PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS
III SD NEGERI OEBA 3 KUPANG MELALUI PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING
BERBANTUAN APLIKASI WORDWALL
TAHUN AJARAN 2025/2026
Proposal Penelitian Untuk
Tugas Akhir Mahasiswa
OLEH:
IKSAN YULARDI ABANAT
NIM : 222241133
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUPANG
2025/2026
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya
manusia yang berkualitas, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan
perkembangan zaman. Dalam konteks kurikulum saat ini, pembelajaran di sekolah
dasar diarahkan pada penerapan pembelajaran mendalam (deep learning)
sebagaimana ditekankan dalam Kurikulum Merdeka, yang menempatkan peserta
didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar melalui pengalaman belajar yang
bermakna, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Pembelajaran mendalam
tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga pengembangan
sikap, nilai, serta keterampilan yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor secara terpadu. Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk
memahami konsep secara utuh, mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata,
serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif. Salah
satu mata pelajaran yang berperan penting dalam mewujudkan tujuan tersebut
adalah Pendidikan Pancasila, karena melalui mata pelajaran ini peserta didik
ditanamkan nilai-nilai Pancasila, sikap kebangsaan, dan perilaku sosial.
Kemendikbudristek (2022) menguraikan pembelajaran Pancasila di sekolah dasar
perlu dilaksanakan secara inovatif agar nilai-nilai yang dipelajari tidak bersifat
abstrak, melainkan dapat dipahami secara mendalam dan diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari peserta didik.
Untuk mewujudkan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang bermakna dan
berorientasi pada pembelajaran mendalam sebagaimana dituntut dalam Kurikulum
Merdeka, diperlukan perancangan pembelajaran yang mampu melibatkan peserta
didik secara aktif dalam proses belajar. Pembelajaran ideal di sekolah dasar tidak
lagi berpusat pada guru sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan
menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang aktif membangun
pengetahuannya melalui kegiatan eksplorasi, diskusi, kerja sama, dan penciptaan
karya. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kemampuan dalam memilih dan
menerapkan model pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan
karakteristik peserta didik sekolah dasar. Pemilihan model pembelajaran yang tepat
menjadi faktor penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna,
menumbuhkan motivasi belajar, serta mendukung pencapaian hasil belajar peserta
didik secara optimal. Hal ini sejalan dengan pendapat Hosnan (2021) yang
menegaskan bahwa pembelajaran di sekolah dasar perlu dirancang dengan model
pembelajaran aktif dan kontekstual agar peserta didik mampu memahami materi
secara mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tuntutan ideal pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran
mendalam sebagaimana diuraikan sebelumnya belum sepenuhnya tercapai secara
optimal dalam praktik pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil observasi yang
dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan program KKN Dik Berdampak selama
kurang lebih empat bulan di kelas III SDN Oeba 3 Kupang, diketahui bahwa guru
telah berupaya menerapkan berbagai strategi dan model pembelajaran sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Guru juga telah melaksanakan
evaluasi pembelajaran melalui ulangan harian. Akan tetapi, hasil evaluasi
menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran masih
belum optimal. Dari hasil ulangan harian yang diperoleh, diketahui bahwa Kriteria
Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang ditetapkan adalah 70, namun dari
22 peserta didik, hanya 10 peserta didik yang mencapai nilai di atas KKTP,
sedangkan 14 peserta didik masih memperoleh nilai di bawah KKTP. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan
dalam memahami materi secara mendalam dan mengaitkannya dengan konteks
kehidupan sehari-hari. Dampak dari kondisi tersebut tercermin pada hasil belajar
peserta didik yang belum mencapai KKTP secara optimal, sehingga diperlukan
pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berpusat pada peserta didik
untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar peserta didik.
Berdasarkan kondisi pembelajaran sesuai hasil obserfasi maka diperlukan
suatu alternatif solusi pembelajaran sebagaimana diuraikan pada paragraf
sebelumnya, diperlukan suatu alternatif solusi pembelajaran yang mampu
menjembatani kesenjangan antara tuntutan pembelajaran dan hasil belajar peserta
didik di kelas. Salah satu solusi yang dipandang relevan adalah penerapan model
Project Based Learning (PjBL) berbantuan aplikasi wordwall. Model PjBL
menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam pembelajaran melalui
kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian proyek yang bermakna,
sehingga peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi
membangun pemahaman melalui pengalaman belajar yang kontekstual. PjBL
dinilai efektif dalam meningkatkan hasil belajar karena mendorong keterlibatan
aktif, kerja sama, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik sejak tahap awal
pembelajaran hingga evaluasi hasil proyek (Kokotsaki dkk, 2021). Selain itu,
penggunaan aplikasi wordwall sebagai media pembelajaran interaktif dipilih untuk
mendukung karakteristik peserta didik kelas III sekolah dasar yang masih berada
pada tahap operasional konkret. Wordwall memungkinkan guru menyajikan latihan
dan evaluasi pembelajaran dalam bentuk permainan edukatif yang menarik,
sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar dan membantu peserta didik
memahami materi secara lebih menyenangkan. Hal ini didukung oleh pernyataan
Rahmawati dan Suryadi (2023) bahwa media berbasis digital seperti wordwall
terbukti mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik serta berdampak positif
terhadap hasil belajar, khususnya pada pembelajaran di sekolah dasar.
Sejalan dengan solusi pembelajaran yang telah diuraikan, penerapan model
Project Based Learning berbantuan aplikasi wordwall perlu dikaji secara sistematis
melalui suatu penelitian yang berorientasi pada perbaikan praktik pembelajaran di
kelas. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang dalam bentuk Penelitian Tindakan
Kelas (PTK), karena PTK bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
proses serta hasil pembelajaran secara berkelanjutan melalui tindakan-tindakan
reflektif yang dilakukan langsung oleh guru di kelas. PTK dipandang tepat
digunakan dalam konteks penelitian ini, mengingat permasalahan yang dihadapi
bersifat kontekstual dan berkaitan langsung dengan hasil belajar peserta didik kelas
III SDN Oeba 3 Kupang. Penerapan tindakan berupa model Project Based Learning
berbantuan aplikasi wordwall, diharapkan terjadi peningkatan hasil belajar peserta
didik secara bertahap pada setiap siklus pembelajaran. Sebagaimana ditegaskan
Arikunto dkk (2021), PTK merupakan pendekatan penelitian yang efektif untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran serta hasil belajar siswa melalui perbaikan
berkelanjutan dalam praktik kelas.
Temuan empiris dari berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa
penerapan model Project Based Learning yang dipadukan dengan media
pembelajaran digital interaktif mampu memberikan dampak positif terhadap hasil
belajar peserta didik sekolah dasar. Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan
Wulandari (2021) menunjukkan bahwa Project Based Learning dapat
meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep siswa karena peserta didik terlibat
langsung dalam proses penyelesaian proyek yang bermakna. Selain itu, penggunaan
aplikasi wordwall sebagai media pembelajaran interaktif terbukti efektif dalam
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa sekolah dasar, sebagaimana
dilaporkan oleh Pratama dan Hidayati (2022) yang menemukan adanya peningkatan
hasil belajar setelah penerapan wordwall dalam pembelajaran tematik. Meskipun
demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada konteks mata
pelajaran dan jenjang yang berbeda, serta belum secara spesifik mengkaji
penerapan Project Based Learning berbantuan aplikasi wordwall dalam
pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas III sekolah dasar melalui pendekatan
Penelitian Tindakan Kelas. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang lebih
kontekstual dan aplikatif untuk mengkaji efektivitas penerapan model tersebut
dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas III SDN Oeba 3 Kupang.
Dengan demikian, penelitian tindakan kelas ini diharapkan tidak hanya
berkontribusi pada peningkatan hasil belajar peserta didik kelas III SDN Oeba 3
Kupang, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perbaikan praktik
pembelajaran Pendidikan Pancasila secara berkelanjutan. Melalui penerapan model
Project Based Learning berbantuan aplikasi wordwall, guru diharapkan
memperoleh alternatif strategi pembelajaran yang relevan dengan karakteristik
peserta didik sekolah dasar dan tuntutan pembelajaran mendalam dalam Kurikulum
Merdeka. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi
dan rujukan praktis bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih
inovatif, interaktif, dan bermakna, sehingga tujuan pembelajaran Pendidikan
Pancasila dapat tercapai secara optimal. Berdasarkan latar belakang permasalahan
tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul :
“Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas III SD Negeri Oeba 3
Kupang melalui Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning
Berbantuan Aplikasi Wordwall.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka peneliti merumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah penerapan model Project Based Learning berbantuan aplikasi
wordwall dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila pada peserta didik kelas III
SDN Oeba 3 Kupang?
