0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan57 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang hakikat belajar dan pembelajaran, termasuk pengertian, prinsip-prinsip, serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar. Teori-teori belajar seperti behavioristik, kognitivistik, humanistik, dan konstruktivistik juga dijelaskan, menekankan pentingnya interaksi individu dengan lingkungan. Selain itu, kualitas pembelajaran diukur melalui keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

Diunggah oleh

himatululya20
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan57 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang hakikat belajar dan pembelajaran, termasuk pengertian, prinsip-prinsip, serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar. Teori-teori belajar seperti behavioristik, kognitivistik, humanistik, dan konstruktivistik juga dijelaskan, menekankan pentingnya interaksi individu dengan lingkungan. Selain itu, kualitas pembelajaran diukur melalui keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

Diunggah oleh

himatululya20
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 KAJIAN TEORI

2.1.1 Hakikat Belajar dan Pembelajaran

[Link] Pengertian Belajar


Unsur belajar memegang peranan yang penting dalam proses pengajaran,

untuk itu seorang guru harus mengetahui secara menyeluruh tentang hakikat

belajar. Hakikat belajar menurut Gagne (dalam Ngatmini, 2010) merupakan peru-

bahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses

partumbuhan. Bower dan Gillard (dalam Ngatmini, 2010) mengemukakan bahwa

Learning refers to the change in a subject’s behavior or behavior


potential to a given situation brought about by the subject’s
repeated experiences in that situation, provided that behavior
cannot be explenned on the basis of the subject’s native response
tendencies, maturation, or temporary states. Belajar mengacu pada
perubahan perilaku atau potensi individu sebagai hasil dari
pengalaman dan perubahan tersebut tidak disebabkan oleh instink,
kematangan atau kelelahan dan kebiasaan.

Gagne dan Berliner (1983) berpendapat bahwa belajar merupakan proses

di mana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman.

Morgan [Link] (1986) belajar adalah perubahan relatif permanen yang terjadi karena

hasil dari praktik atau pengalaman. Belajar menurut Slavin (1994) adalah

perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman (dalam Rifa’i, 2011).

Burton (dalam Hamalik 2010: 28) mengemukakan bahwa

A good learning situation consist of a rich and varied series of


learning experiences unified around a vigorous purpose and
carried on in interaction with a rich, varied and propocative

15
16

environment Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah


laku dari individu melalui interaksi dengan lingkungan. Tujuan
belajar prinsipnya adalah perubahan tingkah laku, hanya
berbeda cara atau usaha pencapaiannya. Individu berinteraksi
dengan lingkungannya. Dalam interaksi inilah terjadi
serangkaian pengalaman-pengalaman belajar.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa belajar merupakan

perubahan kemampuan dan perilaku pada seorang individu dalam kehidupannya

yang diperoleh dari pengalaman sehingga mampu bertahan lama. Pengalaman

adalah sumber pengetahuan dan keterampilan yang bersifat pendidikan, dan

merupakan satu kesatuan dengan tujuan individu dalam interaksinya dengan

lingkungan. Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan

tingkah laku pada individu tersebut. Perubahan perilaku akibat dari pengalaman

yang dialami oleh individu bersifat permanen atau relatif lama.

[Link] Prinsip-Prinsip Belajar


Proses belajar yang berlangsung dipengaruhi oleh prinsip dalam belajar.

Selain itu, hal yang mempengaruhi proses belajar adalah faktor-faktor belajar,

sehingga proses belajar berlangsung optimal. Prinsip belajar merupakan indikator

yang digunakan oleh seorang guru sebagai upaya untuk mendorong terwujudnya

perkembangan peserta didik secara optimal. Prinsip belajar merupakan hal penting

yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar siswa, sehingga proses

pembelajaran yang dilakukan dapat mencapai hail pembelajaran secara optimal

(Aunurrahman, 2009: 112)

Berikut ini adalah prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Davies

(dalam Aunurrahman, 2009: 113).


17

a. Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri.

Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya.

b. Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatan) sendiri dan untuk setiap

kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.

c. Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah diberikan

penguatan (reinforcement).

d. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran,

memungkinkan murid belajar lebih berarti.

e. Apabila murid diberi tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia

lebih termotivasi untuk belajar dan ia akan belajar serta mengingat lebih baik.

[Link] Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar


Menurut Rifa’I dan Anni (2011: 96) peristiwa belajar yang terjadi pada

diri peserta didik dapat diamati dari perbedaan perilaku (kinerja) sebelum dan

sesudah berada di dalam peristiwa belajar. Peristiwa belajar tersebut dapat diamati

melalui faktor-faktor belajar. Faktor-faktor yang memberikan kontribusi terhadap

proses dan hasil belajar adalah kondisi internal dan eksternal peserta didik.

Kondisi internal mencakup kondisi fisik perseta didik, seperti kesehatan organ

tubuh; kondisi psikis, seperti kemampuan intelektual, emosional; dan kondisi

sosial, seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Faktor eksternal ini

berupa variasi dan tingkat kesulitan materi belajar yang akan dipelajari, tempat

belajar, iklim, suasana lingkungan, dan budaya belajar masyarakat.

Slameto (2010: 54) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

digolongkan menjadi dua, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern ini

melibatkan tiga faktor, yaitu faktor jasmaniah; faktor psikologis; dan faktor kele-
18

lahan. Faktor ekstern juga terdiri dari tiga faktor penting, yaitu faktor keluarga;

faktor sekolah; dan faktor masyarakat.

Faktor yang mempengaruhi belajar merupakan hal-hal yang menunjang

dan juga mendorong peserta didik untuk dapat belajar secara optimal. Faktor yang

mempengaruhi belajar pada peserta didik terdiri dari dua faktor, yaitu faktor yang

ada pada diri peserta didik itu sendiri yang disebut faktor internal dan juga faktor

yang datang dari luar peserta didik yang disebut faktor eksternal. Faktor internal

mencakup kondisi fisik peserta didik, kondisi psikis, dan kondisi sosial.

Sedangkan faktor eksternal mencakup tempat belajar, iklim, suasana lingkungan,

dan budaya belajar yang terjadi dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

[Link] Teori-Teori Belajar


Teori belajar merupakan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses-

proses psikologis dalam diri siswa dan bersifat deskriptif yang bertujuan untuk

menjelaskan proses belajar (Siregar dan Nara, 2011: 24).

Berikut ini adalah teori-teori dalam belajar.

[Link].1 Teori belajar behavioristik

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat dari interaksi

antara stimulus dan respon. Perubahan perilaku dapat berwujud perilaku yang

tampak maupun tidak tampak (Siregar dan Nara, 2011: 24). Perilaku yang tampak

misalnya: menulis, menggambar, merobek, sedangkan perilaku yang tidak tampak

misalnya: berpikir, berimajinasi, berkhayal. Perubahan perilaku yang diperoleh

dari hasil belajar ini bersifat permanen dan bertahan dalam waktu relatif lama.

[Link].2 Teori belajar kognitivistik


19

Teori ini menekanan bahwa proses belajar lebih penting daripada hasil

belajar. Belajar tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respon,

namun juga melibatan proses berpikir yang sangat kompleks (Siregar dan Nara,

2011: 24). Ilmu pengetahuan dalam diri seseorang dibangun melalui proses

interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan yang bersifat menyeluruh

dan tidak terpisah-pisah. Usaha tersebut dilakukan secara aktif oleh siswa yang

berupa mencari pengalaman dan menemukan informasi, memecahkan masalah,

mencermati lingkungan, serta mempraktikkan sesuatu untuk mencapai tujuan

tertentu.

[Link].3 Teori belajar humanistik

Proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia. Setiap individu

anak memiliki sifat-sifat yang berasal dari dalam dan bersifat realistik dan akan

berkembang sepanjang anak-anak tersebut mampu mengembangkannya (Siregar

dan Nara, 2011: 24). Hasil belajar dalam teori ini adalah kemampuan peserta didik

mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi

individu yang mampu mengarahkan diri sendiri dan mandiri.

[Link].4 Teori belajar konstruktivistik

Belajar sebagai proses pembentukan pengetahuan oleh siswa. Pengetahuan

tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seorang guru kepada siswa. Peserta

didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam

dirinya sendiri (Siregar dan Nara, 2011: 24).

Teori belajar merupakan suatu kegiatan belajar yang bertujuan untuk

mengubah perilaku peserta didik yang meliputi kecakapan, keterampilan, sikap,


20

watak, minat yang kemudian akan mengubah aspek kognitif, afektif, dan juga

psikomotor peserta didik.

[Link] Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi peserta

didik sedemikian rupa, sehingga peserta didik itu memperoleh kemudahan. Pem-

belajaran berpusat pada peserta didik (Briggs dalam Rifa’i, 2011). Pembelajaran

adalah dialog interaktif dan guru menyediakan fasilitas belajar bagi peserta

didiknya untuk mempelajarinya (Suprijono, 2013: 13).

UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses

interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan

belajar. Ngatmini (2010) mengungkapkan bahwa pembelajaran lebih mengacu

pada segala kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap proses belajar siswa.

Sedangkan Gagne (dalam Ngatmini, 2010) menyatakan bahwa pembelajaran diar-

tikan sebagai serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadi-

nya proses belajar pada siswa.

Peneliti berpendapat bahwa pembelajaran merupakan kegiatan yang ber-

pusat pada peserta didik dan berpengaruh langsung terhadap proses belajar peserta

didik itu sendiri. Proses pembelajaran akan terlaksana seacara optimal jika guru

memperhatikan komponen-komponen pembelajaran yang digunakan sebagai

acuan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Komponen-komponen terse-

but meliputi: tujuan, subyek belajar, materi pelajaran, strategi pembelajaran, me-

dia pembelajaran, dan penunjang.


21

Menurut Rifa’I dan Anni (2011) ada beberapa komponen dalam pembela-

jaran sebagai berikut.

[Link].1 Tujuan

Tujuan yang secara eksplisit diupayakan pencapaiannya melalui kegiatan

pembelajaran adalah instructional effect berupa pengetahuan, dan keterampilan

atau sikap yang dirumuskan secara eksplisit dalam tindakan penelitian kelas

semakin eksplisit dan operasional.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas

pembelajaran IPS di kelas VB SDN Karangayu 02 Kota Semarang dengan

meneliti keterampilan guru, aktivitas siswa, dan juga hasil belajar siswa dalam

pembelajaran IPS.

[Link].2 Subyek belajar

Subyek belajar dalam pembelajaran merupakan komponen utama karena

berperan sebagai subyek sekaligus obyek. Sebagai subyek karena peserta didik

ada-lah individu yang melakukan proses belajar mengajar. Sebagai obyek karena

kegiatan pembelajaran diharapkan dapat mencapai perubahan perilaku pada diri

subyek belajar.

Subjek belajar dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas VB SDN

Karangayu 02.

