0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan66 halaman

Undying Ril

Cerita ini menggambarkan Asha yang terjebak antara kehidupan dan kematian setelah mencoba bunuh diri di atap sekolah, sementara Duke Stravellin, ayahnya, berduka atas kehilangan putrinya. Asha terbangun dari mati suri, mengejutkan semua orang, termasuk Duke yang merasakan harapan baru. Di sisi lain, ancaman Nox, sihir gelap, mulai muncul di hutan, menambah ketegangan dalam narasi.

Diunggah oleh

shokoieiri33
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan66 halaman

Undying Ril

Cerita ini menggambarkan Asha yang terjebak antara kehidupan dan kematian setelah mencoba bunuh diri di atap sekolah, sementara Duke Stravellin, ayahnya, berduka atas kehilangan putrinya. Asha terbangun dari mati suri, mengejutkan semua orang, termasuk Duke yang merasakan harapan baru. Di sisi lain, ancaman Nox, sihir gelap, mulai muncul di hutan, menambah ketegangan dalam narasi.

Diunggah oleh

shokoieiri33
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Suara gagak yang semakin memekik kini mulai

menyakiti telingaku. Sayup-sayup aku mendengar derap


langkah kaki dari tangga, beriringan dengan teriakan
dari suara yang sangat familiar di telingaku,

Chapter I "As! As!"

Aku sekali lagi melihat ke atas. Langit yang


ditutupi awan nimbostratus dibelah oleh kepakan
puluhan gagak yang entah dari mana asalnya. Mereka
tahu betul bahwa ini adalah pemakaman.

Sesampainya pemilik suara itu di atap sekolah, ia


langsung berlari mencapaiku yang sudah berdiri di bibir
atap, di luar pagar pelindung.

"As! Asha! Turun dari sana! Itu berbahaya!"


teriaknya dengan suara bergetar.

Aku tersenyum padanya. Cengkeraman tanganku


dari pagar pelindung merenggang.

"Terima kasih, Kai," gumamku sebelum akhirnya


menjatuhkan diri ke bawah.

G
agak adalah simbol kematian. Dalam banyak Akhirnya aku akan menjemput kedamaianku. Aku
cerita rakyat, gagak muncul saat perang atau dapat merasakan daya gravitasi yang menarikku ke
pemakaman. bawah. Sesaat rasanya seperti terbang.

Seperti saat ini, ketika kepakan sayapnya bersaing Saat masih berada di udara, aku sempat melihat
dengan angin yang tak henti-hentinya menerpa Kai berusaha meraihku. Aku sempat melihat matanya
wajahku. Apa yang kuharapkan? Ini lantai delapan yang membuatku merasa nostalgia. Jika saja tidak ada
gedung sekolah, tentu saja angin sangat kuat di sini.
yang menahannya, mungkin dia sudah ikut jatuh sebelumnya, tabib kiriman putra mahkota menyatakan
denganku. Untungnya dia tidak. bahwa gadis itu telah meninggal. Sejak saat itu, sang
duke tidak berhenti menangis.
Gagak kembali menjerit dan berputar seakan
merayakan kematianku. “Maafkan ayah, Nak. Ayah tidak mampu
menjagamu dengan baik,” isaknya. “Tapi ayah janji akan
Saat gravitasi menariknya, Asha merasakan
membalaskan semua! Kau tidak pantas mendapatkan ini
kebebasan yang singkat sebelum ia merasakan tarikan
semua, putriku.”
takdir lain yang lebih kuat.
Tangannya mengepal. Amarah dan penyesalan
bercampur, tidak tahu mana yang lebih dulu ingin
meledak.

Langkah kaki terdengar pelan. Seorang ksatria


memasuki ruangan dan berhenti di belakang sang duke.
Ketika pandangan mereka bertemu, ksatria itu segera
mendekat. “Pelakunya sudah diamankan, Yang Mulia,”
bisiknya.

Duke Stravellin mengangguk singkat. Ia tidak


berkata apa-apa. Matanya kembali tertuju pada wajah
putrinya yang pucat.

Keheningan jatuh. Tidak ada suara selain isak


Awan gelap menggantung di atas Kastil Duke yang tertahan. Beberapa detik berlalu.
Stravellin. Langit tampak berat, seolah ikut menekan
bangunan tua itu. Beberapa gagak berputar di udara, “Ughh.”
bersuara nyaring, lalu menghilang di balik menara.
Suara itu pelan. Hampir tidak terdengar. Namun
Di dalam kamar, Duke Stravellin berdiri di sisi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu
ranjang. Putri satu-satunya terbaring kaku. Tubuhnya menegang.
dingin. Napasnya telah lama berhenti. Beberapa saat
Jari-jari gadis di atas ranjang bergerak. “Asha, ini ayah. Ayah sangat
Tangannya naik perlahan, mengusap wajahnya sendiri, mengkhawatirkanmu, Nak.”
seperti seseorang yang baru terbangun dari tidur yang
Tangannya masih berada di dahi Asha, seolah
terlalu panjang.
takut melepasnya. “Tabib, tolong periksa putriku.”
Seorang pelayan memekik kaget. Tabib yang
Beberapa saat kemudian, suara Asha terdengar
sebelumnya bersiap pergi segera mendekat. Ia menatap
lirih. Hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
dengan ragu, lalu dengan hati-hati memeriksa kembali
“Kenapa aku masih hidup?”
kondisi sang gadis. Keadaan seperti ini jarang terjadi.
Mati suri. Matanya bergerak perlahan, menyapu ruangan.
Segalanya terlihat asing. Mewah. Terlalu rapi. Terlalu
Duke Stravellin sempat terpaku. Lalu tangannya
mahal untuk disebut rumah biasa. Ia memejamkan mata
bergerak, menyentuh rambut putrinya dengan gemetar.
sesaat.
Air mata kembali jatuh, kali ini bukan karena
kehilangan, melainkan karena harapan yang tiba-tiba Ingatan lama muncul tanpa diminta. Atap sekolah.
kembali. Angin yang menarik tubuhnya jatuh. Detak jantung yang
tak beraturan. Rasa sakit yang nyata, terlalu nyata
“Asha, Asha, putriku tersayang, hidup!”
untuk disebut mimpi.
Nama itu terdengar jelas. Kata hidup
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali
menyertainya.
merebahkan kepala. Ia tidak tahu apa yang terjadi. dan
Gadis bermata biru itu langsung membuka mata. saat ini, ia tidak ingin tahu. Ia hanya mengerti satu hal.
Pandangannya kosong sesaat, lalu melebar. Cahaya Jika ia mencoba bangkit dan mencoba mengakhiri
ruangan memantul di retina birunya. Wajahnya hidupnya lagi, orang-orang di ruangan ini akan
menunjukkan keterkejutan yang tidak dibuat-buat. menghentikannya. Apa pun caranya. Terutama pria tua
yang memanggil dirinya ayah itu.
“Apa yang terjadi? Di mana aku? Siapa kalian
semua?” “Ayahku meninggal tiga hari lalu.”

Raut lega di wajah sang duke berubah menjadi


cemas.
Matahari tengah hari bersinar tajam. Kubah- wilayah siapa pun. Tempat seperti itu memang selalu
kubah perunggu memantulkan cahaya, membuat para menarik hal-hal yang ingin bersembunyi.
penjaga yang berjajar rapi harus menyipitkan mata.
Saat ia hendak menutup laporan, terdengar
Di dalam Pustaka Pribadi Sang Pewaris, suasana ketukan di pintu kayu ek.
jauh lebih tenang. Tidak ada suara selain goresan pena
“Masuk,” perintah Clexo tanpa menoleh.
di atas perkamen. Udara beraroma kertas tua dan tinta
kering. Lawrence, Kepala Pelayan pribadinya, melangkah
masuk. Sikapnya rapi seperti biasa. Di tangannya ada
Clexo Aeterna duduk di balik meja mahoni besar.
nampan perak berisi piala air dan sepucuk surat dengan
Tubuhnya tegap, sikapnya rapi. Rambut pirangnya
segel yang masih utuh.
berkilau tertimpa cahaya, serasi dengan matanya yang
berwarna emas. Tatapannya dingin. Ia menelaah “Ampun, Yang Mulia. Ini datang dari Duke
tumpukan Laporan Delegasi Khusus yang baru dikirim Stravellin. Ditujukan langsung kepada Anda.”
Sekretariat Kaisar.
Clexo mengambil surat itu. Ia mengenali segelnya.
Tangannya berhenti pada satu gulungan. Segelnya Lambang elang keluarga Stravellin. Ia merobek laknya
dari lak merah marun. Laporan dari unit pengintai dan membaca cepat. Isinya singkat. Satu paragraf saja.
perbatasan Hutan Whiswood.
Ia menghela napas pelan.
Clexo membuka gulungan itu perlahan.
“Sepertinya Lady Stravellin sudah sadar,”
Tugasnya sederhana dan berat sekaligus. Menilai ucapnya tenang.
risiko. Memberi angka pada bahaya. Ia mengerutkan
dahi ketika membaca bagian tentang lonjakan energi Lawrence sedikit menunduk. Ekspresinya berubah
sihir gelap. Di pinggir halaman, ia menulis singkat tipis. Hampir tidak terlihat.
dengan tinta hitam ; Inkonsistensi pada perhitungan
“Itu adalah berita yang luar biasa melegakan,
tingkat penyerapan mana tanah di sektor 4.
Yang Mulia,” sahut Lawrence. Suaranya tetap datar,
Penanya berhenti. Matanya turun ke kalimat di hasil latihan bertahun-tahun.
bawah judul utama. Peningkatan aktivitas Nox di zona
perbatasan Droton–Virdae. Hutan Whiswood bukan
“Mengingat kondisi beliau yang kritis beberapa Clexo berjalan ke jendela. Pandangannya jatuh ke
hari terakhir, Duke Stravellin pasti sedang merayakan taman. Seorang gadis berdiri di sana, memperhatikan
pemulihan ini. Apakah Duke mencantumkan kondisi bunga. Rambut peraknya memantulkan cahaya lembut.
terakhir Lady Stravellin, atau... apakah beliau Ia menoleh, sadar sedang diperhatikan. Senyumnya
menyebutkan adanya perkembangan baru terkait muncul begitu saja.
identitas pelakunya?”
Untuk sesaat, Clexo lupa dengan surat itu. Ada
“Entahlah, Lawrence.” Clexo berdiri, rasa hangat singkat di dadanya saat melihat senyuman
meninggalkan laporan Whiswood di meja. “Apa itu.
menurutmu aku harus menjenguknya?”
“Baguslah kalau begitu,” balasnya.
Lawrence mengangkat wajahnya. Ia berhati-hati.
Sangat hati-hati.

“Dengan segala hormat, Yang Mulia, secara


etiket, itu tidaklah wajar. Kunjungan Anda akan Hutan Whiswood terletak di pertengahan wilayah
menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada Virdae dan wilayah Droton. Secara resmi, hutan ini
jawaban.” tidak memiliki otoritas dari wilayah mana pun. Tidak
Ia melanjutkan, suaranya tetap terkendali. ada dari kedua wilayah yang mengakui tempat itu.

“Anda adalah pihak yang membatalkan


pertunangan, dan dikabarkan Lady Asha sangat
terpukul. Duke Stravellin mungkin menafsirkan
kunjungan pribadi Anda bukan sebagai simpati,
melainkan sebagai usaha untuk mendapatkan informasi
di saat ia sedang lemah, atau bahkan sebagai arogansi
yang tidak perlu. Itu dapat merusak potensi aliansi
politik di masa depan, terutama mengingat betapa
protektifnya Duke terhadap putrinya.”
"Huh. Aku sudah berkali-kali menjelaskannya
padamu. Kaisar ingin kau berpihak padanya... bla...
bla... bla..."
Hal ini membuat Whiswood menjadi tempat
Kaivor mempercepat langkahnya, malas
persembunyian sempurna bagi entitas sihir. Bahkan di
mendengar ocehan James.
siang bolong, kanopi pohonnya yang mati dan berlumut
menyaring cahaya menjadi remang-remang kehijauan "He-hei! Tunggu aku, bodoh!" seru James saat
yang sakit, dan udara dingin yang diam terasa berat di menyadari Kaivor sudah berjalan jauh.
dada.
Kaivor berhenti tiba-tiba,
Akhir-akhir ini, laporan tentang bayangan hitam disusul oleh James yang masih
mulai muncul. Orang-orang menyebutnya Nox. Sihir bersungut-sungut.
gelap terlarang. Kaisar sengaja mengirim Archduke
"Shhh..." bisik Kaivor.
Varkas jauh-jauh dari Utara untuk menyelidiki. Nox
Suasana hutan menjadi semakin
bukanlah ancaman remeh.
mencekam. Kaivor menguatkan
"Sepertinya kaisar masih berusaha cengkeramannya pada pedang
menyingkirkanmu, Kaivor," James, komandan ksatria yang sedari tadi ia gunakan untuk menebas semak.
Nordia sekaligus tangan kanan Archduke Varkas,
Penglihatannya menyapu sekitar. Ranting-ranting
berkomentar saat perjalanan memasuki hutan.
pohon mulai bergerak samar, seakan telah dilewati oleh
"Terserah," jawab Kaivor acuh tak acuh. Kaisar sesuatu. Bulu kuduk James berdiri. Ia juga ikut
sudah lama tidak menyukainya. Sejak ia menjadi kepala mengangkat pedangnya.
keluarga Varkas dan menarik wilayah Nordia menjadi
Tiba-tiba, bayangan hitam pekat melesat dari
netral, kaisar jadi terus mengganggunya.
balik pinus. Cepat. Meninggalkan jejak asap dingin.
"Jika dia tidak menyukaiku, kenapa dia Kaivor naluriah mengangkat pedangnya.
membantuku menjadi Archduke?" Kaivor mulai menebas
KLANK!
semak mati yang menghalangi jalannya.
Logam beradu dengan sesuatu. Keras. Tak terlihat
jelas. Percikan energi Nox ungu gelap meledak. Kaivor
terdorong. Mundur dua langkah. Kakinya menggaruk muncul lagi. Di belakangnya. Jauh lebih dekat. Cakar
tanah. dari kabut mengoyak udara.

"Sial! Apa-apaan itu!" geram James. Pedangnya James menggeram. Bertarung melawan ilusi. Itu
diangkat, mengarah ke celah pohon, mencari target. frustrasi. Tidak bisa mengenai. Tidak bisa menahan.
Energi terbuang sia-sia. Salah satu bayangan menerjang
Bayangan Nox tak memberi jeda. Ia berputar di udara,
kakinya. Cepat. James tersandung. Keseimbangan
meninggalkan jejak asap dingin yang berbau belerang.
hilang. Pedangnya jatuh. Ia hanya sempat menutup
Kemudian menerjang James. Kali ini, bentuknya lebih
wajah. Matanya tertutup rapat. Menunggu benturan
jelas. Bayangan manusia kurus yang seluruhnya
dingin yang akan datang.
terbuat dari kabut pekat. Matanya. Dua titik
cahaya ungu yang membakar di kegelapan. "Pfftt..." Kaivor menahan tawa melihat James yang
terbentur. Sedari tadi ia hanya mengelak. Melompat
James mengelak.
dari kanan ke kiri. Menghindari terjangan Nox dengan
melewati bahunya. Dingin. James membalas.
gerakan minimalis. Tubuhnya bergerak ringan seperti
Tebasan mendatar. Pedangnya menembus bayangan itu.
menari. Ia bahkan tidak perlu melihat saat Bayangan
Namun tidak ada darah. Hanya asap. Berpusar. Dingin.
Kedua melesat ke arah punggungnya. Hanya satu
Sangat dingin.
langkah miring yang mulus membuat serangan itu
"Itu bukan fisik," ujar Kaivor datar. Ia dapat melukai udara kosong.
merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Namun
"Kau terlalu lemah, James," ujar Kaivor. Suaranya
ia tidak panik.
tenang, seolah mereka sedang berlatih di lapangan.
Nox melompat tinggi. Gerakannya tidak wajar.
Pandangannya tajam. Ia membiarkan Bayangan
Menjadi satu gumpalan asap yang berdenyut. Lalu
Ketiga mendekat hingga jaraknya hanya sejengkal. Tiba-
terpecah. Menjadi empat bayangan kecil. Mengelilingi
tiba, ia menukik ke bawah, posisi tubuhnya nyaris
mereka. Perlahan. Seperti serigala yang mengepung
menyentuh tanah. Pedangnya menggaruk tanah
mangsa.
sebentar, lalu menyapu ke atas. Udara di sekitarnya
James mengambil napas singkat. Memilih target. tiba-tiba bergetar, dan pedangnya mengeluarkan
Yang terdekat. Melangkah cepat. Pedangnya lagi-lagi cahaya merah pekat.
menusuk. Bayangan itu hilang bersama udara. Namun
Sihir itu adalah miliknya. "Kau bisa saja menggunakan sihir itu dari awal!"
protes James, suaranya penuh amarah dan lega.
Cahaya merah itu bukan hanya pantulan. Ia
adalah api. Hanya saja bukan api biasa. Kaivor tidak Kaivor hanya mengangkat bahu. "Aku tidak ingin
berteriak. Ia tidak mengucapkan mantra. Tetapi tanda merusak momen bodohmu."
lahir yang melilit tubuh kirinya berdenyut kencang.
James mencoba berdiri. Langkahnya sedikit
Energi panas dari dalam dirinya mengalir deras melalui
pincang. "Jadi... pekerjaan kita selesai?"
gagang pedang.
Kaivor tidak menjawab. Ia
Api hitam-merah itu melilit bilah pedang. Kaivor
menyimpan pedangnya ke sarung yang
mengubah posisi dari menukik menjadi berdiri tegak,
sedari tadi tergantung di pinggangnya.
cepat. Di saat yang sama, ia mengayunkan pedangnya
dengan kekuatan penuh ke arah empat Bayangan Nox "Hmmm... kira-kira kita dapat
yang tersisa. hadiah apa, ya? Kau kan berhasil
mengalahkan Nox, kaisar pasti kesal,"
BOOM!
ucap James.
Gelombang panas meledak dari pedang. Sebuah
"Aku sepertinya tidak punya harga diri lagi,
ledakan yang menghancurkan, membuat tumbuhan di
sampai-sampai tangan kananku mengharapkan hadiah
sekitarnya ikut layu. Empat Bayangan Nox yang terbuat
dari kaisar," celetuk Kaivor.
dari kabut dingin langsung menguap. Mereka hancur.
Kabut ungu pekat berdesis keras saat bertemu panas "Harga dirimu sudah hilang sejak kau setuju
itu. untuk pergi berdua saja denganku ke tempat
mengerikan ini. Padahal kita seharusnya mendapatkan
James terkejut. Ia langsung mengangkat kepala.
banyak ksatria kekaisaran untuk tugas sialan ini." James
Di sekeliling mereka, udara kembali bersih. Hanya ada
memutar bola matanya. Ia hendak melanjutkan, tetapi
uap tipis yang menghilang. Sisa-sisa bau belerang
terdiam.
lenyap, digantikan aroma kayu bakar yang kuat. Kaivor
berdiri tanpa cela, pedangnya masih berkilauan seolah Keheningan hutan sejenak terasa aneh setelah
baru dicelupkan ke magma. ledakan tadi. Entah mengapa, James mulai merasa tidak
nyaman. Ia merasa ranting-ranting pohon sedang
mengawasi gerak-gerik mereka. Sejenak ia mendengar
suara yang tidak sinkron dengan udara

Chapter II

B
eberapa hari berlalu sejak Asha hidup kembali
di dunia ini. Ia menghabiskan harinya dengan
mengurung diri di kamarnya.