2. Apakah penerapan model Project Based Learning berbantuan aplikasi wordwall
dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas III SD Negeri Oeba 3 Kupang
pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila?
1.3 Tujuan penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan penerapan model Project Based Learning berbantuan
aplikasi wordwall dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila pada peserta didik
kelas III SD Negeri Oeba 3 Kupang.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas III SD Negeri Oeba 3 Kupang
melalui penerapan model Project Based Learning berbantuan aplikasi wordwall
pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
pengembangan kajian pembelajaran di sekolah dasar, khususnya terkait penerapan
model Project Based Learning berbantuan media digital interaktif dalam
pembelajaran Pendidikan Pancasila. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi
referensi bagi penelitian selanjutnya yang relevan dengan peningkatan hasil belajar
peserta didik melalui pendekatan pembelajaran inovatif.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi Peserta Didik
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik serta
menumbuhkan keterlibatan aktif, motivasi belajar, dan pemahaman konsep
Pendidikan Pancasila melalui pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna.
2) Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran bagi guru
dalam menerapkan model Project Based Learning berbantuan aplikasi wordwall
guna meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Pancasila di
sekolah dasar.
3) Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi sekolah
dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran serta mendorong pemanfaatan
media pembelajaran digital secara optimal.
4) Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti
dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas serta menjadi bekal dalam
mengembangkan kompetensi profesional sebagai calon pendidik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Aplikasi Wordwall
2.1.1. Pengertian Wordwall
Wordwall merupakan sebuah media pembelajaran berupa permainan yang
yang dapat dimainkan sendiri tanpa ada yang menyertainya. Selain itu, menurut
Rahmawati, (2022). Wordwall merupakan salah satu aplikasi berbasis web yang
dirancang untuk menyediakan berbagai template permainan edukatif, seperti quis,
teka-teki, dan aktifitas interaktif lainnya yang dapat digunakan guru dalam proses
pembelajaran. Sebagai media pembelajaran digital, wordwall tidak hanya berfungsi
sebagai penyaji materi, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat evaluasi yang
menyenangkan sehingga mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa,
Nurjanah & Sari, (2021).
2.1.2. Karakteristik Wordwall
Wordwall memiliki beberapa karakteristik yang membuatnya efektif
sebagai media pembelajaran interaktif. Menurut Putu & Aryani, (2021). beberapa
karakteristik wordwall adalah:
a. Ada koleksi komulatif kata (comulative collections of words) yang bisa dipakai
untuk membangun kosakata secara bertahap.
b. Bisa dirancang khusus tujuan instruksional (instructional purposes) yang spesifik-
artinya guru bisa menentukan desain aktifitas sesuai dengan kebutuhan materi.
c. Interaktif-siswa dan guru dapat berinteraksi melalui aktivitas-interaktif yang
disediakan aplikasi.
d. Printable (dapat dicetak) selain digunakan secara digital, materi/aktivitas dari
wordwall bisa dijadikan versi cetak.
e. Memberikan scaffolding (bantuan/petunjuk) dalam bentuk konversasi/dukungan
agar berpikir kritis siswa dapat berkembang.
f. Menyediakan berbagai mini game/kegiatan kata yang dilengkapi dengan vitur
audio, gambar, animasi bergerak, peringkat skor yang semuanya membantu
memotivasi siswa.
g. Memberikan umpan balik instan (instant feedback) melalui aktifitas quis/games,
sehingga siswa tahu langgsung kesalahan/perbaikan.
2.1.3. Prinsip-Prinsip Wordwall
Prinsip-prinsip utama penggunaan wordwall menurut para ahli dan sumber
ilmiah pada tahun 2022 semakin menekankan pada peranannya sebagai media game
edukasi yang efektif untuk meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran secara langsung. Berikut adalah prinsip-prinsip wordwall
sebagai media edukasi:
1. Keterlibatan siswa aktif (Aktive Engagement)
Menurut Sinaga dkk, (2022) wordwall adalah alat pedagogis yang menuntut
keterlibatan aktif bukan sekedar melihat pasif. Media ini memicu rasa ingin tau
siswa dan memberi insentif tinggi untuk berpartisipasi aktif dalam proses
pembelajaran. wordwall meningkatkan aktivitas, termasuk dalam berdiskusi dan
memberikan solusi.
2. Peningkatan Motivasi (Motivation Booster)
Menurut Pradani (2022) prinsip wordwall adalah menggunakan vitur visualisasi,
suara, animasi, dan permainan untuk menciptakan kesan menyenangkan dan
meningkatkan minat serta motivasi belajar siswa. Hal ini mengatasi kejenuhan dan
pembelajaran yang monoton.
3. Adaptasi Level Kesulitan (Diverensiasi)
Menurut Priyono (2020) wordwall harus diterapkan dengan prinsip bahwa tingkat
kesulitan dan variasi soal dapat di sesuaikan dengan tingkat ketrampilan atau level
peserta didik, memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan terstruktur.
4. Media All-in-One (Sumber dan Evaluasi)
Menurut Pradani (2022) wordwall berfungsi ganda sebagai sumber belajar yang
menghibur sekaligus alat evaluasi yang menyediakan game berbasis quis. Aplikasi
ini dapat digunakan untuk merancang bahan ajar, presentasi, dan penilaian, serta
mendukung pembelajaran yang serbaguna.
5. Umpan Balik dan Hasil Belajar
Menurut Sukma dkk (2022) penggunaan wordwall secara efektif diukur dari
kemampuannya menghasilkan hasil belajar yang lebih baik (tingkat keaktifan) dan
memberikan data evaluasi (hasil) kepada guru.
2.1.4. Langkah-Langkah Memakai Wordwall
Langkah yang bisa dipakai dalam pengimplementasian wordwall menurut Aidah
& Nurafni (2022) ialah:
a. Hal pertama yang hendak kita tempuh adalah membuka akun di
[Link] dan mengisi informasi atau data yang diperlukan.
b. Pilihkan aktifitas saya.
c. Sesudah itu, pilihlah template yang tersedia.
d. Buat judul dan deskripsi game.
e. Apabila semuanya sudah selesai, pilihlah tombol selesai sebagai tindakan
terakhir.
Berikutnya menurut Sahanata & Dinda . (2022), menyatakan bahwa sintaks dalam
memakai aplikasi digital wordwall ialah seperti dibawah ini:
a. Masuk ke aplikasi Google Chrome kemudian search wordwall.
b. Sesudah itu muncul tampilan awal wordwall.
c. Berikutnya kita dapat log in dengan memakai gmail.
d. Sesudah mempunyai akun, langkah berikutnya tekanlah tombol buat aktivitas.
e. Sesudah itu muncul template yang biasa dipakai untuk membuat soal.
f. Berikutnya pilihlah template mana yang hendak kita gunakan.
g. Ketika template yang dipilih mun cul, isi dengan menggunakan judul subsek dan
pertanyaan serta jawaban yang perlu disediakan.
h. Sesudah pertanyaan selesai, masukkan dan kemudian tekanlah tombol selesai.
Dari beberapa pendapat di atas maka peneliti memperoleh kesimpulan
bahwa cara mengakses wordwall tidak diragukan lagi membutuhkan jaringan
internet untuk masuk dan terhubung dari beberapa sudut pandang yang sudah
disebut di atas.
2.1.5. Kelebihan Wordwall
Menurut Anissa & Rudy, (2022) menyatakan bahwa kelebihan wordwall
seperti dibawah ini:
a. Mempunyai potensi untuk menawarkan kepada murid suatu sistem pembelajaran
yang relavan yang mudah dipakai dan dapat diterapkan baik ditingkat dasar maupun
lanjutan.
b. Wordwall sekedar dapat diakses dari manapun dengan memakai smartphone.
c. Aplikasi inovatif dengan puluhan tamplate untuk menarik minat siswa dan
mendorong pembelajaran.
Menurut Mujahidin A. A, Salsabila, U. H, (2021). Kelebihan dari media
wordwall ialah tampilan media pembelajaran yang menyenangkan bagi murid di
dalam kelas, tersedianya beberapa template untuk mendukung penggunaan sesuai
dengan kebutuhannya, dan dapat diaksesnya tugas-tugas melalui smratphone.
2.1.6. Kekurang Wordwall
Menurut Anisa & Rudy, (2022). Menyatakan bahwa kekurangan wordwall
seperti dibawah ini:
a. Dalam pembuatan wordwall ini membutuhkan waktu yang cukup lama.
b. Dalam pengimplementasiannya ukuran huruf terkadang kecil dan tidak dapat
diubah.
c. Apabila tidak mempunyai akses internet/kuota maka tidak dapat membuka
wordwall.
