Chapter 2
halaman 1
visual haris dan rizal bersatu
halaman 2,
visual masjid agung dan kantor walikota
halaman 3
panel 1
rizal menghadap ke sungai membelakangi panel
panel 2
close up ke rizal
ternyata benar apa kata cewek itu, Ini masa penjajahan Jepang. Aku
kembali ke masa lalu..
Panel 3
visual flashback
aiko sedang melipat selimut
“Hah? masak kena pukul begitu aja, bisa sampe amnesia sih?”
panel 4
visual flashback
“ kamu inget aku gak, aku Aiko Katsumi.”
Panel 5
Visual Rizal masih shock dan bingung
….
Panel 6
Makanya kalo di latihan aikaido sama ayah itu yang serius donk, biar bisa
nangkis pukulan ayah,
Halaman4
Panel 1
Visual Rizal
dalam hati rizal berkata
“a,,, apa yang dia katakan sih? kemana para ajudanku? apa sih yang
sebenarnya terjadi tadi? kenapa aku bisa ada disini?
”
Panel 2
visual rizal masih melihat aiko sambil berfikir dan bergumam dalam hati
“btw, kenapa dia pake baju kimono begitu ya? sedang cosplay kah?
Panel 3
Rizal terkejut, backgroudnya seperti kilatan listrik.
Panel 4
visual Aiko sambil ngomong
“Tapi emang ayah keterlaluan sih, masak ngasih latihannya keras banget.
Ya emang bener sih, semua latihan ini di lakukan agar kamu gak di bully
lagi di sekolah, tapi kan…”
Halaman 5
Panel 1
close up ke bibir rizal
rizal bertanya “Aiko.. sekarang tahun berapa?”
Panel 2
visual aiko, ekspresi khawatir tapi masih bisa senyum
1943, kenapa emang kok tiba-tiba tanya tahun? kamu beneran amnesia
kah? jangan bercanda donk”
Panel 4
rizal di lihat dari samping, menunduk, mukanya ketutupan rambut,
backgrounnya ada jendela
panel 5
¾ halaman
visual polisi kempetai sedang berbaris komando
panel vertikal agak gede kanan
dari jauh, rizal berdiri, mengaharap sungai, dia berdiri di pinggir sungai,
belakagnya pasar..
panel kiri kecil
visual dari samping
rizal menjambak rambut depannya sendiri dari depan, merem dengan
menutup sebelah matanya
apa sebenarnya yang terjadi?
visual dari 3//4
rizal menengadahkan tangannya dan melihat kedua tangannya dengan
ekpresi serius.
apa aku sedang bermimpi ya?
rizal mencubit pipinya sendiri..sambil menutup sebelah matanya
panel lebar
visual dari belakang, bird eye rizal menunduk, background di pinggir sungai
udah jelas ini bukan mimpi.
Baiklah, ambil sisi positif nya Ris, ambil sisi positifnya. Setidaknya aku bisa
mengubah sejarah sesuai yang cita-citakan acoj selama ini.
hufft baiklah.
Rizal pun pulang ke klinik, di tengah jalan ia masih melihat para pasukan
kempetai mengintrograsi orang-orang di pasar.
“Dencik Dermawan, atas nama undang-undang kamu kami tangkap atas
tuduhan aksi terror dan sabotase di camp militer Nippon.” kata seorang
perwira Jepang
“Sa … saya tidak tahu apa-apa, saya tidak terlibat dengan aksi apapun pak
perwira.”zoom ke muka orang ini
“Saya hanya pedagang kecil disini. Ampuni saya!!!” kata seorang pedagan
kecil sambil mengangkat tangannya disorot dari belakang
“Sudah, cepat ikut kami. Kamu akan kami bawa ke camp kempetai” kata
perwira itu, posisi kamera dari depan zoom, ekpresi marah dan teriak.
“cepat bawa dia”
“Tolonglah!!!” visual pedagang itu di seret dan rizal memperhatikan dari
jauh
tiba tiba ada orang cuma keliatan bahunya aja, di samping rizal, visual dari
samping, di samping rizal.