Pelayan datang tiga kali sehari. Membawa makanan.


Membawa air hangat. Membawa pakaian bersih.

Asha menerima semuanya tanpa menolak.

Ia makan, mandi, dan minum namun tanpa rasa


lapar. Tidak ada rasa kenyang. Kadang ia duduk di tepi
ranjang, menatap lantai marmer yang berkilau. Kadang
ia berbaring menatap langit-langit.

Ia tidak menghitung waktu. Siang dan malam


lewat tanpa perbedaan.
Ia tidak mencari jawaban. muncul dari kegelapan, mengenakan seragam yang
sama.
Semua ini terlalu jauh untuk terasa nyata, dan
terlalu nyata untuk disebut halusinasi. "Hai Asha, kau butuh bantuan?" Seorang gadis
berlutut di hadapannya.
Hingga pada suatu dini hari, jam sudah
menunjukan pukul, Asha akhirnya tertidur setelah "Eci?" Ringis Asha. "Eci, tolong aku."
semalaman mempertanyakan eksistensinya. Selimut
"Tentu." Gadis itu tersenyum sinis lalu langsung
tebal menutupi tubuh rampingnya. Namun, meskipun
menarik rambut kebelakang membuatnya mendongak.
raga Asha beristirahat, benak bawah sadarnya mulai
"Aku akan membantumu sadar diri. Kau itu jelek!"
bekerja, membentuk sebuah narasi yang mencemaskan.
Asha mencengkeram tangannya, menahan air
Asha berdiri di sebuah lorong gelap. Ia
mata.
mengenakan seragam SMA lengkap. Kemudian mulai
melangkah mengikuti lorong tak berujung itu. "Ayo menangislah Asha."

Saat Asha berjalan, ia melihat sebuah siluet "Dasar arogan! Masih saja sombong begitu!"
manusia sedang menunggunya. Ia mempercepat
Eci melepaskan rambut Asha dan langsung di
langkahnya untuk meraih siluet itu. Namun sebelum ia
sambut oleh serangan tiba tiba dari siswa lain yang
dapat pergi lebih jauh, sebuah tendangan mengenai
membuat tubuh Asha terbentur ke tembok.
perutnya, membuatnya tersungkur.
"Menangislah bodoh!" Bentak orang itu.
Seketika lorong gelap itu di penuhi dengan suara
tawa. Satu persatu wajah-wajah orang yang ia kenali Asha mencoba menarik napas, tapi perutnya nyeri
setiap kali ia bergerak.
Tangannya gemetar saat menopang tubuhnya Murid-murid di sekitar mulai berbisik-bisik
sendiri. Tidak ada yang membantunya berdiri. Sepatu- melihat Asha yang baru saja di tikung oleh sahabatnya
sepatu hanya melangkah mundur, memberi ruang agar sendiri. Tapi tidak ada yang memberikan empati
mereka bisa menonton lebih jelas. sedikitpun. Mereka malah kembali mengolok-olok Asha.

"Eci, kau sahabatku. Tapi kenapa? Apa salahku?" "Pantas saja ibumu meninggalkanmu."
Tanya Asha lirih. Napasnya tercekat.
"Aku dengar ayahnya meninggal tiga hari lalu ya?
"Aku bukan sahabatmu! Kau terlalu percaya diri. Mampus."
Mana mungkin aku mau berteman dengan orang jelek
Asha menggigit bibir, Kenapa? Apa salahku?
dan miskin sepertimu! Hahaha." Eci mengangkat
Seharusnya aku yang marah pada keadaanku, kenapa
paksa dagu Asha membuat Asha menatap langsung ke
kalian yang malah membenciku? Pikirnya. Kini dadanya
matanya. "Kau punya satu kesalahan Asha, kau jelek
terasa sakit dan semakin sulit untuk bernafas.
dan kau miskin tapi kau malah mengaku sebagai
sahabatku dan merasa pantas menjadi kekasih Max. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di susul
Kau sombong!" oleh suara teguran dari seorang guru yang membuat
kerumunan bubar. Guru tua yang kepalanya hampir
Eci lalu berbisik tajam, "Aku dan Max tidak
botak itu berjalan mendekati Asha.
pernah menyukaimu, kau tidak pantas di sukai oleh
siapapun." "Asha, kau baik baik saja? Mereka adalah anak
anak nakal. Kau tidak begitu kan?" Ucap pria itu.
"Sudahlah Eci biarkan saja dia." Suara berat
seorang pria memotong percakapan mereka. Ia DEGG!!
tersenyum remeh ke arah Asha sebelum merangkul Eci
pergi.
Asha merinding mendengar suara itu. Suara itu hingga buku-buku jarinya memutih. Kamarnya sunyi.
orang yang paling ia benci. Ia menoleh, matanya Jam dinding berdetak pelan, bunyi tik-tok yang
terbelalak melihat senyuman mesum menghiasi wajah berirama.
guru itu.
"Sialan" umpatnya. Ia menelan ludah dengan
Dadanya terasa sakit dan semakin sulit untuk tangan yang masih gemetar.
bernapas. Dia ingin lari, tetapi kakinya lumpuh, terikat
Asha memejamkan matanya sebentar dan
oleh kengerian yang sudah lama terkubur.
mengatur napasnya yang memburu. Tangannya
Ruangan itu mulai menyempit, suara tawa dari menyentuh rambut pirang pucat yang kontras dengan
kerumunan yang telah bubar seakan kembali, bergaung rambutnya di kehidupan sebelumnya.
di telinganya. Kepalanya sakit, rasa mual mendera. Rasa
Pikirannya yang dipenuhi dengan ketakutan dan
sakit fisik karena pukulan di perut tadi bercampur
kehampaan membuatnya terjaga hingga matahari
dengan rasa sakit emosional akibat pengkhianatan dan
terbit.
penghinaan, menjadi satu gelombang penderitaan yang
tak tertahankan.

Dingin dan keras lantai sekolah berubah menjadi


lebih nyaman. Hangat. Lorong, wajah-wajah, dan guru
tua itu mulai meleleh, berputar menjadi kabut hitam
dan ungu pekat.

Asha tersentak bangun dengan


napas tersedak. Tangannya
mencengkeram selimut, memeras kain
Cahaya matahari siang masuk dari jendela kaca “Yang Mulia Duke, mohon maaf! Lord Valerius
besar Kastil Stravellin. Dinding kastil masih terlihat tiba-tiba—“
mewah dengan ukiran emas, tetapi ada yang aneh.
Seorang pria paruh baya mengenakan jubah
Suasananya sepi dan dingin, seperti rumah yang
beludru mewah menerobos masuk, mengabaikan
kehabisan uang. Duke Stravellin, ayah Asha, merasakan
pelayan itu. Di tangannya, ia memegang gulungan
beban itu setiap hari.
perkamen tebal berhias segel Bank Kekaisaran.
Duke duduk di belakang meja kerjanya. Ia terlihat
“Duke Stravellin! Saya bosan dengan surat-
sangat lelah. Di tangannya, ia memegang surat resmi
menyurat! Kami tidak bisa menunggu tiga bulan lagi.
tentang utang keluarga. Ia sudah menghabiskan semua
Utang Anda sekarang dikelola oleh pihak ketiga!”
harta untuk mengobati Asha yang sakit dan
sentak Lord Valerius dengan nada tinggi penuh
untuk membuat Asha bertunangan dengan
arogansi.
Putra Mahkota—tetapi semuanya gagal.
Ditambah lagi, segala pengobatan Asha Duke sontak berdiri. Wajahnya merah, antara
pasca siuman kini benar-benar menguras merasa malu dan marah.
kantongnya.
“Valerius! Beraninya kau menerobos masuk ke
Duke melihat angka di surat itu. Kastil kediaman Stravellin seperti ini!”
Stravellin harus dijual dalam waktu tiga bulan
jika ia tidak bisa membayar utang besar itu. Rasa malu Lord Valerius melangkah maju, sorot matanya
menyerangnya; ia merasa gagal sebagai ayah dan meremehkan. “Keberanian saya dihitung berdasarkan
sebagai veteran perang. bunga yang harus Anda bayarkan, Duke. Dan waktu
sudah habis.”
Duke memijit keningnya, mencari jalan keluar.
Ia melempar gulungan perkamen tebal itu ke atas
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tergesa-gesa meja kerja, tepat di antara pena dan tumpukan laporan.
terdengar di luar. Tanpa ketukan, pintu aula dibuka “Anda punya tujuh hari kerja untuk melunasi utang
dengan dorongan kasar, mengagetkan Duke. Anda pada bank. Jika tidak, kami akan menyita aset
yang diagunkan.”
Kepala pelayan muncul dari balik pintu dengan
tergesa.
Duke Stravellin mengepalkan tangan veteran Valerius, meskipun kesakitan, tidak sepenuhnya
perangnya. “Tujuh hari? Itu gila! Perjanjian kita tiga takut. Ia mengusap darah dari keningnya, matanya yang
bulan!” marah kini bercampur dengan rasa serakah. Ia tahu
betul reputasi Duke sebagai petarung yang andal, tetapi
Lord Valerius menyeringai, senyumnya dingin dan
Valerius mengandalkan kekuasaan Bank Kekaisaran.
penuh kemenangan. “Perjanjian berubah ketika Anda
gagal memenuhi pembayaran awal, Duke. Sekarang “Saya hanya melayani istana, Duke. Anda tidak
kami punya hak untuk menuntut pembayaran penuh. perlu menggunakan sihir dengan emosional seperti itu,”
Dan jangan coba-coba memindahkan barang berharga balas Valerius, suaranya dipaksakan tenang meski
Anda. Kami akan mengambil alih Tambang Belerang darah masih membasahi wajahnya. Ia mengambil sapu
Virdae yang berharga itu.” tangan sutra dari saku jubahnya dan menekan lukanya.
“Kecuali jika Anda ingin menentang kaisar.”
Duke terdiam sejenak. Tambang Belerang Virdae
adalah satu-satunya sumber penghasilan keluarga Valerius maju selangkah, menantang. “Karena
Stravellin. Ia tidak bisa menyerahkannya begitu saja. ulah Anda ini, saya akan tambahkan aset sitaan, Duke.
Selain Tambang Virdae, kami juga akan mengambil alih
“Sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk
semua toko atas nama Stravellin. Kami akan menjualnya
menikahkan putri Anda, Duke. Pasti banyak bangsawan
untuk menutupi bunga dan membayar kerusakan
tua kaya raya yang menyukainya,” ejek Lord Valerius.
pribadi saya!”
Tiba-tiba, sebuah vas bunga porselen dari meja
Valerius membungkuk dangkal, ekspresinya kini
samping menghantam kepala Valerius dengan keras.
dingin dan berbahaya. “Tujuh hari, Duke. Jangan coba-
Vas itu pecah berkeping-keping. Valerius tersentak
coba menghalangi kami. Kami akan mengirim pengawal
mundur, tangannya spontan memegang pelipisnya yang
Kekaisaran.” Valerius berbalik dan berjalan cepat
berdarah. Mana di sekitar Duke tiba-tiba meningkat
keluar dari ruangan, meninggalkan Duke dan kepala
tajam, menghasilkan tekanan udara berat yang
pelayan yang ketakutan di belakangnya.
membuat bulu kuduk berdiri.
Duke Stravellin, masih berdiri kaku di tengah
“Jaga mulutmu!” Suara Duke rendah, tetapi
luapan mana yang perlahan mereda, terengah-engah. Ia
mengandung ancaman.
ambruk kembali ke kursinya, menundukkan kepala,
membiarkan rasa frustrasi dan kegagalan
membanjirinya.

Di sisi lain, saat Lord Valerius berjalan keluar, ia


tidak sengaja berpapasan dengan Asha yang berdiri
tidak jauh dari pintu. Asha mengenakan gaun putih
yang menonjolkan mata birunya.

Ternyata anak ini lebih cantik dari yang


dirumorkan. Tapi kenapa wajahnya pucat begitu? Saat malam tiba, Hutan Whiswood menjadi
Tanyanya dalam hati. dinding gelap yang masif, dingin, dan menelan cahaya.
Asha tidak menunjukkan ekspresi apa pun dan Di perbatasan ini, udara terasa tebal dan membeku,
hanya berdiri dengan dingin menatap Valerius, seolah seolah hutan itu sendiri sedang mengamati. Pepohonan
sedang menganalisis sesuatu.
pinus tua menjulang sebagai siluet hitam, dan
Valerius berhenti sejenak, mengamati keindahan kegelapan di antara batangnya hidup dengan suara
Asha. “Tuan Putri,” katanya dengan nada mencemooh
desisan angin dan retakan kayu yang membuat
yang terselubung pujian, “sayang sekali pertunangan
Anda dibatalkan. Nasib keluarga Anda kini di tangan keheningan terasa seperti ancaman yang mendekat.
bank.” Ia sengaja mengucapkan kalimat itu keras-keras
sebelum menyeringai dan bergegas pergi. Sudah tiga hari sejak mereka mulai menyelidiki
hutan Whiswood. Namun, mereka hanya pernah
“Paan, sih” Asha berhenti sejenak, lalu
menganalisis sekitarnya sebelum berjalan kembali bertemu Nox sekali, saat pertama kali memasuki hutan.
menuju kamarnya.
Kaivor mendirikan tenda selagi James mengobati
orang tua yang tidak sengaja ia selamatkan saat
perjalanan ke jantung hutan. Orang tua itu adalah
petani yang berasal dari Virdae. Ia mengaku sedang
bekerja di kebun saat sebuah bayangan hitam James langsung menyadarinya. Lalu menggeser
menariknya kekegelapan. Hingga kini, ia tak henti- kepalanya ke samping. Gulungan perban itu melesat
hentinya berterima kasih pada James yang telah beberapa senti dari wajah James.
menyelamatkannya.
“Sabarlah sedikit! Kau tidak lihat aku sedang
Kaivor menjentikkan jarinya ke arah kayu bakar. sibuk?!” Gerutu James.
Seketika cahaya merah keemasan muncul dari jarinya
Petani tua itu hanya bisa menelan ludah
dan membakar kayu-kayu itu.
menyaksikan pertengkaran dua bangsawan di
“Huaam… aku lapar,” Kaivor menguap malas. Ia hadapannya.
lalu menepuk tangannya beberapa kali sambil berseru.
“Ah. Maafkan aku, Kaivor memang tidak tahu
“Pelayan! Pelayan James! Aku lapar,”
sopan santun,” kata James ke pada petani tua itu.
Mendengar hal itu, gulungan perban yang James “Sampai dimana kita tadi?” Lanjutnya.
gunakan untuk menutup luka si petani seketika
Petani tua itu mengusap wajahnya dengan tangan
melayang cepat ke arah wajahnya. Belum sempat
gemetar. “Aku… aku tadi bilang sampai bayangan itu
mengenai wajah tampan Kaivor, gulungan itu terhenti di
muncul,” katanya pelan.
udara, beberapa senti dari wajahnya.
“Tapi sebelum itu, hutan ini sudah aneh sejak
“Apa apaan ini? Ini bukan makanan,” Kaivor
beberapa malam lalu. Ternak menghilang. Tanah
menangkap gulungan perban itu lalu melemparnya
membusuk. Dan ada suara… memanggil nama kami.”
kembali ke arah James.
James memijit keningnya. Dingin itu belum pergi.
Bahkan setelah api menyala, udara di sekelilingnya
tetap terasa mati.
Kaivor tiba-tiba berjalan mendekati mereka
berdua. “Apa menurut mu ini ada hubungannya dengan
Cahaya sihir yang lembut memandikan taman,
malabys?”
membuat setiap air mancur dan patung perunggu
Petani tua itu sedikit tersentak melihat Kaivor berkilauan. Udara dingin membawa aroma melati yang
yang tiba-tiba berada di sebelahnya. kuat, kontras dengan keheningan kolam. Di bawah
langit berbintang, pepohonan besar menjulang sebagai
“Ah, S-salam kepada Archduke Varkas,” sapanya
siluet misterius.
buru-buru.
Helena, calon putri mahkota Calvaris
Mendengar sapaan itu, Kaivor berbalik tanpa
duduk di tepi kolam bundar yang
menjawab. Langkahnya menjauh dari api unggun,
hening, membiarkan kakinya tergantung
sambil menggaruk kepalanya.
di atas permukaan air. Rambut peraknya
“A-apa saya melakukan kesalahan, tuan?” tanya si memantulkan cahaya bulan dengan
petani pada James. lembut.

