0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

1 +RKS

Dokumen ini menjelaskan spesifikasi proses dan kegiatan dalam proyek konstruksi, termasuk pembersihan lokasi, pemasangan bouwplank, dan pekerjaan beton. Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan dan kualitas pekerjaan, serta harus mematuhi standar dan persyaratan teknis yang berlaku. Selain itu, dokumen ini mengatur penggunaan material dan prosedur pengujian untuk memastikan kekuatan dan kualitas beton yang digunakan.

Diunggah oleh

awi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

1 +RKS

Dokumen ini menjelaskan spesifikasi proses dan kegiatan dalam proyek konstruksi, termasuk pembersihan lokasi, pemasangan bouwplank, dan pekerjaan beton. Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan dan kualitas pekerjaan, serta harus mematuhi standar dan persyaratan teknis yang berlaku. Selain itu, dokumen ini mengatur penggunaan material dan prosedur pengujian untuk memastikan kekuatan dan kualitas beton yang digunakan.

Diunggah oleh

awi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

SPESIFIKASI PROSES/KEGIATAN

A. 1. SPESIFIKASI PROSES/KEGIATAN

Pasal 1. PEMBERSIHAN LOKASI

1. Lingkup Pekerjaan.
1.1. Pekerjaan ini meliputi pembongkaran dan pembuangan sisa material, , berikut
penyediaan tenaga, bahan-bahan dan peralatan yang memadai sehingga dapat dicapai
hasil yang memuaskan.
1.2. Apabila dalam pekerjaan persiapan ini terdapat kerusakan barang/peralatan milik
Pemberi Tugas, maka Kontraktor bertanggung jawab dan menggantinya.
2. Papan nama kegiatan.
2.1. Kontraktor wajib memasang papan nama proyek, ukuran serta isi keterangan yang
tertulis pada papan nama proyek ditentukan kemudian.
2.2. Cara pembayaran dalam satuan buah, pengukuran hasil kerja berdasarkan prestasi kerja
yang telah dilaksanakan.

Pasal 2. BOUWPLANK

1. Papan untuk bouwplank dari kayu berukuran 2/20 yang diserut halus pada bagian atas dan
terpal dipasang 100 cm dari tepi bangunan.
2. Papan bouwplank dipasang pada patok yang kuat sehingga tidak goyang atau berubah.
3. Tinggi sisi atas patok ukur harus sama antara yang satu dengan yang lainnya, kecuali
dikehendaki lain oleh manager konstruksi.
4. Setelah selesai pemasangan papan ukur, Kontraktor harus melaporkan kepada Pengawas
untuk diminta persetujuannya, serta harus menjaga dan memelihara keutuhan dan ketetapan
letak papan patok ukur sampai tidak diperlukan lagi dan dibongkar atas persetujuan
Pengawas.
5. Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran persiapan bouwplank/setting
out pekerjaan sesuai dengan referensi ketinggian dan bench-marks yang diberi Pengawas
secara tertulis, serta bertanggung jawab atas level, posisi, dimensi serta kelurusan seluruh
bagian pekerjaan dan pengadaan peralatan maupun tenaga kerja.
6. Bilamana dalam proses pembangunan ternyata ada kesalahan dalam hal tersebut diatas,
merupakan tanggung jawab Kontraktor serta wajib memperbaiki kesalahan tersebut dan
akibat-akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut disebabkan referensi tertulis dari Pengawas.
7. Pemeriksaan setting-out atau lainnya oleh manager konstruksi atau wakilnya tidak
menyebabkan tanggung jawab Kontraktor menjadi berkurang. Kontraktor wajib melindungi
semua bench-marks dll, dan hal yang perlu dalam pekerjaan ini.

