1
A. Model Inkuiri (Inquiry)
1. Pengertian Model Inkuiri
Istilah inkuiri berasal dari Bahasa Inggris, yaitu Inquiry yang
berarti pertanyaan atau penyelidikan. Pembelajaran inkuiri adalah
suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal
seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki
secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga peserta didik dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Sedangkan National Science Education Standars (NSES)
mendefinisikan inkuiri sebagai aktivitas beraneka ragam yang
meliputi observasi, membuat pertanyaan, memeriksa buku-buku atau
sumber informasi lain untuk melihat apa yang telah diketahui;
merencanakan investigasi; memeriksa kembali apa yang telah
diketahui menurut bukti eksperimen; menggunakan alat untuk
mengumpulkan, menganalisa, dan menginterpretasikan data,
mengajukan jawaban, penjelasan dan prediksi, serta
mengkomunikasikan hasil.
Teori belajar dari Piaget menyatakan perkembangan kognitif
sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak
dengan lingkungannya. Trianto (2013, hlm. 30). Pengalaman-
pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan sangat penting bagi
2
terjadinya perubahan perkembangan, sedangkan interaksi sosial
dengan teman sebaya dalam bentuk berargumentasi dan berdiskusi
akan membantu memperjelas pemikiran yang akhirnya memuat
pemikiran menjadi logis. Sejalan dengan teori Vigotsky yang
memberikan keyakinan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta
didik belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun
tugas-tugas itu masih berada dalam jangkuan kemampuannya. Ide
penting yang diperoleh dari teori ini adalah scaffolding yang berarti
memberikan sejumlah bantuan kepada peserta didik selama tahap
awal pembelajarannya dan kemudian anak mengambil alih tanggung
jawab yang semakin besar. Trianto (2013, hlm. 39).
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang tokoh yang
bernama R. Suchman pada tahun 1962. Richard Suchman (Joyce,et
al., 2007) yang meyakini bahwa anak-anak merupakan individu yang
penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Teori yang mendasari
model pembelajaran ini
1. Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk
selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik
perhatiannya;
2. Mereka akan menyadari keingintahuan akan segala sesuatu
tersebut dan akan belajar untuk menganalisis strategi
berpikirnya tersebut;
3. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan di
tambahkan/digabungkan dengan strategi lama yang telah
dimiliki peserta didik;
4. Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat
memperkaya kemampuan berpikir dan membantu peserta
didik belajar tentang suatu ilmu yang senantiasa bersifat
tentatif dan belajar menghargai penjelasan atau solusi
altematif.
3
Pandangan lain yang dikemukakan Wina Sanjaya (2014,
hlm.196) mengenai pengertian dari inkuiri, adalah sebagai berikut:
Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran
yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis
untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan. Pembelajaran inkuiri dibangun
dengan asumsi bahwa sejak lahir manusia memiliki dorongan
untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu
tentang keadaan alam di sekililingnya tersebut merupakan kodrat
sejak ia lahir ke dunia, melalui indra penglihatan, indra
pendengaran, dan indra-indra yang lainnya. Keingintahuan
manusia terus menerus berkembang hingga dewasa dengan
menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang
dimilikinya akan menjadi bermakna manakala didasari oleh
keingintahuan tersebut.
Dari beberapa pengertian inkuiri tersebut dapat disimpulkan
bahwa inkuiri merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi
melalui observasi atau eksperimen untuk memecahkan suatu masalah
dengan menggunakan kemampuan berfikir kritis dan logis. Kegiatan
pembelajaran dimulai melalui panca indra manusia yang kemudian
berkembang menjadi rasa ingin tahu sehingga membentuk partisipasi
aktif dari peserta didik. Model inkuiri ini menekankan kepada
aktivitas peserta didik untuk mencari dan menemukan jawaban
sendiri dari apa yang menjadi inti pembelajaran tersebut.
