BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Pembelajaran
1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui
pengalaman. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas
daripada itu yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil
latihan, melainkan perubahan kelakuan yang meliputi aspek-aspek seperti
pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, apresiasi, emosional, hubungan
sosial, jasmani, budi pekerti (etika), sikap dan lain-lain. Kalau seseorang telah
melakukan perbuatan belajar, maka terjadi perubahan pada salah satu atau
beberapa aspek tingkah laku tersebut (Hamalik, 2002: 36).
Darsono (2000: 24-25) secara umum menjelaskan pengertian
pembelajaran sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian
rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. Sedangkan
secara khusus pembelajaran dapat diartikan sebagai berikut.
a. Teori Behavioristik, mendefinisikan pembelajaran
sebagai usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan
menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan
respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap latihan
yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan).
11
12
b. Teori Kognitif, menjelaskan pengertian pembelajaran
sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir
agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.
c. Teori Gestalt, menguraikan bahwa pembelajaran
merupakan usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran
sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya
(mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).
d. Teori Humanistik, menjelaskan bahwa pembelajaran
adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan
pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan
kemampuannya.
2. Ciri-ciri Pembelajaran
Darsono (2000: 65) menyebutkan ciri-ciri pembelajaran sebagai
berikut.
a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan
direncana secara sistematis
b. Pembelajaran dapat menumbuhkan
perhatian dan motivasi siswa dalam belajar
c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan
belajar yang menarik dan menantang bagi siswa
d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu
belajar yang tepat dan menyenangkan bagi siswa
e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana
belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa
f. Pembelajaran dapat membuat siswa
menerima pelajaran, baik secara fisik dan psikologis.
3. Tujuan Pembelajaran
13
Tujuan (goals) adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil
pendidikan yang diinginkan. Di dalamnya terkandung tujuan yang menjadi
target pembelajaran dan menyediakan pilar untuk menyediakan
pengalaman-pengalaman belajar. Pembelajaran adalah suatu kegiatan
yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Oleh karena itu pembelajaran
pasti mempunyai tujuan. Tujuan pembelajaran adalah membantu pada
siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu
tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitas. Tingkah
laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau
norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa
(Darsono, 2000: 24-26).
B. Konsep Pembelajaran Kontekstual
1. Pengertian Strategi, Metode, dan Pendekatan
Pembelajaran
J.R. David dalam Sanjaya (2006: 124) menjelaskan bahwa, dalam
dunia pendidikan strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan
yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Ada dua hal yang perlu dicermati dari
pengertian strategi pembelajaran tersebut. Pertama, strategi pembelajaran
merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan
metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam
pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada
14
proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua,
strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua
keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Oleh sebab
itu, sebelum menentukan strategi perlu dirumuskan tujuan yang jelas
yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam
implementasi suatu strategi.
Adapun upaya pengimplementasian rencana yang sudah disusun dalam
kegiatan nyata agar tujuan tercapai secara optimal disebut dengan metode.
Pengertian strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada
sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah
cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.
Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah
pendekatan (approach). Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan
strategi maupun metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Oleh karenanya
strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau
tergantung dari pendekatan tersebut. Menurut Roy Killen dalam Sanjaya
(2000:122) ada dua pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan yang
berpusat pada guru (teacher-centred-approaches) dan pendekatan yang
berpusat pada siswa (student-centred-approaches). Pendekatan yang
berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung,
pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi
15
pembelajaran discovery dan inquiry serta pembelajaran induktif (Sanjaya,
2006: 124-125).
2. Hakekat Pendekatan dan Pembelajaran
Kontekstual
Pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran
yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah diciptakan dalam
proses belajar, agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa
mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Pendekatan kontekstual
merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan,
memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik
dalam berbagai macam tatanan kehidupan, baik di sekolah maupun di luar
sekolah (Nurhadi, 2002: 4).
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan
tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme
(Contrucivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat
belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi
16
(reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment) (Depdiknas,
2003: 3).
3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Menurut Nurhadi (2002: 20) ada beberapa karakter pembelajaran
berbasis kontekstual, yaitu:
a. Adanya kerjasama, sharing dengan teman
dan saling menunjang;
b. siswa aktif dan kritis, belajar dengan
bergairah, menyenangkan dan tidak membosankan, serta guru
kreatif;
c. pembelajaran terintegrasi, menggunakan
berbagai sumber;
d. dinding kelas dan lorong-lorong penuh
dengan hasil karya siswa; dan
e. laporan kepada orang tua bukan sekedar
rapor tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan
siswa.
4. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran
Konvensional
Ada perbedaan pokok antara pembelajaran CTL dan pembelajaran
konvensional. Dibawah ini dijelaskan perbedaan kedua model tersebut
dilihat dari konteks tertentu.
a. CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya
siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan
cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan
dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek
belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
17
b. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok
seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi.
Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa lebih
banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan
menghafal materi pelajaran.
c. Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan
diperoleh melalui latihan-latihan.
d. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan
diri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia
menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku
individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu
tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar
untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.
e. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu
berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab
itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakekat
pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional hal
ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut
dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
f. Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor
dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing;
18
sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu
jalannya proses pembelajaran.
g. Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi di mana saja
dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya
terjadi di dalam kelas.
h. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek
perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur
dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa,
penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan
pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.
Beberapa perbedaan pokok diatas, menggambarkan bahwa CTL
memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi
maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya (Sanjaya, 2006: 260).
C. Media Pembelajaran
Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya
perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media pembelajaran yang
memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut AECT yang dikutip
oleh Rohani (2004 : 2) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk
proses penyaluran informasi”. Sedangkan pengertian media menurut
19
Djamarah (2002 : 136) adalah “media adalah alat bantu apa saja yang dapat
dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.
Menurut Association for Education and Communication Technology
(AECT) media diartikan sebagai segala bentuk dan saluran yang dipergunakan
untuk proses penyaluran informasi (AECT, 1986).
Penggunaan media secara kreatif akan memperbesar kemungkinan siswa
untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik dan
meningkatkan penampilan (performance) mereka dalam melakukan
keterampilan-keterampilan tertentu sesuai dengan yang menjadi tujuan
pembelajaran (Suroso, 1995).
Karakteristik media berbeda sesuai dengan tujuan atau maksud
pengelompokkannya. Salah satunya media grafis, media grafis termasuk salah
satu media visual. Media gambar merupakan media pembelajaran yang
termasuk kedalam media visual yang memiliki ukuran panjang serta lebar.
Media visual (Sanjaya, 2000:157) media yang dapat dilihat saja, tidak
mengandung unsure suara. Yang termasuk media ini adalah film slide, foto,
transpransi, lkisan, gambar dan berbagai bentuk bahan yang dicetal seperti
media grafis dan lain sebagainya.
D. Gambaran Mengenai Pendidikan Kewarganegaraan
1. Pengertian dan Dimensi Mata Pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan
20
Di dalam kurikulum 2004 Pedoman Khusus Pengembangan Silabus
dan Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan dijelaskan bahwa mata
pelajaran kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang ingin
membentuk warga negara yang ideal yaitu warga negara yang
memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME, menguasai
pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai sesuai dengan konsep dan
prinsip-prinsip kewarganegaraan. Sehubungan dengan itu, dinyatakan
bahwa mata pelajaran kewarganegaraan mencakup tiga dimensi yaitu:
a. Dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge) yang
mencakup bidang politik, hukum dan moral, meliputi pengetahuan
tentang prinsip-prinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintah dan
non pemerintah, identitas nasional, pemerintah berdasar hukum dan
peradilan yang bebas dan tidak memihak, konstitusi, sejarah nasioanal,
hak dan kewajiban warga negara, hak asasi manusia, hak sipil dan hak
politik;
b. Dimensi keterampilan kewarganegaraan (civics skill) yang meliputi
keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Misalnya dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society),
keterampilan mempengruhi dan memonitoring jalannya pemerintahan,
dan proses pengambilan keputusan politik, keterampilan memecahkan
masalah sosial, keterampilan mengadakan koalisi, kerja sama, dan
mengelola konflik;
21
c. Dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics values) yang mencakup
kepercayaan diri, komitmen, penguasaan atas nilai-nilai religi,
toleransi, kebebasan individual, kebebasan berbicara, keberbasan pers,
kebebasan berserikat dan berkumpul dan perlindungan terhadap minoritas
(Depdiknas).
2. Hakekat Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan
Kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama,
sosio-kultural, bahas, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara
Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter sesuai dengan yang
diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas, 2002).
3. Fungsi dan Tujuan Pendidikan
Kewarganegaraan
Mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk
membentuk warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang setia
kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam
kebiasaan berfikir sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.
Tujuan mata pelajaran kewarganegaraan adalah untuk memberikan
kompetensi-kompetensi sebagai berikut.
22
a. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam
menggapai isu kewarganegaraan;
b. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung
jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara;
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk
membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter Indonesia agar dapat
hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; dan
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam
percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Depdiknas, 2002).
4. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan memiliki ruang lingkup dari aspek-
aspek berikut ini:
a. Persatuan dan kesatuan bangsa meliputi hidup
rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa
Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia keterbukaan dan jaminan keadilan.
