0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan21 halaman

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Makalah ini membahas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam konteks pendidikan Islam, dengan merujuk pada hadis Nabi Muhammad sebagai sumber metodologi. PBL dianggap efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa, serta relevan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya metode dalam pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi konsep PBL dan keterkaitannya dengan hadis Nabi dalam konteks pendidikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan21 halaman

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Makalah ini membahas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam konteks pendidikan Islam, dengan merujuk pada hadis Nabi Muhammad sebagai sumber metodologi. PBL dianggap efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa, serta relevan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya metode dalam pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi konsep PBL dan keterkaitannya dengan hadis Nabi dalam konteks pendidikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

(KAJIAN PENDEKATAN HADIST)

Makalah

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Nilai


Mata Kuliah Hadist Tematik Pada Program Studi Doktor
Dirasah Islamiyah Konsentrasi Pendidikan dan Keguruan
Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Oleh:
HERYANTI ALAMSYAH
NIM.80100323139

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. H. Ambo Asse, [Link].

Dr. H. Muhammad Yahya, [Link].

PROGRAM DOKTOR PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2024

ii
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat,
taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah
disusun sebagai sebuah tugas untuk matakuliah Hadist Tematik pada pascasarjana
Universitas Alauddin Makassar (UIN Alauddin) dengan jurusan Pendidikan dan
Keguruan. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang senantiasa kita pedomani dalam menjalankan rutinitas
keseharian kita.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan dan kritikan yang
konstruktif untuk kesempurnaan makalah ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, [Link].
dan Dr. H. Muhammad Yahya, [Link]. selaku dosen pengampu mata kuliah Hadist Tematik.
Terima kasih pula kepada rekan-rekan yang telah memberikan masukan untuk
kesempurnaan makalah ini.

Makassar, Maret 2024


Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar …………………......……………………………………………...................... i


Daftar Isi …………………………………………………………………….................................. ii
BAB I Pendahuluan ………………………………………………………............................ 1
A. Latar Belakang ………………………………………………………................................... 1

B. Rumusan Masalah ……………………………………………………................................ 2

C. Tujuan …………………………………………………………………...................................... 2

BAB II Pembahasan ………………………………………………………............................ 3

A. Model Problem Based Learning ; Kajian Teori.............................…………….... 3

B. Hadist Nabi tentang Model Problem Based 5


Learning......................................

C. Teks Hadits dan Takhrij al Hadits tentang Model Problem Based 8


Learning .................................................................................................................................

D. Keterkaitan Model Problem Based Learning dengan hadist ..................... 10

BAB III Penutup ……………………………………………………………........................... 15


A. Kesimpulan …………………………………………………………..................................... 15
B. Saran …………………………………………………………………...................................... 15
Daftar Pustaka ………………………………………………………………............................. 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Nabi Muhammad dianggap sebagai contoh dan berhasil dalam berdakwah karena
dia dapat menyampaikan pesan dengan cara yang tepat. Metode pendidikan Islam
mendapat perhatian yang sangat besar. Al Qur'an dan hadis, yang berfungsi sebagai
sumber ajaran Islam, mengandung arahan dan prinsip-prinsip yang dapat digunakan
sebagai konsep dalam pembelajaran. Karena metode adalah komponen penting dalam
memberikan pengetahuan kepada siswa, yang memungkinkan proses internalisasi dan
aktualisasi pengetahuan. Bahkan ada pepatah Arab yang mengatakan bahwa at thariqah
ahammu minal maadah, yang berarti bahwa metode lebih penting daripada materi. Hal
ini sesuai dengan teori pembelajaran bahwa materi yang disampaikan oleh seorang
guru tidak akan diserap jika tidak dikemas dengan metode yang tepat. 1
Metode adalah pendekatan yang dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan
materi pelajaran. Kata ini tidak hanya berarti "metode", tetapi juga berarti "jalan", yaitu
suatu cara yang dapat ditempuh untuk menyampaikan pelajaran.
Jadi, metode pembelajaran adalah perencanaan yang mencakup kumpulan kegiatan
yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Model pembelajaran dalam proses pembelajaran berperan sangat penting bagi
guru dalam mengantarkan peserta didik menuju gerbang pencerahan dan kemandirian
dalam melepaskan diri dari belenggu kebodohan, kemerosotan moral dan beragama,
karena pembelajaranan sejatinya tidak saja mengajarkan apa yang belum di ketahui
oleh peserta didik dalam bentuk pengetahuan namun mengajarkan juga bagaimana
proses pengetahuan itu bisa terjadi (how to learn) serta nilai-nilai (value) dalam
kehidupan dan agama.
Muhammad adalah guru terbaik. Mendapatkan predikat tersebut harus dibarengi
dengan penggunaan pendekatan dakwah Islam yang tepat. Oleh karena itu, dapat

1 Arofatul Muawanah, ‘Metode Learning By Doing Dalam Hadis Nabi’, Journal TA’LIMUNA, 12.1

(2023), 39–51 <[Link]

1
dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah contoh terbaik dalam menerapkan
pembelajaran. Hadis Nabi menunjukkan banyak konsep dasar model pembelajaran yang
sangat relevan untuk diterapkan di zaman sekarang. Salah satu model pembelajaran ini
adalah problem based learning.
Di zaman modern, banyak institusi pendidikan mulai menggunakan metode
pembelajaran model ini karena sangat erat kaitannya dengan keterampilan dan potensi
yang harus dimiliki siswa, seperti berpikir kritis, berkomunikasi, kreatif, dan bekerja
sama. Para ahli menyatakan bahwa teknik ini termasuk salah satu yang terbaik untuk
meningkatkan keterampilan. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana konsep model problem based learning dengan melakukan ala
Rasulullah dapat digunakan sebagai contoh, khususnya dalam dunia pendidikan Islam.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah pengertian model pembelajaran Problem Based Learning dan langkah-
langkahnya?
2. Bagaimana hadist – hadist Nabi tentang Pembelajaran Model Problem Based
Learning?
3. Bagaimana Teks Hadits dan Takhrij al Hadits tentang Model Problem Based
Learning ?
4. Apakah ketertakaitan antara model Problem Based Learning (PBL) dengan hadist ?

C. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah

1. Untuk mengetahui defenisi Model Pembelajaran Based Learning dan langkah-

langkahnya secara kajian teori.

