0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan61 halaman

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan pelatihan guru dalam meningkatkan profesionalisme dan kualitas pendidikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep pendidikan dan pelatihan guru, serta pengaruhnya terhadap pembentukan guru profesional. Selain itu, dokumen ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru dalam mengakses pendidikan dan pelatihan berkualitas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan61 halaman

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan pelatihan guru dalam meningkatkan profesionalisme dan kualitas pendidikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep pendidikan dan pelatihan guru, serta pengaruhnya terhadap pembentukan guru profesional. Selain itu, dokumen ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru dalam mengakses pendidikan dan pelatihan berkualitas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki tujuan untuk mencerdaskan


kehidupan bangsa, yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945. Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 juga menyatakan bahwa
Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggungjawab dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.1
Dalam riset penelitian yang di lakukan penulis dan berdasarkan uraian
yang akan penulis paparkan di bawah ini maka penulis Menyusun penelitian
dengan judul “Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Guru Dalam Membentuk
Guru Professional”, Mengapa penulis memilih Judul tersebut karena seorang
guru bukanlah menjadi profesi semata namun guru di tuntut menjadi professional
di bidangnya masing-masing, guru juga dituntut untuk mengikuti perkembangan
era global yang di mana sekrang era global 4.0, yang seharusnya guru tidak lagi
Gagap Teknologi (tertinggal oleh perkembangan teknologi terutama teknologi
Pendidikan), guna tercapainya pembelajaran yang efisien dan kelas yang aktif
serta siswa dapat mencerna penjelasan dengan baik dan jelas

Dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional diperlukan guru yang


profesional, agar pendidikan dan pembelajaran menjadi lebih berkualitas.
Sebenarnya, menuju pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas tidak
bergantung pada satu komponen saja yaitu guru, melainkan sebagai sebuah sistem
dalam satu sekolah. Komponen-komponen tersebut antara lain berupa program
pelaksanaan pembelajaran, peserta didik, sarana dan prasarana pembelajaran,
dana, lingkungan masyarakat, dan kepemimpinan kepala sekolah.

1
Mulyasa, Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme
Guru, Semarang : Fakultas Ilmu Pendidikan UNES Semarang, 2011 hal 1-2

1
Semua komponen dalam sistem pembelajaran tersebut sangat penting dan
menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Namun, semua
komponen tersebut tidak akan berguna bagi peserta didik dalam mencari
pengalaman belajar yang maksimal, bilamana tidak didukung oleh keberadaan
guru yang profesional. Peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar sangat
bergantung pada tingkat profesionalisme guru. Jadi, di antara keseluruhan
komponen pada sistem pembelajaran di Sekolah Dasar, ada satu komponen yang
paling menentukan kualitas pembelajaran, yaitu guru

Pendidikan dan pelatihan guru merupakan hal yang penting dalam


meningkatkan profesionalisme guru. Pendidikan dan pelatihan dapat membantu
guru mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk
menjadi guru yang profesional. Sebagai pendidik, guru harus memiliki
pengetahuan tentang kurikulum, metode pengajaran, dan teknologi pendidikan
yang terbaru. Selain itu, guru juga perlu memiliki keterampilan interpersonal yang
baik dalam berinteraksi dengan siswa, orang tua siswa, dan staf sekolah.

Pendidikan dan pelatihan yang baik dapat membantu guru untuk


meningkatkan kemampuan mengajar mereka, sehingga dapat meningkatkan
kualitas pendidikan yang diberikan kepada siswa. Guru yang profesional dapat
memotivasi siswa untuk belajar, memperbaiki metode pengajaran, dan
menemukan cara untuk menyesuaikan pengajaran dengan kebutuhan individual
siswa. Oleh karena itu, pengaruh pendidikan dan pelatihan guru sangat penting
dalam mewujudkan guru yang profesional dan meningkatkan kualitas pendidikan
secara keseluruhan3

Namun, di beberapa tempat, pendidikan dan pelatihan guru belum menjadi


prioritas. Banyak guru yang tidak memiliki akses ke pelatihan dan pendidikan
yang berkualitas. Selain itu, beberapa guru mungkin merasa sulit untuk
menemukan waktu atau sumber daya yang cukup untuk mengikuti pelatihan atau
memperoleh pendidikan yang diperlukan. Oleh karena itu, penelitian mengenai
pengaruh pendidikan dan pelatihan guru dalam meningkatkan profesionalisme

3
Darling-Hammond, L., Hyler, M. E., & Gardner, M. (2017). Effective teacher
professional development. Learning Policy Institute.
3

sangat penting untuk membantu menemukan solusi yang dapat meningkatkan


kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Pengalaman mengajar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja


guru. Selain itu, pendidikan dan pelatihan juga berpengaruh terhadap kompetensi
dan profesionalisme guru. Guru yang memiliki pengalaman mengajar yang cukup
dan mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang memadai dapat meningkatkan
kinerja dan kompetensi mereka dalam mengajar.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas dan keterampilan
seorang guru antara lain latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan
pelatihan yang diterima. Seorang guru yang memiliki latar belakang pendidikan
yang baik dan pengalaman mengajar yang cukup tentu akan lebih mudah dalam
membentuk dirinya menjadi seorang guru yang profesional. Namun, tidak semua
guru memiliki latar belakang pendidikan yang sama, dan pengalaman mengajar
yang cukup.4
Oleh karena itu, penting bagi para guru untuk terus mengikuti pendidikan
dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendidikan dan pelatihan
guru dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam
mengajar dan mengelola kelas, serta membantu mereka mengembangkan strategi
mengajar yang lebih efektif.
Namun, meskipun pendidikan dan pelatihan guru sangat penting, masih
banyak guru yang tidak dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan yang sesuai
dengan kebutuhan mereka. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal ini
antara lain biaya pendidikan dan pelatihan yang tinggi, kurangnya akses ke
program pendidikan dan pelatihan yang berkualitas, serta kurangnya dukungan
dari pihak sekolah atau pemerintah.
Dalam konteks ini, perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi guru dalam pendidikan dan
pelatihan, serta untuk mengevaluasi efektivitas program pendidikan dan pelatihan
yang ada. Hal ini dapat membantu meningkatkan partisipasi guru dalam
pendidikan dan pelatihan, serta membantu meningkatkan kualitas dan
4
Human Capital Theory, Sudut Pandan Pengaruh Pendidikan , diakses dari (https://
[Link]). hal: 62-63.
4

keterampilan guru dalam mengajar dan mengelola kelas, sehingga dapat


membentuk guru yang lebih profesional dan berkualitas.5
Oleh karena itu, penting bagi guru untuk terus meningkatkan pengalaman
mengajar dan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang relevan untuk
meningkatkan kualitas pengajaran mereka.

B. Rumusan Masalah

A. Bagaimana konsep Pendidikan dan pelatihan guru ?


B. Seperti apa konsep guru professional ?
C. Bagaimana pengaruh Pendidikan dan pelatihan dalam membentuk guru
professional?

C. Tujuan Penelelitian

a) Untuk Mengetahui Bagaimana konsep Pendidikan dan pelatihan guru


b) Untuk mengetahui bagaimana Seperti apa konsep guru professional
c) Untuk Mengetahui Apa Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Dalam

5
Linda Darling-Hammond, Kualitas Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap
Profesionalisme Guru, Indonesian Journal of Educational 2020 - [Link]
5

D. Manfaat Penelitian

Pendidikan dan pelatihan guru merupakan faktor penting dalam mewujudkan


guru profesional yang berkualitas. Penelitian tentang pengaruh pendidikan dan
pelatihan guru terhadap kualitas guru telah dilakukan oleh banyak ahli
pendidikan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan
pelatihan guru yang baik dapat meningkatkan kualitas guru dan kinerja mereka di
kelas.

Salah satu manfaat dari penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman


tentang pentingnya pendidikan dan pelatihan bagi guru. Dengan mengetahui
manfaat dari pendidikan dan pelatihan, guru akan lebih termotivasi untuk
mengikuti program-program tersebut. Selain itu, penelitian ini juga dapat
memberikan informasi tentang jenis pendidikan dan pelatihan yang paling efektif
bagi guru.6

Manfaat lain dari penelitian ini adalah meningkatkan kualitas pendidikan di


sekolah. Dengan guru yang berkualitas, kualitas pendidikan di sekolah juga akan
meningkat. Hal ini akan berdampak positif pada prestasi siswa dan citra sekolah
di masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga dapat membantu pemerintah dalam
merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih efektif.

Dalam jangka panjang, penelitian tentang pengaruh pendidikan dan pelatihan


guru dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan
guru yang profesional dan berkualitas, siswa akan mendapatkan pendidikan yang
lebih baik dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Secara keseluruhan, penelitian tentang pengaruh pendidikan dan pelatihan guru


memiliki manfaat yang besar dalam mewujudkan guru profesional yang
berkualitas dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu,
penelitian ini perlu terus dilakukan dan didukung oleh semua pihak terkait.

6
Mulyasa, Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme Guru,
Semarang :Fakultas Ilmu Pendidikan UNES Semarang, 2011 hal 1-2
6

Manfaat penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Meningkatkan pemahaman: Penelitian membantu meningkatkan pemahaman


kita tentang berbagai bidang, seperti sains, teknologi, dan kesehatan.
Dengan mempelajari topik secara lebih mendalam, kita dapat memperoleh
wawasan yang lebih kaya dan kompleks tentang dunia di sekitar kita.

2. Mendukung pengambilan keputusan: Penelitian membantu kita membuat


keputusan yang didasarkan pada bukti dan fakta, bukan hanya opini atau
asumsi semata. Hal ini dapat membantu kita menghindari kesalahan
pengambilan keputusan yang tidak akurat atau berbahaya.

3. Menemukan solusi untuk masalah: Penelitian dapat membantu kita


menemukan solusi untuk berbagai masalah, dari penyakit hingga masalah
lingkungan. Dengan mempelajari masalah secara lebih mendalam, kita
dapat menemukan solusi yang lebih efektif dan inovatif.

