PERJANJIAN KERAHASIAAN INFORMASI (NON-DISCLOSURE AGREEMENT)
Nomor: [NOMOR DOKUMEN]
Perjanjian Kerahasiaan Informasi ini ("Perjanjian") dibuat dan ditandatangani di Jakarta pada
tanggal 10 Februari 2026.
Oleh dan antara:
1. PT. [NAMA PIHAK 1], sebuah perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum
Negara Republik Indonesia, beralamat di [ALAMAT PIHAK 1], yang dalam hal ini diwakili
oleh [NAMA PERWAKILAN PIHAK 1], dalam jabatannya sebagai [JABATAN PIHAK 1],
bertindak untuk dan atas nama PT. [NAMA PIHAK 1] (selanjutnya disebut sebagai "Pihak
Pemberi Informasi");
2. PT. [NAMA PIHAK 2], sebuah perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum
Negara Republik Indonesia, beralamat di [ALAMAT PIHAK 2], yang dalam hal ini diwakili
oleh [NAMA PERWAKILAN PIHAK 2], dalam jabatannya sebagai [JABATAN PIHAK 2],
bertindak untuk dan atas nama PT. [NAMA PIHAK 2] (selanjutnya disebut sebagai "Pihak
Penerima Informasi").
Pihak Pemberi Informasi dan Pihak Penerima Informasi secara bersama-sama selanjutnya
disebut "Para Pihak".
MENIMBANG BAHWA:
A. Bahwa Para Pihak sedang dalam tahap diskusi dan pertimbangan untuk menjalin
potensi kerja sama di bidang [RECITAL TUJUAN], yang mana objek diskusinya
meliputi [RECITAL OBJEK].
B. Bahwa dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Pihak Pemberi Informasi perlu
mengungkapkan Informasi Rahasia kepada Pihak Penerima Informasi, dan Pihak
Penerima Informasi setuju untuk menjaga kerahasiaan informasi tersebut sesuai
dengan ketentuan Perjanjian ini.
Maka, Para Pihak dengan ini menyatakan setuju dan sepakat untuk tunduk pada syarat dan
ketentuan sebagai berikut:
*
Pasal 1: Definisi Informasi Rahasia
1. "Informasi Rahasia" berarti setiap dan semua informasi, data, atau materi dalam
bentuk apapun, baik lisan, tertulis, elektronik, atau bentuk lainnya, yang diungkapkan
atau disediakan oleh Pihak Pemberi Informasi kepada Pihak Penerima Informasi,
termasuk namun tidak terbatas pada:
a. Informasi keuangan, proyeksi bisnis, atau strategi investasi;
b. Data operasional, daftar pelanggan, data pemasok, atau data internal manajemen;
c. Informasi teknis, proses, metode kerja, atau data teknologi non-paten;
d. Informasi yang secara tegas ditandai atau diidentifikasi sebagai "Rahasia" atau
"Konfidensial" pada saat pengungkapan.
2. Informasi Rahasia tidak mencakup informasi yang:
a. Telah menjadi domain publik tanpa melanggar Perjanjian ini;
b. Telah diketahui oleh Pihak Penerima Informasi sebelum diungkapkan oleh Pihak
Pemberi Informasi;
c. Diperoleh oleh Pihak Penerima Informasi dari sumber pihak ketiga yang tidak
memiliki kewajiban kerahasiaan.
Pasal 2: Kewajiban Kerahasiaan
1. Pihak Penerima Informasi wajib menjaga kerahasiaan Informasi Rahasia dengan
tingkat kehati-hatian yang sama seperti yang digunakannya untuk melindungi
informasi rahasianya sendiri.
2. Pihak Penerima Informasi hanya diperbolehkan menggunakan Informasi Rahasia
semata-mata untuk tujuan diskusi potensial kerja sama sebagaimana dimaksud dalam
konsideran Perjanjian ini.
3. Pihak Penerima Informasi tidak boleh mengungkapkan Informasi Rahasia kepada
pihak ketiga manapun tanpa persetujuan tertulis sebelumnya dari Pihak Pemberi
Informasi, kecuali kepada karyawan atau penasihatnya yang memang harus
mengetahui informasi tersebut untuk tujuan kerja sama ini (prinsip *need-to-know*).
4. Apabila Pihak Penerima Informasi diwajibkan oleh undang-undang, peraturan, atau
perintah pengadilan yang berkekuatan hukum tetap untuk mengungkapkan Informasi
Rahasia, maka Pihak Penerima Informasi wajib memberitahukan hal tersebut kepada
Pihak Pemberi Informasi sesegera mungkin sebelum pengungkapan dilakukan.
Pasal 3: Lingkup Komersial Potensial
1. Para Pihak memahami bahwa model komersial potensial yang sedang didiskusikan
adalah berdasarkan skema Revenue Sharing (bagi hasil pendapatan).
2. Apabila kerja sama terealisasi, biaya operasional awal dan/atau yang timbul selama
pelaksanaan proyek akan Ditanggung Bersama oleh Para Pihak sesuai proporsi yang
akan diatur dalam perjanjian pokok.