[Link].3 Materi pelajaran

Materi pelajaran juga merupakan komponen utama dalam proses

pembelajaran, karena materi pelajaran akan memberi warna dan bentuk dari
22

kegiatan pembelajaran. Materi pembelajaran yang komprehensif, terorganisasi

secara Sistematis dan dideskripsikan dengan jelas akan berpengaruh juga terhadap

intensitas proses pembelajaran.

Materi pembelajaran dalam penelitian ini adalah materi sejarah IPS yang

mencakup materi sejarah tentang usaha dalam mempersiapkan kemerdekaan

Indonesia, proses perumusan Pancasila, dan juga tokoh-tokoh yang berperan

dalam kemerdekaan Indonesia.

[Link].4 Strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran merupakan pola umum mewujudkan proses

pembelajaran yang diyakini efektivitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam penerapan strategi pembelajaran pendidik perlu memilih model-model

pembelajaran yang tepat, metode mengajar yang sesuai dan teknik-teknik

mengajar yang menunjang pelaksanaan metode mengajar. Untuk menentukan

strategi pembelajaran yang tepat pendidik mempertimbangkan tujuan

pembelajaran yang ingin dicapai, karakteristik peserta didik, sumber dan fasilitas

untuk melaksanakan strategi, karakteristik teknik penyajian dan sebagainya agar

strategi pembelajaran tersebut dapat berfungsi maksimal.

Strategi yang digunakan peneliti adalah dengan menggunakan model

Learning Start with a Question, yang akan memandu siswa untuk aktif bertanya di

dalam kegiatan pembelajaran.

[Link].5 Media pembelajaran

Media pembelajaran adalah alat/wahana yang digunakan pendidik dalam

proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan dalam proses


23

pembelajaran dan meningkatkan peranan strategi pembelajaran, karena media

pembelajaran menjadi salah satu komponen pendukung strategi pembelajaran di

samping komponen waktu dan metode mengajar.

Media pembelajaran yang digunakan peneliti dalam pembelajaran adalah media

audiovisual berupa video dan soundslide mengenai usaha mempersiapkan

kemerdekaan Indonesia, proses perumusan Pancasila, dan tokoh-tokoh yang

berperan dalam kemerdekaan Indonesia.

[Link].6 Penunjang

Komponen penunjang dalam sistem pembelajaran adalah fasilitas belajar,

buku sumber, alat pelajaran, bahan pelajaran, dan semacamnya. Komponen

penunjang berfungsi memperlancar, melengkapi, dan mempermudah terjadinya

proses pembelajaran. Sehingga sebagai salah satu komponen pembelajaran, pendi-

dik perlu memperhatikan, memilih, dan memanfaatkannya.

Bahan bacaan berupa materi singkat dan juga materi yang dipaparkan melalui

tampilan video pembelajaran dan soundslide dengan alat bantu proyektor menjadi

penunjang dalam penelitian ini.

Pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang disajikan oleh guru

untuk para siswa yang di dalamnya terdapat aktivitas profesional dan

keterampilan guru dalam mengajar. Pembelajaran juga merupakan proses

sistematis yang memiliki komponen-komponen pembelajaran yang berperan

penting dalam meningkatkan keberhasilan belajar. Seluruh komponen dalam

pembelajaran saling berinteraksi guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah

ditentukan sekaligus sebagai penunjang keterampilan guru dalam pembelajaran.


24

Seorang guru harus terampil dalam menggunakan dan memanfaatkan komponen-

komponen pembelajaran, sehingga pembelajaran berlangsung secara optimal dan

kualitas dari pembelajaran tersebut akan semakin baik.

2.1.2 Kualitas Pembelajaran


[Link] Pengertian Kualitas Pembelajaran
Kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau juga keefektifan (Etzioni

dalam Hamdani, 2011). Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan

dalam mencapai tujuan atau sasarannya. Hadis dan Nurhayati (2012: 97)

mengemukaan bahwa mutu proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan

juga mutu aktivitas belajar oleh siswa, sedangkan untuk mutu hasil proses belajar

berkaitan dengan aktivitas mengajar yang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa.

Hamdani (2011: 169) mengemukakan aspek-aspek kualitas pembelajaran sebagai

berikut: peningkatan pengetahuan, peningkatan keterampilan, perubahan sikap,

perilaku, kemampuan adaptasi, peningkatan integrasi, peningka-tan partisipasi,

dan peningkatan interaksi kultural.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kualitas pembelajaran merupa-

kan suatu tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran dalam aspek

peningkatan pengetahuan, peningkatan keterampilan, perubahan sikap, perilaku,

kemampuan adaptasi, peningkatan integrasi, peningkatan partisipasi, dan pening-

katan interaksi kultural. Untuk mencapai kualitas pembelajaran secara optimal,

seorang guru harus mempunyai keterampilan dalam mengajar sehingga kegiatan

pembelajaran terlaksana secara optimal dan tujuan pembelajaran tercapai.

Kualitas pembelajaran yang diteliti dalam penelitian ini difokuskan pada tiga

aspek, yaitu keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.
25

Keterampilan guru dalam pengelolaan kelas, peggunaan model dalam pembelaja-

ran, serta pemanfaatan media dalam pembelajaran akan meningkatkan aktivitas

siswa dalam pembelajaran, sehingga berdampak pula pada hasil belajar siswa.

[Link] Keterampilan Guru dalam Pembelajaran


Guru merupakan salah satu bagian penting pada bidang pendidikan dan

mempunyai tanggung jawab yang besar dalam rangka membawa siswanya pada

hasil yang optimal dalam proses belajar mengajar. Sehingga seorang guru harus

penuh dedikasi dan mempunyai keterampilan dalam membina dan membimbing

siswanya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk

menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan diperlukan berbagai

keterampilan, diantaranya keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar adalah

keterampilan yang harus dikuasai guru untuk menjalankan tugasnya dalam meng-

ajar, sehingga dapat mengoptimalkan peranan guru di kelas (Djamarah, 2010: 99).

Menurut hasil penelitian Turney (dalam Anitah 2009), terdapat 8 keteram-

pilan dasar mengajar yang berperan penting dalam menentukan keberhasilan pem-

belajaran. Keterampilan tersebut adalah sebagai berikut.

[Link].1 Keterampilan membuka pelajaran

Keterampilan membuka pelajaran merupakan keterampilan yang berkaitan

dengan usaha guru dalam memulai kegiatan. Kegiatan membuka pelajaran adalah

kegiatan menyiapkan siswa untuk memasuki inti kegiatan.

Komponen dalam membuka pelajaran meliputi:

a. Menarik perhatian siswa

b. Menimbulkan motivasi

c. Memberi acuan
26

d. Membuat kaitan

Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini yang termasuk dalam keteram-

pilan membuka pembelajaran yang dilakukan oleh guru ditunjukkan dengan

kegiatan dalam membuka pembelajaran: (a) mempersiapkan sumber belajar, (b)

mengecek kehadiran siswa, (c) bertanya tentang materi yang lalu, (d) melakukan

apersepsi dengan menyanyi.

[Link].2 Keterampilan bertanya

Kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru tidak hanya bertujuan untuk

memperoleh informasi, tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara

guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Kegiatan ini mendo-rong siswa

untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain siswa dapat

berpartisipasi aktif, kegiatan belajar juga menjadi lebih bervariasi, dan siswa dapat

berfungsi sebagai sumber informasi.

Keterampilan bertanya dikelompokkan menjadi dua, yaitu keterampilan

bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Komponen dalam keterampilan

bertanya dasar meliputi: (1) pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat; (2)

pemberian acuan; (3) pemusatan; (4) pemindahan giliran; (5) penyebaran; (6)

pemberian waktu berpikir; dan (7) pemberian tuntunan. Sedangkan komponen

dalam keterampilan bertanya lanjut terdiri dari: (1) pengubahan tuntutan kogni-tif

dalam menjawab; (2) pengaturan urutan pertanyaan; (3) penggunaan pertanyaan

pelacak; (4) peningkatan terjadinya interaksi.

Keterampilan bertanya dalam penelitian ini ditunjukkan dengan kegiatan:

(a) mengajukan pertanyaan tentang materi yang akan dipelajari kepada siswa, (b)
27

memberikan acuan, (c) memindahkan giliran menjawab, (d) memberikan waktu

berfikir untuk menjawab.

[Link].3 Keterampilan mengelola kelas

Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan me-

melihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengem-

balikan kondisi belajar yang terganggu kearah kondisi belajar yang optimal.

Komponen dalam mengelola kelas dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu

keterampilan yang bersifat preventif dan keterampilan yang bersifat represif.

Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil yang dilakukan oleh

guru dalam penelitian ini ditunjukkan dengan kegiatan: (a) membentuk kelompok

secara berpasangan, (b) memberikan petunjuk yang jelas, (c) berkeliling membagi

perhatian, (d) memusatkan perhatian kelompok.

[Link].4 Keterampilan mengadakan variasi

Dalam pembelajaran guru hendaknya dapat mengajar dengan gaya yang

tidak monoton, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan tidak membosankan.

Siswa akan menjadi sangat bosan jika guru selalu mengajar dengan cara yang

sama. Variasi dalam pembelajaran bertujuan untuk menghilangkan kebosanan

siswa dalm belajar, meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu,

mengembangkan keinginan siswa untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru,

melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam, meningkatkan kadar

keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.


28

Dengan variasi yang diadakan guru, bukan saja siswa yang akan

memperoleh kepuasan belajar, tetapi guru pun akan memperoleh kepuasan dalam

mengajar. Variasi dalam pembelajaran dikelompokkan menjadi 3 kelompok,

yaitu: (1) variasi dalam gaya mengajar; (2) variasi dalam pola interaksi; (3) variasi

dalam penggunaan alat bantu pembelajaran.

Keterampilan mengadakan variasi yang dilakukan oleh guru dalam pene-

litian ini ditunjukkan dengan kegiatan: (a) membimbing dalam membuat

pertanyaan, (b) membimbing dalam berdiskusi, (c) membimbing dalam mema-

hami materi, (d) memberi kesempatan siswa untuk bertanya.

[Link].5 Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

Keterlibatan siswa dalam pembelajaran sangatlah penting, untuk itu seorang

guru harus mampu membimbing siswa agar dapat berparisipasi secara aktif

dengan berdiskusi kelompok. Melalui diskusi kelompok diharapkan siswa dapat

berpikir secara lebih kritis serta mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya

dengan baik.

Dalam pembentukan kelompok kecil ini, ada syarat-syarat yang harus

diperhatikan. Syarat-syarat tersebut meliputi:

a. Melibatkan kelompok yang anggotanya berkisar antara 3-9 orang

b. Berlangsung dalam situasi tatap muka yang informal, artinya semua anggota

kelompok berkesempatan saling melihat, mendengar, serta berkomunikasi

secara bebas dan langsung.

c. Mempunyai tujuan yang mengikat anggota kelompok, sehingga terjadi

kerjasama untuk mencapainya.