Pasal 4. PEKERJAAN BETON KONSTRUKSI

1. Ketentuan Umum.
1.1. Persyaratan-persyaratan konstruksi beton, istilah teknik atau syarat-syarat
pelaksanaan pekerjaan beton secara umum menjadi satu kesatuan dalam persyaratan
teknis ini. Dalam segala hal yang menyangkut pekerjaan beton dan struktur beton harus
sesuai dengan standard yang berlaku yaitu :
a. Tata Cara Perhitungan Kekuatan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI
T-15-1991-03).
b. Peraturan Umum Beton Indonesia (PUBI, 1982).
c. Standard Industri Indonesia (SII).
d. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, 1983.
e. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Untuk Gedung (PPTGUG, 1983).
f. American Society Of Testing Matrial (ASTM).
1.2. Pelaksana wajib melaksanakan pekerjaan ini dengan tepat dan mempunyai presisi yang
tinggi dengan toleransi yang sekecil mungkin, sebagaimana tercantum dalam
persyaratan ini dan sesuai dengan gambar kerja serta sesuai dengan instruksi yang
dikeluarkan oleh Pengawas.
1.3. Semua material yang dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, harus dari
material yang mutunya telah teruji dan dapat dibuktikan dengan ketentuan-ketentuan
yang telah disyaratkan.
1.4. Kontraktor wajib melakukan pengujian terhadap beton-beton yang akan dipergunakan
di dalam pekerjaan ini, guna mengetahui kekuatan, kondisi serta bentuk dan ukuran dari
beton itu sendiri.
1.5. Seluruh material yang tidak memenuhi ketentuan serta persyaratan yang berlaku, harus
segera diangkut untuk dikeluarkan dari lokasi proyek, dan tidak diperkenankan
dipergunakan kembali.
2. Lingkup Pekerjaan.
2.1. Lingkup pekerjaan diatur dalam persyaratan teknis ini meliputi seluruh pekerjaan
beton/struktur yang sesuai dengan gambar rencana.
2.2. Pekerjaan beton/struktur harus sesuai dengan gambar rencana, termasuk didalamnya
pengadaan bahan, upah, pengujian dan peralatan yang berhubungan dengan pekerjaan
tersebut.
2.3. Pengadaan detail, fabrikasi dan pemasangan semua kerangka (reinforcement) dan
bagian-bagian dari pekerjaan lain yang tertanam di dalam beton.
2.4. Perancangan, pelaksanaan dan pembongkaran acuan beton, penyelesaian dan
perawatan beton, dan semua jenis pekerjaan lain yang menunjang pelaksanaan
pekerjaan beton ini.
3. Bahan-bahan / Material.
3.1. Semen:
a. Semen yang digunakan adalah semen portland type I dan merupakan hasil
produksi dalam negeri, harus satu merek. Semen disimpan sedemikian rupa untuk
mecegah terjadinya kerusakan pada bahan atau terjadinya pengotoran oleh
bahan-bahan lain.
b. Penyimpanan semen harus didalam gudang tertutup, sehingga semen terhindar
dari basah atau kemungkinan lembab, dan tidak tercampur dengan bahan-bahan
atau material lain.
3.2. Agregat Kasar:
a. Agregat untuk beton harus mempunyai ketentuan-ketentuan sebagai berikut,
antara lain yaitu:
 Agregat beton harus memenuhi ketentuan-ketentuan dan persyaratan yang
sesuai dengan standar SII 0052-80 tentang “Mutu dan cara uji agregat beton”.
 Atau ketentuan dan persyaratan menurut ASTM C 23 “Specification For
Concrete Aggregates”.
 Atas persetujuan Pengawas, diperbolehkan menggunakan agregat dengan
standar lain, asal disertai dengan bukti berdasarkan pengujian khusus atau
untuk pemakaian nyata, dimana kekuatan, keawetan dan ketahanannya
dapat memenuhi persyaratan.
b. Dalam segala pekerjaan, ukuran maksimum agregat kasar tidak melebihi
ketentuan berikut:
 Seperlima jarak terkecil antara bidang samping dari cetakan beton.
 Sepertiga dari tebal pelat.
 3/4 Jarak bersih minimum antar batang tulang, atau berkas batang tulangan.

