus elastisitas tiang (kg/cm²)
30
Penurunan akibat pengalihan beban sepanjang tiang dapat dihitung
dengan persamaan sebagai berikut:
Sps = Qws x D x (1 – vs²) x Iws....................................................(2.27)
PxL
Es Keterangan:
Qws = gesekan rata-ratasepanjang
tiang P x L
P = keliling tiang (cm)
L = panjang tiang tertanam
(cm) D = diameter atau sisi ting (cm)
Es = modulus elastisitas tanah (
kg/cm2) Vs = angka poison tanah
31
(Lanjutan) Tabel 2. 4 Interval Nilai Modulus Elastisitas Untuk Berbagai Tanah
Pasir lepas 100-250 1500-3500
Pasir liat berpasir 300-400 4000-6000
Pasir padat 500-800 7000-12000
Pasir padat dan grosok 1000-2000 14000-28000
= S√
Bg
Sg ….................................................................................(2.28)
D
Keterangan:
Sg = penurunan kelompok tiang (cm)
S = penurunan pondasi tiang tunggal
(cm) Bg = lebar kelompok tiang (cm)
D = diameter atau sisi tiang tunggal (cm)
2.6 Pembebanan
Konstruksi pondasi harus mampu menahan beban yang bekerja diatasnya,
sehingga gedung tersebut tidak mengalami keruntuhan. Adapun perhitungan
pembebanan terdiri dari:
2.6.1 Beban Mati
Beban mati adalah berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung yang
terpasang termasuk dinding, lantai, atap, plafon+penggantung, tangga, dinding
partisi tetap, finishing, klading gedung dan komponen arsitektual dan struktural
lainnya serta peralatan pelayanan yang terpasang seperti berat keran. Sehingga
berat tentang komponen bangunan penting digunakan untuk menentukan besarnya
beban mati suatu bangunan diperlihatkan dalam Tabel 2.5 dan Tabel 2.6 sebagai
berikut:
Tabel 2. 5 Berat Sendiri Bahan Bangunan
No Material Berat Keterangan
1. Baja 7850 Kg/m³
32
2. Batu Alam 2600 Kg/m³
33
(Lanjutan) Tabel 2. 5 Berat Sendiri Bahan Bangunan
3. Batu belah, batu bulat, batu 1500 Kg/m³ Berat tumpuk
gunung
4. Batu karang 700 Kg/m³ Berat tumpuk
5. Batu pecah 1450 Kg/m³
6 Batu tuang 7250 Kg/m³
7. Beton 2200 Kg/m³
8. Beton bertulang 2400 Kg/m³
9. Kayu 1000 Kg/m³ Kelas I
10. Kerikil, koral 1650 Kg/m³ Kering udara sampai lembab,
tanpa diayak
11. Pasangan bata merah 1700 Kg/m³
12. Pasangan batu belah, batu 2200 Kg/m³
bulat, batu gunung
13. Pasangan batu cetak 2200 Kg/m³
14. Pasangan batu karang 1450 Kg/m³
15. Pasir 1600 Kg/m³ Kering udara sampai lembab
16. Pasir 1800 Kg/m³ Jenuh air
17. Pasir kerikil, koral 1850 Kg/m³ Kering udara sampai lembab
18. Tanah, lempung dan lanau 1700 Kg/m³ Kering ufara sampai lembab
19. Tanah, lempung dan lanau 2000 Kg/m³ Basah
20. Timah hitam/timbel 11400Kg/m³
34
(Lanjutan) Tabel 2. 6 Berat Sendiri Komponen Bangunan
4 Dinding pasangan batako
: berlubang :
tebal dinding 20 cm
(HB20) tebal dinding 10 200 kg/m²
cm (HB 10) tanpa lubang: 120 kg/m²
tebal dinding 15 cm 300 kg/m²
tebal dinding 10 cm 200 kg/m²