2. Tujuan Model Pembelajaran Inkuiri
Model ini menekankan pada penemuan dan pemecahan masalah
secara berkelanjutan. Kelebihan model ini mendorong peserta didik
berfikir secara ilmiah, kreatif, inovatif, dan bekerja atas dasar inisiatif
sendiri, menumbuhkan sikap objektif, jujur dan terbuka. Disamping
mengantarkan peserta didik pada tujuan instruksional tingkat tinggi,
4
tetapi dapat juga memberi tujuan ringan yang menitik beratkan pada
perkembangan kepribadian dan intelegensi. Gulo (2002 hlm. 101),
sebagai berikut :
a. Memperoleh keterampilan untuk memproses secara ilmiah
(mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasikan data,
mengidentifikasikan variabel, merumuskan, dan menguji
hipotesis, serta mengambil kesimpulan).
b. Lebih berkembangnya daya kreativitas anak;
c. Belajar secara mandiri;
d. Lebih memahami hal-hal yang mendua
e. Perolehan sikap ilmiah terhadap ilmu pengetahuan yang
menerimanya.
Sedangkan pendapat lain menurut Wina Sanjaya (2014, hlm.
197) “Tujuan dari penggunaan model pembelajaran inkuiri adalah
mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis, dan
kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian
dari proses mental”.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian dari
tujuan model pembelajaran inkuiri berkaitan dengan perkembangan
kepribadian, intelegensi dan perkembangan mental dari
pengembangan proses berfikir ketika peserta didik berusaha untuk
menguasai materi pembelajaran. Pembelajaran melalui model inkuiri
mengharuskan peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses
mencari tahu langsung, sehingga akan meningkatkan keaktifan
peserta didik. Pembelajaran yang didapat melalui model inkuiri
tersebut akan mempengaruhi kebiasaan belajar peserta didik yang
berdampak kepada perkembangan intelegensi dan kepribadian dari
peserta didik.
5
3. Langkah-langkah Pembelajaran Model Inkuiri
Menurut Wina Sanjaya (2006, hlm. 201) Secara umum proses
pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri dapat mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Orientasi : langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru
mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses
pembelajaran. Diantaranya dengan menjelaskan topik, tujuan,
dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta
didik.
b. Merumuskan masalah : peserta didik disajikan masalah yang
menantang untuk berfikir dan peserta didik didorong untuk
mencari jawaban yang tepat.
c. Merumuskan hipotesis : hipotesis adalah jawaban sementara
dari suatu permasalahan yang sedang dikaji, sebagai hipotesis
maka perlu diuji kebenarannya. Dilakukan dengan diskusi
dan harus sesuai dengan kemampuan peserta didik.
d. Mengumpulkan data: aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diperoleh. Peserta
didik tentu harus mencari bukti-buktinya dengan arahan guru
dan sumber-sumber harus relevan.
e. Menguji hipotesis : proses menentukan jawaban yang
dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang
diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Data yang sudah
dianalisis kemudian disimpulkan dengan mengkaji hipotesis
yaitu benar atau salah. Bila dianggap hipotesisnya kurang
tepat, maka langkah ini dapat digunakan untuk merefisi
rumus masalah hipotesis, bila perlu mengulang langkah
ketiga.
f. Merumuskan kesimpulan: proses mendeskripsikan temuan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Apabila rumusan hipotesis sudah jelas, dan kalau sudah
terkumpul, peserta didik dibimbing untuk merumuskan
kesimpulan pemecahan masalah.
Pandangan lain menurut Sudjana (1989) dalam bukunya Trianto
(2013, hlm. 172), ada lima tahapan yang ditempuh dalam
melaksanakan pembelajaran inkuri, yaitu:
(1) Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa;
6
(2) Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan
istilah hipotesis;
(3) Mencari Informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk
menjawab hipotesis atau permasalahan;
(4) Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi; dan
(5) Mengaplikasikan kesimpulan.
Dari kedua penjabaran diatas langkah-langkah model
pembelajaran inkuiri dapat disimpulkan model inkuiri berkaitan
dengan adanya masalah yang akan atau hendak diteli oleh peserta
didik, baik individu maupun kelompok yang bersumber dari proses
pencarian informasi melalui sumber yang relevan untuk menemukan
pemecahan masalah yang tepat. Langkah-langkah pembelajaran
inkuiri harus sesuai dengan urutan pendekatan ilmiah, dimulai dengan
proses mencari pokok permasalahan, membuat hipotesis, mencari
fakta, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan. Dari langkah-
langkah model pembelajaran inkuiri mengenalkan kepada peserta
didik untuk menerapkan kebiasaan belajar yang sesuai dengan urutan
dalam mengubah rasa ingin tahuannya menjadi pengetahuan.
