Undying Ril
Undying Ril
G
agak adalah simbol kematian. Dalam banyak Akhirnya aku akan menjemput kedamaianku. Aku
cerita rakyat, gagak muncul saat perang atau dapat merasakan daya gravitasi yang menarikku ke
pemakaman. bawah. Sesaat rasanya seperti terbang.
Seperti saat ini, ketika kepakan sayapnya bersaing Saat masih berada di udara, aku sempat melihat
dengan angin yang tak henti-hentinya menerpa Kai berusaha meraihku. Aku sempat melihat matanya
wajahku. Apa yang kuharapkan? Ini lantai delapan yang membuatku merasa nostalgia. Jika saja tidak ada
gedung sekolah, tentu saja angin sangat kuat di sini.
yang menahannya, mungkin dia sudah ikut jatuh sebelumnya, tabib kiriman putra mahkota menyatakan
denganku. Untungnya dia tidak. bahwa gadis itu telah meninggal. Sejak saat itu, sang
duke tidak berhenti menangis.
Gagak kembali menjerit dan berputar seakan
merayakan kematianku. “Maafkan ayah, Nak. Ayah tidak mampu
menjagamu dengan baik,” isaknya. “Tapi ayah janji akan
Saat gravitasi menariknya, Asha merasakan
membalaskan semua! Kau tidak pantas mendapatkan ini
kebebasan yang singkat sebelum ia merasakan tarikan
semua, putriku.”
takdir lain yang lebih kuat.
Tangannya mengepal. Amarah dan penyesalan
bercampur, tidak tahu mana yang lebih dulu ingin
meledak.
"Sial! Apa-apaan itu!" geram James. Pedangnya James menggeram. Bertarung melawan ilusi. Itu
diangkat, mengarah ke celah pohon, mencari target. frustrasi. Tidak bisa mengenai. Tidak bisa menahan.
Energi terbuang sia-sia. Salah satu bayangan menerjang
Bayangan Nox tak memberi jeda. Ia berputar di udara,
kakinya. Cepat. James tersandung. Keseimbangan
meninggalkan jejak asap dingin yang berbau belerang.
hilang. Pedangnya jatuh. Ia hanya sempat menutup
Kemudian menerjang James. Kali ini, bentuknya lebih
wajah. Matanya tertutup rapat. Menunggu benturan
jelas. Bayangan manusia kurus yang seluruhnya
dingin yang akan datang.
terbuat dari kabut pekat. Matanya. Dua titik
cahaya ungu yang membakar di kegelapan. "Pfftt..." Kaivor menahan tawa melihat James yang
terbentur. Sedari tadi ia hanya mengelak. Melompat
James mengelak.
dari kanan ke kiri. Menghindari terjangan Nox dengan
melewati bahunya. Dingin. James membalas.
gerakan minimalis. Tubuhnya bergerak ringan seperti
Tebasan mendatar. Pedangnya menembus bayangan itu.
menari. Ia bahkan tidak perlu melihat saat Bayangan
Namun tidak ada darah. Hanya asap. Berpusar. Dingin.
Kedua melesat ke arah punggungnya. Hanya satu
Sangat dingin.
langkah miring yang mulus membuat serangan itu
"Itu bukan fisik," ujar Kaivor datar. Ia dapat melukai udara kosong.
merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Namun
"Kau terlalu lemah, James," ujar Kaivor. Suaranya
ia tidak panik.
tenang, seolah mereka sedang berlatih di lapangan.
Nox melompat tinggi. Gerakannya tidak wajar.
Pandangannya tajam. Ia membiarkan Bayangan
Menjadi satu gumpalan asap yang berdenyut. Lalu
Ketiga mendekat hingga jaraknya hanya sejengkal. Tiba-
terpecah. Menjadi empat bayangan kecil. Mengelilingi
tiba, ia menukik ke bawah, posisi tubuhnya nyaris
mereka. Perlahan. Seperti serigala yang mengepung
menyentuh tanah. Pedangnya menggaruk tanah
mangsa.
sebentar, lalu menyapu ke atas. Udara di sekitarnya
James mengambil napas singkat. Memilih target. tiba-tiba bergetar, dan pedangnya mengeluarkan
Yang terdekat. Melangkah cepat. Pedangnya lagi-lagi cahaya merah pekat.
menusuk. Bayangan itu hilang bersama udara. Namun
Sihir itu adalah miliknya. "Kau bisa saja menggunakan sihir itu dari awal!"
protes James, suaranya penuh amarah dan lega.
Cahaya merah itu bukan hanya pantulan. Ia
adalah api. Hanya saja bukan api biasa. Kaivor tidak Kaivor hanya mengangkat bahu. "Aku tidak ingin
berteriak. Ia tidak mengucapkan mantra. Tetapi tanda merusak momen bodohmu."
lahir yang melilit tubuh kirinya berdenyut kencang.
James mencoba berdiri. Langkahnya sedikit
Energi panas dari dalam dirinya mengalir deras melalui
pincang. "Jadi... pekerjaan kita selesai?"
gagang pedang.
Kaivor tidak menjawab. Ia
Api hitam-merah itu melilit bilah pedang. Kaivor
menyimpan pedangnya ke sarung yang
mengubah posisi dari menukik menjadi berdiri tegak,
sedari tadi tergantung di pinggangnya.
cepat. Di saat yang sama, ia mengayunkan pedangnya
dengan kekuatan penuh ke arah empat Bayangan Nox "Hmmm... kira-kira kita dapat
yang tersisa. hadiah apa, ya? Kau kan berhasil
mengalahkan Nox, kaisar pasti kesal,"
BOOM!
ucap James.
Gelombang panas meledak dari pedang. Sebuah
"Aku sepertinya tidak punya harga diri lagi,
ledakan yang menghancurkan, membuat tumbuhan di
sampai-sampai tangan kananku mengharapkan hadiah
sekitarnya ikut layu. Empat Bayangan Nox yang terbuat
dari kaisar," celetuk Kaivor.
dari kabut dingin langsung menguap. Mereka hancur.
Kabut ungu pekat berdesis keras saat bertemu panas "Harga dirimu sudah hilang sejak kau setuju
itu. untuk pergi berdua saja denganku ke tempat
mengerikan ini. Padahal kita seharusnya mendapatkan
James terkejut. Ia langsung mengangkat kepala.
banyak ksatria kekaisaran untuk tugas sialan ini." James
Di sekeliling mereka, udara kembali bersih. Hanya ada
memutar bola matanya. Ia hendak melanjutkan, tetapi
uap tipis yang menghilang. Sisa-sisa bau belerang
terdiam.
lenyap, digantikan aroma kayu bakar yang kuat. Kaivor
berdiri tanpa cela, pedangnya masih berkilauan seolah Keheningan hutan sejenak terasa aneh setelah
baru dicelupkan ke magma. ledakan tadi. Entah mengapa, James mulai merasa tidak
nyaman. Ia merasa ranting-ranting pohon sedang
mengawasi gerak-gerik mereka. Sejenak ia mendengar
suara yang tidak sinkron dengan udara
Chapter II
B
eberapa hari berlalu sejak Asha hidup kembali
di dunia ini. Ia menghabiskan harinya dengan
mengurung diri di kamarnya.
Saat Asha berjalan, ia melihat sebuah siluet "Dasar arogan! Masih saja sombong begitu!"
manusia sedang menunggunya. Ia mempercepat
Eci melepaskan rambut Asha dan langsung di
langkahnya untuk meraih siluet itu. Namun sebelum ia
sambut oleh serangan tiba tiba dari siswa lain yang
dapat pergi lebih jauh, sebuah tendangan mengenai
membuat tubuh Asha terbentur ke tembok.
perutnya, membuatnya tersungkur.
"Menangislah bodoh!" Bentak orang itu.
Seketika lorong gelap itu di penuhi dengan suara
tawa. Satu persatu wajah-wajah orang yang ia kenali Asha mencoba menarik napas, tapi perutnya nyeri
setiap kali ia bergerak.
Tangannya gemetar saat menopang tubuhnya Murid-murid di sekitar mulai berbisik-bisik
sendiri. Tidak ada yang membantunya berdiri. Sepatu- melihat Asha yang baru saja di tikung oleh sahabatnya
sepatu hanya melangkah mundur, memberi ruang agar sendiri. Tapi tidak ada yang memberikan empati
mereka bisa menonton lebih jelas. sedikitpun. Mereka malah kembali mengolok-olok Asha.
"Eci, kau sahabatku. Tapi kenapa? Apa salahku?" "Pantas saja ibumu meninggalkanmu."
Tanya Asha lirih. Napasnya tercekat.
"Aku dengar ayahnya meninggal tiga hari lalu ya?
"Aku bukan sahabatmu! Kau terlalu percaya diri. Mampus."
Mana mungkin aku mau berteman dengan orang jelek
Asha menggigit bibir, Kenapa? Apa salahku?
dan miskin sepertimu! Hahaha." Eci mengangkat
Seharusnya aku yang marah pada keadaanku, kenapa
paksa dagu Asha membuat Asha menatap langsung ke
kalian yang malah membenciku? Pikirnya. Kini dadanya
matanya. "Kau punya satu kesalahan Asha, kau jelek
terasa sakit dan semakin sulit untuk bernafas.
dan kau miskin tapi kau malah mengaku sebagai
sahabatku dan merasa pantas menjadi kekasih Max. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di susul
Kau sombong!" oleh suara teguran dari seorang guru yang membuat
kerumunan bubar. Guru tua yang kepalanya hampir
Eci lalu berbisik tajam, "Aku dan Max tidak
botak itu berjalan mendekati Asha.
pernah menyukaimu, kau tidak pantas di sukai oleh
siapapun." "Asha, kau baik baik saja? Mereka adalah anak
anak nakal. Kau tidak begitu kan?" Ucap pria itu.
"Sudahlah Eci biarkan saja dia." Suara berat
seorang pria memotong percakapan mereka. Ia DEGG!!
tersenyum remeh ke arah Asha sebelum merangkul Eci
pergi.
Asha merinding mendengar suara itu. Suara itu hingga buku-buku jarinya memutih. Kamarnya sunyi.
orang yang paling ia benci. Ia menoleh, matanya Jam dinding berdetak pelan, bunyi tik-tok yang
terbelalak melihat senyuman mesum menghiasi wajah berirama.
guru itu.