“itulah kekejaman Jepang, mereka menangkap seseorang tanpa pandang
bulu”
“Dan kita harus melawan mereka dengan cara apapun, ya kan?” kata
seorang pria dewasa, hidung mancung, dengan sorot mata tajam,
berpakaian hitam menoleh ke rizal.. lalu berjalan santai kasual disorot dari
belakang
rizal terkejut, ada arsiran kecil di hidung atas di antara kedua mata
“siapa pria itu, sorot matanya dingin sekali”
panel 1 kanan vertikal setengan halaman
sfx : Ghaaah
Visual dari bawah, dencik mengerang kesakitan
Sfx : bruk
panel 2 kanan atas
visual polisi memegang dencik
“hei… hei, kamu kenapa? hei?” tanya orang yang membawa dencik.
dencik kesakitan sambil memegang lehernya.. mukanya tersiksa
panel 3 tengah
“kenapa?” tanya komandan kempetai.
panel 4
dencik terlihat kejang kejang dan di kelilingi para kempetai dan orang
sekitarsambil memegang lehernya.. mukanya tersiksa
panel 5
“Celaka, apa yang terjadi pada dia?” kata perwira yang tadi marah
visual dari belakang kepala rizal, rizal mukanya keliatan sedikit sisi kanan
melihat ke kerumunan warga yang berkumpul mengelilingi seseorang
Rizal pun dengan segera menerobos kerumunan orang
“permisi.. permisi…” kata rizal menerobos kerumunan, yang berkerumun.
“bibirnya membiru dan bau ini, bau almond. Dia diracun.”kata rizal dalam
hati.. visual dari atas,menyorot rizal dari belakang dan mayat itu
“tapi bagaimana caranya?” kata rizal dalam hati sambil menoleh, sudut
pandang dari depan…
Lalu Rizal, melihat ke kaki orang yang meninggal itu. disorot dari samping
kepala rizal, fokus terbagi 2 ke kepala rizal dan kaki mayat
“Begitu rupanya.” visual zoom ada jarum suntik kecil di kaki pedagang itu.
visual klepon bergerak pergi, di sorot dari belakang. rizal menoleh ke arah
klepon yang berjalan pergi
“Apakah orang itu yang….?” kata rizal, zoom ke muka rizal sambil ekspresi
serius dan ada arsiran di hidung antara mata.
worm eye visual
Tidak, tidak mungkin. Bagaimana caranya dia menembakan jarum berisi
racun itu tanpa membidiknya.
“Dari tadi dia tidak terlihat sedang membidik seseorng. Jadi siapa yang
orang yang menembaknya?”
Siapapun dia, pasti masih ada di sekitar sini.
….
Kenapa saya harus repot-repot memikirkan ini ya?
mmm… pulang ah
Di klinik.
Kamu darimana aja sih
? tiba tiba hilang. Kita mau sudah mau pulang kerumah nih, besok sekolah”
kata aiko, visual aiko
visual rizal terdiam
visual rizal memegang kedua pundak aiko
“aiko, kalau saya bilang saya berasal dari masa depan, kamu bakal
percaya gk?”
visual dari bird eye, semua terdiam
“Kayaknya kamu harus di rujuk kerumah sakit. aku bilang ke ayah dulu”
visual aiko berlari
besok gak usah sekolah dulu deh, ntar aku bilang ke guru”
visual sorot dari belakang, rizal mengangkat tangan mencoba
menghentikan aiko, menyuruh stop.
“aoko, tunggu dulu!!!”
visual mengangkat kedua tangannya, sambil senyum tulus dan ada satu
keringat di dahi”
“aku sudah sembuh kok, gak apa apa. aku tadi cuma bercanda doank
hehehe”
“sepertinya aku harus menyembunyikan kenyataanya” kata rizal dalam hati
“a… ayo, ki … kita pulang kerumah”
“kerumah? kok kerumah? aiko ini siapa nya rizal sih? kakaknya kah?” kata
rizal dalam hati
[Di sisi lain]
“Bagaimana permasalahan Dencik? apa berjalan dengan lancar” kata
seorang berjubah, mukanya gk jelas hanya sampe pundak aja
“Beres ketua, tidak ada masalah.” kata orang tua bermata dingin
“Jangan sampai informasi organisasi kita di ketahui Jepang, Pastikan tutup
semua celah.”
“....”
