Hamida
purwakarta
Modul
TAJHIZUL MAYIT
(Tatacara Mengurus Jenazah)
Disusun oleh:
Abdul Munawar, M. Pd
Kata Pengantar
Alhamdulillah puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subḥanahu wa
Ta‘ala yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga modul
Tajhizul Mayit (Tatacara Mengurus Jenazah) ini dapat tersusun dan diterbitkan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita
Nabi Muhammad ﷺkepada keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah
mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Dengan penuh rasa syukur, HAMIDA Purwakarta berupaya menghadirkan modul ini
sebagai panduan praktis bagi masyarakat dalam memahami tata cara pengurusan
jenazah sesuai dengan tuntunan syariat dan kaidah ilmu fiqih.
Modul ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan pelayanan umat, sekaligus
sebagai sarana edukasi agar masyarakat memiliki bekal ilmu yang benar dalam
melaksanakan fardhu kifayah yang mulia ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan modul ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kami memohon ma’af atas segala kekurangan, baik dari segi penyajian
materi, bahasa, maupun kelengkapan pembahasan. Besar harapan kami, modul ini
dapat memberikan manfaat, menambah wawasan, serta menjadi amal jariyah bagi
semua pihak yang terlibat dalam penyusunannya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Purwakarta, 06 Februari 2026
Penyusun,
Abdul Munawar, [Link], [Link]
(Bidang Pendidikan HAMIDA Purwakarta)
HAMIDA Purwakarta
Prakata Ketua HAMIDA
Buku modul Tajhizul Mayit (Tatacara Mengurus Jenazah) ini diterbitkan sebagai bentuk
komitmen HAMIDA Purwakarta dalam memberikan panduan yang benar dan sesuai
tuntunan fiqih bagi masyarakat. Modul ini diharapkan menjadi pegangan praktis dalam
melaksanakan pengurusan jenazah sebagai amanah syariat yang harus ditunaikan
dengan ilmu dan tanggung jawab.
Program Tajhizul Mayit ini akan terus dijalankan secara berkesinambungan dan
diperluas ke seluruh wilayah Kabupaten Purwakarta agar manfaatnya semakin
dirasakan oleh masyarakat.
Semoga modul ini memperkuat peran HAMIDA Purwakarta sebagai rujukan dalam
pengurusan jenazah, sebagaimana slogannya: “Soal bagaimana cara mengurus
jenazah, yang diingat masyarakat adalah HAMIDA Purwakarta”.
Ketua HAMIDA Purwakarta,
KH. Dian Nurul Imron
HAMIDA Purwakarta
TAJHIZUL MAYIT
(Tatacara Mengurus Jenazah)
KEWAJIBAN YANG HIDUP TERHADAP MAYIT
1. Memandikan Jenazah
2. Mengkafani Jenazah
3. Menyolatkan Jenazah
4. Mengubur Jenazah
A. MEMANDIKAN JENAZAH
Setiap orang muslim yang meninggal dunia harus dimandikan, dikafani dan
dishalatkan terlebih dahulu sebelum dikuburkan terkecuali bagi orang-orang yang
mati syahid. Hukum memandikan jenazah orang muslim menurut jumhur ulama
adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban ini dibebankan kepada seluruh mukallaf di
tempat itu, tetapi jika telah dilakukan oleh sebagian orang maka gugurlah kewajiban
seluruh mukallaf.
Orang yang berhak memandikan jenazah, yaitu:
1. Jika mayit telah mewasiatkan kepada seseorang untuk memandikannya, maka
orang itulah yang berhak.
2. Jika mayit tidak mewasiatkan, maka yang berhak adalah ayahnya atau kakeknya
atau anak laki-lakinya atau cucu-cucunya yang laki-laki (kalau mayatnya laki-
laki, kalau perempuan maka dari jenis putri).
3. Jika tidak ada yang mampu, keluarga mayit boleh menunjuk orang yang amanah
lagi terpercaya buat mengurusnya.
Ø Tatacara Memandikan Jenazah
1. Melepaskan segala pakaian yang melekat di badan jenazah dan menggantinya
dengan kain yang menutupi aurat.
2. Punggung mayat disandarkan pada lutut kanan orang yang memandikan
sementara tangan kanan menahan pundak dan kepala mayat dibantu ibu jari.