4. Mendorong inovasi: Penelitian dapat mendorong inovasi dan pengembangan


produk baru serta layanan yang lebih baik. Hal ini dapat berdampak positif
pada kemajuan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

5. Meningkatkan keterampilan pribadi: Melakukan penelitian dapat membantu


individu mengembangkan keterampilan kritis, pemecahan masalah, dan
komunikasi. Hal ini dapat membantu meningkatkan kemampuan individu di
berbagai bidang pekerjaan dan kehidupan pribadi.7

7
Fatur Rohman, Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan, 2014, hal 15-16
7

E. Kerangka Berpikir

Pendidikan dan pelatihan guru adalah proses yang sangat penting dalam
mengembangkan kualitas pendidikan. Konsep pendidikan guru melibatkan
berbagai aspek, seperti memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk mengajar, mengembangkan kemampuan untuk merancang dan
mengimplementasikan program pembelajaran yang efektif, dan memahami
bagaimana siswa belajar dan berkembang.8

Pelatihan guru biasanya mencakup program yang dirancang untuk


meningkatkan keterampilan dan pengetahuan guru dalam mengajar, mengelola
kelas, dan mengevaluasi kinerja siswa. Pelatihan guru juga dapat mencakup
pengembangan keterampilan kepemimpinan dan manajemen, serta pengembangan
keterampilan teknologi informasi.

Pendidikan guru, di sisi lain, melibatkan program akademik yang dirancang


untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan teoritis serta praktis yang
diperlukan untuk menjadi seorang guru yang sukses. Program pendidikan guru
dapat mencakup subjek seperti psikologi pendidikan, metode pengajaran,
kurikulum dan desain pembelajaran, serta pengembangan keterampilan interaksi
sosial dan komunikasi.

8
Linda Darling-Hammond, Kualitas Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme Guru,
Indonesian Journal of Educational 2020 [Link]
8

Tujuan utama dari pendidikan dan pelatihan guru adalah untuk meningkatkan
kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas, dan membantu siswa mencapai
potensi mereka secara penuh. Dengan meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan guru, kita dapat memastikan bahwa siswa mendapatkan pengalaman
pendidikan yang bermutu tinggi dan mempersiapkan mereka untuk sukses di
dunia yang semakin kompleks dan kompetitif.9

9
Linda Darling-Hammond, Kualitas Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme
Guru, Indonesian Journal of Educational 2018 - [Link]
9

F. Metodologi Penelitian
1. Pengertian Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara atau sistematisasi langkah-langkah yang
digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna menjawab
pertanyaan atau tujuan penelitian. Metode penelitian dapat dibedakan menjadi
metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif lebih berfokus pada
pengukuran atau angka, sedangkan metode kualitatif lebih berfokus pada
pemahaman mendalam dan deskripsi yang lebih rinci. Sumber data yang
digunakan dalam penelitian bisa bermacam-macam, antara lain:10
• Sumber data primer: sumber data yang diperoleh langsung dari objek
penelitian, seperti hasil observasi, wawancara, atau eksperimen.
• Sumber data sekunder: sumber data yang diperoleh dari literatur atau
dokumen yang sudah ada, seperti buku, jurnal, laporan penelitian, atau
data statistik.
Metode penelitian mencakup serangkaian prosedur atau langkah-langkah
sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan
data dengan tujuan menjawab pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis.
Metode penelitian dapat dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu metode
penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif.
Metode penelitian kuantitatif umumnya digunakan untuk mengumpulkan
dan menganalisis data yang bersifat kuantitatif atau numerik. Metode ini
menggunakan teknik-teknik statistik untuk menganalisis hubungan antara variabel
dan menguji hipotesis. Contoh teknik pengumpulan data dalam metode penelitian
kuantitatif antara lain survei, Sementara itu, metode penelitian kualitatif lebih
fokus pada pengumpulan dan analisis data yang bersifat deskriptif dan kualitatif.

10
(Fitri Mulyani, 2005) Psikomotor Guru Profesional
10

Metode ini digunakan untuk memahami pengalaman, persepsi, dan sikap


subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dalam metode penelitian kualitatif
antara lain wawancara, observasi, studi kasus, dan analisis dokumen.
Sumber data dalam metode penelitian dapat berasal dari berbagai sumber, seperti
partisipan penelitian, dokumen, literatur, dan data sekunder..Pemilihan sumber
data yang tepat dan relevan sangat penting untuk memastikan kelengkapan dan
keakuratan data yang diperoleh
Selain itu, pemilihan metode penelitian yang tepat juga sangat penting
untuk mencapai tujuan penelitian yang diinginkan. Kombinasi dari metode
penelitian kuantitatif dan kualitatif juga dapat dilakukan untuk menghasilkan data
yang lebih lengkap dan mendalam. Eksperimen, pengamatan, dan pengukuran.
2. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Pendekatan ini akan menggunakan metode pengumpulan data kualitatif
untuk memahami pengaruh pendidikan dan pelatihan guru dalam membentuk
guru profesional secara mendalam. Metode pengumpulan data kualitatif yang
dapat digunakan meliputi wawancara dengan guru, observasi di kelas, atau
analisis dokumen seperti kurikulum dan program pelatihan. Analisis data kualitatif
dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan tematik atau analisis isi untuk
mengidentifikasi pola dan tema yang muncul terkait pengaruh pendidikan dan
pelatihan guru.11
Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk
memahami fenomena sosial dengan cara mendalam dan detail melalui
pengumpulan data yang bersifat deskriptif dan tidak terukur secara numerik.
Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik pengumpulan data seperti
wawancara, observasi, dan analisis dokumen untuk memperoleh pemahaman yang
lebih mendalam tentang fenomena sosial yang diteliti.

11
Deni, Muhammad. 2014. Pengaruh Pendidikan dan Pelatohan, Motivasi, serta Budaya Organisasi
terhadap Kinerja Pegawai Distrik Navigasi Kelas 1 Palembang. Jurnal Ilmu Manajemen
4(1):53-65
11

3. Sumber Data
Sumber data yang dapat digunakan dalam penelitian mengenai "Pengaruh
Pendidikan dan Pelatihan Guru dalam Membentuk Guru Profesional" dapat
meliputi:12
• Angket: Angket dapat diberikan kepada guru-guru yang telah mengikuti
program pendidikan dan pelatihan tertentu. Angket dapat mencakup
pertanyaan-pertanyaan tentang persepsi mereka terhadap dampak
pendidikan dan pelatihan terhadap profesionalisme mereka, peningkatan
kompetensi, dan perubahan dalam praktik pengajaran.
• Observasi di kelas: Melalui observasi langsung di kelas, peneliti dapat
mengamati perilaku dan praktik pengajaran guru yang telah mengikuti
pendidikan dan pelatihan. Observasi ini dapat memberikan wawasan
tentang pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap perubahan dalam
metode pengajaran, interaksi dengan siswa, manajemen kelas, dan
penggunaan strategi pembelajaran yang efektif.
• Dokumen Kurikulum dan Program Pelatihan: Analisis dokumen seperti
kurikulum pendidikan dan program pelatihan guru dapat memberikan
informasi tentang tujuan, konten, dan pendekatan pengajaran yang
diterapkan dalam program tersebut. Dokumen ini dapat memperlihatkan
bagaimana pendidikan dan pelatihan guru dirancang untuk membentuk
guru profesional, dan bagaimana elemen-elemen tersebut diintegrasikan
dalam program.
• Wawancara: Wawancara dengan guru-guru yang telah mengikuti
pendidikan dan pelatihan tertentu dapat memberikan pemahaman yang
lebih mendalam tentang pengaruh program tersebut dalam membentuk
profesionalisme mereka. Wawancara dapat mencakup pertanyaan tentang
perubahan dalam sikap, pengetahuan, keterampilan, dan praktik
pengajaran sebelum dan setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan.

12
Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Mangkunegara, AP. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusa
12

• Data Statistik Sekolah: Data statistik sekolah seperti hasil ujian siswa,
tingkat kelulusan, dan partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler
dapat digunakan sebagai indikator profesionalisme guru. Data ini dapat
memperlihatkan apakah pendidikan dan pelatihan guru memiliki pengaruh
terhadap peningkatan prestasi akademik siswa dan pengembangan kualitas
sekolah secara keseluruhan.
• Penggunaan kombinasi sumber data di atas dapat memberikan gambaran
yang komprehensif tentang pengaruh pendidikan dan pelatihan guru dalam
membentuk guru profesional. Namun, penting untuk memastikan bahwa
data yang dikumpulkan relevan dengan tujuan penelitian dan
memperhatikan etika penelitian serta privasi guru yang terlibat.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian merupakan
salah satu tahapan terpenting dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang
benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinngi, dan sebaliknya.
Teknik penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan proses penyidikan,
maksudnya kita dapat membuat pengertian fenomena sosial secara bertahap,
kemudian melaksanakannya, sebagian besar dengan cara mempertentangkan,
membandingkan, merepleksi, menyusun katalog, dan mengklasifikasi objek suatu
kajian13
Semua kegiatan itu merupakan penarikan sampel, untuk menemukan
keseragaman dan sifat umum dunia sosial, dan kegiatan dilakukan terus dan
berulang oleh peneliti lapangan kualitatif.

13
Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara Mangkunegara, AP.
2009. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusa
13

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting. berbagai


sumber, dan berbagai cara. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data
dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan
teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta, wawancara
mendalam, dan dokumentasi.14
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data
dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hal ini sejalan
dengan filosofi penelitian alamiah, dalam pengambilan data peneliti berbaur dan
berinteraksi secara intensif dengan responden.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,
sehingga dapat mudah dipahami, dan semuannya dapat diinformasikan kepada
orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data,
menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,
memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan
yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Menurut Miles dan Huberman teknik analisis data kualitatif dilakukan
secara interaktif melalui tiga proses, yaitu reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan atau verifikasi.15
• Reduksi Data
Reduksi data adalah proses penyempurnaan data, baik pengurangan
terhadap data yang dianggap kurang perlu dan tidak relevan, maupun
penambahan data yang dirasa masih kurang. Data yang diperoleh di lapangan
mungkin jumlahnya sangat banyak. Reduksi data berarti merangkum, memilih
hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan
polanya

14
Fatur Rohman, Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan, 2014, hal 15-16
15
Fatur Rohman, Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan, 2014, hal 18-22
14

Dengan demikian data yang akan direduksi memberikan gambaran yang


lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data
selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
• Penyajian Data
Dengan mendisplay atau menyajikan data akan memudahkan untuk
memahami apa yang terjadi selama penelitian berlangsung Setelah itu perlu
adanya perencanaan kerja berdasarkan apa yang telah dipahami. Dalam
penyajian data selain menggunakan teks secara naratif, juga dapat berupa
bahasa nonverbal seperti bagan, grafik, denah, matriks, dan tabel.
Penyajian data atau display data dilakukan dalam rangka
mengorganisir hasil reduksi dengan cara menyusun secara narasi sekumpulan
informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi. Dalam penelitian ini
penyajian data dapat dilakukan dari hasil uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori. Sedangkan, yang paling sering digunakan untuk menyajikan
data dalam penelitian kualitatifadalah dengan teks yang bersifat naratif.
Miles and Huberman dalam penelitian kualitatif penyajian data bisa
dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan hubungan antar kategori,
flowchart dan sejenisnya la mengatakan yang paling sering digunakan untuk
menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat
naratif.16
• Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan hasil penelitian yang menjawab
fokus penelitian berdasarkan hasil analisis data. Simpulan disajikan dalam
bentuk deskriptif objek penelitian dengan berpedoman pada kajian penelitian.
Pada tahap ini peneliti menarik kesimpulan dari data yang sudah direduksi dan
yang sudah disajikan dalam deskripsi data dan hasil penelitian.

