LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI
STASE KEPERAWATAN JIWA
Pembimbing Akademik : Meti Agustini, Ns.,[Link]
Pembimbing Klinik : , [Link].,Ns
Disusun Oleh :
Rasyifa Adila Ardiyanto
NPM. 2514901110071
Kelompok 2A
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN 2025/2026
Laporan Pendahuluan
Resiko Bunuh Diri
A. Pengertian
Bunuh diri adalah suatu keadaan di mana individu mengalami risiko untuk
menyakiti diri sendiri atau tindakan yang dapat mengancam jiwa (Stuart &
Sundeen, 1995 dalam Fitria, 2009).
Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri
kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan berupaya untuk mewujudkan
hasratnya untuk mati. Perilaku bbunuh diri ini meliputi isyarat-isyarat,
percobaanatau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian, luka, atau
menyakiti dirisendiri (Clinton, 1995 dalam Yosep, 2010).
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat
mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena
merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri
disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal
dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah.
Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk
beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat
terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan
yang berarti, perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart, 2006).
B. Klasifikasi Bunuh Diri
Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori (Stuart, 2006) :
1. Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa seseorang
tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang yang ingin bunuh diri
mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di
sekitar kita lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara non verbal.
2. Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan
oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
3. Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak bunuh diri akan
terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya.
C. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif
pengambilan resiko perilaku destruktif-
Peningkatan pencederaan bunuh
yang meningkatkan diri tidak
diri diri diri
pertumbuhan langsung
D. Faktor Predisposisi
Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang perilaku
resiko bunuh diri meliputi:
1. Diagnosis psikiatri
Tiga gangguan jiwa yang membuat pasien berisiko untuk bunuh diri yaitu
gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko bunuh diri
adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan yang dini,
dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang
berhubungan dengan bunuh diri.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko
untuk perilaku resiko bunuh diri.
5. Faktor biokimia
Proses yang dimediasi serotonin, opiat, dan dopamine dapat menimbulkan
perilaku resiko bunuh diri.
E. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2006) faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri
yaitu:
1. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal melakukan hubungan.
2. Kegagalan beradaptasisehingga tidak dapat menghadapi stres.
3. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada
diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.
5. Tangisan untuk minta bantuan.
6. Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari kehidupan yang
lebih baik.
F. Manifestasi Klinis
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
4. Impulsif
5. Menunjukkan perilaku yang mecurigakan
6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
7. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah, dan
mengasingkan diri)
8. Pengangguran
9. Umur 15-19 tahun
10. Pekerjaan
11. Korban RPK sejak kecil
G. Pathway
Bunuh diri
↑
Resiko bunuh diri
↑
Isolasi sosial
↑
Harga diri rendah kronis
H. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
a. Jenis kelamin: resiko meningkat pada pria
b. Usia: lebih tua, masalah semakin banyak
c. Status perkawinan: menikah dapat menurunkan resiko, hidup
sendiri merupakan masalah.
d. Riwayat keluarga: meningkat apabila ada keluarga dengan
percobaan bunuh diri / penyalahgunaan zat.
e. Pencetus ( peristiwa hidup yang baru terjadi): Kehilangan orang yang
dicintai, pengangguran, mendapat malu di lingkungan social.
f. Faktor kepribadian: lebih sering pada kepribadian
introvert/menutup diri.
g. Lain – lain: Penelitian membuktikan bahwa ras kulit putih
lebih beresiko mengalami perilaku bunuh diri.
Subjektif Objektif
Memiliki riwayat penyakit mental Mengalami depresi, cemas, dan
perasaan putus asa
Menyatakan pikiran, harapan, dan Respon kurang dan gelisah
perencanaan bunuh diri
Menyatakan bahwa sering mengalami Menunjukkan sikap agresif
kehilangan secara bertubi-tubi dan
bersamaan
Menderita penyakit yang
Tidak koperatif dalam
prognosisnya kurang baik menjalani pengobatan
Menyalahkan diri sendiri, perasaan gagal
Berbicara lamban, keletihan,
dan tidak berharga menarik diri dari lingkungan
sosial
Menyatakan perasaan tertekan Penurunan berat badan
2. Diagnosa keperawatan
a. Resiko bunuh diri
b. Harga diri rendah
3. Rencana tindakan keperawatan
a. Ancaman/percobaan bunuh diri dengan diagnosis: risiko bunuh diri
Tindakan keperawatan klien yang mengancam atau mencoba bunuh diri.