"Sialan" umpatnya. Ia menelan ludah dengan
Dadanya terasa sakit dan semakin sulit untuk tangan yang masih gemetar.
bernapas. Dia ingin lari, tetapi kakinya lumpuh, terikat
Asha memejamkan matanya sebentar dan
oleh kengerian yang sudah lama terkubur.
mengatur napasnya yang memburu. Tangannya
Ruangan itu mulai menyempit, suara tawa dari menyentuh rambut pirang pucat yang kontras dengan
kerumunan yang telah bubar seakan kembali, bergaung rambutnya di kehidupan sebelumnya.
di telinganya. Kepalanya sakit, rasa mual mendera. Rasa
Pikirannya yang dipenuhi dengan ketakutan dan
sakit fisik karena pukulan di perut tadi bercampur
kehampaan membuatnya terjaga hingga matahari
dengan rasa sakit emosional akibat pengkhianatan dan
terbit.
penghinaan, menjadi satu gelombang penderitaan yang
tak tertahankan.
“Tidak. Dia hanya sok keren,” jawab James. Hanya Di belakangnya, dua pelayan
dia yang tau alasan Kaivor pergi sebenarnya adalah wanita berdiri dengan jarak hormat. Hubungan mereka
karna dia tidak tau harus apa saat menjawab sapaan. lebih dekat daripada sekadar majikan dan pelayan.
James tersenyum tipis melihat melihat Kaivor berusaha Mereka mengobrol pelan, suaranya seperti bisikan di
terlihat sibuk. antara desau angin.
Namun, senyum itu memudar ketika suara pelan “Saya masih tidak percaya, Yang Mulia,” bisik
terdengar dari balik pepohonan. Bukan angin. Dan salah seorang pelayan, menatap pantulan Helena di air.
bukan suara hewan.
“Hanya dalam beberapa minggu, Anda akan menjadi “Pangeran pasti menyadari bahwa anda lebih baik dari
Putri mahkota. Ini adalah takdir yang luar biasa.” perempuan lainya di kekaisaran ini.”
Pelayan lainnya mengangguk setuju, melipat Helena memejamkan mata sejenak, membiarkan
tangannya di depan dada. “Tentu saja. Siapa lagi yang pujian itu menyelimutinya, meskipun ia tahu bahwa
bisa memberikan ketenangan seperti ini di tengah pujian semacam itu datang dengan ekspektasi yang
Istana yang dingin? Anda membawa Lum bersama berat.
Anda, Yang Mulia. Bahkan Pangeran Clexo, yang
“Jangan berkata begitu,” gumam Helena, nadanya
biasanya dingin dan fokus pada pekerjaan, terlihat…
sedikit khawatir, “Lady Asha adalah yang tercantik di
lebih manusiawi saat bersama Anda.”
Kekaisaran ini.”
Helena tersenyum tipis, menggambar lingkaran
“Anda terlalu baik, yang mulia. Setelah semua
kecil di permukaan air dengan ujung kakinya. “Aku
yang dia lakukan pada anda, tapi yang mulia masih
hanya Helena, May. Aku bukan sihir. Aku hanya
membelanya,” balas Fei, ekspresinya dipenuhi
berusaha menjadi diriku sendiri.”
kekesalan yang protektif. “Lady Asha telah mencoba
“Justru itu, Yang Mulia,” sela Fei dengan antusias. segala cara untuk menjatuhkan Anda. Bahkan sampai
“Kebaikan Anda adalah kekuatan terbesar Anda. menghina anda di pesta dansa di hadapan umum”
Setelah semua intrik dan kekejaman Lady Asha—oh,
May merangkul bahu Fei dengan lembut,
maaf, Yang Mulia—tidak ada yang bisa menandingi
menenangkan. “Pangeran Clexo membutuhkan
kebaikan sejati Anda. Anda akan menjadi Permaisuri
Permaisuri yang cerdas, bukan sekadar paras cantik
yang paling dicintai dalam sejarah Calvaris.”
tanpa akal. Yang Mulia, semua orang di Istana tahu.
“Ya. Siapa sangka, Pangeran Clexo memilih Lady Bahkan Kaisar Lucius pun tak dapat menyangkal Lum
yang paling tulus,” tambah May, suaranya bangga. yang Anda bawa. Anda adalah penyembuh untuk
pangeran kami, dan penyelamat bagi masa depan Clexo berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia
Kekaisaran.” telah mengganti pakaian Istana yang kaku dengan jubah
beludru biru tua, tetapi posturnya tetap tegap dan
Helena menghela napas, riak air di kolam
sikapnya rapi.
berhenti. “Aku hanya berharap… aku bisa menjadi yang
terbaik bagi Clexo.” Raut wajahnya tidak menunjukkan emosi, tetapi
pandangannya hanya tertuju pada Helena, seolah gadis
“Kau akan masuk angin jika terus duduk di sana,”
itu adalah satu-satunya sumber cahaya di malam yang
suara yang familiar, lembut, namun tegas, memecah
gelap.
keheningan kolam.
“Yang Mulia,” Helena menoleh, senyum lega
terukir di wajahnya. May dan Fei segera membungkuk
dalam-dalam dan mundur beberapa langkah untuk
memberi ruang.
“Kau hanya membuang buang waktuku saja” duke “Beraninya kau membohongiku!” bentak duke.
akhrinya berdiri. Ia mulai berjalan mengelilingi pria itu.
“Saya tidak berbohong tuan,” suara pria itu
lemah.
berusaha membahayakan nyawa Asha,” rahang duke tua, tebal dan putih seperti hantu. Kaivor sudah
Saat ia melewati lorong utama kastil di lantai dua "Ampun, Yang Mulia Duke," bisik pelayan itu,
yang remang-remang, ia berhenti di depan pintu kamar suaranya gemetar."
Asha. Sudah lama ia tidak melihat Asha keluar kastil,
"Ajaklah Asha keluar kastil. Ajak dia membeli
dan akhir-akhir ini Asha selalu mengurung diri di dalam
gaun dan perhiasan serta semua yang ia mau," perintah
kamar. Itu membuatnya khawatir.
duke suaranya pelan tapi tajam.
Ia tahu putrinya sudah bangun dari koma, tetapi
Meski saat ini ia terlilit utang, tapi baginya
Duke merasa ia telah kehilangan putrinya yang lama.
kebahagiaan Asha adalah nomor satu. Dan ia tahu betul
Asha yang baru ini asing. Asha tidak merengek, tidak
sumber kebahagiaan Asha adalah gaun dan perhiasan Mengumpulkan sisa keberaniannya, Leila
mewah. menegakkan tubuh. Dia harus bertindak cepat.
Pelayan itu ragu sejenak, "Y-ya baiklah yang Dengan langkah pelan yang dipaksakan agar
mulia" terlihat tenang, Leila berjalan ke pintu kamar Asha. Ia
mengetuk dengan lembut, dua kali.
"Perlakukan dia dengan baik," Pesan duke pada
akhirnya sebelum ia melangkah pergi. "Lady Asha?" panggilnya, suaranya sedikit
tercekat. "Saya, Leila. Bisakah saya masuk sebentar?"
Leila menunggu hingga Duke Stravellin benar-
benar menghilang di balik tikungan lorong. Barulah ia Seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Ia tidak
membiarkan napasnya keluar, panjang dan bergetar. tahu sejak kapan Lady jadi pendiam seperti ini.
Leila menyandarkan punggungnya ke dinding Leila memberanikan diri membuka pintu dan
batu, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masuk kedalam kamar Asha.
berdentum di telinga.
Leila mendorong pintu mahoni itu perlahan.
Leila melirik ke pintu kamar Asha. Perintahnya Kamar Asha tampak sunyi, meskipun tidak sepenuhnya
jelas, ajak Asha keluar, belikan yang dia mau, dan rapi. Asha sendiri sedang berdiri di pinggir pagar
perlakukan dia dengan baik. balkon, wajahnya menghadap ke luar, rambut pirangnya
pucat diterpa cahaya sore.
Ia tahu reputasi Lady Asha yang lama: pemarah,
menuntut, dan yang terburuk, kejam dalam menghukum Leila segera membungkuk dalam. "Ampun, Lady.
pelayan yang ceroboh. Leila tidak ingin berakhir di Saya datang atas perintah Yang Mulia Duke."
Gudang Utara seperti pelayan lain yang membuat Lady
Asha tidak bergeming.
kesal.
"Yang Mulia Duke... sangat mengkhawatirkan tatapan cemooh yang ia terima di kehidupan
Anda, Lady," lanjutnya. "Beliau tahu Anda sebelumnya mengalir tanpa izin. Pukulan itu, hinaan itu,
membutuhkan waktu untuk pulih. Karena itu, beliau dan rasa bersalah itu, semua tumpah pada saat yang
memerintahkan saya untuk menemani Anda. Beliau bersamaan. Tangannya mulai gemetar. Namun ia mati
ingin Anda keluar kastil, pergi ke Ibu Kota atau pusat matian menyembunyikannya.
kota Virdae, dan memilih gaun terbaik. Perhiasan yang
"Baiklah. Aku akan pergi," Kata Asha pada
paling indah. Apa pun yang Anda inginkan, Lady. Ini
akhirnya.
semua demi kebahagiaan Anda."
"Baik, lady. Saya akan mempersiapkan
Tapi Asha hanya membalasnya dengan senyuman
semuanya," Leila kembali membungkuk dalam.
kosong pada langit Virdae.
Menyembunyikan rasa penasaran di balik tatapannya.
"Tadi katanya terlilit hutang..." gumam Asha pada
Setelah Leila meninggalkan ruangan, postur
dirinya sendiri.
sempurna Asha ambruk. Tubuhnya terduduk di lantai.
Leila mengangkat satu alisnya, ia tidak terbiasa
"Mati dengan damai pun aku gak pantas. Anjir
dengan gaya bicara Lady Asha yang terbilang asing.
lah,"
"Ya lady?" Tanya Leila.
Ia memijat pelipisnya, matanya memperhatikan
"Tidak." Asha berbalik, menghadap Leila. "Aneh. sekitar dan pikirannya refleks melakukan analisis acak.
Jadi orang gila juga merasakan halusinasi seperti ini
"Presentase timbal monoksida pada kaca itu
ya?" Lanjutnya membuat Leila semakin bingung.
kurang untuk membiaskan cahaya, murahan."
Saat bertatapan dengan Leila, Asha tanpa sadar gumamnya saat memperhatikan kristal yang menghiasi
menunduk menghindari kontak mata. Ingatannya pada
lampu gantung di langit-langit kamarnya tidak sementara Kaisar bersandar, jemarinya mengetuk
menghasilkan pelangi di permukaan. perlahan permukaan marmer.