23
b. Norma hukum dan peraturan meliputi tertib dalam
kehidupan berkeluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di
masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam berbangsa
dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan
internasional.
c. Hak azasi manusia meliputi hak dan kewajiban
anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan
internasional HAM, permajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
d. Kebutuhan warga negara meliputi gotong royong,
harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi,
kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama,
prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara.
e. Konstitusi negara meliputi proklamasi
kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang
pernah digunakan di Indonesia hbungan dasar negara dengan konstitusi.
f. Kekuasaan dan politik meliputi pemerintahan
desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintahan
pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi
menuju masyarakat madani, sistem pemerintah, pers dalam masyarakat
demokrasi.
g. Pancasila meliputi kedudukan pancasila sebagai
dasar negara, pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-
hari, pancasila sebagai ideologi terbuka.
24
h. Globalisasi meliputi globalisasi dilingkungannya,
politik luar negeri Indonesia diera globalisasi, hubungan internasional dan
organisasi nasional dan mengevaluasi globalisasi.
E. Gambaran Mengenai Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan.
Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek
dalam belajar. Sedangkan mengajar merujuk pada apa yang seharusnya
dilakukan seseorang guru sebagai pengajar.
Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru
terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan
guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus
bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa
adanya intervensi orang lain sebagai pengajar.
Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-
kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari
pengajar (guru), seperti yang dikemukakan oleh Sudjana.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan
menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam
hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan
dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).
25
Menurut Hamalik (2002:155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya
perubahantingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam
perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Perubahan dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan
yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, sikap tidak sopan menjadi sopan dan sebagainya. Menurut
Dimyati dan Mudjiono (2002:4-5) dampak pembelajaran adalah hasil yang
dapat diukur seperti tertuang dalam raport, angka dalam ijazah atau
kemampuan meloncat setelah latihan. Hasil belajar adalah kemampuan yang
diperoleh anak dari suatu interaksi dalam proses pembelajaran.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa
setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat
mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
2. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni
faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 2004 :
39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa
perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark
dalam Sudjana (2004 : 39) menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah
70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh
26
lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang
paling dominan berupa kualitas pembelajaran.
Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan
lingkungannya. Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari
interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja.
Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam
diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka
belajar tidak dikatakan berhasil.
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas
pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang
dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif
(intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).
Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi
oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal
(internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan demikian
hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya
usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk
penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai
aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian
terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam
berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan
tingkah laku secara kuantitatif.
27
F. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan
Kewarganegaraan Kelas VII SMP
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata
pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang
memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk
menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang
diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Untuk lebih jelasnya mengenai kurikulum pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan di Kelas VII Semester I dan II dapat dilihat pada Tabel 2.2
berikut ini:
Tabel 2.1 Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VII
Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Menunjukkan sikap 1.1 Mendeskripsikan hakikat norma-norma,
positif terhadap norma- kebiasaan, adat istiadat, peraturan, yang
norma yang berlaku berlaku dalam masyarakat
dalam kehidupan 1.2 Menjelaskan hakikat dan arti penting hukum
bermasyarakat, bagi warganegara
berbangsa, dan 1.3 Menerapkan norma-norma, kebiasaan, adat
bernegara istiadat dan peraturan yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara
2. Mendeskripsikan makna 2.1 Menjelaskan makna proklamasi kemerdekaan
Proklamasi 2.2 Mendeskripsikan suasana kebatinan konstitusi
Kemerdekaan dan pertama
konstitusi pertama 2.3 Menganalisis hubungan antara proklamasi
kemerdekaan dan UUD 1945
2.4 Menunjukkan sikap positif terhadap makna
proklamasi kemerdekaan dan suasana kebatinan
konstitusi pertama
Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
28
3. Menampilkan sikap 3.1 Menguraikan hakikat, hukum dan kelembagaan
positif terhadap HAM
perlindungan dan 3.2 Mendeskripsikan kasus pelanggaran dan upaya
penegakan Hak Azasi penegakan HAM
Manusia (HAM) 3.3 Menghargai upaya perlindungan HAM
3.4 Menghargai upaya penegakan HAM
4. Menampilkan perilaku 4.1 Menjelaskan hakikat kemerdekaan
kemerdekaan mengemukakan pendapat
mengemukakan 4.2 Menguraikan pentingnya kemerdekaan
pendapat mengemukakan pendapat secara bebas dan
bertanggung jawab
4.3 Mengaktualisasikan kemerdekaan
mengemukakan pendapat secara bebas dan
bertanggung jawab
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan
untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan
pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar
Penilaian.