0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan66 halaman

Askep Ny R

Makalah ini membahas asuhan keperawatan terkait kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat (NOP) di RSUD Arifin Achmad. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan perawatan dan mengidentifikasi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien. Hasil menunjukkan pentingnya pemantauan dan intervensi keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.

Diunggah oleh

av030206
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan66 halaman

Askep Ny R

Makalah ini membahas asuhan keperawatan terkait kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat (NOP) di RSUD Arifin Achmad. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan perawatan dan mengidentifikasi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien. Hasil menunjukkan pentingnya pemantauan dan intervensi keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.

Diunggah oleh

av030206
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Puji dan terima kasih penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat disusun dan diselesaikan dengan
baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas akademik serta sebagai sarana
untuk menambah wawasan dan pemahaman penulis mengenai standar asuhan
keperawatan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit pada
pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat (NOP).
Dalam bantuan penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa tanpa dan
dukungan dari berbagai pihak, makalah ini tidak akan terselesaikan dengan baik.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan kelancaran dalam
proses penyusunan makalah ini.
2. Kedua orang tua dan keluarga yang selalu memberikan doa, dukungan, serta
motivasi.
3. Dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan masukan
dalam penyusunan makalah ini.
4. Pembimbing klinik serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung
selama proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki keterbatasan dan
belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya.

Pekanbaru, 12 Februari 2026

Peneliti

ii
Karya Tulis Ilmiah, Mei 2023
Nailah Sabrina
“Asuhan Keperawatan Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit Pada Pasien Chronic
Kidney Disease (CKD) Di Rumah Sakit [Link] [Link] Padang”

Isi : xi + 60 halaman + 10 tabel + 11 lampiran

ABSTRAK
Gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan masalah utama yang terjadi
pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD).Gangguan ini dapat menyebabkan
penumpukan cairan pada ruang intertisial sehingga terjadi hypervolemia. Tercatat
63 kasus Chronic Kidney Disease (CKD) di RS Tk III Dr. Reksodiwiryo Padang
saat dilakukan survey awal Oktober 2022 Tujuan penelitian ialah mendeskripsikan
asuhan keperawatan gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien
Chronic Kidney Disease (CKD) di RS Tk III Dr. Reksodiwiryo Padang tahun
2023.

Desain penelitian Deskriptif, dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan di


ruangan interne RS Tk III Dr. Reksodiwiryo Padang pada tanggal 06 Februari-10
Februari 2023. Populasi sebanyak 1 orang yang dijadikan sampel dengan teknik
purposive sampling. Instrumen penelitian format pengkajian keperawatan dasar
dan alat pemeriksaan fisik. Cara pengumpulan data dengan wawancara, observasi,
pengukuran dan dokumentadi. Analisis data yang didapat lalu dinarasikan dan
dibandingkan dengan teori sesuai dengan proses keperawatan.

Hasil pengkajian pada Ny.N dengan keluhan utama sesak nafas, edema
ekstremitas, berat badan meningkat, BAK sedikit, badan terasa lemah. Diagnosa
keperawatan yang muncul yaitu Hipervolemia dan perfusi perifer tidak efektif.
Rencana keperawatan dan implementasi meliputi memonitor intake dan output,
menimbang berat badan setiap hari, pengukuran derajat edema, memonitor hasil
laboratorium, serta melakukan terapi PRC. Evaluasi keperawatan tindakan yang
dilakukan berdampak positif di buktikan dengan edema menurun, nadi perifer
meningkat, intervensi tetap dipertahankan.

Melalui direktur rumah sakit diharapkan perawat ruangan interne dapat


melanjutkan pemantauan balance cairan yang optimal juga edukasi pada pasien
dan keluarga tentang cara mengukur dan mencatan cairan, kepada peneliti
selanjutya untuk meneliti efektifitas dalam pemantauan balance cairan terhadap
penurunan berat badan dan derajat edema lebih cepat sehingga gangguan
pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien lebih cepat teratasi.

Kata Kunci : Asuhan Keperawatan, Cairan dan Elektrolit,


Chronic Kidney Disease (CKD)
Daftar Pustaka : 46 (2012-2023)

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.........................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN...........................................................................................................ii
KATA PENGANTAR...................................................................................................................iii
ABSTRAK....................................................................................................................................vi
DAFTAR TABEL.........................................................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................................................x
DAFTAR RIWAYAT HIDUP......................................................................................................xi
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................................................5
C. Tujuan Penelitian.................................................................................................................5
D. Manfaat Penelitian...............................................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................................7
A. Konsep Dasar Cairan dan Elektrolit....................................................................................7
1. Definisi cairan dan elektrolit............................................................................................7
2. Volume dan distribusi cairan...........................................................................................8
3. Komposisi cairan tubuh...................................................................................................9
4. Fungsi cairan dan elektrolit..............................................................................................9
5. Perpindahan cairan tubuh...............................................................................................10
6. Pengaturan cairan tubuh.................................................................................................11
7. Elektrolit dalam tubuh...................................................................................................12
8. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit........................14
9. Pengaturan keseimbangan volume cairan......................................................................15
10. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit..............................................................16
B. Konsep Gangguan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit pada Pasien dengan Chronic Kidney
Disease
(CKD).......................................................................................................................................21
1. Pengertian Chronic Kidney Disease (CKD)..................................................................21
2. Etiologi Chronic Kidney Disease (CKD)......................................................................21
3. Patofisiologi Chronic Kidney Disease (CKD)...............................................................22
4. Manifestasi klinik Chronic Kidney Disease (CKD)......................................................23

iv
5. Komplikasi Chronic Kidney Disease (CKD).................................................................23
Penatalaksanaan Keperawatan pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD)...............24
6.
C. Asuhan Keperawatan Gangguan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit pada pasien Chronic
Kidney Disease (CKD)
25
1. Pengkajian Keperawatan................................................................................................25
2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan...........................................................................30
3. Perencanaan Keperawatan..............................................................................................30
4. Implementasi keperawatan.............................................................................................31
5. Evaluasi keperawatan.....................................................................................................32
BAB III DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN.............................................................38
A. Deskripsi Kasus.................................................................................................................38
1. Pengkajian Keperawatan................................................................................................38
2. Diagnosa Keperawatan...................................................................................................42
3. Rencana Keperawatan....................................................................................................44
4. Implementasi Keperawatan............................................................................................46
5. Evaluasi Keperawatan....................................................................................................47
B. Pembahasan Kasus.............................................................................................................48
1. Pengkajian Keperawatan................................................................................................49
2. Diagnosa Keperawatan...................................................................................................50
3. Intervensi Keperawatan..................................................................................................52
4. Implementasi Keperawatan............................................................................................54
5. Evaluasi Keperawatan....................................................................................................55
BAB V PENUTUP......................................................................................................................58
A. Kesimpulan........................................................................................................................58
B. Saran..................................................................................................................................59
DAFTAR PUSTAKA

v
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Gangguan Keseimbangan Natrium.............................................................19


Tabel 2.2 Gangguan Keseimbangan Kalium...............................................................19
Tabel 2.3 Gangguan Keseimbangan Klorida..............................................................20
Tabel 2.4 Gangguan Keseimbangan Kalsium.............................................................20
Tabel 2.5 Gangguan Keseimbangan Magnesium.......................................................20
Tabel 2.6 Perencanaan Keperawatan..........................................................................30
Tabel 4.1 Analisa Data Ny.N......................................................................................42
Tabel 4.2 Perencanaan Keperawatan Ny.N................................................................44

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh
manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis,
yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. (Maryunani,
2017). Secara umum, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan
dasar manusia seperti adanya penyakit dalam tubuh yang dapat menyebabkan
berbagai perubahan kebutuhan, hubungan keluarga yang baik untuk
meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar manusia, konsep diri yang positif
dapat memberikan makna dan keutuhan bagi individu, tahap perkembangan
dan struktur keluarga. (Saragih, 2022).

Menurut Maslow dalam teori hierarki, kebutuhan dasar manusia terbagi lima
macam yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan
untuk dicintai, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, dan dibagi lagi
menjadi delapan bagian yaitu pemenuhan oksigen, kebutuhan cairan dan
elektrolit, kebutuhan nutrisi, kebutuhan eliminasi, kebutuhan istirahat dan
tidur, aktivitas fisik, keseimbangan suhu tubuh dan pemenuhan seksual.
(Maryunani, 2017).

Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena


metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons
terhadap stressor fisiologis dan lingkungan.(Rahman, 2017). Cairan dan
elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat,
keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh melibatkan komposisi dan
perpindahan berbagai cairan tubuh. (Haryono, 2013).

Di dalam tubuh seorang yang sehat, normalnya intake cairan sesuai dengan
kehilangan cairan tubuh yang terjadi, kondisi sakit dapat menyebabkan
gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dampak yang
ditimbulkan apabila kebutuhan cairan dan elektrolit tidak terpenuhi adalah

1
8

hypervolemia, hipovolemia, edema, hiponatremia, hypernatremia,


hypokalemia, hyperkalemia, hipokalsemia, hiperkalsemia, hipomagnesia,
hipermagnesia.(Maryunani, 2017). Gangguan cairan dan elektrolit akan
membahayakan tubuh jika diabaikan dan tidak ditangani segera, hal tersebut
dapat menyebabkan edema perifer, sesak nafas, oliguria dan inteka pasien
yang mengalami gangguan ini menjadi lebih banyak. (PPNI, 2017)

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan salah satu masalah


yang sering ditemukan pada pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat
(NOP) . Neoplasma ovarium padat merupakan pertumbuhan jaringan
abnormal pada ovarium yang umumnya bersifat padat dan dapat bersifat jinak
maupun ganas. Massa tumor yang terus membesar dapat menimbulkan
tekanan pada organ-organ di sekitarnya, seperti kandung kemih, usus, dan
pembuluh darah, sehingga mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh (Patrisia,
2020).