Tujuan:
1) Klien tetap aman dan selamat
Perawat dapat melakukan hal berikut untuk melindungi klien yang
mengancam atau mencoba bunuh diri.
1) Tetap menemani klien sampai dipindahkan ketempat yang lebih
aman
2) Menjauhkan semua benda yang berbahaya
3) Memastikan klien benar-benar telah meminum obat
4) Menjelaskan dengan lembut pada klien bahwa akan melindungi
klien sampai klien melupakan keinginan untuk bunuh diri
b. Isyarat bunuh diri dengan diagnosis: harga diri rendah kronis
Tindakan keperawatan untuk klien yang menunjukkan isyarat bunuh diri
Tujuan:
1) Klien mendapat perlindungan dari lingkungannya
2) Klien dapat mengungkapkan perasaannya
3) Klien dapat meningkatkan harga dirinya
4) Klien dapat menggunakan cara penyelesaian yang baik
Perawat dapat melakukan hal berikut untuk melindungi klien :
1) Mendiskusikan cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan
meminta bantuan dari keluarga atau teman
2) Berikan pujian bila klien dapat mengungkapkan perasaan yang
positif
3) Meyakinkan klien bahwa dirinya berarti untuk orang lain
4) Mendiskusikan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh klien
5) Merencanakan aktivitas yang dapat klien lakukan
I. Strategi Pelaksanaan
SP Pada Pasien SP Pada Keluarga
SP 1 Sp 1
1. Identifikasi beratnya masalah resiko 1. Diskusikan masalah yang dirasakan
bunuh diri : isyarat ancaman, percobaan keluarga dalam merawat pasien
(jika percobaan, segera rujuk) 2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala
2. Identifikasi benda – benda berbahaya dan serta proses terjadinya resiko bunuh diri
mengamankannya (lingkungan aman 3. Jelaskan cara merawat pasien dengan
untuk pasien) resiko bunuh diri
3. Latihan cara mengendalikan diri dari 4. Latih cara memberikan pujian hal positif
dorongan bunuh diri : buat daftar aspek pasien, memberi dukungan pencapaian
positif diri sendiri, latihan masa depan
afirmasi/berpikir aspek positif yang 5. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dimiliki dan memberikan pujian
4. Masukkan pada jadwal latihan berpikir
positif 5 kali perhari
SP 2 SP 2
1. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
diri sendiri. Beri pujian. Kaji ulang resiko memberikan pujian dan penghargaan atas
bunuh diri keberhasilan dan aspek positif pasien.
2. Latih cara mengendalikan diri dari Beri pujian
dorongan bunuh diri : buat daftar aspek
positif keluarga dan lingkungan, latih 2. Latih cara memberi penghargaan pada
afirmasi/berpikir positif keluarga dan pasien dan menciptakan suasana positif
lingkungan dalam keluarga : tidak membicarakan
3. Masukkan pada jadwal alithan berpikir keburukan anggota keluarga
positif keluarga dan lingkungan 3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dan memberikan pujian
SP 3 SP 3
1. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
diri sendiri. Beri pujian. Kaji ulang resiko memberikan pujian dan penghargaan pada
bunuh diri pasien serta menciptakan suasana positif
2. Diskusikan harapan dan masa depan dalam keluarga. Beri pujian
3. Diskusikan cara mencapai harapan dan 2. Bersama keluarga berdiskusi dengan
masa depan pasien tentang harapan masa depan dan
4. Latih cara-cara mencapai harapan dan langkah-langkah mencapainya.
masa depan secara bertahap (setahap 3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
demi setahap) dan memberikan pujian
5. Masukkan pada jadwal latihan befikir
positif diri sendiri, keluarga dan
lingkungan, dan tahapan keiatan yang
dilatih.