2. Untuk mendeskripsikan hadist-hadist nabi tentang Model Problem Based Learning

3. Untuk mengetahui Teks Hadits dan Takhrij al Hadits tentang Model Problem

Based Learning

4. Untuk mengetahui keterkaitan antara model Problem Based Learning (PBL)

dengan hadist nabi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Model Problem Based Learning ; Kajian Teori

Model Pembelajaran yang membentuk konsep berpikir tingkat tinggi dan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik saaat ini, yaitu pembelajaran yang menjadikan masalah
sebagai media utamanya, dan masalah yang disampaikan kepada peserta didik adalah
masalah yang autentik dan bermakna. Dengan pendekatan ini memberikan peluang bagi
siswa untuk melakukan penelitian dengan berbasis masalah nyata dan autentik. Apabila
terbentuk kebiasaan ini, maka kemampuan berpikir tingkat tinggi akan mudah
terbentuk dan menjadi kebiasaan bagi siswa dalam kehidupannya.
John Dewey mendorong guru untuk melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan
yang berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki berbagai masalah sosial
dan intelektual yang signifikan, karena dia menganggap sekolah sebagai representasi
masyarakat dan kelas sebagai laboratorium untuk penyelidikan dan pengentasan
masalah kehidupan nyata. John Dewey dan murid-muridnya berpendapat bahwa
pembelajaran sekolah harus memiliki tujuan yang jelas (purposeful), tidak abstrak, dan
berpusat pada masalah. Filosofi pembelajaran berbasis masalah, yang menekankan
pada fakta-fakta konkret yang harus dipelajari siswa untuk menjadi pengetahuan yang
berguna, sangat erat kaitannya dengan pemikiran John Dewey tersebut. Pembelajaran
menjadi menarik bagi siswa karena keterlibatan langsung mereka dalam mempelajari
berbagai jenis data dan informasi yang nyata. Donald Woods McMaster merupakan
orang yang pertama kali yang memperkenalkan istilah Problem Based Learning, dan
universitas McMaster merupakan institus kedokteran yang memperkenalkan Problem
Based Learning dalam dunia pendidikan. 2
Saefudin menyatakan Problem based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis
masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah
kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Sedangkan menurut
Munir menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan

2 Suriansyah and Aslamiah, dkk, Strategi Pembelajaran

3
pembelajaran yang dipercaya sebagai vehicle (kendaraan atau alat) untuk
mengembangkan higher order thinking skills. Melalui proses pembelajaran berbasis
masalah siswa dipersiapkan untuk mampu menjadi mandiri dalam berpikir dan
mencari alternatif pemecahan masalah secara rasional, siswa mampu membangun
pemahamannya tentang realita dan ilmu pengetahuan dengan merekonstruksi sendiri
makna melalui pemahaman pribadinya.3
Menurut Muslimin dalam Boud dan Felleti, pembelajaran Problem Based
Learning adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan peserta didik untuk
mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, serta
menjadi peserta didik yang mandiri. Problem Based Learning tidak dirancang untuk
membantu pendidik memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya, akan tetapi
pembelajaran ini dikembangkan untuk membantu peserta didik mengembangkan
kemampuan berpikir, memecahkan masalah, keterampilan intelektual, belajar berbagai
pengalaman nyata, dan menjadi pembelajaran yang mandiri.4
Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa Problem
based learning adalah suatu model pembelajaran yang menitik beratkan masalah dalam
kehidupan sebagai media utamanya, yang kemudian peserta didik diarahkan untuk
mencari solusi atau jalan keluar dari permasalahan tersebut, dengan menggunakan
pendekatan ilmiyah . sehingga peserta didik menjadi objek pembelajaran, dan
menjadikan peserta didik menjadi aktif, kreatif dan inovatif. Peserta didik dilatih untuk
mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, mengasah keterampilan
intelektual, belajar berbagai pengalaman nyata, dan menjadi pembelajaran yang
mandiri.
Dalam pandangan Islam masalah merupakan satu keniscayaan bagi pemeluknya,
karena Allah SWT tidak mejadikan seorang muslim menjadi muslim sejati kecuali ia
dapat melalui berbagai masalah/ujian yang sudah menjadi ketentuannya, banyak ayat
di dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang ujian / masalah diantaranya firman Allah
SWT dalam Q.S al- Ankabut ayat 2.
َ َ َ َّ ٰ َ َ َّ َ َ
﴾ ٢ ‫﴿ اح ِس َب الناس ان ُّيت َركوْٓا انَّيقولوْٓا ا َمنا َوهم لا يفتنون‬

3Suriansyah and Aslamiah, dkk, Strategi Pembelajaran


4Novita, “Efektivitas Model Problem Based Learning pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar di SMA Negeri 1 Pandaan.”

4
Artinya : Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya
dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?
Pembelajaran dengan model demikian dianggap mampu mengembangkan
keterampilan berfikir dan memecahkan masalah serta intelektual peserta didik. Selain
itu juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami kehidupan
sosial secara nyata melalui berbagai permasalahan autentik. Pembelajaran model ini
juga diharapkan mampu mengembangkan kemandirian (autonomi) peserta didik
sehingga mereka dapat belajar sesuai dengan kemampuan, tempat dan waktu yang
mereka tentukan sendiri. Dengan demikian melalui pembelajaran model ini peserta
didik akan memperoleh pengalaman belajarnya sendiri, dan tentu itu akan lebih
bermakna bagi peserta didik.
Menurut Paul Eggen & Don Kauchak yang dikutip oleh Nurdiansyah 5

pembelajaran berbasis masalah memiliki tiga karakteristik yaitu: Pertama, pelajaran


berawal dari masalah dan memecahkan masalah adalah fokus pelajarannya. Kedua,
siswa bertanggung jawab untuk menyusun strategi dan memecahkan masalah. Ketiga,
guru menuntun upaya siswa dengan mengajukan pertanyaan dan memberi dukungan
pengajaran lain saat siswa berusaha memecahkan masalah.
Adapun Pola Problem Based Learning adalah: (1) orientasi siswa pada masalah; (2)
mengorganisasi siswa untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan individual ataupun
kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan (5) menganalisis dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah. 6 Tentu, masalah pada PBL berbeda dengan
“masalah” pada pengajaran berbasis masalah versi Hadis Tarbawi. Selain itu, langkah
penerapannya juga pasti berbeda. Namun demikian, keduanya tetap mengedepankan
satu hal, yaitu masalah. Pengajaran dan pembelajaran dengan mengedepankan masalah
sebagai basisnya ini telah terbukti efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

B. Hadist Nabi tentang Model Problem Based Learning


Hadis Nabi sebagai dasar atau sumber hukum Islam kedua setelah Al Qur‟an
menjadikan peranannya sangat urgen. Pemahaman terhadap Al-Qur‟an tidak akan lepas

5Op-cit, hal 135


6Bandingkan dengan B. R. Belland, “Portraits of Middle School Students Constructing Evidence-
Based Arguments during Problem-Based Learning: The Impact of Computer-Based Scaffolds,”
Educational Technology Research and Development 58 (2010): 285–309.