 Terjadinya toleransi ukuran dapat diperbolehkan menurut tenaga ahli, untuk


kemudahan pekerjaan, dan metoda konsolidasi beton adalah sedemikian
rupa, sehingga kondisi beton dijamin tidak akan terjadi sarang kerikil atau
adanya rongga-rongga.
3.3. Air:
Air yang digunakan pada campuran beton harus dengan ketentuan berikut:
a. Jika mutunya meragukan harus di analisis kimia dan dievaluasi mutunya menurut
tujuan pemakaiannya.
b. Harus bersih dan tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya
yang dapat dilihat secara nyata.
c. Tidak mengandung benda-benda yang tersuspensi lebih dari 2 gr/liter.
d. Tidak mengandung larutan yang dapat merusak beton (zat asam, zat organik dan
sebagainya) lebih dari 15 gr/liter. Kandungan clorida (Cl) tidak lebih dari 500ppm
dan senyawa sulfat (sebagai SO3) tidak lebih dari 100ppm.
e. Jika dibandingkan dengan kuat tekan adukan yang menggunakan air suling, maka
penurunan kekuatan adukan beton dengan air digunakan lebih dari 10%.
3.4. Baja Kerangka Untuk Beton (Baja Tulangan):
Baja tulangan yang digunakan harus dapat memenuhi ketentuan berikut ini:
a. Tidak boleh mengandung serpih-serpih, lekukan, retak, bergelombang, berlubang
atau berlapis.
b. Hanya diperkenankan berkarat ringan saja.
c. Untuk tulangan utama (tarik/tekan, lentur) harus digunakan Baja Tulangan
Deform (BJTD), dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70%
diameter nominalnya, dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5% diameter
nominalnya.
d. Kerangka beton dengan Ø < 12 mm memakai BJTP 24 (polos).
e. Kualitas dan diameter nominal dari baja tulangan harus dibuktikan dengan
sertifikat pengujian laboratorium, yang pada prinsipnya menyatakan kekuatan
leleh dan berat permeter serta panjangnya, dari baja tulangan yang dimaksudkan.
f. Diameter nominal Baja Tulangan Deform / BJTD yang digunakan harus ditentukan
dari sertifikat pengujian, yang dapat ditentukan dengan rumus:
d = 4,029 √B atau; d = 12,47 √G
Keterangan:
d = Diameter nominal (mm).
B = Berat baja tulangan (N/mm).
G = Berat baja tulangan (Kg/m).

g. Toleransi berat batang contoh yang diizinkan dalam pasal ini adalah:

DIAMETER TULANGAN TOLERANSI BERAT


BAJA TULANG YANG DI IZINKAN
Ø < 16 mm +7%
12 mm < Ø < 16 mm +6%
16 < Ø < 28 mm +5%
Ø > 28 mm +4%

3.5. Beton dan Adukan Beton Struktur.


a. Kuat tekan target beton yang diisyaratkan dalam pekerjaan ini (f”c) tidak boleh
kurang dari 19,3 MPa (setara K225). Kuat tekan ini harus dibuktikan dengan
adanya sertifikat pengujian dari laboratorium bahan bangunan yang telah di
tentukan dan disetujui oleh Pengawas.
b. Beton harus dirancang proporsi campuran agar menghasilkan kuat tekan rata- rata
(fcr) minimal sebesar: fcr = fc + 1,64 Sr, dengan Sr adalah standar deviasi rencana
dari benda uji yang nilainya sama dengan standar deviasi statistik dikalikan
dengan faktor berikut:

JUMLAH BENDA UJI FAKTOR PERKALIAN


dikonsultasikan dengan
< 15
pengawas
15 1,16
20 1,08
25 1,03
> 30 1,00

c. Benda uji yang dimaksud adalah silinder beton dengan diameter 150 mm dan
tinggi 300 mm, untuk setiap 10 m3 produksi adukan beton harus menggunakan
minimal dua buah benda uji.
d. Tata cara pembuatan benda uji tersebut harus mengikuti ketentuan yang terdapat
di dalam standar metoda pembuatan dan perawatan benda uji beton di
laboratorium yakni menurut ketentuan yang sesuai dengan standar SK SNI M-62-
1990-03.
e. Jika hasil uji tekan beton menunjukan bahwa kuat tekan target beton yang
dihasilkan tidak memenuhi syarat, maka proporsi adukan beton tersebut tidak
dapat dipergunakan.
f. Kontraktor (dengan persetujuan dari Pengawas) harus membuat proporsi
campuran adukan beton yang baru dengan sedemikian rupa, sehingga nilai kuat
tekan target beton yang disyaratkan dapat meningkat dan mencapai nilai yang
telah ditentukan.
g. Untuk kekentalan adukan, pada setiap 5 m3 adukan beton harus dibuat sampel
guna pengujian slump, dengan ketentuan sebagai berikut:

BAGIAN KONSTRUKSI NILAI SLUMP (mm)