“Tidak. Dia hanya sok keren,” jawab James. Hanya Di belakangnya, dua pelayan
dia yang tau alasan Kaivor pergi sebenarnya adalah wanita berdiri dengan jarak hormat. Hubungan mereka
karna dia tidak tau harus apa saat menjawab sapaan. lebih dekat daripada sekadar majikan dan pelayan.
James tersenyum tipis melihat melihat Kaivor berusaha Mereka mengobrol pelan, suaranya seperti bisikan di
terlihat sibuk. antara desau angin.

Namun, senyum itu memudar ketika suara pelan “Saya masih tidak percaya, Yang Mulia,” bisik
terdengar dari balik pepohonan. Bukan angin. Dan salah seorang pelayan, menatap pantulan Helena di air.
bukan suara hewan.
“Hanya dalam beberapa minggu, Anda akan menjadi “Pangeran pasti menyadari bahwa anda lebih baik dari
Putri mahkota. Ini adalah takdir yang luar biasa.” perempuan lainya di kekaisaran ini.”

Pelayan lainnya mengangguk setuju, melipat Helena memejamkan mata sejenak, membiarkan
tangannya di depan dada. “Tentu saja. Siapa lagi yang pujian itu menyelimutinya, meskipun ia tahu bahwa
bisa memberikan ketenangan seperti ini di tengah pujian semacam itu datang dengan ekspektasi yang
Istana yang dingin? Anda membawa Lum bersama berat.
Anda, Yang Mulia. Bahkan Pangeran Clexo, yang
“Jangan berkata begitu,” gumam Helena, nadanya
biasanya dingin dan fokus pada pekerjaan, terlihat…
sedikit khawatir, “Lady Asha adalah yang tercantik di
lebih manusiawi saat bersama Anda.”
Kekaisaran ini.”
Helena tersenyum tipis, menggambar lingkaran
“Anda terlalu baik, yang mulia. Setelah semua
kecil di permukaan air dengan ujung kakinya. “Aku
yang dia lakukan pada anda, tapi yang mulia masih
hanya Helena, May. Aku bukan sihir. Aku hanya
membelanya,” balas Fei, ekspresinya dipenuhi
berusaha menjadi diriku sendiri.”
kekesalan yang protektif. “Lady Asha telah mencoba
“Justru itu, Yang Mulia,” sela Fei dengan antusias. segala cara untuk menjatuhkan Anda. Bahkan sampai
“Kebaikan Anda adalah kekuatan terbesar Anda. menghina anda di pesta dansa di hadapan umum”
Setelah semua intrik dan kekejaman Lady Asha—oh,
May merangkul bahu Fei dengan lembut,
maaf, Yang Mulia—tidak ada yang bisa menandingi
menenangkan. “Pangeran Clexo membutuhkan
kebaikan sejati Anda. Anda akan menjadi Permaisuri
Permaisuri yang cerdas, bukan sekadar paras cantik
yang paling dicintai dalam sejarah Calvaris.”
tanpa akal. Yang Mulia, semua orang di Istana tahu.
“Ya. Siapa sangka, Pangeran Clexo memilih Lady Bahkan Kaisar Lucius pun tak dapat menyangkal Lum
yang paling tulus,” tambah May, suaranya bangga. yang Anda bawa. Anda adalah penyembuh untuk
pangeran kami, dan penyelamat bagi masa depan Clexo berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia
Kekaisaran.” telah mengganti pakaian Istana yang kaku dengan jubah
beludru biru tua, tetapi posturnya tetap tegap dan
Helena menghela napas, riak air di kolam
sikapnya rapi.
berhenti. “Aku hanya berharap… aku bisa menjadi yang
terbaik bagi Clexo.” Raut wajahnya tidak menunjukkan emosi, tetapi
pandangannya hanya tertuju pada Helena, seolah gadis
“Kau akan masuk angin jika terus duduk di sana,”
itu adalah satu-satunya sumber cahaya di malam yang
suara yang familiar, lembut, namun tegas, memecah
gelap.
keheningan kolam.
“Yang Mulia,” Helena menoleh, senyum lega
terukir di wajahnya. May dan Fei segera membungkuk
dalam-dalam dan mundur beberapa langkah untuk
memberi ruang.

Clexo tidak menjawab salamnya. Ia hanya


menatap air kolam sesaat, lalu melangkah lebih dekat.
Tanpa kata, ia melepaskan jubah beludru biru tua
miliknya itu.

“Istana ini indah, tapi dingin, terutama setelah


matahari terbenam,” ujar Clexo, suaranya pelan dan
rendah, hanya didengar oleh Helena.
Helena menatapnya dengan mata besarnya yang “Siap, Yang Mulia,” jawab mereka serempak,
ungu lavender. Ia tidak mengatakan apa-apa saat Clexo membungkuk dan mundur.
dengan gerakan yang terampil dan hati-hati
Clexo mengulurkan tangannya, yang langsung di
menyelimutkan jubah itu ke pundaknya. Sentuhan
sambut antusias oleh Helena.
lembut beludru itu terasa kontras dengan kekakuan
Clexo yang biasa. “Beberapa hari lagi Clarrisa berulang tahun. Jika
yang mulia tidak sibuk… maukah yang mulia
“Aku akan kembali ke ruang kerjaku,” lanjut
menemaniku membeli hadiah untuknya?” ucap Helena.
Clexo, menatap Helena dari atas ke bawah, memastikan
jubah itu telah membungkusnya dengan baik. “Kau ikut “Sudah berapa kali ku katakan, Helena. Jangan
denganku, atau kau ingin tetap di sini?” memanggilku seperti itu,” Clexo menarik tangannya
sedikit, sedikit kesal, namun tanpa kemarahan. “Panggil
Jubah itu terlalu besar, membuat Helena terlihat
aku Clexo. Kita akan segera menikah. Kau adalah
lebih mungil. Kehangatan yang dipancarkannya
pasangan hidupku, bukan rakyatku.”
membuat kegelisahan dingin di hatinya sedikit mereda.
Helena tersenyum malu-malu, pandangan
“Saya akan ikut, Yang Mulia,” jawab Helena,
matanya yang ungu lavender penuh kehangatan. “Baik,
berdiri dan menarik jubah itu agar pas di tubuhnya. Ia
Clexo.”
menoleh ke belakang, memberikan anggukan singkat
kepada para pelayan. Clexo menghela napas, kemarahan yang
disebabkan oleh panggilan formal itu langsung mereda.
“May, Fei, kalian boleh kembali,” perintah Clexo,
Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Helena.
suaranya lebih keras, mengakhiri malam yang
dihabiskan para pelayan untuk memuji calon Putri “Tugas Istana besok pagi sangat penting. Namun,
Mahkota. sepertinya Lawrence bisa mengosongkan beberapa
jadwalku,” kata Clexo, sambil memimpin mereka keluar ruangan tersebut membawa pria dengan pakaian lusuh.
dari taman menuju koridor yang lebih terang. Pria itu di seret dengan paksa agar duduk di hadapan
duke. Kini wajah pria itu di penuhi luka goresan dan
Helena tersenyum cerah, membiarkan
memar. Rambutnya sudah sangat berantakan dan
kebahagiaan sederhana itu. “Terima kasih, Clexo.
terdapat banyak luka bakar di lengannya.
Clarrisa akan sangat menghargai hadiah darimu.”
“Sudah tiga kali kita bertemu ya?” Jari duke
“Hadiah darimu,” koreksi Clexo datar. “Aku hanya
beberapa kali mengetuk-ngetuk meja.
akan menemanimu. Aku tidak punya waktu untuk
memikirkan hadiah-hadiah kecil seperti itu.” Kesatria tadi berjalan ke arah sebuah lemari tua,
ia membuka lemari itu lalu mengambil sesuatu di
dalamnya. Sebuah cambuk kulit tebal, ujungnya dihiasi
Malam itu, suasana kastil Stravellin jauh dari kata logam kecil.
tenang.
“Baik tidak perlu basa-basi lagi, siapa yang
Duke Stravellin duduk di sebuah ruangan gelap menyuruhmu meracuni putriku?” Tanya duke.
yang terbuat dari bebatuan dingin. Ruangan itu hanya
Pria itu tidak bergeming. Tubuhnya mulai
diterangi oleh cahaya rembulan yang menyusup di celah
gemetar. Tenggorokan nya terasa tercekat sehingga
celah ruangan. Udara ruangan itu dingin dan menusuk,
sulit untuk bicara.
terasa berat. Di depannya terdapat sebuah meja dan
kursi. Tatapan zamrudnya menusuk tengah menunggu PLAKK!! PLAKK!!
seseorang.
Sebuah cambuk di punggung pria itu dua kali.
Beberapa detik kemudian terdengar gemericik Darah segar merembes keluar membuat bajunya yang
rantai dari kejauhan. Seorang kesatria lalu memasuki awalnya putih lusuh menjadi agak merah.
“Jawab aku,” duke mulai kehilangan kesabaran “Asha, putriku. Aku terjun ke medan perang deminya.
nya. Demi mempersiapkan kekaisaran yang damai untuk
masa depannya,”
Kini pria itu mulai terhuyung. Sejak pagi ia tidak
di beri makan, dan sejak kemarin malam ia terus di Duke lalu berdiri di belakang kursi pria itu. Kedua
siksa. Kini tubuhnya bahkan hampir tidak sanggup tangannya tiba-tuba mencengkeram bahu pria itu kasar,
untuk duduk tegak. Tangannya menumpu dan sangat kasar. Sehingga membuat pria itu meringis.
mencengkeram pinggiran kursi agar tidak jatuh. “Apa menurutmu aku akan diam jika ada yang berusaha
melukai putriku” suara duke tajam penuh ancaman.
“Siapa yang menyuruhmu meracuni Asha?! Siapa
yang membantumu?!” Bentak duke. Ia berhenti sejenak, membiarkan suasana sunyi
menusuk pria itu, membuat bulu kuduknya berdiri.
PLAKK! PLAKK!
Detak jam dinding tua menghintung mundur sesuatu
Cambuk kembali menimbulkan suara nyaring yang akan datang.
setelah menyentuh punggung pria itu. Akhirnya ia
“T-tidak ada tuan,” akhirnya ia angkat bicara.
terjatuh dari kursi dan tersungkur di tanah. Keringatnya
“Saya sendiri yang berniat m-melakukannya,” suaranya
jatuh bercampur dengan darah yang keluar.
gemetar di akhir kalimat. “Tidak ada yang membantu
Pria itu masih membisu. Tak membuang waktu, saya”
kesatria tadi dengan sigap dan kasar mengangkat
PLAK!! PLAK!! PLAK!!
tubuhnya, lalu membantingnya kembali ke kursi di
hadapan duke. Cambuk kembali di layangkan bertubi-tubi.

“Kau hanya membuang buang waktuku saja” duke “Beraninya kau membohongiku!” bentak duke.
akhrinya berdiri. Ia mulai berjalan mengelilingi pria itu.
“Saya tidak berbohong tuan,” suara pria itu
lemah.

Duke memijit dahinya. “Baik terserah. Semoga


besok kau bisa menjawab dengan jujur,” tangan duke
melambai ke arah kesatria memberi isyarat agar
pemuda itu di seret keluar.

“Semoga adikmu tidak terkena imbas dari


perilakumu itu,” ancam duke.

Mendengar keikutsertaan adiknya, sorot mata


pria itu terentak. Ia mulai meronta. “Tuan! Adik saya
tidak ada hubungannya dengan ini! Hukum saya! Itu
salah saya! Tuan…!!” Volume teriakannya berangsur
mengecil karena ia sudah di seret semakin jauh dari
ruangan.

“Bodoh! Aku yakin ini semua ulah putra mahkota


sialan itu,” umpat duke. “Ia telah mempermalukan Asha
dengan membatalkan pertunangan mereka. Dan kini ia Kabut pagi melayang rendah di antara pinus-pinus

berusaha membahayakan nyawa Asha,” rahang duke tua, tebal dan putih seperti hantu. Kaivor sudah

semakin mengeras. menghilang sejak fajar, hanya meninggalkan tenda yang


terlipat rapi dan sisa abu api unggun yang masih
hangat.
James selesai mengemasi peralatannya setelah Sihir Kaivor waktu itu seharusnya sudah
mengagtar petani tua itu kembali ke desa terdekat membakar sebagian pohon di sana. Akan tetapi James
dengan instruksi ketat untuk tidak kembali. tidak menemukan bekas pertempuran apapun, seolah
mereka belum pernah melawan Nox tempat itu
Ia memandang ke dalam hutan. Malam itu, suara
sebelumnya.
yang mereka dengar sebelum tidur bukan hanya suara
angin. Itu adalah bisikan-bisikan yang menyesatkan jiwa “Tidak mungkin,” gumam James, mendekat.
lemah.
Keheningan hutan terasa menekan. James tidak
“Sialan kau Kaivor, kau meninggalkanku sendiri merasakan adanya pergerakan atau ancaman terdekat,
lagi!” Umpatnya kesal. namun perasaannya mengatakan ada sesuatu yang
salah. Sangat salah.
James menghela napas panjang. Kaivor selalu
melakukan ini: mengambil inisiatif, mengabaikan Tiba-tiba, suara dingin dan tajam memecah
protokol, dan membiarkan James yang mengurus kesunyian.
kekacauan di belakang.
“Ternyata kau di sini, pelayanku.”
“Kuharap kau tersandung dan jatuh ke kubangan
James tersentak, jantungnya melompat ke
lumpur, Archduke Varkas,” gerutunya sambil mulai
tenggorokan. Ia berputar cepat, tangannya sudah
melangkah tanpa arah.
mencapai gagang pedang.
Tanpa sadar ia berjalan kembali area di mana
Kaivor berdiri tidak lebih dari dua langkah di
mereka pertama kali bertemu Nox. Udara di sana masih
belakangnya. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada
berat seperti beberapa hari yang lalu. Namun, James
ranting patah. Kaivor hanya ada di sana, seolah muncul
merasa ada yang salah.
dari udara tipis yang dingin.
“Dasar bajingan. Membuatku kaget saja.” Geram “Jadi, maksudmu jiwa hutan ini telah di serap oleh
James. Nox? Tapi bagaimana kau tahu? Bisa saja disini ada
pengguna Nox, dan kita harus menangkapnya”
Kaivor tampak tidak terpengaruh oleh makian
James. Ia melangkah dengan tenang melewatinya. “Tidak ada siapapun di sini. Aku melihat rune sihir
dengan mayat di sana, dekat sungai. Mayat itu milik
“Hei! Kau mau kemana?”
pengguna Nox, tapi ia tewas bukan karena Nox,”
“Pulang. Pekerjaan kita sudah selesai,” Jawab
“Jadi karena Nox tidak bisa menyerap jiwanya,
Kaivor tanpa menoleh.
Nox menyerap dan bersatu dengan jiwa hutan ini?”
“Apa, pulang? Tunggu! Tapi aku merasa ada yang
“Wah! Komandan James ternyata sangat pintar!”
aneh dengan tempat ini!” James berusaha menyusul
Ledek Kaivor
Kaivor yang mulai semakin jauh.
James merengut.
“Ya aku tahu. Tempat ini sepenuhnya telah
menjadi wilayah Nox. Semua mahkluk hidup di tempat “Tunggu, jadi kita benar-benar akan pulang? Tapi
ini telah di kuasai Nox” kau belum mengurus Noxnya. Dan mayatnya? Kau
meninggalkan mayat itu begitu saja?”
“Apa? Apa maksudmu?”
“Aku tidak di bayar untuk itu. Tugasku hanya
“Tch… kau ini bodoh sekali ya. Hutan ini hidup.
menyelidiki tempat ini”
Pohonnya, rumputnya, serangganya semua di kuasai
Nox. Karena itulah kau tidak melihat bekas sihirku di “Kau ini dasar!”
area ini, karna mereka telah beregenerasi.” Jelas Kaivor
dengan nada malas.
Sore itu, Duke Stravellin baru saja kembali dari berteriak, dan tidak lagi peduli pada kehormatan yang
peninjauan rutin di Tambang Belerang Virdae. Keadaan dulu sangat Asha banggakan.
tambang sangat memprihatinkan. Ia berjalan dengan
Tiba-tiba terbesit ide di kepala Duke saat melihat
langkah berat, jubahnya yang mahal terasa seperti
seorang pelayan yang sedang membersihkan lukisan tak
beban timah di bahu. Matanya cekung, dipenuhi
jauh dari kamar Asha.
bayangan angka utang yang terus bertambah.
"Hei kau yang disana," panggil Duke, suaranya
Duke baru saja mencari cara meningkatkan
kering dan memerintah.
produksi tambang demi membayar utang kepada Bank
Kekaisaran. Namun, ternyata laporan dari Kepala Pelayan yang sedang membersihkan lukisan
Tambang lebih buruk dari yang ia duga: kegiatan Nox di keluarga itu tersentak kaget. Dia segera berbalik dan
Hutan Whiswood mengganggu hasil tambang. Beberapa membungkuk dalam, hampir menyentuh lantai marmer
pekerja jatuh sakit misterius, dan kualitas belerang dengan lututnya. Wajahnya pucat pasi, takut telah
yang ditambang menurun drastis. Produksi terhambat. melakukan kesalahan.