Ia lalu tersadar beberapa detik setelahnya. “Aku sudah memberitahumu, Clexo, kita tidak
bisa membiarkan Duke Alistair dari Solvire terus
"Kenapa aku malah memikirkan hal tidak penting
meningkatkan pengaruhnya melalui akademi,” ujar
seperti itu, sih"
Kaisar Lucius, suaranya tenang namun mengandung
Matanya terpejam, membiarkan pikirannya peringatan. “Anggaran kekaisaran untuk
mengendur, beristirahat. pengembangan pendidikan harus kita alihkan sebagian
ke lembaga yang dikendalikan oleh Istana. Kita alihkan
dana itu untuk pembangunan perpustakaan baru di Ibu
Kota. Ini akan memusatkan loyalitas para sarjana ke
sini, bukan ke Solvire.”
Istana Calvaris terdiri dari bangunan batu abu-
abu gelap yang berdiri kokoh. Sinar matahari sore Putra Mahkota Clexo mengerutkan kening.
datang dari barat, menghasilkan pantulan kuning pucat “Dengan segala hormat, Yang Mulia, Solvire adalah
di permukaan [Link] di atas istana kini berwarna wilayah netral yang berpengaruh. Duke Alistair
Mereka sedang membahas peta Kekaisaran yang bukan ancaman, Yang Mulia.”
“Dia selamat,” kata Kaisar, suaranya datar, namun “Namun,” sambung Kaisar, suaranya kembali
ada nada kekecewaan yang hanya dapat ditangkap oleh merendah, bernada kritis. “Kaivor secara formal
orang yang mengenalnya dekat. meminta audiensi pribadi segera setelah tiba di Ibu
Kota.”
"Archduke Kaivor telah menyelesaikan tugas
penyelidikan yang kita berikan, dan dia kini berada di Kaisar Lucius menarik napas sejenak, wajahnya
Ibu Kota, di mansion Keluarga Varkas." menunjukkan pertimbangan palsu.
Kaisar Lucius meletakkan gulungan itu, "Tugas Archduke Varkas adalah penting, tetapi
merapikannya di atas meja marmer seolah itu adalah ada hal-hal lain yang jauh lebih mendesak di Istana saat
dokumen yang paling penting. ini, seperti urusan Solvire, dan laporan Kaivor ini
membutuhkan peninjauan Dewan secara menyeluruh
sebelum saya dapat memberikan audiensi yang layak. hadapan Dewan untuk mempertanggungjawabkan
Kita harus menunda permintaannya." Kaisar Lucius lalu penilaiannya."
tersenyum dingin kepada Clexo.
“Tepat,” jawab Kaisar Lucius, wajahnya kini
“Archduke Kaivor melaporkan bahwa Hutan menunjukkan kepuasan sinis.
Whiswood kini sepenuhnya di bawah kendali entitas
“Pengawal, Archduke Varkas telah kembali ke Ibu
Nox, yang merupakan ancaman besar bagi perbatasan
Kota. Berikan perintah agar dia hadir di Istana esok
Virdae dan Droton. Dan apa yang dia lakukan setelah
hari, saat fajar, untuk memberikan laporan lisan
melaporkan temuan genting ini? Dia mengirim surat
lengkap di hadapan Dewan Penasihat.”
permintaan audiensi dan menunggu di kediamannya!
Dia tidak meminta otoritas darurat untuk Kaisar Lucius menekankan kata 'Dewan
mengumpulkan pasukan guna mengatasi ancaman yang Penasihat'. Ini adalah pemanggilan wajib, dan Kaivor
telah dia biarkan membesar. Dia membiarkan Nox kini tidak bisa menolak tanpa dituduh pembangkangan
mengakar, Clexo. Ini bukan hanya melanggar etika. Ini serius di depan umum.
adalah kelalaian tugas serius seorang Archduke di
“Siap laksanakan, Yang Mulia. Saya akan
hadapan bahaya Kekaisaran.”
mengirimkan perintah resmi ke Kediaman Varkas,”
Putra Mahkota Clexo mengangguk, memahami jawab pengawal itu, membungkuk dalam, lalu mundur
strategi ayahnya. "Dia mencoba memenuhi protokol perlahan.
minimal dengan cepat, tetapi dia gagal memenuhi
Setelah pengawal itu pergi, Kaisar Lucius
tanggung jawab maksimalnya. Penolakan untuk
meletakkan gulungan Kaivor, dan menatap Clexo.
audiensi pribadi adalah langkah bijak, Yang Mulia. Dia
harus diadili di depan publik. Dia harus dipanggil ke "Lihat, Clexo. Kaivor telah meletakkan pedangnya
di meja permainanku. Dia lagi-lagi membuktikan dirinya
di hadapanku, tanpa takut. Ini yang ku dapatkan setelah bau arang basah, jerami kuda, dan sedikit sisa bumbu
membantunya menjadi Archduke." masakan dari kedai yang tutup.
Clexo tidak menunjukkan ekspresi apapun. Asha mengamati jalanan batu. Penerangan datang
Baginya Kaivor bukanlah ancaman, tapi tidak boleh di dari lentera minyak yang menggantung di setiap pintu,
remehkan. Untuk saat ini, Kaivor tidak menunjukkan membuat cahaya menjadi oranye-kuning yang
niat untuk merebut posisinya. Tapi tidak ada yang tahu berdenyut, bukan cahaya putih mati dari lampu jalan
kedepannya. modern. Bayangan bergerak tebal dan dramatis di
antara bangunan berkayu.
"Lady Asha, ini sudah malam. Udara sudah
semakin dingin. Kita harus pulang," Leila bergidik di Tanpa sadar, senyuman kecil tersungging di
balik jubah wol tebalnya. Sejak matahari mulai bibirnya. Ia merasa belenggu yang selama ini mengikat
terbenam ia tak henti-hentinya membujuk Asha untuk paru-parunya sedikit merenggang, sehingga ia dapat
pulang. bernapas dengan lega.
Mereka mengelilingi kota selama setengah hari. "Ah, sepertinya kita sudah melewati tempat ini
Namun, Asha belum singgah di toko manapun. Ia hanya tadi," Asha menunjuk sebuah jembatan kayu yang
berjalan kesana kemari tanpa tujuan. melewati sungai kecil.
"Aku masih penasaran," balas Asha singkat "Sedari tadi kita hanya berputar-putar lady," Leila
melihat sekeliling, orang-orang lokal mulai
Berbeda dengan Leila yang terus khawatir, Asha
memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.
terlihat lebih bersemangat dari pada pagi tadi. Matanya
berbinar melihat keindahan kota primitif itu. Tidak ada "Jika tidak ada toko yang ingin lady kunjungi,
bau karet terbakar atau asap knalpot. Yang ada hanya sebaiknya kita pulang saja" imbuhnya.
"Hmm... biar ku pikirkan," Asha kembali Tubuh Asha terbentur kayu dan batu di tepi
melangkah. Ia berjalan menuju jembatan itu dan sungai, goresan panjang muncul di lengan dan
berhenti di pertengahan. tangannya. Darah hangat mengalir ke telapak
tangannya. Leila terhantam tepi batu, pelipisnya
Pandangannya jatuh pada air sungai yang
berdarah, dan napasnya tercekat oleh rasa sakit.
mengalir lembut, penuh ketenangan. Ia dapat melihat
bayangannya di sana. Leila mengikutinya dari belakang. Orang-orang mulai mendekat. Bisik-bisik naik
seperti dengung serangga. Tidak satu pun membantu
"Wah, indahnya," gumam Asha pelan. Kakinya
Leila. Asha berhasil diangkat lebih dulu dari air, basah,
menaiki kayu di pembatas jembatan untuk melihat
gemetar, dan merasakan setiap goresan pada kulitnya.
pantulan bulan di permukaan air lebih jelas.
Leila masih setengah terendam, darah menetes di wajah
Untuk sesaat, Asha merasa damai. Namun dan lengannya, gemetar dan meringis menahan nyeri.
pikirnya lagi-lagi kembali memutar masa lalu, membuat Di atas jembatan, orang-orang berteriak dan
dadanya mulai terasa berat. melemparkan tali. Semua mata tertuju pada Asha, tapi
yang benar-benar terluka adalah Leila.
Tanpa sadar telapak kakinya bergeser, berat
tubuhnya condong ke depan, dan pegangan kayu itu ia Bahkan beberapa orang sempat mengatai Leila
lepaskan sepenuhnya. tidak kompeten dalam pekerjaannya. Alhasil, Ashalah
yang lebih dulu di pastikan keadaannya. Sedangkan
Leila berteriak, terlambat setengah detik.
Leila sibuk dengan rasa takut yang mengalahkan rasa
Tangannya berhasil meraih lengan Asha, tapi tarikan itu
sakitnya.
justru menyeretnya ikut kehilangan pijakan. Kayu tua
berderak. Keduanya jatuh bersamaan. Sunyi dingin malam itu menempel, lebih berat
dari air yang baru saja mereka hadapi. Asha menatap
Leila yang terluka. Tangannya mengepal. Pikirnya terus
menyangkal rasa bersalah.
"...kasihan lady," bisik suara seorang wanita, "Hukuman cambuk?" bisiknya pelan pada
mungkin salah satu pelayan. keheningan. Tubuhnya menegang. Ia berusaha
menyangkal rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.
"Syukurlah tabib bilang ia baik-baik saja... Tapi
bagaimana nasib Leila ya? Dia pasti mendapat hukuman "Itu bukan salahku. Siapa suruh dia menolongku,
berat. Yah.. siapa suruh juga dia tidak hati-hati menjaga aku tidak pernah memintanya" suara Asha gemetar. Ia
Lady," sahut suara lain, terdengar lebih muda. memeluk lututnya erat, menyembunyikan wajahnya
yang mulai basah di balik rambut ikalnya.
"Ssst! Jangan keras-keras! Nanti Lady terganggu.
Kalian tahu kan seberapa menakutkannya Lady ketika Air mata panas yang ia tahan sejak subuh
marah. Aku dengar Leila di beri hukuman cambuk dan akhirnya tumpah, membuat bahunya bergetar tanpa
di kerja paksa di gudang timur." sela yang lain. suara.
"Tapi syukurlah Leila tidak mendapat hukuman Setelah tangisnya mereda, ia melepaskan
tambahan dari Lady dan hanya menerima hukuman dari pegangan dari lututnya, bangkit perlahan, tubuhnya
Duke" terasa kaku dan berat. Dengan langkah gontai, ia
berjalan melintasi ruangan menuju balkon. Ia
"Huh tunggu saja Lady kembali sehat. Dia pasti
menjatuhkan pandangannya pada taman kastil yang
kembali marah marah seperti dulu,"
tertata rapi.