5
dari peranan hadis itu sendiri. Kedudukan hadis sebagai penjelas Al-Qur‟an (mubayyin
al-Qur’ān) menjadi menarik untuk dikaji, karena penyebaran hadis dilakukan sesuai
pembelajaran Rasulullah kepada para sahabatnya (muridnya). Menyebarkan ilmu
(hadis) menjadi kewajiban setiap umat, jika tidak maka syariat Islam akan mandeg
hanya sebatas periode Nabi.
Dalam kitab Jāmi‘ bayān al-‘ilm wa faḍlihi karya Ibn ‘Abd al-Barr, terdapat bab ṭarḥ al-
‘ālim al-mas’ala ‘ala al-muta‘allim (pengajuan masalah oleh guru kepada murid), yang
berisi tiga hadis Nabi SAW dan tiga riwayat dari tabiin, yakni Sa‘īd b. al-Musayyab,
sebagai pelengkap. Di sini penulis akan menyajikan eksistensi hadis dan riwayat yang
dimaksud dengan pendekatan takhrīj sederhana untuk mengetahui otentisitas dan
validitasnya. Hadis dan riwayat yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Pertama, hadis riwayat Mu‘ādh b. Jabal, sebagai berikut.
ُِ ‫الر َّزا‬
ُ‫ق نا‬ َّ ُ‫عبْد‬ َُ ‫ََُِِِّ بْنُ م َح َّمدُ نا أ َ ْح َم ُد بْنُ خَالِدُ نا إِ ْس َحاقُ بْنُ إِب َْراه‬
َ ‫ِيم نا‬ ِ ‫عبْدُ الل‬ َ ُ‫َحدَّثَنَا َخلَفُ بْن‬
َ ‫ نا‬:ُ‫سعِيد‬
َ ََُِِِّ‫صلَّى الل‬
ُ‫علَ ْي ِه‬ َ ِ‫ي‬
ُ ‫ب‬ َُ ‫ ك ْنتُ ِرد‬:‫ل‬
ُِ َّ‫ْف الن‬ َُ ‫ْن َجبَلُ قَا‬
ُِ ‫ن معَا ُِذ ب‬ ُْ ‫ع‬
َ ،‫ْن َميْمون‬ ُِ ‫ع ْم ِرو ب‬
َ ‫ن‬ َ ، َ‫ن ُأ َبِي إِ ْس َحاق‬
ُْ ‫ع‬ ُْ ‫ع‬َ ،‫َم ْع َم ٌر‬
َُ‫سلَّ َُم فَقَال‬
َ ‫ َو‬: « ‫اس‬ ُ ِ َّ‫علَى الن‬
َ ََُِِِّ
ِ ‫ق الل‬ ُُّ ‫ح‬َُ ‫ل تَد ِْري يَا معَاذُ َما‬ُْ ‫ل »؟ُ َه‬ َُ ‫ قَا‬،‫ اللََُِِِّ َو َرسولهُ أ َ ْعلَم‬:ُ‫ ق ْلت‬: « ‫ن‬ ُْ َ ‫علَ ْي ِه ُْم أ‬
َ ُ‫َحقُّه‬
ِ ‫علَى الل‬
َُ‫ََُِِِّ ِإذَا فَ َعلوا ذَلِك‬ َ ‫اس‬ َ ‫ اللََُِِِّ »؟ يَ ْعبدوهُ َولََُِ ي ْش ِركوا ِب ُِه‬:ُ‫ ق ْلت‬:‫ل‬
ُُّ ‫ تَد ِْري يَا م َعاذُ َما َح‬،‫ش ْيئًا‬
ُ ِ َّ‫ق الن‬ َُ ‫قَا‬
ُ‫ قَا َل‬،‫ َو َرسولهُ أ َ ْعلَم‬: « ‫ن لََُِ ي َع ُِذ َبه ُْم‬
ُْ َ ‫ل أ‬
َُّ ‫عزَُ َو َج‬ ِ ‫علَى الل‬
َ ََُِِِّ ُ ِ َّ‫ق الن‬
َ ‫اس‬ َُّ ِ‫ أَلََُِ » فَإ‬، ََِِِّ
َُّ ‫ن َح‬ َُ ‫ َيا َرسو‬:ُ‫ ق ْلت‬:‫ل‬
ِ ‫ل الل‬ َُ ‫قَا‬
.» ُ‫اس؟ قَا َل‬
َ َّ‫ب شرُ الن‬
َُ ‫ أ‬: « َُ‫دَعْه ُْم يَ ْع َملون‬
Khalaf b. Sa‘īd menceritakan kepada kami: ‘Abd Allāh b. Muḥammad menceritakan
kepada kami, Aḥmad b. Khālid menceritakan kepada kami, Isḥāq b. Ibrāhīm
menceritakan kepada kami, ‘Abd al-Razzāq b. Ma‘mar menceritakan kepada kami, dari
Abū Isḥāq, dari ‘Amrw b. Maymūn, dari Mu’ādh b. Jabal, ia berkata: Aku pernah
dibonceng Nabi SAW. Beliau bertanya: “Apakah engkau tahu, wahai Mu’ādh, apa hak
Allah atas manusia?” Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Lalu beliau
bersabda: “Hak Allah atas manusia adalah bahwa mereka beribadah kepada- Nya dan
tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Tahukah engkau, wahai Mu’ādh, apa hak
manusia atas Allah jika mereka melakukan itu?” Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya
lebih tahu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak manusia atas Allah ‘azza wa jalla
adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa mereka.” Aku bertanya: Wahai Rasulullah,
bolehkah aku mengabarkan kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau menjawab:
“Biarkan mereka beramal.”
Kedua, hadis riwayat ‘Abd Allāh b. ‘Umar, sebagai berikut.