SP 4 SP 4
1. Evaluasi kegiatan berpikir positif diri 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
sendiri, keluarga dan lingkungan, serta memberikan pujian dan penghargaan pada
kegiatan yang dipilih. Beri pujian pasien serta menciptakan suasana positif
2. Latih tahap kedua latihan mencapai masa dalam keluarga. Beri pujian
depan 2. Bersama keluarga berdiskusi tentang
3. Masukan pada jadwal latihan berpikir langkah dan kegiatan untuk harapan masa
positif diri sendiri, keluarga dan depan
lingkungan, serta kegiatan yang dipilih 3. Jelaskan follow up ke RSJ/PKM< tanda
untuk persiapan masa depan. kambuh, rujukkan.
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dan memberikan pujian
SP 5 - 12 SP 5 – 12
1. Evaluasi kegiatan latihan peningkatan 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
positif diri, keluarga dan lingkungan, beri memberikan pujian, penghargaan,
pujian menciptakan suasana positif dan
2. Evaluasi tahap kegiatan mencapai membimbing langkah – langkah dalam
harapan dan masa depan mencapai harapan masa depan. Beri
3. Latih kegiatan harian pujian
4. Nilai apakah resiko bunuh diri teratasi 2. Nilai kemampuan keluarga merawat psien
3. Nilai kemampuan keluarga melakukan
control RSJ/PKM
Contoh Strategi Pelaksanaan Resiko Bunuh Diri
SP 1 & 2 Pasien
ORIENTASI
”Assalamu’alaikum A kenalkan saya adalah perawat B yang bertugas di ruang Mawar ini, saya
dinas pagi dari jam 7 pagi sampai 2 siang.”
”Bagaimana perasaan A hari ini?”
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang A rasakan selama ini. Dimana dan
berapa lama kita bicara?”
KERJA
“Bagaimana perasaan A setelah bencana ini terjadi? Apakah dengan bencana ini A merasa
paling menderita di dunia ini? Apakah A kehilangan kepercayaan diri? Apakah A merasa tak
berharga atau bahkan lebih rendah daripada orang lain? Apakah A merasa bersalah atau
mempersalahkan diri sendiri? Apakah A sering mengalami kesulitan berkonsentrasi? Apakah
A berniat untuk
menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri atau berharap bahwa A mati? Apakah A pernah mencoba
untuk bunuh diri? Apa sebabnya, bagaimana caranya? Apa yang A rasakan?” Jika pasien telah
menyampaikan ide bunuh dirinya, segera dilanjutkan dengan tindakan keperawatan untuk
melindungi pasien, misalnya dengan mengatakan: “Baiklah, tampaknya A membutuhkan
pertolongan segera karena ada keinginan untuk mengakhiri hidup”. ”Saya perlu memeriksa
seluruh isi kamar A ini untuk memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan A.”
”Nah A, Karena A tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri hidup A,
maka saya tidak akan membiarkan A sendiri.”
”Apa yang A lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul ? Kalau keinginan itu muncul, maka
untuk mengatasinya A harus langsung minta bantuan kepada perawat di ruangan ini dan juga
keluarga atau teman yang sedang besuk. Jadi A jangan sendirian ya, katakan pada perawat,
keluarga atau teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan”.
”Saya percaya A dapat mengatasi masalah, OK A?”
TERMINASI
”Bagaimana perasaan A sekarang setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin bunuh diri?”
”Coba A sebutkan lagi cara tersebut”
”Saya akan menemani A terus sampai keinginan bunuh diri hilang”
( jangan meninggalkan pasien )
SP 3 Pasien
ORIENTASI
”Assalamu’alaikum B!, masih ingat dengan saya khan?Bagaimana perasaanB hari ini? O... jadi
B merasa tidak perlu lagi hidup di dunia ini. Apakah B ada perasaan ingin bunuh diri? Baiklah
kalau begitu, hari ini kita akan membahas tentang bagaimana cara mengatasi keinginan bunuh
diri. Mau berapa lama? Dimana?”Disini saja yah!
KERJA
“Baiklah, tampaknya B membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan untuk
mengakhiri hidup”. ”Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar B ini untuk memastikan tidak ada
benda-benda yang membahayakan B.”