29

d. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada

tercapainya tujuan kelompok.

Agar guru dapat membimbing diskusi kelompok secara efektif, ada 6 kom-

ponen keterampilan yang perlu dikuasai guru. Keenam komponen tersebut adalah

sebagai berikut.

a. Memusatkan perhatian.

b. Memperjelas masalah dan uraian pendapat.

c. Menganalisis pandangan.

d. Meningkatkan urunan.

e. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi.

f. Menutup diskusi.

Dalam penelitian ini yang termasuk dalam keterampilan membimbing

diskusi kelompok kecil yang dilakukan oleh guru ditunjukkan dengan kegiatan:

(a) membimbing siswa untuk berkelompok secara heterogen, (b) memberi nama

kelompok, (c) membimbing siswa menunjuk ketua kelompok, (d) mengatur

tempat duduk sesuai kelompok.

[Link].6 Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorang

Guru diharapkan mampu untuk mengajar siswa dalam kelompok kecil

maupun perseorang. Dengan demikian, siswa akan mengalami kegiatan belajar

secara klasikal, kelompok kecil, dan perseorang sesuai dengan topik yang sedang

dipelajari dan tujuan yang ingin dicapai. Keterampilan mengajar kelom-pok kecil

dan perseorang terdiri dari 4 komponen pokok, yaitu (1) keterampilan

mengadakan pendekatan secara pribadi; (2) keterampilan mengorganisasikan


30

kegiatan pembelajaran; (3) keterampilan membimbing dan memudahkan belajar;

(4) keterampilan merencanakan dan melakukan kegiatan pembelajaran.

Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorang yang dilakukan

oleh guru dalam penelitian ini ditunjukkan dengan kegiatan: (a) membagi materi

untuk masing-masing kelompok, (b) mengawasi jalannya diskusi, (c) berkeliling

membimbing kerja siswa, (d) memperjelas permasalahan yang didiskusikan.

[Link].7 Keterampilan menjelaskan

Penjelasan yang dilakukan guru dalam pembelajaran dapat mempengaruhi

siswa secara positif dan efektif, maka sudah seharusnya seorang guru menguasai

keterampilan memberi penjelasan. Dengan menguasai keterampilan menjelaskan

ini guru mampu untuk meningkatkan efektivitas pembicaraan di kelas, sehingga

penjelasan yang dapat membantu siswa menggali pengetahuan dari berbagai

sumber. Sedangkan bagi siswa kegiatan menjelaskan ini bertujuan untuk

membantu siswa memahami konsep, hukum, dalil, dan sebagainya secara objektif;

membimbing siswa menjawab pertanyaan “mengapa” yang muncul dalam proses

pembelajaran; meningkatkan keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai

masalah. Keterampilan memberikan penjelasan dapat dikelompokkan menjadi 2

bagian besar, yaitu keterampilan merencanakan penjelasan dan keterampilan

menyajikan penjelasan.

Keterampilan menjelaskan yang dilakukan oleh guru dalam penelitian ini

ditunjukkan dengan kegiatan: (a) menyajikan materi dengan lancar, (b) meng-

gunakan media video pembelajaran ataupun soundslide, (c) memberi contoh


31

konkrit tentang materi yang diajarkan, (d) terampil menggunakan media video

pembelajaran ataupun soundslide.

[Link].8 Keterampilan memberi penguatan

Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan

yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya

perilaku/perbuatan yang dianggap baik tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran,

penguatan mempunyai peran penting dalam meningkatkan keefektifan kegiatan

pembelajaran. Penguatan dapat diberikan dalam dua jenis, yaitu penguatan verbal

dan penguatan nonverbal. Penguatan verbal dapat berupa pujian, komentar,

dukungan, pengakuan atau dorongan yang diharapkan dapat meningkatkan

tingkah laku dan penampilan siswa. Sedangkan penguatan non-verbal dapat

ditunjukkan dengan mimik dan gerakan, gerak mendekati, sentuhan, kegiatan

yang menyenangkan, dan juga pemberian simbol atau benda.

Keterampilan guru dalam memberikan penguatan ditunjukkan dengan

kegiatan: (a) memberi tepuk tangan kepada siswa yang berhasil menjawab

pertanyaan, (b) memberi penguatan dengan acungan jempol, (c) memberi acungan

jempol kepada siswa yang berani bertanya, (d) memberi sticker kepada kelompok

yang berani maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusi.

[Link].9 Keterampilan menutup pelajaran

Keterampilan menutup pelajaran merupakan keterampilan yang berkaitan

dengan usaha guru dalam mengakhiri pelajaran. Kegiatan menutup pelajaran

adalah kegiatan untuk memantapkan atau menindak lanjuti topik yang telah

dibahas.
32

Komponen dalam menutup pelajaran meliputi:

a. Meninjau kembali (review)

b. Menilai (mengevaluasi)

Dalam penelitian ini keterampilan menutup pembelajaran ditunjukkan

dengan kegiatan: (a) menyimpulkan materi bersama dengan siswa, (b) melakukan

refleksi pembelajaran yang telah dilakukan, (c) memberikan evaluasi kepada

siswa, d) memberikan umpan balik.

Dalam menerapkan keterampilan-keterampilan tersebut seorang guru hen-

daknya menggunakan penggunaan scientific, sehingga pembelajaran yang dila-

kukan akan lebih bermakna bagi guru dan juga siswa. Meskipun penelitian ini

menggunakan KTSP, namun dalam penelitian ini guru menggunakan pendekatan

scientific. Pendekatan scientific berkaitan erat dengan metode scientific, yang

mana disebutkan dalam Sani (2014: 50) metode scientific melibatkan kegiatan

pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk perumusan hipotesis atau

mengumpulkan data.

Keterampilan guru yang dilakukan secara baik sesuai dengan pedoman

akan menunjang kegiatan pembelajaran yang kondusif dan juga optimal, sehingga

hal tersebut juga akan mendorong siswa untuk memberikan respon yang baik

terhadap aktivitas yang te;ah dilakukan guru. Dengan begitu, keterampilan guru

yang baik juga akan menentukan aktivitas siswa yang baik pula.

[Link] Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran


Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam

interaksi belajar mengajar yang mencakup aktivitas fisik dan aktivitas mental.

Pada kegiatan belajar, kedua aktivitas tersebut saling berkait. Aktivitas fisik
33

adalah ketika siswa giat aktif dengan anggota badan, bermain ataupun bekerja.

Siswa yang mempunyai aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya

bekerja sebanyak-banyaknya dalam rangka pembelajaran, sehingga apabila

keduanya berkaitan maka akan mengakibatkan terbentuknya pengetahuan dan

keterampilan yang mengarah pada peningkatan prestasi atau hasil belajar

(Sardiman, 2011).

Menurut Paul B. Dierich (dalam Sardiman, 2011) menggolongkan aktivi-

tas siswa dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut.

a. Emotional activities (aktivitas-aktivitas emosional), seperti misalnya: menaruh

minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, dan gu-

gup.

b. Oral activities (aktivitas-aktivitas berbicara), seperti: menyatakan, merumus-

kan, bertanya, dan memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wa-

wancara, diskusi, interupsi.

c. Visual activities (aktivitas-aktivitas melihat), yang termasuk di dalamnya mi-

salnya, membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan

orang lain.

d. Listening activities (aktivitas-aktivitas mendengarkan), sebagai contoh mende-

ngarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.

e. Drawing activities (aktivitas-aktivitas menggambar), misalnya: menggambar,

membuat grafik, peta, diagram.

f. Writing activities (aktivitas-aktivitas menulis), seperti misalnya menulis cerita,

karangan, laporan, angket, dan menyalin.


34

g. Motor activities (aktivitas-aktivitas gerak), yang termasuk di dalamnya antara

lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain,

berkebun, dan beternak.

h. Mental activities (aktivitas-aktivitas mental), sebagai contoh misalnya:

menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan,

mengambil keputusan.

Dalam proses pembelajaran tersebut, siswa juga dituntut aktif dalam

mengikuti proses belajar. Dalam proses belajar siswa melakukan sesuatu untuk

mengubah tingkah laku, dari yang tidak bisa menjadi bisa dan dari belum

mengerti menjadi mengerti sebagai aktivitas dalam proses pembelajaran. Proses

pembelajaran dikatakan efektif apabila siswa secara aktif ikut terlibat langsung

dalam pengorganisasian dan penemuan informasi (pengetahuan) sehingga mereka

tidak hanya menerima secara pasif pengetahuan yang diberikan oleh guru.

Aktivitas adalah segala tingkah laku siswa pada saat mengikuti kegiatan

belajar mengajar baik yang bersifat fisik maupun mental. Aktivitas merupakan

prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar. Tanpa adanya akti-

vitas, proses belajar mengajar tidak dapat berlangsung dengan baik, karena pada

prinsipnya belajar adalah berbuat, dan setiap orang yang belajar harus aktif. Jadi,

aktivitas juga berperan dalam menentukan keberhasilan belajar mengajar.

Indikator aktivitas siswa yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan Paul B.

Dierich (dalam Sardiman, 2011) adalah :

1) Mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran (Emotional activities)


35

2) Menganalisis dan memberikan tanda pada hal-hal yang belum dimengerti,

membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan dalam pembelajaran (Oral

activities)

3) Memperhatikan media audiovisual yang diputar oleh guru (Visual activities)

4) Berdiskusi bersama pasangan (Listening activities)

5) Menulis jawaban diskusi di lembar LKS (Writing activities)

6) Mempresentasikan hasil diskusi (Motor activities)

7) Mengerjakan soal evaluasi (Mental activities)

Aktivitas yang dilakukan siswa ini akan lebih opimal jika ditunjang

dengan keterampilan guru yang baik pula. Guru yang terampil dalam

pembelajaran akan mampu memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih aktif

dalam pembelajaran, sehingga proses belajar lebih optimal dan hasil belajar yang

dicapai pun akan semakin meningkat.

[Link] Hasil Belajar


Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah

menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2013: 22). Hildan Taba (dalam

Sudjana, 2013) menyatakan bahwa keefektifan pembelajaran dipengaruhi oleh

tiga hal antara lain (1) karakteristik guru dan siswa, (2) materi pelajaran, dan (3)

aspek lain yang berkenaan dengan situasi pelajaran.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor

dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 2004: 39). Senada

dengan Clark (dalam Sudjana, 2013: 39) menyatakan bahwa hasil belajar siswa di

sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh

lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang
36

paling dominan berupa kualitas pembelajaran. Menurut Rifa’i dan Anni (2011:

85) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik

setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku

tergantung pada apa yang dipelajari peserta didik.

