0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pembelajaran matematika berbasis masalah, menjelaskan perbedaan antara soal dan masalah, serta pentingnya pemahaman dan kemampuan berbahasa matematika dalam menyelesaikan soal cerita. Model pemecahan masalah Polya dijelaskan sebagai proses yang terdiri dari empat tahap: memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan menelaah kembali. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti pentingnya kemampuan awal siswa dalam menyelesaikan soal cerita, khususnya yang melibatkan operasi pecahan.

Diunggah oleh

pangkatnaik6
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pembelajaran matematika berbasis masalah, menjelaskan perbedaan antara soal dan masalah, serta pentingnya pemahaman dan kemampuan berbahasa matematika dalam menyelesaikan soal cerita. Model pemecahan masalah Polya dijelaskan sebagai proses yang terdiri dari empat tahap: memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan menelaah kembali. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti pentingnya kemampuan awal siswa dalam menyelesaikan soal cerita, khususnya yang melibatkan operasi pecahan.

Diunggah oleh

pangkatnaik6
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Matematika Berbasis Masalah

Masalah matematika berbeda dengan soal matematika. Soal matematika tidak

selamanya merupakan masalah. Menurut Muser dan Burger (1994:3) terdapat

perbedaan antara soal dan masalah, meskipun perbedaan ini tidak dapat dibuat secara

tepat. Untuk menyelesaikan soal, seseorang dapat secara langsung menggunakan

prosedur rutin untuk mendapat suatu jawaban. Sedangkan untuk menyelesaikan

masalah, seseorang harus berhenti sejenak, merefleksi, dan mungkin melakukan

beberapa langkah untuk dapat memperoleh suatu jawaban. Hudojo (1979:157)

menyatakan bahwa suatu soal akan merupakan masalah jika seseorang belum

mempunyai aturan/hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk

menemukan jawaban soal tersebut. Soal tersebut juga dapat terselinap dalam situasi

sedemikian hingga situasi itu sendiri perlu mendapat penyelesaian.

Pada hakekatnya matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur, dan

hubungan-hubungan yang tersusun secara hirarki (Hudojo, 1988:4). Hubungan

tersebut diatur dengan kaidah logika deduktif atas dasar konsep-konsep matematika

yang telah direpresentasikan secara simbolik. Lebih lanjut, Muser dan Burger

(1994:5) menyatakan bahwa perbedaan antara soal dan masalah masih bergantung

pada pikiran orang yang akan menyelesaikannya. Misalnya 3 + 2 = ... dapat

merupakan suatu masalah untuk siswa SD, tetapi merupakan soal untuk siswa SMP.
12

Hal ini sesuai pendapat Hudojo (1979:157) bahwa soal merupakan masalah

bergantung pada usia dan waktu. Artinya, suatu soal dapat merupakan masalah bagi

seorang siswa, tetapi mungkin bukan merupakan masalah bagi siswa lain. Newell

dan Simon (dalam Meiring, 1980:5) menyatakan bahwa masalah adalah situasi yang

seseorang memerlukan sesuatu dan belum mengetahui secara langsung tindakan yang

akan dilakukan untuk mencapainya. Jadi masalah matematika adalah masalah yang

melibatkan ide-ide matematika dalam melakukan tindakan untuk menyelesaikannya.

Meiring (1980:5) menyatakan bahwa suatu masalah matematika harus

memiliki beberapa syarat yaitu (1) situasi harus memuat pernyataan awal dan tujuan,

(2) situasi harus memuat ide-ide matematika, (3) menarik seseorang untuk mencari

selesainya, dan (4) harus memuat penghalang/rintangan antara yang diketahui dan

yang diinginkan. Sedangkan Hudojo (1979:157) menyatakan bahwa syarat suatu

masalah bagi siswa adalah (1) soal yang diberikan kepada siswa harus dapat dipahami

oleh siswa, namun soal tersebut merupakan tantangan untuk diselesaikan, dan (2) soal

tersebut tidak dapat secara langsung dijawab dengan prosedur rutin yang telah

diketahui siswa. Karena itu, faktor waktu untuk menyelesaikan masalah tidak boleh

dipandang sebagai hal yang esensial.