Keputusasaan yang dingin merayap dalam dirinya. Asha berhenti sejenak. Kepalanya menegadah ke
Dengan gerakan pelan, ia menaiki pagar pembatas atas melihat langit yang ikut bersedih.
balkon.
Ah, benar juga... kalau aku mati di sini ... aku
Asha memejamkan matanya. Pandangannya hanya membuat pelayan ini mendapat masalah seperti
kosong begitupun dengan pikirannya, sehingga ia tidak Leila. Aku tidak ingin membuat siapapun menderita.
menyadari suara ketukan pintu yang menunggu
Asha menghembuskan napas panjang, berat,
jawaban.
seolah paru-parunya baru diingatkan cara bekerja.
"Aku memang tidak pantas hidup," gumam Asha Pegangan pelayan di pinggangnya gemetar, namun
sambil tersenyum getir bersiap menjatuhkan diri. tidak melemah.
Pada saat yang bersamaan, pelayan yang tidak “Lepaskan aku,” ucap Asha pelan. Tidak marah.
mendengar suara apapun dari dalam kamar akhirnya Tidak histeris. Hampa.
memaksakan diri masuk.
Pelayan itu menggeleng keras, hampir menangis.
Matanya terbelalak melihat Asha yang hendak “T-tidak, Lady. Saya mohon"
menjatuhkan diri. Dengan sekuat tenaga, ia berlari dan
Asha terdiam. Kakinya gemetar, bukan karena
langsung meraih pinggang Asha. Terlambat sedetik saja
takut mati, tapi karena sadar bahwa kematiannya juga
dapat mengubah nasibnya.
punya dampak buruk.
"L-lady... saya mohon... jangan lakukan ini," Suara
Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat wajah
pelayan itu bergetar.
pelayan itu. Wajah pucat, mata merah, bibir bergetar
"S-saya yakin... putra mahkota juga tidak ingin menahan isak. Wajah yang sama seperti Leila semalam.
anda melakukan ini..." lanjutnya kini dengan isakan.
“Turunkan aku,” kata Asha akhirnya, suaranya "Baik" Pelayan itu kembali membungkuk dalam,
serak. “Aku… tidak akan melompat.” terlalu dalam.
Pelayan itu ragu, seolah takut keputusan itu akan Kalau begitu... andai saja aku bisa sedikit
menguap jika ia bergerak terlalu cepat. Tapi perlahan berguna. Itu akan lebih baik. Konflik batin Asha di balik
menarik Asha. Begitu kaki Asha menyentuh lantai selimut.
balkon, tubuhnya langsung kehilangan tenaga. Lututnya
lemas. Ia hampir jatuh jika pelayan itu tidak sigap
menopangnya. Archduke Kaivor melangkah keluar dari sayap
Dewan Penasihat Istana Calvaris, di mana langit fajar
"Maaf karna merepotkanmu," ucap Asha dingin telah berubah menjadi mendung penuh awan, sehingga
udaranya terasa menusuk.
sebelum ia perlahan bangkit dan berjalan menuju
ranjangnya. Laporan lisan yang baru saja ia berikan di
hadapan Kaisar Lucius, Putra Mahkota Clexo, dan
“Mohon jangan mengatakan demikian, Lady.” seluruh Dewan Penasihat berjalan persis seperti yang ia
rencanakan. Dingin. Efisien. Tidak emosional. Ia
pelayan itu menunduk dalam, lalu bertanya "apakah
menyajikan fakta mentah mengenai Nox, membuktikan
saya perlu memanggil tabib?" bahwa ia telah menyelesaikan misi penyelidikannya, dan
dengan cerdik memutarbalikkan tanggung jawab untuk
"Tidak" jawab Asha singkat. Ia berbaring dan tindakan selanjutnya kepada Dewan.
menarik selimut agar menutupi wajahnya.
Tidak ada yang bisa menuduhnya berbohong atau
“Sarapan telah disiapkan, Lady. Saya… akan gagal dalam misinya. Kaivor telah menggunakan aturan
Istana melawan para Dewan, meninggalkan mereka
membawanya jika Lady menghendaki.” berdebat tentang logistik militer alih-alih integritasnya.
"Ya, sajikan saja di atas meja. Aku akan Kaivor berjalan melewati aula marmer yang luas,
memakannya nanti" Balas Asha. jubah kulitnya yang sederhana tampak kontras
mencolok di antara penjaga berlapis perak yang tegak “Lihat itu, James. Mereka takut padaku. Dan
lurus. selama ketakutan itu ada, apa gunanya rasa hormat,”
Kaivor melanjutkan langkahnya. Namun, tatapannya
Di belakangnya, Komandan James mengikuti
menyiratkan keraguan.
dengan langkah cepat, napasnya memburu.
James terdiam sesaat, matanya mengawasi
“Kaivor, kau benar-benar tidak waras,” bisik
seorang pelayan wanita yang buru-buru menjatuhkan
James, menyamakan langkah saat mereka mencapai
keranjang cuciannya hanya untuk berbalik dan
koridor yang lebih sepi. “Kau tahu betapa marahnya
melarikan diri dari hadapan Kaivor.
Kaisar saat kau menyerahkan laporanmu dengan santai
seolah itu hanya berita cuaca? Mereka akan mencari Ia adalah orang yang menyaksikan bagaimana
celah lain!” Kaivor di siksa dan terus melalui banyak percobaan
pembunuhan sejak kecil. Dan perlakuan itu
“Hiii…takutnya…” Ucap Kaivor dengan wajah
menghasilkan Kaivor yang sekarang.
dinginnya.
Namun, siapa yang tahu bahwa di balik sifatnya
James menggertakkan gigi, frustrasinya
yang acuh tak acuh itu, ternyata Kaivor selalu diam-
memuncak. “Ini bukan lelucon! Mereka akan
diam mengamati ketika melewati kediaman Marquees
menggunakanmu sebagai kambing hitam untuk
Seymour.
kegagalan militer apa pun di perbatasan! Setidaknya
buat orang lain menghormatimu, Mereka harus tunduk
padamu!”
Lampu-lampu kunang-kunang kecil menggantung
“Aku tidak butuh rasa hormat,” balas Kaivor tanpa di pepohonan tua, memancarkan cahaya keemasan yang
menoleh. Ia lalu berhenti sejenak memperhatikan hangat. Udara berbau segar bunga-bunga malam dan
sekitar. embun dingin yang menempel di bangku batu. Siluet
menara-menara kastil yang megah menjulang di bawah
Terlihat para pelayan dan tukang kebun istana
langit gelap yang bertabur bintang, menciptakan
selalu bergidik ngeri saat melihatnya. Mereka selalu
pemandangan yang sunyi dan damai.
memberikan jarak aman bahkan berusaha agar tidak
menatap sang Archduke. Bisik-bisik tentang pembawa Asha berdiri di tepi gazebo, menyandarkan
kutukan pun berdengung di sekitarnya. tubuhnya pada pagar kayu yang mengelilingi bangunan
kecil itu. Kedua tangannya bertumpu pada pembatas, "Bagaimana keadaan Leila, ya?" Pandangannya
jemarinya terkulai lemas seolah sedang melepas seluruh menyapu ke arah langit berbintang. Entah sejak kapan
penat yang ia bawa sepanjang hari. Di bawah temaram ia menjadi terus mengkhawatirkan Leila.
lampu taman, bayangan bulu matanya jatuh menyentuh
Perasaan bersalah mencengkeramnya lebih kuat
pipi, mempertegas gurat kesedihan yang coba ia
daripada rasa bingung akan dunia baru ini. Semua
sembunyikan.
penderitaan yang dialami Leila, semua hukuman dan
Perih dari goresan di tangannya masih terasa, mata dingin yang ia terima, berawal dari kebodohan
namun ia justru membiarkan rasa sakit itu dan ke egoisannya sendiri.
menemaninya di tengah keheningan. Ia menatap kosong
"Semua orang di sini baik padaku, meski dengan
ke arah kegelapan taman; meski tubuhnya ada di sana,
cara yang aneh. Tapi aku malah menyusahkan mereka."
pikirannya telah mengembara entah kemana, tenggelam
Asha memejamkan matanya, berharap dapat
dalam lamunan yang dalam. Angin malam yang dingin
menghilangkan beban di dadanya.
hanya dibalasnya dengan helaan napas panjang,
membiarkan rambut ikalnya berantakan tanpa ada niat "Atau tidak!" Asha kembali membuka matanya. Ia
untuk merapikannya. akhirnya menyadari bahwa ia dapat melakukan sesuatu.
Di benaknya ia kembali bertanya-tanya mengapa Ia kemudian berbalik, celigukan mencari pelayan
ia bisa sampai ke dunia yang asing ini. Ia menghitung di sekitar taman. Saat menemukan satu di dekat air
segala kemungkinan reinkernasi dan halusinasi yang mancur, ia segera mendekatinya.
dapat membuatnya terdampar di dunia ini. Semua ini
terlalu nyata untuk sekedar mimpi. Namun, tidak ada "Permisi" panggil Asha pelan.
sedikitpun pengetahuan ilmiahnya yang dapat
Meski suara Asha memanggilnya dengan lembut,
menjelaskan fenomena ini.
namun pelayan itu tetap saja terkejut sambil ketakutan.
"Bodoh... aku malah memikirkan hal-hal seperti
"I-iya lady. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya
ini. Padahal sudah jelas aku ini gila" gumamnya sambil
sambil membungkuk dalam.
menyandarkan kepalanya di dinding.
"Kau tahu di mana Leila di hukum?" Tanya Asha.
Mendengar kata hukuman dan Leila, pelayan itu Nada bicaranya sopan, tapi jaraknya terasa jelas.
langsung menelan ludah. Jantungnya berdegup Bukan tunduk. Lebih berjaga-jaga.
kencang. Ia berpikir bahwa Lady Asha ingin menambah
“Antar saja aku ke sana,” ucap Asha singkat.
hukuman Leila, seperti biasanya.
Pelayan itu menelan ludah, rahangnya mengeras.
"Halo..." Asha melambaikan tangan
Ia membungkuk singkat, tidak sedalam sebelumnya.
menyandarkan pelayan yang sedang termenung itu.
“Baik, Lady. Mohon Lady mengikuti saya.”
"I-iya lady... Leila sedang di hukum di g-gudang
Ia berbalik lebih dulu, langkahnya cepat dan
utara," jawabnya tidak ingin membuat Asha kesal.
lurus, seolah jika ia berhenti terlalu lama, sesuatu yang
"Bisa antar aku ke sana?" Tanya Asha lagi. Ia buruk akan menyusul dari belakang.
mengerutkan kening. Kenapa pelayan ini gemetar?