16
Heri Susanto, Profesi Keguruan,2020, hal 12, diakses dari ([Link]
15

Penarikan kesimpulan ini dilakukan terhadap hasil analisis penafsiran


data dan evaluasi kegiatan yang mencakup pencarian makna serta pemberian
penjelasan dari data yang telah diperoleh.
6. Pengecekan Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji
validitasdan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat
dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan penelitian
dengan apa yang sebenarnya terjadi pada objek yang diteliti. Tetapi tidak bersifat
tunggal, tetapi jamak dan tergantung pada konstruksi17
7. Tahap – Tahap Penelitian
a) Latar Belakang Masalah:
• Jelaskan pentingnya guru profesional dalam sistem pendidikan.
• Identifikasi masalah terkait dengan kualitas dan kompetensi guru di
Indonesia.
• Paparkan bagaimana pendidikan dan pelatihan guru dapat berperan dalam
mengembangkan guru profesional.
b) Rumusan Masalah:
• Rumuskan pertanyaan penelitian yang ingin dijawab, misalnya:
• Bagaimana pengaruh program pendidikan dan pelatihan terhadap
pembentukan guru profesional?
• Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pendidikan dan
pelatihan guru dalam membentuk guru profesional?
• Bagaimana persepsi dan pengalaman guru terkait dengan program
pendidikan dan pelatihan yang diikuti?
c) Tujuan Penelitian:
• Tujuan utama penelitian, misalnya untuk menganalisis pengaruh
pendidikan dan pelatihan guru dalam membentuk guru profesional.
• Tujuan spesifik lainnya, seperti mengidentifikasi faktor-faktor yang
memengaruhi efektivitas program, dan memahami persepsi serta
pengalaman guru.

17
Heri Susanto,Buku Profesi Ke Guruan pengertian guru hal.12-13
16

d) Metode Penelitian:
• Pendekatan kualitatif, dengan rancangan studi kasus atau fenomenologi.
• Teknik pengumpulan data: wawancara mendalam, observasi, dan analisis
dokumen.
• Partisipan: guru-guru yang telah mengikuti program pendidikan dan
pelatihan.
• Analisis data: coding, kategorisasi, dan interpretasi tematik.
e) Hasil dan Pembahasan:
• Paparkan temuan penelitian terkait pengaruh pendidikan dan pelatihan
guru terhadap pembentukan guru profesional.
• Bahas faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas program serta persepsi
dan pengalaman guru.
• Kaitkan hasil temuan dengan teori dan literatur yang relevan.
f) Kesimpulan dan Saran:
• Simpulkan temuan utama penelitian.
• Berikan saran praktis bagi pengembangan program pendidikan dan
pelatihan guru.
• Saran untuk penelitian selanjutnya.
Untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan dan pelatihan guru dalam
membentuk guru professional, dapat digunakan berbagai metodologi penelitian
seperti studi kasus, survei, eksperimen, atau meta-analisis.

17
Heri Susanto,Buku Profesi Ke Guruan pengertian guru hal.12-13
17

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah studi kasus, di mana
peneliti dapat mempelajari pengalaman guru dalam mengikuti program
pendidikan dan pelatihan tertentu dan bagaimana program tersebut mempengaruhi
praktik pengajaran mereka dan kualitas pembelajaran. Studi kasus dapat dilakukan
dengan mewawancarai guru dan mengamati praktik pengajaran mereka dan
membandingkannya sebelum dan setelah mengikuti program pendidikan dan
pelatihan.
Selain itu, survei dapat dilakukan untuk mengumpulkan data tentang
pengalaman dan persepsi guru mengenai program pendidikan dan pelatihan yang
mereka ikuti, serta dampaknya pada kualitas pengajaran dan pembelajaran. Survei
dapat dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada guru yang telah
mengikuti program pendidikan dan pelatihan tertentu.
Eksperimen juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh program
pendidikan dan pelatihan pada kualitas pengajaran. Dalam eksperimen, kelompok
guru dapat dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, di mana
kelompok perlakuan mengikuti program pendidikan dan pelatihan tertentu,
sedangkan kelompok kontrol tidak mengikuti program tersebut. Setelah itu,
kualitas pengajaran dari kedua kelompok dapat diukur dan dibandingkan.18
Terakhir, meta-analisis dapat digunakan untuk menggabungkan temuan dari
beberapa penelitian tentang pengaruh pendidikan dan pelatihan guru dalam
membentuk guru professional. Dalam meta-analisis, data dari studi yang berbeda
diambil dan dianalisis secara bersama-sama untuk memberikan gambaran yang
lebih komprehensif tentang pengaruh program pendidikan dan pelatihan pada
kualitas pengajaran dan pembelajaran19

18
Linda Darling-Hammond, Kualitas Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme
Guru, Indonesian Journal of Educational 2020 - [Link]
19
Darling-Hammond, L., Hyler, M. E., & Gardner, M. (2017). Effective teacher
professional development. Learning Policy Institute
18

G. Sistematika pembahasan
Dalam penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab dengan sistematika
pembahasan sebagai berikut :
Bab KeSatu Pendahuluan : Membahas Tentang, Latar Belakang Masalah,
Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Berpikir,
Metodologi Pembahasan, Sistematika Pembahasan

Bab kedua Konsep Pendidikan Dan Pelatihan; Terdiri Dari : A. Konsep


Pendidikan Dan Pelatihan, B. Manfaat Pendidikan Dan Pelatihan. E.
Karakteristik Pendidikan Dan Pelatihan. D. Metode Pendidikan Dan Pelatihan

Bab Ketiga Konsep Guru Profesional ; Terdiri Dari : A. Konsep Guru


Profesional. B. Karakteristik Guru Professional. C. Kompetensi Guru
Professional. D. Peran Guru Professional Dalam Pendidikan
Bab keempat Hasil penelitian dan Pembahasan: A. Paparan data, B. Temuan
Penelitian, C. Pembahasan Temuan penelitian
Bab kelima penutup : [Link], [Link]
BAB II
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
A. Konsep Pendidikan Dan Pelatihan

Ada banyak konsep pendidikan dan pelatihan yang telah


dikembangkan dan diterapkan di berbagai negara dan konteks. Berikut
adalah beberapa di antaranya:1

1. Pendekatan Tradisional: Pendekatan ini berfokus pada pemberian


informasi dan pengetahuan secara teoritis dan bersifat formal, yang
disampaikan melalui pengajaran di kelas atau melalui buku teks.

2. Pendekatan Behavioristik: Pendekatan ini menekankan pada


pembentukan perilaku dan kebiasaan yang diinginkan melalui
pemberian umpan balik yang tepat dan pengulangan latihan.

3. Pendekatan Kognitif: Pendekatan ini menekankan pada pemahaman


konsep dan pembentukan pola pikir yang tepat melalui proses berpikir,
analisis, dan sintesis.

4. Pendekatan Konstruktivis: Pendekatan ini menekankan pada


pembelajaran yang aktif dan partisipatif, di mana siswa membangun
pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman langsung dan
interaksi dengan lingkungan dan orang lain.

5. Pendekatan Humanistik: Pendekatan ini menekankan pada


pengembangan individu secara keseluruhan, yang mencakup aspek
kognitif, emosional, dan sosial.

6. Pendekatan Kontekstual: Pendekatan ini menekankan pada


pembelajaran yang relevan dengan konteks kehidupan nyata siswa, dan
mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan sosial dalam proses
pembelajaran.

1
Gomes, Faustino Cardoso. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta. Andi

19
20

7. Pendekatan Berbasis Proyek: Pendekatan ini menekankan pada


pembelajaran melalui pengalaman praktis dan proyek nyata, di mana
siswa memecahkan masalah dan menghasilkan produk atau layanan
ang berguna.

8. Pendekatan Blended Learning: Pendekatan ini menggabungkan


pembelajaran online dan offline, di mana siswa dapat memanfaatkan
teknologi untuk memperoleh informasi, berinteraksi dengan instruktur
dan siswa lain, dan memperluas pengalaman belajar mereka.

9. Pelatihan On-the-job: Pelatihan ini dilakukan di tempat kerja, di mana


karyawan belajar melalui pengalaman langsung dan praktik dengan
mengikuti instruksi dari rekan kerja atau supervisor.

10. Pelatihan Off-the-job: Pelatihan ini dilakukan di luar lingkungan kerja,


seperti di pusat pelatihan atau lembaga pendidikan, di mana karyawan
belajar melalui pengajaran formal, simulasi, atau latihan praktis.

Rata-rata manusia sukses itu ialah manusia yang berpendidikan.


Selain itu, pendidikan juga dapat membantu anak dan remaja untuk
menjadi yang terbaik sesuai kemampuan mereka, Namun, masih
banyak anak dan remaja di Indonesia yang tidak bersekolah. Anak dan
remaja yang berasal dari keluarga miskin, penyandang disabilitas dan
mereka yang tinggal di daerah terpencil dan tertinggal di negara ini
paling berisiko putus sekolah2

2
Hamalik, Oemar. 2007. Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan. Jakarta. Bumi Aksara
21

Sedangkan menurut “Heri Susanto,Buku Profesi Ke Guruan


pengertian guru hal.12-13” tentang konsep Pendidikan dan pelatihan
sebagai berikut :2

1. Pendidikan Guru:
• Pendidikan guru adalah program pendidikan formal
yang bertujuan untuk mempersiapkan calon guru agar
memiliki kompetensi dan profesionalisme yang
diperlukan dalam menjalankan tugas sebagai guru.
• Program pendidikan guru biasanya dilaksanakan di
lembaga pendidikan tinggi, seperti universitas atau
institut keguruan.
• Kurikulum pendidikan guru mencakup komponen-
komponen seperti:
✓ Mata kuliah bidang studi/disiplin ilmu
✓ Mata kuliah pedagogik (teori dan praktik
kependidikan)
✓ Praktik mengajar di sekolah (program
PPL/magang)
• Melalui pendidikan guru, calon guru memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan
untuk menjadi guru yang profesional.
2. Pelatihan Guru
• Pelatihan guru merupakan program pengembangan
profesional yang dilaksanakan untuk meningkatkan
kompetensi dan kinerja guru yang sudah bertugas.
• Pelatihan guru dapat dilakukan dalam bentuk in-service
training, workshop, seminar, dan kegiatan lainnya.