”Nah B, karena B tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri hidup B,
maka saya tidak akan membiarkan B sendiri.”
”Apa yang B lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul ? Kalau keinginan itu muncul, maka
untuk mengatasinya B harus langsung minta bantuan kepada perawat atau keluarga dan teman
yang sedang besuk. Jadi usahakan B jangan pernah sendirian ya..”.
TERMINASI
“Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa yang telah kita
bicarakan tadi? Bagus B. Bagimana Masih ada dorongan untuk bunuh diri? Kalau masih ada
perasaan / dorongan bunuh diri, tolong panggil segera saya atau perawat yang lain. Kalau sudah
tidak ada keinginan bunh diri saya akan ketemu B lagi, untuk membicarakan cara
meninngkatkan harga diri setengah jam lagi dan disini saja.
SP 4 Pasien
ORIENTASI
“Assalamu’alaikum B! Bagaimana perasaan B saat ini? Masih adakah dorongan mengakhiri
kehidupan? Baik, sesuai janji kita dua jam yang lalu sekarang kita akan membahas tentang rasa
syukur atas pemberian Tuhan yang masih B miliki. Mau berapa lama? Dimana?”
KERJA
Apa saja dalam hidup B yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira yang sedih dan rugi kalau B
meninggal. Coba B ceritakan hal-hal yang baik dalam kehidupan B. Keadaan yang bagaimana
yang membuat B merasa puas? Bagus. Ternyata kehidupan B masih ada yang baik yang patut B
syukuri. Coba B sebutkan kegiatan apa yang masih dapat B lakukan selama ini”.Bagaimana
kalau B mencoba melakukan kegiatan tersebut, Mari kita latih.”
TERMINASI
“Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa-apa saja yang
B patut syukuri dalam hidup B? Ingat dan ucapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan B jika
terjadi dorongan mengakhiri kehidupan (affirmasi). Bagus B. Coba B ingat-ingat lagi hal-hal
lain yang masih B miliki dan perlu disyukuri! Nanti jam 12 kita bahas tentang cara mengatasi
masalah dengan baik. Tempatnya dimana? Baiklah. Tapi kalau ada perasaan-perasaan yang
tidak terkendali segera hubungi saya ya!”
SP 5 Pasien
ORIENTASI
”Assalamu’alaikum, B. Bagaimana perasaannyai? Masihkah ada keinginan bunuh diri? Apalagi
hal-hal positif yang perlu disyukuri? Bagus! Sekarang kita akan berdiskusi tentang bagaimana
cara mengatasi masalah yang selama ini timbul. Mau berapa lama? Di saja yah ?”
KERJA
« Coba ceritakan situasi yang membuat B ingin bunuh diri. Selain bunuh diri, apalagi kira-kira
jalan keluarnya. Wow banyak juga yah. Nah coba kita diskusikan keuntungan dan kerugian
masing-masing cara tersebut. Mari kita pilih cara mengatasi masalah yang paling
menguntungkan! Menurut B cara yang mana? Ya, saya setuju. B bisa dicoba!”Mari kita buat
rencana kegiatan untuk masa depan.”
TERMINASI
Bagaimana perasaan B, setelah kita bercakap-cakap? Apa cara mengatasi masalah yang B akan
gunakan? Coba dalam satu hari ini, B menyelesaikan masalah dengan cara yang dipilih B tadi.
Besok di jam yang sama kita akan bertemu lagi disini untuk membahas pengalaman B
menggunakan cara yang dipilih”.
DAFTAR PUSTAKA
Fitria, Nita. (2009). Prinsip Dasar dan Aplikasi LP & SP tindakan keperawatan untuk
7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S1 Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Keliat B. A, (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Kusumawati dan Hartono. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.
Stuart dan Sundeen. (2005). Buku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Stuart, G. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Yosep, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa Edisi Revisi. Bandung: Refika Aditama.
Banjarmasin, 24 Januari 2022
Preseptor Akademik Mahasiswa
Milasari, Ns.,[Link] Nadya Nailil Ghina
01 21081989 103 004 013 2114901110058