Selain itu, menurut Mujanidin A. A, Salsabila, U. H, (2021). Kekurangan
media wordwall termasuk kemudahan penyalinan, ketidakmampuan untuk
merubah ukuran font, fakta bahwa beberapa template sekedar bisa dipakai dengan
akun premium atau berbayar, dan fakta bahwa game sekedar dapat di cetak untuk
akun premium, yakni media visual yang membutuhkan banyak waktu untuk
dikembangkan, dan rentang atas kecurangan.
2.2. Project Based Learning
2.2.1. Pengertian Project Based Learning
Model pembelajaran Project Based Learning menurut Darmayoga &
Suparya, (2021). Yaitu model yang memberikan kesempatan kepada guru untuk
mengelola kegiatan pembelajaran dikelas dengan melibatkan pembuatan proyek
kepada peserta didik yang memuat tugas-tugas yang kompleks berdasarkan
permasalahan sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru berdasarkan pengalaman secara nyata dan menuntut peserta didik
untuk bekerja secara mandiri maupun kelompok. Sejalan dengan itu, model
pembelajaran Project Based Laerning menurut Pasca & Mugara, (2021) adalah
model pembelajaran dengan suatu teknik pengajaran yang khas serta praktik
pembelajaran yang baru dengan menggunakan proyek/kegiatan sebagai media
pembelajaran. Model pembelajaran ini menuntut peserta didik untuk melakukan
ekplorasi, penilaian, interprestasi, sintesis dan informasi sebagai langkah
menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pengertian dari model Pembelajaran Project Based Learning yaitu model
pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik dan menempatkan guru sebagai
fasilitator dan motivator dalam melakukan proses penilaian dengan cara mengukur,
memonitor dan menilai hasil belajar peserta didik. Model Project Based Learning
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam pembuatan proyek atau tugas
dengan cara melibatkan peserta didik secara langsung dalam kegiatan eksplorasi,
penilaian, interprestasi, sintesis dan informasi sebagai langkah menghasilkan
berbagai bentuk hasil belajar serta model ini relatif berjangka waktu dalam
pengerjaan proyek atau tugas.
2.2.2 Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning
Karakteristik model pembelajaran Project Based Learning lebih
mengutamakan pada proses kegiatan yang melibatkan peserta didik secara
langsung, kegiatan tersebut akan menentukan hasil yang akan di capai oleh peserta
didik. Hasil dari proses pembelajaran dengan menggunakan model ini berupa
produk yang dapat memecahkan suatu masalah. Sehingga Nurhikmayati &
Sunendar (2020) berpendapat bahwa karakteristik model pembelajaran Project
Based Learning adalah sebagai berikut:
a) Kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik (student center).
b) pada kemampuan koneksi.
c) Peserta didik dituntut mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.
d) Mendapatkan pengetahuan baru.
e) Hasil dari kegiatan pembelajaran berupa produk
2.2.3 Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Project Based Learning
Prinsip model pembelajaran Project Based Learning adalah sebuah upaya
kompleks yang memerlukan analisis masalah yang harus direncanakan, dikelola
dan diselesaikan pada batas waktu yang telah ditentukan terlebih dahulu. Prosedur
yang digunakan model pembelajaran Project Based Learning adalah perencanaan,
implementasi atau penciptaan, dan pemrosesan. Model pembelajaran berbasis
Project Based Learning mempunyai beberapa prinsip yaitu:
1. Fokus pada pertanyaan pendorong atau masalah otentik:
a. Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan mendasar, studi kasus, atau masalah
nyata yang memicu siswa untuk mencari solusi dan konsep yang digunakan sebagai
jawaban.
b. Proyek didasarkan pada tema atau topik yang sudah disepakati, mendorong siswa
untuk menganalisis dan bereksperimen untuk menghasilkan suatu proyek yang
nyata.
2. Pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered):
a. Project Based Learning menempatkan siswa dipusat pengalaman belajar mereka,
dimana mereka aktif mengeksplorasi, bertanya, dan memecahkan masalah.
b. Siswa didorong untuk aktif, mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihannya
selama proses pembelajaran.
3. Pembelajaran konstruktif dan kolaboratif:
a. Siswa membangun pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri secara aktif
melalui investigasi dan konstruksi.
b. Kolaborasi dalam kelompok mendorong siswa untuk mengembangkan
ketrampilan komunikasi dan kerja sama dalam proyek.
4. Otonomi siswa
a. Prinsip ini menekankan kemandirian siswa dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran dan memberikan kebebasan memilih dalam proyek mereka.
5. Realisme dan kontekstualisme
a. Proyek yang dikerjakan harus realistis dan berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari, sehingga siswa dapat menerapkan pengetahuan ke dunia nyata.
b. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan kunci
siswa dengan cara yang kompleks dan relevan.
6. Fokus pada ketrampilan kunci dan hasil nyata:
a. Proyek bertujuan untuk membantu siswa belajar menerapkan pengetahuan dan
ketrampilan untuk menyelesaikan masalah, menjawab pertanyaan yang rumit.
b. Proyek tersebut juga mendorong siswa untuk berkreasi.
2.2.4 Langkah-langkah Project Based Learning
Berdasarkan Anggraini & Wulandari (2020) terdapat 6 langkah-langkah
implementasi Project Based Learning yaitu penentuan pertanyaan mendasar,
membuat desain proyek, penyusunan jadwal pelaksanaan proyek, memonitori
kemajuan pelaksanaan proyek, penilaian hasil, dan yang terakhir adalah tahap
evaluasi proyek dan hasil proyek. Berikut analisis terkait mengimplementasikan
Project Based Learning: berbantuan wordwall sesuai dengan taksonomi solo yang
saya jabarkan pada Tabel dibawah ini.
Tabel 2.1
Langkah Kegiatan Guru Kegiatan Peserta Didik Level Solo Penggunaan
PjBL
Wordwall
Pertanyaan Guru mengajukan pertanyaan Peserta didik menjawab Unistructural Kuis Wordwall
Awal sederhana tentang budaya Timor pertanyaan berdasarkan pilihan ganda
Tengah Selatan (rumah adat, pengalaman dan sederhana tentang
tarian, pakaian adat, nilai pengetahuan awal budaya TTS
kebersamaan)
Merencanakan Guru menjelaskan proyek yang Peserta didik berdiskusi Multistructural Wordwall
Proyek akan dibuat (misalnya poster atau menentukan tugas “urutkan
mini buku budaya TTS) dan masing-masing anggota kegiatan” langkah
membagi siswa dalam kelompok membuat proyek
kecil
Menyusun Guru dan peserta didik Peserta didik mengikuti Multistructural Wordwall
Jadwal menentukan waktu pengerjaan jadwal yang disepakati mencocokkan hari
proyek dan batas pengumpulan dengan kegiatan
proyek
Mengerjakan Guru memantau kerja kelompok Peserta didik bekerja Relational Wordwall kuis
sama membuat proyek
Proyek dan membantu jika ada kesulitan benar–salah untuk
budaya TTS dan saling
berdiskusi mengaitkan
budaya dan nilai
PPKn
Presentasi Guru meminta setiap kelompok Peserta didik Relational Wordwall kuis
Hasil mempresentasikan hasil proyek menjelaskan hasil refleksi singkat
proyek dan makna setelah presentasi
budaya TTS
Refleksi Guru mengajak peserta didik Peserta didik Extended Wordwall
Pembelajaran menyimpulkan pembelajaran dan menyampaikan Abstract polling/refleksi
nilai PPKn yang diperoleh pengalaman belajar dan sederhana
sikap yang dipelajari
2.3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang baik dari segi
pengetahuan ataupun sikap setelah melakukan proses pembelajaran baik
pembelajaran formal maupun nonformal. Menurut Utami (2022) hasil belajar
adalah hasil yang didapatkan dari proses pembelajaran yang diukur melalui
penilaian pengetahuan, sikap, dan ketrampilan mereka sendiri daat proses
pembelajaran sedang berlangsung.
2.3.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Menurut Talafha (2022) menjelaskan bahwa faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi pada hasil belajar peserta didik:
a. Faktor internal: emosi, takut, depresi, kepercayaan diri rendah, dan konsep diri
yang rendah.
b. Faktor eksternal: latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi, tingkat
pendidikan orang tua, dukungan atau motivasi dari orang tua.
c. Faktor sekolah/lingkungan: strategi pembelajaran guru dan sikap guru terhadap
siswa pada saat proses pembelajaran di kelas.
2.3.2. Macam-macam hasil belajar
Menurut Yuliana & Silviana (2022) macam-macam hasil belajar antara lain:
1. Pengetahuan verbal, kapasitas untuk mengkomunikasikan pemahaman baik
secara lisan maupun tulisan.