2
Mulyasa, Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme Guru
Semarang :Fakultas Ilmu Pendidikan UNES Semarang, 2011 hal 1-2
22

• Pelatihan guru dapat dilaksanakan di tingkat sekolah


(in-house training), tingkat daerah, maupun tingkat
nasional.
• Tujuan pelatihan guru adalah untuk:
✓ Meningkatkan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap guru
✓ Memperbarui wawasan guru tentang
perkembangan ilmu dan teknologi
pendidikan
✓ Mengembangkan kemampuan guru dalam
mengelola pembelajaran yang efektif
• Pelatihan guru yang efektif dapat mendorong guru
untuk menerapkan hasil pelatihan dalam praktik
pembelajaran di kelas.
Pendidikan guru dan pelatihan guru merupakan dua komponen
penting dalam upaya mempersiapkan dan mengembangkan kompetensi
serta profesionalisme guru. Keduanya harus diterapkan secara
terintegrasi untuk mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Pendidikan dan pelatihan guru adalah konsep yang berkaitan erat
dengan pengembangan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan
oleh guru untuk menjadi lebih efektif dalam mengajar dan membantu
siswa mencapai potensi penuh mereka.4

Pendidikan guru berkaitan dengan program-program pendidikan


formal yang dirancang untuk mempersiapkan calon guru dengan
pengetahuan dasar, keterampilan, dan pemahaman tentang bagaimana
siswa belajar dan bagaimana mengajar dengan efektif. Program-
program pendidikan guru biasanya mencakup teori pendidikan, metode
pengajaran, dan praktik pengajaran di kelas.

3Heri Susanto, Profesi Keguruan,2020,hal 30-31diakses dari [Link]


23

Pelatihan guru adalah program yang dirancang untuk membantu


guru yang sudah bekerja untuk meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan mereka dalam mengajar. Pelatihan ini dapat mencakup
topik seperti penggunaan teknologi dalam pengajaran, pengelolaan
kelas yang efektif, dan pengajaran berbasis proyek.

Keduanya, pendidikan dan pelatihan guru, penting untuk


memastikan bahwa guru memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk membantu siswa mencapai potensi mereka. Guru
yang terlatih dengan baik dapat membantu siswa belajar dengan lebih
efektif, menjaga kelas tetap terorganisir dan disiplin, dan membuat
lingkungan belajar yang aman dan positif. Selain itu, pendidikan dan
pelatihan guru juga dapat membantu meningkatkan kinerja guru dan
menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi dalam diri mereka.4

Menurut uraian di atas penulis ijin menyimpulkan bahwa Pendidikan


dan pelatihan adalah dua konsep yang saling terkait namun memiliki
perbedaan yang cukup signifikan, Pendidikan adalah proses pembelajaran
yang melibatkan transfer pengetahuan, , keterampilan, dan nilai-nilai dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan dapat dilakukan di
sekolah, perguruan tinggi, atau melalui pengalaman langsung dalam
kehidupan sehari-hari. Sementara itu pelatihan adalah proses pembelajaran
yang lebih fokus pada pengembangan keterampilan dan pengetahuan
spesifik untuk tujuan tertentu

4Noe. 2005. Human Resources Management. New York. Mc Graw Hill


24

B. Manfaat Pendidikan Dan Pelatihan


Pendidikan dan pelatihan memiliki banyak manfaat, baik bagi
individu maupun organisasi. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari
konsep pendidikan dan pelatihan:5

1. Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan: Pendidikan dan


pelatihan membantu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan
seseorang dalam bidang tertentu, sehingga mereka dapat lebih ahli dan
efektif dalam pekerjaan mereka.

2. Meningkatkan produktivitas: Pendidikan dan pelatihan dapat


membantu meningkatkan produktivitas individu atau organisasi,
karena karyawan yang lebih terampil dan terlatih memiliki
kemampuan untuk menyelesaikan tugas dan proyek dengan lebih cepat
dan efektif.

3. Meningkatkan kualitas produk atau layanan: Pendidikan dan pelatihan


dapat membantu meningkatkan kualitas produk atau layanan yang
dihasilkan oleh organisasi, karena karyawan yang lebih terlatih dan
terampil mampu menghasilkan produk atau layanan yang lebih baik.

4. Meningkatkan kepercayaan diri: Pendidikan dan pelatihan dapat


membantu meningkatkan kepercayaan diri seseorang, karena mereka
merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas atau proyek yang
sulit.

5. Meningkatkan motivasi: Pendidikan dan pelatihan dapat membantu


meningkatkan motivasi seseorang, karena mereka merasa lebih
dihargai oleh organisasi dan memiliki kesempatan untuk
mengembangkan keterampilan mereka.

5 Fatur Rohman, Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan, 2014, hal 15-16
25

6. Meningkatkan kesempatan karir: Pendidikan dan pelatihan dapat


membantu meningkatkan kesempatan karir seseorang, karena mereka
memiliki keterampilan dan pengetahuan yang lebih banyak dan lebih
baik dibandingkan dengan orang lain yang tidak terlatih.

7. Meningkatkan kepuasan kerja: Pendidikan dan pelatihan dapat


membantu meningkatkan kepuasan kerja seseorang, karena mereka
merasa lebih berharga dan dihargai oleh organisasi dan memiliki
kesempatan untuk mengembangkan keterampilan mereka.

8. Meningkatkan daya saing organisasi: Pendidikan dan pelatihan dapat


membantu meningkatkan daya saing organisasi, karena organisasi
memiliki karyawan yang lebih terlatih dan terampil dalam menghadapi
persaingan di pasar.

Dengan manfaat-manfaat di atas penulis dapat menyimpulkan


bahwa pendidikan dan pelatihan memainkan peran penting dalam
meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan, dan pertumbuhan
ekonomi. Itulah mengapa penting untuk memastikan bahwa semua
orang memiliki akses yang sama ke pendidikan dan pelatihan yang
diperlukan untuk mencapai potensi penuh mereka.

5
Linda Darling-Hammond, Kualitas Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme Guru,
Indonesian Journal of Educational 2020 - [Link]
26

C. Karakteristik Pendidikan Dan Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan adalah proses pembelajaran yang


bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
seseorang dalam suatu bidang tertentu. Karakteristik pendidikan dan
pelatihan dapat dibagi menjadi beberapa hal, di antaranya:6

1. Tujuan: Pendidikan dan pelatihan memiliki tujuan yang jelas yaitu


untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang.
Tujuan ini harus terukur dan dapat diukur keberhasilannya dalam
mencapai tujuan tersebut.

2. Metode: Pendidikan dan pelatihan memiliki metode yang berbeda-beda


tergantung pada bidang yang diajarkan. Metode dapat berupa kuliah,
diskusi, presentasi, simulasi, latihan, dan sebagainya.

3. Materi: Materi yang diajarkan dalam pendidikan dan pelatihan harus


relevan dengan bidang yang diajarkan dan up-to-date dengan
perkembangan terkini dalam bidang tersebut.

4. Fasilitas: Fasilitas yang tersedia dalam pendidikan dan pelatihan juga


harus memadai dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Fasilitas dapat
berupa ruang kelas, peralatan, bahan ajar, dan sebagainya.

5. Evaluasi: Evaluasi merupakan bagian penting dalam pendidikan dan


pelatihan untuk mengevaluasi sejauh mana peserta telah memahami
materi yang diajarkan dan apakah tujuan telah tercapai.

6. Fleksibilitas: Pendidikan dan pelatihan juga harus fleksibel dan dapat


disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Hal ini penting untuk
memastikan bahwa peserta dapat memperoleh manfaat yang maksimal
dari program pendidikan dan pelatihan.

6
Heri Susanto, Profesi Keguruan,2020, hal 25, diakses dari ([Link]
27

7. Kualitas pengajar: Kualitas pengajar juga memainkan peran penting


dalam pendidikan dan pelatihan. Pengajar harus memiliki pengetahuan
yang cukup dalam bidang yang diajarkan, mampu mengajar dengan
baik, dan memiliki kemampuan untuk memotivasi peserta.

8. Sertifikasi: Sertifikasi dapat menjadi bukti bahwa peserta telah berhasil


menyelesaikan program pendidikan dan pelatihan dan memiliki
keahlian yang dibutuhkan dalam bidang tersebut.

Secara umum, karakteristik pendidikan dan pelatihan harus


memenuhi standar yang ditetapkan untuk memastikan keberhasilan
program pendidikan dan pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta.

Menurut uraian di atas penulis ijin ingin sedikit menyimpulkan


bahwa Karakteristik adalah ciri atau sifat khas yang membedakan
suatu hal dari hal yang lainnya. Sementara itu, pelatihan adalah suatu
proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan,
pengetahuan, dan sikap seseorang dalam hal-hal tertentu.

Jadi, karakteristik pelatihan adalah ciri atau sifat khas dari proses
pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan,
pengetahuan, dan sikap seseorang dalam hal-hal tertentu.

Menurut Mangkunegara (2000:164), kinerja guru adalah hasil kerja


secara kulitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang guru dalam
melaksanakan tuasgnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.7

Ukuran kinerja guru dapat dlihat dari rasa tanggung jawab nya
dalam menjalankan amanah, profesi yang menjadi tugasnya. Dapat
dilihat juga dari kepatuhan dan loyalitasnya dalam mekajalankan tugas
keguruannnya didalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas.8

7
Menurut Mangkunegara (2000:164),
8
Siagian, Sondang P. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Bumi Aksara.
28

D. Metode Pendidikan Dan Pelatihan

Ada banyak metode pendidikan dan pelatihan yang dapat


digunakan, tergantung pada bidang dan tujuan yang ingin dicapai. Berikut
adalah beberapa metode pendidikan dan pelatihan yang umum digunakan:9

1. Kuliah: Metode ini melibatkan pengajaran yang disampaikan oleh


seorang pengajar atau dosen kepada sekelompok peserta di kelas atau
ruang kuliah. Biasanya, metode ini digunakan untuk menyampaikan
materi yang teoritis dan kompleks, seperti dalam bidang ilmu sosial
dan ilmu pengetahuan alam.

2. Diskusi: Metode ini melibatkan peserta dalam diskusi terstruktur dan


terarah tentang suatu topik tertentu. Diskusi dapat dilakukan antara
peserta secara langsung atau melalui media online. Metode ini dapat
digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih interaktif dan
partisipatif.