Dalam kegiatan belajar, tujuan yang harus dicapai oleh setiap individu

memiliki beberapa peranan penting (Rifa’i dan Anni, 2011), yaitu :

a. Memberikan arah pada kegiatan peserta didik. Hasil belajar siswa nantinya

akan menjadi dasar bagi guru untuk memilih strategi pembelajaran yang tepat

pada pembelajaran selanjutnya bagi siswa-siswanya.

b. Untuk mengetahui kemajuan belajar dan perlu tidaknya pemberian peserta

didikan pembinaan bagi peserta didik (remidian teaching). Hasil belajar siswa

digunakan guru sebagai tindak lanjut pada pencapaian siswa, apakah siswa

perlu diberi pengayaan bagi yang sudah mencapai KKM atau harus remedial

bagi siswa yang nilainya belum mencapai KKM.

c. Sebagai bahan komunikasi. Hasil belajar siswa akan disampaikan kepada orang

tua dan akan menjadi bahan komunikasi antara guru dengan orang tua siswa

mengenai perkembangan anaknya yang dititipkan di sekolah.

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku pada siswa setelah mengalami

belajar. Hasil belajar siswa dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan belajar

siswa, strategi pembelajaran apa yang sesuai untuk siswa dan sebagai bahan

komunikasi antara guru dan orang tua siswa. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh

dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal (internal) dan

faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan.


37

Bloom dalam Rifa’i dan Anni (2011: 86) mengemukakan tiga taksonomi

yang disebut dengan ranah belajar, yaitu: ranah afektif, ranah kognitif, dan ranah

psikomotorik. Berikut diuraikan tiga ranah belajar menurut Bloom:

[Link].1 Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap

seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki

penguasaan kognitif tingkat tinggi. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa

dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin,

motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, dan hubungan

social (Rifa’i dan Anni, 2011: 86)

Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar. Kategori

tersebut dimulai dari tingkat dasar atau sederhana sampai dengan tingkat yang

kompleks. Kategori tersebut yaitu: penerimaan, penanggapan, penilaian,

pengorganisasian, dan pembentukan pola hidup (Rifa’i dan Anni, 2011: 88).

Dalam penelitian ini ranah afektif yang diharapkan dapat dicapai oleh

siswa beserta dengan indikator (Fitri, 2012: 42-43) adalah sebagai berikut:

1) Rasa ingin tahu, deskriptornya siswa antusias terhadap pembelajaran, siswa

aktif bertanya saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa menyimak video

yang ditampilkan guru, siswa mencatat hal-hal penting dalam video yang

ditampilkan guru.

2) Bertanggung jawab, deskriptornya siswa membuat pertanyaan secara

berpasangan dan diajukan kepada guru, mencatat hasil diskusi yang telah
38

dilakukan bersama dengan kelompok, mengerjakan soal evaluasi secara

individu, menyampaikan hasil diskusi di depan kelas.

3) Disiplin, deskriptornya siswa datang tepat waktu, mengerjakan LKS maupun

soal evaluasi sesuai dengan waktu yang ditentukan guru, melaksanakan

diskusi sesuai dengan aturan yang ditetapkan guru, tidak menyontek maupun

memberikan contekan kepada teman saat mengerjakan soal evaluasi.

[Link].2 Ranah Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek,

yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua

aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah sedangkan keempat aspek berikut-

nya termasuk aspek tingkat tinggi (Rifa’i dan Anni, 2011: 88).

Aspek tersebut mengalami perbaikan seiring perkembangan zaman. Setiap

kategori dalam revisi taksonomi Bloom terdiri dari subkategori yang memiliki

kata kunci berupa kata berasosiasi dengan kata tersebut. Kata-kata kunci tersebut

seperti terurai seperti di bawah ini:

a. Mengingat: mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menem-

patkan, mengulangi dan menemukan kembali.

b. Memahami: menafsirkan, meringkas, mengklarifikasikan, membandingkan,

menjelaskan, dan membeberkan.

c. Menerapkankan: melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan,

mempraktikkan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, dan mende-

teksi.
39

d. Menganalisis: menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun

outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, dan membanding-kan.

e. Mengevaluasi: menyusun hipotesis, mengkritik, memprediksi, menilai,

menguji, membenarkan, dan menyalahkan.

f. Berkreasi: merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemu-

kan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, dan meng-

gubah.

Dalam penelitian ini ranah kognitif yang diharapkan dapat dicapai oleh

siswa adalah sebagai berikut:

1) Mendeskripsikan usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI

(C2)

2) Mendeskripsikan usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI

(C2)

3) Mengidentifikasi tokoh-tokoh BPUPKI dalam usaha mempersiapkan kemer-

dekaan (C2)

4) Mengidentifikasi tokoh-tokoh PPKI dalam usaha mempersiapkan kemer-

dekaan (C2)

5) Menjelaskan perlunya perumusan dasar Negara Indonesia (C2)

6) Menceritakan proses perumusan dasar Negara Indonesia (C2)

7) Megidentifikasi dasar Negara Indonesia yang digunakan saat ini (C2)

8) Mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia

(C2)
40

9) Mengapresiasi usaha para tokoh dalam usaha mempersiapkan kemerdekaan

Indonesia (C4)

[Link].3 Ranah Psikomotorik

Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan

kemampuan dalam bertindak secara individu. Simpson (Aunurrahman, 2009: 52)

terdapat tujuh perilaku dalam ranah psikomotorik, yaitu:

a. Persepsi, mampu mendeskripsikan sesuatu secara khusus dan mengetahui

perbedaan masing-masing. Contohnya pemilahan warna, pemilahan angka,

pemilahan huruf.

b. Kesiapan, mampu menempatan diri dalam suatu keadaan yang sudah

ditentukan gerakannya. Contohnya posisi star lomba lari.

c. Gerakan terbimbing, mampu meniru suatu gerakan dengan adanya contoh.

Contoh meniru gerakan tari, membuat lingkaran di atas pola.

d. Gerakan terbiasa, mampu melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh. Contoh

lembar peluru, lompat tinggi.

e. Gerakan kompleks, mampu melakukan keterampilan yang terdiri dari banyak

tahap secara lancar, efisien, dan tepat. Contoh bongkar pasang peralatan secara

tepat.

f. Penyesuaian pola gerakan, mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan

penyesuaian perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan

khusus yang berlaku. Contoh kemampuan atau keterampilan berlawan dengan

lawan tanding.
41

g. Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerik yang baru

atas dasar prakarsa sendiri. Contoh kemampuan membuat kreasi gerakan

senam sendiri, gerakan-gerakan tarian kreasi baru.

Dalam penelitian ini ranah psikomotorik yang ingin dicapai lebih

menekankan pada produk yang mengarah pada perilaku kreativitas (P7) dengan

prakarya yang dilakukan oleh siswa, sehingga siswa mampu membuat sebuah

produk berupa cerita singkat tentang tokoh perjuangan selama pembelajaran.

Berikut ini merupakan aspek penilaian dalam ranah psikomotorik yang diharap-

kan mampu dicapai oleh siswa dalam pembelajaran, yaitu siswa mampu melaku-

kan persiapan dalam membuat produk, kesesuaian isi, penggunaan bahasa tulis

dalam membuat karangan singkat perjuangan para tokoh.

No Indikator Deskriptor
1. Persiapan [Link] alat tulis
pembuatan 2. Menetapkan peristiwa/tokoh yang akan dijadikan
sebagai sumber
3. Menyiapkan materi yang akan dijadikan sumber
2. Kesesuaian isi [Link] isi dengan materi yang diajarkan
[Link] dengan kronologi peristiwa yang ada pada
materi
[Link] lebih dari 3 hal penting
3. Penggunaan [Link] kata yang digunakan tepat
bahasa tulis [Link] struktur kalimat baku
[Link] penulisan sesuai dengan EYD
Dari penjelasan tentang tiga ranah tersebut, peneliti berpendapat bahwa

ketiga hasil belajar yang telah dijelaskan di atas penting untuk diketahui oleh guru

dalam rangka merumuskan tujuan pembelajaran dan menyusun alat-alat penilaian,

baik tes maupun non tes. Hasil belajar yang diperoleh dari penelitian ini adalah
42

siswa dapat mengidentifikasi perjuangan para tokoh kemerdekaan Indonesia dan

dapat mengimplementasikan sikap para tokoh perjuangan dalam kehidupan

sehari-hari serta dapat memahami sejarah para tokoh yang diwujudkan dalam

bentuk karangan singkat.

2.1.3 Hakikat Pendidikan IPS


[Link] Pengertian Pendidikan IPS
Menurut Sardjiyo, dkk (2008) IPS adalah bidang studi yang mempelajari,

menelaah, menganalisis gejala-gejala dan masalah sosial di masyarakat dari ber-

bagai aspek kehidupan atau satu perpaduan. Sedangkan menurut Sapriya (2014:

20) IPS adalah mata pelajaran yang termasuk ke dalam disiplin ilmu-ilmu sosial.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa IPS adalah bidang

studi yang mempelajari konsep ilmu sosial mengenai gejala-gejala dan masalah

sosial di masyarakat.

[Link] Karakteristik Pendidikan IPS SD


Struktur kurikulum SD meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh

dalam satu jenjang pendidikan dalam kurun waktu enam tahun. Substansi mata

pelajaran IPS pada SD/MI dilaksanakan melalui pendekatan tematik untuk kelas I-

III dan pendekatan mata pelajaran untuk kelas IV-VI. Substansi mata pelajaran

IPS pada SD/MI merupakan IPS terpadu yang disusun berdasarkan standar

kompetensi lulusan dan standar kompetensi pelajaran (Mulyasa, 2012: 50).

Gunawan (2013: 51) menyebutkan IPS merupakan mata pelajaran yang

diberikan di SD yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan genera-

lisasi yang berkaitan dengan isu global. Dalam muatan materinya, IPS memuat

materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Pelajaran IPS mengarahkan sis-
43

wa untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demo-kratis, bertanggung

jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Menurut Gunawan (2013: 50) Pembelajaran IPS di SD hendaknya mem-

perhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-11 tahun, dimana menurut

Piaget anak dalam usia tersebut berada dalam kategori operasional konkrit. Dalam

usia tersebut, anak masih memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan

menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Mereka

hanya mempedulikan hal-hal yang konkrit dan belum memahami hal-hal yang

bersifat abstrak.

Materi IPS penuh dengan hal-hal yang bersifat abstrak, berhubungan de-

ngan konsep-konsep seperti waktu, arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi,

kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan. Materi yang

abstrak tersebut hendaknya diajarkan dengan metode yang mampu mengembang-

kan keterampilan siswa, menggunakan metode yang aktif, kreatif, efektif, dan

menyenangkan. Untuk itu, menurut Bruner (dalam Gunawan, 2013: 50) agar

materi IPS yang abstrak tersebut dapat dipahami oleh anak, maka materi yang

diajarkan dapat dikonkritkan melalui percontohan dengan gerak tubuh, gambar,

bagan, peta, grafik, lambang, keterangan lanjut, atau elaborasi dalam kata-kata

yang dapat dipahami siswa.