2. Kecakapan intelektual, termasuk kapasitas untuk mengkomunikasikan ide dan
simbol.
3. Strategi kognitif, atau kapasitas untuk mengelola proses kognitif sendiri.
4. Kemampuan motorik, termasuk koordinasi dan kapasitas untuk melaksanakan
beragam gerakan tubuh yang berbeda.
5. Sikap, kapasitas untuk menerima atau menolak susuatu didasari evaluasi atas hal
tersebut.
2.3.3. Indikator hasil belajar
Menurut Sudjana, N. (2022) indikator hasil belajar mencakup perilaku yang
meliputi 3 ranah diantaranya adalah: ranah kognitif. Psikomotorik, dan afektif.
Ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran, ketiga ranah tersebut mesti
dikembangkan secara penuh. Pembenarannya berkenan dengan penanda hasil
belajar, secara khusus:
1. Ranah kognitif (Cognitive Domain)
Ranah ini berkaikan dengan kemampuan berpikir dan penguasaan pengetahuan
peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.
2. Ranah afektif (Affective Domain)
Ranah ini mencakup sikap, nilai, minat, dan motivasi belajar peserta didik terhadap
pelajaran.
3. Ranah psikomotorik (Psyhomotor Domain)
Ranah ini berhubungan dengan keterampilan fisik dan kemampuan motorik peserta
didik dalam menerapkan pengetahuan.
2.3.4. Tinjauan Materi
1. Capaian Pembelajaran
Membedakan dan menghargai identitas, keluarga, dan teman temannya sesuai
budaya,suku bangsa, bahasa, agama dan kepercayaannya di lingkungan sekitar.
2. Tujuan Pembelajaran
a. Level 1 Pre-Structural / Uni-Structural Peserta didik dapat menyebutkan
keragaman identitas diri dan teman (seperti suku, agama, atau bahasa) yang ada di
lingkungan kelas.
perbedaan budaya, bahasa, dan agama di lingkungan sekitar secara mandiri.
c. Level 3 Relational / Peserta didik dapat menunjukkan sikap menghargai
(toleransi) terhadap perbedaan identitas teman dengan cara berinteraksi secara
rukun di sekolah.
d. Level 4 Extended Abstract / Peserta didik dapat menyimpulkan pentingnya
menghargai keberagaman suku dan agama dalam menjaga persatuan di lingkungan
sekitar.
3. Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran 1 (Solo Level 2 - Unistructural)
Indikator:
1. Peserta didik mampu menyebutkan minimal 3 identitas diri sendiri (marga/suku,
agama, dan bahasa ibu).
2. Peserta didik mampu menyebutkan minimal 1 identitas (agama atau suku) dari
teman sebangkunya secara benar.
Tujuan Pembelajaran 2 (Solo Level 2 - Multistructural)
Indikator:
1. Peserta didik mampu membedakan jenis-jenis tempat ibadah dan hari besar
agama yang ada di lingkungan sekitar.
2. Peserta didik mampu mendaftar keberagaman budaya lokal (seperti nama kain
tenun TTS, rumah adat, atau dialek bahasa) yang ditemukan di sekolah.
Tujuan Pembelajaran 3 (Solo Level 3 - Relational)
Indikator:
1. Peserta didik mampu mempraktikkan kerja sama dengan teman tanpa membeda-
bedakan latar belakang saat menyelesaikan proyek replika Lopo.
2. Peserta didik mampu menggunakan bahasa yang santun dan tidak merendahkan
saat berkomunikasi dengan teman yang berbeda identitas.
Tujuan Pembelajaran 4 (Solo Level 4 - (Extended Abstract)
Indikator:
1. Peserta didik mampu menjelaskan (secara lisan/tulisan) kaitan antara sikap
toleransi dengan terciptanya suasana kelas yang aman dan damai.
2. Peserta didik mampu memberikan contoh dampak negatif yang terjadi jika
masyarakat di TTS tidak saling menghargai perbedaan.
Satuan Pendidikan : SD Negeri Oeba 3 Kupang
Kelas/Fase : III/B
Jenjang Sekolah : SD
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Tema : Budaya di Sekitarku (Budaya TTS)
Pendekatan : Pendekatan Mendalam (Deep Learning)
a. Pengertian Budaya
Budaya adalah cara hidup suatu kelompok masyarakat yang diwariskan dari
generas ke generasi. Timor Tengah Selatan (TTS) adalah salah satu kabupaten di
Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki kekayaan budaya unik dan masih
dijaga oleh masyarakatnya. Budaya tersebut mencakup kebiasaan, nilai, adat
istiadat, bahasa, pakaian adat , rumah adat, tarian, musik, makanan khas, dan
kepercayaan yang dimiliki daerah tersebut.
1. Rumah Adat Lopo/Ume Kbubu
Lopo dan Ume Kbubu adalah rumah adat masyarakat suku Atoni juga di
kenal sebagai Dawan atau Atoin Meto. Tersebar di wilayah pedalaman Pulau
Timor, khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan(TTS) Provinsi Nusa
Tenggara Tumur (NTT). Ume Kbubu “ Rumah Bulat “ (Rumah Tinggal Utama)
secara harifiah berarti rumah bulat (ume = rumah, kbubu = bulat atau tertutup).
Fungsi utamanya adalah tempat tinggal utama bagi keluarga dan pusat kegiatan
domestik. Dan juga memiliki ciri khas bentuknya melingkar, dengan atap kerucut
yang menjuntai hampir menyentuh tanah, dan beberapa jendela untuk menjaga
kehangatan di malam hari. Filosofi dari ume kbubu memiliki bentuk bulat
melambangkan kesatuan dan perlindungan bagi penghuninya.
Lopo “ Lumbung dan Tempat Musyawarah “ Lopo sebagai lumbung pangan
dan ruang sosial, berfungsi sebagai penyimpanan hasil panen jagung, padi dan
barang-barang penting, sekaligus sebagai tempat berkumpul atau musyawarah
warga. Memiliki ciri khas berbentuk seperti piramida, atap tinggi yang terbuat dari
alang-alang, dan tanpa dinding (ruang terbuka) yang di topang oleh tiang-tiang
kayu. Dan juga memiliki filosofi ruang terbuka melambangkan keterbukaan dan
kebersamaan dalam masyarakat.
Material alami dan ramah lingkungan, konstruksi menggunakan bahan-bahan alam
lokal :
a. Atap : Menggunaan alang-alang atau rumput kering yang di tata rapi
b. Struktur Tiang : Menggunakan kayu lokal yang kuat
c. Dinding (ume kbubu) : Menggunakan anyaman bambu atau kayu yang dilapisi
tanah liat
d. Lantai : Menggunakan tanah yang padat
Dibangun secara gotong royong, mencerminkan kekuatan komunitas lokal.
e. Nilai Budaya dan Makna Spiritual
Filosofi dan Makna Simbolis:
a. Orientasi : Ume Kbubu seringkali memiliki orientasi arah tertentu, seperti
menghadap ke arah asal usul suku atau sumber mata air suci untuk menghormati
leluhur.
b. Simbolisme Ruang : Terdapat pembagian ruang sakral (untuk leluhur) dan ruang
profan (untuk aktifitas harian).
c. Puncak atap lopo kadang dihiasi ornamen (nis lopo) yang melambangkan
kepercayaan terhadap tuhan atau leluhur.
2. Pakaian Adat Timor Tengah Selatan
Pakaian adat Timor Tengah Selatan merupakan bagian penting dari identitas
budaya masyarakat Atoni Pah Meto (suku dawan) yang mendiami wilayah TTS,
Nusa Tenggara Timur. Pakaian adat ini tidak berfungsi sebagai busana, tetapi juga
syarat makna tentang status sosial, kehormatan, serta hubungan kekerabatan. Nama
dan ciri utama pakaian adat TTS, Pakaian adat TTS umumnya terbuat dari kain
tenun ikat khas daerah Timor. Motif tenun memiliki nilai filosofi yang
menggambarkan alam, persaudaraan, dan kehidupan masyarakat.
a. Untuk laki-laki:
1. Mone-mone Kain tenun yang di lilitkan dari pinggang ke bawah.
2. Selimut Tenun (ma,u ana) di pakai menyilang di bahu.
3. Hiasan kepala (pilu/destar) ikat kepala yang digunakan pada saat acara adat
atau upacara adat.