Apakah gudang itu begitu menakutkan, atau apakah ada
sesuatu yang lebih buruk tentang kehadirannya sendiri? Lampu minyak yang digantung tinggi di Ruang
Prive Kaisar Lucius memancarkan cahaya yang lembut,
Pelayan itu menegang seketika. Bahunya lurus,
kebalikan dari penerangan kaku di Aula Dewan. Udara
dagunya terangkat sedikit, seolah sedang bersiap
di ruangan itu beraroma dupa cendana mahal. Di luar,
menerima bentakan.
malam telah larut, dan hanya bunyi gesekan pulpen di
“I-iya, Lady,” jawabnya cepat, terlalu cepat. atas kertas yang terdengar.
Tangannya mengepal di balik lengan baju, kuku
Kaisar Lucius, mengenakan jubah tidur sutra alih-
menekan telapak kulitnya sendiri. “Leila sedang
alih pakaian kerajaan resminya, duduk di meja kerjanya.
menjalani hukuman di gudang utara. Ia… ia sudah
Di seberangnya, Lord Kaelus, Penasihat Kepercayaan
diberi perintah untuk tidak meninggalkan tempat.”
Utama, berdiri dengan sikap tenang dan patuh. Mereka
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan baru saja selesai meninjau berkas-berkas pengajuan
suara kaku, “Jika Lady berkenan, saya bisa dana untuk perbaikan jalan di wilayah timur, namun
menyampaikan bahwa Lady ingin menemuinya. Atau… topik pembicaraan mereka telah lama beralih.
saya bisa memanggil kepala pelayan terlebih dahulu.”
“Anak itu,” Lucius menyentuh berkas kosong di Kaelus mengerutkan kening.
mejanya, seolah dokumen itu adalah Kaivor sendiri.
Lucius menutup berkas itu perlahan. “Namun,
“Archduke Kaivor.”
semua orang akan patuh,” katanya. “Setelah kehilangan
Lord Kaelus mengangguk tipis. “Yang Mulia, dia cukup banyak hal.”
berhasil membelokkan seluruh Dewan Penasihat ke
Lucius kemudian memiringkan kepalanya,
dalam perdebatan logistik. Sebuah manuver yang
pandangannya menjadi lebih tajam dan serius.
brilian. Tidak ada yang pernah berani melemparkan
tanggung jawab secepat dan seefisien itu.” “Bagaimana keadaan Duke Stravellin saat ini?”
Lucius menarik sebuah berkas yang menumpuk di atas
Lucius tersenyum tipis. “Darah Ascendata
meja.
memang tidak pernah gagal, meski darahnya hina.
Sayang, tidak ada yang mengarahkannya sejak kecil, Lord Kaelus mengalihkan fokusnya dengan cepat,
sehingga ia tumbuh tanpa loyalitas.” Kaisar menghela dari Archduke yang berbahaya ke Duke yang
napas, menyayangkan. “Dia hanya melayani menyedihkan.
kepentingannya, bukan aku.”
“Secara militer, ia tetaplah legenda hidup, Yang
“Tidakkah Yang Mulia khawatir?” tanya Kaelus Mulia. Loyalitasnya tak perlu diragukan. Namun, secara
pelan. “Meskipun dia membawa hasil, laporan yang ia finansial, dia hancur total,” jawab Kaelus tanpa perlu
berikan adalah ancaman terselubung terhadap otoritas melihat catatan. “Utangnya pada Bank Kekaisaran telah
Yang Mulia. Dia memaksa tangan Dewan untuk dilelang. Lord Valerius mengambil alih pengelolaan
bertindak tanpa persetujuan langsung dari Anda, hanya kredit macet itu dua hari yang lalu, dan saya mendengar
untuk membuktikan bahwa dia tidak dapat disalahkan.” ia bertindak agresif.”
Kaisar Lucius bersandar, menatap api kecil yang Lucius membuka berkas Stravellin,
menari di tungku. memperlihatkan peta wilayah kecil yang diarsir.
“Tambang Virdae?”
“Tentu aku khawatir. Archduke tanpa loyalitas
adalah pedang yang bisa berputar ke arah mana saja. “Itu aset agunan utama, Yang Mulia. Kehilangan
Tapi, Kaelus, aku tidak marah. Justru aku merasa… tambang itu sama dengan kehilangan sumber
cukup terhibur.” pendapatan tunggal keluarga Stravellin. Duke Stravellin
tidak akan mampu bertahan lebih dari tiga bulan membuang mereka setelah bosan. Mengirim Asha ke
setelah penyitaan.” Kaelus berhenti sejenak, wajahnya sana bukan kehormatan, melainkan penghinaan yang
menunjukkan keraguan. “Yang Mulia, bukankah kita mematikan.
bisa… campur tangan? Duke Stravellin telah
“Dengan satu pernikahan, utang keluarga
memberikan begitu banyak bagi Kekaisaran.”
Stravellin lunas, mengabulkan keinginan Lady Asha,
Kaisar Lucius meletakkan berkas itu dengan dan mengamankan aliansi dengan Lix. Sebuah langkah
gerakan yang rapi. Matanya tidak menunjukkan yang efisien, bukankah begitu, Kaelus?” tanya Lucius,
kasihan. matanya berbinar, mengabaikan kengerian di wajah
Kaelus.
“Campur tangan? Tentu saja. Mau bagaimana
pun, Duke Stravellin rela melepas status netralnya demi Kaelus membungkuk, menelan komentar apa pun
kekaisaran.” Kata Lucius dingin. “Lady Asha juga sangat tentang moralitas rencana itu. “Sangat efisien, Yang
menginginkan posisi putri mahkota kan? Aku juga akan Mulia. Namun, bagaimana dengan Duke? Duke
mengabulkan itu” Ia mengambil sebuah amplop dari laci Stravellin pasti tidak akan menyetujui pernikahan itu
mejanya. dengan mudah”
Amplop itu di segel oleh simbol Kerajaan Lix, “Itulah tugasmu Kaelus. Buat Duke tidak memiliki
kerajaan yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran harapan lain,” kata Lucius, suaranya tenang, tetapi
Calvaris di barat. mengandung ancaman yang tidak terucapkan. “Biarkan
Valerius terus menekan. Pastikan Duke tahu bahwa
“Apa yang mulia—”
dalam tujuh hari, Tambang Virdae dan kehormatan
“Iya… Putra mahkota kerajaan Lix pasti akan keluarganya akan hilang, kecuali ada keajaiban.”
senang menerima Lady Asha sebagai putri mahkotanya.
“Namun, aku sedikit bertanya-tanya. Untuk apa
Walaupun pangeran Gorok sudah sedikit tua,” Lucius
sebenarnya duke memperjuangkan gadis menyedihkan
menyelesaikan kalimat Kaelus dengan senyum tipis dan
itu? Tidak ada yang bisa di banggakan dari Lady Asha
berbahaya.
selain parasnya yang menawan.” Lucius mengetuk-
Lord Kaelus menegang. Ia tahu reputasi Putra ngetukkan jarinya pada meja.
Mahkota Lix, Pangeran Gorok. Seorang pria tua yang
dikenal karena nafsu liarnya terhadap wanita muda, lalu
Lord Kaelus berpikir sejenak, wajahnya
menunjukkan refleksi.
“Duke selalu percaya ada yang salah pada gadis Duke Stravellin duduk di belakang meja
itu, padahal kebodohan itu sebenarnya sifat dasar mahoninya yang besar. Pakaiannya rapi, tetapi kantung
Asha.” Tambah Kaelus singkat. di bawah matanya menunjukkan bahwa tidur nyenyak
telah lama meninggalkannya. Di depannya, Kepala
Lucius mendengus, ekspresinya mencemooh.
Pelayan Master Elian berdiri tegak, memegang baki
“Untung saja Clexo memutuskan untuk membatalkan
perak berisi surat-surat pagi.
pertunangan mereka. Aku tidak dapat membayangkan
jika memiliki menantu yang bodoh seperti dia,” “Ada yang penting, Elian?” tanya Duke, suaranya
serak. Ia memijat pangkal hidungnya, sudah lelah
bahkan sebelum hari dimulai.
“Asha, bagaimana keadaanmu?” Duke bertanya Duke Stravellin berdiri terpaku. Asha yang dulu
lembut, menjaga suaranya tetap rendah agar tidak akan menyalahkan angin, jembatan, bahkan Leila
terdengar seperti teguran. “Ayah sudah membatalkan sendiri, tetapi tidak akan pernah mengakui
hukuman Leila secara resmi. Tindakanmu… itu tidak kecerobohannya.
bijak, tapi Ayah tidak akan menghukummu karenanya.”
“Kau… tergelincir?” Duke mengulang, suaranya merasakan sedikit kehangatan yang belum pernah ia
mengandung nada yang nyaris tidak percaya. Selama rasakan sebelumnya, kehangatan keluarga.
ini, dia hanya menerima laporan bahwa Leila melakukan
kesalahan, dan Asha selalu menguatkan laporan itu
dengan kemarahannya. Dan sejak kapan Asha pandai Matahari sore di ibu kota tidak sesejuk di wilayah
berbicara seperti itu? Utara, tapi tembok tinggi Mansion Varkas memberikan
bayangan yang cukup untuk menutupi arena latihan di
“Ya, Ayah,” jawab Asha, pandangannya tetap
halaman belakang. Lantainya terbuat dari batu alam
lurus, tatapannya dingin namun jujur
yang dipahat kasar—desain fungsional di tengah
Asha kemudian memberi jeda. Berpikir mengenai kemewahan—agar para ksatria tidak mudah tergelincir
reaksi Duke. saat bermanuver.
“Aku minta maaf atas kecerobohanku” lanjut Kaivor berdiri di tengah arena, tanpa baju zirah.
Asha, mempertahankan nada suaranya yang tenang dan Ia hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing
logis. atasnya terbuka dan celana hitam formal. Meski
berpakaian santai, aura predatornya tidak hilang.
Duke Stravellin menyentuh bahu Asha dengan
kedua tangannya. Di sekeliling Kaivor, empat ksatria elit Nordia
sudah mengambil posisi. Mereka tidak menggunakan
“Ayah… Ayah sangat bangga padamu, Nak,” bisik
pedang kayu; James ingin latihan ini terasa nyata, maka
Duke Stravellin. Matanya berkaca-kaca. “Bertanggung
mereka menggunakan pedang tumpul berbahan baja
jawab atas kesalahanmu, dan mengatakan yang
berat.
sesungguhnya. Ini adalah sifat seorang Stravellin yang
sesungguhnya.” “Maju,” perintah Kaivor pelan.