Pelat pondasi / poer. 50 – 125
Kolom struktur 75 – 150
SloOf 75 – 150
Ringbalk 75 – 150

h. Apabila ada hal-hal yang belum tercakup didalam persyaratan teknis ini, pelaksana
harus mengacu pada seluruh ketentuan yang terdapat dalam Bab 5
Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal menurut ketentuan yang
berlaku dan sesuai dengan standar yang terdapat dalam SK SNI T-15-1990-03.
3.6. Pengadukan dan Alat Aduk.
a. Pelaksana wajib menyediakan peralatan dan kelengkapan yang memiliki ketelitian
yang tinggi untuk menetapkan dan mengawasi jumlah takaran masing- masing
bahan beton. Seluruh peralatan, perlengkapan dan tata cara pengadukan harus
mendapatkan persetujuan Pengawas.
b. Pengaturan pengangkutan dan cara penakaran yang dilakukan harus
mendapatkan persetujuan Pengawas, seluruh operasional harus diperiksa secara
kontinyu oleh Pengawas.
c. Pengadukan harus dilakukan dengan mesin aduk beton (batch mixer atau portable
continous mixer). Sebelum digunakan mesin aduk ini harus benar-benar dalam
keadaan kosong, dan harus dicuci terlebih dahulu apabila tidak digunakan lebih
dari 30 menit.
d. Selain ketentuan tersebut didalam butir c diatas, maka pengadukan beton
dilapangan harus mengikuti ketentuan berikut ini:
 Harus dilakukan didalam suatu mesin pengaduk dari tipe yang telah disetujui
Pengawas.
 Mesin aduk harus berputar dengan kecepatan yang telah diinstruksikan oleh
pabrik pembuat mesin aduk tersebut.
 Pengadukan harus diteruskan paling lambat 1,5 menit setelah semua
material dimasukkan kedalam drum aduk, kecuali jika dapat dibuktikan
bahwa dengan waktu pengadukan yang menyimpang dari ketentuan ini
masih dapat dihasilkan beton yang memenuhi syarat.
3.7. Pengangutan Adukan.
a. Pengangkutan beton dari tempat pengadukan ketempat penyimpanan akhir
(sebelum dituang), harus dicegah terjadinya pemisahan (segregasi) atau
kehilangan material.
b. Alat angkut yang digunakan harus mampu menyediakan beton di tempat
penyimpanan akhir dengan lancar, tanpa mengakibatkan pemisahan bahan yang
telah
dicampur dan tanpa hambatan yang dapat mengakibatkan plastisitas beton
berbeda antar pengangkutan yang berurutan.
3.8. Penempatan Beton Yang Akan Dituang.
a. Beton yang dituang harus diletakkan sedekat mungkin ke cetakan akhir untuk
mencegah terjadinya segregasi karena penanganan kembali atau pengaliran
adukan.
b. Pelaksanaan penuangan beton harus dilakukan secepat mungkin untuk
mempertahankan kondisi agar selalu plastis dan dapat mengalir dengan mudah
kedalam rongga diantar tulangan.
c. Beton yang telah kering sebagian atau telah dikotori oleh material lain, tidak boleh
dituang kedalam cetakan.
d. Beton yang telah mengeras kemudian ditambah dengan air untuk diaduk kembali
tidak boleh dipergunakan kembali.
e. Beton yang dituang harus dipadatkan secepat mungkin dengan alat yang tepat
secara maksimal agar dapat mengisi secara sempurna kedaerah sekitar tulangan
dan barang yang tertanam hingga kedaerah pojok acuan.