3. Studi kasus: Metode ini melibatkan peserta dalam menganalisis kasus


nyata dalam suatu bidang tertentu. Peserta akan mempelajari kasus
tersebut, menganalisis masalah, dan mencari solusi terbaik. Metode ini
efektif untuk mengembangkan kemampuan analisis dan keterampilan
pemecahan masalah.

4. Simulasi: Metode ini melibatkan peserta dalam simulasi situasi atau


peristiwa yang terjadi dalam suatu bidang tertentu. Peserta akan
berperan sebagai aktor dalam simulasi tersebut dan belajar bagaimana
mengatasi masalah dengan situasi yang dihadapi. Metode ini efektif
untuk mengembangkan kemampuan praktis dan keterampilan yang
terkait dengan situasi tertentu.

9
Human Capital Theory, Sudut Pandan Pengaruh Pendidikan ,diakses dari
(https:// [Link]). hal: 62-63.
29

5. Pelatihan praktis: Metode ini melibatkan peserta dalam pelatihan


langsung dengan menggunakan peralatan atau instrumen yang
digunakan dalam suatu bidang tertentu. Metode ini efektif untuk
mengembangkan keterampilan praktis dan teknis.

Metode pendidikan dan pelatihan yang digunakan tergantung pada


tujuan belajar, jenis keterampilan yang ingin dikembangkan, dan
preferensi siswa dan pengajar. Kombinasi dari beberapa metode
pengajaran yang berbeda dapat membantu memastikan bahwa siswa
memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan mereka dan sukses di masa depan.10

10
Human Capital Theory, Sudut Pandan Pengaruh Pendidikan , diakses dari (https://
[Link]). hal: 62-63.
BAB III

GURU PROFESIONAL

A. Guru Profesional
Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi dan
kualifikasi yang memadai untuk melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya secara efektif. Berikut adalah penjelasan mengenai guru
profesional:1
1. Kompetensi Pedagogik:
• Guru mampu memahami karakteristik dan kebutuhan belajar
peserta didik.
• Guru dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran yang
aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
• Guru terampil dalam mengevaluasi pembelajaran dan
mengembangkan potensi peserta didik.
2. Kompetensi Kepribadian:
• Guru memiliki integritas, kepribadian yang stabil, dewasa, arif,
dan berwibawa.
• Guru mampu menjadi teladan yang baik bagi peserta didik dan
masyarakat.
• Guru memiliki akhlak mulia dan menjunjung tinggi kode etik
profesi.
3. Kompetensi Sosial:
• Guru terampil dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan
peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orangtua/wali, dan masyarakat.
• Guru dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja yang memiliki
keragaman sosial budaya.

1
Bungin, B. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial
Lainnya. Jakarta: Kencana [Link] 79-83

56
31

4. Kompetensi Profesional:
• Guru menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan
yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.
• Guru mampu mengembangkan keprofesionalan secara
berkelanjutan melalui refleksi diri, penelitian, dan pengembangan.
• Guru memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
pengembangan diri dan pembelajaran.

Guru profesional juga memiliki kualifikasi akademik yang sesuai, yaitu


minimal memiliki gelar sarjana (S1) atau diploma empat (D4) dalam bidang
kependidikan atau non-kependidikan yang relevan dengan mata pelajaran yang
diampu.

Dengan memiliki kompetensi dan kualifikasi yang memadai, guru


profesional dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif
dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik.

Menurut penulis seorang guru yang tidak memiliki gelar sarjana (S1) atau
diploma empat (D4) sah saja jika di katakana guru professional asalkan dengan
syarat guru tersebut mampu dan menguasai di bidang mata Pelajaran tersebut.

Tetapi jika berdasarkan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun


2005 tentang Guru dan Dosen, salah satu syarat menjadi guru profesional adalah
memiliki kualifikasi akademik minimum diploma empat (D4) atau sarjana (S1)
dalam bidang yang sesuai dengan mata pelajaran atau bidang yang diajarkan.
Maka dalam edaran UU tersebut tidak bisa dikatan guru professional jika belum
memenuhi persyaratan yang sebelumnya penulis paparkan di atas.

1
Bungin, B. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial
Lainnya. Jakarta: Kencana [Link] 79-83
32

B. Fungsi Guru Profesional


Guru profesional memiliki beberapa fungsi penting, antara lain:2
1. Fungsi Edukatif
Guru berperan dalam mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik agar
memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan tujuan
pendidikan.
2. Fungsi Administratif
Guru bertanggung jawab dalam melaksanakan administrasi pembelajaran,
seperti membuat perencanaan pembelajaran, melaksanakan proses
pembelajaran, dan melakukan penilaian hasil belajar.
3. Fungsi Kepemimpinan
Guru berperan sebagai pemimpin di dalam kelas, memotivasi dan
membimbing peserta didik agar dapat belajar secara aktif, kreatif, dan
mandiri.
4. Fungsi Inovatif
Guru dituntut untuk selalu mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam
pembelajaran agar dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
5. Fungsi Keteladanan
Guru harus dapat menjadi teladan yang baik bagi peserta didik dan
masyarakat, baik dalam sikap, perilaku, maupun kepribadian.
6. Fungsi Sosial
Guru berperan dalam menjalin komunikasi dan interaksi yang efektif
dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang
tua/wali, dan masyarakat.

2
Creswell, J. W. Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods
approaches. Sage publications. [Link] 22-34
3
Profesionalisme Guru, Indonesian Journal of Educational 2020 [Link]
33

Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut secara optimal, guru


profesional dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mencapai
tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

C. Kelasifikasi guru professional


Dalam Guru professional dapat diklasifikasikan berdasarkan
beberapa kriteria, antara lain:3
1. Berdasarkan Jenjang Pendidikan:
• Guru Taman Kanak-kanak (TK)
• Guru Sekolah Dasar (SD)
• Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP)
• Guru Sekolah Menengah Atas (SMA)
• Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
2. Berdasarkan Bidang Studi:
• Guru Mata Pelajaran (seperti Guru Matematika, Guru Bahasa
Indonesia, Guru Fisika, dll.)
• Guru Bimbingan dan Konseling (BK)
• Guru Pendidikan Agama
• Guru Pendidikan Jasmani
• Guru Seni dan Budaya
3. Berdasarkan Status Kepegawaian:
• Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS)
• Guru Honorer
• Guru Kontrak
• Guru Swasta

3
Yuniarsih, Tjutju dan Suwatno. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung. Alfabeta.
34

4. Berdasarkan Kualifikasi Akademik:


• Guru dengan kualifikasi S1 atau D4 Kependidikan
• Guru dengan kualifikasi S1 atau D4 Non-Kependidikan
5. Berdasarkan Sertifikasi:
• Guru Bersertifikat Pendidik
• Guru Belum Bersertifikat Pendidik
6. Berdasarkan Pengalaman Mengajar:
• Guru Pemula
• Guru Madya
• Guru Senior
Klasifikasi guru profesional ini penting untuk mengatur pembagian
tugas, tingkat tanggung jawab, pola pembinaan, pengembangan karier,
serta sistem remunerasi dan tunjangan yang sesuai dengan kompetensi dan
kinerja guru.4
Dengan demikian, setiap guru profesional memiliki karakteristik
dan tanggung jawab yang berbeda-beda sesuai dengan klasifikasi dan
posisinya, sehingga dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam
upaya mencapai tujuan pendidikan.

4
Sekaran, Uma. 2006. Metodelogi Penelitian Untuk Bisnis (4 ed.). Jakarta,
Indonesia: Salemba Empat.
35

D. Peran Guru Professional


Seorang Guru profesional memiliki peran yang sangat penting
dalam dunia pendidikan. Berikut adalah beberapa peran utama guru
profesional:5
1. Sebagai Pendidik
• Guru berperan dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan
peserta didik agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,
baik dari aspek intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial.
2. Sebagai Pengajar
• Guru berperan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi
proses pembelajaran yang efektif dan efisien sehingga dapat
meningkatkan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
peserta didik.
3. Sebagai Pembimbing
• Guru berperan dalam memberikan bimbingan dan konseling
kepada peserta didik agar dapat mengatasi masalah-masalah yang
dihadapi, baik yang terkait dengan akademik maupun non-
akademik.
4. Sebagai Motivator
• Guru berperan dalam memberikan motivasi, inspirasi, dan
dorongan kepada peserta didik agar memiliki semangat belajar
yang tinggi dan dapat meraih prestasi yang optimal.
5. Sebagai Inovator
• Guru berperan dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi
dalam pembelajaran, baik dari segi model, metode, media, maupun
sumber belajar agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik
dan bermakna bagi peserta didik.

5
Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
36

6. Sebagai Teladan
• Guru berperan sebagai model atau contoh yang baik bagi peserta
didik, baik dalam sikap, perilaku, maupun kepribadian.
7. Sebagai Peneliti
• Guru berperan dalam melakukan penelitian, baik penelitian
tindakan kelas maupun penelitian lainnya, untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran dan memecahkan permasalahan yang
dihadapi peserta didik.
Dengan menjalankan peran-peran tersebut secara profesional, guru
dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya mencapai
tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
bertanggung jawab.

E. Dampak Positif Dan Negativ Guru Profesional


Berikut adalah beberapa dampak positif dan negatif dari adanya
guru profesional:

Dampak Positif:

1. Kualitas Pembelajaran Meningkat


• Guru profesional memiliki kompetensi yang baik sehingga dapat
merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran secara
efektif. Hal ini berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran
yang diterima oleh peserta didik.
2. Prestasi Peserta Didik Meningkat
• Dengan pembelajaran yang berkualitas, peserta didik akan lebih
termotivasi dan terarah dalam belajar, sehingga dapat meraih
prestasi akademik yang lebih baik.

8
Miles and Huberman dalam penelitian kualitatif
37

3. Citra Profesi Guru Meningkat


• Keberadaan guru profesional dapat meningkatkan citra positif
profesi guru di mata masyarakat, sehingga lebih dihargai dan
dihormati.
4. Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan
• Guru profesional memiliki komitmen untuk terus mengembangkan
kompetensinya melalui pelatihan, penelitian, dan kegiatan
pengembangan keprofesian lainnya.
Dampak Negatif:
1. Kesenjangan Kualitas Antar Guru
• Tidak semua guru memiliki kompetensi yang sama, sehingga dapat
terjadi kesenjangan kualitas antar guru profesional dan non-
profesional.
2. Beban Kerja Guru Meningkat
• Tuntutan untuk menjadi guru profesional dapat menambah beban
kerja guru, baik dari segi administrasi, pengembangan diri, maupun
tanggung jawab lainnya.
3. Disparitas Antara Daerah Maju dan Tertinggal
• Pemerataan distribusi guru profesional belum tentu merata di
seluruh wilayah, sehingga dapat menimbulkan kesenjangan antara
daerah maju dan daerah tertinggal.
4. Biaya Pendidikan Meningkat
• Upaya untuk memenuhi standar guru profesional dapat
meningkatkan biaya pendidikan, terutama terkait dengan
peningkatan kesejahteraan dan pengembangan kompetensi guru.
Secara keseluruhan, dampak positif dari guru profesional jauh lebih
besar daripada dampak negatifnya. Namun, dampak negatif perlu
diantisipasi dan dikelola dengan baik agar tidak menghambat upaya
peningkatan kualitas pendidikan.