Ia merangkul Asha, pelukan yang erat dan Ksatria pertama menerjang dengan serangan
panjang. diagonal slash yang kuat. Kaivor tidak berkedip. Saat
bilah baja itu nyaris menyentuh kemeja linennya, ia
Asha sedikit kaget, namun ia tidak merespon
memutar tubuhnya searah jarum jam. Gerakannya
pelukan itu dan hanya diam mematung. Namun, ia
begitu presisi sehingga ujung pedang lawan hanya
membelah udara di depan dadanya.
Tanpa membuang momentum, Kaivor “Sekarang giliranmu,” Kaivor mengacungkan
menghantamkan gagang pedang kayunya ke pedangnya ke arah James. Napasnya bahkan tidak
pergelangan tangan lawan. memburu.
“Mungkin mereka sudah bosan kalah terus,” Kaivor tidak menjawab. Ia menelan semua ejekan
jawab Kaivor santai. itu bulat-bulat.
“Dasar sombong.” James mendengus, berjalan “Lagi pula,” James melanjutkan, suaranya kini
mendekat sambil memutar-mutar botol air di tangannya lebih pelan dan sedikit lebih serius, “Festival
sebelum melemparkannya ke arah Kaivor. “Bicara soal Kemerdekaan sebentar lagi akan digelar. Seperti
bosan… bagaimana, apakah Lady Clarrisa sudah tradisi, akan diselenggarakan pesta dansa. Bagaimana
mengirimmu undangan?” tanya James sambil jika kau yang awalnya selalu datang sendiri akhirnya
menyeringai licik. membawa Lady Clarrisa bersamamu?”
Mendengar kalimat itu, Kaivor hampir tersedak “Dia tidak akan mau,” gumam Kaivor akhirnya.
air yang baru saja masuk ke tenggorokannya. Ia Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desis angin
terbatuk kecil, mencoba menguasai diri sementara sore.
matanya menatap tajam ke arah James yang kini terlihat
“Kau belum mencoba, kawan.” James bangkit
sangat puas dengan reaksinya.
sambil menepuk bahu kaku Kaivor.
“Diam kau,” desis Kaivor, suaranya sedikit parau.
Ia berjalan melambaikan tangan tanpa menoleh,
Ia menyeka sisa air di bibirnya dengan punggung
meninggalkan Kaivor sendirian di tengah arena yang
tangan, namun telinganya tidak bisa berbohong—sedikit
kini sepenuhnya tertutup bayangan. Angin sore
rona merah tipis muncul di sana.
membawa hawa dingin yang familiar, namun kali ini,
“Kalau dipikir-pikir lagi, kau selalu memberinya dada Kaivor terasa jauh lebih berat daripada udara
hadiah secara diam-diam. Jangan-jangan…” musim dingin di Nordia.
Posturnya yang terlalu lurus, bahunya yang tegang, dan
kepalanya yang menunduk dalam-dalam menunjukkan
Sore telah jatuh sepenuhnya. Cahaya matahari
kelelahan dan rasa takut yang mendalam.
yang mulai meredup menyebarkan semburat jingga di
sepanjang lorong-lorong batu kastil, menciptakan Asha mencengkeram gaunnya, dadanya kembali
bayangan panjang di atas lantai marmer tua yang digerogoti oleh rasa bersalah. Goresan di tangan yang
tampak temaram. Asha, dengan napas yang masih ia dapatkan saat jatuh dari jembatan terasa perih
sedikit teratur setelah baru saja selesai berjalan-jalan kembali, seolah mengingatkannya bahwa ia yang
menghirup udara luar, melangkah pelan menyusuri menyebabkan semua ini.
koridor yang sunyi.
Ia mempercepat langkahnya.
Asha menghela napas. Pelukan Duke terasa
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Leila
seperti oasis—hangat dan nyaman, namun aneh dan
tersentak. Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu segera
asing. Ironisnya, kehangatan figur seorang ayah yang ia
menunduk lagi saat menyadari itu adalah Lady Asha.
rindukan kini datang dari orang asing di dunia ini,
sesuatu yang gagal ia temukan dari ayahnya di “Lady,” sapa Leila dengan nada yang sangat
kehidupan yang sebenarnya. rendah, hampir menyembunyikannya dari udara.
“Mohon maaf karena mengganggu waktu istirahat Lady.
Ketika ia mendekati belokan menuju sayap
Saya hanya… menunggu di sini.”
kamarnya, ia melihat sosok yang dikenalnya berdiri
kaku di depan pintu. Ia menunggu instruksi, atau lebih mungkin,
teguran. Rasa terima kasih semalam telah bercampur
Itu adalah Leila.
kembali dengan ketakutan yang dingin.
Pelayan itu mengenakan pakaian pelayan yang
“Aku menyuruhmu istirahat,” kata Asha, suaranya
bersih dan rapi—tanda bahwa ia baru saja bersiap
lebih tajam dari yang ia inginkan.
setelah semalam dibebaskan. Namun, kondisinya secara
fisik jauh dari kata baik. Ia tampak jauh lebih kurus Leila menelan ludah, ketakutan yang ia rasakan
hanya dalam beberapa hari hukuman. Di lengan yang semalam kembali menguasai. “Saya sudah istirahat,
tidak tertutup oleh lengan baju, terlihat samar-samar Lady. Saya sudah tidur beberapa jam. Saya… saya harus
memar kebiruan dan goresan yang belum sembuh.
mulai bekerja. Lady pasti membutuhkan bantuan untuk lima pria aparatur hukum berpenampilan formal.
persiapan esok hari, dan saya harus membersihkan…” Mereka membawa papan klip dan koper besi.
Helena mengangguk pelan, menyandarkan "Sudah saya katakan, Lady Asha," suara petugas
kepalanya di bahu Clexo. “Iya, kau benar. Aku hanya itu terdengar meremehkan, cukup keras hingga orang-
berharap orang-orang berhenti membicarakannya yang orang yang lewat menoleh. "Membaca kontrak bukan
buruk-buruk. Walaupun dulu dia sering mengunci seperti membaca buku alfabet. Istilah Acceleration
pelayannya di gudang atau merobek gaun orang lain, Clause bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh... yah,
aku yakin jauh di dalam hatinya, dia tetap Lady yang seseorang yang biasanya hanya peduli pada warna pita
terhormat. Aku akan berdoa agar dia segera pulih dan gaun. Sebaiknya Anda pulang saja."
bisa menerima keadaan barunya yang… sederhana.”
Beberapa orang di sekitar mulai berbisik,
Clexo hanya terdiam, memeluk Helena dengan menertawakan Asha yang memang punya reputasi
erat. Di pikirannya, gambaran Asha yang kejam dan sebagai bangsawan yang hanya tahu hura-hura. Leila,
sombong semakin kontras dengan Helena yang begitu yang berdiri di samping Asha, menunduk dalam-dalam,
pemaaf dan suci. Ia semakin yakin bahwa pilihannya wajahnya merah padam karena malu.
untuk meninggalkan Asha adalah hal terbaik yang
"Lady, ayo kita pergi dari sini..." bisiknya gemetar.
pernah ia lakukan.
Asha berhenti melangkah. Ia tidak berteriak, juga
tidak terlihat tersinggung. Ia justru berbalik perlahan
dan menatap petugas itu dengan tatapan malas, seolah Asha mendengus pelan, lalu berbalik melangkah
sedang melihat serangga yang berisik. pergi. Ia berjalan menyisir trotoar batu Ibu Kota,
mengabaikan Leila yang masih mengekor dengan napas
"Tuan petugas," suara Asha tenang namun jernih.
yang tidak beraturan akibat terkejut.
"Istilah itu memang terdengar keren kalau kau hanya
membacanya setengah-setengah. Tapi di kontrak Namun, di balik postur tegak Asha yang
ayahku, ada catatan kecil di bagian bawah—yang sempurna, ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan
mungkin kau lewatkan karena terlalu sibuk dengan logika.
memperhatikan pita gaun orang lain."
Kruyuuuk...
Asha mengangkat satu alisnya, tersenyum tipis
Suara itu muncul dari balik korset gaunnya yang
yang meremehkan.
ketat, bergema cukup panjang di antara kesunyian
"Penyitaan itu butuh surat peringatan sebulan koridor jalan yang kini mulai menjauh dari kerumunan.
sebelumnya. Dan sejauh yang kuingat, ayahku baru
Langkah Asha membeku seketika.
diberitahu beberapa hari sebelumnya. Jadi, secara
logika sederhana... prosedur kalian cacat." Asha Leila, yang sedari tadi berjalan dengan kepala
mengedikkan bahu ringan. "Mungkin kau perlu sekolah tertunduk dan bahu gemetar, tersentak. Ia mengangkat
lagi, atau setidaknya beli kacamata baru agar bisa wajahnya, mengerjapkan mata beberapa kali, melirik ke
membaca catatan kaki dengan benar." arah perut Asha.
Petugas itu bungkam, wajahnya berubah dari "Lady... apakah Anda lapar?" Leila menggantung
pucat menjadi merah tua karena malu di depan orang kalimatnya, takut jika pertanyaannya justru akan
banyak. memicu kemarahan Lady-nya yang baru saja bertindak
seperti singa.
Asha berdehem sejenak, sebelum menjawab Asha duduk dengan punggung tegak,
dengan suara yang masih sedingin es. "Mungkin..." menyandarkan kepalanya pada sandaran bangku yang
dingin. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba
Rasa terkejut Leila perlahan berganti menjadi
meredam denyut di pelipisnya. Namun, ketenangan itu
secercah semangat. Ini adalah pertama kalinya Lady
tidak bertahan lama. Keheningan taman segera pecah
Asha menunjukkan kebutuhan manusiawi yang normal
oleh langkah-langkah kaki yang sengaja diperlambat
sejak sadar dari koma, dan bagi Leila, itu adalah
dan desas-desus yang tajam.
peluang untuk menjadi berguna.
"Lihat itu," bisik sebuah suara wanita yang
"Ah! Tentu saja, Lady! Bodohnya saya sampai lupa
melengking pelan, disusul suara kipas yang dikibaskan.
waktu." Leila buru-buru merogoh kantong kecil di
"Bukankah itu perempuan tercantik di Kekaisaran ini?
pinggangnya, memastikan beberapa keping koin perak
Kudengar dia sudah benar-benar gila setelah
masih ada di sana. "Di dekat persimpangan depan, ada
dicampakkan Putra Mahkota."
kedai yang terkenal dengan sup krim dan roti gandum
hangatnya." "Ssst, suaramu terlalu keras, Lady," sahut yang
lain dengan nada yang sama sekali tidak tulus. "Tapi
"Bisa tolong kau belikan untukku? Aku akan
kau benar, lihat saja tatapannya. Kosong sekali. Kasihan
menunggu di bangku taman itu." Asha menunjuk sebuah
Duke Stravellin, sudah jatuh miskin, satu-satunya
bangku taman tak jauh dari posisi mereka berdiri.
pewarisnya malah kehilangan akal sehat."