3.9. Perawatan Beton.
a. Jika tidak digunakan semen dengan kekuatan awal yang tinggi, maka beton harus
dipertahankan dalam kondisi lembab minimal 72 kecuali jika di lakukan
perawatan yang tercepat.
b. Jika tidak digunakan semen dengan kekuatan awal yang tinggi, maka beton harus
dipertahankan dalam kondisi lembab minimal 168 jam kecuali jika dilakukan
perawatan yang tercepat. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5; Tata cara
pembuatan rencana campuran beton normal (SK SNI T-15-1990-03).
3.10. Cetakan Beton.
a. Dalam segala hal, cetakan beton termasuk penyangganya harus dirancang
sedemikian rupa hingga dapat dibuktikan bahwa penyangga dan cetakan mampu
menerima beban yang diakibatkan oleh penuangan dan pemadatan adukan beton.
b. Cetakan harus sesuai dengan bentuk, ukuran dan batas-batas bidang dari hasil
beton yang direncanakan, tidak bocor dan harus kaku untuk mencegah terjadinya
perpindahan tempat atau longsor.
c. Permukaan cetakan harus cukup rata dan tidak boleh ada lekukan dan lubang.
Sambungan pada cetakan lurus dan rata dalam arah horizontal maupun vertikal,
terutama untuk permukaan beton yang tidak difinish (expossed concrete).
d. Kecuali bila beton pondasi, cetakannya dibuat dari multipleks dengan ketebalan
12 (dua belas) mm.
e. Kontraktor harus melakukan upaya supaya penyerapan air adukan oleh cetakan
dapat dicegah.
f. Tiang-tiang harus direncanakan sedemikian rupa agar dapat memberikan
penunjang seperti yang dibutuhkan tanpa adanya “overstress” atau perpindahan
tempat pada beberapa kegiatan konstruksi yang dibebani. Struktur dari tiang
penyangga harus cukup kuat dan kaku untuk menunjang berat sendiri dan beban-
beban yang ada diatasnya selama pelaksanaan.
g. Sebelum penuangan, cetakan harus diteliti untuk memastikan kebenaran letaknya,
kekuatannya dan tidak akan terjadi penurunan dan pengembangan pada saat
beton dituangkan. Permukaan cetakan harus bersih dari segala kotoran, dan
diberi form oil untuk mencegah melekatnya beton pada cetakan. Untuk
menghindari lekatnya form oil pada baja tulangan, maka form oil pada cetakan
dilakukan sebelum tulangan terpasang.
h. Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari Pengawas, atau
jika umur beton telah melampaui waktu sebagai berikut:
 Bagian sisi balok 48 jam (setara dengan 35% fc).
 Balok tanpa beban konstruksi 7 hari (setara 70% fc).
 Balok dengan konstruksi 21 hari (setar dengan 95% fc).
 Pelat lantai/atap/tangga 21 hari (setara dengan 95% fc).
i. Pada bagian konstruksi yang terletak didalam tanah, cetakan harus dicabut
sebelum pengurugan dilakukan.
3.11. Pengangkutan dan Pengecoran.
a. Perletakan pengadukan dan pengecoran harus diatur sedemikian rupa hingga
memudahkan dalam pengecoran.
b. Waktu antara pengadukan dan pengecoran tidak boleh lebih dari 1 jam.
Pengecoran harus dilakukan secepat mungkin untuk menghindarkan terjadinya
pemisahan material dan perubahan letak tulangan.