Pada penderita NOP, gangguan cairan dan elektrolit dapat terjadi akibat
beberapa faktor, seperti penurunan asupan cairan dan nutrisi karena rasa tidak
nyaman pada perut, mual, atau penurunan nafsu makan. Selain itu,
peningkatan tekanan intraabdomen akibat massa tumor dapat menyebabkan
gangguan eliminasi urin, retensi cairan, serta perubahan distribusi cairan
dalam tubuh. Kondisi ini dapat memicu hipervolemia atau defisit volume
cairan yang disertai gangguan elektrolit (Nurbadriyah, 2021).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa neoplasma ovarium


merupakan salah satu masalah kesehatan pada perempuan dengan angka
kejadian yang terus meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini sering disertai
dengan berbagai komplikasi sistemik, termasuk gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit, terutama pada pasien yang menjalani perawatan inap
dalam jangka waktu lama (WHO, 2020).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018, kejadian


tumor dan kanker ovarium di Indonesia menunjukkan peningkatan
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di Provinsi Sumatera Barat, kasus
9
neoplasma ovarium juga mengalami peningkatan, terutama pada kelompok
usia dewasa dan usia lanjut. Kondisi ini memerlukan penanganan yang
komprehensif, termasuk pemantauan dan pengelolaan kebutuhan cairan dan
elektrolit secara ketat (Kemenkes RI, 2018; Dinkes Sumbar, 2019).

Peran perawat dalam menangani gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit


pada pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat sangat penting. Perawat
melakukan pengkajian terhadap keluhan utama pasien seperti distensi perut,
sesak napas akibat peningkatan tekanan intraabdomen, edema perifer,
perubahan jumlah urin, serta hasil keseimbangan cairan yang positif atau
negatif (PPNI, 2017). Berdasarkan hasil pengkajian tersebut, perawat
menegakkan diagnosis seperti hipervolemia, defisit volume cairan, gangguan
eliminasi urin, dan intoleransi aktivitas sesuai kondisi pasien.

Intervensi pembekuan yang dapat dilakukan pada pasien dengan NOP meliputi
pemantauan intake dan output cairan secara ketat, pengukuran berat badan
setiap hari, pemantauan tanda-tanda retensi cairan seperti edema dan distensi
abdomen, pengaturan serta pemantauan terapi cairan intravena, penghitungan
asupan cairan dan natrium sesuai indikasi medis, serta pemberian edukasi
kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya pencatatan keseimbangan
cairan (PPNI, 2018). Selain itu, perawat juga berkolaborasi dengan tim medis
dalam memberikan terapi cairan dan obat-obatan yang berpengaruh terhadap
keseimbangan cairan dan elektrolit (Padila, 2012).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
masalah dalam makalah ini adalah bagaimana asuhan keperawatan gangguan
kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat
(NOP) di Ruangan Teratai RSUD Arifin Achmad pada tanggal 02 Februari
2026?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pelaksanaan perawatan pada
pasien dengan gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit akibat Neoplasma
Ovarium Padat (NOP) di Ruangan Teratai RSUD Arifin Achmad pada
1
tanggal 02 Februari 2026. 0

2. Tujuan Khusus
a. Mengkaji status kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien dengan
Neoplasma Ovarium Padat (NOP).

b. Mengidentifikasi tanda dan gejala gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit pada pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat.

c. Menetapkan diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan gangguan


kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien Neoplasma Ovarium Padat.

d. Menyusun intervensi pasokan dalam mengisi kebutuhan cairan dan


elektrolit pada pasien Neoplasma Ovarium Padat.

e. Mengimplementasikan sesuai rencana yang telah disusun untuk mengatasi


gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien Neoplasma Ovarium
Padat.

f. Mengevaluasi hasil asuhan keperawatan terhadap penyediaan kebutuhan


cairan dan elektrolit pada pasien Neoplasma Ovarium Padat

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Mahasiswa Keperawatan
Sebagai bahan pembelajaran dan referensi dalam memahami serta
menerapkan proses pembekuan pada pasien gangguan cairan dan elektrolit
akibat Neoplasma Ovarium Padat.
2. Bagi Perawat
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan saling asuhan keperawatan,
terutama dalam pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
menyediakan kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien dengan
Neoplasma Ovarium Padat.
3. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas pelayanan
perdarahan, khususnya dalam penatalaksanaan gangguan cairan dan
elektrolit pada pasien dengan Neoplasma Ovarium Padat.

.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Cairan dan Elektrolit


1. Definisi cairan dan elektrolit
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara
fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh. (Uliah &
Hidayat, 2021). Jumlahnya sebesar 50% hingga 75% dari berat badan
seseorang dan elemen utama dalam plasma darah, yang digunakan untuk
mengedarkan sari-sari makanan, oksigen, dan elektrolit ke seluruh tubuh.

Air juga memberi bentuk dan ukuran sel, mengatur suhu tubuh dan
melindungi organ-organ tubuh. Sedangkan elektrolit adalah mineral
bermuatan listrik yang ditemukan di dalam dan di luar sel tubuh. Mineral
tersebut dimasukkan dalam cairan dan makanan lalu dikeluarkan utamanya
melalui ginjal. (Vaughans, 2013). Di dalam tubuh manusia terdapat ikatan
kimiawi non elektrolit (glukosa, urea) dan elektrolit (ikatan pembentuk ion),
kadar elektrolit di dalam tubuh sangat menentukan osmolitas cairan intrasel,
ekstrasel dan interstisial. (Maryunani, 2017).

Elektrolit adalah mineral yang membawa muatan listrik ketikda dilarutkan


dalam cairan seperti darah. Elektrolit darah natrium, kalium, klorida dan
bikarbonast membantu mengatur fungsi saraf dan otot serta menjaga
keseimbangan asam basa dan keseimbangan air. Untuk menyesuaikan tingkat
cairan, tubuh dapat secara aktif memindahkan elektrolit dalam konsentrasi
yang tepat, penting dalam menjaga kesimbangan cairan di antara
kompartemen. (Hadinata & Baharudin, 2022).

Keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan kunci utama dalam


mempertahankan homeostasis tubuh dan memegang peranan penting dalam
melindungi fungsi seluler, perfusi jaringan, dan keseimbangan asam basa.
Kondisi ketidakseimbangan elektrolit yang paling sering adalah kondisi
kelebihan dan kekurangan natrium, kalium, kalsium dan magnesium.

7
8

(Patrisia, 2020). Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui


makanan, minuman, dan cairan intravena (IV). Keseimbangan cairan dan
elektrolit saling bergantung, jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh
pada yang lainnya. Karena itu cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam
rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. (Haryono, 2013).

2. Volume dan distribusi cairan


a. Volume cairan
Total jumlah volume cairan tubuh kira-kira 60% dari berat badan pria, dan
50% dari berat badan wanita. Jumlah volume ini tergantung pada kandungan
lemak badan,lemak jaringan sangat sedikit menyimpan cairan (lemak wanita
lebih banyak daripada lemak pria), dan usia (semakin tua semakin sedikit
kandungan cairan). (Saragih, 2022).

b. Distribusi cairan
Cairan tubuh terdiri atas dua kompartemen utama yang dipisahkan oleh
membran semipermiabel. Kedua kompartemen tersebut adalah kompartemen
intraseluler dan ekstraseluler. Sekitar 65% cairan tubuh berada di dalam sel
atau intraseluler. Sisanya 35% cairan tubuh berada di luar sel atau
ekstraseluler. (Vaughans, 2013).

Menurut Rudi Haryono, (2013) cairan ekstraseluler dibagi menjadi tiga


bagian yaitu cairan interstitial yaitu cairan yang mengelilingi sel, cairan
intravaskular yaitu cairan yang terkandung dalam pembuluh darah dan cairan
transeluler yang merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh.
Distribusi cairan tubuh bersifat relatif tergantung pada ukuran tubuh masing-
masing. Secara skematis jenis dan jumlah cairan tubuh dapat digambarkan
sebagai berikut:
a) Dewasa 60%
b) Anak-anak 60-77%
c) Manula 40-50%
Pada manula, presentase cairan tubuh berkurang dikarenakan sudah
mengalami kehilangan jaringan tubuh. (Yuliati, 2017)
9

3. Komposisi cairan tubuh


Cairan tubuh total yang jumlahnya 60% dari berat badan dibagi menjadi dua
jenis cairan utama yaitu cairan inraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan
intraseluler yang ada pada orang dewasa sekitar 40% dari jumlah cairan tubuh
total dan sisanya cairan ekstraseluler 20% dari jumlah cairan tubuh total.
(Kusnanto, 2016).

Menurut (Hall, 2019) didalam cairan ekstraseluler mengandung banyak ion


natrium, klorida,dan bikarbonat ditambah berbagai zat gizi untuk sel, seperti
oksigen, glukosa, asam lemak, dan asam amino. Cairan ekstraseluler juga
mengandung karbon dioksida yang diangkut dari sel ke paru untuk dieksresi.
Lain halnya dengan cairan intraseluler yang memiliki kandungan yang sangat
berbeda dengan cairan ekstraseluler. Jika pada cairan ekstraseluler
mengandung banyak ion natrium dan klorida, maka di cairan intraseluler
mengandung banyak ion kalium, magnesium dan fosfat.

