SAFETY MATURITY LEVEL
Sistem yang ada hanya sekadar dokumen belaka,
bahkan perusahaan tidak memiliki sistem sama sekali
Implementasi SMK3 hanya dilakukan ketika ada audit
atau inspeksi dari regulator
Budaya keselamatan yang apatis atau manajemen
bersikap acuh tak acuh
Kelalaian terkait K3 banyak terjadi
Manajemen K3 menyembunyikan insiden yang terjadi
Tahap 1 Vulnerable (Basic) Mengabaikan kejadian near miss
Tidak ada pelatihan untuk pekerja
Komunikasi K3 yang buruk
Tidak ada identifikasi bahaya, penilaian risiko dan
pengendaliannya
Investigasi kecelakaan yang buruk dan dangkal
Tidak ada audit
Tidak ada work permit untuk pekerjaan khusus
Sistem akan berjalan setelah terjadi masalah atau
kecelakaan kerja sebelumnya
Fokus terhadap masalah atau kecelakaan kerja
Blame culture atau budaya saling menyalahkan
Investigasi kecelakaan hanya fokus terhadap kesalahan
manusia
Investigasi kecelakaan dengan analisis yang masih
terbatas
Kejadian near miss mulai diperhatikan
Sudah ada pelatihan pekerja, namun tidak rutin
Tahap 2 Reactive Komunikasi K3 mulai terbentuk
Kepatuhan terhadap aturan masih rendah
Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan
pengendaliannya masih bersifat reaktif
Penerapan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi
dampak paparan
Kebersihan kerja dan pemeriksaan kesehatan pekerja
masih bersifat reaktif
Audit baru dilakukan jika ada masalah atau untuk tujuan
tertentu saja.
Pengembangan sistem sudah dijalankan tetapi fokus
terbatas pada penurunan jumlah kecelakaan
Fokus penerapan SMK3 sebatas hal teknis dan
pemenuhan peraturan
Kompetensi teknis K3 sudah mulai dipenuhi
Adanya keterlibatan pekerja dalam penerapan SMK3
Pelatihan diadakan berkala
Compliant Adanya diskusi pengendalian near miss
Tahap 3
(Planned) Komunikasi K3 semakin baik
Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan
pengendaliannya berdasarkan sistem yang ada
Penggunaan APD sesuai potensi bahaya
Analisis kecelakaan kerja dengan mengidentifikasi faktor
kausal dari kejadian kecelakaan
Pemeriksaan medis secara berkala
Perencanaan audit/ pengawasan
Pertemuan keselamatan mulai terbentuk
Masing-masing bagian sudah memiliki target dan
sasaran K3 dan menjadi poin utama dalam menyusun
rencana kegiatan
Sistem yang dijalankan fokus pada perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi
Fokus penerapan SMK3 sudah mulai melakukan
pengendalian potensi bahaya
Budaya K3 mulai terbentuk
Keterlibatan penerapan K3 pada semua level
manajemen
Pelatihan pekerja terencana dan bersifat rutin
Tahap 4 Proactive Komunikasi lebih terbuka, tidak menyembunyikan
insiden yang terjadi
Perbaikan sistem berkelanjutan
Penerapan SMK3 berdasarkan peraturan berlaku,
misalnya PP No. 50 Tahun 2012
Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan
pengendaliannya bersifat proaktif
Kepatuhan terhadap peraturan pemerintah
Prosedur keselamatan untuk setiap kegiatan dirancang
baik secara tertulis, mencakup APD dan alat kerja
Pelaksanaan audit terpadu
Semua pekerja dapat menjalankan sistem tanpa adanya
turbulensi atau pelanggaran karena mereka
menganggap bahwa sistem merupakan bagian dari
keseharian dan K3 adalah kebutuhan, bukan kewajiban
Fokus program K3 sudah memiliki tujuan budaya K3
yang jelas serta menjaga perilaku aman di tempat kerja
Pemimpin memiliki safety leadership yang kuat
Pekerja memiliki kompetensi K3 yang mumpuni
Program pelatihan rutin untuk pekerja
Tahap 5 Resilient Keselamatan kerja selalu menjadi topik utama dalam
agenda pertemuan
Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan
pengendaliannya terintegrasi ke dalam semua sistem
Eliminasi bahaya sebelum kecelakaan terjadi
Sistem manajemen K3 terpadu
Evaluasi/ audit eksternal untuk perbaikan sistem dan
mengukur efektivitas sistem yang telah berjalan
Perusahaan memandang penerapan K3 sebagai
investasi, bukan biaya