c. Adukan tidak boleh dijatuhkan secara bebas dari ketinggian 1,5 m, cara penuangan
dengan alat bantu seperti talang, pipa, chute, dan sebagainya harus dapat
persetujuan Pengawas.
d. Pelaksana harus memberitahukan Pengawas selambat-lambatnya 2 hari sebelum
pengecoran dilaksanakan.
Pasal 5. CACAT-CACAT PEKERJAAN

1. Bila penyelesaian pekerjaan, bahan yang digunakan dan keahlian dalam pengerjaan setiap
bagian pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan yang tercantum dalam persyaratan teknis,
maka bagian pekerjaan tersebut harus digolongkan sebagai cacat pekerjaan.
2. Semua pekerjaan yang digolongkan demikian harus dibongkar dan diganti sesuai dengan yang
dikehendaki oleh Pengawas.
3. Seluruh pembongkaran akibat cacat kerja, biayanya menjadi tanggung jawab Kontraktor.

Pasal 6. PEKERJAAN BATU BATA.

1. Lingkup Pekerjaan.
1.1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, material, peralatan dan alat-alat bantu
lainnya yang akan dibutuhkan untuk menunjang jalannya pelaksanaan dalam pekerjaan
ini.
1.2. Pekerjaan ini mencakup pengerjaan dinding bangunan bagian luar dan bagian dalam,
pagar bangunan, sesuai dengan yang tertera pada gambar kerja, dan sesuai dengan
petunjuk Pengawas.
2. Bahan-bahan.
2.1. Batu bata dapat dipergunakan untuk pasangan dinding, dalam pekerjaan ini yang
diperlukan adalah batu bata yang produksi dari daerah setempat sesuai dengan
persetujuan, syarat-syarat fisik dan ketentuan-ketentuan yang dikemukakan oleh
Pengawas.
2.2. Semen yang dipakai untuk pekerjaan pasangan harus mempunyai kualitas yang sama
seperti semen untuk pekerjaan beton dan harus sesuai dengan ketentuan menurut
standar PUBB-NI.8.
2.3. Pasir yang dipergunakan untuk pekerjaan pasangan harus memenuhi persyaratan
PUBB-N.I.3.
2.4. Air yang dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan ini, harus air yang benar-benar
bersih, tidak berwarna, dan tidak mengandung bahan–bahan kimia (asam, alkali) atau
bahan campuran lain serta tidak mengandung minyak atau lemak dan kotoran lain
seperti lumpur.
3. Proposal Adukan.

JENIS KOMPOSISI PENGGUNAAN


Adukan
Dipasang setinggi 20 cm dari atas sloof dan
waterproof (kedap 1 pc : 3 ps
setinggi 150 cm pada dinding KM/WC.
air)
Pelsteran Untuk pelesteran dinding KM/WC setinggi
1 pc : 3 ps
waterproof 150 cm dari lantai dan plesteran beton.
Untuk pasangan dinding selain pasangan
Pasangan 1 pc : 4 ps
kedap air.
Untuk semua plesteran dinding, pagar batu
Plesteran 1 pc : 4 ps
bata.
4. Pelaksanaan.
4.1. Sebelum digunakan, batu bata harus disiram dengan air.
4.2. Setelah terpasang dengan adukan, naad/siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm dan
dibersihkan dengan sapu lidi, kemudian disiram air.
4.3. Pasangan batu bata dilakukan bertahap terdiri dari (maksimal) 20 lapis setiap hari,
diikiuti cor kolom praktis.
4.4. Adukan harus memakai mixer, adukan yang mengeras tidak boleh digunakan lagi.
Pasal 7. PEKERJAAN PLESTERAN DAN ACIAN.

1. Lingkup Pekerjaan.
Bagian ini meliputi plesteran dan acian untuk seluruh dinding bata, kolom beton, balok
beton, expose dan lain-lain. Seperti dijelaskan pada gambar pelaksanaan.
2. Pengendalian Pelaksanaan.
Seluruh pekerjaan harus sesuai dengan syarat-syarat yang terdapat dalam PUBB-NI 2-1971,
NI 3-1970, dan NI 8-1974.
3. Bahan-bahan atau Material.
3.1. Semen yang dipakai untuk pekerjaan pasangan harus mempunyai kualitas sama seperti
semen untuk pekerjaan beton yang harus sesuai dengan PUBB-NI.8.
3.2. Pasir yang dipakai pada pekerjaan pasangan harus memenuhi persyaratan menurut
PUBB-N.I.3.
3.3. Air yang digunakan harus air bersih, tidak berwarna, dan tidak mengandung bahan–
bahan kimia (asam, alkali) serta tidak mengandung minyak atau lumpur.
4. Campuran.
Komposisi campuran untuk pekerjaan plesteran dan acian seperti disebut dalam pekerjaan
batu bata.
5. Pelaksanaan.
5.1. Pembuatan campuran harus menggunakan mesin pengaduk (mesin molen) dan
peralatan yang memadai. Membuat campuran plesteran tanpa mesin pengaduk hanya
dapat dilaksanakan bila ada izin dari Pengawas.
5.2. Permukaan dasar harus dibersihkan sampai benar-benar siap untuk dilakukan
pekerjaan plesteran.
5.3. Seluruh permukaan untuk plesteran harus cukup basah tetapi tidak sampai jenuh.
Plesteran dapat dilakukan apabila permukaan air terlihat sudah lenyap/kering kembali.
5.4. Untuk mencegah pengeringan yang bersifat sementara, penempelan campuran
maksimum 2,5 jam setelah proses pencampuran.
5.5. Plesteran harus lurus, sama rata maupun tegak lurus.
5.6. Untuk mendapatkan permukaan yang rata dan ketebalan yang sesuai dengan yang
disyaratkan, maka dalam memenuhi pekerjaan plesteran harus dibuat kepala plesteran.
5.7. Jika plesteran menunjukan hasil yang tidak memuskan dan adanya cacat seperti pecah
atau retak, tidak rata, tidak lurus, atau bergelombang maupun keropos, maka bagian
tersebut harus dibongkar kembali dan diperbaiki atas biaya Kontraktor.
5.8. Pelaksanaan plesteran dilaksanakan setelah pemasangan batu-bata berumur 2 (dua)
minggu.
5.9. Kontraktor harus memperhatikan serta menjaga pekerjaan yang berhubungan dengan
pekerjaan lain, jika terjadi kerusakan akibat kelalaian, maka Kontraktor harus
mengganti tanpa biaya tambahan.