Saat ia melewati lorong utama kastil di lantai dua "Ampun, Yang Mulia Duke," bisik pelayan itu,
yang remang-remang, ia berhenti di depan pintu kamar suaranya gemetar."
Asha. Sudah lama ia tidak melihat Asha keluar kastil,
"Ajaklah Asha keluar kastil. Ajak dia membeli
dan akhir-akhir ini Asha selalu mengurung diri di dalam
gaun dan perhiasan serta semua yang ia mau," perintah
kamar. Itu membuatnya khawatir.
duke suaranya pelan tapi tajam.
Ia tahu putrinya sudah bangun dari koma, tetapi
Meski saat ini ia terlilit utang, tapi baginya
Duke merasa ia telah kehilangan putrinya yang lama.
kebahagiaan Asha adalah nomor satu. Dan ia tahu betul
Asha yang baru ini asing. Asha tidak merengek, tidak
sumber kebahagiaan Asha adalah gaun dan perhiasan Mengumpulkan sisa keberaniannya, Leila
mewah. menegakkan tubuh. Dia harus bertindak cepat.

Pelayan itu ragu sejenak, "Y-ya baiklah yang Dengan langkah pelan yang dipaksakan agar
mulia" terlihat tenang, Leila berjalan ke pintu kamar Asha. Ia
mengetuk dengan lembut, dua kali.
"Perlakukan dia dengan baik," Pesan duke pada
akhirnya sebelum ia melangkah pergi. "Lady Asha?" panggilnya, suaranya sedikit
tercekat. "Saya, Leila. Bisakah saya masuk sebentar?"
Leila menunggu hingga Duke Stravellin benar-
benar menghilang di balik tikungan lorong. Barulah ia Seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Ia tidak
membiarkan napasnya keluar, panjang dan bergetar. tahu sejak kapan Lady jadi pendiam seperti ini.

Leila menyandarkan punggungnya ke dinding Leila memberanikan diri membuka pintu dan
batu, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masuk kedalam kamar Asha.
berdentum di telinga.
Leila mendorong pintu mahoni itu perlahan.
Leila melirik ke pintu kamar Asha. Perintahnya Kamar Asha tampak sunyi, meskipun tidak sepenuhnya
jelas, ajak Asha keluar, belikan yang dia mau, dan rapi. Asha sendiri sedang berdiri di pinggir pagar
perlakukan dia dengan baik. balkon, wajahnya menghadap ke luar, rambut pirangnya
pucat diterpa cahaya sore.
Ia tahu reputasi Lady Asha yang lama: pemarah,
menuntut, dan yang terburuk, kejam dalam menghukum Leila segera membungkuk dalam. "Ampun, Lady.
pelayan yang ceroboh. Leila tidak ingin berakhir di Saya datang atas perintah Yang Mulia Duke."
Gudang Utara seperti pelayan lain yang membuat Lady
Asha tidak bergeming.
kesal.
"Yang Mulia Duke... sangat mengkhawatirkan tatapan cemooh yang ia terima di kehidupan
Anda, Lady," lanjutnya. "Beliau tahu Anda sebelumnya mengalir tanpa izin. Pukulan itu, hinaan itu,
membutuhkan waktu untuk pulih. Karena itu, beliau dan rasa bersalah itu, semua tumpah pada saat yang
memerintahkan saya untuk menemani Anda. Beliau bersamaan. Tangannya mulai gemetar. Namun ia mati
ingin Anda keluar kastil, pergi ke Ibu Kota atau pusat matian menyembunyikannya.
kota Virdae, dan memilih gaun terbaik. Perhiasan yang
"Baiklah. Aku akan pergi," Kata Asha pada
paling indah. Apa pun yang Anda inginkan, Lady. Ini
akhirnya.
semua demi kebahagiaan Anda."
"Baik, lady. Saya akan mempersiapkan
Tapi Asha hanya membalasnya dengan senyuman
semuanya," Leila kembali membungkuk dalam.
kosong pada langit Virdae.
Menyembunyikan rasa penasaran di balik tatapannya.
"Tadi katanya terlilit hutang..." gumam Asha pada
Setelah Leila meninggalkan ruangan, postur
dirinya sendiri.
sempurna Asha ambruk. Tubuhnya terduduk di lantai.
Leila mengangkat satu alisnya, ia tidak terbiasa
"Mati dengan damai pun aku gak pantas. Anjir
dengan gaya bicara Lady Asha yang terbilang asing.
lah,"
"Ya lady?" Tanya Leila.
Ia memijat pelipisnya, matanya memperhatikan
"Tidak." Asha berbalik, menghadap Leila. "Aneh. sekitar dan pikirannya refleks melakukan analisis acak.
Jadi orang gila juga merasakan halusinasi seperti ini
"Presentase timbal monoksida pada kaca itu
ya?" Lanjutnya membuat Leila semakin bingung.
kurang untuk membiaskan cahaya, murahan."
Saat bertatapan dengan Leila, Asha tanpa sadar gumamnya saat memperhatikan kristal yang menghiasi
menunduk menghindari kontak mata. Ingatannya pada
lampu gantung di langit-langit kamarnya tidak sementara Kaisar bersandar, jemarinya mengetuk
menghasilkan pelangi di permukaan. perlahan permukaan marmer.

Ia lalu tersadar beberapa detik setelahnya. “Aku sudah memberitahumu, Clexo, kita tidak
bisa membiarkan Duke Alistair dari Solvire terus
"Kenapa aku malah memikirkan hal tidak penting
meningkatkan pengaruhnya melalui akademi,” ujar
seperti itu, sih"
Kaisar Lucius, suaranya tenang namun mengandung
Matanya terpejam, membiarkan pikirannya peringatan. “Anggaran kekaisaran untuk
mengendur, beristirahat. pengembangan pendidikan harus kita alihkan sebagian
ke lembaga yang dikendalikan oleh Istana. Kita alihkan
dana itu untuk pembangunan perpustakaan baru di Ibu
Kota. Ini akan memusatkan loyalitas para sarjana ke
sini, bukan ke Solvire.”
Istana Calvaris terdiri dari bangunan batu abu-
abu gelap yang berdiri kokoh. Sinar matahari sore Putra Mahkota Clexo mengerutkan kening.

datang dari barat, menghasilkan pantulan kuning pucat “Dengan segala hormat, Yang Mulia, Solvire adalah

di permukaan [Link] di atas istana kini berwarna wilayah netral yang berpengaruh. Duke Alistair

oranye kemerahan di cakrawala. menjalankan pusat pendidikan terbaik Kekaisaran.


Memotong dana atau mengalihkan fokus sekarang akan
Di Ruang Kerja Pribadi, Kaisar Lucius duduk di
mengasingkan bangsawan yang netral dan membuat
balik meja marmer hitam. Di seberangnya, Putra
para sarjana merasa tidak dihargai. Loyalitas para
Mahkota Clexo menempati kursi berlengan.
sarjana dan bangsawan yang terdidik adalah aset,

Mereka sedang membahas peta Kekaisaran yang bukan ancaman, Yang Mulia.”

terhampar di meja. Sorot mata Clexo tampak tajam,


“Kau masih terlalu muda untuk memahami politik “Ampun, Yang Mulia,” katanya, suaranya rendah
seperti ini, Nak. Pengaruh adalah pedang bermata dua,” dan profesional.
balas Kaisar, nada suaranya sedikit mengeras. Ia
Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan
mengambil sebuah gulungan anggaran, siap untuk
perkamen yang tertutup oleh segel lilin merah yang
menekankan keputusannya.
dicap dengan lambang Varkas: kepala singa yang
"Keputusanku sudah final. Kita potong... empat marah.
puluh persen dari alokasi Solvire, dan kita kirim utusan
“Surat ini baru saja tiba, diantar langsung oleh
untuk menanyakan mengapa Duke Alistair tampaknya
Kurir Kekaisaran berpangkat Sersan. Laporan Tugas
melupakan siapa yang memberinya otonomi."
resmi dari Archduke Kaivor Varkas, baru saja kembali
Clexo menarik napas, hendak melayangkan protes dari Hutan Whiswood.”
kerasnya.
Wajah Kaisar Lucius menegang sedikit, hanya
Tok! Tok! gerakan kecil di sudut matanya yang menunjukkan rasa
jengkelnya. Tepat pada saat ia sedang mengendalikan
Ketukan di pintu, yang selalu tertutup rapat,
Putra Mahkota, berita tentang Archduke yang
menghentikan ketegangan.
menyebalkan tiba.
“Masuk,” perintah Kaisar, ekspresinya kembali
“Varkas,” desis Kaisar pelan. Ia mengulurkan
tenang dan dingin.
tangan. “Berikan padaku.”
Kepala Pengawal Pribadi Kaisar yang berwibawa,
Kepala pengawal itu meletakkan gulungan itu di
melangkah masuk, mengenakan zirah lempeng perak
atas meja marmer. Kaisar Lucius mengambilnya,
yang mengkilap dan berlutut dengan satu kaki di karpet
tebal di depan meja Kaisar.
mematahkan segelnya dengan gerakan cepat, dan “Archduke Varkas sekali lagi membuktikan
membuka isinya. kemampuan tempurnya yang luar biasa,” lanjut Kaisar
dengan suara yang lebih keras, nadanya kini formal dan
Ruang Kerja hening. Clexo melihat ekspresi
terukur, untuk didengar oleh pengawal pribadinya.
ayahnya berubah, dari dominasi tenang menjadi
kemarahan terselubung. “Archduke Varkas kembali dari Whiswood tanpa
cedera, membawa informasi penting tentang entitas
Setelah membaca beberapa baris pertama, Kaisar
Nox. Keberanian dan efisiensinya tak diragukan.”
mendengus. Dia mengangkat pandangannya,
tatapannya dingin dan tajam, tidak tertuju pada Clexo, Kaisar Lucius kemudian mengambil kembali
melainkan menembus jendela yang memantulkan langit gulungan itu, dan pandangannya kembali tertuju pada
yang meredup. Putra Mahkota Clexo

“Dia selamat,” kata Kaisar, suaranya datar, namun “Namun,” sambung Kaisar, suaranya kembali
ada nada kekecewaan yang hanya dapat ditangkap oleh merendah, bernada kritis. “Kaivor secara formal
orang yang mengenalnya dekat. meminta audiensi pribadi segera setelah tiba di Ibu
Kota.”
"Archduke Kaivor telah menyelesaikan tugas
penyelidikan yang kita berikan, dan dia kini berada di Kaisar Lucius menarik napas sejenak, wajahnya
Ibu Kota, di mansion Keluarga Varkas." menunjukkan pertimbangan palsu.

Kaisar Lucius meletakkan gulungan itu, "Tugas Archduke Varkas adalah penting, tetapi
merapikannya di atas meja marmer seolah itu adalah ada hal-hal lain yang jauh lebih mendesak di Istana saat
dokumen yang paling penting. ini, seperti urusan Solvire, dan laporan Kaivor ini
membutuhkan peninjauan Dewan secara menyeluruh
sebelum saya dapat memberikan audiensi yang layak. hadapan Dewan untuk mempertanggungjawabkan
Kita harus menunda permintaannya." Kaisar Lucius lalu penilaiannya."
tersenyum dingin kepada Clexo.
“Tepat,” jawab Kaisar Lucius, wajahnya kini
“Archduke Kaivor melaporkan bahwa Hutan menunjukkan kepuasan sinis.
Whiswood kini sepenuhnya di bawah kendali entitas
“Pengawal, Archduke Varkas telah kembali ke Ibu
Nox, yang merupakan ancaman besar bagi perbatasan
Kota. Berikan perintah agar dia hadir di Istana esok
Virdae dan Droton. Dan apa yang dia lakukan setelah
hari, saat fajar, untuk memberikan laporan lisan
melaporkan temuan genting ini? Dia mengirim surat
lengkap di hadapan Dewan Penasihat.”
permintaan audiensi dan menunggu di kediamannya!
Dia tidak meminta otoritas darurat untuk Kaisar Lucius menekankan kata 'Dewan
mengumpulkan pasukan guna mengatasi ancaman yang Penasihat'. Ini adalah pemanggilan wajib, dan Kaivor
telah dia biarkan membesar. Dia membiarkan Nox kini tidak bisa menolak tanpa dituduh pembangkangan
mengakar, Clexo. Ini bukan hanya melanggar etika. Ini serius di depan umum.
adalah kelalaian tugas serius seorang Archduke di
“Siap laksanakan, Yang Mulia. Saya akan
hadapan bahaya Kekaisaran.”
mengirimkan perintah resmi ke Kediaman Varkas,”
Putra Mahkota Clexo mengangguk, memahami jawab pengawal itu, membungkuk dalam, lalu mundur
strategi ayahnya. "Dia mencoba memenuhi protokol perlahan.
minimal dengan cepat, tetapi dia gagal memenuhi
Setelah pengawal itu pergi, Kaisar Lucius
tanggung jawab maksimalnya. Penolakan untuk
meletakkan gulungan Kaivor, dan menatap Clexo.
audiensi pribadi adalah langkah bijak, Yang Mulia. Dia
harus diadili di depan publik. Dia harus dipanggil ke "Lihat, Clexo. Kaivor telah meletakkan pedangnya
di meja permainanku. Dia lagi-lagi membuktikan dirinya
di hadapanku, tanpa takut. Ini yang ku dapatkan setelah bau arang basah, jerami kuda, dan sedikit sisa bumbu
membantunya menjadi Archduke." masakan dari kedai yang tutup.

Clexo tidak menunjukkan ekspresi apapun. Asha mengamati jalanan batu. Penerangan datang
Baginya Kaivor bukanlah ancaman, tapi tidak boleh di dari lentera minyak yang menggantung di setiap pintu,
remehkan. Untuk saat ini, Kaivor tidak menunjukkan membuat cahaya menjadi oranye-kuning yang
niat untuk merebut posisinya. Tapi tidak ada yang tahu berdenyut, bukan cahaya putih mati dari lampu jalan
kedepannya. modern. Bayangan bergerak tebal dan dramatis di
antara bangunan berkayu.
"Lady Asha, ini sudah malam. Udara sudah
semakin dingin. Kita harus pulang," Leila bergidik di Tanpa sadar, senyuman kecil tersungging di
balik jubah wol tebalnya. Sejak matahari mulai bibirnya. Ia merasa belenggu yang selama ini mengikat
terbenam ia tak henti-hentinya membujuk Asha untuk paru-parunya sedikit merenggang, sehingga ia dapat
pulang. bernapas dengan lega.

Mereka mengelilingi kota selama setengah hari. "Ah, sepertinya kita sudah melewati tempat ini
Namun, Asha belum singgah di toko manapun. Ia hanya tadi," Asha menunjuk sebuah jembatan kayu yang
berjalan kesana kemari tanpa tujuan. melewati sungai kecil.

"Aku masih penasaran," balas Asha singkat "Sedari tadi kita hanya berputar-putar lady," Leila
melihat sekeliling, orang-orang lokal mulai
Berbeda dengan Leila yang terus khawatir, Asha
memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.
terlihat lebih bersemangat dari pada pagi tadi. Matanya
berbinar melihat keindahan kota primitif itu. Tidak ada "Jika tidak ada toko yang ingin lady kunjungi,
bau karet terbakar atau asap knalpot. Yang ada hanya sebaiknya kita pulang saja" imbuhnya.
"Hmm... biar ku pikirkan," Asha kembali Tubuh Asha terbentur kayu dan batu di tepi
melangkah. Ia berjalan menuju jembatan itu dan sungai, goresan panjang muncul di lengan dan
berhenti di pertengahan. tangannya. Darah hangat mengalir ke telapak
tangannya. Leila terhantam tepi batu, pelipisnya
Pandangannya jatuh pada air sungai yang
berdarah, dan napasnya tercekat oleh rasa sakit.
mengalir lembut, penuh ketenangan. Ia dapat melihat
bayangannya di sana. Leila mengikutinya dari belakang. Orang-orang mulai mendekat. Bisik-bisik naik
seperti dengung serangga. Tidak satu pun membantu
"Wah, indahnya," gumam Asha pelan. Kakinya
Leila. Asha berhasil diangkat lebih dulu dari air, basah,
menaiki kayu di pembatas jembatan untuk melihat
gemetar, dan merasakan setiap goresan pada kulitnya.
pantulan bulan di permukaan air lebih jelas.
Leila masih setengah terendam, darah menetes di wajah
Untuk sesaat, Asha merasa damai. Namun dan lengannya, gemetar dan meringis menahan nyeri.
pikirnya lagi-lagi kembali memutar masa lalu, membuat Di atas jembatan, orang-orang berteriak dan
dadanya mulai terasa berat. melemparkan tali. Semua mata tertuju pada Asha, tapi
yang benar-benar terluka adalah Leila.
Tanpa sadar telapak kakinya bergeser, berat
tubuhnya condong ke depan, dan pegangan kayu itu ia Bahkan beberapa orang sempat mengatai Leila
lepaskan sepenuhnya. tidak kompeten dalam pekerjaannya. Alhasil, Ashalah
yang lebih dulu di pastikan keadaannya. Sedangkan
Leila berteriak, terlambat setengah detik.
Leila sibuk dengan rasa takut yang mengalahkan rasa
Tangannya berhasil meraih lengan Asha, tapi tarikan itu
sakitnya.
justru menyeretnya ikut kehilangan pijakan. Kayu tua
berderak. Keduanya jatuh bersamaan. Sunyi dingin malam itu menempel, lebih berat
dari air yang baru saja mereka hadapi. Asha menatap
Leila yang terluka. Tangannya mengepal. Pikirnya terus
menyangkal rasa bersalah.

Ia dan Leila akhirnya pulang ke kediaman Duke


Stravellin. Malam itu, Leila tidak menunjukkan diri lagi
di hadapan Asha.

Langit abu-abu tebal menyelimuti wilayah Virdae,


membuat cahaya matahari terasa malu-malu untuk
muncul. Udara pagi terasa lebih dingin dan tenang,
seolah-olah seluruh alam sedang berbisik pelan di balik
tirai awan.

Di ruang pribadinya, Asha duduk bersandar di


balik pintu, lengan dan tangannya masih memar, bekas
goresan yang kemarin mengering di kulitnya. Kini,
suasana kembali sunyi, sepi yang menggantung setelah
semalam kastil ini dipenuhi riuh panik, terutama
kekhawatiran dan kemarahan Duke yang paling
diingatnya.