4. Fungsi cairan dan elektrolit


Menurut (Kusnanto, 2016), fungsi cairan adalah sebagai berikut :
a. Media transportasi bagi zat makanan dan oksigen menuju sel dan sisa
metabolisme sel ke organ eliminasi
b. Mengantarkan hormone dari organ penghasil menuju organ target
c. Memudahkan proses metabolisme di dalam sel
d. Pelarut elektrolit dan non elektrolit
e. Membantu dalam mempertahankan suhu tubuh
f. Memudahkan pencernaan dan eliminasi
g. Pelumas jaringan dan pembentuk struktur tubuh

Sedangkan fungsi elektrolit dalam tubuh adalah sebagai berikut :


a. Natrium berfungsi sebagai pengaturan osmolaritas serta volume cairan
tubuh
b. Kalium terdapat dalam cairan intraseluler yang berfungsi sebagai pengatur
keseimbangan elektrolit
10

c. Chlorida biasanya berfungsi bersama dengan natrium untuk


mempertahankan keseimbangan tekanan osmotik dalam darah.
d. Kalsium dalam tubuh berfungsi untuk pembentukan tulang, penghantar
impuls kontraksi otot, koagulasi darah dan membantu beberapa enzim
pankreas. (Hidayat & Uliyah, 2015)
e. Magnesium berfungsi dalam hal aktivitas enzim, aktivitas neuron otak,
kontraks otot rangka, dan relaksasi otot-otot halus pernapasan.

5. Perpindahan cairan tubuh


Menurut (Hidayat & Uliyah, 2015), perpindahan cairan terbagi menjadi 3
mekanisme yaitu:
a. Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas atau zat
padat, dengan bebas dan acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat
bercampur dalam sel membran. Di dalam tubuh proses difusi air, elektrolit
dan zat-zat lain terjadi melalui membran kapiler yang permeabel. Kecepatan
proses difusi bervariasi tergantung pada berbagai faktor, diantaranya ukuran
molekul, konsentrasi cairan dan temperatur cairan
b. Osmosis
Osmosis merupakan proses perpindahan zat ke larutan lain melalui membran
semipermeabel, biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang
pekat ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat. Pada proses osmosis ini
dapat terjadi perpindahan larutan dengan kepekatan rendah ke larutan yang
kepekatannya lebih tinggi melalui mambran semipermeabel sehingga larutan
yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah kepekatannya
c. Transport aktif
Transport aktif merupakan proses perpindahan cairan tubuh atau gerak zat yang
akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini penting untuk mempertahankan
natrium dalam cairan intra dan ekstra seluler.
11

6. Pengaturan cairan tubuh


Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah
cairan yang masuk dan jumlah cairan yang keluar.
a. Asupan cairan
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang dewasa adalah ±
2.500 cc per hari. Asupan cairan dapat berupa cairan atau ditambah dari
makanan lain. Pengaturan mekanisme keseimbangan cairan ini menggunakan
mekanisme haus, pusat pengaturan rasa haus terletak di hipotalamus. Apabila
terjadi ketidakseimbangan volume cairan tubuh seperti asupan cairan kurang
atau terjadi perdarahan, maka curah jantung menurun dan menyebabkan
terjadinya penurunan tekanan darah. (Uliah & Hidayat, 2021)
b. Pengeluaran cairan
Cairan yang ada ditubuh dieskresikan melalui ginjal dalam bentuk urine,
melalui system pencernaan dalam bentuk feses, melalui system integumen
dalam bentuk keringat dan melalui paru-paru saat bernafas dalam bentuk uap
air. (Kusnanto, 2016)
1) Urine
Jumlah urine yang dibentuk oleh ginjal tergantung dari jumlah cairan tubuh,
tahap perkembangan dan berat badan seseorang. Dalam keadaan normal,
ginjal orang dewasa akan menghasilkan urine sebanyak 1-2 ml/kgBB/jam
atau sekitar 1500 ml dalam waktu 24 jam. Sedangkan pada bayi, jumlah urine
yang dihasilkan ginjal lebih banyak karena sampai usia 2 tahun kemampuan
ginjal untuk mengonsentrasikan urine masih terbatas, sehingga jumlah urine
yang dihasilkan menjadi sekitar 2-4 ml/kgBB. Cara menghitung pengeluaran
cairan dewasa : 15 cc/kg BB/hari, dan pada anak : (30-usia(th)) cc/kg
BB/hari.
2) Insensible water loss (IWL)
Kehilangan cairan melalui paru-paru tergantung dari kecepatan pernapasan,
makin cepat pernafasan seseorang maka semakin banyak uap air yang
dikeluarkan. Penguapan melalui kulit tergantung dari luas permukaan tubuh,
suhu tubuh dan kelembapan lingkungan. Diperkirakan kehilangan cairan
melalui proses ini sekitar 10-15 ml/kgBB. Pada bayi diperkirakan kehilangan
12

cairan pada proses ini 2 kali lebih banyak dari orang dewasa yaitu sekitar 30
ml/kgBB karena permukaan tubuh bayi yang relatif lebih luas dari orang
dewasa dan frekuensi pernafasannya yang lebih cepat sehingga penguapan
yang terjadi pun lebih banyak dari orang dewasa. Untuk mengetahui
insensible water loss (IWL) dapat menggunakan perhitungan sebagai berikut :
IWL = 200 x (suhu badan saat ini = 36,8ºC)
Setiap kenaikan 1ºC maka kebutuhan cairan meningkat sebanyak 10-12%.
3) Feses
Selama proses pencernaan makanan dalam waktu 24 jam, diperkirakan cairan
yang diekskresikan dari saluran cerna sekitar 7000 ml, ditambah dengan
makanan dan minuman sekitar 2000 ml. Selanjutnya di jejenum, ileum dan
colon cairan ini diserap kembali sekitar 8800 ml, lalu sisanya 200 ml di buang
dalam bentuk feses. Oleh karena itu, saat terjadi gangguan reabsorpsi pada
saluran pencernaan akan menyebabkan diare dan menimbulkan kehilangan
cairan
4) Keringat
Keringat diproduksi oleh kelenjar keringat yang merupakan salah satu
mekanisme pengeluaran cairan tubuh. Jumlah cairan yang dikeluarkan
melalui keringat dipengaruhi oleh suhu tubuh, aktivitas fisik, dan kondisi
atmosfir. Pada suhu sekitar 20 derajat celcius, tubuh akan mengeluarkan
cairan keringat sekitar 100 ml. (Kusnanto, 2016)

7. Elektrolit dalam tubuh


Menurut (Yuliati, 2017) elektrolit yang ada di dalam tubuh manusia memiliki
fungsi dan jumlah yang berbeda, terdapat 7 jenis elektrolit yang penting
berada di dalam tubuh manusia, yaitu sebagai berikut :
a. Natrium (Na⁺ )
Merupakan kation yang kandungannya paling banyak di dalam cairan
ekstrasel. Natrium mempengaruhi keseimbangan air, hantran impuls saraf dan
kontraksi otot. Ion natrium berasal dari saluran pencernaan, makanan dan
minuman yang masuk ke dalam cairan ekstrasel melalui proses difusi.
Pengeluaran ion natrium dieksresikan melalui ginjal, pernafasan, saluran
13

pencernaan dan kulit. Normalnya natrium berada di tubuh sekitar 135-148


mEq/lt.
b. Kalium (K⁺ )
Merupakan kation utama pada cairan intraseluler. Kalium diperlukan untuk
pembentukan glikogen, sintesa protein, pengaturan keseimbangan asam dan
basa, karena ion halium dapat diubah menjadi ion hidrogen. Kalium dapat
diperoleh melalui makanan seperti daging, buah-buahan dan sayur-sayuran.
Kalium dieskresikan melalui ginjal, keringat dan saluran pencernaan. Nilai
normal kalium sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.
c. Kalsium (Ca2+)
Kalsium merupakan ion yang paling banyak berada dalam tubuh, kalsium
berguna untuk integritas kulit dan struktur sel, konduksi jantung, pembekuan
darah serta pembentukan tulang dan gigi. Kalsium dalam cairan ekstraseluler
diatur oleh kelenjar paratiroid dan tiroid. Hormon paratiroid mengabsorpsi
kalsium melalui gastrointestinal dan mensekresikannya melalu ginjal.
Kalsium diperoleh dari absorbsi usus dan resorpsi tulang, lalu dikeluarkan
melalu ginjal dan keringat serta disimpan dalam tulang. Jumlah normal
kalsium di dalam tubuh adalah 8,5 – 10,5 mg/dl.
d. Magnesium (Mg2+)
Merupakan kation terbanyak dalam cairan intraseluler sesudah kalium.
Magnesium berperan penting untuk aktivitas enzim, neurochemia dan
muscular excibility. Magnesium bisa didapatkan dari makanan seperti
sayuran hijau, dagin dan ikan. Normalnya magnesium berada di dalam tubuh
dengan jumlah sekitar 1,5-2,5 mEq/lt.
e. Klorida (Cl-)
Ion klorida terdapat pada cairan ekstra dan intraseluler, ion ini berperan untuk
mengatur osmolaritas serum dan volume darah, regulasi asam basa dan juga
berperan sebagai bufer pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam sel
darah merah. Klorida disekresi dan di absorpsi bersama natrium di ginjal.
Jumlah normal klorida yaitu sekitar 95-105 mEq/lt.
14

f. Bikarbonat (HCO3-)
Bikarbonat adalah buffer kimia utama di dalam tubuh yang terdapat di cairan
ekstra dan intraseluler. Fungsi utamanya adalah untuk regulasi keseimbangan
asam basa. Nilai normalnya sekitar 24 – 28 mEq/lt.
g. Fosfat
Merupakan anion buffer dalam cairan intra dan ekstraseluler. Fosfat memiliki
peranan untuk meningkatkan kegiatan neuromuskular, metabolisme
karbohidrat, pengaturan asam basa. Fosfat diatur oleh hormon paratiroid,
jumlah normalnya yaitu sekitar 2,7 – 4,5 mg/dl.

8. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan


elektrolit
Menurut (Vasra, 2016) kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh
dipengaruhi oleh faktor-faktor :
a. Usia
Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh dan aktivitas organ,
sehingga dapat mempengaruhi jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit
b. Temperatur
Temperatur yang tinggi menyebabkan proses pengeluaran cairan melalui
keringat cukup banyak, sehingga tubuh akan banyak kehilangan cairan
c. Diet
Apabila tubuh kekurangan zat gizi, maka tubuh akan memecah cadangan
makanan yang tersimpan, sehingga terjadu pergerakan cairan dari interstisial
ke intraseuler, yang dapat berpengaruh pada jumlah pemenuhan cairan.
d. Stress
Stress dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit
melalui proses peningkatan produksi ADH karena pada proses ini dapat
meningkatkan proses metabolisme sehingga mengakibatkan terjadinya
glikolisis otot yang menimbulkan retensi natrium dan air.
e. Sakit
Pada keadaan sakit terdapat banyak sel yang rusak, sehingga untuk
memperbaikinya sel membutuhkan proses pemenuhan cairan yang cukup.
15

9. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit


Menurut (Wahyudi & Wahid, 2016) gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit terbagi atas :
a. Gangguan keseimbangan cairan
1) Hipovolemia
Merupakan penipisan volume cairan ekstraseluler, hipovolemia dapat terjadi
karena kekurangan pemasukan air (anoreksia, mual, muntah, tidak mampu
menelan, depresi) atau pengeluaran yang berlebihan (kehilangan melalui
kulit, gastrointestinal, perdarahan).
Secara ringkas etiologi hipovolemia adalah sebagai berikut :
(1)Kehilangan cairan melalui saluran pencernaan
(2)Poliuria
(3) Demam (meningkatkan suhu tubuh, dapat meningkatkan metabolisme,
demam juga menyebabkan air keluar lewat paru-paru)
(4) Keringat yang berlebihan
(5) Kurang pemasukan air (anoreksia, mual, depresi, sakit di daerah mulut dan
faring)
Gejala hipovolemia :
(1) Pusing, lemah, letih, sinkope, anoreksia, mual, muntah, haus, kekacauan
mental, konstipasi, oliguria
(2) Menurunnya turgor kulit dan lidah
(3) Menurunnya kelembapan di mulut/keringnya mukosa mulut
(4)Menurunnya produksi urine (kurang dari 30 ml/jam untuk orang dewasa)
(5)Nadi cepat dan lemah
(6)Ekstermitas dingin
(7)Hipotensi, frekuensi nafas cepat
(8)Kehilangan berat badan yang cepat

2) Hipervolemia
Hipervolemia merupakan penambahan volume CES, kondisi ini terjadi bila
tubuh menahan air dan natrium dalam porsi yang sama, tanpa disertai
perubahan kadar elektrolit.
Etiologi hipervolemia :
(1) Penyakit karena gangguan pada mekanisme rugalsi (gagal jantung, cushing
16
syndrome, gagal ginjal, sirosis hati)
(2) Intake natrium klorida yang berlebihan
(3) Pemberian infus yang mengandung natrium dalam jumlah berlebihan
(4) Banyak makan makanan yang mengandung
natrium Gejala hipervolemia :
(1) Sesak nafas, terutama saat malam hari (ortopnea)
(2) Edema perifer, kenaikan berat badan sementara (2% hipervolemia ringan,
5% hipervolemia sedang, dan 8% hipervolemia berat)
(3) Nadi kuat dan cepat (takikardia)
(4) Asites, efusi pelura bila sudah berat bisa menimbulkan pulmo
(5) Kulit lembab
(6) Irama gallop

3) Edema
Kelebihan air dan natrium pada kompartemen ekstraseluler dapat
meingkatkan tekanan osmotik, cairan akan ditarik keluar sel. Sehingga
mengakibatkan edema (cairan yang berlebihan dalam ruang interstisial).
Edema terjadi sebagai akibat dari pertambahan volume cairan interstisial dan
diartikan sebagai bengkak yang dapat teraba dari ruang interstisial. Edema
bisa terjadi karena hal-hal berikut ini :
(1) Peningkatan permeabilitas kapiler (pada luka bakar dan alergi),
perpindahan air dari kapiler ke ruang interstisial meningkat
(2) Peningkatan tekanan hidrostatik di kapiler (obstruksi pada vena)
(3)Perpindahan cairan dari ruang interstisial menurun

4) Sindrom ruang ketiga


Sindrom ini terjadi ketika cairan ekstrasel berpindah ke dalam suatu ruangan
tubuh (pleura, peritoneal, pericardial), sehingga cairan tersebut terjebak di
dalamnya, akibatnya kompartemen ekstrasel kekurangan cairan.

5) Ketidakseimbangan osmolar
Dehidrasi (ketidakseimbangan hiperosmolar) terjadi apabila kehilangan air
tanpa disertasi kehilang elektrolit yang proporsional, terutama natrium. Faktor
risiki terjadinya dehidrasi meliputi kondisi yang mengganggu asupan oral,
lansia yang lemah, penurunan sekresi ADH. Ketidakseimbangan
17
hiperosmolar disebabkan oleh kondisi yang berhubungan dengan diuresis
osmotik dan pemberian larutan hipertonik melalui intravena sedangkan
ketidakseimbangan hipoosmolar terjadi ketika asupan cairan berlebihan atau
sekresi ADH berlebihan.
b. Gangguan keseimbangan elektrolit
1) Natrium
Tabel 2.1
Gangguan Keseimbangan Natrium

Hipernatremia Hiponatremia
Konsentrasi natrium yang tinggi Melibatkan peningkatan
dalamplasma, akibat rasa haus proporsi air dan garam dalam
terganggu, hiperventilasi, darah akibat gangguan sekresi
demam, cedera kepala, ADH (cidera kepala, stress
penurunan sekresi ADH, fisiologis dan psikologis berat)
diabetes insipidus, diare,
ketidakmampuan ginjal
berespon terhadap ADH
Natrium serum > 145 mEq/L Natrium serum < 135 mEq/L
Hipotensi Hipertensi, TIK meningkat
Hipervolemia Hipovolemia
Membran mukosa kering Salivasi meningkat
Rasa haus, demam, lidah kering, Tidak nafsu makan, mual,
halusinasi, disorientasi, letargi, muntah, twitching, lemah,
hiperaktif bila dirangsang ningung, edema pupil
Sumber : (Wahyudi & Wahid, 2016)
2) Kalium
Tabel 2.2
Gangguan keseimbangan kalium

Hiperkalemia Hipokalemia
kadar kalium serum yang Kadar kalium serum yang rendah
tinggi
Karena asidosis mendorong karena alkalosis mendorong
kalium keluar sel kalium masuk ke dalam sel
K⁺ serum > 5 mEq/L K⁺ serum < 3,5 mEq/L
Gangguan konduksi jantung Aktivasi jantung ektopik
EKG : gelombang T EKG : gelombang T mendatar,
memuncak, QRS melebar, P-R depresi segmen ST
memanjang
Diare, nyeri abdomen Bisisng usus menurun
Iritabilitas neuromuskular Kelemahan otot, paretesia
Oliguria/anuria Poliuria
Gagal jantung Toksisitas digitalis
Sumber : (Wahyudi & Wahid, 2016)
18

3) Klorida
Tabel 2.3
Gangguan Keseimbangan Klorida

Kelebihan klorida Kekurangan klorida


Karena dehidrasi, gagal ginjal,
Akibat hilangnya cairan dalam
asidosis dan hiperventilasi saluran gastrointestinal (mual,
muntah, diare), demam
Cl- serum >110 mEq/L Cl- serum <100 mEq/L
Keluaran urine <30 ml/jam Terbuang melalui jaringan (luka
bakar)
Sumber : (Wahyudi & Wahid, 2016)
4) Kalsium
Tabel 2.4
Gangguan Keseimbangan Kalsium

Hiperkalsemia Hipokalsemia
Ca2+ serum >10,5 mEq/L Ca2+ serum < 8,5 mEq/L
Kewaspadaan mental menurun Iritabilitas neuromuskuler (baal,
parestesia, reflek hiperaktif, kejang)
Nyeri abdomen, kelemahan Nyeri tulang
otot, mual, muntah, hipertensi

Sumber : (Wahyudi & Wahid, 2016)


5) Magnesium
Tabel 2.5
Gangguan Keseimbangan Magnesium

Kelebihan magnesium Kekurangan magnesium


Pada pasien gagal ginjal, Pada malnutrisi, alkoholisme,
ketoasidosis diabetik, pemakaian terapi IV jangka lama tanpa
antasid atau laksatif dalam jumlah suplemen Mg
berlebihan
Mg2+ serum >3,4 mEq/L Mg2+ serum < 1,7 mEq/L
Letargi Disorientasi
Reflek tendon dalam tidak ada Reflek hiperaktif
Hipotensi Tremor, tetani
Depresi pernafasan
Sumber : (Wahyudi & Wahid, 2016)
19

B. Gangguan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit pada Pasien dengan


Chronic Kidney Disease (CKD)
1. Pengertian Chronic Kidney Disease (CKD)
Gagal ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease adalah penurunan fungsi
ginjal yang terjadi secara perlahan-lahan, kemunduran fungsi ginjal yang
progresif dan ireversibel dimana terjadi kegagalan kemampuan tubuh untuk
mempertahankan keseimbangan metabolic, cairan dan elektrolit yang
mengakibatkan uremia atau azotemia. (Harmilah, 2020). Sedangkan menurut
(Prabowo & Pranata, 2014) gagal ginjal kronis merupakan kondisi penyakit
pada ginjal yang persisten (keberlangsungan ≥ 3 bulan) dengan kerusakan
ginjal dan kerusakan Glomerular Filtration Rae (GFR) dengan angka GFR ≤
60 ml/menit/1,73 m2