"Baik, Lady."
Asha tetap diam. Ia tidak membuka mata, apalagi
Asha melangkah menuju bangku kayu panjang membalas. Ia bahkan tidak merasa sedang dibicarakan.
yang terletak di bawah bayangan pohon ek tua. Di kehidupan sebelumnya, ia sudah mendengar yang
lebih parah. Namun, para bangsawan yang melintas
tampaknya merasa terhibur dengan kehadiran sosok penasaran yang intens, hewan itu mengeluarkan suara
yang mereka anggap sebagai lelucon hidup. "triiill" yang nyaring sebelum melesat pergi—bukan lari
di atas tanah, melainkan melompat-lompat di udara
Keheningan kembali menyelimuti taman setelah
seolah ada pijakan transparan di sana.
kerumunan bangsawan itu menjauh. Asha membuka
matanya perlahan, menatap dedaunan ek yang Asha refleks mengejar. Makhluk itu terlalu
bergoyang pelan tertiup angin. menggemaskan untuk dilupakan begitu saja. Ia tidak
peduli pada gaun mahalnya yang tersangkut ranting
Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu yang
atau tatapan aneh para bangsawan yang masih tersisa
asing. Seekor hewan menyerupai anak kucing yang
di taman.
mungil dan menggemaskan, dengan bulu didominasi
warna biru muda dan putih yang cerah, serta memiliki Asha terus berlari kecil, mengikuti jejak pendar
sepasang tanduk biru seperti rusa di kepalanya. Hewan biru yang ditinggalkan makhluk itu di antara sela-sela
itu sedang melompat-lompat di udara sekitar pohon itu. pohon ek. Makhluk itu sangat lincah, berbelok tajam di
balik pohon besar di ujung taman dan menghilang ke
"Anjir! Apaan tuh?" Asha sontak bangkit.
arah sebuah area yang lebih sunyi, di mana bayangan
Ia mematung, matanya melebar memperhatikan pohon-pohon terasa lebih dingin dan pekat.
makhluk kecil yang seolah-olah sedang berenang di
Asha berhenti di balik pohon tersebut, napasnya
udara, mengabaikan hukum gravitasi yang selama ini ia
sedikit memburu. Ia melongokkan kepalanya, matanya
agungkan.
menyisir semak-semak.
Makhluk kecil itu tersentak. Kepalanya yang
"Tadi lewat sini..." gumamnya. Asha terus
mungil menoleh cepat, menatap Asha dengan sepasang
melangkah, mengabaikan fakta bahwa ia telah
mata bulat. Seolah-olah tahu sedang diincar oleh rasa
meninggalkan kawasan pemukiman dan memasuki "Apaan sih, caper! Kau kira aku takut mati?"
hutan lebih dalam. protes Asha. Ia berjalan menuju semak raksasa itu lalu
mengintip di balik celah-celah daunnya.
Asha akhirnya melihat makhluk itu lagi. Makhluk
bertanduk biru itu sedang hinggap di sebuah dahan Dari celah tipis, Asha dapat melihat terdapat
rendah, membelakangi Asha. Ekornya yang panjang dan sebuah area terbuka kecil yang dikelilingi pohon-pohon
halus bergoyang-goyang, seolah sedang mengejek Asha tua yang menjulang tinggi di balik semak itu. Di
yang kini sudah berkeringat akibat mengejarnya. tengahnya berdiri seorang pria dengan postur tubuh
tegap dan profil samping yang sedikit familiar di mata
"Ayo sini, kawan kecil... aku ga gigit kok," bisik
Asha. Ia mengenakan pakaian kulit gelap yang praktis
Asha. Ia bergerak sepelan mungkin, menahan napas
untuk bergerak.
agar tidak menimbulkan getaran suara yang bisa
membuat makhluk itu kabur lagi. Pria itu sedang memegang busur hitam besar.
Tangan kirinya masih terangkat, posisi baru saja
Namun, tepat saat Asha hendak mengulurkan
melepaskan anak panah.
tangan, sebuah anak panah melesat beberapa senti dari
wajahnya, mengenai batang pohon di sebelahnya, dan "Ini bukan tempat wisata, Tuan Putri," suara
membuat hewan kecil itu lari ketakutan. Asha refleks bariton pria itu penuh peringatan yang dingin.
berbalik.
"No... way..." gumam Asha. Ia melangkah
Tidak ada siapa-siapa, hanya semak tinggi yang menyibak semak besar yang hampir
menghalangi pandangannya. menenggelamkannya menuju pria itu.
Kaivor menurunkan busur hitamnya perlahan, Gadis itu terus melangkah maju mendekatinya,
namun jemarinya masih menempel pada tali busur yang matanya menatap Kaivor dengan intensitas yang aneh.
baru saja bergetar. Ia tidak perlu menoleh untuk Tidak ada ketakutan atau rasa jijik di sana. Kaivor
mengetahui siapa yang bersembunyi di balik semak itu; refleks mundur; ia tidak terbiasa menghadapi situasi
indranya sudah menangkap pergerakan amatir itu sejak seperti ini.
lama.
"Kai? Kau juga hidup di dunia ini?" ucap gadis itu,
"Ini bukan tempat wisata, Tuan Putri," ucap membuat Kaivor semakin mengerutkan dahinya.
Kaivor dingin. Suaranya rendah, setajam mata anak
Kai? Dari mana ia tahu nama itu? tanyanya dalam
panah yang baru saja ia lepaskan.
hati.
Ia mengira akan mendengar pekikan kaget atau
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," jawab
umpatan seperti biasanya. Namun, yang terdengar
Kaivor, berusaha menjaga suaranya tetap tajam. Logika
hanyalah gumaman ganjil.
tempurnya mendadak macet. Jika ini adalah musuh, ia
"No... way..." akan langsung mematahkan lehernya. Namun, ini
hanyalah seorang gadis bangsawan yang bahkan tidak
Kaivor memutar tubuhnya sepenuhnya. Matanya
ia kenal, yang berniat ia takut-takuti agar tidak
menyipit saat melihat sosok gadis bangsawan
memasuki hutan berbahaya sendirian.
melangkah keluar dari rimbunnya semak. Gadis itu
tidak peduli pada ranting-ranting tajam yang menyabet "Kai, ini aku, Asha... As, kau ingat? As!" Kalimat
gaun mahalnya, atau semak berduri yang jelas-jelas itu meluncur begitu saja dari bibir si gadis, membuat
baru saja menggores kulit lengannya yang pucat hingga Kaivor semakin tidak nyaman. Ia menatap gadis di
mengeluarkan noda merah. depannya dengan tatapan menelisik.
"Lady Stravellin?" balas Kaivor, mencoba terlihat Kaivor membuang muka, mencoba memutus
normal. Ia belum pernah melihat Lady Asha Stravellin kontak mata yang menyiksa itu. Ia benar-benar tidak
sebelumnya dan hanya pernah mendengar melalui tahu bagaimana cara menangani situasi ini.
rumor sebagai wanita arogan yang bodoh.
Sial, di mana James saat aku membutuhkannya
"Bukan... Asha Alicia. Kau tidak mengingatku?" seperti ini?
Suara gadis itu terdengar kecewa. Mata birunya mulai
"Maaf... sepertinya aku salah orang," Asha
berkaca-kaca.
akhirnya angkat bicara. Suaranya lirih. Ia menyeka air
Kaivor terdiam, mematung di tempatnya. Ia lebih matanya dengan telapak tangan. "Tapi... kau sangat
suka menghadapi Nox atau serangan Malabys daripada mirip dengannya. Bolehkah aku tahu namamu?"
melihat hal itu. Karena entah kenapa, saat melihat gadis
Kaivor akhirnya memberanikan diri untuk kembali
itu menangis, Kaivor merasa telah menjadi monster
melirik ke arah Asha. Pertanyaan itu terdengar sangat
yang selama ini dicap padanya, dan ia benci hal itu.
absurd di telinganya. Siapa di Kekaisaran ini yang tidak
"Jangan menangis," ucap Kaivor cepat. Suaranya mengenal dirinya—si pembawa kutukan dari Nordia.
tidak lagi dingin, melainkan terdengar serak dan
"Kaivor," jawabnya singkat, suaranya kembali
canggung.
berat namun tanpa intimidasi yang biasa ia tunjukkan.
"Aku... aku tidak bermaksud..." Kalimatnya "Kaivor Varkas."
menggantung. Ia merutuki dirinya sendiri yang
Ia memperhatikan reaksi Asha ketika mendengar
mendadak gagap. "Dengar, Lady. Siapa pun 'Kai' yang
nama keluarga 'Varkas' yang identik dengan kekuasaan
kau cari, aku bukan dia. Tapi berhenti menatapku
besar itu. Namun, Asha hanya mengerjapkan matanya,
seolah aku baru saja melakukan dosa besar padamu."
seolah sedang memproses data baru di dalam "Nasolakrimal," ulang Asha dengan kening
kepalanya. berkerut. "Kau tidak tahu nasolakrimal? Kita
mempelajarinya bersama saat SD."
"Kaivor?" Asha mengulangi nama itu dengan nada
datar, seolah sedang menguji bunyinya. "Ah, sama aja. "SD? Apa itu SD?" Kaivor bertanya, suaranya kini
Kaivor, Kai-vor, Ka-i. Srrruuut." Ia menarik napas terdengar benar-benar buntu.
dalam-dalam, memaksa cairan bening yang sudah
Asha menghela napas panjang. "Ternyata kau
menggantung di ujung hidungnya meluncur balik ke
memang bukan Kai, ya..."
dalam sebelum sempat terjun bebas.