Sayup-sayup Asha dapat mendengar pelayan yang


sedang bergosip di balik pintu. Suara bisikan mereka
terdengar samar, namun beberapa patah kata berhasil Bisikan-bisikan itu perlahan meredup, menjauh
ditangkap oleh telinga Asha yang menempel di kayu bersama langkah kaki para pelayan. Asha tetap diam,
tebal itu. punggungnya menekan keras ke pintu.

"...kasihan lady," bisik suara seorang wanita, "Hukuman cambuk?" bisiknya pelan pada
mungkin salah satu pelayan. keheningan. Tubuhnya menegang. Ia berusaha
menyangkal rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.
"Syukurlah tabib bilang ia baik-baik saja... Tapi
bagaimana nasib Leila ya? Dia pasti mendapat hukuman "Itu bukan salahku. Siapa suruh dia menolongku,
berat. Yah.. siapa suruh juga dia tidak hati-hati menjaga aku tidak pernah memintanya" suara Asha gemetar. Ia
Lady," sahut suara lain, terdengar lebih muda. memeluk lututnya erat, menyembunyikan wajahnya
yang mulai basah di balik rambut ikalnya.
"Ssst! Jangan keras-keras! Nanti Lady terganggu.
Kalian tahu kan seberapa menakutkannya Lady ketika Air mata panas yang ia tahan sejak subuh
marah. Aku dengar Leila di beri hukuman cambuk dan akhirnya tumpah, membuat bahunya bergetar tanpa
di kerja paksa di gudang timur." sela yang lain. suara.

"Tapi syukurlah Leila tidak mendapat hukuman Setelah tangisnya mereda, ia melepaskan
tambahan dari Lady dan hanya menerima hukuman dari pegangan dari lututnya, bangkit perlahan, tubuhnya
Duke" terasa kaku dan berat. Dengan langkah gontai, ia
berjalan melintasi ruangan menuju balkon. Ia
"Huh tunggu saja Lady kembali sehat. Dia pasti
menjatuhkan pandangannya pada taman kastil yang
kembali marah marah seperti dulu,"
tertata rapi.
Keputusasaan yang dingin merayap dalam dirinya. Asha berhenti sejenak. Kepalanya menegadah ke
Dengan gerakan pelan, ia menaiki pagar pembatas atas melihat langit yang ikut bersedih.
balkon.
Ah, benar juga... kalau aku mati di sini ... aku
Asha memejamkan matanya. Pandangannya hanya membuat pelayan ini mendapat masalah seperti
kosong begitupun dengan pikirannya, sehingga ia tidak Leila. Aku tidak ingin membuat siapapun menderita.
menyadari suara ketukan pintu yang menunggu
Asha menghembuskan napas panjang, berat,
jawaban.
seolah paru-parunya baru diingatkan cara bekerja.
"Aku memang tidak pantas hidup," gumam Asha Pegangan pelayan di pinggangnya gemetar, namun
sambil tersenyum getir bersiap menjatuhkan diri. tidak melemah.

Pada saat yang bersamaan, pelayan yang tidak “Lepaskan aku,” ucap Asha pelan. Tidak marah.
mendengar suara apapun dari dalam kamar akhirnya Tidak histeris. Hampa.
memaksakan diri masuk.
Pelayan itu menggeleng keras, hampir menangis.
Matanya terbelalak melihat Asha yang hendak “T-tidak, Lady. Saya mohon"
menjatuhkan diri. Dengan sekuat tenaga, ia berlari dan
Asha terdiam. Kakinya gemetar, bukan karena
langsung meraih pinggang Asha. Terlambat sedetik saja
takut mati, tapi karena sadar bahwa kematiannya juga
dapat mengubah nasibnya.
punya dampak buruk.
"L-lady... saya mohon... jangan lakukan ini," Suara
Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat wajah
pelayan itu bergetar.
pelayan itu. Wajah pucat, mata merah, bibir bergetar
"S-saya yakin... putra mahkota juga tidak ingin menahan isak. Wajah yang sama seperti Leila semalam.
anda melakukan ini..." lanjutnya kini dengan isakan.
“Turunkan aku,” kata Asha akhirnya, suaranya "Baik" Pelayan itu kembali membungkuk dalam,
serak. “Aku… tidak akan melompat.” terlalu dalam.

Pelayan itu ragu, seolah takut keputusan itu akan Kalau begitu... andai saja aku bisa sedikit
menguap jika ia bergerak terlalu cepat. Tapi perlahan berguna. Itu akan lebih baik. Konflik batin Asha di balik
menarik Asha. Begitu kaki Asha menyentuh lantai selimut.
balkon, tubuhnya langsung kehilangan tenaga. Lututnya
lemas. Ia hampir jatuh jika pelayan itu tidak sigap
menopangnya. Archduke Kaivor melangkah keluar dari sayap
Dewan Penasihat Istana Calvaris, di mana langit fajar
"Maaf karna merepotkanmu," ucap Asha dingin telah berubah menjadi mendung penuh awan, sehingga
udaranya terasa menusuk.
sebelum ia perlahan bangkit dan berjalan menuju
ranjangnya. Laporan lisan yang baru saja ia berikan di
hadapan Kaisar Lucius, Putra Mahkota Clexo, dan
“Mohon jangan mengatakan demikian, Lady.” seluruh Dewan Penasihat berjalan persis seperti yang ia
rencanakan. Dingin. Efisien. Tidak emosional. Ia
pelayan itu menunduk dalam, lalu bertanya "apakah
menyajikan fakta mentah mengenai Nox, membuktikan
saya perlu memanggil tabib?" bahwa ia telah menyelesaikan misi penyelidikannya, dan
dengan cerdik memutarbalikkan tanggung jawab untuk
"Tidak" jawab Asha singkat. Ia berbaring dan tindakan selanjutnya kepada Dewan.
menarik selimut agar menutupi wajahnya.
Tidak ada yang bisa menuduhnya berbohong atau
“Sarapan telah disiapkan, Lady. Saya… akan gagal dalam misinya. Kaivor telah menggunakan aturan
Istana melawan para Dewan, meninggalkan mereka
membawanya jika Lady menghendaki.” berdebat tentang logistik militer alih-alih integritasnya.

"Ya, sajikan saja di atas meja. Aku akan Kaivor berjalan melewati aula marmer yang luas,
memakannya nanti" Balas Asha. jubah kulitnya yang sederhana tampak kontras
mencolok di antara penjaga berlapis perak yang tegak “Lihat itu, James. Mereka takut padaku. Dan
lurus. selama ketakutan itu ada, apa gunanya rasa hormat,”
Kaivor melanjutkan langkahnya. Namun, tatapannya
Di belakangnya, Komandan James mengikuti
menyiratkan keraguan.
dengan langkah cepat, napasnya memburu.
James terdiam sesaat, matanya mengawasi
“Kaivor, kau benar-benar tidak waras,” bisik
seorang pelayan wanita yang buru-buru menjatuhkan
James, menyamakan langkah saat mereka mencapai
keranjang cuciannya hanya untuk berbalik dan
koridor yang lebih sepi. “Kau tahu betapa marahnya
melarikan diri dari hadapan Kaivor.
Kaisar saat kau menyerahkan laporanmu dengan santai
seolah itu hanya berita cuaca? Mereka akan mencari Ia adalah orang yang menyaksikan bagaimana
celah lain!” Kaivor di siksa dan terus melalui banyak percobaan
pembunuhan sejak kecil. Dan perlakuan itu
“Hiii…takutnya…” Ucap Kaivor dengan wajah
menghasilkan Kaivor yang sekarang.
dinginnya.
Namun, siapa yang tahu bahwa di balik sifatnya
James menggertakkan gigi, frustrasinya
yang acuh tak acuh itu, ternyata Kaivor selalu diam-
memuncak. “Ini bukan lelucon! Mereka akan
diam mengamati ketika melewati kediaman Marquees
menggunakanmu sebagai kambing hitam untuk
Seymour.
kegagalan militer apa pun di perbatasan! Setidaknya
buat orang lain menghormatimu, Mereka harus tunduk
padamu!”
Lampu-lampu kunang-kunang kecil menggantung
“Aku tidak butuh rasa hormat,” balas Kaivor tanpa di pepohonan tua, memancarkan cahaya keemasan yang
menoleh. Ia lalu berhenti sejenak memperhatikan hangat. Udara berbau segar bunga-bunga malam dan
sekitar. embun dingin yang menempel di bangku batu. Siluet
menara-menara kastil yang megah menjulang di bawah
Terlihat para pelayan dan tukang kebun istana
langit gelap yang bertabur bintang, menciptakan
selalu bergidik ngeri saat melihatnya. Mereka selalu
pemandangan yang sunyi dan damai.
memberikan jarak aman bahkan berusaha agar tidak
menatap sang Archduke. Bisik-bisik tentang pembawa Asha berdiri di tepi gazebo, menyandarkan
kutukan pun berdengung di sekitarnya. tubuhnya pada pagar kayu yang mengelilingi bangunan
kecil itu. Kedua tangannya bertumpu pada pembatas, "Bagaimana keadaan Leila, ya?" Pandangannya
jemarinya terkulai lemas seolah sedang melepas seluruh menyapu ke arah langit berbintang. Entah sejak kapan
penat yang ia bawa sepanjang hari. Di bawah temaram ia menjadi terus mengkhawatirkan Leila.
lampu taman, bayangan bulu matanya jatuh menyentuh
Perasaan bersalah mencengkeramnya lebih kuat
pipi, mempertegas gurat kesedihan yang coba ia
daripada rasa bingung akan dunia baru ini. Semua
sembunyikan.
penderitaan yang dialami Leila, semua hukuman dan
Perih dari goresan di tangannya masih terasa, mata dingin yang ia terima, berawal dari kebodohan
namun ia justru membiarkan rasa sakit itu dan ke egoisannya sendiri.
menemaninya di tengah keheningan. Ia menatap kosong
"Semua orang di sini baik padaku, meski dengan
ke arah kegelapan taman; meski tubuhnya ada di sana,
cara yang aneh. Tapi aku malah menyusahkan mereka."
pikirannya telah mengembara entah kemana, tenggelam
Asha memejamkan matanya, berharap dapat
dalam lamunan yang dalam. Angin malam yang dingin
menghilangkan beban di dadanya.
hanya dibalasnya dengan helaan napas panjang,
membiarkan rambut ikalnya berantakan tanpa ada niat "Atau tidak!" Asha kembali membuka matanya. Ia
untuk merapikannya. akhirnya menyadari bahwa ia dapat melakukan sesuatu.
Di benaknya ia kembali bertanya-tanya mengapa Ia kemudian berbalik, celigukan mencari pelayan
ia bisa sampai ke dunia yang asing ini. Ia menghitung di sekitar taman. Saat menemukan satu di dekat air
segala kemungkinan reinkernasi dan halusinasi yang mancur, ia segera mendekatinya.
dapat membuatnya terdampar di dunia ini. Semua ini
terlalu nyata untuk sekedar mimpi. Namun, tidak ada "Permisi" panggil Asha pelan.
sedikitpun pengetahuan ilmiahnya yang dapat
Meski suara Asha memanggilnya dengan lembut,
menjelaskan fenomena ini.
namun pelayan itu tetap saja terkejut sambil ketakutan.
"Bodoh... aku malah memikirkan hal-hal seperti
"I-iya lady. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya
ini. Padahal sudah jelas aku ini gila" gumamnya sambil
sambil membungkuk dalam.
menyandarkan kepalanya di dinding.
"Kau tahu di mana Leila di hukum?" Tanya Asha.
Mendengar kata hukuman dan Leila, pelayan itu Nada bicaranya sopan, tapi jaraknya terasa jelas.
langsung menelan ludah. Jantungnya berdegup Bukan tunduk. Lebih berjaga-jaga.
kencang. Ia berpikir bahwa Lady Asha ingin menambah
“Antar saja aku ke sana,” ucap Asha singkat.
hukuman Leila, seperti biasanya.
Pelayan itu menelan ludah, rahangnya mengeras.
"Halo..." Asha melambaikan tangan
Ia membungkuk singkat, tidak sedalam sebelumnya.
menyandarkan pelayan yang sedang termenung itu.
“Baik, Lady. Mohon Lady mengikuti saya.”
"I-iya lady... Leila sedang di hukum di g-gudang
Ia berbalik lebih dulu, langkahnya cepat dan
utara," jawabnya tidak ingin membuat Asha kesal.
lurus, seolah jika ia berhenti terlalu lama, sesuatu yang
"Bisa antar aku ke sana?" Tanya Asha lagi. Ia buruk akan menyusul dari belakang.
mengerutkan kening. Kenapa pelayan ini gemetar?
Apakah gudang itu begitu menakutkan, atau apakah ada
sesuatu yang lebih buruk tentang kehadirannya sendiri? Lampu minyak yang digantung tinggi di Ruang
Prive Kaisar Lucius memancarkan cahaya yang lembut,
Pelayan itu menegang seketika. Bahunya lurus,
kebalikan dari penerangan kaku di Aula Dewan. Udara
dagunya terangkat sedikit, seolah sedang bersiap
di ruangan itu beraroma dupa cendana mahal. Di luar,
menerima bentakan.
malam telah larut, dan hanya bunyi gesekan pulpen di
“I-iya, Lady,” jawabnya cepat, terlalu cepat. atas kertas yang terdengar.
Tangannya mengepal di balik lengan baju, kuku
Kaisar Lucius, mengenakan jubah tidur sutra alih-
menekan telapak kulitnya sendiri. “Leila sedang
alih pakaian kerajaan resminya, duduk di meja kerjanya.
menjalani hukuman di gudang utara. Ia… ia sudah
Di seberangnya, Lord Kaelus, Penasihat Kepercayaan
diberi perintah untuk tidak meninggalkan tempat.”
Utama, berdiri dengan sikap tenang dan patuh. Mereka
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan baru saja selesai meninjau berkas-berkas pengajuan
suara kaku, “Jika Lady berkenan, saya bisa dana untuk perbaikan jalan di wilayah timur, namun
menyampaikan bahwa Lady ingin menemuinya. Atau… topik pembicaraan mereka telah lama beralih.
saya bisa memanggil kepala pelayan terlebih dahulu.”
“Anak itu,” Lucius menyentuh berkas kosong di Kaelus mengerutkan kening.
mejanya, seolah dokumen itu adalah Kaivor sendiri.
Lucius menutup berkas itu perlahan. “Namun,
“Archduke Kaivor.”
semua orang akan patuh,” katanya. “Setelah kehilangan
Lord Kaelus mengangguk tipis. “Yang Mulia, dia cukup banyak hal.”
berhasil membelokkan seluruh Dewan Penasihat ke
Lucius kemudian memiringkan kepalanya,
dalam perdebatan logistik. Sebuah manuver yang
pandangannya menjadi lebih tajam dan serius.
brilian. Tidak ada yang pernah berani melemparkan
tanggung jawab secepat dan seefisien itu.” “Bagaimana keadaan Duke Stravellin saat ini?”
Lucius menarik sebuah berkas yang menumpuk di atas
Lucius tersenyum tipis. “Darah Ascendata
meja.
memang tidak pernah gagal, meski darahnya hina.
Sayang, tidak ada yang mengarahkannya sejak kecil, Lord Kaelus mengalihkan fokusnya dengan cepat,
sehingga ia tumbuh tanpa loyalitas.” Kaisar menghela dari Archduke yang berbahaya ke Duke yang
napas, menyayangkan. “Dia hanya melayani menyedihkan.
kepentingannya, bukan aku.”
“Secara militer, ia tetaplah legenda hidup, Yang
“Tidakkah Yang Mulia khawatir?” tanya Kaelus Mulia. Loyalitasnya tak perlu diragukan. Namun, secara
pelan. “Meskipun dia membawa hasil, laporan yang ia finansial, dia hancur total,” jawab Kaelus tanpa perlu
berikan adalah ancaman terselubung terhadap otoritas melihat catatan. “Utangnya pada Bank Kekaisaran telah
Yang Mulia. Dia memaksa tangan Dewan untuk dilelang. Lord Valerius mengambil alih pengelolaan
bertindak tanpa persetujuan langsung dari Anda, hanya kredit macet itu dua hari yang lalu, dan saya mendengar
untuk membuktikan bahwa dia tidak dapat disalahkan.” ia bertindak agresif.”
Kaisar Lucius bersandar, menatap api kecil yang Lucius membuka berkas Stravellin,
menari di tungku. memperlihatkan peta wilayah kecil yang diarsir.
“Tambang Virdae?”
“Tentu aku khawatir. Archduke tanpa loyalitas
adalah pedang yang bisa berputar ke arah mana saja. “Itu aset agunan utama, Yang Mulia. Kehilangan
Tapi, Kaelus, aku tidak marah. Justru aku merasa… tambang itu sama dengan kehilangan sumber
cukup terhibur.” pendapatan tunggal keluarga Stravellin. Duke Stravellin
tidak akan mampu bertahan lebih dari tiga bulan membuang mereka setelah bosan. Mengirim Asha ke
setelah penyitaan.” Kaelus berhenti sejenak, wajahnya sana bukan kehormatan, melainkan penghinaan yang
menunjukkan keraguan. “Yang Mulia, bukankah kita mematikan.
bisa… campur tangan? Duke Stravellin telah
“Dengan satu pernikahan, utang keluarga
memberikan begitu banyak bagi Kekaisaran.”
Stravellin lunas, mengabulkan keinginan Lady Asha,
Kaisar Lucius meletakkan berkas itu dengan dan mengamankan aliansi dengan Lix. Sebuah langkah
gerakan yang rapi. Matanya tidak menunjukkan yang efisien, bukankah begitu, Kaelus?” tanya Lucius,
kasihan. matanya berbinar, mengabaikan kengerian di wajah
Kaelus.
“Campur tangan? Tentu saja. Mau bagaimana
pun, Duke Stravellin rela melepas status netralnya demi Kaelus membungkuk, menelan komentar apa pun
kekaisaran.” Kata Lucius dingin. “Lady Asha juga sangat tentang moralitas rencana itu. “Sangat efisien, Yang
menginginkan posisi putri mahkota kan? Aku juga akan Mulia. Namun, bagaimana dengan Duke? Duke
mengabulkan itu” Ia mengambil sebuah amplop dari laci Stravellin pasti tidak akan menyetujui pernikahan itu
mejanya. dengan mudah”

Amplop itu di segel oleh simbol Kerajaan Lix, “Itulah tugasmu Kaelus. Buat Duke tidak memiliki
kerajaan yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran harapan lain,” kata Lucius, suaranya tenang, tetapi
Calvaris di barat. mengandung ancaman yang tidak terucapkan. “Biarkan
Valerius terus menekan. Pastikan Duke tahu bahwa
“Apa yang mulia—”
dalam tujuh hari, Tambang Virdae dan kehormatan
“Iya… Putra mahkota kerajaan Lix pasti akan keluarganya akan hilang, kecuali ada keajaiban.”
senang menerima Lady Asha sebagai putri mahkotanya.
“Namun, aku sedikit bertanya-tanya. Untuk apa
Walaupun pangeran Gorok sudah sedikit tua,” Lucius
sebenarnya duke memperjuangkan gadis menyedihkan
menyelesaikan kalimat Kaelus dengan senyum tipis dan
itu? Tidak ada yang bisa di banggakan dari Lady Asha
berbahaya.
selain parasnya yang menawan.” Lucius mengetuk-
Lord Kaelus menegang. Ia tahu reputasi Putra ngetukkan jarinya pada meja.
Mahkota Lix, Pangeran Gorok. Seorang pria tua yang
dikenal karena nafsu liarnya terhadap wanita muda, lalu
Lord Kaelus berpikir sejenak, wajahnya
menunjukkan refleksi.