6
‫ُ َحدَّثَنَاُأَحْ َم ُد‬:‫ل‬َُ ‫اضيُ َحدَّثَه ُْمُقَا‬ ِ َ‫نُ َب ْك َُرُبْنَُُا ْل َعلََِ ءُُِا ْلق‬
َُّ َ ‫ُأ‬،‫سد‬َ َ ‫ْنُأ‬
ُِ ‫ْنُم َح َّم ُِدُب‬
ُِ ‫ََُُِِِّب‬ ِ ‫ع ْب ُِدُالل‬ َ ُ‫علَىُأ َ ِبيُم َح َّم ُِد‬َ ُُ‫َوقَ َرأْت‬
‫ْن‬
ُِ ‫ََُُِِِّب‬ ِ ‫ع ْب ُِدُالل‬َ ُ‫ن‬ ُْ ‫ع‬
َ ُ،‫ْنُدِينَار‬ ُِ ‫ََُُِِِّب‬ ِ ‫ع ْب ُِدُالل‬
َ ُ‫ن‬ُْ ‫ع‬ َ ُُ‫ْنُأَنَس‬ ُِ ‫علَىُ َمالِكُُِب‬ َ ُُ‫ُقَ َر ْأت‬:‫ل‬ ُُّ ‫يُثناُا ْلقَ ْعنَ ِب‬
َُ ‫يُقَا‬ ُُّ ُ‫ام‬ َّ ‫سىُال‬
ُِ ‫ش‬ َ ‫بْنُُمو‬
ُ‫ُقَا َل‬:‫سلَّ َُم‬ َ ََُُِِِّ‫صلَّىُالل‬
َ ‫علَ ْي ُِهُ َو‬ َ ََُُِِِّ ِ ‫لُالل‬
َُ ‫نُ َرسو‬ َُّ َ ‫ُأ‬،‫ع ْنه ْم‬
َ ََُُِِِّ‫يُالل‬
َُ ‫ض‬ ِ ‫ُع َم َُرُ َر‬:ُ«ُ‫ش َج َر ُة ًُلََُُِيَسْقطُُ َو َرق َها‬ َّ ‫نُمِ نَُُال‬
َ ُ‫ش َج ُِر‬ َُّ ِ‫إ‬
َُ ‫لُا ْلم ْسل ُِِمُ َح ُِدُثونِيُ َماُه‬
‫ِي‬ َّ ُُ‫ش َج ُِرُا ْلبَ َوادِيُ َو َوقَ َُعُفِيُنَ ْفسِيُ»؟ُ َوإِنَّ َهاُ َمثَل‬
ُِ ‫الرج‬ َ ُ‫ُفَ َوقَ َُعُالنَّاسُُفِي‬:ََُِِِّ ِ ‫عبْدُُالل‬ َ ُ‫ل‬َُ ‫قَا‬
ُ‫ُفَ َحدَّثْت‬:‫ََُُِِِّبْنُُع َم َُر‬
ِ ‫عبْدُُالل‬ َُ ‫ُقَا‬،‫ِيُالنَّ ْخلَة‬
َ ُ‫ل‬ َُ ‫ِي؟ُقَا‬
َُ ‫ُه‬:ُ‫ل‬ َ ‫ُ َماُه‬، ََِِِّ
ِ ‫لُالل‬ َُ ‫أَنَّ َهاُالنَّ ْخلَةُُقَا‬
َُ ‫ُيَاُ َرسو‬:‫ُفَا ْست َحْ يَيْتُُفَقَالوا‬:‫ل‬
ُ‫نُأ َ ْن‬ َُّ َ‫نُت َكونَُُق ْلت َ َهاُأ َ َحبُُُّ ِإل‬
ُْ ‫يُ ِم‬ َُ ‫ُقَا‬،‫ع ْنهُُ ِبالَّذِيُ َوقَ َُعُفِيُنَ ْفسِي‬
ُْ َِ ََِ‫ُل‬:ُ‫لُع َمر‬ َ ََُُِِِّ‫يُالل‬
َُ ‫ض‬
ِ ‫بُ َر‬ َّ ‫ع َم َُرُبْنَُُا ْل َخ‬
ُِ ‫طا‬
‫ َيكونَُُلِيُ َكذَاُ َو َكذَا‬.
Aku membacakan hadis kepada Abū Muḥammad ‘Abd Allāh b. Muḥammad b. Asad,
bahwasannya Bakr b. al-‘Alā’ al-Qāḍī menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aḥmad
b. Mūsā al-Shāmī menceritakan kepada kami, al-Qa‘nabī menceritakan kepada kami, ia
berkata: Aku membacakan hadis kepada Mālik b. Anas, dari ‘Abd Allāh b. Dīnār, dari
‘Abd Allāh b. ‘Umar RA, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di
antara aneka pepohonan, ada pohon yang daunnya tidak bisa jatuh, dan pohon itu
adalah perumpamaan seorang muslim. Beritahukan kepadaku, pohon apa itu?” ‘Abd
Allāh berkata: Lalu pikiran orang-orang mengarah ke pepohonan Badui, sedangkan
pikiranku mengarah bahwa itu pohon kurma. ‘Abd Allāh berkata lagi: Namun aku
merasa malu [untuk mengungkapkannya]. Orang-orang bertanya: Wahai Rasulullah,
pohon apakah itu? Beliau menjawab: “Pohon kurma.” ‘Abd Allāh b. ‘Umar berkata:
Kemudian aku menceritakan kepada ‘Umar b. al-Khaṭṭāb RA tentang arah pikiranku
tadi. ‘Umar berkata: Andai engkau mengungkapkannya, itu lebih aku sukai dari pada
begini-begitu.7
Ketiga, hadis riwayat al-Nu‘mān b. Murrah, sebagai berikut.
ُْ ‫ع‬
‫ن‬ ُّ ِ‫ َحدَّثَنَا ا ْلقَ ُْع نَب‬:‫ل‬
َ ،‫ي‬ ُِ ‫ع ْب ُِد ا ْلعَ ِز‬
َُ ‫يز قَا‬ َ ُ‫ي بْن‬
ُُّ ‫ع ِل‬ ُّ ‫ نا أ َ ْح َمدُ بْنُ م َح َّمدُ ا ْل َُم ك‬،‫ََُِِِّ بْنُ م َح َّمد‬
َ ‫ نا‬،‫ي‬ ُ َُ‫َوأ َ ْخبَ َرنَا ع‬
ِ ‫بد الل‬
ُ‫سلَّ َُم قَا َل‬ َ ََُِِِّ‫صلَّى الل‬
َ ‫علَ ْي ُِه َُو‬ َ ََُِِِّ ِ ‫ل الل‬
َُ ‫ن َرسو‬ َُّ َ ‫ أ‬،َ ‫ْن م َّرة‬ ُِ ‫ن النُّ ْع َم‬
ُِ ‫ان ب‬ ُِ ‫ع‬
َ ،‫سعِيد‬
َ ‫ْن‬
ُِ ‫ن يَ ْحيَى ب‬ ُْ ‫ع‬ َ ،‫ َمالِك‬: « ‫َما ت ََر ْونَُ فِي‬
َّ ‫ق َو‬
ُ‫الزانِي‬ ُِ ‫َّار‬
ِ ‫ب َوالس‬
ُِ ‫ار‬ َّ ‫» ال‬، ‫ل‬
ِ ‫ش‬ َُ ‫ اللََُِِِّ َو َرسولهُ أ َ ْعلَمُ قَا‬:‫ قَالوا‬،‫ل فِي ِه ْم‬ ُْ َ ‫ل أ‬
َُ ‫ن يَ ْن ِز‬ َُ ‫ َوذَلِكَُ قَ ْب‬: « ُ‫ن فَ َواحِ ش‬
َُّ ‫ه‬
َ ُ‫ َوأَس َْوأُ الس َِّرقَ ُِة الَّذِي َيس ِْرق‬،ٌ‫ن عقو َبة‬
‫ص َلَِ ت َ ُه‬ َُ ‫صلََِ ت َه؟ قَا‬
َُّ ‫ل » َوفِي ِه‬ َ ُ‫ََُِِِّ َو َكيْفُ َيس ِْرق‬ َُ ‫ َيا َرسو‬:‫ قَالوا‬: « ََُِ‫ل‬
ِ ‫ل الل‬
.» ‫ع َها َولََُِ سجودَ َهُا‬
َ ‫يتِ ُُّم ركو‬
‘Abd Allāh b. Muḥammad mengabarkan kepada kami, Aḥmad b. Muḥammad al-Makkī
menceritakan kepada kami, ‘Alī b. ‘Abd al-‘Azīz menceritakan kepada kami, ia berkata:

Rizqa Ahmadi, Miftakhul Ilmi, and Suwignya Putra, ‘Analisis Hadis Pengajaran Berbasis Masalah
7

Dengan Pendekatan Tarbawi Pendahuluan Analisis Hadis Dengan Pendekatan Tarbawi Adalah Upaya
Mendiskusikan Sistem Dan Konsep Pendidikan Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Yang Terkandung Dalam
Hadis Nabi . Artinya , Pe’, 5.1 (2021), 1–17.

7
al-Qa‘nabī menceritakan kepada kami, dari Mālik, dari Yaḥyā b. Sa‘īd, dari al-Nu‘mān b.
Murrah,
bahwasannya Rasulullah SAW bertanya: “Apa pendapat kalian tentang peminum
khamar, pencuri, dan pezina?” Pertanyaan tersebut sebelum [hukum minum khamar,
mencuri, dan berzina] turun kepada mereka. Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya
lebih tahu.” Beliau bersabda: “Itu semua adalah perbuatan keji dan ada hukumannya,
dan seburuk-buruknya pencurian adalah orang yang mencuri salatnya.” Para sahabat
bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana ia mencuri salatnya? Beliau menjawab: “Ia tidak
menyempurnakan rukuknya, dan tidak juga menyempurnakan sujudnya.8