Dari penjelasan di atas, dapat dimengerti meskipun pembelajaran IPS

bersifat abstrak namun pada penyampainnya guru diharapkan mampu untuk

menggunakan metode pembelajaran yang memberikan pembelajaran secara


44

konkrit sehingga siswa akan dapat memahami pembelajaran IPS tersebut dengan

tepat.

[Link].1 Tujuan Pendidikan IPS di SD


Oemar Hamalik (dalam Gunawan, 2013: 18) merumuskan tujuan pendi-

dikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu (1) pengetahuan dan

pemahaman; (2) sikap hidup belajar; (3) nilai-nilai dan sikap; dan (4)

keterampilan. Nursid Suraatmaja (dalam Hidayati, 2008: 1.24) menyatakan

Pendidikan IPS di SD bertujuan untuk membina anak didik


menjadi warga Negara yang baik, yang memiliki penge-
tahuan, keterampilan, dan kepedulian sosial yang berguna
bagi dirinya serta bagi masyarakat, dan Negara.

Sedangkan menurut Ahmadi dan Amri (2014: 10) mata pelajaran IPS

bertujuan agar siswa memiliki kemampuan mengenal konsep-konsep yang

berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, memiliki kemam-

puan dasar untuk berfikir logis dan kritis, memiliki komitmen dan kesadaran

terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan memiliki kemampuan

berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat.

Uraian di atas menunjukkan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang

memiliki tujuan membentuk siswa menjadi warga negara yang baik. Dengan

demikian IPS merupakan pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari di

sekolah.

[Link].2 Ruang Lingkup Pelajaran IPS


IPS sebagai ilmu yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep,

dan generalisasi berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang mencakup ma-

teri geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Dalam pembelajaran IPS, siswa da-
45

pat dibawa langsung ke dalam lingkungan alam dan masyarakat, sehingga dengan

hal tersebut siswa akan mengetahui makna dan manfaat mata pelajaran IPS ini.

Mata pelajaran IPS memiliki ruang lingkup yang mengkaji aspek-aspek

dalam beberapa dimensi yang berbeda. Aspek-aspek ini mencakup semua unsur

kehidupan, baik dari hal yang konkrit maupun abstrak.

Sardjiyo, dkk (2008: 1.29) mengemukakan empat ruang lingkup dalam mata pela-

jaran IPS. Ruang lingkup mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SD meliputi

aspek-aspek sebagai berikut:

a. Manusia, tempat, dan lingkungan.

b. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.

c. Sistem sosial dan budaya.

d. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.

[Link].3 Materi IPS di SD


Mulyono Tjokrodikaryo (dalam Taneo,2010: 1-26) menyatakan bahwa

materi IPS pada hakikatnya adalah menelaah interaksi antara individu dan

masyarakat dengan lingkungan. Materi IPS dapat digali dari segala aspek dan

sumber kehidupan sehari-hari masyarakat. Materi IPS sangat berkaitan erat

dengan masyarakat, sehingga dalam pengajarannya IPS menelaah masyarakat

sebagai sumber dan objek utama.

Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:

a. Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari

keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan

dunia dengan berbagai permasalahannya.


46

b. Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, pro-

duksi, komunikasi, transportasi.

c. Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antro-

pologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang

terjauh.

d. Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang

dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-

tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.

e. Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian,

permainan, keluarga. Dengan demikian masyarakat dan lingkungannya, selain

menjadi sumber materi IPS sekaligus juga menjadi laboratoriumnya.

Dari uraian di atas, peneliti berpendapat bahwa materi dalam IPS meru-

pakan hasil telaah dari kehidupan nyata masyarakat dalam kehidupannya sehari-

hari. Sehingga pengetahuan konsep, teori-teori IPS yang diperoleh anak di dalam

kelas dapat dicocokkan dan dicobakan sekaligus diterapkan dalam kehidupannya

sehari-hari di masyarakat.

[Link].4 Strategi Pembelajaran IPS di SD


Pembelajaran IPS di SD dilakukan secara bertahap dari pembelajaran

konkrit mengenai fenomena-fenomena yang ada di sekitar peserta didik sampai

dengan hal-hal abstrak yang perlu pemikiran lebih mendalam, seperti ruang dan

waktu yang berakitan erat dengan sejarah.

Sardjiyo, dkk (2008: 3.14) mengemukakan bahwa sejarah melekat pada

setiap benda, tiap diri makhluk, baik yang hidup dan tidak hidup. Hal-hal tersebut

memiliki riwayat, asal usul yang menyangkut proses, serta peristiwa dan waktu.
47

Hugiono dan P.K. Poerwantana (dalam Sardjiyo, 2008: 3.14) mengemukakan bah-

wa sejarah merupakan peristiwa-peristiwa masa lampau manusia, yang disusun

secara ilmiah, ditafsirkan dan dianalisis sehingga mudah dimengerti dan dipaha-

mi. Sejarah berkenaan dengann peristiwa masa lampau tentang kehidupan manu-

sia dalam konteks sosialnya.

Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji tentang materi sejarah dalam IPS

yaitu KD. 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam memper-

siapkan kemerdekaan Indonesia. Materi dalam kompetensi dasar tersebut menca-

kup materi tentang badan-badan persiapan kemerdekaan Indonesia, perumusan

dasar Negara Indonesia, dan tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kompetensi dasar tersebut berkaitan erat dengan dimensi ruang dan waktu tentang

sejarah dalam proses kemerdekaan Indonesia.

2.1.4 Model Pembelajaran Aktif Learning Start with a Question


[Link] Pengertian Pembelajaran Aktif
Djamarah (2010: 369) menyatakan, pembelajaran aktif merupakan suatu

pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

Ketika siswa belajar dengan aktif, berarti mereka mendominasi aktivitas pembe-

lajaran, dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemu-

kan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan, atau mengapli-

kasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam

kehidupan nyata. Sedangkan menurut Silberman (2013: 28) pembelajaran aktif

adalah pembelajaran yang mampu menjadikan siswa bersikap aktif dalam pembe-

lajaran, dimana siswa akan mengupayakan sesuatu untuk memecahkan masalah

yang dihadapi.
48

Hamruni (2012: 155), menyatakan pembelajaran aktif mengajak siswa

untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan

tetapi juga melibatkan fisik sehingga siswa akan merasakan suasana yang lebih

menyenangkan dan hasil belajar dapat dimaksimalkan. Selain itu, untuk mempe-

lajari sesuatu dengan baik, belajar secara aktif akan membantu siswa dalam

meningkatkan teknik dan kemampuan mendengar, mengamati, mengajukan

pertanyaan, dan mendiskusikan materi pelajaran yang dipelajari dengan siswa

lain. Hal yang sangat penting dalam aktivitas belajar aktif adalah bahwa para

siswalah yang melakukan kegiatan belajar, merekalah yang harus mencari dan

memecahkan masalah sendiri, menemukan contoh-contoh, mencoba keteram-

pilan-keterampilan, dan melakukan tugas-tugas pembelajaran yang harus dicapai.

Dari uraian di atas, maka peneliti berpendapat bahwa pembelajaran aktif

adalah pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memperoleh pengetahuannya

sendiri dengan cara terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga

pengetahuan yang diperolah akan menjadi lebih bermakna.

[Link] Model Pembelajaran Learning Start with a Question


Learning Start with a Question merupakan sistem pembelajaran yang

bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang aktif dengan menstimulir

siswa untuk menyelidiki atau mempelajari sendiri materi pelajarannya, tanpa

penjelasan terlebih dahulu dari guru. Yang mana pengajuan pertanyaan tersebut

merupakan kunci belajar (Silberman, 2013).

Berikut ini merupakan langkah-langkah Learning Start with a Question

menurut Silberman (2013) adalah sebagi berikut.

a. Guru membagikan bahan ajar kepada siswa.


49

b. Siswa diminta untuk mempelajari buku pegangan dengan pasangannya dan

menandai dokumen dengan pertanyaan di dekat informasi yang tidak mereka

ketahui.

c. Siswa diminta untuk kembali ke posisi semula dan guru menjawab pertanyaan-

pertanyaan siswa.

d. Guru mengajar melalui jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

siswa.

Suprijono (2013) merinci sintak Learning Start with a Question pada

tahap-tahap sebagai berikut.

a. Guru memilih bahan bacaan yang sesuai kemudain membagikan bahan bacaan

tersebut kepada siswa. Bahan bacaan yang diberikan kepada siswa hendaknya

memuat informasi umum atau bacaan yang memberi peluang untuk ditafsirkan

berbeda-beda oleh siswa.

b. Siswa diminta untuk mempelajari bacaan secara sendirian atau bersama dengan

teman secara berpasangan.

c. Siswa diminta untuk memberi tanda pada bagian bacaan yang tidak dipahami.

Siswa dianjurkan untuk memberi tanda sebanyak mungkin. Jika waktu me-

mungkinkan, gabungkan pasangan belajar dengan pasangan yang lain. Kemu-

dian guru meminta mereka untuk membahas poin-poin yang tidak diketahui

dan telah diberi tanda.

d. Di dalam pasangan atau kelompok kecil, guru meminta siswa untuk menulis-

kan pertanyaan tentang materi yang telah mereka baca.

e. Guru mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang telah ditulis oleh siswa.


50

f. Guru menyampaikan materi pelajaran dengan menjawab pertanyaan-pertanya-

an tersebut.

[Link] Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Learning Start with a


Question
Kelebihan dari model pembelajaran aktif Learning Start with a Question

ini adalah sebagai berikut:

a. Siswa menjadi siap memulai pelajaran, karena siswa belajar terlebih

dahulu sehingga memiliki sedikit gambaran dan menjadi lebih paham setelah

mendapat tambahan penjelasan dari guru.

b. Siswa menjadi aktif bertanya.

c. Materi dapat diingat lebih lama.

d. Kecerdasan siswa diasah pada saat siswa belajar untuk mengajukan

pertanya-an.

e. Mendorong tumbuhnya keberanian mengutarakan pendapat secara terbuka

dan memperluas wawasan melalui bertukar pendapat secara kelompok.

f. Siswa belajar memecahkan masalah sendiri secara berkelompok dan saling

bekerjasama antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai.

g. Dapat mengetahui mana siswa yang belajar dan yang tidak belajar.

