BAB 1
LANDASAN TEORI
A. PENGERTIAN
Isolasi sosial merupakan kondisi kesendirian yang di alami oleh individu dan dipersepsikan
disebabkan orang lain dan sebagai kondisi yang negatif dan mengancam. Kondisi isolasi sosial
seseorang merupakan ketidakmampuan klien dalam mengungkapkan perasaan klien yang dapat
menimbulkan klien mengungkapkan perasaan klien dengan kekerasan (Sukaesti, 2018).
Isolasi sosial merupakan suatu keadaan seseorang mengalami penurunan untuk melakukan
interaksi dengan orang lain, karena pasien merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, serta tidak
mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain atau orang disekitarnya (Kemenkes,
2019). Isolasi sosial merupakan gejala negatif pada skizofrenia dimanfaatkan oleh pasien untuk
menghindari orang lain agar pengalaman yang tidak menyenangkan dalam berhubungan
dengan orang lain tidak terulang kembali (Pardede, 2021).
Isolasi sosial merupakan pertahanan diri seseorang terhadap orang lain maupun
lingkungan yang menyebabkan kecemasan pada diri sendiri dengan cara menarik diri secara
fisik maupun psikis. Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan
mekanisme individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari
interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Isolasi sosial merupakan upaya mengindari
komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran dan kegagalan (Rusdi,2013).
B. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala isolasi sosial meliputi (Damanik, Pardede & Manalu. 2020) :
1. Kurangspontan
2. Apatis (acuh tak acuh terhadap lingkungan)
3. Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresisedih)
4. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
5. Tidak ada atau kurang terhadap komunikasi verbal
6. Menolak berhubungan dengan oranglain
7. Mengisolasi diri (menyendiri)
8. Kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya
9. Asupan makan dan minuman terganggu
10. Aktivitas menurun dan Rendah diri.
Tanda dan gejala Subjektif (Suciati, 2019) :
1. Perasaan sepi
2. Perasaan tidak aman
3. Perasan bosan dan waktu terasa lambat
4. Ketidakmampun berkonsentrasi
5. Perasaan ditolak
Tanda dan gejala Objektif (Suciati, 2019) :
1. Banyak diam
2. Tidak mau bicara
3. Menyendiri
4. Tidak mau berinteraksi
5. Tampak sedih
6. Ekspresi datar dan dangkal
7. Kontak mata kurang
C. FAKTOR PREDISPOSISI
Menurut Aziza (2011) faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis
dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress (faktor
pencentus/penyebab utama timbulnya gangguan jiwa). Penyebab isolasi sosial adalah harga diri
rendah yairu perasaan negative terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri merasa gagal
mencapai keinginan yang ditandai dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa
bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, percaya diri
kurang dan juga dapat mencederai diri (Direja, 2011).
Menurut Direja (2011) Ada berbagai faktor yang menjadi pendukung terjadinya perilaku
isolasi sosial :
1. Faktor Perkembangan
Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan dari masa bayi sampai dewasa tua
akan menjadi pencentus seseorang sehingga mempunyai masalah respon sosial menarik
diri. Sistem keluarga yang terganggu juga dapat mempengaruhi terjadinya menarik diri.
Organisasi anggota keluarga bekerja sama dengan tenaga profesional untuk
mengembangkan gambaran yang lebih tepat tentang hubungan antara kelainan jiwa dan
stres keluarga. Pendekatan kolaboratif dapat mengurangi masalah respon sosial menarik
diri.
Menurut Puba (2008) tahap-tahap perkembangan individu dalam berhubungan antara lain :
Masa Bayi
Bayi sepenuhnya tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan
biologis maupun psikologisnya. Konsistensi hubungan antara ibu dan anak, akan
menghasilkan rasa aman dan rasa percaya yang mendasar. Hal ini sangat penting
karena akan mempengaruhi hubungannya dengan lingkungan dikemudian hari. Bayi
yang mengalami hambatan dalam mengembangkan rasa percaya pada masa ini akan
mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain pada masa berikutnya.
Masa Kanak-kanak
Anak mulai mengembangkan dirinya sebagai individu yang mandiri, mulai
mengenal lingkungannya lebih luas, anak mulai membina hubungan dengan teman-
temannya. Konflik terjadi apabila tingkah lakunya dibatasi atau terlalu dikontrol, hal ini
dapat membuat anak frustasi. Kasih sayang yang tulus, aturan yang konsisten dan
adanya komunikasi terbuka dalam keluarga dapat menstimulus anak tumbuh menjadi
individu yang interpenden, orang tua harus dapat memberikan pengarahan terhadap
tingkah laku yang diadopsi dari dirinya, maupun sistem nilai yang harus diterapkan
pada anak, karena pada saat ini anak mulai masuk sekolah dimana anak harus belajar
cara berhubungan berkompetensi dan berkompromi dengan orang lain.