5 Langit-langit & dinding, terdiri: termasuk rusuk-rusuk,
semen asbes (eternit), tanpa pengantung atau
tebal maks. 4mm 11 kg/m² pengaku
kaca, tebal 3-5 mm 10 kg/m²
35
Tabel 2. 7 Beban Hidup Pada Gedung
No Material Berat Keterangan
1 Lantai dan tangga rumah tinggal 200 kg/m² Kecuali yang disebut no.2
2 Lantai dan tangga rumah tinggal
sederhana
125 kg/m²
Gudang-gudang selain untuk
toko, pabrik, bengkel
3 Sekolah, ruang kuliah, kantor,
toko, toserba, restoran, hotel, 250 kg/m²
hotel, asrama, rumah
4 Ruang olahraga 400 kg/m²
5 Ruang dansa 500 kg/m²
6 Lantai dan balkon ruang 400 kg/m² Masjid, gereja, ruang
pertemuan pegelaran/rapat, bioskop
dengan penonton berdiri
7 Panggung penonton 500 kg/m² Tempat duduk tidak
tetap/penonton berdiri
8 Tangga, bordes dan gang 300 kg/m² No. 3
9 Tangga, bordes dan gang 500 kg/m² No. 4, 5, 6, 7
10 Ruang pelengkap 250 kg/m² No. 3, 4, 5, 6, 7
11 Pabrik, bengkel, gudang,
perpustakaan, ruang arsip, took 400 kg/m² Minimum
buku, ruang alat dan mesin
12 Gedung parkir bertingkat:
Lantai bawah 800 kg/m²
400 kg/m²
Lantai tingkat lainnya
13 Balkon menjorok bebas keluar 400 kg/m² Minimum
36
deformasi membentuk bidang rata.
Menurut Hardiyatno, 2010 tebal pile cap dipengaruhi oleh tegangan geser
ijin beton. Tegangan geser harus dihitung pada potongan terkritis. Momen lentur
pada pile cap harus dihitung dengan menganggap momen tersebut bekerja pada
pusat tiang ke permukaan kolom terdekat.
2.7.1 Dimensi Pile Cap
Jarak tiang mempengaruhi ukuran pile cap. Jarak tiang biasanya 1,5D-
3,5D dan jarak tepi tiang 1,5D. Adapun ketentuan ukuran pile cap berdasarkan
SNI-03- 2847-2002 adalah sebagai berikut:
1. Ketebalan pondasi telapak diatas lapisan tulang bawah tidak boleh kurang dari
300 mm untuk pondasi telapak diatas pancang
2. Tebal selimut beton minimum untuk beton yang dicor langsung diatas tanah
dan selalu berhubungan dengan tanah adalah 75 mm.
3. Kuat geser pondasi telapak disekitar kolom, beban terpusat atau daerah reaksi
ditentukan oleh kondisi terberat dari dua hal berikut:
1) Aksi balok satu arah dimana masing-masing penampang kritis yang akan
ditinjau menjangkau sepanjang bidang yang memotong seluruh pondasi
telapak.
2) Aksi dua arah dimana masing-masing penampang kritis yang akan
perimeter ditinjau harus ditempatkan sedemikian sehingga penampang
adalah minimum.
Perhitungan gaya geser 1 arah dan 2 arah untuk pile cap sama dengan
perhitungan gaya geser 1 arah dan 2 arah pada pondasi telapak (Pamungkas dan
Harianti, 2013).
2.7.2 Tinjau Terhadap Geser
Perilaku pondasi terhadap geser tidak berbeda dengan balok dan pelat.
A. Kontrol terhadap geser pons yang bekerja satu arah
Penampang kritis terhadap geser pada pelat pondasi terletak sejarak d dari
muka reaksi terpusat dan terletak pada bidang yang melintang pada seluruh lebar.