Adapun kekurangan yang dimiliki Model Pembelajaran Aktif Learning

Start with a Question adalah:

a. Membutuhkan waktu panjang jika banyak pertanyaan yang dilontarkan

siswa.
51

b. Jika guru memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk menjawab,

perta-nyaan atau jawaban bisa melantur jika siswa tersebut tidak belajar atau

tidak menguasai materi.

c. Apatis bagi siswa yang tidak terbiasa berbicara dalam forum atau siswa

yang pasif.

d. Mensyaratkan siswa memiliki latar belakang yang cukup tentang topik

atau masalah yang didiskusikan. ([Link]/strategi pembelajaran

Learn-ing Start With a Question dan Information Search di sekolah, di akses

pada tanggal 25 Februari 2015)

[Link] Cara Mengatasi Kekurangan dalam Model Learning Start with a Question
Learning Start with a Question merupakan model pembelajaran aktif yang

mengajak siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga suasana kegiatan

belajar mengajar di dalam kelas akan lebih hidup. Meskipun demikian, model

pembelajaran Learning Start with a Question masih memiliki beberapa kekurang-

an, yaitu:

a. Membutuhkan waktu panjang jika banyak pertanyaan yang dilontarkan

siswa.

b. Jika guru memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk menjawab,

per-tanyaan atau jawaban bisa melantur jika siswa tersebut tidak belajar atau

tidak menguasai materi.

c. Apatis bagi siswa yang tidak terbiasa berbicara dalam forum atau siswa

yang pasif.
52

d. Mensyaratkan siswa memiliki latar belakang yang cukup tentang topik

atau masalah yang didiskusikan.

Dalam mengatasi kekurangan tersebut, guru dapat menggunakan media

yang bervariasi untuk menjawab pertanyaa-pertanyaan siswa. Selain media yang

bervariasi, guru juga harus mempersiapkan materi yang bervariasi juga untuk

mengimbangi jika pertanyaan yang diajukan oleh siswa terlalu banyak. Untuk

mengatasi pertanyaan yang terlalu banyak guru juga dapat melakukan pembatasan

pertanyaan dengan terlebih dahulu memilah dan memilih pertanyaan siswa yang

urgent dan mewakili pertanyaan lainnya secara umum. Guru juga harus memper-

siapkan siswa dengan materi yang memadai, sehingga siswa mempunyai

pegangan sebagai acuan materi dalam pembelajaran. Model Learning Start with a

Question memang menjadikan siswa aktif, namun tidak menutup kemungkinan

akan ada beberapa siswa yang pasif sehingga guru harus berupaya untuk meng-

ajak siswa tersebut aktif dengan cara melakukan pendekatan secara individu dan

membimbing siswa tersebut untuk aktif di dalam kelas.

2.1.5 Media Pembelajaran


[Link] Pengertian Media
Menurut Ngatmini (2010) media berasal dari kata medium berarti

perantara. Media merupakan segala sesuatu yang membawa pesan (informasi) dari

suatu sumber untuk disampaikan kepada penerima. Media sebagai perantara fisik

untuk menyampaikan isi pembelajaran, seperti buku, video, suara guru, dll. Media

atau alat ada sesuatu yang digunkaan guru untuk mengkomunikasikan pesan

kepada siswa. Menurut Heinich, dkk (dalam Anitah, 2009) media merupakan alat

saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan jamak dari
53

kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara”, yaitu perantara sumber

pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver).

Dalam pembelajaran, Rifa’i (2011) media pembelajaran adalah alat/

wahana yang digunakan pendidik dalam proses pembelajaran untuk membantu

penyampaian pesan pembelajaran. Asyhar (2012: 8) adalah segala sesuatu yang

dapat menyampaikan atau menyalurkan pesan dari suatu sumber se-cara

terencana, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif dimana peneri-

manya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif. Menurut

Susilana dan Riana (2009: 7) media pembelajaran merupakan wadah dari materi

yang ingin disampaikan pada proses pembelajaran. Sedangkan menurut Aqib,

(2013: 50) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada siswa.

Berikut ini adalah “kerucut pengalaman” yang dibuat oleh Edgar Dale

untuk mengklasifikasi media sebagai alat bantu (Susilana dan Riana, 2009: 7)

Gambar 2.1
54

Kerucut Pengalaman Edgar (Susilana dan Riana, 2009: 7)

Media pembelajaran adalah alat bantu berupa apa saja yang dapat me-

nyampaikan pesan atau informasi dari sumber kepada individu lain/peserta didik/

orang lain. Dalam pembelajaran maka media pembelajaran memiliki peran pen-

ting sebagai alat bantu mengajar yang bertujuan untuk menarik perhatian dan

minat siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.

[Link] Fungsi Media Pembelajaran


Menurut Anitah (2009) penggunaan media pembelajaran dalam proses

belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat penting dalam rangka menca-

pai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien, karena media pembelajaran

memiliki fungsi sebagai berikut.

a. Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi

memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana yang dapat membantu untuk mewu-

judkan pembelajaran yang lebih efektif.

b. Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pem-

belajaran. Media pembelajaran bukan suatu komponen yang berdiri sendiri,

namun saling berhubungan dengan komponen lainnya agar tercipta situasi bela-

jar yang diharapkan.

c. Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi

yang ingin dicapai. Yang mana media pembelajaran ini harus selalu melihat

pada kompetensi dan bahan ajar.

d. Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan, sehingga tidak di-

perkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau meman-

cing perhatian siswa semata.


55

e. Media pembelajaran mempercepat proses belajar.

f. Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar-

mengajar.

g. Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir.

Selain fungsi-fungsi tersebut, media pembelajaran juga memiliki nilai dan

manfaat sebagai berikut.

a. Membuat konkret konsep-konsep yang abstrak.

b. Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam

lingkungan belajar.

c. Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil.

d. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat.

Sedangkan menurut Aqib (2013: 51) manfaat umum media pembelajaran

antara lain: (1) menyeragamkan penyampaian materi; (2) pembelajaran lebih jelas

dan menarik; (3) terjadi interaksi dua arah dalam proses pembelajaran; (4) efisien-

si waktu dan biaya; (5) meningkatkan kualitas belajar; (6) belajar dapat dilakukan

kapanun dan dimanapun; (7) menumbuhkan sikap positif belajar terhadap proses

dan materi belajar; dan (8) meningkatkan peran guru kearah yang lebi positif dan

produktif.

[Link] Jenis-Jenis Media Pembelajaran


Asyhar (2012: 44) menyatakan bahwa banyak jenis dan format media yang

digunakan dalam pembelajaran, namun pada dasarnya media hanya dikelom-

pokkan menjadi empat jenis yaitu media visual, media audio, media audiovisual,

dan multimedia. Keempat media tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

[Link].1 Media visual


56

Media visual adalah media yang digunakan dalam proses pembelajaran

yang hanya mengandalkan penglihatan siswa. Dengan media ini, pengalaman

belajar siswa sangat tergantung pada kemampuan penglihatannya. Beberapa

media visual antara lain (1) media cetak seperti buku, modul, jurnal, peta, gambar,

dan poster; (2) model dan prototype seperti globe bumi; dan (3) media realitas

alam sekitar dan sebagainya.

[Link].2 Media audio

Media audio adalah media yang digunakan dalam proses pembelajaran

yang hanya melibatkan indera pendengaran siswa. Pengalaman belajar siswa

akan sangat tergantung pada kemampuan pendengarannya. Contoh media audio

yang umum digunakan adalah tape recorder, radio, dan CD player.

[Link].3 Media audiovisual

Media audiovisual adalah media yang digunakan dalam proses pembe-

lajaran yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus. Contoh

media audiovisual adalah film, video, program TV, dan lain-lain.

[Link].4 Multimedia

Media multimedia merupakan media berbasis komputer yang melibatkan

beberapa jenis media dan peralatan secara terintegrasi dalam suatu proses

pembelajaran. Pembelajaran menggunakan media multimedia melibatkan indera

penglihatan dan pendengaran melalui media teks, visual diam, visual gerak, dan

audio.

Prinsip umum pembuatan media pembelajaran adalah visible, interesting,

simple, useful, accurance, legitimate, dan structured pelajaran (Aqib, 2013: 52).
57

Sedangkan, pemilihan pola pembelajaran dengan adanya media menurut Aqib

(2013: 53) yaitu: (1) guru sebagai satu-satunya penyampaian materi pelajaran; (2)

guru dibantu oleh media; (3) guru dan media berbagi tugas; dan (4) media sebagai

satu-satunya penyampaian bahan.

[Link] Media Audiovisual


Media audiovisual menurut Hamdani (2011: 245) adalah media yang

mengandung unsur suara dan juga memiliki gambar yang bisa dilihat. Asyhar

(2012: 73), media audiovisual adalah media yang dapat digunakan untuk

menampilkan unsur gambar dan suara secara bersamaan. Sedangkan menurut

Sanjaya (2013: 172) media audiovisual adalah media yang selain mengandung

unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat. Jadi, pengertian

media audiovisual adalah media yang menggabungkan media suara dan media

gambar.

Langkah-langkah media audiovisual menurut Arsyad (2014: 143) adalah:

a. Menyiapkan materi dan bahan yang akan digunakan dalam pembelajaran.

b. Merumuskan tujuan pembelajaran dengan memanfaatkan media audiovisual

sebagai media pembelajaran.

c. Persiapan guru. Memilih dan menetapkan media yang akan dipakai guna men-

capai tujuan pembelajaran.

d. Persiapan kelas. Siswa mempunyai persiapan (fisik dan psikis serta segala

sesuatu yang dibutuhkan siswa) sebelum mereka menerima pelajaran dengan

menggunakan media audiovisual.

e. Menginformasikan latar belakang yang menarik mengenai media pembe-

lajaran audiovisual yang akan disajikan.


58

f. Penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan media audiovisual.

g. Diskusi materi audiovisual. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada

siswa tentang materi pembelajaran, kemudian meminta salah satu siswa

memberikan rangkuman mengenai materi pembelajaran yang disajikan

menggunakan media audiovisual.

h. Langkah evaluasi pembelajaran. Siswa dievaluasi oleh guru mengenai sejauh

mana tujuan pembelajaran dapat dicapai dan sejauh mana alat bantu yang

dapat menunjang keberhasilan proses belajar.

Susilana (2009: 20) mengemukakan bahwa “film merupakan media yang

menyajikan pesan audiovisual dan gerak.” Menurut beliau film memiliki kele-

bihan dan kekurangan. Kelebihan media film yaitu: (1) memberikan pesan yang

dapat diterima secara merata oleh siswa, (2) sangat bagus untuk menerangkan

suatu proses, (3) mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, (4) lebih realistis,

karena dapat diulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan, dan (5) memberi-

kan kesan yang mendalam yang dapat mempengaruhi sikap siswa. Sedangkan

kelemahan media film antara lain: (1) pembuatanya memerlukan banyak waktu

dan tenaga, (2) memerlukan operator khusus untuk mengoperasikannya, dan (3)

memerlukan penggelapan ruangan.

Mengacu pada pendapat para ahli tersebut, media audiovisual merupakan

gabungan antara media visual yang berbentuk gambar yang bergerak maupun

yang tidak bergerak dan dipadukan dengan media audio yang berupa suara yang

dapat didengar oleh peserta didik.