4. Sabuk atau tali pinggang terbuat dari tenunan benang.
5. Aksesoris tambahan seperti parang adat, gelang dan kalung yang terbuat dari
muti.
b. Untuk Perempuan
1. Bika rok atau sarung tenun khas perempuan TTS.
2. Tais selimut atau kain panjang yang di sampirkan di bahu.
3. Kebaya atau baju kurung dipadukan dengan kain tenun.
4. Perhiasan tradisional seperti kalung manik (muti salak), gelang, dan anting.
c. Motif Tenun TTS dan Maknanya
Beberapa motif khas antara lain:
1. Motif Kaif – Melambangkan kepemimpinan dan keberanian.
2. Motif Boti – Khas dari Desa Boti, lambang kesatuan masyarakat adat.
3. Motif fauna dan flora – Simbol keselarasan dengan alam.
Warna yang sering digunakan adalah hitam, merah, coklat, dan putih, masing-
masing memiliki makna kearifan lokal:
1. Merah - keberanian dan kehidupan
2. Hitam - keteguhan dan kedewasaan
3. Putih - kemurnian
4. Coklat - kedekatan dengan tanah leluhur
d. Fungsi Pakaian Adat
Pakaian adat TTS dipakain dalam berbagai acara penting:
1. Upacara adat (Nikah adat, kelahiran, panen, ritual suku)
2. Upacara keagamaan dan budaya
3. Penyambutan tamu Kehormatan
4. Tarian tradisional seperti bonet
5. Pesta rakyat atau perayaan daerah
e. Nilai Budaya dalam Pakaian Adat TTS
Pakaian adat TTS mengandung nilai:
1. Identitas budaya suku dawan
2. Gotong royong dan kebersamaan, karna proses penenun dilakukan bersama
3. Kesabaran dan ketelitian dalam pembuatan kain tenun
4. Rasa hormat kepada leluhur
5. Pelestarian budaya lokal
f. Kesimpulan Lopo, Ume Kbubu, dan Pakaian Adat TTS
Lopo, Ume Kbubu, dana Pakaian adat Timor Tengah Selatan merupakan tiga unsur
budaya yang saling berkaitan dan mencerminkan indentitas masyarakat Atoni Pah
Meto (Dawan) di wilayah Timor Tengah Selatan.
1. Lopo adalah rumah adat terbentuk bulat dan terbuka, digunakan sebagai tempat
berkumpul, bermusyawarah, menerima tamu, dan melakukan kegiatan sosial
masyarakat. Lopo melambangkan keterbukaan, persaudaraan, dan kebersamaan.
2. Ume Kbubu adalah rumah adat tertutup berbentuk bulat dengan atap rendah,
digunakan sebagai tempat tinggal, memasak, dan menyimpan hasil panen. Ume
kbubu menggambarkan kehangatan keluarga, perlindungan, dan ikatan dengan
leluhur.
3. Pakaian adat seperti tenun ikat, mone-mone, bika, dan tais menunjukan kreatifitas
dan nilai estetika masyarakat setempat. Motif dan warna pada tenun mengandung
makna kehidupan, keberanian, dan kehormatan.
Secara keseluruhan, ketiga unsur budaya ini menunjukan bahwa masyarakat
Timor Tengah Selatan memiliki keterkaitan kuat dengan alam, nilai kebersamaan,
penghormatan kepada leluhur, serta kekayaan budaya yang perlu di lestarikan dari
generasi ke generasi.
2.3.5 Pembelajaran PKn
Pendidikan Pancasila (PKn) merupakan proses pendidikan yang bertujuan
membentuk peserta didik agar memiliki pemahaman, sikap, dan ketrampilan
kewarganegaraan sesuai nilai-nilai Pancasila. Menurut Lazuardy dkk, (2025),
pembelajaran PKn di era digital menuntut adanya inovasi pembelajaran yang
mampu mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dengan perkembangan teknologi
sehingga siswa dapat memahami konsep kewarganegaraan sekaligus memiliki
literasi digital yang memadai. Mereka menegaskan bahwa penggunaan media
digital dan model pembelajaran inovasi diperlukan untuk meningkatkan
keterlibatan dan kualitas pembelajaran PKn.
Sejalan dengan itu, Edrawati (2023) menjelaskan bahwa perkembangan
teknologi membawa tantangan dan peluang bagi pembelajaran PKn. Teknplogi
tidak hanya mempermudah akses informasi, tetapi juga dapat memperkuat
internalisasi nilai-nilai Pancasila apabila digunakan secara tepat. Integrasi teknologi
dalam PKn harus diarahkan agar siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi
juga mampu mengaplikasikan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
2.3.6 Pembelajaran PKn di SD
Pada jenjang sekolah dasar, pelajaran PKn lebih menekankan pada
penanaman karakter, disiplin, dan pemahaman dasar nilai-nilai demokrasi serta
kehidupan sosial. Anak usia sekolah dasar membutuhkan pembelajaran yang
konkret, kontekstual, dan menarik. Menurut Edrawati, (2023) teknologi dapat
menjadi sarana untuk memperkuat pembelajaran nilai melalui aktivitas interaktif,
permainan edukatif, dan proyek digital yang memdukung pengalaman belajar
bermakna.
Sementara itu Lazuardy dkk, (2025) menegaskan bahawa penerapan inovasi
digital seperti aplikasi pembelajaran, multimedia interaktif, dan digital project
based learning sangat efektif meningkatkan partisipasi siswa sd dalam
pembelajaran PKn. Dengan memanfaatkan teknologi, guru dapat menciptakan
suasan belajar yang menyenangkan dan sesuai karakteristik perkembangan anak.
Dengan demikian, penggunaan aplikasi interaktif seperti Wordwall sangat relevan
diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila (PKn) SD karena membantu
siswa memahami konsep melalui permainan edukatif, quis, dan aktivitas visual
yang membuat materi menjadi lebih konkret.
2.3.7 Penelitian yang relevan
Beberapa penelitian terbaru mendukung penggunaan media digital seperti wordwall
dan model Project Based Learning dalam pembelajaran Pendidikan pancasila
(PKn).
Tabel 2.2
No. Judul Penelitian Tahun Subjek & Fokus Variabel Metode / Hasil Utama
Lokasi Desain
1. Peningkatan Hasil 2025 Siswa kelas PjBL + Wordwall PTK Penerapan PjBL
Belajar Siswa melalui VI, SD di → Hasil belajar (Classroom berbantuan
Model Pembelajaran Gorontalo Action Wordwall
Berbasis Proyek Research) meningkatkan
Berbantuan Aplikasi hasil belajar siswa
Wordwall pada Materi
Tata Surya di Sekolah
Dasar
2. Efektivitas Project 2025 Siswa SD, PjBL + Wordwall Quasi Model PjBL
Based Learning Manokwari → Prestasi belajar Eksperimen berbantuan
Berbantuan Wordwall (rasa ingin tahu Wordwall efektif
untuk Meningkatkan sebagai variabel meningkatkan
Prestasi Belajar moderasi) prestasi belajar
Ditinjau dari Rasa siswa
Ingin Tahu
3. Peningkatan Hasil 2024 Kelas III Project Based PTK Penerapan PjBL
Belajar Peserta Didik SD, Jawa Learning → Hasil meningkatkan
melalui Model Project Tengah belajar hasil belajar dan
Based Learning pada keaktifan siswa
Pembelajaran Tematik kelas III
di Sekolah Dasar
4. Pengaruh Media 2023 Siswa SD, Media Wordwall Eksperimen Media Wordwall
Wordwall terhadap Jawa Barat → Hasil belajar berpengaruh
Hasil Belajar Siswa positif terhadap
Sekolah Dasar peningkatan hasil
belajar siswa
5. Implementasi Model 2021 Siswa SD, Project Based Quasi Model PjBL
Project Based Learning Indonesia Learning → Hasil Eksperimen meningkatkan
untuk Meningkatkan belajar hasil belajar dan
Hasil Belajar Siswa keterampilan
Sekolah Dasar kolaborasi siswa
2.3.8 Tabel Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian saya
Tabel 2.3
NO. Aspek Pembeda Penelitian Terdahulu Penelitian Saya
1. 1. Lokasi Penelitian 1. Dilaksanakan di berbagai SD di Indonesia 1. Dilaksanakan secara spesifik di
2. Mata Pelajaran (Gorontalo, Manokwari, Jawa Tengah, Jawa SDN Oeba 3 Kupang
Barat) 2. Pembelajaran tematik kelas III SD
2. IPAS, tematik umum, atau mata pelajaran
tertentu
2. 1. Subjek Penelitian 1. Umumnya kelas IV–VI SD, sebagian 1. Kelas III SD secara khusus
2. Desain Penelitian kelas III 2. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
2. PTK dan quasi eksperimen
3. 1. Model 1. Project Based Learning (PjBL) atau PjBL 1. Project Based Learning berbantuan
Pembelajaran berbantuan Wordwall aplikasi Wordwall
2. Konteks 2. Umum, tidak berbasis kondisi sekolah 2. Disesuaikan dengan karakteristik
Pembelajaran tertentu dan kondisi peserta didik SDN Oeba
3 Kupang
4. 1. Media 1. Sebagian menggunakan Wordwall, 1. Aplikasi Wordwall sebagai media
Pembelajaran sebagian tanpa media digital utama pendukung proyek
2. Tujuan Penelitian
2. Umum, tidak berbasis kondisi sekolah 2. Meningkatkan hasil belajar
tertentu peserta didik melalui tindakan
pembelajaran
5. 1. Fokus Variabel 1. Hasil belajar, prestasi belajar, rasa ingin 1. Hasil belajar peserta didik
2. Kebaruan tahu 2. Integrasi PjBL + Wordwall + kelas
(Novelty) 2. Belum menggabungkan konteks lokal, III + konteks SDN Oeba 3 Kupang
kelas III, dan Wordwall secara spesifik
Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai penelitian terdahulu dalam lima
tahun terakhir, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Project Based Learning
serta penggunaan aplikasi wordwall terbukti mampu meningkatkan hasil belajar
peserta didik sekolah dasar. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa
pembelajaran berbasis proyek yang dipadukan dengan media digital interaktif dapat
meningkatkan keaktifan, motivasi, dan pemahaman peserta didik terhadap materi
pembelajaran. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu belum
secara spesifik mengkaji penerapan model Project Based Learning berbantuan
aplikasi wordwall pada peserta didik kelas III serta belum dilaksanakan pada
konteks sekolah dasar di SDN Oeba 3 Kupang. Oleh karena itu, penelitian ini
penting untuk dilakukan sebagai upaya mengisi celah penelitian yang ada, dengan
menerapkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui dua siklus pembelajaran
guna meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas III SDN Oeba 3 Kupang secara
berkelanjutan.