Kaelus terdiam sejenak.

“Lady Asha adalah satu-satunya anaknya, Yang


Mulia. Dan satu-satunya hal yang tersisa untuk ia
selamatkan.” Cahaya pagi yang tipis merayap masuk melalui
jendela kaca patri di ruang kerja Duke Stravellin. Udara
Lucius mendengus.
di ruangan itu terasa berat, dingin, dan berbau sisa
“Demi itu saja?” cerutu yang dihisap semalaman.

“Duke selalu percaya ada yang salah pada gadis Duke Stravellin duduk di belakang meja
itu, padahal kebodohan itu sebenarnya sifat dasar mahoninya yang besar. Pakaiannya rapi, tetapi kantung
Asha.” Tambah Kaelus singkat. di bawah matanya menunjukkan bahwa tidur nyenyak
telah lama meninggalkannya. Di depannya, Kepala
Lucius mendengus, ekspresinya mencemooh.
Pelayan Master Elian berdiri tegak, memegang baki
“Untung saja Clexo memutuskan untuk membatalkan
perak berisi surat-surat pagi.
pertunangan mereka. Aku tidak dapat membayangkan
jika memiliki menantu yang bodoh seperti dia,” “Ada yang penting, Elian?” tanya Duke, suaranya
serak. Ia memijat pangkal hidungnya, sudah lelah
bahkan sebelum hari dimulai.

“Hanya tagihan rutin, Yang Mulia,” jawab Elian


dengan nada datar yang terlatih. “Namun… ada satu
laporan lain dari pengawas malam, yang perlu Yang
Mulia ketahui segera.”

“Katakan saja,” perintah Duke Stravellin, tanpa


sabar.
Elian maju selangkah, menundukkan kepala Duke Stravellin mengangkat tangan,
sedikit. “Semalam, Lady Asha, sekitar jam sebelas menghentikan Elian. Sebuah senyum tipis, lelah, namun
malam, pergi ke Gudang Utara. Ia bertemu dengan penuh makna, muncul di wajahnya.
Leila, pelayan yang sedang menjalani hukuman.”
“Tidak perlu ada tindakan lebih lanjut, Elian,”
Duke Stravellin membeku. Ia tahu hukuman itu. putus Duke Stravellin, dengan otoritas yang tenang.
“Hukuman Leila… anggap saja sudah selesai.
“Lalu?” desak Duke, nadanya mendadak tajam.
Sekarang.”
“Lady Asha… memerintahkan pembebasannya,
Elian terkejut, namun tetap membungkuk. “Baik,
Yang Mulia,” bisik Elian, seolah kata-kata itu sendiri
Yang Mulia. Apakah ada perintah lain mengenai… Lady
berbahaya. “Ia meminta kunci, membebaskan Leila, lalu
Asha?”
kembali ke kamarnya. Pengawas tidak berani
menghentikannya.” Duke Stravellin menggeleng perlahan,
pandangannya kini tertuju pada cahaya pagi yang
Keheningan memenuhi ruang kerja. Bunyi
hangat di luar.
denyutan jam dinding kuno terdengar keras.
“Panggil Asha kemari,” kata Duke Stravellin,
Duke Stravellin menatap Elian, matanya yang
suaranya sedikit bergetar. Ia mencondongkan tubuh ke
lelah kini melebar. Alih-alih marah, Duke justru terdiam.
depan, kedua tangannya terlipat.
“Dia… dia membebaskannya?” ulang Duke
“Segera, Yang Mulia,” jawab Elian.
Stravellin, suaranya hampir tidak terdengar, seperti ia
sedang mencoba memahami bahasa asing. Duke Stravellin ditinggalkan sendirian. Ia
membiarkan napasnya terembus perlahan. Matanya
“Ya, Yang Mulia.”
kembali menatap ke arah jendela, pada pendar
Duke Stravellin perlahan meletakkan tangannya keemasan yang baru saja menyentuh dedaunan di luar.
di atas meja.
Duke menyentuh berkas di mejanya—berkas-
“Saya mengerti, Yang Mulia, ini adalah…” Elian berkas utang yang mengancam kehancuran, peta
memulai, bersiap menawarkan hukuman untuk Leila Tambang Virdae yang akan segera dirampas. Semuanya
atau memberi peringatan pada Lady Asha. terasa dingin, nyata, dan mendekat. Namun, laporan
Elian ini… terasa seperti kehangatan tak terduga yang Asha tetap diam, matanya yang besar dan kini
menyusup di antara puing-puing. tampak lebih jernih hanya menatap lurus ke depan.
Tidak ada cemoohan, tidak ada kemarahan, hanya
Apakah ini pertanda? Tanyanya dalam hati.
kekosongan dan putus asa.
Apakah di tengah kehancuran ini, putriku akhirnya…
sembuh? Duke Stravellin melanjutkan, melunakkan
ekspresinya. “Ayah ingin tahu. Kenapa kau melakukan
Beberapa saat kemudian, langkah kaki Elian
itu, Nak? Ayah penasaran.”
terdengar kembali, diikuti oleh langkah yang lebih
ringan namun mantap, Duke Stravellin kembali Asha menghela napas, samar-samar, seperti
menegakkan postur. Ia menghapus semua kelelahan kebiasaan lama yang sulit dihilangkan. Ia kemudian
dari wajahnya, menyisakan ekspresi otoritas yang mengangkat pandangannya, kali ini menatap tepat ke
lembut, tidak mengancam, namun penuh perhatian. mata ayahnya. Ini pertama kalinya ia mengobrol dengan
Duke secara langsung.
Asha masuk. Ia mengenakan gaun berwarna
gading, rambutnya tergerai indah. Meski terlihat lelah, “Tidak ada alasan… ayah,” jawabnya dengan
ia berjalan dengan kepala tegak, tidak menunjukkan keraguan tipis di akhir kalimat.
rasa takut atau penyesalan, bahkan ia tidak
Duke Stravellin mengerutkan kening. “Tanpa
menunjukkan ekspresi apapun.
alasan?”
Asha memasuki ruangan tanpa berkata sepatah
“Ya. Aku tidak butuh alasan untuk bertanggung
katapun. Ia hanya berdiri dan diam.
jawab atas Leila,” jelas Asha. Ia menjeda, seolah
Duke Stravellin bangkit. Ia tidak bergerak ke menyusun kata-kata yang cocok untuk meyakinkan
meja, melainkan berjalan mengitari meja dan berdiri di Duke. “Itu bukan salah Leila. Aku yang ceroboh dan
depan perapian yang dingin. tergelincir jatuh dari jembatan”

“Asha, bagaimana keadaanmu?” Duke bertanya Duke Stravellin berdiri terpaku. Asha yang dulu
lembut, menjaga suaranya tetap rendah agar tidak akan menyalahkan angin, jembatan, bahkan Leila
terdengar seperti teguran. “Ayah sudah membatalkan sendiri, tetapi tidak akan pernah mengakui
hukuman Leila secara resmi. Tindakanmu… itu tidak kecerobohannya.
bijak, tapi Ayah tidak akan menghukummu karenanya.”
“Kau… tergelincir?” Duke mengulang, suaranya merasakan sedikit kehangatan yang belum pernah ia
mengandung nada yang nyaris tidak percaya. Selama rasakan sebelumnya, kehangatan keluarga.
ini, dia hanya menerima laporan bahwa Leila melakukan
kesalahan, dan Asha selalu menguatkan laporan itu
dengan kemarahannya. Dan sejak kapan Asha pandai Matahari sore di ibu kota tidak sesejuk di wilayah
berbicara seperti itu? Utara, tapi tembok tinggi Mansion Varkas memberikan
bayangan yang cukup untuk menutupi arena latihan di
“Ya, Ayah,” jawab Asha, pandangannya tetap
halaman belakang. Lantainya terbuat dari batu alam
lurus, tatapannya dingin namun jujur
yang dipahat kasar—desain fungsional di tengah
Asha kemudian memberi jeda. Berpikir mengenai kemewahan—agar para ksatria tidak mudah tergelincir
reaksi Duke. saat bermanuver.

“Aku minta maaf atas kecerobohanku” lanjut Kaivor berdiri di tengah arena, tanpa baju zirah.
Asha, mempertahankan nada suaranya yang tenang dan Ia hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing
logis. atasnya terbuka dan celana hitam formal. Meski
berpakaian santai, aura predatornya tidak hilang.
Duke Stravellin menyentuh bahu Asha dengan
kedua tangannya. Di sekeliling Kaivor, empat ksatria elit Nordia
sudah mengambil posisi. Mereka tidak menggunakan
“Ayah… Ayah sangat bangga padamu, Nak,” bisik
pedang kayu; James ingin latihan ini terasa nyata, maka
Duke Stravellin. Matanya berkaca-kaca. “Bertanggung
mereka menggunakan pedang tumpul berbahan baja
jawab atas kesalahanmu, dan mengatakan yang
berat.
sesungguhnya. Ini adalah sifat seorang Stravellin yang
sesungguhnya.” “Maju,” perintah Kaivor pelan.

Ia merangkul Asha, pelukan yang erat dan Ksatria pertama menerjang dengan serangan
panjang. diagonal slash yang kuat. Kaivor tidak berkedip. Saat
bilah baja itu nyaris menyentuh kemeja linennya, ia
Asha sedikit kaget, namun ia tidak merespon
memutar tubuhnya searah jarum jam. Gerakannya
pelukan itu dan hanya diam mematung. Namun, ia
begitu presisi sehingga ujung pedang lawan hanya
membelah udara di depan dadanya.
Tanpa membuang momentum, Kaivor “Sekarang giliranmu,” Kaivor mengacungkan
menghantamkan gagang pedang kayunya ke pedangnya ke arah James. Napasnya bahkan tidak
pergelangan tangan lawan. memburu.

BRAK! “Hiiiy… enggak dulu,” James mengangkat kedua


tangannya lebar-lebar, melangkah mundur seolah-olah
Bunyi tulang bertemu kayu keras terdengar jelas.
Kaivor adalah wabah penyakit. “Kau memang luar biasa,
Pedang baja itu jatuh berdenting ke lantai batu.
Yang Mulia. Para pelayan di balkon lantai dua tadi
Sebelum ksatria itu sempat mengerang, satu tendangan
sampai berhenti bekerja hanya untuk menontonmu. Kau
lurus dari Kaivor mendarat di dadanya, membuatnya
tahu kan, kau baru saja menaikkan standar gosip di
terpental mundur tiga meter.
mansion ini?”
Kaivor berdecak sambil menggeleng.
Kaivor hanya memutar bola matanya malas sambil
Tiga ksatria lainnya menyerang serentak dari arah menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Ia tidak
berbeda. Kaivor merunduk rendah, membiarkan dua menyahuti candaan James, melainkan mengalihkan
pedang beradu di atas kepalanya. Dalam posisi jongkok, pandangannya pada empat ksatria yang masih berusaha
ia menyapu kaki ksatria di depannya hingga terjatuh, mengatur napas dan memijat bagian tubuh yang
lalu menggunakan punggung ksatria yang tumbang itu terkena hantaman tadi.
sebagai tumpuan untuk melompat tinggi.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kaivor
Di udara, ia berputar. Pedang kayunya menebas hanya mengangkat tangannya sedikit, memberikan
cepat helm ksatria ketiga dan keempat dalam satu isyarat horizontal dengan telapak tangan terbuka—
gerakan melingkar yang mulus. sebuah kode bisu yang sudah dipahami seluruh
bawahan setianya: latihan selesai, bubar.
TAK! TAK!
Para ksatria itu segera menegakkan tubuh,
Dua ksatria itu terhuyung, pandangan mereka memberikan hormat militer yang dalam meski dengan
gelap sesaat akibat guncangan pada helm baja mereka. sisa-sisa tenaga yang ada, lalu bergegas merapikan
Kaivor mendarat dengan ringan tanpa suara di lantai senjata dan meninggalkan arena.
batu kasar, kembali ke posisi berdiri tegak seolah ia
tidak pernah bergerak.
“Aku belum melihat surat hari ini. Apa ada “Jangan diteruskan,” potong Kaivor cepat.
laporan dari aktivitas Malabys?” tanya Kaivor seraya Suaranya rendah, nyaris seperti geraman peringatan,
meletakkan pedang kayunya ke meja senjata. namun intensitasnya justru membuat James semakin
bersemangat untuk menggoda.
“Belum ada laporan penyerangan skala besar,
hanya serangan Hama berskala kecil,” jawab James. James tertawa renyah, suara tawanya memantul
“Kalau diingat-ingat, sudah beberapa minggu berlalu di dinding batu arena yang mulai mendingin.
sejak Fulgors iblis tingkat tiga menyerang.” “Memalukan, Kaivor, memalukan.”

“Mungkin mereka sudah bosan kalah terus,” Kaivor tidak menjawab. Ia menelan semua ejekan
jawab Kaivor santai. itu bulat-bulat.

“Dasar sombong.” James mendengus, berjalan “Lagi pula,” James melanjutkan, suaranya kini
mendekat sambil memutar-mutar botol air di tangannya lebih pelan dan sedikit lebih serius, “Festival
sebelum melemparkannya ke arah Kaivor. “Bicara soal Kemerdekaan sebentar lagi akan digelar. Seperti
bosan… bagaimana, apakah Lady Clarrisa sudah tradisi, akan diselenggarakan pesta dansa. Bagaimana
mengirimmu undangan?” tanya James sambil jika kau yang awalnya selalu datang sendiri akhirnya
menyeringai licik. membawa Lady Clarrisa bersamamu?”

Mendengar kalimat itu, Kaivor hampir tersedak “Dia tidak akan mau,” gumam Kaivor akhirnya.
air yang baru saja masuk ke tenggorokannya. Ia Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desis angin
terbatuk kecil, mencoba menguasai diri sementara sore.
matanya menatap tajam ke arah James yang kini terlihat
“Kau belum mencoba, kawan.” James bangkit
sangat puas dengan reaksinya.
sambil menepuk bahu kaku Kaivor.
“Diam kau,” desis Kaivor, suaranya sedikit parau.
Ia berjalan melambaikan tangan tanpa menoleh,
Ia menyeka sisa air di bibirnya dengan punggung
meninggalkan Kaivor sendirian di tengah arena yang
tangan, namun telinganya tidak bisa berbohong—sedikit
kini sepenuhnya tertutup bayangan. Angin sore
rona merah tipis muncul di sana.
membawa hawa dingin yang familiar, namun kali ini,
“Kalau dipikir-pikir lagi, kau selalu memberinya dada Kaivor terasa jauh lebih berat daripada udara
hadiah secara diam-diam. Jangan-jangan…” musim dingin di Nordia.
Posturnya yang terlalu lurus, bahunya yang tegang, dan
kepalanya yang menunduk dalam-dalam menunjukkan
Sore telah jatuh sepenuhnya. Cahaya matahari
kelelahan dan rasa takut yang mendalam.
yang mulai meredup menyebarkan semburat jingga di
sepanjang lorong-lorong batu kastil, menciptakan Asha mencengkeram gaunnya, dadanya kembali
bayangan panjang di atas lantai marmer tua yang digerogoti oleh rasa bersalah. Goresan di tangan yang
tampak temaram. Asha, dengan napas yang masih ia dapatkan saat jatuh dari jembatan terasa perih
sedikit teratur setelah baru saja selesai berjalan-jalan kembali, seolah mengingatkannya bahwa ia yang
menghirup udara luar, melangkah pelan menyusuri menyebabkan semua ini.
koridor yang sunyi.
Ia mempercepat langkahnya.
Asha menghela napas. Pelukan Duke terasa
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Leila
seperti oasis—hangat dan nyaman, namun aneh dan
tersentak. Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu segera
asing. Ironisnya, kehangatan figur seorang ayah yang ia
menunduk lagi saat menyadari itu adalah Lady Asha.
rindukan kini datang dari orang asing di dunia ini,
sesuatu yang gagal ia temukan dari ayahnya di “Lady,” sapa Leila dengan nada yang sangat
kehidupan yang sebenarnya. rendah, hampir menyembunyikannya dari udara.
“Mohon maaf karena mengganggu waktu istirahat Lady.
Ketika ia mendekati belokan menuju sayap
Saya hanya… menunggu di sini.”
kamarnya, ia melihat sosok yang dikenalnya berdiri
kaku di depan pintu. Ia menunggu instruksi, atau lebih mungkin,
teguran. Rasa terima kasih semalam telah bercampur
Itu adalah Leila.
kembali dengan ketakutan yang dingin.
Pelayan itu mengenakan pakaian pelayan yang
“Aku menyuruhmu istirahat,” kata Asha, suaranya
bersih dan rapi—tanda bahwa ia baru saja bersiap
lebih tajam dari yang ia inginkan.
setelah semalam dibebaskan. Namun, kondisinya secara
fisik jauh dari kata baik. Ia tampak jauh lebih kurus Leila menelan ludah, ketakutan yang ia rasakan
hanya dalam beberapa hari hukuman. Di lengan yang semalam kembali menguasai. “Saya sudah istirahat,
tidak tertutup oleh lengan baju, terlihat samar-samar Lady. Saya sudah tidur beberapa jam. Saya… saya harus
memar kebiruan dan goresan yang belum sembuh.
mulai bekerja. Lady pasti membutuhkan bantuan untuk lima pria aparatur hukum berpenampilan formal.
persiapan esok hari, dan saya harus membersihkan…” Mereka membawa papan klip dan koper besi.