2. Etiologi Chronic Kidney Disease (CKD)


Banyak kondisi klinis yang menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis.
Akan tetapi, apapun yang menjadi penyebabnya, repons yang terjadi adalah
penurunan fungsi ginjal secara progresif. Kondisi klinis yang memungkinkan
dapat mengakibatkan gagal ginjal kronis bisa disebabkan dari ginjal sendiri
maupun dari luar ginjal. (Harmilah, 2020).
a. Penyakit dari ginjal
1) Penyakit pada saringan (glomerulus) yaitu glomerulonephritis
2) Infeksi kuman, peilonefritis, urethritis
3) Batu ginjal (nefrolitiasis)
4) Kista di ginjal (polcystis kidney)
5) Trauma langsung pada ginjal
6) Keganasan pada ginjal
7) Sumbatan seperti batu, tumor, penyempitan/striktur
b. Penyakit umum di luar ginjal
1) Penyakit sistemik: diabetes mellitus, hipertensi, kolesterol tinggi
2) Dyslipidemia
3) SLE
4) Infeksi pada tubuh seperti TBC paru, sifilis, malaria, hepatitis
5) Preeklamsia
20

6) Obat-obatan
7) Kehilangan banyak cairan (luka bakar)

3. Patofisiologi Chronic Kidney Disease (CKD)


Pada kondisi gagal ginjal kronis, fungsi ginjal menurun secara drastic yang
berasal dari nefron. Insifisiensi dari ginjal tersebut sekitar 20% sampai 50%
dalam hal GFR (Glomerular Filtratin Rate). Pada penurunan fungsi rata-rata
50%, biasanya muncul tanda dan gejala azotemia sedang, poliuri, nokturia,
hipertensi dan sesekali terjadi anemia. Terjadinya anemia pada kondisi gagal
ginjal kronis ini merupakan penyebab dari defisiensi hormone eritopoetrin
yang merupakan hormone penghasil sel darah merah sehingga pada pasien
gagal ginjal kronik juga dapat ditemukan gejala anemia seperti penurunan
HB, dan pasien tampak pucat serta badan lemas. Akibat dari penurunan HB
pada pasien CKD, pasien dapat mengalami sesak karena hemoglobin di dalam
darah yang berfungsi mengedarkan oksigen juga ikut berkurang. Selain itu,
selama terjadi kegagalan fungsi ginjal maka keseimbangan cairan dan
elektrolit pun terganggu. Perjalanan dari gagal ginjal kronis membawa
dampak yang sitemik terhadap seluruh system tubuh dan mengakibatkan
komplikasi. (Prabowo & Pranata, 2014).

Kerusakan ginjal dapat menyebabkan terjadinya penurunan fungsi ginjal, produk


akhir metabolic yang seharusnya disekresikan ke dalam urin, menjadi
tertimbun dalam darah. Produk-produk ini meliputi urea yang merupakan
hasil metabolisme dari asam amino, kreatinin hasil metabolisme dari kreatinin
otot, asam urat hasil metabolisme dari asam nukleat, bilirubin yang
merupakan produk akhir dari pemecahan hemoglobin, dan metabolit dari
berbagai hormone. Kondisi seperti ini dinamakan sindrom uremia, semakin
banyak timbunan produk metabolic (sampah) maka dapat menyababkan
gangguan keseimbangan cairan seperti hypervolemia, gangguan
keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium. Sindrom uremia ini
juga dapat mengakibatkan pruritus uremik pada pasien gagal ginjal kronis
akibat tingginya kadar ureum. (Hapipah et al., 2022). Gagal ginjal kronik
21

selalu berkaitan dengan penurunan GFR. Stadium-stadium gagal ginjal kronik


didasarkan padpolaa tingkat GFR yang tersisa dan meliputi hal-hal berikut.
a. Penurunan cadangan ginjal, yang terjadi apabila GFR turun 50% dari
normal
b. Insufiensi ginjal, yang terjadi jika GFR turun menjadi 20-35% dari normal.
Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri
karena beratnya beban yang mereka terima.
c. Gagal ginjal, yang terjadi apabila GFR kurang dari 20% normal. Semakin
banyak nefron yang mati.
d. Gagal ginjal terminal, yang terjadi apabla GFR menajdi kurang dari 5%
dari normal. Hanya sedikit nefron fungsional yang tersisa. Pada seluruh
ginjal ditemukan jaringan parut dan atrofi tubulus. (Harmilah, 2020)

4. Manifestasi klinik Chronic Kidney Disease (CKD)


Manifestasi klinis CKD sangat bervariasi, banyak orang dengan CKD hanya
memiliki sedikit keluhan.
a. Stadium 1, klien biasanya memiliki tekanan darah normal, tidak ada
kelainan dalam tes laboratorium, dan tidak ada manifestasi
b. Stadium 2 umumnya asimtomatik, tetapi mungkin mengalami hipertensi,
dan ada kelainan pada tes laboratorium.
c. Stadium 3, klien biasanya masih asimtomatik tetapi nilai laboratorium
menunjukkan kelainan di beberapa system organ, dan hipertensi sering ada
d. Stadium 4, klien mulai mengalami manifestasi klinis terkait dengan CKD
seperti kelelahan dan nafsu makan yang buruk. Pada stadium 5, sesak
nafas berat menjadi manifestasi klinis penyakit ginjal stadium akhir,
proteinuria adalah salah satu predictor yang paling kuat akan
perkembangan CKD. (Malik et al., 2022)

5. Komplikasi Chronic Kidney Disease (CKD)


Menurut , komplikasi dari Chronic Kidney disease adalah sebagai berikut.
a. Anemia
b. Gangguan Mineral dan tulang
c. Hiperkalemia
22

d. Asidosis metabolic
e. Penyakit Kardiovaskular

6. Penatalaksanaan Keperawatan pada pasien Chronic Kidney Disease


(CKD)
Menurut Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Dr. Cipto Mangunkusumo
(2004), dalam Harmilah (2019) menggolongkan tatalaksana penyakit ginjal
kronik sebagai berikut.
a. Nonfarmakologis
1) Pengaturan asupan protein
a) Pasien nondialisis 0,6-0,7 gram/kgBB ideal/hari (sesuai dengan
CCT/toleransi pasien)
b) Pasien hemodialysis 1-1,2 gram/kgBB/hari
c) Pasien peritoneal dialysis 1,3 gram/kgBB/hari
2) Pengaturan asupan kalori : 35 kal/kgBB ideal/hari
3) Pengaturan asupan lemak : 30-40% dari kalori total dan mengandung
jumlah yang sama antara asam lemak jenuh dan tidak jenuh
4) Pengaturan asupan karbohidrat : 50-60% dari kalori total
5) Garam (NaCl) : 2-3 gram/hari
6) Kalium 40-70 mEq/kgBB/hari
7) Fosfor : 5-10 mg/kgBB/hari, pasien HD : 17 mg/hari
8) Kalsium : 1400-1600mg/hari
9) Besi : 10-18 mg/hari
10) Magnesium : 200-30 mg/hari
11) Asam folat pasien HD : 5 mg
12) Air : jumlah urine 24 jam + 500 ml (insensible water loss). Pada CAPD,
air disesuaikan dengan jumlah dialisat yang keluar. Kenaikan BB di antara
waktu HD <5% BB kering. Insensibel Water Loss (IWL) adalah 25% dari
kebutuhan cairan per hari atau 500 ml–700 ml. Peningkatan suhu 1° C
kebutuhan cairan ditambah 12%-15% dari kebutuhan cairan dalam 24jam.
b. Farmakologis
1) Kontrol tekanan darah
23

2) Penghambatan EKA atau antagonis reseptor Angitensi II kemudian


evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin
>35% atau timbul hyperkalemia harus dihentikan
3) Penghambatan kalsium
4) Diuretik
5) Pada pasien DM, kontrol gula darah dan hindari pemakaian metmorfin
atau obat-obat sulfonilurea dengan masa kerja panjang
6) Koreksi anemia dengan target Hb 10-12gr/dl
7) Control asidosis metabolic dengan target HCO3 20-22 mEq/l
c. Tatalaksana ginjal pengganti : transplantasi ginjal, dialisis

C. Asuhan Keperawatan Gangguan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit


pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD)

1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Identitas klien dan identitas penanggung jawab klien ditulis lengkap seperti nama,
usia (paling sering 30-60 tahun), jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan
dan alamat serta hubungan penanggung jawab dengan klien. (Hapipah et al.,
2022)
b. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Pengkajian riwayat penyakit sekarang mendukung keluhan utama dengan
menanyakan tentang perjalanan penyakit atau sejak timbulnya keluhan hingga
pasien dibawa ke pelayanan kesehatan. (Hapipah et al., 2022). Ketika ginjal
mengalami gangguan maka akan menimbulkan banyak keluhan, adapun
keluhan yang biasa dirasakan adalah nyeri, hematuria, nokturia, inkontinensia,
nyeri local di area organ perkemihan, demam, mudah lelah, berat badan
menurun, sering harus dan retensi cairan. (Pora et al., 2022)
2) Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji riwayat ISK, payah jantung, penggunaan obat berlebihan (overdosis)
khususnya obat bersifat nefrotosik, BPH dan lain sebagainya yang mampu
mempengaruhi kerja ginjal. Selain itu, ada beberapa penyakit yang langsung
mempengaruhi/ menyebabkan gagal ginjal, yaitu diabetes melitus, hipertensi.
24