C. Teks Hadits dan Takhrij al Hadits tentang Model Problem Based Learning
Hadist pertama diatas, Hadis riwayat Mu‘ādh ini termasuk hadis yang populer di
kalangan penulis kitab hadis. Berdasarkan penelusuran dengan menggunakan fitur
“takhrīj” pada perangkat lunak Maktabah Shāmilah, didapatkan 74 hasil penelusuran.
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Barr dalam Jāmi‘ bayān al-‘ilm wa faḍlihi.9 Selain
itu, hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhārī dalam al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ dan disebutkan
sebanyak 5 kali;10 oleh Muslim dalam al-Ṣaḥīḥ dan disebutkan sebanyak 3 kali;11 oleh al-
Tirmidhī dalam al-Sunan;12 oleh Ibn Mājah dalam al-Sunan;13 oleh Aḥmad b. Ḥanbal
dalam al-Musnad sebanyak sepuluh kali,14 dan juga diriwayatkan oleh penulis kitab
hadis lainnya. Dari takhrīj terbatas ini, bisa disimpulkan bahwa hadis riwayat Mu‘ādh
ini adalah hadis yang bernilai sahih, sebab ia diriwayatkan oleh Shaykhān (dua ulama
hadis: al-Bukhārī dan Muslim) dalam Ṣaḥīḥān (dua kitab hadis: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan
Ṣaḥīḥ Muslim), dan ditambah juga dengan popularitasnya di kalangan penulis kitab
hadis.
Hadist kedua, Hadis riwayat Ibn ‘Umar ini, tidak berbeda dengan hadis riwayat
Mu‘ādh, juga merupakan hadis yang populer di kalangan penulis kitab hadis.

8 Ahmadi, Ilmi, and Putra.


9 Ibn ‘Abd al-Barr, Jāmi‘ bayān al-‘ilm, 1: 479, no. 763.
10 Muḥammad b. Ismā‘īl al-Bukhārī, al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ ([Link]: Dār Ṭūq al-Najā, 1422 H), 4: 29, no. 2856; 7:

170, no. 5967; 7: 170, no. 5967; 8: 60 dan 105, no. 6267 dan 6500; 9: 114, no. 7373.
11 Muslim b. al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, al-Ṣaḥīḥ (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, [Link]), 1: 58, no.

30 (48-50).
12 Muḥammad b. ‘Īsā al-Tirmidhī, al-Sunan (Mesir: Sharikat Maktabat wa Maṭba‘at Muṣṭafā al-Bābī

al-Ḥallabī, 1975), 5: 26, no. 2643.


13 Ibn Mājah al-Qazwīnī, al-Sunan ([Link]: Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabī, [Link]), 2: 1435, no. 4296.
14 Aḥmad b. Ḥanbal, al-Musnad (Beirut: Mu’assasat al-Risāla, 2001), 36: 317, no. 21991 (dan

seterusnya).

8
Berdasarkan penelusuran dengan menggunakan fitur “takhrīj” pada perangkat lunak
Maktabah Shāmilah, ditemukan 69 hasil penelusuran. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn
‘Abdal-Barr dalam Jāmi‘ bayān al-‘ilm wa faḍlihi.15 Selain itu, hadis ini juga diriwayatkan
oleh al Bukhārī dalam al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ sebanyak 10 kali;16 oleh Muslim dalam al-Ṣaḥīḥ
sebanyak 3 kali;17 oleh al-Tirmidhī dalam al-Sunan;18 oleh Ibn Mājah dalam al-Sunan;19
dan oleh Aḥmad dalam al-Musnad sebanyak 8 kali,20 dan oleh banyak penulis kitab
hadis lainnya. Dari takhrīj terbatas ini, bisa disimpulkan bahwa hadis riwayat Ibn ‘Umar
ini adalah hadis yang bernilai sahih, sebab—sebagaimana hadis riwayat Mu‘ādh di
atas—ia diriwayatkan oleh Shaykhān dalam Ṣaḥīḥān, dan ditambah juga dengan
popularitasnya di kalangan penulis kitab hadis.
Hadis ketiga, Hadis riwayat al-Nu‘mān b. Murrah ini diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Barr
dalam Jāmi‘ bayān al-‘ilm wa faḍlihi;21 oleh Mālik b. Anas dalam al-Muwaṭṭa’;22 oleh ‘Abd
al-Razzāq dalam al-Muṣannaf;23 oleh al-Marwazī dalam al-Sunnah;24 oleh al-Bayhaqī
dalam al-Sunan al-kubrā25 dan Ma‘rifat al-sunan wa al-athar.26 Hadis ini berbeda dengan
dua hadis sebelumnya di atas, yakni hadis Riwayat Mu‘ādh dan hadis riwayat Ibn ‘Umar.
Jika hadis riwayat Mu‘ādh dan Ibn ‘Umar populer dan sahih, maka hadis ini terhitung
tidak populer dan bersanad mursal, yakni hadis yang perawinya setelah tabiin tidak
disebutkan. Artinya, hadis ini hanya sampai kepada al-Nu‘mān b. Murrah, dan ia adalah
seorang tabiin, bukan sahabat, sebagaimana dipastikan Abū Nu‘aym al-Aṣfahānī (w. 430
H).27 Dalam Ilmu Hadis konvensional, terlepas dari perbedaan pendapat antara ahli
hadis dan ahli fikih, hadis mursal bernilai daif. Namun demikian, matan hadis riwayat al-
Nu‘mān ini bernilai sahih, sebab ia juga diriwayatkan secara musnad (sanad tersambung

15 Ibn ‘Abd al-Barr, Jāmi‘ bayān al-‘ilm, 1: 480, no. 764.


16 Al-Bukhārī, al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ, 1: 22, 25, 38, no. 61-62, 72, 131; 3: 78, no. 2209; 6: 79, no. 4698
17 Muslim, al-Ṣaḥīḥ, 4: 2164, no. 2811 (63-64).
18 Al-Tirmidhī, al-Sunan, 5: 151, no. 2867.
19 Ibn Mājah, al-Sunan, 2: 832, no. 2489.
20 Aḥmad, al-Musnad, 8: 204, 465, no. 4599, 4859; 9: 47, 208, 464, no. 5000, 5274, 5647; 10: 170,

237, 490, no. 5955, 6052, 6468.


21 Ibn ‘Abd al-Barr, Jāmi‘ bayān al-‘ilm, 1: 480, no. 765
22 Mālik b. Anas, al-Muwaṭṭa’ (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1985), 1: 167, no. 72.
23 ‘Abd al-Razzāq b. Hammām al-Ṣan‘ānī, al-Muṣannaf (Beirut: al-Maktab al-Islāmī, 1403 H), 2:

370, no. 3740.


24 Muḥammad b. Naṣr al-Marwazī, al-Sunnah (Beirut: Mu’assasat al-Kutub al-Thaqāfiyyah, 1408

H), 95, no. 347.


25 Aḥmad b. al-Ḥusayn al-Bayhaqī, al-Sunan al-kubrā (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 8:

364, no. 16902.


26 Aḥmad b. al-Ḥusayn al-Bayhaqī, Ma‘rifat al-sunan wa al-athar (Pakistan: Jāmi‘at al-Dirāsāt al-

Islāmiyya, 1991), 12: 271, no. 16659


27 Abū Nu‘aym al-Aṣfahānī, Ma‘rifat al-ṣaḥāba (Riyad: Dār al-Waṭan, 1998), 5: 2664.

9
sampai kepada Nabi SAW) oleh Abū Sa‘īd al-Khudrī, Abū Hurayrah, dan Abū Qatādah.
Jadi, matan hadis ini tetap bisa dijadikan dasar argumentasi (ḥujja).