9
Linda Darling-Hammond, Kualitas Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap
Profesionalisme Guru, Indonesian Journal of Educational 2018 [Link]
38

F. Karakteristik Guru Profesional

Karakteristik guru profesional adalah sebagai berikut:10

1. Kompetensi Pedagogik
• Guru profesional memiliki kemampuan untuk mengelola
pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga
evaluasi pembelajaran. Mereka mampu memahami karakteristik
peserta didik dan mengembangkan kurikulum yang sesuai.
2. Kompetensi Kepribadian
• Guru profesional memiliki kepribadian yang sta bil, dewasa,
arif, dan berwibawa. Mereka menjadi teladan yang baik bagi
peserta didik dan masyarakat.
3. Kompetensi Sosial
• Guru profesional mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara
efektif dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan,
orang tua/wali, dan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi Profesional
• Guru profesional memiliki penguasaan materi pembelajaran secara
luas dan mendalam. Mereka terus-menerus mengembangkan
wawasan dan keterampilan yang terkait dengan bidang yang
diajarkan.
5. Komitmen Terhadap Tugas
• Guru profesional memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas
dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Mereka menjalankan
tugas dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.

10
Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan
(KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Gur., Jakarta: Rajawali Press
39

6. Pengembangan Diri
• Guru profesional senantiasa mengembangkan diri melalui berbagai
kegiatan, seperti pelatihan, seminar, lokakarya, penelitian, dan
kegiatan pengembangan keprofesian lainnya.
7. Kode Etik Profesi
• Guru profesional mematuhi dan menjalankan kode etik profesi
guru, yang mengatur perilaku, sikap, dan tindakan dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
8. Inovasi dan Kreativitas
• Guru profesional mampu berinovasi dan berkreativitas dalam
merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran agar
lebih efektif dan menarik bagi peserta didik.

Karakteristik-karakteristik tersebut merupakan ciri-ciri yang harus dimiliki


oleh seorang guru profesional agar dapat menjalankan peran dan tanggung
jawabnya secara optimal dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.

10
Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan
(KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Gur., Jakarta: Rajawali Press
BAB IV

PEMBAHASAN MASALAH

A. Konsep Pendidikan Dan Pelatihan Guru


Konsep pendidikan dan pelatihan guru dapat dijabarkan sebagai
berikut:1
1. Pendidikan Guru
• Pendidikan guru merupakan proses formal untuk mempersiapkan
calon guru agar memiliki kompetensi dan kualifikasi yang
diperlukan dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik.
• Pendidikan guru dilakukan melalui program studi kependidikan di
perguruan tinggi, seperti program sarjana pendidikan (S1) atau
program pascasarjana kependidikan (S2/S3).
• Kurikulum pendidikan guru mencakup mata kuliah bidang studi,
pedagogik, psikologi pendidikan, manajemen pendidikan, dan
praktik lapangan kependidikan.
2. Pelatihan Guru
• Pelatihan guru merupakan kegiatan pengembangan kompetensi
yang dilakukan secara sistematis dan terencana untuk
meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan guru.
• Pelatihan guru dapat dilakukan dalam bentuk:
• Pelatihan dasar, seperti pelatihan pengelolaan kelas,
penggunaan media pembelajaran, dan evaluasi
pembelajaran.
• Pelatihan lanjutan, seperti pelatihan penelitian tindakan
kelas, pengembangan kurikulum, dan pemanfaatan
teknologi informasi dalam pembelajaran.
• Pelatihan berbasis kompetensi, sesuai dengan kebutuhan
pengembangan profesional guru.

1
Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Gur hal 15-16, Jakarta: Rajawali Press

56
41

3. Sertifikasi Guru
• Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada
guru yang telah memenuhi standar kualifikasi dan kompetensi
tertentu.
• Tujuan sertifikasi adalah untuk meningkatkan mutu guru,
melindungi profesi guru, dan meningkatkan kesejahteraan guru.
• Sertifikasi guru dilakukan melalui uji kompetensi, baik melalui
penilaian portofolio maupun pendidikan dan latihan profesi guru
(PLPG) atau pendidikan profesi guru (PPG).
4. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
• Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) merupakan upaya
untuk memelihara, meningkatkan, dan memperluas pengetahuan
dan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
• PKB dapat dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri,
publikasi ilmiah, dan karya inovatif.
• PKB bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru
agar dapat memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi
peserta didik.
Konsep pendidikan dan pelatihan guru ini merupakan bagian integral
dari upaya mempersiapkan, mengembangkan, dan mempertahankan guru-
guru profesional yang berkualitas.

1
Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Gur hal 15-16, Jakarta: Rajawali Press
42

B. Konsep Guru Profesional


Konsep guru profesional dapat dijabarkan sebagai berikut:2
1. Definisi Guru Profesional
• Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi,
kualifikasi, dan sertifikasi yang dipersyaratkan untuk menjalankan
tugas kependidikan secara efektif dan efisien.
• Guru profesional harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya sebagai pendidik.
2. Kompetensi Guru Profesional
• Kompetensi guru profesional meliputi:
• Kompetensi pedagogik: kemampuan mengelola pembelajaran.
• Kompetensi kepribadian: menjadi teladan yang baik.
• Kompetensi sosial: berinteraksi dan berkomunikasi efektif.
• Kompetensi profesional: penguasaan materi pembelajaran.
3. Peran dan Tanggung Jawab Guru Profesional
• Peran guru profesional antara lain sebagai pendidik, pengajar,
pembimbing, pelatih, penilai, dan pengembang kurikulum.
• Tanggung jawab guru profesional meliputi: merencanakan,
melaksanakan, menilai pembelajaran, dan membimbing peserta
didik.
4. Pengembangan Profesi Guru Profesional
• Pengembangan profesi guru dilakukan melalui pendidikan dan
pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan keprofesian
berkelanjutan.
• Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas, kompetensi, dan
kesejahteraan guru.

2
Heri Susanto,Buku Profesi Ke Guruan pengertian guru hal.12-13
43

5. Standar Guru Profesional


• Standar guru profesional diatur dalam peraturan perundang-
undangan, seperti Undang-Undang Guru dan Dosen serta Peraturan
Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan.
• Standar tersebut mencakup kualifikasi akademik, kompetensi,
sertifikasi, beban kerja, dan pengembangan profesi.
Konsep guru profesional ini menjadi landasan bagi upaya peningkatan
mutu pendidikan melalui peningkatan kualitas dan profesionalitas guru di
Indonesia.
C. Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Guru Dalam Membentuk Guru
Profesional
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan
guru dapat berpengaruh dalan meningkatkan kualitas pengajaran dan
pembelajaran, serta membantu guru menjadi lebih efektif dalam mengajar.
Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Darling-Hammond, Wei,
Andree, Richardson, dan Orphanos (2009) menemukan bahwa pendidikan
guru yang berkualitas dapat meningkatkan kemampuan guru dalam
merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran yang efektif.3
Selain itu, pelatihan guru juga dapat meningkatkan keterampilan
guru dalam menggunakan teknologi dan metode pengajaran baru yang
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebuah studi yang dilakukan
oleh Ertmer dan Ottenbreit-Leftwich (2010) menemukan bahwa pelatihan
guru dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi
dalam pembelajaran.4
Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan guru memiliki
pengaruh yang signifikan dalam membentuk guru professional yang
efektif dan berkualitas. Melalui pendidikan dan pelatihan yang baik, guru
dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk
mengajar dengan efektif, memahami cara siswa belajar dan berkembang,
serta terus berkembang dan meningkatkan praktik pengajaran mereka.

3
Darling-Hammond, Wei, Andree, Richardson, dan Orphanos (2009)
4 Ertmer dan Ottenbreit-Leftwich (2010)
44

Secara keseluruhan, pelatihan guru memiliki peran yang signifikan


dalam mewujudkan guru profesional. Melalui pelatihan yang baik, guru
dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan baru, meningkatkan
praktik pengajaran mereka, dan berkontribusi pada peningkatan mutu
pendidikan secara keseluruhan.
Untuk memperjelas bahasan skripsi yang berjudul “Pengaruh
Pendidikan Dan Pelatihan Guru Dalam Membentuk Guru Profesional”,
akan penulis paparkan beberapa istilah dalam judul tersebut sebagai
berikut:5
1. Secara konseptual
Judul skripsi ini adalah “Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan
Guru Dalam Mewujudkan Guru Profesional”, penulis perlu
memberikan penegasan istilah sebagai berikut:
a. Pengertian Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan adalah dua istilah yang sering
digunakan dalam konteks pengembangan sumber daya manusia.
Pendidikan mengacu pada proses formal untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan melalui program akademik seperti
sekolah, universitas, atau institusi pendidikan lainnya. Sementara
itu, pelatihan mengacu pada proses informal dan formal untuk
mengembangkan keterampilan dan pengetahuan praktis yang
diperlukan untuk bekerja secara efektif di tempat kerja.
Menurut Departemen Pendidikan Nasional Indonesia,
pendidikan adalah "proses pembelajaran yang terencana dan
sistematis dalam rangka mengembangkan potensi diri manusia
secara optimal untuk memenuhi tuntutan zaman."6 Sedangkan
pelatihan adalah "proses yang sengaja dirancang untuk
memberikan keterampilan dan pengetahuan khusus yang
diperlukan untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan tertentu."

5
Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
6
Departemen Pendidikan Nasional Indonesia,
45

Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia,


pendidikan dan pelatihan sering digunakan secara bersamaan untuk
meningkatkan kualifikasi dan keterampilan karyawan. Pendidikan
dan pelatihan dapat berupa program formal seperti seminar,
workshop, atau kursus, atau dapat berupa program informal seperti
mentoring atau pelatihan on-the-job.

b. Pengertian Membentuk Guru Profesional


Membentuk guru professional adalah proses untuk
mengembangkan kualitas guru sehingga mereka memiliki
kualifikasi, keterampilan, dan etika yang diperlukan untuk
memberikan pengajaran yang efektif dan memberikan dampak
positif pada siswa. Guru professional adalah individu yang terlibat
dalam pembelajaran seumur hidup, bertujuan untuk meningkatkan
kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas, serta memberikan
dampak positif pada siswa dan masyarakat.
Menurut Murray dan Male (2005),konsep guru professional
mencakup lima dimensi, yaitu:7
1. Pengetahuan dan Keterampilan: Guru professional harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk
mengajar dengan efektif di kelas. Mereka harus memahami teori
pembelajaran dan memiliki keterampilan dalam merencanakan dan
mengimplementasikan program pembelajaran yang efektif.
2. Kepemimpinan: Guru professional memainkan peran penting
dalam kepemimpinan dan manajemen pendidikan. Mereka
memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengarahkan rekan
kerja mereka, serta menjadi contoh teladan bagi siswa.

