0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas konsep pembelajaran, termasuk pengertian, ciri-ciri, dan tujuan pembelajaran, serta perbedaan antara pembelajaran kontekstual dan konvensional. Pembelajaran kontekstual menekankan pengalaman nyata siswa dan keterlibatan aktif dalam proses belajar, sedangkan pembelajaran konvensional lebih bersifat pasif. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang media pembelajaran dan pendidikan kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bertujuan membentuk warga negara yang cerdas dan berkarakter.

Diunggah oleh

danggadibrata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas konsep pembelajaran, termasuk pengertian, ciri-ciri, dan tujuan pembelajaran, serta perbedaan antara pembelajaran kontekstual dan konvensional. Pembelajaran kontekstual menekankan pengalaman nyata siswa dan keterlibatan aktif dalam proses belajar, sedangkan pembelajaran konvensional lebih bersifat pasif. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang media pembelajaran dan pendidikan kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bertujuan membentuk warga negara yang cerdas dan berkarakter.

Diunggah oleh

danggadibrata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Pembelajaran

1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui

pengalaman. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas

daripada itu yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil

latihan, melainkan perubahan kelakuan yang meliputi aspek-aspek seperti

pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, apresiasi, emosional, hubungan

sosial, jasmani, budi pekerti (etika), sikap dan lain-lain. Kalau seseorang telah

melakukan perbuatan belajar, maka terjadi perubahan pada salah satu atau

beberapa aspek tingkah laku tersebut (Hamalik, 2002: 36).

Darsono (2000: 24-25) secara umum menjelaskan pengertian

pembelajaran sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian

rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. Sedangkan

secara khusus pembelajaran dapat diartikan sebagai berikut.

a. Teori Behavioristik, mendefinisikan pembelajaran

sebagai usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan

menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan

respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap latihan

yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan).

11
12

b. Teori Kognitif, menjelaskan pengertian pembelajaran

sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir

agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.

c. Teori Gestalt, menguraikan bahwa pembelajaran

merupakan usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran

sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya

(mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).

d. Teori Humanistik, menjelaskan bahwa pembelajaran

adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan

pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan

kemampuannya.

2. Ciri-ciri Pembelajaran

Darsono (2000: 65) menyebutkan ciri-ciri pembelajaran sebagai

berikut.

a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan


direncana secara sistematis
b. Pembelajaran dapat menumbuhkan
perhatian dan motivasi siswa dalam belajar
c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan
belajar yang menarik dan menantang bagi siswa
d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu
belajar yang tepat dan menyenangkan bagi siswa
e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana
belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa
f. Pembelajaran dapat membuat siswa
menerima pelajaran, baik secara fisik dan psikologis.

3. Tujuan Pembelajaran
13

Tujuan (goals) adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil

pendidikan yang diinginkan. Di dalamnya terkandung tujuan yang menjadi

target pembelajaran dan menyediakan pilar untuk menyediakan

pengalaman-pengalaman belajar. Pembelajaran adalah suatu kegiatan

yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Oleh karena itu pembelajaran

pasti mempunyai tujuan. Tujuan pembelajaran adalah membantu pada

siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu

tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitas. Tingkah

laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau

norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa

(Darsono, 2000: 24-26).

B. Konsep Pembelajaran Kontekstual

1. Pengertian Strategi, Metode, dan Pendekatan

Pembelajaran

J.R. David dalam Sanjaya (2006: 124) menjelaskan bahwa, dalam

dunia pendidikan strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan

yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai

tujuan pendidikan tertentu. Ada dua hal yang perlu dicermati dari

pengertian strategi pembelajaran tersebut. Pertama, strategi pembelajaran

merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan

metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam

pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada


14

proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua,

strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua

keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Oleh sebab

itu, sebelum menentukan strategi perlu dirumuskan tujuan yang jelas

yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam

implementasi suatu strategi.

Adapun upaya pengimplementasian rencana yang sudah disusun dalam

kegiatan nyata agar tujuan tercapai secara optimal disebut dengan metode.

Pengertian strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada

sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah

cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.

Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah

pendekatan (approach). Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan

strategi maupun metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak

atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Oleh karenanya

strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau

tergantung dari pendekatan tersebut. Menurut Roy Killen dalam Sanjaya

(2000:122) ada dua pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan yang

berpusat pada guru (teacher-centred-approaches) dan pendekatan yang

berpusat pada siswa (student-centred-approaches). Pendekatan yang

berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung,

pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan

pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi


15

pembelajaran discovery dan inquiry serta pembelajaran induktif (Sanjaya,

2006: 124-125).

2. Hakekat Pendekatan dan Pembelajaran

Kontekstual

Pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran

yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah diciptakan dalam

proses belajar, agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa

mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Pendekatan kontekstual

merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan,

memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik

dalam berbagai macam tatanan kehidupan, baik di sekolah maupun di luar

sekolah (Nurhadi, 2002: 4).

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah

konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan

tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme

(Contrucivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat

belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi


16

(reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment) (Depdiknas,

2003: 3).