4. Jenis-jenis Pendekatan Inkuiri menurut Sound dan Trowbridge
Sound dan Trowbridge 1973 dalam Mulayasa (2008, hlm. 109)
mengemukakan tiga macam model inkuiri sebagai berikut :
1. Inkuiri terpimpin (guide inquiry)
Pada inkuiri terpimpin pelaksanaan penyelidikan dilakukan
peserta didik berdasarkan petunjuk-petunjuk guru, petunjuk
yang diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan-
pertanyaan yang membimbing.
2. Inkuiri bebas (free inquiry)
7
Pada inkuiri bebas peserta didik melakukan penelitian sendiri
bagaikan seorang ilmuan. Masalah dirumuskan sendiri,
eksperimen dilakukan sendiri dan kesimpulan konsep
diperoleh sendiri.
3. Inkuiri bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry)
Pada inkuiri ini guru memberikan permasalahan dan
kemudian peserta didik diminta memecahkan permasalahan
tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur
penelitian.
Pandangan lain yang dikemukakan Khoirul Anam (2015, hlm.
16) tingkatan inkuiri terbagi atas:
a. Inkuiri terkontrol
Dalam tahap ini, guru memegang kontrol penuh atas seluruh
proses pembelajaran.
b. Inkuiri terbimbing
Pada tahap ini peserta didik bekerja (bukan hanya duduk
mendengarkan lalu menulis) untuk menemukan jawaban
terhadap masalah yang dikemukakan oleh guru di bawah
bimbingan intensif dari guru.
c. Inkuiri terencana
Peserta didik difasilitasi untuk dapat mengidentifikasi
masalah dan merancang proses penyelidikan.
d. Inkuiri bebas
Peserta didik diberikan kebebasan untuk menentukan
masalah lalu dengan seluruh daya upayanya memecahkan
masalah tersebut.
Sesuai dari jenis-jenis pendekatan inkuiri diatas terdapat
beberapa yang mudah dan sulit untuk diterapkan. Keragaman
penerapan model inkuiri sangat wajar terjadi, tergantung pada situasi
dan kondisi yang dihadapi oleh sekolah. Model inkuiri yang peneliti
gunakan adalah inkuiri terbimbing, karena dalam penelitian yang
akan peneliti lakukan peserta didik dikelas akan mendapatkan
pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan yang akan di temukan
jawabannya oleh kegiatan yang akan peserta didik lakukan.
8
Lebih lanjut menurut R. Suchman, pembelajaran model inkuiri
melibatkan peran guru untuk memonitor pertanyaan peserta didik
untuk mencegah proses inkuiri yang keluar dari konten atau materi
pengajaran. Dari peran guru tersebut maka adanya syarat-syarat yang
harus diterapkan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran
menggunakan model inkuiri.
Menurut Ridwan Mustafa, 2013. Pendekatan Inkuiri dalam
pembelajaran, ditulis pada Jum’at 12 April 2013. Diakses pada Sabtu
25 Juni 2016, pukul 12.00 WIB. Dalam situs :
[Link]
[Link].
Pendekatan inkuiri dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-
syarat berikut : (1) guru harus terampil memilih persoalan yang
relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan
pelajaran yang menantang peserta didik/problemik) dan sesuai
dengan daya nalar peserta didik; (2) guru harus terampil
menumbuhkan motivasi belajar peserta didik dan menciptakan situasi
belajar yang menyenangkan; (3) adanya fasilitas dan sumber belajar
yang cukup;
(4) adanya kebebasan peserta didik untuk berpendapat, berdiskusi; (5)
partisipasi setiap peserta didik dalam setiap kegiatan belajar, dan (6)
tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan peserta
didik.
9
Dalam pembelajaran inkuiri peran peserta didik merupakan yang
utama dalam kegiatan pembelajaran, namun peran guru dalam
merancang dan mendesain pembelajaran dengan melihat situasi
lingkungan peserta didik, tingkat ketercapaian kemampuan, dan
tingkat dari kesesuaian materi sangatlah penting. Guru harus mampu
berinteraksi dengan mengarahkan peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan berfikirnya. Meski ditantang untuk
lebih kreatif peran guru dalam proses pembelajaran tidaklah menjadi
dominan, melainkan dalam model inkuiri ini peserta didiklah yang
berusaha mengekplorasi kegiatan pembelajarannya untuk
mendapatkan pengalaman pembelajaran serta mampu membangun
rasa percaya diri guna mencari kebenaran dalam materi pelajaran
yang bertujuan untuk peningkatan hasil belajarnya.
5. Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Inkuiri
Dalam penggunaan pembelajaran inkuiri menurut Wina Sanjaya
(2014, hlm. 198) terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan
oleh setiap guru, diantaranya :
a. Berorientasi pada pengembangan intelektual.
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan
kemampuan berpikir. Tidak sebatas penguasaan materi tetapi
sejauh mana peserta didik beraktivitas mencari dan
menemukan sesuatu.
b. Prinsip interaksi.
Guru tidak menempatkan diri sebagai sumber belajar tetapi
sebagai pengatur interaksi agar peserta didik
mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi
mereka.
c. Prinsip bertanya.
Guru berperan sebagai penanya karena kemampuan peserta
didik untuk menjawab pertanyaan merupakan sebagian dari
proses berpikir.
10
d. Prinsip belajar untuk berpikir.
Belajar bukan sekedar mengingat sejumlah fakta tetapi proses
berpikir (learning how to think), yakni proses
mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun
otak kanan, baik otak reptile, otak limbik, maupun otak
neokortek.
e. Prinsip keterbukaan.
Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan
kesempatan kepada peserta didik mengembangkan hipotesis
dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang
dianjurkannya.
Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Kuhlthau, Maniotes,
dan Caspari (2007) dalam Yunus Abidin (2014, hlm.153), ada enam
prinsip dasar model pembelajaran inkuiri yaitu;
a. Siswa belajar secara aktif melalui pengalaman dan
merefleksikan pengalaman.
b. Siswa belajar berdasarkan hal-hal yang telah diketahuinya.
c. Siswa membangun kemampuan berfikir tingkat tinggi
melalui pembimbingan pada poin-poin penting proses
belajar.
d. Siswa memperoleh beragam cara dan modus belajar.
e. Siswa belajar melalui interaksi sosial dengan sesamanya.
f. Siswa belajar melalui pembelajaran dan pengalaman yang
sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan model pembelajaran
inkuiri mengedepankan aktivitas yang dilakukan langsung oleh
peserta didik baik dengan cara berinteraksi, belajar dan terbuka
dengan lingkungan di sekitarnya. Pembelajaran inkuiri dapat
mempengaruhi perkembangan mental (intelektual), perubahan fisik
dan otak, aktifitas sosial, dan proses penyesuaian dengan pengetahuan
yang ada yang akan mempengaruhi proses pembelajaran peserta
didik. Dengan demikian model pembelajaran inkuiri mampu
menambah cara peserta didik belajar dengan melalui penerapan
pengalaman-pengalaman yang
11
pernah diperoleh dengan pencarian pemecahan masalah untuk
meningkatkan pengembangan tingkat kognitif yang mampu didapat.
6. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri
Berikut ini adalah beberapa kelebihan pembelajaran yang
menggunakan pembelajaran inkuiri : Bruner (Amin, 1987, hlm. 133),
seorang psikolog dari Harvard University di Amerika Serikat
menyatakan beberapa kelebihan Model inkuiri sebagai berikut :
a. Kelebihan Model Pembelajaran Inkuiri
1. Peserta didik akan memahami konsep-konsep dasar dan
ide-ide lebih baik.
2. Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer
pada situasi-situasi proses belajar yang baru.
3. Mendorong peserta didik untuk berpikir inisiatif dan
merumuskan hipotesisnya sendiri.
4. Mendorong peserta didik untuk berpikir dan bekerja atas
inisiatifnya sendiri.
5. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.
6. Situasi proses belajar menjadi lebih [Link]
belajar Pengajaran berubah dari “teacher-centered”
menjadi “student centered”.
7. Dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri (self
concept)
8. Tingkat pengharapan bertambah.
9. Dapat meningkatkan bakat kemampuan individu.
10. Dapat menghindarkan peserta didik dari cara-cara belajar
tradisional (menghafal).
11. Memberikan waktu bagi peserta didik untuk
mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
12. Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif,
afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga
pembelajaran lebih bermakna.
13. Memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar
sesuai dengan gaya belajar mereka.
14. Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern
yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah
laku berkat adanya pengalaman.
15. Dapat melayani kebutuhan peserta didik yang memiliki
kemampuan di atas rata-rata. Artinya, peserta didik yang
12
memiliki kemampuan belajar yang bagus tidak akan
terhambat oleh peserta didik yang lemah dalam belajar.