D. Keterkaitan Model Problem Based Learning dengan hadist

Hadis pertama, yakni riwayat Mu‘ādh b. Jabal, merupakan diskusi antara Nabi
SAW dan sahabat Mu‘ādh b. Jabal. Tentang jawaban Mu‘ādh saat ditanya Nabi SAW,
“allāh wa-rasūluhu a‘lam” (Allah dan Rasul-Nya lebih tahu)—dengan berbagai variasi
redaksinya, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī (w. 852 H/1449 M) menyatakan bahwa salah satu
pelajaran hadis riwayat Mu’ādh ini adalah etika luhur Mu‘ādh b. Jabal yang
mengembalikan seluruh pengetahuan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya ketika ditanya
oleh Rasulullah SAW, sebab ia memang tidak mengetahui jawaban yang
hakiki.28Tentang pertanyaan Nabi SAW, “hal tadrī yā mu‘ādh mā ḥaqq allāh ‘ala al-nās?”
(apakah engkau tahu, wahai Mu‘ādh, apa hak Allah atas manusia?)—dengan berbagai
variasi redaksinya, Ibn Ḥajar menekankan bahwa pelajaran yang bisa dipetik dari hadis
riwayat Mu‘ādh ini adalah urgensi permintaan penjelasan guru kepada muridnya
tentang suatu hal supaya guru bisa menjajaki pengetahuan yang dimiliki murid.
Selanjutnya, guru menjelaskan masalah-masalah yang sulit dipahami.
Menurut Al-Khawlī (w. 1931 M), Nabi SAW tidak langsung memberitahu Mu‘ādh
tentang hak-hak Allah SWT atas manusia dan juga hak-hak manusia atas Allah SWT
sebab Nabi SAW ingin Mu‘ādh lebih memperhatikan apa yang akan disampaikannya
secara maksimal.44 Senada dengan al-Khawlī, Syekh Sulaymān b. ‘Abd Allāh, seperti
dinyatakan ‘Abd al-Muḥsin b. al-Ḥamd, menyatakan bahwa Nabi SAW memang sengaja
memilih metode pertanyaan supaya lebih berkesan di pikiran dan lebih tersampaikan
kepada pemahaman murid. Syekh Sulaiman selanjutnya menekankan bahwa manusia
jika ditanya tentang suatu hal yang tidak diketahuinya lalu diberitahu tentang hal
tersebut setelah diberikan tes dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, itu lebih bisa

28 Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-bārī bi-sharḥ ṣaḥīḥ al-bukhārī (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1379 H),
11: 340.

10
dipahami dan dicerna dalam memori. Menurutnya, ini adalah salah satu petunjuk Nabi
SAW dalam hal metode pembelajaran.29
Hadis kedua, yakni riwayat ‘Abd Allāh b. ‘Umar, meruapakan diskusi antara Nabi SAW
dengan para sahabat. Al-Safīrī (w. 956 H/1549 M) mengisahkan salah satu kebiasaan
Nabi SAW jika berjumpa para sahabat. Biasanya, beliau mengajukan permasalahan guna
menguji dan menjajaki pengetahuan mereka, serta memotivasi mereka dalam menuntut
ilmu. Hadis riwayat Ibn ‘Umar ini disampaikan Nabi SAW di hadapan 10 sahabat, salah
satu dari mereka adalah Ibn ‘Umar yang saat itu masih muda.30 Al-Bukhārī memasukkan
hadis riwayat Ibn ‘Umar ini dalam subbab ṭarḥ alimām al-mas’ala ‘ala aṣḥābihi li-
yakhtabira mā ‘indahum min al-‘ilm (pengajuan masalah oleh imam kepada para
sahabatnya sebagai penjajakan pengetahuan yang mereka miliki).31 Badr al-Dīn al-‘Aynī
(w. 855 H/1451 M) dan al-Qasṭallānī (w.923 H/1517 M) menekankan bahwa ini
termasuk dalam kategori penjajakan guru atas kemampuan atau pengetahuan murid. 32
Menurut al-Muhallab, seperti dinyatakan Ibn Baṭṭāl (w. 449 H/1057 M), ini berguna
supaya pengetahuan yang diperoleh murid dari guru semakin berkesan dalam
memori.33 Tidak berbeda dengan al-‘Aynī, al-Qasṭallānī, Ibn Baṭṭāl, dan al-Muhallab,
setelah membaca hadis riwayat Ibn ‘Umar ini, Musā Shāhīn Lāshīn (w. 2009) juga
menegaskan bahwa salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari hadis ini adalah
pengujian dan penjajakan guru terhadap pengetahuan yang belum diketahui murid, dan
disertai penjelasannya jika murid memang benar-benar belum mengetahui atau
memahami.34
Di tempat lain dalam kitab al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ-nya, al-Bukhārī juga memasukkan hadis
riwayat Ibn ‘Umar ini dalam bab al-ḥayā’ fi al-‘ilm (malu dalam hal ilmu).35 Ibn Baṭṭāl
menegaskan maksud al-Bukhārī tersebut, bahwa malu dalam hal mencari ilmu
pengetahuan itu tidak baik (madhmūm).36 Itulah sebabnya ‘Umar b. al-Khaṭṭāb

29Muḥammad ‘Abd al-‘Azīz al-Khawlī, al-Adab al-nabawī (Beirut: Dār al-Ma‘rifa, 1423 H), 184
30 Muḥammad b. ‘Umar al-Safīrī, al-Majālis al-wa‘ẓiyya fi sharḥ aḥādīth khayr al-bariyya ṣalla allah ‘alayhi
wa-sallama min ṣaḥīḥ al-imām al-bukhārī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004),2: 93.
31 Al-Bukhārī, al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ, 1: 22.
32 Badr al-Dīn al-‘Aynī, ‘Umdat al-qārī sharḥ ṣaḥīḥ al-bukhārī (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, [Link]), 2:

15; Aḥmad b. Muḥammad al-Qasṭallānī, Irshād al-sārī li-sharḥ ṣaḥīḥ al-bukhārī (Mesir: al-Maṭba‘a al-Kubrā
al-Amīriyya, 1323 H), 1: 158.
33 Ibn Baṭṭāl ‘Alī b. Khalaf, Shar ṣaḥīḥ al-bukhārī (Riyad: Maktabat al-Rushd, 2003), 1: 142.
34 Mūsā Shāhīn Lāshīn, al-Manhal al-ḥadīth fi sharḥ al-ḥadīth ([Link]: Dār al-Midār al-Islāmī, 2002),1: 37.
35 Al-Bukhārī, al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ, 1: 38.
36 Baṭṭāl, Shar ṣaḥīḥ al-bukhārī, 1: 210.