Semua syarat yang disebutkan di atas merupakan kriteria penyajian materi

matematika berbasis masalah yang menuntut tahap-tahap penyelesaian terstruktur.

Menyelesaikan atau memecahkan masalah menurut Polya (1962:117) adalah mencari

suatu tindakan yang sesuai secara sadar untuk mencapai tujuan yang memang tidak

dapat diperoleh secara langsung. Dalam penyelesaian masalah, siswa perlu


13

memahami proses penyelesaian dan terampil memilih, mengidentifikasi kondisi dan

konsep yang diperlukan dan relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana

penyelesaian, dan mengorganisasikan ketrampilan yang telah dimiliki sebelumnya.

Menurut Gagne (dalam Orton, 1991:93) pemecahan masalah merupakan

bentuk belajar tertinggi. Dalam menyelesaikan masalah, siswa perlu untuk

menetapkan masalah, menemukan kaidah-kaidah dan kombinasi-kombinasi yang

telah dimiliki sebelumnya yang dapat diterapkan untuk mencapai suatu selesaian

suatu persoalan baru. Menurut Kislam (1993:1), untuk memecahkan masalah terdapat

beberapa langkah yang dapat dikerjakan siswa yaitu (1) merumuskan masalah, (2)

menentukan alternatif pemecahan masalah, (3) memilih alternatif yang paling

sederhana dan mudah, (4) menentukan prosedur sesuai alternatif yang dipilih, (5)

melaksanakan pemecahan masalah, dan (6) evaluasi hasil pemecahan masalah.

Kajian awal mengenai pemecahan masalah dalam matematika dilakukan oleh

Polya (dalam Orton, 1991:94). Menurut Polya untuk memecahkan suatu masalah

terutama yang berkaitan dengan soal cerita diperlukan empat tahap yaitu (1)

memahami masalah, (2) membuat rencana, (3) melaksanakan rencana, dan (4)

menelaah kembali. Bila digambarkan, proses pemecahan masalah karya Polya ini

akan membentuk loop atau perputaran, yakni ada tahap-tahap yang perlu diulang jika

belum berhasil.

Uraian tahap-tahap pemecahan Polya menurut Muser dan Burger (1994:4)

masih dapat dijabarkan sebagai berikut.

1. Mengerti masalah.
14

Pada tahap ini siswa dihadapkan pada beberapa pertanyaan berikut.

a. Apakah kamu mengerti semua kata-kata/kalimat?

b. Dapatkah kamu menyatakan masalah dalam kalimat sendiri?

c. Apakah kamu mengetahui apa yang diketahui?

d. Apakah kamu mengetahui apa yang ditanyakan?

e. Apakah informasi yang tersedia cukup?

f. Apakah terdapat informasi tambahan?

g. Apakah masalah serupa yang sudah pernah diselesaikan?

2. Membuat rencana penyelesaian

Pada tahap ini siswa menghadapi pertanyaan “Di antara strategi berikut,

manakah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah?”

a. Menebak dan menguji

b. Menggunakan variabel

c. Membuat gambar

d. Melihat pola

e. Membuat daftar

f. Menyelesaikan masalah yang lebih sederhana

g. Membuat diagram

h. Menggunakan penalaran langsung

i. Menggunakan penalaran tidak langsung

j. Menggunakan sifat-sifat bilangan

k. Menyelesaikan masalah yang ekivalen


15

l. Bekerja mundur

m. Menggunakan kasus

n. Menyelesaikan suatu persamaan

o. Mencari rumus

p. Melakukan simulasi

q. Menggunakan model

r. Menggunakan analisis dimensional

s. Mengidentifikasi subtujuan

t. Menggunakan koordinat

u. Menggunakan sifat simetri

3. Melaksanakan rencana

Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan berikut.

a. Melaksanakan strategi atau strategi-strategi yang telah dipilih sampai

masalah terpecahkan atau sampai suatu tindakan baru dianjurkan.

b. Ambilkah sedikit waktu untuk berpikir. Jika tidak dapat memecahkan

masalah sendiri, mintalah petunjuk pada yang lain atau taruhlah masalah

untuk sementara.

c. Jangan takut untuk memulai lagi. Seringkali, permulaan yang baru dan

strategi yang baru membawa pada kesuksesan.