Masa Praremaja dan Remaja
Pada praremaja individu mengembangkan hubungan yang itim dengan teman
sejenis, yang mana hubungan ini akan mempengaruhi individu untuk mengenal dan
mempelajari perbedaan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Pada masa ini hubungan
individu dengan kelompok maupun teman lebih berarti daripada hubungannya
dengan orang tua. Konflik akan terjadi apabila remaja tidak dapat mempertahankan
keseimbangan hubungan tersebut, yang seringkali menimbulkan tergantung pada
remaja.
Masa Dewasa Muda
Kematangan ditandai dengan kemampuan megekspresikan perasaan pada orang
lain dan menerima perasaan orang lain serta peka terhadap kebutuhan orang lain.
Individu siap untuk membentuk suatu kehidupan baru dengan menikah dan
mempunyai pekerjaan. Karakteristik hubungan interpersonal pada dewasa muda
adalah saling memberi dan menerima (mutuality).
Masa Dewasa Tengah
Individu mulai terpisah dengan anak-anaknya, ketergantungan anak-anak
terhadap dirinya meurun. Kesempatan ini dapat digunakan individu untuk
mengembangkan aktivitas baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan diri.
Masa Dewasa Akhir
Individu akan mengalami berbagai kahilangan baik kehilangan keadaan fisik,
kehilangan orang tua, pasangan hidup, teman, maupun pekerjaan atau peran. Dengan
adanya kehilangan tersebut ketergantungan pada orang lain akan meningkat, namun
kemandirian yang masih dimiliki harus dapat dipertahankan.
2. Faktor Biologik
Faktor genetik dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif. Genetik merupakan
salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Kelainan struktur otak, seperti atropi,
pembesaran ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta perbahan skizofrenia
(Direja, 2011).
3. Faktor Sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan hubungan. Ini merupakan akibat dari
norma yang tidak mendukung pendeatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai
anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti lansia, orang cacat, dan berpenyakit
kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku dan sistem nilai yang
berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas. Harapan yang tidak realistis terhadap
hubungan merupakan faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini (Sujono, 2009).
4. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Menurut Dalami (2009) Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi
untuk mengembangkan gangguan tingkah laku:
a) Sikap bermusuhan
b) Sikap mengancam, merendahkan dan menjelek-jelekkan anak
c) Selalu mengkritik, menyalahkan, anak tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan
pendapatnya
d) Kurang kehangatan, kurang memperhatikan ketertarikan pada pembicaraan anak,
hubungan yang kaku antara keluarga, kurang tegur sapa, komunikasi kurang terbuka.
e) Ekspresi emosi yang tinggi
f) Double bind (dua pesan yang bertentangan disampaikan saat bersamaan yang
membuat dan kecemasannya meningkat).
5. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor pendukung
terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan oleh karena norma-norma yang
salah yang dianut oleh satu keluarga. Seperti anggota tidak produktif diasingkan dari
lingkungan sosial (Dalami,2009).
D. FAKTOR PRESIPITASI
Menurut Aziza (2011) stressor presipitasi adalah stimulus yang dipersepsikan oleh individu
sebagai tantangan, ancaman atau tuntutan dan memerlukan energi ekstra untuk mengatasinya
(faktor yang memperberat atau memperparah terjadinya gangguan jiwa). Ada beberapa faktor
presipitasi yang dapat menyebabkan seseorang menarik diri. Faktor-faktor tersebut dapat
berasal dari berbagai stressor antara lain :
1. Stressor Sosiokultural
Stressor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam membina hubungan
dengan orang lain, misalnya menurunnya stabilitas unit keluarga, berpisah dari orang yang
berarti dalam kehidupannya, misalnya karena dirawat dirumah sakit.
2. Stressor Psikologik
Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan keterbatasan kemampuan untuk
mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya hal ini dapat menimbulkan ansietas tinggi bahkan dapat
menimbulkan sesorang mengalami gangguan hubungan menarik diri.
3. Stressor Intelektual
Kurangnya pemahaman diri dalam ketidakmampuan untuk berbagai pikiran dan perasaan
yang menggangu pengembangan hubungan dengan orang lain. b. Klien dengan “kegagalan”
adalah orang yang kesepian dan kesulitan dalam menghadapi hidup. Mereka juga akan sulitt
berkomunikasi dengan orang lain. c. Ketidakmampuan seseorang mambangun kepercayaan
dengan orang lain akan persepsi yang menyimpang dan akan berakibat pada gangguan
berhubungan dengan orang lain