0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

PDF

Dokumen ini menggambarkan perjalanan emosional seseorang yang berjuang dengan luka batin dan kesepian. Setiap bab mencerminkan rasa sakit, harapan untuk sembuh, dan hubungan antar manusia yang saling terluka. Meskipun ada keinginan untuk menemukan kedamaian, luka-luka tersebut tetap membekas dan sulit untuk diatasi.

Diunggah oleh

Intan Syah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

PDF

Dokumen ini menggambarkan perjalanan emosional seseorang yang berjuang dengan luka batin dan kesepian. Setiap bab mencerminkan rasa sakit, harapan untuk sembuh, dan hubungan antar manusia yang saling terluka. Meskipun ada keinginan untuk menemukan kedamaian, luka-luka tersebut tetap membekas dan sulit untuk diatasi.

Diunggah oleh

Intan Syah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

Ketika luka dilengkapi dengan tidak adanya tempat pulang,


menyedihkan.
Ia merintih tak terdengar, namun rasanya begitu mencabik
sekali diobati akan bertambah, lagi dan lagi.
Hari-hari dijalani dengan kesunyian, kesakitan
namun, siapa yang peduli?
Rumah untuk mendekap dan berkeluh kesah pun tidak punya,
peluk hangat tak lagi kau rasakan, hanya sesak yang mengendap.

Kau tahu?
Paling mudah menipu semua orang adalah dengan senyuman
semua orang akan berpikir kamu bahagia, padahal dalam dirimu
hancur berkeping-keping. Tentang diri yang sebenarnya, tidak ada yang tahu.

Waktu tidak akan berhenti hanya karena kamu terluka,


semua orang tidak akan memelukmu hanya karena kamu menangis
semua sibuk dengan dirinya dan lukanya masing-masing.

Karena semua pertunjukkan menyenangkan hanyalah sebuah seni menutupi rasa sakit.
BAB 2
Pada kebisuan yang terjaga, luka semakin menjalar.
Sorot mata yang memiliki kebenaran
meski hanya kau lihat sebentar dan mampu memahami,
karena kita sama-sama memiliki luka.

Di balik sorot matamu, sedalam apa sakit dari luka kau telan?
Seberapa lama luka akan kau sembunyikan?
Tumbuh dengan segala rasa sakit yang menahanmu
mencoba meruntuhkan semua untuk tetap bertahan.
Pelangi akan hadir, ‘kan?
setelah langit gelap dan gemuruh hujan begitu mencekam.

Jadi, setelah hebatnya rasa sakit menghantam diri


bertahan adalah keberhasilan dari dirimu,
sampai titik cerah akan kau lihat
lukamu akan sembuh, meski menyisakan bekas.
BAB 3
Saking banyaknya rasa sakit, jiwamu seakan lenyap
Luka tidak berbicara, namun rasa sakit tetap terasa.

Sembuh yang kau inginkan


dengan menutupinya berkali-kali
Rasakan luka itu, kamu akan sembuh
hanya saja jejak luka tidak pernah lari dari ingatan.
Terkadang manusia terlihat dingin dan banyak tertawa
hanya untuk menyembukan dirinya yang lemah.
Dirinya yang terluka
Jiwanya yang berantakan
Pikiran yang dipenuhi teka-teki
Dan tawa yang menyembunyikan tangis
Hebatnya dia mampu bertahan dengan lama, meski tubuhnya dipenuhi luka.

Apa manusia yang sama-sama terluka tidak bisa untuk bersama?


Apa untuk jatuh cinta hanya akan membuat luka baru yang semakin dalam
semakin berbahaya …
BAB 4
Semesta mempunyai alasan kenapa kita bertemu
meski menyimpan perih yang tak jauh berbeda
Kau pandai menyembunyikan sakit
Padahal begitu rapuh ingin menjerit.

Jiwa yang sama-sama jatuh


Saling membaca sedalam apa lukanya
Menyapa dengan membisu
Sama-sama tahu jika luka
hanya dibalut dengan rapih
tidak benar-benar sembuh .

Dalam dekapan semua luka seakan memudar


tak terasa, seolah luka tak seperih itu.
Dekapnya mampu membawa tenang
seakan waktu ikut menikmati ketenangan yang ada.
BAB 5
Aku dan kamu
Saling terluka dan ingin sembuh
Ketika rasa sakit menemui obatnya
hanya dalam peluknya, jiwamu kembali damai.