4. Menelaah kembali

Pada tahap ini siswa dihadapkan pada pertanyaan berikut.


16

a. Apakah selesaian sudah benar? Apakah selesaian memenuhi persyaratan

dalam masalah?

b. Apakah ada penyelesaian yang lebih mudah?

c. Apakah dapat dilihat bahwa selesaian yang diperoleh dapat

digeneralisasikan pada kasus yang lebih umum?

B. Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika

Soal untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang studi matematika

dapat berbentuk soal cerita dan soal bukan cerita. Menurut Abidin (1989:10) soal

cerita adalah soal yang disajikan dalam bentuk cerita pendek. Cerita yang

diungkapkan dapat merupakan masalah kehidupan sehari-hari atau masalah lainnya.

Bobot masalah yang diungkapkan akan mempengaruhi panjang pendeknya cerita

tersebut. Makin besar bobot masalah yang diungkapkan, memungkinkan panjang

cerita yang dapat disajikan.

Soal cerita matematika adalah soal yang diungkapkan dalam bentuk cerita

yang diambil dari pengalaman sehari-hari siswa yang berkaitan dengan konsep-

konsep matematika. Soal cerita biasanya menggunakan kata-kata atau kalimat-

kalimat sehari-hari. Selain itu soal cerita matematika disajikan dalam bentuk cerita

atau rangkaian kalimat sederhana dan bermakna. Kebermaknaan disini dimaksudkan

bahwa soal tersebut mengandung masalah yang menuntut pemecahan. Hudojo

(1979:157) menyatakan bahwa kebermaknaan masalah adalah kesesuaian masalah

dengan tingkat berpikir siswa.


17

Untuk dapat menyelesaikan soal cerita maka terlebih dahulu siswa harus

mampu berbahasa matematika. Menurut Easty (1998:1) kemampuan berbahasa

matematika terdiri dari: kemampuan membaca dengan pemahaman, mengekspresikan

ide-ide matematika secara jelas, memastikan menggunakan rumus umum dari ide-ide

tersebut. Setelah siswa mampu berbahasa matematika, kemampuan seorang siswa

dalam menyelesaikan soal cerita dapat ditentukan melalui proses penyelesaian dari

soal yang diberikan. Selain itu menurut NCTM (dalam Cai, 1996:1) bahwa

kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita dapat ditentukan pula melalui

kemampuan siswa tersebut dalam mengkomunikasikan matematika. Seseorang

dikatakan mampu mengkomunikasikan matematika jika ia dapat mengekspresikan

ide-ide matematika dengan berbicara, menulis, mendemonstrasikan, dan

menggambarkan secara visual, memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi

ide-ide matematika yang dipresentasikan dalam bentuk tulisan, lisan, atau visual, dan

menggunakan kosa kata, notasi, dan struktur matematika untuk mewakili ide-ide,

menggambarkan model-model situasi

Untuk dapat menyelesaikan soal cerita dengan benar diperlukan kemampuan

awal, yakni (1) kemampuan menentukan hal yang diketahui dalam soal, (2)

kemampuan menentukan hal yang ditanyakan dalam soal, (3) kemampuan membuat

model matematika, (4) kemampuan melakukan komputasi, dan (5) kemampuan

menginterpretasi jawab model ke permasalahan soal semula.


18

Kemampuan-kemampuan awal tersebut dapat menunjang dalam

menyelesaikan soal cerita. Hal tersebut tersurat pada langkah-langkah penyelesaian

soal cerita dibawah ini .