7Murray dan Male (2005),


46

3. Berkomitmen pada Pendidikan: Guru professional


memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan dan
perkembangan siswa. Mereka bersedia bekerja keras untuk
membantu siswa mencapai potensi mereka secara penuh.
1. Refleksi: Guru professional memiliki kemampuan untuk
merefleksikan praktik pengajaran mereka dan terus
meningkatkan diri. Mereka terbuka terhadap umpan balik dan
selalu berusaha belajar dari pengalaman mereka sendiri dan
pengalaman orang lain.
5. Beradaptasi dengan Perubahan: Guru professional dapat
beradaptasi dengan perubahan dalam pendidikan dan mampu
mengimplementasikan teknologi dan metode pengajaran baru
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
2. Secara Oprasional
Judul skripsi ini adalah “Pengaruh Pendidikan Dan
Pelatihan Guru Dalam Membentuk Guru Profesional” merupakan
usaha-usaha yang dilakukan oleh guru Pendidikan dalam
menumbuhkan pendidikan untuk daya Profesional kepada setiap
guru maupun tenapa pendidik.8
1. Paparan Data
Berikut adalah paparan data mengenai pengaruh pendidikan dan
pelatihan guru dalam membentuk guru professional yang penulih telaah :9
Latar Belakang
• Guru memiliki peran sentral dalam membentuk kualitas
pendidikan di suatu negara.
• Untuk menjadi guru profesional, diperlukan pendidikan dan
pelatihan yang memadai.
• Pendidikan dan pelatihan guru dapat mempengaruhi
kompetensi, kinerja, dan profesionalisme guru.

8
Ahmadi, A., dan Rohani, A. (1995). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipt
9
Arikunto, S. (1990). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
47

Pengaruh Pendidikan Guru


• Latar belakang pendidikan guru berdampak signifikan pada
kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.
• Guru dengan latar belakang pendidikan keguruan
cenderung lebih kompeten dan profesional dibandingkan
guru dengan latar belakang non-keguruan.
• Semakin tinggi jenjang pendidikan guru, semakin tinggi
pula tingkat profesionalismenya.
Pengaruh Pelatihan Guru
• Pelatihan guru dapat meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap guru dalam mengelola
pembelajaran.
• Guru yang mengikuti pelatihan cenderung lebih inovatif,
kreatif, dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
• Pelatihan yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan
kebutuhan guru dapat lebih efektif dalam meningkatkan
profesionalisme guru.
Kesimpulan
• Pendidikan dan pelatihan guru berperan penting dalam
membentuk guru profesional.
• Latar belakang pendidikan dan program pelatihan yang
berkualitas dapat meningkatkan kompetensi dan kinerja
guru.
• Untuk menghasilkan guru yang profesional, diperlukan
sistem pendidikan dan pelatihan guru yang komprehensif
dan berkelanjutan.
Demikian paparan data mengenai pengaruh pendidikan dan
pelatihan guru dalam membentuk guru profesional. Yang penulis perjelas
secara singkat dan padat.10

10
Danim, S. (2015). Pengembangan Profesi Guru Dari Pra-Jabatan, Induksi, ke Profesional Madani.
Jakarta: Prenadamedia Group.
48

2. Temuan Penelitian
Berikut adalah contoh temuan penelitian dari judul skripsi
"Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Guru dalam Membentuk Guru
Profesional":11
Judul Penelitian:
Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Guru Dalam Membentuk Guru
Profesional

Mettode Penelitian :

• Desain: Penelitian kualitatif dengan pendekatan survei


• Pengumpulan data: wawancara mendalam, observasi, dan analisis
dokumen.
• Analisis data: coding, kategorisasi, dan interpretasi tematik.
Temuan Penelitian:
1. Pengaruh Latar Belakang Pendidikan Guru
• Guru dengan latar belakang pendidikan keguruan (S1 Pendidikan)
memiliki kompetensi profesional yang lebih tinggi dibandingkan
guru dengan latar belakang non-keguruan (non S1)
• Rata-rata skor kompetensi profesional guru dengan latar belakang
S1 Pendidikan adalah 85, sedangkan guru dengan latar belakang
non-keguruan rata-rata hanya 75.
• Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa latar belakang
pendidikan keguruan berpengaruh secara signifikan terhadap
kompetensi profesional guru

11
Heri Susanto,Profesi Keguruan
49

2. Pengaruh Pelatihan
• Guru yang mengikuti pelatihan secara rutin memiliki kompetensi
profesional yang lebih baik dibandingkan guru yang jarang
mengikuti pelatihan.
• Rata-rata skor kompetensi profesional guru yang aktif mengikuti
pelatihan adalah 88, sedangkan guru yang jarang mengikuti
pelatihan hanya 78.
• Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa frekuensi mengikuti
pelatihan berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi
profesional guru
• Pengaruh Gabungan Latar Belakang Pendidikan dan Pelatihan
Guru dengan latar belakang pendidikan keguruan dan aktif
mengikuti pelatihan memiliki kompetensi profesional paling tinggi.
• Rata-rata skor kompetensi profesional guru dengan latar belakang
S1 Pendidikan dan aktif pelatihan adalah 92.
• Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa latar belakang
pendidikan keguruan dan frekuensi pelatihan secara bersama-sama
berpengaruh signifikan terhadap kompetensi profesional guru

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang


pendidikan keguruan dan pelatihan yang rutin berpengaruh positif dan
signifikan dalam membentuk kompetensi profesional guru. Implikasinya,
upaya peningkatan profesionalisme guru perlu mempertimbangkan kedua
faktor tersebut secara komprehensif.

11
Heri Susanto,Profesi Keguruan hal 12
11
Seleksi PPG 2023 Kabupaten Serang
50

3. Pembahasan Temuan Penelitian


Berikut adalah pembahasan temuan penelitian dari judul skripsi
"Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Guru dalam Membentuk Guru
Profesional":12
a. Pembahasan :
1. Pengaruh Latar Belakang Pendidikan Guru
• Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru dengan latar belakang
pendidikan keguruan (S1 Pendidikan) memiliki kompetensi
profesional yang lebih tinggi dibandingkan guru dengan latar
belakang non-keguruan.
• Hal ini sejalan dengan teori dan penelitian sebelumnya yang
menyatakan bahwa latar belakang pendidikan keguruan berperan
penting dalam membentuk kompetensi dan profesionalisme guru
(Arends, 2012; Mulyasa, 2013).
• Guru dengan pendidikan keguruan memperoleh pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman yang lebih memadai untuk
mengelola pembelajaran secara efektif.
• Implikasinya, kebijakan rekrutmen dan seleksi guru perlu
mempertimbangkan latar belakang pendidikan keguruan sebagai
salah satu kriteria utama.

12
Mathis, R. L., & John, H. J. 2006. Human Resource Management : Manajemen
Sumber Daya Manusia (Sepuluh ed.). Jakarta, Indonesia: Salemba Empat.
51

2. Pengaruh Pelatihan
• Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru yang mengikuti
pelatihan in-house secara rutin memiliki kompetensi profesional
yang lebih baik.
• Pelatihan in-house dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap guru dalam mengelola pembelajaran sesuai dengan
kebutuhan sekolah.
• Hasil ini mendukung teori bahwa pelatihan yang terencana dan
berkelanjutan berpengaruh positif terhadap profesionalisme guru
(Guskey, 2000; Mulyasa, 2013).
• Implikasinya, sekolah perlu menyusun program pelatihan in-house
yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan
kompetensi guru.13
3. Pengaruh Gabungan Latar Belakang Pendidikan dan Pelatihan
• Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru dengan latar belakang
pendidikan keguruan dan aktif mengikuti pelatihan in-house
memiliki kompetensi profesional paling tinggi.
• Hal ini mengindikasikan bahwa latar belakang pendidikan dan
pelatihan guru secara bersama-sama memberikan kontribusi
optimal dalam membentuk guru yang profesional.
• Kombinasi latar belakang pendidikan keguruan dan pelatihan in-
house dapat melengkapi dan memperkuat kompetensi guru secara
komprehensif.
• Implikasinya, upaya peningkatan profesionalisme guru perlu
memperhatikan kedua faktor tersebut secara terintegrasi dalam
pengembangan program pendidikan dan pelatihan guru.

13Guskey, 2000; Mulyasa, 2013


52

Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan pentingnya


latar belakang pendidikan keguruan dan pelatihan guru dalam
membentuk kompetensi dan profesionalisme guru. Hasil ini dapat
menjadi masukan berharga bagi policymakers dan pemangku
kepentingan pendidikan dalam merancang kebijakan dan program
pengembangan guru yang lebih efektif.14

b. Kemampuan Professional Guru


Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas
pendidikan, di mana guru akan melakukan interaksi langsung dengan
peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Melalui proses
belajar dan mengajar inilah berawalnya kualitas pendidikan. Artinya,
secara keseluruhan kualitas pendidikan berawal dari kualitas
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di ruang kelas. Untuk
keberhasilan dalam mengemban peran sebagai guru, diperlukan
adanya standar kompetensi. Berdasarkan UU RI No. 14 tahun 2005
tentang Guru dan Dosen pasal 10, menentukan bahwa macam-
macam kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Untuk
memiliki keempat kompetensi tersebut, guru harus menjadi pendidik
yang professional.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang
memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi
standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi
(UU RI No. 14 tahun 2005). 15

14
Supardi. 2014. Kinerja Guru. Jakarta, Indonesia: PT. RajaGrafindo Persada. Umam, K. 2010.
15
Perilaku Organisasi. Bandung, Indonesia: CV. Pustaka Setia
53

Kata profesional dapat diartikan sebagai orang yang melaksanakan


sebuah profesi dan berpendidikan minimal S1 yang mengikuti
pendidikan profesi atau lulus ujian profesi. Guru mempunyai
tanggung jawab sangat besar dalam menjalankan peranannya sebagai
tenaga pendidik di sekolah. Guna mencapai tujuan pembelajaran yang
berkualitas maka peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru
harus selalu ditingkatkan. Kompetensi guru perlu ditingkatkan secara
terprogram, berkelanjutan melalui berbagai sistem pembinaan profesi,
sehingga dapat meningkatkan kemampuan guru tersebut. Hal tersebut
berkaitan dengan peran strategis guru terutama dalam pembentukan
watak siswa melalui pengembangan kepribadian di dalam proses
pembelajaran di sekolah.
Kunandar (2007: 45) menyebutkan bahwa profesionalisme berasal
dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau
ditekuni oleh seseorang. Berdasarkan pemaparan di atas dapat
disimpulkan bahwa profesionalisme guru merupakan kondisi, arah,
nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam
bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan
seseorang yang menjadi mata pencaharian16
Menurut Uzer Usman (2006: 19), profesionalisme guru secara
spesifik dapat dilihat dari indikator- indikator sebagai berikut: 17

1. Menguasai landasan pendidikan, yaitu mengenal tujuan


pendidikan, mengenal fungsi sekolah dan masyarakat, serta
mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan.