“meskipun itu kita harus mengotori tangan kita demi melenyapkan rekan
seperjuangan kita sendiri. Itu sudah tercantum dalam sumpah setia kalian
dalam organisasi ini”
“siap pak ketua”
visual saling membelakangi
“Lalu bagaimana planning kode N? apa berjalan dengan lancar”
“Itu target yang bagus, besok saya akan memastikan kembali semua jejak
telah tertanam’
“Bagus, pastikan semuanya berjalan dengan baik.”
[rumah aiko]
“rumahnya besar sekali” kata rizal dalam hati, sambil mendongakkan
kepala ke atas
krieeet
suara pintu di buka
“Mam, aku pulang”
“Kemana aja kamu Aiko? sampai magrib begini baru pulang”
“Tadi, Rizal pingsan mam.”
“Lho kok bisa?”
“Biasa, latihan Aikaido trus kena pukul ayah.”
“Tapi kamu ngak apa-apa kan, Zal?”
“Gak apa-apa kok Mam.”
“mam?” kata aiko dan ibunya aiko
“eh.. anu”
‘akhirnya kamu manggil, tante, mama juga. Ada apa ini? tapi, syukurlah.”
brrrm, suara mobil dinas gubernur
“tuh, ayah sudah pulang. dan buruan masuk kamar kalian masing-masing.”
kata ibu aiko sambil senyum
“ba… baik mam” kata rizal
[beberapa detik kemudian]
“aku pulang” kata ayah aiko
“selamat datang”
“aiko dan rizal sudah pulang belum?”
“barusan aja mereka pulang”
“coba tolong panggilkan rizal [Link] yang ingin kubicarakan”
“rizaaaal,”
“Yaa”
“Kesini sebentar, bapak mau bicara”
visual ruang tamu lebar, ada rizal dan bapaknya aiko duduk di sofa dan
berhadapan. rizal menunduk, di sorot dari jauh,. muka gk jelas
“kamu gak apa apa?”
“gak apa apa”
“bagus, besok kita latihan Aikaido lagi, persiapkan dirimu untuk latihan
yang lebih keras” visual bapaknya Aiko beranjak dari sofa dan pergi. Dan
ibunya aiko melihat ke arah bapaknya aiko
ibunya aiko melihaf dengan ekspresi khawatir
“yaudah, sekarang kamu istirahat gih, besok jangan telat ke sekolah”
“baik mam”
[Di kamar bapak ibu aiko]
“Jangan terlalu keras padanya, dia orang Melayu.” kata ibu Aiko
“justru karena anak itu berdarah melayu, aku harus melatihnya dengan
cara-cara Nippon.”
“....”
“Ntah sejak kapan, kamu terobsesi dengan Sadegha?” tanya ibu aiko
“Dia sahabat karibku, ketika sama sama belajar di Belanda. Ketika dia
berwasiat padaku tentang anaknya, aku merasa harus melaksanakan itu”
visual rizal menguping dari pintu
“begitu rupanya” kata rizal dalam hati.
tap tap tap visual bird eye, rizal melintasi jalan
krieeet rizal membuka pintu
“kyaaa…” aiko pake sempak doank tp di blur
“kamu ngapain sih rizal?”
“eh,, ma..,, maaf” kata Rizal
“kamar kamu di sebelah.” aiko memakai handuk, ekspresi malu..
“i… iya maaf…” visual rizal buru buru ke kamar sebelah
“huft”
[kesekokan harinya]
Visual sekolah
“i… ini sekolah khusus anak-anak Jepang? orang Jepang semua” Rizal
melongo kaget
“Hei Dojin, masih berani kau masuk ke sekolah ini hahaha”
“hmmm?”
“Minggir sanah, makhluk rendahan.”
Rizal tetap berdiri di tempatnya, kebingungan
“Oi, kamu mau ku pukul lagi ya?” menarik baju Rizal.. ekspresi rizal biasa
aja.
“Hentikan Takahata .. kamu selalu saja berbuat kasar kepada Rizal!!” kata
aiko yang tiba tiba datang
“Cih… kamu selalu saja membelanya Aiko, kamu benar-benar orang
Nippon bukan sih?”
“Benar sekali, Kenji. Bisa bisa nya di membela sampah ini.”