“Tidak,” potong Asha. “Duke Stravellin! Saya bosan mengunjungi tempat


menyedihkan ini! Di mana Anda, Veteran Legendaris?
Asha sadar, mengucapkan permintaan maaf lagi
Kami punya beberapa urusan logistik yang harus
mungkin hanya akan menambah kebingungan Leila.
diselesaikan!” seru Lord Valerius tanpa menghiraukan
“Kau istirahatlah. Ini perintah,” lanjutnya dingin. sopan santun.
Asha lalu berbalik, mengurungkan niatnya kembali ke
Duke Stravellin muncul di puncak tangga marmer.
kamar. “Kita bertemu lagi nanti,” ucapnya sebelum
Ekspresi lelahnya tadi telah digantikan oleh kemarahan
berjalan pergi meninggalkan Leila tanpa memberinya
yang tertahan, energi Mana yang samar-samar terasa
kesempatan berbicara.
bahkan dari jarak Asha berdiri.
Asha berjalan menyusuri koridor, langkahnya kini
Salah seorang juru sita melangkah maju dan
lebih mantap. Ia memijit pelipisnya. Asha masih belum
meletakkan sebuah Segel Perunggu Kekaisaran
mengetahui sebagian besar denah kastil, jadi ia berjalan
berukuran besar di atas meja konsol kayu terdekat.
tanpa arah, berharap menemukan sudut sepi untuk
Segel itu berkilauan, memancarkan simbol otoritas tak
menyusun pikiran.
tertandingi.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar
“Bank telah mengajukan intervensi darurat,”
suara gaduh dari arah aula utama. Ia langsung
Valerius melanjutkan, suaranya lantang agar terdengar
bergegas menuju asal suara itu. Asha berhenti di balik
jelas. “Mulai saat ini, Tambang Belerang Virdae berada
pilar batu yang tebal, bayangannya menyatu dengan
di bawah Pengawasan Kepentingan Umum. Kami
kegelapan yang mulai merayap di sudut ruangan. Dari
menerima laporan bahwa Anda mungkin mencoba
posisi ini, ia bisa melihat sebagian besar aula yang kini
memindahkan aset agunan, Duke.”
terbasuh cahaya jingga kemerahan dari matahari yang
hampir tenggelam sepenuhnya, mendengar dengan Jantung Asha tidak berdebar, karena ia sudah
jelas, dan, yang terpenting, mengamati Duke. terlalu putus asa untuk takut. Namun, otaknya berputar
dengan kecepatan penuh.
Di tengah lantai marmer, sosok Lord Valerius
yang mencolok terlihat. Di belakangnya, berdiri tegak
Duke turun satu langkah, Mana di sekitarnya Ketika aula benar-benar sepi, pandangan Asha
mulai berdenyut samar. “Itu kebohongan. Kau tidak terpaku pada Duke Stravellin yang ambruk di tangga,
punya hak. Perjanjian kita…” tubuhnya dikalahkan bukan oleh musuh di medan
perang, tetapi oleh keputusasaan yang sunyi.
“Perjanjian berakhir ketika Anda gagal bayar,”
Valerius memotong. “Dan hak saya dijamin oleh Segel Asha tidak beranjak. Ia hanya menatap Segel
Kekaisaran ini. Coba sentuh segel itu, Duke, dan itu Perunggu yang ditinggalkan di meja. Asha menarik
bukan lagi masalah utang. Itu adalah penentangan napas dalam, membalikkan badannya dari pilar.
langsung terhadap perintah pengadilan dan berpotensi Wajahnya masih terlihat tenang, namun pikirannya
menjadi tindakan pemberontakan.” mulai memetakan situasi.

Duke Stravellin mengepalkan tangannya hingga


buku-buku jarinya memutih, namun tinjunya tidak
Angin pagi di taman istana terasa sejuk,
terangkat. Keputusasaan membanjiri rasa marahnya.
membawa bau tanah basah dan aroma bunga mawar
“Tulis surat perintah segera kepada pengelola
yang baru saja disiram. Cahaya matahari yang masih
tambang,” Valerius memerintahkan kepada juru sita.
“Operasi Virdae dihentikan total. Segel ini berfungsi kuning pucat menembus celah-celah daun, membuat
sebagai pemberitahuan resmi. Dan Anda, Duke,” embun di kelopak bunga berkilauan seperti kaca.
Valerius menoleh kembali ke Duke dengan senyum
Suasananya tenang, hanya ada suara kicauan burung
kemenangan, “nikmatilah empat hari terakhir Anda
sebagai pemilik tanah.” Tutupnya sambil merapikan dan langkah kaki pelan di atas kerikil taman.
jubahnya dengan puas.
Helena berjongkok di depan deretan bunga
Valerius dan rombongannya berbalik dan pergi,
bakung, jemarinya mengelus kelopak bunga itu dengan
meninggalkan Segel Kekaisaran itu sebagai monumen
perampasan di aula yang sepi. hati-hati. Wajahnya tampak sedih, seolah dia baru saja
mendengar kabar duka.
“Empat hari, ya?” gumam Asha, melihat Valerius
dan rombongannya pergi.
Clexo berdiri di belakangnya, memperhatikan pencuri. Dia bilang aku sengaja masuk ke istana untuk
punggung Helena yang kecil. “Kenapa kau terlihat lesu mengambil posisinya. Padahal aku hanya ingin
begitu?” tanyanya dengan suara rendah. berteman dengannya. Apa menurutmu… kalau aku tidak
pernah muncul, Asha tidak akan sejahat itu?”
Helena menoleh sedikit, matanya yang berwarna
ungu lavender terlihat berkaca-kaca. “Clexo… aku baru Clexo melangkah maju, rahangnya mengeras.
dengar soal Lady Asha. Katanya dia jatuh dari jembatan “Jangan pernah menyalahkan dirimu. Dia
tempo hari sampai terluka parah. Apa dia begitu merendahkanmu, Helena. Dia menginjak harga dirimu
tertekan karena pertunangan kita?” hanya karena kau tidak berasal dari keluarga kaya
seperti dia.”
Clexo mendengus sinis. “Jangan mulai lagi,
Helena. Dia jatuh karena kecerobohannya sendiri. “Mungkin karena dia memang terlahir untuk
Lagipula, kau tahu sendiri bagaimana Asha. Mungkin memimpin, jadi dia tidak sadar kalau kata-katanya bisa
itu Cuma caranya cari perhatian.” menyakiti orang lain,” lanjut Helena, matanya kini
berkaca-kaca, menatap Clexo dengan penuh rasa
“Tapi tetap saja, aku merasa jahat. Dulu… meski
bersalah. “Sekarang, saat ayahnya sedang kesulitan dan
dia sering marah-marah padaku, aku selalu berpikir itu
mereka terlilit hutang, aku tidak bisa membayangkan
karena dia sangat mencintaimu. Dia hanya takut
bagaimana hancurnya perasaan Asha. Dia yang
kehilanganmu. Ingat tidak waktu dia membuang bekal
biasanya selalu memakai perhiasan paling mahal dan
buatanku? Dia melakukannya karena ingin kau hanya
gaun tercantik… pasti sangat berat baginya untuk
memakan masakan koki terbaik. Dia hanya ingin yang
sekadar keluar kastil sekarang. Aku ingin sekali
terbaik untukmu, dengan caranya yang… agak sulit
membantunya, tapi aku takut kehadiranku malah
dipahami.” Helena menunduk lagi, mencabuti rumput
membuatnya semakin sedih.”
liar kecil di sekitar bunga. “Dia selalu memanggilku
Clexo memegang kedua bahu Helena, menatapnya Matahari tepat di atas kepala, menyinari pilar-
dengan lembut. “Kau tidak boleh menyalahkan dirimu. pilar marmer Gedung Arsip Kekaisaran yang angkuh.
Apa yang terjadi pada keluarga Stravellin adalah akibat Asha keluar dari pintu kayu raksasa itu dengan langkah
dari kesalahan Duke, dan sikap Asha selama ini yang tetap tenang, meski di belakangnya, seorang
memang tidak membantu. Biarkan saja dia belajar kalau petugas administrasi muda berpakaian seragam bank
dunia tidak berputar di sekitarnya saja.” masih tertawa kecil sambil melipat tangannya.

Helena mengangguk pelan, menyandarkan "Sudah saya katakan, Lady Asha," suara petugas
kepalanya di bahu Clexo. “Iya, kau benar. Aku hanya itu terdengar meremehkan, cukup keras hingga orang-
berharap orang-orang berhenti membicarakannya yang orang yang lewat menoleh. "Membaca kontrak bukan
buruk-buruk. Walaupun dulu dia sering mengunci seperti membaca buku alfabet. Istilah Acceleration
pelayannya di gudang atau merobek gaun orang lain, Clause bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh... yah,
aku yakin jauh di dalam hatinya, dia tetap Lady yang seseorang yang biasanya hanya peduli pada warna pita
terhormat. Aku akan berdoa agar dia segera pulih dan gaun. Sebaiknya Anda pulang saja."
bisa menerima keadaan barunya yang… sederhana.”
Beberapa orang di sekitar mulai berbisik,
Clexo hanya terdiam, memeluk Helena dengan menertawakan Asha yang memang punya reputasi
erat. Di pikirannya, gambaran Asha yang kejam dan sebagai bangsawan yang hanya tahu hura-hura. Leila,
sombong semakin kontras dengan Helena yang begitu yang berdiri di samping Asha, menunduk dalam-dalam,
pemaaf dan suci. Ia semakin yakin bahwa pilihannya wajahnya merah padam karena malu.
untuk meninggalkan Asha adalah hal terbaik yang
"Lady, ayo kita pergi dari sini..." bisiknya gemetar.
pernah ia lakukan.
Asha berhenti melangkah. Ia tidak berteriak, juga
tidak terlihat tersinggung. Ia justru berbalik perlahan
dan menatap petugas itu dengan tatapan malas, seolah Asha mendengus pelan, lalu berbalik melangkah
sedang melihat serangga yang berisik. pergi. Ia berjalan menyisir trotoar batu Ibu Kota,
mengabaikan Leila yang masih mengekor dengan napas
"Tuan petugas," suara Asha tenang namun jernih.
yang tidak beraturan akibat terkejut.
"Istilah itu memang terdengar keren kalau kau hanya
membacanya setengah-setengah. Tapi di kontrak Namun, di balik postur tegak Asha yang
ayahku, ada catatan kecil di bagian bawah—yang sempurna, ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan
mungkin kau lewatkan karena terlalu sibuk dengan logika.
memperhatikan pita gaun orang lain."
Kruyuuuk...
Asha mengangkat satu alisnya, tersenyum tipis
Suara itu muncul dari balik korset gaunnya yang
yang meremehkan.
ketat, bergema cukup panjang di antara kesunyian
"Penyitaan itu butuh surat peringatan sebulan koridor jalan yang kini mulai menjauh dari kerumunan.
sebelumnya. Dan sejauh yang kuingat, ayahku baru
Langkah Asha membeku seketika.
diberitahu beberapa hari sebelumnya. Jadi, secara
logika sederhana... prosedur kalian cacat." Asha Leila, yang sedari tadi berjalan dengan kepala
mengedikkan bahu ringan. "Mungkin kau perlu sekolah tertunduk dan bahu gemetar, tersentak. Ia mengangkat
lagi, atau setidaknya beli kacamata baru agar bisa wajahnya, mengerjapkan mata beberapa kali, melirik ke
membaca catatan kaki dengan benar." arah perut Asha.