59

2.1.6 Penerapan Model Learning Start with a Question Berbantuan Media

Audiovisual

[Link] Teori Belajar yang Mendasari Penerapan Model Learning Start with a

Question Berbantuan Media Audiovisual

Teori belajar merupakan suatu kegiatan belajar yang bertujuan untuk

mengubah perilaku peserta didik yang meliputi kecakapan, keterampilan, sikap,

watak, minat yang kemudian akan mengubah aspek kognitif, afektif, dan juga

psikomotor peserta didik.

Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori behavioristik, teori

kognitivistik, dan teori konstruktivistik. Teori behavioristik digunakan sebagai

dasar dalam merubah tingkah laku siswa yang pada mulanya pasif, setelah

menerapkan model pembelajaran Learning Start with a Question diharapkan

siswa mampu untuk bersikap aktif dalam pembelajaran. Teori kognitivistik

digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan pengetahuan siswa. Sedangkan

teori kons-truktvistik digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan

pengalaman siswa dalam menerima pengetahuan dan menekankan pada kegiatan

siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri serta menemukan jawaban

terhadap masalah yang dihadapi melalui diskusi kelompok.

[Link] Alasan Pemilihan Model Learning Start with a Question Berbantuan

Media Audiovisual dalam Pembelajaran IPS

Model pembelajaran Learning Start with a Question salah satu model

pembelajaran aktif yang menekankan pada peran aktif siswa dalam pembelajaran,

khusunya pada kegiatan bertanya. Dengan antusiasme siswa dalam kegiatan


60

bertanya tersebut, diharapkan siswa akan mampu untuk berpikir kritis dan selalu

memiliki rasa ingin tahu terhadap pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan

tersebut. Selain itu, model ini juga melatih siswa untuk dapat saling berinteraksi

dengan teman lain karena model ini menuntut siswa untuk bekerja secara

kelompok yang menjadikan siswa dapat bertukar pikiran dengan teman sekelom-

poknya.

Pembelajaran dengan Learning Start with a Question dapat mendorong

siswa untuk berani mengemukakan pertanyaan dan pendapat dalam pembelajaran,

khususnya pada mata pelajaran IPS. Pembelajaran IPS diharapkan dapat menjadi

pembelajaran yang tidak hanya menuntut siswa sebagai peserta didik yang pasif

dan hanya mendengarkan saja, namun juga mampu untuk menjadikan siswa aktif

dan juga memberikan pengalaman belajar yang mampu membangun pengetahuan

dan juga pemahaman dari peserta didik.

Dalam pembelajaran ini guru memadukan model pembelajaran Learning

Start with a Question dengan media audiovisual, sehingga pembelajaran akan

lebih menarik bagi siswa dan dapat lebih bermakna. Dengan pembelajaran

meggunakan model dan media tersebut, siswa akan lebih mudah dalam menerima

dan memahami materi tentang usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan

materi sejarah lainnya.

Uraian tersebut merupakan alasan pemilihan model Learning Start with a

Question yang dipadukan dengan media audiovisual dalam pembelajaran IPS

materi pokok usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pembelajaran yang

diterapkan peneliti juga disesuaikan dengan teori belajar yang sesuai dengan
61

tingkat perkembangan dan karakteristik siswa kelas VB SDN Karangayu 02

Semarang.

[Link] Langkah-Langkah Penerapan Model Learning Start with a Question


Berbantuan Media Audiovisual
Langkah-langkah pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini

merupakan perpaduan dari pendekatan scientific, model Learning Start with a

Question, dan media audiovisual yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti

(EEK/Elaborasi, Eksplorasi, dan Konfirmasi), serta kegiatan akhir. Langkah-

langkah tersebut adalah sebagai berikut:

a. Siswa berkelompok secara berpasangan (elaborasi, mengumpulkan informasi)

b. Siswa secara berkelompok mendapatkan bahan bacaan tentang tokoh dalam

usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia (elaborasi, mengamati)

c. Siswa diminta untuk membaca dengan seksama bahan bacaan yang telah diba-

gikan (eksplorasi, mengamati dan menalar)

d. Siswa memberikan tanda pada hal-hal yang belum dipahami dalam bahan

bacaan yang telah dibagikan oleh guru (eksplorasi, mengumpulkan informasi

dan menalar)

e. Secara berpasangan siswa diminta untuk membuat pertanyaan tentang hal-hal

yang belum dipahami (eksplorasi, mengumpulkan informasi dan menanya)

f. Siswa menuliskan pertanyaan yang akan diajukan kepada guru berkenaan

dengan materi yang telah dipelajari (eksplorasi, mengumpulkan informasi,

menanya, dan menalar)


62

g. Siswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka buat secara

berkelompok (elaborasi, mengumpulkan informasi)

h. Pertanyaan yang telah dikumpulkan oleh siswa, dipilah dan dipilih mana yang

dianggap urgent dalam materi tokoh dalam usaha mempersiapkan kemer-

dekaan Indonesia kemudian pertanyaan tersebut diajukan kepada para siswa

(elaborasi, mengumpulkan informasi)

i. Siswa mengamati video mengenai tokoh dalam usaha mempersiapkan kemer-

dekaan Indonesia yang ditampilkan guru (eksplorasi, menalar dan mengum-

pulkan informasi)

j. Siswa memperhatikan penyampaian materi oleh guru, yang mana guru men-

jawab pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan siswa melalui penyajian

materi dengan media audiovisual (elaborasi, mengumpulkan informasi)

k. Siswa mengerjakan LKS yang diberikan guru tentang tokoh dalam usaha

mempersiapkan kemerdekaan Indonesia secara berpasangan (eksplorasi,

mengumpulkan informasi dan menalar)

l. Salah satu siswa dari setiap kelompok diminta untuk menyampaikan hasil dis-

kusi di depan kelas (eksplorasi, mengkomunikasikan)

m. Siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu untuk mengetahui tingkat

pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari.

n. Guru memberikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya berdasarkan

refleksi yang telah dilakukan guru.

2.2 Kajian Empiris


63

Penelitian ini didasarkan pada jurnal hasil penelitian yang sudah dilakukan

terhadap model Learning Starts With A Question berbantuan audiovisual dalam

meningkatkan pembelajaran. Adapun hasil penelitian tersebut adalah:

Penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan

Menggunakan Model Pembelajaran Learning Start with a Question pada Mata

Pelajaran IPA Kelas V SD Negeri 101869 Batang Kuis Tahun Pelajaran

2012/2013” yang dilakukan oleh Ratna Dewi Pasaribu di kelas V SD Negeri

101869 Batang Kuis. Penelitian dilaksanakan 2 siklus dengan menerapkan model

Learning Start with a Question yang menunjukkan adanya peningkatan pada

hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA. Hal tersebut ditunjukkan dengan

terjadinya peningkatan hasil belajar siswa kelas V pada pembelajaran IPA di SD

Negeri 101869 Batang Kuis dengan strategi pembelajaran Learning Start with a

Question. Hal ini dibuktikan pada siklus I diperoleh prosentase ketuntasan

mencapai 50% dan prosentase ketuntasan pada siklus II meningkat menjadi

92,11%. Dengan memperhatikan hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas

siswa, kinerja guru dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model Learning

Start with a Question berhasil diterapkan.

Penelitian yang dialkukan oleh Resty Meidina dengan judul “Pengaruh

Metode Pembelajaran Learning Starts with a Question (LSQ) terhadap Hasil

Belajar Mata Pelajaran IPS Kelas IV di MIN 15 Bintaro. Setelah dilakukan

pengujian hipotesis dengan menggunakan teknik Paired Sample TTest diperoleh

simpulan bahwa terdapat pengaruh Pengaruh Metode Pembelajaran Learning

Starts With A Question (LSQ) Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS.
64

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Metode Pembelajaran

Learning Starts With A Question (LSQ) Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran

IPS Kelas IV di MIN 15 Bintaro.

Penelitian yang dilakukan oleh Intan Guspita, Yusrizal, dan Erwinsyah

Satria mahasiswa PGSD FKIP Universitas Bung Hatta pada siswa kelas V SD

Negeri 23 Lolong Kecamatan Padang Utara dengan judul “Peningkatan Aktivitas

Belajar Siswa dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan Menggu-

nakan Strategi Learning Starts With A Question di Kelas V SD Negeri 23

Lolong Kecamatan Padang Utara” menunjukkan bahwa langkah penerapan

model Learning Start With A Question dapat meningkatkan aktivitas belajar

siswa dalam membaca bahan bacaan, menulis pertanyaan, dan menjawab

pertanyaan. Peningkatan aktivitas membaca bacaan pada pembelajaran IPS di SD

Negeri 23 Lolong kecamatan Padang Utara mengalami peningkatan dari siklus I

sebesar 50% dan meningkat menjadi 100% pada siklus II. Peningkatan aktivitas

menulis pertanyaan pada pembelajaran IPS di SD Negeri 23 Lolong kecamatan

Padang Utara mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 40% dan meningkat

pada siklus II dengan rata-rata persentase sebesar 92,5%. Terjadi peningkatan

aktivitas belajar siswa kelas V pada pembelajaran IPS di SD Negeri 23 Lolong

kecamatan Padang Utara dengan model pembelajaran Learning Starts with a

Question pada indikator menjawab pertanyaan pada siklus I dengan rata-rata

skor persentase sebesar 35,5% dan meningkat pada siklus II mencapai 80%.

Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mailiza Nopera

mahasiswa PGSD FKIP Universitas Bung Hatta pada siswa kelas IV SDN 20
65

Kurao Pagang dengan judul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

Kelas IV pada Pembelajaran PKn melalui Model Learning Start With A

Question di SDN 20 Kurao Pagang” menunjukkan bahwa langkah penerapan

model Learning Start With A Question dapat meningkatkan aktivitas diskusi,

aktivitas merangkum, dan hasil belajar siswa kelas IV pada pembelajaran PKn.

Peningkatan persentase aktivitas diskusi pada siklus I sebesar 53,56% ke siklus II

sebesar 76,18% dengan demikian terdapat peningkatan 22,62%. Peningkatan

aktivitas merangkum materi pelajaran pada pembelajaran PKn dengan model

Learning Start With A Question di SDN 20 Kurao Pagang mengalami

peningkatan dari siklus I sebesar 54,75% ke siklus II sebesar 74,99% dengan

demikian terdapat peningkatan 20,24%. Peningkatan hasil belajar siswa kelas IV

pada pembelajaran PKn melalui model Learning Start With A Question di SDN

20 Kurao Pagang mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 84,11% ke siklus

II sebesar 87,95% dengan demikian terdapat peningkatan 3,84%.

Penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Utami Julianto mahasiswa PGSD

FIP Universitas Negeri Surabaya pada siswa kelas V SDN Panjunan dengan

judul “Penggunaan Media Audio Visual untuk Meningkatkan Pemahaman

Konsep Siswa di Sekolah Dasar” menunjukkan bahwa langkah penerapan media

audiovisual dapat meningkatkan pemahaman konsep, aktivitas guru dan siswa,

serta respon siswa kelas V pada pembelajaran IPA. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa hasil pemahaman konsep siswa mengalami peningkatan yaitu dari 71,43%

pada siklus I menjadi 82,86% pada siklus II. Aktivitas guru mengalami

peningkatan yaitu dari 74,52% pada siklus I menjadi 84,62% pada siklus II.
66

Aktivitas siswa mengalami peningkatan yaitu dari 74,71% pada siklus I menjadi

81,27% pada siklus II. Respon siswa mengalami peningkatan yaitu dari 82,54%

pada siklus I menjadi 88,57% pada siklus II.

Penelitian yang dilakukan oleh Kiki Pervita Kusuma, mahasiswa

Univesitas Negeri Semarang dengan judul “Peningkatan Kualitas Pembelajaran

IPS Melalui Giving Question And Getting Answer Berbantuan Video

Pembelajaran Kelas V SDN Mangkangkulon 02 Kota Semarang” menunjukkan

peningkatan dalam setiap variabel dalam setiap siklusnya. Tingkat pencapaian

keterampilan guru di siklus I adalah 72,22% dengan kualifikasi baik, siklus II

sebesar 83,33% dengan kualifikasi baik, dan siklus III sebesar 91,66% dengan

kualifikasi sangat baik. Tingkat pencapaian aktivitas siswa di siklus I adalah

69,70 % dengan kualifikasi baik, siklus II sebesar 77,94% dengan kualifikasi

baik, dan siklus III sebesar 86,02% dengan kualifikasi sangat baik. Tingkat

pencapaian hasil belajar siswa di siklus I adalah 73,52% dengan kualifikasi baik,

siklus II sebesar 79,41% dengan kualifikasi baik, dan siklus III sebesar 85,29%

dengan kualifikasi sangat baik.

Penelitian dengan judul “Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA Melalui

Model Inkuiri Berbasis Audiovisual pada Siswa Kelas V SD Negeri Tambakaji

03 Semarang” oleh Fembriani mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Hasil

penelitian menunjukkan: (1) Keterampilan guru siklus I mendapatkan skor 26

kategori cukup, pada siklus II skor 32 kategori sangat baik, dan siklus III

meningkat dengan skor 39 kategori sangat baik. (2) Aktivitas siswa siklus I

mendapatkan skor 15.3 kategori cukup, pada siklus II skor 19.22 kategori baik,
67

dan siklus III meningkat dengan skor 24.5 kategori sangat baik. (3) Ketuntasan

belajar klasikal siswa siklus I 60% meningkat pada siklus II menjadi 77,5%, dan

meningkat pada siklus III menjadi 87,5%.

Penelitian dengan judul “Penggunaan Model Learning Start With A

Question dan Self Regulated Learning pada Pembelajaran Kimia”, yang

dilakukan oleh Eko Budi Susatyo, Sri Mantini Rahayu S., Restu Yuliawati

menunjukkan bahwa dengan teknik cluster random sampling diperoleh sampel

kelas XI PSIA-1 yang berjumlah 41 siswa (kelompok eksperimen 1) yang belajar

menggunakan model LSQ dan kelas XI PSIA-2 yang berjumlah 42 siswa

(kelompok eksperimen 2) yang belajar menggunakan model SRL. Hasil uji t

pada uji dua pihak nilai post test diperoleh thitung = 4,144 dan untuk α = 5% dan

dk= (41+42-2)= 81 diperoleh t(0,975)(81)= 1,994. Karena thitung ≥ t(0,975)(81)

maka H0 ditolak, hal ini berarti ada perbedaan hasil belajar antara kelompok

eksperimen 1 dengan kelompok eksperimen 2. Pada uji t satu pihak diperoleh

thitung = 4,144 dan untuk α = 5% dan dk= (41+42-2)= 81 diperoleh t(0,95)(81)=

1,665. Karena thitung t(0,95)(81) maka H0 ditolak, hal ini menunjukkan bahwa

hasil belajar kimia siswa yang belajar menggunakan model LSQ lebih baik

daripada siswa yang belajar menggunakan model SRL. Vol . 3 No.1, 2009, hlm
406-412

Penelitian dengan judul “The Selection and Evaluation of Audio-Visual

Media for Supporting Learners with Behavioural Problems (LBP)” yang dilaku-

kan oleh Bruce Donovan Calder di kelas 10 dan 12 di SMA Pietermaritzburg

menunjukkan peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Penelitian yang

dilaksanakan dengan menerapkan media audiovisual menunjuk-kan adanya


68

peningkatan aktivitas siswa dalam memecahkan masalah dan dapat lebih berpikir

kritis.

Penelitian yang dilakukan oleh Mohd. Salleh Abu, Zaid Zainal Abidin

yang berjudul “Improving the Levels of Geometric Thinking of Secondary

School Students Using Geometry Learning Video based on Van Hiele Theory”.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada siswa sekolah menengah

pertama terjadi perbedaan yang signifikan terhadap nilai rata-rata siswa sebelum

dan sesudah penelitian. Setelah dilakukan penelitian dengan pre tes dan post tes,

rata-rata hasil belajar siswa meningkat secara signifikan serta sebagian siswa

mengalami kemajuan yang pesat dalam memecahkan masalah geometri.

Penelitian yang dilakukan oleh Javier Fombona dan Maria Angeles

Pascual dari University of Oviedo, Spanyol dengan judul “Audiovisual Resources

in Formal and Informal Learning: Spanish and Mexican Students Attitudes”

menunjukkan bahwa siswa lebih tertarik pada media yang atraktif dan

menyajikan berbagai macam gambar dengan kecepatan penyajian yang berbeda.

Dengan penyajian gambar dan kecepatan penyajian gambar yang beragam,

materi pelajaran akan lebih mudah untuk dipahami oleh siswa.

Penelitian di atas dijadikan pendukung bagi peneliti untuk melakukan

penelitian dengan judul “Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS dengan Model

Learning Start with a Question Berbantuan Media Audiovisual Siswa Kelas VB

SDN Karangayu 02 Semarang”

2.3 Kerangka Berpikir


69

Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan oleh peneliti dan kola-

borator ditemukan masalah mengenai kualitas pembelajaran IPS belum optimal-

nya pembelajaran yang dilakukan, sehingga hasil belajar siswanya masih rendah

di kelas VB SDN Karangayu 02. Setelah dianalisis hal tersebut terjadi karena

beberapa faktor, baik dari guru, siswa, maupun media yang tersedia kurang

mendukung proses pembelajaran. Dalam pembelajaran, guru sudah cukup baik

dalam menyampaikan materi, namun penyampaian materi masih menggunakan

model pembelajaran yang monoton sehingga materi pembelajaran kurang terserap

dengan baik oleh siswa dan siswa juga cepat merasa bosan. Faktor siswa

menunjukkan bahwa siswa kurang antusias terhadap pembelajaran yang diberikan

guru, siswa kurang memahami secara keseluruhan apa yang telah disampaikan

guru. Rasa ingin tahu siswa terhadap materi pembelajaran masih rendah, sehingga

antusiasme siswa dalam bertanya masih sangat rendah. Sedangkan dari faktor

media juga kurang maksimal. Penyampaian yang sudah cukup baik dari guru

kurang didukung dengan penggunaan media yang menarik dan membuat siswa

antusias dalam belajar.

Berdasarkan masalah tersebut, peneliti bersama kolabolator berencana

menerapkan model Learning Start with a Question berbantuan media audiovisual

sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Model Learning Start with a

Question berbantuan media audiovisual dianggap cocok dan tepat sebagai

solusinya.

Diharapkan dengan penerapan model Learning Start with a Question

berbantuan media audiovisual dapat memudahkan penyampaian materi dan


70

menarik perhatian siswa dapat aktif dalam pembelajaran, bekerjasama, bertang-

gung jawab, disiplin, dan saling menghargai satu sama lain.

Berikut ini adalah bagan kerangka berpikir yang akan diterapkan oleh

peneliti dalam penelitian di kelas VB SDN Karangayu 02:

Kondisi Awal
Keterampilan guru dalam pembelajaran IPS
1. Guru kurang maksimal dalam mengkondisikan kelas
2. Guru kurang maksimal dalam penggunaan media pembelajaran di kelas
Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS
1. Kurangnya antusias terhadap pembelajaran yang diberikan guru
2. Kurang memahami secara keseluruhan apa yang telah disampaikan guru.
3. Kurangnya keingintahuan siswa dalam memahami materi pembelajaran
Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS
26 siswa dari 37 siswa (70,26%) mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM), yaitu 62.
Tindakan
Dengan menerapkan model Learning Start with a Question berbantuan media audiovisual yang
telah dimodifikasi dalam pembelajaran IPS sebagai berikut.
1. Guru membagi siswa ke dalam kelompok secara berpasangan.
2. Guru mendistribusikan handout berisikan materi pembelajaran yang sudah dipilih oleh guru.
3. Siswa diminta untuk mempelajari materi tersebut dengan seorang teman/berpasangan.
4. Guru meminta pasangan tersebut untuk mengidentifikasi apa yang tidak mereka mengerti
dengan memberi tanda pada poin-poin yang tidak mereka mengerti.
5. Siswa diminta untuk mengajukan pertanyaan yang telah mereka tentukan kepada guru.
6. Guru menampung setiap pertanyaan yang diajukan oleh siswa.
7. Guru mengajar dengan cara menjawab pertanyaan siswa dengan memutarkan video maupun
sound slide yang telah disiapkan guru dan sesuai dengan materi yang telah dipelajari siswa.
8. Siswa bersama dengan kelompoknya diminta untuk membuat ringkasan tentang jawaban dari
pertanyaan yang diajukan
9. Setelah selesai membuat ringkasan, guru meminta setiap kelompok untuk menyampaikan
jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan.
10. Tiap kelompok menyampaikan hasil pekerjaannya di depan kelas.
11. Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan.
Kondisi Akhir
1. Keterampilan guru dalam menerapkan model Learning Start with a Question berbantuan
media audiovisual pada siswa kelas VB SDN Karangayu 02 meningkat dengan kategori
minimal baik, sekurang-kurangnya 23 ≤ skor < 31.
2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS materi pokok perjuangan mempersiapkan
kemerdekaan Indonesia pada siswa kelas VB SDN Karangayu 02 meningkat dengan kategori
minimal baik, sekurang-kurangnya 18 ≤ skor < 24.
71

3. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas VB SDN Karangayu 02
mengalami ketuntasan individu ≥ 62 dan ketuntasan klasikal sekurang-kurangnya = 65%.
Bagan 2.1
Kerangka berpikir penelitian
2.4 HIPOTESIS TINDAKAN
Model Learning Start with a Question berbantuan media audiovisual dapat
meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran IPS kelas VB SDN Karangayu 02.

Anda mungkin juga menyukai