“Shigeruuuuu…!!!!” Aiko murka sambil mengepalkan tangannya
“Sudah Shigeru, kita tinggalkan saja para pecundang ini, enyah dari
hadapanku Dojin.” kata Kenji sambil melempar Rizal
“Siapa sih 2 bocil itu? sok asik banget dah.” kata Rizal melihat ke arah
kedua anak itu.
sfx ; teng teng teng suara bell masuk sekolah.
[visual di kelas]
bird eye dari depan
“disini benar-benar aku sendirian, keren juga Rizal bisa sekolah disini”
visual di kantin sekolah, sedang mengantri makanan.
“makanan pun di sediakan, kereen” rizal mengantri makanan, matanya
berbinar-binar, pipinya blush
visual rizal membawa baki makanan
visual aiko melambaikan tangan dari jauh, kamera menyorot dari bagian
samping belakang kepala rizal
visual rizal menggeser kursi dan lalu duduk
tiba tiba dari belakang, plak anak china berkacamata menepuk pundak rizal
“yo, Rizal…boleh aku menganggu kalian berdua?”
“apa sih, Yun Wen?”
tap tap tap
kreek
“Jangan terlalu jujur Yun Wen, lagian semua juga tahu Aiko menyukai
Rizal.” kata hiro takagi, matanya sayu sambil menarug piring di meja,
“Hiro?” kata Yan Wen
“Takagi!!! Kamu datang-datang malah menebar gosip, kayak emak-emak
aja sih” kata aiko, mukanya merah
visual, aiko mau memukul hiro.. tp di cegah yen wen..
“haha…hahahaha” rizal tertawa terbahak bahak…
hirp, aiko, dan yan wen melihat kebingungan.
“kenapa kamu tertawa?” kata aiko
“gak kok” kata rizal sambil makan.
“dunia baru ini tidak terlalu buruk juga” kata rizal dalam hati.
[di persimpangan jalan]
“matane” kata yen wen dan Hiro sambil melambaikan tangan
“matane”kata aiko sambil melambaikan tangan
tap tap tap
“Nanti sore latihan aikido lagi?”
“ya iya donk”
“....”
“tenang, aku sudah lebih kuat kok sekarang hehehe.” kata rizal.
“sepertinya, bukan ayah deh yang ngelatih kamu hari ini.”
“kenapa?”
“Besok kan mau ada kunjungan orang tua siswa di sekolah, nanti sore
akan ada rapat komite sekolah.”
“....”
[sorenya]
“Rizal, sudah kenal saya belum?”
“Belum.”
“Haduh… kan kita sudah sering bertemu sebelumnya. Baiklah nama saya
Ryu, hari ini saya yang menggantikan tuan Katsumi”
“Okey”
“Baiklah. mari kita mulai” Ryu menghunuskan pedang kayu
visual rizal berdiri tegak, bengong
lalu di panel selanjutnya, ekspresi rizal berubah jadi mata elang sambil
tersenyum jahat/sinis
[beberapa menit kemudian]
sfx : brakkk
visual ryu kepalanya terbalik ke bawah di sorot dari belakan tubuhnya
“adu duh” Ryu coba berdiri
“baiklah Rizal, sepertinya kita cukupkan dulu latihan hari ini karena
matahari sudah mulai terbenam.”
“baik, sensei.”
“Peningkatan teknik mu berkembang cukup pesat, luar biasa, Saya cukup
terkejut.”
“arigato sensei”
[Keesokan harinya]
visual gedung sekolah dari worm eye, panel kanan kecil
“kepada yang terhormat, tuan Takahata. Waktu dan tempat kami
persilahkan”
visual takahata menuju podium dan berpidato dari jauh.
“Dia siapa?” tanya Rizal.
“kamu gak tau? dia itu ayahnya Kenji Takahata.” kata Wan Yen.
“....”
“Orang yang sering nge bully kamu” kata Takagi, sambil memanggu dagu
pakai tangan, mata sayu tanpa senyum.
“Kenapa dia di surut pidato?”
“Masak kamu gak tau sih? ayahnya Kenji Takahata kan Gunseikan di
Palembang.” kata aiko sambil, alisnya naik keheranan.