"Maaf membuatmu kecewa, Lady," balas Kaivor
"Kau..." Kaivor kehilangan kata-kata. Rasa panik
sambil memutar bola matanya. "Akhirnya kau paham
yang tadi sempat mencekiknya berganti menjadi
juga."
kebingungan yang murni. Ia menatap hidung Asha yang
memerah dan mata yang masih basah, namun ekspresi "Kaivor! Maaf aku terlambat, tapi aku berhasil
gadis itu sudah berubah total. Kesedihan mendalam mendapatkan—" James menghentikan kalimatnya
yang tadi ia lihat seolah menguap begitu saja. seketika. Matanya melotot, beralih dari Kaivor yang
tampak kaku ke arah Asha yang berantakan, berdarah,
"Maaf, karena aku menangis, kelenjar air mataku
dan... ingusan.
jadi memproduksi cairan berlebih yang mengalir ke
saluran nasolakrimal. Makanya aku jadi ingusan begini. "A-apa yang? Kaivor? Lady Stravellin? A-apa
Sruuut." Asha kembali mendengus kuat, menyelamatkan yang?" James menatap mereka secara bergantian. Ia
harga dirinya yang nyaris jatuh bersama tetesan ingus hampir menjatuhkan kantung yang sedari tadi ia
di pucuk hidungnya. pegang. Ini adalah momen langka melihat Kaivor
berhadapan dengan seorang wanita yang tidak
"Naso... apa?"
ketakutan atau memandangnya jijik. Namun, James tahu itu. Ia lalu berjalan begitu saja ke sebuah pohon besar,
betul bagaimana reputasi Lady Asha di hadapannya. kemudian duduk bersandar di pohon itu, fokus
melilitkan sapu tangan ke lukanya dengan gerakan yang
"Maaf, Lady, apa Anda tersesat?" tanya James,
terlalu tenang untuk ukuran seorang gadis yang baru
masih dengan tatapan tidak percaya.
saja menangis.
Asha mengalihkan pandangannya pada James.
"Dia kenapa?" bisik James yang sedari tadi
Wajahnya yang tadi sempat menunjukkan emosi
bingung pada Kaivor, dan hanya dibalas gelengan
manusiawi kini kembali datar dan kaku, mirip seperti
singkat.
mesin yang sedang melakukan boot ulang.
"Sebaiknya kau antar dia pulang," ucap Kaivor.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Baiklah." James lalu tersadar kembali akan
James terdiam sejenak. Ia menatap Kaivor seolah
tujuannya menemui Kaivor. "Tapi sebelum itu, coba
bertanya, Dia ini kenapa, sih?, namun Kaivor hanya
lihat ini." Ia mengeluarkan sebuah liontin emas dengan
membalasnya dengan gelengan kepala yang sama
batu hitam di tengahnya. "Ini adalah hadiah yang bagus.
bingungnya.
Aku mendapatkannya dengan susah payah. Dan
"Ah... ini, sepertinya Lady terluka. Tempat ini rumornya, kristal ini dapat menghilangkan racun dalam
bukanlah tempat yang aman untuk putri bangsawan makanan."
seperti Anda." James mengulurkan sapu tangan biru tua
James menyodorkan kristal itu ke arah Kaivor.
kepada Asha.
Sinar matahari yang menembus celah dedaunan hutan
Asha menatap sapu tangan di tangan James menyinari permukaannya. Untuk sesaat, perhatian
sejenak, lalu beralih menatap luka di lengannya sendiri. Kaivor teralihkan dari Asha yang duduk di tanah. Mata
"Terima kasih," ucap Asha saat menerima sapu tangan crimson-nya terpaku pada liontin itu.
"Kau yakin?" Kaivor memastikan setiap barang "Karena itu memang arang. Coba lihat teksturnya.
yang akan ia berikan pada Clarrisa adalah yang terbaik. Aku belum pernah melihat kristal yang sejelek ini," jelas
Asha.
"Seratus persen! Aku tadi menyaksikan
pengembara asing itu membuktikan fungsi kristal ini. James menghela napas panjang. Sebuah senyum
Dan yang terbaik, aku tidak dapat merasakan energi simpul yang sarat akan rasa prihatin muncul di
mana dari benda itu," jelas James dengan bersemangat. wajahnya. Ia melirik Kaivor sekilas, seolah memberi
kode bahwa mereka sedang berhadapan dengan Lady
"Kristal? Itu tampak seperti arang..." Asha tiba-
Stravellin bodoh yang sering dibicarakan orang-orang di
tiba berdiri di sebelah Kaivor, ikut memperhatikan
ibu kota.
benda itu.
"Ah, Lady Asha," James berujar dengan nada yang
Terkejut melihat Asha, James sontak melompat ke
dipaksakan lembut, tipe suara yang biasa digunakan
belakang. Sedangkan Kaivor tetap terpaku pada kristal
orang dewasa saat mencoba menjelaskan sesuatu yang
itu, membayangkan wajah Clarrisa ketika mengenakan
sederhana kepada anak kecil. "Saya mengerti mungkin
liontin tersebut.
debu hutan ini mengganggu penglihatan Anda, atau
"Sejak kapan kau berdiri di sana?!" seru James. mungkin... obsesi Anda pada perhiasan mewah di istana
membuat standar Anda terlalu tinggi."
"Sejak tadi..." jawab Asha santai.
James mengangkat liontin itu lebih tinggi,
"Apa maksudmu arang?" Kaivor akhirnya melirik
membiarkan cahaya temaram hutan memantul di
ke arah Asha, alisnya tertaut, bingung dengan analisis
permukaannya. "Ini bukan sekadar arang. Ini adalah
Asha.
Kristal dari Atlantis. Mengatakannya sebagai arang...
yah, saya rasa wajar jika Anda tidak mengenalnya.
Pengetahuan seperti ini memang tidak diajarkan di "Lihat ini, Lady," ucap James sambil membuka
pesta teh atau saat mengejar-ngejar Yang Mulia Putra kantung kecil dari sabuknya. Ia mengeluarkan bubuk
Mahkota di aula dansa." berwarna kemerahan yang tampak mencolok. "Ini
adalah bubuk racun merah. Sedikit saja masuk ke
Asha tidak bergeming. Ia tidak tampak
pembuluh darah, jantungmu akan berhenti dalam
tersinggung oleh sindiran halus James tentang
hitungan menit."
reputasinya yang mengejar pria. Lebih tepatnya, ia
tidak merasa tersindir. Asha hanya menatap bubuk tersebut dengan dahi
berkerut. "Itu merkuri?" gumamnya sangat pelan,
"Kalau begitu, buktikan," sahut Asha datar. Ia lalu
hampir menyerupai bisikan angin.
melirik Kaivor. "Kau tidak percaya pada hal seperti ini,
kan?" James mencampurkan bubuk itu ke dalam air di
botol Kaivor, membuat cairan di dalamnya berubah
Kaivor tidak menjawab. Tangannya masih
menjadi keruh dan berbahaya. Kemudian, dengan
menggenggam busur hitam itu, menanti pembuktian.
gerakan teatrikal, ia mencelupkan liontin batu hitam
"Membuktikannya? Tentu saja." James memutar tersebut ke dalam botol. Beberapa detik kemudian, air
liontin itu di depan mata Asha dengan percaya diri. itu menjadi jernih kembali.
"Aku akan memasukkan kristal ini pada air yang berisi
James menyeringai penuh kemenangan,
racun mematikan."
mengangkat botol itu tinggi-tinggi seolah memamerkan
Ia kemudian pergi meraih botol minum kulit milik trofi di depan wajah Asha. "Lihat? Airnya kembali
Kaivor yang tergantung di pelana kuda tidak jauh dari jernih! Kristal Atlantis ini menyerap racunnya secara
mereka. total. Masih mau menyebutnya arang, Lady?"
Kaivor memperhatikan air yang kembali bening "Koin emas? Untuk apa lagi itu?" tanya James
itu, namun tatapannya tetap dingin. Ia tidak semudah kesal.
itu terpesona, berbeda dengan James yang sudah mulai
Kaivor langsung mengeluarkan sebuah koin emas
menepuk-nepuk dadanya bangga.
dari kantongnya dan menyerahkannya pada Asha.
Asha tidak menunjukkan ekspresi kagum. Ia justru
Asha menerima koin itu tanpa ucapan terima
melangkah maju, mendekati botol itu dengan mata
kasih. Ia segera merebut botol minum dari tangan
menyipit. "Coba minum," tantangnya, bibirnya sedikit
James yang masih melongo, lalu menjatuhkan koin emas
tersenyum sinis.
milik Kaivor ke dalam cairan yang sudah kembali
James tergelak. Tawa yang meremehkan itu "jernih" tersebut.
bergema di antara pepohonan. "Wah, ternyata Anda
"Perhatikan," ucap Asha singkat.
masih belum percaya, ya? Baiklah..." James mengangkat
botol itu hendak meminumnya. Hanya butuh beberapa detik. Koin emas yang
tadinya berkilau kuning cerah itu mulai berubah warna.
Asha menahan lengan James dengan gerakan
Sebuah lapisan keperakan yang suram mulai menjalar
cepat yang tidak terduga, kekuatannya cukup untuk
dan menyelimuti permukaan koin, seolah-olah emas
membuat botol itu tertahan di udara.
murni itu sedang memudar atau dimakan oleh sesuatu
James mengerutkan kening, mencoba menarik yang kasat mata.
lengannya. "Apa lagi sekarang?"
Kaivor melangkah maju. Mata crimson-nya
"Bego amat, sih." Ia lalu melirik Kaivor. "Kau menatap tajam pada logam berharga yang kini tampak
punya koin emas?" menjijikkan itu. Entah kenapa, ia tidak terkejut, seolah
telah menduga hal itu.
Asha mengocok botol itu pelan, lalu menuangkan "Terserah," jawab Kaivor acuh tak acuh. Entah
isinya ke tanah. Cairan jernih itu mengalir, kenapa, ia malah merasa lega, karena benda itu tidak
meninggalkan koin yang kini telah berubah warna sampai ke tangan Clarrisa, dan semua itu berkat gadis
menjadi perak kusam sepenuhnya. di sebelahnya yang masih memandangi wajahnya.
Asha lalu beralih menatap James, yang kini "Wajahmu memang mirip Kai! Kalian sama-sama
wajahnya sepucat kertas. "Itulah yang akan terjadi pada tampan," ucap Asha sambil terus tersenyum
organmu jika kau meminum air itu." memandangi wajah Kaivor.
James menelan ludah. Ia terkejut sekaligus sedikit Kaivor menggaruk kepalanya, tidak nyaman
malu. "Astaga. Tapi tadi aku melihat pedagang itu dengan tatapan itu—lebih tepatnya, tidak terbiasa. Ia
meminumnya dan—" berusaha membuang muka agar Asha tidak melihat
ekspresi canggungnya.
Asha memutar bola matanya malas, lalu kembali
menghadap Kaivor. "Kau percaya pada hal itu? Ternyata
kau memang bukan Kai yang ku kenal."