Rasa mampu membuatmu bergerak lebih jauh


Untuk selalu di dekatnya
Mengkhawatirkannya
Dan memahaminya.
BAB 6
Ia tampak sekeras batu, namun ada rasa ingin melindungi
Tak tahu cara untuk menjaga
tapi sudah dilakukan dengan sebisanya
meski dengan cara yang keliru.

Kau tahu, luka begitu menyiksa,


dalam keramaian pun luka tak hilang.
Bahkan setelah mencoba terbiasa
hadirnya kembali memberi sesak.
BAB 7
Ketika ketakutan di masa lalu kembali dirasakan
Ia tidak benar-benar hilang, hanya kau abaikan
Kehilangan yang menghantuinya
Rasa bersalah menyelimuti
Layaknya belati yang menancap

Akan terus merasa nyeri

Ingin memberi rasa peduli


hanya saja jiwa sudah terlalu kaku
Tak tahu bagaimana memberi ketulusan
yang sebenarnya

Karena diri dipenuhi dengan


luka.
BAB 8
Serpihan memori menyusun kembali
ingatan tentangnya, bukan sekadar masa lalu
melainkan segala rasa tertuang di dalamnya.

Kita sama-sama terluka


sama-sama berdarah
memiliki trauma
ingin menyembuhkan,
tapi tak tahu cara terbaiknya
BAB 9
Dalam kepedihan terdalam
pikiranmu begitu gemuruh
Tak ada yang mampu memahami
sebab luka tak berdarah itu hanya menyapamu.

Kau hanya terjaga dalam kesunyian


yang memberimu ruang,
tidak ada obat untuk luka yang tak terlihat
hanya harapan agar terbiasa dengan sakitnya.

Sayangnya perih itu selalu mengikuti,


tak terlepas, terus menyayatmu.
BAB 10
Nyatanya kita sama-sama memberi luka
meski di balik itu terselimuti rasa peduli
Kau pandai memberi tenang, sebentar
lalu, membuat semuanya bergelut
dan memberi rasa nyeri yang perlahan menyebar

Kau membingungkan
tapi berhasil membuatku terjatuh dalam lubang
yang mampu menyelam lebih dalam
untuk memahami sunyimu.
BAB 11
Ingatan tentangmu tak pernah pudar
selalu hadir, menyeretku untuk terus
berusaha menemukanmu.

Masa lalu seolah memiliki tempatnya


tempat untuk pulang,
untuk membawanya kembali dalam dekap.

Dekap yang begitu dirindukan.

Menyembunyikan sakit menjadi pengulangan


Menjalani hari dengan membawa luka
yang tak kunjung sembuh.
Bagai luka kecil yang dianggap remeh
jelas dalam dirinya luka begitu mengiris.
BAB 12
Kau mampu membuat bekunya hati
mampu luluh,
untuk memastikan kamu baik-baik saja.

Namun, luka selalu kau beri


entah apa alasannya.

Luka bukan hanya sekadar empat huruf,


baginya mampu memiliki segala hal,
bukan sekadar sakit,
sekadar perih,
tapi juga tentang seseorang.
BAB 13
Kita tidak sempurna,
hanya patah yang berusaha menyatu.

Tahu sekali jika aku lemah,


Kau memang paling paham
Manusia paling tahu.

Melihatku rapuh selalu ada dalam pandangmu


kau tahu aku terlalu berantakan
untuk terlihat baik-baik saja.
BAB 14
Sejauh apa diri melangkah, tetap menoleh ke belakang
sialnya kehilangan masih menjadi titik tersakit dalam hidup.

Dunia begitu jahat, sebab bahagia terasa hambar


baginya

Luka seolah gigitan semut,


meski darah mengalir begitu banyak
hanya saja kau sudah terlalu sering terluka.

Membiasakan rasa sakit terus-menerus


Adalah keahlianmu, ya.
BAB 15
Yang hilang tak sepenuhnya lenyap
hanya tertutup sementara, lalu muncul begitu jelas

Kau tidak bersalah


kehilangan itu mampu menelanmu terlalu dalam
Sampai kau ikut terbawa arus
dan rasa bersalah mengurungmu.