Pasal 8. PEKERJAAN PEWARNAAN ATAU PENGECATAN

1. Lingkup Pekerjaan.
1.1. Meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantunya yang
berhubungan dengan pekerjaan penyelesaian dinding sesuai gambar, sehingga dapat
dicapai hasil yang sempurna.
1.2. Pekerjaan ini meliputi pengecatan tembok eksterior, pengecatan tembok interior
2. Bahan Serta Syarat-syarat.
2.1. Cat interior.
a. Semua bahan cat harus dari penyalur yang disetujui oleh pemilik proyek, serta
disetujui oleh Pengawas. Penggunaan cat bagian dalam gedung menggunakan jenis
Jotun Weather Shield,.
2.2. Cat eksterior.
a. Pekerjaan pengecatan ini menggunakan cat dari jenis yang Jotun Weather Shield.
b. Pekerjaan pengecatan harus mengikuti petunjuk-petunjuk dari pabrik yang
bersangkutan. Sebelum pengecatan, cat dalam kaleng harus diaduk secara merata
sebelum dituangkan dalam tempat cat yang disediakan.
c. Tanpa petunjuk dari pabrik maka penggunaan zat-zat pengering dan lain-lain tidak
dibenarkan.
d. Sebelum permukaan diberi satu lapisan cat dasar (tahan alkali), Kotoran dan
serpihan material yang ada pada permukaan yang akan di cat, harus dibersihkan
sampai benar-benar bersih, sehingga tidak mengganggu pekerjaan pengecatan ini
dan tidak merusak cat yang terpasang.
2.3. Cat besi. (bila ada)
a. Untuk besi galvanis dicat dengan 2 lapis zinchromate, tanpa dimenie terlebih
dahulu, juga untuk struktur baja, dicat dengan zinkromat minimal 2 (dua) kali,
dengan merk cat setara Nipponpaint.
b. Pekerjaan pengecatan tidak boleh dimulai apabila:
 Sebelum bagian-bagian yang akan dicat di periksa oleh Pengawas.
 Apabila bagian yang dicat masih basah, lembab atau berdebu.
 Apabila keadaan cuaca lembab dan hujan.
c. Kontraktor bertanggung jawab atas pengecatan yang baik dan harus mengatur
waktu sedemikian rupa mulai dari pengerjaan dasar (under coats) sampai dengan
pengecatan akhir (finishing coats).
d. Hasil akhir harus membentuk bidang cat yang utuh, tidak ada gelembung udara
dan bidang cat dijaga terhadap pengotoran.
e. Pengecatan kembali harus dilakukan bilamana bidang yang cacat tidak
disetujui/diterima Pengawas karena cat terkelupas atau rusak.
f. Warna cat akan ditentukan kemudian, dipilih oleh direksi atau perencana dan
disetujui oleh Pengawas.

Pasal 32. PENUTUP

1. Segala sesuatu yang belum tercantum di dalam RKS ini, dan apabila ternyata diperlukan akan
dicantumkan dalam berita acara penjelasan pekerjaan.
2. Hal-hal atau permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan pekerjaan, penyelesaian di
lapangan akan dibicarakan dan diatur oleh Pengawas dan Kontraktor dan apabila diperlukan
akan dibicarakan bersama dengan Konsultan Perencana dan Pengawas dalam rapat berkala.