2.3.9 Kerangka Berpikir
Setiap orang yang melakukan kegiatan akan selalu ingin mengetahui hasil
dari kegiatan yang dilakukannya, termasuk dalam kegiatan belajarnya. Peningkatan
hasil belajar merupakan pencerminan para peserta didik. Setiap sekolah selalu
menginginkan para peserta didiknya untuk memiliki perilaku yang baik dalam
proses saat pembelajaran berlangsung. Pada peningkatan hasil belajar pada
pembelajaran Pendidikan Pancasila (PKn), juga beranekaragam ada tinggi, sedang
maupun rendah. Permasalahan tersebut dapat di sebabkan oleh beberapa faktor
salah satunya yaitu motivasi dan mempunyai ketertarikan untuk belajar, sehingga
dapat dikatakan bahwa hasil belajar yang tinggi akan mendorong peserta didik
untuk melakukan kegiatan belajar, oleh karna itu peserta didik yang termotivasi
untuk belajar memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai hasil belajar yang
maksimal.
Berdasarkan uraian diatas, maka diduga ada hubungan yang signifikan
antara penggunaan aplikasi wordwall dalam model pembelajaran Project Based
Learning kepada siswa dalam mencapai hasil belajar yang tuntas. Artinya semakin
baik pemberian motivasi dalam belajar kepada peserta didik maka semakin baik
pula motivasi peserta didik dalam pembelajaran. Hasil berperan penting dalam
pendidikan anak sebab pendidikan terlalu lunak serta kurang motivasi akan
membentuk anak kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati pada saat
proses pembelajaran berlangsung.
Didalam penelitian ini diharapkan penggunaan aplikasi wordwall dalam
model pembelajaran Project Based Learning dapat memberi hubungan terhadap
peningkatan hasil belajar dan motivasi belajar peserta didik. Berdasarkan
penjelasan diatas, maka model pembelajaran Project Based Learning ada untuk
meningkatkan hasil belajar siswa yang dapat digambarkan sebagai berikut.
OBSERVASI
KELAS III SDN OEBA 3 KUPANG
Harapan
Kenyataan
Melalui pembelajaran Tema 2
Budaya di Sekitarku yang berfokus
1. peserta didik kurang termotivasi
pada Budaya Timor Tengah Selatan dalam proses pembelajaran.
GAP
(TTS), diharapkan peserta didik 2. Peserta didik sibuk denga aktivitas
mampu mengenal, memahami, dan lain saat proses pembelajaran.
menghargai nilai-nilai budaya lokal
sebagai bagian dari identitas diri
dan jati diri bangsa.
Penggunaan Aplikasi wordwall dalam model
pembelajaran project based learning untuk
meningkatkan hasil belajar.
Hasil Belajar
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berfikir
2.3.10. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan yang dapat diambil sebagai dugaan sementara
berdasarkan latar belakang dan kerangka berpikir diatas adalah jika menggunakan
metode peningkatan hasil dan belajar siswa melalui model pembelajaran Project
Based Learning (PjBL) berbantuan Wordwall pada mata pelajaran Pendidikan
Pancasila (PKn)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian tingkat kelas ini akan dilaksanakan di kelas III SD Negeri Oeba
3 Kupang, yang terletak di kecamatan kota lama, kelurahan fatubesi, Jl. Alor No.
30, kota kupang. Waktu penelitian ini akan dilakkan pada semester genap Tahun
Ajaran 2025/2026.
3.1.1 Jenis dan Rancangan Penelitian
Kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan memberikan motivasi untuk
meningkatkan hasil belajar siswa kelas 3 SD Negeri Oeba 3 Kupang. Rancangan
penelitian yang di gunakan yaitu model siklus. Jenis penilitian yang digunakan oleh
peneliti dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) penelitian ini
menggunakan model pembelajaran project based learning berbantuan aplikasi
wordwall bertujuan untuk meningkatkan hasi belajar siswa kelas 3 SD Negeri Oeba
3 Kupang. Desain penelitian yang digunakan yaitu model penelitian tindakan model
siklus. Model ini digunakan oleh Kurt Lewin (2022) model penelitian tindakan
kelas ini terjadi dalam empat tahap, yaitu:
a. Planning (Perencanaan)
b. Action (Tindakan)
c. Observation (Pengamatan)
d. Reflektion (Refleksi)
3.1.2 Prosedur dan Siklus Penelitian
Prosedur tindakan kelas ini di desain untuk dua siklus dimana masing-
masing siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan dan refleksi. Setiap siklus
dilakukan setiap kali dua pertemuan yang sesuai dengan perubahan yang ingin
dicapai. Untuk dapat mengetahui hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Oeba 3
Kupang. Secara umum kegiatan penelitian ini dapat dibedakan dalam dua siklus,
yaitu siklus I dan siklus II.
Identifikasi masalah
Perencanaan
Pelaksanaan Observasi
SIKLUS
Refleksi
Pelaksanaan
Observasi Refleksi
Perencanaan SIKLUS
Siklus Penelitian Tindakan Kelas
3.1.3 Subjek dan Objek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Oeba 3 Kupang, tahun ajaran
2025/2026. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas III sebanyak 22
orang.
3.1.4 Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran
2025/2026 yang di bagi atas dua siklus. Setiap siklus di dicapai untuk dapat
mengetahui hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Oeba 3 Kupang. Secara umum
kegiatan penelitian ini dapat di bedakan dalam dua tahap, yaitu tahap pratindakan
dan tahap pelaksanaan.
3.1.5 Tahap Pratindakan
Tes pengecekan kemampuan awal, kegiatan yang di lakukan adalah
memberikan tes awal untuk mengetahui kemampuan yang di miliki oleh peserta
didik sebelum menerapkan model pembelajaran project based learning berbantuan
aplikasi wordwall. Hasil tes ini sekaligus di jadikan sebagai nilai awal yang
diperlukan dalam pengelolaan peningkatan nilai.
3.2.1 Siklus I
Langkah-langkah utama dalam siklus I ini mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan
refleksi yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan penelitian merupakan tindakan yang di susun berdasarkan masalah
yang hendak di pecahkan agar terjadi perubahan dan peningkatan dam
pembelajaran. Tahap ini merupakan langkah awal dalam merancang tindakan
pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Meminta izin kepada kepala sekolah
Peneliti mengajukan surat permohonan izin kepada kepala sekolah SD
Negeri Oeba 3 Kupang untuk melaksanakan penelitian dikelas III. Surat tersebut
berisi tujuan penelitian, waktu pelaksanaan, serta gambaran singkat mengenai
penggunaan aplikasi wordwall dalam model pembelajaran Project Based Learning
(PjBL). Persetujuan dari kepala sekolah menjadi dasar legalitas pelaksanaan
penelitian dan jaminan kelancaran proses penelitian di lingkungan sekolah.