Mati adalah inginmu setiap saat


tapi, hidup tak sepenuhnya memberi luka
Karena ada beberapa kejadian dalam hidup
yang membuat hatimu merasa tenang
meski hitungan detik.
BAB 16
Jika kau mengerti, rasa jatuh cintaku terlihat
Bukan sekadar rasa khawatir, sesaat
Tidak.

Banyak alasan untuk menepis rasa itu


hanya saja kau ahli untuk memaksaku tinggal
Tinggal bersama rasa yang seolah menemukan
rumahnya.

Cari aku
akan kuberi dekap yang membuatmu tenang.
Aku tidak melangkah pergi saat kau minta
karena rasa jatuh cinta itu membuatku
ingin selalu berada di dekatmu.

Kutemukan tenang dalam hadirmu,


memelukku, meski kita dipeluk luka

Meski kita beda, Tuhan yang tak sama.


BAB 17

Setidaknya ada satu manusia yang berhasil


memberi sembuh sementara.

Memberi penawar, lalu menambah perih yang lain.

Semua bentuk luka bukan hanya sekadar cuma


melainkan sakit yang tak mampu terucap
dan kau berusaha terlihat utuh.

Bagimu luka adalah rasa memberi kasih


meski kau tahu aku merasa sakit.

Kita tak pernah sampai pada kebebasan


justru kembali pada luka-luka yang
berulang.
BAB 18
Terkoyak ratusan kali
kau tetap hidup.

Kau terlalu transparan


kau membentuk rasa sayang dengan luka
meski kau takut jika aku terluka.

Kita hanya manusia penuh rasa sakit


tak pandai menyalurkan rasa
karena jiwa sudah mati rasa.
BAB 19
Yang hilang meninggalkan jejak
dan kau terkurung pada rasa penyesalan itu.

Kita adalah rusak yang terus berusaha


membuatnya kembali sempurna
tanpa sadar kita sudah terhanyut
begitu dalam.

Menyelam dikegelapan yang begitu sesak.


BAB 20
Kau membuat luka dan aku tak pernah menghindar
selalu hanyut dalam kehadiranmu.
Kau menjelma sebagai penenang dalam hidupku
pada nyatanya aku tak bisa kehilanganmu.

Rasa sayang untukmu, itu hanya satu


tak ada yang lain.

Sedari awal …
Orang-orang tahu kau terluka
hebatnya kau mampu menjelma
bagai manusia yang utuh.
Meski dalam hati sudah terpecah belah
Tersenyum pahit,
Pandai menukar rasa sakit untuk terlihat baik-baik saja.
BAB 21
Dikehidupan yang ramai ini
sialnya kau hanya menemui sepi dan sunyi.

Dalam sunyi ditemuinya diri yang rapuh


berantakan, dan hancur
sebab dalam sunyi ia berperang dengan
pikirannya sendiri.

Mencoba menyatukan kepingan luka


Agar tidak terlalu menyebar
Sialnya, sudah membekas kemana-mana.

Perbedaan dalam keyakinan di antara kita


Tapi rasa itu tetaplah satu
Pada tujuan yang sama.

Kuharap jiwamu bisa membaik


terbebas dari sayatan darah yang mengendap.
BAB 22
Tidak begitu tahu tentang diri masing-masing
tapi, memiliki rasa sayang sebegitunya.

Bisakah kita pulang ke tempat


yang memberi kedamaian
untuk jiwa yang penuh luka

Kita bagai dua jiwa yang tak akan sembuh


sembuh dari segala luka yang datang.
Datang, memudar, dan tidak hilang.
BAB 23
Dalam kebohongan, rasa sakit kau tampung
terpenjara, tak terlepas dari ketakutan.

Menyesakkan, cerita kita tidak pernah dimulai


Dipaksa rampung
dan berakhir dalam kebisuan.

Mengakar begitu cepat dalam detak


yang akan hilang sepersekian detik.

Rasa tidak hanyut dalam menenggelamkanmu


berusaha menggapai permukaan
karena segala serpihan yang kucari
adalah kamu.

Bahkan untuk terakhir kalinya


luka itu semakin menganga,
bertambah, dan mengalir.

Anda mungkin juga menyukai