Apabila hanya geser dan lentur yang bekerja, maka kekuatan yang disumbangkan
beton adalah:
37
Gaya geser nominal penampang sejarak d dari muka kolom harus lebih kecil
sama dengan kekuatan geser beton sehingga Vn < Vc maka:
Keterangan:
Vu = gaya geser sejarak d dari muka
kolom Vc = geser beton
b0 = keliling penampang kritis pons yaitu 4 (c + d)
d = tinggi efektif
Ø = 0,6 (faktor reduksi untuk geser)
B. Kontrol terhadap geser pons yang bekerja dua arah
Bidang penampang kritis yang tegak lurus bidang pelat mempunyai
keliling dengan masing-masing sisi sebesar bo dimana penampang kritis terjadi
sejarak 1⁄2 d dari muka tumpuan. Kontrol geser dua geser dilakukan berdasarkan
persamaan sebagai berikut:
Vc = 1 x λ x√ f c̍.b0.d.......................................................................(2.31)
Vc =0,17 (1+
3
2
) x λ x √f c̍.b0.d......................................................(2.32)
β
Vu = Pu (h02-b02)..................................................................................(2.35)
A
Keterangan:
Vs = kuat geser tulangan geser
38
Pu = beban teraktor pada
kolom
39
A = luas pile cap (B x L)
2.7.3 Perencanaan Tebal Pile Cap
Untuk merencanakan tebal pile cap, maka pile cap harus direncanakan
agar kuat geser nominal beton (Vc) lebih besar dari geser akibat kolom dan juga
geser akibat tiang 1 arah dan geser 2 arah.
Kontrol geser satu arah dilakukan berdasarkan persamaan sebagai berikut:
Vc = 0,75 x √f c̍.b0.d..................................................................(2.36)
Vc = (Pi) max – wfc...................................................................(2.37)
Kontrol geser dua arah dilakukan berdasarkan persamaan sebagai berikut:
1
1
x λ x √f c̍.b0.d..............................................................(2.38)
Vc =
Keterangan:
f c̍ = mutu beton yang digunakan untuk pile cap
b0 = panjang area geser pons
d = tebal pile cap
(Pi)max = reaksi tiang pancang berfaktor
maksimum Wfc = berat pondasi pada area geser pons
2.7.4 Penulangan Pile Cap
Penulangan pile cap dianggap sama dengan penulangan balok. Perencanaan
penulangan pile cap mempunyai beberapa langkah sebagai berikut:
A. Lebar penampang kritis B’
.......................................................................
B' = Lebar
2 pile cap -2 Lebar kolom (2.39)
Keterangan:
B’ = lebar penampang kritis (mm)
B. Berat pile cap pada penampang kritis q’
q’ = 2400 kg/cm². Lebar pile cap. Tebal pile cap
)4
1
2
As.f y
a = 0,85.f c̍.b .................................................................................(2.42)
Keterangan:
40
q' = berat pile cap paa penampang kritis (kg/m3)
41
Pu = beban aksial yang bekerja
(kg) Mu = momen ultimate
Mn = momen nominal
As = luas tulangan terpasang, untuk tulangan bagian atas bisa
diberikan 20% dari tulangan utama
C. Rencanakan sebagai balok persegi dengan lebar (b) dan tinggi efektif (d)
Mu............................................................................................................
Kperlu = (2.43)
b.d²
Dimana:
Kperlu = faktor panjang efektif komponen struktur tekan
(mpa) Mu = momen yang terjadi pada balok (kg.m)
b = lebar balok (m)
h = tinggi balok (m)
d = tinggi efektif (m)
= h – d’ - ∅ tulangan
D. Rasio tulangan yang dapat diperoleh dengan,
2 fy
ρmin 1,4
=
..........................................................................................(2.45)
fy
42
F. Dengan hasil luas tulangan yang telah diketahui, maka dapat dilanjut dengan
merencanakan diameter dan jarak tulangan yang disesueikan dengan luas
tulangan yang telah dihitung.
As Aktual = 1 x π x d²...........................................................................(2.47)
4
As
N = As aktual..............................................................................(2.48)
As
S = ...........................................................................(2.49)
As aktual.n
Keterangan:
N = jumlah tulangan
S = jarak tulangan
(mm) As Aktual = luas tulangan
(m)
43