3. Kemudian tangan kiri orang yang memandikan memijat/mengurut perut mayat
agar sisa kotorannya keluar, dan segera dibersihkan qubul dan duburnya dengan
menggunakan tangan kiri yang dibalut dengan kain (diceboki).
4. Kemudian tidurkan kembali mayat dengan posisi terlentang untuk membersihkan
daerah qubul (kemaluan) dan dubur (anus) dengan tangan kiri yang dibugkus
kain/sarung tangan sampai hilang najisnya.
5. Selanjutnya, lepaskan sarung tangan dan bersihkan kedua tangan dimulai dari
jari-jari mayat sebelah kanan, dilanjutkan menggosok/membersihkan gigi dan
hidung mayat dengan jari yang dibungkus kain.
HAMIDA Purwakarta
6. Setelah semua najis dan kotoran mayat bersih, mayat sunnah di wudlu’i
sebagaimana wudhu’nya orang hidup.
7. Niat wudlu untuk mayit laki-laki َنَوْيُت اْلُوُضْوَء ِلَهَذا اْلَمِّيِت للِه َتَعاَلى
8. Niat wudlu untuk mayit perempuan َنَوْيُت اْلُوُضْوَء ِلَهِذِه اْلَمِّيَتِة للِه َتَعاَلى
9. Niat memandikan mayit laki-laki َنَوْيُت اْلُغْسَل ِلَهَذا اْلَمِّيِت للِه َتَعاَلى
10. Niat memandikan mayit perempuan َنَوْيُت اْلُغْسَل ِلَهِذِه اْلَمِّيَتِة للِه َتَعاَلى
11. Selama memandikan mayit selalu membaca do’a;
ِبْسِم الّٰلِه َوَعَلى ِمَّلِة َرُسْوِل الّٰلِه َصَّلى الّٰلُه َعَلْيِه َوَسَّلم
12. Mayyit dimandikan mulai dari rambut kepala disertai shampoo/sabun, lalu sisir
rambut dengan sisir yang renggang agar tidak rontok.
13. Kemudian seluruh tubuh mayat (bagian depan) disiram dengan air sabun dimulai
dari bagian kanan atas hingga kaki, lalu miringkan tubuh mayat ke arah kiri untuk
menggosok/membersihkan bagian kanan belakang dengan penyiraman pada
tubuh bagian kanan dari atas (leher) hingga kaki.
14. Kemudian miringkan ke arah kanan untuk membersihkan tubuh bagian kiri
belakang. Setelah semua bagian tubuh mayyit dibersihkan dengan sabun/shampo,
tubuh mayat disiram dengan air bersih (tanpa campuran) dari kepala hingga ujung
kaki sebagaimana cara di atas untuk membersihkan sisa air shampoo/sabun yang
melekat.
15. Pada basuhan terakhir, tubuh mayat disiram lagi dengan menggunakan air bersih
yang di campur dengan sedikit bubuk kapur barus. Lebih sempurnanya, ulangi
cara memandikan di atas hingga tiga kali, kemudian keringkan dengan handuk
atau kain.
B. MENGKAFANI JENAZAH
Mengkafani jenazah sedikitnya sekedar menutupi atau membungkus jenazah dengan
sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya walau hanya sehelai kain.
Hukum mengkafani jenazah muslim yang bukan mati syahid dan keguguran adalah
fardhu kifayah.
Persiapan dan perlengkapan yang akan dilakukan untuk mengkafani jenazah, yaitu :
1. Kain untuk mengkafani secukupnya dan diutamakan yang berwarna putih.
2. Kain kafan untuk jenazah laki- laki terdiri dari 3 lembar, sedangkan kain kafan untuk
jenazah perempuan terdiri dari 5 lembar kain, yaitu : 2 helai kain kafan, baju kurung
(gamis), kerudung dan sarung.
3. Sebaiknya disediakan perlengkapan sebagai berikut:
a. Tali sejumlah 5 antara lain untuk ujung kepala, dada, perut, lutut, dan ujung kaki.
b. Kapas secukupnya.
c. Kapur barus atau pewangi secukupnya.
d. Meletakkan kain memanjang searah tubuhnya di atas tali-tali yang telah
disediakan.