3) Riwayat Kesehatan Keluarga


Gagal ginjal kronis bukan penyakit menular dan menurun, sehingga silsilah
keluarga tidak terlalu berdampak pada penyakit gagal ginjal kronis. Namun,
pencetus sekunder seperti DM dan hipertensi memiliki pengaruh terhadap
kejadian penyakit gagal ginjal kronis, karena penyakit tersebut herediter
(Harmilah, 2020)
c. Pengukuran
1) Keadaan umum
Perlu dinilai tingkat kesadaran pasien apakah composmentis, apatis, somnolen,
sopor, soporkoma, dan koma. Kondisi penurunan kesadaran dapat terjadi pada
pasien dengan gangguan ginjal yang bersifat sistemik seperti yang mengalami
gangguan keseimbangan asam dan basa. (Hapipah et al., 2022)
2) Tanda tanda vital
Biasanya sering didapatkan adanya perubahan pada nadi dan suhu tubuh akibat
pasien mengalami infeksi. Frekuensi nafas cepat dan dalam (kussmaul).
3) Indeks Massa Tubuh
Biasanya terjadi peningkatan berat badan.
4) Derajat edema
a) Derajat I, kedalamannya 1-3 mm dengan waktu kembali 3 detik
b) Derajat II, kedalamannya 3-5 mm dengan waktu kembali 5 detik
c) Derajat III, kedalamannya 5-7 mm dengan waktu kembali 7 detik
d) Derajat IV, kedalamannya 7 mm dengan waktu kembali 7 detik

d. Pemeriksaan fisik (Head to Toe)


1) Kepala
a) Rambut
Biasanya tidak terdapat masalah pada rambut
b) Mata
Biasanya konjungtiva terlihat anemis, sclera tidak ikterik, pandangan mata
kabur dan edema pada kantung mata.
c) Hidung
Nafas terlihat sesak, biasanya frekuensi pernafasan 25-28x/menit.
25

d) Mulut
Biasanya ditemukan adanya ulserasi, nafas berbau amonia, iritasi atau
kekringan pada membrane mukosa mulut dan terdapat peradangan pada
mulut atau gusi.
e) Leher
Biasanya ditemukan adanya pembesaran pada vena jugularis
2) Thoraks
Paru-paru
I = biasanya tidak ada retraksi dinding dada
P = biasanya terdengar bunyi redup karena ada cairan di
paru P = biasanya fremitus kiri tidak sama dengan fremitus
kanan A = biasanya ditemukan suara ronkhi
Jantung
I = biasanya iktus kordis kuat angkat
P = iktus kordis teraba di RIC V
P = pekak
A = terdengar bunyi murmur (aritmia)
3) Abdomen
I = biasanya akan tampak perubahan warna, adanya memar, bentuk yang tidak
simetris atau pembengkakan
A = biasanya ditemukan bunyi desiran (bruit) di pembuluh darah abdomen
tepatnya di arteri renalis
P = biasanya pasien akan mengeluh nyeri
P = biasanya pasien yang merasakan nyeri mengalami masalah infeksi atau
polycyctic
4) Kandung kemih
Biasanya terdapat distensi kandung kemih saat dilakukan palpasi pada bagian
kandung kemih. Kandung kemih dapat diperkusi apabila volume urin lebih dari
150 ml, apabila volume urin mencapai 0,5 liter maka akan berbunyi redup pada
symphysis pubis.
5) Ekstremitas
26

Biasanya pasien mengalami edema pada ekstremitas atas dan bawah, terdapat
ekomosis, timbunan urea pada kulit dan kulit akan tampak mengkilat.
6) Genitalia
Pada pasien perempuan biasanya terdapat tanda iritasi pada bagian vulva atau
perineum dikarenakan inkontinensia urin. Sedangkan pada pasien laki-laki
biasanya terdapat kemerahan dan tanda infeksi pada area penis, skrotum dan
perineum.
e. Kebutuhan sehari-hari (ADL)
1) Pola nutrisi
Kaji jumlah dan jenis cairan yang biasa diminum pasien, karena biasanya
minuman sering memperburuk keadaan inflamasi system perkemihan. Kaji
jenis makanan yang sering dikonsumsi pasien, kaji juga apakah ada anoreksia,
mual dan muntah pada pasien dengan CKD.
2) Pola eliminasi
Pada pasien dengan gangguan cairan dan elektrolit kaji frekuensi, urgensi dan
jumlah urine output, perubahan warna urin, adanya darah dalam urin. Biasanya
ditemukan dysuria, inkontinensia, nokturia, polyuria dan oliguria.
3) Pola psikososial
Masalah kesehatan pada system perkemihan seperti gagal ginjal kronis biasanya
akan memberikan respon maladaptive terhadap konsep diri pasien sehingga
tingkat stress emosional dan mekanisme koping yang digunakan berbeda-beda.
4) Pola aktivitas/istirahat
Biasanya pasien mengalami kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise, gangguan
tidur (insomnia/gelisah), kelemahan otot, kehilangan tonus dan penurunan
rentang gerak.
5) Pola sirkulasi
Adanya riwayat hipertensi lama atau berat, nyeri dada (angina), nadi teraba kuat,
edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak tangan
27

f. Pemeriksaan diagnostic
Hasil dari berbagai tes diagnostic merupakan data yang penting untuk menilai
respons seseorang terhadap pengobatan dan intervensi keperawatan yang
diberikan. Beberapa pemeriksaan yang sering dilakukan, yaitu (Nuari &
Widayati, 2017):
1) Urin
a) Volume : biasanya kurang dari 400 ml/24 jam atau tak ada
(anuria)
b) Warna : secara abnormal urin keruh kemungkinan disebabkan oleh pus,
bakteri, lemak, fosfat atau urat sediman kotor, kecoklatan menunjukkan
adanya darah, Hb, myoglobin, porfirin
c) Berat jenis : kurang dari 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat
d) Osmoalitas : kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan ginjal
tubular dan rasio urin/ serum sering 1:1
e) Klirens kreatinin : biasanya akan menurun
f) Natrium : lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu
mereabsorbsi natrium
g) Protein : derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkan
kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada
2) Darah
a) BUN/kreatinin : biasanya terjadi peningkatan, kadar kreatinin dengan
nilai 10 mg/dl diduga tahap akhir
b) Hematokrit : menurun jika terdapat anemia, dan Hb biasanya kurang
dari 7-8 gr/dl
c) SDM : biasanya menurun, defisiensi eritoropoitin
d) GDA : asidosis metabolic, pH kurang dari 7,2
3) Osmolalitas serum : lebih dari 285 mOsm/kg
4) Pelogram retrograde : abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
5) Ultrasono ginjal : menentukan ukuran ginjal dan adanya masa kista,
obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas
6) Endoskopi ginjal : untuk menentukan pelvis ginjal, hematuria dan
pengangkatan tumor selektif
28

7) Arteriogram ginjal : mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi


ekstravaskular
8) EKG : ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan


Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (PPNI, 2017) menjabarkan
kemungkinan diagnose yang muncul pada pasien gangguan pemenuhan
kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD)
adalah Hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi dan
kelebihan asupan cairan

3. Perencanaan Keperawatan
Tabel 2.6
Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Tujuan (SLKI) Intervensi (SIKI)


Hypervolemia berhubungan Setelah dilakukanManajemen hypervolemia
dengan intervensi keperawatan Observasi :
gangguan mekanisme diharapkan 1. Periksa tanda dan
regulasi dan kelebihan keseimbangan cairan gejala hypervolemia
asupan cairan meningkat, dengan (mis. Ortopnea,
kriteria hasil : dyspnea, edema,
1. Asupan cairan JVP/CVP meningkat,
Gejala dan Tanda meningkat reflex hepatojugular
Mayor : 2. Haluaran urin positif, suara nafas
meningkat tambahan)
Gejala : 3. Kelembapan 2. Identifikasi penyebab
1. Ortopnea membrane hypervolemia
2. Dyspnea mukosa 3. Monitor status
3. Paroxysmal meningkat hemodinamik (mis.
nocturnal dyspnea 4. Edema menurun Frekuensi jantung,
(PND) 5. Tekanan darah tekanan darah, MAP,
membaik CVP, PAP, PCWP,
Tanda : 6. Turgor kulit CO, CI), jika tersedia
1. Edema anasarka membaik 4. Monitor intake dan
dan/atau edema 7. Berat badan output cairan
perifer membaik 5. Monitor tanda
2. Berat badan(L.03020) peningkatan tekanan
meningkat dalam onkotik plasma (mis.
waktu singkat Kadar protein dan
3. Jugular Venous albumin meningkat)
Pressure (JVP) 6. Monitor kecepatan
dan/atau Cental infus secara ketat
29

Venous Pressure 7. Monitor efek samping


(CVP) meningkat diuretic (mis.
4. Reflex Hipotensi ortortostatik,
hepatojugular hipovolemia,
positif hypokalemia,
hiponatremia)
Terapeutik
Gejala dan Tanda 1. Timbang berat badan
Minor : setiap hari pada waktu
yang sama
Gejala : 2. Batasi asupan cairan
(tidak tersedia) dan garam
3. Tinggikan kepala
Tanda : tempat tidur 30º-40º
1. Distensi vena Edukasi
jugularis 1. Anjurkan melapor jika
2. Terdengar suara haluaran urin <0,5
nafas tambahan ml/kg/jam dalam 6
3. Hepametogali jam
4. Kadar Hb/Ht 2. Anjurkan melapor jika
turun BB bertambah >1 kg
5. Oliguria dalam sehari
6. Intake lebih 3. Ajarkan cara
banyak (balance mengukur dan
cairan positif) mencatat asupan dan
7. Kongesti paru haluaran cairan
(D.0022) Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian
diuretic
2. Kolaborasi
penggantian
kehilangan kalium
akibat diuretic
(I.03114)
Sumber : (PPNI, 2017, 2018, 2019)

4. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan tindakan yang telah ditentukan,
dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. (Basri et al.,
2020). Kriteria yang diharapkan untuk pasien pada tahap implementasi ini
adalah keseimbangan cairan meningkat dan eliminasi urine membaik. (PPNI,
2019).
30

5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses
keperawatan yang berguna untuk memastikan tujuan dari tindakan keperawatan
yang telah dilakukan tercapai atau perlu pendekatan lain. Metode yang
digunakan dalam evaluasi antara lain yaitu : observasi, wawancara keluarga,
memeriksa laporan, dan latihan stimulasi. (Leniwita & Anggraini, 2019)
31

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN DIAGNOSA MEDIS


HIPONATREMIA DAN HIPOALBUMINEMIA EC NOP DI RUANGAN TERATAI
RSUD ARIFIN ACHMAD TANGGAL 02 FEBRUARI 2026

Deskripsi Kasus

RSUD Arifin Achmad adalah rumah sakit umum daerah yang menjadi pusat
rujukan pendidikan dan pelayanan kesehatan di Provinsi Riau. Penelitian ini
dilakukan di Ruang Teratai RSUD Arifin Achmad yang melibatkan 1 partisipan
dengan kasus gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien
Chronic Kidney Disease (CKD) dengan komplikasi Neoplasma Ovarium.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 02 Februari sampai 05 Februari..

I. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. R
Umur : 49 tahun
Agama : islam
Jenis Kelamin : perempuan
Status : sudah menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : ......................................................................................................
Suku Bangsa : ......................................................................................................
Alamat : ..........................................................................................................
Tanggal Masuk : ......................................................................................................
Tanggal Pengkajian : ......................................................................................................
No. Register : ......................................................................................................
Diagnosa Medis : ......................................................................................................

b. Identitas Penanggung Jawab


Nama : ......................................................................................................
Umur : ......................................................................................................
Hub. Dengan Pasien : ......................................................................................................
Pekerjaan : ......................................................................................................
Alamat : ......................................................................................................
32
2. Status Kesehatan

a. Status Kesehatan Saat Ini


1) Keluhan Utama (Saat MRS dan saat
ini) : .............................................................................................................................
......

...............................................................................................................................................
.....................................................................................

................................................................................................................................................
.....................................................................................

2) Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat


ini : ....................................................................................

...............................................................................................................................................
.....................................................................................

................................................................................................................................................
......................................................................................

................................................................................................................................................
......................................................................................

3) Upaya yang dilakukan untuk


mengatasinya : ............................................................................................................
...............

...............................................................................................................................................
.....................................................................................

................................................................................................................................................
.....................................................................................

b. Status Kesehatan Masa Lalu


1) Penyakit yang pernah
dialami : ..........................................................................................................................
.......................................

2) Pernah
dirawat : ...........................................................................................................................
..........................................................................

3) Alergi : .........................................................................................................................
..........................................................................................
33
4) Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol
dll) : .............................................................................................................................
..........

c. Riwayat Penyakit Keluarga :


.....................................................................................................................................
......................

d. Diagnosa Medis dan therapy


Diagnosa : .............................................................................................................................
................................................................................
Therapy : .............................................................................................................................
.................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................

3. Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)


a. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan:
................................................................................................................................
b. Pola Nutrisi-Metabolik
 Sebelum sakit :
.....................................................................................................................................
................................................
 Saat sakit :
.....................................................................................................................................
................................................

c. Pola Eliminasi
1) BAB
 Sebelum sakit :
.....................................................................................................................................
................................................

 Saat sakit :
.....................................................................................................................................
................................................
2) BAK
 Sebelum sakit :
.....................................................................................................................................
................................................
 Saat sakit :
34
.....................................................................................................................................
................................................

d. Pola aktivitas dan latihan


1) Aktivitas
Kemampuan 0 1 2 3 4
Perawatan Diri
Makan dan minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Berpindah
0: Mandiri, 1: Alat bantu, 2: Dibantu orang lain, 3: Dibantu orang lain dan alat, 4:
tergantung total

2) Latihan
 Sebelum sakit :
.....................................................................................................................................
................................................
 Saat sakit :
.....................................................................................................................................
................................................

e. Pola kognitif dan Persepsi :


.....................................................................................................................................
................................

f. Pola Persepsi-Konsep diri :


.....................................................................................................................................
.................................

g. Pola Tidur dan Istirahat


 Sebelum sakit :
.....................................................................................................................................
................................................

 Saat sakit :
.....................................................................................................................................
................................................
35
h. Pola Peran-Hubungan :
.....................................................................................................................................
..........................................

i. Pola Seksual-Reproduksi
 Sebelum sakit :
................................................................................................................................................
......
 Saat sakit :
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
................................................................................

j. Pola Toleransi Stres-Koping :


.....................................................................................................................................
...........................
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
................................
k. Pola Nilai-Kepercayaan :
.....................................................................................................................................
......................................
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.................................
4. Pengkajian Fisik
a. Keadaan umum : sedang
Tingkat kesadaran : komposmetis/apatis/somnolen/sopor/koma
GCS : Psikomotor: Mata :
b. Tanda-tanda Vital : Nadi = … X/menit, Suhu =……… , TD =…………, RR
=……X/menit
c. Keadaan fisik :
.....................................................................................................................................
........................................................
a. Kepala dan
leher : ..........................................................................................................................
...........................................................
b. Dada :
 Paru
................................................................................................................................................
36
.....................................................................................................................................
...................................

 Jantung
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.........................................................

c. Payudara dan ketiak :


................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.........................................................

d. Abdomen :
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
..........................................................

e. Genitalia :
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
..........................................................

f. Integumen :
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
...................................
................................................................................................................................................
............

g. Ekstremitas :
 Atas
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
..........................................................
 Bawah
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
..........................................................

h. Neurologis :
 Status mental dan emosi :
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
...................................
37
 Pengkajian saraf kranial :
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
...................................
 Pemeriksaan refleks :
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
...................................

b. Pemeriksaan Penunjang
1. Data laboratorium yang berhubungan
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
...................................
................................................................................................................................................
............
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
...................................
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
..........................................................

2. Pemeriksaan radiologi
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
........................................................................................................

3. Hasil konsultasi
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
..........................................................
................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
...................................

4. Pemeriksaan penunjang diagnostik lain


................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
..........................................................
................................................................................................................................................
...........
38

5. ANALISA DATA
A. Tabel Analisa Data
DATA ETIOLOGI MASALAH
39

B. Tabel Daftar Diagnosa Keperawatan/Masalah Kolaboratif Berdasarkan Prioritas

NO TANGGAL/ DIAGNOSA KEPERAWATAN Tanda


JAM tangan
DITEMUKAN
40

C. Rencana Tindakan Keperawatan


Hari Rencana Perawatan TTD
No
/ Tujuan dan
Dx Intervensi
Tgl Kriteria Hasil
41
42

Hari Rencana Perawatan TTD


No
/ Tujuan dan
Dx Intervensi
Tgl Kriteria Hasil
43
44

D. Implementasi Keperawatan

Hari/ No Evaluasi proses/ Ttd


Tindakan Keperawatan
Tgl/Jam Dx Respon Tindakan
45
46
Hari/ No Evaluasi proses/Respon Ttd
Tindakan Keperawatan
Tgl/Jam Dx Tindakan
47
48

Hari/ No Evaluasi proses/Respon Ttd


Tindakan Keperawatan
Tgl/Jam Dx Tindakan
49
50

E. Evaluasi Keperawatan
Hari/Tgl No. Evaluasi
TTd
Jam DX
51
52
Hari/Tgl No.
Evaluasi TTd
Jam DX
53
54
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penitian pada Ny. N dengan Chronic Kidney Disease
(CKD) yang mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang
dilakukan selama lima hari dari tanggal 06 Februari sampai dengan 10
Februari 2023 di Ruang Interne Rumah Sakit Tk. III Dr. Reksodiwiryo
Padang, maka peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil Pengkajian pada kasus ini didapatkan edema pada ekstermitas atas
dan bawah, mengeluh sesak nafas, berat badan meningkat dan badan terasa
letih disertai anemis pada kedua konjungtiva. Dari pemeriksaan
laboratorium didapatkan hasil pemeriksaan hematologi pasien sebagai
berikut : Hemoglobin : 9,6 g/dl, Hematokrit : 27,2%
2. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan pengkajian keperawatan pada Ny.
N ditemukan masalah keperawatan yaitu Hipervolemia berhubungan
dengan gangguan mekanisme regulasi dan Perfusi perifer tidak efektif
berhubungan dengen penurunan konsentrasi hemoglobin.
3. Rencana keperawatan mengacu pada standar intervensi keperawatan
Indonesia (SIKI). Rencana yang dilakukan pada diagnose hipervolemia
adalah Observasi : Monitor tanda dan gejala hypervolemia, identifikasi
penyebab hypervolemia, monitor status hemodinamik meliput denyut nadi
dan tekanan darah, monitor intake dan output cairan, monitor frekuensi
nafas, Terapeutik : Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang
sama, batasi asupan cairan dan garam, tinggikan kepala tempat tidur 30-
40ºC, Edukasi : Anjurkan melaporkan jika haluaran urin <0,5 Ml/kg/jam
dalam 6 jam, anjurkan melapor jika BB bertambah >1 kg dalam sehari,
ajarkan cara mengukur dan mencatat asupan serta haluaran cairan, ajarkan
cara membatasi cairan, Kolaborasi : Pemberian terapi obat.
4. Rencana yang dilakukan pada diagnose perfusi perifer tidak efektif adalah
Observasi yaitu periksa sirkulasi perifer (nadi perifer, edema, pengisian
kapiler), identifikasi factor risiko gangguan sirkulasi, monitor nyeri atau
bengkak pada ekstermitas, Terapeutik yaitu lakukan hidrasi, Edukasi