1. Membaca soal dengan cermat untuk dapat menangkap makna tiap kalimat.

2. Memisahkan dan mengungkapkan :

a. Apa yang diketahui

b. Apa yang ditanyakan

c. Operasi pengerjaan apa yang diperlukan

3. Membuat model matematika dari soal

4. Menyelesaikan model matematika menurut aturan-aturan matematika, sehingga

mendapatkan jawab dari model tersebut.

5. Mengembalikan jawab model kepada jawab soal semula.

Untuk memecahkan masalah dalam soal cerita secara matematika, maka

masalah tersebut perlu dimodelkan terlebih dahulu. Pembuatan model tersebut

memerlukan kegiatan abstraksi yaitu suatu kegiatan mental yang membuat sadar

tentang kesamaan antara pengalaman-pengalaman yang pernah dimilikinya (Skemp,

1987:4). Untuk dapat membuat model matematika diperlukan kemampuan awal,

antara lain (1) mengetahui hal yang diketahui dalam soal, (2) mengetahui hal yang

ditanyakan dalam soal, (3) mengetahui operasi yang diperlukan, dan (4) mengetahui

konsep materi yang berkaitan.


19

C. Model Polya dalam Menyelesaikan Soal Cerita

Kajian awal mengenai pemecahan masalah terutama soal cerita dalam

matematika dilakukan oleh Polya (dalam Orton, 1991:94 dan Baroody, 1993:16-17).

Menurut Polya untuk memecahkan suatu masalah terutama yang berkaitan dengan

soal cerita diperlukan empat tahap yaitu (1) memahami masalah, (2) membuat

rencana, (3) melaksanakan rencana, dan (4) menelaah kembali. Bila digambarkan,

proses pemecahan masalah karya Polya ini akan membentuk loop atau perputaran,

yakni ada tahap-tahap yang perlu diulang jika belum berhasil.

Tahap-tahap pemecahan masalah soal cerita menurut As’ari (1992:15), dapat

dijelaskan sebagai berikut.

Tahap pertama, untuk dapat memecahkan masalah perlu memahami

permasalahannya. Tanpa adanya pemahaman pada masalah yang dihadapi, maka

segala rencana dan tindakan yang dilakukan tidak akan terarah bahkan dimungkinkan

rencana dan tindakan yang dilaksanakan justru mempersulit permasalahannya

sehingga tidak dapat dipecahkan. Oleh karena itu, tahap pertama ini sangat besar

artinya dalam pemecahan suatu masalah.

Tahap kedua adalah menyusun rencana pemecahan masalah. Tahap ini

dilakukan dengan mencoba mencari hubungan antara hal-hal yang diketahui dengan

hal-hal yang ditanyakan. Masalah yang sudah pernah diselesaikan, konsep yang

sudah pernah dimiliki sebelumnya, sangat besar manfaatnya dalam menentukan

hubungan yang terjadi antara yang diketahui dengan yang ditanyakan. Dengan
20

hubungan tersebut, maka disusunlah hal-hal yang akan dilakukan untuk memecahkan

permasalahan tersebut.

Tahap ketiga adalah melaksanakan rencana pemecahan masalah. Kalau pada

waktu menyusun rencana yang berperan adalah pikiran, maka pada tahap pelaksanaan

ini, pikiran bersama-sama dengan fisik secara serentak melakukan kegiatan. Apa

yang dibayangkan pada waktu menyusun rencana pemecahan masalah, pada tahap ini

mulai dipraktekkan secara nyata. Hasil pelaksanaan rencana yang telah disusun di

atas adalah fakta apakah masalah tersebut sudah dapat dipecahkan atau tidak.

Tahap keempat adalah meninjau ulang pelaksanaan rencana yang telah

disusun, pada tahap ini dilakukan pengkajian terhadap semua hal yang dilakukan.

Validitas setiap langkah yang dilakukan untuk memecahkan masalah perlu

dipertanyakan kembali agar dapat diperoleh langkah yang lebih mudah terjamin

kebenarannya. Tidak jarang terjadi suatu langkah tertentu yang menurut intuisi adalah

sah ternyata tidak pernah didukung oleh prinsip, konsep ataupun metode yang ada.