Pandangan lain dikemukakan oleh Khoirul Anam (2015, hlm.
15) kelebihan-kelebihan model Inkuiri antara lain:
1. Real life skills: peserta didik belajar tentamg hal-hal
penting namun mudah dilakukan, peserta didik didorong
untuk ‘melakukan’, bukan hanya ‘duduk, diam, dan
mendengarkan’.
2. Open-ended topic: tema yang dipelajari tidak terbatas,
bisa bersumber dari mana saja; buku pelajaran,
pengalaman peserta didik/ guru, internet, televisi, radio,
dan seterusnya. peserta didik akan belajar lebih banyak.
3. Intuitif, imajinatif, dan inovatif: peserta didik belajar
dengan mengerahkan seluruh potensi yang mereka miliki,
mulai dari kreativitas hingga imajinasi. Peserta didik akan
menjadi pembelajar aktif, out of the box, peserta didik
akan belajar karena mereka membutuhkan, bukan sekedar
kewajiban.
4. Peluang melakukan penemuan: dengan berbagai observasi
dan eksperimen, peserta didik memiliki peluang besar
untuk melakukan penemuan. Peserta didik akan segera
mendapat hasil dari materi atau topik yang mereka
pelajari.
Proses penerapan model inkuiri akan melibatkan peran aktif dari
peserta didik dalam mencari informasi mengenai pembahasan materi.
Guru memberikan bahasan tema yang menumbuhkan rasa
keingintahuan peserta didik yang bisa mengacu kepada proses untuk
melakukan penemuan. Guru dapat memfasilitasi kemajuan
pembelajaran dengan gaya belajar yang beragam dari peserta didik,
dan akan menimbulkan peningkatan kepada hasil belajar peserta
didik.
b. Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri
13
Adapun kekurangan pembelajaran yang menggunakan
pendekatan inkuiri yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2014, hlm.
208), diantaranya :
1. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik.
2. Sulit dalam merancang pembelajaran oleh karena terbentur
dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar.
3. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya,
memerlukan waktu yang telah ditentukan.
4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh
kemampuan peserta didik menguasai materi pelajaran,
strategi pembelajaran inkuiri akan sulit di implementasikan
oleh setiap guru.
Pendapat lain yang di kemukakan oleh Bruner (Wartono, 2003).
Di tulis oleh Bronika Septiani Sianturi, 2012 Model Pembelajaran
Inkuiri, pada Kamis, 3 Mei 2012. Diakses pada kamis 14 Juli 2016,
pukul 22.22 WIB. Dalam situs:
[Link]
[Link].
Selain memiliki kelebihan, model pembelajaran inkuiri
terbimbing juga memiliki kekurangan. Adapun kekurangan dari
model pembelajaran inkuiri terbimbing, yaitu:
a. Model pembelajaran inkuiri mengandalkan suatu kesiapan
berpikir tertentu siswa-siswa yang mempunyai kemampuan
berpikir lambat bisa kebingungan dalam berpikir secara luas
membuat abstraksi, menemukan hubungan antara konsep-
konsep dalam suatu mata pelajaran, atau menyusun apa yang
telah mereka peroleh secara tertulis atau lisan. Siswa siswa
yang mempunyai kemampuan berpikir tinggi bisa
memonopoli model pembelajaran penemuan, sehingga
menyebabkan frustasi bagi siswa-siswa lain.
b. Tidak efisien, khususnya untuk mengajar siswa yang
berjumlah besar sebagai contoh banyak waktu yang
dihabiskan untuk membantu seorang siswa dalam
menemukan teori-teori tertentu.
c. Harapan-harapan dalam model pembelajaran ini dapat
terganggu oleh siswa-siswa dan guru-guru yang telah
terbiasa dengan pengajaran tradisional.
d. Pada bidang sains membutuhkan banyak fasilitas untuk
menguji ide-ide.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan, kelemahan dari
model pembelajaran inkuiri masih didominasi oleh peserta didik yang
mempunyai kemampuan berfikir tinggi. Faktor banyaknya peserta
didik dikelaspun dapat berpengaruh karena semakin banyaknya
peserta didik maka akan menghabiskan waktu cukup panjang dalam
pembelajaran. Model ini juga memerlukan fasilitas pendukung yang
mampu menunjang proses berlangsungnya penerapan model
pembelajaran inkuiri.