2. Meminta izin kepada wali kelas III
Setelah memperoleh izin dari kepala sekolah, peneliti melanjutkan dengan
meminta izin dan persetujuan dari wali kelas III. Peneliti menyampaikan rencana
kegiatan pembelajaran, perangkat yang akan digunakan, serta peran guru selama
proses penelitian berlangsung. Selain itu, peneliti bekerja sama dengan wali kelas
dalam menyusun jadwal, menyiapkan sarana pendukung, dan mempersiapkan
peserta didik agar proses pembelajaran berbasis Projct Based Learning (PjBL)
berbantuan media interaktif seperti wordwoll.
b. Pelaksanaan
Semua tindakan yang sudah di buat dalam perencanaan pembelajaran dilaksanakan
dalam bentuk langkah nyata dalam proses pembeajaran berbasis proyek pada mata
pembelajaran Pendidikan Pancasila (PKn) yaitu:
1. Perencanaan Tindakan
a. Kegiatan Pendahuluan
1. Membuka pembelajaran dengan salam dan doa bersama dipimpin oleh salah
seorang peserta didik dengan hikmat.
2. Memperlihatkan kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran dan memeriksa
kerapian pakaian, posisi dan tempat duduk di sesuaikan dengan kegiatan
pembelajaran.
3. Mengajukan pertanyaan secara komunikatif berkaitan dengan materi yang akan
di ajarkan.
4. Guru memberikan apersepsi tentang materi pembelajaran.
5. Mempersiapkan media dan sarana pembelajaran.
6. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan model pembelajaran Project
based learning berbantuan aplikasi wordwall.
b. Pelaksanaan Tindakan
1. Penyajian Materi
2. Guru memulai mempraktekan model pembelajaran project based learning
berbantuan aplikasi wordwall pada mata pembelajaran Pendidikan Pancasila (PKn).
3. Guru membentuk kelompok belajar heterogen hingga (4-5 orang siswa) dan
mengatur tempat duduk siswa agar setiap anggota kelompok dapat saling bertatap
muka dan senyaman mungkin.
4. Guru membagikan lembar kerja siswa untuk dikerjakan secara kelompok.
5. Guru mempersilahan siswa untuk memulai percobaan.
6. Menjelaskan petunjuk pengerjaan kepada siswa.
7. Guru memberitahukan agar siswa saling bekerja sama dan saling membantu
sesuai kelompoknya masing-masing.
8. Siswa mendiskusikan hasil percobaannya.
9. Guru dapat meminta siswa untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok
mereka di depan kelas bagaimana mereka mengerjakannya.
10. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
8. Setelah itu, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah di pelajari.
c. Kegiatan Penutup
1. Guru menanyakan kembali materi apakah telah di pahami.
2. Dibawah bimbingan guru, siswa dapat menyimpulkan kembali materi
pembelajaran.
3. Melaksanakan penilaian dan refleksi dengan mengajukan pertanyaan atau
tanggapan peserta didik dari kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai bahan untuk
perbaikan langkah selanjutnya.
4. Memberikan pesan moral.
5. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
6. Menutup pembelajaran dengan berdoa dan salam.
c. Observasi
Dalam kegiatan ini, peneliti malakukan penilaian tentang kemampuan
belajar siswa dan mengumpulkan serta menyusun data yang diperoleh dari proses
pembelajaran yang telah dilakukan. Fokus pengamatan yang dilakukan oleh peneliti
adalah meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Pengamatan
tersebut dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun oleh
peneliti dalam proses pembelajaran.
d. Refleksi
Pada tahap ini peneliti menganalisis hasil observasi yang telah dilaksanakan
dan di refleksikan untuk mengetahui kemampuan proses sains siwa dari proses
pembelajaran pada siklus pertama dengan menggunakan model pembelajaran
Project Based Learning (PjBL) berbantuan wordwoll. Jika pada tahap siklus I
belum menunjukan peningkatan kemampuan proses belajar siswa pada mata
pelajaran Pendidikan Pancasila (PKn). Maka perlu diadakannya suatu tindakan
sehingga akan berlanjut pada siklus II dengan membuat rancangan pembelajaran
yang lebih menarik.
3.2.2 Siklus II
Kegiatan siklus II ini merupakan kegiatan tindak lanjutan dari hasil evaluasi
siklus I. jika diketahui bahwa masih terdapat kekurangan kemampua proses belajar
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dari tindakan yang dilaksanakan pada
siklus I, maka peneliti menentukan rancangan siklus selanjutnya untuk
meningkatkan kemampuan proses belajar siswa. Siklus II merupakan perbaikan
dari kekurangan yang ditemukan pada silus I. Dalam siklus II rancangan siklusnya
sama dengan silkus I. pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
project based learning berbantuan aplikasi wordwall untuk meningkatkan hasil
belajar dengan menggunakan tes.
3.2.3 Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas guru dan peserta didik selama
proses pembelajaran menggunakan model PjBL berbantuan aplikasi wordwall.
Tujuannya untuk menilai keterlaksanaan langkah-langkah PjBL, mengamati
keterlibatan peserta didik dalam kegiatan proyek, dan mengukur aktivitas belajar
peserta didik saat menggunakan wordwall.
2. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar dilakukan untuk mengetahui kemampuan peserta didik pada proses
belajar yaitu materi yang diajarkan. Tes ini bertujuan untuk mengetahui apakah
dengan menggunakan model pembelajaran project based learning (PjBL). apakah
pembelajaran yang sudah dilakukan sudah sesuai dengan tujuan yang di inginkan
atau tidak. Apabila sudah mencapai tujuan yang di inginkan maka siklusnya akan
dihentikan, namun hasil dan motivasi belajar belum mencapai tujuan yang di
inginkan sehingga dilanjutkan ke siklus [Link] hasil belajar digunakan
untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik sebelum dan sesudah
tindakan.
a. Bentuk tes:
1. Tes objektif (pilihan ganda) yang sesuai dengan Kompotensi Dasar dan indikator
pembelajaran.
2. Tes diberikan pada pretest dan posttest setiap siklus.
Tujuannya adalah untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta didik terhadap
materi, serta menilai efektivitas penggunaan model Project Based Learning (PjBL)
berbantuan wordwall.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan oleh guru kepada semua peserta didik untuk memperoleh
informasi tambahan tentang pengalaman belajar menggunakan wordwall.
tujuannya dilakukan wawancara adalah untuk mengetahui respon peserta didik
terhadap penggunaan wordwall, serta mendapatkan pendapat peserta didik tentang
efektivitas model Project Based Learning (PjBL) berbantuan wordwall.
4. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan bukti fisik selama pelaksanaan
tindakan.
a. Data dokumentasi meliputi:
1. Foto kegiatan pembelajaran.
2. Hasil kerja proyek peserta didik.
3. Nilai tes, daftar hadil, dan data administrasi lainnya.
4. Tangkapan layar (screeshot) hasil permainan wodrwall peserta didik.
5. Angket
Peneliti dapat menyebarkan angket mengetahui presepsi peserta didik terhadap
penggunaan wordwall dan model PjBL. Angket digunakan bila responden
jumlahnya besar dapat membaca dengan baik, dan dapat menggunakan hal-hal yang
sifatnya rahasia. Angket motivasi yang yang disebarkan pada sampel peneliti
berisikan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi ukuran dari indicator-indicator
motivasi. Angket ini berisikan 20 yang berupa pertanyaan pilihan ganda dengan
serupa skala dalam interval 1-5. Setiap indicator akan memiliki pertanyaan dengan
jumlah yang sama dengan indicator lain, maka setiap indicator akan diukur dengan
5 pertanyaan.
Tabel 3.1 Alternatif Jawaban Dan Skor Kuesioner (Angket)
Alternatif Jawaban Skor
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Netral 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1
(Arikunto,2013)
3.3.3 Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif
kuantitatif, secara kuantitatif dengan persentase dengan tujuan untuk meningkatkat
presentasi hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila (PKn).
Sedangkan analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan bahwa tindakan
yang dilakukan terlihat mengalami perubahan dan peningkatan yang lebih baik
setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model Project Based
Learning (PjBL) berbantuan wordwall dalam kegiatan pembelajaran.