Pasal 4: Jangka Waktu Perjanjian
1. Perjanjian ini berlaku efektif sejak tanggal 10 Februari 2026.
2. Kewajiban kerahasiaan yang diatur dalam Perjanjian ini akan tetap berlaku untuk
jangka waktu [ISI JANGKA WAKTU] terhitung sejak tanggal efektif, terlepas dari
apakah kerja sama potensial terealisasi atau tidak.
Pasal 5: Keadaan Memaksa (Force Majeure)
1. Apabila salah satu Pihak tidak dapat melaksanakan kewajibannya akibat Keadaan
Memaksa (Force Majeure), maka Pihak tersebut wajib memberitahukan kepada Pihak
lainnya dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender sejak terjadinya peristiwa tersebut.
2. Yang dimaksud dengan Keadaan Memaksa adalah peristiwa yang berada di luar
kontrol wajar Para Pihak, termasuk namun tidak terbatas pada gempa bumi, banjir,
perang, pemberontakan, epidemi, atau tindakan pemerintah.
Pasal 6: Pengakhiran Perjanjian
1. Perjanjian ini dapat diakhiri oleh salah satu Pihak apabila:
a. Terjadi Wanprestasi (kelalaian) yang dilakukan oleh Pihak lainnya yang tidak
diperbaiki dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah diterimanya surat
peringatan tertulis.
b. Terjadi Keadaan Memaksa yang berlangsung lebih dari 30 (tiga puluh) hari berturut-
turut.
c. Berakhirnya jangka waktu yang telah disepakati dalam Pasal 4.
2. Pengakhiran Perjanjian ini tidak menghilangkan kewajiban kerahasiaan yang telah
timbul sebelum tanggal pengakhiran.
3. Para Pihak sepakat untuk mengesampingkan ketentuan dalam Pasal 1266 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia, sejauh yang mensyaratkan adanya
penetapan pengadilan untuk pemutusan Perjanjian akibat wanprestasi.
> Pasal 1266 KUHPerdata: "Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan
yang timbal-balik, andaikata salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal yang
demikian persetujuan tidak batal demi hukum, melainkan harus dimintakan pembatalannya
kepada Pengadilan."
Pasal 7: Hukum yang Berlaku dan Penyelesaian Sengketa
1. Perjanjian ini diatur dan ditafsirkan berdasarkan Hukum Negara Republik
Indonesia.
2. Apabila timbul perselisihan atau sengketa, Para Pihak wajib berupaya menyelesaikan
perselisihan tersebut terlebih dahulu melalui jalur musyawarah untuk mufakat
(Bipartit).
3. Apabila musyawarah mufakat tidak mencapai penyelesaian dalam waktu 30 (tiga
puluh) hari kalender, maka Para Pihak sepakat untuk menyerahkan penyelesaian
sengketa melalui jalur litigasi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Demikian Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani oleh Para Pihak pada tanggal sebagaimana
disebutkan di awal, dalam rangkap 2 (dua) yang bermeterai cukup dan memiliki kekuatan
hukum yang sama.
Pihak Pemberi Informasi Pihak Penerima Informasi
PT. [NAMA PIHAK 1] PT. [NAMA PIHAK 2]
(Materai dan Tanda Tangan) (Materai dan Tanda Tangan)
Nama: [NAMA PERWAKILAN PIHAK 1] Nama: [NAMA PERWAKILAN PIHAK 2]
Jabatan: [JABATAN PIHAK 1] Jabatan: [JABATAN PIHAK 2]
*RINGKASAN*
Perjanjian Kerahasiaan Informasi (NDA) ini dibuat antara Pihak Pemberi Informasi dan
Pihak Penerima Informasi, kedua-duanya berbentuk PT, dan mulai berlaku pada 10 Februari
2026.
Poin Utama Dokumen:
1. Tujuan: Untuk melindungi "Informasi Rahasia" yang dipertukarkan selama diskusi
potensi kerja sama, yang bertujuan pada model bisnis *Revenue Sharing*.
2. Kewajiban Kerahasiaan: Pihak Penerima Informasi wajib menjaga kerahasiaan
informasi yang diterima dan hanya boleh menggunakannya untuk tujuan kerja sama
yang disepakati, dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.
3. Ketentuan Komersial: Diskusi kerja sama berfokus pada model Revenue Sharing,
dan jika terealisasi, biaya operasional akan Ditanggung Bersama.
4. Pengakhiran: Perjanjian dapat diakhiri (sebelum masa waktunya habis) karena
adanya Wanprestasi yang tidak diperbaiki atau karena Keadaan Memaksa (*Force
Majeure*).
5. Pengesampingan Pasal 1266 KUHPerdata: Para Pihak sepakat bahwa pengakhiran
akibat wanprestasi dapat dilakukan tanpa memerlukan putusan Pengadilan.
6. Penyelesaian Sengketa: Sengketa harus diupayakan melalui Musyawarah (Bipartit)
terlebih dahulu. Jika gagal, penyelesaian akhir akan dilakukan melalui Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan, dengan tunduk pada Hukum Indonesia.