3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Menurut Nurhadi (2002: 20) ada beberapa karakter pembelajaran

berbasis kontekstual, yaitu:

a. Adanya kerjasama, sharing dengan teman


dan saling menunjang;
b. siswa aktif dan kritis, belajar dengan
bergairah, menyenangkan dan tidak membosankan, serta guru
kreatif;
c. pembelajaran terintegrasi, menggunakan
berbagai sumber;
d. dinding kelas dan lorong-lorong penuh
dengan hasil karya siswa; dan
e. laporan kepada orang tua bukan sekedar
rapor tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan
siswa.

4. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran

Konvensional

Ada perbedaan pokok antara pembelajaran CTL dan pembelajaran

konvensional. Dibawah ini dijelaskan perbedaan kedua model tersebut

dilihat dari konteks tertentu.

a. CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya

siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan

cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan

dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek

belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.


17

b. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok

seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi.

Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa lebih

banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan

menghafal materi pelajaran.

c. Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman;

sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan

diperoleh melalui latihan-latihan.

d. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan

diri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia

menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat;

sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku

individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu

tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar

untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.

e. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu

berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab

itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakekat

pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional hal

ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut

dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.

f. Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor

dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing;


18

sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu

jalannya proses pembelajaran.

g. Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi di mana saja

dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan;

sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya

terjadi di dalam kelas.

h. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek

perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur

dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa,

penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya;

sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan

pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.

Beberapa perbedaan pokok diatas, menggambarkan bahwa CTL

memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi

maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya (Sanjaya, 2006: 260).

C. Media Pembelajaran

Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya

perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media pembelajaran yang

memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut AECT yang dikutip

oleh Rohani (2004 : 2) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk

proses penyaluran informasi”. Sedangkan pengertian media menurut


19

Djamarah (2002 : 136) adalah “media adalah alat bantu apa saja yang dapat

dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.

Menurut Association for Education and Communication Technology

(AECT) media diartikan sebagai segala bentuk dan saluran yang dipergunakan

untuk proses penyaluran informasi (AECT, 1986).

Penggunaan media secara kreatif akan memperbesar kemungkinan siswa

untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik dan

meningkatkan penampilan (performance) mereka dalam melakukan

keterampilan-keterampilan tertentu sesuai dengan yang menjadi tujuan

pembelajaran (Suroso, 1995).

Karakteristik media berbeda sesuai dengan tujuan atau maksud

pengelompokkannya. Salah satunya media grafis, media grafis termasuk salah

satu media visual. Media gambar merupakan media pembelajaran yang

termasuk kedalam media visual yang memiliki ukuran panjang serta lebar.

Media visual (Sanjaya, 2000:157) media yang dapat dilihat saja, tidak

mengandung unsure suara. Yang termasuk media ini adalah film slide, foto,

transpransi, lkisan, gambar dan berbagai bentuk bahan yang dicetal seperti

media grafis dan lain sebagainya.

D. Gambaran Mengenai Pendidikan Kewarganegaraan

1. Pengertian dan Dimensi Mata Pelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan
20

Di dalam kurikulum 2004 Pedoman Khusus Pengembangan Silabus

dan Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan dijelaskan bahwa mata

pelajaran kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang ingin

membentuk warga negara yang ideal yaitu warga negara yang

memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME, menguasai

pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai sesuai dengan konsep dan

prinsip-prinsip kewarganegaraan. Sehubungan dengan itu, dinyatakan

bahwa mata pelajaran kewarganegaraan mencakup tiga dimensi yaitu:

a. Dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge) yang

mencakup bidang politik, hukum dan moral, meliputi pengetahuan

tentang prinsip-prinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintah dan

non pemerintah, identitas nasional, pemerintah berdasar hukum dan

peradilan yang bebas dan tidak memihak, konstitusi, sejarah nasioanal,

hak dan kewajiban warga negara, hak asasi manusia, hak sipil dan hak

politik;

b. Dimensi keterampilan kewarganegaraan (civics skill) yang meliputi

keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Misalnya dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society),

keterampilan mempengruhi dan memonitoring jalannya pemerintahan,

dan proses pengambilan keputusan politik, keterampilan memecahkan

masalah sosial, keterampilan mengadakan koalisi, kerja sama, dan

mengelola konflik;
21

c. Dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics values) yang mencakup

kepercayaan diri, komitmen, penguasaan atas nilai-nilai religi,

toleransi, kebebasan individual, kebebasan berbicara, keberbasan pers,

kebebasan berserikat dan berkumpul dan perlindungan terhadap minoritas

(Depdiknas).

2. Hakekat Mata Pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan

Kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang

memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama,

sosio-kultural, bahas, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara

Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter sesuai dengan yang

diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas, 2002).

3. Fungsi dan Tujuan Pendidikan

Kewarganegaraan

Mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk

membentuk warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang setia

kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam

kebiasaan berfikir sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan mata pelajaran kewarganegaraan adalah untuk memberikan

kompetensi-kompetensi sebagai berikut.