Data tes (pretes dan postest) digunakan untuk mengukur hasil belajar dari
aspek kognitif. Rumus Ketuntasan belajar (KB) selaras dengan KKTP
𝑇
𝐾𝐵 = × 100%
𝑇𝑡
Keterangan:
KB = Ketuntasan Belajar berbasis KKTP
T = Skor yang diperoleh peserta didik
Tt = Skor maksimal (sesuai indikator TP)
Lebih lanjut Kriteria Ketuntasan Belajar (KKTP) yang ditunjukan pada Tabel 3.1
berdasarkan Kemdikbudristek. (2023) terkait CP PKn sekolah dasar maka dibuat
Tabel presentasi KKTP PKn sebagai berikut :
Persentase Capaian Kriteria KKTP Keputusan
≥ 75% Tujuan Pembelajaran Tercapai Tuntas
< 75% Tujuan Pembelajaran Belum Tercapai Belum Tuntas
Tabel 3.2. Kriteria Hasil Belajar
Nilai Presentase Kriteria
86% - 100% Sangat baik
76% - 85% Baik
60% - 75% Cukup
F55% - 59% Kurang
≤54% Sangat Kurang
Sudjana (2017)
3.2.7 Indikator Keberhasilan
Dengan menerapkan model pembelajaran project based learning
berbantuan wordwall dalam proses pembelajaran, maka dapat meningkatnya hasil
dan motivasi belajar peserta didik yang di tandai rata-rata nilai yang dicapai di atas
KKM 70 sebanyak 85% jumlah peserta didik.
BAB IV
PERKIRAAN ANGGARAN PENELITIAN
4.1 Perkiraan Anggaran
Adapun perkiraan anggaran yang dibutuhkan dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah sebesar Rp. 2. 000.000 dengan rincian seperti yang ditunjukan
pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Perkiraan Anggaran Penelitian
No Uraian Volume Harga satuan Jumlah
(Rp.) (Rp.)
1. Alat dan Bahan
a. Alat 1 Paket 100.000 1.00.000
b. Bahan 1 Paket 2.00.000 2.00.000
Jumlah 2 Paket 3.00.000 3.00.000
2. Konsumsi dan Transportasi
Konsumsi 1 Paket 100.000 100.000
Transportasi 1 Paket 500.000 500.000
Jumlah 2 Paket 600.000 600.000
3. Penyusunan Proposal
Penelitian Penulis Laporan
Administrasi 1 Paket 200.000 200.000
Penyusunan Laporan dan 1 Paket 300.000 300.000
Pengadaan
Seminar Proposal 1 Paket 350.000 350.000
4. Seminar Hasil
Pustaka Penunjang
Dukumentasi 1 Paket 200.000 200.000
Ujian Skripsi
Total (Jumlah 1+2+3+4) 2.850. 000
4.2 Jadwal Penelitian
Adapun jadwal penelitian seperti di tunjukan pada tabel 4.2
Tabel 4.2 Jadwal Penelitian
Bulan/Minggu Ke
No Jenis Kegitan I II III IV
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penyusunan Dan
Seminar Proposal
2 Perizinan
3 Perizinan Alat
Dan Bahan
4 Pelaksanaan
Penelitian
5 Analisis Data
Seminar Skripsi
BAB V
PERSONALIA PENELITI
5.1 Identitas Peneliti
Nama : Iksan Yulardi Abanat
Nim : 2222411330
Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas : Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas : Universitas Muhammadiyah Kupang
a. Dosen Pembimbing
1. Dosen Pembimbing I : Uslan, [Link].,[Link],Ph.D
2. Dosen Pembimbing II : Zaqina Ahmad, [Link].,[Link]
b. Asisten Peneliti
1. Asisten I :
Asisten II :
DAFTAR PUSTAKA
Aidah, N., & Nurafni. (2022). Langkah-langkah penggunaan aplikasi Wordwall
dalam pembelajaran. Jurnal Teknologi Pendidikan, 5(2), 112–119.
Amanda, (2024). Penerapan model project based learning dalam pembelajaran
PKn untuk meningkatkan tanggung jawab dan kolaborasi siswa. Jurnal
Pendidikan Kewarganegaraan, 9(1), 44–55.
Anggraini, P. D., & Wulandari, S. S. (2020). Analisis penggunaan model
pembelajaran project based learning dalam peningkatan keaktifan siswa.
Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), 9(2), 292–299.
Anissa, S., & Gunawan, R. (2022). Kelebihan dan kekurangan media Wordwall
dalam pembelajaran. Jurnal Media Pembelajaran, 7(3), 21–30.
Arikunto, S., Suhardjono, & Supardi. (2021). Penelitian tindakan kelas. Bumi
Aksara.
Aunurrahman. (2020). Belajar dan pembelajaran. Alfabeta.
Darmayoga, & Suparya. (2021). Model pembelajaran project based learning.
Jurnal Ilmu Pendidikan, 14(2), 77–85.
Edrawati. (2023). Integrasi teknologi digital dalam pembelajaran PKn. Jurnal
Pendidikan Moral Pancasila, 11(1), 55–63.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan
pembelajaran dan asesmen Kurikulum Merdeka. Kemdikbudristek.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Capaian
pembelajaran pendidikan Pancasila sekolah dasar. Kemdikbudristek.
Khofifah Indra Sukmah, et al. (2022). Efektivitas media Wordwall terhadap
motivasi belajar siswa. Jurnal Inovasi Pembelajaran, 8(2), 101–110.
Kokotsaki, D., Menzies, V., & Wiggins, A. (2021). Project-based learning: A
review of the literature. Improving Schools, 24(3), 267–277.
Kurniasih. (2021). Wordwall sebagai aplikasi pendukung pembelajaran interaktif.
Dalam Y. M. Sinaga (Ed.), Inovasi media pembelajaran digital (hlm. xx–xx).
Prenadamedia Group.
Lazuardy, A., Sukmana, A., & Japar, M. (2025). Pembelajaran PKn berbasis
teknologi digital. Jurnal Pendidikan Dasar Digital, 4(1), 1–10.
Lestari, S. O., & Kurnia, H. (2022). Pendidikan PKn sebagai dasar pembentukan
karakter. Jurnal Civic Education, 7(1), 14–23.
Mujahidin, A. A., & Salsabila, U. H. (2021). Kelebihan dan kekurangan Wordwall
dalam pembelajaran. Jurnal Media Digital Pendidikan, 3(4), 66–72.
Ninawati. (2021). Wordwall sebagai alat penilaian pembelajaran. Dalam S. P.
Permana (Ed.), Media digital dalam pembelajaran modern (hlm. xx–xx).
Grafindo.
Nurhikmayati, & Sunendar. (2020). Karakteristik project based learning. Jurnal
Pendidikan Dasar, 5(2), 33–42.
Nurjanah, & Sari. (2021). Wordwall sebagai media pembelajaran digital. Jurnal
Teknologi Pendidikan, 10(1), 80–89.
Nurmidayanti. (2024). Penerapan media Wordwall dalam meningkatkan hasil
belajar PKn siswa kelas III. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6(2), 55–62.
Pasca, & Mugara. (2021). Model pembelajaran berbasis proyek dalam
pembelajaran PKn. Jurnal Civic, 12(1), 22–31.
Pradani. (2022). Penggunaan Wordwall untuk meningkatkan motivasi belajar.
Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 4(1), 50–59.
Pratiwi, N. (2023). Pengaruh media interaktif terhadap motivasi belajar siswa
sekolah dasar. Jurnal Inovasi Pembelajaran SD, 7(2), 112–119.
Priyono. (2020). [Judul buku]. Penerbit. (hlm. 96).
Putu Ranti, W., & Pumaning, R. A. (2021). Karakteristik Wordwall dalam
pembelajaran. Jurnal Pendidikan Bahasa, 9(2), 77–85.
Rahmawati. (2022). Wordwall sebagai media permainan edukatif. Jurnal
Teknologi Pendidikan, 15(1), 66–74.
Rahmawati, D., & Suryadi, A. (2023). Pemanfaatan media Wordwall dalam
meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar,
14(2), 115–124.
Ramdani. (2020). Penggunaan project based learning berbantuan Wordwall dalam
pembelajaran. Jurnal Pendidikan Kreatif, 5(3), 34–42.
Sahanata, & Dinda, O. P. (2022). Sintaks penggunaan Wordwall dalam
pembelajaran interaktif. Jurnal Inovasi Media Digital, 3(3), 19–27.
Sinaga, Y. M., & Soesanto, R. H. (2022). Inovasi media pembelajaran digital.
Prenadamedia Group.
Sudjana, N. (2017). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Remaja Rosdakarya.
Supriya. (2022). Pendidikan PKn sebagai pendidikan nilai dan moral. Jurnal
Pendidikan Nilai, 10(2), 88–96.
Supriyantini, et al. (2025). Efektivitas teknologi digital dalam pembelajaran PKn.
Jurnal Civic Education Digital, 5(1), 15–23.
Talafha, A. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik:
Internal, eksternal, dan lingkungan sekolah. (Tidak dipublikasikan).
Utami, S. (2022). Definisi hasil belajar yang diukur melalui penilaian
pengetahuan, sikap, dan keterampilan. (Tidak dipublikasikan).
Yuliana, & Silviana. (2022). Macam-macam hasil belajar peserta didik. (Sumber
sekunder/tidak dipublikasikan).