B. Proses pelaksanaan pekerjaan;


Pekerjaan Rehabilitasi dan Pemeliharaan Rumah Sakit Umum Daerah Sinjai ini akan
dilaksanakan setelah kontrak pelaksanaan ditandatangani. Pekerjaan konstruksi harus
dilakukan terhadap hal-hal sebagai berikut :
C. Proses Kegiatan
a) Persiapan
1) Mempelajari dan memahami Dokumen Kontrak (Gambar Rencana, RKS, RAB, dll);
2) Mempelajari dan memahami kondisi dan lingkungan lokasi kerja;
3) Mempelajari dan memahami sumber daya yang akan digunakan pada proyek (tenaga,
material, peralatan, dll);
4) Melakukan pengukuran dan pengujian ulang (bila perlu) terhadap lokasi sesuai
gambar/RKS/RAB;
5) Menyiapkan form-form pengendalian / pemantauan dan dokumentasi;
6) Menyiapkan form-form laporan pelaksanaan pekerjaan.

b) Pelaksanaan
1) Melaksanakan pengukuran situasi lokasi awal menggunakan alat yang dibutuhkan dan
melaporkan hasil pengukuran;
2) Menyiapkan Shop Drawing (gambar pelaksanaan) untuk disetujui pengawas;
3) Melaksanakan pekerjaan sesuai kualitas standar konstruksi bangunan perkantoran
Rumah Sakit, gambar pelaksanaan, dan RAB yang telah disetujui bersama;
4) Melakukan pengukuran bersama antara pengawas dan penyedia atas prestasi
pekerjaan yang telah terpasang dilapangan;
5) Membuat dan melaporkan perkembangan fisik dilapangan secara berkala, dan
disetujui oleh pengawas.
6) Menyiapkan As Build Drawing (gambar hasil pelaksanaan) untuk disetujui oleh
pengawas;
7) Mendokumentasikan seluruh proses pekerjaan dilapangan sesuai dengan tahapan-
tahapan pekerjaan;
8) Menyerahkan hasil pekerjaan setelah dianggap memenuhi segala persyaratan yang ada
dan disetujui pengawas.

c) Pemeliharaan
1) Melakukan perbaikan atas hasil pekerjaan yang belum diterima;
2) Melakukan perbaikan atas kerusakan yang terjadi selama masa pemeliharaan;
3) Pelaksana Proyek harus bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran dan
kelangsungan proyek hingga selesai atau selesai 100%.

d) Ketentuan perhitungan prestasi pekerjaan untuk pembayaraan


1) Pengukuran meter panjang (m), Pengukuran panjang, setelah penampang telah sesuai
dimensinya sesuai spesifikasi teknis ini atau,
2) Pengukuran meter persegi (m2), Pengukuran panjang dan lebar, setelah ketebalan
memenuhi persyaratan tebal minimal atau toleransi yang dibenarkan dalam spesifikasi
teknis ini atau,
3) Pengukuran meter kubik (m3), Pengukuran panjang dan lebar,
sedangkan ketebalannya mernggunakan alat ukur yang tepat, sehingga di
dapatkan nilai kubikasinya sesuai standar spesifikasi teknis ini atau,
4) Pengukuran Ton, Pengukuran terhadap berat bahan yang akan digunakan
melalui pengembangan atau Kubikasi dikalikan dengan Berat Jenis Material
yang digunakan atau,
5) Setiap item pekerjaan yang selesai dilaksanakan dalam pelaksanaan
pekerjaan.

e) Ketentuan pembuatan laporan dan dokumentasi


1) Laporan Lapangan
(a) Laporan harian,
berisi tentang kegiatan pekerjaan yang dilaksanakan dalam kurun
waktu satu hari, termasuk penggunaan bahan, jumlah tenaga kerja dan
peralatan yang digunakan untuk pelaksanakan item pekerjaan pada hari
tersebut. serta dilengkapi dengan keterangan keadaan cuaca pada saat
pekerjaan berlangsung.
(b) Laporan mingguan,
berisi tentang rangkuman dari kegiatan pekerjaan dalam kurun
waktu satu minggu. persentase kemajuan fisik.
(c) Laporan bulanan,
berisi tentang rangkuman dari kegiatan pekerjaan dalam kurun waktu
satu bulan persentase kemajuan fisik.
(d) Back Up Data yang terangkum dalam laporan akhir.

2) Dokumentasi Lapangan,
terdiri dari foto dokumentasi lapangan dimulai dari awal pekerjaan
sampai dengan akhir pekerjaan, serta foto-foto tambahan yang dianggap
perlu dan dibutuhkan dalam dokumentasi pekerjaan.

Anda mungkin juga menyukai