“ooo”
“Gunseikan, seingatku adalah jabatan militer tertinggi di suatu daerah di
tanah jajahan Jepang, bahkan pangkatnya lebih tinggi dari gubernur. Ya,
karena pemerintahan jajahan Jepang sistemnya adalah pemerintahan
militer.” kata Rizal dalam hati
“aku jadi paham, kenapa bocil itu sangat arogan.” kata Rizal dalam hati
sfx : degggg
“perasaan apa ini? sama seperti perasaan waktu itu?”
“apa ya?” Rizal menoleh kanan kiri.
“Perasaan ini, seperti perasaanku ketika tertembak sniper saat itu”
“dimana ya? sepertinya, ada sniper yang sedang mengincar pejabat itu.”
tap tap tap
ada seseorang berpakaian jas hitam merah berjalan membawa paket
cukup besar menuju ke podium”
“Orang itu? sepertinya itu, bom” kata rizal dalam hati
“Aiko, kita menjauh darisini”
“Kenapa?”
“aku punya firasat buruk, paket yang di bawa orang itu sepertinya bom”
“Ah…aneh sekali sih. Dari beberapa hari kemarin, kamu aneh terus.”
“Sudahlah, ayo kita menyingkir darisini.”
“Wen, Hiro, yuk kita kesana yuk. Aku bosan nih.” kata Rizal
“Hah, dasar. Iya sih, boring juga sih bapak-bapak itu pidatonya lama
banget.” kata Wen.
“....”
drap drap drap
visual Aiko berlari ke arah sebaliknya, dan berusaha menghentikan orang
yang membawa paket..
“Ah…Aiko, apa yang dia lakukan?” kata Rizal dalam hati.
“Gawat” rizal berlari ke arah Aiko
“Rizal!!?”
“Kalian duluan saja.. menjauh dari area ini.”
[100 meter darisana]
‘Siapa 2 bocah itu? apa mereka menyadari bomnya?” kata sniper memakai
jas hitam dan merah.
“aku tidak tau siapa mereka, tapi matilah bersama pejabat itu hehehe”
Sfx : dor suara sniper
visual peluru di tembakkan, zoom in
sfx : bruk
Rizal mendorong Aiko sampai jauh
zruaak… crssss..
visual peluru menembus jantung Takahata.
“Ri … rizal”
“Ayo menjauh dari sini…!!! dan tutup telinga dalam-dalam”kata Rizal.
Sfx : blgaaarrrr…
“Shit” kata Rizal dalam hati
“Tiarap!!!” kata Rizal sambil menjatuhkan diri bersama Aiko.
WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!WAAAAAA!!!
visual dari atas, suasana ricuh karena adanya bom
“Adu-duh..” kata Rizal
“Aiko kamu tidak apa-apa?tangan kamu berdarah.”
“ssshh… gk apa-apa, ini cuma lecet pas jatuh jatuh tadi.” Aiko memegangi
sikunya.
Rizal melihat ke sekeliling
Wen dan Hiro dari kejauhan terlihat pucat,
Hiro menepuk pundak wen.
“itu Rizal” kata Hiro
Hiro berlari ke arah Rizal di ikuti Wen.
“Rizal, Aiko…? kata wen
kalian gak apa apa?” tanya Hiro sambil mengulurkan tangan
“Aiko tangan kamu berdarah” kata Wen
“gk apa-apa, cuma luka ringan.” Aiko menyambut uluran tangan Hiro
“hufft”
sfx : plok plok Rizal membersihkan baju dan celana
“Sepertinya, ini akan jadi kasus… sementara, kita ke UKS aja dulu. Kita
cari obat luka.”
“....”
Wan Yen terlihat pucat dan menurup matanya melihat beberapa orang
tergeletak, gosong terkena bom termasuk pejabat yang tadi pidato.
“Wan, ayo.” kata Hiro
“A…ayo.”
berjalan menuju UKS.
“O… orang itu, bukanlah dia orang yang ada di pasar waktu itu” Rizal
melihat ke kejauhan sedang mengamati dari jauh.
“oiya, benar juga, pakaian pelaku bom itu dan orang itu ada kemiripan
ya…”
“Te… teman, kalian duluan saja. Saya ada kesana dulu.”
“Mau kemana lagi?” kata Aiko
“Ada deh”