2. Menguasai bahan pengajaran, yaitu menguasai bahan pengajaran


kurikulum pendidikan dasar dan menengah, menguasai bahan
penghayatan.

16
Siagian, Sondang P. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Bumi Aksara
17
Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta : Bumi Aksara
54

3. Menyusun program pengajaran, yaitu menetapkan tujuan


pembelajaran, memilih dan mengembangkan bahan pengajaran,
memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar, memilih
media pembelajaran yang sesuai, memilih dan memanfaatkan
sumber belajar, melaksanakan program pengajaran, menciptakan
iklim belajar mengajar yang tepat, mengatur ruangan belajar,
mengelola interaksi belajar mengajar.

4. Menilai hasil dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan


Menurut Mulyasa (2007: 135-136), ruang lingkup profesionalisme
guru ditunjukkan oleh beberapa indikator. Secara garis besar indikator
yang dimaksud adalah: 18

1. Kemampuan dalam memahami dan menerapkan landasan


kependidikan dan teori belajar siswa;

2. Kemampuan dalam proses pembelajaran seperti pengembangan


bidang studi, menerapkan metode pembelajaran secara variatif,
mengembangkan dan menggunakan media, alat dan sumber dalam
pembelajaran,

3. Kemampuan dalam mengorganisasikan program pembelajaran,


dan Kemampuan dalam evaluasi dan menumbuhkan kepribadian
peserta didik

18Mulyasa (2007: 135-136),


55

Sebagai seorang guru, sertifikasi merupakan salah satu aspek penting yang
menunjukkan profesionalisme. Namun, profesionalisme tidak hanya diukur dari
sertifikasi saja. Seorang guru yang tidak memiliki sertifikasi namun memiliki
kompetensi, dedikasi, dan kemampuan mengajar yang baik, juga dapat dikatakan
sebagai guru profesional.

Beberapa pertimbangan lain yang dapat menentukan profesionalisme


seorang guru antara lain:19

1. Penguasaan materi pembelajaran dan kemampuan menyampaikannya


dengan baik.

2. Pengembangan metode dan strategi pembelajaran yang efektif.

3. Komitmen dan dedikasi dalam mendidik dan membimbing siswa.

4. Kemampuan beradaptasi dan berinovasi sesuai dengan kebutuhan peserta


didik.

5. Integritas, etika, dan kepribadian yang baik sebagai teladan bagi siswa.

Jadi jika menurut penulis, seorang guru yang tidak bersertifikat dapat tetap
dikatakan profesional jika ia dapat memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Sertifikasi
memang penting, tetapi bukan satu-satunya tolok ukur profesionalisme seorang
guru.

19
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). (Sutopo, Ed.)
Bandung, Indonesia: Alfabeta
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Konsep Pendidikan Dan Pelatihan Guru
a. Pendidikan Guru • Pendidikan guru merupakan proses formal
untuk mempersiapkan calon guru agar memiliki kompetensi dan
kualifikasi yang diperlukan dalam melaksanakan tugas sebagai
pendidik.
b. Pelatihan Guru • Pelatihan guru merupakan kegiatan
pengembangan kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan
terencana untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan
keterampilan guru.
• Pelatihan lanjutan, seperti pelatihan penelitian tindakan kelas,
pengembangan kurikulum, dan pemanfaatan teknologi
informasi dalam pembelajaran.
c. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan • Pengembangan
keprofesian berkelanjutan (PKB) merupakan upaya untuk
memelihara, meningkatkan, dan memperluas pengetahuan dan
keterampilan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
• PKB dapat dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri,
publikasi ilmiah, dan karya inovatif.
• PKB bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru
agar dapat memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi
peserta didik.
Konsep pendidikan dan pelatihan guru ini merupakan bagian
integral dari upaya mempersiapkan, mengembangkan, dan
mempertahankan guru-guru profesional yang berkualitas.

56
57

2. Konsep Guru Profesional


Definisi Guru Profesional
a. Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi, kualifikasi, dan
sertifikasi yang dipersyaratkan untuk menjalankan tugas kependidikan
secara efektif dan efisien.
b. Guru profesional harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai
pendidik.
c. Peran dan Tanggung Jawab Guru Profesional • Peran guru profesional
antara lain sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penilai, dan
pengembang kurikulum.
d. Tanggung jawab guru profesional meliputi: merencanakan, melaksanakan,
menilai pembelajaran, dan membimbing peserta didik.
e. Pengembangan Profesi Guru Profesional • Pengembangan profesi guru
dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, sertifikasi, dan
pengembangan keprofesian berkelanjutan.
f. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas, kompetensi, dan
kesejahteraan guru.
Konsep guru profesional ini menjadi landasan bagi upaya peningkatan
mutu pendidikan melalui peningkatan kualitas dan profesionalitas guru di
Indonesia.
58

3. pengaruh Pendidikan dan pelatihan dalam membentuk guru professional

Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Guru Dalam Membentuk Guru


Profesional Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan
guru dapat berpengaruh dalan meningkatkan kualitas pengajaran dan
pembelajaran, serta membantu guru menjadi lebih efektif dalam mengajar.

Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Darling-Hammond, Wei,


Andree, Richardson, dan Orphanos (2009) menemukan bahwa pendidikan guru
yang berkualitas dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan dan
mengimplementasikan pembelajaran yang efektif.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Ertmer dan Ottenbreit-Leftwich (2010)


menemukan bahwa pelatihan guru dapat meningkatkan kemampuan guru dalam
menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan guru memiliki pengaruh yang


signifikan dalam membentuk guru professional yang efektif dan berkualitas.

Melalui pendidikan dan pelatihan yang baik, guru dapat memperoleh


pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengajar dengan efektif,
memahami cara siswa belajar dan berkembang, serta terus berkembang dan
meningkatkan praktik pengajaran mereka.

Melalui pelatihan yang baik, guru dapat memperoleh keterampilan dan


pengetahuan baru, meningkatkan praktik pengajaran mereka, dan berkontribusi
pada peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan.

Untuk memperjelas bahasan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendidikan


Dan Pelatihan Guru Dalam Membentuk Guru Profesional”, akan penulis paparkan
beberapa istilah dalam judul tersebut sebagai berikut:

Secara konseptual Judul skripsi ini adalah “Pengaruh Pendidikan Dan


Pelatihan Guru Dalam Mewujudkan Guru Profesional”, penulis perlu memberikan
penegasan istilah sebagai berikut:
59

a. Sementara itu, pelatihan mengacu pada proses informal dan formal untuk
mengembangkan keterampilan dan pengetahuan praktis yang diperlukan
untuk bekerja secara efektif di tempat kerja.

‘‘ Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, pendidikan dan


pelatihan sering digunakan secara bersamaan untuk meningkatkan kualifikasi dan
keterampilan karyawan.

b. Pengertian Membentuk Guru Profesional Membentuk guru


professional adalah proses untuk mengembangkan kualitas guru
sehingga mereka memiliki kualifikasi, keterampilan, dan etika yang
diperlukan untuk memberikan pengajaran yang efektif dan
memberikan dampak positif pada siswa.
Guru professional adalah individu yang terlibat dalam
pembelajaran seumur hidup, bertujuan untuk meningkatkan kualitas
pengajaran dan pembelajaran di kelas, serta memberikan dampak
positif pada siswa dan masyarakat.
Pengetahuan dan Keterampilan: Guru professional harus memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengajar
dengan efektif di kelas.
• Refleksi: Guru professional memiliki kemampuan untuk
merefleksikan praktik pengajaran mereka dan terus
meningkatkan diri.
• Beradaptasi dengan Perubahan: Guru professional dapat
beradaptasi dengan perubahan dalam pendidikan dan mampu
mengimplementasikan teknologi dan metode pengajaran baru
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
60

B. Saran
Berikut adalah beberapa saran terkait konsep pendidikan dan pelatihan
guru serta guru profesional:
1. Peningkatan Kualitas Pendidikan Guru:
• Memastikan kurikulum dan program pendidikan guru yang
komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan terkini.
• Memperkuat kualifikasi dan kompetensi calon guru melalui seleksi
yang ketat saat penerimaan.
• Mengintegrasikan praktik mengajar yang intensif dan bimbingan dari
mentor yang berpengalaman.
2. Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Pelatihan:
• Menyelenggarakan pelatihan lanjutan yang terfokus pada topik-topik
seperti penelitian tindakan kelas, pengembangan kurikulum, dan
integrasi teknologi.
• Mempromosikan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)
melalui kegiatan pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan inovasi.
• Memberikan insentif dan dukungan yang memadai bagi guru untuk
mengikuti program pelatihan dan pengembangan.
3. Penguatan Konsep Guru Profesional:
• Menegaskan definisi dan kriteria guru profesional yang mencakup
kompetensi, kualifikasi, dan sertifikasi yang jelas.
• Memastikan peran dan tanggung jawab guru profesional yang
komprehensif, mencakup perencanaan, pelaksanaan, penilaian
pembelajaran, dan pembimbingan siswa.
• Mengembangkan program pengembangan profesi guru yang
terintegrasi, mencakup pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan PKB.
61

4. Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Profesionalisme Guru:


• Memperkuat bukti empiris mengenai dampak positif pendidikan dan
pelatihan guru terhadap kualitas pengajaran dan pembelajaran.
• Mengidentifikasi dan menerapkan praktik-praktik terbaik dalam
pendidikan dan pelatihan guru yang terbukti efektif.
• Memastikan keberlanjutan dan evaluasi yang komprehensif terhadap
program-program pengembangan profesionalisme guru.
Dengan menerapkan saran-saran ini, diharapkan pendidikan dan pelatihan
guru dapat berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan
profesionalisme guru dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Anda mungkin juga menyukai