11
kemudian menyayangkan sikap anaknya, ‘Abd Allāh b. ‘Umar, yang tidak mau
mengutarakan pengetahuannya di depan Nabi SAW.
Hadis ketiga, yakni hadis riwayat al-Nu‘mān b. Murrah, merupakan diskusi antara Nabi
SAW dan para sahabat. Walaupun mursal dari segi sanad, namun matan hadis riwayat
al-Nu‘mān ini bernilai sahih sebab mempunyai sejumlah jalur sanad yang secara
keseluruhan bernilai sahih, yakni jalur Abū Sa‘īd al- Khudrī, jalur Abū Hurayrah, dan
jalur Abū Qatādah.53 Tentang hadis riwayat al- Nu‘mān ini, Abū al-Walīd l-Bājī (w. 474
H/1081 M) dan Ibn al-‘Arabī (w. 543 H/1148 M) menekankan bahwa pertanyaan “mā
tarawna fi al-shārib wa-al-sāriqwa-al-zānī?” (apa pendapat kalian tentang peminum
khamar, pencuri, dan pezina?) merupakan pengujian dan penjajakan layaknya seorang
guru menguji dan menjajaki pengetahuan muridnya37 dengan menggunakan bahasa
penyamaan perkara dan hukumnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk memudahkan
pembelajaran dan memaksimalkan kesan dalam pikiran. Pertanyaan Nabi SAW kepada
para sahabat tentang hukum peminum khamar, pencuri, dan pezina, padahal hukum
ketiga perkara itu belum ada dalam al-Qur’an maupun Sunah, menunjukkan bahwa
beliau hendak menjajaki nalar (ra’y) mereka.38 Dengan kata lain, Nabi SAW ingin
menjajaki pendapat mereka tentang hukum ketiga perkara tersebut.
Dari sini, dilihat dari kandungan ketiga hadis tentang pengajuan masalah oleh guru
kepada murid dengan berbagai syarah dan kontekstualisasinya, Teknik dan langkah
Nabi SAW dalam pembelajaran para sahabat adalah sebagi berikut. Pola hadis riwayat
Mu‘ādh: (1) Nabi SAW mengajukan pertanyaan tentangakidah; (2) para sahabat
merespons pertanyaan Nabi SAW dengan kalimat standar “allāh wa-rasūluhu a‘lam”
(Allah dan Rasul-Nya lebih tahu); dan (3) Nabi SAW menjelaskan jawaban dari
pertanyaan yang diajukan. Pola hadis riwayat Ibn ‘Umar: (1) Nabi SAW mengajukan
narasi permasalahan yang belum ada jawabannya; (2) Nabi SAW mengajukan
pertanyaan untuk meminta jawaban dari narasi permasalahan tadi; (3) para sahabat
merespons pertanyaan Nabi SAW dengan berpikir tentang jawaban dari pertanyaan
yang diajukan; (4) para sahabat mengajukan jawaban yang tidak tepat; (5) setelah
dirasa menyerah dalam ketidaktahuan, para sahabat merespons pertanyaan Nabi SAW
dengan pertanyaan untuk meminta jawaban; dan (6) Nabi SAW menjelaskan jawaban
dari pertanyaan yang diajukan. Pola hadis riwayat al-Nu‘mān: (1) Nabi mengajukan

37 Abū Bakr Ibn al-‘Arabī, al-Masālik fi sharḥ muwaṭṭa’ mālik ([Link]: Dār al-Gharb al-Islāmī, 2007),3: 180.
38 Abū al-Wālid al-Bājī, al-Muntaqā sharḥ al-muwaṭṭa’ (Mesir: Maṭba‘at al-Sa‘ādah, 1332 H), 1:298.

12
pertanyaan Qur’an maupun Sunah; (2) Para sahabat merespons pertanyaan Nabi SAW
dengan kalimat standar “allāh wa-rasūluhu a‘lam” (Allah dan Rasul-Nya lebih tahu); (3)
Nabi SAW menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan; (4) Nabi SAW
melanjutkan diskusi; (5) Nabi SAW mengajukan narasi yang menimbulkan pertanyaan
lebih lanjut; (6) Para sahabat mengajukan pertanyaan tentang narasi yang
menimbulkan pertanyaan itu; dan (7) Nabi SAW menjelaskan jawaban dari pertanyaan
yang diajukan.
Pola pengajaran Nabi SAW pada hadis-hadis di atas selanjutnya bisa disederhanakan
dalam bingkai analisis dengan pendekatan tarbawi sebagai berikut: (1) guru
mengajukan narasi masalah yang belum ada jawaban atau penyelesaian kepada siswa;
(2) guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan narasi masalah kepada murid;
(3) guru memberi keluangan waktu murid untuk berpikir tentang jawaban dari
pertanyaan yang diajukan; (4) murid merespons pertanyaan guru; (5) guru
menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada murid di awal; (6) guru
melanjutkan diskusi dengan murid; (7) guru mengajukan narasi masalah untuk
merangsang pertanyaan lanjutan; (8) murid terangsang untuk mengajukan pertanyaan
lanjutan; (9) guru menjelaskan jawaban dari pertanyaan lanjutan; dan seterusnya.
Ayat-ayat dan hadits tersebut memberikan gambaran bahwa seseorang diharapkan
berusaha untuk memecahkan masalah dengan berbagai cara; menggunakan pikirannya
semaksimal mungkin.
Lebih lanjut, Problem Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang
memaksimalkan potensi seseorang; terkhusus anak didik agar mereka memaksimalkan
potensi yang Allah berikan berupa akal sehingga mereka mampu memecahkan masalah
dalam kehidupan. Problem Based Learning dapat diterapkan dalam pembelajaran
karena PBL bukan sekedar metode mengajar namun juga merupakan suatu metode
berpikir karena dalam PBL ini ada tahap-tahap dan metode-metode lain seperti
bagaimana mengumpulkan data hingga bagaimana cara menarik kesimpulan.
Bila dilihat dari landasan filosofisnya, maka Problem Based Learning ini berlandaskan
pada landasan konstruktivisme dan mengakomodasi keterlibatan anak didik dalam
proses pembelajaran dan pemecahan masalah

13
Menilik dari sudut pandang pendidikan Islam, konsep dasar metode pemecahan
masalah ini sejalan dengan apa yang telah dipaparkan dalam Al-Quran dalam surat Asy
Syura ayat 38:

ُ ُ﴾ُ٣٨ُُۙ‫س َح َرةُ ِل ِم ْيقَاتُِيَ ْومُ َّم ْعل ْوم‬


َّ ‫﴿ُفَج ِم َعُال‬
Penjabaran makna dari ayat tersebut adalah : Berdiskusilah kamu sekalian di

berbagai permasalahan, janganlah kamu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan

sebelum bermusyawarah.39

39 Suraiya Suraiya, ‘Penerapan Problem Based Learning Dalam Pendidikan Agama Islam’, Jurnal
MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam, 12.4 (2022), 934
<[Link]

14
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Problem Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang


memaksimalkan potensi seseorang; terkhusus anak didik agar mereka memaksimalkan
potensi yang Allah berikan berupa akal sehingga mereka mampu memecahkan masalah
dalam kehidupan. Problem Based Learning dapat diterapkan dalam pembelajaran
karena PBL bukan sekedar metode mengajar namun juga merupakan suatu metode
berpikir karena dalam PBL ini ada tahap-tahap dan metode-metode lain seperti
bagaimana mengumpulkan data hingga bagaimana cara menarik kesimpulan.
Bila dilihat dari landasan filosofisnya, maka Problem Based Learning ini
berlandaskan pada landasan konstruktivisme dan mengakomodasi keterlibatan anak
didik dalam proses pembelajaran dan pemecahan masalah.
Hasil kajian tentang eksistensi hadis-hadis tentang bab ṭarḥ al-‘ālim al-mas’ala ‘ala
al-muta‘allim (pengajuan masalah oleh guru kepada murid) dari segi otentisitas dan
validitas secara terbatas menunjukkan bahwa tiga hadis yang disebutkan Ibn ‘Abd al-
Barr dalam kitab Jāmi‘ bayān al-‘ilm wa-faḍlihi tersebut secara keseluruhan bernilai
sahih. Artinya, 3 hadis tersebut berstatus maqbūl, yakni diterima sebagai dasar
agumentasi (ḥujja).