HAMIDA Purwakarta
Ø Tatacara Mengkafani Jenazah
1. Untuk mayat laki-laki
a. Bentangkan kain kafan sehelai demi sehelai, yang paling bawah lebih lebar
dan luas serta setiap lapisan diberi kapur barus (kamper).
b. Angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan diatas
kain kafan memanjang lalu ditaburi wangi-wangian.
c. Tutuplah lubang-lubang (hidung, telinga, mulut, kubul dan dubur) yang
mungkin mengeluarkan kotoran dengan kapas.
d. Selimutkan kain kafan sebelah kanan yang paling atas, kemudian ujung
lembar sebelah kiri. Selanjutnya, lakukan seperti ini selembar demi selembar
dengan cara yang lembut.
e. Ikatlah dengan tali yang sudah disiapkan sebelumnya di bawah kain kafan tiga
atau lima ikatan.
f. Jika kain kafan tidak cukup untuk menutupi seluruh badan mayat maka
tutuplah bagian kepalanya dan bagian kakinya yang terbuka boleh ditutup
dengan daun kayu, rumput atau kertas. Jika seandainya tidak ada kain kafan
kecuali sekedar menutup auratnya saja, maka tutuplah dengan apa saja yang
ada.
2. Untuk mayat perempuan
Kain kafan untuk mayat perempuan terdiri dari 5 lembar kain putih, yang terdiri
dari:
a. Lembar pertama dan dua berfungsi untuk menutupi seluruh badan.
b. Lembar ketiga berfungsi sebagai sarung.
c. Lembar keempat berfungsi sebagai krudung
d. Lembar kelima berfungsi sebagai baju kurung (gamis)
C. MENYOLATI JENAZAH
Dalam mensalatkan jenazah, terdapat beberapa perbedaan dengan salat- salat pada
umumnya karena ada rukun yang sama dan adapula yang berbeda dengan rukun
salat pada umumnya.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan salat jenazah, yaitu:
a. Jenazah diletakkan di arah kiblat di depan imam.
b. Posisi imam untuk jenazah laki-laki berdiri sejajar dengan kepala jenazah,
sedangkan apabila jenazahnya perempuan, maka imam berdiri sejajar dengan
pinggang jenazah.
c. Kemudian jama’ah berniatlah di dalam hati untuk melaksanakan salat
jenazah.
Ø Tatacara Salat Jenazah
1. Niat, Salat jenazah sebagaimana shalat dan ibadah lainnya tidak dianggap
sah kalau tidak diniatkan. Lafadz Niatnya;
ٰهِذِه ْالـَمِّيَتِة َاْرَبَع َتْكِبْيَراٍت َفْرَض اْلِكَفاَيِة َمَأُمْوًما ِلّٰلِه َتَعاَلى/ُأَصِّلى َعَلى ٰهَذا ْالـَمِّيِت
Niat salat ghaib;
ُأَصِّلْي َعَلى َمْن َصَّلى َعَلْيِه اْلِإَماُم َاْرَبَع َتْكِبْيَراٍت َفْرَض اْلِكَفاَيِة َمَأُمْوًما ِلّٰلِه َتَعاَلى
HAMIDA Purwakarta
2. Berdiri bagi yang kuasa tanpa rukuk dan sujud
3. Setelah berniat sebagaimana tersebut di atas, lalu
4. Takbir empat (4) kali dengan urutan sebagai berikut :
a. Sesudah takbir pertama, baca surat Al- Fatihah.
b. Sesudah takbir kedua, baca shalawat atas nabi
َالّٰلُهَّم َصِّل َعَلى َسِّيِدَنا ُمَحَّمٍد َوَعَلى آِلِه َسِّيِدَنا ُمَحَّمٍد
c. Sesudah takbir ketiga, baca do’a
َالّٰلُهَّم اْغِفْر َلُه َواْرَحْمُه َوَعاِفِه َواْعُف َعْنُه
d. Sesudah takbir keempat, baca do’a
َالّٰلُهَّم َلْا ُتْحِرْمَنا َأْجَرُه َوَلْا ُتْفِتَّنا َبْعَدُه َواْغِفْرَلَنا َوَلُه
D. MENGUBURKAN JENAZAH
Kewajiban yang ke empat terhadap jenazah ialah menguburkannya. hukum
menguburkan jenazah adalah fardu kipayah atas orang yang masih hidup. Dalamnya
kuburan sekurang kurangnya kira-kira tidak tercium bau busuk mayat itu dari atas
kubur dan tidak dapat dibongkar oleh binatang buas,sebab maksud menguburkan
mayat ialah untuk menjaga kehormatan mayat itu dan menjaga kesehatan orang-
orang yang ada di sekitar tempat itu. Sedangkan waktu penguburan secara normal
dapat dilakukan pada siang hari.