Petugas itu bungkam, wajahnya berubah dari "Lady... apakah Anda lapar?" Leila menggantung
pucat menjadi merah tua karena malu di depan orang kalimatnya, takut jika pertanyaannya justru akan
banyak. memicu kemarahan Lady-nya yang baru saja bertindak
seperti singa.
Asha berdehem sejenak, sebelum menjawab Asha duduk dengan punggung tegak,
dengan suara yang masih sedingin es. "Mungkin..." menyandarkan kepalanya pada sandaran bangku yang
dingin. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba
Rasa terkejut Leila perlahan berganti menjadi
meredam denyut di pelipisnya. Namun, ketenangan itu
secercah semangat. Ini adalah pertama kalinya Lady
tidak bertahan lama. Keheningan taman segera pecah
Asha menunjukkan kebutuhan manusiawi yang normal
oleh langkah-langkah kaki yang sengaja diperlambat
sejak sadar dari koma, dan bagi Leila, itu adalah
dan desas-desus yang tajam.
peluang untuk menjadi berguna.
"Lihat itu," bisik sebuah suara wanita yang
"Ah! Tentu saja, Lady! Bodohnya saya sampai lupa
melengking pelan, disusul suara kipas yang dikibaskan.
waktu." Leila buru-buru merogoh kantong kecil di
"Bukankah itu perempuan tercantik di Kekaisaran ini?
pinggangnya, memastikan beberapa keping koin perak
Kudengar dia sudah benar-benar gila setelah
masih ada di sana. "Di dekat persimpangan depan, ada
dicampakkan Putra Mahkota."
kedai yang terkenal dengan sup krim dan roti gandum
hangatnya." "Ssst, suaramu terlalu keras, Lady," sahut yang
lain dengan nada yang sama sekali tidak tulus. "Tapi
"Bisa tolong kau belikan untukku? Aku akan
kau benar, lihat saja tatapannya. Kosong sekali. Kasihan
menunggu di bangku taman itu." Asha menunjuk sebuah
Duke Stravellin, sudah jatuh miskin, satu-satunya
bangku taman tak jauh dari posisi mereka berdiri.
pewarisnya malah kehilangan akal sehat."
"Baik, Lady."
Asha tetap diam. Ia tidak membuka mata, apalagi
Asha melangkah menuju bangku kayu panjang membalas. Ia bahkan tidak merasa sedang dibicarakan.
yang terletak di bawah bayangan pohon ek tua. Di kehidupan sebelumnya, ia sudah mendengar yang
lebih parah. Namun, para bangsawan yang melintas
tampaknya merasa terhibur dengan kehadiran sosok penasaran yang intens, hewan itu mengeluarkan suara
yang mereka anggap sebagai lelucon hidup. "triiill" yang nyaring sebelum melesat pergi—bukan lari
di atas tanah, melainkan melompat-lompat di udara
Keheningan kembali menyelimuti taman setelah
seolah ada pijakan transparan di sana.
kerumunan bangsawan itu menjauh. Asha membuka
matanya perlahan, menatap dedaunan ek yang Asha refleks mengejar. Makhluk itu terlalu
bergoyang pelan tertiup angin. menggemaskan untuk dilupakan begitu saja. Ia tidak
peduli pada gaun mahalnya yang tersangkut ranting
Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu yang
atau tatapan aneh para bangsawan yang masih tersisa
asing. Seekor hewan menyerupai anak kucing yang
di taman.
mungil dan menggemaskan, dengan bulu didominasi
warna biru muda dan putih yang cerah, serta memiliki Asha terus berlari kecil, mengikuti jejak pendar
sepasang tanduk biru seperti rusa di kepalanya. Hewan biru yang ditinggalkan makhluk itu di antara sela-sela
itu sedang melompat-lompat di udara sekitar pohon itu. pohon ek. Makhluk itu sangat lincah, berbelok tajam di
balik pohon besar di ujung taman dan menghilang ke
"Anjir! Apaan tuh?" Asha sontak bangkit.
arah sebuah area yang lebih sunyi, di mana bayangan
Ia mematung, matanya melebar memperhatikan pohon-pohon terasa lebih dingin dan pekat.
makhluk kecil yang seolah-olah sedang berenang di
Asha berhenti di balik pohon tersebut, napasnya
udara, mengabaikan hukum gravitasi yang selama ini ia
sedikit memburu. Ia melongokkan kepalanya, matanya
agungkan.
menyisir semak-semak.
Makhluk kecil itu tersentak. Kepalanya yang
"Tadi lewat sini..." gumamnya. Asha terus
mungil menoleh cepat, menatap Asha dengan sepasang
melangkah, mengabaikan fakta bahwa ia telah
mata bulat. Seolah-olah tahu sedang diincar oleh rasa
meninggalkan kawasan pemukiman dan memasuki "Apaan sih, caper! Kau kira aku takut mati?"
hutan lebih dalam. protes Asha. Ia berjalan menuju semak raksasa itu lalu
mengintip di balik celah-celah daunnya.
Asha akhirnya melihat makhluk itu lagi. Makhluk
bertanduk biru itu sedang hinggap di sebuah dahan Dari celah tipis, Asha dapat melihat terdapat
rendah, membelakangi Asha. Ekornya yang panjang dan sebuah area terbuka kecil yang dikelilingi pohon-pohon
halus bergoyang-goyang, seolah sedang mengejek Asha tua yang menjulang tinggi di balik semak itu. Di
yang kini sudah berkeringat akibat mengejarnya. tengahnya berdiri seorang pria dengan postur tubuh
tegap dan profil samping yang sedikit familiar di mata
"Ayo sini, kawan kecil... aku ga gigit kok," bisik
Asha. Ia mengenakan pakaian kulit gelap yang praktis
Asha. Ia bergerak sepelan mungkin, menahan napas
untuk bergerak.
agar tidak menimbulkan getaran suara yang bisa
membuat makhluk itu kabur lagi. Pria itu sedang memegang busur hitam besar.
Tangan kirinya masih terangkat, posisi baru saja
Namun, tepat saat Asha hendak mengulurkan
melepaskan anak panah.
tangan, sebuah anak panah melesat beberapa senti dari
wajahnya, mengenai batang pohon di sebelahnya, dan "Ini bukan tempat wisata, Tuan Putri," suara
membuat hewan kecil itu lari ketakutan. Asha refleks bariton pria itu penuh peringatan yang dingin.
berbalik.
"No... way..." gumam Asha. Ia melangkah
Tidak ada siapa-siapa, hanya semak tinggi yang menyibak semak besar yang hampir
menghalangi pandangannya. menenggelamkannya menuju pria itu.
Kaivor menurunkan busur hitamnya perlahan, Gadis itu terus melangkah maju mendekatinya,
namun jemarinya masih menempel pada tali busur yang matanya menatap Kaivor dengan intensitas yang aneh.
baru saja bergetar. Ia tidak perlu menoleh untuk Tidak ada ketakutan atau rasa jijik di sana. Kaivor
mengetahui siapa yang bersembunyi di balik semak itu; refleks mundur; ia tidak terbiasa menghadapi situasi
indranya sudah menangkap pergerakan amatir itu sejak seperti ini.
lama.
"Kai? Kau juga hidup di dunia ini?" ucap gadis itu,
"Ini bukan tempat wisata, Tuan Putri," ucap membuat Kaivor semakin mengerutkan dahinya.
Kaivor dingin. Suaranya rendah, setajam mata anak
Kai? Dari mana ia tahu nama itu? tanyanya dalam
panah yang baru saja ia lepaskan.
hati.
Ia mengira akan mendengar pekikan kaget atau
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," jawab
umpatan seperti biasanya. Namun, yang terdengar
Kaivor, berusaha menjaga suaranya tetap tajam. Logika
hanyalah gumaman ganjil.
tempurnya mendadak macet. Jika ini adalah musuh, ia
"No... way..." akan langsung mematahkan lehernya. Namun, ini
hanyalah seorang gadis bangsawan yang bahkan tidak
Kaivor memutar tubuhnya sepenuhnya. Matanya
ia kenal, yang berniat ia takut-takuti agar tidak
menyipit saat melihat sosok gadis bangsawan
memasuki hutan berbahaya sendirian.
melangkah keluar dari rimbunnya semak. Gadis itu
tidak peduli pada ranting-ranting tajam yang menyabet "Kai, ini aku, Asha... As, kau ingat? As!" Kalimat
gaun mahalnya, atau semak berduri yang jelas-jelas itu meluncur begitu saja dari bibir si gadis, membuat
baru saja menggores kulit lengannya yang pucat hingga Kaivor semakin tidak nyaman. Ia menatap gadis di
mengeluarkan noda merah. depannya dengan tatapan menelisik.
"Lady Stravellin?" balas Kaivor, mencoba terlihat Kaivor membuang muka, mencoba memutus
normal. Ia belum pernah melihat Lady Asha Stravellin kontak mata yang menyiksa itu. Ia benar-benar tidak
sebelumnya dan hanya pernah mendengar melalui tahu bagaimana cara menangani situasi ini.
rumor sebagai wanita arogan yang bodoh.
Sial, di mana James saat aku membutuhkannya
"Bukan... Asha Alicia. Kau tidak mengingatku?" seperti ini?
Suara gadis itu terdengar kecewa. Mata birunya mulai
"Maaf... sepertinya aku salah orang," Asha
berkaca-kaca.
akhirnya angkat bicara. Suaranya lirih. Ia menyeka air
Kaivor terdiam, mematung di tempatnya. Ia lebih matanya dengan telapak tangan. "Tapi... kau sangat
suka menghadapi Nox atau serangan Malabys daripada mirip dengannya. Bolehkah aku tahu namamu?"
melihat hal itu. Karena entah kenapa, saat melihat gadis
Kaivor akhirnya memberanikan diri untuk kembali
itu menangis, Kaivor merasa telah menjadi monster
melirik ke arah Asha. Pertanyaan itu terdengar sangat
yang selama ini dicap padanya, dan ia benci hal itu.
absurd di telinganya. Siapa di Kekaisaran ini yang tidak
"Jangan menangis," ucap Kaivor cepat. Suaranya mengenal dirinya—si pembawa kutukan dari Nordia.
tidak lagi dingin, melainkan terdengar serak dan
"Kaivor," jawabnya singkat, suaranya kembali
canggung.
berat namun tanpa intimidasi yang biasa ia tunjukkan.
"Aku... aku tidak bermaksud..." Kalimatnya "Kaivor Varkas."
menggantung. Ia merutuki dirinya sendiri yang
Ia memperhatikan reaksi Asha ketika mendengar
mendadak gagap. "Dengar, Lady. Siapa pun 'Kai' yang
nama keluarga 'Varkas' yang identik dengan kekuasaan
kau cari, aku bukan dia. Tapi berhenti menatapku
besar itu. Namun, Asha hanya mengerjapkan matanya,
seolah aku baru saja melakukan dosa besar padamu."
seolah sedang memproses data baru di dalam "Nasolakrimal," ulang Asha dengan kening
kepalanya. berkerut. "Kau tidak tahu nasolakrimal? Kita
mempelajarinya bersama saat SD."
"Kaivor?" Asha mengulangi nama itu dengan nada
datar, seolah sedang menguji bunyinya. "Ah, sama aja. "SD? Apa itu SD?" Kaivor bertanya, suaranya kini
Kaivor, Kai-vor, Ka-i. Srrruuut." Ia menarik napas terdengar benar-benar buntu.
dalam-dalam, memaksa cairan bening yang sudah
Asha menghela napas panjang. "Ternyata kau
menggantung di ujung hidungnya meluncur balik ke
memang bukan Kai, ya..."
dalam sebelum sempat terjun bebas.
"Maaf membuatmu kecewa, Lady," balas Kaivor
"Kau..." Kaivor kehilangan kata-kata. Rasa panik
sambil memutar bola matanya. "Akhirnya kau paham
yang tadi sempat mencekiknya berganti menjadi
juga."
kebingungan yang murni. Ia menatap hidung Asha yang
memerah dan mata yang masih basah, namun ekspresi "Kaivor! Maaf aku terlambat, tapi aku berhasil
gadis itu sudah berubah total. Kesedihan mendalam mendapatkan—" James menghentikan kalimatnya
yang tadi ia lihat seolah menguap begitu saja. seketika. Matanya melotot, beralih dari Kaivor yang
tampak kaku ke arah Asha yang berantakan, berdarah,
"Maaf, karena aku menangis, kelenjar air mataku
dan... ingusan.
jadi memproduksi cairan berlebih yang mengalir ke
saluran nasolakrimal. Makanya aku jadi ingusan begini. "A-apa yang? Kaivor? Lady Stravellin? A-apa
Sruuut." Asha kembali mendengus kuat, menyelamatkan yang?" James menatap mereka secara bergantian. Ia
harga dirinya yang nyaris jatuh bersama tetesan ingus hampir menjatuhkan kantung yang sedari tadi ia
di pucuk hidungnya. pegang. Ini adalah momen langka melihat Kaivor
berhadapan dengan seorang wanita yang tidak
"Naso... apa?"
ketakutan atau memandangnya jijik. Namun, James tahu itu. Ia lalu berjalan begitu saja ke sebuah pohon besar,
betul bagaimana reputasi Lady Asha di hadapannya. kemudian duduk bersandar di pohon itu, fokus
melilitkan sapu tangan ke lukanya dengan gerakan yang
"Maaf, Lady, apa Anda tersesat?" tanya James,
terlalu tenang untuk ukuran seorang gadis yang baru
masih dengan tatapan tidak percaya.
saja menangis.
Asha mengalihkan pandangannya pada James.
"Dia kenapa?" bisik James yang sedari tadi
Wajahnya yang tadi sempat menunjukkan emosi
bingung pada Kaivor, dan hanya dibalas gelengan
manusiawi kini kembali datar dan kaku, mirip seperti
singkat.
mesin yang sedang melakukan boot ulang.
"Sebaiknya kau antar dia pulang," ucap Kaivor.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Baiklah." James lalu tersadar kembali akan
James terdiam sejenak. Ia menatap Kaivor seolah
tujuannya menemui Kaivor. "Tapi sebelum itu, coba
bertanya, Dia ini kenapa, sih?, namun Kaivor hanya
lihat ini." Ia mengeluarkan sebuah liontin emas dengan
membalasnya dengan gelengan kepala yang sama
batu hitam di tengahnya. "Ini adalah hadiah yang bagus.
bingungnya.
Aku mendapatkannya dengan susah payah. Dan
"Ah... ini, sepertinya Lady terluka. Tempat ini rumornya, kristal ini dapat menghilangkan racun dalam
bukanlah tempat yang aman untuk putri bangsawan makanan."
seperti Anda." James mengulurkan sapu tangan biru tua
James menyodorkan kristal itu ke arah Kaivor.
kepada Asha.
Sinar matahari yang menembus celah dedaunan hutan
Asha menatap sapu tangan di tangan James menyinari permukaannya. Untuk sesaat, perhatian
sejenak, lalu beralih menatap luka di lengannya sendiri. Kaivor teralihkan dari Asha yang duduk di tanah. Mata
"Terima kasih," ucap Asha saat menerima sapu tangan crimson-nya terpaku pada liontin itu.
"Kau yakin?" Kaivor memastikan setiap barang "Karena itu memang arang. Coba lihat teksturnya.
yang akan ia berikan pada Clarrisa adalah yang terbaik. Aku belum pernah melihat kristal yang sejelek ini," jelas
Asha.
"Seratus persen! Aku tadi menyaksikan
pengembara asing itu membuktikan fungsi kristal ini. James menghela napas panjang. Sebuah senyum
Dan yang terbaik, aku tidak dapat merasakan energi simpul yang sarat akan rasa prihatin muncul di
mana dari benda itu," jelas James dengan bersemangat. wajahnya. Ia melirik Kaivor sekilas, seolah memberi
kode bahwa mereka sedang berhadapan dengan Lady
"Kristal? Itu tampak seperti arang..." Asha tiba-
Stravellin bodoh yang sering dibicarakan orang-orang di
tiba berdiri di sebelah Kaivor, ikut memperhatikan
ibu kota.
benda itu.
"Ah, Lady Asha," James berujar dengan nada yang
Terkejut melihat Asha, James sontak melompat ke
dipaksakan lembut, tipe suara yang biasa digunakan
belakang. Sedangkan Kaivor tetap terpaku pada kristal
orang dewasa saat mencoba menjelaskan sesuatu yang
itu, membayangkan wajah Clarrisa ketika mengenakan
sederhana kepada anak kecil. "Saya mengerti mungkin
liontin tersebut.
debu hutan ini mengganggu penglihatan Anda, atau
"Sejak kapan kau berdiri di sana?!" seru James. mungkin... obsesi Anda pada perhiasan mewah di istana
membuat standar Anda terlalu tinggi."
"Sejak tadi..." jawab Asha santai.
James mengangkat liontin itu lebih tinggi,
"Apa maksudmu arang?" Kaivor akhirnya melirik
membiarkan cahaya temaram hutan memantul di
ke arah Asha, alisnya tertaut, bingung dengan analisis
permukaannya. "Ini bukan sekadar arang. Ini adalah
Asha.
Kristal dari Atlantis. Mengatakannya sebagai arang...
yah, saya rasa wajar jika Anda tidak mengenalnya.
Pengetahuan seperti ini memang tidak diajarkan di "Lihat ini, Lady," ucap James sambil membuka
pesta teh atau saat mengejar-ngejar Yang Mulia Putra kantung kecil dari sabuknya. Ia mengeluarkan bubuk
Mahkota di aula dansa." berwarna kemerahan yang tampak mencolok. "Ini
adalah bubuk racun merah. Sedikit saja masuk ke
Asha tidak bergeming. Ia tidak tampak
pembuluh darah, jantungmu akan berhenti dalam
tersinggung oleh sindiran halus James tentang
hitungan menit."
reputasinya yang mengejar pria. Lebih tepatnya, ia
tidak merasa tersindir. Asha hanya menatap bubuk tersebut dengan dahi
berkerut. "Itu merkuri?" gumamnya sangat pelan,
"Kalau begitu, buktikan," sahut Asha datar. Ia lalu
hampir menyerupai bisikan angin.
melirik Kaivor. "Kau tidak percaya pada hal seperti ini,
kan?" James mencampurkan bubuk itu ke dalam air di
botol Kaivor, membuat cairan di dalamnya berubah
Kaivor tidak menjawab. Tangannya masih
menjadi keruh dan berbahaya. Kemudian, dengan
menggenggam busur hitam itu, menanti pembuktian.
gerakan teatrikal, ia mencelupkan liontin batu hitam
"Membuktikannya? Tentu saja." James memutar tersebut ke dalam botol. Beberapa detik kemudian, air
liontin itu di depan mata Asha dengan percaya diri. itu menjadi jernih kembali.
"Aku akan memasukkan kristal ini pada air yang berisi
James menyeringai penuh kemenangan,
racun mematikan."
mengangkat botol itu tinggi-tinggi seolah memamerkan
Ia kemudian pergi meraih botol minum kulit milik trofi di depan wajah Asha. "Lihat? Airnya kembali
Kaivor yang tergantung di pelana kuda tidak jauh dari jernih! Kristal Atlantis ini menyerap racunnya secara
mereka. total. Masih mau menyebutnya arang, Lady?"
Kaivor memperhatikan air yang kembali bening "Koin emas? Untuk apa lagi itu?" tanya James
itu, namun tatapannya tetap dingin. Ia tidak semudah kesal.
itu terpesona, berbeda dengan James yang sudah mulai
Kaivor langsung mengeluarkan sebuah koin emas
menepuk-nepuk dadanya bangga.
dari kantongnya dan menyerahkannya pada Asha.
Asha tidak menunjukkan ekspresi kagum. Ia justru
Asha menerima koin itu tanpa ucapan terima
melangkah maju, mendekati botol itu dengan mata
kasih. Ia segera merebut botol minum dari tangan
menyipit. "Coba minum," tantangnya, bibirnya sedikit
James yang masih melongo, lalu menjatuhkan koin emas
tersenyum sinis.
milik Kaivor ke dalam cairan yang sudah kembali
James tergelak. Tawa yang meremehkan itu "jernih" tersebut.
bergema di antara pepohonan. "Wah, ternyata Anda
"Perhatikan," ucap Asha singkat.
masih belum percaya, ya? Baiklah..." James mengangkat
botol itu hendak meminumnya. Hanya butuh beberapa detik. Koin emas yang
tadinya berkilau kuning cerah itu mulai berubah warna.
Asha menahan lengan James dengan gerakan
Sebuah lapisan keperakan yang suram mulai menjalar
cepat yang tidak terduga, kekuatannya cukup untuk
dan menyelimuti permukaan koin, seolah-olah emas
membuat botol itu tertahan di udara.
murni itu sedang memudar atau dimakan oleh sesuatu
James mengerutkan kening, mencoba menarik yang kasat mata.
lengannya. "Apa lagi sekarang?"
Kaivor melangkah maju. Mata crimson-nya
"Bego amat, sih." Ia lalu melirik Kaivor. "Kau menatap tajam pada logam berharga yang kini tampak
punya koin emas?" menjijikkan itu. Entah kenapa, ia tidak terkejut, seolah
telah menduga hal itu.
Asha mengocok botol itu pelan, lalu menuangkan "Terserah," jawab Kaivor acuh tak acuh. Entah
isinya ke tanah. Cairan jernih itu mengalir, kenapa, ia malah merasa lega, karena benda itu tidak
meninggalkan koin yang kini telah berubah warna sampai ke tangan Clarrisa, dan semua itu berkat gadis
menjadi perak kusam sepenuhnya. di sebelahnya yang masih memandangi wajahnya.

Asha lalu beralih menatap James, yang kini "Wajahmu memang mirip Kai! Kalian sama-sama
wajahnya sepucat kertas. "Itulah yang akan terjadi pada tampan," ucap Asha sambil terus tersenyum
organmu jika kau meminum air itu." memandangi wajah Kaivor.

James menelan ludah. Ia terkejut sekaligus sedikit Kaivor menggaruk kepalanya, tidak nyaman
malu. "Astaga. Tapi tadi aku melihat pedagang itu dengan tatapan itu—lebih tepatnya, tidak terbiasa. Ia
meminumnya dan—" berusaha membuang muka agar Asha tidak melihat
ekspresi canggungnya.
Asha memutar bola matanya malas, lalu kembali
menghadap Kaivor. "Kau percaya pada hal itu? Ternyata
kau memang bukan Kai yang ku kenal."

"Wah, selamat ya, kau berhasil memecahkan


misteri dunia," balas Kaivor dengan nada jengkel. Ia lalu
menoleh ke arah James yang masih memperhatikan koin
itu. "Sejak kapan kau jadi bodoh seperti ini?"

James terperanjat, buru-buru menyeka keringat


dingin yang mulai membasahi dahinya. "Aku akan
membunuh pedagang itu," geramnya.

Anda mungkin juga menyukai