22

a. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam

menggapai isu kewarganegaraan;

b. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung

jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara;

c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk

membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter Indonesia agar dapat

hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; dan

d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam

percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan

memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Depdiknas, 2002).

4. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan memiliki ruang lingkup dari aspek-

aspek berikut ini:

a. Persatuan dan kesatuan bangsa meliputi hidup

rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa

Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik

Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap

Negara Kesatuan Republik Indonesia keterbukaan dan jaminan keadilan.


23

b. Norma hukum dan peraturan meliputi tertib dalam

kehidupan berkeluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di

masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam berbangsa

dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan

internasional.

c. Hak azasi manusia meliputi hak dan kewajiban

anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan

internasional HAM, permajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.

d. Kebutuhan warga negara meliputi gotong royong,

harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi,

kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama,

prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara.

e. Konstitusi negara meliputi proklamasi

kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang

pernah digunakan di Indonesia hbungan dasar negara dengan konstitusi.

f. Kekuasaan dan politik meliputi pemerintahan

desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintahan

pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi

menuju masyarakat madani, sistem pemerintah, pers dalam masyarakat

demokrasi.

g. Pancasila meliputi kedudukan pancasila sebagai

dasar negara, pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-

hari, pancasila sebagai ideologi terbuka.


24

h. Globalisasi meliputi globalisasi dilingkungannya,

politik luar negeri Indonesia diera globalisasi, hubungan internasional dan

organisasi nasional dan mengevaluasi globalisasi.

E. Gambaran Mengenai Hasil Belajar

1. Pengertian Hasil Belajar

Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan.

Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek

dalam belajar. Sedangkan mengajar merujuk pada apa yang seharusnya

dilakukan seseorang guru sebagai pengajar.

Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru

terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan

guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus

bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa

adanya intervensi orang lain sebagai pengajar.

Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-

kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari

pengajar (guru), seperti yang dikemukakan oleh Sudjana.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa

setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan

menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam

hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan

dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).


25

Menurut Hamalik (2002:155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya

perubahantingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam

perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Perubahan dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan

yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu

menjadi tahu, sikap tidak sopan menjadi sopan dan sebagainya. Menurut

Dimyati dan Mudjiono (2002:4-5) dampak pembelajaran adalah hasil yang

dapat diukur seperti tertuang dalam raport, angka dalam ijazah atau

kemampuan meloncat setelah latihan. Hasil belajar adalah kemampuan yang

diperoleh anak dari suatu interaksi dalam proses pembelajaran.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah

kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa

setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat

mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

2. Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni

faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 2004 :

39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa

perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark

dalam Sudjana (2004 : 39) menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah

70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh


26

lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang

paling dominan berupa kualitas pembelajaran.

Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan

lingkungannya. Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari

interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja.

Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam

diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka

belajar tidak dikatakan berhasil.

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas

pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang

dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif

(intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).

Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi

oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal

(internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan demikian

hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya

usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk

penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai

aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian

terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam

berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan

tingkah laku secara kuantitatif.


27

F. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan

Kewarganegaraan Kelas VII SMP

Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata

pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang

memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk

menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang

diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Untuk lebih jelasnya mengenai kurikulum pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan di Kelas VII Semester I dan II dapat dilihat pada Tabel 2.2

berikut ini:

Tabel 2.1 Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VII

Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Menunjukkan sikap 1.1 Mendeskripsikan hakikat norma-norma,
positif terhadap norma- kebiasaan, adat istiadat, peraturan, yang
norma yang berlaku berlaku dalam masyarakat
dalam kehidupan 1.2 Menjelaskan hakikat dan arti penting hukum
bermasyarakat, bagi warganegara
berbangsa, dan 1.3 Menerapkan norma-norma, kebiasaan, adat
bernegara istiadat dan peraturan yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara
2. Mendeskripsikan makna 2.1 Menjelaskan makna proklamasi kemerdekaan
Proklamasi 2.2 Mendeskripsikan suasana kebatinan konstitusi
Kemerdekaan dan pertama
konstitusi pertama 2.3 Menganalisis hubungan antara proklamasi
kemerdekaan dan UUD 1945
2.4 Menunjukkan sikap positif terhadap makna
proklamasi kemerdekaan dan suasana kebatinan
konstitusi pertama

Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
28

3. Menampilkan sikap 3.1 Menguraikan hakikat, hukum dan kelembagaan


positif terhadap HAM
perlindungan dan 3.2 Mendeskripsikan kasus pelanggaran dan upaya
penegakan Hak Azasi penegakan HAM
Manusia (HAM) 3.3 Menghargai upaya perlindungan HAM
3.4 Menghargai upaya penegakan HAM

4. Menampilkan perilaku 4.1 Menjelaskan hakikat kemerdekaan


kemerdekaan mengemukakan pendapat
mengemukakan 4.2 Menguraikan pentingnya kemerdekaan
pendapat mengemukakan pendapat secara bebas dan
bertanggung jawab
4.3 Mengaktualisasikan kemerdekaan
mengemukakan pendapat secara bebas dan
bertanggung jawab

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan

untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator

pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan

pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar

Penilaian.

Anda mungkin juga menyukai