58
Poltekkes Kemenkes Padang
59

yaitu anjurkan minum obat pengontrol tekanan darah secara teratur dan
informasikan tanda serta gejala darurat yang harus dilaporkan saat
transfuse darah, dan Kolaborasi yaitu berikan transfuse darah sesuai
dengan order dari dokter.
5. Implementasi Keperawatan yang dilakukan merupakan tindakan dari
rencana tindakan keperawatan, implementasi keperawatan dilakukan dari
tanggal 06 Februari sampai dengan 10 Februari 2023, yaitu dengan
melakukan pemantauan intake dan output pasien secara berkala,
menimbang berat badan, mengukur derajat edema pasien dan memonitor
sirkulasi perifer serta memberikan terapi PRC pada pasien
6. Evaluasi keperawatan yang didapatkan dari tindakan yang telah dilakukan
membawa dampak positif, keseimbangan cairan meningkat dengan kriteria
hasil sebagai berikut asupan cairan meningkat, haluaran urin meningkat,
edema menurun, tekanan darah membaik, denyut nadi membaik, berat
badan membaik. Perfusi perifer meningkat dengan kriteria hasil denyut
nadi perifer meningkat, warna kulit pucat menurun, edema perifer
menurun, pengisian kapiler membaik, dan akral membaik.

B. Saran
1. Bagi Kepala RS Tk. III Dr. Reksodiwiryo Padang
Melalui kepala rumah sakit diharapkan perawat ruangan interne dapat
melanjutkan pemantauan balance cairan dan edukasi pada pasien dan
keluarga tentang cara mengukur dan mencatat asupan dan haluaran cairan
serta membatasi cairan sebagai intervensi dalam memberikan asuhan
keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit pada
pasien Chronic Kidney Disease (CKD).
2. Bagi Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes RI Padang
Melalui Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes RI Padang,
Karya Tulis Ilmiah ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi yang dapat
dijadikan untuk informasi tambahan pengetahuan mahasiswa terkait
asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit
pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD).

Poltekkes Kemenkes Padang


60

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Kepada peniliti selanjutnya untuk meneliti efektifitas dalam pemantauan
balance cairan terhadap penurunan berat badan dan derajat edema lebih
cepat sehingga gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit pada
pasien Chronic Kidney Disease (CKD) lebih cepat teratasi.

Poltekkes Kemenkes Padang


DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, I. M. S., Trisnadewi, N. W., Oktaviani, N. P. W., Munthe, S. A., &


Hulu, V. T. (2021). Metodologi Penelitian Kesehatan (J. Simarmata & R.
Watrianthos (eds.)). yayasan kita menulis.

Ardiansyah. (2014). Chronic Kidney Disease Stage V. Fakultas Kedokteran


Universitas Lampung Medula, 2(3), 21–30.

Basri, B., Utami, T., & Mulyadi, E. (2020). Konsep Dasar Dokumentasi
Keperawatan. media sains indonesia.

Digiulio, mary. dkk. (2014). keperawatan medikal bedah (K. Aulawi (ed.); 1st
ed.). rapha publishing.

Dinkes Sumbar. (2019). Riset Kesehatan Dasar Provinsi Sumatera Barat Tahun
2018. In Laporan Riskesdas Nasional 2018.

ESRD. (2021). Chronic Kidney Disease in the United States, 2021. Cdc, 1, 1–6.
[Link]
[Link]%0A[Link]
resources/[Link]

Gliselda, V. K. (2021). Diagnosis dan Manajemen Penyakit Ginjal Kronis (PGK).


Jurnal Medika Hutama, 2(04 Juli), 1135–1141.

Hadi, A., Asrori, & Rusman. (2021). Penelitian Kualitatif Studi Fenomenologi,
Case Stuudy, Grounded Theory, Etnografi, Biografi (1st ed.). pena persada.

Hadinata, D., & Baharudin, L. (2022). Patofisiologi (H. Mulyana (ed.)). edu
publisher.

Hall, J. E. (2019). Guyton dan Hall Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (A. Tanzil &
D. Widjadjakusumah (eds.); 13th ed.). Elsevier Health Sciences.

Hapipah, Istianah, Kaseger, H., & budi kritiani, R. (2022). Asuhan Keperawatan
Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan Berbasis SDKI, SLKI dan SIKI
(M. Martini (ed.)). media sains indonesia.

Haq, M. T. D., Marbun, F., Zahrianis, A., Ulfa, M., Rambe, N. K., & Kaban, K. B.
(2020). Hubungan Anemia Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Gagal Ginjal
Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Dibawah 6 Bulan Di Rumah Sakit
Khusus Ginjal Rasyida Medan. Malahayati Nursing Journal, 2(3), 641–648.
[Link]

Harmilah. (2020). asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem


perkemihan (1st ed.). pustaka baru press.
Haryono, R. (2013). keperawatan medikal bedah : sistem perkemihan (D.
Hardjono (ed.); 1st ed.). rapha publishing.

Hidayat, aziz alimul, & Uliyah, M. (2015). buku ajar kebutuhan dasar manusia.
Health Books Publishing.

Insani, N., Manggau, M. A., & Kasim, H. (2018). Analisis Efektivitas Terapi Pada
Pasien Anemia Gagal Ginjal Hemodialisis Di Rsup Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar. Majalah Farmasi Dan Farmakologi, 22(1), 13–15.
[Link]

Kemenkes RI. (2018). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian
Kesehatan RI, 53(9), 1689–1699.

Kusnanto. (2016). modul pembelajaran pemenuhan kebtuhan cairan dan


elektrolit. Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.

Leniwita, H., & Anggraini, Y. (2019). Modul dokumentasi keperawatan. Fakultas


Vokasi Universitas Kristen Indonesia, 1–182.

[Link], J., & Hawks, J. H. (2022). KMB : Dasar-dasar Keperawatan Medikal


Bedah (H. Syarif & Tutiany (eds.)). Elsevier Health Sciences.

Malik, Zukri, Salam, & Sugiyarto. (2022). keperawatan medikal bedah II (1st
ed.). Rizmedia Pustaka Indonesia.

Malisa, N., Agustina, F., Wahyurinto, Oktaviani, dewi siti, & Susilawati. (2022).
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah DIII Keperawatan Jilid I (A. Karim
(ed.)). mahakarya citra utama group.

Maryunani, A. (2017). kebutuhan dasar manusia (1st ed.). in media.

Nelcensieni, M. felisitas, Nyumirah, S., Lenwita, H., Ilkafah, Pratiwi, R.,


Damanik, M., & Suriyani. (2023). Konsep Dasar Keperawatan. Rizmedia
Pustaka Indonesia.

Nuari, N. A., & Widayati, D. (2017). Gangguan Pada Sistem Perkemihan &
Penatalaksanaan Keperawatan. Deepublish.

Nurbadriyah, wiwit dri. (2021). ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT GINJAL


KRONIS DENGAN PENDEKATAN 3S (1st ed.). Literasi Nusantara.

Padila. (2012). buku ajar : keperawatan medikal bedah (1st ed.). nuha medika.

Patrisia, I. (2020). asuhan keperawatan pada kebutuhan dasar manusia (A. Karim
(ed.)). yayasan kita menulis.

Pora, Y. D., Purqoti, D. N. S., Dewi, D. S., Subekti, R. T., Prahmawati, P.,
Budianto, A., Oktorina, R., & Nelson, J. (2022). Asuhan Keperawatan
Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan Berbasis SDKI, SLKI dan SIKI
(M. Martini (ed.)). media sains indonesia.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Kperawatan Indonesia : definisi dan indikator


diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan tindakan


Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia : definisi dan kriteria hasil
keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.

Prabowo, E., & Pranata, andi eka. (2014). buku ajar asuhan keperawatan sistem
perkemihan (1st ed.). nuha medika.

Rahman, D. R. B. A. (2017). Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Buku


Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, 5.

Ramadhani, A. W. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Chronic Kidney


Disease (CKD) Dengan Tindakan Pembatasan Kebutuhan Cairan. Jurnal
Universitas Kusuma Husada Surakarta, 9(7).

Saragih, J. (2022). keperawatan dasar (M. Deswita (ed.); 1st ed.). mitra cendekia
media.

Sianturi, W. A. (2020). Diagnosa dalam keperawatan. Ppni 2009, 3–7.

Tohardi, A. (2019). Pengantar Metodologi Penelitian Sosial + Plus. tanjungpura


university press.

Uliah, M., & Hidayat, aziz alimul. (2021). Keperawatan Dasar 1 untuk
Pendidikan Vokasi. health book publishing.

Vasra, E. (2016). kebutuhan dasar manusia dan keterampilan dasar kebidanan


(T. Ismail (ed.); 1st ed.). trans info media.

Vaughans, bennita W. (2013). Keperawatan Dasar (D. Hardjono (ed.); 1st ed.).
rapha publishing.

Wahyudi, andri setiya, & Wahid, A. (2016). ilmu keperawatan dasar (1st ed.).
Mitra Wacana Media.

WHO. (2020). WHO Results Report Programme 2018-2019. November.


[Link]

Yuliati. (2017). modul cairan dan elektrolit. universitas esa unggul.


Yuniarti, W. (2021). Anemia Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik. Journal Health
And Science ; Gorontalo Journal Health & Science Community, 5, 1–5.

Yusuf, M. (2017). METODE PENELITIAN Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian


Gabungan. kencana.

Anda mungkin juga menyukai