Oleh karena itu tahap ini tidak boleh dianggap remeh.

D. Soal Cerita Materi Pecahan

Dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran

Matematika SMP materi pecahan diajarkan pada siswa kelas VII. Adapun standar

kompetensinya adalah “memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan

penggunaannya dalam pemecahan masalah”, sedangkan kompetensi dasarnya adalah

(i) melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan dan (ii) menggunakan sifat-
21

sifat operasi hitung bilangan bulat dan pecahan dalam pemecahan masalah. Salah satu

tujuan diajarkannya materi ini adalah agar siswa dapat menyelesaikan soal

pemecahan masalah yang melibatkan pecahan.

Materi pecahan di kelas VII SMP terbagi atas 2 (dua) materi pokok, yaitu (i)

pecahan dan bentuknya dan (ii) operasi pada pecahan. Pada materi pokok pecahan

dan bentuknya membahas tentang pengertian pecahan, pecahan sederhana, mengubah

bilangan campuran ke pecahan biasa dan sebaliknya, membandingkan pecahan,

desimal, persen dan permil. Sedangkan pada materi pokok operasi hitung pecahan

membahas tentang penjumlahan pecahan, pengurangan pecahan, perkalian pecahan,

dan pembagian pecahan. Pada penelitian ini materinya difokuskan pada soal cerita

yang melibatkan operasi hitung pecahan.

E. Menyelesaikan Soal Cerita Pecahan dengan Model Polya

Untuk menyelesaikan masalah menurut Polya perlu melalui empat tahap,

yaitu memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan mengecek

kembali. Keempat tahap ini dapat digunakan untuk menyelesaikan soal cerita materi

pecahan. Sebagai contoh dalam mengerjakan soal cerita berikut ini.

Seorang pekerja mendapat upah Rp500.00,00,- sebulan. Setengah dari

3
upahnya digunakan untuk makan dan transport, dan −nya untuk sewa
10

kamar, serta sisanya untuk keperluan lain. Berapakah besar uang untuk

keperluan lain?
22

Soal cerita ini diselesaikan dengan menggunakan langkah-langkah penyelesaian

model Polya. Langkah-langkah penyelesaian dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Memahami masalah

Pada tahap ini ditentukan yang diketahui dan ditanyakan.

Yang diketahui:

a. upah pekerja Rp500.000,00,- sebulan.

b. setengah upahnya untuk makan dan transpor.

c. tiga per sepuluh-nya untuk sewa kamar

d. sisanya untuk keperluan lain.

Yang ditanyakan:

Besar uang untuk keperluan lain.

2. Membuat rencana

Pada tahap ini dapat dilakukan beberapa strategi, di antaranya adalah

menggunakan sifat-sifat operasi pecahan. Misalnya untuk mencari jumlah uang

yang diperlukan untuk makan dan transpor maka dilakukan dengan mengalikan

setengah dikali upahnya dan untuk mencari jumlah uang yang digunakan untuk

sewa kamar dengan mengalikan tiga per sepuluh dikali dengan upahnya.

Selanjutnya untuk mencari biaya untuk keperluan lain-lain dilakukan dengan

mengurangkan upahnya dengan total biaya yang dikeluarkan untuk makan dan

transpor serta sewa kamar.

3. Melaksanakan rencana

Pada tahap model matematika yang telah dibuat, diselesaikan.


23

1
Biaya untuk makan dan transpor = × Rp 500.000 , 00=Rp 250.000 , 00
2

3
Biaya untuk sewa kamar = × Rp 500.000 , 00=Rp 150.000 , 00
10

Jadi, biaya untuk keperluan lain-lain =

Rp 500.000 ,00−(Rp 250.000 , 00+ Rp 150.000 , 00)=Rp100.000 , 00

4. Mengecek kembali

Pada tahap ini dilakukan pengecekan langkah demi langkah dalam penyelesaian

yang dilakukan. Selain itu dicari apakah ada cara lain yang lebih mudah atau

apakah dengan cara lain hasilnya sama.

Anda mungkin juga menyukai