B. SARAN

Semoga makalah ini dapat menjadi sumber peningkatan pemahaman tentang

model pembelajaran Problem Based Learning berdasarkan kajian pendekatan hadis.

Meskipun dalam paparan pada makalah ini penulis menyadari masih jauh dari

kesempurnaan.

15
DAFTAR PUSTAKA

‘Arabī (al), Abū Bakr Ibn. Al-Masālik fi sharḥ muwaṭṭa’ mālik. [Link]: Dār al-Gharb al-
Islāmī, 2007.
Arofatul Muawanah, ‘Metode Learning By Doing Dalam Hadis Nabi’, Journal TA’LIMUNA,
12.1 (2023), 39–51 <[Link]
‘Asqalānī (al), Ibn Ḥajar. Fatḥ al-bārī bi-sharḥ ṣaḥīḥ al-bukhārī. Beirut: Dār al-Ma‘rifah,
1379 H.
‘Aynī (al), Badr al-Dīn. ‘Umdat al-qārī sharḥ ṣaḥīḥ al-bukhārī. Beirut: Dār Iḥyā’al-Turāth
al-‘Arabī, [Link].
Abdurrozak, Rizal, Asep Kurnia Jayadinata, Isrok ‘atun. “Pengaruh Model Problem Based
Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa.”Jurnal Pena Ilmiah 1, no. 1
(2016).
Amrulloh, Amrulloh. “Hadis sebagai Sumber Hukum Islam: Studi Metode Komparasi-
Konfrontatif Hadis-Al-Qur’an Perspektif Muhammad Al-Ghazali dan Yusuf al-
Qaradawi.” Ahkam: Jurnal Hukum Islam 3, no. 2 (2015): 278-310.
Amrulloh, Amrulloh, dan Mujianto Solichin. “Studi Hadis Pendidikan di Perguruan
Tinggi: Realitas, Problematika, dan Solusi.” Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir
Hadith 8, no. 1 (2018): 46-74.
Aṣfahānī (al), Abū Nu‘aym. Ma‘rifat al-ṣaḥāba. Riyad: Dār al-Waṭan, 1998.
Asyhari, Ardian, Muhammad Sifa’i. “Problem-Based Learning to Improve Problem-
Solving Skill: Is It Effective Enough?.” Indonesian Journal of Science and
Mathematics Education 4, no. 1 (2021): 78-88.
Bājī (al), Abū al-Wālid. Al-Muntaqā sharḥ al-muwaṭṭa’. Mesir:Maṭba‘at al-Sa‘ādah, 1332
H.
Bayhaqī (al), Aḥmad b. al-Ḥusayn. Al-Sunan al-kubrā. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
2003.
Bayhaqī (al), Aḥmad b. al-Ḥusayn. Ma‘rifat al-sunan wa al-athar. Pakistan:Jāmi‘at al-
Dirāsāt al-Islāmiyya, 1991.

16
Belland, B. R. “Portraits of Middle School Students Constructing Evidence-Based
Arguments during Problem-Based Learning: The Impact of Computer-Based
Scaffolds.” Educational Technology Research and Development 58 (2010):285–309.
Brassler, Mirjam, dan Jan Dettmers. “How to Enhance Interdisciplinary Competence—
Interdisciplinary Problem-Based Learning versus Interdisciplinary Project-Based
Learning.” Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning 11, no. 2 (2017).
Bukhārī (al), Muḥammad b. Ismā‘īl. Al-Jāmi‘ al-ṣaḥīḥ. [Link]: Dār Ṭūq al-Najā, 1422 H.
Fitriyah, Afif Lailatil, Miftakhul Ilmi S. Putra, Mujianto Solichin, Amrulloh
Amrulloh, dan M. Ansor Anwar. “Desain Manajemen Pendidikan dengan Model Problem
Based Learning (PBL) dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SMP.” Dirasat:
Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam 6, no. 2 (2020): 195-213.
Ibn ‘Abd al-Barr. Jāmi‘ bayān al-‘ilm wa faḍlihi. Kerajaan Arab Saudi: Dār Ibnal-Jawzī,
1994. Ibn Baṭṭāl, ‘Alī b. Khalaf. Shar ṣaḥīḥ al-bukhārī. Riyad: Maktabat al-
Rushd,2003.
Ibn Ḥanbal, Aḥmad. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasat al-Risāla, 2001.
Ibn Mājah al-Qazwīnī, al-Sunan ([Link]: Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabī, [Link]), 2: 1435, no.
4296.
Khawlī (al), Muḥammad ‘Abd al-‘Azīz. Al-Adab al-nabawī. Beirut: Dār al-Ma‘rifa, 1423 H.
Lāshīn, Mūsā Shāhīn. Al-Manhal al-ḥadīth fi sharḥ al-ḥadīth. [Link]: Dār al-Midāral-Islāmī,
2002.
Mālik b. Anas. Al-Muwaṭṭa’. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1985.
Marwazī (al), Muḥammad b. Naṣr. Al-Sunnah. Beirut: Mu’assasat al-Kutub al-
Thaqāfiyyah, 1408 H.
Naysābūrī (al), Muslim b. al-Ḥajjāj. Al-Ṣaḥīḥ. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, [Link].
Novita, “Efektivitas Model Problem Based Learning pada Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar di SMA Negeri 1 Pandaan.”
Qasṭallānī (al), Aḥmad b. Muḥammad. Irshād al-sārī li-sharḥ ṣaḥīḥ al-bukhārī. Mesir: al-
Maṭba‘a al-Kubrā al-Amīriyya, 1323 H.
Qazwīnī (al), Ibn Mājah. Al-Sunan. [Link]: Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabī, [Link].
Rizqa Ahmadi, Miftakhul Ilmi, and Suwignya Putra, ‘Analisis Hadis Pengajaran Berbasis
Masalah Dengan Pendekatan Tarbawi Pendahuluan Analisis Hadis Dengan
Pendekatan Tarbawi Adalah Upaya Mendiskusikan Sistem Dan Konsep Pendidikan

17
Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Yang Terkandung Dalam Hadis Nabi . Artinya , Pe’,
5.1 (2021), 1–17.
Safīrī (al), Muḥammad b. ‘Umar. Al-Majālis al-wa‘ẓiyya fi sharḥ aḥādīth khayral-bariyya
ṣalla allah ‘alayhi wa-sallama min ṣaḥīḥ al-imām al-bukhārī. Beirut: Dār al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 2004.
Ṣan‘ānī (al), ‘Abd al-Razzāq b. Hammām. Al-Muṣannaf. Beirut: al-Maktab al- Islāmī, 1403
H.
Suriansyah and Aslamiah, dkk, Strategi Pembelajaran
Suraiya Suraiya, ‘Penerapan Problem Based Learning Dalam Pendidikan Agama Islam’,
Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam, 12.4 (2022), 934
Tirmidhī (al), Muḥammad b. ‘Īsā. Al-Sunan. Mesir: Sharikat Maktabat wa Maṭba‘at
Muṣṭafā al-Bābī al-Ḥallabī, 1975.

18

Anda mungkin juga menyukai