Ø Tatacara Menguburkan Jenazah
1. Jenazah diangkat di atas tangan untuk diletakkan di dalam kubur.
2. Jenazah dimasukkan ke dalam kubur. Disunnahkan memasukkan jenazah ke liang
lahat dari arah kaki kuburan lalu diturunkan ke dalam liang kubur secara perlahan.
Jika tidak memungkinkan, boleh menurunkannya dari arah kiblat.
3. Petugas yang memasukkan jenazah ke lubang kubur hendaklah mengucapkan:
ِبْسِم الّٰلِه َوَعَلى ِمَّلِة َرُسْوِل الّٰلِه َصَّلى الّٰلُه َعَلْيِه َوَسَّلم
“Dengan menyebut Asma Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wassalam.”
4. Yang memasukkan mayit ke dalam kubur adalah laki-laki. Yang diberi wasiat untuk
itu. Bila mayit tidak berwasiat, maka kerabat dekatnya.
5. letakkan mayit kea rah kiblat perlahan dengan berbaring di sisi lambung kanannya,
menyerupai orang tidur yang menghadap ke kiblat.
6. Buka 5 ikatan kain kafannya serta membuka pipi kanan mayit kemudian tempelkan
ke tanah.
7. Tahan dengan batu atau tanah bulatan disebelah kepala dan pertengahan
punggung mayit agar mayit tidak terbalik. Tutup lahat dengan kayu. Tutup bagian
yang kosong antara kayu dengan tanah liat agar mayit tidak kejatuhan tanah saat
dikubur.
8. Masukkan tanah ke dalam kubur dan tinggikan dari atas permukaan tanah
sejengkal lalu dibentuk kuburan.
9. Perciki kuburan dengan air dingin kemudian taburi kerikil agar kubur tidak terbawa
angin dan aliran air. Tandai dengan kayu atau batu pada bagian kepala. Setelah
itu berdo’a untuk mayit.
HAMIDA Purwakarta
Catatan: Tidak diperbolehkan duduk, bersandar dan melangkahi makam. Tempat yang
lebih utama untuk memakamkan jenazah ialah di tempat pemakaman kaum muslimin.
Karena dengan begitu, orang yang masih hidup tidak terganggu dengannya dan juga
seakan-akan jenazah tersebut berada di tempat yang semestinya, ia lebih banyak
mendapatkan doa.
Hikmah yang dapat diambil;
1. Memperoleh pahala yang besar.
2. Menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi diantara sesame muslim.
3. Membantu meringankan beban kelurga jenazah dan sebagai ungkapan
belasungkawa atas musibah yang dideritanya.
4. Mengingatkan dan menyadarkan manusia bahwa setiap manusia akan mati dan
masing-masing supaya mempersiapkan bekal untuk hidup setelah mati.
5. Sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, sehingga apabila
salah seorang manusia meninggal dihormati dan diurus dengan sebaik-baiknya
menurut aturan Allah SWT dan RasulNya.
E. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya manusia sebagi makhluk
yang mulia di sisi Allah SWT dan untuk menghormati kemuliannya itu perlu mendapat
perhatian khusus dalam hal penyelenggaraan jenazahnya. Dimana, penyelengaraan
jenazah seorang muslim itu hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban ini
dibebankan kepada seluruh mukallaf di tempat itu, tetapi jika telah dilakukan oleh
sebagian orang maka gugurlah kewajiban seluruh mukallaf.
Adapun 4 perkara yang menjadi kewajiban itu ialah:
1. Memandikan
2. Mengkafani
3. Menshalatkan
4. Menguburkan
𝑹𝒆𝒇𝒆𝒓𝒆𝒏𝒔𝒊;
Riyadlul badi'ah karya Syekh Muhammad Hasbullah
Fathul Mu’in karya Syekh Ahmad Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari al-Fannani.
I’anatut Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-
Dimyathi al-Bakri.
Hasyiyah al-Bajuri karya Syekh Ibrahim bin Muhammad Qasim al-Bajuri
Riyadlus Shalihin karya Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
HAMIDA Purwakarta